Anda di halaman 1dari 17

7

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori
1. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan atau inteligensi mula-mula didefinisikan sebagai
kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan akal budi untuk
mengatasi tantangan-tantangannya namun dia juga mengatakan bahwa
intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir
secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif (Wechster
dalam Putriani, 2011).
Wechler (Putriani, 2011) menyatakan bahwa inteligensi sebagai
keseluruhan kemampuan dari individu untuk berpikir dan bertindak
secara terarah serta kemampuan untuk mengolah dan menguasai
lingkungan secara efektif. Inteligensi bukanlah suatu yang bersifat
kebendaan atau nyata, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk
mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan
intelektual individu tersebut.
Dari kajian ini, menghasilkan pengelompokkan kecerdasan manusia
yang dinyatakan dalam bentuk Intelligent Quotient (IQ), yang dihitung
berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental dengan
tingkat usia pada individu.
Purwanto (2003) mendefinisikan bahwa inteligensi adalah
kemampuan yang dibawa individu sejak lahir yang memungkinkan
seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.
Sedangkan menurut Rose dan Nicholl (Issu 2005) menyatakan
bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau
menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang
budaya atau lebih.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat didefinisikan
bahwa inteligensi merupakan kemampuan yang dimiliki individu sejak
lahir yang memungkinkan individu untuk melakukan sesuatu dengan
cara tertentu seperti memecahkan masalah atau menciptakan suatu
produk.

8

2. Pengertian Kecerdasan Majemuk / Multiple Intelligences
Teori Multiple Intelligences atau MI ditemukan dan dikembangkan
oleh Howard Gardner seorang ahli psikologi perkembangan dan
profesor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard
University, Amerika Serikat. Gardner (Suparno, 2004) mendefinisikan
inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan
menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan
dalam situasi yang nyata.
Dalam penelitiannya mengenai inteligensi Gardner mengungkapkan
terdapat 9 kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang. Inteligensi
tersebut meliputi : Kecerdasan linguistik (Linguistic Intelligence), sebagai
kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif
baik secara oral maupun tertulis; Inteligensi Matematis-logis (Logical-
mathematical Intelligence) adalah kemampuan yang lebih berkaitan
dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif; Kecerdasan
Ruang-visual (Spatial Intelligence) adalah kemampuan untuk menangkap
dunia visual secara tepat, mencakup berpikir dalam gambar, serta
kemampuan untuk menyerap, mengubah, dan menciptakan kembali
berbagai macam aspek dunia visual-spasial; Kecerdasan Kinestetik-
badani (Bodily-kinesthetic Intelligence) adalah kemampuan
menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan
dan perasaan; Kecerdasan musikal (Musical Intelligence) adalah
kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati
bentuk-bentuk musik dan suara; Kecerdasan Antar-pribadi
(Interpersonal Intelligence) adalah kemampuan untuk mengerti dan
menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak dan
temperamen orang lain; kemampuan untuk memahami dan bekerja
sama dengan orang lain; Kecerdasan Intrapribadi (Intrapersonal
Intelligence) atau kecerdasan dalam diri sendiri adalah kemampuan
yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan
untuk bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri itu;
Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence) sebagai kemampuan
seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat
membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural; kemampuan
untuk memahami dan menikmati alam; dan menggunakan kemampuan
itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan
pengetahuan akan alam; Kecerdasan Eksistensial (Existential
9

Intelligence) menyangkut kemampuan seseorang untuk menjawab
persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia.

3. Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence)
Gardner (Suparno, 2004) menjelaskan Linguistic Intelligence
(Kecerdasan Linguistik), sebagai kemampuan untuk menggunakan dan
mengolah kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis
seperti dimiliki oleh para pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan,
sastrawan, pemain sandiwara, maupun orator. Kemampuan ini
berkaitan dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara
umum. Orang yang memiliki inteligensi linguistik tinggi akan berbahasa
lancar, baik, dan lengkap serta dapat berargumentasi, meyakinkan
orang, menghibur, atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang
diucapkannya. Mereka senang bermain-main dengan bunyi bahasa
melalui teka-teki kata, permainan kata (pun), dan tongue twister.
Kadang-kadang mereka pun mahir dalam hal-hal kecil, sebab mereka
mampu mengingat berbagai fakta. Mereka gemar sekali membaca,
dapat menulis dengan jelas, dan dapat mengartikan bahasa tulisan
secara luas.
Campbell, Campbell, dan Dickinson (Laughlin, 1999), telah
mengidentifikasi dua belas ciri bahwa seseorang yang memiliki
kecerdasan verbal-linguistik yang baik biasanya: Mendengarkan dan
merespon suara, irama, warna, dan berbagai kata yang diucapkan;
Menirukan suara, bahasa, membaca, dan menulis orang lain; Belajar
melalui mendengar, membaca, menulis, dan berdiskusi; Mendengarkan
secara efektif, memahami, parafrase, menafsirkan, dan mengingat apa
yang telah dikatakan; Membaca secara efektif, memahami, meringkas,
menafsirkan atau menjelaskan, dan mengingat apa yang telah dibaca;
Berbicara secara efektif untuk berbagai khalayak untuk berbagai tujuan,
dan tahu bagaimana berbicara sederhana, fasih, persuasif, atau penuh
gairah pada saat yang tepat; Menulis secara efektif; Memahami dan
menerapkan aturan tata bahasa, tanda baca ejaan, dan menggunakan
kosakata yang efektif; Memiliki kemampuan untuk belajar bahasa lain;
Menggunakan mendengarkan, berbicara, menulis, dan membaca untuk
mengingat, berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, membujuk,
membuat pengetahuan, membangun makna, dan merenungkan bahasa
itu sendiri; Berupaya untuk meningkatkan penggunaan bahasa nya
10

sendiri; Menunjukkan minat pada jurnalistik, puisi debat, bercerita,
berbicara, menulis, atau mengedit; Membuat bentuk-bentuk linguistik
baru atau karya-karya asli penulisan atau komunikasi lisan.
Kecerdasan linguistik berkaitan dengan penggunaan bahasa sendiri
dengan tepat, tata bahasa dan pengucapan kata, dan konsep dengan
makna yang sesuai (Armstrong, 1994). Dari pendapat-pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa kecerdasan linguistik adalah kemampuan
untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif baik secara
oral maupun tertulis dengan makna yang sesuai atau tepat.

4. Kecerdasan Matematis-Logis (Logical-mathematical Intelligence)
Menurut Gardner dalam Suparno (2004) Logical-mathematical
Intelligence/Inteligensi Matematis-logis adalah kemampuan yang lebih
berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif, seperti
yang dipunyai seorang matematikus, saintis, programer, dan logikus.
Termasuk dalam inteligensi tersebut adalah kepekaan pada pola logika,
abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan. Orang yang memiliki inteligensi
matematis-logis sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi
dalam pemikiran serta cara mereka bekerja. Orang yang kuat dalam
intelgensi matematis-logis secara menonjol dapat melakukan tugas
memikirkan sistem-sistem yang abstrak seperti matematika dan filsafat.
Gampbell (Issu, 2005) menyatakan inteligensi matematis-logis
mengungkapkan tiga hal luas tapi yang berhubungan antara satu
dengan yang lain yaitu matematika, ilmu sains, dan logika. Halimah
(2006) menyatakan bahwa kecerdasan matematis-logis meliputi proses
menjumlahkan, berpikir tentang perencanaan dan hipotesis serta
menjalankan operasi matematika yang rumit.
Kecerdasan logis-matematis adalah keterampilan tentang berpikir
dengan angka, perhitungan, menarik kesimpulan dari hubungan secara
logis, pemecahan masalah, berpikir kritis, memahami simbol abstrak
seperti angka, bentuk geometris, potongan pengetahuan yang berkaitan
(Onay, 2006).
Campbell, dkk. (Laughlin, 1999) mengungkapkan beberapa
karakteristik bahwa seseorang memiliki kecerdasan matematis-logis
yang baik adalah sebagai berikut: Memandang objek dan fungsi mereka
di lingkungan; Akrab dengan konsep kuantitas, waktu penyebab, dan
akibat; Menggunakan simbol abstrak untuk mewakili benda konkrit dan
11

konsep; Menunjukkan keterampilan di logis pemecahan masalah;
Merasakan pola dan hubungan; Proses dan menguji hipotesis;
Menggunakan keterampilan matematika yang beragam seperti
memperkirakan, perhitungan algoritma, menafsirkan statistik, dan
secara visual mewakili informasi dalam bentuk grafis; Suka operasi
kompleks seperti kalkulus, fisika, pemrograman komputer, atau metode
penelitian; Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti,
membuat hipotesis, merumuskan model, mengembangkan contoh-
contoh, dan membangun argumen yang kuat; Menggunakan teknologi
untuk memecahkan masalah matematika; Mengungkapkan minat dalam
karir seperti akuntansi, teknologi komputer, hukum, teknik, dan kimia;
Membuat model baru atau merasakan wawasan baru dalam ilmu atau
matematika.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas kecerdasan matematis-
logis adalah kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan
bilangan dan logika secara efektif serta kemampuan berpikir dengan
angka, perhitungan, menarik kesimpulan dari hubungan secara logis,
pemecahan masalah, berpikir kritis, memahami simbol abstrak seperti
angka, bentuk geometris, potongan pengetahuan yang berkaitan.

