Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

CA NASOFARING

Disusun Oleh: Tondo Bayu Nugroho 11-2 11- !"

#e$%i$%ing: dr& Asno$inanda' S(&T)T

*E#ANITERAAN *+INI* I+,- #EN.A*IT TE+INGA )ID-NG TENGGORO*AN' *E#A+A +E)ER /#eriode 0 Se(1e$%er 2 12 2 3 O41o%er 2 125 FA*-+TAS *EDO*TERAN -NI6ERSITAS *RISTEN *RIDA 7ACANA R-,A) SA*IT #-SAT ANG*ATAN -DARA DR& ESNA7AN ANTARI*SA 8A*ARTA

*ATA #ENGANTAR Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmatNya penulis dapat menyelesaikan Makalah Karsinoma Nasofaring ini. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Telinga idung Tenggorok di !SP"# $!. Esna%an "ntariksa. Makalah ini memuat tentang Karsinoma Nasofaring yang sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Kami juga mengu&apkan terima kasih kepada dokter pembimbing kami yaitu dr. "snominanda' Sp.T T dan rekan(rekan koas yang ikut membantu memberikan semangat dan dukungan moril. Penulis menyadari bah%a Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. )leh karena itu' penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan pemba&a.

*akarta' +, September +-.+

Penulis

DAFTAR ISI

K"T" PEN/"NT"! $"0T"! ISI 2"2 I 2"2 II Pendahuluan Tinjauan Pustaka "natomi dan 0isiologi $efinisi Epidemiologi dan Etiologi Patologi /ejala dan Tanda $iagnosis $iagnosis 2anding Penatalaksanaan 2"2 III 2"2 I7 Penutup $aftar Pustaka

+ 1 3

4 5 5 .. .1 .3 .5 ++6 +8

BAB I #ENDA)-+-AN

Penderita karsinoma nasofaring 9KN0: &ukup banyak ditemukan di tengah masarakat dan jumlahnya &enderung meningkat dari tahun ke tahun. Yang memprihatinkan adalah hampir semua penderita KN0 datang pada stadium lanjut. $an yang menarik lagi' penyakit ini lebih sering mengenai laki(laki usia 3-(,- tahun dimana pada usia tersebut seorang kepala keluarga memasuki masa pun&ak karier dan dituntut lebih se&ara finansial oleh keluarga. 2anyak faktor yang menyebabkan penderita KN0 datang pada stadium lanjut. /ejala yang tidak khas menyebabkan penderita terlambat menyadari dan mendatangi dokter. Ketidakmampuan dokter mengenal KN0 apalagi memeriksa nasofaring dan kesalahan interpretasi pada pemeriksaan histopatologi' berperan besar menyebabkan penderita didiagnosis pada stadium lanjut sehingga angka kematian penyakit ini &ukup tinggi..'+ Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem' hal ini karena etiologi yang masih belum pasti' gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembunyi' dan tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli sehingga diagnosis sering terlambat' dengan ditemukannya metastasis pada leher sebagai gejala pertama. $engan makin terlambatnya diagnosis maka prognosis 9angka bertahan hidup 4 tahun: semakin buruk.. $engan melihat hal tersebut' diharapkan dokter dapat berperan dalam pen&egahan' deteksi dini' terapi maupun rehabilitasi dari karsinoma nasofaring ini. #ntuk dapat bereperan dalam hal tersebut dokter perlu mengetahui terlebih dahulu segala aspek dan kanker nasofaring ini' meliputi definisi' anatomi fisiologi nasofaring' epidemiologi dan etiologi' gejala dan tanda' patofisiologi' diagnosis' komplikasi' terapi maupun pen&egahanya. Penulis berusaha untuk menuliskan semua aspek tersebut dalam tinjauan pustaka refarat ini dan diharapkan dapat bermanfaat.

BAB II TIN8A-AN #-STA*A

2&1 ANATO,I DAN FISIO+OGI NASOFARING Nasopharing berbentuk keru&ut dan selalu terbuka pada %aktu respirasi karena dindingnya dari tulang' ke&uali dasarnya yang dibentuk oleh palatum molle.+ 2atas nasopharing1 ; Superior "nterior Posterior ; basis kranii' diliputi oleh mukosa dan fas&ia ; &hoane' oleh os <omer dibagi atas &hoane kanan dan kiri. ; ( <ertebra &er<i&alis I dan II - fas&ia spa&e = rongga yang berisi jaringan longgar - mukosa lanjutan dari mukosa atas >ateral ; ( mukosa lanjutan dari mukosa atas dan belakang - Muara tuba eusta&hii - 0ossa rosenmulleri

Bangunan yang (en1ing (ada naso(haring! )stium tuba eusta&hii pars pharyngeal Tuba eusta&hii merupakan kanal yang menghubungkan ka<um nasi dan nasopharyng dengan rongga telinga tengah. Mukosa ostium tuba tidak datar tetapi menonjol seperti menara' disebut torus tubarius. Torus tubarius 0ossa rosen mulleri "dalah dataran ke&il dibelkang torus tubarius. $aerah ini merupakan tempat predileksi karsinoma nasofaring' suatu tumor yang mematikan nomor . di T T. 0orni? nasofaring "dalah dataran disebelah atas torus tubarius' merupakan tempat tumor angiofibroma nasopharing "denoid= tonsil pharyngeal=luskha

Se&ara teoritis adenoid akan hilang setelah pubertas karena adaenoid akan men&apai titik optimal pada umur .+(.3 tahun. >okasi pada dinding superior dan dorsal nasopharing sebelah lateral bursa pharyngea. 0ungsinya sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman( kuman yang le%at jalan napas hidung.

