Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Bola Mata terdiri atas dinding bola mata dan isi bola mata, dimana dinding bola mata terdiri atas sclera dan kornea sedangkan isi bola mata terdiri atas lensa, uvea, badan kaca dan retina. Uvea merupakan lapisan dinding kedua dari bola mata setelah sclera dan tenon. Uvea merupakan jaringan lunak, terdiri dari iris, badan siliar dan koroid.7 Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris,korpus siliaris,dan koroid) dengan berbagai penyebabnya. truktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya juga ikut mengalami inflamasi. !eradangan pada uvea dapat hanya mengenai bagian depan jaringan uvea atau iris yang disebut iritis. Bila mengenai badan tengah disebut siklitis. "ritis dengan siklitis disebut iridosiklitis atau disebut juga dengan uveitis anterior dan merupakan bentuk uveitis tersering. #an bila mengenai lapisan koroid disebut uveitis posterior atau koroiditis.$,% Uveitis umumnya unilateral, biasanya terjadi pada de&asa muda dan usia pertengahan. #itandai adanya ri&ayat sakit, fotofobia, dan penglihatan yang kabur, mata merah tanpa sekret mata purulen dan pupil kecil atau ireguler. Berdasarkan reaksi radang, uveitis anterior dibedakan tipe granulomatosa dan non granulomatosa. !enyebab uveitis anterior dapat bersifat eksogen dan endogen. !enyebab uveitis anterior meliputi infeksi, proses autoimun, yang berhubungan dengan penyakit sistemik, neoplastik dan idiopatik.$ !ola penyebab uveitis anterior terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknik pemeriksaan laboratorium sebagai sarana penunjang diagnostik. 'ebih dari 7() uveitis endogen tidak diketahui penyebabnya, namun *7) kasus di antaranya ternyata merupakan reaksi imunologik yang berkaitan dengan penyakit sistemik. !enyakit sistemik yang berhubungan dengan uveitis anterior meliputi spondilitis ankilosa, sindroma +eiter, artritis

psoriatika, penyakit ,rohn, kolitis ulserativa, dan penyakit -hipple. .eterkaitan antara uveitis anterior dengan spondilitis ankilosa pada pasiendengan predisposisi genetik /'01B%7 positif pertama kali dilaporkan oleh Bre&erton et al.$,% "nsidensi uveitis sekitar $( per $22.222 orang. ekitar 7() merupakan uveitisanterior. ekitar (2) pasien dengan uveitis menderita penyakit sistemik terkait. #i 0merika erikat, uveitis merupakan penyebab kebutaan nomor tiga setelah +etinopati #iabetik dan #egenerasi Macular. Umur penderita biasanya bervariasi antara usia prepubertal sampai (2 tahun. $,* 3ariasi gejala sering dijumpai, hal ini berhubungan dengan faktor penyebabnya dan dimana kelainan itu terjadi, biasanya pasien datang mengeluh nyeri ocular, fotofobia, penglihatan kabur, dan mata merah. !ada pemeriksaan didapatkan tajam penglihatan menurun, terdapat injeksi siliar, Keratic Presipitate (.!), flare, hipopion, sinekia posterior, tekanan intraokuler bisa meningkat hingga sampai edema macular.$,%,*

