Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Mina Laut Indonesia

Vol. 02 No. 06 Jun 2013

(129 141)

ISSN : 2303-3959

Komposisi Jenis dan Ukuran Ikan Layang (Decapterus spp.) di Perairan Teluk Lombe Kecamatan Gu Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara
Species Composition and Size of Indian scad Decapterus spp. in Lombe Bay, Buton District of Southeast Sulawesi Province La Gata Yulius *) La Sara **) dan Ahmad Mustafa ***) Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan FPIK Universitas Haluoleo Kampus Hijau Bumi Tridharma Kendari 93232 e-mail: *liulius74@yahoo.co.id,**lasara_unhalu@yahoo.com, dan astafa-611@yahoo.com***
Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis komposisi jenis dan ukuran ikan layang di perairan Teluk Lombe Kecamatan Gu Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan FebruariMaret 2012. Variabel yang diamati meliputi komposisi jenis, panjang dan berat ikan layang dan kondisi parameter lingkungan yang meliputi suhu, salinitas, pH dan kecepatan arus. Alat tangkap yang digunakan saat pengamatan adalah jaring insang, bagan perahu dan pancing ulur. Jumlah pengambilan sampel (contoh) ikan sebanyak 6 kali dengan selang waktu 5 hari antar pengambian contoh. Hasil tangkapan secara keseluruhan dikumpulkan untuk ditimbang beratnya. Sampel ikan dipisahkan berdasarkan spesiesnya untuk diukur panjangnya dengan menggunakan mistar serta beratnya dengan menggunakan timbangan, selanjutnya diidentifikasi dengan buku identifikasi. Data jumlah hasil tangkapan dan musim penangkapan diperoleh melalui, wawancara terbuka dengan nelayan Teluk Lombe. Hasil tangkapan ikan dihitung saat ikan didaratkan. Jumlah penangkapan dalam 1 bulan sebanyak 6 trip. Total hasil tangkapan ikan layang adalah 1285 ekor yang terdiri dari 3 (tiga) spesies yaitu D. macrosoma, D. ruselli dan D. lajang. Rata-rata hasil ukuran ikan layang yang tetangkap selama penelitian yaitu D. macrosoma (panjang 15.5-17.45 cm dan berat 17.22-113.33g), D. ruselli (panjang 16.1-18 cm, dan berat 47.5-100g), D. lajang (panjang 24-27 cm dan berat 250-300g). Parameter perairan di Teluk Lombe yang diukur terdiri dari Suhu di perairan ini berkisar 27.30-28.13oC, salinitas berkisar 30-33.67 ppt, pH 7, kecepatan arus berkisar 0.037-0.041 m/dtk. Nilai parameter perairan tersebut merincikan pertumbuhan ikan layang. Kata Kunci : Ikan Layang, komposisi jenis, komposisi ukuran, Teluk Lombe Abstract The objectives of this research were to analyze the species composition and size of Indian Scad in the Lombe Bay of Gu, Buton, Southeast Sulawesi Province. This research was conducted February to March 2012. The variables of the research were fish composition, length and weight and environment parameters i.e temperature, salinity, pH and current velocity. Fishing equipments used gill nets, floating boat and hand line. Total sampling was 6 times with 5 interval days. The entire samples were collected to be measured those total weight. The samples taken were separated to be measure its total lenght and weight using a ruler and balance, respectively. The fishermen were interviewed to find several date of total catch and season of fish in Lombe Bay. The total number of Indian scad landed during the research was 1825 picces consisted of D. macrosoma, D. ruselli, and D. lajang. The average of length and weight of D. macrosoma, D. ruselli, and D. lajang were 15.5-17.45 cm and 17.22-113.33 g, 16.1-18.8 cm and 47.5-100 g, 24.0-27.0 cm and 250-300 g, respectively. Temperatature ranged 27,30-28.13oC, salinity ranged 30.0-33.67 ppt, pH 7, and currend velocity ranged 0.037-0.041 m/s. Those waters parameters were suitable for Indian scad life. Key words : Indian Scad, species composition, size composition, Lombe Bay

Pendahuluan Ikan layang (Genus Decapterus) merupakan sumber daya ikan pelagis kecil yang penting di perairan Indonesia. Ikan layang mendominasi hasil penangkapan ikan pelagis kecil di berbagai perairan laut di Indonesia. Nontji (2002), menyatakan Ikan layang di perairan Indonesia terdapat lima jenis yang umum dijumpai yaitu D. lajang, D. ruselli, D. macrosoma, D. kuroides dan D. maruadsi. Ikan ini biasanya hidup bergerombol dengan ikan ikan pelagis kecil

lain Chan et al., (1997). Ikan layang cenderung berkelompok di dekat lapisan permukaan pada kedalaman 3-20 m (Amin et al., 1998). Tiews at al., (2001) penyebaran ikan layang di Idonesia : Laut Jawa, Selat makasar, Ambon, Ternate (Indonesia Bagian Timur). di Samudera Hindia ada 8 jenis ikan layang jenis diantaranya adalah D. macarellus, D. sactaehelenae, D. punctatus. ikan layang di Laut Jawa masuk dari Selat Makassar dan Laut Flores sedangkan pada musim Barat dari Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan. 129

