Anda di halaman 1dari 24

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pertumbuhan dan perkembangan orokraniofasial pascanatal yang normal
1. Pertumbuhan rahang
a. Mandibula
Mandibula terdiri dari 2 tulang yang simetris yang berfusi pada midline di
area simfisis. Tulangnya berbentuk L dan pada bagian paling superior terdapat
kondylus yang berartikulasi dengan glenoid fossa dari tulang temporal.
Dari lahir sampai selesai masa pertumbuhan, mandibula tampak tumbuh
dalam arah downward dan forward. Padahal sebenarnya mandibula tumbuh dalam
arah backward dan upward. Pada penelitian ditemukan pembentukan tulang baru di
border posterior ramus yang disertai dengan resorpsi di border anterior. Selain itu
juga ditemukan deposisi tulang di puncak prosesus alveolar yang menyebabkan
pertambahan tinggi badan mandibular. Aktivitas kondylus juga menghasilkan
pertumbuhan upward mandibula. J adi pertumbuhan vertikal mandibula adalah hasil
dari aktivitas kondylus, pertumbuhan vertikal prosesus alveolar hanya memberi
pengaruh sedikit dan hanya pada badan mandibula.
Setelah umur 2-4 tahun, korpus mandibula bertambah panjangnya terutama
dalam arah posterior bersamaan dengan terjadinya resorpsi sepanjang ramus yang
membesar. Hal ini menyebabkan tersedianya ruangan untuk erupsi molar.
Sehubungan dengan peningkatan panjang lengkung di posterior terjadi
pendorongan badan mandibula ke arah midline. Terbentuk tuberositas lingual di
area molar untuk menjaga molar dalam garis lurus. Pergerakan ke lingual terjadi
karena deposisi tulang di regio tersebut.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

5

Gambar 1. Perkembangan Mandibula

Ramus tumbuh backward dan upward dan outward. Aspek labial dari tepi
bawah mandibula bergerak outward. Aspek lingual dari tepi bawah mandibula
bergerak inward kecuali pada bagian molar yang bergerak outward sehingga
menciptakan tuberositas lingual. Titik dagu bergerak outward dan regio
intercanine di atas titik dagu bergerak inward.

b. Regio nasomaksilaris
Regio nasomaksilaris meliputi lengkung maksila, prosesus palatinus, area
premaksila, prosesus zigomatik, regio nasal, sinus maksila, dan dasar orbit. Pada
maksila ada 4 sutura yaitu sutura frontomaksilaris, zigomatik temporal,
pterigopalatin, zigomatik maksilari. Sutura-sutura ini letaknya oblik dan sejajar
satu sama lainnya.
Selama pertumbuhan, daerah yang paling aktif mengalami deposisi tulang
dan mengalami elongasi adalah:
Posterior tuberositas maksila yang mengalami pertumbuhan ke posterior
Margin alveolar yang mengalami pertumbuhan ke arah vertikal
Badan maksila termasuk sutura yang mengalami pertumbuhan ke arah
vertikal dan horizontal karena sutura terletak oblik

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

6
Hasilnya adalah pergerakan downward dan forward dari regio nasomaksila.
Pergerakan forward adalah hasil dari pertumbuhan backward dari tuberositas
maksila yang karena terdapat dasar kranial yang stabil menghasilkan pergerakkan
yang berlawanan dengan pertumbuhannya. Pergerakan downward adalah hasil dari
pertumbuhan sutura dan margin alveolar dan palatum.
Selama pergerakan ini, terjadi remodeling pada tulang untuk
mempertahankan posisi dan proporsionalitas. Selain palatum, orbit juga mangalami
remodeling. Karena pergerakan dari maksila, maka orbit bergerak ke inferior.
Tetapi mata adalah organ yang statis sejak lahir sehingga tidak perlu penambahan
ruang. Untuk mengatasi penambahan ruang akibat pergerakan inferior orbit yang
tidak diperlukan ini maka dasar orbit bergerak ke superior akibat aposisi tulang.
Zigoma mengalami pertumbuhan backward dan vertikal karena deposisi
tulang pada posterior & inferior border dan resorpsi di anterior prosesus
zigomatik. Tetapi karena cekat dengan regio maksilari zigoma akan bergerak ke
anterior dan vertikal seperti pertumbuhan regio nasomaksilaris.
Apa yang menyebabkan regio nasomaksilaris bergerak forward dan
downward. Ada 3 penjelasan untuk menjawab hal ini. Yang pertama mengatakan
bahwa pertumbuhan ini adalah akibat pertumbuhan sutura. Tetapi penjelasan ini
tidak disetujui oleh beberapa peneliti karena sutura zigomaticotemporal tumbuh ke
arah anterior posterior, dan sutura frontomaksilaris tumbuh dalam arah vertikal
saja. J adi pertumbuhan sutura ini tidak dianggap mewakili pergerakan forward dan
downward.
Yang kedua mengatakan pertumbuhan ini adalah akibat penyesuaian
kebutuhan fungsional dari jaringan di sekitar maksila seperti untuk pernafasan.
Yang terakhir mengatakan pertumbuhan ini adalah hasil dari peran kartilago
septum nasal. Septum ini terdiri dari kartilago pada masa awal pertumbuhannya.
Oleh karena itu, hal ini memungkinkan pertumbuhan interstitial dan ekspansi
akibat adanya tekanan. Ekspansi dari bagian septum ini akan menggerakan tulang
fasial menjauhi dasar kranial . Lempeng kartilago yang terletak vertikal memberi
tekanan yang menyebabkan tulang terpisah dan pembentukan tulang pada sutura
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

