Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH IMUNOLOGI DAN INFLAMASI ANTIGEN

Disusun oleh : KELOMPOK 9 DOSEN : dr. DORTA SIMAMORA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

I Gusti Ngurah Satria Dharma P. Vena Risti Dilgantari Andika Soradika Yudi Pratama I Made Erda Indranata Ni Putu Yunita Puspitra Sari Grady Christian Irawati Marcelina Dwiputri Maria Natalia I Made Dwi Tirtana

11700078 11700084 11700098 11700166 11700208 11700230 11700308 11700326 11700366 11700420

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA TAHUN AKADEMIK 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan berkah dan rahmatnya bagi kelancaran Pembuatan Makalah untuk kegiatan perkuliahan. Makalah ini berjudul Imunologi dan Inflamasi Antigen. Dalam makalah ini, penulis banyak memperoleh dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu sewajarnyalah penulis mengucapkan terimakasih yang kepada yang terhormat:
1. Dosen yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk membuat karya tulis

ilmiah.
2. Teman-teman kuliah yang telah banyak memberi motivasi kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran yang membangun untuk membantu penyempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan bagi pembaca pada khususnya.

Surabaya , 25 Maret 2012

Penulis

BAB II

ISI
1. ANTIGEN

2.1.1

Definisi

Antibodi adalah selalu berbentuk Y. Dianalogikan seperti sebuah pertempuran dengan tentara (antibodi) melawan penjajah (antigen). Sebuah jenis sel darah putih yang disebut limfosit yang mengakui antigen sebagai asing dan menghasilkan antibodi yang spesifik untuk antigen itu. Setiap antibodi memiliki bentuk situs yang unik mengikat yang mengunci ke bentuk spesifik dari antigen. Antibodi menghancurkan antigen (patogen) yang kemudian ditelan dan dicerna oleh makrofag. Antibodi merupakan protein yang dapat mengenali suatu antigen tertentu. Antibodi yang cocok dengan antigen akan seperti gembok dan kunci.

Bagian-bagian yang membentuk ujung lengan Y sangat bervariasi dari satu antibodi ke yang lain, ini yang disebut sebagai daerah variabel. Ini memang kontur unik di situs antigen-mengikat yang memungkinkan antibodi untuk mengenali antigen yang cocok.

Antigen (antigenitas) juga membangkitkan respons imun baik respons imun seluler maupun humoral yang merangsang sel B atau sel T atau keduanya. Antigen disebut juga dengan imunogen. Bahan asing yang masuk ke dalam badan, yang pada manusia atau organisme multiseluler lain dapat menimbulkan interaksi dengan produk respons imun yang dirangsang oleh imunogen spesifik seperti antibody atau TCR. Suatu zat kimia yang mempunyai bagian yang bersifat antigenic determinant

(epitop) yang dapat merangsang pembentukan antibodi baik pada binatang maupun pada manusia yang mempunyai cirri-ciri penting sebagai imunogenitas dan reaktivitas.
2. Pembagian antigenitas

Antigen dapat dibagi menurut epitop, spesifisitas, ketergantungan terhadap sel T, dan sifat kimiawi.
1. Pembagian antigen menurut epitop :

a. Unideterminan, univalen

Hanya satu jenis determinan/epitop pad satu molekul


b. Unideterminan, multivalen

Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan pad satu mulekul
c. Multideterminan, univalen

Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein)
d. Multideterminan, multivalen

Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi)
2. Pembagian antigen menurut spesifisitas a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu c. Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individudalam satu spesies d. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri 3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T a. T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk dapat

menimbulkan respons antibodi. Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini.
b. T independenyang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk

antibodi. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul besar polimerik yang dipecah di dalam tubuh secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan dan flagelin polimerik bakteri.
4. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi a. Hidrat arang (polisakarida)

Hidrat arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein yang merupakan bagian permukaan sel banyak mikroorganisme dapat menimbulkan respons imun terutama pembentukan antibodi. Contoh lain adalah respons imun yang ditimbulkan golongan darah ABO, sifat antigen dan spesifitas imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merah.

b. Lipid

Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat protein pembawa. Lipid dianggap sebagai hapten, contohnya adalah sfingolipid.
c. Asam nukleat

Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi imunogenik bila diikat protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik. Respons imun terhadap DNA terjadi pada penderita dengan LES.
d. Protein

Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multideterminan dan univalen.
3. Faktor-faktor antigenitas

Sifat sebagai antigenitas kecuali ditentukan oleh sifat asing dan berat molekul dari determinan antigen, masih di pengaruhi oleh beberapa faktor :
1. Spesies

Misalnya zat dekstran, suatu polimer dari glukosa, bersifat antigen pada manusia dan tikus tetapi tidak bersifat antigen pada kelinci dan marmut.
2. Jenis

Di dalam suatu spesies binatang percobaan ditemukan perbedaan antara beberapa jenis spesies itu di tinjau dari sudut kemampuan untuk mengenal suatu bahan sebagai antigen.
3. Cara dan Dosis

Cara pemberian dosis suntikan dan waktu yang berlalu diantara dua suntikan dapat mempengaruhi pembentukan antibodi selain jumlah antigen itu sendiri.
4. Adjuvan

Bahan yang berupa emulsi yang mampu memperkuat antigen dalam kemampuannya merangsang terbentuknya antibody. Sifat adjuvan memberi proteksi pada antigen terhadap eliminasi tidak spesifik dari bahan dan dapat menyebabkan pembentukan antibody dalam jangka panjang karena pelepasan antigen secara bertahap. Contoh adjuvan : emulsi air-minyak presipitat aluminium, emulsi partikel bentonit, dan minyak mineral,air dan lanolin dan ditambahkan dengan kuman mikro bakterium

yang dimatikan-- dengan pemanasan.


5. Keasingan

Tingkat keasingan antigen akan berpengaruh terhadap daya imunogennya.Makin asing molekul makin tinggi daya imunogennya.
6. Ukuran Molekul

Zat-zat yag masuk kedalam tubuh yang memiliki berat molekul kurang dari 10.000 akan menyebabkan terjadinya imunogenik lemah atau tidak imunogenik sama sekali.
7. Kompleksitas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen meliputi baik sifat fisik maupun kimia molekul. Keadaan aggegasi molekul misalnya dapat mempengaruhi imunogenitas. Larutan proten-protein monometrik dapat benar-benar merangsang terjadinya keadaan refraktair atau tolerans bila berada dalam bentuk monometrik, tetapim sangat imunogen bila dalam berada polimetrik atau keadaan agregasi.
8.

Bentuk-bentuk (Conformation) Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang imunogen. Polipeptid linear atau bercabang, karbohidrat linear atau bercabang, serta protein globular, semuanya mampu merangsang terjadinya respon imun.Meskipun demikian antibodi yang dibentuk dari aneka macam kombinasi struktur adalah sangat spesifik dan dapat dengan cepat mengenal perbedaan-perbedaan ini. Bila bentuk antigen berubah, antibodi dirangsang dalam bentuk aslinya yang tidak bergabung lagi

9.

Muatan (charge) Imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu;tidak terbatas pada molekuler tertentu, zat-zat yang bermuatan positif, negatif, dan netral dapat imunogen. Namun demikian imunogen tanpa muatan akan memunculkan antibodi yang tanpa kekuatan . Telah terbukti bahwa imunitas dengan beberapa imunogen bermuatan positif akan menghasilkan imunogen bermuatan negatif.

10. Kemampuan masuk

Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem pengenalan akan menentukan hasil respon imun. Perkembangan baru-baru ini telah memungkinkan penelitian untuk mempersiapkan polipeptid imunogenik sintetik yang berisi sejumlah asam amino terbatas dan yang susunan kimianya dapat ditentukan.

4.

Contoh-contoh antigenitas

Beberapa jenis antigen: 1. Protein 2. Polisakharida 3. Polipeptida Sintetik 4. Asam nukleat 5. Hapten 6. Bakteri 7. Virus 8. Sel darah yang asing 9. Sel-sel dari transplantasi organ 10. Toksin