5. Kecerdasan Ruang-Visual ( Spatial Intelligence )
Bagi Gardner (Suparno, 2004) Spatial Intelligence/Kecerdasan
Ruang-visual adalah kemampuan untuk menangkap dunia visual secara
tepat, mencakup berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk
menyerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek
dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek,
fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Orang dengan tingkat
kecerdasan spasial yang tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang
tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan
begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta
dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi. Orang
yang berinteligensi ruang-visual baik akan dengan mudah belajar ilmu
ukur ruang. Ia akan dengan mudah menentukan letak suatu benda
dalam ruangan. Ia akan dapat membayangkan suatu bentuk secara
benar meski dalam perspektif.
Piaget & Inhelder (Tambunan, 2006) menyebutkan bahwa
kemampuan spasial sebagai konsep abstrak yang di dalamnya meliputi
12

hubungan spasial (kemampuan untuk mengamati hubungan posisi objek
dalam ruang), kerangka acuan (tanda yang dipakai sebagai patokan
untuk menentukan posisi objek dalam ruang), hubungan proyektif
(kemampuan untuk melihat objek dari berbagai sudut pandang),
konservasi jarak (kemampuan untuk memperkirakan jarak antara dua
titik), representasi spasial (kemampuan untuk merepresentasikan
hubungan spasial dengan memanipulasi secara kognitif), rotasi mental
(membayangkan perputaran objek dalam ruang).
Kecerdasan ruang-visual adalah keterampilan tentang berpikir
mengenai gambar, angka dan garis, mengamati dan memahami bentuk
tiga dimensi (Onay, 2006). Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap
warna, garis, angka dan hubungan di antara mereka. Selain itu,
mencakup keterampilan tentang visualisasi ide, pikiran, yang diubah
menjadi bentuk grafis (Armstrong, 1994).
Campbell (Laughlin, 1999) mengungkapkan beberapa karakteristik
bahwa seseorang memiliki kecerdasan spasial yang baik adalah sebagai
berikut: Belajar dengan melihat dan mengamati; Mengenali wajah,
objek, bentuk, warna, detail, dan layar; Menavigasi diri dan objek efektif
melalui ruang, bila memindahkan tubuh seseorang melalui lubang,
menemukan cara seseorang dalam hutan tanpa jejak, mobil bergerak
melalui lalu lintas, atau mendayung kano di sungai; Merasakan dan
menghasilkan citra mental, berpikir dalam gambar, dan visualisasi rinci;
Menggunakan gambar visual sebagai bantuan dalam mengingat
informasi; Decode grafik, diagram, peta, dan diagram; Belajar dengan
representasi grafis atau melalui media visual; Suka mencoret-coret,
menggambar, melukis, memahat, atau mereproduksi dalam bentuk
benda terlihat; Suka membangun tiga dimensi produk, seperti benda
asli, tiruan jembatan, rumah, atau kontainer; Mampu secara mental
mengubah bentuk suatu obyek seperti melipat kertas menjadi bentuk
yang kompleks dan visualisasi bentuk baru, atau mental benda bergerak
dalam ruang untuk menentukan bagaimana mereka berinteraksi dengan
objek lainnya, seperti roda gigi, mengubah bagian mesin; Melihat hal-hal
dengan cara yang berbeda atau dari "perspektif baru" seperti ruang
negatif di sekitar formulir serta bentuk itu sendiri atau mendeteksi salah
satu bentuk "tersembunyi" di negara lain; Merasakan pola jelas dan
halus; Menciptakan representasi visual dari beton atau informasi;
Apakah ahli dalam desain representasional atau abstrak;
13

Mengungkapkan minat atau keterampilan untuk menjadi seorang
seniman, fotografer, insinyur, videografer, arsitek, desainer, kritikus
seni, pilot, atau karier yang berorientasi visual lainnya; Membuat
bentuk-bentuk baru visual-spasial media atau karya-karya asli seni.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas kecerdasan spasial adalah
kemampuan kemampuan untuk menangkap dunia visual secara tepat,
mencakup berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk menyerap,
mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia
visual-spasial seperti gambar, angka, warna dan garis, serta kemampuan
untuk mengamati dan memahami bentuk tiga dimensi.

6. Pengertian Prestasi Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengenai prestasi belajar
adalah Hasil yang telah dicapai. Menurut Winkel (2004), prestasi belajar
adalah hasil dari perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan
pemahaman, dalam bidang keterampilan, dalam bidang nilai dan sikap.
Menurut Slameto (2003) prestasi belajar adalah suatu perubahan
yang dicapai seseorang setelah mengikuti prose belajar. Perubahan ini
meliputi perubahan tingkah laku secar menyeluruh dalam sikap,
ketrampilan dan pengetahuan.
Krismiyati (2009) prestasi belajar adalah suatu hasil belajar yang
diperoleh siswa dalam usaha belajar yang dilakukannya, prestasi belajar
yang dialami murid menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang
pengetahuan pemahaman, dalam bidang keterampilan, dalam bidang
nilai dan sikap.
Menurut Gunartomo (2003) prestasi belajar adalah performance
dan kompetensinya dalam suatu mata pelajaran setelah mempelajari
materi untuk mencapai tujuan pengajaran. Performance dan kompetensi
tersebut meliputi : Ranah kognitif seperti informasi dan pengetahuan
(knowledge), konsep dan prinsip (understanding), pemecahan masalah
dan kreativitas; ranah psikomotoris/skills; dan ranah afektif seperti
perasaan, sikap, nilai, dan integritas pribadi.
Prestasi belajar yang diungkapkan oleh oleh Arikunto (1993) yaitu
hasil usaha, kemampuan dan sikap siswa dalam menyelesaikan tugas
dalaam bidang pendidikan yang dinyatakan dengan angka. Prestasi
belajar yang dinampakkan dalam bidang akademik dinyatakan sebgai
pengetahuan yang dicapai atau ketrampilan yang dikembangkan dalam
14

mata pelajaran tertentu di sekolah, biasanya ditetapkan atas dasar tes
atau ujian yang dilakukan oleh guru.
Rumusan mengenai prestasi belajar juga dikemukakan oleh Tuu
(2004) yaitu prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika
mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah;
prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya karena
bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa, dan evaluasi; serta
prestasi belajar siswa ditunjukkan melalui nilai dari evaluasi yang
dilakukanoleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian
yang ditempuhnya.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat dirumuskan
pengertian prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika
mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah
dimana penilaian berasal dari ranah kognitif/cognitive domain
(pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa , dan
evaluasi) yang ditunjukkan melalui nilai dari evaluasi yang dilakukan oleh
guru berupa nilai tes atau angka.

7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dalam usaha untuk mencapai suatu prestasi belajar yang optimal
atau keberhasilan dari proses pendidikan, adapun faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar. Suryabrata (1998) menyatakan bahwa
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada dua yaitu : Faktor dari
dalam individu (faktor biologis/kematangan fisik, kesehatan badan,
kualitas makanan dan fungsi panca indera; faktor psikologis/minat, rasa
aman, motivasi, pengalaman masa lampau dan kecerdasan) ; Faktor dari
luar individu (faktor non-sosial/faktor belajar, cuaca, tempat dan fasilitas ;
faktor sosial/pribadi guru yang mengatur, sikap orang tua terhadap
anaknya yang sedang belajar, situasi pergaulan dengan teman sebaya).
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor
internal (faktor yang bersumber dari dalam manusia yang belajar) dan
faktor eksternal (faktor yang bersumber dari luar diri manusia yang
belajar). Faktor internal meliputi faktor biologis (usia, kematangan,
kesehatan) dan faktor psikologis (minat, motivasi, suasana hati). Faktor
eksternal meliputi faktor manusia (keluarga, sekolah, masyarakat) dan
non manusia (udara, suara, bau-bauan). Hambatan proses belajar dapat
15

berasal dari diri siswa, misalnya ketika siswa sedang sakit dia akan
mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam penerimaan pelajaran yang
diberikan guru dan berasal dari luar siswa, seperti lingkungan keluarga
yang acuh dengan pendidikan anak.
Hal yang sama dinyatakan Slameto (2003) bahwa faktor internal
dan faktor eksterna merupakan faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar siswa. Faktor internal meliputi faktor jasmaniah (kesehatan, cacat
tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, kesiapan) dan kelelahan. Faktor eksternal meliputi faktor
keluarga (cara orang tua dalam mendidik, relasi dan komunikasi antar
anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian
orang tua, latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran,
waktu sekolah, standar pengajaran di atas ukuran, keadaan gedung,
metode belajar, tugas rumah) dan faktor masyarakat (teman bergaul
serta bentuk kehidupan masyarakat).
Tu`u (2004) keberhasilan siswa dalam mencapai suatu prestasi
belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat kecerdasan, bakat
yang dimiliki, minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran,
motivasi, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran yang
dikembangkan guru.

