Anda di halaman 1dari 26

Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui

Penerapan Metode Accelerated Learning



Proposal Penelitian
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian
yang diampu oleh Prof.Dr.H.Nanang Priatna, M.Pd.


A Leading and Outstanding University

oleh:
Umdatus Sholikhah
1001044
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2012


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam pembelajaran matematika terdapat beberapa kemampuan matematis yang
harus dimiliki oleh siswa. Salah satu kemampuan matematis tersebut adalah kemampuan
komunikasi. Dalam memunculkan ide baik secara lisan maupun tulisan dibutuhkan
komunikasi yang baik sehingga ide-ide tersebut dapat dipahami oleh orang lain. Salah satu
upaya dalam mengembangkan kemampuan komunikasi adalah dengan menyelenggarakan
proses pendidikan yang berkualitas.
Pengertian pendidikan menurut UU RI No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan poses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan untuk tujuan pendidikan sendiri yaitu
terdapat pada UU RI No.20 tahun 2003 Bab II pasal 3, yaitu bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan-tujuan di atas dapat tercapai secara optimal jika proses pembelajaran yang
dilakukan berjalan sebagaimana mestinya. Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa
kemampuan siswa yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Hal ini termasuk pada
kemampuan komunikasi. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang dapat melatih
siswa untuk mengkomunikasikan idenya. Hal tersebut diakibatkan karena bahasa matematika
memiliki perbedaan dengan bahasa yang lain.
Komunikasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Guru menggunakan
komunikasi untuk menjelaskan materi yang akan disampaikan kepada siswa. Sedangkan
siswa mengunakan komunikasi untuk mengungkapkan ide-ide terkait konsep materi ajar.
Menurut konsep komunikasi, pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antar siswa
dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang
akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan (Suherman, 2001)
Kemampuan komunikasi matematis termasuk kedalam daya matematika, National
Council Teachers of matematics (NCTM) (Sumarmo, 2010) menyatakan, daya matematika
adalah kemampuan untuk mengeksplorasi, menyusun konjektur dan memberikan alasan
logis, kemampuan untuk menyelesaikan masalah non rutin, mengomunikasikan ide mengenai
matematika dan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi, menghubungkan ide-ide
dalam matematika, antar matematika, dan kegiatan intelektual lainnya.
Kemampuan komunikasi matematis memiliki peranan yang penting dalam pelajaran
matematika. Pentingnya kemampuan komunikasi dalam matematika dapat dilihat dari tujuan
kurikulum yang berlaku di Indonesia pada saat ini yakni Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) (Altuntas, 2010). Bahwa pembelajaran matematika yang diajarka
disekolah bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam
pemecahan masalah,
2. menggunakan penalaran pada pola dan sikap, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika,
3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang
model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh,
4. mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk
memperjelas keadaan atau masalah, dan
5. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki
rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet
dan percaya diri dalam memecahkan masalah.

Fakta di lapangan menunjukkakn bahwa kemampuan komunikasi matematis
khususnya siswa SMP di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut Nugraha (2010: 54),
kemampuan komunikasi matematis siswa masih rendah, hal ini terbukti dari hasil penelitian
eksperimen yang dilakukannya bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan
komunikasi matematis siawa yang signifikan. Dengan kata lain, pengaruh perlakuan yang
diberikan tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam peningkatan kemampuan
komunikasi matematis siswa.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Bandung. Nugraha (2010:
54), siswa jarang melakukan diskusi kelompok. Dalam kegiatan diskusi ada beberapa siswa
yang kesulitan dalam menyampaikan hasil pemikirannya, siswa kurang memahami apa yang
disampaikan siswa lain, siswa hanya mampu menyelesaikan soal sejenis dengan soal yang
sudah diselesaikan oleh guru. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi
matematis beberapa siswa SMP Negeri 1 Bandung masih kurang.
Menurut Tim MKPBM (2001: 169), kemungkinan salah satu penyebab siswa tidak
menyenangi pelajaran matematika adalah cara mengajar guru yang tidak sesuai dengan siswa.
Guru mengajar dengan metode yang cukup sulit dimengerti oleh siswa, bahkan malah
mempersulit siswa yang bisa memahami materi dan mengkomunikasikan kembali materi
yang telah siswa dapatkan. Salah satu metode yang diperkirakan dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi matematis siswa adalah Accelerated Learning.
Metode Accelerated Learning merupakan cara efektif yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Siswa bisa belajar dan memahami
materi lebih cepat serta mengingat lebih lama. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan
Simaremare(2009: 2) bahwa Accelerated Learning adalah sebuah upaya meningkatkan
kemampuan belajar siswa sehingga siswa bisa belajar dan memahami materi lebih cepat serta
mengingat lebih lama. Dalam hal ini pula, proses belajar lebih menyenangkan sehingga
terjadi interaksi antar siswa dan guru yang aktif sehingga proses pembelajaran lebih berjalan
efektif dan optimal.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui Penerapan
Metode Accelerated Learning
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan
pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Accelerated Learning
lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan
menggunakan metode ekspositori?
2. Bagaimana respons siswa terhadap pembelajaran matematika dengan
menggunakan metode Accelerated Learning ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan
penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui apakah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang
mendapatkan pembelajaran matematika dengan menggunakan metode accelerated
learning lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika
dengan menggunakan metode ekspositori.
2. Mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan
menggunakan metode accelerated learning

