Anda di halaman 1dari 8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu
66

Search People, Research Interests and Universities

Home

Analytics

Wulan Ayra

Upload Papers

Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model


by Zulrahmat Togala

more

Share

262
Download (.doc)
Instructional_Design
272 KB

Hide Sidebar

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

1/8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu

untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang efektif dan efisien. Dalam menggunakan pendekatan sistem, setiap langkah yang dilakukan harus memperoleh input dari lagkah sebelumnya. Selain itu dengan

implementasi pendekatan system dalam merancang desain pembelajaran seorang pendesain instruksional dapat melihat secara holistik semua tahapan desain, berdasarkan pandangan tersebut dapat dilakukan melakukan revisi dan

evaluasi untuk memperoleh umpan balik dalam koreksi dalam setiap langkah desain. D. Teori Belajar Sebelum mendesain sebuah pembelajaran

ada

baiknya

seorang

pendesain instruksional memahami tentang teori belajar yang erat kaitannya dengan bagaimana individu melakukan proses belajar, yang pada akhirnya dapat menciptakan desain pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. Teori belajar juga dapat digunakan sebagai panduan untuk mengembangkan metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Teori belajar berisi studi atau kajian yang komprehensif tentang bagaimana individu melakukan proses belajar. Ada tiga teori belajar yang digunakan untuk mendeskripsikar bagaimana berlangsungnya proses

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

2/8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu
belajar, yaitu: (1) teori belajar behaviorisme; (2) teori belajar kognitif; dan (3) teori belajar humanistik. Ketiga teori belajar ini merupakan teori belajar yang dominan digunakan dalam mempelajari proses belajar dalan diri seseorang.

Teori belajar behavioristik menjelaskan tentang peranan faktor eksternal dan dampaknya terhadap perubahan perilaku seseorang. Menurut penganut teori belajar behavioristik, belajar adalah pemberian tanggapan atau respon terhadap stimulus yang dihadirkan. Belajar dapat dianggap efektif apabila individu mampu memperlihatkan sebuah perilaku baru yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil dari proses belajar menurut penganut teori belajar behavioristik yaitu berupa perilaku yang dapat

diukur

(measurable)

dan

diamati

(observable).

Proses

belajar

dilaksanakan dengan cara menciptakan kondisi yang dapat memberi kemungkinan bagi idividu untuk mendemonstrasikan sebuah perilaku dalam jangka waktu yang relatif lama. Tokoh-tokoh peneliti dalam rumpun teori belajar perilaku antara lain: Thorndike dengan teori connectionism; Pavlov dengan teori classical conditioning; dan B.F. Skinner dengan teori operant conditioning (Ritchey, 1986). Konsep penting yang dapat disimpulkan dari ketiga teori belajar perilaku ini adalah danya konsep "reward", "reinforcement", dan "punishment" dalam mengukuhkan perilaku spesifik yang merupakan hasil belajar.

Teori belajar kognitif berpandangan bahwa belajer merupakan proses mental aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Teori belajar kognitif mempelajari model dan proses mental seperti berpikir, mengingat, can memecahkan masalah. Hal ini sesuai dengan pendapat Woofolk (2004) yang mengemukakan bahwa teori belajar kogiitif sebagai pendekatan umum yang memandang belajar sebagai proses mental aktif yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh, pengetahuan. mengingat, dan menggunakan informasi dan

Teori belajar humanistik menggunakan pendekatan motivasi yang menekankan pada kebebasan personal, penentuan pilihan,

determinasi diri, dan pertumbuhan individu. Teori belajar humanistik berpandangan bahwa peristiwa belajar yang ada saat ini lebih banyak ditekankan pada aspek kognitif semata, sementara itu aspek afektif menjadi sangat terabaikan. Menurut penganut teori belajar humanistik, peserta didik merupakan individu yang unik yang memiliki perasaan dan gagasan yang bersifat orisinil. Tugas utama dari seorang pendidik adalah membantu individu agar berkembang secara sehat dan sesuai dengan potensi yang dimilikinya (Cruickshank, 2006).

