Anda di halaman 1dari 7

BAB IV TUGAS KHUSUS

IV.1 Latar Belakang

IV.2 Tujuan Menguji dan mengetahui kualitas Pertamax Plus pada tanki 42-T-202-B hasil produksi PT Pertamina (Persero) UP-VI Balongan serta membandingkan dengan spesifikasi yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) dengan mengacu pada metode dan peralatan standar Amerika Society for Testing Material (ASTM)

IV.3 Tinjauan Pustaka IV.3.1 Minyak Bumi Minyak bumi merupakan campuran hidrokarbon yang terdapat dalam fase cair pada tekanan atmosfer. Minyak bumi berasal dari bahan organik diantaranya plankton, hewan dan tumbuhan yang mengendap dalam saluran sediment dan selanjutnya mengalami dekomposisi akibat pengaruh sifat fisika dan kimia (tekanan tinggi, suhu tinggi dan waktu yang lama serta dibantu oleh bakteri anaerob) dan akhirnya menjadi minyak bumi (Jasjfi 1966). American Society Testing of Material (ASTM) mendefinisikan minyak bumi sebagai suatu campuran yang terjadi dibumi, sebagian besar terdiri atas hidrokarbon, sedikit belerang, nitrogen dan oksigen yang dibebaskan dalam tanah dan disertai dengan zat-zat lain seperti air, garam anorganik dan impurities lain yang apabila dipisah-pisahkan akan merubah sifat minyak bumi tersebut.

Table 4.3.Unsur-unsur yang terkandung dalam minyak bumi (Jasji, E. 1996) Komposisi Karbon Hidrogen Belerang Oksigen Nitrogen Logam Sumber : Jasji, E. 1996. Pengolahan Minyak Bumi. Lembaga Minyak dan Gas Jakarta Presentase 87,00 89,00 11,00 15,00 0,004 6,00 0,10 2,00 0,01 2,00

IV.3.2 Proses Pengolahan Minyak Bumi Untuk mengahasilkan produk-produk minyak bumi digunakan bermacam-macam pengolahan minyak mentah menjadi fraksi-fraksi yang diinginkan. Proses ini terdiri dari beberapa proses pemisahan baik fisik, maupun kimia. 4.3.2.1 Proses Distilasi Distilasi adalah prosespemisahan komponen-komponendi dalam campuran berdasarkan titik didihnya. Minyak bumi mentah dapat dipisahkan dengan proses dstilasi dengan menghasilkan bebagai fraksi yang berbeda titik didihnya. Fraksi-fraksi yang ditampung dalam distilasi minyak bumi tercantum pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Fraksi yang dihasilkan dari destilasi minyak bumi dan penggunaannya : Jangka Titik Didih (C) Dibawah 30 30 80 180 230 230 305 305 405 Diatas 405 Sisa Destilasi : 1. Minyak yang mudah menguap, minyak pelumas, lilin, dan vaselin. 2. Bahan yang tidak mudah menguap, aspal dan kokas dari minyak bumi Jumlah karbon 14 5 10 11 12 13 17 18 25 > 25 Nama Fraksi gas Bensin Kerosene Solar Minyak Gas Residu Penggunaan Bahan Bakar Pemanas Bahan Bakar Motor Bahan Bakar Jet Bahan Bakar Diesel Bahan Bakar Pemanas Aspal

4.3.2.2

Distilasi atmosferik

Distilasi merupakan salah satu teknik pemisahanyang didasarkan atas perbedaan volatitas atau titik didih dari senyawa-senyawa hidrokarbon di dalam suatu bahan bakar minyak pada tekanan atmosfir. Proses distilasi ini mencangkup kegiatan proses penguapan dan pengembunan (Kardjono 2000). Distilasi menyak mentah terdiri dari dua tingkat. Tingkat pertama dilakukan pada tekanan atmosfer. Bagian minyak yang terdistilasi disebut minyak mentah tereduksi. Pada tingkat kedua, minyak mentah tereduksi tersebut selanjutnya didistilasi di bawah tekanan yang lebih rendah yang dikenal sebagai unit distilasi vakum.

Distilasi menyebabkan titik didih fraksi-fraksi yang dipisahkan bertambah. Produk bagian atas yang bervolatil tinggi harus dikondensasikan dalam pendingin refluks. Beberapa fraksi yang terkondensasi haris kembali ke refluks. Stabilisasi terhadap fraksi-fraksi ini perlu dilakukan untuk memperoleh senyawa-senyawa seperti butane, pentane dan bensin. Pemisahan secara distilasi dalam laboratorium dikenal beberapa cara (Rao 1960), antara lain: 1. Distilasi Hempel, untuk penentuan keseimbangan material fraksi-fraksi minyak bumi secara tepat. 2. Distilasi True Boiling Poin (TPB), biasanya digunakan kolom oldershow dengan piringan-piringan. Distilasi ini digunakan untuk membuat kesetimbangan material distilasi TPB dengan jumlah piringan tertentu. 3. Distilasi Equilibrium Flash Vaporization (EFV), digunakan umtuk membuat data penyalaan dan mempersiapkan produk-produk minyak bumi dalam jumlah besar, baik produr ringan, berat maupun residu untuk keperluan penelitian selanjutnya.