7
secara pasif akan berfungsi untuk mempertahankan tulang berkontak dan
memperbesar mereka secara linear.
Pertumbuhan maksila dan mandibula merupakan suatu pergerakan yang
sinkron sehingga hubungan antara tulang ini dan gigi tetap konstan selama hidup.
Kemungkinan dari koordinasi ini adalah pertumbuhan dasar kranial horizontal dan
vertikal sebanding dengan pertumbuhan horizontal dan vertikal dari mandibula dan
regio nasomaksilaris.
10


Gambar 2. Arah Perkembangan Maksila

B. Erupsi gigi-geligi
Saat insisif pertama tumbuh di rongga mulut, gigi biasanya tidak dalam posisi
yang benar. Tetapi dengan adanya tekanan dari bibir dan lidah, posisinya dapat
menjadi posisi normal. Sekitar 50% anak menunjukkan celah fisiologis pada gigi
anteriornya di usia 4-5 tahun, sebagai akibat dari perkembangan rahang dan
persiapan untuk tumbuhnya gigi permanen.
11
Adapun usia gigi erupsi
12
adalah
sebagai berikut :






Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

8
Tabel 1. Erupsi gigi sulung dan permanen
Rahang Gigi Waktu erupsi
Gigi sulung Maksila





Mandibula




Insisif sentral
Insisif lateral
Kaninus
Premolar
Molar

Insisif sentral
Insisif lateral
Kaninus
Premolar
Molar
7 bulan
9 bulan
18 bulan
14 bulan
24 bulan

6 bulan
7 bulan
16 bulan
12 bulan
20 bulan
Gigi permanen Maksila







Mandibula






Insisif sentral
Insisif lateral
Kaninus
Premolar pertama
Premolar kedua
Molar pertama
Molar kedua

Insisif sentral
Insisif lateral
Kaninus
Premolar pertama
Premolar kedua
Molar pertama
Molar kedua

7-8 tahun
8-9 tahun
11-12 tahun
10-11 tahun
10-12 tahun
6-7 tahun
12-13 tahun

6-7 tahun
7-8 tahun
9-10 tahun
10-12 tahun
11-12 tahun
6-7 tahun
11-13 tahun




Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

9
Tabel 2. Usia dimana lima puluh persen anak mengalami erupsi gigi permanen
Perempuan Laki-laki Usia
(thn)
Maksila Mandibula Maksila Mandibula
6

7
8
9
10

11

12

Molar pertama

Insisif sentral
Insisif lateral

Premolar pertama

Kaninus
Premolar kedua
Molar kedua

Insisif sentral
Molar pertama
Insisif lateral


Kaninus
Premolar pertama
Premolar kedua

Molar kedua
Molar pertama

Insisif sentral
Insisif lateral

Premolar pertama

Premolar kedua

Kaninus
Molar kedua
Insisif sentral
Molar pertama

Insisif lateral



Kaninus
Premolar pertama
Premolar kedua
Molar kedua

Tabel 3. Usia dimana lima puluh persen anak mengalami kehilangan gigi
Usia (thn) Maksila Mandibula
6
7
8
9
10

11


Insisif sentral
Insisif lateral
Molar pertama


Kaninus
Molar kedua
Insisif sentral
Insisif lateral

Molar pertama
Kaninus
Molar kedua

C. Oklusi
Oklusi berasal dari kata occlude yang berarti menutup. J adi oklusi dapat
diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada maksila dan mandibula berkontak
saat mulut menutup. Menurut Klineberg, oklusi adalah hubungan biologik yang
dinamis dari seluruh komponen sistem mastikasi dalam keadaan permukaan gigi atas
dan bawah berkontak pada saat berfungsi dan tidak berfungsi, misalnya integrasi
fungsi otot rahang, sendi, dan gigi geligi.
13

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

10
Oklusi normal adalah hasil pertumbuhan dan perkembangan organ pengunyahan
yang merupakan hal kompleks dan meliputi interdigitas normal gigi-geligi, fungsi
normal otot-otot serta hubungan normal dan harmonis dari sendi rahang.
14
Sementara
menurut Retno Hayati (2001) oklusi dikatakan normal jika susunan gigi dalam
lengkung geligi teratur baik dan terdapat hubungan yang harmonis antara gigi atas
dengan gigi bawah, hubungan seimbang antara gigi dan tulang rahang terhadap
tulang tengkorak dan otot di sekitarnya, serta ada keseimbangan fungsional sehingga
memberikan estetika yang baik.
15
Adapun menurut Foster (2001) oklusi statis adalah hubungan atau kontak yang
statis antara gigi rahang atas dengan rahang bawah. Oklusi fungsional merupakan
gerak dinamis dari rahang bawah sehingga terjadi kontak dengan rahang atas saat
sedang melakukan fungsi tertentu seperti mengunyah, berbicara dsb.
16
Oklusi yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor yang juga saling
mempengaruhi satu sama lain, yaitu :
1. Pertumbuhan dan perkembangan yang baik dari alat-alat pengunyah
2. Integritas (hubungan) yang normal dari gigi-geligi
3. Fungsi yang normal dari otot-otot
4. Hubungan yang normal dari TMJ
17

Oklusi sentral (centric occlusion) adalah hubungan yang harmonis antara cusp
dan incline plane dari gigi maksila dan mandibula saat rahang menutup dan kondylus
terletak wajar di bagian paling belakang cekungan sendi. Relasi sentrik adalah posisi
yang sentral atau wajar dari mandibula apabila permukaan antero-superior dari
kondylus saat berkontak dengan cekungan dari diskus artikularis.


