Anda di halaman 1dari 28

Anatomi

MEKANISME MENDENGAR

Definisi
Peradangan sebagian atau seluruh mokosa telinga

tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.

Klasifikasi
Non supuratif

Otitis media Supuratif

Otitis media Otitis media serosa akut serosa kronis

Otitis media Otitis media supuratif akut supuratif kronis

1.

Otitis media serosa akut / Barotrauma (aerotitis) terbentuknya sekret di telinga tengah oleh etiologi: Sumbatan tuba Infeksi virus pada jalan napas atas Alergi idiopatik

keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang tiba-tiba diluar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau menyelam, menyebabkan tuba aggal membuka. terjadi tekanan negatif di rongga telinga tengah, sehingga cairan keluar dari pembuluh darah kapiler mukosa, kadang-kadang disertai ruptur pembuluh darah cairan bercampur darah

Gejala: Nyeri rasa penuh berkurang pendengaran

Penatalaksanaan: Hindari menyelam atau berpergian dengan kapal terbang sementara waktu Dekongestan lokal Antihistamin Perasat valvalva Miringotomi dan bila perlu memasang pipa ventilasi / Grommet (cairan menetap beberapa minggu)

2. Otitis media serosa kronis

terbentuk sekret di telinga tengah secara bertahap tanpa rasa nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama. sekret kental seperti lem (glue ear) perasaan tuli lebih menonjol

Penatalaksanaan: Dekongestan tetes hidung kombinasi antihistamin dekongestan oral kadang berhasil Miringotomi dan memasang pipa ventilasi / Grommet

3. Otitis media akut

Etiologi: Sumbatan tuba Eustachius Infeksi saluran napas atas

1) Stadium Oklusi Tuba Eustachius Retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan

negatif di dalam telinga tengah Retraksi membran timpani posisi malleus menjadi lebih horizontal refleks cahaya juga berkurang Tidak terjadi demam.

Terapi
Obat tetes hidung (HCl efedrin 0,5 % dalam larutan

fisiologik untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,1 % dalam larutan fisiologik untuk anak > 12 tahun dan orang dewasa) Obati sumber infeksi

2) Stadium hiperemis Terjadi pelebaran pembuluh

darah di membran timpani membran timpani mengalami hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik membran timpani menjadi kongesti Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh dan demam.

Terapi
Antibiotika

penisilin intramuskuler (awal) selama 7 hari atau ampisilin, bila alergi diberikan eritromisin. untuk anak, dosis ampisilin 50-100 mg/kg BB per hari dibagi dalam 4 dosis, atau amoksisilin 40 mg/kg BB per hari dibagi dalam 3 dosis, atau eritromisin 40 mg/kg BB per hari Obat tetes hidung Analgetika

3)

Stadium supurasi eksudat purulen atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid edema pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat sel epitel superfisial hancur eksudat yang purulen di kavum timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah liang telinga luar nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat Dapat disertai dengan gangguan pendengaran konduktif Pada bayi demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan atau yellow spot.

Terapi
Antibiotika
miringotomi

4)

Stadium perforasi ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang mengalir Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut) Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun
Jika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap berlangsung melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah sampai dengan dua bulan, maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik

Terapi
Obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari
Antibiotika adekuat

Sekret akan hilang dan perforasi akan menutup dalam waktu 7 10 hari

5) Stadium resolusi berkurangnya dan berhentinya otore

membran timpani berangsur normal hingga perforasi

membran timpani menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya kering Pendengaran kembali normal Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran timpani menetap, dengan sekret yang keluar secara terusmenerus atau hilang timbul.

Terapi
Bila stadium ini gagal lanjutkan antibiotika selama 3

minggu , bila sekret masih banyak kemungkinan telah terjadi mastoiditis

4. Otitis media supuratif kronis

disebut kronis bila sudah terjadi > 2 bulan. Bila < 2 bulan disebut otitis media supuratif subakut. Etiologi : OMA yang tak kunjung sembuh Terapi tidak adekuat Virulensi kuman tinggi Daya tahan tubuh pasien atau higiene buruk

OMSK tipe AMAN


Peradangan terbatas pada

OMSK tipe BAHAYA


Terdapat kolesteatoma (kista

bagian mukosa Terapi konservatif : sekret yang keluar diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari berkurang obat tetes telinga yang mengandung antibiotika & kortikosteroid observasi 2 bln miringoplasti/ timpanoplasti

epiterial yang berisi deskuamasi epitel) Terapi: mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti