Anda di halaman 1dari 18

Pembidangan Ilmu Hukum

Pembidangan Ilmu Hukum


Hukum Tantra/Hukum Negara Hukum Administrasi Negara/Administrasi Tantra Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Pidana termasuk Hukum Publik Hukum Perdata termasuk Hukum Privat

Hukum Publik dan Privat


Hukum Publik Pribadi yang melakukan hubungan hukum adalah lembaga Negara (tertinggi) dan tujuan hubungan hukum serta Hukum Privat Aspek-aspek terkait kodrati, hubungan, tujuan hubungan tersebut dan kepentingan lain.

Berbagai Pembidangan Hukum


Berdasarkan sumbernya Hukum Formil Hukum Materiil Berdasarkan waktu berlakunya Ius Constitukum (Hukum Positif) Ius Constituen Menurut luas berlakunya Hukum Umum Hukum Khusus

Pengantar Tata Hukum

Tata Hukum
Tata Hukum dapat diartikan peraturan dan cara atau tata tertib di suatu Negara Tata hukum Indonesia adalah tata hukum yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia Sistem Pemerintah Negara yang berdasarkan hukum dikelompokkan ke dalam Negara hukum dengan prinsip pasif dan prinsip aktif

Asas dan Sasaran Hukum


Asas Hukum Bahwa dalam penyelenggaraan pembangungan nasional setiap warga Negara dan penyelenggara Negara harus taat pada hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran, serta Negara diwajibkan untuk menegakkan dan menjamin kepastian hukum Sasaran Bidang Hukum Terbentuk dan berfungsinya system hukum nasional yang mantap, bersumberkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dengan memperhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaku, yang mampu menjamin kepastian, ketertiban, penegakan dan perlindungan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran, serta mampu mengamankan dan mendukung pembangungan nasional, yang didukung oleh aparatur hukum, saranan dan prasarana yang memadai serta masyarakat yang sadar dan taat hukum

Unsur-unsur Hukum di Indonesia


Indonesia menggunakan prinsip aktif, dimana 1. Kekuasanaan Negara berdasar atas hukum dan bukan berdasar atas kekuasaan belaka; 2. Pancasila adalah cita-cita hukum yang membentuk pokok-pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945; 3. Pemerintahan berdasar atas system konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutism (kekuasaan yang tidak terbatas); 4. Semua warga Negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan, dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan tersebut tanpa kecuali; 5. Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah dan kekuasaan-kekuasaan lainnya.

Hukum Tata Negara, mempelajari tentang


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pembentukan jabatan-jabatan dan susunannya/struktur-nya; Penunjukan pejabat-pejabatanya; Kewajiban, tugas yang berkaitan dengan jabatan tersebut; Kekusaaan/kewibawaan, hak dan kewenangan yang berkaitan dengan jabatan tersebut; Lingkup-wilayah dan lingkup pribadi-pribadi yang mendapat limpahan tugas dan kewenangan jabatan; Hubungan timbal-balik kewibawaan jabatan-jabatan itu; Penggantian jabatan; Hubungan antara jabatan dengan pemangku jabatan.

Perbedaan Hukum Tata Usaha Negara dengan Hukum Administrasi Negara


Hukum Tata Usaha Negara
Bersifat Umum Hukum mengenai susunan dan kewenangan badan-badan Negara yang meliputi empat bidang tugas yaitu: Pemerintah, peradilan, polisi dan perundang-undangan

Hukum Administrasi Negara


Bersifat Khusus Hukum dari keempat bidang tugas dimaksud (Hukum pemerintahan, hukum peradilan, hukum kepolisian, dan hukum perundang-undangan)

Sistematika Hukum Perdata


Hukum Perdata adalah ketentuan yang mengatur hak-hak dan kepentingan antara individu-individu dalam masyarakat. Ada juga menyebutkan Hukum Perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang yang lain

Sistematika Kodifikasi
Sistematika artinya susunan yang teratur secara sistematis. Sistematika kodifikasi artinya susunan yang diatur dari suatu kodifikasi. Sistematika meliputi bentuk dan isi kodifikasi. Sistematika kodifikasi hukum perdata meliputi bentuk dan isi. Sistematika bentuk Kitab Undang - Undang Hukum Perdata meliputi urutan bentuk bagian terbesar sampai pada bentuk bagian terkecil yaitu: kitab undang undang tersusun atas buku buku, tiap buku tersusun atas babbab, tiap bab tersusun atas bagianbagian, tiap bagian tersusun atas pasalpasal, tiap pasal tersusun atas ayat ayat Sistematika Kitab Undang - Undang Hukum Perdata meliputi kelompok materi berdasarkan sistematika fungsi. Sistematika fungsional ada 2 macam yaitu menurut pembentuk Undang - Undang & menurut ilmu pengetahuan hukum.

Sistematika menurut ilmu pengetahuan


I. kelompok materi mengenai orang mengatur tentang manusia sebagai subyek dalam hukum , mengatur tentang perihal kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-hak itu dan selanjutnya tentang hal-hal yang mempengaruhi kecakapan itu. II. kelompok materi mengenai keluarga mengatur perihal hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan yaitu perkawinan beserta hubungan dalam lapangan hukum kekayaan anatar suami dengan istri, hubungan antara orang tua dan anak, perkawinan dan curatela. III. kelompok materi mengenai harta kekayaan mengatur perihal hubunganhubungan hukum yang dapat dinilai dengan uang. Jika kita mengatakan tentang kekayaan seseorang maka yang dimaksudkan ialah jumlah dari segala hak dari kewajiban orang itu dinilai dengan uang. IV. kelompok materi mengenai pewarisan mengatur tentang benda atau kekayaan seseorang jika ia meninggal. Disamping itu hukum warisan mengatur akibatakibat dari hubungan keluarga terhadap harta peninggalan seseorang.

