Anda di halaman 1dari 33

GEJALA-GEJALA GERD

Tinjauan penelitian ini mengidentifikasi 370 hasil yang

relevan. Dari sekian jumlah tersebut, 9 penelitian memenuhi


kriteria inklusi dan ekslusi yang tercantum pada bagian metode.

Seluruh penelitian tersebut merupakan pemeriksaan crosssectional dari gejala GERD pada sampel yang dipilih secara acak dari populasi umum (Tabel 1).

Tabel 1. Karakteristik 9 Penelitian dari Indeks Massa Tubuh dan Gejala GERD

GEJALA-GEJALA GERD

Dari 9 penelitian, 6 di antaranya menunjukkan adanya

hubungan yang signifikan secara statistik antara


obesitas dengan GERD dan 3 penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan.

8 dari penelitian tersebut menunjukkan, rasio peluang


yang telah diukur untuk gejala GERD di antara pasien dengan berat badan berlebih dan obesitas terhitung lebih besar dibandingkan dari pasien dengan berat badan yang normal.

GEJALA-GEJALA GERD

Tabel 1 menunjukkan rasio peluang yang telah dikelompokkan dimana :


7 penelitian dikelompokkan menurut umur & jenis kelamin 2 penelitian dikelompokkan menurut ras 3 penelitian dikelompokkan menurut pemakaian obat OAINS 5 penelitian dikelompokkan menurut kebiasaan merokok 1 penelitian dikelompokkan menurut status H. pylori dan status sosio-ekonomi 1 penelitian dikelompokkan menurut kegiatan fisik

tidak ada dari pengelompokan di atas yang mengubah signifikansi statistik atau arah korelasi antara obesitas dengan GERD.

GEJALA-GEJALA GERD

Selain itu, pengelompokan untuk alkohol, konsumsi kopi,

atau faktor makanan lainnya (seperti diet serat atau


konsumsi energi total) menghasilkan perubahan yang tidak signifikan pada rasio peluang.

Salah satu penelitian menemukan bahwa pengelompokan untuk terapi hormon post-menopause

pada wanita memperkuat korelasi antara obesitas


dengan GERD.

GEJALA-GEJALA GERD

Rasio peluang yang telah dikelompokkan untuk BMI 25 30 kg/m2 = 1.43 (95% CI, 1.158 sampai 1.774)

Rasio peluang yang telah dikelompokkan untuk BMI lebih dari 30 kg/m2 = 1.94 (CI, 1.468 sampai 2.566)

Gambar 1. Rasio peluang yang telah dikelompokkan untuk hubungan antara berat badan berlebih (BMI: 25 30 kg/m2) dan gejala-gejala GERD (di atas) untuk hubungan atara obesitas (BMI > 30 kg/m2) dan gejala GERD (di bawah).

ESOFAGITIS EROSIF

Dari 7 penelitian (4 studi case-control, 2 studi cross-

sectional, dan 1 studi kohort), berdasarkan kalkulasi


rasio peluang dari 4 case control dan 2 penelitian cross-sectional tanpa 1 studi kohort, rasio peluang

yang tidak dikelompokan dari esofagitis yang


berhubungan dengan BMI 25 kg/m2 atau lebih adalah 1,7 kali lipat lebih besar dari esofagitis yang

berhubungan dengan BMI kurang dari 25 kg/m2 (rasio


peluang yang tidak dikelompokkan terhitung 1.8)

Tabel 2. Karakteristik Penelitian Obesitas dan Esofagitis Erosif

ESOFAGITIS EROSIF

4 penelitian dikelompokkan menurut faktor tambahan yang

potensial. Salah satu penelitian menemukan bahwa


hubungan antara obesitas dengan esofagitis erosif kehilangan signifikansi statistik setelah pengelompokan

menurut hiatal hernia. Kami memperkirakan dari 4 penelitian


ini bahwa penyesuaian untuk variabel tambahan menurunkan rasio peluang sebanyak 0,16.

Sedangkan rasio peluang yang telah disesuaikan pada 6


penelitian adalah 1,76. (Gambar 2)

Gambar 2. Rasio peluang yang telah dikelompokkan dari studi case-control dan cross-sectional yang memeriksa hubungan antara berat badan berlebih atau obesitas (BMI > 25 kg/m2) dengan esofagitis erosif.

BARRETT ESOFAGUS

Tidak ada penelitian yang melaporkan hubungan antara Barrett esofagus dengan obesitas yang memenuhi pilihan kriteria pada tinjauan ini.

