Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Toksikologi adalah studi mengenai efek yang tidak diinginkan dari zat-zat

kimia terhadap organisme hidup. Jadi kalau di lihat dari definisi tersebut tidak perlu lagi kata kima di tuliskan sesudah toksikologi seperti yang di tulis dalam judul kegiatan ini, meskipun sumber zat toksik bisa juga berasal dari tumbuhan dan binatang. Gabungan antara berbagai efek potensial yang merugikan serta terdapatnya keanekaragaman bahan kimia di lingkungan membuat toksikologi sangat luas cakupannya. Toksikologi meliputi penelitian toksisitas bahan-bahan kimia yang di gunakann misalnya: (1) di bidang kedokteran untuk tujuan diagnostik, pencegahan, dan terapeutik, (2) di bidang industri makanan sebagai zat tambahan langsung maupun tidak langsung, (3) di bidang pertanian sebagai peptisida, zat pengatur pertumbuhan, penyerbuk buatan, dan (4) di bidang industri kimia sebagai pelarut, reagen dan sebagainya. Pencegahan keracunan memerlukan perhitungan terhadap toxicity

(toksisitas), hazard (bahay), risk (resiko), dan safety (keamanan). Hazard suatu zat kimia berarti: "kemungkinan zat kimia tersebut untuk menimbulkan cedera", sedangkan dalam bahas Indonesia Hazard diterjemahkan sebagai "bahaya". Hazard berbeda pengertiannya dengan toksisitas, yang berarti "deskripsi dan kuantifikasi sifat-sifat toksis suatu zat kimia". Hazard dapat berbeda tergantung cara pemaparan zat kimia tersebut. Zat X dalam bentuk cair misalnya akan lebih berbahaya (hazardous) dari pada bentuk butiran karena lebih mudah menempel di kulit dan di serap. Suatu zat kimia dalam bentuk gas akan menimbulkan hazard lebih besar dari pada bentuk cair, karena dapa menyebar luas di udara dan mengenai banyak orang sekaligus. Namun bila gas di simpan dalam tangki dengan baik atau dalam ruangan sejuk maka hazard akan menjadi lebih kecil. Risk didefinisikan sebagai "besarnya kemungkinan suatu zat kimia untuk menimbulkan keracunan". Hal ini terutama tergantung dari besarnya dosis yang masuk ke dalam tubuh. Peningkatan dosis di tentukan oleh tingginya konsentrasi,

lama dan seringnya pemaparan serta cara masuknya zat tersebut ke dalam tubuh. Semakin besar pemaparan terhadap zat kimia semakin besar pula resiko keracunan. Keamanan suatu xenobiotik perhitungan sukar di pahami. Hal ini disebabkan perlu memperhitungkan keamanan dengan menerapkan "faktor keamanan", yang kadang kala merupakan etimasi yang sering berlebihan. Manusia tidak dapat di pakai sebagai "hewan" pecobaan untuk menilai xenobiotik seperti biasanya di lakukan terhadap obat karena etis. Oleh karena itu terpaksa perhitungan harus didasarkan etimasi toksisitas dan bahaya terhadap suatu zat kimia melalui data yang di peroleh dari hewan percobaan. Karena ada perbedaan antara sifat manusia dengan hewan percobaan maka harus di perhitungkan faktor keamanan yang menurut konsensus ilmish sebesar 100. Hal ini menyebabkan di terimanya standar pemaparan seperti: acceptable Daily Intake (ADI), Tolerable Weekly Intake (TWI), Maximal Allowable Concentration, Tolerance Level, dan sebagainya.

B.

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalah yaitu: 1. Apakah yang dimaksud dengan toksikologi? 2. Bagaimana klasifikasi dan sumber bahan toksik? 3. Bagaimana karakteristik pemaparan toksikologi? 4. Dimanakah jalur masuk dan tempat pemaparan toksikologi? 5. Bagaimana jalur waktu dan frekuensi pemaparan toksikologi? 6. Bagaimana interaksi bahan kimia dalam toksikologi? 7. Bagaimana absorbsi, distribusi, dan ekskresi toksikologi? 8. Bagaimana biotransformasi toksikologi? 9. Apa efek dari toksikologi?

C.

TUJUAN Tujuan dari pembuatan makalah ini sesuai dengan rumusan masalah yaitu : 1. Untuk memahami penertian dari toksikologi. 2. Untuk memahami klasifikasi dan sumber bahan toksik.

3. Untuk mengetahui karakteristik pemaparan toksikologi. 4. Untuk mengetahui jalur masuk dan tempat pemaparan toksikologi. 5. Untuk memahami jalur waktu dan frekuensi pemaparan toksikologi. 6. Untuk mengetahui bagaimana interaksi bahan kimia dalam toksikologi. 7. Untuk memahami absorbsi, distribusi, dan ekskresi toksikologi. 8. Untuk memahami bitransformasi toksikologi. 9. Untuk mengetahui efek dari toksikologi.

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN TOKSIKOLOGI Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman dari bahan kimia (Casarett and Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga mempelajari jelas/kerusakan/ cedera pada organisme (hewan, tumbuhan, manusia) yang diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi, mempelajari racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada organisme dan mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap organisme. Banyak sekali peran toksikologi dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan lingkungan dikenal istilah toksikologi lingkungan dan ekotoksikologi. Dua kata toksikologi lingkungan dengan ekotoksikologi yang hampir sama maknanya ini sering sekali menjadi perdebatan. Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan menimbulkan pencemaran lingkungan (Cassaret, 2000) dan Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik pada mahluk hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem, termasuk jalan masuknya agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan demikian ekotoksikologi merupakan bagian dari toksikologi lingkungan. Toksikologi adalah pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh bahan kimia yang merugikan bagi organisme hidup. Dari definisi di atas, jelas terlihat bahwa dalam toksikologi terdapat unsur-unsur yang saling berinteraksi dengan suatu cara-cara tertentu untuk menimbulkan respon pada sistem biologi yang dapat menimbulkan kerusakan pada sistem biologi tersebut. Salah satu unsur toksikologi adalah agen-agen kimia atau fisika yang mampu menimbulkan respon pada sistem biologi. Selanjutnya cara-cara pemaparan merupakan unsur lain yang turut menentukan timbulnya efek-efek yang tidak diinginkan ini. Toksikologi oleh Loomis didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari aksi berbahaya zat kimia atas sistem biologi. Pakar lainnya, yaitu Doull dan Bruce mendefenisikan toksikologi sebagai ilmu yang mempelajari pengaruh zat kimia

