Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN (BA-2101) MEDIUM HIDROPONIK

Tanggal Praktikum Tanggal Pengumpulan

: 16 September 2013 : 7 Oktober 2013

Disusun oleh: Dianisa Rizkika 11412033 Kelompok 8

Asisten: Putri Reno Galih 10609071

PROGRAM STUDI REKAYASA PERTANIAN SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG JATINANGOR 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pengembangan hidroponik di Indonesia cukup prospektif mengingat beberapa hal sebagai berikut, yaitu permintaan pasar sayuran berkualitas yang terus meningkat, kondisi lingkungan/ iklim yang tidak menunjang, kompetisi penggunaan lahan, dan adanya masalah degradasi tanah. Sistem hidroponik merupakan cara produksi tanaman yang sangat efektif. Sistem ini dikembangkan berdasarkan alasan bahwa jika tanaman diberi kondisi pertumbuhan yang optimal, maka potensi maksimum untuk berproduksi dapat tercapai. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan sistem perakaran tanaman, di mana pertumbuhan perakaran tanaman yang optimum akan pertumbuhan tunas atau bagian atas yang sangat tinggi (Raffar,1993). Banyak kelebihan yang dimiliki sistem budidaya hidroponik dibandingkan dengan budidaya tanah. Sistem budidaya hidroponik lebih murah dan praktis. Kemungkinan tanaman untuk mati adakah kecil sekali, karena makanan terjamin. Disamping itu

penggunaan pupuk lebih terkontrol dan lebih efisiensi. (Hasyim,1984). Disamping itu, semua tanaman secara teknis dapat dihidroponikkan, tanaman hias yang berhasil dihidroponikan adalah Begonia, Draecerna, Philodenron dan Sansivera (Lingga, 1984). Tanaman sayur-sayuran yang berhasil dihidroponikkan antara lain : cabai, tomat, selada, kangkung, bayam, paprika dan lain-lain. (Wijayani dan Widodo,2005). Peningkatan kesejahteraan keluarga Indonesia kedepannya salah satunya dapat dilaksanakan melalui budidaya tanaman sayur-sayuran dan tanaman buah dengan menggunakan hidroponik di pekarangan. Di daerah perkotaan sulit untuk mendapatkan tanah yang subur untuk media pertanaman, budidaya secara hidroponik merupakan suatu alternatif yang dapat diterapkan. Tujuannya agar usaha penyediaan tanaman sayursayuran dan buah-buahan untuk memenuhi gizi keluarga di perkotaan dapat terpenuhi dan juga akan menekan biaya untuk membelinya. Hidropnik diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan efisiensi dalam penggunaan lahan serta dapat menambah keserasian dan kenyamanan atau meningkatkan kualitas lingkungan kota.

1.2 Tujuan 1) Menentukan pengaruh unsur Nitrogen dan Magnesium pada medium Hoagland terhadap pertumbuhan daun cabai (Capsicum Anuum) 2) Menentukan pengaruh unsur Nitrogen dan Magnesium pada medium Hoagland terhadap kadar klorofil daun cabai (Capsicum Anuum) 3) Menentukan pengaruh unsur Nitrogen dan Magnesium pada medium Hoagland terhadap biomassa daun cabai (Capsicum Anuum)