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi siswa
Diharapkan dengan penerapan metode accelerated learning dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi matematis siswa dan menumbuhkan semangat belajar
siswa.
2. Bagi guru
Dapat memperluas wawasan guru mengenai pembelajaran matematika dengan
menggunakan metode accelerated learning, dan metode accelerated learning
dapat dijadikan alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi matematis siswa.
3. Bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman sehingga dapat
dipraktikan dan dijadikan alternatif model pembelajaran matematika

E. Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadinya pemahaman yang berbeda tentang istilah-istilah yang
digunakan dan juga memudahkan peneliti dalam menjelaskan yang sedang
dibicarakan, maka perlu adanya penjelasan mengenai istilah-istilah dalam variabel
penelitian ini.
1. Accelerated learning merupakan proses belajar aktif, siswa telah mengetahui
fakta-fakta mengenai dirinya, teknik-teknik belajar yang sesuai dengan
preferensinya sehingga siswa dapat belajar dan memahami materi lebih cepat serta
mengingat lebih lama.
2. Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan siswa dalam
mengkomunikasikan ide matematis, baik secara lisan maupun tulisan. Indikator
kemampuan komunikasi matematis yang digunakan adalah sebagai berikut.
1) Membuat situasi matematika dan menyediakan ide dan keterangan dalam
bentuk tulisan
2) Menggunakan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah
3) Menginterpretasikan ide matematika
4) Menggunakan representasi untuk menyatakan konsep matematika secara
menyeluruh.
3. Pembelajaran dengan ekspositori adalah pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara verbal dari guru kepada sekelompok siswa
dengan maksud siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Komunikasi Matematis
Secara umum komunikasi dapat diartikan sebagai suatu peristiwa saling
menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan dalam suatu
komunitas. Dalam matematika, berkomunikasi mencankup ketrampilan/kemampuan
untuk membaca, menulis, menelaah dan merespon suatu informasi.
Dalam komunikasi matematika, siswa dilibatkan secara aktif untuk berbagi ide
dengan siswa lain dalam mengerjakan soal-soal matematika. Sebagaimana dikatakan
(Syaban: 2008) bahwa: Komunikasi matematika merupakan refleksi pemahaman
matematik dan merupakan bagian dari daya matematik. Siswa-siswa mempelajari
matematika seakan-akan mereka berbicara dan menulis tentang apa yang mereka
sedang kerjakan. Mereka dilibatkan secara aktif dalam mengerjakan matematika,
ketika mereka diminta untuk memikirkan ide-ide mereka, atau berbicara dengan dan
mendengarkan siswa lain, dalam berbagi ide, strategi dan solusi.
Jadi dalam pembelajaran matematika, ketika sebuah konsep informasi
matematika diberikan oleh seorang guru kepada siswa ataupun siswa dilibatkan
secara aktif dalam mengerjakan matematika, memikirkan ide-ide mereka, menulis,
atau berbicara dengan dan mendengarkan siswa lain, dalam berbagi ide, maka saat
itu sedang terjadi transformasi informasi matematika dari komunikator kepada
komunikan, atau sedang terjadi komunikasi matematika.
Komunikasi dalam pembelajaran matematika adalah penting. Komunikasi
dalam matematika menolong guru memahami kemampuan siswa dalam
menginterpretasi dan mengekspresikan pemahamannya tentang konsep dan proses
matematika yang mereka pelajari. Lindquist (NCTM, 1996) berpendapat, Jika kita
sepakat bahwa matematika itu merupakan suatu bahasa dan bahasa tersebut sebagai
bahasan terbaik dalam komunitasnya, maka mudah dipahami bahwa komunikasi
merupakan esensi dari mengajar dan belajar matematika. Jadi jelaslah bahwa
komunikasi dalam matematika merupakan kemampuan mendasar yang harus
dimiliki pelaku dan pengguna matematika selama belajar dan mengajar matematika.
Indikator komunikasi matematis menurut NCTM (1989 : 214) antara lain:
a) Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematis melalui lisan, tulisan, dan
mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual.
b) Kemampuan memahami, mengiterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide
matematis baik secara lisan, tulisan, maupun dalam bentuk visual lainnya.
c) Kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi matematika dan
struktur-strukturnya untuk menyajikan ide-ide, menggambarkan hubungan-
hubungan dengan model-model situasi.
Aspek-Aspek Komunikasi Matematika, Baroody (Ansari: 2003) mengatakan
bahwa pembelajaran harus dapat membantu siswa mengkomunikasikan ide
matematika melalui lima aspek komunikasi yaitu representing (refresentasi),
listening (mendengar), reading (membaca), discussing (diskusi) dan writing
(menulis).
a) Representing (Refresentasi)
Refresentasi adalah :
(1) bentuk baru sebagai hasil translasi dari suatu masalah atau ide,
(2) translasi suatu diagram atau model fisik ke dalam simbol atau kata-kata
(NCTM, 1989: 26). Misalnya, refresentasi bentuk perbandingan ke dalam
beberapa model kongkrit, dan refresentasi suatu diagram ke dalam bentuk
simbol atau kata-kata. Refresentasi dapat membantu anak menjelaskan konsep
atau ide, dan memudahkan anak mendapatkan strategi pemecahan masalah
(Ansari, 2003:21)
b) Listening (mendengar)
Mendengar merupakan aspek penting dalam suatu komunikasi.
Seseorang tidak akan memahami suatu informasi dengan baik apabila tidak
mendengar yang diinformasikan. Dalam kegiatan pembelajaran mendengar
merupakan aspek penting. (Ansari, 2003: 23) mengatakan bahwa mendengar
merupakan aspek penting dalam komunikasi. Siswa tidak akan mampu
berkomentar dengan baik apabila tidak mampu mengambil inti sari dari suatu
topik diskusi. Siswa sebaiknya mendengar dengan hati-hati manakala ada
pertanyaan dan komentar teman-temannya. Baroody ( Ansari, 2003: 23)
mengatakan bahwa mendengar secara hati-hati terhadap pertanyaan teman
dalam suatu grup juga dapat membantu siswa mengkonstruksi lebih lengkap
pengetahuan matematika dan mengatur strategi jawaban yang lebih efektif.
Pentingnya mendengar juga dapat mendorong siswa berfikir tentang jawaban
pertanyaan.
c)Reading (membaca)
Salah satu bentuk komunikasi matematika adalah kegiatan membaca
matematika. Membaca matematika memiliki peran sentral dalam pembelajaran
matematika. Sebab, kegiatan membaca mendorong siswa belajar bermakna
secara aktif. Istilah membaca diartikan sebagai serangkaian keterampilan untuk
menyusun intisari informasi dari suatu teks.
Kemampuan mengemukakan idea matematika dari suatu teks, baik
dalam bentuk lisan maupun tulisan merupakan bagian penting dari standar
komunikasi matematika yang perlu dimiliki siswa. Sebab, seorang pembaca
dikatakan memahami teks tersebut secara bermakna apabila ia dapat
mengemukakan idea dalam teks secara benar dalam bahasanya sendiri. Karena
itu, untuk memeriksa apakah siswa telah memiliki kemampuan mambaca teks
matematika secara bermakna, maka dapat diestimasi melalui kemampuan siswa
menyampaikan secara lisan atau menuliskan kembali idea matematika dengan
bahasanya sendiri.
d) Discussing (diskusi)
Salah satu wahana berkomunikasi adalah diskusi. Dalam diskusi akan
terjadi transfer informasi antar komunikan, antar anggota kelompok diskusi
tersebut. Diskusi merupakan lanjutan dari membaca dan mendengar. Siswa akan
mampu menjadi peserta diskusi yang baik, dapat berperan aktif dalam diskusi,
dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya apabila mempunyai
kemampuan membaca, mendengar dan mempunyai keberanian memadai.
Diskusi dapat menguntungkan, melalui diskusi siswa dapat memberikan
wawasan baru bagi pesertanya, juga diskusi dapat menananmkan dan
meningkatkan cara berfikir kritis.
e) Writing (menulis).
Salah satu kemampuan yang berkontribusi terhadap kemampuan
komunikasi matematika adalah menulis. Dengan menulis siswa dapat
mengungkapkan atau merefleksikan pikirannya lewat tulisan ( dituangkan di
atas kertas/alat tulis lainnya). Dengan menulis siswa secara aktif membangun
hubungan antara yang ia pelajari dengan apa yang sudah ia ketahui.