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI FISIOLOGI Uvea terdiri dari iris, badan siliaris (corpus siliaria) dan koroid. Bagian ini adalah lapisan vascular tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera. Bagian ini juga ikut memasok darah ke retina. "ris dan badan siliaris disebut juga uvea anterior sedangkan koroid disebut uvea posterior.4,7 "ris adalah lanjutan dari badan siliar ke anterior dan merupakan diafragma yangmembagi bola mata menjadi % segmen, yaitu segmen anterior dan segmen posterior, ditengah1tengahnya berlubang yang disebut pupil. "ris membagi bilik mata depan (camera oculi anterior ) dan bilik mata posterior (camera oculi posterior ). "ris mempunyai kemampuan mengatur secara otomatis masuknya sinar ke dalam bola mata.(,4 ecara histologis iris terdiri dari stroma yang jarang diantaranya terdapat lekukan1lekukan dipermukaan anterior yang berjalan radier yang dinamakan kripta. #idalamstroma terdapat sel1sel pigmen yang bercabang, banyak pembuluh darah dan saraf. el1sel radang yang terdiri dari limfosit, makrofag, sel plasma dapat membentuk .! yaitu sel1sel radang yang menempel pada permukaan endotel kornea. 0kumulasi sel1sel radang dapat pula terjadi pada tepi pupil disebut koeppe nodules, bila dipermukaan iris disebut busacca nodules, yang bisa ditemukan juga pada permukaan lensa dan sudut bilik mata depan. !ada iridosiklitis yang berat sel radang dapat sedemikian banyak sehingga menimbulkan hipopion.%,5 6tot sfingter pupil mendapat rangsangan karena radang, dan pupil akan miosisdan dengan adanya timbunan fibrin serta sel1sel radang dapat terjadi seklusio maupun oklusio pupil, sehingga cairan di dalam kamera okuli posterior tidak dapat mengalir sama sekali mengakibatkan tekanan dalam dalam camera okuli posterior lebih besar dari tekanan dalam camera okuli anterior sehingga iris tampak menggelembung kedepan yang disebut iris bombe (Bombans).%,5

7angguan pada humor akuos terjadi akibat hipofungsi badan siliar menyebabkan tekanan bola mata turun. 0danya eksudat protein, fibrin dan sel1sel radang dapatberkumpul di sudut camera okuli anterior sehingga terjadi penutupan kanal schlemm sehingga terjadi glukoma sekunder.!ada fase akut terjadi glaucoma sekunder karena gumpalan 8 gumpalan pada sudut bilik depan,sedang pada fase lanjut glaucoma sekunder terjadi karena adanya seklusio pupil.9aik turunnya bola mata disebutkan pula sebagai peran asetilkolin dan prostaglandin.%,5

7ambar %.$ 0natomi Mata #ipermukaan anterior ditutup oleh endotel terkecuali pada kripta, dimana pembuluh darah dalam stroma, dapat berhubungan langsung dengan cairan dicamera oculi anterior, yang memungkinkan percepatan terjadinya pengaliran nutrisi ke coa dan sebaliknya. #ibagian posterior dilapisi dengan % lapisan epitel, yang merupakan lanjutan dari epitel pigmen retina, &arna iris tergantung dari sel1 sel pigmen yang bercabang yang terdapat di dalam stroma yang banyaknya dapat berubah1ubah, sedangkan epitel pigmen jumlahnya tetap.4 #idalam iris terdapat otot sfingter pupil ( M.Sphincter pupillae), yang berjalan sirkuler, letaknya didalam sroma dekat pupil dan dipersarafi oleh saaraf parasimpatis, 9 """. elain itu juga terdapat otot dilatator pupil ( M. Dilatator pupillae), yang berjalan radier dari akar iris ke pupil, letaknya di bagian posterior stroma dan diurus saraf simpatis. (,4,7

!asokan darah ke iris adalah dari circulus major iris, kapiler1kapiler iris mempunyai lapisan endotel yang tidak berlobang. !ersarafan iris adalah melalui serat1serat didalam nervi siliaris. 7 Badan Siliar (Corpus Ciliaris) berbentuk segitiga, terdiri dari % bagian yaitu: pars korona, yang anterior bergerigi, panjangnya kira1kira %mm dan pars plana, yang postrior tidak bergerigi panjangnya kira1kira ; mm. Badan siliaris berfungsi sebagai pembentuk humor a<uous. Badan siliar merupakan bagian terlemah dari mata. =rauma, peradangan, neoplasma didaerah ini merupakan keadaan yang ga&at. (