Nasopharing akan tertutup bila paltum molle melekat ke dinding posterior pada %aktu menelan' muntah' mengu&apkan kata(kata etrtentu seperti hak. 0ungsi nasopharing3 ; Sebagai jalan udara pada respirasi *alan udara ke tuba eusta&hii !esonator Sebagai drainage sinus paranasal ka<um timpani dan hidung

Se&ret dari nasopharing dapat bergerak ke ba%ah karena ; /aya gra<itasi /erakan menelan /erakan silia 9kinosilia: /erkan usapan palatum molle

2&2 DEFINISI @ar&inoma adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel(sel epithelial yang &enderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis. Nasopharyngeal &ar&inoma merupakan tumor ganas yang timbul pada epithelial pelapis ruangan dibelakang hidung 9nasofaring: dan ditemukan dengan frekuensi tinggi di @ina bagian selatan.4

2&0 E#IDE,IO+OGI DAN ETIO+OGI "ngka kejadian Kanker Nasofaring 9KN0: di Indonesia &ukup tinggi' yakni 3'5 kasusAtahunA.--.--- penduduk atau diperkirakan 5--- B 6--- kasus per tahun di seluruh Indonesia 9sur<ei yang dilakukan oleh $epartemen Kesehatan pada tahun .86- se&ara Cpathology basedD:. $alam pengamatan dari pengunjung poliklinik tumor T T !S@M' pasien karsinoma nasofaring dari ras @ina relatif lebih banyak dari suku bangsa lainya.. Tumor ini lebih sering ditemukan pada pria dibanding %anita dengan rasio +(1;. dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti' mungkin ada hubungannya dengan faktor genetik' kebiasaan hidup' pekerjaan dan lain(lain. $istribusi umur pasien dengan KN0 berbeda(beda. Pada daerah dengan insiden rendah insiden KN0 meningkat sesuai dengan meningkatnya umur' pada daerah dengan insiden tinggi KN0 meningkat setelah umur 1- tahun' pun&aknya pada umur 3-(48 tahun dan menurun setelahnya., !as mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya KN0' sehingga kekerapan &ukup tinggi pada pendduduk @ina bagian selatan' ongkong' 7ietnam' Thailand' Malaysia'
8

Singapura' dan Indonesia. 2erbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian Kanker Nasofaring 9KN0: pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim se&ara turun temurun di @hina to%n 9pe&inan: di San 0ransis&o "merika Serikat. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya Kanker Nasofaring 9KN0: antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih 9@au&asians:' kulit hitam dan ispani&s' di mana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. Sebaliknya' apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya Kanker Nasofaring 9KN0: pada kelompok migran tersebut. *adi kesimpulan yang dapat ditarik adalah' bah%a kelompok migran masih mengandung gen yang EmemudahkanF untuk terjadinya Kanker Nasofaring 9KN0:' tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemi&u tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. #ntuk diketahui bah%a penduduk di pro<insi /uang $ong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang dia%etkan 9diasap' diasin:' bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih' sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang di&ampur ikan asin ini. $i dalam ikan yang dia%etkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi he%an per&obaan..'5 $ijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu 9boat people: yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura., al ini tampak men&olok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang 7ietnam dari negaranya. 2ukti

$ijumpainya Epstein(2arr 7irus 9E27:' pada hampir semua kasus KN0 telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan <irus tersebut. Pada .8,,' seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap E27 pada KN0 serta titer antibodi Ig/ terhadap E27' &apsid antigen dan early antigen. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Namun <irus ini juga a&apkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit.+
9

"da peneliti yang men&oba menghubungkannya dengan merokok' se&ara umum resiko terhadap KN0 pada perokok +(, kali dibandingkan dengan bukan perokok. $itemukan juga bah%a menurunnya angka kematian KN0 di "merika utara dan dengan terjadinya KN0 dipelajari oleh ongkong merupakan hasil dari mengurangi frekuensi merokok. "danya hubungan antara faktor kebiasaan makan o dkk. $itemukan kasus KN0 dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton 9@antonese(style salted fish:. !isiko terjadinya KN0 sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. $i beberapa bagian negeri @ina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih.+ Tentang faktor genetik telah banyak ditemukan kasus herediter atau familier dari pasien KN0 dengan keganasan pada organ tubuh lain. Suatu &ontoh terkenal di @ina selatan' satu keluarga dengan 38 anggota dari dua generasi didapatkan 8 pasien KN0 dan . menderita tumor ganas payudara. Se&ara umum didapatkan .-G dari pasien karsinoma nasofaring menderita keganasan organ lain.. Penyebab lain yang di&urigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid' debu kayu serta asap kayu bakar. 2elakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami 9@hinese herbal medi&ine = @ 2:. ildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KN0' infeksi E27 dan penggunaan @ 2. 2eberapa tanaman dan bahan @ 2 dapat menginduksi akti<asi dari <irus E27 yang laten. Seperti pada TP" 9Tetrade&anoylyphorbol "&etate: yaitu substansi yang ada di alam dan tumbuhan jika dikombinasi dengan N(2utyrate yang merupkan produk dari bakteri anaerob yang ditemukan di nasofaring dapat menginduksi sintesis antigen E27 di tikus' meningkatnya transformasi cell-mediated immunity dari E27 dan mempromosikan pembentukan KN0 9genesis:.+

Se&ara mikroskopis karsinoma nasofaring dapat dibedakan menjadi 1 bentuk yaitu+ ; .. 2entuk ulseratif 2entuk ini paling sering terdapat pada dinding posterior dan di daerah sekitar fosa rosenmulleri. *uga dapat ditemukan pada dinding lateral didepan tuba eusta&hius dan pada bagian atap nasofaring. >esi ini biasanya lebih ke&il disertai dengan jaringan yang nekrotik dan sangat mudah mengadakan infiltrasi ke jaringan sekitarnya. /ambaran histopatologik bentuk ini adalah karsinoma sel skuamosa dengan diferensiasi baik.
10

+. 2entuk nodulerAlubulerAproliferatif 2entuk noduler atau lobuler sangat sering dijumpai pada daerah sekitar muara tuba eusta&hius. Tumor jenis ini berbentuk seperti buah anggur atau polipoid jarang dijumpai adanya ulserasi' namun kadang(kadang dijumpai ulserasi ke&il. /ambaran histopatologik bentuk ini biasanya karsinoma tanpa diferensiasi. 1. 2entuk eksofitik 2entuk eksofitik biasanya tumbuh pada satu sisi nasofaring' tidak dijumpai adanya ulserasi' kadang(kadang bertangkai dan permukaannya li&in. Tumor jenis ini biasanya tumbuh dari atap nasofaring dan dapat mengisi seluruh rongga nasofaring. Tumor ini dapat mendorong palatum molle ke ba%ah dan tumbuh kearah koana dan masuk ke dalam rongga hidung. /ambaran histopatologik berupa limfasarkoma.