Merujuk uraian-uraian diatas, kemampuan siwa dalam refresentasi,
mendengar, membaca, diskusi dan menulis dapat membantu siswa untuk
memperjelas pemikiran mereka dan dapat mempertajam kemampuan komunikasi
matematikanya.

B. Metode Accelerated Learning
Accelerated artinya dipercepat, dan Learning artinya
pembelajaran. Jadi, the Accelerated Learning artinya pembelajaran
yang dipercepat. Konsep dasar pembelajaran ini berlangsung secara
cepat, menyenangkan dan memuaskan.
Metode Accelerated Learning merupakan cara efektif yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Siswa bisa belajar
dan memahami materi lebih cepat serta mengingat lebih lama. Hal ini sesuai dengan
yang dikatakan Simaremare(2009: 2) bahwa Accelerated Learning adalah sebuah
upaya meningkatkan kemampuan belajar siswa sehingga siswa bisa belajar dan
memahami materi lebih cepat serta mengingat lebih lama. Dalam hal ini pula,
proses belajar lebih menyenangkan sehingga terjadi interaksi antar siswa dan guru
yang aktif sehingga proses pembelajaran lebih berjalan efektif dan optimal.
Implementasi Accelerated Learning didasari oleh beberapa prinsip penting
yaitu :
Keterlibatan total individu akan meningkatkan hasil belajar
Belajar bukan merupakan proses yang bersifat pasif dalam menyimpan
pengetahuan tapi proses aktif menciptakan pengetahuam
Kolaborasi diantara siswa akan meningkatkan hasil belajar.
Belajar yang berpusat pada aktivitas jauh lebih baik dari pada belajar yang hanya
menekankan pada aktivitas presentasi semata.
Peristiwa belajar yang menekankan pada belajar aktivitas jauh lebih efektif dari
pada belajar yang menekankan pada aktivitas presentasi
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut menurut Meier implemetasi
Accelerated Learning memiliki beberapa karakteristik utama yaitu :
Flexible luwes
Joyful menyenangkan
Multi-pathed multi jalur
Ends-centered berpusat pada tujuan
Collaborative kolaboratif
Humanistic manusiawi
Multi-sensory multi sensor
Nurturing menumbuhkan
Activity-centered berpusat pada aktivitas
Implentasi Accelerated Learning dalam aktivitas belajar dan pelatihan
memerlukan adanya perubahan yang bersifat sistemik dan holistik.
C. Metode Ekspositori
Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan
memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran
serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah,
demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh
guru secara cermat. Penggunaan metode ekspositori merupakan metode
pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara
langsung. seperti kita ketahui pada metode ceramah pusat pengajarnya terletak pada
guru, guru yang banyak bicara menyampaikan materi pelajaran (informasi),
sedangkan pekerjaan murid pada umumnya mencatat dan sebagian kecil bertanya.
dominasi guru pada metode ekspositori ini banyak dikurangi. Guru tidak terus
bicara, Apakah siswa atau mahasiswa itu mengerti atau tidak, tetapi guru
memberikan informasi hanya pada saat-saat atau bagian bagian yang diperlukan;
misalnya pada permulaan pengajaran, pada topik yang baru, pada waktu
memberikan contoh-contoh soal dan sebagainya. Karena itu dilihat dari terpusatnya
kepada guru, metoda lebih murni dari metoda ekspositori.
Pada metode ini, setelah guru beberapa saat memberikan informasi
(ceramah) guru mulai dengan menerangkan suatu konsep mendemonstrasikan
keterampilannya mengenai pola atau aturan atau dalil tentang konsep itu, siswa
bertanya, guru memeriksa (mengecek) apakah siswa sudah mengerti atau belum.
Kegiatan selanjutnya ialah guru memberikan contoh-contoh soal aplikasi konsep
selanjutnya merninta murid untuk menyelesaikan soal-soal di papan tulis atau di
mejanya. Siswa mungkin bekerja individual atau bekerja sama dengan teman yang
duduk di sampingnya, dan sedikit ada tanya jawab. Dan kegiatan terakhir ialah siswa
mencatat materi yang telah diterangkan yang mungkin dilengkapi dengan soal-soal
pekerjaan rumah. Jadi metode ekspositori ini sama dengan cara mengajar yang biasa
(tradisional) kita pakai pada pengajaran matematika.
David P.Ausubel berpendapat bahwa metode ekspositori yang baik adalah
cara mengajar yang paling efektif daan efisien dalam menanamkan belajar
bermakna.
Pada tahun lima puluhan banyak pendidik matematika berpendapat bahwa
metode ekspositori (ceramah) itu hanya menyebabkan siswa belajar menghafal yang
tidak banyak makna (tanpa banyak mengerti). Karena pengajaran matematika
(modern) meng utamakan antara lain kepada pengertian daripada kepada caranvil
menyelesaikan soal, maka pada tahun enampuiuhan metode itu diganti sebagian oleh
metode baru misalnya dengan laboraturium, penemuan,dan permainan.
Tetapi D.P. Ausubel percaya bahwa cara ekspositori (ceramah) itu tidak
sejelek seperti yang dituduhkan orang. Malahan sebaliknya ia percaya bahwa cara
ceramah itu merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien yang dapat
menyebabkan siswa belajar secara bermakna. Sebaiknya. metode baru seperti
laboratorium, penemuan, permainan dan semacamnya itu : dapat menyebabkan
pengajaran tidak efektif, tidak efisien, dan bila tidak hati-hati dapat ngawur. Karena
itu ia berperdapat cara-cara ini supaya jarang dipakai. Meskipun demikian ia
menyetujui pengajaran yang menggunakan metode: pemecahan masalah, inkuiri, dan
metode belajar yang dapat menumbuhkan berfikir kreatif dan kritis; mengajarkan
materi yang berguna bagi menghadapi kehidupan, Peningkatan kebudayaan dan
ketrampilan dasar pada umumnya.
Ausubel membedakan antara belajar menerima dan belajar menemukan.
a) Belajar menerima (reception learning), materi yang disajikan kepada siswa ada
dalam bentuk akhir,dan
b) Belajar menemukan (discovery learning): pola, dalil atau aturan harus
ditemukan siswa.
Ia juga membedakan antara :
a) Belajar menghafal (rote learning),dan
b) Belajar dengan bermakna (meaningful lerning): disini yang diutamakan
prosesnya, hasilnya nomor dua.

D. Kaitan Metode Accelerated Learning dengan kemampuan Komunikasi
matematis siswa
Indikator kemampuan komunikasi matematis yang telah diuraikan di atas
secara teori dapat ditingkatkan melalui pembelajaran dengan menggunakan metode
accelerated learning. Hal ini dikarenakan tahapan-tahapan pembelajaran dalam
metode accelerated learning, meliputi: siswa dikondisikan untuk siap belajar,
menuntut keaktifan siswa dalam membangun pemahamannya terhadap materi yang
diberikan sehingga siswa mampu memahami sekaligus mengkomunikasikan sendiri,
terjadinya komunikasi, baik antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa.
Sehingga siswa dapat membuat kesimpulan tentang apa yang telah dipelajarinya.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembelajaran melalui metode accelerated
learning berakibat pada peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa.