Gambar 3. Oklusi normal
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

11
Oklusi normal adalah hubungan dari gigi-geligi yang memberikan fungsi secara
ideal. Untuk memperoleh hubungan tersebut diatas, atau sering pula dikatakan untuk
memperoleh oklusi normal, maka diperlukan beberapa syarat, yaitu:
1. Tiap tiap lengkung gigi harus merupakan suatu kurva berbentuk parabola
2. Lengkung gigi atas harus lebih besar dari lengkung gigi bawah
3. Dalam lengkung gigi, tiap-tiap gigi harus mempunyai titik kontak
4. Permukaan labial dan bukal dari gigi atas letaknya menumpang pada gigi
bawah, jaraknya disebut overjet. Permukaan gigi atas selalu lebih keluar dari
gigi bawah
5. Gigi atas berukuran lebih besar dari gigi bawah.
6. Mesiobukal cusp molar satu atas (M1 atas) terletak di bukal groove M1
bawah. Distobukal cusp M1 atas terletak di antara M1 dan M2 bawah.
Mesiolingual cusp M1 atas terletak pada central fossa M1 bawah.
7. Gigi P dan C atas interlock dengan jarak antar gigi antagonisnya
8. Gigi I1 atas ukurannya lebih besar dari insisive bawah. Tidak hanya menutupi
I1 bawah tapi juga setengah dari gigi I2 bawah. Gigi I2 atas menutupi
setengah dari I2 bawah dan inklinasi mesial dari gigi C bawah.
9. Tiap-tiap gigi atas beradu dengan 2 gigi bawah kecuali gigi M3 atas yang
hanya beradu dengan M3 bawah.
10. Tiap gigi bawah beradu dengan 2 gigi atas kecuali gigi I1 bawah yang hanya
beradu dengan gigi I1 atas.
11. Gigi I atas menutupi gigi I bawah antara sampai 1/3 panjang mahkotanya.
12. Bukal cusp dari gigi-gigi bawah mulai dari caninus terus ke belakang akan
menunjukkan bahwa tiap inklinasi distobukal beradu dengan inklinasi
mesiolingual dari gigi atas, sedangkan tiap inklinasi mesiobukal beradu
dengan inklinasi distolingual dari gigi atas.
13. Lingual cusp dari gigi P dan M atas berada diantara bukal dan lingual cusp
dari gigi P dan M bawah.
J adi, dapat disimpulkan bahwa oklusi yang normal terdiri dari :
- Hubungan yang normal antar gigi-geligi
- Fungsi yang normal dari otot-otot
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

12
- Relasi yang normal dari TMJ
17

Bishara et al (2001) mengevaluasi perubahan oklusi dari gigi sulung ke gigi
permanen pada 121 anak usia 8 -13 tahun. Hasil studinya adalah anak dengan flush
terminal plane relationship pada masa gigi sulung memiliki kemungkinan 56% akan
berkembang menjadi relasi molar kelas I dan 44% menjadi relasi molar kelas II pada
masa gigi permamennya. Pada anak dengan distal step relationship akan berkembang
menjadi relasi molar kelas II pada gigi permanennya. Sedangkan pada mesial step
relationship, terdapat kemungkinan yang besar untuk menjadi relasi molar kelas I
atau III dan kemungkinan kecil kelas II.
18


Gambar 4. Terminal plane relationship antara permukaan distal mandibula dan maksila molar kedua.
A, Flush terminal planes. B, Mesial step. C, Distal step
18

D. Maloklusi
1. Definisi Maloklusi
Menurut Moyers (1973), maloklusi merupakan suatu keadaan kedudukan gigi-
geligi yang menyimpang dari oklusi normal.
17
Menurut definisi Salzmann (1957),
maloklusi adalah susunan gigi dalam lengkung gigi, atau hubungan geligi dalam
suatu susunan lengkung gigi dengan gigi antagonis, yang tidak sesuai dengan
morfologi yang normal pada kompleks maksilo dentofasial.
12
Menurut Houston
(1990), maloklusi adalah ketidakteraturan oklusi diluar ambang normal dan cerminan
dari variasi biologi.
1

Berdasarkan penelitian di US yang dilaporkan oleh Proffit (2000), sebesar 35 %
populasi memiliki oklusi normal. Sementara itu, sebanyak 65% mengalami
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

13
maloklusi, dengan proporsi 5% memiliki penyebab yang diketahui dan 60%
maloklusi dengan penyebab kompleks dari kombinasi faktor lingkungan dan
herediter yang tidak diketahui pasti detail kombinasinya.
19
Berdasarkan penelitian di Amerika yang dilaporkan oleh Bishara (2001),
diketahui bahwa total frekuensi maloklusi memiliki rentang 46% sampai 87%
dengan rata-rata adalah sebesar 66,7%. Frekuensi maloklusi kelas I memiliki
persentase sebesar 28-72% dengan rata-rata 45,8%, frekuensi maloklusi kelas II
memiliki persentase sebesar 6,6-29% dengan dengan rerata 18%, dan frekuensi
maloklusi kelas III memiliki persentase sebesar 1-9,4 % dengan rata-rata 3%.
18
Selain itu, berdasarkan laporan penelitian-penelitian oleh Proffit (1993) yang
dilakukan di beberapa tempat di Amerika Serikat, ternyata gigi berjejal adalah yang
paling sering terlihat pada maloklusi.
20
Adapun berdasarkan penelitian Trie Erri
Astoeti dkk (2003) dilaporkan bahwa 51,6 % murid-murid kelas 4-6 SD di DKI
J akarta menderita gigi berjejal.
4