2&! 6IR-S EBSTEIN BARR 6irus E(s1ein-Barr' juga disebut Virus herpes human 4 adalah <irus dari famili herpes 9yang juga terdapat virus herpes simplex dan Sitomegalovirus:' dan merupakan salah satu <irus yang paling umum pada manusia. 2anyak orang terinfeksi dengan 7irus Epstein( 2arr yang sering asimtomatik tetapi umumnya menyebabkan mononukleosis. 7irus Epstein( 2arr berasal dari nama Mi&hael Epstein dan Y<onne 2arr' yang bersama dengan 2ert "&hong' menemukan <irus ini tahun .8,3.6

11

Sel leukemia berisi <irus Epstein 2arr 9ber%arna hijau:.

Klasifikasi E27 ; Kelas; Kelas I 9ds$N": 0amili; Herpesviridae /enus; Lymphocryptovirus Spesies; Human herpesvirus 4 9 7(3:

2&9 #ATO+OGI

7irus Epstein 2arr 9E27: merupakan <irus $N" yang memiliki kapsid i&osahedral dan termasuk dalam famili erpes<iridae. Infeksi E27 dapat berasosiasi dengan beberapa penyakit seperti limfoma 2urkitt' limfoma sel T' mononukleosis dan karsinoma nasofaring 9KN0:. KN0 merupakan tumor ganas yang terjadi pada sel epitel di daerah nasofaring yaitu pada daerah &ekungan !osenmuelleri dan tempat bermuara saluran eusta&hii. 2anyak faktor yang diduga berhubungan dengan KN0' yaitu+ ; .. "danya infeksi E27 +. 0aktor lingkungan 1. /enetik

.: 7irus Epstein(2arr+ 7irus Epstein(2arr bereplikasi dalam sel(sel epitel dan menjadi laten dalam limfosit 2. Infeksi <irus epstein(barr terjadi pada dua tempat utama yaitu sel epitel kelenjar sali<a dan sel limfosit. E27 memulai infeksi pada limfosit 2 dengan &ara berikatan dengan reseptor <irus' yaitu komponen komplemen @1d 9@$+. atau @!+:.
12

/likoprotein 9gp14-A++-: pada kapsul E27 berikatan dengan protein @$+. dipermukaan limfosit 21. "kti<itas ini merupakan rangkaian yang berantai dimulai dari masuknya E27 ke dalam $N" limfosit 2 dan selanjutnya menyebabkan limfosit 2 menjadi immortal. Sementara itu' sampai saat ini mekanisme masuknya E27 ke dalam sel epitel nasofaring belum dapat dijelaskan dengan pasti. Namun demikian' ada dua reseptor yang diduga berperan dalam masuknya E27 ke dalam sel epitel nasofaring yaitu @!+ dan PI/! 9Polimeric Immunogloblin Receptor:. Sel yang terinfeksi oleh <irus Epstein(2arr dapat menimbulkan beberapa kemungkinan yaitu ; sel menjadi mati bila terinfeksi dengan <irus Epstein(2arr dan <irus mengadakan replikasi' atau <irus Epstein( 2arr yang menginfeksi sel dapat mengakibatkan kematian <irus sehingga sel kembali menjadi normal atau dapat terjadi transformasi sel yaitu interaksi antara sel dan <irus sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan sifat sel sehingga terjadi transformsi sel menjadi ganas sehingga terbentuk sel kanker. /en E27 yang diekspresikan pada penderita KN0 adalah gen laten' yaitu E2E!s' E2N".' >MP.' >MP+" dan >MP+2. Protein E2N". berperan dalam mempertahankan <irus pada infeksi laten. Protein transmembran >MP+" dan >MP+2 menghambat sinyal tyrosine kinase yang diper&aya dapat menghambat siklus litik <irus. $iantara gen(gen tersebut' gen yang paling berperan dalam transformasi sel adalah gen >MP.. Struktur protein >MP. terdiri atas 1,6 asam amino yang terbagi menjadi +asam amino pada ujung N' , segmen protein transmembran 9.,, asam amino: dan +-asam amino pada ujung karboksi 9@:. Protein transmembran >MP. menjadi perantara untuk sinyal TN0 9tumor necrosis factor: dan meningkatkan regulasi sitokin I>(.- yang memproliferasi sel 2 dan menghambat respon imun lokal.
2) /enetik2

Halaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetik' tetapi kerentanan terhadap karsinoma nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol dan memiliki agregasi familial. "nalisis korelasi menunjukkan gen >" 9human leuko&yte antigen: dan gen pengode enIim sitokrom p34- +E. 9@YP+E.: kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap karsinoma nasofaring. Sitokrom p34- +E. bertanggung ja%ab atas akti<asi metabolik yang terkait nitrosamine dan karsinogen. 1: 0aktor lingkungan+
13

Sejumlah besar studi kasus yang dilakukan pada

populasi yang berada di

berbagai daerah di "sia dan "merika #tara' telah dikonfirmasikan bah%a ikan asin dan makanan lain yang a%etkan mengandung sejumlah besar nitrosodimethyamine 9N$M":' N(nitrospurrolidene 9NPY!: dan nitrospiperidine 9NPIP : yang mungkin merupakan faktor karsinogenik karsinoma nasofaring. Selain itu merokok dan perokok pasif yang terkena paparan asap rokok yang mengandung formaldehide dan yang tepapar debu kayu diakui faktor risiko karsinoma nasofaring dengan &ara mengaktifkan kembali infeksi dari E27.

