Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kanker paru (Ca Paru) merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada pria dan wanita. Kanker paru ini meningkat dengan angka yang lebih besar pada wanita dibandingkan pada pria dan sekarang melebihi kanker payudara sebagai penyebab paling umum kematian akibat kanker pada wanita. Menurut hasil penelitian, hampir 70% pasien kanker paru mengalami penyebaran ketempat limfatik regional dan tempat lain pada saat didiagnosis. Beberapa bukti menunjukkan bahwa karsinoma cenderung untuk timbul di tempat jaringan perut sebelumnya (tuberculosis fibrosis ) di dalam paru . Kanker paru mengacu pada lapisan epithelium saluran napas. Kanker paru dapat timbul dimana saja di paru dan kebanyakan kasus kanker paru dapat dicegah jika kebiasaan merokok dihilangkan. Selama 50 tahun terakhir terdapat suatu peningkatan insidensi paru - paru yang mengejutkan. America Cancer Society memperkirakan bahwa terdapat 1.500.000 kasus baru dalam tahun 1987 dan 136.000 meningggal. Prevalensi kanker paru di negara maju sangat tinggi, di USA tahun 1993 dilaporkan 173.000/tahun, di Inggris 40.000/tahun, sedangkan di Indonesia menduduki peringkat 4 kanker terbanyak. Di RS Kanker Dharmais Jakarta tahun 1998 tumor paru menduduki urutan ke 3 sesudah kanker payudara dan leher rahim. Namun, karena sistem pencatatan kita yang belum baik, prevalensi pastinya belum diketahui tetapi klinik tumor dan paru di rumah sakit merasakan benar peningkatannya. Sebagian besar kanker paru mengenai pria (65 %), life time risk 1:13 dan pada wanita 1:20. Perawat sebagai tenaga kesehatan harus mampu memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan mampu ikut serta dalam upaya penurunan angka insiden kanker paru melalui upaya preventif, promotor, kuratif dan rehabilitatif. Berdasarkan pemaparan diatas, kelompok tertarik membahas Asuhan

Keperawatan pada Tn.M dengan Kanker Paru stadium IV.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7 1.2.8 1.2.9

Apa itu kanker paru ? Bagaimana anatomi dan fisisologi kanker paru ? Tipe-tipe apa saja yang termasuk kanker paru ? Apa saja etiologi atau faktor risiko dari kanker paru ? Bagaimana patofisiologi dari kanker paru tersebut ? Bagaimana woc dari kanker paru ? Manifestasi apa saja yang ditimbulkan oleh penyakit ini ? Bagaimana penatalaksanaan dari kanker ini ? Bagaimana bentuk asuhan keperawatan kanker paru ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Mengetahui pengertian, anatomi, tipe kanker paru dan penyebabnya 1.3.2 Memahami bagaimana patofisiologi, woc, dan manifestasi klinis dari kanker paru 1.3.3 Memahami asuhan keperawatan bagi pasien kanker paru

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Kanker Paru Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru ( underwood, patologi, 2000 ). Kanker paru adalah pertumbuhan sel-sel kanker yang tidak dapat terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan terutama asap rokok (Ilmu Penyakit Dalam, 2001). Kanker paru-paru adalah salah satu jenis kanker yang ganas dan paling sering ditemui, sebagian besar kanker paru-paru berasal dari epitel bronkus, juga dikenal sebagai karsinoma bronkogenik. Gejala awal kanker paru-paru biasanya tidak terlalu jelas sehingga sering diabaikan dan ditunda pengobatannya. Kanker paru (karsinoma bronkhogenik) timbul dari epitel saluran pernapasan. Penyebab kanker paru yang paling umum adalah merokok. Perokok berat mempunyai peluang sekitar 10 kali lebih besar untuk mengalami kanker paru dibanding bukan perokok. Asap rokok mengandung beberapa karsinogen spesifik-organ, dan merokok telah menunjukkan adanya kaitan penyebab dengan karsinogenesis pada beberapa bagian tubuh, termasuk laring, rongga mulut, esofagus, dan kandung kemih.

2.2 Anatomi dan Fosiologi Paru Anatomi Paru-paru adalah struktur atau bagian-bagian dari paru-paru. Paru-paru itu sendiri sangat penting bagi tubuh manusia, sebab salah satu fungsi paru-paru adalah memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida ketika tubuh menghirup udara.

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung (gelembung hawa = alveoli). Gelembung-gelebung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2 pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah yang terdapat pada paruparu kiri dan kanan. Paru-paru sendiri dibagi menjadi dua, yakni : 1. Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru),

Lobus pulmo dekstra superior, Lobus medial Lobus inferior

2. Paru-paru kiri, terdiri dari pulmo sinister lobus superior dan lobus inferior. Tiap-tiap lobus terdiri atas belahan-belahan yang lebih kecil bernama segment. Paru-paru kiri mempunyai 10 segment yaitu :

5 buah segment pada lobus superior dan, 5 buah segment pada inferior

Paru-paru kanan mempunyai 10 segmet yakni :


5 buah segment pada lobus inferior 2 buah segment pada lobus medialis 3 buah segment pada lobus inferior Tiap-tiap segment ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang

bernama lobulus. Diantara lobulus yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh-pembuluh darah getah bening dan saraf-saraf, dalam tiap-tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus

ini bercabang-cabang banyak sekali, cabang-cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2 0,3 mm. Letak Anatomi Paru-paru Paru-paru terletak pada rongga dada, datarannya menghadap ke tengah rongga dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tampuk paruparu atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oeh selaput selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua :

Pleura viseral (selaput dada pembungkus), yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru.