4.3.2.3 Perengkahan (Cracking) Prinsip dari perengkahan adalah memanaskan minyak bumi sampai mengalami perengkahan sehingga rantai molekul hidrokarbon panjang pecah menjadi dua atau lebih menjadi rantai yang lebih pendek. Jumlah atom hidrogen sebelum dan sesudah perengkahan adalah sama (Rao 1960). Proses perengkahan minyak bumi dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1. Perengkahan dengan menggunakan panas (thermal craking). Perengkahan ini dilakukan untuk mendapatkan nafta dengan angka oktan yang kebih tinggi daripada nafta hasil distilasi awal dari fraksi minyak gas dan vakum atau residu. 2. Perengkahan dengan menggunakan katalis (catalytic cracking) Pada proses ini katalis yang biasa digunakan adalah katalis padat yang bersifat asam (Koesoemadinata, 1980). Proses yang sering digunakan adalah perengkahan menggunakan katalis karena banyak keuntungannya, antaralain perengkahan dapat dilakukan pada temperature dan tekanan rendah,dapat berlangsung cepat dan dapat menekan seminimal mungkin reaksi-reaksi samping yang menghasilkan zat yang tidak diinginkan separti gas-gas perengkahan dan kokas. Perengkahan dengan menggunakan katalis juga dapat meningkatkan mutu dan kualitas bensing yang dihasilkan (Jasjfi 1966)

IV.3.3 Motor Gasoline ( Mogas) atau Bensin

Motor Gasoline ( Mogas) atau Bensin merupakan senyawa kompleks yang terdiri dari hidrokarbon parafinik, hidrokarbon olefin hidrokarbon naftalenik dan hidrokarbon aromatik. Campuran hidrokarbon ini mempunyai titik didih umumnya di bawah 200C. Salah satu produk yang dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) UP-VI Balongan ini memiliki nilai oktan yang tinggi tanpa penambahan zat aditif seperti TEL (tetraethyl lead). Produk ini telah ditetapkan distandarisasi oleh pemerintah agar menjamin mutu nya dengan ada nya keputusan Dirgen Migas No. 3674 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2007 Adapun Sifat penting dari migas sebagai bahan bakar adalah : 1) Sifat pembakaran 2) Sifat pengkaratan 3) Sifat penguapan 4) Sifat stabilitas dan kebersihan

1) Sifat Pembakaran Sifat pembakaran dalam mogas merupakan karakteristik utama yang diperlukan dalam mogas. Sifat pembakaran biasanya diukur dengan angka oktan. Nama oktan berasal dari golongan alkana yaitu oktana (C8), karena dari seluruh penyusuh bahan bakar mogas, maka oktan memiliki sifat kompres hingga volume terkecil tanpa mengalami pembakaran spontan. Angka oktan merupakan ukuran kecenderungan gasoline untuk melakukan pembakaran tidak normal yang timbul sebagai ketukan mesin.Semakin tinggi oktan suatu bahan bakar, maka semakin berkurang kecenderungannya untuk mengalami ketuka dan semakin tinggi kemampuannya untuk digunakan pada rasio kompresi tinggi tanpa mengalami ketukan. Cooperative Fuel Research (CFR) merupakan mesin yang digunakan sebagai standar baku pengukuran angka oktan, dimana bahan bakar bahan bakar gasoline dibandingkan dengan bahan bakar rujukan yang terbuat dari n-heptana (angka oktan 0) dan isooktana (angka oktan 100). Misalkan bensin dengan nilai oktan 95, berarti bensin tersebut setara dengan campuran 95% isooktana dan 5% n-heptana. Bensin ini terbakar secara spontan pada tinggkat kompresi tertentu yang diberikan sehingga hanya diperuntukan untuk mesin kendaraan yang memiliki ratio kompresi yang tidak melebihi anka oktan tersebut. Angka oktan bensin yang diukur didefinisikan sebagai presentase isooktana dalam bahan bakar rujukan yang memberikan intensitas ketukan yang sma pada mesin uji. Terdapat dua macam angka oktan, yaitu angka oktan riset (Research Octane Number) yang memberikan gambar mengenai rujukan kerja dalam kondisi pengendara yang biasa dan angka oktan motor (Motos

Octane Number) yang memberikan gambaran mengenai unjuk kerja dalam kondisi pengendara yang kebih berat. Keenderungan bahan bakar mengalami ketukan bergantung pada struktur kimia hidrokarbon yang menjadi penyusun bensin pada umumnya. Hidrokarbon olefin dan isoparafin mempunyai sifat antiketuk yang relatif baik, sedangkan n-parfin

mempunyai sifat antiketuk yang lebih buruk, kecuali untuk parafin yang memiliki berat molekul rendah. Cara mendapatkan angka oktan tinggi dapat dilakukan dengan hal-hal berikut : a. Memilih miyak bumi dengan kandungan aromatik tinggi dalam trayek didih bensin. b. Meningkatkan kandungan aromatik melalui pengoalahan reformasi atau ikatan alkana bercabang atau olefin bertitik didih rendah. c. Menambah zat aditif peningkat oktan seperti Tel (tetraethyl lead), TML (tetramethyl lead) dan MTBE (methyl tersier buthyl eter).