2. Etiologi Maloklusi
a. Etiologi Primer
1. Sistem Neuromuskular
Sistem neuromuskular memegang peranan utama dalam etiologi dan
maloklusi karena adanya efek dari kontraksi refleks terhadap tulang rangka
dan gigi-geligi. Pola kontraksi yang tidak seimbang hampir terdapat pada
semua maloklusi.
Tulang. Karena tulang-tulang dari wajah (khususnya tulang maksila dan
mandibula) menjadi basis dari lengkung rahang maka adanya gangguan
dalam morfologi atau pertumbuhan dapat mengganggu hubungan oklusi dan
fungsi. Kebanyakan dari maloklusi yang serius dihasilkan oleh
ketidakseimbangan rangka kraniofasial.
2. Gigi
Gigi dapat menjadi salah satu tempat utama dalam etiologi dan kelainan
bentuk dentofasial dalam banyak cara. Adanya variasi dalam ukuran, bentuk,
jumlah atau posisi gigi dapat menyebabkan maloklusi. Malposisi juga dapat
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

14
menyebabkan malfungsi karena malfungsi secara tidak langsung dapat
mengganggu pertumbuhan tulang, salah satu masalah paling sering terjadi
adalah ukuran gigi yang terlalu besar untuk lengkung rahangnya atau
lengkung rahang terlalu kecil untuk giginya.
3. Gangguan pada jaringan lunak ( tidak termasuk otot), seperti : penyakit
periodontal, loss of attachment, dan varietas lesi jaringan lunak.
17


b. Waktu
1. Periode terjadinya penyebab maloklusi penyebab dapat terjadi secara
terus menerus (kontinyu) atau hilang muncul (intermitten).
2. Waktu / usia ketika penyebab itu terjadi.

c. Penyebab Klinis
1. Herediter
a) Aspek genetik dalam pertumbuhan tulang kraniofasial. Contoh:
sindrom kraniofasial.
b) Aspek genetik pada gigi geligi dan perkembangan oklusal. Contoh :
tidak adanya gigi (absence of teeth).
2. Gangguan tumbuh kembang
Dapat terjadi karena faktor idiopatik seperti : mikrognatia, facial cleft,
oligodontia, dan anodontia.
3. Trauma
a. prenatal trauma dan cedera pada masa kelahiran
- Lutut atau kaki yang tidak simetris dapat menekan wajah sehingga
menyebabkan pertumbuhan muka yang asimetris atau retardasi
perkembangan mandibula.
-Tekanan intrauterine pada masa kehamilan dapat menyebabkan
hipoplasia mandibula.
b. Trauma post natal
- Fraktur rahang dan gigi
- Kebiasaan yang menyebabkan mikrotrauma
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

15
- Trauma TMJ
4. Agen Fisik
a. Ektraksi prematurp gigi sulung
b. Konsumsi makanan dengan kadar serat tinggi
Konsumsi makanan dengan kadar serat tinggi dapat membantu kerja
otot-otot mastikasi dan juga non-kariogenik
5. Kebiasaan Buruk Oral
Kebiasaan buruk oral yang abnormal sering dihubungkan dengan
gangguan pertumbuhan rahang, malposisi gigi, gangguan pernafasan,
kesulitan dalam berbicara, ketidakseimbangan otot wajah, dan masalah
psikologis. Kebisaaan kebiasaan tersebut diantaranya:
a. Thumb sucking and finger sucking
b. Tongue thrusting
c. Lip sucking and lip biting
d. Nail biting
e. Other habits
6. Penyakit
a. penyakit sistemik
Penyakit dapat menyebabkan kerugian bagi perkembangan tubuh. Hal
ini tergantung kepada :
1. Daya tahan tubuh seseorang ( resistance)
2. Kehebatan dan keganasan dari penyakit (intensity and severity)
3. Lamanya penyakit tersebut diderita (duration)
4. Waktu dan usia saat penyakit itu berkembang
Suatu infeksi kronis atau akut dapat menguunggu pertumbuhan dan
perkembangan gigi jika penyakit tersebut menyerang seseorang yang
sedang dalam masa pembentukan gigi. Akibatnya dapat terjadi kelainan
struktur, morfologi, ukuran dan bentuk gigi geligi.
Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan maloklusi antara lain :
1. Cerebral Palsy
2. Congenital syphilis
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

16
3. Rubella ( German measles)
4. Febrile disease
b. Gangguan endokrin
Defisiensi dan disfungsi kelenjar endorin dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan tubuh kita. Defisiensi endokrin
mempengaruhi pembentukan dan erupsi gigi serta kesehatan jaringan
lunak mulut.
c. Penyakit lokal
d. Malnutrisi
Malnutrisi tidak secara langsung menjadi penyebab maloklusi. J ika
malnutrisi terjadi pada saat pembentukan gigi, dapat mempengaruhi
kualitas gigi tersebut.
17

3. Klasifikasi Maloklusi
Klasifikasi Edward Angle dan Martin Dewey
12
a. Kelas I

Gambar 5. Maloklusi kelas I

Maloklusi kelas I terjadi dimana terdapat hubungan normal anteroposterior
antara maksila dan mandibula. Ciri-cirinya :
- Gigi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang
- Ujung kaninus atas berada pada bidang vertikal yang sama seperti
ujung distal kaninus bawah
- Tonjol mesiobukal dari M1 atas beroklusi dengan alur (groove) bukal
dari M1 bawah tetap
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

17
- J ika insisif berada pada inklinasi yang tepat, overjet insisal adalah
3mm
Maloklusi sendiri dapat terjadi karena adanya gigi yang mengalami
misalignment, malposisi di tulang, dan terjadi protrusi dentoalveolar. Maloklusi kelas
I ditandai dengan hubungan rahang normal (ortognati), profil skeletal lurus.
21

The Dewey-Anderson modification of Angles classification
12
1. Kelas I tipe 1 Gigi-gigi anterior mengalami crowding karena adanya insisif
yang berotasi dan tidak ada ruang untuk caninus dan premolar
2. Kelas I tipe 2 Pada insisif rahang atas terdapat ruang dikarenakan oral habit
yang buruk (menghisap jari) dan gigi mengalami kecenderungan untuk
fraktur
3. Kelas I tipe 3 Satu atau lebih insisif rahang atas lingual terkunci karena
crossbite
4. Kelas I tipe 4 Menunjukkan adanya posterior crossbite. Biasanya crossbite
yang meliputi satu rahang dapat dikerjakan oleh dokter gigi umum kecuali
pada crossbite bilateral posterior
5. Kelas I tipe 5 Terlihat hampir seperti Kelas I tipe 1 hanya berbeda dalam
etiologinya, yaitu awalnya gigi mempunyai cukup ruang tapi terjadi drifting
karena adanya pencabutan (seperti pencabutan M1).

b. Kelas II

Gambar 6. Maloklusi kelas II

Terdapat hubungan distal dari mandibula ke maksila. Ditandai dengan
lengkung gigi bawah terletak lebih ke posterior daripada lengkung atas
(retrognati), serta profil skeletal cembung. Pada maloklusi kelas II dapat terjadi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

18
retrognati mandibula, protrusi maksila atau keduanya. Maloklusi kelas II dapat
disebut juga sebagai hubungan postnatal. Maloklusi kelas II dikelompokkan
menjadi 3 divisi :
- Divisi I. Gigi insisif sentral atas mengalami proklinasi (kemiringan anterior
ke labial) dan overjet besar.
- Divisi II. Gigi insisif sentral atas mengalami retrusi dan overbite insisal
yang besar sedangkan gigi insisif sentral atas mengalami retrusi dan overbite
insisal yang besar sedangkan gigi insisif lateralnya dapat mengalami
proklinasi atau retroklinasi.
- Subdivisi. Bila distooklusi hanya terjadi pada satu rahang.

c. Kelas III

Gambar 7. Maloklusi kelas III

Lengkung gigi bawah terletak lebih anterior dalam hubungannya dengan
lengkung gigi atas. Dibagi menjadi 2 yaitu :
- Kelas 3 postural gerak menutup translokasi kearah depan dari mandibula
menuju ke hubungan kelas 3.
- Kelas 3 sejati rahang bawah berpindah daru posisi istirahat ke oklusi kelas
3 pada saat penutupan normal.
Selain berdasarkan klasifikasi Angle, maloklusi juga dapat diklasifikasikan
berdasarkan evaluasi hubungan rahang secara horizontal dan vertikal mencakup :
gigitan terbuka, gigitan dalam, gigitan silang, gigi berjejal dan lain-lain.
12






Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

19
E. PERILAKU
Menurut Blum (1974), status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting, yaitu keturunan, lingkungan (fisik
maupun sosial budaya), perilaku dan pelayanan kesehatan. Dari keempat faktor
tersebut perilaku memegang peranan penting dalam mempengaruhi status kesehatan
gigi dan mulut secara langsung, perilaku dapat mempengaruhi faktor lingkungan
maupun pelayanan kesehatan.
18

1. Definisi
Perilaku merupakan hasil segala macam pengalaman dan interaksi manusia
dengan lingkungannya. Wujudnya dapat berupa pengetahuan, sikap dan tindakan.
5
Perilaku manusia cenderung bersifat menyeluruh (holistik) dan pada dasarnya terdiri
dari sudut pandang psikologi, fisiologi dan sosial. Namun ketiga sudut pandang ini
sulit dibedakan pengaruh dan peranannya terhadap pembentukan perilaku manusia.
(Notoatmodjo dkk, 1994).
22
Menurut Robert Kwick (1974), perilaku diartikan sebagai tindakan atau
perbuatan suatu organisme yang dapat diamati atau dipelajari. Menurut Ensiklopedia
Amerika, perilaku adalah suatu aksi atau reaksi organisme terhadap lingkungan. J adi,
perilaku dapat muncul jika ada rangsangan lebih dulu.

Perilaku manusia merupakan pencerminan berbagai unsur kejiwaan yang
mencakup hasrat, sikap, reaksi, rasa takut atau cemas dan sebagainya. Oleh karena
itu perilaku manusia dipengaruhi atau terbentuk dari faktor-faktor yang ada di dalam
diri manusia atau unsur kejiwaan. Namun demikian faktor lingkungan merupakan
faktor yang berperan serta dalam mengembangkan perilaku manusia.
Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik alamiah dan lingkungan sosial/budaya.
Lingkungan fisik adalah lingkungan geografi yaitu lingkungan tempat tinggal
manusia dengan segala tantangan hidup yang harus dihadapinya. Lingkungan
sosial/budaya mempunyai pengaruh dominan terhadap pembentukan perilaku
manusia. Termasuk lingkungan sosial/budaya adalah sosial ekonomi, sarana dan
prasarana sosial, pendidikan, tradisi, kepercayaan, religi dan sebagainya.

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

20
Perilaku mulai terbentuk dari pengetahuan atau ranah kognitif. Subjek atau
individu mengetahui adanya rangsangan yang berupa materi atau objek diluar
dirinya, kemudian terbentuk pengetahuan.

