Anda di halaman 1dari 8

KEBENARAN SEBAGAI DASAR PENELITIAN

1. Latar Belakang Kebenaran

Perjalanan menuju pengetahuan yang sempurna dan kebenaran yang tinggi cukuppelik dan berliku. Tetapi sediki demi sedikit dengan susah payah, manusia berhasil menyingkap tabir yang gelap selama berabad abad. Sejarah peradaban manusia menunjukan adanya usaha yang tidak mngenal lelah. Pendorong ke arah itu adalah kodrat, manusia yang sifatnya selalu ingin tahu. Rasa ingin tahu dan daya nalar manusia yang menyebabkan orang bertanya-tanya; apakah yang menyebabkan kilat, mengapa terjadi gerhana matahari, bagaimana mengobati orang sakit paru-paru apakah yang terjadi di bulan, bagaimana kuman berkembang biak, bagaimana terjadinya proses belajar, air terbuat dari apa, dan seribu macam masalah lainnya. Rasa ingin tahu ini kemudian disalurkan melalui pnelitian; apa yang dewasa ini dianggap soal biasa atau semestinya; kemarin atau beberapa abad yang lalu masih merupakan rahasia yang banyak menimbulkan spekulasi. Telah sangat banyak rahasia alam yang menakjubkan yang diketahui oleh ilmu pengetahuan, dan diubah menjadi alat bagi ketinggian hidup manusia. Penelitian, cara yang dipakai untuk memecahkan masalah dalam ilmu, merupakan penyempurnaan cara-cara yang lebih dahulu dikenal manusia. Hanya dengan mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman selama perjalanan sejarah, manusia akhirnya menemukan jalan yang lebih banyak memberikan kepastian akan kebenaran hasilnya. Dengan perpaduan pemikiran dan pengalaman itu, memungkinkan manusia bergerak lebih jauh, luas, dan dalam. Sebagai hasil semua ini, peradaban manusia bergerak maju. Sebelum sampai pada tahap pemikiran ilmiah, manusia mencari kebenaran berdasarkan perkiraan ( cacing kremi berasal dari kelapa yang diparut ), gaib ( gelang akar batu memperkuat daya tahan dari tusukan senjata runcing). Akhirnya, muncul sistem penguraian sebab-akibat yang didasarkan atas sistem serba gaib yang sampai sekarang masih tersebar dimana-mana dengan takhayul atau kepercayaan. Dapat dikatakan bahwa pada orang-orang atau golongan tertentu, kepercayaan gaib masih tetap kokoh tumbuh dengan subur menjadi darah daging yang menguasai cara hidup mereka. Dalam keadaan serupa ini, ilmu pengetahuan masih sangat sulit mendapatkan tempat yang semestinya. Bukan saja karena cara berpikir serupa ini berlainan dengan cara berpikir ilmiah, tetapi juga cara berpikir tersebut menghambat atau mungkin berlawanan dengan cara bepikir ilmiah.

Tabel: Karakteristik Kebenaran Kebenaran Ilahiah Ilmiah Salah Sifat Mutlak Relatif Bohong Sumber Kitab suci Fakta/ data Tidak jelas Dasar Iman Logika Percaya

1.1 1)

Syarat Kebenaran Ilmiah Koherensi Sesuatu dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsistensi dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya, Si Badu akan mati dapat dipercaya karena pernyataan tersebut koheren dengan pernyataan bahwa semua orang akan mati. Kebenaran matematika, misalnya, didasarkan atas sifat koheren, karena dalil matematika disusun berdasarkan beberapa aksioma yang telah diketahui kebenarannya lebih dahulu. Dalam hal ini setiap penelitian (laporan) harus dilandasi dengan referensi (daftar pustaka). Korespondensi Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandungnya berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut atau sesuai dengan faktanya. Ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta adalah benar karena pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi dan fakta bahwa ibu kota negara Indonesia adalah Kuala Lumpur, orang tidak akan percaya karena tidak terdapat objek yang mempunyai korespondensi dengan pernyataan tersebut. Dalam hal penelitian (laporan) setiap kesimpulan harus didasarkan atas fakta/ data (analisis data). Pragmatis Pernyataan dianggap benar karena pernyataan itu mempunyai sifat pragmatis atau fungsional dalam kehidupan praktis, dapat dipraktikkan dan didayagunakan bagi kehidupan manusia di dunia. Dalam hal penelitian (laporan) didasarkan atas tujuan dan kegunaan.

2)

3)

1.1.2 Jalan Mencari Kebenaran 1) Penemuan kebenaran secara kebetulan Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain adalah takdir Allah. Walaupun tidak ditemukan secara ilmiah, banyak penemuan ini yang telah menggoncangkan dunia ilmu pengetahuan. Misalnya, penemuan kristal urease oleh Dr. JS Summer adalah secara kebetulan, di tahun 1926. Pada suatu hari summer sedang bekerja dengan ekstrak aseton, karena ia ingin bermain tenis, maka ekstrak aseton tersebut di simpannya di lemari es. Keesokan harinya, ketika ia akan meneruskan percobaannya dengan ekstrak aseton yang disimpannya di lemari es, dilihatnya telah timbul kristal-kristal baru pada ekstrak aseton tersebut. Kemudian ternyata kristal tersebut adalah enzime urease yang amat bermanfaat bagi manusia.

2)

Penemuan kebenaran melalui Trial and Error / Coba dan Ralat Bekerja secara coba dan ralat adalah melakukan suatu pekerjaan secara aktif dengan mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar cara dan materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang menemukan sesuatu. Bila di dalam percobaan pertama gagal, percobaan kedua dilakukan sudah atas pertimbangan gagalnya usaha pertama, melalui koreksi dan perbaikan. Penemuan yang tidak dikategorikan sebagai penemuan ilmiah ini memakan waktu lama dan biaya yang tinggi serta dalam keadaan meraba-raba. Penemuan kebenaran melalui Spekulasi Penemuan kebenaran melalui spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya daripada penemuan secara coba dan ralat. Dalam spekulasi seseorang dibimbing oleh suatu pertimbangan, walaupun kurang dipikirkan masak-masak tetapi dikerjakan dalam suasana yang penuh risiko. Penemuan dengan cara ini memerlukan pandangan yang tajam walaupun penuh spekulasi. Penemuan kebenaran yang memikul risiko untung rugi sama banyak ini tidak dianggap sebagai kebenaran ilmiah. Penemuan Kebenaran melalui Kewibawaan Kebenaran ini berasal dari pendapat orang-orang yang dianggap berwibawa, yaitu kebenaran berdasarkan penghormatan pada pendapat orang yang dianggap berwibawa. Sering orang tidak lagi berusaha menguji kebenaran pendapat ini, dan menerima pendapat tersebut sebagai kebenaran. Kewibawaan dapat dipakai sebagai dasar kebenaran jika dipikirkan kemungkinan adanya kesalahan bila diterima secara mutlak. Suatu pendapat otoritas yang dilancarkan atas pengamatan atau kesan saja dapat sebagai pegangan, tapi tidak dapat serta-merta dianggap sama dengan kebenaran. Masalah kewibawaan di dalam cara bekerja ilmiah sangat berbahaya sehingga harus hati-hati menghadapinya, salah satunya, siapa yang dipandang berwibawa? Pendapat dari seorang ilmuwan, politisi, atau lainnya yang dianggap berwibawa, akan dapat diterima jika pendapat tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang ilmiah. Dalam hal ini pendapatnya bukan lagi pendapat pribadi, tetapi pendapat yang didasari oleh penelitian ilmiah. Penemuan Kebenaran melalui Berpikir Kritis Keuntungan manusia yang paling besar ialah kemampuannya berpikir. Melalui ini, manusia dapat merangkum pengalaman dan fenomena dalam suatu rumusan untuk mencapai kebenaran. Kemampuan berpikir dan pengalaman tidak lain adalah berpikir logis. Berpikir logis bukanlah sepenuhnya merupakan cara-cara yang ilmiah karena logika dan pengalaman manusia yang digunakan untuk menemukan kebenaran tidak dalam konsep yang sama. Berpikir kritis oleh Francis Bacon direalisasikan dalam berpikir deduktif dan oleh Aristoteles diwujudkan dalam berpikir induktif. Keduanya dipertentangkan selama berabad-abad, sampai muncul teori evolusi oleh Darwin yang memadukan kedua cara tersebut. Hal ini membuktikan bahwa berpikir kritis atau berdasarkan pengalaman tidaklah tanpa guna. Hasil yang memuaskan tergantung dari dua hal, yaitu kemampuan berpikir dan jenis pengalaman. Dapat dikatakan bahwa dari sini lah bermula metoda penelitian karena manusia mulai mencari jalan sebaikbaiknya untuk mencapai tujuan.