2&3 GE8A+A DAN TANDA1

GE8A+A STADI-, DINI a !asal sign " Pilek lama yang tidak sembuh. Epistaksis. Keluarnya darah ini biasanya berulang(ulang' jumlahnya sedikit dan seringkali ber&ampur dengan ingus' sehingga ber%arna merah jambu. Ingus dapat seperti nanah' en&er atau kental dan berbau.

#ar sign " Tinitus. Tumor menekan muara tuba eusta&hii sehingga terjadi tuba oklusi' karena muara tuba eusta&hii dekat dengan fosa !osenmulleri. Tekanan dalam ka<um timpani menjadi menurun sehingga terjadi tinnitus. /angguan pendengaran hantaran
!asa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga 9otalgia:.

14

GE8A+A STADI-, +AN8-T a #ye sign " $iplopia. Tumor merayap masuk foramen laseratum dan menimbulkan gangguan N. I7 dan N. 7I. 2ila terkena &hiasma opti&us akan menimbulkan kebutaan. b $umor sign " Pembesaran kelenjar limfoid leher ini merupakan penyebaran atau metastase dekat se&ara limfogen dari karsinoma nasofaring. c %ranial sign /ejala &ranial terjadi bila tumor sudah meluas ke otak dan dirasakan pada penderita. /ejala ini berupa ; Sakit kepala yang terus menerus' rasa sakit ini merupakan metastase se&ara hematogen. Sensitibilitas daerah pipi dan hidung berkurang. Kesukaran pada %aktu menelan "foni akibat paralisis dari pita suara Sindrom *ugular *a&kson atau sindroma reptroparotidean mengenai N. IJ' N. J' N. JI' N. JII. $engan tanda(tanda kelumpuhan pada; o >idah o Palatum o 0aring atau laring o M. sterno&leidomastoideus o M. trapeIeus

2&: DIAGNOSIS
15

*ika ditemukan adanya ke&urigaan yang mengarah pada suatu karsinoma nasofaring' protokol diba%ah ini dapat membantu untuk menegakkan diagnosis pasti serta stadium tumor+; & 'namnesis(pemeri)saan fisi) "namnesis berdasarkan keluhan yang dirasakn pasien 9tanda dan gejala KN0:. * Pemeri)saan nasofaring $engan menggunakan ka&a nasofaring atau dengan nashopharyngoskop. 1. +iopsi nasofaring.'+'3 $iagnosis pasti dari KN0 ditentukan dengan diagnosis klinik ditunjang dengan diagnosis histologik atau sitologik. $iagnosis histologik atau sitologik dapat ditegakan bila dikirim suatu material hasil biopsy &u&ian' hisapan 9aspirasi:' atau sikatan 9brush:' biopsy dapat dilakukan dengan + &ara' yaitu dari hidung atau dari mulut. 2iopsi tumor nasofaring umunya dilakukan dengan anestesi topi&al dengan ?ylo&ain .-G. 2iopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya 9blind biopsy:. @unam biopsy dimasukan melalui rongga hidung menyelusuri konka media ke nasofaring kemudian &unam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy. 2iopsy melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukan melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem bersama(sama ujung kateter yang dihdung. $emikian juga kateter yang dari hidung disebelahnya' sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian dengan ka&alaring dilihat daerah nasofaring. biopsy dilakukan dengan melihat tumor melalui ka&a tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukan melalui mulut' masaa tumor akan terlihat lebih jelas. 2ila dengan &ara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan mala dilakukan pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam nar&osis. 4 Pemeri)saan Patologi 'natomi Klasifikasi gambaran histopatologi yang direkomendasikan oleh )rganisasi Kesehatan $unia 9H ): sebelum tahun .88.' dibagi atas 1 tipe' yaitu. ; Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi 9,eratini-ing S.uamous %ell %arcinoma:. Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik' sedang dan buruk.
16

Karsinoma non(keratinisasi 9!on-)eratini-ing %arcinoma:. Pada tipe ini dijumpai adanya diferensiasi' tetapi tidak ada diferensiasi sel skuamosa tanpa jembatan intersel. Pada umumnya batas sel &ukup jelas. Karsinoma tidak berdiferensiasi 9/ndifferentiated %arcinoma:. Pada tipe ini sel tumor se&ara indi<idu memperlihatkan inti yang <esikuler' berbentuk o<al atau bulat dengan nukleoli yang jelas. Pada umumnya batas sel tidak terlihat dengan jelas.

4. Pemeri)saan Radiologi.'3'8 Pemeriksaan radiologi pada ke&urigaan KN0 merupakan pemeriksaan penunjang diagnosti& yang penting. Tujuan utama pemeriksaan radiologik tersebut adalah; Memberikan diagnosis yang lebih pasti pada ke&urigaan adanya tumor pada daerah nasofaring Menentukan lokasi yang lebih tepat dari tumor tersebut Men&ari dan menetukan luasnya penyebaran tumor ke jaringan sekitarnya.

a. 0oto polos "da beberapa posisi dengan foto polos yang perlu dibuat dalam men&ari kemungkina adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu; Posisi >ateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak 9soft tissue techni.ue: Posisi 2asis Kranii atau Submento<erteks

b. @T S&an Pada umunya KN0 yang dapat dideteksi se&ara jelas dengan radiografi polos adalah jika tumor tersebut &ukup besar dan eksofitik' sedangkan bila ke&il mungkin tidak akan terdeteksi. Terlebih(lebih jika perluasan tumor adalah submukosa' maka hal ini akan sukar dilihat dengan pemeriksaan radiografi polos. $emikian pula jika penyebaran ke jaringan sekitarnya belum terlalu luas akan terdapat kesukaran( kesukaran dalam mendeteksi hal tersebut. Keunggulan @T S&an dibandingkan dengan
17

foto polos ialah kemampuanya untuk membedakan berma&am(ma&am densitas pada daerah nasofaring' baik itu pada jaringan lunak maupun perubahan(perubahan pada tulang' dengan kriteria tertentu dapat dinilai suatu tumor nasofaring yang masih ke&il. Selain itu dengan lebih akurat dapat dinilai apakah sudah ada perluasan tumor ke jaringan sekitarnya' menilai ada tidaknya destruksi tulang serta ada tidaknya penyebaran intrakranial.