Terdapat dua jenis perilaku berdasarkan respon, yaitu :
a. Perilaku pasif
Merupakan respon internal yang terjadi didalam diri manusia dan tidak dapat
diobservasi secara langsung oleh orang lain. Misalnya cara berpikir, pengetahuan dan
sikap seseorang. Contoh : seseorang memilki pengetahuan bahwa menyikat gigi yang
baik adalah dua kali sehari, namun dia tidak melakukan hal tersebut, hanya sebatas
memiliki pengetahuan itu.
b. Perilaku aktif
Merupakan tindakan nyata (respon eksternal), yaitu jika perilaku tersebut dapat
diamati dan diobservasi secara langsung oleh orang lain. Perilaku aktif disebut juga
Covert behavior. Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan
dengan kesehatan. Terdapat tiga klasifikasi yaitu :
1) Perilaku kesehatan ( Health behavior )
Segala hal yang berhubungan dengan tindakan atau tindakan seseorang dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan, termasuk didalamnya adalah
mencegah penyakit. Misalnya : mencuci tangan sebelum makan.
2) Perilaku sakit ( Illness behavior )
Merupakan segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu untuk
merasakan dan mencari tahu lebih jauh mengenai sakit yang dialaminya.
3) Perilaku peran sakit ( the sick role behavior)
Merupakan segala hal yang berhubungan dengan tindakan yang dilakukan
oleh individu sakit untuk memperoleh kesembuhan. Proses pembentukan
perilaku dipengaruhi oleh 2 faktor :
- genetik konsepsi dasar/modal untuk perkembangan perilaku
- Lingkungan merupakan kondisi/lahan untuk perkembangan
perilaku
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

21
Mekanisme pertemuan kedua faktor diatas dinamakan proses belajar (learning
process).
4


2. Anak Usia 6-12 tahun
a. Perubahan kognitif
Menurut White (1970), anak di usia 5-7 tahun mengalami reorganisasi pada
system saraf pusatnya, dimana sang anak mengalami peningkatan kemampuan
dalam hal menaruh perhatian akan problem-problem yang dihadapinya dan juga
adanya penunjukan sikap rajin terhadap tugas-tugas yang diberikan.
Usia 6-12 tahun merupakan usia sekolah dimana anak menjadi literate, yaitu
mampu membaca dan menulis. Setelah mencapai usia 12 tahun, umumnya anak-
anak sudah bisa menggunakan grammar dan syntax, dan mampu berkomunikasi
secara oral dan tertulis dengan baik. Bahkan pada beberapa negara, di usia ini anak
sudah fasih dalam bahasa keduanya (second language).
Pada usia 6-12 tahun (7-12 tahun menurut Piaget), anak sudah mengerti
konstanta panjang, massa, berat, ukuran dan berat. Relativitas juga sudah dapat
dimengerti oleh anak. sebagai contoh, bagi anak usia 4 tahun gelap diartikan
sebagai hitam. Sedangkan anak usia 10 tahun sudah dapat membicarakan tentang
mobil berwarna hijau gelap. Saat mencapai usia 12 tahun, pikiran dan mental
anak mengalami pendewasaan, sehingga sudah mampu mengasimilasi hal-hal
nyata dan juga informasi abstrak.

b. Perubahan emosional
Anak di usia ini mampu menerima norma-norma dalam bertingkah laku.
Mereka sudah dapat mengisi kebosanan mereka dengan melakukan hal-hal yang
mereka sukai. Pada usia 12 tahun mereka sudah mampu mengatur daftar prioritas
mereka. Pada usia ini pula, mereka mulai mementingkan penampilan luar (body
image). Sebagai contoh, gigi kecoklat-coklatan tidak mengganggu anak-anak usia 6
tahun. Namun bila hal ini tedapat pada anak usia 12 tahun, mereka mulai merasa
tidak percaya diri, malu untuk tertawa yang memperlihatkan gigi-gigi mereka.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

22
Anak dengan rentang usia 6-12 tahun paling merasakan kepuasan emosional
bila mereka diterima oleh suatu kelompok sepermainan (peers group). Tidak
merasa diterima, sering diejek, dapat sangat merusak emosi mereka. Peranan orang
tua, guru dan role model lainnya sangat membantu anak dalam menghadapi
masalah tersebut. Kemampuan anak untuk mengatasi dan memulihkan diri dari
rasa malu, frustasi, rasa kehilangan dan ketidakpuasan diharapkan mulai tumbuh
pada rentang usia ini. Menurut Finn bila hal ini tidak terjadi maka dapat
membahayakan masa remaja mereka.
11

c. Perubahan sosial
Sekolah memegang peranan yang sangat penting pada usia ini, dimana anak
menemukan dunia luar yang baru selain dari lingkungan rumahnya. Mereka
memiliki rasa antusias yang tinggi di awal-awal masa sekolah, namun semakin
menurun di tahun-tahun berikutnya.
Peer group yang mereka ikuti juga sangat berpengaruh bagi kehidupan
mereka. Ada saatnya timbul konflik batin manakala peer group mereka
bertentangan dengan orang tua ataupun guru. Di satu sisi mereka ingin tetap
berpegangan pada orang tua dan guru mereka, namun di sisi lain mereka juga tidak
mau tidak diterima lagi oleh teman-temannya. Oleh karena itu, penting bagi orang
tua untuk mengerti adanya konflik-konflik semacam itu dan bagaimana kuatnya
tekanan peer group bagi anak-anak di usia ini. Hal lain yang menandakan usia ini
adalah adanya suatu pertemanan yang lebih bermakna dan stabil. Biasanya mereka
berteman dengan jenis kelamin yang sama. Selain itu adanya kecenderungan
mereka memilih teman dengan tingkat ekonomi, hobi, kegemaran, dan tingkat
kedewasaan yang sama.
24

