Anda di halaman 1dari 4

Laporan Tugas Mandiri

Nama NPM Judul

: Chandra Dwi Prakoso : 1206212445 : Tahap Perkembangan Kelompok

Sumber : Modul MPKT A, http://yennywisang.files.wordpress.com/2011/08/group-development.png

Saat kita membicarakan suatu kelompok, kita tidak akan terlepas dari tahap-tahap dan bagaimana kelompok berkembang. Menurut Tuckman( dalam ) kelompok tumbuh dan berkembang melalui serangkaian tahapan mulai dari tahapan forming ( pembentukan ), storming (goncangan), norming (pembentukan norma), peforming ( melakukan atau melaksanakan ), adjourning (penangguhan) .

Pada tiap tahapan memiliki karakteristik yang berbeda dan berpengaruh pada tahapan yang lainnya.Tahapan tahapannya ialah:

Tahap Pembentukan (forming) Memiliki karakteristik besarnya ketidakpastian atas tujuan, struktur, dan kepemimpinan kelmpok tersebut. Para anggotanya menguji anggota lainnya untuk menentukan jenis jenis perilaku yang dapat diterima. Tahap ini selesai ketika para anggotanya mulai menganggap diri mereka sebagai bagian dari kelompok. Secara ringkas: 1. Tahap awal dimana tujuan, struktur dan kepemimpinan belum jelas. 2. Fokus aktivitas ditekankan pada penetapan sasaran, peran dan tugas anggota. 3. Pola interaksi masih belum terbentuk secara optimal. 4. Makin beragam suatu anggota kelompok, makin sulit terjalinnya proses pembentukan.

Tahap Timbulnya Konflik (Strorming) Satu dari konflik intrakelompok. Para anggotanya menerima keberadaan kelompok tersebut, tetapi terdapat penolakan terhadap batasan batasan yang diterapkan kelompok tersebut terhadap setiap individu. Lebih jauh lagi, terdapat konflik atas siapa yang akan mengendalikan kelompok tersebut. Ketika tahap ini selesai, terdapat sebuah hierarki yang relatif kelas atas kepemimpinan dalam kelompok tersebut. Secara ringkas: 1. Tahap dimana munculnya konflik dan konfrontasi antar anggota 2. Sasaran kelompok mulai ditetapkan.

3. Anggota yang tidak setuju memungkinkan untuk mundur. 4. Jika konflik tidak diatasi, dapat menghambat tahap selanjutnya.

Tahap Normalisasi Tahap ketiga ini adalah tahap di mana hubungan yang dekat terbentuk dan kelompok tersebut menunjukkan kekohesifan. Dalam tahap ini terdapat sebuah rasa yang kuat akan identitas kelompok dan persahabatan. Tahap normalisasi (norming stage) ini selesai ketika struktur kelompok tersebut menjadi solid dan

kelompok telah mengasimilasi serangkaian ekspektasi definisi yang benar atas perilaku anggota. Secara ringkas: 1. Mulai terjalin kerjasama dan koordinasi antar anggota. 2. Munculnya group cohesiveness. 3. Komunikasi secara terbuka, interaksi yang cukup signifikan dan usaha untuk mencapai tujuan kelompok. 4. Norma kelompok mulai terbentuk.

Tahap Performing (Berkinerja) Pada titik ini struktur telah sepenuhnya fungsional dan diterima. Energi kelompok telah berpindah dari saling mengenal dan memahami menjadi mengerjakan tugas yang ada. Secara ringkas: 1. Kelompok mulai berfungsi secara penuh. 2. Struktur kelompok mulai terbentuk. 3. Peran anggota mulai berfungsi sesuai dengan fungsinya.

Tahap Adjourning Stage (Pembubaran) Untuk kelompok kelompok kerja yang permanen, berkinerja adalah tahap terakhir dalam perkembangan mereka. Tetapi, untuk komisi, tim, angkatan tugas sementara, dan kelompok - kelompok kerja yang mempunyai tugas yang terbatas untuk dilakukan, terdapat tahap pembubaran. Dalam tahap ini, kelompok tersebut mempersiapkan diri untuk pembubarannya. Kinerja tugas yang tinggi tidak lagi menjadi prioritas tertinggi kelompok. Sebagai gantinya, perhatian diarahkan untuk menyelesaikan aktivitas aktivitas. Respons dari anggota kelompok dalam tahap ini bervariasi. Beberapa merasa gembira, bersenang senang dalam persahabatan dan pertemanan yang didapatkan selama kehidupan kelompok kerja tersebut. Secara ringkas: 1. Berakhirnya aktivitas kelompok karena tugas kelompok yang telah tercapai.

2. Anggota kelompok biasanya menunjukkan rasa emosional seperti perasaan kehilangan, kecewa atau marah.

Kebanyakan orang yang menginterprestasikan model lima tahap tersebut berasumsi bahwa sebuah kelompok menjadi semakin efektif seiring kelompok tersebut bergerak melalui empat tahap. Meskipun asumsi ini mungkin secara benar, apa yang membuat sebuah kelompok efektif adalah lebih kompleks dari yang dikenali oleh model ini? Di bawah kondisi tertentu, konflik tingkat tinggi mungkin baik untuk kinerja kelompok yang tinggi. Jadi kita dapat mengharap untuk menemukan situasi di mana kelompok kelompok itu dalam tahap II berpenampilan lebih baik dibandingkan mereka yang berada pada Tahap III dan IV. Dengan cara serupa, kelompok kelompok tidak selalu beproses dengan jelas dari satu tahap ke tahap selanjutnya. Terkadang, pada kenyataannya, beberapa tahapan berjalan pada waktu yang bersamaan, seperti kelompok yang mengalami konflik dan tampilan waktu yang sama. Bahkan suatu kelompok terkadang mundur ke tahap sebelumnya. Jadi, pendukung yang paling kuat dari model ini sekalipun tidak mengasumsikan bahwa semua kelompok mengikuti proses lima tahap secara tepat atau bahwa tahap IV selalu yang paling diinginkan.

Masalah lainnya dari model lima tahap, terkait pemahaman perilaku yang berhubungan dengan pekerjaan, adalah penelitian atas awak kokpit dalam sebuah pesawat terbang menemukan bahwa, dalam 10 menit, tiga orang yang tidak saling mengenal yang ditugaskan untuk terbang bersama untuk pertama kali menjadi sebuah kelompok yang sangat cepat ini adalah konteks organisasional yang kuat yang melingkupi tugas dari awak kokpit. Konteks ini memberikan atauran, definisi tugas, informasi, dan sumber sumber daya yang diperlukan bagi kelompok tersebut untuk tampil. Mereka tidak butuh untuk mengembangkan sumber daya, memecahkan konflik, dan menentukan norma norma seperti yang diramalkan model lima tahap.