yang merugikan atas sistem biologi. Timrel, mendefinisikan toksikologi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antar zat kimia dan sistem bilogi. Toksisitas merupakan istilah dalam toksikologi yang diartikan sebagai kapasitas suatu zat kimia/beracun yang dapat menimbulkan efek toksik tertentu pada makhluk hidup. Istilah toksisitas merupakan istilah kualitatif, terjadi atau tidak terjadinya kerusakan tergantung pada jumlah unsur kimia yang terabsopsi. Sedangkan istilah bahaya (hazard) adalah kemungkinan kejadian kerusakan pada suatu situasi atau tempat tertentu; kondisi penggunaan dan kondisi paparan menjadi pertimbangan utama. Risiko didefinisikan sebagai kekerapan kejadian yang diprediksi dari suatu efek yang tidak diinginkan akibat paparan berbagai bahan kimia atau fisik. Istilah toksikokinetik merujuk pada absopsi, distribusi, ekskresi dan metabolisme toksin, dosis toksin dari bahan terapeutik dan berbagai metabolitnya. Sedangkan istilah toksikodinamik digunakan untuk merujuk berbagai efek kerusakan unsur tersebut pada fungsi fital. Paracelcus yang dianggap sebagai bapak toksikologi tidak membedakan anatara obat dengan zat beracun berdasarkan toksisitasnya. Paracelcus berpendapat bahwa yang membedakan antara obat dengan racun atau zat yang bukan racun dengan racun adalah dosisnya. Toksikologi adalah studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zatzat kimia terhadap organisme hidup. Toksikologi juga membahas tentang penilaian secara kuantitatif tentang organ-organ tubuh yang sering terpajang serta efek yang di timbulkannya. Efek toksik atau efek yang tidak diinginkan dalam sistem biologis tidak akan dihasilkan oleh bahan kimia kecuali bahan kimia tersebut atau produk biotransformasinya mencapai tempat yang sesuai di dalam tubuh pada konsentrasi dan lama waktu yang cukup untuk menghasilkan manifestasi toksik. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan dengan situasi pemaparan (pemajanan) terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan.

Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang percobaan biasanya dibagi dalam empat kategori: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Untuk manusia pemaparan akut biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau disengaja, dan pemaparan kronik dialami oleh para pekerja terutama di lingkungan industriindustri kimia. Interaksi bahan kimia dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme dan efek dari dua atau lebih bahan kimia yang diberikan secara bersamaan akan menghasilkan suatu respons yang mungkin bersifat aditif, sinergis, potensiasi, dan antagonistik. Karakteristik pemaparan membentuk spektrum efek secara bersamaan membentuk hubungan korelasi yang dikenal dengan hubungan dosis-respons.

B. KLASIFIKASI DAN SUMBER BAHAN TOKSIK Bahan-bahan toksik dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, tergantung dari minat dan tujuan pengelompokkannya. Kombinasi dari berbagai sistem klasifikasi atau berdasarkan faktor-faktor lainyanya mungkin diperlukan untuk memberikan sistem peringkat terbaik untuk maksud tertentu. Meskipun

klasifikasi yang mempertimbangkan komposisi kimiawi dan biologis dari bahan serta karekteristik pemaparan akan lebih bermanfaat untuk tujuan pengendalian dan pengaturan dari pemakaian zat-zat toksik (Rukaesih Achmad, 2004: 156-157). Bahan-bahan toksik dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, tergantung dari minat dan tujuan pengelompokannya. Sebagai contoh pengklasifikasikan berdasarkan: 1. Organ targetnya: hati, ginjal, sistem hematopotik, dan lain-lain; 2. Penggunaanya: peptisida, pelarut, aditif makanan, dan lain-lain; 3. Sumbernya: toksik tumbuhan dan binatang 4. Efeknya: kanker, mutasi, kerusakan hati, dan sebagainya; 5. Fisiknya: gas, debu, cair; 6. Sifatnya: mudah meledak; 7. Kandungan kimianya: amina aromatik, hidrokarbon halogen, dan lain-lain. Tidak ada satupun klasifikasi yang sesuai untuk seluruh spektrum dari bahan toksik. Kombinasi dari berbagai sistem klasifikasi atau berdasarkan faktor-faktor lainnya mungkin di perlukan untuk memberikan sistem peringkat terbaik untuk

maksud tertentu. Meskipun klasifikasi yang mempertimbangkan komposisi kimiawi dan biologis dari bahan serta karakteristik pemaparan akan lebih bermanfaat untuk tujuan pengendalian dan pengaturan dari pemakaian zat-zat toksik. Dari penelitian yang dilakukan terdapat 9 kelompok besar sumber bahan toksik dari industri penghasil limbah B3 di Indonesia, yaitu: 1. Industri tekstil dan kulit Sumber utama bahan toksik pada industri tekstil ialah penggunaan zat warna, sedangkan pada industri batik penggunaan senyawa naftol yang sangat berbahaya. Selain itu juga digunakan hidrogen peroksida yang sangat reaktif dan HClO yang toksik. Pada proses penyamakan dan pengolahan kulit digunakan asam sulfat dan zat warna yang mengandung krom. 2. Pabrik kertas dan percetakan Dalam proses produksi kertas, dihasilkan residu yang toksik. Setelah dilakukan pengolahan limbah, dari residu tersebut dihasilkan konsentrat lumpur yang lebih toksik. Sedangkan dari proses pencetakan, dihasilkan limbah cair sebagai hasil samping pada pencucian rol film, pemrosesan film, dan pembersihan mesin. Setelah limbah diolah, akan dihasilkan konsentrat lumpur sebanyak 1-4 % dari volume limbah cair. 3. Industri kimia dasar Dalam kelompok ini termasuk pabrik pembuat mesin, pengawet kayu, cat, tinta, pestisida, pigmen, sabun dan pabrik gas. Setelah limbah diolah, pabrik mesin akan menghasilkan konsentrat lumpur yang toksik sebanyak 1-5 % dari volume limbah cairnya. Pembuatan cat akan menghasilkan lumpur yang toksik, baik dari bahan yang terlarut dalam air maupun dalam pelarut lainnya. Demikian juga pabrik tinta, akan menghasilkan limbah cair maupun lumpur yang pekat. Sedangkan limbah beracun dari pabrik pestisida akan tergantung pada kegiatannya, yaitu memproduksi pestisida atau hanya kegiatan proses formulasi. 4. Industri farmasi Kelompok industri farmasi meliputi pembuatan bahan baku obat formulasi dan pengemasan obat. Di Indonesia, industri farmasi umumnya merupakan kegiatan formulasi dan pengemasan obat, hanya beberapa pabrik yang melakukan