Pleura parietal, yaitu selaput paru yang melapisi bagian dalam dinding dada. Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum

pleura. Pada keadaan normal kavum pleura ini vakum/hampa udara sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna unuk meminyaki permukaannya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada dimana sewaktu bernafas bergerak. Mekanisme Fisiologi Paru Fungsi paru-paru adalah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Pada pernapasan melalui paru-paru, oksigen dipungut melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernapas, oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronkhial ke alveoli, dan dapat erat dengan darah di dalam kapiler pulmonaris. Hanya satu lapisan membran , yaitu membran alveoli-kapiler, memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung. Dari sini, dipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh. Darah meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mmHg dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95 persen jenuh oksigen. Di dalam paru-paru, karbon dioksida

adalah salah satu hasil buangan metabolisme, menembus membran alveolerkapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronkhial dan trakhea, dinafaskan keluar melalui hidung dan mulut. Pengambilan udara pernapasan dikenal dengan inspirasi dan pengeluaran udara pernapasan disebut dengan ekspirasi. Mekanisme pertukaran udara pernapasan berlangsung di alveolus disebut pernapasan eksternal. Udara pernapasan selanjutnya diangkut oleh hemoglobin dalam eritrosit untuk dipertukarkan ke dalam sel. Peristiwa pertukaran udara pernapasan dari darah menuju sel disebut pernapasan internal. Aktivitas inspirasi dan ekspirasi pada saat bernapas selain melibatkan alat-alat pernapasan juga melibatkan beberapa otot yang ada pada tulang rusuk dan otot diafragma (selaput pembatas rongga dada dengan rongga perut). Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar. Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara (inspirasi) dan pengeluaran udara (ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.

2.3 Klasifikasi Kanker Paru Tipe dari kanker paru mencakup empat tipe histologis mayor yaitu : 1. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel skuamosa merupakan karsinoma bronkhogenik histologis yang paling sering ditemukan. Kanker ini ditemukan pada permukaan sel epitel bronkhus. Perubahan epitel termasuk metaplasia atau displasia terjadi akibat kebiasaan merokok jangka panjang secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak sentral di sekitar hilus dan menonjol ke dalam bronkhi besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa sentimeter dan cendrung menyebar secara langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada,

dan mediastinum. Karsinoma sel skuamosa sering kali disertai batuk dan hemoptisis akibat iritasi atau ulserasi, pneumonia, dan pembentukan abses akibat obstruksi dan infeksi sekunder. Karena tumor ini cenderung agak lamban dalam bermetastasis, maka pengobatan dini dapat memperbaiki prognosis. 2. Karsinoma sel kecilnya Karsinoma sel kecil seperti tipe sel skuamosa, biasanya terdapat di tengah sekitar percabangan utama bronkhi. Tidak seperti kanker paru lain, jenis tumor ini timbul pada sel-sel kulchitsky yang merupakan komponen normalepitel bronkus. Secara mikroskopis, tumor ini terbentuk dari sel-sel kecil (sekitar 2 kali ukuran limfosit) denagn inti hiperkromatik pekat dan sedikit sitoplasma. Sel-sel ini mirip biji oat sehingga diberi nama karsinoma sel oat. Karsinoma sel kecil memiliki waktu pembelahan yang tercepat dan prognosis yang terburuk dibandingkan dengan semua karsinoma bronkhogenik. Metastasis awal dapat tercapai mediastinum dan kelenjar limfe hilus, sering pula dijumpai penyebaran hematogen ke organ-organ distal. 3. Karsinoma sel besar Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat cepat. Karsinoma ini memiliki sitoplasma yang besar dan bermacammacam ukuran inti. Sel-sel ini cendrung tumbuh di jaringan paru perifer. Sel ini juga memiliki daya tumbuh yang cepat dengan penyebaran ekstensif ke tempat lainnya. 4. Adenokarsinoma Adenokarsinoma memperlihatkan susunan selular mirip bronkhus dan sering kali mengandung mukus. Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer segmen bronkhus dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronis. Lesi sering kali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium awal dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu sampai terjadi metastasis yang luas.

Karsinoma sel bronkhial-alveolar merupakan sebtipe adenokarsinoma yang jarang ditemukan dan yang berasal dari epitel alveolar atau bronkhiolus terminalis. Awitan (onset) pada umumnya tidak nyata dan sertai tanda-tanda yang menyerupai pneumonia. Secara makroskopis neoplasma ini pada beberapa kasus mirip konsolidasi uniform pneumonia. Secara mikroskopis, tampak kelompokkelompok alveolus yang dibatasi oleh sel-sel jernih penghasil mukus dan terdapat banyak sputum mukoid. Prognosisnya buruk, kecuali dilakukan pembuangan lobus yang terserang pada saat penyakit masih stadium awal. Adenokarsinoma adalah satu-satunya tipe histologi kanker paru yang tidak belum diketahui secara jelas berkaitan dengan kebiasaan merokok.

2.4 Etiologi / Faktor Resiko 1. Merokok Kanker paru berisiko 10 kali lebih tinggi dialami perokok berat dibandingkan dengan bukan perokok. Peningkatan faktor risiko ini berkaitan dengan riwayat jumlah merokok dalam tahun (jumlah bungkus rokok yang
8

digunakan setiap hari dikali jumlah tahun merokok) serta faktor saat mulai merokok (semakin muda individu merokok , semakin besar risiko terjadinya kanker paru). Faktor lain yang juga dipertimbangkan termasuk didalamnya jenis rokok yang diisap (kandungan tar, rokok filter, dan kretek). Perokok pasif juga beresiko tinggi untuk mengalami kanker paru. Dengan kata lain, individu yang secara tidak sengaja terpajan asap rokok, juga berisiko tinggi mengalami kanker paru. 2. Polusi udara Ada berbagai karsinogen telah diidentifikasi, termasuk didalamnya adalah sulfur, emisi kendaraan bermotor, dan polutan dari pengolahan dari pabrik. Buktibukti menunjukkan bahwah insiden kanker paru lebih besar di daerah perkotaan sebagai akibat penumpukan polutan dan emisi kendaraan bermotor. 3. Polusi lingkungan kerja Pada keadaan tertentu, karsinoma bronkhogenik tampaknya merupakan suatu penyakit akibat polusi di lingkungan kerja. Dari berbagai bahaya industri, yang paling berbahaya adalah asbes yang kini banyak sekali diproduksi dan digunakan pada bagunan. Resiko kanker paru di antara para pekerja yang berhubungan atau lingkungannya mengandung asbes + 10 kali lebih besar daripada masyarakat umum. Peningkatan risiko ini juga dialami oleh mereka yang bekerja dengan uranium, kromat, arsen (misalnya insektisida yang digunakan untuk pertanian), besi, dan oksida besi.Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun uranium akan menjadi lebih besar lagi jika orang itu juga perokok. 4. Rendahnya asupan vitamin A Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perokok yang dietnya rendah vitamin A dapat memperbesar risiko terjadinya kanker paru. Hipotesis ini didapatkan dari beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa vitamin A dapat menurunkan risiko peningkatan jumlah sel-sel kanker. Hal ini berkaitan dengan fungsi utama vitamin A yang turut berperan dalam pengaturan diferensiasi sel.

5. Faktor herediter Terdapat juga bukti bahwa anggota keluarga dari penderita kanker paru memiliki risiko yang lebih besar mengalami penyakit yang sama.Walaupun demikian masih belum diketahui dengan pasti apakah hal ini benar-benar herediter atau karena faktor-faktor familial.

2.5 Patofisiologi Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.

2.6 WOC Terlampir

10

2.7 Manifestasi Klinis Gejala yang muncul tergantung pada pasien dengan CA paru biasanya meliputi berbagai gejala klienis diantaranya ; a. Gejala Awal Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkus b. Gejala Umum Menurut Price (1995), gejala umum pada klien dengan Ca paru antara lain yaitu: Batuk Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk kering tanpa membentuk sputum , tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder . Hemoptisis Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi Anoreksia, lelah , berkurangnya berat badan. Dahak berdarah berubah warna dan makin banyak Nafas sesak ( pendek ) Sakit kepala , nyeri dada , bahu dan bagian punggung

2.8 Komplikasi Berbagai komplikasi dapat terjadi dalam penatalaksanaan kanker paru. 1. Reseksi bedah dapat mengakibatkan gagal napas, terutama ketika sistem jantung paru terganggu sebelum pembedahan dilakukan. 2. Terapi radiasi dapat dapat mengakibatkan penurunan fungsi jantung paru. 3. Fibrosis paru, perikarditis, mielitis, dan kor pulmonal adalah sebagian dari komplikasi yang diketahui.