0 Pemeri)saan !euro-1ftalmologi Karena nasofaring berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa lubang' maka gangguan beberapa saraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut KN0 ini. 5. Pemeri)saan Serologi. Pemeriksaan serologi Ig" anti E" 9early antigen: dan ig" anti 7@" 9&apsid antigen: untuk infeksi <irus E(2 telah menunjukan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasofaring. Tjokro Setiyo dari 0K #I *akarta mendapatkan dari 3. pasien karsinoma nasofaring stadium lanjut 9stadium III dan I7: sensti<itas Ig" 7@" adalah 85'4G dan spesifitas 8.'6G dengan titer berkisar antara .- sampai .+6- dengan terbanyak titer .,-. Ig" anti E" sensiti<itasnya .--G tetapi spesifitasnya hanya 1-'-G' sehingga pemeriksaan ini hanya digunakan untuk menetukan prognosis pengobatan' titer yang didapat berkisar antara 6- sampai .+6- dan terbanyak .,-.

2&" DIAGNOSIS BANDING2';

Hiperplasia adenoid 2iasanya terdapat pada anak(anak' jarang pada orang de%asa' pada anak(anak hiperplasia ini terjadi karena infeksi berulang. Pada foto polos akan terlihat suatu massa jaringna lunak pada atap nasofaring umunya berbatas tegas dan umunya simetris serta struktur(struktur sekitarnya tak tampak tanda(tanda infiltrasi seprti tampak pada karsinoma.

18

'ngiofibroma 2uvenilis 2aisanya ditemui pada usia relatif muda dengan gejala(gejala menyerupai KN0. Tumor ini kaya akan pembuluh darah dan biasnya tidak infiltratf. Pada foto polos akan didapat suatu massa pada atap nasofairng yang berbatas tegas. Proses dapat meluas seperrti pada penyebaran karsinoma' %alaupun jarang menimbulkan destruksi tulang hanya erosi saja karena penekanan tumor. 2iasanya ada pelengkungan ke arah depan dari dinding belakang sinus maksilaris yang dikenal sebagai antral sign. Karena tumor ini kaya akan <askular maka arteriografi &arotis eksterna sangat diperlukan sebab gambaranya sangat karakteristik. Kadang(kadang sulit pula membedakan angiofibroma ju<enilis dengan polip hidung pada foto polos.

$umor sinus sphenooidalis Tumor ganas primer sinus sphenoidalis adalah sangat jarang dan biasanya tumor sudah sampai stadium agak lanjut %aktu pasien datang untuk pemeriksaan pertama.

!eurofibroma Kelompok tumor ini sering timbul pada ruang faring lateral sehingga menyerupai keganasan di dinding lateral nasofaring. Se&ara @T S&an' pendesakan ruang para faring kearah medial dapat membantu membedakan kelompok tumor ini dengan KN0.

$umor )elen2ar parotis Tumor kelenjar parotis terutama yang berasal dari lobus yang terletak agak dalam mengenai ruang para faring dan menonjol kearah lumen nasofaring. pada sebagian besar kasus terlihat pendesakan ruang parafaring kearah medial yang tampak pada pemeriksaan @T S&an.

19

%hordoma Halaupun tanda utama &hordoma adalah destruksi tulang' tetapi mengingat KN0 pun sering menimbulkan destruksi tulang' maka sering timbul kesulitan untuk membedakannya. $engan foto polos' dapat dilihat kalsifikasi atau destruksi terutama di daerah &li<us. @T dapat membantu melihat apakah ada pembesaran kelenjar &er<i&al bagian atas karena &hordoma umunya tidak memperhatikan kelainan pada kelenjar tersebut sedangkan KN0 sering bermetastasis ke kelenjar getah bening.

3enigioma basis )ranii Halaupun tumor ini agak jarang tetapi gambaranya kadang(kadang meyerupai KN0 dengan tanda(tanda sklerotik pada daerah basis kranii. /anbaran @T meningioma &ukup karakteristikk yaitu sedikit hiperdense sebelum penyuntikan Iat kontras dan akan menjadi sangat hiperdense setelah pemberian Iat kontras intra<ena. Pemeriksaan arteriografi juga sangat membantu diagnosis tumor ini.

2&; STADI-,1 Penentuan stadium yang terbaru berdasarkan atas kesepakatan antara #I@@ 4/nion Internationale %ontre %ancer5 pada tahun .88+ adalah sebagai berikut ;
20

= Tumor' menggambarkan keadaan tumor primer' besar dan perluasannya.

