Anda di halaman 1dari 118

1

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM SEDIMENTOGRAFI


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM SEDIMENTOLOGI




















DISUSUN OLEH :
ALOYSIUS ANDRIANTO SAPUTRO
12/330223/TK/39406
KELOMPOK 1

ASISTEN KELOMPOK :
NAJIBATUL ADIBAH



YOGYAKARTA
DESEMBER
2013





2

DAFTAR ISI

Cover 1
Daftar Isi 2
Acara : Pengambilan data lapangan 3
Acara : Ukuran Butir Sedimen 5
Acara : Analisis Bentuk Kerakal 16
Acara : Komposisi Partikel Sedimen 29
Acara : Bentuk Butir Pasir 46
Interpretasi Secara Keseluruhan 59
Kesimpulan 64
Daftar Isi 65




















3

ACARA: PENGAMBILAN DATA LAPANGAN


1. Lokasi
Lokasi administratif berada di Kali Boyong, Dusun Kumendung, Desa
Candi Binangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman , DIY. 250 meter dari
jalan kecamatan Pakem. Sedangkan lokasi astronomisnya 110
0
23,939 E
7
0
39,101 S.

2. Morfologi
Morfologi berupa daerah sungai dengan lembah berbentuk V,
kelerengan tebing timur sekitar 50
0
sampai 60
0
dan tebing barat sekitar 40
0
sampai
56
0
. Arah aliran dari utara ke selatan, kecepatan aliran 0,4-0,5 m/s. Dimensi
sungai lebar 6 meter, tinggi tebing antara 6-8 meter. Sungai memiliki ciri
morfologi berupa point bar, channel bar, dan splay bar.

3. Litologi
Litologi daerah ini berupa sedimen vulkanik, yang pertama berupa
fragmen andesit berukuran kerikil-bongkah, warna abu-abu, ukuran kristal halus
kurang lebih 2mm, tekstur porfiroafanitik, derajat kristalisasi holokristalin, bentuk
kristal subhedral, hubungan antar kristal hipidiomorfik granular, strukturnya
vesikuler. Komposisinya mineral mafik berukuran halus, fenokrisnya plagioklas,
hornblenda, kuarsa, bentuk fragmen angular. Kemudian litologi berupa endapan
pasir berwarna abu-abu, ukuran pasir sedang hingga pasir kasar, komposisinya
kuarsa, hornblenda, feldspar, dan mineral berat.







4

Lokasi pengambilan data pasir dan kerakal LP 1







Lokasi pengambilan data pasir dan kerakal LP 2













Lokasi pengambilan data pasir dan kerakal LP 3









5


ACARA: UKURAN BUTIR SEDIMEN

1. Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah untuk melakukan analisis dan
identifikasi distribusi ukuran butir sedimen dengan metode grafis dan matematis
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses-proses geologi
yang berperan terhadap pembentukan dan deposisi sedimen tersebut berdasarkan
variasi ukuran butirnya.

2. Dasar Teori
Material pembentuk endapan sediment pada prinsipnya dapat
dikelompokan menjadi 2 jenis, yaitu material yang tertransport secara fisik dalam
bentuk padatan sebelum terendapkan (partikel) dan material yang berasal dari
suatu larutan yang terpresipitasi in situ dan tidak tertransport secara fisik sebagai
obyek padatan (kristal). Ukuran diameter partikel sediment memiliki kisaran yang
sangat luas, mulai dari skala micron sampai beberapa meter (Friedman & Sanders,
1978). Berdasarkan Skala Wentworth sedimen dapat dikelompokkan berdasarkan
ukuran butirnya, yakni lempung, lanau, pasir, kerikil, koral (pebble), cobble, dan
batu (boulder). Skala tersebut menunjukkan ukuran standar kelas sedimen dari
fraksi berukuran mikron sampai beberapa mm dengan spektrum yang bersifat
kontinu (Dyer 1986, Davis 1993). Berikut adalah klasifikasi ukuran butir
Wentworth









6




Sumber : http://www-odp.tamu.edu/publications/194_IR/chap_02/c2_f3.htm

Analisa ukuran butir adalah suatu cara atau metode yang digunakan untuk
mengetahui ukuran tiap butiran sedimen.. Dalam analisa ini tercakup beberapa hal
yang biasa dilakukan seperti pengukuran rata-rata, pengukuran sorting atau
standar deviasi, pengukuran skewness dan kurtosis. Masing-masing pengukuran
tersebut mempunyai rumus-rumus yang berbeda dan mempunyai batasan-batasan
untuk menggambarkan keadaan dari butiran yang diamati atau dianalisa. Batasan-
batasan tersebut biasa disebut dengan verbal limit. Kemudian pengolahan data
ukuran butir dapat dibagi menjadi dua yaitu perhitungan parameter statistik secara
grafis dan perhitungan parameter statistik secara matematis. Pengolahan data
ukuran butir tersebut diperlukan atau dapat dimanfaatkan untuk :
a. Mengetahui karakteristik sediment dengan tinjauan statistik
( terutama untuk menentukan tekstur sediment ).
b. Mengetahui ketersediaan partikel dengan ukuran butir tertentu dan
material asalnya.
c. Melakukan korelasi sampel yang berasal dari lingkungan
pengendapan atau unit stratigrafi yang sama.
d. Menentukan agen transportasi dan deposisi.
e. Menentukan proses deposisi akhir ( suspensi, traksi, saltasi, dll )
f. Menentukan lingkungan pengendapan.
( Carver, 1971; Friedman & Sanders, 1978; Leeder, 1982 )

3. Alat dan Bahan

Alat :
1. Alat Splitting yang terbuat dari karton ukuran 20 x 15 cm dengan celah
3mm, sebanyak 2 buah ( digabungkan menjadi satu sehingga membentuk
tanda +)
7

2. Kuas ukuran 1. 1 buah.
3. Plastik sample ukuran 10 x 7 cm. 25 buah.
4. Kertas label.
5. OHP Marker.
6. Kertas HVS
7. Ayakan atau Mesh dengan ukuran 18, 35, 50, 100, 270.
8. Mesin pengayak.
9. Timbangan digital
10. Corong plastik
11. Stopwatch
Bahan :
1. Sampel pasir yang sudah dikeringkan, 1 Kg dari ketiga LP.

4. Langkah Kerja


























1. Sample pasir yang telah diambil dari lapangan dikeringkan
dengan cara dijemur dibawah sinar Matahari selama beberapa
hari. Sesudah kering, jika masih berbentuk gumpalan-gumpalan
partikel, dipisahkan dengan cara diremas atau ditumbuk pelan
2 .Untuk mendapatkan sampel yang cukup mewakili harus
dilakukan splitting terlebih dahulu. Dalam praktikum ini
metode splitting yang dilakukan adalah metode Quartering.
Dilakukan dengan cara sampel pasir dituagkan melalui corong
di atas karton yang disilangkan saling tegak lurus sehingga
sampel akan terbagi menjadi 4 kuadran. 2 kuadran yang
berhadapan disingkirkan, sedangkan dua kuadran lainnya
dicampur kembali. Proses ini diulang-ulang hingga diperoleh
berat sampel yang diinginkan. Secara umum analisis sedimen
untuk pasir sedang dibutuhkan sampel seberat 100 gram.

8

















































3. Seluruh saringan ayakan dibersihkan terlebih dahulu
menggunakan kuas.Kemudiab saringan atau mesh disusun dengan
nomor mesh yang terbesar di bagian bawah semakin ke atas
nomor mesh semakin kecil. Dalam praktikum ini susunan mesh
dari atas ke bawah adalah mesh ukuran 18, 35, 50, 100, 270. Pada
bagian paling bawah dipasang panci alas.
4. Sanpel sedimen dimasukkan ke dalam ayakan/mesh dari saringan
yang paling atas. Setelah ditutup, kemudian mesin dijalankan
selama 7 menit.
5. Butiran sedimen akan terpisah menjadi fraksi-fraksi sesuai
ukurannya. Fraksi butiran diambil dari saringan yang paling atas
sampai yang tertampung pada panci alas dengan cara pasir
dituangkan pada selembar kertas.
6. Tiap-tiap fraksi kemudian ditimbang dan dimasukkan ke dalam
plastik sampel, kemudian diberi label keterangan mesh. Pengolahan
data dan interpretasi dapat dilakukan dari data-data yang telah
didapatkan.

9


5. Pembahasan
Dari data dan perhitungan yang ada di atas maka dapat dibandingkan data
hasil perhitungan grafis dengan data hasil perhitungan matematis, apakah dari
kedua metode tersebut didapatkan hasil nilai mean, median, mode, sortasi,
skewness, dan kurtosis yang relatif sama atau berbeda. Berikut merupakan tabel
perbandingan data grafis dan matematis tiap LP.
Lokas
i
Metode grafis Metode matematis
mea
n
sortas
i
skewnes
s
kurtosi
s
mea
n
sortas
i
skewnes
s
kurtosi
s
LP 1 0,53 1,082 0,2 0,78 1,0 1,15 0,456 2,40
LP 2 1,03 1,31 0,089 0,78 1,52 1,25 0,136 2,18
LP 3 0,55 1,13 0,2 0,68 1,0 1,20 0,39 2,16

Dari tabel perbandingan metode diatas dapat dilihat bahwa median dan
mode dari kedua perhitungan sama besar. Kemudian dilihat dari nilai Mean
terlihat bahwa terdapat perbedaan antara metode grafis dan matematis pada
seluruh data LP, namun selisih angka dari perbedaan tersebut tidak lebih dari 0,5,
oleh karena itu klasifikasi rata-rata ukuran butir masih dalam kelas yang sama
( Dalam Klasifikasi US Standard; Pettijohn et al,1972). Kemudian dilihat dari
nilai satandar deviasi (Sortasi) terlihat bahwa terdapat perbedaan antara metode
grafis dan matematis pada seluruh data LP, namun selisih angka dari perbedaan
tersebut tidak lebih dari 0,2 , sehingga data dari kedua metode tersebut masih
dapat diklasifikasikan dalam satu kelas yang sama. Kemudian dari niai dari
Skewness, terlihat terdapat perbedaan yang tidak terlalu besar, selisih angka dari
perbedaan tersebut tidak lebih dari 0,5. Namun dalam menentukan klasifikasinya
terdapat perbedaan, pada LP 1 dengan metode grafis didapat nilai 0,2 ( fine-
skewed), namun dengan metode matematis didapat nilai 0,456 (very fine-skewed),
pada LP 2 dengan metode grafis didapat nilai 0,089 (near-symmetrical), namun
dengan metode matematis didapat nilai 0,136 (fine-skewed), pada LP 3 dengan
10

metode grafis didapat nilai 0,2 ( fine-skewed), namun dengan metode matematis
didapat nilai 0,39 (very fine-skewed). Kemudian pada nilai Kurtosis, perhitungan
dengan metode grafis dan matematis didapatkan nilai yang perbedaannya ekstrim,
yaitu pada data metode grafis didapatkan nilai kurtosis antara 0,68-0,78
(platykurtic), sedangkan pada data metode matematis didapatkan nilai kurtosis
2,16-2,40 (very leptokurtic).
Perbedaan nilai Mean, Sortasi, Skewness, dan Kurtosisi dari kedua metode
grafis dan matematis tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
- Perbedaan parameter perhitumgan kedua metode tersebut. Yaitu metode
grafis menggunakan parameter kurva dan grafis (Nilai phi dihitung
menggunakan kurva frekuensi), sedangkan dalam metode matematis
menggunakan parameter perhitungan moment (Nilai phi dihitung
menggunakan konsep moments seperti pada mekanika).
- Kesalahan atau error penenetuan nilai phi pada kurva frekuensi (Metode
grafis).Serta kurva yang belum smoothing.
- Pada perhitungan secara grafis data yang digunakan merupakan
perwakilan dari keseluruhan data. Terutama dalam perhitungan Kurtosisi
yang diguanakan adalah data frekuensi 5%,16%,84%,dan 95%. Sehingga
hasilnya berbeda dengan metode matematis yang dihitung menggunakan
rumus dengan semua kelas data.
- Kesalahan pada saat proses pengayakan seperti penimbangan yang kurang
akurat, waktu pengayakan yang kurang lama, partikel pasir lain yang
masih menempel pada mesh.
Untuk itu data yang dapat dikunakan dengan akurat adalah dari data metode
matematis, karena menggunakan perhitungan data secara keseluruhan. Namun
kedua data yang digunakan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing

6. Interpretasi Data
Pengolahan data ukuran butir diperlukan untuk interpreasi dari berbagai
macam faktor yang berpengaruh terhadap proses deposisi sedimen di lokasi
11

pengamatan yaitu Sungai Boyong. Beberapa interpretasi data yang dapat
dilakukan antara lain:
a. Karakteristik sedimen dengan tinjauan statistik (untuk menentukan tekstur
sedimen).
Hal ini dapat ditentukan dari data ukuran butir setiap LP di atas. Yang
pertama adalah karakteristik rata-rata ukuran butir pada daerah ini atau nilai
Mean, menurut teori semakin ke arah hilir sungai maka ukuran butir akan semakin
halus(karena proses erosi saat transportasi), namun dari data yang didapat pada LP
1 rata-rata ukuran butirnya pasir kasar (phi=1,0), kemudian ke arah hilir yaitu LP
2 didapat rata-rata ukuran butir yang sama yaitu pasir kasar dan nilai phi-nya
semakin besar atau ukuran semakin halus(phi=1,52), ke arah hilir lagi yaitu LP 3
didapat rata-rata ukuran butir yang sama yaitu pasir kasar, namun nilai phi-nya
semakin kecil (phi=1), padahal menurut teori nilai phi semakin ke hilir semakin
besar.
Kemudian dari nilai sortasi yang menunjukan tingkat keseragaman butir,
menurut teori sortasi di daerah hulu akan memiliki sortasi yang buruk. Pada LP 1
nilai dari sortasinya adalah 1,15 dan termasuk dalam klasifikasi poorly sorted,
kemudian pada arah hilirnya yaitu LP 2,nilai sortasinya adalah 1,25 dan
termasuk dalam klasifikasi poorly sorted , kemudian pada hilir yaitu LP 3 nilai
dari sortasinya adalah 1,20 dan termasuk dalam klasifikasi poorly sorted. Oleh
karena itu pada daerah STA 1 ini sesuai dengan teori yaitu butiran-butiran
sedimennya tidak tersortasi dengan baik, walaupun nilai standar deviasinya
berbeda-beda.
Kemudian dari nilai Skewness atau nilai kesimetrian kurva.Karena
menurut teori pada daerah hulu didominasi oleh partikel dengan ukuran butir
kasar, maka nilai skewness akan cenderung memuncak ke arah kiri atau bernilai
fine skewed hingga very fine skewed. Pada perhitungan data di atas pada LP 1
didapatkan data Skewness bernilai 0,456 ( very fine-skewed ), pada LP 2
didapatkan data Skewness bernilai 0,136 (fine-skewed ), dan pada LP 3 didapatkan
data Skewness bernilai 0,456 ( very fine-skewed ). Sehingga dapat dikatakan pada
daerah ini (STA 1, Sungai Boyong) didominasi oleh material sedimen dengan
ukuran butir kasar, karena kesimetrian kurva cenderung memuncak ke arah kiri.
12

Kemudian dari nilai Kurtosis atau nilai yang menunjukan kepuncakan
kurva. Menurut teori semakin ke arah hilir maka sortasi material sedimen akan
semakin baik, maka distribusi ukuran butir pun akan semakin baik, hal ini
ditunjukan oleh kurva frekuensi yang semakin mananjak titik puncaknya karena
ukuran butir yang makin didominasi oleh satu ukran butir. Itu artinya di daerah
hulu karena sortasi yang buruk maka titik kepuncakan kurva akan rendah
(platykurtic-very platykurtic). Pada LP 1 didapatkan data kurtosis yang bernilai
2,40 (very-leptokurtic), pada LP 2 didapatkan data kurtosis yang bernilai 2,18
(very-leptokurtic),kemudian pada LP 6 didapatkan data kurtosis yang bernilai 2,16
(very-leptokurtic). Sehingga data di atas tidak sesuai dengan teori bahwa di daerah
hulu didominasi oleh ukuran butir kasar dan semakin ke hilir sortasinya akan
semakin baik. Tetapi melihat dari data metode grafis terlihat bahwa secara
keseluruhan nilai kurtosisnya menunjukan nilai platykurtic-very platykurtic,
sehingga jika menggunakan data metode grafis akan lebih tepat dengan teori.
Tetapi data matematis didapatkan hasil cenderung ke very-leptokurtic, karena
yang digunakan adalah data keseluruhan dan pada daerah tersebut juga didominasi
oleh ukuran butir pasir kasar, walaupun ukuran butir lain juga hampir sama
keterdapatannya.
Dari beberapa analisis dan interpretasi di atas, terdapat beberapa data yang
tidak sesuai dengan teori, seperti nilai sortasi dan mean yang naik di LP 2
kemudian turun pada LP 3, dan nilai skewness yang menurun pada LP 2 dan naik
lagi pada LP 3. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
- Aliran atau arus sungai yang tidak teratur karena kecepatan aliran
sungai yang juga dikontrol oleh DAM.
- Adanya aktivitas penambangan pasir dan batu pada lokasi ini yang
menyebabkan material pasir ada yang terdeposisi bukan secara
alami, melainkan karena faktor lain yaitu penambangan pasir.
- Lokasi pengambilan sampel yang berbeda beda (di pont bar atau di
channel bar)
- Ketersedian partikel dengan ukuran butir tertentu dari material asal
Dilihat dari teori yang ada maka partikel-partikel yang tersedia pada
daerah hulu seperti daerah Sungai Boyong didominasi oleh pasir dengan ukuran
13

butir kasar ke atas, dan populasi dari butiran pasir berukuran halus ke bawah
sedikit atau tidak sedominan pasir kasar.Kemudian dari data distribusi frekuensi
ukuran butir yang telah didapat terlihat bahwa pada ketiga LP ketersediaan
partikel dengan ukuran butir kasar paling banyak yaitu diatas 25%, kemudian
ketersediaan partikel berikutnya adalah partikel dengan ukuran butir sangat kasar
dan pasir sedang yaitu antara 15% sampai 24%, setelah itu ketersediaan pasir
halus hampir sama dengan pasir sedang yaitu sekitar 16% sampai 23%, kemudian
sisanya berupa partikel dengan ukuran butir sangat halus kebawah yaitu dibawah
10%.
- Menentukan agen transportasi dan deposisi
Dilihat dari komposisi material berukuran pasir sedang hingga kasar yang
mendominasi populasi partikel pada daerah ini maka menurut Diagram Hjulstrom
material berukuran pasir kasar hingga pasir sangat kasar terendapkan pada arus
aliran sungai yang sedang yaitu kurang lebih 5 cm/s, karena untuk mendeposisi
material yang ukurannya kasar dibutuhkan energi yang cukup besar sehingga
material berukuran pasir kasar terdeposisi pada kecepatan arus yang lumayan
deras. Sehingga dapat disimpulkan bahwa agen transportasi dan deposisi di daerah
ini merupakan agen aliran air sungai yang cukup deras.

