Anda di halaman 1dari 14

Karakteristik, Insiden dan Penatalaksanaan Fraktur Maksilofasial pada Anak di Rumah Sakit Dr.

Hasan Sadikin Bandung


Elliza Fitriana *, Endang Syamsudin **,Fathurrahman *** *Residen, Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia **Konsulen, Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia *** Konsulen, Bagian Bedah Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia Email : ellizafitriana@ymail.com

Abstrak Pendahuluan: Insiden fraktur rahang dan tulang wajah pada anak jarang terjadi daripada orang dewasa. Terapi fraktur pada anak-anak sangat rumit dan banyak pertimbangan. Hal ini disebabkan karena fraktur wajah pada anak-anak dapat berhubungan dengan faktor lingkungan, fisik, dan anatomi wajah. Terapi pada anak-anak sangat berbeda dibandingkan dengan orang dewasa karena tulang wajah pada anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan . Untuk itu diperlukan manipulasi minimal tulang wajah pada anak-anak untuk mencegah kelainan pertumbuhan. Objektif: Penelitian ini dilakukan dengan studi retrospektif mengenai fraktur maksilofasial pada anak yang dirawat inap di di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Material dan Metode: Data diambil dari catatan medis 59 pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, dalam periode 2007-2012 secara retrospektif. Data dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi fraktur, etiologi dan jenis perawatan fraktur maksilofasial dan kemudian dianalisis dan ditabulasikan. Hasil: Terdapat 59 pasien anak yang dirawat inap di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung antara tahun 2007 -2012. Data terbanyak yaitu fraktur multiple 30 kasus (50,8%) dan 21 kasus (35,6%) fraktur simpledengan 29 kasus merupakan fraktur parasymphisis mandibula, dan fraktur dentoalveolar 7 kasus (11,9%). 38 pasien anak menjalani terapi bedah sedangkan sembilan menolak operasi. Tiga pasien (5,1%) dengan perawatan closed reduksi dan 9 pasien dengan terapi konservatif dengan wiring, 37 pasien anak (62,70%) karena kecelakaan motor, dan 11 pasien lainnya (18,6%) karena ditabrak mobil dan terjatuh dari tempat yang tinggi 7 kasus (11,9%). Diskusi: Dampak terapi pada anak terhadap pertumbuhan jangka panjang tulang rahang dan wajah harus menjadi landasan ketika memilih terapi dan diutamakan terapi konservatif untuk mencegah gangguan pertumbuhan. Terapi bedah dilakukan dengan hati hati agar tidak mengganggu benih gigi permanen, dengan penempatan plat semaksimal mungkin .Terapi bedah dilakukan karena ada gangguan oklusi yang tidak mungkin tercapai dengan terapi konservatif.Terapi bedah dengan reduksi terbuka atau tertutup dan konservatif tetap sebagai pengobatan pilihan saat ini. Kata kunci Anak Maksilofasial Fraktur

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pasien trauma Maksilofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi. Pertama, pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepatdengan komplikasi yang minimal, oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah. Kedua, melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi, pemulihan jaringan maksilofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan.1,2 Disamping keuntungan ini, ada karakteristik tertentu dari traumamaksilofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa, cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan, yang membuat tindak lanjut penangananjangkapanjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan. Karena faktor ini, trauma maksilofasial pada anak-anak tidak dapatdikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa.3 Pada pasien anak, tulang lebih elastis, garis sutura lebih fleksibel, dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa.2Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensifraktur fasial pada anak-anak dan seringnya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anakanak.Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalamrahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface.4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya. Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh, tingkat metabolisme lebihtinggi, oxygen demand, dan curah jantung, darah total yang lebihrendahvolume, dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa.3 Oleh karena itu,merekalebih rentan menghadapi resiko hipotermia, hipotensi, dan hipoksia setelah kehilangan darahdanbahkanpembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis. Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas,pengendalianperdarahan, dan resusitasi awal lebih kritispada anak-anak daripada orang dewasa.3 Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar. Rasio cranial to body massdiperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2.5:1 pada dewasa. Perlindungan''relatif''wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa, insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah, serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda. Ini juga menjelaskan mengapa, dengan bertambahnyausia, insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang.3,4 Berdasarkan hal tersebut diatas,penulis tertarik untuk menganalisis insidensi,karakteristik fraktur maksilofasial pada anak berdasarkan jenis perawatannya di poli bedah mulut dan bedah umum RSHS Bandung .