8. Pengertian Prestasi Belajar Matematika
Menurut The International Study of Achievement in Mathematic
seperti yang dikutip Gunartomo (2003) menetapkan sepuluh kecakapan
dasar prestasi belajar matematika yaitu mengingat dan mengungkapkan
definisi, notasi, operasi, dan konsep; kecermatan dan ketepatan
menghitung dan manipulasi simbol; menerjemahkan data ke dalam
simbol; menginterpretasikan data yang muncul dalam bentuk simbolik;
mengikuti alur suatu penalaran atau pembuktian; menyusun suatu
pembuktian; menerapkan konsep pada masalah matematis;
menggunakan konsep pada masalah-masalah non-matematis;
menganalisis masalah dan menentukan operasi yang mungkin digunakan;
menentukan keumuman (generalisasi) matematis.
Kurikulum 2006, menetapkan kompetensi matematika yang ingin
dicapai dengan pembelajaran matematika seperti berikut; Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
16

mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat, dalam pemecahan masalah; Menggunakan penalaran pada pola,
sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika; Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan
memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan
model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; Mengkomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, grafik atau diagram untuk memperjelas
keadaan atau masalah; Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika
dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat
dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah (Departemen Pendidikan Nasional, 2006).
Syair (2008) mengungkapkan bahwa prestasi belajar matematika
adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar matematika sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Issu (2005) menyatakan bahwa prestasi belajar matematika
merupakan pengetahuan yang diperoleh siswa setelah mempelajari
materi tersebut melaui proses belajar mengajar dalam tiap semester atau
setiap tahun berupa nilai.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas peneliti merumuskan
pengertian prestasi belajar matematika adalah hasil belajar yang dicapai
siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan
pembelajaran matematika di sekolah dimana penilaian berasal dari ranah
kognitif/cognitive domain (pengetahuan atau ingatan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesa , dan evaluasi) yang ditunjukkan melalui nilai dari
evaluasi yang dilakukan oleh guru tiap semester atau setiap tahun yang
dinyatakan dalam angka guna mengetahui ketercapaian tujuan yang telah
ditetapkan.

B. Hasil Penelitian yang Relevan
Dalam penelitian Raharjo (2002) mengenai hubungan antara
kecerdasan majemuk dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU
Katholik Yos Sudarso di Batu, Malang menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan pada taraf signifikansi 1%antara kecerdasan
matematis-logis dengan prestasi belajar matematika (r =0,29), terdapat
hubungan yang signifikan taraf signifikansi 1% antara kecerdasan
linguistik dengan prestasi belajar bahasa dan sastra indonesia (r =0,54),
17