2)

Sifat Perengkahan Minyak bumi mengandung senawa belerang dalam jumlah kecil. Senyawa belerang

ini yang bersifat korosif dan semuannya dapat terbakar di dalam mesin dan menghasilkan belerang oksida yang korosif dan dapat merusak bagian-bagian mesin. Selain itu, juga beracun dan dapat menimbulkan kerusakan pada lingkungan, karena itu kandungan belerang dalam mogas dibatasi dalam suatu spesifikasi. Produk mogas yang dihasilkan oleh PT Pertamina (Persero) UP-VI Balongan, antara lain premium dan pertamax. Bensin premium 88 memiliki angka oktan riset minimum 88 dan berwarna kekuningan bening. Bensin pertamax mempunyai angka oktan minimum 92 dan berwarna kebiruan bening. Berbeda dengan pertamax plus yang mempunyai angka oktan 95 dan berwarna merah.

3)

Sifat Penguapan Sifat volatisitas yang biasa didinginkan dalam spesifikasi mogas antara lain kurva

distilasi, tekanan uap dan perbandingan vapor/liquid. Penggunaan parametaer di Indonesia hanya sebatas dua yang disebutkan pertama kali, sedangkan parameter ketiga praktis belum diterapkan.

4)

Sifat Stabilitas dan Kebersihan

Bahan bakar gasoline haruslah bersih, aman , tidak merusak lingkungan dan tidak merusak dalam penyimpanan dan pemakaiannya. Parameter spesifikasi yang berkaitan dengan sifat ini adalah zat gom, korosi dan berbagai uji tentang belerang yang bersifat korosif. Mogas yang biasa diuapkan, biasanya meninggalkan sisa berbentuk gom padat yang melekat pada permukaan saluran dan bagian-bagian mesin. Apabila pengendapan gom terlalu banyak, kemulusan operasi mesin dapat terganggu. Oleh karena itu, kandungan gom dalam mogas harus dibatasi dalam spesifikasi. Selain gom yang sudah ada sejak awal dalam mogas, gom juga dapat terbentuk karena komponen-komponen bensin bereaksi dengan udara selama penyimpanan. Hidrokarbon jenuh mempunyai kecenderungan menalami pembentukan gom. kandungan senyawa

IV.3.4 Jenis-jenis motor gasoline 4.3.4.1 Premium TT Premium TT merupakan bahan baker mogas (bensin) dengan angka oktan 88 tanpa tetraethyllead (TEL), yang lebih umum dikenal dengan premium TT 88 (premium tanpa timbale 88). Kimponen penyusun dari premium TT adalah Straigh Naphta dengan angka oktan 55 dan RCC Naphta dengan angka oktan 92. Komponen-komponen tersebut

diblending dengan komposisi tertentu sehingga didapatkan premium dengan angka oktan 88.

4.3.4.2 Pertamax Pertamax merupakan bahan baker mogas (bensin) dengan angka oktan 92 tanpa tetraethyllead (TEL) engan kandungan olefin, aromatic dan benzene yang telah dibatasi dan penambahan aditif generasi terahir yang berfungsi menyampurnakan proses kimia pembakaran dalam mesin dan mampu membersihkan mesin dari semua timbunan deposit pengganggu akselerasi mesin. Pertamax hadir menggantikan bahan baker premix. Komponen-komponen penyusun pertamax adalah straight Naphta dengan angka oktan 60, RCC Nafta angka oktan 92 dan bila perlu poligasolin dengan angka oktan 98 dengan komposisi spesifikasi. blending tertentu sehingga di dapat Pertamax dengan angka oktan sesuai

4.3.4.3 Pertamax Plus Pertamax plus merupakan bahan baker mogas (bensin) dengan angka oktan 95 tanpa tetraethyllead (TEL) yang kandungan olefin, aromatic dan benzenanya telah di batasi. Pada pertamax plus juga terdapat penambahan aditif yang berfungsi menyempurnakan proses

kimia pembakaran dalam mesin dan mampu membersihkan mesin dari semua timbunan deposit pengganggu kemulusan mesin. Pertamax plus hadir menggantikan bahan bakar Super TT. Secara teknis, spesefikasi bahan bakar pertamax plus mengandung komponen produk poligasolin yang dihasilkan dari Catalytic Condensation Unit kilang UP-VI dengan angka oktan 96 dan RCC Nafta angka oktan 92.

IV.6 Definisi Blending Blending adalah mencampuran dua produk atau lebih ke dalam suatu sistem sehingga menghasilkan suatu produk yang memenuhi spesifikasi. Tujuan dari proses blending ini diantaranya : 1) Memperbaiki mutu produk yang rusak yaitu produk yang menyimpang dari spesifikasinya. 2) Mengubah produk yang bermutu rendah menjadi produk yang bermutu. 3) Mendaptkan penggunaan baru dari suatu produk 4) Mendapatkan produk baru dari produk-produk yang ada. (Damayanti, 2012)