Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

Mata merupakan salah satu indera dari pancaindera yang sangat penting untuk kehidupan manusia. Terlebih lagi dengan majunya teknologi, indera penglihatan yang baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Mata merupakan bagian yang sangat peka, trauma sekecil apapun, seperti debu yang bila masuk mata, sudah cukup menimbulkan gangguan yang hebat. Kornea merupakan salah satu bagian dalam anatomi mata yang sangat berperan dalam menentukan hasil pembiasan sinar pada mata, karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiaskan berkas cahaya, sehingga bila terjadi lesi pada kornea umumnya akan memberikan gejala penglihatan yang menurun, terutama bila lesi tersebut letaknya di tengah. Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang merupakan bagian dari media refraksi. Kornea terdiri atas lima lapis yaitu epitel, membran bowman, stroma, membran descemet, dan endotel. Keratitis adalah suatu peradangan kornea yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan lapis kornea yang terkena seperti keratitis superficial dan profunda, atau berdasarkan penyebabnya yaitu keratitis karena berkurangnya sekresi air mata, keratitis karena keracunan obat, keratitis reaksi alergi, infeksi, reaksi kekebalan, reaksi terhadap konjungtivitis menahun. Permasalahan terkait kesehatan mata di Indonesia cukup banyak dimulai dari kelainan kongenital pada mata, infeksi peradangan pada mata hingga tingginya angka kebutaan di Indonesia. Keratitis atau peradangan pada kornea adalah permasalahan mata yang cukup sering dijumpai mengingat lapisan kornea merupakan lapisan yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar sehingga rentan terjadinya trauma ataupun infeksi. !ampir seluruh kasus keratitis akan mengganggu kemampuan penglihatan seseorang yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.

BAB II LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS
"ama %mur (enis kelamin $gama $lamat Pekerjaan # Tn. $ # &' tahun # )aki*laki # Islam # +umiayu # Petani

II.

ANAMNESIS !ari tanggal # (umat, ,- .ebruari /0,-

Keluhan Utama # Mata kiri merah Riwayat penyakit eka!an"# Pasien datang ke poli mata 12M2 dengan keluhan mata kiri merah sejak 3 minggu yang lalu karena sering terkena kotoran saat sedang bertani dan sehari sebelum mata merah, pasien merasa seperti kemasukan kotoran saat sedang berjalan. Pasien mengakui sempat mengucek*ucek matanya. Pasien membeli tetes mata di apotek namun tidak ada perbaikan. Pasien juga mengeluh mata kiri sering mengeluarkan air mata, dan kadang keluar kotoran mata. )ima hari kemudian pasien memeriksakan matanya ke poli mata 12M2. !ari ini pasien kontrol dengan keluhan mata kiri masih merah namun sudah tidak nrocos. Pasien menyangkal adanya rasa nyeri pada mata kiri, hanya rasa pegal. Pasien juga merasa pandangan mata kiri menjadi agak kabur

Riwayat penyakit Dahulu#


* 1iwayat trauma pada daerah mata diakui * 1iwayat dengan keluhan yang sama diakui tahun /003 * 1iwayat operasi mata disangkal * 1iwayat pengobatan steroid dan jamu jangka lama disangkal * 1iwayat kencing manis, darah tinggi, alergi disangkal

Riwayat penyakit Kelua!"a


* 1iwayat keluarga yang menderita keadaan seperti ini disangkal * 1iwayat darah tinggi, kencing manis, alergi dalam keluarga

disangkal III. PEMERIKSAAN $ISIK Keadaan %mum # +aik Kesadaran Tanda 4ital # Komposmentis # T5 " 11 # ,/0 60 mm!g # 67 8 menit # /0 8 menit

2uhu # 37,-9:

STATUS O$TALMOLO%I Mata Kanan Mi8 Injeksi Mata Ki!i

Infiltrat

0,Tidak dilakukan Tidak dilakukan ;erak bebas ke segala arah Tidak ada kelainan <dema =*>, ptosis =*>

&i u &i u K'!ek i &i u (" Ka)amata B'la Mata Silia Palpe*!ae Supe!i'! Palpe*!a In+e!i'!

0,3 Tidak di lakukan Tidak dilakukan ;erak bebas ke segala arah Tidak ada kelainan <dema =*>, ptosis =*>

Massa =*>, hiperemis =*>, sekret =*>, edema =*>, papil edema =*> Injeksi konjungtiva =*> Ikterik =*>, injeksi episklera =*> (ernih, infiltrate =*>, sikatrik =*>, arcus senilis =?>, injeksi siliar =*> Kedalaman cukup, hifema =*>, hipopion =*> +ulat reguler, kripte =?>, sinekia =*>, iris shadow test =*> 5iameter @ 3mm, bulat, sentral, tepi regular, 1: ? (ernih ?cemerlang Tidak dilakukan "ormal

K'n,un"ti-a Palpe*!ali K'n,un"ti-a Bul*i Skle!a K'!nea

Massa =*>, hiperemis =?>, sekret =*>, edema =*>, papil edema =*> Injeksi konjungtiva =?> Ikterik =*>, injeksi episklera =*> $gak keruh, sikatrik =*>, infiltrate =?>, arcus senilis =?>, injeksi siliar =?> Kedalaman cukup, hifema =*>, hipopion =*> +ulat reguler, kripte =?>, sinekia =*>, iris shadow test =*> 5iameter @ 3mm, bulat, sentral, tepi regular, 1: ? (ernih ?suram Positif "ormal

Bilik Mata Depan I!i

Pupil Len a Re+lek $un(u Te $lu'!e )en Palpa i

I&.

DIA%NOSA KLINIS Keratitis Akuli 2inistra suspek bacterial

&.

DIA%NOSA BANDIN% A2 Konjungtivitis bacterial

&I.

PENATALAKSANAAN ;entamicin eye drop 3 8 , tetes A2 1ujuk dokter spesialis mata E(uka i# ,. Menjelaskan bahwa pasien menderita infeksi kornea yang dinamakan keratitis /. Menjelaskan agar pasien tidak mengucek mata 3. Menjelaskan agar pasien menggunakan pelindung mata bila keluar rumah -. Menjelaskan kepatuhan pengobatan &. Menjelaskan prognosis penyakit pada pasien

&II.