Antigen terdiri dari 2 bagian utama: 1. Antigen Eksogen yaitu antigen yg datang dari luar, masuk ke hospes. Antigen ini berupa: *mikroorganisme *tepung sari *obat-obatan *polutan 2. Antigen Endogen yaitu antigen yg terdapat dalam individu yaitu : *antigen senogenik (heterolog) *antigen autolog *antigen alogenik (homolog) Antigen Senogenik Mempunyai arti penting dalam klinis, yaitu reaksi silang antara antigen-antigen septokokus betahemo litikus grup A dengan jaringan jantung manusia yang sering menyebabkan reaksi silang dengan jaringan glomerulus ginjal sehingga menyebabkan penyakit glomerulus nephritis akut pada ginjal. Antigen Autolog (autoantigen) Misalnya antigen spesifik organ seperti: antigen thyroid merupakan penyebab penyakit autoimun thiroiditas hashimoto. Antigen Homolog (antigen alogenik)

Jadi aloantigen (isoantigen) merupakan kelompok antigen yg paling banyak mempunyai arti klinik. Aloantigen merupakan antigen yang secara genetik diatur sehingga membedakan antigenik determinan suatu individu dengan individu lain, tapi spesies sama. Antigen dalam darah merah ABO RH dalam golongan darah merupakan isoantigen. Antigen dalam sel darah putih adalah: *Antigen histokompatibilitas (HLA) *Antigen neutrofil (NA) Antigen dalam trombosit = antigen trombosit Antigen dalam serum protein = gamaglobulin

Pembagian Antigen Menurut Spesifisitas adalah :


1. Heteroantigen : Dimiliki Oleh Banyak Spesies 2. Xenoantigen : Dimiliki Oleh Spesies Tertentu 3. Alloantigen (Isoantigen) : Spesifik Untuk Individu Dalam Satu Spesies 4. Antigen Organ Spesifik : Hanya Dimiliki Organ Tertentu 5. Autoantigen : Dimiliki Alat Tubuh Sendiri

5.

Sifat-sifat antigenitas

Antigenisitas adalah Sifat zat (antigen) yang memungkinkan zat tersebut bereaksi dengan produkproduk dari respon imun spesifik, yaitu antibody atau limfosit T yang tersensitisasi spesifik

Kemampuan antigen untuk berikatan secara spesifik dengan produk akhir dari suatu respon imun, di mana bisa berupa antibody atau reseptor permukaan sel

2.

EPITOP 2.2.1 Definisi

Antigen tersusun atas epitop dan paratop

Epitop atau Determinan adalah bagian dari antigen yang dapat mengenal/ menginduksi pembentukan antibodi sedangkan paratope dalah bagian dari antibodi yang dapat mengikat epitop. Sifat epitop : menentukan spesifitas reaksiantigen-antibodi dan penentu timbulnyarespon imun. Jumlah epitop pada molekul antigentergantung pada ukuran & kerumutanstrukturnya. Misalnya albumin telur (BM 42.000)mempunyai 5 epitop sedangkan tiroglobulin(BM 700.000) mempunyai 40 epitop padasetiap molekulnya.

Epitop atau determinan antigen adalah bagian dari antigen yang dapat membuat kontak fisik dengan reseptor antibody, menginduksi pembentukan antibody yang dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibody atau oleh reseptor antibody (paratop). Kelompok kimia terkecil dari suatu antigen yang dapat membangkitkan respon imun. Unit terkecil dari antigen kompleks yang dapat diikat antibodi disebut dengan determinan antigenik atau epitop. Area tertentu pada molekul antigenik, yang mengikat antibodi atau pencerap sel B maupun sel T. Determinan antigen tidak hanya ditentukan oleh komposisi kimia tetapi juga oleh konfigurasi molekulnya.
2.

Pembagian epitop The epitop antigen protein dibagi menjadi dua kategori yaitu :

1. Epitop konformasi

Sebuah epitop konformasi terdiri dari bagian terputus urutan asam amino antigen itu. Epitop berinteraksi dengan paratope berdasarkan 3-D fitur permukaan dan bentuk atau struktur tersier dari antigen. Epitop Kebanyakan konformasi.
2. Epitop linier

Sebaliknya, epitop linier berinteraksi dengan paratope berdasarkan struktur utama mereka. Sebuah epitop linier dibentuk dengan urutan yang kontinu asam amino dari antigen.
3.

Contoh-contoh epitop Ada beberapa contoh bentangan pendek asam amino yang dikenal diikat antibody bisa menjadi tag epitop :

1. C-myc adalah sebuah segmen 10 asam amino dari myc protoonkogen manusia

(EQKLISEEDL)
2. HA adalah haemoglutinin protein dari protein hemaglutinin influenza manusia

(YPYDVPDYA)
3. His6 adalah jika enam histidines ditempatkan berturut-turut, mereka membentuk

struktur

yang

mengikat

elemen

Nickle.