Jurnal Mina Laut Indoensia, 2013 @FPIK UNHALU

Di perairan sekeliling Sulawesi Tenggara ikan layang menjadi salah satu komponen utama dalam tangkapan nelayan pukat cincin dan jaring insang yang menggunakan rumpon sebaga pengumpul ikan. Widodo (2000), selai pukat cincin dan jaring insang, payang dan bagan perahu sangat efektif dalam usaha penagkapan ikan layang. Durand (1998), alat tangkap purse seine menyumbang hasil tangkapan ikan layang terbesar yaitu sebesar 92% dibanding alat tangkap lainnya. Gafa et al., (2003), di perairan Laut Sulawesi ikan layang sudah dieksploitasi secara intesif dan sudah teridikasi tangkap lebih. Menurut statistik perikanan tangkap ikan layang di Perairan Indonesia tahun 2006-2010, bahwa data hasil tangkapan mengalami peningkatan sepanjang tahun dengan rata-rata kenaikan 3.68% per tahun. Jika dilihat dari alat tangkap yang digunakan, alat tangkap yang digunakan dari tahun 2006-2010 mengalami penurunan dengan total rata-rata penurunan adalah sebesar -11.32% (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2011). Di Perairan Teluk Lombe hidup komunitas ikan layang dan sejak lama telah menjadi tangkapan utama nelayan. Jumlah nelayan yang yang beroperasi di Teluk Lombe sebanyak 64 orang menggunakan alat tangkap jaring insang (21 orang), bagan perahu (3 orang), dan pancing ulur (40 orang) namun data produksi perikanan di Teluk Lombe sampai tahun 2010 belum terdata (BPS, 2010). Menurut nelayan setempat, ikan layang tertangkap sepanjang tahun. Musim Puncak penangkapan terjadi pada bulan AgustusDesember yang ditandai dengan tingginya produksi ikan layang baik jumlah maupun jenisnya dibandingkan bulan lainnya. Di Laut Jawa puncak produksi ikan layang terjadi 2 kali dalam setahun yaitu bulan Januari-Maret (akhir musim barat) dan bulan Juli-September (musim timur) Sreenivasa (1997), menemukan bahwa

memperhatikan bagamana cara memanajemen sumber daya tersebut. Penambahan jumlah armada alat tangkap yang tidak sesuai dengan kondisi sumberdaya ikan akan merugikan sumber daya ikan itu sendiri (Fauzie, 2004). Berdasarkan hal tersebut maka sebagai langkah awal sangatlah penting dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana komposisi jenis dan ukuran ikan layang di perairan Teluk Lombe, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ikan layang ditemukan hidup di perairan Teluk Lombe dan mengalami penangkapan sepanjang tahun dengan beberapa jenis alat tangkap yaitu jaring insang, bagan perahu dan pancing ulur. Menurut informasi dari nelayan setempat, terdapat empat jenis ikan layang yang ditemukan di perairan ini. Pada bulan puncak penangkapan produksi ikan layang lebih banyak baik jumlah maupun jenisnya. Diduga bahwa beberapa jenis ikan layang hanya berada di perairan ini dalam periode yang singkat namun beberapa jenis lainnya menghabiskan periode yang panjang dalam hidupnya. Sehubungan dengan hal itu, untuk memperoleh informasi dasar maka diperlukan penelitian mengenai bagaimana komposisi jenis dan ukuran Ikan layang di Teluk Lombe. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis komposisi jenis dan ukuran panjang total (cm), berat total (g) ikan layang di perairan Teluk Lombe. Kegunaan dari penelitian ini adalah memberikan infomasi awal mengenai stok ikan layang di Teluk Lombe, sehingga dapat acuan bagi pengelolaan perikanan di perairan tersebut atau sebagai acuan bagi pengkajian populasi ikan layang selanjutnya. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2012, di perairan Teluk Lombe Kecamatan Gu, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengambilan sampel ikan dilakukan sebanyak 6 kali dengan selang waktu 5 hari. Sampel ikan ditangkap dengan alat tangkap jaring insang dengan ukuran mata jaring 1.5-2 inchi dan alat tangkap pancing ulur dengan ukuran mata pancing No.18-20. Pengoperasin alat tangkap jaring insang dan pancing ulur dilakukan pada siang hingga sore hari. Alat tangkap bagan perahu yang dioperasikan pada dini hari hingga pagi hari (Lampiran 5). Sampel ikan layang yang tertangkap dari tiap jenis alat tangkap dikumpulkan secara keseluruhan dan dipilah berdasarkan jenisnya dan selanjutnya diidentifikasi berdasarkan buku petunjuk Isa et al., (1998), Genisa (1998), dan Hardenberg (1999). Kemudian masing-masing 130

di perairan Vizhinjam India, ikan D. ruselli pada bulan Pebruary-Maret ikan ini ditemukan ikan melimpah. Atmaja dkk., (2003), ikan layang
ukuran 12 cm didapatkan di Laut Jawa pada bulan Juni. Bulan Juli-Oktober dijumpai ikan layang berukuran 8 cm dan pada bulan April-Mei ditemukan telur dan larva ikan layang. Mengingat ikan layang merupakan komoditas utama perikanan tangkap di Teluk Lombe, yang mengalami eksploitasi sepanjang tahun, maka langkah-langkah pengelolaan sudah perlu dilakukan. Menurut Gulland (2000), upaya pengelolaan penangkapan ikan di suatu perairan, idealnya didukung oleh beberapa informasi penting mengenai biologi, ekonomi dan pengkajian stok. Pengelolaan sumber daya perikanan perlu

Jurnal Mina Laut Indoensia, 2013 @FPIK UNHALU

individu ikan diukur panjang total dengan menggunakan mistar (cm) dan berat totalnya dengan menggunakan timbangan (g). Pengamatan parameter kualitas lingkungan perairan berupa pengukuran suhu, salinitas, pH dan kecepatan arus diukur langsung di lokasi penelitian saat kegiatan penangkapan ikan. Analisis Data 1. Komposisi jenis Menentukan komposisi jenis ikan, dianalisis dengan menggunakan persamaan Odum (1996), yaitu P = xi/Nx100% Keterangan : P = Persentase jenis ikan jenis ke-i (i = 1,2,3,...n); xi = Jumlah individu ikan jenis ke-i (i = 1,2,3,...n); N = Jumlah individu semua jenis ikan (jumlah total idividu setiap pengambilan sampel). 2. Komposisi Ukuran Untuk menentukan komposisi ukuran setiap jenis ikan, terlebih dahulu ditentukan kelas ukuran panjang dan berat. Penentuan jumlah kelas dihitung dengan menggunakan persamaan Sturgess (1982), yaitu: K = 1 + 3,3 Log N Keterangan : K = Jumlah kelas; N = Jumlah sampel. Selanjutnya ditentukan selang kelasnya dengan menggunakan persamaan : P = R/K Keterangan : P = Selang kelas; R = kisaran (panjang ikan tertinggi - panjang ikan terendah); K = Jumlah kelas. Kemudian ditentukan persentase setiap kelas ukuran panjang dan berat dengan persamaan : P = Ki/Kx100% Keterangan : P = Presentase kelas ukuran ikan ke-i (i = 1,2,3,..... n);

Ki = Jumlah individu ikan pada kelas ukuran ke-i (i = 1,2,3,..... n); K = Jumlah total individu ikan seluruh kelas ukuran.