kegiatan proses pembuatan bahan baku. Limbah industri farmasi berasal dari obatobat yang tidak terjual dan/atau kadaluarsa serta pencucian peralatan produksi. Limbah pabrik farmasi yang memproses obat golongan antibiotika memiliki toksisitas yang tinggi. 5. Industri logam dasar Limbah industri logam dasar non-besi, setelah diolah akan menghasilkan konsentrat lumpur sebanyak 3 % dari limbah abut dihasilkan konsentrat lumpur yang lebih toksik. Sedangkan dari proses pencetakan, dihasilkan limbah cair yang merupakan hasil samping proses pengecoran, pencetakan dan pelapisan. Selain itu juga menghasilkan limbah cair yang toksik dari proses pembersihan bahan baku dan peralatan produksi. 6. Industri perakitan kendaraan bermotor Kegiatan industri perakitan kendaraan bermotor menghasilkan limbah B3 dari kegiatan proses penyiapan logam dan pengecatan yang mengandung logam berat Zn dan Cr. 7. Industri perakitan listrik dan elektronika Hasil limbah yang paling dominan dalam kelompok industri ini ialah limbah padat yang dapat didaur ulang. Sedangkan limbah cair merupakan hasil samping proses pelapisan dan pengecatan termasuk juga ke dalam golongan limbah B3. Lumpur konsentrat hasil pengolahan limbah cair sangat toksik. limbah dari proses elektroplating sangat toksik dan bersifat asam, sering mengandung Cr, Zn, Cu, Ni, Sn dan Cd. Industri elektronika terbagi atas kegiatan asembling dengan limbah yang tidak banyak dan kegiatan produksi dari bahan baku menjadi barang jadi dengan limbah cair yang sangat toksik, meskipun tidak banyak. 8. Industri baterai kering dan Aki Dari industri baterai kering akan dihasilkan limbah padat berbahaya dari proses filtrasi dan limbah cair dari proses penyegelan. Sedangkan dari industri aki akan dihasilkan limbah cair beracun karena menggunakan asam sulfat sebagai cairan elektrolit. 9. Rumah sakit Rumah sakit tidak hanya menghasilkan limbah padat dan cair, tapi juga limbah gas, bakteri, dan virus. Limbah padat yang berbahaya berupa sisa obat-

obatan, bekas pembalut, pembungkus obat dan bahan kimia. Sedangkan limbah cair berasal dari pencucian peralatan dan perlengkapan, sisa obat-obatan, dan bahan kimia laboratorium.

C. KARAKTERISTIK PEMAPARAN TOKSIKOLOGI Efek toksik atau efek yang tidak diinginkan dalam sistem biologis, tidak akan di hasilkan oleh bahan kimia kecuali bahan kimia tersebut atau produk biotransformasinya mencapai tempat sesuai di dalam tubuh pada konsentrasi dan lama waktu yang cukup untuk menghasilkan manifestasi toksik. Terjadi tidaknya respon toksik tergantung pada sifat kimia dan fisik dari bahan tersebut, situasi pemaparan, dan kerentanan sistem biologis dari subjek. Oleh karena itu untuk dapat mengetahui karakteristik lengkap bahaya potensial dan toksisitas dari suatu bahan kimia tertentu perlu di ketahui tidak hanya tipe efek tersebut, tetapi juga informasi mengenai sifat bahan kimianya sendiri, pemaparannya, dan subjek. Faktor utama yang memperngaruhi toksisitas yang berhubungan dengan situasi pemaparan terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan. Perbandingan dosis letal suatu bahan polutan dan perbedaan jalan masuk dari paparan sangat bermanfaat berkaitan dengan absorbsinya. Suatu bahan polutan dapat diberikan dalam dosis yang sama tetapi cara masuknya berbeda. Misalnya bahan polutan pertama melalui intravena, sedangkan bahan lainnya melalui oral, maka dapat diperkirakan bahwa bahan polutan yang masuk melalui intravena, memberi reaksi cepat dan segera. Sebaliknya bila dosis yang diberikan berbeda maka dapat diperkirakan absorbsinya berbeda pula, misalnya suatu bahan masuk melalui kulit dengan dosis lebih tinggi sedangkan lainnya melalui mulut dengan dosis yang lebih rendah, maka dapat diperkirakan kulit lebih tahan terhadap racun sehingga suatu bahan polutan untuk dapat diserap melalui kulit diperlukan dosis yang tinggi.

D. JALUR MASUK DAN TEMPAT PEMAPARAN TOKSIKOLOGI Jalur utama bahan toksik untuk dapat masuk ke dalam tubuh manusia adalah melalui saluran pencernaan atau gastro intestinal (menelan/ingesti, paru-paru

(inhalasi),

kulit

(topikal),

dan

jalur

palentar

lainnya

(selain

saluran

usus/intestinal). Bahan toksik umumnya menyebabkan respon yang paling cepat bila di berikan melalui jalur intravena. Perkiran efektivitas melalui jalur lainnya secara menurun adalah: Inhalasi Intraperitoneal Subkutan Intramuskular intradermal Oral Topikal Di samping itu, jalur masuk dapat mempengaruhi toksisitas dari bahan kimia. Sebagai contoh, suatu bahan kimia yang didetoksifikasi di hati di harapkan akan menjadi kurang toksik bila di berikan melalui sirkulasi portal (oral) di bandingkan bila di berikan melalui sirkulasi sistematik (inhalasi). Pemaparan bahan-bahan toksik di lingkungan industri seringkali sebagai hasil dari pemaparan melalui inhalasi dan topikal, sedangkan keracunan akibat kecelakaan atau bunuh diri seringkali terjadi ingesti oral.

