Anda di halaman 1dari 5

1. Gejala dan tanda penyakit a.

Scabies Tanda-tanda dan Gejala Karakteristik gejala infeksi scabies yaitu lubang-lubang yang kecil dan membentuk terowongan pada kulit, intens pruritus (gatal), ruam yang umum dan infeksi sekunder. Acropustulosis, atau lepuhan dan jerawat di telapak tangan dan kaki, adalah karakteristik gejala kudis di bayi. Bentuk jalur seperti huruf S di kulit, sangat halus, khas gigitan serangga yang seperti bengkak-bintil. Bintil dan terowongan ini seringkali berlokasi di crevasses (celahcelah yang dalam) dari tubuh, seperti antar jari, kaki, pantat, siku-siku, daerah pinggang, daerah kelamin, dan di bawah dada perempuan. Gatal dan ruam yang berulang merupakan karakteristik dari infeksi scabies, hal ini disebabkan oleh reaksi alergi dari tubuh terhadap munculnya terowongan kecil (mikroskopis) yang dibuat oleh scabies. Ruam dapat ditemukan lebih banyak pada tubuh, yang berkaitan dengan gatal dan paling sering terjadi pada malam hari. Infeksi Sekunder sering karena impetigo yaitu sejenis infeksi bakteri setelah timbulnya goresan pada kulit. Selulit mungkin juga terjadi, menyebabkan pembengkakan lokal, kemerahan dan sakit panas. Pada individu yang belum pernah terkena scabies, tanda-tanda dan gejala klinis adalah 4-6 minggu setelah dihinggapi tungau ini. b. Pedikulosis Kapitis Tanda dan gejala Gejala awal berupa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal serta dapat meluas ke seluruh kepala. Kemudian karena garukan, terjadi erosi, ekskoriasi, dan infeksi sekunder (pus, krusta). Bila infeksi sekunder berat, rambut akan bergumpal akibat banyaknya pus dan krusta (plikapelonika), berbau busuk, disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular). Pada keadaan tersebut kepala memberikan bau yang busuk. c. Pedikulosis Korporis Tanda dan gejala Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas-bekas garukan pada badan karena gatal baru berkurang dengan garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. d. Pedikulosis Pubis Tanda dan gejala Gejala yang terutama adalah gatal di daerah pubis dan di sekitarnya, dapat meluas sampai ke abdomen dan dada, dijumpai bercak-bercak yang berwarna abu-abu atau

kebiruan yang disebut sebagai makula serulae. Kutu ini dapat dilihat dengan mata biasa dan susah untuk dilepaskan karena kepalanya dimasukkan ke dalam muara folikel rambut. Gejala patognomonik lainnya adalah black dot, yaitu bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna putih yang terlihat saat bangun tidur. Bercak hitam ini merupakan krusta berasal dari darah yang sering diinterpretasikan salah sebagai hematuria. Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. e. Larva Migrans Kutaneus Tanda dan gejala Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula akan timbul papul, kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2 -3 mm, dan berwarna kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari. Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelokkelok, polisiklik, serpiginosa, menimbul dan membentuk terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa cm. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari. Tempat predileksi adalah di tungkai, plantar, tangan, anus, bokong dan paha, juga dibagian tubuh mana saja yang sering berkontak dengan tempat larva berada. 2. Morfologi dan siklus hidup a. Sarkoptes scabies Morfologi Sarcoptes scabiei termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, super famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Selain itu terdapat S. scabiei yang lain, misalnya pada kambing dan babi. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, perutnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kecil dan tidak bermata. Ukurannya, yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2

pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Siklus hidup Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadangkadang masih dapat hidup selama beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40-50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat bertahan hidup selama sebulan. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari. b. Pedikulus humanus var. capitis Morfologi Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan menjadi kemerahan jika telah menghisap darah. Terdapat dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina, yang betina dengan ukuran panjang 1,2-3,2 mm dan lebar lebih kurang panjangnya., jantan lebih kecil dan jumlahnya sangat sedikit . Siklus hidup Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa dan dewasa. Telur (nits) diletakkan disepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut, yang berarti makin ke ujung terdapat telur yang lebih matang. c. Pedikulus humanus var. corporis Morfologi Pediculus humanus var. corporis mempunyai 2 jenis kelamin, yakni jantan dan betina, yang betina berukuran panjang 1,2-4,2 mm dan lebar kira-kira setengah panjangnya, sedangkan yang jantan lebih kecil. Siklus hidup Sama dengan yang ditemukan pada kepala. d. Phthirus pubis Morfologi