Gambar 2. Sirkulasi Humour Aquous !ada bagian pars korona diliputi oleh % lapisan epitel sebagai kelanjutan dari epitel iris. Bagian yang menonjol (processus ciliaris) ber&arna putih oleh karena tidak mengandung pigmen, sedangkan di lekukannya ber&arna hitam, karena mengandung pigmen. #idalam badan siliaris terdapat * macam otot silier yang berjalan radier, sirkuler dan longitudinal. #ari processus siliar keluar serat1 serat >onula >inii yang merupakn penggantung lensa. ?ungsi otot siliar untuk akomodasi. kontraksi atau relaksasi otot1otot ini mengakibatkan kontraksi dan relaksasi dari kapsula lentis, sehingga lensa menjadi lebih atau kurang cembung yang berguna pada penglihatan dekat atau jauh. Badan siliar banyak mengandung pembuluh darah dimana pembuluh darah baliknya mengalirkan darah ke V.vortikosa. !ada bagian pars plana, terdiri dari satu lapisan tipis jaringan otot dengan pembuluh darah diliputi epitel. 4,7

2.2 PATOFISIOLOGI !eradangan uvea biasanya unilateral, dapat disebabkan oleh defek langsung suatu infeksi atau merupakan fenomena alergi. "nfeksi piogenik biasanya mengikuti suatu trauma tembus okuli@ &alaupun kadang1kadang dapat juga terjadi sebagai reaksi terhadap >at toksik yang diproduksi mikroba yang menginfeksi jaringan tubuh di luar mata. Uveitis yang berhubungan dengan mekanisme alergi merupakan reaksi hipersensitifitas terhadap antigen dari luar (anti en ekso en) atau antigen dari dalam badan (anti en en!o en).#alam banyak hal antigen luar berasal dari mikroba yang infeksius . ehubungan dengan hal ini peradangan uvea terjadi lama setelah proses infeksinya yaitu setelah munculnya mekanisme hipersensitivitas. %,5 +adang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya "loo! Aqueous "arrrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel1sel radang dalam humor akuos yang tampak pada slitlamp sebagai berkas sinar yang disebuit #ler (aqueous #lare). ?ibrin dimaksudkan untuk menghambat gerakan kuman, akan tetapi justru mengakibatkan perlekatan1perlekatan, misalnya perlekatan iris pada permukaan lensa (sinekia posterior). %,5

Gambar $. %vea el1sel radang yang terdiri dari limfosit, makrofag, sel plasma dapat membentuk presipitat keratik yaitu sel1sel radang yang menempel pada permukaan endotel kornea. 0kumulasi sel1sel radang dapat pula terjadi pada tepi pupil disebutkoeppe no!ules, bila dipermukaan iris disebut busacca no!ules, yang

bisa ditemukan juga pada permukaan lensa dan sudut bilik mata depan. !ada iridosiklitis yang berat sel radang dapat sedemikian banyak sehingga menimbulkan hipopion.%,5 6tot sfingter pupil mendapat rangsangan karena radang, dan pupil akan miosis dan dengan adanya timbunan fibrin serta sel1sel radang dapat terjadi seklusio maupun oklusio pupil, sehingga cairan di dalam kamera okuli posterior tidak dapat mengalir sama sekali mengakibatkan tekanan dalam dalam camera okuli posterior lebih besar dari tekanan dalam camera okuli anterior sehingga iris tampak menggelembung kedepan yang disebut iris bombe ("ombans). %,5 7angguan pada humor akuos terjadi akibat hipofungsi badan siliar menyebabkan tekanan bola mata turun. 0danya eksudat protein, fibrin dan sel1sel radang dapat berkumpul di sudut camera okuli anterior sehingga terjadi penutupan kanal schlemm sehingga terjadi glukoma sekunder.!ada fase akut terjadi glaucoma sekunder karena gumpalan 8 gumpalan pada sudut bilik depan,sedang pada fase lanjut glaucoma sekunder terjadi karena adanya seklusio pupil.9aik turunnya bola mata disebutkan pula sebagai peran asetilkolin dan prostaglandin. %,5 2.3 DEFINISI Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris, korpus siliaris, dan koroid) dengan berbagai penyebabnya. truktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya juga ikut mengalami inflamasi. 2.4 ETIOLOGI Uveitis anterior merupakan peradangan iris dan badan siliar yang dapat berjalan akut maupun kronis. !enyebab dari iritis tidak dapat diketahui dengan melihat gambaran klinisnya saja. "ritis dan iridisiklitis dapat merupakan suatu manifestasi klinik reaksi imunologik terlambat, dini atau sel mediated terhadap jaringan uvea anterior. Uveitis anterior dapat disebabkan oleh gangguan sistemik di tempat lain, yang secara hematogen dapat menjalar ke mata atau timbul reaksi alergi mata.(