BAB II TEORI DASAR

2.1 Pengertian Hidroponik Hidroponik merupakan teknik bertanam tanpa menggunakan media tanah. Teknik ini mampu meningkatkan hasil tanaman per satuan luas sampai lebih dari sepuluh kali, bila dibandingkan dengan teknik pertanian konvensional (Soenoeadji, 1990 cit. Basuki, 2008). Hidroponik termasuk teknologi penanaman dalam larutan nutrisi (air dan pupuk) dengan atau tanpa penggunaan media buatan untuk mendukung perakaran tanaman (Jensen ,1990). 2.2. Jenis Sistem Hidroponik Jenis sistem hidroponik dikelompokkan menjadi 3 kelompok,yaitu (Lestari,2009) : 1) Kultur agregat seperti hidroponik substrat sistem tetes (Drip), pasang surut (Ebb and Flow), sistem statis dan modifikasi hidroponik substrat lainnya. Kultur agrerat ini Media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam padi (kuntan), dan lainlain yang harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Pemberian hara dengan cara mengairi media tanam atau dengan cara menyiapkan larutan hara dalam tangki atau drum, lalu dialirkan ke tanaman melalui selang plastik. Sistem tetes (Drip) merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh pada media porus selain tanah yang dialiri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup. Sedangkan teknik Edd and flow atau sistem hidroponik pasang surut merupakan salah satu sistem budidaya tanaman secara hidroponik yang dalam pemberian nutrisinya secara pasang surut. Dalam rangkaian sistem ini dilengkapi denga timer (penghitung waktu) pemberian nutrisi. Sehingga adakalanya tanaman terendam nutrisi dan adakalanya nutrisi tersebut surut kembali. (Sudibyo,2003) 2) Kultur air seperti NFT (Nutrient Film Technique), Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan abad ke-15 oleh bangsa Aztec. Dalam metode ini tanaman ditumbuhkan pada media tertentu yang di bagian dasar terdapat larutan yang mengandung hara makro dan mikro, sehingga ujung akar tanaman akan menyentuh larutan yang mengandung nutrisi tersebut (Jensen,1980).
3

3)

NFT adalah sebuah sistem yang menggunakan film larutan nutrisi. Film atau lapisan tipis setebal 1-3 mm ini dipompa dan dialirkan melewati akar tanaman secara terus menerus dengan kecepatan aliran sekitar 1-2 liter per menit. Sirkulasi nutrisi dapat digunakan ulang selama beberapa minggu sesuai kebutuhan tanaman. Sebagian akar tanaman tumbuh di atas permukaan larutan nutrisi dan sebagian lagi terendam di dalamnya. Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan tanaman dalam hidroponik NFT adalah tersedianya nutrisi penunjang yang sesuai dengan jenis dan umur tanaman dan kestabilan kecepatan aliran nutrisi (Cooper,1972).

4)

Kultur udara seperti Aeroponik. Hidroponik dengan media tanam udara populer disebut aeroponik yang berarti memberdayakan udara. Pada aeroponik air bernutrisi dikabutkan dan disemprotkan langsung ke akar tanaman secara berkala. (Lestari,2009)

2.3. Komposisi dari Medium Hoagland Komposisi larutan nutrisi Hoagland untuk pertumbuhan tanaman terdiri atas makronutrien dan mikronutrien(Epstein,1972). Adapun rinciannya disajikan dalam bentuk tabel berikut.

2.4. Sawi Hijau (Brassica rapa) Sawi hijau (Brassica rapa convar. parachinensis; suku sawi-sawian atau Brassicaceae) merupakan tanaman semusim. Dikenal pula sebagai caisim, caisin, atau sawi bakso. Sawi berdaun lonjong, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Jenis sayuran ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman sawi mempunyai batang pendek dan lebih langsing dari petai. Pada umumnya pola pertumbuhan daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop. Tanaman ini mempunyai akar tunggang dengan akar samping yang banyak, tetap dangkal. Bunganya mirip petsai, tetapi rangkaian tandan lebih pendek. Ukuraqn kuntum bunga lebih kecil dengan warna kuning pucat spesifik. Ukuran bijinya kecil dan berwarna hitam kecoklelatan. Bijinya terdapat dalam kedua sisi dinding sekat polong yang lebih gemuk (Sunarjono, 2004).

2.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman Hidroponik Faktor-faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman hidroponik yaitu sebagai berikut (Prasdianata,2011): 1) Unsur Hara Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada hidroponik, karena media hanya berfungsi sebagai penopang tanaman dan sarana meneruskan larutan atau air yang berlebihan.Hara tersedia bagi tanaman pada pH 5.5 7.5 tetapi yang terbaik adalah 6.5, karena pada kondisi ini unsur hara dalam keadaan tersedia bagi tanaman. Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya dalam larutan relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah, yang meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl. Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbedabeda menurut tingkat pertumbuhannya dan jenis tanaman (Jones, 1991). Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara, pemilihannya biasanya atas harga dan kelarutan garam pupuk tersebut. 2) Media Tanam Hidroponik Jenis media tanam yang digunakan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Media yang baik membuat unsur hara tetap tersedia, kelembaban terjamin dan drainase baik. Media yang digunakan harus dapat