USULAN PEMERIKSAAN 2lit )amp :orneal 2wab pemeriksaan ;ran, KA!, dan sensitivitas test

&III. PRO%NOSIS A5 Buo ad visam # Buo ad sanam # Buo ad vitam # Buo ad cosmeticam# ad bonam ad bonam ad bonam ad bonam A2 dubia ad bonam dubia ad bonam

BAB III TIN.AUAN PUSTAKA

A. De+ini i Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis =atau disebut juga keratitis parenkimatosa> yang mengenai lapisan stroma =Ilyas, /007>. B. Anat'mi (an Hi t'l'"i K'!nea

Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran ,,*,/ mm horiContal dan ,0*,, mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi ,,36. Kornea memberikan kontribusi 6- D atau setara dengan -3,/& dioptri =5> dari total &',70 kekuatan dioptri mata manusia. Kornea juga merupakan sumber astigmatisme pada sistem optik. 5alam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari aEueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata. 2ebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung*ujung saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah ,00 kali jika dibandingkan dengan konjungtiva. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke 4, saraf siliar longus yang berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran +owman melepas selubung 2chwannya. 2eluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan. 2ensasi dingin oleh +ulbus Krause ditemukan pada daerah limbus =Ilyas, /00&>. Kornea dalam bahasa latin FcornumG artinya seperti tanduk, merupakan selaput bening mata, bagian dari mata yang bersifat tembus cahaya, merupakan lapis dari jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas # ,. <pitel Terdiri dari sel epitel sEuamos yang bertingkat, terdiri atas & lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindihH sel poligonal dan sel gepeng. Tebal lapisan epitel kira*kira & D =0,0& mm> dari total seluruh lapisan kornea. <pitel dan film air mata merupakan lapisan permukaan dari media penglihatan. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okludenH ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa melalui barrier. 2el basal menghasilkan

membran basal yang melekat erat kepadanya. +ila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. 2edangkan epitel berasal dari ektoderem permukaan. <pitel memiliki daya regenerasi =Ilyas, /00&>. /. Membran bowman Membran yang jernih dan aselular, Terletak di bawah membran basal dari epitel. Merupakan lapisan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari epitel bagian depan stroma. )apisan ini tidak mempunyai daya generasi =Ilyas, /00&>. 3. 2troma )apisan ini mencakup sekitar I0D dari ketebalan kornea. Merupakan lapisan tengah pada kornea. +agian ini terdiri atas lamel fibril*fibril kolagen dengan lebar sekitar , Jm yang saling menjalin yang hampir mencakup seluruh diameter kornea, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabangH terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama, dan kadang sampai ,& bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. 5iduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma =Ilyas, /00&>. -. Membran 5escemet Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea yang dihasilkan oleh endotel. +ersifat sangat elastis dan jernih yang tampak amorf pada pemeriksaan mikroskop elektron, membran ini berkembang terus seumur hidup dan mempunyai tebal ? -0 mm. )ebih kompak dan elastis daripada membran +owman. (uga lebih resisten terhadap trauma dan proses patologik lainnya dibandingkan dengan bagian*bagian kornea yang lain =Ilyas, /00&>. &. <ndotel +erasal dari mesotelium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk heksagonal, tebal antara /0*-0 mm melekat erat pada membran descemet melalui taut. <ndotel dari kornea ini dibasahi oleh aEueous humor. )apisan endotel berbeda dengan lapisan epitel karena tidak mempunyai daya regenerasi, sebaliknya endotel mengkompensasi sel*sel yang mati dengan mengurangi kepadatan seluruh

endotel dan memberikan dampak pada regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat menjaga keseimbangan cairan yang tepat akibat gangguan sistem pompa endotel, stroma bengkak karena kelebihan cairan =edema kornea> dan kemudian hilangnya transparansi =kekeruhan> akan terjadi. Permeabilitas dari kornea ditentukan oleh epitel dan endotel yang merupakan membrane semipermeabel, kedua lapisan ini mempertahankan kejernihan daripada kornea, jika terdapat kerusakan pada lapisan ini maka akan terjadi edema kornea dan kekeruhan pada kornea =Ilyas, /00&>.

/. $i i'l'"i K'!nea Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan FjendelaG yang dilalui berkas cahaya menuju retina. 2ifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. 5eturgesensi atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh FpompaG bikarbonat aktif pada endotel

dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. 5alam mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel, dan kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel*sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. 2ebaliknya, kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan meghilang bila sel*sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata tersebut, yang mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi =4aughan, /00I>. Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. 2ubstansi larut*lemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut*air dapat melalui stroma yang utuh. Karenanya agar dapat melalui kornea, obat harus larut*lemak dan larut*air sekaligus. <pitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam kornea. "amun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan membran bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur =4aughan, /00I>. Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. +iasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Aleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil =4aughan, /00I>. D. Eti'l'"i (an $akt'! Pen)etu
Penyebab keratitis bermacam*macam. +akteri, virus dan jamur dapat menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simple8 tipe ,. 2elain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin $ dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik =Mansjoer, /00,>.

E. Tan(a (an %e,ala Umum

Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea. Infiltrat dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan keratitis. Pada peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut =sikatrik>, yang dapat berupa nebula, makula, dan leukoma. $dapun gejala umum adalah #
Keluar air mata yang berlebihan
"yeri Penurunan tajam 1adang Mata

penglihatan

pada kelopak mata =bengkak, merah> terhadap cahaya =Mansjoer, /00,>.

merah

2ensitif

$.

Kla i+ika i Keratitis biasanya diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terkena #

yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel dan bowman dan keratitis profunda apabila mengenai lapisan stroma. +entuk*bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah =Ilyas, /007># ,. Keratitis punctata superfisialis +erupa bintik*bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh sindrom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar ultraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. /. Keratitis flikten +enjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea. 3. Keratitis sika 2uatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di konjungtiva. -. Keratitis lepra

2uatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik. &. Keratitis nummularis +ercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan banyak didapatkan pada petani. +entuk*bentuk klinik keratitis profunda antara lain adalah # ,. Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital /. Keratitis sklerotikans.

