Anda di halaman 1dari 4

MAKALAH TUGAS MANAGEMEN FARMASI Standar Kompetensi Profesi Apoteker Disusun Oleh: Dimas R. K.., S. Farm Dina Maryati.

, S. Farm Dini Dewi Masdiana., S. Farm Dini Novinriana., S. Farm Dini Novinriani., S. Farm Dwi Hardiyanti., S. Farm Dwi Novita Sari., S. Farm

A. Latar Belakang Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di indonesia sebagai apoteker (Menkes RI, 2004). Apoteker merupakan suatu profesi yang sangat erat kaitannya dengan pelayanan kefarmasian pada masyarakat. Apoteker sangat dituntut profesionalisme-nya agar pengabdian profesinya dapat dipertanggung jawabkan. Penyelenggaraan praktek kefarmasian harus selalu dapat memberikan perlindungan pada penerima jasa pelayanan kefarmasian, oleh karena itu seorang apoteker harus selalu mempertahankan dan berupaya meningkatkan kompetensinya serta mutu pelayanan kefarmasian. Pendidikan profesi berkelanjutan bagi seorang apoteker mutlak sangat diperlukan untuk meningkatkan kompetensi dan mutu pelayanan. Pendidikan apoteker berkelanjutan merupakan salah satu sistem pembelajaran seumur hidup yang diperoleh melalui suatu proses yang meliputi berbagai pelatihan keprofesian setelah menyelesaikan pendidikan formal yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas profesi mencakup kompetensi, kemampuan, ketrampilan, sikap dan prilaku profesi. Seorang apoteker berkewajban untuk selalu mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, terutama yang berhubungan erat dengan ilmu kefarmasian. Sementara itu kita juga harus menyadari bahwa apoteker yang ada di Indonesia berasal dari berbagai perguruan tinggi farmasi diseluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu pembakuan atau standarisasi tentang kemampuan minimal seorang apoteker Indonesia agar meningkatkan citra dan dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang apoteker yang profesional dalam bentuk sertifikasi kompetensi. 2.5 Kompetensi Apoteker Seorang apoteker diharuskan untuk mengikuti perkembangan dalam praktik farmasi dan ilmu-ilmu farmasi, persyaratan standar kompetensi apoteker, hukum yang mengatur tentang pekerjaan kefarmasian dan kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhubungan dengan penggunaan obat-obatan yang cukup pesat. Ini hanya dapat dicapai dengan komitmen seorang apoteker dalam mempertahankan profesionalismenya sehingga informasi dan ilmu pengetahuan yang diterima berkembang sesuai dengan tantangan dan masalah yang dihadapi dan diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian pada masa yang akan datang. Secara mendasar kompetensi apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian harus meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Asuhan Kefarmasian b. Regulasi Kefarmasian c. Manajemen Praktik Farmasi d. Akuntabilitas Praktik Farmasi

e. Komunikasi Kefarmasian f. Pendidikan dan Palatihan Kefarmasian g. Penelitian dan Pengembangan Kefarmasian 2.5.1 Penataran dan Uji Kompetensi Apoteker Apoteker yang menjalankan pekerjaan kefarmasian harus memiliki sertifikat kompetensi profesi yang dapat diperpanjang untuk setiap 5 (lima) tahun melalui uji kompetensi profesi apabila apoteker tetap menjalankan pekerjaan kefarmasian (Pemerintah RI No 51, 2009). Sementara dalam persyaratan kompetensi profesi dan kode etik kefarmasian, tanggung jawab seorang apoteker cukup berat. Tanggung jawab tersebut meliputi, regulasi, pendidikan, penelitian, dan pengembangan serta memproduksi, mendistribusikan, memberikan obat dan informasi kepada pasien (Mesker, 2006). Penataran dan uji kompetensi apoteker (PUKA) merupakan agenda lanjutan ikatan sarjana farmasi indonesia (ISFI) sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme dan standarisasi kompetensi apoteker indonesia dalam menjalankan fungsi pelayanan kefarmasian. Hal ini dilakukan sebagai wujud kesadaran profesi apoteker secara berkesinambungan meningkatkan bekal pengetahuan sebagai upaya menghadapi kompetisi yang semakin ketat (ISFI, 2007). Pelaksanaan PUKA dimaksudkan untuk meningkatkan dan sekaligus untuk menyesuaikan kemampuan apoteker sehingga menguasai pengetahuan, sikap dan pengetahuan/keterampilan secara seimbang dan mengikuti perkembangan iptek dan pelayanan terbaru. 2.5.2 Pengembangan Profesi Berkelanjutan Pada pertemuan yang diadakan oleh FIP (International Pharmaceutical Federation) di Nice ditegaskan bahwa untuk memastikan kompetensi dalam setiap layanan yang disediakan oleh farmasi harus terus menerus memperbaharui pengetahuan dan keterampilan. Apoteker dalam melakukan pekerjaannya harus mempunyai tanggung jawab pribadi untuk menjaga dan menilai kompetensi profesional mereka sendiri sepanjang karirnya, dalam bagian yang lain ditegaskan pula pengembangan profesi berkelanjutan/Continuing Professional Development (CPD) wajib dilakukan sepanjang karirnya untuk pelatihan bagi setiap apoteker (FIP, 2002). Menjadi seorang apoteker berarti harus melakukan pembelajar seumur hidup karena tingkat pengembangan obat baru sangatlah cepat, banyak obat yang diajarkan di perguruan tinggi farmasi digantikan oleh perusahan farmasi tidak lama setelah lulus sebagai apoteker, dan salah satu cara utama untuk mengimbangi hal tersebut adalah melalui pendidikan berkelanjutan ( Kelly, 2002). Untuk itu, dalam upaya mempertahankan apoteker tetap kompeten harus adanya komitmen pembelajaran sepanjang karirnya, untuk menjaga ilmu pengetahuan dan ketrampilan mereka agar tetap up to date.