Bentuk kepala segiempat, abdomen pendek dengan batas ruas yang tidak nyata lagi da kuku yang besar dan kuat, ukuran 0,8-1,2 mm. Siklus hidup Telur berwarna putih, mempunyai operculum, 0,6-0,8 mm, disebut nits; telur diletakkan pada rambut dan dengan erat melekat pada rambut atau serat pakaian. Telur ini dapat hidup berbulan-bulan pada pakaian. Telur menetas dalam waktu 5-11 hari pada suhu 26-31C. Nimfa tumbuh dalam kulit dan keluar melalui operculum yang terbuka. 3. Dasar diagnosis a. Scabies Anamnesis Dari anamnesis didapatkan keluhan bruntus bruntus yang terasa gatal pada sela jari kedua tangan, telapak tangan, punggung tangan, perut, dada. Awalnya bruntus kemerahan sebesar ujung jarum pentul dirasakan berawal dari sela jari tangan kanan kemudian semakin banyak dan meluas ke sela jari tangan kiri, telapak tangan, punggung tangan,dada, perut. Keluhan gatal dirasakan semakin hebat terutama pada malam hari dan menyebabkan pasien sering terbangun hampir setiap malam. Rasa gatal yang dirasakan membuat pasien menggaruk kulit hingga timbul luka akibat garukan dan beberapa luka bernanah. Pasien tidak mengalami demam. Selain bruntus bruntus yang timbul tersebut pada jari pasien terdapat lepuh yang berisi nanah. Dari anamnesis diketahui pula bahwa terdapat anggota keluarga yang juga mengalami keluhan serupa. Pemeriksaan fisik Kelainan yang timbul dapat berupa macula, papula, dan vesikula miliar sampai lentikular, pustule, krusta disertai ekskoriasi (starch mark). Lesi yang khas adalah terowongan (kanalikuli) miliar, tampak berasal dari salah satu papul atau vesikel. Titik hitam pada akhir terowongan kadang-kandang dapat terlihat menunjukkan lokasi S. scabiei betina. Kelainan pada umumnya timbul di kulit yang tipis dan lembab, mengandung sedikit folikel polisebaseus, simetris, dan tempat predileksi yang utama adalah sela-sela jari tangan (interdigital), fleksor siku, lutut, pergelangan tangan bagian volar, lipatan inframammary/mammae pada wanita, umbilicus, penis/genitalia eksterna pada pria, lipatan axilla anterior, abdomen bagian bawah, punggung tangan, punggung, dan pantat. Pada anak-anak usia kurang dari 2 tahun, lesi cenderung diseluruh tubuh, terutama kepala, leher, telapak tangan, dan kaki. Pemeriksaan laboratorium (mikroskopik) o Kerokan kulit (scarping) o Menyikat terowongan o Tes tinta burrow (Burrow ink test)

o Mengambil S. scabiei dengan jarum o Apusan kulit (skin swab technique) Hasil yang diharapkan dari pemeriksaan laboratorik diatas ialah ditemukannya S. scabiei betina, telur, larva atau nimfa. Ada 4 tanda cardinal pada scabies Pertama, pruritus nocturnal, artinya gatal pada malam hari, keluhan ini akibat aktivitas S. scabiei lebih tinggi pada suhu yang panas dan lembab serta berkeringat. Kedua, scabies menyerang manusia secara berkelompok. Dikenal keadaan hiposensitisasi, dimana semua anggota keluarga terkena. Walaupun mengalami infestasi S. scabiei tetapi tidak memberikan gejala, penderita ini bersifat pembawa atau carrier. Ketiga, adanya terowongan(canaliculus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berbelok-belok dengan panjang sekitar 1 cm. Keempat, ditemukan satu atau lebih stadium hidup S. scabiei. Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan minimal 2 dari 4 tanda tersebut. b. Pedikulosis kapitis Anamnesis c. Pedikulosis korporis d. Pedikulosis pubis e. Larva migrans kutaneus