14

Sumber : http://zonageologi.blogspot.com/2012/07/mekanisme-atau-proses-
transportasi.html
- Menentukan proses deposisi akhir
Untuk menentukan proses deposisi akhir, maka kita dapat melihat dari
kurva kumulatif dengan ordinat persen aritmetik yang dibandingkan dengan kurva
frekuensi kumulatif yang menunjukan 4 segmen garis lurus (Visher,1969,dalam
Friedman & Sanders,1978). Dari kumulatif yang menunjukan 4 segmen garis
lurus tersebut dapat terlihat bila untuk skala phi antara 0 hingga 2,5 maka proses
deposisi akhirnya rolling dan sliding, skala phi 2,5 hingga 3,5 5 maka proses
deposisi akhirnya saltasi, skala phi 3,5 hingga 4,5 maka proses deposisi akhirnya
suspensi. Sehingga dengan membandingkan kurva data frekuensi kumulatif ketiga
LP dengan kurva frekuensi kumulatif yang menunjukan 4 segmen garis lurus,
maka dapat disimpulkan bahwa proses deposisi akhir yang dominan pada daerah
ini adalah rolling dan sliding, dan yang mengalami saltasi dan suspensi tidaklah
banyak.
























1
10
100
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Kurva Frekuensi Kumulatif dan Lingkungan
Pengendapannya
LP 1
LP 2
LP 3
15

- Menentukan lingkungan pengendapan
Dari data agen transportasi dan deposisi di atas maka dapat kita tentukan
lingkungannya yaitu lingkungan fluvial dengan arus yang cukup deras. Karena
ditemukan beberapa morfologi daerah fluvial yaitu point bar, channel bar, dan
splay bar
- Menentukan lingkungan pengendapan
Dilihat dari teori yang ada dalam flow regime diagram, di bawah ini :















Sumber : http://www4.uwm.edu/course/geosci697/structures/Flow_Regime.jpg
Dilihat dari data yang telah didapatkan di lapangan yaitu kecepatan aliran
yang berkisar 0,4 m/s dan ukuran material sedimen yang didominasi oleh ukuran
butir pasir kasar. Maka pada daerah ini dilihat dari perbandingan data dan diagram
di atas,tidak terbentuk suatu struktur sediment (No Movement).




16


ACARA: ANALISIS BENTUK KERAKAL

1. Maksud dan tujuan

Maksud dari praktikum ini adalah untuk melakukan identifikasi aspek-
aspek morfologi butiran kerakal yang meliputi bentuk (form), derajat kebolaan
(spherecity) dan derajat kebundaran (roundness), menentukan volume fragmen,
identifikasi bentuk fragmen, menetukan harga sphericity dan roundness.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses-proses geologi
yang berperanan terhadap mekanisme transportasi dan deposisi sedimen tersebut
berdasarkan morfologi butir kerakal, mengetahui yaitu bentuk asal dari batuan
sumber, kompisisi butiran, ukuran butir, proses transportasi, dan jarak
transportasi.

2. Dasar Teori
Untuk mengamati karakteristik kerakal pada lingkungan pengendapan kali
Boyong, STA 1 ini, maka digunakan beberapa aspek morfologi butir agar
praktikan mampu menganalisis tekstur sedimennya yaitu bentuk asal dari batuan
sumber, kompisisi butiran, ukuran butir, proses transportasi, dan jarak
transportasi.
Tekstur sedimen mencakup ukuran butir, bentuk morfologi butir, dan
hubungan antar butirnya. Melalui parameter ukuran butir, dapat diketahui
koefisien sortasi, ditribusi, dan variasi ukuran butir (kurtosis dan skewness).
Berdasarkan hubungan antar butir, dapat diketahui tingkat kompaksi, kemas,
kontak antar butir, dan porositasnya. Sedangkan dari bentuk butir, dapat diketahui
bagaimana proses yang telah berlangsung sehingga merubah bentuk morfologi
butirnya. Menurut Tucker (1991), aspek morfologi butir diklasifikasikan menjadi
bentuk (form), derajat kebolaan (sphericity) dan derajat kebundaran (roundness),
sedangkan Pettijohn (1975) dan Boggs (1992) menyatakan aspek morfologi luar
suatu butir meliputi bentuk (form), kebundaran (roundness) serta tekstur
17

permukaan. Dalam pengamatan kali ini, klasifikasi yang digunakan mengacu
pada aspek morfologi butir yang dikemukakan oleh Tucker (1991)

A. Bentuk butir
Bentuk butir (Form atau shape) merupakan keseluruhan kenampakan
suatu obyek atau partikel secara tiga dimensi yang berkaitan dengan perbandingan
ukuran sumbu panjang (a/sumbu terpanjang), lebar (b/sumbu medium) dan tinggi
(c/sumbu terpendek). Dalam hal ini, Zingg (1935) menyatakan bentuk butir dari
hasil perbandingan anatar nilai b/a serta nilai c/b. klasifikasinya berupa betuk
tabular (oblate/discoidal), bladed (triaxial), equant (equiaxial/spherical) dan
prolate (rod-shaped) yang dimodelkan oleh gambar di bawah ini.










Sumber:http://jhem90.blogspot.com/search/label/teknik%20geologi%20pertamba
ngan?updated-max=2013-05-10T09:25:00-07:00&max-results=20&start=20&by-
date=false

B. Sphericity
Sphericity diartikan sebagai ukuran bagaimana suatu butiran memiliki
kenampakan mendekati bentuk bola, sehingga semakin butiran menyerupai
bentuk bola, maka butiran tersebut mempunyai nilai sphericity yang semakin
tinggi. Selain itu, parameter ini juga menunjukkan perbedaan luas permukaan
objek dengan luas permukaan bola yang volumenya sama dengan volume
objek.Menurut Krumbein (1941), nilai spherecity (intercept spherecity) suatu
18

butiran diukur dengan memperhatikan nilai diameter dari panjang (D
L
), medium
(D
I
) dan pendek (D
S
) yang dihitung dengan persamaan berikut:
3
2
3
1
6
6
L
I S
L
S I L
D
D D
D
D D D
= =
t
t

Sneed & Folk (1958) menganggap bahwa intercept spherecity tidak
menggambarkan perilaku butiran ketika diendapkan sehingga mereka
mengusulkan maximum projection spherecity yaitu:
3
2
I L
S
P
D D
D
=

Berdasarkan perhitungan matematis, Folk (1968) mengklasifikasikan
sphericity menjadi beberapa kelas, yaitu:
< 0.60 : very elongate
0.60 0.63 : elongate
0.63 0.66 : subelongate
0.66 0.69 : intermediate shape
0.69 0.72 : subequent
0.72 0.75 : equent
> 0.75 : very equent


C. Roundness
Roundness merupakan derajat kebundaran dari ujung-ujung partikel
sedimen klastik. Menurut Wadell (1932), roundness merupakan rata-rata aritmatik
roundness masing-masing sudut butiran pada bidang pengukuran, sehingga
dinyatakan dengan persamaan berikut:
RN
r
N
R
r
R
w
) ( E
=
|
.
|

\
|
E
=

Keterangan : r : jari-jari tiap sudut
R : jari-jari maksimum
19

N : jumlah sudut
Setelah itu kita dapat mengklasifikasikan kebundaran partikel tersebut
dengan beberapa tabel visual yaitu :
Tabel visual foto roundness butiran (Power,1953)









Sumber : http://www.obsidianlab.com/terminology.html

Tabel visual roundness secara sketsa (Krumbein, 1941. Panduan Praktikum
Sedimentologi)










3. Alat dan Bahan

A. Alat
- Penggaris
- Pensil
20

- Kamera
- Kalkulator
- Tabel analisa bentuk butir, roundness dan sphericity (Untuk 3 LP)
- OHP Marker
- Tipe-x

B. Bahan
- 75 butir kerakal dengan masing-masing 25 butir kerakal pada tiap lokasi
pengamatan yang berbeda
4. Langkah Kerja

Sampel ukuran butir kerakal
dari Sungai Boyong, STA 1, LP 1
LP 3 , dipersiapkan
Butir kerakal digambar dan
disertai dengan pemotretan
butir kerakal, kemudian
dilakukan pengukuran sumbu
panjang (a), sumbu menengah
(b), dan sumbu pendek (c)
Setelah itu bentuk butir
dianalisa dengan metode Zingg
(1935) berupa perhitungan
matematis nilai b/a serta c/b
Kelas bentuk butir kerakal
ditentukan menggunakan
klasifikasi Zingg (1935)
berdasarkan hasil yang
diperoleh secara matematis.
Nilai sphericity dianalisa
dengan menggunakan
persamaan dari Kruimbein
(1941) dan berdasarkan
persamaan Sneed dan Folk
(1958)
Roundness dianalisa dengan
mengkorelasikan sketsa
gambar dengan kalsifikasi
visual foto oleh Powers (1953)
dan sketsa oleh Krumbein
(1941)
Setelah itu kita dapat
menganalisa dan
meniterpretasi data yang
didapatkan.
21


5. Pembahasan


Dari pemaparan data yang didapatkan dari 75 sampel kerakal dari lokasi
STA 1, Kali Boyong. Maka didapatkan data-data morfologi kerakal yang
mewakili populasi kerakal di lokasi ini berupa bentuk butir, roundness, dan
sphericity yaitu :
A. Bentuk butir
Berdasarkan perhitungan matematis melalui cara Zing dengan
menggunakan perbandingan antara b/a dan c/b dalam pengklasifikasian bentuk
butir, didapatkan data berupa :
Lokasi Equant Prolate Bladed Oblate Total
LP 1 16 7 0 2 25
LP 2 14 7 0 4 25
LP 3 15 2 1 7 25
Total 45 16 1 13 75

Tabel Frekuensi :

Lokasi Equant Prolate Bladed Oblate Total
LP 1 64% 28% 0% 8% 100%
LP 2 56% 28% 0% 16% 100%
LP 3 60% 8% 4% 28% 100%
Total 60% 21,33% 1,33 17,33% 100%

Dari kedua tabel diatas maka dapat diketahui bahwa pada lokasi STA 1 ini
baik LP 1, LP 2, maupun LP 3 didominasi oleh bentuk kerakal yaitu Equant, atau
artinya bentuk kerakal yang mendominasi lokasi ini berbentuk mendekati kubus
ataupun bola. Kemudian bentuk yang mendominasi kedua adalah bentuk kerakal
Prolate ( tetapi pada LP 3 bentuk ini ditemukan tidak terlalu banyak ), kemudian
yang mendominasi ketiga adalah bentuk kerakal Oblate ( walaupun pada LP 3
bentuk ini lebih banyak ditemukan dibandingkan bentuk Prolate ), dan yang
terakhir yaitu bentuk kerakal Bladed yang hanya ditemukan 1 butir pada LP 3.
22


B. Sphericity
Sphericity atau derajat kebolaan dalam hal ini diartikan sebagai ukuran
bagaimana suatu butiran memiliki kenampakan mendekati bentuk bola, pada STA
1, Kali Boyong ini didapatkan nilai Sphericity yang sangat bervariasi.
Perhitungan sphericity ini menggunakan dua rumus yang berbeda yakni rumus
Krumbein dan rumus Sneed & Folk. Perhitungan dengan kedua rumus ini
menghasilkan nilai sphericity yang beragam dan berbeda dari lokasi
pengamatan.Yaitu :
Perhitungan Krumbein
Sphericity LP 1 LP 2 LP 3 Total
Very equent 12 8 13 33
Equent 4 5 1 10
Subequent 6 4 4 14
Intermediet shape 2 4 3 9
Subelongate 0 1 1 2
Elongate 0 1 0 1
Very elongate 1 2 3 6
Tabel Frekuensi

Sphericity LP 1 LP 2 LP 3 Total
Very equent 48% 32% 52% 44%
Equent 16% 20% 4% 13,33%
Subequent 24% 16% 16% 18,67%
Intermediet shape 8% 16% 12% 12%
Subelongate 0% 4% 4% 2,67%
Elongate 0% 4% 0% 1.33%
Very elongate 4% 8% 12% 8%



23


Perhitungan Sneed & Folk
Sphericity LP 1 LP 2 LP 3 Total
Very equent 17 12 12 41
Equent 3 4 1 8
Subequent 3 3 2 8
Intermediet shape 1 1 4 6
Subelongate 0 2 2 4
Elongate 1 2 2 5
Very elongate 0 1 2 3

Tabel Frekuensi

Sphericity LP 1 LP 2 LP 3 Total
Very equent 68% 48% 48% 54,67%
Equent 12% 16% 4% 10,67%
Subequent 12% 12% 8% 10,67%
Intermediet shape 4% 4% 16% 8%
Subelongate 0% 8% 8% 5,33%
Elongate 4% 8% 8% 6.67%
Very elongate 0% 4% 8% 4%


Dari data yang didapatkan melalui dua perhitungan di atas, maka
didapatkan hasil yang berbeda antara kedua data tersebut, tetapi selisih hasil
tersebut tidaklah jauh. Hanya untuk beberapa kerakal ditemukan perbedaan yang
mencolok antara perhitungan dengan rumus Krumbein dan rumus Sneed & Folk,
yaitu hasilnya dapat berbeda 3 kelas ( Namun perbedaan ini hanya sekitar 10%
dari perhitungan 75 kerakal yang dilakukan ), dan perhitungan yang lainnya
terkadang sama dan hanya berbeda 1 kelas saja.


24


Perbandingan kelas sphericity hasil perhitungan Krumbein dan Sneed & Folk
Kelas Sphericity Cara Krumbein Cara Sneed & Folk
Very equent 33 Butir 41 Butir
Equent 10 Butir 8 Butir
Subequent 14 Butir 8 Butir
Intermediet shape 9 Butir 6 Butir
Subelongate 2 Butir 4 Butir
Elongate 1 Butir 5 Butir
Very elongate 6 Butir 3 Butir

Dari tabel di atas, kita dapat mengetahui bahwa sphericity yang paling
banyak adalah very equant. Namun untuk nilai yang lebih mewakili dengan
keadaan sebenarnya di lapangan lebih tepat menggunakan rumus Sneed & Folk,
karena hasilnya lebih cocok jika dibandingkan dengan kerakal secara visual serta
dalam perhitungan Sneed & Folk jumlah kerakal yang Very equant lebih banyak
serta hasilnya relatif terus menurun ke arah Very elongate, sedangkan pada
perhitungan Krumbein kurang relevan karena data yang didapat kurang tepat
dengan kerakal secara visual dan nilainya tidak tentu (naik turun) dari Very equant
ke arah Very elongate. Dalam referensi juga dikatakan bahwa perhitungan Sneed
& Folk lebih akurat karena tepat menggambarkan perilaku butiran ketika
diendapkan.
Selain itu terdapat hubungan antara bentuk dan derajat kebolaan menurut
kurva kesamaan nilai Sphericity , yaitu semakin tinggi nilai Sphericity, (Very
equent), maka morfologi bentuk butir tersebut akan semakin berbentuk Equant.


C. Roundness

Roundness merupakan morfologi butir yang berkaitan dengan ketajaman
pinggir dan sudut suatu partikel sedimen klastik. Dalam praktikum morfologi
butir ini untuk mengetahui roundness, kita tidak perlu menggunakan perhitungan
25

dari Wadell (1932) karena perhitungan ini terlalu rumit dan sulit untuk dilakukan
sehingga kita menggunakan cara membandingkan tabel visual kenampakanantara
kerakal dengan tabel visual secara sketsa (Krumbein, 1941) atau tabel visual foto
Powers (1953). Dari pengamatan sketsa yang dilakukan maka didapatkan hasil :
Tabel tingkat Sphericity
Lokasi High Sphericity Low Sphericity Total
LP 1 7 18 25
LP 2 8 17 25
LP 3 9 16 25
Total 24 51 75

Tabel tingkat Roundness

Lokasi Very
Angula
r
Angula
r
Subang
ular
Subroun
ded
Rounded Well-
Rounded
Total
LP 1 1 12 7 4 1 0 25
LP 2 1 11 7 6 0 0 25
LP 3 3 10 5 6 1 0 25
Total 5 33 19 16 2 0 75

Dari data di atas kita dapat mengklasifikasikan kebundaran suatu partikel
menurut Power (1952), sedangkan untuk klasifikasi menurut Wadell hampir sama
dengan data di atas hanya saja klasifikasi tingkat kebundarannya diganti dengan
nilai roundness.Yaitu :
Interval Kelas
( Wadell, 1932 )
Visual Kelas
( Powers, 1953 )
0,12 0,17 Very Angular
0,17 0,25 Angular
0,25 0,35 Subangular
0,35 0,49 Subrounded
26

0,49 0,70 Rounded
0,70 1,0 Well Rounded
Berdasarkan data diatas, maka didapatkan data kebundaran kerakal pada
lokasi STA 1, Kali Boyong ini yaitu kerakal di daerah ini didominasi oleh bentuk
kebundaran Angular yaitu dengan 33 butir, kemudian Subangular yaitu dengan 16
butir, kemudian Subrounded dengan 16, kemudian Very Angular dengan 5 butir
dan yang terakhir Rounded dengan 1 butir. Dengan demikian bentuk kerakal pada
daerah ini mengarah ke bentuk angular, hal ini sesuai dengan teori bahwa pada
daerah hulu akan banyak ditemukan kerakal yang berbentuk angular, sedangkan
bentuk yang mendekati rounded akan sedikit atau tidak ditemukan sama sekali
pada daerah ini.
Sedangkan untuk tingkat Sphericity menurut perbandingan visual
didominasi oleh Low Sphericity , dengan 51 butir atau lebih dari 50%.Tekstur
sedimen kerakal ini dapat dilihat dari permukaan yang cukup kasar dan tidak
beraturan, menunjukan kerakal belum mengalami tingkat abrasi yang lanjut.

6. Interpretasi
Dari data 75 kerakal yang kita dapatkan, kita dapat melakukan interpretasi
data analisis tekstur sedimen meliputi Bentuk asal dari batuan sumber, komposisi
butiran, ukuran butir, proses transportasi, dan jarak transportasi.

