Anda di halaman 1dari 24

Bambang aryanto

DEFENISI

Cardiac Arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Waktu kejadiannya tidak bisa diperkirakan, terjadi dengan sangat cepat dengan gejala maupun tanpa gejala (AHA, 2010)

TANDA GEJALA
Ketiadaan respon pasien tidak berespon terhadap rangsangan suara, tepukan di pundak ataupun cubitan. Ketiadaan pernafasan normal tidak terdapat pernafasan normal ketika jalan pernafasan dibuka. Tidak terabanya denyut nadi di arteri besar (karotis, femoralis, radialis).

Manifestasi Klinis Cardiac Arrest

Pupil dilatasi (setelah 45 detik). Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung) Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dan karotis pada orang dewasa atau brakialis pada bayi) Henti nafas atau mengap-megap (gasping) Terlihat seperti mati (death like appearance) Warna kulit pucat sampai kelabu

PENYEBAB CARDIAC ARREST


Akut Koronaria Syndrom Gangguan irama jantung ventricular tachycardia ventricular fibrillation bradycardia. Gangguan pada paru ( emboli paru, PPOK, asma, pnemonia) Ganguan katup ( prolap katup mitral) Respiratory arrest Cedera / trauma. Obat obatan, narkotika Hipotermia, terpapar suhu yang ekstrim Cardiac arrest dpt tjd tanpa alasan jelas.

FAKTOR RISIKO

Keturunan, keluarga yang mempunyai riwayat penyakit jantung Merokok Kolesterol tinggi Hipertensi Obesitas Diabetes militus Gaya hidup Alkohol dan obat obatan

PATOFISIOLOGI..1
Patofisiologi cardiac arrest tergantung dari etiologi yang mendasarinya. Beberapa sebab dapat menyebabkan ritme denyut jantung menjadi tidak normal, dan keadaan ini sering disebut aritmia. Selama aritmia, jantung dapat berdenyut terlalu cepat atau terlalu lambat atau berhenti berdenyut. Empat macam ritme yang dapat menyebabkan pulseless cardiac arrest yaitu Ventricular Fibrillation (VF), Rapid Ventricular Tachycardia (VT), Pulseless Electrical Activity (PEA) dan asistol (American Heart Association (AHA), 2005).

PATOFISIOLOGI..2

Walaupun patofisiologi cardiac arrest tergantung dari etiologi yang mendasarinya. Namun pada umumnya mekanisme terjadinya kematian adalah sama. Sebagai akibat dari henti jantung, peredaran darah akan berhenti. Berhentinya peredaran darah mencegah aliran oksigen untuk semua organ tubuh. Organ-organ tubuh akan mulai berhenti berfungsi akibat tidak adanya suplai oksigen, termasuk otak. Hipoksia cerebral atau ketiadaan oksigen ke otak, menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan berhenti bernapas normal. Kerusakan otak mungkin terjadi jika cardiac arrest tidak ditangani dalam 5 menit dan selanjutnya akan terjadi kematian dalam 10 menit (Kaplan, 2007).

WOC

Test diagnostik

Elektro kardio gram Tes darah Pemeriksaan Enzim Jantung Elektrolit Jantung, kolesterol, gula darah Test Hormon Imaging tes, foto rongent, CT Scan, MRI, Angiografi Cateterisasi jantung Lab ..?

Dapat diselamatkan ? Kematian otak dapat tjd dalam waktu 46 setelah seseorang mengalami cardiac arrest. Dapat diselamatkan jika langsung diintervensi. Kadangkala harus dilakukan electric shock untuk mencoba mengembalikan kerja jantung. ( defibrillation). Keberhasilan 7 - 10 %

survive cardiac arrest? Tidak ada statistik pasti. 95 % meninggal sebelum sampai RS. Jika dapat cepat mencapai RS dlm hitungan menit, 35-50% pasien dapat diselamatkan

Penatalaksanaan :
TUJUAN : Mengembalikan ke kondisi sebelumnya..? Meminimalkan kerusakan miokard Mencegah kematian

Penatalaksanaan :
Pasien yang mendadak kolaps ditangani melalui 5 tahap, yaitu: Respons awal Penanganan untuk dukungan kehidupan dasar (basic life support) Penanganan dukungan kehidupan lanjutan (advanced life support) Asuhan pasca resusitasi Penatalaksanaan jangka panjang

Respon awal
Respons awal akan memastikan apakah suatu kolaps mendadak benar-benar disebabkan oleh henti jantung. Observasi gerakan respirasi, warna kulit, dan ada tidaknya denyut nadi pada pembuluh darah karotis atau arteri femoralis dapat menentukan dengan segera apakah telah terjadi serangan henti jantung yang dapat membawa kematian. Gerakan respirasi abnormal dapat menetap dalam waktu yang singkat setelah henti jantung, tetapi yang penting untuk diobservasi adalah stridor yang berat dengan nadi persisten sebagai petunjuk adanya aspirasi benda asing atau makanan. Jika keadaan ini dicurigai, maneuver Heimlich yang cepat dapat mengeluarkan benda yang menyumbat.