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

3/8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu

E. Prinsip belajar Tidak cukup hanya dengan menguasai beberapa teori belajar dalam merancang sebuah pembelajaran, agar mencapai pembelajaran sukses ada beberapa prinsip belajar yang juga perlu diperhatikan oleh

pengembang program pembelajaran. Prinsip-prinsip belajar tersebut antara lain:

Mengidentifikasi pengetahuan yang telah dipelajari dan pengetahuan yang akan dipelajari, agar peserta didik mampu mengaitkan

pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dan yang akan dipelajari. Upaya ini pada akhirnya akan memfasilitasi peserta didik dalam menguasai secara utuh pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari.

Menyederhanakan konsep, prinsip, aturan, dan hukum yang Abstrak, kompleks dan rumit untuk dipelajari oleh peserta didik. Isi atau materi yang kompleks tersebut perlu diajarkan secara bertahap atau gradual.

Mengasosiasikan teori yang dipelajari dengan kenyataan yang dihadapi oleh peserta didik. Ini akan membantu peserta didik untuk memiliki makna terhadap isi atau materi pelajaran yang sedang dipelajari.

Memberikan pujian atau penghargaan bila peserta didik berhasil mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Pujian dan penghargaan yang tulus terhadap prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik akan menambah motivasi mereka untuk tetap berprestasi.

Setiap peserta didik adalah individu yang unik, yang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ia juga butuh penghargaan, olehnya itu jika ingin memberikannya, penghargaan yang diberikan tidak perlu mahal, namun memiliki arti tertentu bagi peserta didik. Memberikan penghargaan harus sesuai dengan keperluan. Penghargaan yang diberikan terlalu sering akan mengurangi makna dari penghargaan tersebut.

Beri perhatian khusus terhadap peserta didik yang sulit berinteraksi dan memberi respons terhadap aktivitas pembelajaran. Dorongan dan bantuan guru akan membangkitkan rasa percaya diri dan memotivasi yang pemalu untuk dapat berprestasi secara optimal.

Ciptakan kesempatan yang sama bagi peserta didik untuk melakukan unjuk prestasi (performance) dalam menempuh proses pembelajaran. Pada dasarnya setiap individu memiliki potensi diri yang perlu digali atau dieksplorasi secara optimal. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang karakteristik peserta didik menjadi sangat perlu sebelum menempuh aktivitas pembelajaran.

Berikan contoh perilaku berprestasi yang dapat dijadikan model oleh peserta didik. Misalnya guru atau instruktur yang memperlihatkan

sikap antusias dan memberi penghargaan secara adil terhadap peserta didik.

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

4/8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu
peserta didik.

Berikan hukuman yang wajar terhadap perilaku siswa, tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Pemberian hukuman bukan untuk menghukum peserta didik, lebih ditekankan kepada upaya untuk menghentikan perilaku yang tidak diinginkan yang diperlihatkan oleh peserta didik.

F. Instructional Design: Reflexion and Revise Approach. (Zulrahmat) Asumsi Peran guru dalam mengelola pembelajaran begitu sentral, tugas-tugas yang meliputi, melakukan analisis kebutuhan, mengidentifikasi

karakteristik

peserta

didik, merencanakan strategi instruksional,

pemilihan konten yang sesuai, mengidentifikasi media yang tepat, mengajarkan, dan mengevaluasi peserta didik merupakan tugas keseharian yang dilakukannya, menyebabkan guru kurang memiliki waktu melakukan evaluasi strategi pembelajarannya sendiri. Model Desain Instruksional ini dimaksudkan untuk memudahkan guru dalam merancang dan melaksanakan sekaligus mengevaluasi

pembelajarannya. Karakteristik utama model ini adalah dilakukannya

refleksi dan revisi disetiap tahap, hal ini didasari oleh anggapan bahwa pembelajaran dalam kelas sifatnya berkelanjutan sejak perencanaan, proses, sampai pada evaluasi pembelajaran. Hal-hal yang perlu diperbaiki dari rancangan semula pada setiap tahap, harus dicatat oleh guru sebagai bahan refleksi, untuk kemudian dilakukan perbaikan. Untuk lebih jelasnya penjelasan dari setiap tahapan model ini diuraikan sebagai berikut:

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

5/8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

6/8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

7/8

23/02/14

(66) Instructional Design: Reflexion and Revise Approach Model | Zulrahmat Togala - Academia.edu

Job Board

About

Mission

Press

Blog

Stories

We're hiring engineers!


Academia 2014

FAQ

Terms

Privacy

Copyright

Send us Feedback

https://www.academia.edu/4070572/Instructional_Design_Reflexion_and_Revise_Approach_Model

8/8