%. Pat'+i i'l'"i %e,ala Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel*sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. 2esudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel*sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear =PM">, yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas*batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbulah ulkus kornea =4aughan, /00I>. Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. 1asa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra =terutama palbebra superior> pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. .otofobia, yang berat pada kebanyakan
penyakit kornea, minimal pada keratitis herpes karena hipestesi terjadi pada penyakit ini, yang juga merupakan tanda diagnostik berharga. Meskipun berair mata dan fotofobia umumnya me* nyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi mata kecuali pada ulkus bakteri purulen

=4aughan, /00I>. Karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiaskan berkas cahaya, lesi
kornea umumnya agak mengaburkan penglihatan, terutama kalau letaknya di pusat

=4aughan,

/00I>. H. Dia"n' a $namnesis pasien penting pada penyakit kornea. 2ering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing dan abrasi merupakan dua lesi yang umum pada kornea. $danya riwayat penyakit kornea juga bermanfaat. Keratitis akibat infeksi herpes simpleks sering kambuh, namun karena erosi kambuh sangat sakit dan keratitis herpetik tidak, penyakit*penyakit ini dapat dibedakan dari gejalanya. !endaknya pula ditanyakan pemakaian obat lokal oleh pasien, karena mungkin telah memakai kortikosteroid, yang dapat merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, atau oleh virus, terutama keratitis herpes simpleks. (uga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit*penyakit sistemik, seperti diabetes, $I52, dan penyakit ganas, selain oleh terapi imunosupresi khusus =4aughan, /00I>. 5okter memeriksa di bawah cahaya yang memadai. Pemeriksaan sering lebih mudah dengan meneteskan anestesi lokal. Pemulusan fluorescein dapat memperjelas lesi epitel superfisialis yang tidak mungkin tidak telihat bila tidak dipulas. Pemakaian biomikroskop =slitlamp> penting untuk pemeriksaan kornea dengan benarH jika tidak tersedia, dapat dipakai kaca pembesar dan pencahayaan terang. !arus diperhatikan perjalanan pantulan cahaya saat menggerakkan cahaya di atas kornea. 5aerah kasar yang menandakan defek pada epitel terlihat dengan cara ini =4aughan, /00I>. Mayoritas kasus keratitis bakteri pada komunitas diselesaikan dengan terapi empiris dan dikelola tanpa hapusan atau kultur. !apusan dan kultur sering membantu dalam kasus dengan riwayat penyakit yang tidak jelas. !ipopion yang terjadi di mata dengan keratitis bakteri biasanya steril, dan pungsi akuos atau vitreous tidak perlu dilakukan kecuali ada kecurigaan yang tinggi oleh mikroba endophthalmitis. Kultur adalah cara untuk mengidentifikasi organisme kausatif dan satu* satunya cara untuk menentukan kepekaan terhadap antibiotik. Kultur sangat

membantu sebagai panduan modifikasi terapi pada pasien dengan respon klinis yang tidak bagus dan untuk mengurangi toksisitas dengan mengelakkan obat* obatan yang tidak perlu. 5alam perawatan mata secara empiris tanpa kultur dimana respon klinisnya tidak bagus, kultur dapat membantu meskipun keterlambatan dalam pemulihan patogen dapat terjadi. 2ampel kornea diperoleh dengan memakai agen anestesi topikal dan menggunakan instrumen steril untuk mendapatkan atau mengorek sampel dari daerah yang terinfeksi pada kornea. Kapas steril juga dapat digunakan untuk mendapatkan sampel. Ini paling mudah dilakukan dengan perbesaran Slit Lamp. +iopsi kornea dapat diindikasikan jika terjadi respon yang minimal terhadap pengobatan atau jika kultur telah negatif lebih dari satu kali dengan gambaran klinis yang sangat mendukung suatu proses infeksi. !al ini juga dapat diindikasikan jika infiltrat terletak di pertengahan atau dalam stroma dengan jaringan atasnya tidak terlibat. Pada pasien kooperatif, biopsi kornea dapat dilakukan dengan bantuan Slit Lamp atau mikroskop operasi. 2etelah anestesi topikal, gunakan sebuah pisau untuk mengambil sepotong kecil jaringan stroma, yang cukup besar untuk memungkinkan pembelahan sehingga satu porsi dapat dikirim untuk kultur dan yang lainnya untuk histopatologi. 2pesimen biopsi harus disampaikan ke laboratorium secara tepat waktu.

0. Ke!atiti Bakte!iali Keratitis bakteri adalah gangguan penglihatan yang mengancam. :iri*ciri khusus keratitis bakteri adalah perjalanannya yang cepat. 5estruksi corneal lengkap bisa terjadi dalam /- K -' jam oleh beberapa agen bakteri yang virulen. %lkus kornea, pembentukan abses stroma, edema kornea dan inflamasi segmen anterior adalah karakteristik dari penyakit ini. Pat'"en ;rup bakteri yang paling banyak menyebabkan keratitis bakteri adalah 2treptococcus, Pseudomonas, <nterobacteriaceae =meliputi Klebsiella, <nterobacter, 2erratia, and Proteus> dan golongan 2taphylococcus. )ebih dari /0 kasus keratitis jamur =terutama candidiasis> terjadi komplikasi koinfeksi bakteri.

+anyak jenis ulkus kornea bakteri mirip satu sama lain dan hanya bervariasi
dalam beratnya penyakit. Ini terutama berlaku untuk ulkus yang disebabkan bakteri oportunistik =mis., Streptococcus alfa-hemolyticus, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Nocardia, dan M fortuitum-chelonei), yang menimbulkan ulkus kornea indolen yang cenderung menyebar perlahan dan superficial =4aughan, /00I>.