menyediakan air, zat hara dan oksigen serta tidak mengandung zat yang beracun bagi tanaman. Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai media tanam dalam hidroponik antara lain pasir, kerikil, pecahan batu bata, arang sekam, spons, dan sebagainya. Bahan yang digunakan sebagai media tumbuh akan mempengaruhi sifat lingkungan media. Tingkat suhu, aerasi dan kelembaban media akan berlainan antara media yang satu dengan media yang lain, sesuai dengan bahan yang digunakan sebagai media. 3) Oksigen Keberadaan Oksigen dalam sistem hidroponik sangat penting. Rendahnya oksigen menyebabkan permeabilitas membran sel menurun, sehingga dinding sel makin sukar untuk ditembus, Akibatnya tanaman akan kekurangan air. Hal ini dapat menjelaskan mengapa tanaman akan layu pada kondisi tanah yang tergenang. Tingkat oksigen di dalam pori-pori media mempengaruhi perkembangan rambut akar. Pemberian oksigen ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: memberikan gelembung-gelembung udara pada larutan (kultur air), penggantian larutan hara yang berulang-ulang, mencuci atau mengabuti akar yang terekspose dalam larutan hara dan memberikan lubang ventilasi pada tempat penanaman untuk kultur agregat. 4) Air Kualitas air yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman secara hidroponik mempunyai tingkat salinitas yang tidak melebihi 2500 ppm, atau mempunyai nilai EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm serta tidak mengandung logam-logam berat dalam jumlah besar karena dapat meracuni tanaman.

2.6. Mekanisme Pembentukan Klorofil sebagai Hasil Metabolisme Nitrogen Mekanisme pembentukan kolorofil diawali dengan pembentukan asam aminolevulinat (ALA) (Stryer (1981). Pembentukan ALA melalui jalur Glutamat melalui tahapan pembentukan glutamat t-RNA dari glutamat kemudian diubah menjadi semialdehide selanjutnya menjadi ketoglutaldehid untuk kemudian dengan enzim transaminase atau enzim amino transferase terbentuklah ALA 150 (Bonner & Varner, 1965; Krogman, 1979). Dari 2 molekul ALA dengan melibatkan enzim ALA dehidrase akan terbentuk porfobilinogen (PBG) yang mengandung cincin pirol dari 4 molekul PBG dengan melibatkan enzim uroporfirinogen III. Decarboksilasi merubah uroporfirinogen III.

Di bawah kondisi aerob dengan melibatkan enzim Caproporfirinogen dekarboksilase, caproporfirinogen III selanjutnya akan membentuk proporfinogen IX. Oksidasi terhadap proporfirinogen IX akan menghasilkan proporfirin IX yang belum memiliki Mg. setelah protoporfirin IX bergabung dengan Mg terbentuklah Mg protoporfirin IX. Penambahan gugus metil pada Mg Protoporfirin IX dengan bantuan Mg Protoporfirin esterase akan membentuk Mg porfirin IX monometil ester. Selanjutnya adalah perubahan Mg porfirin IX monometil ester menjadi proklorofilide (Bonner and Varner, 1965; Devlin 1975; Krogman, 1979). Perubahan protoclorofilideae menjadi klorofil a terjadi melalui terbentuknya protoclorofilde holocrome yang berikatan dengan protein mengikat ion 2H+. dua ion tersebut disumbangkan pada cincin keempat sehingga terbentuklah protoklorofilie a holocrome, yang selanjutnya dapat berubah menjadi klorfil a dengan melepaskan holocrome bersama apoprotein (Mohr &schopfer, 1995). Dari klorofil a dengan bantuan enzim klorofilase yang mengkatalisis esterifikasi senyawa fitol akan terbentuklah klorofil a. Sementara itu homogenat daun, sediaan tilakoid dan daun yang dilindungi dari cahaya dapat mengubah klorofil a menjadi klorofil b. Oleh karena itu klorofil a dapat menjadi prazat klorofil b (Gambar 9, Robinson, 1995).

2.7. Spektrofotometri Spektrofotometri adalah suatu metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detector fototube. Teknik yang sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektrofotometri ultraviolet, cahaya tampak, infra merah dan serapan atom. Jangkauan panjang gelombang untuk daerah ultraviolet adalah 190-380 nm, daerah cahaya tampak 380-780 nm, daerah inframerah dekat 780-3000 nm, dan daerah inframerah 2,5-40 m atau 4000-250 cm-1 (Ditjen POM, 1995). Spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang merupakan alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Dimana spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang di absorpsi. Jadi, Spektrofotometer digunakan untuk mengukur energy secara relative sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometer merupakan alat untuk mengukur transmitan atau absorban

suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang (Khopkar, 2003). Spektrofotometer tersusun dari beberapa bagian yaitu sebagai berikut : a. Sumber cahaya : sumber cahaya yang biasa digunakan pada spektroskopi absorpsi adalah lampu wolfram. Dimana arus cahaya tergantung pada tegangan lampu. b. Monokromator : berfungsi untuk merubah sinar polikromatis menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran. c. Sel absorpsi : pada pengukuran di daerah tampak kuvet kaca atau kuvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV harus menggunakan sel kuarsa karena gelas tidak tembus cahaya pada daerah ini. d. Ditektor : untuk memberikan respon cahaya terhadap berbagai panjang gelombang atau merubah sinar menjadi energi listrik yang sebanding dengan besaran yang dapat diukur (Khopkar, 2003). 2.8. Panjang Gelombang Panjang gelombang adalah jarak antar dua titik identik dalam sebuah siklus. Dalam frekuensi radio, panjang gelombang biasanya dalam meter, sentimeter atau millimeter (Purbo,2000). Panjang gelombang cahaya UV bergantung pada mudahnya promosi (eksitasi) elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron (eksitasi) akan menyerap pada panjang gelombang lebih

pendek.Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang lebih panjang (Fessenden, 1999).

2.9. Absorbansi Absorbansi adalah suatu polarisasi cahaya yang terserap oleh bahan ( komponen kimia ) tertentu pada panjang gelombang tertentu sehingga akan memberikan warna tertentu terhadap bahan. Sinar yang dimaksud yakni bersifat monokromatis dan mempunyai panjang gelombang tertentu. Beberapa atom hanya dapat menyerap sinar dengan panjang gelombang sesuai dengan unsur atom tersebut. Sehingga memiliki sifat yang spesifik bagi suatu unsur atom (Rohman, 2007).. Absorbansi pada panjang gelombang tertentu didefinisikan sebagai : Keterangan: A = absorbansi Io = intensitas radiasi yang datang I = intensitas radiasi yang diteruskan
8

Absorbansi suatu senyawa dengan panjang gelombang tertentu bertambah dengan makin banyaknya molekul yang mengalami transisi (Sastrohamidjojo, 1991). Absorbansi yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2-0,6. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa pada kisaran nilai absorbansi tersebut, kesalahan fotometrik yang terjadi adalah paling minimal (Rohman, 2007).

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat dan bahan Alat Tabung Erlenmeyer Pipet Gelas kimia Alumunium foil Karet gelang Styrofoam Aerator Kapas Kawat Spidol permanen Bak Percobaan Cutter ZnCl 2 Mikronutrien 1M 1M 1M H3BO3 MnCl 2.4 H2 O Aquades Bahan Air Na2EDTA FeSO4 NaNO3 1 M 1M CuCl2.2H20 Na2MoO4.2H2O

3.2 Cara kerja Dalam pengerjaan praktikum ini, volume medium yang dibuat untuk setiap kelompok adalah 3 L. Mula-mula kecambah tanaman cabai berumur 1 bulan disiapkan untuk keperluan percobaan ini. Tiap bak percobaan harus ditutupi oleh styrofoam yang sudah diukur sedemikian rupa agar styrofoam dapat diposisikan dalam keadaan melayang di dalam bak percobaan. Styrofoam tersebut dilubangi sebanyak 4 lubang dengan jarak tepi dan ukuran yang sama. Kemudian bak percobaan diisi dengan air kran hingga 3 L dan di dinding bak percobaan pada batas atas dengan air diberi tanda dengan menggunakan spidol permanen.Buanglah air tersebut dan diganti dengan medium Hoagland yang telah dibuat sesuai takaran yang sudah ditentukan berdasarkan kelompok. Akar kecambah cabai dibersihkan dari tanah yang masih menempel.Jika sudah bersih kecambah dipindahkan ke lubang styrofoam. Gunakan kapas secukupnya untuk menahan kecambah agar tidak jatuh dari styrofoam. Styrofoam diberi kawat sebagai penyangga untuk mempertahankan posisinya di dalam bak.

10

Selanjutnya simpan tanaman percobaan di rumah kaca. Perlu di perhatikan bahwa susutnya larutan dalam tangki medium dapat ditambahkan dengan akuades hingga batas awal. Jangan lupa untuk memeriksa pH (5,5 6,5) setiap 3 hari dan mengganti larutan satu minggu sekali dengan larutan medium yang baru. Perhatikan pertumbuhan tanaman percobaan dengan seksama dan catat gejala yang timbul akibat hilangnya salah satu unsur nutrisi. Percobaan ini memerlukan waktu sekitar 1,5 - 2 bulan.

11

BAB IV PEMBAHASAN.

4.1. Defisiensi Nitrogen Nitrogen berada dalam berbagai senyawa yang bisa digunakan untuk metabolisme tanaman (Barker & Bryson,2007). Pemberian pupuk dengan nitrogen yang tinggi dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan organ tanaman sehingga lebih cepat mengalami pertambahan jumlah daun dan ukuran luas daun (Fageria dan Baligar, 2005). Unsur nitrogen akan meningkatkan warna hijau daun, mendorong pertumbuhan batang dan daun (Marschner, 1986). Nitrogen erat kaitannya dengan sintesis klorofil (Sallisbury dan Ross, 1992) dan sintesis protein maupun enzim (Schaffer, 1996). Enzim (rubisco) berperan sebagai katalisator dalam fiksasi CO2 yang dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis (Salisbury dan Ross, 1992 ; Schaffer, 1996). Oleh karena itu peningkatan kandungan nitrogen tanaman dapat berpengaruh terhadap fotosintesis baik lewat kandungan klorofil maupun enzim fotosintetik sehingga meningkatkan fotosintat (bobot segar, bobot kering, dan bobot buah cabai) yang terbentuk. Umumnya, lebih dari 75 % nitrogen di dalam daun terkandung dalam kloroplas. Kekurangan nitrogen akan menghambat pertumbuhan tanaman karena akan menurunkan protein dalam kloroplas. Nitrogen merupakan unsur yang mobil, jika terjadi defisiensi unsur ini akan ditransfer ke jaringan yang lebih muda. Tanaman yang mengalami difisiensi N akan memperlihatkan warna daun hijau pucat terutama pada daun-daun yang tidak ternaumgi dan ukuran daun lebih kecil dibanding ukuran daun normal (Nasaruddin dan Padjung, 2007). Warna daun sangat berpengaruh pada pemberian larutan nutrisi, semakin tinggi dosis nitrogen yang diberikan maka warna daun yang diperoleh sangat hijau akan tetapi jika dosis yang diberikan dalam jumlah yang sedikit atau tidak sesuai dengan kebutuhan maka hasil warna daun yang diperoleh kekuningan. Gejala kekurangan unsur hara nitrogen terlihat dimulai dari daunnya, warna daunnya yang hijau agak kekuning-kuningan selanjutnya berubah menjadi kuning lengkap atau klorosis. Selain itu jaringan daun akan mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan. Kandungan unsur N yang rendah dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini di-karenakan menebalnya membrane sel daun sedangkan selnya sendiri berukuran kecil-kecil . (Sutejo,2008).
12

4.2. Defisiensi Magnesium Magnesium mempunyai peran yang penting dalam berbagai proses yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Unsur ini merupakan salah satu hara yang dibutuhkan tanaman untuk kegiatan metaboliknya. Magnesium memiliki peran besar dalam fisiologis dan molekul tanaman, seperti menjadi komponen klorofil, kofaktor untuk proses enzimatik yang terkait dengan fosforilasi, defosforilasi, dan hidrolisis berbagai senyawa, dan sebagai penstabil struktural berbagai nukleotida (Merhaut,2007). Magnesium berperan penting dalam tanaman karena merupakan satu-satunya unsur logam yang menyusun molekul klorofil (Tisdale dan Nelson, 1975). Kira-kira 10% unsur magnesium di dalam tanaman dijumpai di dalam kloroplas dan berperan sebagai aktivator spesifik dari beberapa enzim. Enzim yang ikut serta dalam metabolisme karbohidrat yang membutuhkan magnesium sebagai aktivator seperti enzim transfosforilase, dehidrogenase, dan karboksilase (Indrarjo, 1986). Magnesium lebih banyak terakmulasi pada bagian daun karena merupakan satu-satunya unsur logam yang menyusun molekul klorofil dan salah satu unsur yang berperan penting dalam proses fotosintesis dan reaksi gelap. banyaknya Mg dijumpai pada merismatik muda, dalam biji dan buah dibandingkan pada akar dan batang karena magnesium mempunyai hubungan erat dengan pembentukan fosfolipida dan sintesis nukleoprotein (Zimmerman,1947 cyt. Kadarwati,1989). Magnesium merupakan komponen integral dari klorofil dan proses enzimatik yang berhubungan dengan fotosintesis dan respirasi. Asimilasi karbon dan transformasi energi akan terpengaruh oleh defisiensi magnesium. Karena itulah kekurangan magnesium dapat menghambat pertumbuhan, khususnya akar dan tunas. Tingkat penghambatan dapat dipengaruhi oleh keparahan kekurangan magnesium, jenis tanaman, kondisi lingkungan, dan status nutrisi umum dari tanaman. 4.3. Gejala Klorosis Tanaman Sampel Pada awal pertumbuhan, ke-4 tanaman cabai sebagai sampel yaitu cabai A, cabai B, cabai C dan cabai D terlihat sehat dan daun tampak berwarna hijau. Namun mulai 15 hari dan seterusnya, seluruh daun tanaman cabai yang ditanam dengan system hidroponik ini menunjukkan gejala klorosis, yaitu daun muda sampai pucuk daun berwarna kuning. Selanjutnya tanaman tumbuh kerdil, warna daun muda dan tua yang mula-mula kuning berubah menjadi warna coklat muda, dan akhirnya tanaman kering serta mati pada umur 63
13

hst. Karena itu, pengamatan pertumbuhan tanaman dari perlakuan ini hanya sampai 60 hari, Pada umur tanaman lebih dari 120hst, pertumbuhan tanaman semakin menurun, yaitu jumlah cabang produktif dan pucuk daun tidak bertambah lagi. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa tanaman yang mengalami difisiensi N akan memperlihatkan warna daun hijau pucat terutama pada daun-daun yang tidak ternaungi dan ukuran daun lebih kecil dibanding ukuran daun normal (Nasaruddin dan Padjung, 2007).

4.4. Pengamatan Tinggi Tanaman Cabai Dari hasil pengamatan tinggi tanaman di Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Cabai
5 Tinggi Cabe ( cm) 4 3 2 1 0 Hari ke- 1 Hari ke- 3 Hari ke-6 Waktu Pengamatan Cabe A Cabe B Cabe C Cabe D

awal pengamatan tinggi tanaman cabai A cm, tinggi tanaman cabai B cm, tinggi tanaman cabai C cm dan tinggi tanaman cabai D cm. Setelah diamati selama hari tinggi tanaman bertambah menjadi cm untuk tanaman cabai A, cm untuk tanaman cabai B, cm untuk tanaman cabai C dan cm untuk tanaman cabai D. Pada umur 21 hari mulai dijumpai beberapa tanaman yang mati pada semua tanaman cabai, baik pada obyek tanaman cabai A,B,C dan D.

4.5. Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Cabai Tidak terlihat perbedaan dalam jumlah daun pada semua obyek, yang berarti tidak terdapat pengaruh radiasi pada jumlah daun dari perkecambahan padi Bengawan, yang dipanen sampai dengan umur 35 hari. Dari hasil pengamatan jumlah daun di awal pengamatan jumlah daun cabai A helai, jumlah daun cabai B helai, jumlah daun cabai C helai dan jumlah daun cabai D helai.
Tinggi Cabe ( cm)
5 4 3 2 1 0 Hari ke- 1 Hari ke- 3 Hari ke-6 Waktu Pengamatan Cabe A Cabe B Cabe C Cabe D

Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Cabai

14

4.4. Pengamatan Jumlah Klorofil Tanaman Cabai Klorofil B ( = 649 nm) 0,136 0,145 0,137 = 0,1407 (Klorofil A) = 665 nm 0,378 0,395 0,383 = 3853

Kandungan klorofil A dan klorofil B dalam masing-masing sampel daun cabai tidak berbeda jauh satu sama lain. Hal ini merupakan indikator bahwa respon fisiologis sampel cabai hampir sama terhadap pasokan hara yang diberikan. Seharusnya disampaikan bahwa perlakuan pasokan unsur hara baik pada tanaman kontrol maupun yang diberi perlakuan dari pemberian Nitrogen dan Magnesium yang berbeda dapat meningkatkan atau menurunkan kandungan klorofil a kedua varietas cabai. Perlakuan pemupukan tidak signifikan berpengaruh terhadap Kandungan klorofil b pada dua varietas cabai.Mungkin sebagian besar klorofil masih berada pada stadium klorofil a danbelum menjadi klorofil b, karena diketahui klorofil a merupakan prazat klorofil b (Robinson,1995).Hal ini berhubungan dengan pasokan hara tertentu yang berkonsentrasi tinggi dan mudah larut (N, P, K, Fe, Mg, S) yang berperan dalam pembentukan klorofil (Sri Nuryani dan Sutanto, 2002).

4.4. Penyebab Kematian Pada Tanaman Cabai Ada beberapa kemungkinan yang dapat menyebabkan kematian pada tanaman sampel.Yang pertama kemungkinan karena aerator pada sistem hidroponik sistem kultur air tertutup tidak bekerja dengan baik. Dalam keadaan tersebut,dengan akar tanaman cabai yang terendam dalam larutan hara dapat menyebabkan kondisi kekurangan oksigen dalam akar. Kemungkinan lainnya yang menyebabkan kematian pada tanaman hidroponik adalah karena tidak diberi lubang kecil pada bagian atas styrofoam serta tidak dipasang ~ponge (penunjang batang tanaman cabai) yang memungkinkan oksigen masuk, sehingga akar tanaman kekurangan oksigen karena sirkulasi udara kurang lancar. Kondisi kekurangan oksigen pada bagian akar tanaman yang terendam dalam larutan hara tanpa aerasi ini, menyebabkan tanaman mengalami stres kekurangan oksigen. Stres oksigen mengakibatkan respirasi di dalam sel akar tanaman cabai terganggu berat. Dalam keadaan sangat kekurangan oksigen,

15

maka reaksi oksidatif pada siklus Krebs tidak dapat berlangsung atau sangat terhambat (Sumiati dan Hilman,2002) Akibat selanjutnya, yaitu energi kimia (ATP dan NADPH2) dari proses respirasi sel dalam siklus Krebs dibutuhkan untuk menjalankan berbagai proses pemecahan bahan-bahan dan pembentukan zat baru untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman, tidak dihasilkan atau sangat sedikit jumlahnya. Selanjutnya, tanaman memperoleh energi kimia dari proses altematif, yaitu proses reduksi asam piruvat menjadi asam laktat dan etanol melalui proses fermentasi glukose. Namun,proses ini hanya menghasilkan dua molekul ATP,yang hanya mencukupi 2,5% total energi yang dibutuhkan. Karena itu pemulihan (recol'el)) energi kimia berasal dari proses fermentasi glukose sangat rendah. Akibat lebih lanjut, yaitu pertumbuhan dan perkembangan tanaman sangat lambat (Sumiati dan Hilman,2002).Efek samping dari proses fermentasi anaerob ini, yaitu dihasilkan akumulasi asam organik lainnya seperti asam oksalat yang bersifat fitotoksisitas terhadap tanaman, sehingga tanaman mati (Bidwell, 1979). Kemungkinan lain, tanaman mengalami fitotoksisitas dan akhirnya mati, karena konsentrasi Nitrogen yang terlampau tinggi untuk sistem hidroponik kultur air (tanpa media tumbuh) dan sistem tertutup tanpa aerasi. Menurut Durany (1982), konsentrasi N untuk larutan nutrisi hidroponik antara 80ppm-90 ppm sedangkan konsentrasi K cukup antara 150ppm - 300 ppm. Penggunaan pH untuk larutan nutrisi yaitu netral (5.5-6.5). Pada kondisi asam (pH di bawah 5.5) dan basa (pH di atas 6.5) beberapa unsur mulai mengendap sehingga tidak dapat diserap oleh akar yang mengakibatkan tanaman mengalami defisiensi unsur terkait (Resh,2004). Ada kemungkinan penyebab kematian tanaman hidroponik pada praktikum ini dikarenakan pengecekan pH larutan nutrisi yang tidak kontinyu dan tidak terjadwal dengan baik sehingga bisa saja pH larutan berubah menjadi lebih asam atau lebih basa. Hal tersebut dapat menyebabkan kematian tanaman hidroponik. Selain itu,konsentrasi hara perlu diperhatikan yaitu dengan penggunaan larutan nutrisi yang tepat. EC yang digunakan di persemaian adalah 1.0-1.2 mS/cm, sedangkan EC pada pembesaran sayuran daun adalah 1.5-2.5 mS/cm. EC yang terlalu tinggi tidak dapat diserap tanaman karena terlalu jenuh. Batasan jenuh EC untuk sayuran daun ialah 4.2 mS/cm, bila EC lebih tinggi lagi terjadi toksisitas dan sel-sel mengalami plasmolisis (Sutiyoso, 2004). Apabila saat pengukuran dalam pembuatan larutan Hoagland tidak presisi dengan kadar yang seharusnya maka dapat menyebabkan terjadinya toksisitas sehingga tanaman hidroponik mengalami plasmolisis dan akhirnya lama-kelamaan tanaman hidroponik mati.

16

BAB V KESIMPULAN

1) Pengaruh unsur Nitrogen pada medium Hoagland terhadap pertumbuhan daun cabai (Capsicum Anuum) yaitu berperan dalam menaikkan potensi pembentukan daun-daun dan ranting. Sedangkan pengaruh unsur Magnesium yaitu berperan dalam pertumbuhan biji dan buah. 2) Pengaruh unsur Nitrogen pada medium Hoagland terhadap kadar klorofil daun cabai (Capsicum Anuum) adalah meningkatkan sintesis klorofil dan enzim fotosintetik sedangkan pengaruh Magnesium pada medium Hoagland terhadap kadar klorofil daun cabai (Capsicum Anuum) adalah membantu pembentukan klorofil. 3) Pengaruh unsur Nitrogen dan Magnesium pada medium Hoagland terhadap biomassa daun cabai (Capsicum Anuum) adalah meningkatkan fotosintat (bobot segar, bobot kering, dan bobot buah cabai) yang terbentuk.

17

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.Pembahasan.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24216/3/Chapter %20II.pdf. Diakses tanggal 5 Oktober 2013 pukul 12.30 WIB Robert,Alison.2012.Plant Structure development. http://www.uri.edu/cels/bio/plant

anatomy/bio311.pdf. Diakses tanggal 5 September 2013 pukul 19.30 WIB Rosliani,Rini.2005.Budidaya Tanaman Sayuran dengan Sistem Hidroponik. Bandung: Balai Penelitian Tanaman Sayuran Suharja, Sutarno. 2009. Biomassa, kandungan klorofil dan nitrogen daun dua varietas cabai (Capsicum annum) pada berbagai perlakuan pemupukan. Nusantara Bioscience 1: 9-16.

Taiz, L & Zeiger, E.2002.Plant physiology, 3rd edn. Sunderland: Sinauer Associates http://storage.jak-stik.ac.id/students/paper/penulisan%20ilmiah/20498185/Bab%202.pdf http://eprints.uny.ac.id/9381/3/BAB%202%20-%2005308141018.pdf http://biosains.mipa.uns.ac.id/C/C0601/C060102.pdf Anonim.http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/61200/BAB%20II%20 Tinjauan%20Pustaka.pdf?sequence=3 1. Hort. 12(1):35-44,2002 Modifikasi Larutan Hara Standar dalam Kultur Hidroponik Cabai Etty Sumiati dan Yusdar Hilman www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-620-tesisprint.pdf Jurnal Agrisistem, Desember 2010, Vol. 6 No. 2 ISSN 1858-4330 65 PERTUMBUHAN DAN EVALUASI KANDUNGAN NITROGEN MELALUI INDIKASI WARNA DAUN PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) BELUM MENGHASILKAN

18