!enyebab

uveitis

anterior

diantaranya

yaitu:

idiopatik@

penyakit

sistemik yang berhubungan dengan /'01B%7 seperti, ankylosing spondilitis, sindrom +eiter, penyakit ,rohnAs, !soriasis, herpes >osterBherpes simpleks, sifilis, penyakit lyme, inflammatory bo&el disease, Cuvenile idiopathic arthritis, arcoidosis, trauma dan infeksi.$,*, ;,(,4 2.5 KLASIFIKASI U EITIS ANTE!IO! Berdasarkan patologi dapat dibedakan % jenis uveitis anterior, yaitu granulomatosa dan non granulomatosa. !ada jenis non granulomatosa umumnya tidak dapat ditemukan organisme patogen dan karena berespon baik terhadap terapi kortikosteroid diduga peradangan ini semacam fenomena hipersensitivitas. Uveitis ini timbul terutama dibagian anterior traktus yakni iris dan korpus siliaris. =erdapat reaksi radang dengan terlihatnya infiltrasi sel1sel limfosit dan sel plasma dalam jumlah cukup banyak dan sedikit sel mononuclear. !ada kasus berat dapat terbentuk bekuan fibrin besar atau hipopion didalam kamera okuli anterior. edangkan pada uveitis granulomatosa umumnya mengikuti invasi mikroba aktif ke jaringan oleh organisme penyebab (misal Mycobacterium tuberculosis atau =oDoplasma gondii). Meskipun begitu patogen ini jarang ditemukan dan diagnosis etiologi pasti jarang ditegakkan. Uveitis granulomatosa dapat mengenai traktus uvealis bagian manapun, namun lebih sering pada uvea posterior. =erdapat kelompok nodular sel1sel epithelial dan sel1sel raksasa yang dikelilingi limfosit di daerah yang terkena. #eposit radang pada permukaan posterior kornea terutama terdiri atas makrofag dan sel epiteloid. #iagnosis etiologi spesifik dapat ditegakkan secara histologik pada mata yang dikeluarkan dengan menemukan kista toDoplasma, basil tahan asam tuberculosis, spirocheta pada sifilis, tampilan granuloma khas pada sarcoidosis atau oftalmia simpatikadan beberapa penyebab spesifik lainnya.

=abel %.$ !erbedaan uveitis granulomatosa dan nongranulomatosa 6nset akit ?otofobia !englihatan kabur Merah sirkumkorneal !erisipitat keratik !upil ynechia posterior 9odul iris =empat !erjalanan +ekurens 9on granulomatosa 0kut 9yata 9yata edang 9yata !utih halus .ecil dan tak teratur .adang1kadang .adang1kadang Uvea anterior 0kut ering 7ranulomatosa =ersembunyi =idak ada atau ringan +ingan 9yata +ingan .elabu besar .ecil dan tak teratur (bervariasi) .adang1kadang .adang1kadang Uvea anterior dan

posterior Menahun .adang1kadang

edangkan berdasarkan &aktu uveitis anterior dikatakan akut jika terjadi kurang dari 4 minggu, jika inflamasi kambuh diikuti dengan serangan inisial disebut rekuren akut dan dikatakan sebagai kronik jika lebih dari 4 minggu. Beberapa keadaan yang menyebabkan tanda dan gejala yang berhubungan denganuveitis anterior akut, yaitu: $. =raumatic 0nterior Uveitis =rauma merupakan salah satu penyebab Uveitis 0nterior, biasanya terdapat ri&ayat truma tumpul mata atau adneksa mata. 'uka lain seperti luka bakar pada mata, benda asing, atau abrasi kornea dapat menyebabkan terjadinya Uveitis 0nterior. 3isual a<uity dan tekanan intraocular mungkin terpengaruh, dan mungkin juga terdapat darah pada anterior chamber.E

