Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan dkk, 1992). Depresi telah dicatat dan diketahui sudah sejak jaman masa lampau, diskripsi tentang apa yang dinamakan gangguan mood dapat ditemukan pada dokumen purbakala. Kira kira tahun !"" #$. %ipokrates menggunakan istilah mania dan melankolis untuk menggambarkan gangguan mental ini. Di tahun 1&'! (ules )olret menggambarkan suatu keadaan yang disebut falic circulaine, dimana pasien mengalami perubahan mood. Depresi merupakan salah satu gangguan psikiatrik yang sering ditemukan dengan pre*alensi seumur hidup adalah kira kira 1'+. ,ada pengamatan yang uni*ersal terlepas dari kultur atau negara pre*alensi gangguan depresi berat pada -anita dua kali lebih besar dari pria. ,ada umumnya onset untuk gangguan depresi berat adalah pada usia 2" sampai '" tahun, namun yang paling sering adalah pada usia !" tahun. Depresi berat juga sering terjadi pada orang yang tidak menikah dan bercerai atau berpisah. ,atogenesis depresi kenyataannya sampai saat ini masih membingungkan dan belumlah pasti sehingga banyak teori teori semuanya timbul dan berkembang seiring dengan kemajuan bidang psikofarmakologi.

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 1 RSPAD GATOT SOEBROTO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Depresi

2.1.1 Kelainan Afektif

.stilah kelainan afektif mencakup penyakit penyakit dengan gangguan afek (mood) sebagai gejala primer, sedangkan semua gejala lain bersifat sekunder. /fek bisa terus menerus depresi atau gembira (dalam mania) dan kedua episode ini bisa timbul pada orang yang sama, karena itu dinamai 0psikosis manik depresif1. ,enyakit dengan hanya satu jenis serangan disebut unipolar, dan jika episode manik dan depresif keduanya ada disebut bipolar (.ngram dkk, 1992). $ood merupakan subjeti*itas peresapan emosi yang dialami dan dapat dutarakan oleh pasien dan terpantau oleh orang lain3 termasuk sebagai contoh adalah depresi, elasi dan marah. Kepustakaan lain, mengemukakan mood, merupakan perasaan, atau nada 0perasaan hati1 seseorang, khususnya yang dihayati secara batiniah (.smail dkk, 2"1"). ,asien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh diri. 4anda dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat akti*itas, kemampuan kognitif, bicara dan fungsi *egetati*e (termasuk tidur, akti*itas seksual dan ritme biologik yang lain). (angguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya (handicap) interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan (.smail dkk, 2"1").

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 2 RSPAD GATOT SOEBROTO

Klasifikasi gangguan suasana perasaan (mood5afektif) menurut ,,D(6 ... (Depkes 7.,1992)8 )2" 9pisode $anik )2"." %ipomania )2".1 $ania tanpa gejala psikotik )2".& $ania dengan gejala psikotik )2".9 9pisode $anik :44 )21 (angguan /fektif ;ipolar )21." (angguan afektif bipolar, episode hipomanik )21.1 (angguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik )21.2 (angguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik )21.2 (angguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang .2" 4anpa gejala somatik .21 Dengan gejala somatik )21.! (angguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik )21.' (angguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik )21.< (angguan afektif bipolar, episode kini campuran )21.= (angguan afektif bipolar, episode kini dalam remisi )21.& (angguan afektif bipolar lainnya )21.9 (angguan afektif bipolar ytt )22 9pisode Depresif )22." 9pisode depresif ringan ."" 4anpa gejala somatik ."1 Dengan gejala somatik )22.1 9pisode depresif sedang .1" 4anpa gejala somatik .11 Dengan gejala somatik

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 3 RSPAD GATOT SOEBROTO

)22.2 9pisode depresif berat tanpa gejala psikotik )22.2 9pisode depresif berat dengan gejala psikotik )22.& 9pisode depresif lainnya )22.9 9pisode depresif :44 )22 (angguan Depresif ;erulang )22." (angguan depresif berulang, episode kini ringan ."" 4anpa gejala somatik ."1 Dengan gejala somatik )22.1 (angguan depresif berulang, episode kini sedang 1" 4anpa gejala somatik .11 Dengan gejala somatik )22.2 (angguan depresif berulang, episode kini berat tanpa gejala psikotik )22.2 (angguan depresif berulang, episode kini berat dengan gejala psikotik )22.! (angguan depresif berulang, kini dalam remisi )22.& (angguan depresif berulang lainnya )22.9 (angguan depresif berulang :44 )2! (angguan #uasana ,erasaan ($ood5/fektif) $enetap )2!." #iklotimia )2!.1 Distimia )2!.& (angguan lainnya )2!.9 (angguan suasana perasaan (mood5afektif) menetap :44 )2& (angguan #uasana ,erasaan ($ood5/fektif) >ainnya )2&." (angguan suasana perasaan (mood5afektif) tunggal lainnya ."" 9pisode afektif campuran )2&.1 (angguan lainnya .1" (angguan depresif singkat berulang )2&.& (angguan suasana perasaan (mood5afektif) lainnya :D4 )29 (angguan #uasana ,erasaan ($ood5/fektif) :44 suasana perasaan (mood5afektif) berulang suasana perasaan (mood5afektif) menetap

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 4 RSPAD GATOT SOEBROTO

2.1.2 Definisi Depresi adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar (.ngram dkk, 1992). Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan dkk, 1992). 6ika gangguan depresif berjalan dalam -aktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya (.ngram dkk, 1992).

2.1.3 Epi e!i"l"gi (angguan depresi berat, paling sering terjadi, dengan pre*alensi seumur hidup sekitar 1' persen. ,erempuan dapat mencapai 2'+. #ekitar 1"+ pera-atan primer dan 1'+ dira-at di rumah sakit. ,ada anak sekolah didapatkan pre*alensi sekitar 2+. ,ada usia remaja didapatkan pre*alensi '+ dari komunitas memiliki gangguan depresif berat (.smail dkk, 2"1"). 1. 6enis Kelamin ,erempuan 2? lipat lebih besar disbanding laki laki. Diduga adanya perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stresor psikososial antara laki laki dan perempuan, dan model perilaku yang dipelajari tentang ketidakberdayaan (.smail dkk, 2"1").