A. Bentuk asal dari Batuan Sumber
Untuk mengetahui bentuk dan kenampakan dari batuan sumber sedimen
atau provenance, maka kita dapat mengacu dan melihat pada analisis morfologi
butir yaitu tingkat Sphericity-nya, hal ini disebabkan oleh tingkat Sphericity atau
derajat kebolaan suatu butiran dan kerakal walaupun ter-abrasi karena proses
transportasi nilai Sphericity akan tetap sama dengan batuan asalnya karena saat
proses transportasi yang ter-abrasi atau terkikis hanyalah pada bagian permukaan
maupun sudut-sudutnya saja sehingga yang berubah adalah nilai roundness-
nya.Sehingga jika melihat dari data diatas yang kita dapatkan pada ketriga lokasi
pengamatan akan didapatkan nilai Sphericity yang bernilai equent hingga very
equent yang sangat dominan, sehingga dapat dikatakan bahwa bentuk dari batuan
27

asal kerakal di lokasi ini adalah batuan yang berbentuk equent hingga very equent
atau berbentuk mendekati persegi atau bersudut (angular).
B. Komposisi Butiran
Dilihat dari komposisi mineral dan litik yang diamati, maka dapat dilihat
beberapa mineral yang resisten maupun mineral yang kurang resisten, Sehingga
dapat disimpulkan komposisi butiran pada batuan asal yang ditemukan adalah
berupa mineral-mineral penyusun batuan beku baik yang resisten maupun yang
kurang resisten, yaitu batuan beku ( Kemungkinan batuan beku andesit hasil dari
erupsi Gunung Merapi ) yang belum ter-abrasi terlalu banyak.

C. Ukuran Butir
Dari ukuran butir pada lokasi ini dapat dilihat bahwa banyak ditemukan
kerakal yang berukuran sedang hingga besar (lebih dari 6cm) dan didominasi
bentuk kebundaran yang angular serta kebulatan yang equent hingga very equent,
hal ini menunjukan material kerakal belum terkikis atau ter-abrasi oleh arus
transportasi dalam intensitas tinggi. Selain itu Makin equant suatu butir, maka
semakin cepat deposisinya, sehingga jika semakin berbentuk bladed, maka
deposisinya semakin lambat. Begitu juga jika semakin equant suatu butir, maka
akan semakin sebentar mengalami transportasi, sehingga akan semakin mudah
terendapkan. Sedangkan jika semakin Bladed, semakin lama untuk tertransportasi.
Hal tersebut terlihat juga pada daerah ini karena ukuran butirnya yang relatif besar
dan bentuknya equant, sehingga deposisi pada daerah ini adalah sedimen
berbentuk equant dan berukuran butir besar dan kasar.

D. Proses Transportasi
Untuk mengetahui proses transportasi yang terjadi pada daerah ini maka
dapat digunakan dari data morfologi yaitu bentuk butir dan sphericity dari terori
yang ada maka jika bentuk butir yang lebih equent, maka butir tersebut
tertransportasi secara menggelinding (rolling) di dasar tubuh air, sehingga cepat
terendapkan akibat adanya kontak dengan bagian dasar (friksi), karena jika
tertransport secara berputar maka bagian yang terabrasi akan menyeluruh ke
semua permukaan sehingga bentuknya akan lebih equant. Jika bentuk butir
28

prolate, maka butir tersebut akan tertransportasi secara saltation yang melompat-
lompat di dalam tubuh air, karena jika tertransport secara acak atau melompat
maka yang akan mengalami abrasi adalah bagian yang intensif ke arah bawah atau
dalam hal ini adalah bagian salah sisi memanjang partikel, sehingga akan
membentuk seperti batang. Jika bentuk butir bladed atau oblate, maka butir
tersebut akan tertransportasi secara traksi atau terseret di dasar tubuh air, karena
jika terserek maka bagian yang ter-abrasi hanyalah satu permukaan saja sehingga
gesekan/friksi semakin berkurang dan akan sulit terendapkan. Sehingga dari data
yang telah didapatkan maka pada daerah ini proses transportasi yang dominan
membawa mateial sedimen daerah ini adalah rolling dan saltation. Dan karena
pada daerah ini ditemukan sedimen dengan ukuran yang cukup besar maka energi
arus pada daerah ini tinggi.

E. Jarak Transportasi
Dengan menggunakan data morfologi butir roundness, kita dapat
mengetahui mengetahui jarak dan lama transportasi. Kerakal pada daerah ini
mengalami transportasi yang cukup jauh dari sumbernya karena didominasi oleh
partikel yang mempunyai darajat kebundaran yang rendah (cenderung
subangular-angular). Hal ini menunjukan bahwa bentuk butir yang cenderung
angular maka sedimen ini belum banyak mengalami abrasi yang tinggi sehingga
belum tertransport jauh dari sumber batuan asal, kemudian tingkat kedewasaan
sedimen termasuk Immature dan terletak pada bagian Hulu.















29

ACARA : KOMPOSISI PARTIKEL SEDIMEN

1. Maksud dan Tujuan
A.Maksud
Melakukan identifikasi partikel penyusun sedimen terutama sedimen
silisiklastik berukuran butir pasir. Serta Mengetahui jenis dan frekuensi mineral
ringan serta mineral berat yang terdapat pada sedimen.
B. Tujuan
Mengetahui proses-proses geologi (Meliputi proses-proses yang terjadi
setelah proses pengendapan, lingkungan pengendapannya serta provenance /
batuan asal). yang berperan terhadap pembentukan dan deposisi sedimen tersebut
berdasarkan komposisi penyusunnya.

2. Dasar Teori

Batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi empat bagian berdasarkan
proses pembentukannnya menurut Tucker (1991). Kelompok pertama merupakan
sedimen silisiklastik (terrigeneus atau epiklastik), yaitu sedimen yang tersusun
oleh fragmen-fragmen yang berasal dari batuan yang telah ada sebelumnya yang
tertransport dan terdeposisi melalui proses fisik. Contoh batuannya adalah
konglomerat, breksi, batupasir dan mudrock. Kelompok kedua adalah sedimen
hasil kegiatan biogenik, biokimia dan organik. Contoh batuannya adalah
batugamping, deposit fosfat batubara dan rijang. Kelompok ketiga adalah sedimen
hasil proses kimiawi, contohnya adalah deposit evaporit dan ironstones.
Kelompok keempat adalah sedimen volkaniklastik yang terbentuk oleh fragmen
batuan hasil aktivitas vulkanik contohnya tuff dan ignimbrit. Dari keempat
kelompok batuan sedimen ini, masing-masing kelompok mempunyai komposisi
partikel sedimen yang berbeda satu dengan yang lain.
Komposisi partikel sedimen pada bergantung pada proses sedimentasi
yang bekerja padanya, meliputi proses erosi batuan asal, proses transportasi,
hingga proses pengendapan. Kemudian sampel diambil dan dianalisis di
30

laboratorium, sehingga diperoleh informasi mengenai komposisi partikel sedimen
yang selanjutnya digunakan untuk menentukan :
Nama sedimen atau batuan sedimen.
Mekanisme pembentukan dan/atau pengendapannya.
Lingkungan pengendapan.
Asal sumber batuan (provenance).
Iklim pada saat sedimen terbentuk.
Informasi komposisi sedimen ini pun berguna untuk keperluan ekonomis
dalam aplikasinya di bidang eksplorasi tambang, minyak dan gas bumi.Dari
komposisi yang diperoleh, akan diketahui pula kelimpahan dari partikel penyusun
sedimen.
Partikel sedimen ini secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua
yakni mineral ringan dan mineral berat. Pengelompokkan ini didasarkan atas berat
jenis dari masing-masing partikel sedimen.

1. Mineral Berat
Mineral berat merupakan mineral aksesoris yang konsentrasinya
biasanya kurang dari 1% pada batuan induk yang tahan terhadap perubahan dan
perusakan akibat proses sedimentasi. Meskipun kecil jumlahnya, mineral berat
sangat berperan dalam studi provenance, proses-proses transportasi dan pelapukan
sedimen serta studi korelasi dan paleogeografi. Bentuk fisik mineral berat
mencerminkan terhadap intensitas abrasinya. Mineral berat mempunyai BJ > 2,9
(2,9 merupakan berat jenis larutan bromoform yang dipakai untuk memisahkan
mineral ringan dari mineral berat).
Mineral berat umumnya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu :
a. Kelompok mineral opak
Kelompok mineral ini mempunyai berat jenis yang sangat tinggi karena
kaya akan kandungan unsur Fe, contohnya berupa magnetit, ilmenit, hematit, dan
pirit.
b. Kelompok mineral ultra-stabil
31

Kelompok mineral ini memiliki kekerasan yang sangat tinggi, sehingga
bisa bertahan meski beberapa kali mengalami reworking, contohnya adalah
zircon, tourmalin, dan rutil.
c. Kelompok mineral meta-stabil.
Kelompok mineral ini memiliki kekerasan yang tidak terlalu tinggi,
sehingga cukup mudah untuk hancur atau teralterasi, contohnya adalah olivin,
apatit, hornblenda, piroksen, garnet, epidot, klinozoisit, dan zoisit.

2.Mineral Ringan
Mineral ringan mempunyai BJ < 2, 9. Yang termasuk dalam kelompok
mineral ringan merupakan mineral-mineral yang cenderung bersifat asam, seperti
feldspar dan kuarsa (BJ =2,6), kelompok mineral mika serta fragmen-fragmen
batuan (litik). Dan merupakan mineral penyusun batuan beku yang sering
ditemukan.

Kemudian kelimpahan masing-masing jenis partikel sedimen ini akan
bergantung pada 2 faktor utama, yaitu faktor internal dan eksternal.Faktor internal
ini adalah faktor yang dipengaruhi oleh kondisi dari partikel sedimen itu sendiri,
yang berupa :
Ketersediaan jenis partikel tersebut pada batuan/daerah asalnya
Durabilitas mekanik partikel, yakni ketahanan terhadap proses abrasi yang
dipengaruhi oleh belahan mineral dan kekerasan mineral/partikel
Stabilitas kimiawi partikel, yakni ketahanan terhadap proses pelarutan baik
selama pelapukan, transportasi deposisi maupun selama proses diagenesis.

Selain itu, faktor eksternal yang mempengaruhi kelimpahan masing-
masing jenis partikel yang terkandung dalam sedimen adalah:
Iklim; pelarutan mineral akan berlangsung lebih intensif pada daerah dengan
iklim yang bersifat panas dan humid/lembab dibandingkan pada daerah dengan
iklim semi arid-arid atau dingin/polar.
Relief daerah asal partikel; mineral yang tidak stabil akan tetap ditemukan pada
sedimen yang partikelnya berasal dari daerah dengan relief tinggi karena selalu
32

ada suplai mineral dari batuan segar walaupun tingkat pelapukannya tinggi,
sedangkan daerah dengan relief rendah, umumnya batuan segarnya telah
tertutup oleh batuan yang lapuk, sehingga hanya mineral yang stabil yang
masih tersisa dan kemudian tertransport.
Proses sedimentasi; seperti adanya benturan pada saat transportasi atau impact,
kemudian faktor hidraulik, seperti mineral berat akan lebih cepat terendapkan
dibandingkan mineral ringan.
Pemanfaatan informasi komposisi partikel sedimen untuk mengetahui
pengaruh dari faktor-faktor seperti di atas dikenal dengan studi provenance.
Untuk melakukan pengamatan dan interpretasi di laboraatorium terlebih dahulu
kita harus menentukan simpangan baku dari jumlah partikel yang ditemukan
menggunakan Diagram Van der Plas
Setelah kita dapatkan data-data jumlah, frejuensi, dan simpangan baku dari
mineral ringan dan mineral berat lokasi STA 1 kali Boyong kita dapat
menganalisa provenance dari sedimen yang terendapkan pada daerah penelitian
serta menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses deposisi
sedimen tersebut. Beberapa contoh aplikasi dan interpretasi data komposisi
partikel sedimen ditunjukkan pada gambar berikut.



(a)










33

Gambar 2 : (a) Komposisi sedimen asal batuan beku plutonik dan batuan
metamorf yang terbentuk di bawah pengaruh iklim yang berbeda (Suttner et
al.,1981 & Basu, , 1985 dalam Tucker, 1991) (b) Komposisi pasir (laut dalam
yang berasal dari kerangka tektonik tertentu (Yerino & Maynard, 1984 dalam
Tucker, 1991)











Gambar 3 : Diagram triangular yang digunakan untuk mengetahui daerah
povenance pasir berdasarkan kmposisi kuarsa, feldspar, dan litiknya.(Dickinson,
1985 dalam Tucker, 1991)
3. Alat dan Bahan

Alat :1. Corong gelas
2. Gelas kimia atau tabung erlenmeyer
3. Kertas saring
4. Pengaduk gelas
5. Mikroskop binokuler
6. Plate
7. Jarum pentul
8. Plastik sampel
9.Sarung tangan
10.Masker
11.Tabel data perhitungan
12.OHP marker
34

13. Alat tulis

Bahan :1. Sampel sedimen yang telah diayak (Ukuran mesh 50)
2. Larutan Bromoform
3. Larutan alkohol
4. Air

4. Cara Kerja

a. Tahap persiapan pengamatan partikel

















Sampel sedimen yang akan dianalisa
dimasukkan ke dalam gelas kimia dan
kemudian dicampurkan dengan larutan
bromoform dan diaduk secara merata.
Kemudian ditunggu beberapa menit
hingga mineral berat mengendap di
bagian bawah gelas dan mineral ringan
terapung pada larutan
Pisahkan mineral ringan dengan mineral
berat dengan menuangkan mineral ringan
ke dalam kertas saring yang telah
disiapkan di atas gelas kimia lainnya.
Setelah semua mineral ringan
dipindahkan, masukkan mineral berat
ke dalam kertas saring. Keringkan
kedua jenis mineral tersebut dan bilas
dengan alkohol, kemudian dengan air.
Gunakan sisa larutan bromoform yang
telah disaring untuk memisahkan
mineral berat dan ringan. Ulangi hal-hal
tersebut di atas hingga seluruh sampel
dipisahkan
35

b. Tahap pengamatan dan pengolahan data


5. Pembahasan

Dari data STA 1 diatas maka didapatkan beberapa data yaitu mineral berat
dan mineral ringan per LP yaitu:
a. LP 1
Dari LP 1 ini didapatkan data mineral berat yang dominan berupa
hornblend yaitu total 76 butir, kemudian piroksen 53 butir, olivin 43 butir, dan
yang terakhir lithik 36 butir. Sedangkan mineral berat lainnya hanya muncul
dengan frekuensi yang sedikit yaitu magnetit 22 butir, hematit 17 butir, silimanit 2
butir, dan rutil 1 butir. Sedangkan dari pengamatan mineral ringan didapatkan 4
Partikel mineral berat dan mineral ringan
dari LP 1 LP 3 yang telah dipisahkan diamati
dengan menggunakan mikroskop binokuler
Sampel pada masing-masing LP diamati
sebanyak 10 medan pandang. Total partikel
sedimen yang diamati dari satu sampel
mineral berat/ringan adalah 25 butir untuk
tiap medan pandangnya. Sehingga total
pertikel sedimen yang diamati sebanyak 250
butir tiap LP.
Komposisi dari masing-masing sampel
dianalisa. dan dibedakan tiap-tiap jenisnya,
kemudian dikelompokkan masing-masing jenis
mineral tersebut
Selanjutnya frekuensi dan persentase
mineral-mineral tersebut dihitung untuk
masing-masing sampel. Kemudian ditentukan
nilai simpangan bakunya dengan Van der Plas
chart
Data persentase mineral ringan kemudian
diplot kedalam diagram segitiga QFL, untuk
menentukan lingkungan pengendapan,
iklim pada saat sedimen terbentuk, dan
setting tektonik
Data frekuensi dan persentase mineral
ringan kemudian dibuat histogramnya
untuk analisa provenance dan faktor
lainnya
36

mineral utama yaitu kuarsa 106 butir, lithik 96 butir, feldspar 48 butir dan yang
terakhir mineral mika 3 butir. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa di LP 1
ini untuk mineral berat didominasi hornblend dengan kelimpahan 30% (tidak
terlalu mendominasi, artinya frekuensi mineral relatif sama) dan mineral ringan
didominasi oleh mineral kuarsa.
b. LP 2
Dari LP 2 ini didapatkan data mineral berat yang dominan berupa
hornblend yaitu total 74 butir, kemudian lithik 69 butir, piroksen 65 butir, dan
yang terakhir olivin 42 butir. Sedangkan dari pengamatan mineral ringan
didapatkan 4 mineral utama yaitu kuarsa 94 butir, lithik 107 butir, feldspar 47
butir dan yang terakhir mineral mika 2 butir. Dari data tersebut dapat disimpulkan
bahwa di LP 1 ini untuk mineral berat didominasi hornblend dengan kelimpahan
30% (tidak terlalu mendominasi, artinya frekuensi mineral relatif sama) dan
mineral ringan didominasi oleh lithik.
c. LP 3
Dari LP 3 ini didapatkan data mineral berat yang dominan berupa lithik
yaitu total 102 butir, kemudian magnetit 75 butir, hornblende 57 butir, Sedangkan
mineral berat lainnya hanya muncul dengan frekuensi yang sedikit yaitu hematit
22 butir dan olivin 14 butir. Sedangkan dari pengamatan mineral ringan
didapatkan 4 mineral utama yaitu kuarsa 93 butir, lithik 86 butir, feldspar 59 butir
dan yang terakhir mineral mika 12 butir. Dari data tersebut dapat disimpulkan
bahwa di LP 1 ini untuk mineral berat didominasi magnetit dengan kelimpahan
37% (tidak terlalu mendominasi, artinya frekuensi mineral relatif sama) dan
mineral ringan didominasi oleh kuarsa.
Tabel Mineral Berat Yang Dominan dari seluruh LP
Mineral Jumlah
Hornblend 207
Lithik 207
Piroksen 118
Olivin 99
Magnetit 97
Tabel Mineral Ringan Yang Dominan dari seluruh LP
37

Mineral Jumlah
Kuarsa 290
Lithik 289
Feldspar 154
Mika 17


6. Interpretasi
Interpretasi yang dapat dilakukan oleh praktikan untuk menganalisis
sedimen pada daerah ini antara lain :
A. Penentuan Batuan asal dan ketersediaan mineralnya
Dari data keseluruhan LP diatas maka didapatkan beberapa data utama
yaitu mineral berat yang berpengaruh merupakan mineral yang memiliki frekuensi
kelimpahan yang tinggi di daerah ini yaitu Hornblende 207 butir, lithik 207 butir,
piroksen 118 butir, olivin 99 butir, dan magnetit 97 butir. Mineral berat
sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dalam interpretasi sedimen ini namun
mineral berat dapat digunakan sebagai bahan interpretasi provenance batuan asal.
Yaitu daerah ini didominasi oleh butiran hornblend yang menunjukan jika batuan
asalnya merupakan batuan beku intermediet, hal ini dikarenakan dalam batuan
beku intermediet banyak ditemukan mineral hornblende. Sehingga hal ini sesuai
dengan teori jika daerah hulu yaitu Gunung Merapi memiliki karakteristik magma
yang intermediet karena magma yang basaltik bercampur dengan partikel yang
andesitik (dari karakteristik lempeng benua) di dapur magma, sehimgga batuan
beku yang dominan di daerah Jawa terutama Gunung Merapi adalah batuan beku
yang intermediet. Kemudian dalam butiran terdapat juga lithik, dalam hal ini
lithik sulit diinterpretasikan karena masih berupa kumpulan dari beberapa mineral.
Kemudian ditemukan banyak piroksen dan olivin yang cukup banyak, padahal
batuan beku yang intermediet mineral-mineral seperti piroksen dan olivin yang
merupakan mineral bersifat basa tidak terlalu banyak ditemukan, hal ini akan
dijelaskan dalam pembahasan. Sedangkan mineral magnetit merupakan mineral
yang dapat ditemukan pada batuan beku baik basa maupun asam sehingga
kemunculan magnetit yang tidak terlalu dominan dapat diterima oleh teori yang
ada.
38

Kemudian dilihat dari unsur mineral ringan dari lokasi ini didapatkan data
yaitu didominasi oleh kuarsa sebanyak 290 butir, lithik 289 butir, dan feldspar 154
butir. Dari data ini terlihat jika kuarsa dan lithik mendominasi sedangkan feldspar
ditemukan hampir hanya separuh dari frekuensi kuarsa. Sehingga dapat dikatakan
bahwa batuan asalnya merupakan batuan beku ( dalam hal ini mineral ringan
kurang dapat menentukan provenance, karena yang diamati merupakan mineral
yang merupakan Rock Forming Mineral atau mineral utama pentusun batuan
sehingga ditemukan hampir di semua jenis batuan )
Sehingga ketersediaan partikel sedimen ini menunjukan bahwa batuan asal
atau provenance , batuan asalnya merupakan batuan beku intermediet yang kaya
akan kuarsa dan hornblend(menunjukan sifat asam), serta ditemukan juga
beberapa mineral basa seperti piroksen dan olivin yang tidak terlalu banyak, serta
mineral aksesori lainnya seperti magnetit, hematit, silimanit, dan rutil dalam
jumlah yang sangat sedikit (kecuali magnetit yang hanya banyak ditemukan pada
LP 3, hal ini akan dibahas pada pembahasan), selain itu dapat diinterpretasikan
batuan sumber berasal dari batuan beku intermediet basa yang merupakan hasil
erupsi dari Gunung Merapi dan provenance yang lain berupa batuan sedimen
vulkanoklastik dan batuan metamorf (terlihat dengan adanya mineral-mineral
penciri batuan metamorf yaitu rutil dan silimanit) sekitar yang tererosi dan
tertransportasi, hingga akhirnya terendapkan pada daerah STA 1, kali Boyong ini.