E. Studi yang Relevan
Hasil studi yang relevan yang ditemukan dilapangan diantaranya :
1) Penlitian tindakan kelas yang dilakukan Simaremare (2009) menyatakan hasil
belajar siswa pada sistem persamaan linear dua variabel di kelas VIII B SMPN 2
Kaimana setelah dilakukan metode accelerated learning meningkat.
2) Peneltian tindakan kelas yang dilakukan Dina Damayanti (2012) menyatakan
hasil bahwa penerapan metode accelerated learning berhasil meningkatkan
kemampuan komunikasi matematis siswa.

F. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan rumusan masalah, hipotesis penelitian ini
adalah Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui Penerapan Metode
Accelerated Learning lebih baik, jika dibandingkan dengan metode ekspositori.






















BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan subjek penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPN 15 Bandung. Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 15 Bandung. Pertimbangan yang diambil yaitu
pola fikir siswa sudah masuk pada tahap operasi formal.
Pengambilan sampel dilakukan secara acak menurut kelompok (kelas) dari
seluruh kelas VIII SMPN 15 Bandung. Dipilih dua kelas untuk dijadikan kelas
eksperimen dan kelas kontrol.

B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah randomized pre test-post test control
group design. Dalam penelitian ini diambil sampel dua kelas yang homogen secara acak.
Perlakuan Kelas pertama akan menjadi kelas eksperimen dan kelas kedua menjadi kelas
kontrol. Kelas pertama, diberikan pembelajaran dengan metode accelerated learning,
sedangkan kelas kedua dengan pembelajaran ekspositori (X2). Dengan demikian desain
eksperimen dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
A1 O X1 O
A2 O X2 O
Gambar 3.1 Desain Penelitian yang Dikembangkan

Keterangan:
A1 = Kelas Eksperimen
A2 = Kelas Kontrol
O = Tes awal (pre test)
O = Test akhir (post test)
X1=Pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode accelerated learning
X2=Pembelajaran Matematika dengan menggunakan Ekspositori.

C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuasi eksperimen.
Penggunaan metode ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengaruh variabel bebas
terhadap variabel terikat. Dalam hal ini variabel bebasnya adalah penerapan accelerated
learning, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan komunikasi matematis
siswa. Jenis eksperimen ini disebut kuasi karena bukan merupakan ekperimen murni
tetapi seperti murni. Pada penelitian eksperimen murni kelompok subjek penelitian
ditentukan secara acak, sehingga akan diperoleh kesetaraan kelompok yang berada
dalam batas-batas fluktuasi acak. Namun, dalam dunia pendidikan khususnya dalam
pebelajaran, pelaksanaan penelitian tidak selalu memungkinkan untuk melakukan seleksi
subjek secara acak, karena subjek secara alami telah terbentuk dalam satu kelompok
utuh (naturally formed intact group), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Jadi
penelitian kuasi eksperimen menggunakan seluruh subjek dalam satu kelas.

D. Instrument penelitian
Sebagai upaya untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap mengenai hal
yang ingin dikaji melalui penelitian, maka dibuatlah instrumen yang meliputi instrumen
tes maupun non-tes. Seluruh instrumen peneliti tersebut digunakan untuk mendapatkan
data kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian. Instrumen yang digunakan pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Instrumen Tes
Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretes dan postes
mengenai kemampuan komunikasi matematis siswa. Soal pretes dan postes
diberiakan kepada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes subjekif(bentuk
uraian). Pertimbangannya yaitu melalui tes ini siswa lebih mampu mengungkap
kemampuan komunikasi matematisnya. Seperti yang dikemukakan oleh Ruseffendi
(Irvan, 2008) bahwa keunggulan dari tes berbentuk uraian adalah dapat
menimbulkan sifat kreatif pada diri siswa dan hanya siswa yang telah meanguasai
materi yang dapat memberikan jawaban yang baik dan benar. Sehingga dari tes ini
dapat dilihat apakah indikator-indikator kemampuan komunikasi matematis sudah
dikuasai oleh siswa atau belum.
Dilakukan pengujian instrumen sebelum diteskan. Hal ini bertujuan agar soal
yang diberikan memiliki kualitas yang baik. Berikut ini pengujian yang dilakukan
diantaranya.
1) Validitas soal
Suatu alat evaluasi dapat dikatakan valid apabila alat tersebut mampu
mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi. Pada penelitian ini digunakan korelasi
produk moment memakai angka kasar (raw score) dalam menentukan koefisien
validitas soal. Untuk validitas soal, dilakukan pengujian validitas tiap butir dan
validitas banding.
Rumus korelasi produk moment dengan menggunakan angka kasar (raw score)
adalah
2 2 2 2
( )( )
( ( ) )( ( ) )
xy
n xy x y
r
n x x n y y

=


n = banyak testi

= koefisien korelasi antara variabel X dengan variable Y.


x X X = , simpangan terhadap rata-rata dari setiap data pada kelompok variabel X.
y Y Y = , simpangan terhadap rata-rata dari setiap data pada kelompok variabel Y.
Menurut J.P. Guilford (Erman Suherman, 2003: 113), koefisien validitas
xy
r
dibagi ke dalam kategori-kategori seperti berikut ini.
0, 90 1, 00 r
xy
s s validitas sangat tinggi (sangat baik),
0, 70 0, 90 r
xy
s < validitas tinggi (baik),
0, 40 0, 70 r
xy
s < validitas sedang (cukup),
0, 20 0, 40 r
xy
s < validitas rendah (kurang),
0, 00 0, 20 r
xy
s < validitas sangat rendah, dan
0, 00 r
xy
< tidak valid.