ADENOKARSINOMA

Dari 9 studi case control, 8 studi memeriksa sampel yang berbasis populasi dan 1 studi memeriksa sampel berbasis rumah sakit.

4 penelitian memeriksa adenokarsinoma esofagus sebagai kategori yang terpisah dari adenokarsinoma kardia gaster.

1 penelitian mengeluarkan kanker kardia gaster dari kategori, namun mungkin mengikutsertakan kanker gastroesofageal junction ke dalam kategori.
2 penelitian mengkombinasi data untuk adenokarsinoma esofagus dengan kardia gaster. 2 penelitian dari China hanya mengikutsertakan kasus adenokarsinoma kardia gaster.

ADENOKARSINOMA

Karena penurunan BB yang drastis pada penderita

kanker perlu diperhatikan, hampir seluruh penelitian


mencantumkan informasi dari riwayat berat badan terdahulu.

Di antara 3 penelitian yang mengumpulkan beberapa


riwayat BB dan TB, hubungan antara BMI pada berbagai titik patokan waktu yang berbeda dan risiko untuk adenokarsinoma tidak berbeda secara signifikan menurut statistik.

ADENOKARSINOMA ESOFAGUS

Pada tinjauan ini, terdapat 7 penelitian yang memeriksa

hubungan antara obesitas dengan adenokarsinoma


esofagus.

Berdasarkan penghitungan rasio peluang yang tidak dikelompokkan menurut variabel apapun, risiko terjadinya adenokarsinoma esofagus = 2.1 kali lipat

lebih tinggi pada seseorang dengan BMI 25 kg/m2 atau


lebih daripada orang dengan BB normal.

Tabel 3. Karakteristik 9 Penelitian Indeks Massa Tubuh & Adenokarsinoma Esofagus atau Kardia Gaster

ADENOKARSINOMA ESOFAGUS

Seluruh penelitian yang dikelompokkan menurut umur dan

jenis kelamin ditemukan tidak memberi efek yang signifikan


terhadap hubungan antara obesitas dengan adenokarsinoma esofagus.

Pengelompokan terhadap ras, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, asupan kalori, adanya riwayat refluks sebelumnya, atau tingkat pendidikan, tidak mengubah signifikansi statistik

atau arah dari hubungan antara obesitas dengan


adenokarsinoma esofagus.

ADENOKARSINOMA ESOFAGUS

Rasio peluang yang dikelompokkan untuk BMI 25

kg/m2 atau lebih = 2.02

Terdapat kecenderungan bahwa meningkatnya BMI sejalan dengan meningkatnya rasio peluang yang dikelompokkan menurut faktor di atas, dimana:

Rasio peluang untuk BMI 25 30 kg/m = 1.52 Rasio peluang untuk BMI lebih dari 30 kg/m2 = 2.78

Gambar 3. Rasio peluang yang telah dikelompokkan dari studi case-control yang memeriksa hubungan antara berat badan berlebih (BMI 25 kg/m2) dengan adenokarsinoma esofagus (di atas) dan hubungan antara obesitas (BMI > 30 kg/m2) dengan adenokarsinoma esofagus (di bawah).

Gambar Appendix 1. Rasio peluang yang tidak dikelompokkan untuk risiko dari gejala gastroesofageal reflux disease (GERD) di antara berat badan berlebih (di atas) dan obesitas (di bawah) versus individu dengan berat badan yang normal.

Gambar Appendix 2. Rasio peluang yang tidak dikelompokkan dari studi case-control dan cross-sectional yang meneliti risiko untuk terjadinya esofagitis erosif di antara individu dengan berat badan berlebih (BMI 25 kg/m2) versus individu dengan berat badan yang normal (BMI < 25 kg/m2)

Gambar Appendix 3. Rasio peluang yang tidak dikelompokkan (95% CIs) dari studi case-control yang meneliti hubungan antara berat badan berlebih atau obesitas (BMI 25 kg/m2) dengan adenokarsinoma esofagus atau kardia gaster.

ADENOKARSINOMA KARDIA GASTER

Pada tinjauan ini, terdapat 6 penelitian memeriksa hubungan

antara obesitas dengan adenokarsinoma kardia gaster. 4 dari 6


penelitian tersebut menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik.

Rasio peluang yang tidak dikelompokkan terhitung 1.5.


Sedangkan rasio peluang yang dikelompokkan terhitung 1.68 (CI, 1.197 sampai 2.351; P = 0.003).

ADENOKARSINOMA KARDIA GASTER

Berikut adalah pengelompokan kategori berat badan pada

tinjauan penelitian ini:

Berat badan normal = indeks massa tubuh (BMI) kurang dari 25 kg/m2 untuk seluruh penelitian, kecuali pada penelitian oleh Locke dan koleganya (BMI < 24 kg/m2).