Hal

ini

sangat

berguna

untuk

chromostography afinitas tetapi juga dapat digunakan sebagai tag epitop.


4. GFP adalah hijau neon protein telah menjadi salah satu protein reporter yang paling

populer dan dengan demikian tag epitop bagus. Namun, GFP jauh lebih besar daripada
3. HAPTEN 1.

kebanyakan

tag

epitop

lainnya.

Definisi

Secara fungsional antigen dibagi 2 , yaitu :


a. Imunogen

zat yg merangsang respon imun, bereaksi dgn antibodi secara khas.


b. Hapten

Suatu zat yang non-imunogenik tetapi yang dapat bereaksi dengan produk respon imun spesifik. Haptens adalah molekul kecil yang tidak pernah bisa merangsang respon kekebalan bila diberikan sendiri tetapi yang dapat ketika digabungkan ke molekul pembawa. Hapten biasanya dikenal sebagai sel B sedangan protein pembawanya dikenal oleh sel T Contoh : Dinitrofenol, berbagai macam golongan antibiotic

Hapten adalah merupakan zat kimia yang bermolekul kecil yg tidak imunogenik tetapi dapat bereaksi dengan antibodi spesifiknya karena zat kimia ini disenyawakan secara kovalen dengan gugus asam amino, yaitu: lisin, tirosin dan histidin. Senyawa protein baru ini dapat menimbulkan pembentukan antibodi. Molekul kecil yang bersifat antigenic (misalnya protein) tapi tidak imunogenik, yang bisa berikatan dengan produk respon imun tapi tidak bisa membangkitkan respon

imun. Substansi kimia aktif yang mempunyai berat molekul kecil yang tidak dapat menginduksi respon imun oleh dirinya sendiri tetapi dapat bergabung dengan molekul yang lebih besar (carrier atau Schlepper) menjadi bersifat imunogenik dan dapat mengikat antibodi. Substansi kimiawi sederhana atau suatu bagian dari antigen yang tidak menimbulkan respon kekebalan, tetapi jika hapten berikatan dengan protein tubuh akan mengenalinya sebagai substansi berbahaya.
2.

Contoh-contoh hapten Beberapa contoh dari hapten adalah


1. Urushiol merupakan racun yang ditemukan dalam Poison Ivy.

Ketika diserap melalui kulit dari tanaman poison ivy, urushiol mengalami oksidasi dalam sel-sel kulit untuk menghasilkan hapten yang sebenarnya, sebuah molekul reaktif yang disebut kuinon, yang kemudian bereaksi dengan protein kulit untuk membentuk adduct hapten. Biasanya, paparan pertama hanya menyebabkan sensitisasi, di mana ada proliferasi sel T efektor. Setelah paparan Sedetik kemudian, sel T berkembang biak dapat menjadi aktif, menghasilkan reaksi kekebalan, menghasilkan lepuh khas paparan racun ivy.

2. Fluorescein, biotin, digoksigenin, dan dinitrophenol 3. Berbagai macam obat ( seperti : penicillin ) 4. Zat kimia lain yang membawa efek alergi

4. SUPERANTIGEN

1.

Definisi
Superantigen Ketika sistem kekebalan tubuh bertemu dengan antigen T-dependent konvensional, hanya sebagian kecil dari sel T mampu mengenali antigen dan menjadi aktif. Protein yang mengikat

sejumlah pencerap antigen dari sel T. Ikatan ini menyebabkan sel T mengalamai apoptosis dengan sangat cepat. Antigen yang berinteraksi dengan reseptor sel T pada

domain di luar situs pengenalan antigen. Molekul yang merupakan pemacu respons imun poten, memiliki tempat-tempat untuk mengikat reseptor sel dari dua sistem imun yaitu rantai dari TCR dan rantai atau dari dari molekul MHC-II, tidak memerlukan pengelohan intraselular oleh APC dan tidak terbatas pada alel MHC-II khusus. Superantigens (sags) adalah kelas antigen yang menyebabkan non-spesifik aktivasi T-sel yang mengakibatkan aktivasi sel T dan oligoclonal pelepasan sitokin besar. Sags dapat diproduksi oleh mikroba patogen (termasuk virus, Mycoplasma, dan bakteri) berperan sebagai mekanisme pertahanan terhadap sistem kekebalan tubuh .Dibandingkan dengan respon antigen-induced biasa T-sel dimana 0,001-0,0001% dari tubuh sel T diaktifkan, ini sags mampu mengaktifkan hingga 20% dari tubuh T-sel. Selain itu, AntiCD3 dan Antibodi Anti-CD28 (CD28-SuperMAB) juga telah terbukti sangat ampuh superantigens (dan dapat mengaktifkan hingga 100% sel T).