Pat'+i i'l'"i $wal dari keratitis bakteri adalah adanya gangguan dari epitel kornea yang intak dan atau masuknya mikroorganisme abnormal ke stroma kornea, dimana akan terjadi proliferasi dan menyebabkan ulkus. .aktor virulensi dapat menyebabkan invasi mikroba atau molekul efektor sekunder yang membantu proses infeksi. +eberapa bakteri memperlihatkan sifat adhesi pada struktur fimbriasi dan struktur non fimbriasi yang membantu penempelan ke sel kornea. 2elama stadium inisiasi, epitel dan stroma pada area yang terluka dan infeksi dapat terjadi nekrosis. 2el inflamasi akut =terutama neutrofil> mengelilingi ulkus awal dan menyebabkan nekrosis lamella stroma. 5ifusi produk*produk inflamasi =meliputi cytokines> di bilik posterior, menyalurkan sel*sel inflamasi ke bilik anterior dan menyebabkan adanya hypopyon. Toksin bakteri yang lain dan enCim =meliputi elastase dan alkalin protease> dapat diproduksi selama infeksi kornea yang nantinya dapat menyebabkan destruksi substansi kornea. Temuan Klini a. Ke!atiti Pneum'k'ku %lkus kornea pneumokokus biasanya muncul /-*-' jam setelah inokulasi pada
kornea yang lecet. Infeksi ini secara khas menimbulkan sebuah ulkus berbatas tegas warna kelabu yang cenderung menyebar secara tak teratur dari tempat infeksi ke sentral kornea. +atas yang maju menampakkan ulserasi aktif dan infiltrasi sementara batas yang ditinggalkan mulai sembuh. =<fek merambat ini menimbulkan istilah Lulkus serpiginosa akutL.> )apis superfisial kornea adalah yang pertama terlibat, kemudian parenkim bagian dalam. Kornea sekitar ulkus sering bening. +iasanya ada hipopion. Kerokan dari tepian depan ulkus kornea pneumokokus mengandung diplokokus berbentuk*lancet gram*positif =4aughan, /00I>.

%lkus Pseudomonas

*. Ke!atiti Pseudomonas %lkus kornea pseudomonas berawal sebagai infiltrat ke labu atau kuning di
tempat epitel kornea yang retak. "yeri yang sangat biasanya menyertainya. )esi ini cenderung cepat menyebar ke segala arah karena pengaruh enCim protcolitik yang dihasilkan organisme ini. Meskipun pada awalnya superfisial, ulkus ini dapat mengenai seluruh kornea. %mumnya terdapat hipopion besar yang cenderung membesar dengan berkembangnya ulkus. Infiltrat dan eksudat mungkin berwarna hijau kebiruan. Ini akibat pigmen yang dihasilkan organisme dan patognomonik untuk infeksi P aeruginosa.

Pseudomonas adalah penyebab umum ulkus kornea bakteri. Kasus ulkus kornea
Pseudomonas dapat terjadi pada abrasi kornea minor atau penggunaan lensa kontak lunak, terutama yang dipakai agak lama. %lkus kornea yang disebabkan organisme ini bervariasi dari yang sa* ngat jinak sampai yang menghancurkan. Arganisme itu ditemukan melekat pada permukaan lensa kontak lunak. +eberapa kasus dilaporkan setelah penggunaan larutan florescein atau obat tetes mata yang terkontaminasi =4aughan, /00I>.

). Ke!atiti Streptokokus Khas sebagai ulkus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea =serpinginous>. %lkus bewarna kuning keabu*abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. %lkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia. Te!api a. Terapi antibiotika Tetes mata antibiotik mampu mencapai tingkat jaringan yang tinggi dan merupakan metode yang banyak dipakai dalam pengobatan banyak kasus. 2alep pada mata berguna sewaktu tidur pada kasus yang kurang berat dan juga berguna sebagai terapi tambahan. $ntibiotik subkonjungtiva dapat membantu pada keadaan ada penyebaran segera ke sclera atau perforasi atau dalam kasus di mana kepatuhan terhadap rejimen pengobatan diragukan. $ntibiotik topikal spektrum luas empiris digunakan pada pengobatan awal dari keratitis bakteri. %ntuk keratitis yang parah =melibatan stroma atau dengan defek yang lebih besar dari / mm dengan nanah yang luas>, diberikan dosis loading setiap & sampai ,& menit untuk jam pertama, diikuti oleh aplikasi setiap

,& menit sampai , jam pada jam berikutnya. Pada keratitis yang kurang parah, rejimen terapi dengan dosis yang kurang frekuen terbukti efektif. $gen Cycloplegic dapat digunakan untuk mengurangi pembentukan sinekhia dan untuk mengurangi nyeri pada kasus yang lebih parah pada keratitis bakteri dan ketika adanya peradangan bilik anterior mata. Terapi single-drug dengan menggunakan fluoroEuinolone =misalnya ciprofloksasin, ofloksasin> menunjukkan efektiftivitas yang sama seperti terapi kombinasi. Tetapi beberapa patogen =misalnya 2treptococcus, anaerob> dilaporkan mempunyai kerentanan bervariasi terhadap golongan fluoroEuinolone dan prevalensi resistensi terhadap golongan fluoroEuinolones tampaknya semakin meningkat. ;atifloksasin dan moksifloksasin =generasi keempat fluoroEuinolone> telah dilaporkan memiliki cakupan yang lebih baik terhadap bakteri gram*positif dari fluoroEuinolone generasi sebelumnya pada uji in- itro. "amun, fluoroEuinolone generasi keempat belum disetujui .5$ untuk pengobatan keratitis bakteri. Terapi kombinasi antibiotika digunakan dalam kasus infeksi berat dan mata yang tidak responsif terhadap pengobatan. Pengobatan dengan lebih dari satu agen mungkin diperlukan untuk kasus*kasus penyebab mikobakteri non* tuberkulos. $ntibiotik sistemik jarang dibutuhkan, tetapi dapat diipertimbangkan pada kasus*kasus yang parah di mana proses infeksi telah meluas ke jaringan sekitarnya =misalnya, sclera> atau ketika adanya ancaman perforasi dari kornea. Terapi sistemik juga diperlukan dalam kasus*kasus keratitis gonokokal. b. Terapi kortikosteroid Terapi topikal kortikosteroid memiliki peran bermanfaat dalam mengobati beberapa kasus menular keratitis. Keuntungan potensial adalah penekanan peradangan dan pengurangan pembentukan jaringan parut pada kornea, yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan. $ntara kerugiannya pula termasuk timbulnya aktivitas infeksi baru, imunosupresi lokal, penghambatan sintesis kolagen dan peningkatan tekanan intraokular. Meskipun berisiko, banyak ahli percaya bahwa penggunaan kortikosteroid topikal dalam pengobatan keratitis bakteri dapat mengurangi morbiditas. Terapi kortikosteroid pada pasien yang