11

4. Kemoterapi, terutama dalam kombinasi dengan terapi radiasi, dapat menyebabkan pneumonitis.Toksisitas paru dan leukimia adalah potensial efek samping dari kemoterapi

2.9 Penatalaksanaan Medis Sasaran penatalaksanaan medis adalah untuk memberikan penyembuhan, jika memungkinkan. Pengobatan tergantung pada tipe sel, tahap penyakit, dan status fisiologi (terutama status jantung dan paru) pasien. Secara umum, pengobatan dapat mencakup pembedahan, terapi radiasi, kemoterapi, dan imuno terapi, yang digunakan secara terpisah atau dalam kombinasi 1. Pembedahan Reseksi bedah adalah metoda yang lebih dipilih untuk pasien dengan tumor setempat tanpa adanya penyebaran metastatik dan mereka yang fungsi jantung paru yang baik. Tiga tipe reseksi paru mungkin dilakukan : lobektomi (satu lobus paru diangkat), lobektomi sleeve (lobus yang mengalami kanker diangkat dan segmen bronkus besar direseksi), dan pneumonektomi (pengangkatan seluruh paru). Reseksi bedah yang menghasilkan penyembuhan sempurna sangat jarang terjadi. (Biasanya pembedahan untuk kanker sel kecil paru tidak disarankan karena tipe kanker ini berkembang dengan cepat serta cepat bermetastasis dan sangat luas). Sayangnya, pada banyak pasien dengan kanker bronkogenik, lesi kanker tidak dapat dioperasi pada waktu didiagnosa. Operasi yang lazim untuk tumor paru yang kecil yang tampaknya dapat disembuhkan adalah labektomi (pengangkatan lobus paru). Keseluruhan paru dapat diangkat (pneumonektomi) dalam kombinasi dengan prosedur bedah lainnya, seperti reseksi yang mencakup nodus limfe mediastinal. Sebelum pembedahan, status jantung paru pasien harus ditentukan

12

2. Terapi radiasi Terapi radiasi dapat menyembuhkan pasien dalam persentasi yang kecil. Terapi radiasi ini sangat bermanfaat dalam pengendalian neoplasma yang tidak dapat direseksi tetapi yang reponsif terhadap radiasi. Radiasi dapat juga digunakan untuk mengurangi ukuran tumor untuk membuat tumor yang tidak dapat dioperasi menjadi dapat dioperasi atau radiasi dapat digunakan sebagai pengobatan paliatif untuk menghilangkan tekanan tumor pada struktur vital. Terapi radiasi dapat mengendalikan metastasis medula spinalis dan kompresi vena kava superior. Juga, iradiasi otak profilaktik digunakan pada pasien tertentu untuk mengatasi metastasis mikroskopik ke otak. Radiasi dapat membantu menghilangkan batuk, nyeri dada, dispnea, hemoptisis, dan nyeri tulang, dan hepar. Hilangnya gejala-gejala dapat berlangsung dari beberapa minggu sampai beberapa bulan dan penting dalam meningkatkan kualitas sisa hidup yang masih tersisa Terapi radiasi biasanya adalah toksik bagi jaringan normal di dalam bidang radiasi. Komplikasi radiasi termasuk esofagitis,

pneumonitis, dan radiasi fibrosis paru yang dapat merusak kapasitas ventilas dan difusi serta secara signifikan mengurangi ketersediaan paru. Radiasi juga mempengaruhi jantung. Status nutrisi dan tampilan psikologis pasien dipantau sepanjang pengobatan, sejalan dengan tanda-tanda anemia dan infeksi

3. Kemoterapi Kemuterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasis luas, dan untuk melengkapi bedah atau terapii radiasi. Kombinasi dua atau lebih pengobatan mungkin lebih menguntungkan dibanding pemberian dosis tunggal. Sejumlah besar pengobatan bekerja terhadap kanker paru. Berbagai agens kemoterapeutik, termasuk agens penfkelat (ifosfamid), platinum analogus (cisplantin dan karboplantin), mitomisin C, vinka alkaloid (vinblastin dan vindestin) dan eroposid (V-16)

13

digunakan. Pilihan agens tergantung pada pertumbuhan sel tumor dan fase spersifik siklus sel yang dipengaruhi oleh obat. Agents ini toksik dan mempunyai batas keamanan yang sempit. Kemoterapi memberikan peredaan, terutama nyeri, terapi

kemoterapi tetapi menyembuhkan dan jarang dapat memperpanjang hidup. Kemoterapi bermanfaat dalam mengurangi gejala-gejala tekanan dari kanker paru dan dalam mengobati metastasis otak, medula spinalis dan pericardium.

14

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KARSINOMA BRONKHOGENIK (KANKER PARU)

3.1

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

A. Anamnesis Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan, pekerjaan klien, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor registrasi dan asuransi kesehatan.

a) Keluhan utama Keluhan utama klien dengan karsinoma bronkhogenik biasanya bervariasi seperti keluhan batuk, batuk produktif, batuk darah, dan sesak napas. b) Riwayat penyakit saat ini Biasanya keluhan hampir sama dengan jenis penyakit paru lainnya dan tidak mempunyai awitan (onset) yang khas. Seringkali karsinoma ini menyerupai pneumonitis yang tidak ditanggulangi. Batuk merupakan gejala umum yang sering kali diabaikan oleh klien dengan bronkhitis kronis, batuk akan timbul lebih sering dan volume sputum bertambah. c) Riwayat penyakit sebelumnya Walaupun tidak terlalu spesifik, biasanya akan didapatkan adanya keluhan batuk jangka panjang dan penurunan berat badan secara signifikan. d) Riwayat penyakit keluarga Terdapat juga bukti bahawa anggota keluarga dari kliaen dengan kanker paru beresiko lebih besar mengalami penyakit ini, walaupun

15

masih belum dapat dipastikan apakah hal ini benar-benar karena faktor herediter atau karena faktor-faktor familial.