Mekanisme kerja: Antigen protein biasanya diproses oleh makrofag dan antigen-presenting sel (APC) menjadi peptida fragmen, yang diekspresikan pada permukaan sel-sel ini dalam hubungan dengan molekul MHC II kelas. Hanya mereka T-sel dengan reseptor (TCR), yang mengenali antigen bersama dengan molekul MHC, diaktifkan. Superantigens tidak diproses dengan cara ini tetapi dapat mengikat molekul MHC kelas II pada permukaan APC banyak langsung. Superantigens bersamaan mengikat molekul MHC II kelas pada APC dan untuk wilayah variable TCR. Hal ini menyebabkan stimulasi dari banyak sel T dan produksi berlebihan dari interleukin-2 dan lainnya inflamasi sitokin. Produksi berlebihan dari interleukin / sitokin oleh T-sel dapat memiliki efek yang sama dengan yang diamati pada syok septik. Sebuah antigen khas harus diproses oleh APC sebuah, setelah itu mengikat kedua dan rantai dari TCR. Superantigens tidak memerlukan pengolahan dan tidak mengikat rantai . Sebaliknya, mereka menghubungkan rantai dari TCR langsung pada molekul MHC kelas II pada APC, interaksi yang cukup untuk mengaktifkan sel T pada tidak adanya dari setiap co-stimulasi sinyal lainnya.

Contoh-contoh superantigen
1. Stafilokok aureus (enterotoksin dan toksin eksofoliatif) 2. Stafilokok piogenes ( eksotoksin ) 3. Patogen

negatif

Gram

(toksin

Yersinia

enterokolitika,

Yersinian

pseudotuberkulosis )
4. Virus ( EBV, CMV, HIV, rabies) 5. Parasit (Toksoplasma gondi )

2.5 ANTIGEN TIMUS (TIMUS INDEPENDENT) 2.5.1 Definisi

Antigen polisakarida menyebabkan respon sel-T independen. Jadi sinyal pertama adalah lagi reseptor sel B berikatan dengan antigen. Sinyal kedua dalam hal ini adalah baik yang disediakan oleh reseptor dari sistem imun bawaan, seperti reseptor pulsa seperti (TI-1 jawaban - lihat gambar 3) atau dengan luas silang antibodi permukaan dengan antigen dengan mengulangi epitop. (T1-2 respon - lihat gambar 4). (Cross-linking merupakan mekanisme efektif hanya di ells B matang,

sel

tidak

belum

matang).

Perlu dicatat bahwa T1-1 tanggapan kadang-kadang dapat disebabkan oleh mitogens, yaitu antigen yang mengikat ke reseptor sel B sebagai sinyal pertama tapi BUKAN SECARA KHUSUS. Ini berarti bahwa antigen yang sama,

seperti lipopolisakarida, bisa mengikat banyak reseptor sel B yang berbeda pada sel B yang berbeda.
Lipopolisakarida bergaul dengan Pulsa seperti reseptor 4 akan memberikan sinyal kedua di semua sel. (Janeway et al 2005; Bondada et.al,

2000)

Gambar

4:

Antigen

Independen

Timus

Tipe

Antigen independen timus menyebabkan produksi IgG2 sebagai subclass IgG dominan. Mengapa semua ini adalah penting untuk diketahui adalah bahwa neonatus tidak dapat me-mount respon independen timus (terutama respon TI-2). (Janeway et al 2005; Bondada et.al, 2000). Hal ini sangat relevan dengan bakteri yang umum dengan kapsul polisakarida seperti Streptococcus pneumoniae, Streptococcus agalactiae, Neisseria menigitidis dan

Haemophilus influenzae.

