Anda di halaman 1dari 12

JENIS-JENIS PENGUJIAN Dalam mengembangkan keseluruhan rencana audit, Auditor memiliki lima jenis pengujian (testing) yang dapat

digunakan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar. Auditor menggunakan prosedur pengukuran risiko untuk menilai risiko salah saji material. Empat jenis pengujian audit lainnya menggambarkan prosedur audit lanjutan yang dilakukan untuk menghadapi risiko-risiko yang teridentifikasi.

Prosedur Pengukuran Risiko Standar pekerjaan lapangan kedua adalah mengharuskan auditor untuk mendapatkan pemahaman atas entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian internalnya, untuk mengukur risiko salah saji material dalam laporan keuangan klien. Dalam Prosedur pengukuran risiko dilakukan untuk menilai risiko salah saji material dalam laporan keuangan. Auditor melakukan pengujian pengendalian, pengujian substantif transaksi, prosedur analitis, serta pengujian atas perincian saldo dalam melakukan penilaian terhadap salah saji material sebagaimana diharuskan dalam PSA 26 (SA 350).

Pengujian Pengendalian Pengujian pengandalian adalah prosedur audit yang digunakan untuk menentukan efektivitas kebijakan dan operasi pengendalian intern atau prosedur pengendalian yang diterapkan untuk menilai control risk (risiko pengendalian) Pengujian tersebut meliputi jenis prosedur audit sebagai berikut : Meminta keterangan dari personil klien Menguji dokumen, arsip, dan laporan Mengamati aktivitas yang terkait dengan pengendalian Melaksanakan kembali prosedur klien Dua prosedur yang pertama sama dengan jenis bahan bukti yang diperoleh dalam memahami struktur pengendalian intern. Sehingga, penetapan resiko pengendalian dan pengujian atas pengendalian dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari prosedur audit yang digunakan untuk memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern. Perbedaan utama adalah bahwa dengan pengujian atas pengendalian tersebut, tujuan menjadi lebih spesifik dan pengujian menjadi ekstensif.

Pengujian Substantif Transaksi

Pengujian substantif (Substantive Test) adalah perosedur yang digunakan untuk menguji kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung mempengaruhi kebenaran saldo laporan keuangan. Kekeliruan tersebut sering disebut dengan salah saji moneter (dalam satuan mata uang) yang merupakan indikasi yang jelas terjadinya salah saji dalam saldo laporan keuangan. Tujuan pengujian substantive atas transaksi adalah untuk menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diiktisarkan dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku tambahan dengan benar.

Prosedur Analitis Prosedur analitis meliputi perbandingan dari jumlah yang tercatat dengan dengan angka tertentu yang dikembangkan oleh auditor. Prosedur ini biasanya menggunakan kalkulasi rasio yang dibandingkan dengan rasio tahun sebelumnya atau rasio perusahaan sejenis atau rasio average industry. Tujuan utama dari prosedur analitis dalam tahap perencanaan ini adalah : a. Menunjukkan kemungkinan adanya salah saji dalam laporan keuangan b. Mengurangi pengujian audit yang lebih rinci

Pengujian Terinci atas Saldo Pengujian Terinci atas Saldo merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji salah saji moneter (monetary misstatement) untuk menentukan apakah 9 balance-related audit objective (tujuan audit terkait dengan saldo) telah terpenuhi. DTOB berfokus pada saldo akhir buku besar, baik untuk neraca maupun laba-rugi, dengan penekanan utama pada angkaangka di neraca saldo. Pengujian terinci atas saldo akhir tersebut penting dalam pelaksanaan audit, karena bahan bukti diperoleh dari sumber yang independen dari klien sehingga dinilai berkualitas tinggi.

MEMILIH JENIS PENGUJIAN YANG TEPAT UNTUK DILAKUKAN Biasanya auditor menggunakan kelima jenis pengujian ketika melakukan audit atas laporan keuangan, namun beberapa jenis pengujian mendapatkan penekanan yang lebih dibandingkan dengan yang lain, bergantung pada kondisi. Beberapa faktor yang mempengaruhi pilihan auditor terhadap jenis pengujian yang dipilih, termasuk ketersediaan kedelapan bukti, biaya relatif untuk setiap pengujian, efektivitas pengendalian internal serta risiko bawaan. Hanya dua faktor pertama yang akan dibahas lebih lanjut karena dua sisanya telah dibahas pada bab sebelumnya.

