Anda di halaman 1dari 48

CASE REPORT OMSK

PEMBIMBING: DR.YAN RUNTUNG, SP.THT-KL PRESENTAN: ARDY FENANDO (2011.061.046)

Identitas Pasien
Nama

: An. M Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 9 tahun Alamat : Cisalak Suku Bangsa : Jawa Pekerjaan : Pelajar Pendidikan : SD Agama : Islam

Anamnesis
Dilakukan secara alloanamnesis dan autoanamnesis. Keluhan Utama:

Kontrol telinga kanan (keluar cairan dari telinga kanan 7 hr smrs)


Keluhan Tambahan:

Pendengaran turun

Riwayat Penyakit Sekarang


7 hr smrs pasien merasakan adanya keluar cairan

dari telinga kanan. Cairan berwarna putih, agak kental, tidak berbau dan tidak ada darah. Selain keluar cairan pasien juga mengeluhkan pendengaran turun dan telinga terasa tidak enak. Keluhan lain seperti telinga terasa sakit,batuk, pilek, demam dan kejang disangkal. Pasien sudah berobat kerumah sakit 6 hari yang lalu dan diberi obat makan dan obat tetes telinga, sekarang cairannya sudah tidak keluar lagi dan telinga sudah terasa enak.

Pasien sudah mengeluhkan keluar cairan dari telinga

kanannya sejak berusia 2 tahun. Pada saat itu sebelumnya pasien panas tinggi, batuk dan pilek. Kemudian setelah itu keluar cairan dari telinganya dan panasnya menjadi turun. Sejak saat itu sampai sekarang masih sering keluar cairan dari telinga kanannya. Pasien sudah berobat ke puskesmas dan diberi obat tetes telinga, setelah itu biasa cairannya tidak keluar lagi, namun kurang lebih seminggu kemudian biasanya cairannya keluar lagi.

Pasien menyangkal sering bersin-bersin pada pagi

hari, kemerahan pada lipatan-lipatan kulit, sesak napas disertai suara mengi. Pasien memiliki kebiasaan suka berenang, seminggu yang lalu pasien sempat berenang sebelum keluar cairan dari telinganya.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat asma disangkal

Riwayat alergi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat alergi dan asma pada keluarga disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos mentis Tanda-tanda vital

Nadi : 84 x/menit Suhu : 36,8oC Laju pernafasan : 20 x/menit

Berat badan

: 21 kg

Pemeriksaan Fisik
Kepala: Normocephali, deformitas (-)

Mata:
-

Kedudukan bola mata simetris Palpebra: ptosis (-), perdarahan (-), tanda infeksi (-) Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), hiperemis (-) Pupil isokor, diameter 3mm/3mm, refleks cahaya +/+

Pemeriksaan THT
Telinga Luar
Aurikula dekstra Dalam batas normal -

Pemeriksaan
Bentuk Laserasi Hematoma

Aurikula sinistra Dalam batas normal -

Massa
Edema Kista Nyeri tarik aurikula

Pemeriksaan THT
Telinga Luar
Preaurikula dekstra Pemeriksaan Nyeri tekan tragus Hiperemis Edema Fistula Abses Preaurikula sinistra -

Pemeriksaan THT
Telinga Luar
Retroaurikula dekstra Pemeriksaan Nyeri tekan mastoid Retroaurikula sinistra -

Hiperemis
Edema Fistula

Pemeriksaan THT
Liang Telinga
Dekstra Lapang Pemeriksaan Lapang/sempit Laserasi Sinistra Lapang -

Hiperemis
Massa

Benda Asing

Pemeriksaan THT
Liang Telinga
Dekstra Pemeriksaan Serumen Sinistra -

Sekret

Pemeriksaan THT
Membran Timpani
Dekstra Normal
Perforasi sentral

Pemeriksaan Refleks cahaya Warna


Keutuhan

Sinistra Arah jam 7 Normal


Intak

Pemeriksaan THT
Pemeriksaan Fungsi Pendengaran

Dextra Lateralisasi kanan Memanjang

Tes Penala Rinne Weber Schwabach

Sinistra + Tidak ada lateralisasi N

Rinoskopi anterior
Nares Dextra N Lapang N Eutrofi Pemeriksaan Hidung Luar Vestibulum : Sekret Edema Hiperemis Laserasi Krusta Furunkel Cavum Nasi Mukosa: Sekret Edema Hiperemi Krusta Darah Polip Septum nasi Konka inferior : hiperemis Nares Sinistra N Lapang N Eutrofi -

Pemeriksaan THT
Pemeriksaan Aliran Udara Hidung
Dextra +(simetris) Pemeriksaan Tes aliran udara hidung Sinistra +(simetris)

Nyeri tekan sinus maksilaris


Nyeri tekan sinus frontalis Nyeri tekan ethmoidalis

Pemeriksaan THT
Dextra Tidak kering Warna : merah muda Simetris, tidak kotor, atrofi papil (-) N Basah, warna merah muda, laserasi (-) Pemeriksaan rongga mulut Bibir Lidah Dasar lidah Mukosa buccal Sinistra Tidak kering Warna : merah muda Simetris, tidak kotor, atrofi papil (-) N Basah, warna merah muda, laserasi (-)

Dekstra -

Pemeriksaan Uvula (deviasi) Arkus Faring

Sinistra -

+ T1 -

Simetris Hipertrofi Hipermis Dinding Faring Edema Hiperemis Post Nasal Drip Granul Abses

+ T1 -

Tonsil
Ukuran Hiperemis Kripta Detritus

Pemeriksaan Leher
Kelenjar limfe leher tidak membesar

Resume
Pasien anak laki-laki usia 9 tahun datang dengan

keluhan utama kontrol telinga kanan. 7 hari smrs keluar cairan putih, agak kental, tidak berbau, tidak ada darah dari telinga kanan. Pasien mengeluhkan pendengaran dirasakana turun dan telinga terasa tidak enak. 6 hari yang lalu pasien sudah datang berobat dan diberikan obat makan dan obat tetes telinga. Gejala dirasakan menghilang. Pasien sering mengalami kejadian seperti ini sejak usia 2 tahun sampai sekarang. Pasien seminggu yang lalu sempat berenang sebelum keluar cairan dari telinganya.

Resume
Pada pemeriksaan mata, hidung dan tenggorok

dalam batas normal. Telinga kanan: perforasi sentral membran timpani, sekret -.

Diagnosis Kerja
Anak laki-laki usia 9 tahun dengan OMSK dextra

tipe aman aspek tenang.

Diagnosis Banding
-

Saran Pemeriksaan
Kultur dan resistensi jika masih keluar cairan dari

telinganya. Foto rontgen mastoid Audiometri.

Tatalaksana
Non medikamentosa Menjaga agar telinga tidak masuk air dengan menghindari berenang dan ditutup dengan kapas ketika mandi. Menjaga kesehatan agar tidak terkena batuk dan pilek. Banyak makan-makanan yang bergizi.

Medikamentosa
Edukasi untuk dilakukan Miringoplasti.

Prognosis
Quo ad vitam

Quo ad functionam
Quo ad sanationam

: bonam : dubia ad bonam : dubia

TINJAUAN PUSTAKA

Embriologi Telinga
Secara anatomis telinga dibagi menjadi tiga bagian,

yaitu telinga dalam, telinga tengah, dan telinga luar. Pembentukannya dimulai dari pembentukan telinga dalam, telinga tengah, dan terakhir pembentukan telinga luar.

Telinga tengah Berkembang dari tubotympanic recess dari first pharyngeal pouch Bagian proksimal akan membentuk tuba auditori (pharyngotympanic tube) Bagian distal akan membentuk kavum timpani yang kemudian akan meluas dan menyelimuti tulang kecil telinga tengah/auditory ossicles (malleus, incus, stapes), tendon dan ligamen serta chorda tympani nerve.

Telinga Tengah
Membran timpani Berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas: pars flaksida (membran Shrapnell), bagian bawah: pars tensa (membran propria). Pars flaksida berlapis dua: luar (lanjutan dari epitel liang telinga) dan dalam (sel kubus bersilia seperti epitel mukosa saluran napas). Pada pars flaksida terdapat atik. Di tempat ini terdapat aditus dan antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid.

Pars tensa mempunyai 1 lapis lagi di tengah terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan radier di bagian luar dan sirkuler di bagian dalam. Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut umbo. Dari umbo bermula refleks cahaya (cone of light) ke arah bawah yaitu pukul 7 untuk kiri dan pukul 5 untuk kanan. Serabut sirkuler dan radier yang menyebabkan adanya refleks cahaya berupa kerucut pada membran timpani.

OTITIS MEDIA
Merupakan suatu kondisi inflamasi dari telinga

tengah. Efusi telinga tengah merupakan cairan yang keluar karena suatu otitis media (OM).

Serous, mucoid, atau purulen. Akut (0-3 minggu), subakut (3-12 minggu), kronis (>12 minggu).

Dibagi menjadi otitis media akut, otitis media

dengan efusi, otitis media supuratif kronis.

Definisi
Otitis media supuratif kronis infeksi kronis telinga

tengah dengan otore purulen yang secara persisten keluar melalui perforasi membran timpani secara terus-menerus atau hilang timbul.

Epidemiologi
Diagnosis otitis media (OM) pada anak tertinggi

pada usia 7-36 bulan (42-60%). >50% anak mengalami OME pada satu tahun pertama kehidupannya. Insidens OM lebih tinggi pada anak dengan riwayat orang tua dan saudara mengalami OM, sosioekonomi rendah, medical care buruk, musim dingin, perokok pasif.

Etiologi dan Patofisiologi


Telinga tengah biasanya steril karena secara fisiologi

terdapat mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya mikroba ke telinga tengah dengan adanya silia mukosa tuba eustachius, enzim dan antibodi. Faktor yang menyebabkan otitis media: alergi, disfungsi siliar, penyakit nasal/sinus, sistem imun yang imatur. Disfungsi tuba eustachius merupakan faktor etiologi dari otitis media.

OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap

dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. Faktor yang menyebabkan OMA menjadi omsk: terapi yang terlambat diberikan/ tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah atau higien yang buruk.

Etiologi: Bakteri:
Streptococcus pneumoniae (30-50%), Haemophilus influenza (20-30%), Moraxella catarrhalis (10-20%) Staphylococcus aureus, gram negatif seperti e coli dan Pseudomonas aeruginosa.

Virus: respiratory syncytial virus, rhinovirus, adenovirus.

Diagnosis
Otoskopi

Pemeriksaan penala untuk mengetahui gangguan

pendengaran Audiometri Ro mastoid Kultur dan uji resistensi kuman dari sekret telinga

OMSK dapat dibagi menjadi 2 jenis: OMSK tipe aman (benigna/mukosa)


Terbatas pada mukosa Perforasi sentral Tidak terdapat kolesteatoma Disertai kolesteatoma Perforasi marginal atau atik Kasus lanjut: abses/fistel retroaurikular, polip/jaringan granulasi di liang telinga, terlihat kolesteatoma di telinga tengah, sekret nanah dan berbau khas (aroma kolesteatoma), terlihat bayangan kolesteatoma pada foto Ro mastoid.

OMSK tipe bahaya (maligna/tulang)


Kolesteatoma
Kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin)

Kongenital Membran timpani utuh tanpa tanda infeksi Biasanya di kavum timpani, daerah petrosus mastoid, CPA
Akuisita Primer

Tanpa perforasi membran timpani Akibat invaginasi pars flaksida membran timpani karena tekanan negatif akibat gangguan tuba (teori invaginasi)

Sekunder

Setelah perforasi membran timpani Akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau pinggir perforasi ke telinga tengah (teori migrasi) Akibat metaplasia mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang lama (teori metaplasia)

Merupakan media baik untuk pertumbuhan kuman

(Proteus dan Pseudomonas aeruginosa) Dapat menekan organ sekitarnya dan menimbulkan nekrosis tulang, yang akan mempermudah timbulnya komplikasi labirinitis, meningitis, abses otak.

Tatalaksana
OMSK tipe aman H2O2 3% selama 3-5 hari Obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid Antibiotik oral golongan ampisilin atau eritromisin Pada infeksi yang dicurigai penyebabnya resisten terhadap penisilin diberikan asam klavulanat Bila sekret sudah kering namun perforasi masih ada sampai 2 bulan dilakukan miringoplasti/timpanoplasti Pembedahan sumber infeksi (adenoidektomi, tonsilektomi)

OMSK tipe bahaya Pembedahan: mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti Terapi medikamentosa hanya sementara sebelum dilakukan pembedahan Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, sebaiknya dilakukan insisi abses sebelum mastoidektomi