T- ; Tidak tampak tumor T. ; Tumor terbatas pada . lokasi di nasofaring T+ ; Tumor meluas lebih dari . lokasi' tetapi masih di dalam rongga nasofaring T1 ; Tumor meluas ke ka<um nasi danAatau orofaring T3 ; Tumor meluas ke tengkorak danAsudah mengenai saraf otak N = Nodul' menggambarkan keadaan kelenjar limfe regional

N- ; Tidak ada pembesaran kelenjar N. ; Terdapat pembesaran kelenjar homolateral yang masih dapat digerakkan N+ ; Terdapat pembesaran kelenjar kontralateralAbilateral yang masih dapat digerakkan N1 ; Terdapat pembesaran kelenjar baik homolateral' kontralateral atau bilateral' yang sudah melekat pada jaringan sekitar. M = Metastase' menggambarkan metastase jauh M- ; Tidak ada metastase jauh M. ; Terdapat metastase jauh 2erdasarkan TNM tersebut di atas' stadium penyakit dapat ditentukan ; Stadium I Stadium II Stadium III Stadium I7 ; T. N- M; T+ N- M; T1 N- MT.'T+'T1 N. M; T3 N-'N. MTiap T N+'N1 MTiap T Tiap N M.+

2&1

#ENATA+A*SANAAN

a. Radioterapi.'8'.21

Sampai

saat

ini

radioterapi

masih

memegang

peranan

penting

dalam

penatalaksanaan karsinoma nasofaring. Penatalaksanaan pertama untuk karsinoma nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi. !adiasi ini ditujukan pada kanker primer didaerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas' ba%ah serta kla<ikula. !adiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan pre<entif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Metode brakhiterapi' yakni dengan memasukkan sumber radiasi kedalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan &idera yang serius pada jaringan sehat disekitarnya. Kombinasi ini diberikan pada kasus(kasus yang telah memeperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. perkembangan teknologi pada dasa%arsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. Metode yang disebut sebagai IM!T 9Intersified Modulated !adiotion Therapy: telah digunakan dibeberapa negara maju. Prinsip Pengobatan !adiasi' inti sel dan plasma sel terdiri dari 9.: !N" C!ibose Nu&lei& "&idC dan 9+: $N" C $eso?y !ibose Nu&lei& "&id C. $N" terutama terdapat pada kromosom C ioniIing radiation C menghambat metabolisme $N" dan menghentikan aktifitas enIim nukleus. "kibatnya pada inti sel terjadi khromatolisis dan plasma sel menjadi granular serta timbul <akuola(<akuola yang akhirnya berakibat sel akan mati dan menghilang. Pada suatu keganasan ditandai oleh mitosis sel yang berlebihan K stadium profase mitosis merupakan stadium yang paling rentan terhadap radiasi. $aerah nasofaring dan sekitarnya yang meliputi fosa serebri media' koane dan daerah parafaring sepertiga leher bagian atas. $aerah(daerah lainnya yang dilindungi dengan blok timah. "rah penyinaran dari lateral kanan dan kiri' ke&uali bila ada penyerangan kerongga hidung dan sinus paranasal maka perlu penambahan lapangan radiasi dari depan. Pada penderita dengan stadium yang masih terbataas 9T.'T+:' maka luas lapangan radiasi harus diperke&il setelah dosis radiasi men&apai 3--- rad ' terutama dari atas dan belakang untuk menghindari bagian susunan saraf pusat. $engan lapangan radiasi yang terbatas ini' radiasi dilanjutkan sampai men&apai dosis seluruh antara ,---( 5--- rad. Pada penderita dengan stadium T1 dan T3' luas lapangan radiasi tetap dipertahankan sampai dosis ,--- rad. >apangan diperke&il bila dosis akan ditingkatkan lagi sampai sekitar 5--- rad.
22

$aerah penyinaran kelenjar leher sampai fosa suprakla<ikula. "pabila tidak ada metastasis kelenjar leher' maka radiasi daerah leher ini bersifat profilaktik dengan dosis 3--rad' sedangkan bila ada metastasis diberikan dosis yang sama dengan dosis daerah tumor primer yaitu ,--- rad' atau lebih. #ntuk menghindari gangguan penyinaran terhadap medulla spinalis' laring dan esofagus' maka radiasi daerah leher dan suprakla<ikula ini' sebaiknya diberikan dari arah depan dengan memakai blok timah didaerah leher tengah. $osis radiasi $osis radiasi umumnya berkisar antara ,--- B 5--- rad' dalam %aktu , B 5 minggu dengan periode istirahat + B 1 minggu 9Csplit doseD:. "lat yang biasanya dipakai ialah C&obalt ,-D' Cmega<oltageD' Cortho<oltageD

!espon radiasi Setelah diberikan radiasi' maka dilakukan e<aluasi berupa respon terhadap radiasi. !espon dinilai dari penge&ilan kelenjar getah bening leher dan penge&ilan tumor primer di nasofaring. Penilaian respon radiasi berdasarkan kriteria H ) ; ( @omplete !esponse ; menghilangkan seluruh kelenjar getah bening yang besar. ( Partial !esponse ; penge&ilan kelenjar getah bening sampai 4-G atau lebih. ( No @hange ; ukuran kelenjar getah bening yang menetap. ( Progressi<e $isease ; ukuran kelenjar getah bening membesar +4G atau lebih. Komplikasi radioterapi dapat berupa ; Komplikasi dini 2iasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi' seperti ; ( Jerostomia ( Mual(muntah ( Mukositis 9nyeri telan' mulut kering' dan hilangnya &ita rasa: kadang diperparah dengan infeksi jamur pada mukosa lidah dan palatum ( "noreksi radiasi: ( Eritema

( Jerostamia 9kekeringan mukosa mulut akibat disfungsi kelenjar parotis yang terkena

23

Komplikasi lanjut 2iasanya terjadi setelah . tahun pemberian radioterapi' seperti ; ( Kontraktur ( Penurunan pendengaran ( /angguan pertumbuhan #ntuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan' bahkan setelah selesai terapi' pasien akan selalu dia%asi oleh dokter. Pera%atan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi' memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi se&ara benar. #ntuk mengurangi keluhan penderita juga dapat diberikan obat kumur yang mengandung adstringens' misalnya ba&tidol' efisol' gargarisma diberikan 1(3 kali sehari. 2ila tampak tanda(tanda moniliasis diberikan antimikotik misalnya funfilin. Pemberian obat(obatan yang mengandung anestesi lo&al seperti 0/ tro&hes bias mengurangi keluhan nyeri telan. #ntuk keluhan umum nausea' anore?ia dan sebgainya bisa diberikan obat(obatan simptomatik terhadap keluhan ini seperti a<omit' a<opreg.