2) Reliabilitas soal
Reliabilitas suatu alat evaluasi adalah suatu alat yang membarikan hasil yang
tetap sama (konsisten). Hasil evaluasi itu harus tetap sama (relatif sama) jika
pengukuran diberikan pada subjek yang sama meskipun dilakukan oleh orang yang
berbeda, waktu yang berbeda, dan tempat yang berbeda pula. Tidak terpengaruh oleh
pelaku, situasi, dan kondisi. Alat evaluasi yang reliabilitasnya tinggi disebut alat
evaluasi yang reliabel.
Pengujian reliabilitas soal tipe objektif dan tipe uraian. Pada penelitian ini
menggunakan rumus KR-20 untuk soal tipe objektif yaitu
2
11 2
1
t i i
t
s p q n
r
n s
| |
| |
=
| |

\ .
\ .

dengan: n = banyaknya butir soal
Koefisien relibilitas soal tipe uraian dihitung dengan menggunakan rumus
Cronbach Alpha, yaitu:
2
11 2
1
1
i
t
s n
r
n s
| |
| |
=
| |

\ .
\ .

Tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas alat evaluasi dapat
digunakan tolak ukur yang dibuat oleh J.P. Guilford (Erman Suherman, 2003: 139)
sebagai berikut.

11
0, 20 r < derajat reliabilitas sangat rendah

11
0, 20 0, 40 r s < derajat reliabilitas rendah

11
0, 40 0, 70 r s < derajat reliabilitas sedang
0, 70 0,90
xy
r s < derajat reliabilitas tinggi
0,90 1, 00
xy
r s s derajat reliabilitas sangat tinggi
3) Daya Pembeda soal
Daya pembeda (DP) dari suatu butir soal menyatakan suatu kemampuan yang
dimiliki oleh butir soal tersebut dalam membedakan antara testi yang mengetahui
jawabannya dengan benar (pandai) dengan testi yang tidak dapat menjawab soal
tersebut (atau testi yang menjawab salah). Dalam hal ini, daya pembeda sebuah butir
soal merupakan kemampuan yang dimiliki oleh butir soal itu untuk membedakan
antara testi ( siswa ) yang pandai (kemampuan tinggi) dengan siswa yang
berkemampuan rendah.
Dalam pengujian daya pembeda ini dilakukan pada dua tipe soal yaitu tipe
objektif dan tipe uraian
Rumus untuk menentukan daya pembeda soal tipe objektif adalah

A B
A
JB JB
DP
JS

=
atau

A B
B
JB JB
DP
JS

=

dengan:
A
JB

= jumlah siswa kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar, atau
jumlah benar untuk kelompok atas,

B
JB = jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar, atau
jumlah benar untuk kelompok bawah,

A
JS = jumlah siswa kelompok atas (higher group atau upper group),

B
JS

= jumlah siswa kelompok bawah (lower group).
Rumus untuk menentukan daya pembeda soal tipe uraian adalah
A B
X X
DP
SMI

=
dengan:
A
X = rata-rata skor kelompok atas untuk soal itu,
B
X = rata-rata skor kelompok bawah untuk soal itu,
SMI = skor maksimal ideal (bobot).
Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda yang benyak digunakan adalah:
0, 00 DP s sangat jelek
0, 00 0, 20 DP < s jelek
0, 20 0, 40 DP < s sedang
0, 40 0, 70 DP < s tinggi
0, 70 1, 00 DP < s sangat tinggi



4) Derajat/Indeks Kesukaran soal
Suatu hasil dari alat evaluasi dikatakan baik akan menghasilkan skor atau
nilai yang membentuk distribusi normal. Jika soal tersebut terlalu sukar, maka
frekuensi distribusi yang paling banyak terletak pada skor yang rendah karena
sebagian yang besar mendapat nilai yang jelek. Sebaliknya jika soal yang diberikan
terlalu mudah, maka frekuensi distribusi yang paling banyak pada skor yang tinggi,
karena sebagian besar siswa mendapat nilai baik.
Derajat kesukaran suatu butir soal dinyatakan dengan bilangan yang disebut
indeks kesukaran. Bilangan tersebut adalah bilangan real pada interval 0,00 sampai
dengan 1,00. Soal dengan indeks kesukaran mendekati 0,00 berarti butir soal
tersebut terlalu sukar, sebaliknya soal dengan indeks kesukaran 1,00 berarti soal
tersebut terlalu mudah. Pengujian indeks kesukaran ini dilakukan pada dua tipe soal
yaitu tipe objektif dan tipe uraian.
Rumus untuk menentukan indeks kesukaran butir soal, yaitu
A B
A B
JB JB
IK
JS JS
+
=
+

Klasifikasi indeks kesukaran yang paling banyak digunakan adalah
0, 00
0, 00 0, 30
0, 30 0, 70
0, 70 1, 00
1, 00
IK soal terlalu sukar
IK soal sukar
IK soal sedang
IK soal mudah
IK soal terlalu mudah
=
< s
< s
< s
=

2. Angket respon siswa
Angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran
menggunakan pembelajaran accelerated learning pada pembelajaran berbasis
masalah yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan pembelajaran. Angket ini berisi
tentang respon siswa terhadap pelajaran matematika, model dan metode
pembelajaran matematika yang digunakan.