Ketersediaan Jenis Bukti Prosedur Audit Lanjutan Masing-masing dari empat jenis prosedur audit lanjutan hanya melibatkan jenis bukti audit (konfirmasi, dokumentasi, dan seterusnya) Makin banyak jenis bukti, yang jumlah totalnya adalah enam. Hanya pengujian terperinci saldo yang melibatkan pemeriksaan fisik dan konfirmasi. Tanya jawab dengan klien dilakukan untuk setiap jenis pengujian. Dokumentasi digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis. Pengerjaan ulang digunakan di setiap jenis pengujian kecuali prosedur analitis, dengan satu pengecualian. Penghitungan ulang digunakan untuk memverifikasi akurasi matematis atas transaksi ketika melakukan pengujian substantif transaksi dan saldo akun ketika melakukan pengujian atas perincian saldo.

Biaya-Biaya Relatif Ketika auditor harus memutuskan jenis pengujian apakah yang harus dipilih untuk mendapatkan bukti yang tepat, biaya bukti tersebut penting untuk dipertimbangkan. Jenis pengujian yang disusun dalam daftar berikut berdasarkan urutan biaya dari yang terendah sampai ke yang tertinggi: Prosedur analitis Prosedur penilaian resiko termasuk prosedur untuk mendapat pemahaman atas pengendalian internal. Pengujian pengendalian. Pengujian substantif transaksi. Pengujian terperinci saldo. Prosedur analitis memakan biaya yang paling rendah karena relatif lebih mudah sedangkan prosedur penilian resiko tidak semahal pengujian audit lainnya karena auditor dapat dengan mudah melakukan tanya jawab dan pengamatan serta melakukan perencanaan prosedur analitis. Namun demikian pengujian pengendalian juga lebih mahal dibandingkan dengan prosedur penilaian resiko karena lebih luas daripada pengujian yang dihariskan utuk mendapatkan bukti bahwa pengendalian telah berjalan dengan efektif, khususnya ketika pengujian pengendalian internal tersebut melibatkan pengerjaan ulang. Pengujian substantif

transaksi lebih mahal dibandingkan dengan pengujian pengendalian yang tidak melibatlkan pengerjaan ulang, karena yang sebelumnya sering kali melibatkan penghitungan ulang dan penelusuran. Pengujian terperinci saldo hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan jenis prosedur lainnya karena biaya prosedur seperti pengiriman konfirmasi dan penghitungan persediaan

Hubungan Pengujian Pengendalian dengan Pengujian Substantif Suatu pengecualian dalam pegujian pengendalian hanya mengindikasikan kemungkinan salah saji yang mempengarihui nilai rupiah dari laporan keuangan, sedangkan suatu pengecualian dalam pengjuian substantif transaksi atau pengujian terperinci saldo merupakan suatu salah saji dalam laporan keuangan. Pengecualian dalam pengujian pengendalian dinamakan deviasi uji pengendalian. Karena kebutuhan untuk menyelesaikan beberpa pengujian pengerjaan dan penghitungan ulang, banyak auditor yang melakukannya sebagai bagian dari pengujian atas pengendalian awal. Auditor-auditor lainnya akan menunggu hingga mereka mengetahui hasil dari pengujian pengendalian dan kemudian menentukan ukuran sampel total yang diperlukan.

Hubungan Prosedur Analitis dan Pengujian Substantif Seperti halnya pengujian pengendalian, prosedur analitis hanya mengindikasikan

kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada nilai rupiah laporan keuangan. Ketika prosedur analitis mengidentifikasikan fluktuasi yang tidak biasa, auditor harus melakukan pengujian substanif transaksi atau pengujian terperinci saldo untuk menentukan apakah salah saji rupiah benar-benar telah terjadi. Jika auditor melakukan prosedur analitis substantif dan meyakini bahwa kemungkinan terjadinya salah saji itu kecil, pengujian substantif lainnya dapat dikurangi.