B. Durabilitas Mekanik Partikel dan Stabilitas Kimiawi Partikel
Dari data mineral ringan yang didapatkan dapat kita temukan
sangat banyak mineral kuarsa, sehingga menunjukan bahwa mineral kuarsa
merupakan mineral yang paling resisten diantara seluruh mineral yang ditemukan
dan tahan terhadap proses pelarutan (Lithik kurang dapat diinterpretasikan karena
masih berupa kumpulan dari mineral-mineral yang belum diidentifikasikan). Hal
ini dikarenakan dalam deret Bowen mineral kuarsa berada dalam urutan mineral
yang paling resisten dan Suhu pembentukan dari kuarsa lebih mendekati suhu
permukaan sehingga akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan
lebih resisten terhadap pelapukan dan erosi Kemudian ditemukan mineral berat
seperti Hornblend yang merupakan mineral yang cukup resisten sehingga
39

frekuensinya tinggi. Dari data yang ada ditemukan juga beberapa mineral yang
kurang stabil dan kurang resisten yaitu mineral berat piroksen dan olivin, kedua
mineral ini merupakan mineral yang tidak resisten atau mudah terabrasi di
permukaan bumi dan mudah mengalami pelarutan. Hal ini menunjukan bahwa
pada daerah ini ditemukan banyak mineral stabil dan resisten, namun jumlah
mineral yang tidak stabil dan tidak resisten jumlahnya juga cukup banyak.

C. Relief daerah asal partikel dan jarak transportasi
Dari penjelasan durabilitas mekanik dan stabilitas kimiawi di datas maka
kita dapat menentukan relief daerah asal partikel. Dari penjelasan di atas
didapatkan data bahwa banyak ditemukan mineral-mineral yang kurang stabil dan
kurang resisten yaitu olivin dan piroksen. Hal ini menunjukan bahwa relief daerah
asal partikel merupakan daerah dengan relief yang tinggi, karena mineral yang
tidak stabil akan tetap ditemukan pada sedimen yang partikelnya berasal dari
daerah dengan relief yang tinggi (Dalam hal ini Gunung Merapi) karena selalu ada
suplai mineral dari batuan segar walaupun tingkat tinggi.
Sedimen yang terendapkan pada lokasi pengamatan memiliki jarak
transportasi yang dekat dari batuan sumber. Hal ini didasarkan pada komposisi
sedimen itu sendiri dimana komposisinya didominasi oleh mineral yang resisten.
Namun mineral-mineral yang kurang resisten masih banyak dijumpai yaitu olivin
dan piroksen, sehingga jarak transportasinya dekat dari batuan sumber.

D. Iklim
Dari data mineral ringan yang telah didapatkan, maka kita dapat
meninterpretasikan beberapa faktor dari mengambil 3 komponen utama batuannya
yaitu Kuarsa, Lithik, dan Feldspar.
Pertama-tama kita terlebih dahulu melakukan pengeplotan pada diagram segitiga
Quartz,Lithik,Feldspar atau QFL-nya. Nilai yang digunakan untuk melakukan
pengeplotan ini didapatkan dari perhitungan frekuensi mineral
Kuarsa/Lithik/Feldspar dibagi dengan jumlah ketiga partikel tersebut, berikut
perhitungannya :
LP 1 :
40

Frekuensi Kuarsa LP 1 diagram QFL =
1
1
ralQFLLP JumlahMine
uarsaLP FrekuensiK
x 100%
=
247
103
x 100%
= 41,7%
Frekuensi Feldspar LP 1 diagram QFL =
1
1
ralQFLLP JumlahMine
eldsparLP FrekuensiF
x 100%
=
247
48
x 100%
= 19,4%

Frekuensi Lithik LP 1 diagram QFL =
1
1
ralQFLLP JumlahMine
ithikLP FrekuensiL
x 100%
=
247
96
x 100%
= 38,8%

LP 2 :
Frekuensi Kuarsa LP 2 diagram QFL =
2
2
ralQFLLP JumlahMine
uarsaLP FrekuensiK
x 100%
=
248
94
x 100%
= 37,9%
Frekuensi Feldspar LP 2 diagram QFL =
2
2
ralQFLLP JumlahMine
eldsparLP FrekuensiF
x 100%
=
248
47
x 100%
= 18,9%
Frekuensi Lithik LP 2 diagram QFL =
2
2
ralQFLLP JumlahMine
ithikLP FrekuensiL
x 100%
=
248
107
x 100%
= 43,2%

41


LP 3 :
Frekuensi Kuarsa LP 3 diagram QFL =
3
3
ralQFLLP JumlahMine
uarsaLP FrekuensiK
x 100%
=
238
93
x 100%
= 37,2%

Frekuensi Feldspar LP 3 diagram QFL =
3
3
ralQFLLP JumlahMine
eldsparLP FrekuensiF
x 100%
=
238
39
x 100%
= 24,8%
Frekuensi Lithik LP 3 diagram QFL =
3
3
ralQFLLP JumlahMine
ithikLP FrekuensiL
x 100%
=
238
86
x 100%
= 36,1%
Setelah mendapatkan nilai frekuensi setiap partikel yaitu kuarsa, lithik, dan
feldspar. Kita dapat mengplotkannya pada diagram segitiga, sehingga didapatkan
titik temu dari ketiga partikel tersebut di dalam diagram segitiga.
Setelah itu kita dapat menggunakan plot titik tersebut terhadap penentuan
beberapa faktor komposisi sedimen, yang pertama adalah dalam hal iklim daerah
sedimen.













42



= LP 1 = LP 2 = LP 3

Dari diagram segitiga QFL diatas dapat kita lihat plot dari ketriga LP
mennjukan daerah iklim batuan asal yang hampir sama, namun sedikit berbeda
yaitu LP 1 dan LP 2 berada pada daerah diantara Methamorphic semiarid dan
Plutonic Semiarid, sedangkan LP 3 berada pada daerah Plutonic Semiarid. Dari
data tersebut jika dibandingkan dengan keadaan sebenarnya maka data tersebut
sudah benar karena daerah STA 1 ini memiliki iklim yang tropis atau arid,
sehingga akan termasuk ke dalam klasifikasi Plutonic Semiarid, karena daerah ini
beriklim tropis dan dekat dengan sumber batuan plutonik yaitu Gunung Merapi.

E. Setting Tektonik dan Sumber Provenance

Melalui data dari pengeplotan titik pada diagram segitiga QFL, maka kita
dapat pula menentukan setting tektonik dan sumber Provenance dari diagram
pada klasifikasi kerangka tektonik Yerino & Maynard (1985) dan diagram
triangular QtFL (Dickinson, 1985 dalam Tucker, 1991). Didapatkan hasil
pengeplotan yaitu:
a. Pengeplotan Setting Tektonik


















43


= LP 1 = LP 2 = LP 3

Dari hasil pengeplotan di atas dapat dilihat bahwa material sedimen pada LP 1
termasuk dalam daerah strike slip yang menunjukkan bahwa batuan sumber
dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari sesar geser. Kemudian material sedimen
LP 2 dan LP 3 termasuk dalam daerah back-island arc yaitu daerah setting
tektonik yang berada pada bagian belakang island arc, yang cenderung akan
dipengaruhi oleh aktivitas magmatisme pada zona konvergen antara lempeng
samudera dengan lempeng samudera. Namun menurut teori daerah Jawa tengah
dan DIY ini merupakan daerah yang termasuk ke dalam zona subduksi continental
-margin arc, yang proses magmatisme dan tektoniknya berlangsung intensif dan
aktif yaitu daerah pengamatan merupakan daerah yang masih mengalami
penunjaman aktif dari lempeng samudera Hindia dan lempeng benua Eurasia.
Namun dalam pengeplotan batas antara daerah continental-margin arc dan back-
island arc hmapir menyerupai daerahnya sehingga kesalahan yang terjadi tidaklah
terlalu besar karena hasil pada LP 2 dan LP 3 berada pada daerah yang mendekati
daerah continental-margin arc, semnetara hasil pengeplotan LP 1 sedikit menjauh
dari daerah continental-margin arc.(Hal ini akan dibahas pada pembahasan)
Kemudian pengeplotan untuk menentukan daerah asal batuan atau
provenance digunakan diagram :


















44

= LP 1 = LP 2 = LP 3
Dari pengeplotan tentang asal Provenance di atas maka dapat dilihat
daerah asal Provenance merupakan daerah zona transisi atau Transitional arc
yaitu zona atau daerah yang merupakan peralihan dari lempeng samudera ke
lempeng Benua, dan kategori Provenance-nya adalah dari zona magmatic arc,
atau zona yang mengalami proses magmatisme secara aktif. Hal ini sama dengan
teori atau kenyataanya di lapangan yaitu daerah STA 1, kali Boyong ini
merupakan daerah Gunung Berapi dengan kegiatan magmatisme yang aktif. Jika
dikaitkan dengan setting tektonik, provenance terbentuk akibat adanya subduksi
kompleks.Dan melihat dari kenyataan di lapangan, pada daerah Jawa Tengah dan
DIY ini terjadi penunjaman (subduksi) di Jawa bagian selatan yang kemudian
membentuk deretan gunungapi. Batuan sumber dari sedimen yang dianalisa
adalah hasil dari proses vulkanisme yang terjadi akibat adanya subduksi aktif


F. Pembahasan dan Analisa Anomali
Dari interpretasi dan data yang telah dibahas diatas, maka dapat dilihat
beberapa anomali atau data yang tidak sesuai dengan teori maupun berbeda antara
LP yang satu dengan LP yang lain. Dari yang pertama yaitu data di mana dalam
hal data mineral ringan tidak terlihat adanya perbedaan yang mencolok diantara
ketiga LP, karena ketiga LP ini sama-sama didominasi oleh Kuarsa, kemudian
lithik, dan yang paling sedikit feldspar. Sedangkan pada saat perhitungan mineral
berat terlihat beberapa anomali yaitu kemunculan mineral basa seperti olivin dan
piroksen yang lumayan banyak, padahal daerah kali Boyong ini menurut teori
provenance didominasi oleh batuan beku yang intemediet bukan batuan beku
basa. Kemudian pada LP 3 terdapat mineral yang pada LP lain tidak terlalu
banyak frekuensinya, namun pada LP 3 frekuensinya menjadi tinggi yaitu mineral
magnetit, padahal pada LP 1 dan LP 2 didominasi oleh Hornblend dan lithik.
Kemudian dari hasil interpretasi didapatkan beberapa hasil yang sedikit
menyimpang dari teori dan keadaan di lapangan yaitu dalam interpretasi iklim dan
setting tektonik dari sedimen. Faktor-faktor yang menyebabkan adanya
penyimpangan tersebut antara lain adalah :
45

a. Pengamatan mineral yang bersifat subyektif, artinya pengamatan mineral
dilakukan oleh orang yang berbeda, sehingga pendapat seseorang tentang
jenis mineral tertentu akan berbeda. Sehingga didapatkan hasil frekuensi
dan jenis mineral yang berbeda satu sama lain (Misalkan saat pengamatan
mineral berat terdapat mineral berwarna hijau tua dan saat pengamatan LP
1, mineral ini disebut piroksen, namun saat pengamatnya berganti mineral
ini dimasukan dalam olivin.)
b. Pengamatan yang kurang akurat karena saat pengamatan karena
keterbatasan waktu hanya menggunakan pengamatan melalui foto dari
mineral tersebut.
c. Cara pengamatan yang digunakan yaitu pengambilan sampel sebanyak 25
butir setiap medan pandang, terkadang belum mewakili populasi secara
keseluruhan, dan diambil secara acak.
d. Kesalahan dalam proses pemisahan mineral berat dan ringan, sehingga
terdapat mineral yang tercampur saat proses pemisahan dan penyimpanan
sampel.
















46

ACARA: BENTUK BUTIR PASIR


1. Maksud dan tujuan

Maksud dari praktikum ini adalah untuk melakukan identifikasi aspek-
aspek morfologi butiran pasir yang meliputi bentuk (form), derajat kebolaan
(spherecity) dan derajat kebundaran (roundness), identifikasi bentuk fragmen,
menetukan harga sphericity dan roundness.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses-proses geologi
yang berperanan terhadap mekanisme transportasi dan deposisi sedimen tersebut
berdasarkan morfologi butir pasir, mengetahui yaitu bentuk asal dari batuan
sumber, kompisisi butiran, ukuran butir, proses transportasi, dan jarak
transportasi.

2. Dasar Teori
Untuk mengamati karakteristik pasir pada lingkungan pengendapan kali
Boyong, STA 1 ini, maka digunakan beberapa aspek morfologi butir agar
praktikan mampu menganalisis tekstur sedimennya yaitu bentuk asal dari batuan
sumber, kompisisi butiran, ukuran butir, proses transportasi, dan jarak
transportasi.
Analisis butir pasir merupakan suatu analisis yang digunakan untuk
interpretasi mekanisme pengangkutan, media pengangkutan, dan jarak batuan
sumber dari lingkungan pengendapan. Pada proses analisis butir pasir akan
ditentukan menjadi beberapa aspek bentuk. Tucker (1991) membagi menjadi 3
aspek, yaitu Shape (bentuk), Sphericity (derajat kebolaan), Roundness (derajat
kebundaran).



a. Bentuk butir
47

Bentuk (shape atau form) adalah kenampakan obyek secara tiga dimensi yang
berkaitan dengan ukuran, yang selanjutnya diklasifikasikan secara kuantitatif
sebagai compact (equidimentional), elongated (redlike) dan platy (dislike) serta
beberapa kategori intermedietnya. T. Zingg mengklasifikasikan bentuk berdasar
perbandingan antar sumbunya menjadi 4 golongan, yaitu oblate, equent, bladed,
dan prolate.