%. "diopathic 0nterior Uveitis "stilah idiopatik dipergunakan pada Uveitis 0nterior dengan etiologi yang tidak diketahui apakah merupakan kelainan sistemik atau traumatic. #iagnosis ini ditegakan sesudah menyingkirkan penyebab lain dengan anamnesis dan pemeriksaan.E

10

*. /'01B%7 0ssociated Uveitis /'01B%7 mengacu pada spesifik genotype atau chromosome. Mekanisme pencetus untuk Uveitis 0nterior pada pasien dengan genotype seperti ini tidak diketahui. 0da hubungan yang kuat dengan ankylosing spondylitis, sindrom +eiter,inflamatory bo&el disease, psoariasis, arthritis, dan Uveitis 0nterior yang berulang.E ;. BehcetAs #iseasesBsyndrome ebagian besar menyerang laki1laki de&asa muda dari bangsa mediterania atau Cepang. =erdapat trias penyakit Behcets, yaitu akut Uveitis 0nterior dan ulkus pada mulut dan genital. !enyakit behcet yang menyebabkan Uveitis 0nterior akut adalah sangat langka.E (. 'ens 0ssociated 0nterior Uveitis 0da beberapa keadaan yang ditemukan pada peradangan anterior chamber dan penyebab yang disebabkan oleh keadaan lensa, yaitu : phaco&anaph'lactic en!ophthalmitis dan phaco enic (fakotoksik) uveitis@ phacol'tic laukoma@ dan %GH s'n!rome ( Uveitis, 7laukoma dan /ifema).E 4. Mas<uerade syndrome Merupakan keadaan yang mengancam, seperti lymphoma, leukemia, retinoblastoma, dan malignant melanoma dari choroid, dapat menimbulkan Uveitis 0nterior.E Beberapa keadaan yang dapat menghasilkan tanda dan gejala yang terdapat pada diagnosis Uveitis 0nterior kronik adalah: Cuvenile +heumatoid 0rthritis

0nterior Uveitis terjadi pada penderita C+0 yang mengenai beberapa persendian. .arena kebanyakan dari pasien C+0 adalah positif dengan test 090 (0nti 9uklear 0ntibody ), yang merupakan pemeriksaan adjuvant . C+0 lebih banyak mengenai anak perempuan dibanding anak laki1laki. Merupakan suatu anjuran pada semua anak yang menderita C+0 untuk diperiksa kemungkinan terdapatnya Uveitis 0nterior.E 0nterior Uveitis 0ssociated &ith !rimary !osterior Uveitis

11

!enyakit sistemik, seperti sarcoidosis, toksoplamosis, sipilis, tuberculosis, herpes>oster, cytomegalovirus, dan 0"# ?uchAs /eterochromatic "ridocyclitis mungkin saja terlibat dalam Uveitis 0nterior baik primer ataupun sekunder dari uveitis posterior.E

Merupakan suatu penyakit kronik, biasanya asimptomatik, terdapat %) pasien Uveitis 0nterior.E 2." MANIFESTASI KLINIS .eluhan subyektif yang menyertai uveitis anterior adalah nyeri , terutama dibulbus okuli, sakitnya spontan atau pada penekanan di daerah badan siliar, sakit kepala dikening yang menjalar ke temporal, fotofobia, bervariasi dan dapat demikian hebat padauveitis anterior akut, lakrimasi yang terjadi biasanya sebanding dengan derajat fotofobia,gangguan visus dan bersifat unilateral.% .eluhan obyektif 2.# DIAGNOSIS BANDING #iagnosis banding uveitis anterior adalah konjungtivitis, .eratitis atau keratokonjungtivitis dan 7lukoma akut. !ada konjungtivitis penglihatan tidak kabur, respon pupil normal, dan umumnya tidak ada rasa sakit, fotofobia, atau injeksi siliar.!ada keratitis atau keratokonjungtivitis, penglihatan dapat kabur dan ada rasa sakit dan fotofobia. Beberapa penyebab keratitis seperti herpes simplek dan >oster dapat mengenai uveitis anterior sebenarnya. !ada glaucoma akut, pupil melebar, tidak ada synekia posterior, dan korneanya FberuapG.7