Dilema Antara Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Auditor membuat keputusan selama perencanaan apakah akan menetapkan risiko pengendalian dibawah maksimum. Pengujian atas pengendalian harus dilakukan untuk menentukan apakah risiko pengendalian yang ditetapkan akan dibenarkan. Jika risiko pengendalian yang ditetapkan dibawah maksimum, resiko penemuan yang direncanakan dalam model risiko audit ditingkatkan sehingga pengujian substantif yang direncanakan dapat dikurangi.

Dampak Tekonologi Informasi Terhadap Pengujian Audit Standar audit mengakui bahwa ketika sejumlah besar bukti audit muncul dalam bentuk elektronik, akan tidak praktis atau tidak mungkin untuk mengurangi resiko deteksi hingga ke tingkat yang dapat diterima dengan melakukan pengujian subtantif. Contoh, kemungkinan pemasukan atas perubahan informasi yang tidak tepat dapat menjadi lebih besar jika informasi hanya disimpan dalam bentuk elektronik. Dalam kondisi itu, auditor harus melakukan pengujian pengendalian untukmendapatkan bukti yang mendukung tingkat resiko pengendalian yang dinilai berada dibawah tingkat maksimum untuk asersi-asersi laporan keuangan yang terpengaruhi. Meskipun beberapa pengujian substantif masih dibutuhkan, auditor dapat secara signifikan mengurangi pengujian substantif jika hasil pengujian pengendalian mendukung efektivitas pengendalian. Dalam audit atas sesuatu perusahaan publik, pengendalian yang dilakukan komputer (pengendalian otomatis) harus diuji auditor jika auditor menganggapnya sebagai pengendalian kunci untuk mengurangi kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan. Karena konsistensi bawaan dalam pemrosesan yang berdasarkan teknologi informasi, auditor mungkin dapat mengurangi pengujian pengendalian otomatis. Sebagai contoh, pengendalian yang berbasis perangkat lunak hampir dipastikan berfungsi secara konsisten kecuali jika programnya diubah. Untuk pengujian pengendalian otomatis atau data, auditor mungkin memerlukan teknik audit yang dibantu oleh komputer atau menggunakan laporan yang dihasilkan oleh teknologi informasi untuk menguji efektivitas pengendalian umum teknologi informasi seperti pengendalian untuk perubahan program dan pengendalian atas akses. Ketika auditor menguji pengendalian manual yang berdasarkan pada laporan yang dihasilkan oleh teknologi informasi, auditor harus mempertimbangkan baik efektivitas hasil penelaahan manajemen maupun pengendalian terhadap akurasi informasi dalam laporan tersebut.

Bukti Gabungan Untuk mendapatkan bukti yang tepat dalam memadai untuk menghadapi resiko-resiko yang teridentifikasi melalui prosedur penilaian resiko, auditor menggunakan kombinasi antara keempat jenis pengujian lainnya. Analisis audit 1 Klien ini merupakan sebuah perusahaan besar dengan pengendalian internal yang rumit dan resiko bawaan rendah. Sehingga, auditor melakukan pengujian pengendalian yang luas dan sangat mengandalkan pada pengendalian internal klien untuk mengurangi pengujian subtanstif lainnya. Hal ini menyebabkan pengujian substantif transaksi dan pengujian terperinci saldo diminimalkan. Audit ini kemungkinan menghadirkan gabungan bukti yang digunakan dala audit terintegrasi laporan keuangan dan pengendalian internal laporan keuangan perusahaan publik.