1.1. Rumusan Masalah 1. Mengetahui pola insidensi fraktur yang terbanyak berdasarkan jenis kelamin, tingkat usia, lokasi fraktur dan etiologi sehingga dapat membantu diagnosis fraktur pada anak selain dari pemeriksaan klinis,dan radiologisnya. 2. Mengetahui tipe karakteristik fraktur yang paling sering terjadi pada anak 3. Mengetahui terapi dan penatalaksanaanfraktur yang paling tepat untuk anak 1.2.Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola insidensi,karakteristik dan terapi fraktur pada pasien anak yang datang ke poliklinik rawat jalan dan rawat inap di bagian bedah mulut dan bedah umum RSHS. 1.3.Kegunaan Penelitian 1.3.1.Aspek Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi tambahan mengenai pola insidensi,karakteristik dan terapi fraktur pada pasien anak yang paling tepat. 1.3.2. Aspek Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memudahkan praktisi untuk mendiagnosa kemungkinanjenis atau tipe dari fraktur yang banyak terjadi pada kelompok usia dan jenis kelamin tertentu, lokasi fraktur dan terapi yang paling tepat pada pasien anak.

TINJAUAN PUSTAKA 1.Pendahuluan Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa, penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki. 2,3,4. Pada anak usia pra sekolah biasanya fraktur maksilofasial disebabkan oleh karena jatuh dari tempat yang tinggi, bermain, atau karena kekerasan dalam rumah tangga. Pada anak usia sekolah, fraktur lebih sering disebabkan karena kecelakaan baik oleh karena kenderaan motor, mobil, dan olahraga saat di sekolah atau perkelahian. Mechanism of pediatric facial fracture by age category Age Group Traffic Falls Sports-Related (year) Accident and Altercations

Other

<3 1 9 0 1 3 to 5 12 8 4 1 6 to 12 32 12 9 4 n+ 23 3 15 2 Total 68 32 28 9 Tabel 1. Mechanism of pediatric facial fracture by age category (Adapted from Posnick JC et al.'^'Pediatric Craniomaxillofacial Fracture Management,1994) Patient age and occurance of pediatric fractures by region Age Group Cranium Orbit Zygoma Midface (year) <1 0 1 0 0 1 to 2 2 2 1 0 3 to 5 2 5 2 3 6 to 12 8 16 9 8 13+ 4 17 9 12 Total 16 41 21 23

Mandible 3 4 19 27 22 75

Tabel 2. Patient age and occurance of pediatric fractures by region (Adapted from Posnick JC et al.'^'Pediatric Craniomaxillofacial Fracture Management,1994) Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa. Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar. Awalnya, kranium tumbuh lebih cepatdaripada wajah, mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1. Oleh karena

alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah.3,4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition, reduction, stabilization, & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang.1Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan. Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang wajah efeknya bersifat reversible, jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan, harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates, screws ataupun wires. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction.2,4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak.Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance, mudahnya tejadi obstruksi, kesulitan intubasi, dan mudahnya self-extubation.Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. Tidak seperti pada orang dewasa, pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan.1,2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan.Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi.Oleh karena alasan tersebut, closed reductionmenjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur maksilofasial pada anak-anak.1,3 2. Insidensi Fraktur Maksilofasial Maksilofasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak. Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur maksilofasial ditemukan bahwa, 5% dari semua kasus fraktur maksilofasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun. Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort.1 Studi yang dilakukan McCoy et al, menemukan bahwa 40% kasus fraktur maksilofasial berkaitan dengan fraktur kranium.Pada pasien anak-anak, trauma kepala sering menyertai fraktur maksilofasial, kemudian diikuti trauma pada ekstremitas.Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien, menemukan 42 % dengan fraktur maksilofasial (6-12 tahun), 32 % fraktur orbita pada dasar orbita, 19% pada dinding media, 18% pada atap orbita. Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak, 51,4% terjadi fraktur nasal, 15,5% fraktur mandibular terutama parasimpisis, 11,6% fraktur orbita, 8,7 fraktur zygoma dan maksila.1