3)

4)

5)

6)

Penemuan Kebenaran melalui Penelitian Ilmiah Cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah ialah melalui metode penelitian. Metode penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan. Penyaluran sampai setaraf ini disertai oleh gejala yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah. Sebab-akibat bukanlah masalah gaib, bukan permainan kira-kira, bukan pula yang diterima atas dasar otoritas. Dengan sikap ini manusia telah berhasil menerangkan berbagai gejala yang menampak dan menunjukan sebab-musabab yang sebenarnya dari satu atau serentetan akibat. Sejalan dengan sikap itu, maka metode penelitian ilmiah hanya akan menarik dan membenarkan suatu kesimpulan apabila telah dibentengi dengan bukti-bukti yang meyakinkan yang dikumpulkan melalui prosedur yang sistematis, jelas, dan terkontrol. Landasan sekaligus tujuan kegiatan ini adalah teori. Teori adalah serangkaian pengertian yang menjadi satu kebulatan sitematis yang diperlukan dalam memahami dan meramalkan fenomena yang menjadi persoalan. Penelitian ilmiah berusaha mengemukakan perumusan tentang berbagai pengertian satu sama lain saling bersangkut-paut. Setiap pengertian berhubungan dengan fenomena yang akan diteliti. Dengan jalan menunjukkan hubungan penegrtian/ variabel yang satu dengan pengertian/ variabel yang lain, maka penelitian berusaha memberikan gambaran tentang sifat fenomena yang diteliti. Artinya, dengan pengertian tentang hubungan-hubungan itu, peneliti mengadakan ramalan-ramalan atau kontrol terhadap terhadap sifat fenomena. Ditinjau dari segi ini, maka metode penelitian ilmiah adalah serangkaian kegiatan yang sistematis dan terkontrol secara empirik terahap sifat-sifat dan hubungan-hubungan antara berbagai variabel yang diduga terdapat fenomena yang diteliti.

1.1.3 Ramalan Ramalan ialah inferansi yang berisi pernyataan tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ramalan disusun berdasarkan hasil penalaran yang berangkat dari fakta. Perlu diingat bahwa fungsi ilmu dalam kehidupan manusia ialah untuk menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan. Agar dapat meramalkan, ilmu lebih dahulu harus dapat menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana tentang suatu masalah yang dihadapi. Penjelasan ini dapat diperoleh melalui prosedur ilmiah yang mencakup langkah utama, yaitu penemuan dan perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengumpulan data, verifikasi, dan menarikkesimpulan. Kesimpulan ini bersifat probabilitas atau mempunyai peluang untuk keliru, begitu juga ramalan. Contoh : Seorang guru dapat meramalkan bagaimana prestasi yang akan datang pada seorang siswa, dengan memperhatikan perkembangan belajar siswa tersebut. Contoh tersebut menyimpulkan bahwa ramalan yang disusun membutuhkan pengamatan terhadap fakta. Di sinilah perbedaannya dengan ramalan bintang atau horoskop yang sering disuguhkan di media massa, ramalan ini tidak berdasarkan pengamatan atas fakta.