Analisi audit 2 Perusahaan ini berukuran sedang, dengan beberapa pengendalian dan beberapa resiko bawaan. Auditor telah memutuskan untuk melakukan pengujian atas semua jenis pengujian sedang, kecuali untuk prosedur analitis substantif yang kemungkinan akan dilakukan secara meluas. Lebih banyak pengujian yang luas yang akan dibutuhka jika resiko bawaan yang khusus ditemukan. Analisi audit 3 Perusahaan ini berukuran sedang, namun memiliki beberapa pengendalian yang efektif dan beberapa resiko bawaan yang signifikan. Karena kurangnya pengendalian internal yang efektif, kita dapat menganggap perusahaan ini kemungkinan bukan perusahaan publik. Tidak ada pengujian atas pengendalian yang dilakukan karena bergantung pada pengendalian internal tidak tepat ketika pengendaliannya tidak efektif untuk suatu perusahaan non publik. Auditor menekankan pada pengujian terperinci saldo dan pengujian substantif transaksi, namun beberapa prosedur analitis substantif juga dilakukan. Jika auditor sudah memperkirakan akan menemukan salah saji material dalam saldo akun, prosedur analitis tambahan menjadi tidak murah karena jumlah pengujian substantif yang lebih terperinci. Analisi audit 4 Rencana awal untuk audit ini adalah mengikuti pendekatan yang digunakan dalam audit 2. Namun, auditor kemungkinan menemukan deviasi uji pengendalian yang luas, dan salah saji yang signifikan ketika melakukan pengujian substantif transaksi dan prosedur analitis substantif. Sehingga, auditor menyimplkan bahwa pengendalian internalnya tidak efektif. Pengujian terperinci saldo yang meluas dilakukan untuk menutupi hasil pengujian lainnya yang tidak dapat diterima. Perancangan Program Audit Perancangan program audit untuk memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan yang berkaitan dengan transaksi. Auditor juga merancang audit untuk memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan. Program audit berisi prosedur penilaian resiko yang dilaksanakan selama tahap perencanaan, program audit bagi kebanyakan audit juga dirancang dalam tiga bagian tambahan: pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, prosedur analitis substansif, dan pengujian rincian saldo. a. Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas transaksi Program audit pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi biasanya meliputi bagian deskriptif yang mendokumentasikan pemahaman atas pengendalian internal yang diperoleh selama pelaksanaan prosedur penilaian risiko. Auditor menggunakan informasi ini untuk mengembangkan program audit pengujian

pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi. Prosedur audit tersebut meliputi pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, yang bervariasi tergantung pada penilaian risiko pengendalian. Apabila pengendalian sudah efektif dan risiko pengendalian dinilai rendah, auditor sangat menekankan pada pengujian pengendalian. Jika risiko pengendalian dinilai maksimum, hanya pengujian substantif atas transaksi yang akan digunakan, dengan asumsi audit itu dilakukan atas perusahaan nonpublik. Prosedur Audit Auditor mengikuti pendekatan empat langkah untuk mengurangi risiko pengendalian yang diperkirakan 1. Memberlakukan tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi pada kelas transaksi yang diuji. 2. Mengidentifikasi pengendalian kunci yang dapat mengurangi risiko pengendalian untuk setiap tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi. 3. Mengembangkan pengujian pengendalian yang tepat bagi semua pengendalian internal yang digunakan untuk mengurangi penilaian pendahuluan atas risiko pengendalian bawah maksimum. 4. Merancang pengujian substantif atas transaksi yang tepat dengan

mempertimbangkan defisiensi dalam pengendalian internal b. Prosedur Analitis Prosedur analitis dilaksanakan selama pengujian substantif, seperti audit piutang usaha, biasanya lebih terfokus dan lebih ekstensif ketimbang yang dilakukan sebagai bagian dari perencanaan. Selama tahap perencanaan, auditor dapat mengkalkulasi persentasi marjin kotor untuk total penjualan, sementara selama pengujian substantif atas piutang usaha, auditor mengkalkulasi presentase marjin kotor per bulan atau per lini bisnis, atau keduanya. 1. Mengidentifikasi risiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang usaha 2. Menetapkan salah saji yang dapat ditoleransi dan menilai risiko inheren piutang usaha.