Respon awal

samb

Pukulan di daerah prekordial yang dilakukan secara kuat dengan tangan terkepal erat pada sambungan antara bagian sternum sepertiga tengah dan sepertiga bawah kadangkadang dapat memulihkan takikardia atau fibrilasi ventrikel, tetapi tindakan ini juga dikhawatirkan dapat mengubah takikardia ventrikel menjadi fibrilasi ventrikel. Karena itu, telah dianjurkan untuk menggunakan pukulan prekordial hanya pada pasien yang dimonitor; rekomendasi ini masih controversial. Tindakan ke tiga selama respons inisial adalah membersihkan saluran nafas. Gigi palsu atau benda asing yang di dalam mulut dikeluarkan, dan maneuver Heimlich dilakukan jika terdapat indikasi mencurigakan adanya benda asing yang terjepit di daerah orofaring. Jika terdapat kecurigaan akan adanya henti respirasi (respiratory arrest) yang mendahului serangan henti jantung, pukulan prekordial kedua dapat dilakukan setelah saluran napas dibersihkan.

2. Tindakan Dukungan Kehidupan Dasar (Basic Life Support)


Tindakan ini yang lebih popular dengan istilah resusitasi kardiopulmoner (RKP;CPR;Cardiopulmonary Resuscitation) merupakan dukungan kehidupan dasar yang bertujuan untuk mempertahankan perfusi organ sampai tindakan intervensi yang definitive dapat dilaksanakan. Unsur-unsur dalam tindakan RKP terdiri atas tindakan untuk menghasilkan serta mempertahankan fungsi ventilasi paru dan tindakan kompresi dada

Langkah-langkah penting dalam resusitasi kardiopulmoner. Pastikan bahwa saluran nafas korban dalam keadaan lapang/ terbuka. Mulailah resusitasi respirasi dengan segera. Raba denyut nadi karotis di dalam lekukan sepanjang jakun (Adams apple) atau kartilago tiroid. Jika denyut nadi tidak teraba, mulai lakukan pijat jantung. Lakukan penekanan sebanyak 60 kali per menit dengan satu kali penghembusan udara untuk mengembangkan paru setelah setiap 5 kali penekanan dada. (Isselbacher: 228)

3. Tindakan Dukungan Kehidupan Lanjut (Advance Life Support)


Tindakan ini bertujuan untuk menghasilkan respirasi yang adekuat, mengendalikan aritmia jantung, menyetabilkan status hemodinamika (tekanan darah serta curah jantung) dan memulihkan perfusi organ. Aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan ini mencakup: Tindakan intubasi dengan endotracheal tube Defibrilasi/ kardioversi, dan/atau pemasangan pacu jantung Pemasangan lini infuse.

Jika penyebab cardiac arrest adalah Miocard Infark :


Reperfusi secepatnya ICCU O2 2 4 lt/mnt IV line Atasi rasa sakit Atasi rasa takut & gelisah Atasi bradikardi

ECG monitor

Atasi aritmia
Bab?? Lab Diet aktivitas

Pencegahan (pend-kesh)

Latihan Makanan sehat BB dan rokok ? Observasi penyakit & keluhan yg berkaitan dengan masalah jantung

Prevention Of Cardiac Arrest Perhatikan tanda-tanda spt : hypotension, tachycardia, chest pain, dyspnoea, restlessness or confusion Hypoxaemia, hypovolaemia dpt tjd dgn tindakan yg tdk maksimal

Proses Keperawatan
PENGKAJIAN: Umumnya data yang diperoleh pada saat pengkajian yaitu Data Obyektif, antara lain : Warna kulit pucat Kulit dingin CRT > 3 detik Sianosis kuku & bibir Terlihat distress pernafasan Tekanan darah tidak ada Nadi perifer tidak teraba

Diagnosa keperawatan
Penurunan perfusi miocard b.d

penurunan aliran darah Penurunan CO b.d penurunan kontraktilitas Penurunan perfusi jaringan cerebral b.d penurunan co

Intervensi :
Obs tk kesadaran Obs TTV Obs KU CPR..? Kolaborasi..!!!

THANK YOU