E. JALUR WAKTU DAN FREKUENSI PEMAPARAN TOKSIKOLOGI Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang biasanya di bagi dalam 4 (empat) kategori yaitu: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Pemaparan akut adalah pemaparan terhadap suatu kimia selama kurang dari 24 jam. Biasanya pemaparan akut terjadi pada waktu adanya kecelakaan misalnya pecahnya saluran gas di suatu perusahaan sehingga para karyawan langsung menghirup gas beracun dalam konsentrasi yang cakup tinggi (kasus pabrik Union-Carbide di Bhophal India) atau memang sengaja bunuh diri misalnya seseorang meminum satu gelas racun serangga (misalnya Baygon) yang kalu tidak cepat ketahuan bisa membawa kematian. Pemaparan akut biasanya berhubungan dengan pemberian tunggal sedangkat subakut, subkronik dan kronik merupakan pemaparan yang berulang. Contoh, sebuah percobaan akut telah dilakukan terhadap hewan percobaan tikus putih dengan jalan memberikan ekstrak ethanol dari bahan alam (tapak dara) secara oral untuk melihat efek ekstrak tersebut terhadap penemuan kadar glukosa darah yang di lakukan di Pusat Penyakit Tidak Menular DEPKES Salemba Jakarta. Pemaparan subakut adalah pemaparan berulang terhadap suatu bahan kimia untuk jangka waktu satu bulan atau kurang, pemaparan subkronik untuk satu

10

sampai tiga bulan, dan pemaparan kronik untuk lebih dari tiga bulan. Ketiga jenis pemaparan tersebut dapat terjadi melalui jalur masuk apapun, namun yang paling sering malalui jalur oral dengan bahan kimia di tambahkan langsung dalam makanan. Untuk kebanyakan bahan kimia, efek toksik setelah pemaparan tunggal sangat berbeda di bandingkan dengan efek yang di hasilkan oleh pemaparan berulang. Sebagai contoh, manifestasi toksik setelah pemaparan berulang. Sebagai contoh, manifestasi toksik akut utama dari benzena adalah depresi susunan saraf pusat, tetapi pemaparan berulang dapat menyebabkan leukemia. Pemaparan akut terhadap bahan kimia yang cepat di serap cenderung untuk menghasilkan toksik yang segera, namun pemaparan akut dapat pula menghasilkan beberapa efek akut setelah setiap pemberian, di samping efek jangka panjang, ambang rendah, dan efek kronik dari bahan tersebut. Faktor penting lain yang berhubungan dengan waktu dalam menjelaskan karakteristik pemaparab adalah frekuensi pemberian. Secara umum dosis yang terbagi-bagi akan mengurang efek yang di timbulkannya. Suatu dosis tunggal dari suatu zat yang menghasilkan efek berat secara cepat mungkin akan menghasilkan efek yang kurang dari setengahnya bila di berikan dalam dua dosis terpisah, dan tidak menimbulkan efek apa-apa di berikan secara berkala dalam 10 kali untuk beberapa jama atau hari. Efek toksis kronik terjadi bila bahan kimia terakumulasi di dalam sistem biologis (absorpsi melebihi biotrasformasi eksresi), atau bila menghasilkan efek toksik yang tidak pulih kembali, atau bila tidak cukup dari sistem biologis untuk melakukan pemulihan dari kerusakan dalam interval frekuensi pemaparan. Bila tingkat eliminasi lebih kecil dari pada tingkat absorpsi, bahan toksik biasanya tidak terakumulasi secara tetap, namun mencapai suatu keadaan keseimbangan bila tingkat eliminasi sama dengan tingkat pemberian.

F. INTERAKSI BAHAN KIMIA DALAM TOKSIKOLOGI Interaksi bajan kimia dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme seperti perubahan dalam absorpsi, pengikatan protein, dan biotransformasi atau ekskresi dari satu atau dua zat toksik yang berinteraksi. Efek dari dua bahan kimia yang di berikan secara bersamaan akan menghasilkan suatu respon yang mungkin hanya sekedar aditif dari respon individual masig-masing atau mungkin lebih besar atau

11

lebih kecil dari yang di harapkan. Beberapa terminologi telah di gunakan untuk menjelaskan interaksi farmakonologi dan toksikologi tersebut. Efek aditif. Adalah situasi di mana efek gabungan dari dua bahan kimia dengan jumlah efek dari masing-masing bahan bila di berikan sendiri-sendiri (misalnya: 2+3=5). Sebagai contoh: bila dua insektisida organofosfat di berikan secara bersamaan, hambatan terhadap cholinesterase biasanya aditif. Efek sinergistik adalah situasi di mana efek gabungan dari bahan kimia jauh melampauhi penjumlahan dari tiap-tiap bahan kimia bila di berikan secara sendirisendiri (misalnya: 2+3=20). Sebagai contoh: CCl4 (karbon tetrakhlorida) dan C2H5OH (etanol) yang keduanya adalah senyawa hepatotosik bila secara bersamaan di berikan akan menghasilka. n kerusakan hati yang jauh lebih hebat dari pada jumlah masing-masing efek secara individual. Potensiasi adalah keadaan dimana suatu senyawa kimia tidak mempunyai efek toksik terhadap sistem atau organ tertentu, tapi bila di tambahkan ke bahan kimia lain akan membuat bahan tersebut menjadi jauh lebih toksik (misalnya: 0+2=10). Sebagai contoh: Iso propanol tidak bersifat heaptotoksik, tetapi bila zat tersebut diberikan di samping pemberian karbon tetrakhlorida, efek hepatotoksik dari karbon tetrakhlorida akan menjadi jauh lebih besar di bandingkan bila hanya di berikan secara sendiri. Antagonistis adalah situasi dimana dua bahan kimia bila di berikan secara bersamaan efeknya saling mempengaruhi dalam arti saling meniadakan efek toksik, (misalnya: 4+6=8 atau 4+0=1). Efek diagnotis dari bahan-bahan kimia sering kali merupakan efek yang di kehendaki dalam toksikkologi dan merupakan dasar dari berbagai antidote. Efek sinergistik adalah situasi dimana efek gabungan dari dua baha kimia jauh melampaui penjumlahan dari tiap-tiap bahan kimia bila di berikan secara sendirisendiri (misalnya: 2+3=20). Sebagai contoh: CCl4 (karbon tetrakhlorida) dan C2H5OH (etanol) yang keduanya adalah senyawa hepatotosik bila secara bersamaan di berikan akan menghasilkan kerusakan hati yang jauh lebih hebat dari pada jumlah masing-masing efek secara individual. Potensiasi adalah keadaan dimana suatu senyawa kimia tidak mempunyai efek toksik terhadap sistem organ tertentu, tapi bila di tambahkan ke bahan kimia lain

12

akan membuat bahan tersebut menjadi jauh lebih toksik (misalnya: 0+2=10). Sebagai contoh: Iso propanol tidak bersifat heaptotoksik, tetapi bila zat tersebut di berikan di samping pemberian karbon tetrakhlorida, efek hepatotoksik dari karbon tetrakhlorida akan menjadi jauh lebih besar di bandingkan dalam hanya di berikan sendiri. Antagonistis adalah situasi dimana dua bahan kimia bila di berikan secara bersamaan efeknya saling mempengaruhi dalam arti saling meniadakan efek toksik, (misalnya: 4+6=8 atau 4+0=1). Efek antagonistis dari bahan-bahan kimia yang sering kali merupakan efek yang dikehendaki dalam toksikkologi dan merupakan dasar dari berbagai antidote.