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 5 RSPAD GATOT SOEBROTO

,ada pengamatan yang hampir uni*ersal, terdapat pre*alensi gangguan depresif berat yang dua kali lebih besar ada -anita dibandingkan dengan laki laki (Kaplan, 2"1"). ,ada penelitian lain disebutkan bah-a -anita 2 hingga 2 kali lebih rentan terkena depresi dibandingkan laki laki (/khtar, 2""=). @alaupun alasan adanya perbedaan tersebut tidak diketahui, alasan untuk perbedaan tersebut didalilkan sebagai keterlibatan dari perbedaan hormonal, efek kelahiran, perbedaan stressor psikososial dan model perilaku keputusasaan yang dipelajari (Kaplan, 2"1"). ,ada penelitian yang dilakukan A.$% (2""2) ditemukan bah-a pre*alensi yang tinggi pada -anita dibandingkan pria kemungkinan dikarenakan adanya ketidakseimbangan regulasi hormon yang langsung mempengaruhi substansi otak yang mengatur emosi dan mood contohnya dapat dilihat pada situasi ,$# (Pre Menstrual Syndrome). Bntuk -anita yang telah menikah, depresi dapat diperparah dengan masalah keluarga dan pekerjaan, mera-at anak dan orangtua lanjut usia, kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan.

2. Bsia 7ata rata usia sekitar !" tahun an. %ampir '"+ onset diantara usia 2" '" tahun. (angguan depresi berat dapat timbul pada masa anak atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan gangguan depresi berat diusia kurang dari 2" tahun. $ungkin berhubungan dengan meningkatnya pengguna alkohol dan penyalahgunaan Cat dalam kelompok usia tersebut (.smail dkk, 2"1"). ,ada umumnya, rata rata usia onset untuk gangguan depresif berat adalah kira kira !" tahun, dimana '"+ dari semua pasien mempunyai onset antara usia 2" dan '" tahun. (angguan depresif berat juga memiliki onset selama masa anak anak atau pada lanjut usia. ;eberapa data epidemiologis menyatakan bah-a insidensi gangguan depresif berat mungkin meningkat pada orang orang yang

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 6 RSPAD GATOT SOEBROTO

berusia kurang dari 2" tahun (Kaplan, 2"1"). ,ada penelitian lain yang dilakukan oleh /khtar (2""=) didapatkan bah-a tingkat pre*alensi tertinggi terjadi pada kelompok usia 2" 2! tahun (1!,2+) dan yang terendah pada kelompok usia D=' tahun (!,2+), sementara data yang didapatkan dari A.$% (2""2) menyebutkan bah-a tingkat depresi terbanyak ditemukan pada kelompok usia D1& tahun (1"+).

2. #tatus ,erka-inan ,aling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau berpisah. @anita yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menderita depresi dibandingkan dengan -anita yang menikah namun hal ini berbanding terbalik untuk laki laki (.smail dkk, 2"1"). ,ada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat, pasangan yang bercerai atau berpisah (Kaplan, 2"1"). ,enelitian yang dilakukan oleh /khtar (2""=) memperlihatkan bah-a pre*alensi tertinggi dari depresi didapatkan pada pasangan yang bercerai atau berpisah.

!. )aktor #osioekonomi dan ;udaya 4idak ditemukan korelasi antara status sosioekonomi dan gangguan depresi berat. Depresi lebih sering terjadi di daerah pedesaan disbanding daerah perkotaan (.smail dkk, 2"1"). ;erdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Academy on An Aging Society (2""") didapatkan data bah-a pada kelompok responden dengan pendapatan rendah ditemukan tingkat depresi yang cukup tinggi yaitu sebesar '1+. ,ada penelitian /khtar (2""=) ditemukan tingkat depresi terendah pada kelompok pendidikan

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 7 RSPAD GATOT SOEBROTO

#ekolah $enengah /tas (#$/) sebesar (9,1+) dan sebaliknya tingkat depresi yang tertinggi ditemukan pada responden dengan kelompok pendidikan yang lebih tinggi sebesar (12,!+). @alaupun hasil ini dapat menjadi indikasi adanya perbedaan tingkat depresi pada tingkat pendidikan, namun hal tersebut tidak memiliki korelasi positif dengan terjadinya gangguan depresif (Kaplan, 2"1").

2.1.# Eti"l"gi 9tiologi depresi terdiri dari8 1. )aktor genetik Dari penelitian keluarga didapatkan gangguan depresi mayor dan gangguan bipolar terkait erat dengan hubungan saudara3 juga pada anak kembar, suatu bukti adanya kerentanan biologik, pada genetik keluarga tersebut. Data genetik dengan kuat menyatakan bah-a suatu faktor penting di dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika. 4etapi, pola penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks. ;ukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa orang. ,enelitian keluarga menemukan bah-a sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan depresif berat berkemungkinan 2 sampai 2 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama (Kaplan, 2"1"3 4omb, 2""!).

2. )aktor ;iokmia #ejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam metabolit amin biogenik yang mencakup neurotransmitter norepinefrin, serotonin dan dopamine ((ambar 2.1.!.1). Dalam

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 8 RSPAD GATOT SOEBROTO

penelitian lain juga disebutkan bah-a selain faktor neurotransmitter yang telah disebutkan di atas, ada beberapa penyebab lain yang dapat mencetuskan timbulnya depresi yaitu neurotransmitter asam amino khususnya (/;/ (Gamma-Aminobutyric Acid) dan peptida neuroaktif, regulasi neurendokrin dan neuroanatomis (Kaplan, 2"1"). ,ada regulasi neuroendokrin, gangguan mood dapat disebabkan terutama oleh adanya kelainan pada sumbu adrenal, tiroid dan hormon pertumbuhan. #elain itu kelainan lain yang telah digambarkan pada pasien dengan gangguan mood adalah penurunan sekresi nocturnal melantonin, penurunan pelepasan prolaktin terhadap pemberian tryptophan, penurunan kadar dasar )#% (Follicle Stimullating ormon) dan >% (!uteini"ing ormon), dan penurunan kadar testosteron pada laki laki (4risdale, 2""2).

(ambar 2.1.!.1. $ekanisme terjadinya depresi dengan etiologi neurotransmitter /da dua hipotesis terjadinya depresi secara biokimia, yaitu8 a. %ipotesis Katekolamin ;eberapa penyakit depresi berhubungan dengan defisiensi katekolamin pada reseptor otak. 7eserpin yang menekan amina

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 9 RSPAD GATOT SOEBROTO

otak diketahui kadang kadang menimbulkan depresi lambat (.ngram dkk, 1992). Disamping itu, $%,( ($etabolit primer noradrenalin otak) menurun dalam urin pasien depresi se-aktu mereka mengalami episode depresi dan meningkat di saat mereka gembira (.ngram dkk, 1992).

b. %ipotesis .ndolamin %ipotesis indolamin membuat pernyataan serupa untuk ' hidro?itriptamin (' %4). metabolit utamnya asam ' hidroksi indolasetat ('%.//) menurun dalam >E# pasien depresi, dan ' %.// rendah pada otak pasien yang bunuh diri. > 4riptofan, yang mempunyai efek antidepresi meningkatkan '%4 otak (.ngram dkk, 1992). 2. )aktor %ormon Kelainan depresi mayor dihubungkan dengan hipersekresi kortisol dan kegagalan menekan sekresi kortisol sesudah pemberian de?ametason. ,asien depresi resisten terhadap penekanan de?ametason dan hasil abnormal ini didapatkan pada sekitar '"+ pasien, terutama pada pasien dengan depresi bipolar, -aham dan ada ri-ayat penyakit ini dalam keluarga (.ngram dkk, 1992). @anita dua kali lebih sering dihubungkan dengan pruerperium atau menopause. ;unuh diri dan saat masuk rumah sakit biasanya sebelum menstruasi. #elama penyakit afektif berlangsung sering timbul amenore. %al ini menggambarkan bah-a gangguan endokrin mungkin merupakan faktor penting dalam menentukan etiologi (.ngram dkk, 1992).

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 10 RSPAD GATOT SOEBROTO

!. )aktor Kepribadian ,remorbid ,ersonalitas siklotimik menjadi sasaran gangguan afek ringan selama hidupnya, keadaan ini tidak berhubungan dengan penyebab eksterna. Kepribadian depresi ditunjukkan dengan perilaku murung, pesimis dan kurang bersemangat. ,ersonalitas hipomania berperilaku lebih riang, energetik dan lebih ramah dari rata rata (.smail dkk, 2"1"). $ereka dengan rasa percaya diri rendah, senantiasa melihat dirinya dan dunia luar dengan penilaian pesimistik. 6ika mereka mengalami stres besar, mereka cenderung akan mengalami depresi. ,ara psikolog menyatakan bah-a mereka yang mengalami gangguan depresif mempunyai ri-ayat pembelajaran depresi dalam pertumbuhan perkembangan dirinya. $ereka belajar seperti model yang mereka tiru dalam keluarga, ketika menghadapi masalah psikologik maka respon mereka meniru perasaan, pikiran dan perilaku gangguan depresif. Frang belajar dengan proses adaptif dan maladaptif ketika menghadapi stres kehidupan dalam kehidupannya di keluarga, sekolah, sosial dan lingkungan kerjanya. )aktor lingkungan mempengaruhi perkembangan psikologik dan usaha seseorang mengatasi masalah. )aktor pembelajaran sosial juga menerangkan kepada kita mengapa masalah psikologik kejadiannya lebih sering muncul pada anggota keluarga dari generasi ke generasi. 6ika anak dibesarkan dalam suasana pesimistik, dimana dorongan untuk keberhasilan jarang atau tidak biasa, maka anak itu akan tumbuh dan berkembang dengan kerentanan tinggi terhadap gangguan depresif (.smail dkk, 2"1").

'. )aktor >ingkungan 9nam bulan sebelum depresi, pasien depresi mengalami lebih banyak peristi-a dalam hidupnya. $ereka merasa kejadian ini tidak memuaskan dan mereka keluar dari lingkungan social. &"+ serangan pertama depresi didahului oleh stress, tetapi angka ini akan jatuh menjadi hanya '"+ pada serangan berikutnya. ,asien depresi

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 11 RSPAD GATOT SOEBROTO

diketahui juga lebih sering pada anak yang kehilangan orang tua di masa kanak kanak dibandingkan dengan populasi lainnya (.ngram dkk, 1992). $enurut )reud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai, pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal, sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode gangguan depresif. #eringkali kombinasi faktor biologik, psikologik dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan depresif muncul (.smail dkk, 2"1"). #atu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi adalah bah-a peristi-a kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya (Kaplan, 2"1"3 #lotten, 2""!). #atu teori yang diajukan untuk menjelaskan pengamatan tersebut adalah bah-a stress yang menyertai episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. ,erubahan yang bertahan lama tersebut dapat meyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi sinyal intraneuronal. %asil akhir dari perubahan tersebut akan menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita episode gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stresor e?ternal (Kaplan, 2"1").

2.1.$ Klasifikasi 1. 9pisode Depresif ,ada semua tiga *ariasi dari episode depresif khas yang tercantum di ba-ah ini8 ringan, sedang dan berat, indi*idu biasanya menderita suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan berkurangnya akti*itas.

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 12 RSPAD GATOT SOEBROTO

;iasanya ada rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja. (ejala laCim lainnya adalah (Depkes 7., 1992)8 a. Konsentrasi dan perhatian berkurang b. %arga diri dan kepercayaan diri berkurang c. (agasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan sekalipun) d. ,andangan masa depan yang suram dan pesimistis e. (agasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri f. 4idur terganggu g. Aafsu makan berkurang #uasana perasaan (mood) yang menurun itu berubah sedikit dari hari ke hari, dan sering kali tak terpengaruh oleh keadaan sekitarnya, namun dapat memperlihatkan *ariasi diurnal yang khas seiring berlalunya -aktu. #ebagaimana pada episode manik, gambaran klinisnya juga menunjukkan *ariasi indi*idual yang mencolok, dan gambaran tak khas adalah lumrah, terutama di masa remaja. ,ada beberapa kasus, an?ietas, kegelisahan dan agitasi motorik mungkin pada -aktu -aktu tertentu lebih menonjol daripada depresinya, dan perubahan suasana perasaan (mood) mungkin juga terselubung oleh cirri tambahan seperti iritabilitas, minum alkohol berlebih, perilaku histrionik, dan eksaserbasi gejala fobik atau obsesif yang sudah ada sebelumnya, atau oleh preokupasi hipokondrik. Bntuk episode depresif dari ketiga tiganya tingkat keparahan, biasanya diperlukan masa sekurang kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat (Depkes 7., 1992). ;eberapa di antara gejala tersebut di atas mungkin mencolok dan memperkembangkan cirri khas yang dipandang secara luas mempunyai makna klinis khusus. Eontoh paling khas dari gejala somatik ialah kehilangan minat atau kesenangan pada kegiatan yang biasanya dapat dinikmati, tiadanya reaksi emosional terhadap

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 13 RSPAD GATOT SOEBROTO

lingkungan atau peristi-a yang biasanya menyenangkan, bangun pagi lebih a-al 2 jam atau lebih daripada biasanya, depresi yang lebih parah pada pagi hari, bukti objektif dari retardasi atau agitasi psikomotor yang nyata (disebutkan atau dilaporkan oleh orang lain), kehilangan nafsu makan secara mencolok, penurunan berat badan (sering ditentukan sebagai '+ atau lebih dari berat badan bulan terakhir), kehilangan libido secara mencolok. ;iasanya, sindrom somatik ini hanya dianggapp ada apabila sekitar empat dari gejala itu pasti dijumpai (Depkes 7., 1992). )22." 9pisode depresif ringan #uasana perasaan mood yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan, dan mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala depresi yang paling khas3 sekurang kurangnya dua dari ini, ditambah sekurang kurangnya dua gejala laCim di atas harus ada untuk menegakkan diagnosis pasti. 4idak boleh ada gejala yang berat di antaranya. >amanya seluruh episode berlansung ialah sekurang kurangnya sekitar 2 minggu (Depkes 7., 1992). .ndi*idu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah tentang gejalanya dan agak sukar baginya untuk meneruskan pekerjaan biasa dan kegiatan social, namun mungkin ia tidak akan berhenti berfungsi sama sekali (Depkes 7., 1992). )22.1 9pisode depresif sedang #ekurang kurangnya harus ada 2 dari 2 gejala yang paling khas yang ditentukan untuk episode depresif ringan, ditambah sekurang kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala lainnya. ;eberapa gejala mungkin tampil amat menyolok, namun ini tidak esensial apabila secara keseluruhan ada cukup banyak *ariasi gejalanya. >amanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2 minggu (Depkes 7., 1992).

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 14 RSPAD GATOT SOEBROTO

.ndi*idu dengan episode depresif taraf3 sedang biasanya menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga (Depkes 7., 1992). )22.2 9pisode depresif berat tanpa gejala psikotik ,ada episode depresif berat, penderita biasanya

menunjukkan ketegangan atau kegelisahan yang amat nyata, kecuali apabila retardasi merupakan ciri terkemuka. Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus berat. /nggapan di sini ialah bah-a sindrom somatik hampir selalu ada pada episode dpresif berat. #emua tiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresif ringan dan sedang harus ada, ditambah sekurang kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat. Aamun, apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi) menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu utnuk melaporkan banyak gejalanya secara terinci. Dalam hal demikian, penentuan menyeluruh dalam subkategori episode berat masih dapat dibenarkan. 9pisode depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka mungkin dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam -aktu kurang dari 2 minggu. #elama episode depresif berat, sangat tidak mungkin penderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas. Kategori ini hendaknya digunakan hanya untuk episode depresif berat tunggal tanpa gejala psikotik3 untuk episode selanjutnya, harus digunakan subkategori dari gangguan depresif berulang. )22.2 9pisode depresif berat dengan gejala psikotik

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 15 RSPAD GATOT SOEBROTO

9pisode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut )22.2 terssebut di atas, disertai -aham, halusinasi atau stupor depresif. @ahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung ja-ab atas hal itu. %alusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging membusuk. 7etardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. 6ika diperlukan, -aham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood). Diagnosis banding. #tupor depresif perlu dibedakan dari skiCofrenia katatonik, stupor disosiatif, dan bentuk stupor organik lainnya. Kategori ini hendaknya hanya digunakan untuk episode depresif berat tunggal dengan gejala psikotik3 untuk episode selanjutnya harus digunakan subkategori gangguan depresif berulang. )22.& 9pisode depresif lainnya 9pisode yang termasuk di sini adalah yang tidak sesuai dengan gambaran yang diberikan untuk episode deprresif pada )22." )22.2, meskipun kesan diagnostik menyeluruh menunjukkan sifatnya sebagai depresi. Eontohnya termasuk campuran gejala depresif (khususnya jenis somatik) yang berfluktuasi dengan gejala non diagnostik seperti ketegangan, keresahan dan penderitaan3 dan campuran gejala depresif somatik dengan nyeri atau keletihan menetap yang bukan akibat penyebab organik (seperti yang kadang kadang terlihat pada pelayanan rumah sakit umum). )22.9 )22 9pisode depresif :44 (angguan Depresif ;erulang (angguan ini tersifat dengan episode berulang dari depresi sebagaimana dijabarkan dalam episode depresif ringan, sedang, atau

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 16 RSPAD GATOT SOEBROTO

berat, tanpa ri-ayat adanya episode tersendiri dari peninggian suasana perasaan dan hiperakti*itas yang memenuhi kriteria mania dan hiperakti*itas ringan yang memenuhi kriteria hipomania segera sesudah suatu episode depresif (kadang kadang tampaknya dicetuskan oleh tindakan pengobatan depresi). Bsia dari onset, keparahan, lamanya berlangsung, dan frekuensi episode dari depresi, semuany sangat ber*ariasi. Bmumnya episode pertama terjadi pada usia lebih tua dibanding dengangangguan bipolar, dengan usia onset rata rata lima puluhan. 9pisode masing masing juga lamanya antara 2 dan 12 bulan (rata rata lamanya sekitar < bulan) akan tetapi frekuensinya lebih jarang. ,emulihan keadaaan biasanya sempurna di antara episode, namun sebagian kecil pasien mungkin mendapat depresi yang akhirnya menetap, terutama pada usia lanjut (untuk keadaan ini, kategori ini harus tetap digunakan). 9pisode masing masing dalam berbagai tingkat keparahan, seringkali dicetuskan oleh peristi-a kehidupan yang penuh sters3 dalam berbagai budaya, baik episode tersendiri maupun depresi menetap dua kali lebih banyak pada -anita daripada pria. ;agaimanapun seringnya seseorang pasien gangguan depresif berulang mengalami episode depresif sebagai penderitaan, tidak mustahil baginya akan mengalami episode manik. 6ika ternyata terjadi episode manik, maka diagnosisnya harus diubahmenjadi gangguan afektif bipolar. 2.1.% &e'ala 9pisode depresi. $ood terdepresi, kehilangan minat dan

berkurangnya energy adalah gejala utama dari depresi. ,asien mungkin mengatakan perasaannya sedih, tidak mempunyai harapan, dicampakkan, atau tidak berharga. 9mosi pada mood depresi kualitasnya berbeda dengan emosi duka cita atau kesedihan yang normal (.ngram dkk, 1992). ,asien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 17 RSPAD GATOT SOEBROTO

makan, berpikir mati atau bunuh diri. 4anda dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat akti*itas, kemampuan kognitif, bicara dan fungsi *egetati*e (termasuk tidur, akti*itas seksual dan ritme biologik yang lain). (angguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan (.smail dkk, 2"1"). /dapun gambaran klinik dari pasien depresi ini antara lain (.ngram dkk, 1992)8 1. /danya gejala psikologis berupa penurunan *italitas umum, yang mungkin dinyatakan pasien sebagai suatu kehilangan dan sedih. ;iasanya dia menarik diri dari kehidupan sosialnya. #egala sesuatu kelihatannya tanpa harapan, selalu murung, ansietas mungkin ada atau pasien mungkin mencoba untuk menyembunyikan keluhannya (depresi senyum). 2. Gariasi diurnal, dimana semua gejala cenderung memburuk pada dini hari dan membaik di siang hari. 2. ;unuh diri, dapat menjadi tanda a-al penyakit. Kemungkinan bunuh diri sulit diduga sebelumnya, tetapi selalu harus diperhitungkan. ,ikiran bunuh diri seharusnya selalu ditanyakan dan jika ada harus dianggap serius. ,enderita depresi jarang membunuh keluarganya, tetapi kalau terjadi biasanya karena dia merasa harus menyelamatkan keluarganya dari kehidupan yang sengsara. !. 7etardasi atau perlambatan berpikir biasa ditemukan dan dicerminkan dalam pembicaraan serta pergerakannya. /da kemiskinan pikiran dan kesulitan berkonsentrasi. ,ada kasus lain agitasi mungkin menjadi gejala dominan, disertai dengan adanya kegelisahan motorik yang nyata. '. ,erasaan bersalah sering ditemukan disertai mengomeli diri sendiri dan turunnya penilaian diri. Dalam kasus berat, bisa timbul -aham dimana penyakit yang dideritanya merupakan suatu hukuman untuk dosanya di

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 18 RSPAD GATOT SOEBROTO

masa lampau, baik itu dosa yang dikhayalkannya maupun kesalahan yang memang benar benar pernah ia lakukan. ,asien juga bisa merasa bah-a dia dipandang rendah dan dituduh bejad oleh orang lain. Kemungkinan ada keasyikan sendiri, hipokondriasis dan -aham hipokondria. $ungkin juga ada -aham kemiskinan atau -aham nihilistik. <. %alusinasi jarang ditemukan, tetapi dapat timbul pada kasus berat. =. Depersonalisasi dan derealisasi tidak jarang terjadi. ,asien menyatakan bah-a dia kehilangan perasaan dan mempunyai sensasi asing. Dia merasa tidak nyata dan baginya benda benda terlihat tidak nyata. &. ,ikiran dan tindakan berisi perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri mungkin ditemukan. 9. .nsomnia sering ditemukan. (ejala khasnya pasien mula mula bangun dini hari, kemudian semakin lama semakin pagi dan bahkan akhirnya dapat menjadi insomnia total. 1". /noreksia, konstipasi, gangguan pencernaan, penurunan berat badan, amenore dan kehilangan libido biasa ditemukan. $ungkin terjadi kelelahan dan letargi, atau tanda autonom ansietas. ,ikiran untuk melakukan bunuh diri dapat timbul pada sekitar dua pertiga pasien depresi, dan 1" 1'+ melakukan bunuh diri. $ereka yang dira-at dirumah sakit dengan percobaan bunuh diri dan ide bunuh diri mempunyai umur hidup lebih panjang disbanding yang tidak dira-at. ;eberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami depresi dan tidak mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari keluarga, teman dan aktifitas yang sebelumnya menarik bagi dirinya. %ampir semua pasien depresi (9=+) mengeluh tentang penurunan energi dimana mereka mengalami kesulitan menyelesikan tugas, mengalami kendala disekolah dan pekerjaan, dan menurunnya moti*asi untuk terlibat dalam kegiatan baru. #ekitar &"+ pasien mengeluh masalah tidur,

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 19 RSPAD GATOT SOEBROTO

khusunya terjaga dini hari (terminal insomnia) dan sering terbangun dimalam hari karena memikirkan masalh yang dihadapi. Kebanyakan pasien menunjukkan peningkatan atau penurunan nafsu makan, demikian pula dengan bertambah dan menurunnya berat badan serta mengalami tidur lebih lama dari yang biasa (Depkes 7., 1992).

2.1.( Diagn"sis Konsep gangguan ji-a yang terdapat dalam ,,D(6 ... ini merujuk kepada D#$ .G dan konsep disability berasal dari 4he .ED 1" #lassification of Mental and $eha%ioral &isorders' $enurut ,,D(6 (2""2), gangguan afektif berupa depresi dapat terbagi menjadi episode depresif dan episode depresif berulang, dimana episode depresif sendiri terbagi menjadi episode depresif ringan, sedang, dan berat. #edangkan untuk episode berulang terbagi menjadi episode berulang episode kini ringan, episode kini sedang, episode kini berat tanpa gejala psikotik, episode kini berat dengan gejala psikotik dan episode kini dalam remisi. D#$ .G mendefinisikan sejumlah gangguan psikiatrik yang dapat diidentifikasi (meskipun ada kemungkinan tumpang tindih) dan berisi kriteria diagnostik yang spesifik untuk setiap diagnosis. Diagnosis dibuat berdasarkan kenyataan dari ri-ayat pasien yang khas dan tampilan klinis yang cocok dan memenuhi sejumlah kriteria diagnostik yang ditentukan (suatu diagnostik politetik, tidak perlu seluruh kriteria dipenuhi untuk membuat diagnosa). D#$ .G telah memperbaiki reabilitas diagnosis (kemungkinan orang yang berbeda akan membuat diagnosis yang sama pada pasien yang sama), tetapi hanya mempunyai dampak yang sederhana terhadap *aliditas. %al ini boleh jadi karena D#$ .G telah memecah kondisi psikiatrik menjadi terlalu banyak bagian bagian dan setiap bagian tidak me-akili suatu kondisi yang sah. @alaupun D#$ .G dapat dipergunakan lintas kultural, penggunaannya pada situasi tertentu memerlukan kehati hatian dalam menginterpretasikan gejala gejala.

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 20 RSPAD GATOT SOEBROTO

Di samping kriteria yang ditentukan secara operasional, D#$ .G juga menggunakan sistem klasifikasi multiaksial untuk menangkap informasi penting lainnya, yaitu8 1. 2. 2. !. /ksis . 8 (angguan gangguan klinis yang digambarkan di atas. /ksis .. 8 (angguan gangguan kepribadian atau retardasi mental /ksis ... 8 (angguan gangguan fisik yang berhubungan dengan gangguan mental /ksis .G 8 Daftar masalah psikososial dan lingkungan, bisaanya selama setahun sebelumnya, tetapi tidak selalu demikian, seperti tidak punya pekerjaan, perceraian, problem keuangan, korban penelantaran anak dan lain lain. D#$ .G telah menyusun gangguan mood tambahan baik di dalam badan teks dan didalam appendiks. (angguan gangguan tersebut adalah sindrom yang berhubungan dengan depresi, berupa gangguan depresif ringan (minor depressi%e diorder), gangguan depresif singkat rekuren, dan gangguan disforik pramenstruasi. ,ada gangguan depresif ringan keparahan gejala tidak mencapai keparahan yang diperlukan untuk diagnosis gangguan depresif berat. ,ada gangguan depresif singkat rekuren gejala episode depresif memang mencapai keparahan gejala yang diperlukan untuk diagnosis gangguan depresif berat tetapi hanya untuk -aktu singkat, dengan lama -aktu yang tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat. D#$ .G menuliskan kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat secara terpisah dari kriteria diagnostik untuk diagnosis berhubungan dengan depresi, dan juga menuliskan deskriptor keparahan untuk episode depresif berat.

a. Depresif ;erat dengan Eiri ,sikotik

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 21 RSPAD GATOT SOEBROTO

/danya ciri psikotik pada gangguan depresif berat mencerminkan penyakit yang parah dan merupakan indikator prognostik yang buruk.

b. Depresif ;erat dengan Eiri $elankolik Kepentingan yang potensial untuk mengenali ciri melankolik dari gangguan depresif berat adalah untuk mengidentifikasi suatu kelompok pasien yang dinyatakan oleh beberapa data adalah lebih responsi*e terhadap terapi farmakologi daripada pasien nonmelankolik. c. Depresif ;erat dengan Eiri /tipikal Diperkenalkannya tipe depresi dengan ciri atipikal yang didefinisikan secara resmi adaah sebagai respons terhadap penelitian dan data klinis yang menyatakan bah-a pasien atipikal memiliki karakteristik yang spesifik dan dapat diramalkan. Eiri atipikal klasik adalah makan berlebihan dan tidur berlebihan. 2.1.) Pe!eriksaan Pen*n'ang #elain dari klasifikasi yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa instrumen instrumen pengukur tingkat depresi dapat digunakan untuk membantu memberikan penilaian yang objektif terhadap kondisi depresi yang dialami oleh pasien. ;erikut ini adalah beberapa instrumen yang sering digunakan, yaitu8 a. b. c. ;eckHs Depression .n*entory %amilton Depression #cale 4he Iung #elf 7ating Depression #cale ;eck Depression .n*entory (;D.) adalah tes depresi untuk mengukur keparahan dan kedalaman dari gejala J gejala depresi seperti yang tertera dalam the American Psychiatric Association(s &iagnosti) and Statistical Manual of Mental &isorders Fourth *dition (D#$ .G) pada pasien dengan depresi klinis. ;D. dapat digunakan untuk de-asa ataupun remaja yang berumur 12 tahun ke atascan be used for both adults and

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 22 RSPAD GATOT SOEBROTO

adolescents 12 years of age and older, dan merupakan sebuah ukuran standar dari depresi yang terutama digunakan dalam penelitian dan untuk menge*aluasi dari efektti*itas pengobatan dan terapi. ;D. tidak dapat digunakan sebagai instrumen untuk mendiagnosis, tetapi lebih kepada identifikasi dari adanya depresi dan tingkat keparahannya sesuai dengan criteria dari D#$ .G. ,ertanyaan pertanyaan yang tertera pada ;D. .. menilai gejala gejala khas dari depresi seperti gangguan mood, pesimisme, perasaan gagal, ketidakpuasan diri, perasaan bersalah, merasa dihukum, ketidaksukaan terhadap diri sendiri, pendak-aan terhadap diri, pikiran untuk bunuh diri, menangis, irittabilitas, penarikan diri dari kehidupan sosial, gambaran tubuh, kesulitan bekerja, insomnia, kelelahan, nafsu makan, kehilangan berat badan dan kehilangan libido. 2.1.+ Penatalaksanaan ,engobatan pasien dengan gangguan mood harus diamanahkan pada sejumlah tujuan. ,ertama, keamanan pasien harus terjamin. Kedua, pemeriksaan diagnostik yang lengkap pada pasien harus dilakukan. Ketiga, suatu rencana pengobatan harus dimulai yang menja-ab bukan hanya gejala sementara tetapi juga kesehatan pasien selanjutnya (Kaplan, 2"1"). Dokter harus mengintegrasikan farmakoterapi dengan inter*ensi psikoterapeutik. 6ika dokter memandang gangguan mood pada dasarnya berkembang dari masalah psikodinamika, ambi*alensi mengenai kegunaan obat dapat menyebabkan respons yang buruk, ketidakpatuhan, dan kemungkinan dosis yang tidak adekuat untuk jangka -aktu yang singkat. #ebaliknya, jika dokter mengabaikan kebutuhan psikososial pasien, hasil dari farmakoterapi mungkin terganggu (A.$%, 2""2). 1. Terapi ,ar!ak"l"gis /ntidepresan yang tersedia sekarang cukup ber*ariasi di dalam efek farmakologisnya. Gariasi tersebut merupakan dasar untuk

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 23 RSPAD GATOT SOEBROTO

pengamatan bah-a pasien indi*idual mungkin berespons terhadap antidepresan lainnya. Gariasi tersebut juga merupakan dasar untuk membedakan efek samping yang terlihat pada antidepresan (Kaplan, 2"1"). ,embedaan yang paling dasar diantara antidepresan adalah pada proses farmakologis yang terjadi, dimana ada antidepresan yang memiliki efek farmakodinamika jangka pendek utamanya pada tempat ambilan kembali (reupta)e sites) atau pada tingkat inhibisi enCim monoamine oksidasi. bekerja untuk menormalkan neurotransmitter yang abnormal di otak khususnya epinefrin dan norepinefrin. /ntidepresan lain bekerja pada dopamin. %al ini sesuai dengan etiologi dari depresi yang kemungkinan diakibatkan dari abnormalitas dari sistem neurotransmitter di otak (A.$%, 2""2). Fbat antidepresan yang akan dibahas adalah antidepresi generasi pertama (4risiklik dan $/F.s), antidepresi golongan kedua (##7.s) dan antidepresi golongan ketiga (#7A.s) (/roCal, 2""=). a. 4risiklik 4risiklik merupakan antidepresan yang paling umum digunakan sebagai pengobatan lini pertama untuk gangguan depresif berat (Kaplan, 2"1"). (olongan trisiklik ini dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu trisiklik primer, tetrasiklik amin sekunder (nortriptyline, desipramine) dan tetrasiklik tersier (imipramine, amitriptlyne). Dari ketiga golongan obat tersebut, yang paling sering digunakan adalah tetrasiklik amin sekunder karena mempunyai efek samping yang lebih minimal. Fbat golongan tetrasiklik sering dipilih karena tingkat kepuasan klinisi dikarenakan harganya yang murah karena sebagian besar golongan dari obat ini tersedia dalam formulasi generik (Kaplan, 2"1"). (olongan obat trisiklik bekerja dengan menghambat reupta)e neurotransmitter di otak. #ecara biokimia, obat amin sekunder diduga bekerja sebagai penghambat reupta)e norepinefrin, sedangkan amin tersier menghambat reupta)e serotonin pada sinaps

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 24 RSPAD GATOT SOEBROTO

neuron.hal ini mempunyai implikasi bah-a depresi akibat kekurangan norepinefrin lebih responsi*e terhadap amin sekunder, sedangkan depresi akibat kekurangan serotonin akan lebih responsi*e terhadap amin tersier (/roCal, 2""=). b. $/F.s (Monoamine +,idase -nhibitors) $/F.s telah digunakan sebagai antidepresan sejak 1' tahun yang lalu. (olongan ini bekerja dalam proses penghambatan deaminasi oksidatif katekolamin di mitokondria, akibatnya kadar einefrin, noreprinefrin dan ' %4 dalam otak naik (/roCal, 2""=). Fbat ini sekarang jarang digunakan sebagai lini pertama dalam pengobatan depresi karena bersifat sangat toksik bagi tubuh. #elain karena dapat menyebabkan krisis hipertensif akibat interaksi dengan tiramin yang berasal dari makanan makanan tertentu seperti keju, anggur dan acar, $/F.s juga dapat menghambat enCim enCim di hati terutama sitokrom ,!'" yang akhirnya akan mengganggu metabolisme obat di hati. (Kaplan, 2"1"). c. ##7.s (Selecti%e Serotonin .eupta)e -nhibitors) ##7.s adalah jenis pengobatan yang juga menjadi pilihan lini pertama pada gangguan depresif berat seain golongan trisiklik (Kaplan, 2"1"). Fbat golongan ini mencakup fluo?etine, citalopram dan setraline. ##7.s sering dipilih oleh klinisi yang pengalamannya mendukung data penelitian bah-a ##7.s sama manjurnya dengan trisiklik dan jauh lebih baik ditoleransi oleh tubuh karena mempunyai efek samping yang cukup minimal karena kurang memperlihatkan dan berbahaya pengaruh terhadap sistem .nteraksi kolinergik, adrenergik histaminergik.

farmakodinamik yang

akan terjadi bila ##7.s

dikombinasikan dengan $/F.s, karena akan terjadi peningkatan efek serotonin secara berlebihan yang disebut sindrom serotonin

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 25 RSPAD GATOT SOEBROTO

dengan gejala hipertermia, kejang, kolaps kardio*askular dan gangguan tanda *ital (/roCal, 2""=). d. #A7.s (Serotonin and Norepinephrine -nhibitors ) (olongan antidepresan #A7.s bekerja dengan mekanisme yang hampir sama dengan golongan ##7.s, hanya saja pada #A7.s juga menghambat dari reupta)e norepinefrin (A.$%, 2""2). #elain dari golongan obat yang telah dibahas sebelumnya, masih ada beberapa alternatif yang digunakan untuk terapi medikamentosa pada pasien depresi dengan keadaan tertentu. %al tersebut dapat terlihat lebih jelas pada gambar di ba-ah ini ($ann, 2""').

(ambar 2.1.1".1 ,ilihan obat obatan antidepresan pada lini pertama e. 4erapi Aon )armakologis 4iga jenis psikoterapi jangka pendek yang digunakan dalam pengobatan depresif berat adalah terapi kognitif, terapi

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 26 RSPAD GATOT SOEBROTO

interpersonal dan terapi perilaku (Kaplan, 2"1"). A.$% (2""2) telah menemukan predictor respons terhadap berbagai pengobatan sebagai berikut ini 8 (1) disfungsi sosial yang rendah menyatakan respons yang baik terhadap terapi interpersonal, (2) disfungsi kognitif yang rendah menyatakan respons yang baik terhadap terapi kognitif perilaku dan farmakoterapi, (2) disfungsi kerja yang tinggi mengarahkan respons yang baik terhadap farmakoterapi, (!) keparahan depresi yang tinggi menyatakan respons yang baik terhadap terapi interpersonal dan farmakoterapi. ,ada a-alnya, terapi ini dikembangkan oleh /aron ;eck yang memusatkan pada distorsi kognitif yang didalilkan ada pada gangguan depresi berat. 4ujuan terapi ini untuk menghilangkan episode depresif dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif (Kaplan, 2"1"). 4erapi interpersonal dikembangkan oleh (erald Klerman, memusatkan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien yang sedang dialami sekarang, dengan menggunakan dua anggapan8 pertama, masalah interpersonal sekarang kemungkinan memiliki akar pada hubungan a-al yang disfungsional. Kedua, masalah interpersonal sekarang kemungkinan terlibat di dalam mencetuskan atau memperberat gejala depresif sekarang (Kaplan, 2"1").

2.1.1- Pr"gn"sis (angguan mood cenderung memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan pasien cenderung mengalami kekambuhan. 9pisode depresif yang tidak diobati berlangsung < sampai 12 bulan, sementara sebagian besar episode yang diobati berlangsung kira kira 2 bulan. $enghentikan antidepresan sebelum 2 bulan hampir selalu menyebabkan kembalinya gejala (Kaplan, 2"1"). ,asien yang dira-at di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif berat memiliki kemungkinan '"+ untuk pulih dalam

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 27 RSPAD GATOT SOEBROTO

tahun pertama. ;anyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi indikator prognostik yang baik dan buruk di dalam perjalanan gangguan depresif berat. 9pisode ringan, tidak adanya gejala psikotik, fungsi keluarga yang stabil, tidak adanya gangguan kepribadian, tinggal dalam -aktu singkat di rumah sakit dalam -aktu yang singkat, dan tidak lebih dari satu kali pera-atan di rumah sakit adalah indikator prognostik yang baik. ,rognosis buruk dapat meningkat oleh adanya penyerta gangguan distimik, penyalahgunaan alkohol dan Cat lain, gejala gangguan kecemasan, dan ri-ayat lebih dari satu episode sebelumnya. (Kaplan, 2"1").

2.2 Depresi Berat Dengan &e'ala Psik"tik 2.2.1 Definisi Depresi berat dengan gejala psikotik adalah Depresi berat dengan gejala psikotik adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah akti*itas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas berakti*itas dan biasanya menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, perkerjaan rumah dan urusan rumah tangga, gangguan pola tidur dan terdapat -aham dan halunsinasi atau stupor depresi. 2.2.2 Kriteria Diagn"stik a. Kriteria depresi berat dengan gejal psikotik menurut D#$ .G 8 1. $ood menurun hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang ditunjukkan baik melalui laporan subjektif (perasaan sedih atau kosong), atau pengamatan orang lain (tampak bersedih) 2. $enurunnya minat atau kesenangan yang nyata pada semua atau hampir semua akti*itas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari. 2. ,enurunan berat badan yang bermakna -alaupun tidak diet atau berat badan bertamba%.

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 28 RSPAD GATOT SOEBROTO

!. .nsomnia atau hipersomnia hampir setiap hari '. /gitasi atau retardasi psikomotor atau kegelisahan hampir setiap hari <. >elah atau hilang energi hampir setiap hari =. ,erasaan tidak berarti atau rasa bersalah yang tidak sesuai atau berlebihan &. $enurunnya kemampuan berpikir atau konsentrasi, ataun keragu raguan hampir setiap hari 9. ,ikiran berulang mengenai kematian, upaya melakukan bunuh diri. 1". @aham dan halusinasi. a. Eiri psikotik kongruen mood 8 -aham dan halusinasi yang seluruh isinya konsisten dengan depresif yang khas yaitu ketidakmampuan pribadi, rasa bersalah, kematian. b. Eiri psikotik tidak kongruen mood 8 @aham dan halusinasi yang isinya tidak meliputi depresif khas yaitu ketidakmampuan pribadi, rasa bersalah, kematian. @aham yang termasuk adalah gejala seperti -aham kejar, insersi pikiran, siar pikiran dan -aham kendali. >ima atau lebih gejala5 kriteria diatas telah ada selama periode -aktu 2 minggu dan menunjukan perubahan fungsi sebelumnya. #etidaknya 1 gejala mood menurun atau 2 gejala kehilangan minat atau kesenangan. b. Kriteria depresi berat dengan gejal psikotik menurut D#$ .G 1. Konsentrasi dan perhatian berkurang 2. %arga diri dan kepercayaan diri berkurang 2. (agasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna !. ,andangan masa depan yang suram dan pesimistis

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 29 RSPAD GATOT SOEBROTO

'. (agasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri <. 4idur terganggu =. Aafsu makan berkurang &. biasanya menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, perkerjaan rumah dan urusan rumah 9. -aham dan halunsinasi atau stupor depresi, @ahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung ja-ab atas hal itu. %alusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging membusuk. 7etardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. 6ika diperlukan, -aham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 30 RSPAD GATOT SOEBROTO

BAB III PENUTUP 3.1 Kesi!p*lan Depresi a ala. s*at* k"n isi /ang le0i. ari s*at* kea aan se i.1

0ila k"n isi epresi sese"rang sa!pai !en/e0a0kan tergangg*n/a akti2itas s"sial se.ari3.arin/a !aka .al it* ise0*t se0agai s*at* &angg*an Depresi. Be0erapa ge'ala &angg*an Depresi 0erat engan ge'ala psik"tik a ala. perasaan se i.1 rasa lela. /ang 0erle0i.an setela. akti2itas r*tin /ang 0iasa1 .ilang !inat an se!angat1 !alas 0erakti2itas1 an gangg*an p"la ti *r an ter apat 4a.a! an .al*sinasi ata* st*p"r epresi. Depresi sering !er*pakan sala. sat* pen/e0a0 *ta!a ke'a ian 0*n*. iri. 4erapi yang diberikan yaitu )armakologi dan psikoterapi atau konseling. Dukungan dari orang orang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan.

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 31 RSPAD GATOT SOEBROTO

DA,TA5 PUSTAKA

/roCal @, (an #. ,sikotropik dalam )armakologi dan 4erapi edisi '. 6akarta 8 )KB., 2""=. ..$ .ngram. dkk. 1992. Eatatan kuliah ,sikiatri. 6akarta8 buku kedokteran 9(E Kaplan and #addock. Synopsis of Psychiatry. =th ed. Gol 1. #ans 4ache. Ae:ork, 1992. Kaplan and #addock. #omprehensi%e /e,tboo) +f Psychiatry. =th 9d. >ippincott @iliams /nd @ilkins. ,hiladelphia, 2"1". $aslim, 7usdi. Diagnosis (angguan 6i-a, 7ujukan 7ingkasan ,,D(6 ... 0(angguan Depresi1. ,4 Auh 6aya. 6akarta, 2""1. $aslim, 7usdi. ,anduan ,raktis pengguaan klinis obat psikotropik edisi ketiga. 6akarta82""2

Kepaniteraan Klinik Psikiatri 32 RSPAD GATOT SOEBROTO