3. Jurnal Harian Siswa
Data yang diperoleh dari jurnal dianalisis dengan mengelompokkan respom
siswa ke dalam kelompok respon positif dan negatif.

4. Lembar observasi
Observasi dilakukan saat pembelajaran berlangsung. Observasi ini bertujuan
untuk mengetahui proses pembelajaran, interaksi, dan keaktifan siswa, serta kejadian
dan kegiatan pembelajaran. Selain itu, observasi ini digunakan untuk melihat
aktivitas atau kinerja guru (peneliti) dalam proses pembelajaran sehingga diperoleh
gambaran pembelajaran yang dilakukan termasuk kekurangan atau hambatan dalam
proses pembelajaran.

E. Prosedur Penelitian
1. Tahap Perencanaan
a) Mendidentifikasi masalah yang akan diteliti
b) Menyusun instrumen penelitian berupa soal, angket, lembar observasi dan
jurnal harian siswa.
c) Melakukan uji kelayakan instrumen.
d) Pemilihan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan
a) Melaksanakan pretes pada kelas kontrol dan kelas eksperimen
b) Melaksanakan pembelajaran dengan metode accelerated learning pada
kelas ekperimen dan pembelajaran dengan metode ekspositori pada kelas
kontol. Pengisian lembar observasi dan jurnal harian siswa dilakukan pada
tahap pembelajaran ini.
c) Melaksanakan postes pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
d) Penyebaran angket pada sampel.

3. Tahap Analisis
a) Mengumpulkan data hasil penelitian, berupa hasil tes, lembar observasi,
jurnal harian siswa dan angket.
b) Mengolah dan menganalisis hasil data kuantitatif (hasil tes).
c) Mengolah dan menganalisis hasil data kualitatif (hasil angket, lembar
observasi dan jurnal harian siswa).

F. Analisis data
Untuk dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, maka data yang
diperoleh dalam penelitian ini harus diolah terlebih dahulu. Terdapat dua jenis data
yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data
kuantitaif diperoleh dari hasil pretest, posttest dan gain, sedangkan data kualitatif
diperoleh dari hasil pengisian angket, jurnal harian siswa dan lembar observasi.
1. Analisis terhadap data kuantitatif
Data kuantitatif yang diperoleh berupa hasil pretes dan postes kedua
kelompok kelas eksperimen dan kelas kontol. Data yang diperoleh kemudian
dianalisis untuk menjawab hipotesis yang diajukan. Teknik analisis data dalam
penelitian ini menggunakan uji statistik.
Data peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa dari kelas
eksperimen dan kelas kontol diperoleh dari indeks gain. Peningkatan yang terjadi,
sebelum sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus g-faktor (N-Gain) menurut
Hake (Dahlia, 2008:43) sebagai berikut :





Kriteria indeks gain menurut Hake (Dahlia, 2008:43) disjikan dalam tabel
TABEL 3.1
Interpretasi Gain
Besarnya
gain (g)
Interpretasi
g 0,7 Tinggi
0,3 g < 0,7 Sedang
g < 0,3 Rendah

Langkah-langkah dalam melakukan uji statistik data hasil tes adalah sebagai
berikut :
a) Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi
yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini dilakukan terhadap skor
pretes, postes dan indeks gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Hipotesis yang digunakan:
H
0
= Data berdistribusi normal;
H
1
= Data tidak berdistribusi normal.
Untuk uji normalitas perhitungan dilakukan menggunakan SPSS versi 17.0, dengan
pedoman untuk mengambil kesimpulan adalah:
- Signifikansi < 0,05 distribusi adalah tidak normal (tidak simetris).
- Signifikansi 0,05, distribusi adalah normal (simetris).
Nilai signifikansi pada SPSS dapat dilihat pada tabel Test of Normality di kolom
Kolmogorov-Smirnov dan atau Shapiro Wilk. Atau bila menguji data dengan plot, data
berditribusi normal bila data berada di sekitar garis.
b) Uji homogenitas varians
Uji homogenitas dua variansi digunakan jika data dari kedua kelas tersebut
berdistribusi normal. Uji homogenitas varians bertujuan untuk mengetahui apakah
kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varians yang homogen atau tidak.
Hipotesis yang digunakan adalah
H
0
=

(Variannya homogen)
H
1
=

(Variannya tidak homogen)


Dengan,

: variansi kelas kontrol

: variansi kelas eksperimen


Untuk uji homogenitas perhitungan dilakukan menggunakan SPSS versi 17.0, dengan
pedoman untuk mengambil kesimpulan adalah:
- Nilai signifikansi < 0,05, data berasal dari populasi yang tidak memiliki varians
yang sama (tidak homogen).
- Nilai signifikansi 0,05, data berasal dari populasi yang memiliki varians yang
sama (homogen).
Nilai signifikansi pada SPSS dapat dilihat pada tabel Test of Homogeinity of variance
di baris Based on Mean
c) Uji perbedaan dua rata-rata
Uji perbedaan duia rata-rata bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata yang
signifikan antara kemampuan komunikasi mateamatis siswa kelas eksperimen dengan
kelas kontrol. Jika data dari kedua kelas berdistribusi normal dan memiliki varians
yang homogen, maka dilanjutkan dengan uji perbedaan dua rata-rata.