G. ABSORBSI, DISTRIBUSI, DAN EKSKRESI TOKSIKOLOGI Suatu toksikan selain menyebabkan efek local di tempat kontak juga akan menyebabkan kerusakan bila di serap oleh organism. Absorpsi penyerapan dapat terjadi lewat kulit,saluran pencernaan, paru-paru dan beberapa jalur lain. Selain itu, sifat dan hebatnya efek zat kmia terhadap organisme tergantunga dari

kadarnya pada organ sasaran. Kadar ini tidak hanya bergantung pada dosis yang di berikan tapi juga pada faktor lain seperti: derajat absorpsi, distribusi, pengikatan, dan ekskresi. Agar dapat di serap, didistribusikan, dan akhirnya diekskresikan, suatu toksinkan harus melewati sejumlah beberapa membrane sel. Suatu toksikan melewati membrane sel melalui empat mekanisme; yang terpenting di antaranya adalah difusi pasif lewat membrane. Sebagian besar toksikan melewati membrane sel secara difusi pasif sedrhana. Laju difusi berhubungan langsung dengan perbedaan kadar yang di batasi oleh membrane itu dan daya larutnya dalam lipid.misalnya, manitol hampir tidak diserap (< 2%), asam asetil salsilat di serap cukup baik (21%) dan thiopental lebih muda lagi di serap (67%). Banyak toksikan bersifat mampu mengion. Bentuk ion sering tidak dapat menembus membrane sel karena daya lipidnya yang rendah. Sebaliknya bentuk ion-ion cukup larut daam lipid sehingga dapat menembus membrane dengan laju menetrasi yang bergantung pada daya larut lipidnya. Tingkat ionisasi asam dan

13

basah organic lemah bergantng pada pH medium. Jadi, untuk asam organic lemah seperti asam benzoate, difusi akan mudah bila lingkungan bersifat asam karena zat ini terutama berada pada dalam bentuk ion-ion, untuk basa organic lemah, seperti aniline, difusi mudah terjadi daam lingkungan basah. 1) Absorbsi Jalur utama bagi penyerapan toksinkan adalah saluran cerna, paru-paru dan kulit. Namun dalam penelitian tksikilogi, sering di gunakan jalur khusus seperti intraperitoneal, intramuskuler, dan subkutan 1. Saluran cerna Banyak toksinkan dapat masuk ke saluran cerna bersama makanan dan air minum, atau sendiri sebagai obat atau zat kimia, kecuali zat yang kaustik atau amat merangsang mukolsa. Sebagian besar toksikan tidak menimbulkan efek toksik kecuali kalau diserap (diabsorpsi) Lambung merupakan tempat penyerapan yang penting, terutama untuk asam-asam lemak yang akan berada dalam bentuk ion-ion yang larut lipid dan mudah berdifusi. Sebaliknya basah-basah lemah akan sangat mengion dalam getah lambung yang bersifatasam dan karenanya tidak mudah di serap. Perbedaan dalam absorpsi ini di perbesar lagi oleh adanya plasma yang

beredar. Asam-asam lemah terutamaakan berada dalam bentuk in yang terlarut dalam plasma yang beredar. Asam-asam lemah terutama akan berada dalam bentuk ion yang terlarut dalam plasma dan di angkut, sementara basa lemah akan beada dalam bentuk non ion dan dapat berdifusi kembali ke lambung. Contoh asam benzoate dan aniline seperti telah di jelaskan sebelumnya. Dalam usus, asam lemah terutama akan berada dalam bentukion dan karenanya tidak mudahdi serap. Namun, sampai di darah asam lemah mengion sehingga tidak mudah berdifusi kembali. Sebaliknya basa lemah terutama akan berada dalam bentuk non-ion sehingga mdah di serap. Perlu di catat bahwa absorpsi usus akan lebih tinggi lagi dengan lebih lamanya waktu kontak dan luasnya daerah permukaan vili dan mikrovili usus. Dalam usus, terdapat transport carrier untuk absorpsi zat makanan seperti monosakarida, asam amino, dan unsure lain seperti besi, kalslim dan natrium. Tetapi beberapa toksikan seperti 5-flourourasil, talium, dan timbale dapat di

14

serap dari usus dengan system transport aktif. Selain itu, partikel-partikel seperti bagan pewarna azo dan lateks polisterina dapat memasuki sel usus lewat pinositosis. 2. Saluran napas Tempat utama bagi absorpsi di saluran napas adalah alveoli pori-ppori. Hal ini terutama berlaku ntuk gas, misalnya karbon monoksida, oksida nitrogen dan belerang dioksida; ini berlaku juga untuk uap cairan misalnya benzene dan karbon tetraklorida. Kemudaha absorpsi ini berkaitan dengan luasna permukaan alveoli. Laju absorpsi bergantung di pada daya larut gas dalam ara, semakin mudah lart semakin cepat absorpsinya. Namun demiian, keseimbangan antara udara dan darah ini lebih lambat tercapai untk zat kimia yang mudah larut, misalnya kloroform, di bandingkan dengan zat kimia yang kurang larut

misalnya etilin. Hal ini terjadi karena suatu zat kimia yang mudah laut dalam air akan mudah larut dalam darah. Oleh karena dara alveolar hanya dapat membawa zat kimia dalam jumlah terbatas, maka di perlukan lebih banyak pernapasn dan waktu lebih lama untuk mencapai keseimbangan. Bahkan akan di perlukann wakt lebih lama lagi kalau zat kimia itu juga diendapkan dalam jaringan lemak. 3. Kulit Pada umumnya, kulit relative impermeable dan karenanya merupakan barrier (penghalang) yang baik untuk mmemisahkan lingkungan. Tetapi beberapa zat kimia dapat organism itudari

di serap lewat kulit dalam

jumlah cukup banyak sehingga menimbullkan efek sistemik. Suatu zat kimia dapat si serap lewat folikel rambut atau lewat sel-sel kelenjar keringat. Akan tetapi penyerapan lewat jalur ini kecil sekali sebab struktur ini hanya merupakan bagian kecil dari permukaan kulit. Meskipun demikian kita harus hati-hati bila menggunakan bahan-bahan kosmetik yang pada dasarnya terdiri dari zat-zat kimia, seperti cat rambut, deodorant dan sejenisnya. 2) Distribusi