Sumber:http://jhem90.blogspot.com/search/label/teknik%20geologi%20pertamba
ngan?updated-max=2013-05-10T09:25:00-07:00&max-results=20&start=20&by-
date=false

b. Sphericity

Spherecity merupakan ukuran bagaimana suatu butiran mendekati bentuk
bola. Selain itu, parameter ini juga menunjukkan perbedaan luas permukaan objek
dengan luas permukaan bola yang volumenya sama dengan volume objek. Dalam
praktikum ini kita menentukan sphericity dengan cara membandingkan bentuknya
dengan menggunakan diagram di bawah kemudian memasukkan ke dalam
kelasnya sesuai kisaran nilai yang ada.
Berdasarkan perhitungan matematis, Folk (1968) mengklasifikasikan
sphericity menjadi beberapa kelas, yaitu:
< 0.60 : very elongate
0.60 0.63 : elongate
0.63 0.66 : subelongate
0.66 0.69 : intermediate shape
48

0.69 0.72 : subequent
0.72 0.75 : equent
> 0.75 : very equent






Gambar 2 : Visual pembanding sphericity pada kenampakan 2 dimensi (Rittenhouse, 1943)

c. Roundness

Roundness merupakan morfologi butir berupa ketajaman pinggir dan sudut suatu
partikel sedimen klastik. Menurut Wadell (1932), roundness merupakan rata-rata
aritmatik roundness masing-masing sudut butiran pada bidang pengukuran,
sehingga dinyatakan dengan persamaan berikut:
RN
r
N
R
r
R
w
) ( E
=
|
.
|

\
|
E
=
49


Keterangan : r : jari-jari tiap sudut
R : jari-jari maksimum
N : jumlah sudut
Setelah itu kita dapat mengklasifikasikan kebundaran partikel tersebut
dengan beberapa tabel visual yaitu :
Tabel visual foto roundness butiran (Power,1953)









Sumber : http://www.obsidianlab.com/terminology.html

Tabel visual roundness secara sketsa (Krumbein, 1941. Panduan Praktikum
Sedimentologi)












50

Interval kelas
(Wadell, 1932)
Visual kelas
(Powers, 1953)
0,12-0,17 Very angular
0,17-0,25 Angular
0,25-0,35 Subangular
0,35-0,49 Subrounded
0,49-0,70 Rounded
0,70-1 Well rounded

3. Alat dan Bahan
- Alat
1. Corong gelas
2. Gelas kimia
3. Tabung erlenmeyer
4. Kertas saring
5. pengaduk gelas
6. Mikroskop Binokuler
7. Jarum
8. Tusuk gigi
9. Plastik Sampel
10. OHP marker
11. Kamera
12. Tabel pengamatan morfologi pasir

- Bahan
1. Sampel ukuran 60 mesh
2. Larutan Bromoform (CHBr
3
)
3. Larutan alkohol
4. Air

51

4. Langkah Kerja

1. Pemisahan mineral berat dan mineral ringan.

2. Penentuan Bentuk






Sampel pasir yang akan dianalisa
dicampurkan dengan larutan
bromoform dan diaduk dalam gelas
kimia
Campuran antara sampel pasir dan
bromoform dimasukan kemudian
ditunggu beberapa menit, sampai
mineral berat mengendap, dan
mineral ringan masih mengapung.
Setelah mineral berat mengendap maka
tuangkan ke dalam tabung enlemeyer
yang diatasnya sudah terdapat kertas
saring, yang ada dalam kertas saring
adalah mineral berat.Sisanya adalah
mineral ringan, dan lakukan langkah
yang sama dengan sebelumnya.
Baik mineral ringan maupun mineral
berat kemudian dicuci dengan larutan
alkohol, setelah itu dikeringkan. Setelah
itu diamati 4 jenis butir dengan
mikroskop yaitu kuarsa, feldspar,
mineral berta, dan litik. Masing-masing
25 butir tiap lp
Amati masing-masing bentuk butir mineral
dengan membandingkan pada gambar visual
menurut klasifikasi Zingg
Buatlah tabulasi untuk masin-masing
mineral kemudian ditentukan prosentase
setiap bentuk pada masing-masing mineral
52

3. Penentuan Sphericity


4. Penentuan Roundness















Amati masing-masing mineral berdasar tingkat
sphericity-nya dengan membandingkan pada
gambar visual pembanding menurut klasifikasi
Rittenhouse
Konversikan masing-masing angka untuk
menentukan kelas mineral
Lakukan pengamatan dengan
membandingakan secar visual di bawah
mikroskop dengan tabel visual Powers
Buatlah tabulasi untuk masing-masing
mineral
Konversikan masing-masing angka untuk
menentukan kelas mineral
53

5. Pembahasan

Tabel morfologi yang dominan untuk setiap jenis partikel dari perhitungan Mean
Lokasi Kuarsa
Bentuk Roundness Sphericity
LP 1 Equant Subangular Subequent
LP 2 Equant Subrounded Equent
LP 3 Equant Subrounded Very equent


Lokasi Feldspar
Bentuk Roundness Sphericity
LP 1 Equant Subangular Intermediate Shape
LP 2 Equant Subangular Subequent
LP 3 Equant Subrounded Equent


Lokasi Mineral Berat
Bentuk Roundness Sphericity
LP 1 Equant Subangular Elongate
LP 2 Equant Subangular Intermediate Shape
LP 3 Equant Subangular Intermediate Shape

54


Lokasi Litik
Bentuk Roundness Sphericity
LP 1 Equant Subangular Intermediate Shape
LP 2 Equant Subangular Intermediate Shape
LP 3 Equant Subangular Subequent


Dari tebel hasil perhitungan rata-rata data yang didapatkan maka kita dapat
dengan jelas menetukan derajat-derajat parameter seperti sphericity dan
roundness dapat menunjukan suatu perubahan yang signifikan.
A. Bentuk
Bentuk adalah kenampakan tiga dimensi dari perbandingan sumbu
panjang, menengah, dan pendek. Dengan cara membandingkan secara visual dan
kemudian mencari rata-rata dari data yang didapatkan , maka terlihat bentuk
dominan dari mineral-mineral tersebut. Dilihat dari tabel diatas maka bentuk
dominan dari kuarsa, feldspar, mineral berat dan litik adalah equant atau
mendekati kubus maupun bola. Dari bentuk maka kita dapat melakukan
interpretasi terhadap bentuk asal dan mekanisme pengendapan mineral di daerah
ini. Kemudian dapat menentukan besarnya arus dan tingkat abrasi arus terhadap
butir mineral, bentuk butir mineral akan semakin equant seiring kurang
resistennya mineral.
B. Roundness
Roundness merupakan kenampakan bentuk mineral menyerupai lingkaran,
morfologi ini dapat digunakan untuk menginterpretasi jarak transportasi dan
tingkat abrasi yang disebabkan oleh arus, semakin rounded suatu mineral maka
ada dua kemungkinan yaitu jarak transportasi yang semakin jauh atau mineral
tersebut memiliki resistensi yang rendah. Dalam pengamatan kali ini mineral
kuarsa merupakan mineral yang resisten sehingga bentuknya akan dominan
55

angular hingga subangular, kemudian mineral feldspar merupakan mineral yang
kurang resisten sehingga bentuknya akan lebih ke arah subrounded, kemudian
mineral berat memiliki dua kemungkinan yaitu mineral tersebut sangat resisten
contohnya magnetit, rutil dan zircon atau mineral tersebut tidak resisten
contohnya olivin dan piroksen, sehingga roundness-nya akan bervariasi.
Kemudian litik merupakan kumpulan dari berbagai jenis mineral sehingga
memiliki resistensi yang cukup baik.
C. Sphericity
Sphericity merupakan kenampakan mineral menyerupai bentuk bola dan
morfologi butir ini dapat digunakan untuk menginterpretasi bentuk butir asal,
yaitu bentuk asal mineral seperti kuarsa karena bentuk asalnya merupakan bentuk
prismatik maka bentuknya akan semakin equent atau intermediate shape,
kemudian feldspar karena bentuknya adalah prismatik monoklin namun karena
mineral ini kurang resisten maka bentuknya lebih ke arah intermediate shape,
kemudian mineral berat dan litik memiliki bentuk mineral yang bervariasi namun
rata-rata berbentuk intermediate shape.


6. Pembahasan
Interpretasi
A. Bentuk asal dari Batuan Sumber
Untuk mengetahui bentuk dan kenampakan dari batuan sumber sedimen
atau provenance, maka kita dapat mengacu dan melihat pada analisis morfologi
butir yaitu tingkat Sphericity-nya, hal ini disebabkan oleh tingkat Sphericity atau
derajat kebolaan suatu butiran dan kerakal walaupun ter-abrasi karena proses
transportasi nilai Sphericity akan tetap sama dengan batuan asalnya karena saat
proses transportasi yang ter-abrasi atau terkikis hanyalah pada bagian permukaan
maupun sudut-sudutnya saja sehingga yang berubah adalah nilai roundness-
nya.Sehingga jika melihat dari data diatas yang kita dapatkan pada ketiga lokasi
pengamatan akan didapatkan nilai Sphericity untuk kuarsa adalah subequent
hingga very equent, hal ini menunjukan bahwa bentuk asal mineral ini adalah
prismatik, namun terlihat bahwa bentuk kuarsa semakin ke hilir semakin very
equent, padahal menurut teori mineral kuarsa merupakan mineral yang resisten
56

sehingga hal ini sedikit bertentangan dengan teori karena seharusnya bentuk
kuarsa tidak berubah pada terlalu drastis dan bentuk mineral kuarsa cenderung
adalah prismatik heksagonal yang seharusnya tingkat Sphericity lebih ke arah
subelongate atau intermediate shape, sehingga terjadi anomali pada mineral
kuarsa ini yang disebabkan oleh beberapa faktor. Kemudian mienral feldspar
memiliki tingkat Sphericity yang intermediate shape kemudian semakin equent ke
arah hilir, hal ini menunjukan bentuk awal dari feldspar adalah kristalin monoklin
(salah satu sumbu lebih panjang) sehingga akan sedikit cenderung subelongate,
kemudian semakin ke hilir bentuknya akan semakin equent karena mineral
feldspar kurang resisten sehingga akan cepat tingakat Sphericity-nya berubah.
Kemudian untuk mineral berat dan litik karena bentuk asalnya bervarisasi
sehingga Sphericity-nya pun akan bervariasi, namun cenderung ke arah
intermediate shape karena dari ketiga lp tingkat Sphericity mineral berat dan litik
didominasi intermediate shape, walaupun pada mineral berat terdapat yang
subelongate dan pada litik terdapat yang subequent.

B. Komposisi Butiran
Dilihat dari komposisi mineral dan litik yang diamati, maka dapat dilihat
beberapa mineral yang resisten maupun mineral yang kurang resisten, Sehingga
dapat disimpulkan komposisi butiran pada batuan asal yang ditemukan adalah
berupa mineral-mineral penyusun batuan beku baik yang resisten maupun yang
kurang resisten, yaitu batuan beku ( Kemungkinan batuan beku andesit hasil dari
erupsi Gunung Merapi ) yang belum ter-abrasi terlalu banyak.

C. Proses atau mekanisme transportasi dan Kekuatan arus
Untuk mengetahui proses transportasi yang terjadi pada daerah ini maka
dapat digunakan dari data morfologi yaitu bentuk butir dan sphericity, dan karena
material yang diamati berukuran pasir maka kemungkinan proses transportnya
adalah saltasi untuk mineral ringan dan beberapa secara bedload untuk mineral
berat dari terori yang ada maka jika bentuk butir yang lebih equent, maka butir
tersebut tertransportasi secara saltasi di dalam tubuh air, karena jika tertransport
secara meloncat-loncat maka bagian yang terabrasi akan menyeluruh ke semua
57

permukaan sehingga bentuknya akan lebih equant. Jika bentuk butir prolate, maka
butir tersebut akan tertransportasi secara rolling atau menggelinding, karena jika
tertransport secara menggelinding maka yang akan mengalami abrasi adalah
bagian yang intensif ke arah bawah atau dalam hal ini adalah bagian salah sisi
memanjang dari partikel, sehingga akan membentuk seperti batang. Jika bentuk
butir bladed atau oblate, maka butir tersebut akan tertransportasi secara traksi atau
terseret di dasar tubuh air, karena jika terseret maka bagian yang ter-abrasi
hanyalah satu permukaan saja sehingga gesekan/friksi semakin berkurang dan
akan sulit terendapkan. Sehingga dari data yang telah didapatkan kuarsa maupun
feldspar akan didominasi oleh bentuk butir yang equant karena merupakan
mineral berupuran pasir dan merupakan mineral ringan dengan berat jenis yang
kecil (sekitar 2,6) sehingga akan tertransport secara saltasi atau melompat-lompat
dan lebih cepat terendapkan sehingga melimpah pada daerah ini. Kemudian untuk
mineral berat dan litik yang memiliki berat jenis yang lebih besar, dari data diatas
juga didapatkan hasil yang dominan yaitu berbentu equant, hal ini menandakan
mineral berat dan litik juga tertransport secara saltasi juga seperti kuarsa dan
feldspar, hal ini menunjukan bahwa kekuatan arus pada daerah ini cukup besar
karena mampu mentransport secara saltasi mineral dengan berat jenis yang besar,
namun juga bayak ditemukan mineral berat yang ditemukan berbentuk prolate,
sehingga sebagian kecil dari mineral berat tertransport secara rolling pada daerah
ini.

D. Jarak Transportasi
Dengan menggunakan data morfologi butir roundness, kita dapat
mengetahui mengetahui jarak dan lama transportasi. Mineral pada daerah ini
mengalami transportasi dekat dari sumbernya karena didominasi oleh partikel
yang mempunyai darajat kebundaran yang rendah (cenderung subangular). Hal
ini menunjukan bahwa bentuk butir yang cenderung angular maka sedimen ini
belum banyak mengalami abrasi yang tinggi sehingga belum tertransport jauh dari
sumber batuan asal, kemudian tingkat kedewasaan sedimen termasuk Immature
dan terletak pada bagian Hulu. Namun terjadi anomali karena roundness kuarsa
yang sudah menjadi subrounded pada LP 2, jika dibandingkan dengan feldspar
58

yang menjadi bentuk subrounded pada LP 3, maka terjadi keanehan karena
seharusnya dengan sifat kuarsa yang lebih resisten dibandingkan feldspar maka
dengan jarak yang dekat dengan provenance maka bentuk dari kuarsa seharusnya
masih subangular.

Dari interpretasi di atas analisa bentuk butir pasir cenderung memberikan
hasil yang kurang signifikan karena pengamatan dilakukan secara kualitatif dan
subyektif dimana dalam mengkorelasikan morfologi butir pasir dengan klasifikasi
yang tersedia untuk tiap orang berbeda-beda sehingga hasil yang diperoleh untuk
tiap orang dapat berbeda-beda, kemudian pengamatan ini menggunakan foto dari
mikroskop sehingga pengamatannya kurang valid karena dalam foto kurang
terlihat kenampakan tiga dimensinya dan kurang jelas untuk mengamatinya. Hal
seperti ini dapat mempengaruhi dalam interpretasi mengenai mekanisme
sedimentasinya



























59

INTERPRETASI SECARA KESELURUHAN


Dari data-data dari butiran pasir maupun kerakal diatas yang telah
didapatkan saat praktikum, maka terdapat beberapa faktor yang dapat kita
interpretasikan dari data lapangan berupa pasir dan kerakal pada lokasi Kali
Boyong, Dusun Kumendung, Desa Candi Binangun, Kecamatan Pakem,
Kabupaten Sleman , DIY. Antara lain :
a. Provenance atau Batuan sumber material sedimen di daerah ini.
Dari data yang didapatkan melalui analisis komposisi butir, analisis ukuran
butir, dan morfologi butir dan kerakal, didapatkan bahwa batuan sumber material
sedimen di daerah ini merupakan batuan beku intermediet yang memiliki tekstur
afanitik, hal ini dikarenakan komposisi sedimen yang ditemukan didominasi oleh
hornblenda yang merupakan mineral penciri batuan beku intermediet dan banyak
ditemukan mineral-mineral felsik seperti kuarsa dan mineral mafik seperti
piroksen. Kemudian pada data ukuran butir banyak ditemukan butiran pasir yang
berukuran kasar dan memiliki sphericity yang equent hingga subelongate, yang
menandakan bentuk mineral asalnya berupa bentuk prismatik memanjang.

b. Proses deposisi akhir dan Jarak Transportasi
Dari data yang didapatkan maka untuk proses deposisi akhir dapat dilihat
dari data ukuran butir, morfologi butir dan komposisi butir. Dari data ukuran butir
didapatkan hasil berupa kurva frekuensi kumulatif dibandingkan lingkungan
pengendapannya yang didapatkan hasil tiga garis di setiap LP yang menunjukan
proses deposisi akhir yang berupa saltasi dan rolling atau sliding. Setelah itu dari
data morfologi butir pasir dan kerakal didapatkan didapatkan kuarsa maupun
feldspar akan didominasi oleh bentuk butir yang equant karena merupakan
mineral berupuran pasir dan merupakan mineral ringan dengan berat jenis yang
kecil (sekitar 2,6) sehingga akan tertransport secara saltasi atau melompat-lompat
dan lebih cepat terendapkan sehingga melimpah pada daerah ini. Kemudian untuk
mineral berat dan litik yang memiliki berat jenis yang lebih besar, dari data diatas
juga didapatkan hasil yang dominan yaitu berbentu equant. Sehingga dapat
diinterpretasikan bahwa proses deposisi akhir pada sedimen berukuran pasir
60

adalah saltasi, kemudian pada sedimen berukuran kerakal, dari data yang telah
didapatkan yaitu kerakal yang didominasi bentuk equant dan prolate, maka pada
daerah ini proses transportasi yang dominan membawa mateial sedimen daerah ini
adalah rolling dan saltation. Kemudian dari jarak transportasi dapat
diinterpretasikan bahwa jarak transportasinya masih dekat dengan batuan asalnya,
hal ini dikarenakan pada data ukuran butir masih nayak ditemukan material
sedimen yang berukuran pasir kasar dengan sortasi yang masih buruk, kemudian
dari morfologi pasir dan kerakal didominasi oleh tingkat roundness yang angular
menunjukan bahwa tingkat abrasi pada sedimen masih sedikit sehingga masih
angular, serta pada anlisis komposisi butir masih banyak ditemukan mineral yang
resisten maupun tidak resisten, yang menunjukan relief daerah pengamatan masih
tinggi dan berada di hulu yang dekat dengan batuan asal.

c. Mekanisme Sedimentasi
Untuk mekanisme sedimentasi kita dapat meninterpretasikannya dari dua
data yaitu ukuran butir dan komposisi butir, dari ukuran butir Dari data agen
transportasi dan deposisi di atas maka dapat kita tentukan lingkungannya yaitu
lingkungan fluvial dengan arus yang cukup deras. Karena ditemukan beberapa
morfologi daerah fluvial yaitu point bar, channel bar, dan splay bar
- Menentukan lingkungan pengendapan
Dilihat dari teori yang ada dalam flow regime diagram, di bawah ini :










61

Dilihat dari data yang telah didapatkan di lapangan yaitu kecepatan aliran yang
berkisar 0,4 m/s dan ukuran material sedimen yang didominasi oleh ukuran butir
pasir kasar. Maka pada daerah ini dilihat dari perbandingan data dan diagram di
atas,tidak terbentuk suatu struktur sediment (No Movement).
Kemudian untuk setting tektonik dan sumber provenancenya Melalui data
dari pengeplotan titik pada diagram segitiga QFL, maka kita dapat pula
menentukan setting tektonik dan sumber Provenance dari diagram pada
klasifikasi kerangka tektonik Yerino & Maynard (1985) dan diagram triangular
QtFL (Dickinson, 1985 dalam Tucker, 1991). Didapatkan hasil pengeplotan yaitu:
a. Pengeplotan Setting Tektonik



















= LP 1 = LP 2 = LP 3

Dari hasil pengeplotan di atas dapat dilihat bahwa material sedimen pada LP 1
termasuk dalam daerah strike slip yang menunjukkan bahwa batuan sumber
dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari sesar geser. Kemudian material sedimen
LP 2 dan LP 3 termasuk dalam daerah back-island arc yaitu daerah setting
tektonik yang berada pada bagian belakang island arc, yang cenderung akan
dipengaruhi oleh aktivitas magmatisme pada zona konvergen antara lempeng
samudera dengan lempeng samudera. Namun menurut teori daerah Jawa tengah
62

dan DIY ini merupakan daerah yang termasuk ke dalam zona subduksi continental
-margin arc, yang proses magmatisme dan tektoniknya berlangsung intensif dan
aktif yaitu daerah pengamatan merupakan daerah yang masih mengalami
penunjaman aktif dari lempeng samudera Hindia dan lempeng benua Eurasia.
Namun dalam pengeplotan batas antara daerah continental-margin arc dan back-
island arc hmapir menyerupai daerahnya sehingga kesalahan yang terjadi tidaklah
terlalu besar karena hasil pada LP 2 dan LP 3 berada pada daerah yang mendekati
daerah continental-margin arc, semnetara hasil pengeplotan LP 1 sedikit menjauh
dari daerah continental-margin arc.(Hal ini akan dibahas pada pembahasan)
Kemudian pengeplotan untuk menentukan daerah asal batuan atau
provenance digunakan diagram :


