B. Pengkajian Pola Fungsional Gordon a) Pola persepsi dan penanganan kesehatan Klien mengeluh batuk yang berkepanjangan,dengan /tidak disertai sekret,nyeri pada dada ,malaise dan keletihan fisik. b) Pola aktivitas dan latihan Klien memiliki kesulitan pada aktifitasnya karena klien merasa lemah dan keletihan fisik. c) Pola nutrisi dan metabolik Pemenuhan nutrisi pada klien kanker paru-paru menurun dikarena biasanya nafsu makan buruk dan intake nutrisi yang tidak adekuat. d) Pola eliminasi Eleminasi alvi: sukar BAB ,dikarnakan gerak peristaltik usus menurun. Eliminasi urin: pengukuran volume output urin dilakukan dalam hubungan intake cairan e) Pola tidur dan istirahat Kesukaran untuk istirahat karena batuk , penumpukan sputum serta nyeri dada yang menyebabkan gangguan kenyamanan pada klien. f) Pola kognitif dan perseptual Klien dan keluarganya biasanya tidak terlalu mengerti tentang penyakit yang diderita (kanker paru-paru) ini. g) Pola konsep diri Adanya perasaan takut dan cemas terhadap penyakit yang diderita. h) Pola koping Mekanisme koping biasanya mal adaptif yang diikuti perubahan mekanisme peran dalam keluarga, kemampuan ekonomi untuk

pengobatan, serta prognosis yang tidak jelas merupakan faktor-faktor pemicu kecemasan dan ketidakefektifan koping individu dan keluarga. i) Pola seksual dan reproduksi

16

Pola seksualnya kurang terpenuhi karena kondisinya tersebut. j) Pola peran hubungan Hubungan klien dengan keluarganya terganggu karena klien tidak dapat menjalankan aktifitasnya seperti biasa. k) Pola nilai kepercayaan Pemenuhan aspek spiritual seperti ibadah biasanya tidak dapat terpenuhi secara lengkap karena nyeri dada, batuk dan kelemahan fisik yang dirasakan.

C. Pemeriksaan Fisik a) Pernafasan Inspeksi Secara umum biasanya klien tampak kurus, terlihat batuk, dengan/tanpa peningkatan produksi sekret. Pergerakan dada biasanya asimetris apabila terjadi komplikasi efusi pleura dengan hemoragi. Nyeri dada dapat timbul dalam berbagai bentuk tapi biasanya sebagai rasa sakit atau tidak nyaman akibat penyebaran neoplastik ke mediastinum. Selain itu, dapat pula timbul nyeri pleuritis bila terjadi serangan sekunder pada pleura akibat penyebaran neoplastik atau pneumonia. Gejala-gejala umum seperti anoreksia, lelah, dan berkurangnya berat badan merupakan gejala-gejala lanjutan. Palpasi Pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya menurun. Perkusi Pada perkusi, didapatkan suara normal sampai hipersonor. Auskultasi Didapatkan bunyi stidor lokal, wheezing unilateral didapatkan apabila karsinoma melibatkan penyempitan bronkun dan ini merupakan tanda khas pada tumor bronkhus. Penyebaran lokal tumor ke struktur mediastinum dapat menimbulkan suara serak akibat terangsangnya

17

saraf rekuren, terjadi disfagia akibat keterlibatan esofagus, dan paralisis hemidiafragma akibat keterlibatan saraf frenikus. (Alsagaff, 1996 dalam Muttaqin,A, 2008)

D. Pemeriksaan Diagnostik 1. Radiologi. Foto thorax. Untuk mengetahui adanya pembesaran massa atau tidak dan letak pembesaran tersebut. CT Scan. Dapat memberikan bantuan lebih lanjut dalam membedakan lesi lesi yang dicurigai. Bronkoskopi. Bronkoskopi yang sertai dengan biopsi untuk mendiagnosis jenis karsinoma yang terjadi. Biopsi kelenjar skalenus. Cara terbaik untuk mendiagnosis kanker yang tidak terjangkau oleh bronkoskopi. 2. Pemeriksaan Sitologi. Sputum rutin, dikerjakan terutama bila ada keluhan seperti batuk. Pemeriksaan sitologi tidak selalu memberikan hasil yang berarti karena tergantung pada : Letak tumor terhadap bronkus. Jenis tumor. Teknik mengeluarkan sputum. Jumlah sputum yang diperiksa (dianjurkan pemeriksaan 3 5 hari berturut turut).

18

Waktu pemeriksaan sputum. Pada kanker paru yang letaknya sentral pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67 85 % pada karsinoma sel skuamosa. Sehingga untuk Tn. J dapat dilakukan sitologi ini untuk mamastikan apakah termasuk dalam kanker paru sel skuamosa.