b. ,emoterapi8'.. Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring ternyata dapat meningkatkan hasil terapi. Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada keadaan kambuh. Terapi adju<an tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata ; ( kankernya masih ada' dimana biopsi masih positif. ( kemungkinan besar kankernya masih ada' meskipun tidak ada bukti se&ara makroskopis. ( pada tumor dengan derajat keganasan tinggi 9oleh karena tingginya resiko kekambuhan dan metastasis jauh:. 2erdasarkan saat pemberiannya kemoterapi adju<an pada tumor ganas kepala leher dibagi menjadi ;

24

neoad2uvant atau induction chemotherapy 4yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi: concurrent6 simultaneous atau concomitant chemoradiotherapy 4diberi)an bersamaan dengan penyinaran atau operasi5
post definitive chemotherapy 9sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi )

Efek Samping Kemoterapi "gen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal yang membelah se&ara &epat seperti sel rambut' sumsum tulang dan sel pada traktus gastrointestinal. "kibat yang timbul bisa berupa perdarahan' depresi sumsum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi mual' muntah anoreksia dan ulserasi saluran &erna. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan rambut. *aringan tubuh normal yang &epat proliferasi misalnya sumsum tulang' folikel rambut' mukosa saluran pen&ernaan mudah terkena efek obat sitostatika. #ntungnya sel kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal' sehingga dapat lebih lama dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih &epat pulih dari pada sel kanker Efek samping yang mun&ul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap jantung' yang dapat die<aluasi dengan EK/ dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis pada paru. Toksisitas pada hepar dan ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya die<alusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. Kelainan neurologi juga merupakan salah satu efek samping pemberian kemoterapi. Kemoradioterapi kombinasi adalah pemberian kemoterapi bersamaan dengan radioterapi dalam rangka mengontrol tumor se&ara lokoregional dan meningkatkan survival pasien dengan &ara mengatasi sel kanker se&ara sistemik le%at mikrosirkulasi. Manfaat Kemoradioterapi adalah Menge&ilkan massa tumor' karena dengan menge&ilkan tumor akan memberikan hasil terapi radiasi lebih efektif. Telah diketahui bah%a pusat tumor terisi sel hipoksik dan radioterapi kon<ensional tidak efektif jika tidak terdapat oksigen. Pengurangan massa tumor akan menyebabkan pula berkurangnya jumlah sel hipoksia. Mengontrol metastasis jauh dan mengontrol mikrometastase.
25

Modifikasi melekul $N" oleh kemoterapi menyebabkan sel lebih sensitif terhadap radiasi yang diberikan 9radiosensitiser:. Terapi kombinasi ini selain bisa mengontrol sel tumor yang radioresisten' memiliki

manfaat juga untuk menghambat pertumbuhan kembali sel tumor yang sudah sempat terpapar radiasi. Kemoterapi neoaju<an dimaksudkan untuk mengurangi besarnya tumor sebelum radioterapi. Pemberian kemoterapi neoadju<an didasari atas pertimbangan vascular bed tumor masih intak sehingga pen&apaian obat menuju massa tumor masih baik. $isamping itu' kemoterapi yang diberikan sejak dini dapat memberantas mikrometastasis sistemik sea%al mungkin. Kemoterapi neoadju<an pada keganasan kepala leher stadium II B I7 dilaporkan o<erall response rate sebesar 6- G( 8- G dan @! 9%omplete Response: sekitar 4-G. Kemoterapi neoadju<an yang diberikan sebelum terapi definitif berupa radiasi dapat mempertahankan fungsi organ pada tempat tumbuhnya tumor 9organ preservation:. Se&ara sinergi agen kemoterapi seperti @isplatin mampu menghalangi perbaikan kerusakan $N" akibat induksi radiasi. Sedangkan idroksiurea dan Pa&lita?el dapat memperpanjang durasi sel dalam keadaan fase sensitif terhadap radiasi. Kemoterapi yang diberikan se&ara bersamaan dengan radioterapi 9 concurrent or concomitant chemoradiotherapy: dimaksud untuk mempertinggi manfaat radioterapi. $engan &ara ini diharapkan dapat membunuh sel kanker yang sensitif terhadap kemoterapi dan mengubah sel kanker yang radioresisten menjadi lebih sensitif terhadap radiasi. Keuntungan kemoradioterapi adalah keduanya bekerja sinergistik yaitu men&egah resistensi' membunuh subpopulasi sel kanker yang hipoksik dan menghambat recovery $N" pada sel kanker yang sublethal. Kelemahan Kemoradioterapi Kelemahan &ara ini adalah meningkatkan efek samping antara lain mukositis' leukopeni dan infeksi berat. Efek samping yang terjadi dapat menyebabkan penundaan sementara radioterapi. Toksisitas Kemoradioterapi dapat begitu besar sehingga berakibat fatal. 2eberapa literatur menyatakan bah%a pemberian kemoterapi se&ara bersamaan dengan radiasi dengan syarat dosis radiasi tidak terlalu berat dan jad%al pemberian tidak
26

diperpanjang' maka sebaiknya gunakan regimen kemoterapi yang sederhana sesuai jad%al pemberian. #ntuk mengurangi efek samping dari kemoradioterapi diberikan kemoterapi tunggal 9single agent chemotherapy: dosis rendah dengan tujuan khusus untuk meningkatkan sensiti<itas sel kanker terhadap radioterapi 9radiosensitiIer:. Sitostatika yang sering digunakan adalah @isplatin' 4(0luoroura&il dan MTJ dengan response rate .4G(35G.