3. Menilai risiko pengendalian untuk siklus penjualan dan penagihan 4. Merancang dan melaksanakan pengujian pengendalian serta pengujian substantif atas transaksi untuk siklus penjualan dan penagihan. 5. Merancang dan melaksanakan prosedur analitis untuk saldo piutang usaha. 6. Merancang pengujian rincian saldo piutang usaha untuk memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan saldo. c. Program audit ilustratif Program audit ilustratif dikembangkan setelah mempertimbangkan semua faktor yang mempengaruhi pengujian rincian saldo dan didasarkan pada beberapa asumsi tentang risiko inheren, risiko pengendalian, dan hasil dari pengujian pengendalian, pengujian substantif atas transaksi, serta prosedur analitis substantif. d. Hubungan tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi dan tujuan audit yang berkaitan dengan saldo serta penyajian dan pengungkapan. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo: 1. Nilai yang dapat direalisasikan 2. Hak dan kewajiban Hubungan antara prosedur audit yang dilaksanakan untuk memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi dan tujuan audit yang berkaitan dengan saldo. Auditor melaksanakan prosedur audit untuk mendapatkan assurance atau keyakinan tentang empat tujuan audit yang berkaitan dengan penyaian dan pengungkapan. IKHTISAR ISTILAH-ISTILAH PENTING TERKAIT BUKTI Fase Proses Audit (Phase of The Audit Process) Empat fase proses audit dalam kolom pertama merupakan cara yang mendasar di mana suatu audit disusun seta menunjukkan komponen-komponen kunci terhadap keempat fase dalam proses pengauditan ini. Tujuan Audit (Audit Objectives) Merupakan tujuan-tujuan dalam sustu pengauditan yang harus terpenuhi sebelum auditor dapat menyimpulkan bahwa suatu kelompok transaksi atau saldo akun telah disajikan secara wajar.

Jenis-jenis Pengujian (Types of Test) Lima jenis pengujian audit yang dibahas sebelumnya di bab ini yang digunakan auidtor untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar dimasukkan dalam kolom ketiga. Keputusan Bukti (Evidence Decisions) Empat sub kategori keputusan yang dibuat oelh auditor dalam pengumpulan bukti dimasukkan dalam kolom keempat. Jenis-jenis Bukti (Types of Evidence) Delapan ketegori luas dalam bukti yang dikumpulkan auditor dimasukkan dalam kolom terakhir. Tabel Hubungan Antara Lima IstilahTerkait Bukti
Fase dalam Proses Audit Merencanakan dan merancang suatu pendekatan audit (fase I) Tujuan Audit Jenis Pengujian Prosedur penilaian risiko: Prosedur memahami bisnis dan industri klien Prosedur memahami pengendalian internal Prosedur analitis perencanan Prosedur untuk mendapatkan suatu pemahaman dan pengujian atas pengendalian substantif Prosedur analitis Pengujian transaksi Pengujian saldo terperinci Keputusan Bukti Prosedur audit Penentuan waktu Jenis Bukti Dokumentasi Tanya jawab klien Prosedur analitis

Melakukan pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi (fase II) Melakukan prosedur analitis dan pengujian terperinci atas salso (fase III) Menyelesaikan audit dan menerbitkan suatu laporan audit (fase IV)

Tujuan audit terkait transaksi : Keterjadian Kelengkapan Akurasi Pemindahbukuan dan pengikhtisaran Klaisfikasi Penentuan waktu Tujuan audit terkait saldo: Keberadaan Kelengkapan Akurasi Klasifikasi Pisah batas Keterkaitan perincian Nilai realisasi Hak dan kewajiban Tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan : Keterjadian serta hak dan kewajiban Kelengkapan Akurasi dan penilaian Klasifikasi dan kemampuan untuk memahami

Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Penentuan waktu Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Penentuan waktu Prosedur audit Penentuan waktu Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Penentuan waktu

Dokumentasi Pengamatan Tanya jawab klien Pengerjaan ulang Penghitungan ulang

Pemeriksaan fisik Konfirmasi Dokumentasi Tanya jawab Pengerjaan ulang Prosedur analitis Penghitungan ulang

Prosedur analitis

Prosedur audit Penentuan waktu Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Penentuan waktu