Suatu daerah pada alat limfoid yang limfositnya bukan berasal dari thymus melainkan dari sel B (bursa fabricius). Timus-independen antigen (T-independen antigen) adalah mereka yang menghasilkan respon antibodi normal dalam athymic (timus-kurang atau telanjang) timus, yaitu dalam kondisi di mana sel T tidak hadir. Tidak seperti timus yang tergantung antigen, timus-independen antigen :
1. Tidak menghasilkan perpindahan isotipe (IgM hampir secara eksklusif diproduksi) 2. Tidak menunjukkan pematangan afinitas (di mana antibodi afinitas semakin tinggi

diproduksi
3. Tidak menunjukkan respon sekunder (sel memori B tidak).

Jalur antigen timus-independen ini penting karena imunitas humoral adalah mekanisme utama pertahanan terhadap bakteri berbahaya banyak yang memiliki polisakarida pada dinding sel mereka. Individu dengan depresi sistem sel T masih dapat menolak jenis infeksi bakteri. Timus-independen (TI) antigen mampu langsung mengaktifkan limfosit B ke dalam produksi antibodi sel tanpa pembantu atau faktor pembantu. Antigen ini sebagian besar berasal dari mikroba, seperti lipopolisakarida dari bakteri Gram-negatif, dipolimerisasi flagellin, pneumokokus polisakarida tipe III, dan levans dan dekstran dari bakteri dan mereka biasanya merangsang respon imunoglobulin M antibodi awal tertentu, yang sering menunjukkan fluktuasi siklus. Selain kemampuan mereka untuk merangsang respon kekebalan tanpa limfosit T helper dan mikroba mereka, ada sedikit kesamaan antara antigen TI berbeda.

2.5.2

Contoh-contoh antigen timus (timus independent)

2.5.3

Sifat-sifat antigen timus (timus independent)

T-independen antigen memiliki sifat sebagai berikut:


1. Mengaktifkan sel B pada konsentrasi tinggi, yaitu adalah aktivator sel B poliklonal

(antigen seperti lipopolisakarida, LPS, kadang-kadang disebut B mitogens sel).


2. Molekul polimer besar dengan mengulangi determinan antigenik. 3. Sangat tahan terhadap degradasi. 4. Beberapa antigen mengaktifkan kedua sel B belum matang dan dewasa; antigen lain

hanya mengaktifkan sel B dewasa dan karena itu tidak efektif terutama pada bayi di mana sel B sebagian besar belum menghasilkan.
5. Tanggapan untuk beberapa T-independen antigen didominasi oleh CD5 sel B,

dijelaskan di bawah.

DAFTAR PUSTAKA http://www.microbiologyonline.org.uk/about-microbiology/microbes-and-thehuman-body/antibody-antigen-complex http://www.web-books.com/eLibrary/Medicine/Physiology/Immune/Antigen.htm http://www.scribd.com/doc/33818589/SISTEM-IMUNOLOGI http://pathmicro.med.sc.edu/mayer/antigens2000.htm

http://www.piercenet.com/browse.cfm?fldID=4E018AA6-5056-8A76-4E573BC84C88A328 http://www.scribd.com/doc/79069348/2-Molekul-Pengenal-Antigen http://stm.sciencemag.org/content/3/95/95ra73.short?rss=1&ssource=mfr http://bioweb.wku.edu/faculty/Davis/Biol328/Lecture5.html http://immuneweb.xxmu.edu.cn/immunology/humoral.html http://en.wikibooks.org/wiki/Structural_Biochemistry/Proteins/Antibody_and_Antigen_I nteraction http://www.scribd.com/de_DreamerzZ/d/28844931-PEMBAHASAN http://biologicallytested.wordpress.com/2010/01/29/antigen/ http://pathmicro.med.sc.edu/bowers/cell-mediated.htm http://www.nature.com/nri/journal/v9/n12/full/nri2669.html http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1038/npg.els.0000504/abstract;jsessionid=F3802E3 36EA0918A355232DFD913E1D0.d03t01?userIsAuthenticated=false&deniedAccessCust omisedMessage= http://en.wikipedia.org/wiki/Central_tolerance http://en.wikipedia.org/wiki/B_cell http://www.jstor.org/discover/10.2307/30112283?uid=3738224&uid=2129&uid=2&uid= 70&uid=4&sid=47698800242577 http://www.immunopaedia.org.za/index.php?id=437&L=0