sedang diobati dengan kortikosteroid topikal pada saat adanya curiganya keratitis bakteri hendaklah diberhentikan dahulu sampai infeksi telah dikendalikan. Prinsip pada terapi kortikosteroid topikal adalah menggunakan dosis minimal kortikosteroid yang bisa memberikan efek kontrol peradangan. Keberhasilan pengobatan membutuhkan perkiraan yang optimal, regulasi dosis secara teratur, penggunaan obat antibiotika yang memadai secara bersamaan, dan follow*up. Kepatuhan dari pasien sangat penting, dan tekanan intraokular harus sering dipantau. Pasien harus diperiksa dalam , sampai / hari setelah terapi kortikosteroid topikal dimulai. K'mplika i Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis bakteri ini adalah penipisan kornea, dan akhirnya perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophthalmitis dan hilangnya penglihatan. P!'"n' i Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, seperti diuraikan di bawah ini, dan dapat mengakibatkan penurunan visus derajat ringan sampai berat. * 4irulensi organisme yang bertanggung jawab atas keratitis * )uas dan lokasi ulkus kornea * !asil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen 1. Ke!atiti &i!u a. Ke!atiti He!pe Simplek Keratitis herpes simpleks merupakan salah satu infeksi kornea yang paling sering ditemukan dalam praktek. 5isebabkan oleh virus herpes simpleks, ditandai dengan adanya infiltrasi sel radang M edema pada lapisan kornea manapun. Pada mata, virus herpes simplek dapat diisolasi dari kerokan epitel kornea penderita keratitis herpes simpleks. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang mengandung virus =Ilyas, /007>. Temuan klini Kelainan mata akibat infeksi herpes simpleks dapat bersifat primer dan kambuhan. lnfeksi primer herpes simplek primer pada mata jarang ditemukan

ditandai oleh adanya demam, malaise, limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, bleparitis, dan / 3 kasus terjadi keratitis epitelial. Kira*kira I-*IID kasus bersifat unilateral, walaupun pada -0D atau lebih dapat terjadi bilateral khususnya pada pasien*pasien atopic =4aughan, /00I>. +entuk ini umumnya dapat sembuh sendiri, tanpa menimbulkan kerusakan pada mata yang berarti. Terapi antivirus topikal dapat dipakai unutk profilaksis agar kornea tidak terkena dan sebagai terapi untuk penyakit kornea. Infeksi primer dapat terjadi pada setiap umur, tetapi biasanya antara umur 7 bulan*& tahun atau ,7*/& tahun. Keratitis herpes simpleks didominir oleh kelompok laki*laki pada umur -0 tahun ke atas =$merican academy, /007>. Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah /*3 minggu pasca infeksi primer. 5engan mekanisme yang tidak jelas, virus menjadi inaktif dalam neuron sensorik atau ganglion otonom. 5alam hal ini ganglion servikalis superior, ganglion n.trigeminus, dan ganglion siliaris berperan sebagai penyimpan virus. "amun akhir*akhir ini dibuktikan bahwa jaringan kornea sendiri berperan sebagai tempat berlindung virus herpes simpleks. +eberapa kondisi yang berperan terjadinya infeksi kambuhan antara lain# demam, infeksi saluran nafas bagian atas, stres emosional, pemaparan sinar matahari atau angin, haid, renjatan anafilaksis, dan kondisi imunosupresi =4aughan, /00I>. Nalaupun diobati, kira*kira /&D pasien akan kambuh pada tahun pertama, dan meningkat menjadi 33D pada tahun kedua. Peneliti lain bahkan melaporkan angka yang lebih besar yaitu -7,&6D keratitis herpes simpleks kambuh dalam kurun waktu - bulan setelah infeksi primer. Penelitian di Oogyakarta mendapatkan angka kekambuhan hanya ,,,&D dalam kurun waktu 7 bulan pengamatan setelah penyembuhan. Perbedaan angka*angka tersebut dimungkinkan oleh perbedaan cara pengobatan =$merican academy, /006>. Kebanyakan infeksi !24 pada kornea disebabkan !24 tipe , namun beberapa kasus pada bayi dan dewasa dilaporkan disebabkan !24 tipe /. )esi kornea kedua jenis ini tidak dapat dibedakan. %e,ala Klini ;ejala utama umumnya iritasi, fotofobia, mata berair. +ila kornea bagian pusat yang terkena terjadi sedikit gangguan penglihatan. Karena anestesi kornea

umumnya timbul pada awal infeksi, gejala mungkin minimal dan pasien mungkin tidak datang berobat. 2ering ada riwayat lepuh K lepuh, demam atau infeksi herpes lain, namun ulserasi kornea kadang K kadang merupakan satu K satunya gejala infeksi herpes rekurens =4aughan, /00I>. +erat ringannya gejala*gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi epitel, berhubung adanya hipestesi atau insensibilitas kornea. 5alam hal ini harus diwaspadai terhadap keratitis lain yang juga disertai hipestesi kornea, misalnya pada# herpes Coster oftalmikus,keratitis akibat pemaparan dan mata kering, pengguna lensa kontak, keratopati bulosa, dan keratitis kronik. ;ejala spesifik pada keratitis herpes simpleks ringan adalah tidak adanya foto*fobia =Ilyas, /000>. Le i Keratitis herpes simplek juga dapat dibedakan atas bentuk superfisial, profunda, dan bersamaan dengan uveitis atau kerato uveitis. Keratitis superfisial dapat berupa pungtata, dendritik, dan geografik. Keratitis dendritika merupakan proses kelanjutan dari keratitis pungtata yang diakibatkan oleh perbanyakan virus dan menyebar sambil menimbulkaP kematian sel serta membentuk defek dengan gambaran bercabang. )esi bentuk dendritik merupakan gambaran yang khas pada kornea, memiliki percabangan linear khas dengan tepian kabur, memiliki bulbus terminalis pada ujungnya. Pemulasan fluoresein memudahkan melihat dendrit, namun sayangnya keratitis herpes dapat juga menyerupai banyak infeksi kornea yang lain dan harus dimasukkan dalam diagnosis diferensial =4aughan, /00I>. $da juga bentuk lain yaitu bentuk ulserasi geografik yaitu sebentuk penyakit dendritik menahun yang lesi dendritiknya berbentuk lebih lebar hat ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan bentuknya menjadi ovoid. 5engan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki cabang mengelilingi ulkus. Tepian ulkus tidak kabur. 2ensasi kornea, seperti halnya penyakit dendritik, menurun. )esi epitel kornea lain yang dapat ditimbulkan !24 adalah keratitis epitelial GblotchyG, keratitis epitelial stelata, dan keratitis filamentosa. "amun semua ini umumnya bersifat sementara dan sering menjadi dendritik khas dalam satu dua hari =4aughan, /00I>.