2.# KOMPLIKASI !ada uveitis anterior dapat terjadi komplikasi berupa katarak, retinitis proliferans, ablasi retina, glukoma sekunder yang dapat terjadi pada stadium dini dan stadium lanjut, pada uveitis anterior dengan visus yang sangat turun, sangat mungkin disertai penyulit edema macula kistoid.7,5

12

2.$ PENATALAKSANAAN !enatalaksanan yang utama untuk uveitis tergantung pada keparahannnya dan bagian organ yang terkena. Baik pengobatan topical atau oral adalah ditujuan untuk mengurangi peradangan.$% =ujuan dari pengobatan uveitis anterior adalah memperbaiki visual acuit', meredakan nyeri pada ocular, menghilangkan inflamasi ocular atau mengetahui asal dari peradangannya, mencegah terjadinya sinekia, dan mengatur tekanan intraocular.$* !engobatan uveitis anterior adalah tidak spesifik, pada umumnya menggunakan kortikosteroid topical dan cycloplegics agent . 0dakalanya steroid atau nonsteroi!al anti&in#lammator' ( 9 0"#s) oral dipergunakan. 9amun obat1obatan steroid dan imunosupresan lainnya mempunyai efek samping yang serius, seperti gagal ginjal, peningkatan kadar gula darah, hipertensi, osteoporosis, dan glaukoma, khususnya pada steroid dalam bentuk pil.$* K%r&i'%(&)r%id .ortikosteroid topikal adalah terapi a&al dan secepatnya diberikan.5 =ujuan penggunaan kortikosteroid untuk pengobatan uveitis anterior adalah mengurangi peradangan, yaitu mengurangi produksi eksudat, menstabilkan membran sel, menghambat penglepasan lyso>ym oleh granulosit, dan menekan sirkulasi limfosit.E Hfek terapeutik kortikosteroid topikal pada mata dipengaruhi oleh sifat kornea sebagai sa&ar terhadap penetrasi obat topikal ke dalam mata, sehingga daya tembus obat topikal akan tergantung pada konsentrasi dan frekuensi pemberian, jenis kortikosteroid, jenis pelarut yang dipakai, bentuk larutan.$( .onsentrasi dan frekuensi pemberian, makin tinggi konsentrasi obat dan makin sering frekuensi pemakaiannya, maka makin tinggi pula efek anti1 inflamasinya. !eradangan pada kornea bagian dalam dan uveitis diberikan preparat deDametason, betametason dan prednisolon karena penetrasi intra okular baik, sedangkan preparat medryson, fluorometolon dan hidrokortison

13

hanya dipakai pada peradangan pada palpebra, konjungtiva dan kornea superfisial.$( .ornea terdiri dari * lapisan yang berperan pada penetrasi obat topikal mata yaitu, epitel yang terdiri dari ( lapis sel, stroma, endotel yang terdiri dari selapis sel. 'apisan epitel dan endotel lebih mudah ditembus oleh obat yang mudah larut dalam lemak sedangkan stroma akan lebih mudah ditembus oleh obat yang larut dalam air. Maka secara ideal obat dengan daya tembus kornea yang baik harus dapat larut dalam lemak maupun air (biphasic). 6bat1obat kortikosteroid topikal dalam larutan alkohol dan asetat bersifat biphasic.$( .ortikosteroid tetes mata dapat berbentuk solutio dan suspensi. .euntungan bentuk suspensi adalah penetrasi intra okular lebih baik daripada bentuk solutio karena bersifat bifasik, tapi kerugiannya bentuk suspensi ini memerlukan pengocokan terlebih dahulu sebelum dipakai. !emakaian steroid tetes mata akan mengakibatkan komplikasi seperti glaukoma, katarak, penebalan kornea, aktivasi infeksi, midriasis pupil, pseudoptosis dan lain1lain.$( Beberapa kortikosteroid topikal yang tersedia adalah pre!nisolone acetate 2,$%() dan $), pre!nisolone so!ium phospate 2,$%() , 2,(), dan $), deksamentason alkohol 2,$), !e(amethasone so!ium phospate 2,$), #luoromethasone 2,$) dan 2,%(), dan me!r'sone $).$% *+,l%-l).i,( dan /+dria&i,( emua agent cycloplegic adalah cholinergic antagonist yang bekerja memblokade neurotransmitter pada bagian reseptor dari sphincter iris dan otot ciliaris. ,ycloplegic mempunyai tiga tujuan dalam pengobatan uveitis anterior, yaitu untuk mengurangi nyeri dengan memobilisasi iris, mencegah terjadinya perlengketan iris dengan lensa anterior (sinekia posterior), yang akan mengarahkan terjadinya iris bombe dan peningkatantekanan intraocular,