= LP 1 = LP 2 = LP 3
Dari pengeplotan tentang asal Provenance di atas maka dapat dilihat daerah asal
Provenance merupakan daerah zona transisi atau Transitional arc yaitu zona atau
daerah yang merupakan peralihan dari lempeng samudera ke lempeng Benua, dan
kategori Provenance-nya adalah dari zona magmatic arc, atau zona yang
mengalami proses magmatisme secara aktif. Hal ini sama dengan teori atau
kenyataanya di lapangan yaitu daerah STA 1, kali Boyong ini merupakan daerah
Gunung Berapi dengan kegiatan magmatisme yang aktif. Jika dikaitkan dengan
setting tektonik, provenance terbentuk akibat adanya subduksi kompleks.Dan
melihat dari kenyataan di lapangan, pada daerah Jawa Tengah dan DIY ini terjadi
63

penunjaman (subduksi) di Jawa bagian selatan yang kemudian membentuk
deretan gunungapi. Batuan sumber dari sedimen yang dianalisa adalah hasil dari
proses vulkanisme yang terjadi akibat adanya subduksi aktif











































64

KESIMPULAN




A. Sumber batuan asal atau provenance dari material sedimen di lokasi
pengamatan merupakan batuan beku intermediet dari aktivitas vulkanisme
Gunung Merapi
B. Agen transportasi utama berupa air dengan proses deposisi akhir dari material
sedimen berukuran pasir adalah saltasi dan material sedimen berukuran kerakal
adalah rolling atau saltasi.
C. Jarak transportasi material sedimen masih dekat dengan sumber batuan asalnya
dengan daerah yang berrelief tinggi.
D. Mekanisme sedimentasi dan proses tektoniknya berada pada daerah subduksi
dengan provenance yang berupa magma di zona transisi




























65



DAFTAR PUSTAKA




Surjono, Sugeng Sapto;Amijaya,Donatus Hendra ;Winardi,Sarju.2010.Analisis
Sedimentologi.Yogyakarta.Pustaka Geo
Surjono, Sugeng Sapto.2009.Diktat Kuliah Sedimentologi Transport &
Pengendapan Sedimen.Yogyakarta.Jurusan Teknik Geologi Fakultas
Teknik UGM



































66



LAMPIRAN


A. Ukuran butir

A. Data STA 1, LP 1
A.1 Pengolahan data ukuran Butir, Perhitungan parameter statistik secara grafis
Tabel Data Ukuran Butir
No.
Interval
(phi) Mesh
Berat
(g) Frekuensi(%) FK (%)
1 >4 >270 0,27 0,27 100,00
2 3 sd 4 270 4,82 4,82 99,73
3 2 sd 3 100 16,44 16,44 94,91
4 1 sd 2 50 22,7 22,70 78,47
5 0 sd 1 35 34,75 34,75 55,76
6 <0 18 21,01 21,01 21,01
Total 99,99 100,0

Histogram Frekuensi (%) vs Ukuran Butir


21.02
34.75
22.7
16.44
4.82
0.27
0
5
10
15
20
25
30
35
40
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi Berat LP 1
67

Grafik Kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir

Grafik Kurva Frekuensi Kumulatif (%) vs Ukuran Butir (phi) Skala Aritmetik

Grafik Kurva Frekuensi Kumulatif (%) vs Ukuran Butir (phi) Skala Probabilitas
0.27
4.82
16.44
22.70
34.75
21.01
0.00
5.00
10.00
15.00
20.00
25.00
30.00
35.00
40.00
-1 0 1 2 3 4 5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi
Berat LP1
Frekuensi
Berat
100.00 99.73
94.91
78.47
55.77
21.01
0.00
20.00
40.00
60.00
80.00
100.00
120.00
-1 0 1 2 3 4 5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi
Kumulatif LP1
Frekuensi
Kumulatif
68


Dari Grafik Kurva diatas dapat ditentukan : 5=-0,85;16=-0,55;25=-0,4;
50=0,4; 75=1,35;84=1,75;95=2,5
( Keterangan : 5 95 adalah ukuran butir dalam phi pada nilai 5%-95% pada
grafik kurva frekuensi kumulatif. )
Dari data hasil pengamatan grafik kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir,
dapat dilihat Median atau ukuran butir partikel yang tepat berada pada tengah-
tengah populasi, yaitu 50 yang bernilai 0,4 sehingga median dari data ini
termasuk dalam kategori pasir sangat kasar (coarse sand). Kemudian Mode atau
ukuran butir yang frekuensi kemunculannya paling sering atau banyak adalah phi
untuk interval 0-1 yang menunjukan mode dalam data ini termasuk kategori
ukuran butir pasir kasar (coarse sand).

Dari data hasil pengamatan grafik kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir,
dapat dilihat antara lain Mean atau nilai rata-rata ukuran butir.

Jadi ukuran butir secara umum atau rata-rata adalah pasir kasar (coarse sand).
21.01
55.76
78.47
94.91
99.73 100
1
10
100
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi Kumulatif LP 1
Frekuensi
Kumulatif
53 , 0
3
6 , 1
3
75 , 1 4 , 0 55 , 0
3
84 50 16
= =
+ +
=
+ +
=
| | |
M
69

Kemudian nilai dari sortasi atau nilai standar deviasi distribusi ukuran butir
adalah.

Parameter ini menunjukan tingkat keseragaman butir, dari perhitungan di atas
maka sortasi temasuk dalam klasifikasi poorly sorted, berarti material sedimen
tidak tersortasi dengan baik.
Kemudian nilai skewness atau nilai kesimetrian kurva frekuensi dihitung dengan
cara.






Dari perhitungan di atas maka nilainya termasuk ke dalam klasifikasi fine-skewed,
berarti distribusi butir kasar lebih dominan atau kurva memuncak ke kiri.
Kemudian nilai Kurtosisi atau nilai kepuncakan kurva adalah.


Berdasarkan perhitungan di atas maka nilainya termasuk ke dalam klasifikasi
platykurtic, berarti titik puncak kurva berada di bawah rata-rata.

A.2 Pengolahan data ukuran Butir, Perhitungan parameter statistik secara
matematis
Tabel data distribusi ukuran butir
No Kelas
Nilai
Tengah
(m)
Berat
(f)
f.m (m-x) (m-x)
2
f(m-x)
2
(m-x)
3
f(m-x)
3
(m-x)
4
f(m-x)
4
1 >4 4,5 0,27 1,22 3,50 12,24 3,31 42,83 11,56 149,87 40,46
2 3 s.d 4 3,5 4,82 16,87 2,50 6,24 30,10 15,60 75,21 38,99 187,94
3 2 s.d 3 2,5 16,44 41,10 1,50 2,25 36,93 3,37 55,36 5,05 82,97
4 1 s.d 2 1,5 22,7 34,05 0,50 0,25 5,65 0,12 2,82 0,06 1,41
5 0 s.d 1 0,5 34,75 17,38 -0,50 0,25 8,73 -0,13 -4,37 0,06 2,19
6 <0 -0,5 21,01 -10,51 -1,50 2,25 47,35 -3,38 -71,07 5,08 106,69

JUMLAH 100 100,11 132,06 69,50 421,66

Perhitungan parameter statistiknya adalah:
- Moment pertama adalah nilai mean (x )
082 , 1
6 , 6
35 , 3
4
3 , 2
6 , 6
85 , 0 5 , 2
4
55 , 0 75 , 1
6 , 6
5 95
4
16 84
) ( = + =
+
+
+
=

=
| | | |
o
2 , 0
7 , 6
85 , 0
6 , 4
4 , 0
) 85 , 0 5 , 2 ( 2
) 4 , 0 ( 2 85 , 0 5 , 2
) 55 , 0 75 , 1 ( 2
) 4 , 0 ( 2 55 , 0 75 , 1
) 5 95 ( 2
50 2 5 95
) 16 84 ( 2
50 2 16 84
= + =
+

+
+

=

+
+

+
=
| |
| | |
| |
| | |
SK
78 , 0
27 , 4
35 , 3
) 4 , 0 35 , 1 ( 44 , 2
85 , 0 5 , 2
) 25 75 ( 44 , 2
5 95
= =
+
+
=

=
| |
| |
G
K
70

0 , 1
100
11 , 100
= = =

N
fm
x|
- Moment kedua adalah nilai variance, sedangkan sortasi merupakan nilai
standart deviasi(

) yaitu akar dari variance.


15 , 1
100
06 , 132
100
) (
2
= =

=

|
o
|
X m f

- Moment ketiga adalah nilai skewness(Sk

)
456 , 0
08 , 152
50 , 69
15 , 1 . 100
50 , 69
100
) (
3 3
3
= = =

=

o|
|
|
X m f
Sk
- Moment keempat adalah nilai Kurtosis (K

)
40 , 2
175
66 , 421
15 , 1 . 100
66 , 421
100
) (
4 4
4
= = =

=

o|
|
|
X m f
K


B. Data STA 1, LP 2
B.1 Pengolahan data ukuran Butir, Perhitungan parameter statistik secara grafis
Tabel Data Ukuran Butir
No. Interval (phi) Mesh Berat (g) Frekuensi(%) FK (%)
1 >4 >270 1,33 1,33 100,00
2 3 sd 4 270 11,88 11,88 98,67
3 2 sd 3 100 23,98 23,97 86,79
4 1 sd 2 50 24,58 24,57 62,82
5 0 sd 1 35 26,65 26,64 38,26
6 <0 18 11,62 11,62 11,62
Total 100,04 100,0
Histogram Frekuensi (%) vs Ukuran Butir
71


Grafik Kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir

Grafik Kurva Frekuensi Kumulatif (%) vs Ukuran Butir (phi)
11.62
26.64
24.57
23.97
11.88
1.33
0
5
10
15
20
25
30
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi Berat LP 2
1.33
11.88
23.97
24.57
26.64
11.62
0.00
5.00
10.00
15.00
20.00
25.00
30.00
-1 0 1 2 3 4 5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi
Berat LP2
Frekuensi
Berat
72


Grafik Kurva Frekuensi Kumulatif (%) vs Ukuran Butir (phi) Skala Probabilitas

Dari Grafik Kurva diatas dapat ditentukan : 5=-0,85; 16=-0,3; 25=-0,1; 50=
1; 75=2,1; 84=2,4; 95=3,4
100.00
98.67
86.80
62.82
38.25
11.62
0.00
20.00
40.00
60.00
80.00
100.00
120.00
-1 0 1 2 3 4 5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi
Kumulatif LP2
Frekuensi
Kumulatif
11.62
38.26
62.82
86.79
98.67 100
1
10
100
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi Kumulatif LP 2
Frekuensi Kumulatif
73

( Keterangan : 5 95 adalah ukuran butir dalam phi pada nilai 5%-95% pada
grafik kurva frekuensi kumulatif. )
Dari data hasil pengamatan grafik kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir,
dapat dilihat Median yaitu 50 yang bernilai 1 sehingga median dari data ini
termasuk dalam kategori pasir sangat kasar (coarse sand). Kemudian Mode adalah
phi untuk interval 0-1 yang menunjukan mode dalam data ini termasuk kategori
ukuran butir pasir kasar (coarse sand).
Dari data hasil pengamatan grafik kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir,
dapat dilihat antara lain Mean.

Jadi ukuran butir secara umum atau rata-rata adalah pasir sedang (medium sand).
Kemudian nilai dari sortasi adalah.

Dari perhitungan di atas maka sortasi temasuk dalam klasifikasi poorly sorted,
berarti material sedimen tidak tersortasi dengan baik.
Kemudian nilai skewness adalah.





Dari perhitungan di atas maka nilainya termasuk ke dalam klasifikasi near
symmetrical, berarti distribusi butir kasar dan butir halus relatif seimbang.
Kemudian nilai Kurtosisi adalah.


Berdasarkan perhitungan di atas maka nilainya termasuk ke dalam klasifikasi
platykurtic, berarti titik puncak kurva berada di bawah rata-rata.
B.2 Pengolahan data ukuran Butir, Perhitungan parameter statistik secara
matematis
Tabel data distribusi ukuran butir
No Kelas
Nilai
Tengah
(m)
Berat
(f)
f.m
(m-
x)
(m-x)
2
f(m-
x)
2
(m-
x)
3
f(m-
x)
3
(m-
x)
4
f(m-
x)
4
1 >4 4,5 1,33 5,99 2,98 8,89 11,82 26,51 35,25 79,03 105,11
2 3 s.d 4 3,5 11,88 41,58 1,98 3,93 46,65 7,78 92,44 15,42 183,18
3 2 s.d 3 2,5 23,98 59,95 0,98 0,96 23,11 0,95 22,68 0,93 22,26
03 , 1
3
1 , 3
3
4 , 2 1 3 , 0
3
84 50 16
= =
+ +
=
+ +
=
| | |
M
31 , 1
6 , 6
2 , 4
4
7 , 2
6 , 6
8 , 0 4 , 3
4
3 , 0 4 , 2
6 , 6
5 95
4
16 84
) ( = + =
+
+
+
=

=
| | | |
o
089 , 0
4 , 8
6 , 0
4 , 5
1 , 0
) 8 , 0 4 , 3 ( 2
) 1 ( 2 8 , 0 4 , 3
) 3 , 0 4 , 2 ( 2
) 1 ( 2 3 , 0 4 , 2
) 5 95 ( 2
50 2 5 95
) 16 84 ( 2
50 2 16 84
= + =
+

+
+

=

+
+

+
=
| |
| | |
| |
| | |
SK
78 , 0
368 , 5
2 , 4
) 1 , 0 1 , 2 ( 44 , 2
8 , 0 4 , 3
) 25 75 ( 44 , 2
5 95
= =
+
+
=

=
| |
| |
G
K
74

4 1 s.d 2 1,5 24,58 36,87 -0,02 0,00 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00
5 0 s.d 1 0,5 26,65 13,33 -1,02 1,04 27,64 -1,06 -28,15 1,08 28,67
6 <0 -0,5 11,62 -5,81 -2,02 4,07 47,34 -8,22 -95,55 16,60 192,85

JUMLAH 100 151,90 156,57 26,68 532,08
Perhitungan parameter statistiknya adalah:
- Moment pertama adalah nilai mean (x )
52 , 1
100
90 , 151
= = =

N
fm
x|
- Moment kedua adalah nilai variance, sedangkan sortasi merupakan nilai
standart deviasi(

) yaitu akar dari variance.


25 , 1
100
57 , 156
100
) (
2
= =

=

|
o
|
X m f

- Moment ketiga adalah nilai skewness(Sk

)
136 , 0
31 , 195
68 , 26
25 , 1 . 100
68 , 26
100
) (
3 3
3
= = =

=

o|
|
|
X m f
Sk
- Moment keempat adalah nilai Kurtosis (K

)
18 , 2
13 , 244
08 , 532
25 , 1 . 100
08 , 532
100
) (
4 4
4
= = =

=

o|
|
|
X m f
K

C. Data STA 1, LP 3
C.1 Pengolahan data ukuran Butir, Perhitungan parameter statistik secara grafis
Tabel Data Ukuran Butir
No.
Interval
(phi) Mesh Berat (g) Frekuensi(%) FK (%)
1 >4 >270 0,14 0,14 100,00
2 3 sd 4 270 5,31 5,33 99,86
3 2 sd 3 100 18,52 18,58 94,53
4 1 sd 2 50 20,85 20,91 75,95
5 0 sd 1 35 30,35 30,44 55,04
6 <0 18 24,53 24,60 24,6
Total 99,7 100,0
Histogram Frekuensi (%) vs Ukuran Butir
75


Grafik Kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir

Grafik Kurva Frekuensi Kumulatif (%) vs Ukuran Butir (phi)
24.60
30.44
20.91
18.58
5.33
0.14
0.00
5.00
10.00
15.00
20.00
25.00
30.00
35.00
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi Berat LP 3
0.14
5.33
18.58
20.91
30.44
24.60
0.00
5.00
10.00
15.00
20.00
25.00
30.00
35.00
-1 0 1 2 3 4 5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi
Berat LP3
Frekuensi
Berat
76


Grafik Kurva Frekuensi Kumulatif (%) vs Ukuran Butir (phi) Skala Probabilitas

Dari Grafik Kurva diatas dapat ditentukan : 5=-0,85;16=-0,65; 25=-0,4; 50=
0,4; 75=1,6; 84=1,9; 95=2,5
100.00 99.86
94.53
75.96
55.05
24.60
0.00
20.00
40.00
60.00
80.00
100.00
120.00
-1 0 1 2 3 4 5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi
Kumulatif LP3
Frekuensi
Kumulatif
24.60
55.04
75.95
94.53
99.86 100
1.00
10.00
100.00
-0.5 0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

(
%
)

Ukuran Butir (phi)
Frekuensi Kumulatif LP 3
Frekuensi Kumulatif
77

( Keterangan : 5 95 adalah ukuran butir dalam phi pada nilai 5%-95% pada
grafik kurva frekuensi kumulatif. )
Dari data hasil pengamatan grafik kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir,
dapat dilihat Median yaitu 50 yang bernilai 0,4 sehingga median dari data ini
termasuk dalam kategori pasir sangat kasar (coarse sand). Kemudian Mode adalah
phi untuk interval 0-1 yang menunjukan mode dalam data ini termasuk kategori
ukuran butir pasir kasar (coarse sand).
Dari data hasil pengamatan grafik kurva Frekuensi (%) vs Ukuran Butir,
dapat dilihat antara lain Mean.

Jadi ukuran butir secara umum atau rata-rata adalah pasir kasar (coarse sand).
Kemudian nilai dari sortasi adalah.

Dari perhitungan di atas maka sortasi temasuk dalam klasifikasi poorly sorted,
berarti material sedimen tidak tersortasi dengan baik.
Kemudian nilai skewness adalah.





Dari perhitungan di atas maka nilainya termasuk ke dalam klasifikasi fine-skewed,
berarti distribusi butir kasar lebih dominan atau kurva memuncak ke kiri.
Kemudian nilai Kurtosisi adalah.