)esi dendritik

)esi geografik

Keratitis herpes simpleks bentuk dendrit harus dibedakan dengan keratitis herpes Coster, pada herpes Coster bukan suatu ulserasi tetapi suatu hipertropi epitel yang dikelilingi mucus plaEuesH selain itu, bentuk dendriform lebih kecil =Ilyas, /007>. Keratitis diskiformis adalah bentuk penyakit stroma paling umum pada infeksi !24. 2troma didaerah pusat yang edema berbentuk cakram, tanpa infiltrasi berarti, dan umumnya tanpa vaskularisasi. <demanya mungkin cukup berat untuk membentuk lipatan*lipatan dimembran descement. Mungkin terdapat endapan keratik tepat dibawah lesi diskiformis itu, namun dapat pula diseluruh endotel karena sering bersamaan dengan uveitis anterior. 2eperti kebanyakan lesi herpes pada orang imunokompeten, keratitis disciformis normalnya sembuh sendiri, setelah berlangsung beberapa minggu sampai bulan. <dema adalah tanda terpenting, dan penyembuhan dapat terjadi dengan parut dan vaskularisasi minimal =4aughan, /00I>. Keratitis !24 stroma dalam bentuk infiltrasi dan edema fokal yang sering disertai vaskularisasi, agaknya terutama disebabkan replikasi virus. Kadang* kadang dijumpai adanya infiltrat marginal atau lebih dikenal sebagai Nessely ring, diduga sebagai infiltrat polimorfonuklear disertai reaksi antigen antibodi virus herpes simpleks. Penipisan dan perforasi kornea dapat terjadi dengan cepat, apalagi jika dipakai kortikosteroid topikal. (ika terdapat penyakit stroma dengan ulkus epitel, akan sulit dibedakan superinfeksi bakteri atau fungi pada penyakit herpes. Pada penyakit epitelial harus diteliti benar adanya tanda K tanda khas herpes, namun unsur bakteri atau fungi dapat saja ada dan dapat pula disebabkan oleh reaksi imun akut, yang sekali lagi harus mempertimbangkan adanya penyakit

virus aktif. Mungkin terlihat hipopion dengan nekrosis, selain infeksi bakteri atau fungi sekunder =4aughan, /00I>.

)esi dengan Nessely 1ing Pat'"ene a

Keratitis 5iskiformis

Keratitis herpes simplek dibagi dalam / bentuk yaitu epitelial dan stromal Kerusakan terjadi pada pembiakan virus intraepitelial, mengakibatkan kerusakan sel epitelial dan membentuk tukak kornea superfisial. Pada yang stromal terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang yaitu reaksi antigen antibodi yang menarik sel radang kedalam stroma. 2el radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak jaringan stroma disekitarnya. !al ini penting diketahui karena manajemen pengobatan pada yang epitelial ditujukan terhadap virusnya sedang pada yang stromal ditujukan untuk menyerang virus dan reaksi radangnya. Perjalanan klinik keratitis dapat berlangsung lama kaena stroma kornea kurang vaskuler, sehingga menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke tempat lesi. Infeksi okuler !24 pada hospes imunokompeten biasanya sembuh sendiri, namun pada hospes yang secara imunologik tidak kompeten, perjalanannya mungkin menahun dan dapat merusak =4aughan, /00I>. Te!api +ertujuan menghentikan replikasi virus didalam kornea, sambil memperkecil efek merusak akibat respon radang. ,. 5ebridement :ara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epitelial, karena virus berlokasi di dalam epitel. 5ebridement juga mengurangi beban antigenik virus pada stroma kornea. <pitel sehat melekat erat pada kornea, namun epitel

terinfeksi mudah dilepaskan. 5ebridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Oodium atau eter topikal tidak banyak manfaat dan dapat menimbulkan keratitis kimiawi. Abat siklopegik seperti atropi , D atau homatropin&D diteteskan kedalam sakus konjugtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumny adalah 6/ jam. Pengobatan tambahan dengan anti virus topikal mempercepat pemulihan epitel. Terapi obat topikal tanpa debridement epitel pada keratitis epitel memberi keuntungan karena tidak perlu ditutup, namun ada kemungkinan pasien menghadapi berbagai keracunan obat =4aughan, /00I>. /. Terapi obat $gen anti virus topikal yang di pakai pada keratitis herpes adalah ido8uridine, trifluridine, vidarabine, dan acyclovir. Trifluridine dan acyclovir jauh lebih efektif untuk penyakit stroma dari pada yang lain. Ido8uridine dan trifluridine sering kali menimbulkan reaksi to8ik. $cyclovir oral ada mamfaatnya untuk pengobatan penyakit herpes mata berat, khususnya pada orang atopik yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif =ecCema herpeticum>. 2tudy multicenter terhadap efektivitas acyclovir untuk pengobatan kerato uveitis herpes simpleks dan pencegahan penyakit rekurens kini sedang dilaksanakan = herpes eye disease study> =4aughan, /00I>. 1eplikasi virus dalam pasien imunokompeten, khususnya bila terbatas pada epitel kornea, umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal. 5alam hal ini penggunaan kortikosteroid topikal tidak perlu, bahkan berpotensi sangat merusak. Kortikosteroid topikal dapat juga mempermudah perlunakan kornea, yang meningkatkan risiko perforasi kornea. (ika memang perlu memakai kortikosteroid topikal karena hebatnya respon peradangan, penting sekali ditambahkan obat anti virus secukupnya untuk mengendalikan replikasi virus =4aughan, /00I>. 3. +edah Keratolasti penetrans mungkin diindentifikasi untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. Pasca bedah, infeksi

herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. (uga sulit dibedakan penolakan transplantasi kornea dari penyakit stroma rekurens =4aughan, /00I>. Perforasi kornea akibat penyakit herpes stroma atau superinfeksi bakteri atau fungi mungkin memerlukan keratoplasti penetrans darurat. Pelekat jaringan sianokrilat dapat dipakai secara efektif untuk menutup perfosi kecil dan graft FpetakG lamelar berhasil baik pada kasus tertentu. Keratoplasi lamelar memiliki keuntungan dibanding keratoplasti penetrans karena lebih kecil kemungkinan terjadi penolakan transparant. )ensa kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi mungkin diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang terdapat padakeratitis herpes simplek =4aughan, /00I>. -. Pengendalian mekanisme pemicu yang mengaktifkan kembali infeksi !24 Infeksi !24 rekurens pada mata banyak dijumpai kira K kira sepertiga kasus dalam / tahun serangan pertama. 2ering dapat ditemukan mekanisme pemicunya. 2etelah denga teliti mewawancarai pasien. +egitu ditemukan, pemicu itu dapat dihindari. $spirin dapat dipakai untuk mencegah demam, pajanan berlebihan terhadap sinar matahari atau sinar %4 dapat dihindari. Keadaan K keadaan yang dapat menimbulkan strea psikis dapat dikurangi. 5an aspirin dapat diminum sebelum menstruasi =4aughan, /00I>. P!'"n' i Prognosis akhirnya baik karena tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea. +ila tidak diobati, penyakit ini berlangsung ,*3 tahun dengan meninggalkan gejala sisa. *. Ke!atiti &i!u &a!i ela 2' te! Infeksi virus varicella Coster terjadi dalam / bentuk# primer =varicella> dan rekuren =Coster>. Manifestasi pada mata jarang terjadi pada varicella namun sering pada Coster ophthalmic. Pada varicella, lesi mata umumnya pada kelopak dan tepian kelopak. (arang ada keratitis =khas lesi stroma perifer dengan vaskularisasi>, dan lebih jarang lagi keratitis epithelial dengan atau tanpa pseudodendrite. Pernah dilaporkan keratitis disciformis, dengan uveitis yang lamanya bervariasi =4aughan, /00I>.

+erbeda dari lesi kornea varicella, yang jarang dan jinak, Coster ophthalmic relatif banyak dijumpa, kerap kali disertai keratouveitis yang bervariasi beratnya sesuai dengan status kekebalan pasien. Komplikasi kornea pada Coster ophthalmic dapat diperkirakan timbul jika terdapat erupsi kulit di daerah yang dipersarafi cabang*cabang "ervus "asosiliaris =4aughan, /00I>.

Keratitis !erpes Qoster pada cabang " "asosiliaris

+erbeda dari keratitis !24 rekuren, yang umumnya hanya mengenai epithel, keratitis 4Q4 mengenai stroma dan uvea anterior pada awalnya. )esi epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang*kadang pada pseudodendrite linear yang sedikit mirip dendrite pada keratitis !24. Keluhan stroma disebabkan oleh edema dan sedikit infiltrate sel yang pada awalnya hanya subepitel. Keadaan ini dapat diikuti penyakit stroma dalam dengan nekrosis dan vaskularisasi. Kadang*kadang timbul keratitis disciformis dan mirip keratitis disciformis !24. Kehilangan sensasi kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan*bulan setelah lesi kornea tampak sudah sembuh. %veitis yang timbul cenderung menetap beberapa minggu sampai bulan, namun akhirnya sembuh. 2kleritis dapat menjadi masalah berat pada penyakit 4Q4 mata =4aughan, /00I>. $cyclovir intravena dan oral telah dipakai dengan hasil baik untuk mengobati herpes Coster ophthalmic, khususnya pada pasien yang kekebalannya terganggu. 5osis oralnya adalah '00mg, & kali sehari untuk ,0*,- hari. Terapi hendaknya dimulai 6/ jam setelah timbulnya kemerahan. Peranan antivirus topikal kurang meyakinkan. Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan untuk mengobati keratitis berat, uveitis, dan glaukoma sekunder. Penggunaan kortikosteroid sistemik masih kontroversial. Terapi ini mungkin diindikasikan untuk mengurangi insidensi dan

hebatnya neuralgia paska herpes. "amun demikian keadaan ini sembuh sendiri =4aughan, /00I>. 3. Ke!atiti $un"i Keratitis jamur dapat menyebabkan infeksi jamur yang serius pada kornea dan berdasarkan sejumlah laporan, jamur telah ditemukan menyebabkan 7D*&3D kasus keratitis ulseratif. )ebih dari 60 spesies jamur telah dilaporkan menyebabkan keratitis jamur =;rayson, ,I'3>. Eti'l'"i 2ecara ringkas dapat dibedakan # ,. (amur berfilamen =filamentous fungi> # bersifat multiseluler dengan cabang*cabang hifa. a> (amur bersepta # !urasium sp, "cremonium sp, "spergillus sp, Cladosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Cur ularia sp, "ltenaria sp. b> (amur tidak bersepta # Mucor sp, #hi$opus sp, "bsidia sp. /. (amur ragi =yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas # Candida albicans, Cryptococcus sp, #odotolura sp. Mani+e ta i Klinik 1eaksi peradangan yang berat pada kornea yang timbul karena infeksi jamur dalam bentuk mikotoksin, enCim*enCim proteolitik, dan antigen jamur yang larut. $gen*agen ini dapat menyebabkan nekrosis pada lamella kornea, peradangan akut , respon antigenik dengan formasi cincin imun, hipopion, dan uveitis yang berat. %lkus kornea yang disebabkan oleh jamur berfilamen dapat menunjukkan infiltrasi abu*abu sampai putih dengan permukaan kasar, dan bagian kornea yang tidak meradang tampak elevasi keatas. )esi satelit yang timbul terpisah dengan lesi utama dan berhubungan dengan mikroabses stroma. Plak endotel dapat terlihat paralel terhadap ulkus. :incin imun dapat mengelilingi lesi utama, yang merupakan reaksi antara antigen jamur dan respon antibodi tubuh. 2ebagai tambahan, hipopion dan sekret yang purulen dapat juga timbul. 1eaksi injeksi konjungtiva dan kamera okuli anterior dapat cukup parah. Pada keratitis candida biasaya ditandai dengan lesi berwarna putih kekuningan.

%ntuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut # ,. /. 3. -. &. 7. 6. 1iwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama. )esi satelit. Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh. Plak endotel. %ypopyon, kadang*kadang rekuren. .ormasi cincin sekeliling ulkus. )esi kornea yang indolen =5uane, ,I'6>.

Keratitis $spergilus

Keratitis :andida

Dia"n' a La*'!at'!ik 2angat membantu diagnosis pasti, walaupun bila negatif belum menyingkirkan diagnosis keratomikosis. Oang utama adalah melakukan pemeriksaan kerokan kornea =sebaiknya dengan spatula Kimura> yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. 5apat dilakukan pewarnaan KA!, ;ram, ;iemsa atau KA! ? Tinta India, dengan angka keberhasilan masing*masing @ /0* 30D, &0*70D, 70*6&D dan '0D. )ebih baik lagi melakukan biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan Periodic "cid Schiff atau Methenamine Sil er, tapi sayang perlu biaya yang besar. $khir*akhir ini dikembangkan Nomars&i differential interference contrast microscope untuk melihat morfologi jamur dari kerokan kornea =metode "omarski> yang dilaporkan cukup memuaskan. 2elanjutnya dilakukan kultur dengan agar 2abouraud atau agar ekstrak maltosa =2rinavan, /007>. Te!api Terapi medikamentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang tersedia, tampaknya diperlukan kreativitas dalam improvisasi

pengadaan obat, yang utama dalam terapi keratomikosis adalah mengenai jenis keratomikosis yang dihadapi bisa dibagi# ,. /. 3. -. +elum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya. (amur berfilamen. 1agi 'yeast). ;olongan $ctinomyces yang sebenarnya bukan jamur sejati. %ntuk golongan I # Topikal $mphotericin + ,,0/,& mg ml, Thiomerosal =,0 mg ml>, "atamycin R ,0 mg ml, golongan ImidaCole. %ntuk golongan II # Topikal $mphotericin + 0,,&D, MiconaCole ,D, "atamycin &D =obat terpilih>, econaCole ,D =obat terpilih>. %ntuk golongan III # <conaCole ,D, $mphoterisin + 0,,& D, "atamycin &D, :lotrimaCole ,D, fluoconaCol / D =(ack, /00I>. %ntuk golongan I4 # ;olongan 2ulfa, berbagai jenis $ntibiotik. 2teroid topikal adalah kontra indikasi, terutama pada saat terapi awal. 5iberikan juga obat sikloplegik =atropin> guna mencegah sinekia posterior untuk mengurangi uveitis anterior. Tidak ada pedoman pasti untuk penentuan lamanya terapiH kriteria penyembuhan antara lain adalah adanya penumpulan 'blunting atau rounding-up) dari lesi*lesi ireguler pada tepi ulkus, menghilangnya lesi satelit dan berkurangnya infiltrasi di stroma di sentral dan juga daerah sekitar tepi ulkus. Perbaikan klinik biasanya tidak secepat ulkus bakteri atau virus. $danya defek epitel yang sulit menutup belum tentu menyatakan bahwa terapi tidak berhasil, bahkan kadang* kadang terjadi akibat pengobatan yang berlebihan. (adi pada terapi keratomikosis diperlukan kesabaran, ketekunan dan ketelitian dari kita semua =;rayson, ,I'3>.

BAB I& KESIMPULAN

Keratitis adalah suatu peradangan kornea yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan lapis kornea yang terkena seperti keratitis superficial dan profunda, atau berdasarkan penyebabnya yaitu keratitis karena berkurangnya sekresi air mata, keratitis karena keracunan obat, keratitis reaksi alergi, infeksi, reaksi kekebalan, reaksi terhadap konjungtivitis menahun. Pada Keratitis sering timbul rasa sakit yang berat oleh karena kornea bergesekan dengan palpebra, karena kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang yang masuk ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak sentral dari kornea. .otofobia terutama disebabkan oleh iris yang meradang Keratitis dapat memberikan gejala mata merah, rasa silau dan merasa ada yang mengganjal atau kelilipan. Manajemen yang tepat dapat mengurangi insidensi kehilangan penglihatan dan membatasi kerusakan kornea. Keterlambatan diagnosis infeksi adalah salah satu faktor yang berperan terhadap terapi awal yang tidak tepat. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila di diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai.

DA$TAR PUSTAKA $merican $cademy of Aphthalmology. ()terna disease and cornea. 2an .ransisco /006 5uane, 5 Thomas # :linical Aphthalmology, 4olume -, Philadelphia, !arper M 1ow Publisher, ,I'6. ;rayson, Merrill # 5iseases of The :ornea, 2econd <dition, )ondon, The :. 4. Mosby :ompany, ,I'3. Ilyas, 2idarta. /000.2ari Ilmu Penyakit Mata. +alai Penerbit .K%I (akarta #&/. Ilyas, 2idarta. /00&. Ilmu penyakit Mata. <disi ketiga. .K%I. (akarta. !al =,,'* ,/0> =,-6*,76> Ilyas, 2idarta. /007. Ilmu Penyakit Mata, <disi 3. +alai Penerbit .K%I (akarta. Mansjoer, $rif M. /00,. Kapita 2elekta edisi*3 jilid*,. (akarta# Media $esculapius .K%I. !al# &7 2rinivasan M, et al. 5istinguishing infectious versus non infectious keratitis. I"5I$" (ournal of Apthalmology /007 &7#3H&0*&7 4aughan, 5aniel. Aftalmologi %mum. <disi ,- :etakan Pertama. Nidya Medika (akarta, /00I