menstabilkan blood1a<ueous barrier dan mencegah terjadinya protein leaka e (#lare) yang lebih jauh. 0gen c'clople ics yang biasa dipergunakan adalah atropine 2,(), $), %), homatropine %), (), Scopolamine 2,%(), dan c'clopentolate 2,(), $), dan %).E

14

Oral (&)r%id dan N%n(&)r%idal An&i In0la//a&%r+ Dr1.( !rednisone oral dipergunakan pada uveitis anterior yang dengan penggunaan steroid topikal hanya berespon sedikit. !enghambat prostaglandin, 9 0"#s (biasanya aspirin dan ibuprofen) dapat mengurangi peradangan yang terjadi. anterior.E !engobatan kortikosteroid bertujuan mengurangi cacat akibat peradangan dan perpanjangan periode remisi. Banyak dipakai preparat prednison dengan dosis a&al antara $% mgBkg BBBhari, yang selanjutnya diturunkan perlahan selang sehari (alternatin sin le !ose). #osis prednison diturunkan sebesar %2) dosis a&al $ mgdari dosis a&al selama % minggu.E "ndikasi pemberian kortikosteroid sistemik adalah Uveitis posterior, Uveitis bilateral, Hdema macula, Uveitis anterior kronik (C+0, +eiter). !emakaian kortikosteroid dalam jangka &aktu yang lama akan terjadi efek samping yang tidak diinginkan seperti dan lain1lain.E P)n.%2a&an lainn+a Cika pasien tidak koperatif atau iritis tidak berespon banyak dengan penggunaan topical steroid, injects subkonjuctival steroid ( seperti celestone) akan berguna. #epot steroid seharusnya dihindari pada kasus uveitis sekunder, seperti yang diakibatkan oleh herpes atau toksoplasmosis karena dapat memperparah. 5 "njeksi peri1okular dapat diberikan dalam bentuk long acting berupa #epo maupun bentuk short acting berupa solutio. .euntungan injeksi periokular indrom ,ushing, hipertensi, #iabetes mellitus, osteoporosis, tukak lambung, infeksi, hambatan pertumbuhan anak, hirsutisme, selama % minggu pengobatan, sedangkan preparat prednison dan deDametaDon dosis diturunkan tiap ebagai catatan, 9 0"#s dipergunakan untuk mengurang peradangan yang dihubungkan dengan cystoids macular edema yang menyertai uveitis

15

adalahdicapainya efek anti peradangan secara maksimal di mata dengan efek samping sistemik yang minimal. "ndikasi injeksi periokular adalah apabila pasien tidak responsif terhadap pengobatan tetes mata, maka injeksi periokular dapat dianjurkan, Uveitis unilateral, preoperasi pada pasien yang akan dilakukan operasi mata, anak1anak, dan komplikasi edema sistoid makula pada pars planitis. !enyuntikan steroid peri1okular merupakan kontraindikasi pada uveitis infeksi (toDoplasmosis) dan skleritis.$( 'okasi injeksi peri1okular sub1konjuctiva dan sub1tenon, serta "njeksi sub1 tenon posterior dan retro1bulbar. .euntungan injeksi sub1konjungtiva dan sub1 tenon adalah dapat mencapai dosis efektif dalam $ kali pemberian pada jaringan intraokular selama %; minggu sehingga tidak membutuhkan pemberian obat yang berkali1kali seperti pemberian topikal tetes mata. Untuk kasus uveitis anterior berat dapat dipakai deksametason %; mg. "njeksi sub1tenon posterior dan retro1 bulbar, cara ini dipergunakan pada peradangan segmen posterior (sklera, koroid, retina dan saraf optik).$( .omplikasi injeksi peri1okular adalah !erforasi bola mata, "njeksi yang berulang menyebabkan proptosis, fibrosis otot ektra okular dan katarak sub1 kapsular posterior,7laukoma yang persisten terhadap pengobatan, terutama dalam bentuk #epo di mana dibutuhkan tindakan bedah untuk mengangkat steroid tersebut dari bola mata, 0trofi lemak sub1dermal pada teknik injeksi via palpebra.$( ?ollo&1up a&al pasien uveitis anterior harus terjad&al antara $ 8 7 hari, tergantung pada keparahannya. Iang dinilai pada setiap #ollo)&up adalah visual acuit', pengukuran tekanan intraokular, pemeriksaan dengan menggunakan slitlamp, assasment cel dan flare, dan evaluasi respon terhadap terapi.E 2.$ P!OGNOSIS .ebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika dapat didiagnosis secara a&al dan diberi pengobatan. uveitis anterior mungkin berulang, terutama jika ada penyebab sistemiknya. .arena baik para klinisi dan pasien harus lebih