terdapat hubungan yang signifikan taraf signifikansi 1% antara kecerdasan
linguistik dengan prestasi belajar bahasa inggris (r =0,57), terdapat
hubungan yang signifikan taraf signifikansi 1% antara kecerdasan
kinestetik dengan prestasi belajar pendidikan jasmani dan kesehatan (r =
0,65), terdapat hubungan yang signifikan taraf signifikansi 1% antara
kecerdasan musikal dengan prestasi belajar pendidikan kesenian (r =
0,39), dan terdapat hubungan yang signifikan taraf signifikansi 1% antara
kecerdasan naturalis dengan prestasi belajar biologi (r =0,50).
Sejalan dengan penelitian Raharjo, Penelitian Suparlan (2009)
terhadap siswa kelas VIII SMP N 1 Palimanan yang diambil sampel sebesar
11 % dari total populasi 354 siswa menunjukkan terdapat korelasi yang
tinggi antara kecerdasan numerik dengan prestasi belajar matematika.
Penelitian Tambunan (2006) yang dilakukan terhadap anak usia
sekolah sebanyak 220 siswa dimana 110 siswa laki-laki dan 110 siswa
perempuan yang berusia 7-11 tahun di dua kelurahan di wilayah DKI
Jakarta yaitu Kelurahan Kaliayar, Kecamatan Tambora Jakarta Barat dan
Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagaraksa Jakarta Selatan menunjukan
terdapat hubungan antara kemampuan spasial dengan prestasi belajar
matematika.
Yoong (2002) di Penang Malaysia memvalidasi kecerdasan
majemuk pada 224 orang siswa kelas 10 sekolah menengah melalui
korelasi dengan tes baku sains, matematika, dan bahasa malaysia. Yoong
menemukan bahwa skor tes sains (IPA) berkorelasi positif signifikan
r=0,50 dengan skor kecerdasan naturalistik dan r =0,50 dengan skor
kecerdasan matematika, tetapi berkorelasi negatif signifikan r =-0,37
dengan skor kecerdasan musikal. Skor tes matematika berkorelasi positif
signifikan r =0,59 dengan skor kecerdasan logika matematika, r =0,53
dengan kecerdasan interpersonal dan r =0,28 dengan skor kecerdasan
naturalistik. Skor bahasa malaysia berkorelasi positif signifikan r =0,39
dengan kecerdasan bahasa, r =0,29 dengan kecerdasan interpersonal.
Kaplan (2011) melakukan penelitian pada65 siswa tuna netra kelas
enam, tujuh dan delapan di sekolah khusus tuna netra di Denizli, Erzurum
dan Gaziantep tahun akademik 2007-2008 dalam penelitiannya
menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara prestasi belajar
matematika siswa tuna netra dengan kecerdasan logis-matematis,
kecerdasan intrapersonal, kecerdasan spasial dan kecerdasan linguistik.
18

Uzoglu (2011) dalam penelitiannya pada siswa kelas tujuh di
sekolah negeri tahun akademik 2005-2006 di Eastern City, Turki dengan
populasi sebesar 1255 laki-laki dan 1159 perempuan. Penelitiannya
menunjukan bahwa ada korelasi positif antara linguistik-verbal, logis-
matematis, visual-spasial, interpersonal, intrapersonal, dan bodily-
kinesthetic dengan prestasi matematika.
Ryue (1996) dalam penelitiannya menemukan bahwa perbedaan
gender dan korelasi antara skor kecerdasan majemuk yang dikembangkan
Shearer bagi situasi di Korea dengan IQ dan prestasi belajar 82 orang
siswa sekolah menengah umum. Rata-rata koefisien korelasi untuk sub-
sub konsep dalam kecerdasan majemuk r =0,73. Skor kecerdasan spasial
berkorelasi dengan IQ dan prestasi belajar. Skor kecerdasan linguistik,
logika-matematika, dan interpersonal berkorelasi dengan IQ dan prestasi
belajar.
Tidak sejalan dengan penelitian-penelitian tersebut diatas Issu
(2005) terhadap siswa SMA N 1 Mollo Selatan menemukan bahwa
kecerdasan matematis-logis berkorelasi positif dan tidak signifikan
dengan prestasi belajar matematika dengan korelasinya (r =0,169) pada
taraf signifikan 1% serta kecerdasan bahasa berkorelasi positif dan tidak
signifikan dengan prestasi belajar matematika dengan korelasinya (r =
0,153) pada taraf signifikan 1%.
Manggaranti (2011) dalam penelitiannya terhadap siswa kelas IV di
SD Gugus Diponegoro Doplang Kabupaten Blora sebanyak 42 siswa
menemukan bahwa ada hubungan negatif dan tidak signifikan antara
kecerdasan matematis logis dan prestasi belajar matematika pada taraf
signifikansi 5% (r =- 0,122).
Batulayan (2001) juga menemukan melakukan penelitian yang
berupaya menggali hubungan kecerdasan majemuk terhadap prestasi
belajar siswa kelas enam di Mission Luzon Utara. Data diperoleh dari 310
siswa yang terdaftar untuk tahun ajaran 2001-2002 pada 24 sekolah
gereja dioperasikan dan diawasi di bawah Mission Luzon Utara. Data
dikumpulkan dengan memberikan Kuesioner Multiple Intelligences (MIQ)
kepada peserta yang berisi 70 item dengan 10 pertanyaan masing-masing
mewakili tujuh kecerdasan yaitu: verbal-linguistik, logis-matematis,
kinestetik-jasmani, musikal, visual-spasial, intrapersonal dan
interpersonal. Hasil penelitian menemukan bahwa kecerdasan logis-
matematis dan intrapersonal adalahterkait dengan prestasi akademik
19

dengan kontribusi 9,25%. Sedangkan untuk lima kecerdasan yang lain,
yaitu: linguistik-verbal, visual-spasial, musikal, kinestetik-jasmani, dan
interpersonal tidak memiliki hubungan signifikan terhadap prestasi
akademik. Penelitian Lean & Clemens (1982) menemukan bahwa tidak
adanya hubungan antara kemampuan spasial dengan matematika.

