Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN FIELD VISIT

BLOK 4.3

HERBAL MEDICINE AND PHYTOPHARMACA

Kelompok 10.1 Andica Yoga Artanto Fauzan Achmad Maliki Hafizhan Irine Atanasia Pamela Tyas Milana

Perusahaan jamu tradisional yang terstandar 1. standaraisasi bahan Bahan yang digunakan untuk pembuatan jamu untuk pembuatan harus distandarisasi. Mulai dari penanaman, tempat penanaman, prosedur penanaman, pencahayaan, pemberian air setiap hari, pemberian pupuk sampai pengawasan terhadap hama harus diatur dengan ketat sehingga kadar zat aktif dalam tanaman terstandarisasi. Saat pemanenan waktu tertentu, lalu dikeringkan ditempat dan suhu yang tepat agar zak aktif tetap terjaga kadarnya. 2. pembuatan ekstraksi Dalam pembuatan ekstraksi, hasil kering dari tanaman di olah menggunakan alat yang yang bersih dan dibersihkan tiap setelah digunakan agar tidak terjadi kontaminasi. Selama pengolahan pencatatan waktu dan peng ekstrasi dilakukan agar jika terjadi kesalahan dan efek samping dapat dilacak penyebabnya dan bisa dievaluasi. Pencatatan juga dilakukan agar jika salah satu sample rusak dapat disingkirkan semua. 3. pembuatan jamu Dalam pembuatan jamu, ekstrak diolah berdasar nomor batch dan tidak tercampur antar batch. Pembuatan dilakukan secara steril, jika menggunakan mesin dilakukan pensterilan berkala, jika menggunakan manusia selalu budayakan steril. Pembuatan jamu dilakukan dengan prosedur yang terstandar sehingga kadar zat yang ada didalamnya akan sama. Pengambilan sampel untuk di uji secara berkala dilakukan agar jika terjadi kesalahan dapat di ecaluasi dan di lakukan perbaikan. 4. Pencatatan ke badan POM Dalam penjualannya, ijin di mintakan dari badan POM untuk dinilai kadar zat yang terkandung dalam jamu dan keamanan jamu. Setelah ijin keluar jamu dapat dijual ke luar bergantung penelitian dasar sebagai jamu, herbal terstandar atau phytopharmaca.

PemerintahmelaluiMenteriKesehatanRepublik Indonesia telahmengeluarkanPeraturanMenteriKesehatanRepublik Indonesia Nomor: 246/Menkes/Per/V/1990 tentangIzin Usaha IndustriObatTradisionaldanPendaftaranObatTradisionalMenteriKesehatanRepublik Indonesia. PJT Sardjitomerupakanperusahaanjamutradisional yang termasukgolongan IKOT (Industri Kecil ObatTradisional).SesuaidenganPermenkesNomor: 246/Menkes/Per/V/1990, suatuperusahaandapatdigolongkanmenjadi IKOT jikaindustritersebutmemiliki total asettidaklebihdariRp. 600.000.000,- (enamratusjuta rupiah), tidaktermasukhargatanahdanbangunan. PadaPermenkesini, dijelaskantentang proses perizinanbagisuatuperusahaanjamuradisional agar mendapatkansuatuizinproduksi. Padapasal 2 dijelaskanuntukmendirikan Usaha IndustriObatTradisionaldiperlukanizinMenteri. Dan untukmendirikan UsahaJamuRacikandan Usaha JamuGendongtidakdiperlukanizin.

PadapasalberikutnyajugadijelaskanbahwapersetujuanMenteridiperlukanuntukobattradisional agar dapat di produksi, diedarkan di wilayah Indonesia maupundiekspor. Padapasal 6 dijelaskanmengenaipersyaratan yang harusdipenuhiolehsebuah IKOT.IKOT wajibdilakukanolehPeroranganwarganegara Indonesia atauBadanHukumberbentukPerseroan TerbatasatauKoperasi;danwajibmemilikiNomorPokokWajibPajak (NPWP). Sesuaidenganpasal 7, calonperusahaanjugaharusmemenuhisyarattempatdanlokasi.lndustriObatTradisionalharusdidirikan di tempat yang bebaspencemarandantidakmencemarilingkungan.Sebuah IKOT jugaharusUsaha lndustriObatTradisionalharusmempekerjakansecaratetapsekurang-kurangnyseorangApotekerwarganegara Indonesia sebagaipenanggungjawabteknis. lndustriObatTradisionaldanlndustri Kecil ObatTradisionalwajibmengikutiPedomanCara PembuatanObatTradisional yang Baik (CPOTB).