2. Analisis terhadap data kualitatif
a) Jurnal harian siswa
Jurnal adalah sebuah tulisan berupa karangan siswa mengenai kesan, peasan atau
aspirasinya terhadap pelajaran yang dilakukan. Pengelolaan data yang diperoleh dari
jurnal dianalisis dengan mengelompokkan respon siswa ke dalam kelompok respon
positif dan negatif. Jurnal harian diberikan pada setiap akhir pertemuan.

b) Lembar Observasi
Lembar Observasi yang digunakan pada penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui atau mengukur aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran
berlangsung. Hal-hal yang tidak terlaksana pada proses pembelajaran diperbaiki pada
proses pembelajaran selanjutnya.

c) Angket
Angket adalah suatu alat pengumpul data yang berupa serangkaian pertanyaan
atau pernyataan yang diajukan kepada siswa. Angket digunakan untuk mengukur
aspek afektif siswa. Angket yang diberikan memuat pernyataan yang disajikan dalam
dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negative. Setiap pilihan
siswa diberi skor tertentu.
untuk pernyataan negatif, skor 5 diberikan untuk siswa yang menjawab sangat tidak
setuju ( STS), skor 4 untuk siswa yang menjawab tidak setuju (TS), skor 2 untuk
siswa yang menjawab setuju (S) dan skor 1 untuk siswa yang menjawab SS.
Sebaliknya, ntuk pernyataan positif, apabila siswa menjawab sangat setuju (SS) maka
diberi skor 5, apabila menjawab setuju (S) maka diberi skor 4, apabila siswa
menjawab tidak setuju (TS) maka diberi skor 2 dan apabila siswa menjawab sangat
tidak setuju (STS) maka diberi skor 1. Angket diberikan setelah seluruh pembelajaran
dilakukan (pertemuan terakhir) pada kelas eksperimen. Angket bertujuan untuk
mengetahui kesan siswa dalam pembelajaran yang telah dilakukan dengan metode
accelerated learning.
Data angket siswa yang terkumpul selanjutnya ditabulasi kemudian dilakukan
perhitungan dengan persentase yang rumusnya sebagai berikut:


Keterangan : p = persentase jawaban
f = frekuensi jawaban
n = banyaknya responden
Setelah diperoleh persentasenya, dilakukan penafsiran data atau interpretasi data
angket dengan mengadaptasi interpretasi menurut kriteria Hendro sebagai berikut:

Tabel 3.2
Penafsiran Hasil Angket
Persentase
Tafsiran
Kualitatif

Tak
seorangpun
Sebagian kecil


Hampir
setengahnya
Setengahnya


Sebagian besar


Hampir
seluruhnya
Seluruhnya

Setelah angket terkumpul dan diolah dengan menggunakan cara penskoran skala
Likert, seorang subjek dapat digolongkan pada kelompok responden yang memiliki
sikap positif dan sikap negatif. Menurut Suherman (2003, 191), hal tersebut dapat
dilakukan dengan cara menghitung rerata skor subjek. Jika nilai reratanya lebih besar
dari 3, maka responden bersikap positif, dan sebaliknya jika nilai reratanya kurang
dari 3, maka responden bersikap negatif. Rerata skor subjek makin mendekati 5,
berarti sikapnya semakin positif, dan sebaliknya jika mendekati 1, berarti sikapnya
semakin negatif.












DAFTAR PUSTAKA

Baihaki, E.(2008). Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran. Bandung :
tidak diterbitkan.
Balitbang Kemdiknas. (2009). PISA (Programme for International student
Assesment). [Online] Tersedia: http://litbangkemdiknas. Net/detail.php?id= [4 Januari 2012]
Damayanti, Dina(2012). Penerapan Metode Accelerated Learning dalam
Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
SMP. Bandung: tidak diterbitka.
Fadli. (2010). Accelerated Learning. . Bandung : tidak diterbitkan.[Online] [4 januari
2012]
Nuralif, Siti. (2012), Penerapan Accelerated Learning Pada Model Pembelajaran Berbasis
Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP.
Bandung: tidakditerbitkan.
Meier, D (2002) the Accelerated Learning Handbook. [Online]. Tersedia: PEMBELAJARAN
AKSELERASI (ACCELERATED LEARNING) Fadlibae Weblog's.htm. [4 januari 2012]
Simaremare, R. (2009). Penerapan metode untuk meningkatkan hasil belajar
matematika siswa Bandung : tidak untuk diterbitkan
Suherman, E (2010). Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika.
[Online]. Tersedia: http://educara.e-fkpiunla.net [2 januari 2012]