E. KEBIASAAN BURUK ORAL
Menurut Roth (1976), kebiasaan buruk oral merupakan penyimpangan aktivitas
oral dan sekitarnya yang bersifat kontinyu, yang merupakan salah satu faktor
lingkungan penyebab maloklusi.
25

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

23
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Gildasya dkk (2006) pada 92 anak
penghuni Yayasan Bahtera Bandung usia 6-12 tahun, dilaporkan bahwa sekitar 50%
anak memiliki kebiasaan buruk oral, dengan proporsi kebiasaan menghisap ibu jari
43,8%, menggigit atau menghisap bibir 34,8%, tongue thrusting 8,7%, menggigit
kuku serta mouth breathing masing-masing 6,52%.
26

Menurut Viken Sassouni (1971), maloklusi yang umumnya ditemukan pada
orang dengan kebiasaan buruk oral adalah maloklusi yang ditandai dengan adanya
open bite dengan atau tanpa protrusi gigi.
27
Klasifikasi kebiasaan buruk oral yang
digunakan adalah sebagai berikut:
a. Bernafas melalui mulut (mouth breathing)
11

Bernafas melalui mulut dapat diklasifikasikan menjadi tiga :
Obstruktif Anak yang punya gangguan dalam menghirup udara melalui
saluran hidung ( nasal passage)
Habitual disebabkan karena kebiasaan meskipun gangguan yang
abnormal sudah dihilangkan
Anatomical Bila anatomi bibir atas/bawah pendek sehingga tidak dapat
mengatup sempurna tanpa ada usaha untuk menutupnya.
Gangguan bernafas melalui hidung dapat disebabkan karena :
1. Hypertrophy
Hypertrophy pada turbinates yang disebabkan karena alergi, iklim panas,
dan kering dan polusi udara.
2. Penyimpangan septum nasalis
Penyimpangan septum nasi yang memblok aliran udara hidung
3. Pembesaran adenoid
Anak yang mouth breathing biasanya berwajah sempit, gigi anterior atas maju
ke arah labial, dan bibir terbuka dengan bibir bawah yang terletak di belakang insisif
atas. Karena kurangnya stimulasi muskular normal dari lidah dan karena adanya
tekanan berlebih pada kaninus dan daerah molar sulung oleh otot orbicularis oris
maka dan buccinator, maka segmen bukal dari maksila berkontraksi mengakibatkan
maksila berbentuk V dan palatal yang tinggi,
11,19
sehingga menurut beberapa
pendapat mouth breathers cenderung memberikan klinis memiliki wajah yang
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

24
panjang (long-faced) dan sempit.

Bila hal ini dilakukan terus-menerus dapat
mengakibatkan kelainan berupa gigi depan rahang atas bisa meronggos (protusif) dan
gigitan depan menjadi terbuka (open bite)
28
, maksila berbentuk V dengan permukaan
palatal yang tinggi.
11,19

b. Kebiasaan menghisap ibu jari.
Menghisap ibu jari merupakan kebiasaan yang umum pada anak. Berdasarkan
penelitian yang dilaporkan Raymond (1985), terdapat 50% anak usia 1 tahun yang
memiliki kebiasaan ini, pada usia 6 tahun sebanyak 15-20% yang mempertahankan
kebiasaan, dan pada usia 9-14 tahun hanya terdapat 5% yang masih memiliki
kebiasaan tersebut.
10
Menurut Viken (1971), anak biasanya menghentikan kebiasaan
menghisap ibu jari pada usia 4-6 tahun, sementara sebagian lainnya meneruskan
kebiasaan tersebut sampai usia 12 hingga 15 tahun.
27

Kebiasaan menghisap ibu jari yang berkepanjangan dapat menyebabkan
maloklusi. Menurut Proffit (2000), pada umumnya kebiasaan menghisap ibu jari jika
dilakukan pada usia masa gigi sulung tidak akan memberikan dampak yang
berkepanjangan. Namun, jika kebiasaan tersebut bertahan sampai gigi permanen
mulai erupsi, dapat memberikan dampak maloklusi dengan karakteristik gigi insisif
bawah yang malposisi ke lingual, open bite anterior
29
, insisif maksila yang memiliki
diastema, dan rahang atas yang sempit. Warren dan Bishara (2002) juga memberikan
pendapat yang serupa, yaitu kebiasaan menghisap akan menyebabkan open bite,
overjet besar, oklusi distal, dan posterior crossbite
30
.

Proffit (2000) juga menambahkan, karakteristik maloklusi berhubungan dengan
adanya kombinasi tekanan langsung dari ibu jari dan perubahan pola tekanan pipi

bibir. Ibu jari akan memberikan tekanan yang mendorong insisif bawah ke arah
lingual dan insisif atas ke arah labial.
19,28,31
Selain itu, bentuk rahang akan
terpengaruh dengan perubahan keseimbangan tekanan pipi dan lidah. J ika ibu jari
ditempatkan diantara gigi, lidah akan terposisi lebih rendah sehingga tekanan pada
lingual gigi posterior atas akan menurun. Pada saat yang sama, tekanan pipi ke gigi
akan meningkat karena kontraksi otot buccinator selama menghisap. Tekanan pipi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

25
pada sudut mulut merupakan yang tertinggi, sehingga memberikan risiko lengkung
maksila menjadi berbentuk V, dengan konstriksi pada lengkung kaninus.