Sistematika Hukum Perdata (1)


Apabila sistematika bentuk dan isi digabung maka ditemukan bahwa KUH Perdata. Terdiri dari: I. Buku I mengenai Orang mengatur tentang hukum perseorangan dan hukum keluarga, yaitu hukum yang mengatur status serta hak dan kewajiban yang dimiliki oleh subyek hukum. Antara lain ketentuan mengenai timbulnya hak keperdataan seseorang, kelahiran, kedewasaan, perkawinan, keluarga, perceraian dan hilangnya hak keperdataan. Khusus untuk bagian perkawinan, sebagian ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. II. Buku II mengenai Benda mengatur tentang hukum benda, yaitu hukum yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki subyek hukum yang berkaitan dengan benda, antara lain hak-hak kebendaan, waris dan penjaminan. Yang dimaksud dengan benda meliputi (i) benda berwujud yang tidak bergerak (misalnya tanah, bangunan dan kapal dengan berat tertentu); (ii) benda berwujud yang bergerak, yaitu benda berwujud lainnya selain yang dianggap sebagai benda berwujud tidak bergerak; dan (iii) benda tidak berwujud (misalnya hak tagih atau piutang). Khusus untuk bagian tanah, sebagian ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU nomor 5 tahun 1960 tentang agraria. Begitu pula bagian mengenai penjaminan dengan hipotik, telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU tentang hak tanggungan.

Sistematika Hukum Perdata (2)


I. Buku III mengenai Perikatan mengatur tentang hukum perikatan (atau kadang disebut juga perjanjian (walaupun istilah ini sesunguhnya mempunyai makna yang berbeda), yaitu hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban antara subyek hukum di bidang perikatan, antara lain tentang jenis-jenis perikatan (yang terdiri dari perikatan yang timbul dari (ditetapkan) undang-undang dan perikatan yang timbul dari adanya perjanjian), syarat-syarat dan tata cara pembuatan suatu perjanjian. Khusus untuk bidang perdagangan, Kitab undangundang hukum dagang (KUHD) juga dipakai sebagai acuan. Isi KUHD berkaitan erat dengan KUHPer, khususnya Buku III. Bisa dikatakan KUHD adalah bagian khusus dari KUHPer. Buku IV mengenai Pembuktian mengatur hak dan kewajiban subyek hukum (khususnya batas atau tenggat waktu) dalam mempergunakan hak-haknya dalam hukum perdata dan hal-hal yang berkaitan dengan pembuktian.

II.

Hubungan Hukum Perdata dan Hukum Dagang


hukum dagang ialah hukum yang mengatur tingkah laku manusia yang turut melakukan perdagangan untuk memperoleh keuntungan. Ada juga yang menyebutkan hukum yang mengatur hubungan hukum antara manusia dan badan-badan hukum satu sama lainnya dalam lapangan perdagangan.

Hubungan (1)
Pada awalnya hukum dagang berinduk pada hukum perdata. Namun, seiring berjalannya waktu hukum dagang mengkodifikasi(mengumpulkan) aturan-aturan hukumnya sehingga terciptalah Kitab Undang- Undang Hukum Dagang ( KUHD ) yang sekarang telah berdiri sendiri atau terpisah dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer ). Hukum yang saling berkaitan dan dapat dibuktikan di dalam pasal 1 dan pasal 15 KUH Dagang 1. Pasal 1 KUH Dagang, disebutkan bahwa KUH perdata seberapa jauh dari seberapa jauh dari padanya kitab ini tidak khusus diadakan penyimpanganpenyimpangan,berlaku juga terhadap hal-hal yang dibicarakan dalam kitab ini. 2. Pasal 15 KUH Dagang,disebutkan bahwa segala persoalan tersebut dalam bab ini dikuasai oleh persetujuan pihak-pihak yang bersangkutan oleh kitab ini dan oleh hukum perdata. Dengan demikian,dapat diketahui kedudukan KUH Dagang terhadap KUH Perdata.KUH Dagang merupakan hukum yang khusus dan KUH Perdata merupakan hukum yang bersifat umum.

Hubungan (2)
Hukum Dagang merupakan bagian dari Hukum Perdata, atau dengan kata lain Hukum Dagang meruapkan perluasan dari Hukum Perdata. Untuk itu berlangsung asas Lex Specialis dan Lex Generalis, yang artinya ketentuan atau hukum khusus dapat mengesampingkan ketentuan atau hukum umum. KUH Perdata (KUHS) dapat juga dipergunakan dalam hal yang daitur dalam KUH Dagang sepanjang KUHD tidak mengaturnya secara khusus. Hukum Dagang merupakan bagian dari Hukum Perdata, atau dengan kata lain Hukum Dagang meruapkan perluasan dari Hukum Perdata. Untuk itu berlangsung asas Lex Specialis dan Lex Generalis, yang artinya ketentuan atau hukum khusus dapat mengesampingkan ketentuan atau hukum umum. KUH Perdata (KUHS) dapat juga dipergunakan dalam hal yang daitur dalam KUHDagang sepanjang KUHD tidak mengaturnya secara khusus.