Hasil 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Lokasi penelitian terletak di perairan Teluk Lombe tepatnya berada di pantai timur Pulau Muna dan menghadap langsung ke Selat Buton. Wilayah pesisir Teluk Lombe meliputi dua kelurahan yang bermukim di pesisir pantai yaitu Kelurahan Watulea dan Kelurahan Bombonawulu yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Gu Kabupaten Buton. Secara umum perairan Teluk Lombe berbentuk memanjang dengan topografi pantai yang landai pada ujung teluk sebelah dalam, sedangkan pada kedua sisinya yang mengarah ke mulut teluk memiliki garis pantai berupa tebingtebing batu dengan topografi yang curam. Kedalaman perairan berkisar 3 meter sampai lebih dari 70 m. Substrat dasar perairan terdiri dari beberapa tipe yaitu pasir, pasir berlumpur dan pasir bercampur dengan pecahan karang. Perairannya relatif jernih dan tidak ada sungai permanen yang bermuara di Teluk Lombe. Tinggi daratan di garis pantai sekeliling teluk berkisar 0-100 m dari permukaan laut saat air laut pasang. Ekosistem perairan Teluk Lombe jika dilihat dari pesisir pantai terlihat adanya dominansi jenis-jenis lamun yang tumbuh lebat dan tumbuhan air lainnya seperti makroalga. Di Teluk Lombe tidak dijumpai ekosistem mangrove. Tumbuhan air yang ada di teluk ini merupakan tempat habitat bagi organisme air umumnya yang dihuni oleh berbagai macam jenis ikan, hewan molusca dan hewan gastropoda Aktivitas masyarakat di perairan Teluk Lombe meliputi kegiatan perikanan berupa kegiatan penangkapan ikan, pengumpulan kekerangan, budidaya rumput laut dan pengeringan ikan. Hasil penangkapan ikan dipasarkan ke pasar lokal di Lombe dan dijual kepada pedagang keliling yang selanjutnya memasarkannya ke daerah sekitarnya hingga ke Kabupaten Muna Kegiatan lainnya adalah transportasi laut ke daerah-daerah di sekitarnya yang memanfaatkan dermaga yang ada di Teluk Lombe sebagai pelabuhan kapal-kapal kecil. 2. Penangkapan Ikan Layang di Teluk Lombe a. Alat Tangkap 131

Jurnal Mina Laut Indoensia, 2013 @FPIK UNHALU

Penangkapan ikan layang di Teluk Lombe menggunakan alat tangkap jaring insang permukaan (gill net) panjang jaring 100-200 m dan tinggi jaring 2 m Ukuran mata jaring 1-2 inchi., bagan perahu (floating boat) Ukuran mata jaring 0.5 cm, ukuran jaring 20x20 m2., dan pancing ulur (hand line) mata pancing Nomor 5-12. Jumlah mata pancing setiap unit alat adalah 5-6 mata. Ketiga jenis alat tangkap ini telah lama digunakan nelayan setempat dan merupakan alat tangkap yang dominan di Teluk Lombe. b. Musim Penangkapan Musim puncak penangkapan ikan layang di Teluk Lombe terjadi pada bulan AgustusNovember (musim angin timur), musim sedang pada bulan Desember-Maret dan musim kurang pada bulan April-Juni. Biasanya ikan layang yang didapatkan pada musim puncak berukuran lebih besar seperti D.ruselli dapat mencapai panjang 28 cm, D. macrosoma dapat mencapai panjang 23 cm dan D.lajang dapat mencapai panjang 27 cm. Berdasarkan laporan Puslitbang Oseanologi LIPI

(1998), umumnya D. macrosoma dapat mencapai panjang 40 cm, umumnya 25 cm, D. ruselli mencapai panjang 40 cm, umumnya 20-25 cm. Selanjutnya Nontji (2002), mengatakan bahwa pada musim angin timur yaitu bulan JuniSeptember pola migrasi ikan layang masuk ke Laut Jawa dari Selat Makassar dan Laut Flores mengkuti pola arus dan pola sebaran salinitas. Diduga bahwa pola arus musim timur membawa ikan layang memasuki Teluk Lombe melalui Selat Buton dari arah timur. Diluar bulan-bulan musim puncak penangkapan ikan layang yang tertangkap berukuran lebih kecil dari musim puncak. c. Jumlah Hasil Tangkapan Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 6 minggu. Setiap minggu dilakukan 1 kali trip penangkapan dengan menggunakan alat tangkap jaring insang, bagan perahu dan pancing ulur masing-masing satu unit. Jumlah hasil tangkapan berdasarkan alat tangkap pada setiap kali pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 2.

350 300

Jumlah individu

250 200 150 100 50 0 I II III IV V

P anc ing ulur J aring ins ang B agan perahu T otal

VI

Pengambilan sampel

Gambar 2. Jumlah Individu ikan Layang Hasil Tangkapan Jaring Insang, Bagan Perahu dan Pancing Ulur di Perairan Teluk Lombe. Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa pada setiap pengambilan sampel jumlah individu ikan layang yang tertangkap dengan bagan perahu lebih tinggi dari pada dua jenis alat tangkap lainnya, kecuali pada pengambilan sampel V. Jumlah individu ikan layang yang tertangkap dengan pancing ulur jauh lebih kecil dari pada kedua alat tangkap lainnya. Secara keseluruhan, jumlah ikan layang yang tertangkap pada ketiga jenis alat tangkap menunjukkan kecenderungan penurunan dari pengambilan sampel I hingga VI. Data wawancara dengan nelayan mengenai hasil tangkapan/trip di perairan Teluk Lombe dari masing-masing alat tangkap pada musim penangkapan yang berbeda, dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rata-Rata Hasil Tangkapan (alat tangkap/trip) Berdasarkan Musim Penangkapan dari MasingMasing Jenis Alat Tangkap di Teluk Lombe.
No Alat Tangkap Jumlah Hasil Tangkapan (ekor)

Jurnal Mina Laut Indoensia, 2013 @FPIK UNHALU

132

Musim Puncak 1. 2. 3. Jaring Insang Bagan Perahu Pancing Ulur 500-1500 2000-5000 60-120

Musim Sedang 100-200 300-500 20

Musim Kurang 30-100 50-200 0-5

Berdasarkan Tabel 1. bila dibandingkan antara jumlah individu hasil tangkapan berdasarkan musim dengan hasil tangkapan selam periode penelitian Gambar 2, hasil tangkapan ketiga alat tangkap selama periode penelitian sangat sedikit atau berada pada kategori musim kurang.