Tingkat efek kebiasaan buruk ini terhadap gigi geligi juga bergantung pada
frekuensi, durasi dan intensitas kebiasaan buruk Berdasarkan penelitian Proffit
(2000), anak dengan kebiasaan menghisap ibu jari dengan frekuensi lebih sering
namun dengan periode yang pendek akan kurang memberikan tanda maloklusi yang
signifikan dibanding dengan anak yang menghisap ibu jari pada rentang waktu yang
cukup lama meski hanya sekali dalam sehari, seperti ketika tidur malam.
19

Selain itu, menurut Raymond (1985), orang tua sebaiknya mengetahui bahwa
penghentian kebiasaan buruk ini harus dilakukan ketika anak berusia 4-5 tahun,
tepatnya sebelum erupsi gigi insisif maksila permanen. J ika kebiasaan ini dihentikan,
tidak ada efek yang terjadi pada susunan gigi geligi maupun erupsi gigi
permanen.
10,19
Hal serupa juga didukung oleh studi yang dilakukan oleh Lindsten et
al (1996) yang menyatakan bahwa maloklusi yang ireversibel dapat terjadi pada anak
dengan kebiasaan menghisap yang berkelanjutan sampai melebihi usia 4 tahun.
32
Lebih lanjut, Raymond (1985) mengatakan akan terjadi self-correct pada gigi geligi
jika anak menghentikan kebiasaan buruknya pada usia 8-10 tahun. Kebiasaan ini
dapat menyebabkan deformasi prosesus alveolaris dan misalignment pada gigi yang
langsung terkena tekanan ibu jari, proklinasi gigi anterior maksila yang mengalami
tekanan dari ibu jari, dan ini merupakan klinis dari maloklusi kelas II skeletal.
10


c. Kebiasaan Mendorong Lidah (tongue thrusting)
Menurut Straub (1960), kebiasaan mendorong lidah dapat disebabkan bottle-
feeding yang tidak tepat dan biasanya disertai dengan kebiasaan buruk lain seperti,
kebiasaan menghisap ibu jari, menggigit bibir dan menggigit kuku. Berdasarkan
penelitian Rogers (1961), dilaporkan sebanyak 56,9% dari 290 anak usia sekolah
memiliki kebiasaan mendorong lidah. Adapun penelitian penelitian Ballard (1963),
dilaporkan bahwa di Inggris sebanyak 80% dari populasi tidak dapat
mempertahankan oral seal anterior dengan otot fasial relaks atau istirahat dan
tongue-thrusting merupakan reaksi adaptif menutup oral seal anterior dan membantu
penelanan.
27

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

26
Sementara itu, menurut Gellin (1979), pada keadaan normal, anak menelan
dengan gigi dalam oklusi, kedua bibir tertutup dan lidah menahan pada palatum
dibelakang gigi anterior.

Berdasarkan penelitian beliau di Amerika (1979), pada
97% bayi yang baru lahir akan memiliki kebiasaan buruk lidah, prevalensi kebiasaan
lidah sebesar 80 % pada usia 5-6 tahun dan 3 % pada usia 12 tahun. J ika kebiasaan
ini terus berlanjut akan menyebabkan open bite atau incomplite overbite, serta ujung
lidah terposisi lebih anterior dari normal. Hal ini dapat mengakibatkan lidah tertahan
dibelakang gigi anterior atas dan lama kelamaan akan menyebabkan diastema pada
gigi-gigi anterior atas.
33

d. Kebiasaan Menggigit Benda
Kebiasaan menggigit benda yang akan diangkat pada penelitian ini adalah :
- Menggigit kuku ( nail biting).
Merupakan kebiasaan buruk oral dimana posisi ujung kuku berada diantara
insisal gigi insisif atas dan bawah dan dengan penekanan gigi pada bagian kuku
tersebut. Menurut Finn (1971) dan Alexander (1990) menggigit kuku
merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh anak dan orang dewasa.
11,34
Lebih lanjut Finn (1971) mengatakan, kebiasaan menggigit kuku adalah
kebiasaan normal yang berkembang pada anak yang sebelumnya memiliki
kebiasaan menghisap.
11
Selain itu, menurut Alexander dan Lane (1990),
etiologi menggigit kuku disebabkan karena stress, imitasi terhadap anggota
keluarga, herediter, tranfer dari kebiasaan menghisap ibu jari, dan kuku jari
yang tidak rapi.
34
Laporan hasil studi Finn menyatakan bahwa sekitar 80% individu adalah
nail-biters.
11
Sementara penelitian yang dilaporkan oleh Alexander dan Lane
(1990) di Amerika, sebanyak 28%-33% anak usia 7-10 dan 45% orang dewasa
adalah nail-biters.
34
Berdasarkan penelitian yang dilaporkan Viken (1971),
insidens kebiasaan menggigit kuku adalah nol pada usia dibawah 3 tahun, lalu
meningkat drastis pada pada usia 4-6 tahun, selanjutnya konstan pada usia 7-10
tahun, dan meningkat kembali sampai pada puncaknya selama pubertas.
27
Pada
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

27
beberapa kasus kebiasaan ini dapat menyebabkan atrisi pada gigi anterior
bawah.
10
- Menggigit jari
Menurut pendapat Proffit, kebiasaan menggigit jari lebih sering dilakukan
pada anak perempuan daripada laki-laki pada usia sekolah. Kebiasaan
menggigit jari atau menggigit benda lain akan menyebabkan worn teeth.
19
- Menggigit bibir. Biasanya yang digigit adalah bibir bawah. J ika bibir
bawah berulang kali digigit dan ditahan di bawah gigi anterior maksila, maka
hasilnya adalah labioversion dari gigi-gigi tersebut, openbite, dan terkadang
linguoversion dari gigi insisif bawah.
29





















Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia