Anda di halaman 1dari 11

Proteksi Reaktor

1. Lokasi Reaktor pada Sistem Tenaga Listrik Reaktor yang terpasang pada Sistem Tenaga Listrik pada umumnya dapat diklasifikasikan atas 2 kelompok, yaitu : a. Reaktor Seri, yang diperuntukkan untuk membatasi besar arus hubung singkat. b. Reaktor Shunt yang diperuntukkan untuk kompensasi reaktif Reaktor Seri. Besar Arus Hubung singkat pada suatu titik pada Sistem Tenaga Listrik berbanding terbalik dengan besar impedansi hubung singkat. Dengan menempatkan reactor seri antara titik tegangan input dan peralatan system maka besar arus hubung singkat dapat direduksi. Dengan cara ini, dapat dipilih peralatan sistem, mulai dari ketahanan bus conductor terhadap besar hubung singkat, breaking capacity circuit breaker, withstand capacity dari DS, CT, CVT, Trafo serta peralatan lainnya yang lebih kecil daripada kalau tanpa menggunakan reactor seri, hal ini akan menekan biaya investasi peralatan dalam jumlah yang sangat besar. Kelemahan dari penggunaan reactor seri adalah bertambah besarnya regulasi system, terutama pada saat beban yang dipasok mempunyai factor daya yang kecil. Akan tetapi hal ini dapat dikompensasi dengan menggunakan Voltage Regulator. Reaktor Shunt Tipe ini dipakai sebagai kompensasi terhadap reaktansi kapasitif. Arus lagging yang diambil oleh reaktor shunt dipakai untuk meng-kompensasi arus leading yang diambil oleh reaktansi kapasitif pada titik dimana shunt reactor tersebut ditempatkan. Penggunaan shunt reactor ini sangat baik untuk menekan kenaikan tegangan yang disebabkan oleh line charge pada transmissi panjang.

2. Tipe Reaktor Berdasarkan konstruksinya maka reaktor dapat dibagi atas : 2.1 Dry Type Air Core Reactor. Pada awalnya tipe reactor ini hanya diproduksi s/d tegangan 33 kV, tetapi pada akhir tahun 2007, produsen Air Core Reactor yang terkenal di Canada telah memproduksi Air Core Reactor s/d tegangan 150 kV. Dibawah ini dapat dilihat gambar Air Core Reactor dan dimensi dari 150 kV Air Core Reactor.

2.2 Oil Immersed Reactor Reaktor tipe ini, mempunyai kontruksi sangat mirip dengan transformator daya, dimana belitan reactor dililit pada inti dan dicelupkan dalam minyak. Kelebihan system dibanding aircore reactor adalah sistem pendinginan lebih bagus, insulation system lebih baik dan stray losses lebih kecil. Oil Immersed Reactor lebih sesuai dipakai pada high voltage dan extra high voltage system. Saat ini belum ada aircore reactor yang dipakai pada tegangan yang lebih besar dari 150 kV.

Oil Immersed Reactor, 3 phase / 66 kV

Untuk system dimana tegangan kerja dan daya dari reactor sudah sangat besar, maka pada umumnya tidak lagi dipakai reactor 3 phase dalam konstruksi 1 unit. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini, dimana reactor 3 fasa, terdiri dari 3 reaktor 1 fasa. Salah satu bushing di hubungkan langsung ke penghantar fasa, dan bushing lainnya di hubungkan dengan bushing pada reactor 1 fasa lainnya yang berpolaritas sama. Sehingga didapatkan 3 phase Y connected Reactor.

Oil Immersed Reactor, 1 phase / 500 kV/3

Oil Immersed Reactor, 1 phase / 500 kV/3

3. Proteksi Reaktor Reaktor Seri Baik pada Air core maupun Oil Immersed Reactor dipergunakan : 1. Differential Protection, sebagai main protection. 2. Overcurrent dan E/F Protection, sebagai back up.