3. Komposisi Jenis Ikan Layang Komposisi jenis ikan yang tertangkap sebanyak 6 kali dengan selang waktu 5 hari terdiri dari 3 spesies ikan layang yatu D. macrosoma, D. ruselli, dan D.lajang. Hasil tangkapan berdasarkan alat tangkap dapat dilihat pada Gambar 3.

150
Jumlah individu

100 50 0
I II III IV V VI pengambilan sampel

macrosoma

ruselli

Jumlah individu(ekor)

16 14 12 10 8 6 4 2 0
I II III IV V VI

D. Lajang

pengambilan sampel

Gambar 3. Komposisi Jenis Ikan Hasil Tangkapan dengan Alat Tangkap (A) Jaring Insang; (B) Bagan Perahu; (C) Pancing Ulur.

5.72
Komposisi jenis (%)

2.43

5.38 35.12 94.61 100 64.87

1.21 15.85

Keterangan :

100% 80% 60% 40% 20% 0% I II III IV V 72.39 70.55 21.88 26.99

D. lajang D. ruselli D. macrosoma

82.15

VI

Pengambilan sampel

Gambar 4. Komposisi Jenis Seluruh Hasil Tangkapan Ikan Layang di Perairan Teluk Lombe 4. Komposisi Ukuran Ikan Layang Jurnal Mina Laut Indoensia, 2013 @FPIK UNHALU 133

Hasil analisis komposisi panjang (cm) dan berat (g) dapat diuraikan sebagai berikut : a. Decapterus macrosoma
30 25 20 15 10 5 0 25.3522.7 6.21 komposisi (%)

Hasil analisis ukuran panjang dan berat dari 985 ekor ikan diperoleh 10 kelas ukuran selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 5 .
11.5 9.47 12.93 2.03

8.04

0.2

1.52

A
panjang (cm)

30 25 20 15 10 5 0

komposisi (%)

23.8220.67 13.54 9.87 6.41 4.07

21.38

0.2

berat (g)

Gambar 5. Komposisi Ukuran D. macrosoma (A) Ukuran Panjang (cm); (B) Ukuran Berat (g) yang Tertangkap di Perairan Teluk Lombe. b. Decapterus. ruselli Hasil analisis ukuran panjang dan berat untuk jenis D.ruselli diperoleh 9 kelas dari total
35 30 25 20 15 10 5 0 komposisi (%) 31.13 23.8 19.14 13.91 11.72 0.36

hasil tangkapan sebanyak 273 ekor. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 6.

panjang (cm)

60 Komposisi (%) 50 40 30 20 10 0

56.6539 41.8251

1.1406

0.3802

Berat

Gambar 6. Komposisi Ukuran Ikan Layang D. ruselli (A) Ukuran Panjang (cm); (B) Ukuran Berat (g) yang Tertangkap di Perairan Teluk Lombe. Jurnal Mina Laut Indoensia, 2013 @FPIK UNHALU 134

c. Decapterus lajang Hasil analisis ukuran panjang dan berat diperoleh 5 kelas ukuran dari total hasil tangkapan

sebanyak 27 ekor, selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 7. A

40 35 30 25 20 15 10 5 0

komposisi (%)

37.03 11.11 3.7

37.03

11.11

Panjang (cm)

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

85.18

komposisi (%)

11.11 3.7

Berat (g)

Gambar 7. Komposisi Ukuran Ikan Jenis D. lajang (A) Ukuran Panjang (cm); (B) Ukuran Berat (g) Yang Tertangkap di Perairan Teluk Lombe. 5. Kondisi Parameter Lingkungan Parameter lingkungan yang diukur dalam penelitian ini meliputi suhu, salinitas, pH, dan kecepatan arus. a. Suhu Sebaran kisaran suhu perairan Teluk Lombe terlihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Sebaran Rata-Rata Suhu PerairanTeluk Lombe. Jurnal Mina Laut Indoensia, 2013 @FPIK UNHALU 135

b. Salinitas

Kisaran salinitas perairan Teluk Lombe dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Sebaran Rata-Rata Salinitas Perairan Teluk Lombe Selama Penelitian. c. pH Sebaran pH di perairan Teluk Lombe diperoleh pH stabil yaitu pada pH 7. d. Kecepatan Arus Sebaran nilai kisaran kecepatan arus perairan Teluk Lobe dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Sebaran Kisaran Kecepatan Arus Perairan Teluk Lombe. Pembahasan 1. Kegiatan Penangkapan Ikan layang di teluk Lombe Kegiatan penangkapan ikan pelagis di Teluk Lombe yaitu alat tangkap bagan perahu (dua perahu), jaring insang dan pancing ulur yang merupakan metode penangkapan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat. Tiga jenis alat tangkap ikan pelagis yang dioperasikan nelayan di Teluk Lombe yaitu bagan perahu, jaring insang dan pancing ulur memiliki waktu dan lokasi pengoperasian yang Jurnal Mina Laut Indonesia, 2013 @FPIK UNHALU berbeda-beda. Bagan perahu dioperasikan pada malam hari di lapisan permukaan dengan alat bantu lampu untuk mengumpulkan ikan. Jaring insang dioperasikan pada siang hingga sore hari di lapisan permukaan. Pancing ulur dioperasikan pada siang hingga sore hari di lapisan pertengahan atau kedalaman 30-50 m. 2. Jumlah Hasil Tangkapan Data jumlah individu hasil tangkapan per trip dari masing-masing alat tangkap (Gambar 2), menunjukkan bahwa hasil tangkapan bagan perahu memberikan porsi yang 136

signifikan pada total produksi ikan layang di perairan Teluk Lombe. Hal ini tentunya disebabkan oleh kapasitas tangkap bagan perahu yang jauh lebih besar dari pada alat tangkap lainnya. Penggunaan lampu sebagai alat bantu pengumpul ikan pada bagan perahu pada malam hari sangat efektif dalam penangkapan ikan layang. Alat tangkap kedua yang cukup efektif menangkap ikan layang adalah jaring insang. Ini terlihat dari jumlah individu yang tertangkap setiap pengambilan sampel, jaring insang selalu menempati urutan kedua. Pancing ulur merupakan alat tangkap dengan jumlah individu hasil tangkapan per trip terendah. Meskipun setiap unit pancing ulur memiliki 5-6 mata pancing tetapi prinsip penangkapan dengan pancing yang hanya menangkap seekor demi seekor setiap mata pancing menyebabkan hasil tangkapannya per trip relatif kecil. Secara keseluruhan hasil tangkapan per trip pengambilan sampel menunjukkan kecenderungan penurunan dari minggu pertama hingga minggu keenam (Gambar 2). Kecenderungan ini menggambarkan penurunan kelimpahan ikan layang di Teluk Lombe selama periode penelitian (bulan Pebruari-Maret). Komposisi Jenis Ikan Layang Hasil tangkapan ikan layang keseluruhan sebanyak 1.282 ekor yang terdiri dari 3 (tiga) jenis ikan layang (Gambar 4) yaitu D. macrosoma 982 ekor (76.42%), D. ruselli 273 ekor (21.24%) dan D. lajang 27 ekor (2.10%). Jenis D. macrosoma selalu mendominasi hasil tangkapan setiap minggu pengamatan. Bahwa D. macrosoma sangat dominan didapatkan sepanjang tahun baik musim puncak, musim sedang atau musim kurang di perairan Teluk Lombe, bahkan nelayan setempat menduga spesies D.macrosoma ini tinggal/menetap di Teluk Lombe. Menurut Nontji (2002), ikan jenis D. macrosoma pola penyebarannya di Indonesia sangat luas yaitu dari Pulau Bawean sampai di perairan Indonesian bagian Timur. Adapun spesies D. ruselli dan jenis D. lajang selain komposisi jenisnya lebih sedikit, kedua spesies ini tidak selalu ditemukan pada hasil tangkapan nelayan atau dengan kata lain kemunculannya bersifat periodik. Dari enam kali pengambilan sampel D. ruselli hanya ditemukan pada lima kali pengambilan sampel dan D. lajang hanya ditemukan pada dua kali pengambilan sampel. Hal ini sesuai dengan temuan Widodo (2000), bahwa selain musim Jurnal Mina Laut Indonesia, 2013 @FPIK UNHALU

puncak jumlah ikan layang yang tertangkap sedikit baik jumlah maupun jenisnya atau tidak tertangkap sama sekali. Najamuddin dkk., (2004), ikan D. ruselli biasanya bergerombol dengan ikan layang jenis lain dalam jumlah yang besar di permukaan perairan dan sesekali ikan D. Ruselli masuk ke perairan yang lebih dalam bersama ikan D. Lajang mengikuti pergerakan plankton-plankton. Widjojo (2002), menemukan bahwa plankton-plankton merupakan makanan utama ikan D.ruselli. Bila ditinjau komposisi jenis berdasarkan alat tangkap (Gambar 3) menunjukkan bahwa perbedaan alat tangkap dan metode pengoperasiannya mempengaruhi komposisi jenis ikan layang yang tertangkap. Pengoperasian bagan perahu pada malam hari di lapisan permukaan dengan alat bantu lampu hanya efektif menangkap spesies D. macrosoma (Gambar 2). Jaring insang yang dioperasikan pada siang hingga sore hari di lapisan permukaan (jaring insang permukaan) menyebabkan jaring insang menangkap lebih banyak spesies ikan layang. Menurut DKP (2004), jaring insang permukaan sangat efektif dioperasikan pada siang dibandingkan dioperasikan pada malam hari karena pada malam hari ikan-ikan pelagis cenderung turun diperairan yang lebih dalam. Dalam enam kali pengambilan sampel dengan jaring insang selalu tertangkap dua spesies yaitu D. macrosoma dan D. ruselli kecuali pada pengambilan sampel keV hanya tertangkap spesies D. ruselli (Gambar 3A). Diduga bahwa pada siang hari D. macrosoma dan D. ruselli menyebar di lapisan permukaan perairan secara lebih merata, sedangkan pada malam hari D. ruselli cenderung turun ke lapisan yang lebih dalam. Hal ini sesuai Aprilianti, (2000) mengatakan bahwa ada kecenderungan D. ruselli pada malam hari cenderung turun ke lapisan perairan yang lebih dalam dan pada siang hari naik ke lapisan permukaan. Pancing ulur dioperasikan pada siang hingga sore hari pada kedalaman lebih dari 30 m sehingga menjangkau ikan-ikan yang memiliki lapisan renang yang lebih dalam. Hal inilah yang diduga menyebabkan pancing ulur hanya menangkap jenis ikan D. lajang. Diduga bahwa ikan D. lajang memiliki kedalaman lapisan renang (swimming layer) yang lebih besar dibanding spesies layang yang lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Widodo (2000), menyatakan bahwa ikan D. lajang cenderung mendiami perairan dalam. 137

a. Decapterus macrosoma Jumlah hasil tangkapan sebanyak 985 ekor (Gambar 5A), terlihat bahwa komposisi hasil tangkapan tertinggi berada pada ukuran panjang 14.5-15.25 cm dengan persentase sebesar 25.35%, sedangkan hasil tangkapan terendah pada kelas ukuran panjang 13.0013.75 cm dengan persentase 0.20%. Untuk menggambarkan tingkat kedewasaan ikan layang pada ukuran tersebut, dapat digunakan pembanding dari hasil penelitian Najamuddin dkk., (2004), D. macrosoma betina pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 19.8-20.3 cm, sedangkan ikan layang jantan pertama kali matang gonad pada ukuran 19.6-20.1 cm. Prihatini (2006), di Pelabuhan Nusantara Pekalongan bahwa ikan D. macrosoma ditemukan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) III pada ukuran panjang 14.5-15.5 cm. Selanjutnya Nugroho (1995), menyatakan ikan D. macrosoma mencapai matang gonad pada panjang cagak lebih dari 18 cm. Balasubramanian dkk., (2000), D. macrosoma jenis mencapai matang gonad pada umur 1.05 tahun dengan panjang badan lakilaki 15.8 cm dan perempuan dengan panjang badan 15.7 cm. Prahibha dkk.,(2005), ikan D. macrosoma pertama kali matang gonad dengan panjang badan 15 cm. Selanjutnya (Pairoh dkk.,1997), D. macrosoma sudah memijah pada ukuran panjang tubuh 17.2 cm. Dari beberapa acuan tersebut dapat dikatakan bahwa sebagian besar ikan yang tertangkap telah memiliki ukuran pertama kali matang gonad. Atmaja dkk., (2003), mengatakan bahwa ikan layang D. macrosoma memijah di bulan MeiNovember dan puncak pemijahan terjadi bulan September-Desember. Sehingga hasil tangkapan ikan layang di Teluk Lombe masih berukuran kecil dan belum pada periode pemijahan namun sudah dewasa. Laporan Puslitbang Oseanologi LIPI (1999), yang mencapai panjang 40 cm dan umumnya 25 cm. Jumlah hasil tangkapan sebanyak 985 ekor (Gambar 5B), terlihat bahwa hasil tangkapan tertinggi didominasi oleh ukuran berat 73.31-91.40g dengan persentase sebesar 23.828% sedangkan hasil tangkapan terendah didominasi oleh ukuran berat 181.92-200.01g dengan persentase 0.2036 %. Menurut Prihartini (2006), D. macrosoma sudah mencapai matang gonad pada berat 30.5g, sehingga hasil penelitian yang tertangkap selama penelitian telah memiliki berat diatas ukuran tersebut.

2. Decapterus ruselli Jumlah hasil tangkapan ikan D. ruselli sebanyak 273 ekor (Gambar 6A), hasil tangkapan tertinggi didomionasi oleh ukuran panjang 15.23-16.33 cm dengan persentase sebesar 13.13%. Sedangkan hasil tangkapan terendah didominasi oleh ukuran panjang 21.89-22.89 cm dengan persentase 0.36 %. Sebagian besar ikan yang tertangkap berada pada 5 kelas ukuran terkecil. Sebagai bahan pembanding dapat dilihat penelitian Faizu (2001), dari hasil penelitiannya di perairan Siompu kabupaten Buton bahwa ikan layang jenis D. ruselli sudah mengalami pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 28.1-29.2 cm (Hariati et al., 2005), pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 16 cm. Selanjutnya Aprilianti (2000), ikan D. ruselli jantan pertama kalimatang gonad pada ukuran panjang 15.8 cm dan D. ruselli betina matang gonad pada ukuran panjang 15.3 cm. Prihatini (2006), yang menunjukkan bahwa ikan D.ruselli pada ukuran panjang 14.5-15.5 cm sudah mencapai TKG III. Selanjutnya Manik (2009), D. ruselli sudah matang gonad pada ukuran panjang 18,7 cm. Balasubramanian dkk., (2000), Ikan D. russelli laki-laki matang gonad pertama pada umur 0.91 tahun dan tercapai panjang tubuh 15 cm dan ikan D. ruselli perempuan matang gonad pertama di umur 0.91 tahun dengan panjang tubuh 14 cm. Prathibha dkk., (2005), D. ruselli pertama kali matang gonad ukuran badan yaitu 14 cm. Selanjutnya Manojkumar (2007), Ikan D. ruselli perempuan mencapai matang

gonad pertama kali dengan panjang badan 14.5 cm dan jantan 15.5 cm. (Pairoh dkk.,
1997), D. ruselli sudah dapat memijah dengan ukuran panjang tubuh 17 cm. Laporan Puslitbang Oseanologi LIPI (1999), D. ruselli dapat mencapai 30 cm dan umunya 20-25 cm. Bila mengacu pada hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa sebagian besar (<85%) D. ruselli yang tertangkap telah memiliki ukuran panjang pertama kali matang gonad, namun ikan-ikan yang tertangkap masih jauh dari panjang maksimumnya. Pada Gambar 6B, terlihat bahwa hasil tangkapan didomionasi oleh ukuran berat 40.00-57.78g dengan persentase sebesar 56.65%, sedangkan hasil tangkapan terendah didominasi oleh ukuran berat 182.24-200.01g dengan persentase 0.38%. Menurut prihartini (2006), D. ruselli sudah mencapai matang gonad pada berat 38g, sehingga sampel D. ruselli sudah mencapai lebih dari ukuran tersebut. 138

Jurnal Mina Laut Indonesia, 2013 @FPIK UNHALU

3. Decapterus lajang Jumlah hasil tangkapan D. lajang sebanyak 27 ekor dimana hasil tangkapan didominasi oleh ukuran panjang 25.41-26.20 cm dan ukuran 26.21-27.01 cm dengan persentase yang sama yaitu 37.03 %, sedangkan hasil tangkapan terendah berada pada ukuran panjang 23.81-24.60 cm dengan persentase 3.70 (Gambar 7A). Sebagai bahan pembanding dapat dilihat hasil penelitian Irham (2009) di perairan Maluku Utara menuliskan bahwa D. lajang sudah dewasa dengan ukuran panjang 21.5 -31.5 cm sudah mencapai TKG III. Dari pustaka pembanding tersebut, ikan D. lajang di perairan Teluk Lombe dapat dikatakan sudah sudah melebihi pertama kali matang gonad. Selanjutnya (Gambar 7B), menunjukan bahwa hasil tangkapan didominasi oleh ukuran berat 280.57-300.70g dengan persentase 85.18% sedangkan hasil tangkapan terendah didominasi oleh ukuran berat 240.29-260.42g dengan persentase 3.70%. 6. Kondisi Parameter lingkungan a. Suhu Hasil pengukuran suhu perairan Teluk Lombe berkisar antara 27.30-28.13oC (Gambar 8). Rendahnya suhu perairan Teluk Lombe disebabkan oleh intesitas sinar matahari tidak berlangsung lama dan sering terjadi hujan dan angin permukaan laut sehingga nilai suhu yang diperoleh rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nontji (2002), bahwa suhu air permukaan banyak mendapat pengaruh dari radiasi matahari terutama pada siang hari. Selanjutnya Dahuri dkk., (1996), mengatakan suhu perairan dipengaruhi oleh radiasi dan posisi matahari, letak geografis, musim, kondisi awan, proses interaksi air dengan udara seperti penaikan panas, penguapan dan hembusan angin. Dahuri dkk., (1996), mengatakan bahwa suhu air perairan nusantara kita umumnya berkisar antara 27.00oC-38.00oC. Nybakken (1999), mengatakan bahwa di samudera suhu bervariasi secara horizontal sesuai dengan garis lintang ada juga vertikal sesuai dengan kedalaman. Suhu rata-rata 27.30oC-28.13oC yang ada di perairan Teluk Lombe menunjukan bahwa ikan layang memungkinkan untuk hidup. Kusmawati (2001), mengatakan bahwa ikan layang berkosentrasi pada suhu 28oC. b. Salinitas

Hasil pengamatan salinitas di perairan Teluk Lombe berkisar antara 30.00-33.67 ppt (Gambar 9). Nilai salinitas lebih rendah disebabkan karena selama periode tersebut merupakan periode musim hujan sehingga sering kali terjadi hujan deras. Nontji (2002), mengatakan bahwa perairan samudera salinitas biasanya berkisar 34-35 ppt, di perairan pantai salinitas berubah jika terjadi pengenceran misalnya pengaruh curah hujan. Sebaran salinitas 30-33.67 ppt yang ada di perairan Teluk Lombe menunjukan bahwa ikan layang dimungkinkan untuk hidup. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sunarjo (2000), kisaran salinitas bagi ikan layang adalah 32-34 ppt., Setyo (2010), ikan layang hidup pada perairan dengan salintas 33-35 ppt., Soemarto (1998), ikan layang banyak tertangkap pada perairan yang bersalinitas 33.5-34.4 ppt. c. Ph Hasil pengamatan pH selama penelitian di perairan Teluk Lombe stabil yaitu pH 7 (Gambar 10). Ini berarti bahwa kisaran pH diperairan Teluk Lombe sangat memungkinkan ikan untuk hidup dan tinggal. Penyebab pH di perairan Teluk Lombe stabil karena di sekitar pantai pembuangan limbah rumah tangga hampir tidak ada. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wijaya (2000), mengatakan nilai pH biasanya dipengaruhi oleh laju fotosintesa, buangan limbah industri serta limbah rumah tangga. d. Kecepatan Arus Hasil pengamatan kecepatan arus di perairan Teluk Lombe yaitu berkisar antara 0.037-0.041 m/detik (Gambar 11). Perbedaan kecepatan arus saat pengukuran disebabkan karena pada saat pengukuran posisi pengukuran berbeda yaitu posisi berhadapan langsung dengan laut lepas saat terjadi surut dan posisi berhadapan langsung dengan arah arus sehingga nilai pengamatan yang diperoleh berbeda. Menurut Effendie (2002), bahwa yang dirincikan oleh arus yang searah dan relatif kencang adalah dengan kecepatan arus berkisar 0.1-1.0 m/dtk. Sebaran kisaran kecepatan arus di perairan Teluk Lombe yaitu 0.037-0.041 m/dtk (Gambar 11), merupakan tipe kecepatan arus pada perairan teluk. Meskipun kecepatan arus mencapai kisaran tersebut, ikan layang dimungkinkan untuk hidup. Kusmawati (2001), ikan layang dapat hidup pada arus dengan kecepatan 0.025-0.037 m/dtk.

Jurnal Mina Laut Indonesia, 2013 @FPIK UNHALU

139

Simpulan Pengamatan di perairan Teluk Lombe diperoleh 3 spesies ikan layang yaitu D. macrosoma (982 ekor atau 76.60%), D. ruselli (273 ekor atau 21.30%) dan D. lajang (27 ekor atau 2.21%). Kisaran ukuran ikan layang yang tertangkap di perairan Teluk Lombe adalah : D. macrosoma memiliki panjang 13.00-20.50 cm dan dominan pada kelas ukuran 14.51-15.25 cm sedangkan berat 19.00 -200.01 g dan dominan pada kelas ukuran 73.31-91.40g., D. ruselli memiliki panjang 13.00-22.99 cm dan dominan pada kelas ukuran15,23-16.33 cm sedangkan berat 40.00200.01g dan domain pada kelas ukuran 40.0057.78g; D. lajang memiliki panjang 23.0027.01 cm dan dominan pada kelas ukuran25.4126.20 sedangkan berat 200.00-30.70 dan dominan pada kelas ukuran 280.57-300.70g. Pengukuran pertumbuhan panjang, berat tubuh ikan, dan komposisi jenis ikan layang bertujuan untuk menjelaskan perubahan stok ikan layang akibat pengaruh dinamika alat tangkap dan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ikan serta komposisi jenis ikan di perairan Teluk Lombe. Hasil pengukuran parameter lingkungan di perairan Teluk Lombe yaitu suhu berkisar antara 27.30-28.13oC, Salinitas berkisar 3033.67 ppt, pH 7, kecepatan arus berkisar 0.0370.041 m/dtk. Persantunan Kegiatan penelitian dalam periode yang lebih panjang tentang dinamika ukuran ikan layang di Teluk Lombe sehingga dapat memperoleh informasi yang lebih jelas perihal keberadaan ikan layang di Teluk Lombe untuk keperluan pengelolaannya. Daftar Pustaka
Amin, E.M., N. Duto, dan Wasilun. 1998. Kemungkinan Penggunaan Teknik Remote Sensing Dalam Menentukan Daerah Penangkapan Ikan Pelagik Melalui Pola Penyebaran Temperatur Air Laut. (49):2132. Aprilianti, H. 2000. Aspek Biologi Ikan Layang (Decapterus ruselli) Ruppel di Perairan Teluk Sibolga, Sumatera Utara. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 46 hal. Atmaja, S.B dan J. Haluan. 2003. Perubahan Hasil Tangkapan Lestari Ikan Pelagis kecil di Laut Jawa dan Sekitarnya. 2(2):3-27. Balasubramanian, N.K., and P. Natarajan. 2000. Studies on the Biology of the Scads