Kata atau ungkapan yang digunakan dalam tulisan yang merupakan ramalan antara lain. Meramalkan/ diramalkan Memperkirakan/ diperkirakan Sangat mungkin Sangat boleh jadi Anggapan Dapat diproyeksikan Mungkin Kata-kata ungkapan yang mengatakan hubungan sebab-akibat

Contoh : Pertumbuhan sektor pertanian sebelum krisis, tahun 1991-1996, rata-rata 3,1% dan 11,3% per tahun. Setelah krisis, pertumbuhan, tahun 2000-2003, rata-rata 2,9 dan 5,0%. Dengan semakin stabilnya politik, sistem hukum, dan adanya revitalisasi pertanian, pertumbuhan sektor ini, tahun 2004-2009, dapat mencapai angka 10% sampai 20% per tahun.

1.1.4 Proses Berpikir Ilmu lahir karena adanya rasa ingin tahu, hal ini dapat menjurus pada keingintahuan ilmiah, misalnya Apakah bulan mengelilingi bumi? Timbul keinginan untuk mengadakan pengamatan secara sistematik yang akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bahwa bulan dan bumi mengelilingi matahari. Demikian juga dengan ilmu-ilmu sosial; keingintahuan tentang masalahmasalah sosial telah membuat orang mengadakan pengamatan secara sistematik terhadap fenomena-fenomena sosial, seperti sosiologi, antroplogi, dan sebagainya. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus-menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan berpersepsi serta kemampuan kemampuan berpikir logis. Dengan adanya kesamaan antara konsep ilmu dan proses berpikir, maka manusia dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam hidupnya. Permasalahan muncul karena adanya sangsi/ keraguan akan sesuatu keinginan dan untuk memperoleh suatu ketentuan yang kemudian muncul menjadi suatu masalah yang khas. Masalah ini memerlukan pemecahan, dan untuk itu dilakukan penelitian terhadap data yang tersedia dengan metode yang tepat. Akhirnya sebuah kesimpulan tentatif (bersifat sementara) akan diterima, tetapi masih tetap dibawah penelitian yang kritis dan terus menerus untuk mengadakan evaluasi terbuka. Proses berpikir manusia digambarkan dalam urutsn sebagai berikut. Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terahadap alat, mengenai sifat, atau dalam menerangkan hal-hal yang muncul tiba-tiba. Rasa sulit tersebut didefinisikan/ dirumuskan dalam bentuk permasalahan. Mencari kemungkinan pemecahan yang beupa reka-reka, hipotesis, inferensi, atau teori. Ide-ide pemecahan masalah diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).

Menguatkan pembuktian tentang ide diatas dan menyimpulkan melalui keteranganketerangan atau percobaan-percobaan (pengolahan data). Berpikir secara nalar mempunyai dua kriteria, yaitu berpikir logis dan berpikir analitis. a. Berpikir Logis Berpikir ini mempunyai pengertian ganda, artinya suatu kebenaran dapat diterima oleh satu pihak, tetapi dapat saja ditolak oleh pihak lain. Kecenderungan yang dapat menjerumus kepada kekacauan bernalar ini disebabkan oleh perbedaan persepsi dari masing-masing pihak Contoh : Pandangan seorang ayah yang dulu tinggal di kampung, bermain kelereng itu kotor bisa menyebabkan cacingan karena bermain di atas tanah. Ia melarang anaknya bermain kelereng. Tapi pengalaman si anak lain, main kelereng tidak ada hubungannya dengan kotor, apalagi cacingan, karena sekarang mereka tinggal di apartemen yang sulit mendapatkan hamparan tanah sehingga si anak bermain di atas karpet yang bersih. Berpikir Analitis Sifat ini selalu hadir ketika kita berpikir logis. Berpikir ilmiah berarti melakukan kegiatan analitis dalam menggunakan logika secara ilmiah. Dengan demikian, berpikir tidak terlepas dari daya nalar imajinasi seseorang dalam merangkaikan rambu-rambu pikirannya kedalam pola tertentu, yang dapat memunculkan kejeniusan seseorang. Pada hakekatnya berpkir ilmiah merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif, masing-masing berkaitan secara rasioanl (rasio sebagai sumber kebenaran) dan empiris (fakta sebagai sumber kebenaran). Contoh : Jika terjadi silang pendapat tentang bermain kelereng, maka masing-masing pihak harus menganalisis. Si Ayah akan bertanya, mengapa anakku mengatakan bermain kelereng tidak berhubungan dengan kotor dan cacingan, Padahal main kelereng (di zamannya) di tanah? Dimanakah ia bermain? Sebaliknya di benak si anak akan bertanya-tanya, mengapa main kelereng di atas karpet dikatakan kotor, bisa cacingan lagi? Setelah di telusuri fakta/ empirisme yang berbeda antara si ayah dan si anak, maka mereka dapat menyimpulkan bahwa bukan bermain kelereng yang menyebabkan kotor dan cacingan, tetapi tempat bermainnya.