Berat badan berlebih = BMI antara 25 30 kg/m2 untuk seluruh


penelitian, kecuali untuk penelitian Locke dan koleganya (BMI 24 30 kg/m2) dan penelitian Wu dan koleganya (BMI 25 28 kg/m2).

Obesitas = BMI lebih dari 30 kg/m2 untuk seluruh penelitian, kecuali penelitian Wu dan koleganya (BMI > 28 kg/m2).

Literatur ini memeriksa korelasi antara indeks massa tubuh dengan penyakit yang berhubungan dengan asam

di esofagus.

Risiko antara gejala-gejala GERD, esofagitis erosif, atau

adenokarsinoma esofagus lebih meningkat pada pasien


dengan obesitas, dibanding pada pasien dengan indeks massa tubuh yang normal.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa indeks massa tubuh tidak memiliki hubungan yang positif maupun negatif secara signifikan terhadap kontrol kanker. Hubungan antara obesitas dengan adenokarsinoma kardia gaster, didapatkan tidak konsisten.

Pada penelitian lain didapatkan hipotesis bahwa selain


obesitas, jumlah dan jenis asupan makanan, terutama lemak, juga ikut bertanggung jawab dalam terjadinya GERD.

Tujuh penelitian pada tinjauan ini memeriksa asupan kalori


total dan asupan makanan serat (buah-buahan dan sayuran) atau makronutrien dan mikronutrien lainnya. Secara

keseluruhan, efek BMI pada penyakit yang berhubungan


dengan GERD tidak bergantung dari asupan diet. Bahkan, seluruh penelitian tidak menemukan hubungan yang konsisten

antara asupan makanan berlemak dengan GERD atau


adenokarsinoma esofagus.

Kemungkinan lainnya pada pasien obesitas mungkin


memiliki peningkatan risiko untuk terjadinya hiatal hernia, yang mana memiliki peran dalam memulai dan menyebabkan GERD. Namun hubungan ini masih dalam perdebatan. Dalam tinjauan ini, 3 penelitian memeriksa secara spesifik hubungan hiatal hernia terhadap obesitas dengan GERD atau esofagitis, diantara lain :

Penelitian pertama menunjukkan bahwa hiatal hernia adalah


salah satu mekanisme yang dapat mengarahkan obesitas menuju ke esofagitis.

Pada penelitian lainnya tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara BMI dan hiatal hernia. Obesitas tetap menjadi faktor risiko yang independen terhadap esofagitis ringan versus berat.

Faktor humoral juga dipikirkan sebagai salah satu mekanisme yang menghubungkan obesitas dengan refluks dan adenokarsinoma esofagus, seperti pada tinjauan tersebut kemungkinan asosiasi antara obesitas dan GERD mungkin di mediasi oleh estrogen. Beberapa penelitian dilakukan untuk mengobservasi hubungan tersebut, diantaranya :

Penelitian pertama melaporkan hubungan yang signifikan secara statistik antara obesitas dan esofagitis pada wanita, yang mana dicetuskan oleh penggunaan estrogen pada wanita post-menopause.
Penelitian kedua menemukan wanita dengan obesitas memiliki peningkatan risiko terjadinya gejala GERD dibandingkan pria dengan obesitas dan risiko tertinggi terdapat pada wanita pre-menopause dan post-menopause yang menerima terapi estrogen. Penelitian lain melaporkan bahwa wanita dengan berat badan berlebih yang berumur lebih tua dari 70 tahun adalah satu-satunya kelompok yang memiliki peningkatan risiko yang signifikan secara statistik untuk esofagitis.

Dan beberapa penelitian lainnya telah menemukan bahwa peningkatan risiko terkait obesitas terhadap penyakit esofagus tidak dipengaruhi atau pun dimodifikasi oleh jenis kelamin.

Beberapa bukti lainnya menyatakan bahwa perubahan berat badan juga mempengaruhi risiko GERD dan komplikasinya. Peningkatan berat badan lebih dari 3.5 kg/m2 berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya gejala refluks sebanyak 2.7 kali lipat.

Di lain pihak, meskipun penurunan berat badan sering direkomendasi sebagai tolak ukur terapeutik pada penyakit refluks, penelitian penelitian memberikan hasil yang masih diperdebatkan mengenai kemajuannya. Namun sampai saat

ini saran untuk penurunan berat badan dapat membantu


meredakan gejala GERD tersebut.