1perasi Tindakan operasi pada penderita karsinoma nasofaring berupa diseksi leher radikal

dan nasofaringektomi. $iseksi leher dilakukan jika masih ada sisa kelenjar pas&a radiasi atau adanya kelenjar dengan syarat bah%a tumor primer sudah dinyatakan bersih yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi. Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan pada kasus(kasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi dengan &ara lain.+ d Imunoterapi $engan diketahuinya kemungkinan penyebab dari karsinoma nasofaring adalah <irus Epstein(2arr' maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan imunoterapi.,

2&11 #ROGNOSIS2 Se&ara keseluruhan' angka bertahan hidup 4 tahun adalah 34 G. Prognosis diperburuk oleh beberapa faktor' seperti ; Stadium yang lebih lanjut. #sia lebih dari 3- tahun >aki(laki dari pada perempuan !as @ina dari pada ras kulit putih "danya pembesaran kelenjar leher

27

"danya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak "danya metastasis jauh

2&12 *O,#+I*ASI2 a Petrosphenoid sindrom Tumor tumbuh ke atas ke dasar tengkorak le%at foramen laserum sampai sinus ka<ernosus menekan saraf N. III' N. I7' N.7I juga menekan N. II yang memberikan kelainan ; Neuralgia trigeminus 9N. 7: ; Trigeminal neuralgia merupakan suatu nyeri pada %ajah sesisi yang ditandai dengan rasa seperti terkena aliran listrik yang terbatas pada daerah distribusi dari ner<us trigeminus. Ptosis palpebra 9N. III: )phthalmoplegia 9N. III' N. I7' N. 7I:

Retroparidean sindrom Tumor tumbuh ke depan ke arah rongga hidung kemudian dapat menginfiltrasi ke sekitarnya. Tumor ke samping dan belakang menuju ke arah daerah parapharing dan retropharing dimana ada kelenjar getah bening. Tumor ini menekan saraf N. IJ' N. J' N. JI' N. JII dengan manifestasi gejala ; N. IJ ; kesulitan menelan karena hemiparesis otot konstriktor superior serta gangguan penge&apan pada sepertiga belakang lidah. N. J ; hiperAhipoanestesi mukosa palatum mole' faring dan laring disertai gangguan respirasi dan sali<a. N JI ; kelumpuhanAatrofi otot trapeIius' otot S@M serta hemiparese palatum mole

28

N. JII ; hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah. Sindrom horner ; kelumpuhan N. simpati&us ser<i&alis' berupa penyempitan fisura palpebralis' onoftalmus dan miosis. &. Sel(sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah' mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah tulang' hati dan paru. al ini merupakan hasil akhir dan prognosis yang buruk. $alam penelitian lain ditemukan bah%a karsinoma nasofaring dapat mengadakan metastase jauh' ke paru(paru dan tulang' masing(masing +- G' sedangkan ke hati .- G' otak 3 G' ginjal -.3 G' dan tiroid -.3 G. 2&10 #ENCEGA)AN1

Pemberian <aksinasi dengan <aksin spesifik membran glikoprotein <irus Epstein 2arr yang dimurnikan pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan resiko tinggi. Memindahkan 9migrasi: penduduk dari daerah resiko tinggi ke tempat lainnya. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah' mengubah &ara memasak makanan untuk men&egah akibat yang timbul dari bahan(bahan yang berbahaya. Penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat' meningkatkan keadaan sosial ekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan(kemungkinan faktor penyebab. Melakukan tes serologik Ig" anti 7@" dan Ig" anti E" se&ara massal di masa yang akan datang bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring se&ara lebih dini.

29

BAB III #EN-T-#

0&1 *ESI,#-+AN Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas nomor satu yang mematikan dan menempati urutan ke .- dari seluruh tumor ganas di tubuh. 2anyak faktor yang diduga berhubungan dengan KN0' yaitu .. "danya infeksi E27' +. 0aktor lingkungan 1. /enetik Karsinoma nasofaring banyak ditemukan di Indonesia. Pada stadium dini yang diberikan adalah penyinaran dan hasilnya baik.

0&2 SARAN

$iagnosis dini perlu diperhatikan pada pasien de%asa yang sering mimisan' hidung tersumbat' keluhan kurang dengar' salit kepala dan penglihatan dobel. Sebagai gejala lanjut ialah pembesaran kelenjar limfe leher dan kelumpuhan saraf otak.

2ila dijumpai gejala seperti yang disebutkan di atas' maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan lengkap sampai karsinoma nasofaring dapat disingkirkan.

2agi para penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan resiko tinggi diharapkan melalukan <aksinasi <irus E27.

30

$iharapkan dengan meningkatkan penemuan kasus dini penangulangan terhadap penyakit ini dapat diperbaiki. Sehingga angka kematian dapat ditekan.

DAFTAR #-STA*A

..

"<erdi !oeIin' "ninda Syafril. ,arsinoma !asofaring 7alam" #fiaty ' Soepardi 4ed5 +u)u a2ar ilmu penya)it telinga hidung tenggoro) #disi )eenam . *akarta ; 0K #I' +-.-.

+.

Munir' $elfitri. ,arsinoma !asofaring 4,an)er $enggoro)5 Medan ; #S# Press. +--8.

1.
4.

asibuan !' ". . Pharingologi *akarta ; Samatra Media #tama' +--3.


0aiI ) dan Moffat $. Nasofaring. $alam; "t a glan&e anatomi. *akarta; ErlanggaK +--3.

4. ,.

$orland. +--+. Sus%oro' !. ,an)er nasofaring " epidemiologi dan pengobatan muta)hir . Tinjauan pustaka artikel. $alam; @ermin $unia Kedokteran. No. .33' +--3.

5.

>u *iade *' @ooper *ay S' M >ee "nne HM. $he epidemiologi of !asopharigeal %arcinoma In " !asopharyngeal %ancer 2erlin ; Springer' +-.-.

8.

http;AA%%%.%ikipedia.org Sus%oro' Makes $. ,arsinoma nasofaring aspe) radiodiagnosti) dan radioterapi *akarta; 0K #I' .865.

8.

.-.

arry a. "sroel. Penatala)sanaan radioterapi pada )arsinoma nasofaring Referat. Medan ; 0K #S#' +--+.

31

... Kartika%ati'

enny.

Penatala)sanaan

)arsinoma

nasofaring

menu2u

terapi

)ombinasi()emoradioterapi.

32