19

3.2 NANDA, NOC, NIC Kanker Paru NO 1 Dx Bersihan napas efektif NOC jalan Status respirasi : kepatenan tidak jalan nafas Indikator: rata- rata pernafasan ritme pernafasan kedalaman inspirasi kemampuan membersihkan sekresi Monitor Respirasi Aktifitas: - buka jalan nafas dengan meggunakan teknik chin lift atau jaw thrust, bila perlu - monitor frekuensi, ritme, dan usaha respirasi - catat pergerakan dada, lihat kesimetrisan. - monitor pola nafas - monitor kebisingan respirasi Status respirasi : ventilasi Indikator : rata-rata pernafasan ritme perafasan kedalaman inspirasi suara perkusi volume tidal kapasitas vital - catat letak trakea - palpasi kesamaan ekspansi paru - monitor sekresi respirasi pasien - Auskultasi bunyi paru setelah perawatan dan catat hasilnya - Monitor kemampuan pasien untuk batuk secara efektif - Monitor dyspnea dan hal-hal yang meingkatkan atau memperburuknya NIC

Airway Management Aktifitas : - Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau ut;ter thrust bila perlu - Posisikan pasien untuk memaksimalkanventilasi - Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan - Keluarkan sekret dengan batuk atau suction - Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan

20

- Berikan bronkodilator bila perlu - Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. - Monitor respirasi dan position O2 Manajemen jalan nafas Aktivitas : - Buka jalan nafas dengan teknik mengangkat dagu atau dengan mendorong rahang sesuai keadaan - Beri aerosol, pelembab/oksigen, ultrasonic humidifier jika diperlukan - Posisikan pasien untuk mengurangi dispnu - Monitor pernafasan dan status oksigen - Dorong nafas dalam, pelan dan batuk - Identifikasi masukan jalan nafas baik yang aktual ataupun potensial - Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi yang potensial Monitor pernafasan Aktivitas : - Monitor frekuensi, rata-rata, irama, kedalaman dan usaha bernafas - Catat pergerakkan dada, lihat kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, dan supraklavikula dan retaksi otot intercostal - Monitor bising pernafasan seperti ribut atau dengkuran - Monitor pola nafas seperti bradipnu, takipnu, hiperventilasi, pernafasan kussmaul, Ceyne stokes, apnu, biot dan pola ataksi Manajemen asam basa Aktivitas : - Jaga kepatenan jalan napas

Pola napas tidak efektif

Kepatenan jalan nafas: Indikator : - Frekuensi nafas normal - Irama nafas normal - Tidak ada demam - Tidak cemas - Bebas dari suara nafas tambahan Ventilasi Indikator : - Pengembangan dada simetris - Kenyamanan dalam bernafas - Frekuensi nafas normal - Suara nafas normal - Tidak ada suara nafas tambahan Status tanda-tanda vital Indikator : - suhu badan - denyut nadi - pernapasan - tekanan darah diastolic - tekanan darah sistolik

Gangguan pertukaran gas

Keseimbangan elektrolit dan asam basa

21

Indikator : - Denyut jantung - Irama jantung - Pernapasan - Irama napas - Sodium serum - Pottasium serum - Klorida serum - Kalsium serum - Magnesium serum - pH serum : DBN* - Albumin serum : DBN - Kreatinin serum : DBN - Bikarbonat serum :DBN

Pantau ABG dan level elektrolit Monitor status hemodinamik termasuk CVP (tekanan vena sentral), MAP (tekanan arteri rata-rata), PAP (tekanan arteri paru) Pantau kehilangan asam (muntah, diare, diuresis, melalui nasogastrik) dan bikarbonat (drainase fistula dan diare) Posisikan untuk memfasilitasi ventilasi yang adekuat seperti membuka jalan napas dan menaikkan kepala tempat tidur Pantau gejala gagal pernapasan seperti PaO2 yang rendah, peningkatan PaCO2, dan kelemahan otot napas Pantau pola napas Pantau factor penentu pengangkutan oksigen jaringan seperti PaO2, SaO2, kadar Hb dan cardiac output Sediakan terapi oksigen Berikan dukungan ventilasi mekanik Pantau factor penentu konsumsi oksigen seperti SvO2, avDO2 (perbedaan oksigen arterivena) Pantau ketidakseimbangan elektrolit yang semakin buruk dengan mengoreksi ketidakseimbangan asam basa Dorong pasien dan keluarga untuk aktif dalam pengobatan ketidakseimbangan asam basa

Manajemen Jalan Nafas Aktivitas : - Buka jalan nafas dengan teknik mengangkat dagu atau dengan mendorong rahang sesuai keadaan - Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi yang potensial - Identifikasi masukan jalan nafas baik
22

yang aktual ataupun potensial Masukkan jalan nafas/ nasofaringeal sesuai kebutuhan Keluarkan sekret dengan batuk atau suction/pengisapan Kaji keinsetifan spirometer Auskultasi bunyi nafas, catat adanya ventilasi yang turun atau yang hilang dan catat adanya bunyi tambahan Lakukan pengisapan endotrakeal atau nasotrakeal Beri bronkodilator jika diperlukan Beri aerosol, pelembab/oksigen, ultrasonic humidifier jika diperlukan Atur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan Posisikan pasien untuk mengurangi dispnue Monitor pernafasan dan status oksigen.