Berdasarkan perhitungan di atas maka nilainya termasuk ke dalam klasifikasi
platykurtic, berarti titik puncak kurva berada di bawah rata-rata.
C.2 Pengolahan data ukuran Butir, Perhitungan parameter statistik secara
matematis
Tabel data distribusi ukuran butir
No Kelas
Nilai
Tengah
(m)
Berat
(f)
f.m
(m-
x)
(m-x)
2
f(m-x)
2
(m-x)
3
f(m-x)
3
(m-x)
4
f(m-x)
4
1 >4 4,5 0,14 0,63 3,5 12,25 1,72 42,88 6,00 150,06 21,01
2 3 s.d 4 3,5 5,31 18,59 2,5 6,25 33,19 15,63 82,97 39,06 207,42
3 2 s.d 3 2,5 18,52 46,30 1,5 2,25 41,67 3,38 62,51 5,06 93,76
55 , 0
3
65 , 1
3
9 , 1 4 , 0 65 , 0
3
84 50 16
= =
+ +
=
+ +
=
| | |
M
13 , 1
6 , 6
35 , 3
4
55 , 2
6 , 6
85 , 0 5 , 2
4
65 , 0 9 , 1
6 , 6
5 95
4
16 84
) ( = + =
+
+
+
=

=
| | | |
o
2 , 0
7 , 6
85 , 0
1 , 5
45 , 0
) 85 , 0 5 , 2 ( 2
) 4 , 0 ( 2 85 , 0 5 , 2
) 65 , 0 9 , 1 ( 2
) 4 , 0 ( 2 65 , 0 9 , 1
) 5 95 ( 2
50 2 5 95
) 16 84 ( 2
50 2 16 84
= + =
+

+
+

=

+
+

+
=
| |
| | |
| |
| | |
SK
68 , 0
88 , 4
35 , 3
) 4 , 0 6 , 1 ( 44 , 2
85 , 0 5 , 2
) 25 75 ( 44 , 2
5 95
= =
+
+
=

=
| |
| |
G
K
78

4 1 s.d 2 1,5 20,85 31,28 0,5 0,25 5,21 0,13 2,61 0,06 1,30
5 0 s.d 1 0,5 30,35 15,18 -0,5 0,25 7,59 -0,13 -3,79 0,06 1,90
6 <0 -0,5 24,53 -12,27 -1,5 2,25 55,19 -3,38 -82,79 5,06 124,18

JUMLAH 100 99,70 144,57 67,50 449,57

Perhitungan parameter statistiknya adalah:
- Moment pertama adalah nilai mean (x )
0 , 1
100
70 , 99
= = =

N
fm
x|
- Moment kedua adalah nilai variance, sedangkan sortasi merupakan nilai
standart deviasi(

) yaitu akar dari variance.


20 , 1
100
57 , 144
100
) (
2
= =

=

|
o
|
X m f

- Moment ketiga adalah nilai skewness(Sk

)
39 , 0
8 , 172
50 , 67
20 , 1 . 100
50 , 67
100
) (
3 3
3
= = =

=

o|
|
|
X m f
Sk
- Moment keempat adalah nilai Kurtosis (K

)
16 , 2
36 , 207
57 , 449
20 , 1 . 100
57 , 449
100
) (
4 4
4
= = =

=

o|
|
|
X m f
K
























79

B. Bentuk kerakal
TABEL ANALISIS BENTUK BUTIR LP 1
Kode L=a I=b S=c b/a c/b Bentuk
1 6 3,5 3 0,58 0,86 Prolate
2 5 3,5 2,5 0,70 0,71 Equant
3 5,3 3,6 3 0,68 0,83 Equant
4 5 4 2,5 0,80 0,63 Oblate
5 5 4 3 0,80 0,75 Equant
6 5,5 3,8 3,2 0,69 0,84 Equant
7 5 4 2,8 0,80 0,70 Equant
8 4 3,5 3,2 0,88 0,91 Equant
9 4,8 3,8 2,8 0,79 0,74 Equant
10 4 3 2,5 0,75 0,83 Equant
11 5 3 2,8 0,60 0,93 Prolate
12 5 3,4 2,5 0,68 0,74 Equant
13 5,8 3,6 2,8 0,62 0,78 Prolate
14 5,8 3,6 3,4 0,62 0,94 Prolate
15 5 4,2 3 0,84 0,71 Equant
16 4,8 3,8 2,8 0,79 0,74 Equant
17 5,6 3,5 3,2 0,63 0,91 Prolate
18 4,3 3,6 2,5 0,84 0,69 Equant
19 4,8 3,5 3,4 0,73 0,97 Equant
20 5,6 3,6 3 0,64 0,83 Prolate
21 4,3 3,4 3 0,79 0,88 Equant
22 5 3,5 3 0,70 0,86 Equant
23 4,5 2 1,8 0,44 0,90 Prolate
24 4,2 4 2 0,95 0,50 Oblate
25 4 3 2,8 0,75 0,93 Equant

TABEL ANALISIS SPHERI CI TY LP 1
1 Kelas p Kelas
0,66 Intermediate Shape 0,75 Very Equent
0,70 Subequent 0,71 Subequent
0,73 Equent 0,78 Very Equent
0,74 Equent 0,68 Intermediate Shape
0,78
Very Equent 0,77 Very Equent
0,74 Equent 0,79 Very Equent
0,77 Very Equent 0,73 Equent
0,89 Very Equent 0,90 Very Equent
80

0,77 Very Equent 0,75 Very Equent
0,78 Very Equent 0,80 Very Equent
0,70 Subequent 0,81 Very Equent
0,70 Subequent 0,72 Subequent
0,67 Intermediate Shape 0,72 Equent
0,71 Subequent 0,82 Very Equent
0,80
Very Equent 0,75 Very Equent
0,77 Very Equent 0,75 Very Equent
0,71 Subequent 0,81 Very Equent
0,79 Very Equent 0,74 Equent
0,80 Very Equent 0,88 Very Equent
0,70
Subequent 0,76 Very Equent
0,82 Very Equent 0,85 Very Equent
0,75 Equent 0,80 Very Equent
0,56 Very Elongate 0,71 Subequent
0,77 Very Equent 0,62 Elongate
0,81 Very Equent 0,87 Very Equent


Tabel Analisis Roundness

STA/LP : 1/1

No
Foto
b/a
Foto
c/b
High / Roundness
Low Powers Wadell
Sphericity (1953) (1932)
1


low Subrounded

0.35-0.49

2

Low Subangular 0.25-0.35



81

3

Low Angular 0.17-0.25


4

Low Subangular 0.25-0.35

5

High Subangular 0.25-0.35

6.

Low Subangular 0.25-0.35

7.

High Subrounded 0.35-0.49

8.

High Angular 0.17-0.25

82

9.

Low Angular 0.17-0.25

10.

Low Angular 0.17-0.25

11.

Low Angular 0.17-0.25

12.

Low Angular 0.17-0.25

13.

Low Angular 0.17-0.25

14.

Low Subrounded 0.35-0.49

83

15.

High Subangular 0.25-0.35

16.

Low Angular 0.17-0.25

17









.

Low Subangular

0.25-0.35











18.





Low


Angular






0.17-0.25

19.






20.






21.








Low






Low







Subangular






Very
angular






0.25-0.35






0.12-0.17







84








22.






23.











24.






25.






























High






Low






Low











High






High
angular






rounded






Angular











Angular






Subrounded
0.17-0.25






0.49-0.70






0.17-0.25












0.17-0.25





0.35-0.49






85


TABEL ANALISIS BENTUK BUTIR LP 2
Kode L=a I=b S=c b/a c/b Bentuk
1 5 4 3,5 0,80 0,88 Equant
2 5,7 4 2,5 0,70 0,63 Oblate
3 4,8 2,5 2,2 0,52 0,88 Prolate
4 4,2 2,6 2 0,62 0,77 Prolate
5 5,7 3 2,2 0,53 0,73 Prolate
6 4,5 3 2,5 0,67 0,83 Equant
7 4 3,7 3,5 0,93 0,95 Equant
8 5 3,5 2,3 0,70 0,66 Oblate
9 4 2,5 2,2 0,63 0,88 Prolate
10 3,3 2,5 1,8 0,76 0,72 Equant
11 3,2 2,6 2 0,81 0,77 Equant
12 4,8 3,3 3 0,69 0,91 Equant
13 4 3,7 1,8 0,93 0,49 Oblate
14 4,7 2,5 1,7 0,53 0,68 Prolate
15 4,2 3,7 2,7 0,88 0,73 Equant
16 4,5 3,2 1,6 0,71 0,50 Oblate
17 3,6 2,1 2 0,58 0,95 Prolate
18 3,8 2,4 2 0,63 0,83 Prolate
19 4,6 3,5 3,2 0,76 0,91 Equant
20 4,2 3 2,2 0,71 0,73 Equant
21 3,6 3,1 2,5 0,86 0,81 Equant
22 4,2 3 2,2 0,71 0,73 Equant
23 3,5 2,7 1,8 0,77 0,67 Equant
24 3,7 3 2,5 0,81 0,83 Equant
25 3 2,2 1,5 0,73 0,68 Equant

TABEL ANALISIS SPHERI CI TY LP 2
1 Kelas p Kelas
0,82 Very Equent 0,85 Very Equent
0,68 Intermediate Shape 0,65 Subelongate
0,62 Elongate 0,74 Equent
0,67 Intermediate Shape 0,72 Subequent
0,59 Very Elongate 0,66 Subelongate
0,72 Subequent 0,77 Very Equent
0,93 Very Equent 0,94 Very Equent
0,69 Intermediate Shape 0,67 Intermediate Shape
86

0,70 Subequent 0,79 Very Equent
0,74 Equent 0,73 Equent
0,80 Very Equent 0,78 Very Equent
0,75 Very Equent 0,83 Very Equent
0,75 Equent 0,60 Elongate
0,58 Very Elongate 0,63 Elongate
0,83
Very Equent 0,78 Very Equent
0,63 Subelongate 0,56 Very Elongate
0,69 Intermediate Shape 0,81 Very Equent
0,69 Subequent 0,76 Very Equent
0,81 Very Equent 0,86 Very Equent
0,72
Equent 0,73 Equent
0,84 Very Equent 0,82 Very Equent
0,72 Equent 0,73 Equent
0,73 Equent 0,70 Subequent
0,82 Very Equent 0,83 Very Equent
0,72 Subequent 0,70 Subequent

Tabel Analisis Roundness

STA/LP : 1/2
Kode
Foto High/Low
Sphericity
Roundness
b/a c/b Powers Wadell
1 High Subangular 0.25-0.35
2 Low Angular 0.17-0.25
3 Low Angular 0.17-0.25
87

4 Low Subrounded 0.35-0.49
5 Low Subrounded 0.35-0.49
6 Low Angular 0.17-0.25
7 High Subangular 0.25-0.35
8 Low Angular 0.17-0.25
9 Low Subangular 0.25-0.35
10 High Subrounded 0.35-0.49
11 High Subrounded 0.35-0.49
88

12 High Subangular 0.25-0.35
13 High Subangular 0.25-0.35
14 Low Angular 0.17-0.25
15 High Angular 0.17-0.25
16 Low Angular 0.17-0.25
17 Low Angular 0.17-0.25
18 Low Angular 0.17-0.25
19 High Subangular 0.25-0.35
89

20 Low Subrounded 0.35-0.49
21 Low Angular 0.17-0.25
22

Low
Very
Angular 0,12-0.17
23 Low Subangular 0.25-0.35
24 Low Angular 0.17-0.25
25 High Subrounded 0.35-0.49



TABEL ANALISIS BENTUK BUTIR LP 3
Kode L=a I=b S=c b/a c/b Bentuk
1 4,5 3,5 3,3 0,78 0,94 Equant
2 5 4,5 3,8 0,90 0,84 Equant
3 5,1 3,5 2,5 0,69 0,71 Equant
4 4,8 3,5 2,3 0,73 0,66 Oblate
5 5 3,8 2,2 0,76 0,58 Oblate
6 5,5 3 2,6 0,55 0,87 Prolate
90

7 5,2 3,5 2,8 0,67 0,80 Equant
8 5 4,5 2,5 0,90 0,56 Oblate
9 4,5 3,5 3 0,78 0,86 Equant
10 5 3,6 3,3 0,72 0,92 Equant
11 4,8 3,5 3,3 0,73 0,94 Equant
12 4,5 3,8 3,3 0,84 0,87 Equant
13 4 3 2,3 0,75 0,77 Equant
14 3,8 3,2 3 0,84 0,94 Equant
15 4,4 4,2 2 0,95 0,48 Oblate
16 5 4,2 2,5 0,84 0,60 Oblate
17 4,4 3 2 0,68 0,67 Equant
18 5,5 3,8 1,5 0,69 0,39 Oblate
19 4,5 2,5 1 0,56 0,40 Bladed
20 3,6 2,5 2,3 0,69 0,92 Equant
21 3,8 2,6 2,4 0,68 0,92 Equant
22 3,5 2,6 1,5 0,74 0,58 Oblate
23 4,5 3 2 0,67 0,67 Equant
24 5 2,3 2 0,46 0,87 Prolate
25 3,8 3,5 3 0,92 0,86 Equant

TABEL ANALISIS SPHERI CI TY LP 3
1 Kelas p Kelas
0,83 Very Equent 0,88 Very Equent
0,88
Very Equent 0,86 Very Equent
0,70 Subequent 0,70 Subequent
0,70 Subequent 0,68 Intermediate Shape
0,69 Subequent 0,63 Subelongate
0,64 Subelongate 0,74 Equent
0,71 Subequent 0,76 Very Equent
0,77 Very Equent 0,65 Subelongate
0,80
Very Equent 0,83 Very Equent
0,78 Very Equent 0,85 Very Equent
0,79 Very Equent 0,87 Very Equent
0,85 Very Equent 0,86 Very Equent
0,76 Very Equent 0,76 Very Equent
0,87
Very Equent 0,90 Very Equent
0,76 Very Equent 0,60 Elongate
0,75 Equent 0,67 Intermediate Shape
0,68 Intermediate Shape 0,67 Intermediate Shape
0,57 Very Elongate 0,48 Very Elongate
91

0,50 Very Elongate 0,45 Very Elongate
0,76 Very Equent 0,84 Very Equent
0,76 Very Equent 0,84 Very Equent
0,68 Intermediate Shape 0,63 Elongate
0,67 Intermediate Shape 0,67 Intermediate Shape
0,57 Very Elongate 0,70 Subequent
0,90
Very Equent 0,88 Very Equent

Tabel Analisis Roundness

STA/LP : 1/3
Kod
e
Foto
High/
Low
Spheri
city
Roundness
b/a c/b Powers Wadell
1 Low
Subangula
r
0.25-
0.35
2 High
Subround
ed
0.35-
0.49
3 Low Angular
0.17-
0.25
4 High
Subround
ed
0.35-
0.49
5 High
Subround
ed
0.35-
0.49
92


6




Low
Subangul
ar
0.25-
0.35
7




Low Angular
0.17-
0.25
8




High Angular
0.17-
0.25
9




High
Subround
ed
0.35-
0.49
10




Low
Subangul
ar
0.25-
0.35
11 Low
Subround
ed
0.35-
0.49
93


12




High Angular
0.17-
0.25
13




Low
Subangul
ar
0.25-
0.35
14




High Rounded
0.49-
0.70
15




High Angular
0.17-
0.25
16




Low Angular
0.17-
0.25
17 Low
Subround
ed
0.35-
0.49
94



18




Low
Very
Angular
0.12-
0.17
19




Low Angular
0.17-
0.25
20




Low Angular
0.17-
0.25
21 Low Angular
0.17-
0.25
22




High
Subangul
ar
0.25-
0.35
23 Low Angular
0.17-
0.25
95


24




Low Angular
0.17-
0.25
25




Low
Very
Angular
0.12-
0.17



























96

C. Komposisi Partikel

Tabel Hasil Pengamatan Komposisi Mineral Berat LP 1
No.
Medan
Pandan
g
Mineral Berat
Jumlah
Hornblend Pirokse
n
Olivi
n
Lithi
k
Silimani
t
Magneti
t
Hem
atit
Rutil
1 7 6 6 4 1 1 25
2 8 6 5 4 2 25
3 7 5 4 6 1 2 25
4 7 4 6 5 2 1 25
5 6 7 4 2 2 1 3 25
6 9 6 2 4 2 1 1 25
7 7 5 6 3 4 25
8 7 6 1 3 4 4 25
9 8 4 4 3 4 2 25
10 10 4 5 2 1 3 25
Jumlah 76 53 43 36 2 22 17 1 250

Tabel Frekuensi Mineral Berat


No.
Mineral
Berat
Frekuensi % Simpanganbaku
% +
Simpanganbaku
1 hornblend 76 30,4 5,7 36,1
2 Piroksen 53 21,2 5,2 26,4
3 olivin 43 17,2 5,5 22,7
4 litik 36 14,4 5,2 19,6
5 silimanit 2 0,8 0,8 1,6
6 magnetit 22 8,8 3,4 12,2
7 hematit 17 6,8 3 9,8
8 rutil 1 0.4 0,7 1,1
Jumlah
250 100 29,5 129,5
97



Tabel Hasil Pengamatan Komposisi Mineral Ringan/Partikel Lain LP 1




Tabel Frekuensi Mineral Ringan/Partikel Lain

No.
Mineral
Ringan/
Partikel
Lain
Frekuensi % Simpanganbaku
% +
Simpanganbaku
1 Kuarsa 103 41,2 6,1 47,3
2 Feldspar 48 19,2 4,9 24,1
3 Mika
3 1,2 1 2,2
4 Lithik 96 38,4 6 44,4
Jumlah 250 100 18 118











No.
Medan
Pandang
Mineral ringan/partikel lain
Jumlah
Kuarsa Feldspar Mika Lithik
1 11 6 8 25
2 15 3 7 25
3 15 10 25
4 7 5 2 11 25
5 13 6 6 25
6 7 3 15 25
7 8 8 9 25
8 8 5 12 25
9 12 5 8 25
10 7 7 1 10 25
Jumlah 103 48 3 96 250
98








30.4
21.2
17.2
14.4
0.8
8.8
6.8
0.4
0
5
10
15
20
25
30
35
hornblend Piroksen olivin litik silimanit magnetit hematit rutil
%

K
o
m
p
o
s
i
s
i

Jenis Mineral
Histogram Mineral Berat LP 1
41.2
19.2
1.2
38.4
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
Kuarsa Feldspar Mika Lithik
%

K
o
m
p
o
s
i
s
i

Jenis Mineral
Histogram Mineral Ringan LP 1
99


Tabel Hasil Pengamatan Komposisi Mineral Berat LP 2


Tabel Frekuensi Mineral Berat
















No.
Medan
Pandang
Mineral berat Jumlah
Olivin Piroksen Hornblenda Litik
1 5 2 6 12 25
2 4 9 9 3 25
3 4 5 6 8 25
4 4 7 7 9 25
5 5 5 6 7 25
6 4 10 6 7 25
7 3 9 10 5 25
8 3 6 9 7 25
9 4 7 8 4 25
10 6 5 7 7 25
Jumlah 42 65 74 69 250
No.
Mineral
Berat
Frekuensi %
Simpangan
baku
% +
Simpanganbaku
1 Hornblenda 74 29.6 5.7 % 35.3
2 Litik 69 27.6 5.5 % 33.1
3 Piroksen 65 26 5.6 % 31.6
4 Olivin 42 16.8 4.5 % 21.3
Jumlah
250 100 21.3 121.3
100