3.Klasifikasi dan Tipe Fraktur A. Berdasarkan Lokasi Anatomis Fraktur Alveolar Fraktur tulang alveolar adalah fraktur yang mengena itulang pendukung gigi baik pada maksila maupun mandibula. Fraktur ini biasanya berhubungan dengan adanya jejas pada gigi. Segmen fraktur tulang alveolar sering kali mengandung gigi yang mengalami kerusakan, seperti fraktur mahkota gigi dan fraktur akar, serta adanya jejas pada jaringan lunak (Peterson,1998) .Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur maksilofasial. Prosentasenya berkisar 8.1 % dan 50.6 % pada trauma fasial pada anak-anak. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%. Penangana fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar, wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus, os mental atau tulang kranial.1 Fraktur Nasal Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. Fraktur Orbita. Sebelum usia 7 tahun, sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. Setelah usia 7 tahun, cedera pada atap orbita, dinding lateral, dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi, karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai. Fraktur Arkus Zygomatikus. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7- 41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat..1,2 FrakturMandibula Fraktur mandibula adalah cedera pada tulang wajah yang paling sering (56 %) terjadi pada anak-anak yang datang ke rumah sakit (Dodson, 1995; Iida S, Matsuya, 2002). Anak laki-laki dua kali lebih sering terkena daripada anak perempuan. Memahami cedera mandibula pada anak sangatlah penting karena ada kemungkinan komplikasi yang berhubungan dengan erupsi gigi, pertumbuhan tulang alveolar, oklusi dan pertumbuhan wajah. Pada anak-anak, 80% fraktur mandibula meliputi fraktur kondilus, subkondilus dan angle. Fraktur symphysis dan parasymphysis (15% sampai 20%) lebih sering terjadi dibandingkan orang dewasa, sedangkan fraktur body lebih jarang. Pada tahun 2002, Lida melaporkan bahwa dari delapan anak yang mengalami fraktur wajah, enam terdapat fraktur kondilus. Seiring bertambahnya usia, lokasi fraktur mandibula berubah. Semakin dewasa resiko fraktur angle semakin meningkat (Kabban, 2004).(gambar 1).

Gambar 4. (A, B) This patient sustained a blow to the right side of the face while playing ice hockey. There was an undisplaced right parasymphyseal fracture and a displaced angle fracture on the left side that was treated with a Champy-style plate. This will be removed to allow eruption of the third molar.

B. Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Fraktur - Fraktur Simple : Fraktur dengan satu garis fraktur, fraktur simpel terdiri dari satu garis fraktur dan tertutup. Misal pada fraktur mandibula hanya fraktur ramus atau kondilus saja atau fraktur pada daerah edentolus tanpa melibatkan periostium. - Fraktur Multiple : Fraktur dengan lebih dari satu garis fraktur. Fraktur multiple sering merupakan fraktur terbuka. Sebagai tambahan, misalnya bila ada laserasi mukosa pada intraoral biasanya pasti disertai dengan sedikitnya fraktur pada daerah mandibula dan dentoalveolar nya. (Gambar 2).

4.Penatalaksanaan Pemeliharaan jalan nafas, pencegahan terjadinya aspirasi, kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial. Pembengkakan karena trauma maksilofasial, fragmen fraktur mandibula, dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan.Perdarahan dari kulit kepala, wajah, leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear.4 - Pemberian Cairan Dan Elektrolit - Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya.1,2 Pemeriksaan Radiologi -Pemeriksaan radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. -Perawatan terhadap tipe fraktur tertentu berbeda dari fraktur yang sama bila terjadi pada pasien dewasa dan tergantung dari usia pertumbuhan gigi pasien anak-anak (Gottlieb, 2004). -Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan, maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula, oklusi, dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang. Jika fraktur teridentifikasi, tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. -Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur, maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic. Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular, piriform atau circumzygomatic wires. Intervensi bedah diindikasikan jika segmen fraktur displaced atauadanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur.1,2(gambar 3).

METODE DAN MATERI 1.Pengumpulan Data Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif pada pasien anak yang didiagnosis mengalami fraktur maksilofasial yang diambil dari data rekam medis rawat inap di RSHS dari tahun 2007-2012. 3.2.Analisis Data Data diambil dari rekam medis rawat inap pada pasien yang didiagnosis didiagnosis mengalami fraktur maksilofasial yang diambil dari data rekam medis rawat inap di RSHS dari tahun 2007-2012.Dilakukan pencatatan berdasarkan jenis kelamin, tingkat usia, lokasi fraktur dan etiologi serta jenisperawatan yang dipilih. 3.3.Defenisi Operasional - Fraktur Dentoalveolar :Fraktur tulang alveolar adalah fraktur yang mengenai tulang pendukung gigi baik pada maksila maupun mandibula. Fraktur ini biasanya berhubungan dengan adanya jejas pada gigi. Segmen fraktur tulang alveolar sering kali mengandung gigi yang mengalami kerusakan, seperti fraktur mahkota gigi dan fraktur akar, serta adanya jejas pada jaringan lunak (Peterson,1998) . - Fraktur Simple : Fraktur dengan satu garis fraktur, fraktur simpelterdiri dari satu garis fraktur dan tertutup. Misal pada fraktur mandibula hanya fraktur ramus atau kondilus saja atau fraktur pada daerah edentolus tanpa melibatkan periostium. - Fraktur Multiple : Fraktur dengan lebih dari satu garis fraktur. Fraktur multiple sering merupakan fraktur terbuka. Sebagai tambahan, misalnya bila ada laserasi mukosa pada intraoral biasanya pasti disertai dengan sedikitnya fraktur pada daerah mandibula dan dentoalveolar nya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari data rekam medis selama periode Januari 2007-Desember 2012 di Rumah Sakit Hasan Sadikin, didapatkan sebanyak 59 kasus fraktur maksilofasial pada anak yang dirawat inap. Data yang dikumpulkan meliputi jenis kelamin, kelompok umur, tipe, etiologi fraktur, dan jenis perawatan yang dipilih. Data yang diperoleh dipresentasikan dalam beberapa tabel tabulasi dan diagram. 1.Distribusi Jenis Kelamin Berdasarkan distribusi jenis kelamin, didapatkan laki-laki sebanyak 47 orang (79,7 %), sedangkan Perempuan sebanyak 12 orang (20,3 %). Tabel 1.Distribusi Jenis Kelamin (n = 59) Jenis kelamin Jumlah Persentase Laki-laki 47 anak 79,7 % Perempuan 12 anak 20,3% Distribusi Jenis Kelamin

79,70%
80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00%

20,30%

Laki-laki Perempuan

Diagram 1. Distribusi jenis kelamin 2.Distribusi Kelompok Usia Berdasarkan distribusi kelompok usia pra sekolah, < 7tahun sebanyak 11 orang (18,7%),usia sekolah 7-14 tahun sebanyak 48 orang ( 81,3%). Tabel 2 Distribusi Kelompok Usia (n = 59) Umur Jumlah pasien(s) Persentase <7 tahun 11 anak 18,7 % 7-14 tahun 48 anak 81,3%

10

90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00%

81,30%

18,70%

<7 tahun 7-14 tahun

Diagram.2 Distribusi Kelompok Usia 3.Tipe Fraktur Tipe fraktur yang didapat, multiple fraktur ada 30 kasus (50,8%) dan simple fraktur ada 21 kasus (35,6%) dengan parasympisis yang paling banyak yaitu 29 kasus (49,2%), fraktur dentoalveolar ada 7 kasus (11,9%),serta fraktur panfasial 1 kasus (1,7%). Tabel 3.Tipe fraktur mandibula (n = 59) Tipe fraktur Jumlah Persentase Multiple fraktur 30 50,8 % Simple fraktur 21 35,6% Fraktur dentoalveolar 7 11,9% Fraktur panfasial 1 1,7%
60,00%

50,80%

50,00% 35,60% 40,00%

30,00%

20,00%

11,90%

10,00%

1,70%

0,00% Multiple fraktur Simple fraktur Fraktur dentoalveolar Fraktur panfasial

Diagram.3.Tipe fraktur 4.Etiologi Fraktur Adapun etiologi fraktur yang didapat, karena kecelakaan motor sebanyak 37 kasus (62,7%), ditabrakmobil sebanyak 11 kasus (18,6%), jatuh dari tempat tinggi sebanyak 7 kasus (11,9%), lain lain sebanyak 4kasus(6,8%).

11

Tabel .4 Etiologi fraktur (n = 59) Etiologi fraktur Kecelakaan motor Ditabrak mobil Jatuh Lain-lain

Jumlah 37 11 7 4

Persentase 62,7 % 18,6% 11,9% 6,8%

70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00%

62,70%

18,60% 11,90% 6,80%

Kecelakaan motor

Ditabrak mobil Jatuh Lain-lain

Diagram 4.Etiologi fraktur 5.Penatalaksanaan fraktur Jenis perawatan fraktur, dengan teknik reduksi terbuka ada sebanyak 38 kasus (64,4%), teknik reduksi tertutup sebanyak 3 kasus (5,1%), dan konservatif sebanyak 18 kasus (30,5%). Tabel 5 Penatalaksanaanfraktur (n = 59) Penatalaksaan fraktur Jumlah Persentase Reduksi terbuka 38 64,4 % Reduksi tertutup 3 5,1% Konservatif 18 30,5%

50,00% 45,00% 40,00% 35,00% 30,00% 25,00% 20,00% 15,00% 10,00% 5,00% 0,00% Reduksi terbuka 34,20%

47,40%

18,40%

Reduksi tertutup Konservatif

Diagram 5. Jenis Penatalaksanaan fraktur

12

DISKUSI Kasus fraktur pada anak banyak terdapat pada jenis kelamin laki laki sebanyak 47 orang (79,7 %) dengan perbandingan usia sekolah (7-14 tahun) yang terbanyak 48 orang ( 81,3%).Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian dan jurnal sebelumnya - Kasus fraktur pada anak yang paling banyak adalah multiple fraktur ada 30 kasus (50,8%), dan simple fraktur 21 kasus (35,6%) dengan tipe fraktur parasimpisis mandibula 29 kasus (49,2%) dan fraktur condylus 10 kasus (16,9%), dengan etiologi fraktur terbanyak dikarenakan kecelakaan motor sebanyak 37 kasus (62,7%). Hal ini sesuai dengan jurnal penelitian sebelumnya. - Penatalaksanaan yang dipilih pada kasus fraktur pada anak yang dirawat adalah teknik reduksi terbuka sebanyak 38 kasus (64,4%). - Perlunya ketrampilan klinis, pemeriksaan penunjang radiologis,anamnesis yang adekuat dan pemahaman anatomi pada anak serta gambaran klinis dari tipe fraktur serta komplikasi yang harus dihindari sehingga penatalaksanaannya fraktur pada anak tepat. - Modalitas utama dari penatalaksanaan fraktur pada anak adalah pemeriksaan radiologis dan pengetahuan tentang anatomi serta anamnesa yang tepat sehingga penatalaksanaan dapat maksimal. Manajemen trauma maksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang. Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma maksilofasial pada anak-anak (recognition, reduction, stabilization, & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang.

13

DAFTAR PUSTAKA 1. Fonseca. Oral and Maxilofacial Trauma Volume 2. 2005,Elsevier-Saunders,USA. 2. Patrick Cole, M.D.,1Yoav Kaufman, M.D.,1 and Larry H. Hollier, Jr., M.D.Managing the Pediatric Facial Fracture, Craniomaxillofacial Trauma& Reconstruction/Volume 2, Number 2. 2009,New York, NY 10001, USA. 3. Thaller SR, Mc Donald WS. Facial Trauma. 2004, Marcell Dekker New York. 4. Wesson DE. Pediatric Trauma. 2006, Taylor &francis Group, New York. 5. Mimi T. Chao,Joseph E. Losee,Complications in Pediatric Facial Fractures/Division of Pediatric Plastic Surgery, Childrens Hospital ofPittsburgh, University of Pittsburgh Medical Center, Pittsburgh,Pennsylvania, 2009. 6. Jonathan Wheeler,JohnPhillips,Pediatric Facial Fractures and Potential Long-Term Growth Disturbances.The Hospital for Sick Children, Centre for Craniofacial Care andResearch, Toronto, Ontario, Volume 4, Number 1,2011. 7. Hatef DA, Cole PD, Hollier LH Jr.Contemporary management of pediatric facial trauma. Department of Plastic Surgery, Baylor College of Medicine, Houston, TX 77056, USA., Volume 4, Number 1, 2009. 8. Geeta Singh, Shadab Mohammad, U. S. Pal, Hariram, Laxman R. Malkunje, and Nimisha Singh., Pediatric facial injuries: It's management.Department of Oral and Maxillofacial Surgery, C.S.M. Medical University, Lucknow, Natl J Maxillofac Surg. 2011 Jul-Dec; 2(2): 156162. 9. Patrick Cole.,Yoav Kaufman, and Larry H. Hollier, Managing the Pediatric Facial Fracture. Craniomaxillofac Trauma Reconstr. 2009 May; 2(2): 7783.

14