Monitor Pernafasan Aktivitas : - Monitor frekuensi, rata-rata, irama, kedalaman dan usaha bernafas - Catat pergerakkan dada, lihat kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, dan supraklavikula dan retaksi otot intercostal - Monitor bising pernafasan seperti ribut atau dengkuran - Monitor pola nafas seperti bradipnu, takipnu, hiperventilasi, pernafasan kussmaul, Ceyne stokes, apnu, biot dan pola ataksi - Palpasi jumlah pengembangan paru - Perkusi anterior dan posterior torak dari apeks sampai basis secara bilateral - Catat lokasi trakea - Monitor kelemahan otot diafragma - Auskultasi bunyi nafas, catat
23

Nyeri akut

Kontrol Nyeri Indikator : - Menilai factor penyebab - Recognize lamanya Nyeri - Penggunaan analgesic yang tepat - Gunakan tanda-tanda vital memantau perawatan - Menilai gejala dari nyeri - Gunakan catatan nyeri - Laporkan bila nyeri terkontrol Tingkat Nyeri - Melaporkan Nyeri - Frekuensi nyeri - Panjangnya episode nyeri - Ekspresi nyeri lisan - Ekspresi wajah saat nyeri - Melindungi bagian tubuh yang nyeri - Kegelisahan - Hilangnya Nafsu makan

ventilasi yang turun atau hilang - Tentukan apakah harus dilakukan pengisapan dari hasil auskultasi seperti adanya ronkhi atau wheezing - Auskultasi lagi paru setelah dilakukan treatmen - Monitor sekresi pernafasan pasien - Monitor dispnu dan persitiwa yang bisa meningkatkan kejadian dispnu - Monitor hasil penyinaran (X-Ray) Manajemen nyeri Lakukan penilaian nyeri secara komprehensif dimulai dari lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas dan penyebab. Kaji ketidaknyamanan secara nonverbal, terutama untuk pasien yang tidak bisa mengkomunikasikannya secara efektif Pastikan pasien mendapatkan perawatan dengan analgesic Tentukan dampak nyeri terhadap kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu makan, aktivitas, kesadaran, mood, hubungan sosial, performance kerja dan melakukan tanggung jawab sehari-hari) Gunakan metoda penilaian yang berkembang untuk memonitor perubahan nyeri serta mengidentifikasi faktor aktual dan potensial dalam mempercepat penyembuhan Tentukan tingkat kebutuhan pasien yang dapat memberikan kenyamanan pada pasien dan rencana keperawatan Menyediakan informasi tentang nyeri, contohnya penyebab nyeri, bagaimana kejadiannya, mengantisipasi ketidaknyamanan terhadap prosedur Pilihlah variasi dari ukuran pengobatan (farmakologis, nonfarmakologis, dan hubungan atar pribadi) untuk mengurangi nyeri

24

Pertimbangkan tipe dan sumber nyeri ketika memilih metoda mengurangi nyeri Mendorong pasien dalam memonitor nyerinya sendiri

Pemberian Analgesik Menentukan lokasi , karakteristik, mutu, dan intensitas nyeri sebelum mengobati pasien Periksa order/pesanan medis untuk obat, dosis, dan frekuensi yang ditentukan analgesik Cek riwayat alergi obat Tentukan jenis analgesik yang digunakan berdasarkan tipe dan tingkat nyeri. Tentukan analgesik yang cocok, rute pemberian dan dosis optimal. Utamakan pemberian secara IV dibanding IM sebagai lokasi penyuntikan, jika mungkin Cek pemberian analgesik selama 24 jam untuk mencegah terjadinya puncak nyeri tanpa rasa sakit, terutama dengan nyeri yang menjengkelkan Mengkaji pengetahuan pasien atau anggota keluarga mengenai analgesic, terutama sekali opioids(karena resiko kecanduan tinggi) Dokumentasikan respon pasien tentang analgesik, catat efek yang merugikan

25

Hipetermi

Termoregulasi Indikator: Tidak adanya sakit kepala Tidak adanya ngilu pada otot Tidak adanya iritabilitas Tidak adanya perasaan mengantuk Tidak adanya perubahan warna kulit Tidak adanya kejang pada otot

Tanda-tanda vital Indikator: Suhu tubuh Denyut jantung Ritme jantung Denyut nadi radial Tingkat pernafasan Ritme nafas Tekanan sistol darah Tekanan diastol darah Tekanan nadi

Pengobatan demam Tindakan: Pantau suhu berkali-kali jika diperlukan Adakan pemantauan suhu secara berkelanjutan, jika diperlukan Pantau warna kulit dan suhu Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan, jika diperlukan Pantau untuk penurunan tingkat kesadaran Pantau aktivitas berlebihan Pantau intake dan output Pantau selalu suhu untuk mencegah indikasi hipotermia

Monitor tanda-tanda vital Tindakan: Monitor tekanan darah, temperatur, status respirasi Monitor irama paru-paru Monitor bunyi jantung Identifikasi penyebab terjadinya perubahan tanda-tanda vital