15

Setelah suatu zat kmia memasuki darah, zat kimia tersebut didistribusikan dengan cepat ke seluruh tubuh. Laju distribusi ke tiap-tiap organ tubuh berhungan dengan aliran darah di alat tersebut, mudah tidaknya zat kimia itu melewati dinding kapiler dan membrane sel, serta afinitas komponen alat tubuh terhadap zat kimia itu. 1. Barrier Barrier darah otak terletak di dinding kapiler. Di sana sel-sel endothelial kapiler bartaut rapat sehingga hanya sedikit atau tidak ada pori-pori di antara sel-sel itu snediri. Tiadanya vesikel dalam sel-sel ini menyebabkan kemampuan transpornya lebih rendah lagi. Akhirnya kadar protein cairan interstisial otak rendah. Berbeda dengan kadarnya dalam alat-alat tubuh lain, oleh karena itu mekanisme transfer toksikan dari darah ke otak bukan melalui pengikatan protein. Dengan demikian penetrasi toksikan ke dalam otak

bergantung pada daya larut lipidnya. Contoh, metal merkuri yang mudah memasuki otak dengan toksikan utama pada system saraf pusat. Sebalikn ya, senyawa merkuri anorganik tidak larut dalam lipid, sehingga tidak mudah masuk keotak dan toksistas utamanya bukan di dalam otak, tetapi di ginjal kerena air seni ( urine ) mudah melarutkan merkuri anorganik. Secara anatomic barrier plasenta berbeda di antara berbagai spesies hewan. Pada beberapa spesies, terdapat enam lapis sel antara janin dengan darah ibu, sementara spesies lain hanya ada satu lapis. Selain itu jumlah lapisan itu mungkin berubah bersamaan dengan bertambahnya umur kehamilan, meskipun hungan antara jumlah lapisan plasenta permeabilitasnya perlu di pastikan, barrier dengan

plasenta ternyata dapat

menghalangi transfer toksikan ke janin sehingga sampai batas tertentu dapat melindungi si janin. Tetapi, kadar suatu toksikan misalnya metal merkuri mungkin lebih tinggi dalam alat tubuh tertentu pada janin, misalnya otak karena kurang efektifnya barrier darah- otak janin. Sebaliknya kadar pewarna makanan (amaranth ) pada janin hanya 0,03 0,06 dari kadar ibunya. 2. Pengikatan dan penyimpanan Seperti telah di kemukakan di atas, pengikatan suatu zat kimia dalam jaringan dapat menyebabkan lebih tingginya kadar dalam jaingan itu. Ada

16

dua jenis utama ikatan. Pertama, ikatan jenis kovalen bersifat tidak reversible. Dan pada umumnya berhungan dengan efek toksik yang penting. Kedua ikatan non kovalen ( ion ) biasanya merupakan yang terbanyak yang bersifat reversible. Karena itu, proses ini berperan penting dalam distribusi toksikan ke berbagai organ tubuh dan jaringan. Ada beberapa jenis ikatan non kovalen yang ter bentuk, di antaranya: Protein plasma dapat mengikat komponen fisiologik normal dalam senyawa tubuh di samping banyak senyawa asing lainnya. Sebagian senyawa asing ini terikat pada albumin dank arena itu tidak dengan segera tersedia utuk didistribuskan ke ruang ekstravaskuler. Tetapi, karena pengikat ini reversible, senyawa kimia yang terikat itu dapat lpas dai protein sehingga kadar bahan kimia yang bebas meningkat, dan kemudian mungkin melewati kapiler endothelium. Hal ini dan ginjal memilii kapasitas yang lebih tinggi untuk mengikat zatzat kimia. Hal ini mungkin berhubungan dengan fungsi metabolic dan ekskretorik hati dan ginjal. Dalam organ-organ tubuh telah di kenal sebagai macam protein yang memiliki sifat mengikat cadmium dalam hati ke ginjal. Pengikat suat zat dengan cepat menaikkan kadar dalam organ tubuh.

Misalnya, 30 ment setelah pemberian dosis tunggal timbale, kadarnya dalam hati 50 kali lebih tinggi dari pada kadarnya dalam plasma. Jaringan lemak merupakan depot penyimpanan yang pentng bagi zat yang larut dalam lipis misalnya DDT, dielderin, dan poliklorobifenil (PCB). Zat-zat ini di simpan dalam jaringan lemak dengan pelarutan sederhana dalam lemak netral. Konyugasi asam lemak dengan toksikan, misalnya DDt, dapat juga merupakan suatu mekanisme penimbuhan zat kimia dalam jaringan yang mengandung lipid dan dalam sel-sel badan. Tulang merupakan tempat penimbuhan utama untuk toksikan florida, timbale, dan stronsium. Penimbuhan utaa untuktoksikuan dalam cairan intertstital dan Kristal hidroksiapatit dalam minral tulang. Karena ukuran dan muatan yang sama, F- dengan mudah di gantkan OH- dan kalsium dari tulang di gantikan d timbale atau strosium. Zat-zat yang di timbun ini akan di

17

elpaslan lewat pertukaran ion dengan pelaruan Kristal tulang lewat aktivitas osteoklastik. 3) Ekskresi Setelah absorpsi dan distribusi dalam tubuh, toksikan dapat di keluarkan denga cepat atau perlahan. Toksikan di keluarkan dalam bntuk asal, sebagai metabolit, dan atau sebagai konjugat. Jalur utama ekresi adalah urine, tetapi hati dan paru-paru juga merupakan alat ekskresi penting untuk zat kimia jenis tertentu. 1. Ekresi urine Ginjal membuang toksikan dari tubuh dengan mekanisme yang serupa dengan mekanisme yang di gunakan untuk membuang hasil akhir metabolism faali, yaitu yaitu dengan filtrasi glomerulus, difusi tubuler, dan sekresi tubuler. Kapiler glomelurus memiliki pori-pori besar (70 nm); karena itu, sebagian tksikan akan leat di glomelurus, kecuali toksikan yang sangat besar (lebih besar dari BM 60.000 ) atau yang terikat erat pada protein plasma. Toksikan dalam filtrate glomelurus akan mengalami absorpsi pasif di sel-sel tubuler bila koefisien partisi lipid/airnya tinggi, taau tetap dalam lumen tebuler dan di keluarkan bila merupakan senyawa yang polar. 2. Ekskresi pedu Hati juga merupakan alat tubuh yang penting untuk ekskresi toksikan,

terutama untuk senyawa yang polaritasnya tinggi (anion dan kation), kongjngat yang terikat pada protein plasma, dan senyawa yang BM-nya lebih besar dari 300. Pada umumnya begitu senyawa ini berada dalam empedu, senyawa ini tidak akan di serap kembali ke dalam darah dan di keluarkan lewat fases. Tetapi ada kekecualian, misalnya kongjungat glukuronoid yang dapat dihidrolisis oleh flora usus menjadi toksikan bebas yang di serap kembali. Pentingya jalur empedu untuk ekskresi beberapa zat kimia telah di perlihatkan dengan jelas dalam percobaan yang menunjukkan bertambahnya toksisktas akut beberapa kali lipat pada hewan yang saluran empedunya di ikat. Contoh zat kimia semacam itu adalah di goksin, indosinoin hijau dan yang paling berbahaya adalah diestilbestrol (DES). Toksisitas DES meningkat 130 kali pada tiks percobaan yang saluran empedu di ikat.

18

3. Paru-paru Zat yang berbentuk gas pada suhu badan teruta,ma di ekskresikan lewat paru-paru. Cairan yang mudah larut misalnya kloroform dan halotan mungkin diekskresikan sangat lambat karena di timbun dalam jaringan lemak dank arena terbatasnya volume ventilasi. Ekskresi toksikan melalui paru-paru

terjadi karena difusi sederhana lewat membrane sel. 4. Jalur lain Saluran cerna bukan jalur utama untk ekskresi tolsikan. Oleh karena lambung dan usus masing-masing mesekresi kurang lebih 3 liter cairan setiap hari, maka beberapa tksikan di keluarkan bersama cairan tersebut. Hal ini terjadi terutama lewat difusi sehingga lajunya bergantung pada pKaa toksikan dan pH lambung dan usus. Ekskresi toksikan lewat air susu ibu (ASI), di tinjau dari sudut toksikologi amat penting karena lewat air susu ibu ini acun terbawa dari ibu kepada bayinya. Ekskresi ini terjadi melalui difusi sedrhana. Oleh karena itu seorang ibu yang sedang mempunyai bayi haruberhati-hati dalam hal

makananterutama kalu minum obat. Karena air susu bersifat asam senyawa basa akan mencapai kadar lebih tinggi dalam air susu di bandingkan dalam plasma, dan sebaliknya untuk bersifat asam. Senyawa lipofilik seperti DDT dan PCB juga mencapai kadar yang lebih tinggi dalam air susu karena dalam kandungan lemaknya yang lebih tingggi. Dengan demikian para peternak sapai perah ahrus menjaga agar rumput untk makanan ternaknya tidak terkontaminasi oleh pestisida yang dapat menghasilkan mengandung toksikan/tercemar yang pada akhirnya akan manusia. Umumnya, kadar bahan kimia di dalam organ sasaran merupakan fungsi kadar darah. Pengikatan toksikan dalam jaringan akan menambah kadarnya, sementara barrier jaringan cenderung mengurangi kadarnya. Oleh karena itu kadar dalam darah lebih mudah di ukur, terutama pada jangka waktu tertentu. Hal ini sering di jadikan parameter dalam penelitian toksikokinetik. Selama penyerapan, kadar toksikan dalam darah meningkat. Sementara itu laju air susu yang sampai kepada

19

ekskresi, biotransformasi dan distribusinya kea lat-alat tubuh dan jaringan lain juga bertambah.

H. BIOTRANSFORMASI TOKSIKOLOGI Seperti telah diuraikan sebelumnya suatu toksikan dapat di serap melalui berbagai jalur. Setelah diapsorbsi, toksikan terdistribusi ke berbagai bagian tubuh termasuk organ eksresi sehingga siap di keluarkan dari tubuh. Banyak zat kimia yang menjalani biotrasformasi atau trasformasi metabolit di dalam tubuh. Tempat yang terpenting untuk proses ini adalah: hati; meskipun proses ini juga terjadi di paru-paru, lambung, usus, kulit, dan ginjal. Crobsy (1998) membagi mekanisme biotrasformasi toksikan ke dalam dua jenis utama yaitu: 1. Reaksi fase I, yang melibatkan reaksi oksidasi, reduksi, dan hidrolisis 2. Reaksi fase II, merupakan produksi suatu senyawa melalui konjugasi

toksikan atau metabolitnya dengan suatu metabolit endogen. Karea itu, biotransformasi adalah suatu proses yang umumnya mengubah senyawa asal menjadi metabolit, kemudian membentuk konyugat. Tetapi, mungkin yang terjadi haya salah satu reaksi saja. Misalnya benzene mengalami oksidasi pada reaksi fase I menjadi fenol, kemudian berkonyugasi dengan asam sulfat pada reaksi fase II. Akan tetapi bla zat kimia yang bereaksi adalah fenol, maka hanya akan terjadi konyugasi dengan asam sulfat tanpa reaksi fase I. metabolit dan konyugat biasanya lebih larut dalam air dan lebih polar, karenanya lebih mudah di ekskresi. Oleh karena itu biotranformasi dapat di anggap sebagai mekanisme detoksifikasi organism pejamu. Tetapi perlu di ingat bahwa dalam kasus tertentu metabolit dapat lebih toksik dari pada senyawa asalnya. Reaksi semacam ini di kenal dengan bioaktivasi. Senyawa tertentu yang stabil secara kimia dapat di ubah menjadi metabolit reaktif secara kimia. Reaksi ini biasanya di katalasis oleh system-sistem

monooksigenese yang bergantung pada sitikrom P-450, tetapi enzim-enzim lan termasuk enzim dari flora usus, juga berperan dalam kasus tertentu. Metabolit reaktif seperti epoksid dapat terikat secara kovalen pada makromolekul sel dan

20

menyebabkan nekrosis dan atau kanker. Metabolit lain, misalnya radikal bebas dapat menyebabkan peroksidasi lipid dan mengakibatkan kerusakan jaringan. Misalnya, karbon tetraklorda membentuk radikal triklorometil yang menyebabkan perioksidasi lem ak tak jenuh dan terikat secara kovalen pada protein dan lemak tak jenuh.

I. EFEK TOKSIKOLOGI Penggunaan bahan kimia oleh manusia terutama bagi bahan kimia baku di dalam industry semakin hari semakin meningkat. Walaupun zat kimia yang sangat toksis sudah di larang dan di batasi pemakaiannya, seperti pemakaian tetra-etil timbale (TEL) pada bensin, tetapi pemaparan terhadap zat kimia yang dapat membahayakan tidak dapat di letakkan. Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap manusia bias bersifat kronik dan akut. Pemaparan akut biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau di sengaja ( pada kasus bunuh diri atau di bunuh ), dan pemaparan kronik biasanya di alami para pekerja terutama di lingkungan industry-indrusti kimia. Efek toksik dari bahan-bahan kimia sangat bervariasi dalam sifat, organ sasaran, maupun mekanisme kerjanya. Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan cidera pada tempat yang kena bahan tersebut (efek local), bias juga efek sistemik setelah bahan kimia di serap dan tersebar ke bagian organ lainnya. Efek toksik ini dapat bersifat reversible artinya dapat hilang dengan sendirinya atau irreversible yaitu akan menetap atau bertambah parah setelah pajanan toksikan di hentikan. Efek irreversible ( efek Nirpulih ) di antaranya karsinoma, mutasi, kerusakan syaraf, dan sirosis hati. Efek toksikan reversible (berpulih) bila tbuh terpajam dengan kadar yang rendah atau untuk waktu yang singkat, sedangkan efek nirpulih terjadi bila pajanan dengan kadar yang lebih tinggi dan waktu yang lama.

21

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Toksikologi adalah pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh bahan kimia yang merugikan bagi organisme hidup. Dari definisi di atas, jelas terlihat bahwa dalam toksikologi terdapat unsur-unsur yang saling berinteraksi dengan suatu cara-cara tertentu untuk menimbulkan respon pada sistem biologi yang dapat menimbulkan kerusakan pada sistem biologi tersebut. Bahan-bahan toksik dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, tergantung dari minat dan tujuan pengelompokannya. Sebagai contoh pengklasifikasikan berdasarkan: 1. Organ targetnya: hati, ginjal, sistem hematopotik, dan lain-lain; 2. Penggunaanya: peptisida, pelarut, aditif makanan, dan lain-lain; 3. Sumbernya: toksik tumbuhan dan binatang 4. Efeknya: kanker, mutasi, kerusakan hati, dan sebagainya; 5. Fisiknya: gas, debu, cair; 6. Sifatnya: mudah meledak; 7. Kandungan kimianya: amina aromatik, hidrokarbon halogen, dan lain-lain. Untuk dapat mengetahui karakteristik lengkap bahaya potensial dan toksisitas dari suatu bahan kimia tertentu perlu di ketahui tidak hanya tipe efek tersebut, tetapi juga informasi mengenai sifat bahan kimianya sendiri, pemaparannya, dan subjek. Faktor utama yang memperngaruhi toksisitas yang berhubungan dengan situasi pemaparan terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan. Jalur utama bahan toksik untuk dapat masuk ke dalam tubuh manusia adalah melalui saluran pencernaan atau gastro intestinal (menelan/ingesti, paru-paru (inhalasi), kulit (topikal), dan jalur palentar lainnya (selain saluran

usus/intestinal). Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang biasanya di bagi dalam 4 (empat) kategori yaitu: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Pemaparan akut adalah pemaparan terhadap suatu kimia selama kurang dari 24 jam. Biasanya pemaparan akut terjadi pada waktu adanya kecelakaan misalnya pecahnya saluran

22

gas di suatu perusahaan sehingga para karyawan langsung menghirup gas beracun dalam konsentrasi yang cakup tinggi (kasus pabrik Union-Carbide di Bhophal India) atau memang sengaja bunuh diri misalnya seseorang meminum satu gelas racun serangga (misalnya Baygon) yang kalu tidak cepat ketahuan bisa membawa kematian. Absorpsi penyerapan dapat terjadi lewat kulit,saluran pencernaan, paru-paru dan beberapa jalur lain. Selain itu, sifat dan hebatnya efek zat kmia terhadap organisme tergantunga dari kadarnya pada organ sasaran. Kadar ini tidak hanya bergantung pada dosis yang di berikan tapi juga pada faktor lain seperti: derajat absorpsi, distribusi, pengikatan, dan ekskresi. Biotransformasi adalah suatu proses yang umumnya mengubah senyawa asal menjadi metabolit, kemudian membentuk konyugat. Tetapi, mungkin yang terjadi haya salah satu reaksi saja. Efek toksik dari bahan-bahan kimia sangat bervariasi dalam sifat, organ sasaran, maupun mekanisme kerjanya. Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan cidera pada tempat yang kena bahan tersebut (efek local), bias juga efek sistemik setelah bahan kimia di serap dan tersebar ke bagian organ lainnya.

B. SARAN Untuk instansi terkait hendaknya memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang bahan kimia atau zat tambahan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam makanan dan minuman yang mengganggu kesehatan. Untuk Dinas kesehatan, Pengawasan makanan dan minuman hendaknya sebelum mengeluarkan nomor registrasi mengetahui kandungan zat yang ada didalamnya terutama yang membahayakan kesehatan.

23

DAFTAR PUSTAKA

Frank C. Lu., 1995. Toksikologi Dasar. Jakarta: Universitas Indonesia Press. J. H. Koeman., 1987. Pengantar Umum Toksikologi. Terjemahan oleh R.H. Yudono Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Manahan, Stanley E., 1994. Enviromental Chemistry. Boston: Lewis Publisher. http://adhienbinongko.blogspot.com/2012/05/makalah-toksikologi.html?m=1, diakses pada tanggal 22, Nopember 2013.

24