b.

1.1.5 Ilmu dan Pengetahuan Ilmu / sains adalah pengetahuan tentang fakta, baik itu bersifat natura maupun sosial yang berlaku umum dan sistematis atau pengetahuan yang sudah diatur menurut urutan dan arti serta menyeluruh dan sistematis. Definis ini membedakan antara ilmu (science) dan pengetahuan (knowladge). Apakah perbedaan ilmu dan pengetahuan? Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum, sedangkan pengetahuan adalah pengalaman yang bersifat pribadi/ kelompok; belum disusun secara sistematis karena belim di coba dan di uji.

Contoh : Bahasa adalah ilmu, maka bahasa berlaku umum dan sistematis. Kapan pun, dimana pun, siapa pun; jika ingin belajar bahasa apapun; harus melalui tahap mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini membuktikan bahwa bahasa mempunyai sifat umum dan sistematis yang dijadikan dasa/ acuan. Jadi, siapa guru bahasa? Guru bahasa adalah ilmu bahasa itu sendiri, sedangkan pengajarnya adalah pemangku/ pengampu/ penghubung ilmu bahasa. Pengetahuan yang mulanya bersifat individual/ kelompok dapat diusahakan dan akan menjadi ilmu, lengkap dengan sifat-sifatnya, apabila telah diuji dan dikaji. Contoh : Pendukunan, ilmu batin; yang pelakunya sering dipanggil paranormal sudah diakui kebenaran dan manfaatnya. Karena sifatnya masih individual/ kelompok dan tidak sistematis serta tidak terbuka, maka orang yang akan mempelajainya harus mencari guru sendiri. Guru merupakan acuan yang harus diikuti karena guru merupakan ilmu itu sendiri (lain guru lain ilmu). Jadi, pengetahuan dapat dijadikan ilmu apabila telah diuji, sistematis sehingga semua orang dapat mempelajarinya secara terbuka.

1.1.6 Penelitian Penelitian adalah terjemahan dai research, artinya mencari kembali. Banyak terdapat definisi penelitian, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa penelitian ialah kegiatan/ alat untuk memperoleh jawaban/ kebenaran mengenai suatu fenomena yang diamati. Langkah penelitian diturunkan dari proses berpikir berikut. Menemukan dan mengidentifikasi/ merumuskan masalah. Berdasarkan masalah dibangun kerangka teori hingga sampai pada hipotesis (kesimpulan sementara yang ditarik dari teori dan fenomena). Pengumpulan data Pengolahan data; menjaring, menyusun, menguji data; menarik, membahas hasil uji dan akhirnya menarik kesimpulan. Publikasi.

Penelitian adalah suatu proses, ilmu adalah hasilnya. Penelitian dan ilmu sebagai proses untuk mendapatkan kebenaran. Jadi, penelitian bertujuan mencari/ menemukan kebenaran, menguji kebenaran, dan menerangkan kebenaran. Berikut di gambarkan hubungan antara penelitian, ilmu, dan kebenaran.

PENELITIAN

ILMU

PENELITIAN ILMU KEBENARAN Gambar. Hubungan antara penelitian, ilmu, dan kebenaran