Prosedur analitis Dokumentasi Tanya jawab klien

Pengujian saldo

terperinci

IKHTISAR PROSES AUDIT Fase I : Merencanakan dan Merancang Sebuah Pendekatan Audit Auditor menggunakan informasi yang didapatkan dari prosedur penilaian risiko terkait dengan penerimaan klien dan perencanaan awal, memahami industri dan bisnis klien, menilai risiko bisnis klien, dan melakukan prosedur analitis pendahuluan yang bertujuan untuk menilai risiko bawaan dan risiko audit yang dapat diterima. Di akhir fase I, auditor harus memiliki suatu rencana audit dan program audit yang sangat jelas untuk audit secara keseluruhan, Fase II : Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi Auditor melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi selama fase ini. Tujuan dari fase II adalah untuk : 1. Mendapatkan bukit yang mendukung pengendalian tertentu yang berkontribusi terhadap penilaian risiko pengendalian yang dilakukan oleh auditor. 2. Mendapatkan bukti yang mendukung ketepatan moneter dalam transaksi-transaksi. Dikarenakan hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi merupakan penentu utama dari keluasan pengujian terperinci saldo, kedua pengujian tersebut diselesaikan dua atau tiga bulan sebelum tanggal neraca. Hal itu membantu auditor merevisi program audit pengujian terperinci saldo untuk hasil-hasil yang tak terduga dalam pengujian sebelumnya dan untuk menyelesaikan audit sesegera mungkin setelah tanggal neraca. Untuk sistem akunatnsi yang terkomputerisasi auditor sering kali melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi di sepanjang tahun untuk mengidentifikasi transaksi yang signifikan atau tidak biasa dan menentukan apakah ada perubahan yang dilakukan terhadap program komputer klien. Fase III : Melakukan Prosedur Analitis dan Pengujian Terperinci Saldo Tujuan dari fase III adalah untuk mendapatkan bukti tambahan yang memadai untuk menentukan apakah saldo akhir dan catatan-catatan kaki dalam laporan keuangan telah disajikan dengan wajar. Dua kategori umum dalam prosedur umum fase III adalah :

1. Prosedur analitis substantif yang menilai keseluruhan kewajaran transaksi-transaksi dan saldo-saldo akun. 2. Pengujian terperinci saldo, yang mana prosedur audit digunakan untuk menguji salah saji moneter dalam saldo-saldo akun di laporan keuangan. Tabel 11-7 menunjukkan prosedur analitis yang dilakukan sebelum dan sesudah tanggal neraca. Prosedur analitis biasanya dilakukan di awal, dengan menggunakan data awal sebelum akhir tahun, sebagai alat perencanaan dan pengarahan bagi audit lainnya untuk bagian-bagian khusus. Tabel 11-7 juga menunjukkan bahwa pengujian terperinci saldo biasanya dilakukan terakhir. Dalam beberapa pengauditan, semuanya dilakukan setelah tanggal neraca. Fase IV : Menyelesaikan Audit dan Menerbitkan Suatu Laporan Audit Setelah tiga fase pertama diselesaikan, auditor harus mengumpulkan bukti tambahan terkait dengan tujuan penyajian dan pengungkapan, ikhtisar hasil, penerbitan laporan auidt, dan melakukan bentuk-bentuk komunikasi lainnya. Fase ini memiliki beberapa bagian : Melakukan Pengujian Tambahan Untuk Tujuan Penyajian dan Pengungkapan Prosedur yang dilakukan auditor untuk mendukung tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan sama dengan prosedur audit yang dilakukan untuk mendukung tujuan audit terkait transaksi maupun saldo. Auditor juga melakukan pengujian substantif untuk mendapatkan bukti yang tepat dan memadai bahwa informasi yang diungkapkan dalam catatan-catatan kaki merefleksikan transaksi dan saldo yang sebenarnya dan bahwa penyajian kewajiban klien adalah utnuk mendukung tujuan keterjadian serta hak dan kewajiban. Selama fase terakhir ini auditor melakukan prosedur audit terkait denga kewajiban kontinjensi dan kejadian-kejadian setelah tanggal neraca. Kewajiban kontinjensi harus diungkapkan dalan catatan kaki klien. Auditor juga harus yakin bahwa pengungkapan telah lengkap dan akurat. Pengumpulan Bukti Akhir Selain bukti yang didapatkan dari setiap siklus selama fase I dan fase II dan untuk setiap akun selama fase III, auditor harus mendapatkan bukti berikut : Melakukan prosedur analitis akhir. Mengevaluasi asumsi keberlangsungan usaha (going concern). Mendapatkan surat representasi klien.

Membaca informasi dalam laporan tahunan untuk meyakinkan bahwa informasi yang disajikan konsisten dengan laporan keuangan. Menerbitkan Laporan Audit Jenis laporan audit yang akan diterbitkan bergantung pada bukti yang dikumpulkan dan temuan-temuan auditnya. Komunikasi dengan Komite Audit dan Manajemen Auditor diharuskan untuk mengkomunikasikab setiap kekurangan dalam pengendalian internal yang signifikan pada komite audit atau manajemen senior.