26

Gangguan mobilitas fisik

Tingkat pergerakan Keseimbangan penampilan Posisi tubuh Ambulansi : berjalan Perpindahan sendi Perpindahan otot

Ambulansi : berjalan Pertahanan berat Berjalan dengan langkah efektif Berjalan dengan langkah sedang Berjalan dengan cepat Berjalan dengan langkah naik Berjalan dengan langkah turun Berjalan dengan miring ke atas Berjalan dengan miring ke bawah

Terapi latihan : ambulansi Mengatur tinggi rendah tempat tidur, jika diperlukan Mengganti posisi tidur dengan mudah dilakukan Meningkatkan kemampuan untuk bangun dari tidur atau dari kursi roda Membantu pasien untuk duduj dan menyamping dari tempat tidur Konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulansi, jika diperlukan Mengintruksikan penggunaan alat bantu, jika diperlukan Mengintruksikan pasien bagaiman posisi yang benar dalam proses berpindah Gunakan gaitbelt untuk membentu berpindah dan ambulansi, jika diperlukan Menolang pasien untuk berpindah, jika dibutuhkan Menyediakan cueing ard di kepala sebagai fasilitas untuk berpindah Membantu pasien dengan inisial ambulansi dan jika dibutuhkan Mengintruksikan pasien tentang keamanan berpindah dan teknik ambulansi Mengontrol pasien menggunakan crutches atau alat bantu jalan lainya Membantu pasien untuk berdiri dan ambulansi jarak jauh Membantu pasien untuk meningkatkan kemandirian dalam ambulansi jarak jauh Meningkatkan kemandirian ambulansi dengan batas aman

27

Gangguan

Status nutrisi Asupan zat gizi pemenuhan Asupan makanan dan nutrisi kurang cairan dari kebutuhan Energi Indeks masa tubuh tubuh Berat badan Status nutrisi : intake nutrien - Intake kalori - Intake ptotein - Intake lemak - Intake karbohidrat - Intake zat besi - Intake vitamin - Intake mineral - Intake kalsium Pengontrolan berat badan Menggunakan suplemen nutrisi jika diperlukan Mempertahankan pola makan yang dianjurkan Mempertahankan keseimbanagan cairan Mengontrol berat badan Mempertahankan intake kalorioptimal harian

Manajemen nutrisi Mengontrol penyerapan makanan/cairan dan menghitung intake kalori harian, jika diperlukan Memantau ketepatan urutan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian Menetukan kebutuhan makanan saluran nasogastric Anjurkan pasien untuk memilih makanan ringan, jika kekurangan air liur mengganggu proses menelan Memastikan bahwa makanan berupa makanan yang tinggi serat untuk mencegah konstipasi Membantu pasien membentuk posisi duduk yang benar sebelum makan Mengajarkan pasien dan kelurga tentang memilih makanan Monitor Nutrisi Aktivitas: Timbang berat badan klien Monitor kehilangan dan pertambahan berat badan Monitor respon emosi klien terhadap situasi dan tempat makan Monitor adanya mual dan muntah Monitor nilai albumin, total protein, hemoglobin dan hematokrit Monitor nilai limfosit dan elektrolit Monitor menu makanan dan pilihannya Monitor pertumbuhan dan perkembangan Monitor tingkat energi, lelah, lesu, dan lemah Monitor intake kalori dan nutrisi

28

BAB IV PENUTUP

3.1 Kesimpulan Kanker paru adalah pertumbuhan sel-sel kanker yang tidak dapat terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan terutama asap rokok. Kanker paru (karsinoma bronkhogenik) timbul dari epitel saluran pernapasan. Penyebab kanker paru yang paling umum adalah merokok. Perokok berat mempunyai peluang sekitar 10 kali lebih besar untuk mengalami kanker paru dibanding bukan perokok. Asap rokok mengandung beberapa karsinogen spesifik-organ, dan merokok telah menunjukkan adanya kaitan penyebab dengan karsinogenesis pada beberapa bagian tubuh, termasuk laring, rongga mulut, esofagus, dan kandung kemih.

3.2 saran Berdasarkan uraian pada pembahasan di atas penulis ingin memberikan beberapa saran sebagai berikut : 1) Agar perawat sebagai insan kesehatan dapat memahami bagaimana pengertian , perjalanan penyakit serta penatalaksanaan dari kanker paru ini. 2) Kepada teman-teman mahasiswa keperawatan agar dapat menggali pengetahuan lebih dalam lagi mengenai kanker paru terutama pada asuhan keperawatannya.

29

DAFTAR PUSTAKA

Brashers, V.L.2007.Aplikasi Klinis Patofisiologi edisi 2.Jakarta: EGC

Brunner & Suddarth.2009.Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 vol.1.Jakarta :Salemba Medika

Muttaqin,A.2008.Asuhan

Keperawatan

Klien

dengan

Gangguan

Sistem

Pernapasan.Jakarta : Salemba Medika.

30