Pada Oil Immersed Reactor selain dari kedua sistem proteksi diatas, ditambah dengan: 1. Bucholz relay 2. Temperature relay 3. Pressure Relay Setting Bucholz Relay : Terdiri dari 2 tingkat, yaitu : 1. Tingkat 1, hanya memberi pertanda ( alarm ), tanpa perintah trip. Hal ini mengindikasikan bahwa ada incipient fault didalam belitan reactor, sehingga mulai terbentuk gelembung gelembung gas minyak trafo. 2. Tingkat 2, trip dan alarm, memberi pertanda bahwa terjadi hubung singkat besar dalam belitan reactor

Setting Temperature Relay: Relay ini dipakai untuk memproteksi belitan reactor terhadap panas yang berkepanjangan dan cukup besar, sehingga terjadi perubahan pada sifat isolasi belitan reactor tersebut. Sehingga setting dari relay ini antara lain harus disesuaikan dengan kelas isolasi dari belitan reactor. Selain dari hal tersebut, juga harus diperhatikan temperature didih dari minyak isolasi yang dipakai pada oil immersed reactor. Terdiri dari 2 tingkat, yaitu : 1. Tingkat 1, di set pada temperatur sekitar 900 s/d 1000 C ; pada prakteknya agar supaya suhu didih tidak tercapai apabila ada kesalahan operasi dari temperature relay tersebut, maka banyak relay yang di set pada 800 C saja. 2. Tingkat 2, di set pada suhu +/- 1200 C s/d 1400 C , setting ini dipilih dengan mempertimbangkan flash point dari minyak isolasi tersebut. IEEE Guide for Loading Mineral-Oil Immersed Power Transformers, (described in the rest of this paper as the Guide for Loading) are listed in Table 2.
Table 2: Standard temperature limits, 65 C rise transformer, 30 ambient temperature

Standard temperature limits Average winding temperature rise 65 C Above ambient Hot-spot temperature rise 80 C Above ambient Top liquid temperature rise 65 C Above ambient Maximum temperature limit 110 C Absolute Setting Pressure Relay Relay ini mendeteksi overpressure pada main tank oil immersed reactor, hal ini pada umumnya terjadi karena terjadi hubung singkat yang besar pada belitan reactor. Meskipun bisa saja terjadi bukan karena kondisi hubung singkat tetapi pressure relay bekerja, dimana hal ini terjadi karena valve yang menghubungkan main tank dengan conservator tertutup, sehingga pertambahan volume minyak trafo karena panas yang timbul pada saat pembebanan yang besar dan cukup lama, akan menyebabkan timbulnya overpressure pada main tank sehingga pressure relay operates. Setting overpressure relay hanya satu dan bilamana relay ini operates maka harus terjadi tripping.

Gambar gambar Peralatan Non Electrical Protection

Temperature Relay

Pressure Switch

Reaktor Shunt Pada Reaktor shunt, karena pada umumnya hanya satu terminal yang terhubung ke Line dan ujung lainnya terhubung ke Ground, maka pada umumnya hanya menggunakan : 1. Restricted Earth Fault Protection untuk internal fault main protection. 2. Overcurrent dan E/F Protection sebagai back up protection. Oil Immersed Shunt Reactor selain dari system proteksi diatas, juga dilengkapi dengan Bucholz Relay , Temeperature Relay dan Pressure relay dengan setting sebagaimana pada series reactor.

10

Shunt Reactor Intertripping Pada kondisi dimana gangguan pada reactor shunt yang terdapat pada salah satu GI, hendak diisolir secara sempurna, maka perlu dipilih Intertripping Protection System. Pada konsep ini, output dari Diffrential relay, Overcurrent & E/F relay maupun Bucholz relay, Temperature relay, serta Pressure relay ditransmit via pilot system ke system Proteksi pada remote end, sehingga relay pada remote end akan mengeluarkan perintah trip pada CB nya.

11