C. Kerangka Berpikir
Aktivitas pembelajaran khususnya pembelajaran matematika
merupakan sebuah proses dari pendidikan, dimana akan ada sebuah
indikator sebagai acuan, apakah pembelajaran matematika tersebut
berhasil atau tidak. Salah satunya adalah dapat dilihat dari prestasi belajar
matematika yang diperoleh peserta didik. Issu (2005) menyatakan bahwa
prestasi belajar matematika merupakan pengetahuan yang diperoleh
siswa setelah mempelajari materi tersebut melaui proses belajar
mengajar dalam tiap semester atau setiap tahun berupa nilai. Prestasi
belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal meliputi faktor jasmaniah (kesehatan, cacat
tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, kesiapan) dan kelelahan. Faktor eksternal meliputi faktor
keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Salah satu faktor yang
yang berasal dari dalam individu adalah kecerdasan atau inteligensi.
Simanjuntak (1993) menyatakan bahwa anak yang mencapai suatu
prestasi, sebenarnya merupakan hasil dari kecerdasan dan minat.
Kecerdasan memegang peranan besar dalam menentukan berhasil
tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti suatu program
pendidikan (Suparlan, 2009).
Gardner (Suparno, 2004) mendefinisikan inteligensi sebagai
kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk
dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang
nyata. Gardner mengungkapkan bahwa setiap manusia memiliki 9
(sembilan) kecerdasan hanya saja suatu inteligensi lebih menonjol dari
inteligensi yang lain. Tiga diantara Inteligensi tersebut adalah Inteligensi
linguistik (Linguistic Intelligence); Inteligensi Matematis-logis (Logical-
mathematical Intelligence); Inteligensi Ruang-visual (Spatial Intelligence).
Kecerdasan linguistik merupakan kemampuan untuk menggunakan
dan mengolah kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis.
Gardner (Suparno, 2004) kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan
20

dan pengembangan bahasa secara umum. Kecerdasan linguistik berkaitan
dengan penggunaan bahasa sendiri dengan tepat, tata bahasa dan
pengucapan kata dan konsep dengan makna yang sesuai (Armstrong,
1994). Sukardi (1990) kemampuan verbal adalah kemampuan untuk
memahami konsep-konsep dalam bentuk kata-kata. Kecerdasan linguistik
merupakan bagian dari faktor internal yang mempengaruhi prestasi
belajar siswa. Kecerdasan linguistik berkaitan dengan kemampuan siswa
memahami suatu tulisan maupun simbol yang abstrak, mengutarakan
pendapat/berbicara, menarik suatu kesimpulan, mendeskripsikan,
mengeneralisasikan suatu konsep yang mana hal-hal tersebut merupakan
tindakan yang harus dilakukan selama proses pembelajaran matematika.
Belajar matematika merupakan kegiatan belajar tentang konsep dan
struktur matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta
menjalin hubungan antara konsep-konsep dan struktur itu.
Menurut Gardner (Suparno, 2004) Logical-mathematical
Intelligence/Inteligensi Matematis-logisadalah kemampuan yang lebih
berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif.
Gampbell (Issu 2005) menyatakan inteligensi matematis-logis
mengungkapkan tiga hal luas tapi yang berhubungan antara satu dengan
yang lain yaitu matematika, ilmu sains, dan logika. Kecerdasan logis-
matematis adalah keterampilan tentang berpikir dengan angka,
perhitungan, menarik kesimpulan dari hubungan secara logis, pemecahan
masalah, berpikir kritis, memahami simbol abstrak seperti angka, bentuk
geometris, potongan pengetahuan yang berkaitan (Onay, 2006).
Kecerdasan matematis-logis berkaitan dengan kemampuan siswa
mengolah angka. Belajar matematika tidak akan lepas dari angka atau
bilangan dan proses menghitung. Siswa yang memiliki inteligensi
matematis-logis yang tinggi akan mampu berpikir dengan angka,
perhitungan, pemecahan masalah, berpikir kritis, memahami simbol
abstrak seperti angka, bentuk geometris, sehingga siswa memperoleh
prestasi belajar matematika yang tinggi karena siswa.
Gardner (Suparno, 2004) Spatial Intelligence/Kecerdasan Ruang-
visual adalah kemampuan untuk menangkap dunia visual secara tepat,
mencakup berpikir dalam gambar, serta kemampuan untuk menyerap,
mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia
visual-spasial. Menurut Hamley (Tambunan, 2009) kemampuan
matematika adalah gabungan dari inteligensi umum, pembayangan visual,
21

kemampuan untuk mengamati angka, konfigurasi spasial dan menyimpan
konfigurasi sebagai pola mental. Kemampuan spasial merupakan
pemahaman kiri-kanan, pemahaman perspektif, bentuk-bentuk
geometris, menghubungkan konsep spasial dengan angka, kemampuan
dalam mentransformasi mental dari bayangan visual. Hal-hal tersebut
juga diperlukan dalam belajar matematika.
Siswa yang memiliki inteligensi linguistik, inteligensi matematis-
logis, inteligensi ruang-visual yang tinggi akan mendapatkan prestasi
belajar matematika yang tinggi karena siswa mampu memahami dan
menterjemahkan maksud dari materi yang diberikan yang berupa konsep-
konsep abstrak, siswa mampu berpikir dengan angka, perhitungan,
menarik kesimpulan dari hubungan secara logis, pemecahan masalah,
berpikir kritis, memahami simbol abstrak seperti angka serta siswa
mampu menghubungkan konsep spasial dengan angka.
Gambar 1
Skema Kerangka Berpikir




-





Keterangan :
X
1
=Linguistic intelligence ( Inteligensi Linguistik )
X
2
=Logical-mathematics intelligence ( Inteligensi Matematis-
Logis )
X
3
=Spatial intelligence( Inteligensi Ruang-Visual )
Y =Prestasi Belajar Matematika

X
1
X
2
X
3
Y

22

D. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori diatas dapat dirumuskan hipotesis penelitian
sebagai berikut:
1. Adakah hubungan positif dan signifikan antara inteligensi linguistik
dengan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 3
Salatiga tahun pelajaran 2011/2012.
Secara statistik hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
H
0
: r
x1y
0 Tidak ada hubungan positif dan signifikan antara
inteligensi linguistik dengan prestasi belajar
matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga
tahun pelajaran 2011/2012.
H
1
: r
x1y
>0 Ada hubungan positif dan signifikan antara inteligensi
linguistik dengan prestasi belajar matematika siswa
kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga tahun pelajaran
2011/2012.
2. Adakah hubungan positif dan signifikan antara inteligensi matematis-
logis dengan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 3
Salatiga tahun pelajaran 2011/2012.
Secara statistik hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
H
0
: r
x2y
0 Tidak ada hubungan positifdan signifikan antara
inteligensi matematis-logis dengan prestasi belajar
matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga
tahun pelajaran 2011/2012.
H
1
: r
x2y
>0 Ada hubungan positif dan signifikan antara inteligensi
matematis-logis dengan prestasi belajar matematika
siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga tahun pelajaran
2011/2012.
3. Adakah hubungan positif dan signifikan antara inteligensi ruang - visual
dengan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 3
Salatiga tahun pelajaran 2011/2012.
Secara statistik hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
H
0
: r
x3y
0 Tidak ada hubungan positifdan signifikan antara
inteligensi ruang - visual dengan prestasi belajar
matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga
tahun pelajaran 2011/2012.
23

H
1
: r
x3y
>0 Ada hubungan positif dan signifikan antara inteligensi
ruang - visual dengan prestasi belajar matematika
siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga tahun pelajaran
2011/2012.
4. Adakah hubungan positif dan signifikan antara inteligensi linguistik,
matematis-logis, ruang-visual secara simultan dengan prestasi belajar
matematika siswa kelas VIIISMP Negeri 3 Salatiga tahun pelajaran
2011/2012.
Secara statistik hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
H
0
: r
xy
0 Tidak ada hubungan positif dan signifikan antara
inteligensi linguistik, matematis-logis, ruang-visual
secara simultan dengan prestasi belajar matematika
siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga tahun pelajaran
2011/2012.
H
1
: r
xy
>0 Ada hubungan positif dan signifikan antara inteligensi
linguistik, matematis-logis, ruang-visual secara
simultan dengan prestasi belajar matematika siswa
kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga tahun pelajaran
2011/2012.