(Decapterus ruselli and Decapterus macrosoma) at Vizhinjam Southwest Coast of India. 47(4):291-300. BPS, 2010. Kecamatan Gu Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Kabupaten Buton. 20 hal. Chan, W., Talbot, and P. Sukhavisidhi. 1997. FAO Species Identification Sheet for Fishery Purpose Rome I. Dahuri, R., Rais, S.P., Ginting dan M.J. Sitepu. 1996. Penelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradaya Paramita. Jakarta. Departemen Perikanan dan Kalautan. 2004. Jaring. Insanghttp://pipp.dkp.go.id/pipp2/alat tangkap.html?idkat_api=8&idapi=27. Durand. 1994. A Project for Java Sea Pelagie Fishery. Infofish International. (2):53-57. Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. Fauzie, A. 2004. Model Bionomik Hasil Tangkapan Ikan Layang di Laut Jawa Dengan Pendekatan Hasil Tangkapan Purse Seine di PPN Pekalongan. Fakultas dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Faizu, H. 2001. Studi Beberapa Aspek Biologi Ikan Layang Decapterus ruselli) Hasil Tangkapan Nelayan Bone-Bone dengan Menggunakan Purse Seine di Sekitar Perairan Siompu Babupaten Buton. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.Universitas Haluoleo. Kendari. Gafa, B., S. Bahar, dan Karyana. 2003. Potensi Sumber Daya Perikanan Perairan Laut Flores dan Selat Makasar. Perikanan Laut. 72:43-53. Genisa, S.A. 1998. Beberapa Catatan Tentang Biologi Ikan layang Marga Decapterus. Oseana 23(2):27-36. Gulland, J.A. 2000. Fish Stock Assesment. a Manual of Basic Methods. John Wiley and Sons.Inc, New York. Hariati, T. 2005. Beberapa Aspek Reproduksi Ikan Layang (Decapterus ruselli) dan Ikan Banyar (Ratrellinger kanagurta) di Perairan Selat Malaka Indonesia. 11(2):47-56. Hardenberg, J.D.F. 1999. Perminary Report on a Migration of Fish in Java Sea. Treubia. 16(2):295-300. Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2011. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia, 2010. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Jakarta. 11(1):1858-0505. Kusmawati, S.S. 2001. Komposisi Jenis Ikan Dengan Alat Tangkap Bagan Perahu Hubungannya Dengan Posisi Bulan di Perairan Selat Buton, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Skripsi. Fakultas

Jurnal Mina Laut Indonesia, 2013 @FPIK UNHALU

140

Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Haluoleo. Kendari. 45 hal. Irham, 2009. Pola Pengembangan Berkelanjutan Sumber Daya Ikan Layang (Decapterus spp.) di Perairan Maluku Utara. Istitut Pertanian Bogor. 248 hal. Isa, M.M.H. Kohno, Hitoshi Ida, H.T. Nakamura, A. Zainal and S.A.S.A. Kadir. 1998. Field Guide to Inportant Comercial Marine Fishes of tht South Cina Sea marine Fishery development and Managemen Departement, South Easth Asian Fisheris Development Centre kuala Trengganu Malaysia. Manojkumar, P.P. 2007. Stock Assessment of Indian Scad (Decapterus ruselli) Ruppel of Malabar. 49(1):76-80. Najamuddin, M. Palo, A. Malawa, Budimawan., M.Y.N. Indah. 2004. Pendugaan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Layang Deles (Decapterus macrosoma) Bleeker. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin Program Pasca sarjana. 4(1):1-8. Nybakken, J.W. 1999. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. (Terjemahan : Eidman, H.M., Koesbiono, D.G. Bengen., M. hutomo dan Sukardjo). Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 459 hal. Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta. 368 hal. Nugroho, D. 1997. Aspek Reproduksi Ikan Layang Deles (Decapterus macrosoma) dan Siro (Amblygaster sirm) Sebagai Pertimbangan dalam Pengelolaan di Laut Jawa. Perikanan Indonesia. 1(3):1-10. Odum, E.P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi (terjemahan) Gadja mada University Press. Yogyakarta. 967 hal. Pairoh, S., and S. Ravi. 1997. Biological Aspecth of Chub Markerels and Round Scad on the West Coast of Thailand. Bay of Bengal Programme. BOBB/Rep. 39(39):40-48. Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan. 2005. Statistik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, 2004 Pelabuhan Nusantara Pekalongan.

Prathibha, R., and S.L., Shanbhogue. 2005. Age and Growth of (Decapterus ruselli and Decapterus macrosoma) Along Karnataka Coast. India. 47(2):180-184. Prihartini, A. 2006. Analisis Tampilan Biologi Ikan Layang (Decapterus spp.) Hasil Tangkapan Purse Seine yang didaratkan Di PPN Pekalongan. Pogram Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang. 89 hal Puslitbang Oseanologi LIPI. 1998. Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Ditjen Perikanan Puslitbang LAPAN, BPPT. Jakarta. . Soemarto. 1998. Behaviar Ikan terutama Yang Berhubungan Dengan Ikan Pelagis Yang Menemukan Scooling. Layang (Decapterus spp.) Bogor: Latitut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. Sreenivasa, P.V. 1997. Manurity and Spawning in (Decapterus sp.) Day Wakiya Marbiol. Ass. India. 23(2):19-28. Sturgess, L.D. 1982. Engineering Mechanics : Dynamics. 2nd Ed., Wiley. New York. Sunarjo, 2000. Analisa Pertumbuhan Ikan (Decapterus macrosoma) Bleeker di Perairan Laut Jawa Bagian Timur. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Dipenegoro, Semarang. Tiews, K.I.A. Roquillo and P. Cases Borja. 2001. on the Biology of Roundscad (Decapterus) Bleeker in the Filiphines Water. Proct. IPEC. 13(2):82-106. Widodo, J. 2000. Population Biology of Rusell,s Scad (Decapterus ruselli) in the Java Sea. Indonesia in : Vinema VAO Fish. 389:308323. Widjojo, S. 2002. Perikanan Payang di Teluk Jakarta. Kepulauan Seribu. Laporan Praktek Mayor. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. 53 hal. Wijaya, I. 2010. Analisis Parameter Ikan Kardinal Banggai (P. Kauderni) di Pulau Banggai Sulawesi Tengah. Tesis. Progran Studi Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Jurnal Mina Laut Indonesia, 2013 @FPIK UNHALU

141