Tabel Hasil Pengamatan Komposisi Mineral Ringan/Partikel Lain LP 2


Tabel Frekuensi Mineral Ringan/Partikel Lain

No.
Mineral
Ringan/
Partikel
Lain
Frekuensi % Simpanganbaku
% +
Simpanganbaku
1 Kuarsa 94 37,6 6 43,6
2 Feldspar 47 18,8 4,9 23,7
3 Mika
2 0,8 0,8 1,6
4 Lithik 107 42,8 6,3 49,1
Jumlah 250 100 18 118













No.
Medan
Pandang
Mineral ringan/partikel lain Jumlah
Kuarsa Feldspar Muskovit Lithik
1 6 12 7 25
2 6 5 14 25
3 9 2 14 25
4 9 2 14 25
5 11 1 13 25
6 9 8 8 25
7 9 7 9 25
8 15 10 25
9 8 8 1 8 25
10 12 3 10 25
Jumlah 94 47 2 107 250
101







29.6
27.9
26
16.8
0
5
10
15
20
25
30
35
Hornblenda Litik Piroksen Olivin
%

K
o
m
p
o
s
i
s
i

Jenis Mineral
Histogram Mineral Berat LP 2
102


Tabel Hasil Pengamatan Komposisi Mineral Berat LP 3


Tabel Frekuensi Mineral Berat


37.6
18.8
0.8
42.8
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
Kuarsa Feldspar Mika Lithik
%

K
o
m
p
o
s
i
s
i

Jenis Mineral
Histogram Mineral Ringan LP 2
No.
Medan
Pandang
Mineral berat Jumlah
magnetit hornblend olivine hematite litik
1 3 8 2 17 25
2 5 6 1 13 25
3 10 4 1 10 25
4 7 4 2 17 25
5 8 5 3 2 7 25
6 6 4 4 3 8 25
7 5 10 1 1 8 25
8 5 7 1 5 7 25
9 8 4 2 2 9 25
10 8 5 2 4 6 25
Jumlah 75 57 14 22 102 250
103















Tabel Hasil Pengamatan Komposisi Mineral Ringan/Partikel Lain LP 3



Tabel Frekuensi Mineral Ringan/Partikel Lain

No.
Mineral
Berat
Frekuensi % Simpanganbaku
% +
Simpanganbaku
1 magnetite 75 30 5,8 35,8
2 hornblend 57 22,8 5,4 28,2
3 olivin 14 5,6 3 8,6
4 litik 102 40,8 6,2 47
5 hematite 22 8,8 4,9 13,7
Jumlah
250 100 25,1
No.
Medan
Pandang
Mineral ringan/partikel lain Jumlah
Kuarsa Feldspar Lithik Muskovit
1 10 6 8 1 25
2 10 7 6 2 25
3 8 6 10 1 25
4 9 8 8 25
5 10 5 10 25
6 11 5 9 25
7 10 5 7 3 25
8 10 7 4 4 25
9 10 5 9 1 25
10 5 5 15 25
Jumlah 93 59 86 12 250
104

No.
Mineral
Ringan/
Partikel
Lain
Frekuensi % Simpanganbaku
% +
Simpanganbaku
1 Kuarsa 93 37,2 6 43,2
2 Feldspar 59 23,6 5,4 29
3 Muskovit
12 4,8 2,5 7,3
4 Lithik 86 34,4 6 46,4
Jumlah 250 100 19,9 119,9















30
22.8
5.6
40.8
8.8
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
magnetitehornblende olivin litik hematite
%

K
o
m
p
o
s
i
s
i

Jenis Mineral
Histogram Mineral Berat LP 3
105







D. Bentuk butir pasir
A. Tabel dan kurva frekuensi kumulatif bentuk butir
LP 1

Bentuk
(a)
Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f fk f fk f fk f fk
oblate 4 4 0 0 1 1 2 2
equant 18 22 18 18 20 21 18 20
bladed 0 22 0 18 0 21 0 20
prolate 3 25 7 25 4 25 5 25
total 25 25 25 25 25 25 25 25

37.2
23.6
4.8
34.4
0
5
10
15
20
25
30
35
40
Kuarsa Feldspar Mika Lithik
%

K
o
m
p
o
s
i
s
i

Jenis Mineral
Histogram Mineral Ringan LP 3
106



LP 2

Bentuk
(a)
Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f fk f fk f fk f fk
oblate 0 0 0 0 0 0 0 0
equant 23 23 21 21 21 21 20 20
bladed 0 23 0 21 0 21 0 20
prolate
2
25
4
25
4
25
5
25
total 25 25 25 25 25 25 25 25




0
5
10
15
20
25
30
oblate equant bladed prolate
f
r
e
k
u
e
n
s
i

k
u
m
u
l
a
t
i
f

bentuk butir
Kurva Frekuensi Kumulatif Bentuk
Butir LP 1
Kuarsa
Feldspar
Mineral Berat
Litik
107



LP 3

Bentuk
(a)
Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f fk f fk f fk f fk
oblate 0 0 0 0 0 0 0 0
equant 22 22 23 23 17 17 21 21
bladed
0
22
0
23
0
17
0
21
prolate 3 25 2 25 8 25 4 25
total 25 25 25 25 25 25 25 25




0
5
10
15
20
25
30
oblate equant bladed prolate
f
r
e
k
u
e
n
s
i

k
u
m
u
l
a
t
i
f

bentuk butir
Kurva Frekuensi Kumulatif Bentuk
Butir LP 2
kuarsa
feldspar
mineral berat
litik
0
5
10
15
20
25
30
oblate equant bladed prolate
f
r
e
k
u
e
n
s
i

k
u
m
u
l
a
i
t
f

bentuk butir
Kurva Frekuensi Kumulatif Bentuk
Butir LP 3
kuarsa
feldspar
mineral berat
litik
108

B. Tabel dan kurva frekuensi kumulatif roundness
LP 1
TABEL ROUNDNESS LP 1
a Roundness Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f f fk axf f f fk axf f f fk axf f f fk axf
0,15 very
angular
0 0 0 0 1 1 1 0,15 3 9 3 0,45 0 0 0 0
0,2 angular 11 121 11 2,2 12 144 13 2,4 9 81 12 1,8 10 100 10 2
0,3 subangular 11 121 22 3,3 8 16 21 2,4 10 100 22 3 7 49 17 2,1
0,4 subrounded 3 9 25 1,2 4 8 25 1,6 3 9 25 1,2 7 49 24 2,8
0,6 rounded 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 1 1 25 0,6
0,85 well
rounded
0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
Total 25 251 25 6,7 25 169 25 6,55 25 199 25 6,45 25 199 25 7,5










0
5
10
15
20
25
30
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

Kurva Roundness STA 1 LP 1
Kuarsa
Feldspar
Mineral Berat
Litik
109




LP 2

TABEL ROUNDNESS LP 2
a Roundness Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f f fk axf f f fk axf f f fk axf f f fk axf
0,15 very
angular
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,2 angular 0 0 0 0 4 16 4 0,8 8 64 8 1,6 4 16 4 0,8
0,3 subangular 9 81 9 2,7 16 256 20 4,8 14 196 22 4,2 13 169 17 3,9
0,4 subrounded 15 225 24 6 5 25 25 2 3 9 25 1,2 8 64 25 3,2
0,6 rounded 1 1 25 0,6 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,85 well
rounded
0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
Total 25 307 25 9,3 25 297 25 7,6 25 269 25 7 25 249 25 7,9














-5
0
5
10
15
20
25
30
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

Kurva Roundness STA 1 LP 2
Kuarsa
Feldspar
Mineral Berat
Litik
110

LP 3
















-5
0
5
10
15
20
25
30
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

Kurva Roundness STA 1 LP 3
Kuarsa
Feldspar
Mineral Berat
Litik
TABEL ROUNDNESS LP 3
a Roundness Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f f fk axf f f fk axf f f fk axf f f fk axf
0,15 very
angular
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,2 angular 0 0 0 0 0 0 0 0 7 49 7 1,4 1 1 1 0,2
0,3 subangular 12 144 12 3,6 3 9 3 0,9 12 144 19 3,6 18 324 19 5,4
0,4 subrounded 10 100 22 4 22 484 25 8,8 6 36 25 2,4 6 36 25 2,4
0,6 rounded 3 9 25 1,8 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,85 well
rounded
0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
Total 25 253 25 9,4 25 493 25 9,7 25 229 25 7,4 25 361 25 8
111

C. Tabel dan kurva frekuensi kumulatif sphericity
LP 1
Kelas Sphericity
(a)
Tabel Sphericity STA 1 LP 1
Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f f fk axf f f fk axf f f fk axf f f fk axf
very
elongate
0,45 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,49 0 0 0 0 0 0 0 0 2 4 2 0,98 0 0 0 0
0,51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0
0,53 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 3 0,53 1 1 1 0,53
0,55 0 0 0 0 1 1 1 0,55 1 1 4 0,55 0 0 1 0
0,57 0 0 0 0 0 0 1 0 4 16 8 2,28 2 4 3 1,14
0,59 1 1 1 0,59 1 1 2 0,59 1 1 9 0,59 1 1 4 0,59
elongate 0,61 0 0 1 0 1 1 3 0,61 3 9 12 1,83 3 9 7 1,83
0,63 3 9 4 1,89 5 25 8 3,15 3 9 15 1,89 1 1 8 0,63
subelongate 0,65 2 4 6 1,3 4 16 12 2,6 2 4 17 1,3 3 9 11 1,95
intermediet
shape
0,67 2 4 8 1,34 2 4 14 1,34 2 4 19 1,34 3 9 14 2,01
0,69 4 16 12 2,76 2 4 16 1,38 3 9 22 2,07 3 9 17 2,07
subequent 0,71 2 4 14 1,42 2 4 18 1,42 2 4 24 1,42 2 4 19 1,42
equent 0,73 2 4 16 1,46 3 9 21 2,19 0 0 24 0 0 0 19 0
0,75 1 1 17 0,75 2 4 23 1,5 0 0 24 0 0 0 19 0
very equent 0,77 2 4 19 1,54 1 1 24 0,77 1 1 25 0,77 2 4 21 1,54
0,79 2 4 21 1,58 1 1 25 0,79 0 0 25 0 0 0 21 0
0,81 0 0 21 0 0 0 25 0 0 0 25 0 2 4 23 1,62
0,83 2 4 23 1,66 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 23 0
0,85 2 4 25 1,7 0 0 25 0 0 0 25 0 1 1 24 0,85
0,87 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 24 0
0,89 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 1 1 25 0,89
0,91 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,93 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,95 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
112

0,97 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,99 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
total 25 59 25 17,99 25 71 25 16,89 25 63 25 15,55 25 57 25 17,07




LP 2
Kelas Sphericity
(a)
Tabel Sphericity STA 1 LP 2
Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f f fk axf f f fk axf f f fk axf f f fk axf
very
elongate
0,45 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,53 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,55 0 0 0 0 1 1 1 0,55 0 0 0 0 0 0 0 0
0,57 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0,57
0,59 0 0 0 0 0 0 1 0 4 16 4 2,36 2 4 3 1,18
elongate 0,61 1 1 1 0,61 1 1 2 0,61 2 4 6 1,22 0 0 3 0
0,63 0 0 1 0 0 0 2 0 1 1 7 0,63 2 4 5 1,26
subelongate 0,65 0 0 1 0 2 4 4 1,3 0 0 7 0 2 4 7 1,3
intermediet
shape
0,67 0 0 1 0 5 25 9 3,35 3 9 10 2,01 2 4 9 1,34
0,69 1 1 2 0,69 5 25 14 3,45 5 25 15 3,45 5 25 14 3,45
subequent 0,71 4 16 6 2,84 2 4 16 1,42 1 1 16 0,71 2 4 16 1,42
0
5
10
15
20
25
30
0.45 0.49 0.53 0.57 0.61 0.65 0.69 0.73 0.77 0.81 0.85 0.89 0.93 0.97
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

Sphericity
Kurva Sphericity STA 1 LP 1
Kuarsa
Feldspar
Mineral Berat
Litik
113

equent 0,73 4 16 10 2,92 2 4 18 1,46 3 9 19 2,19 4 16 20 2,92
0,75 4 16 14 3 2 4 20 1,5 1 1 20 0,75 1 1 21 0,75
very equent 0,77 4 16 18 3,08 3 9 23 2,31 2 4 22 1,54 1 1 22 0,77
0,79 3 9 21 2,37 1 1 24 0,79 2 4 24 1,58 1 1 23 0,79
0,81 1 1 22 0,81 1 1 25 0,81 0 0 24 0 1 1 24 0,81
0,83 3 9 25 2,49 0 0 25 0 0 0 24 0 1 1 25 0,83
0,85 0 0 25 0 0 0 25 0 1 1 25 0,85 0 0 25 0
0,87 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,89 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,91 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,93 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,95 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,97 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,99 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 25 0
total 25 85 25 18,81 25 79 25 17,55 25 75 25 17,29 25 67 25 17,39




LP 3
Kelas Sphericity
(a)
Tabel Sphericity STA 1 LP 3
Kuarsa Feldspar Mineral Berat Litik
f f fk axf f f fk axf f f fk axf f f fk axf
very
elongate
0,45 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,53 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,55 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0,55 0 0 0 0
0,57 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0
0
5
10
15
20
25
30
0.45 0.49 0.53 0.57 0.61 0.65 0.69 0.73 0.77 0.81 0.85 0.89 0.93 0.97
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

Sphericity
Kurva Sphericity STA 1 LP 2
Kuarsa
Feldspar
Mineral Berat
Litik
114

0,59 0 0 0 0 0 0 0 0 2 4 3 1,18 0 0 0 0
elongate 0,61 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 4 0,61 0 0 0 0
0,63 0 0 0 0 1 1 1 0,63 1 1 5 0,63 1 1 1 0,63
subelongate 0,65 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 6 0,65 3 9 4 1,95
intermediet
shape
0,67 0 0 0 0 0 0 1 0 3 9 9 2,01 0 0 4 0
0,69 1 1 1 0,69 2 4 3 1,38 5 25 14 3,45 6 36 10 4,14
subequent 0,71 4 16 5 2,84 3 9 6 2,13 5 25 19 3,55 1 1 11 0,71
equent 0,73 5 25 10 3,65 6 36 12 4,38 2 4 21 1,46 5 25 16 3,65
0,75 1 1 11 0,75 4 16 16 3 1 1 22 0,75 3 9 19 2,25
very equent 0,77 7 49 18 5,39 3 9 19 2,31 2 4 24 1,54 3 9 22 2,31
0,79 2 4 20 1,58 2 4 21 1,58 1 1 25 0,79 2 4 24 1,58
0,81 2 4 22 1,62 3 9 24 2,43 0 0 25 0 1 1 25 0,81
0,83 2 4 24 1,66 1 1 25 0,83 0 0 25 0 0 0 25 0
0,85 1 1 25 0,85 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,87 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,89 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,91 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,93 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,95 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,97 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
0,99 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0 0 0 25 0
total 25 105 25 19,03 25 89 25 18,67 25 77 25 17,17 25 95 25 18,03







0
5
10
15
20
25
30
0.45 0.49 0.53 0.57 0.61 0.65 0.69 0.73 0.77 0.81 0.85 0.89 0.93 0.97
F
r
e
k
u
e
n
s
i

K
u
m
u
l
a
t
i
f

Sphericity
Kurva Sphericity STA 13LP 3
Kuarsa
Feldspar
Mineral Berat
Litik
115

Perhitungan mean roundness dan sphericity

- Mean Roundness LP 1
Kuarsa : m =

= 0,268 (subangular)
Feldspar : m =

= 0,264(subangular)
Mineral Berat : m =

= 0,26 (subangular)
Litik : m =

= 0,3 (subangular)

- Mean Roundness LP 2
Kuarsa : m =

= 0,372 (subrounded)
Feldspar : m =

= 0,304 (subangular)
Mineral Berat : m =

= 0,28 (subangular)
Litik : m =

= 0,316 (subangular)

- Mean Roundness LP 3
Kuarsa : m =

= 0,376 (subrounded)
Feldspar : m =

= 0,388 (subrounded)
Mineral Berat : m =

= 0,296 (subangular)
Litik : m =

= 0,32 (subangular)





- Mean Sphericity LP 1
Kuarsa : m =

= 0,719 (subequent)
116

Feldspar : m =

= 0,675(intermediate shape)
Mineral Berat : m =

= 0,622 (elongate)
Litik : m =

= 0,682 (intermediate shape)



- Mean Sphericity LP 2
Kuarsa : m =

= 0,752 (equent)
Feldspar : m =

= 0,702(subequent)
Mineral Berat : m =

= 0,691 (intermediate shape)


Litik : m =

= 0,695 (intermediate shape)



- Mean Sphericity LP 3
Kuarsa : m =

= 0,761 (very equent)


Feldspar : m =

= 0,746(equent)
Mineral Berat : m =

= 0,686 (intermediate shape)


Litik : m =

= 0,721 (subequent)









Perhitungan ralat roundness dan sphericity

- Standar Deviasi Roundness LP 1
117

Kuarsa :

)()

()

= 0,125
Feldspar :

)()

()

= 0,1
Mineral Berat :

)()

()

= 0,109
Litik :

)()

()

= 0,109
- Standar Deviasi Roundness LP 2
Kuarsa :

)()

()

= 0,139
Feldspar :

)()

()

= 0,137
Mineral Berat :

)()

()

= 0,130
Litik :

)()

()

= 0,124
- Standar Deviasi Roundness LP 3
Kuarsa :

)()

()

= 0,125
Feldspar :

)()

()

= 0,180
Mineral Berat :

)()

()

= 0,119
Litik :

)()

()

= 0,128



- Standar Deviasi Sphericity LP 1
Kuarsa :

)()

()

= 0,048
118

Feldspar :

)()

()

= 0,056
Mineral Berat :

)()

()

= 0,051
Litik :

)()

()

= 0,047
- Standar Deviasi Sphericity LP 2
Kuarsa :

)()

()

= 0,067
Feldspar :

)()

()

= 0,061
Mineral Berat :

)()

()

= 0,058
Litik :

)()

()

= 0,054
- Standar Deviasi Sphericity LP 3
Kuarsa :

)()

()

= 0,074
Feldspar :

)()

()

= 0,067
Mineral Berat :

)()

()

= 0,060
Litik :

)()

()

= 0,069