16

&aspada terhadap tanda dan mengobati dengan segera. !rognosis visual pada iritis kebanyak akan pulih dengan baik, tanpa adanya katarak, glaucoma atau posterior uveitis.

17

BAB III KESIMPULAN Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris,korpus siliaris,dan koroid) dengan berbagai penyebab. truktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya juga ikut mengalami inflamasi. Uveitis anterior merupakan radang iris dan badan siliar bagian depan atau pars plikata, yang disebabkan oleh gangguan sistemik di tempat lain, yang secara hematogen dapat menjalar ke mata atau timbul karena reaksi alergi mata. Uveitis anterior dikatakan akut jika terjadi kurang dari 4 minggu dan dikatakan sebagai kronik jika lebih dari 4 minggu. 'aboratorium sangat dibutuhkan guna mendapat sedikit gambaran mengenai penyebab uveitis. !enatalaksanan yang utama untuk uveitis tergantung pada keparahannnya dan bagian organ yang terkena dan prognosis kebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika dapat didiagnosis secara a&al.

18

DAFTA! PUSTAKA

$. 7ondho&iardjo =#,

imanjuntak 7- . !anduan Manajemen .linis

!H+#0M". Cakarta: !! !H+#0M", %224. *;. %. -ebM#. "ritis and Uveitis %22(@ http:BB&&&.emedicine.com.
*.

chlaegel =?, !avan1'angston #. Uveal =ract: "ris, ,iliary Body, and ,horoid "n: !avan1'angston #, editors. Manual of 6cular #iagnosis and =herapy. %nd Hdition, Boston: 'ittle, Bro&n and ,ompany, $E52. $;*1$;;.

;. +ao 90, ?orster #C. Basic !rinciples "n: Berliner 9, editors. =he Uvea Uveitis and "ntraocular 9eoplasms 3olume %. 9e& Iork: 7o&er Medical !ublishing, $EE%. $.$ (. +o<ue M+. Uveitis %227@ http:BB&&&.uveitis.comBph.images.uveitisBjpgBfiles
4. +iordan1Hva !. 0natomy J Hmbryology of the Hye "n: +iordan1Hva !,

-hitcher C!, editors. 7eneral 6phthalmology $7th Hd. 'ondon: Mc7ra& /ill, %227.
7. .anski CC. +etinal 3ascular #isorders in ,linical 6phthalmology: 0

ystematic 0pproach. *rdHdition. 6Dford: Butter&orth1/einemann 'td, $EE;. $(%1%22. 5. Hl10srar 0M0, chemokines E. -ebM#. $2. ?oster truyf , 3an den Broeck ,, et al. 2**+. HDpression of gelatinase B in sympathetic 9ongranulomatous !lanitis ophthalmia. %22(@ %227. and

http:BB&&&.nature.comB...BfigKtabB472%*;%f$.html Uveitis, 0nterior, http:BB&&&.emedicine.com. , .!ars http:BB&&&.uveitis.orgBimagesBHye.kids.9H*.jpg.files