Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN

2.1.

Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan terlepas dari kontaminasi

berbagai polusi, seperti asap rokok, polutan radiasi, pestisida, bahan-bahan kimia beracun, asap kendaraan bermotor dan berbagai bahan makanan, kesemuanya ini merupakan produsen dari radikal bebas. Radikal bebas ini sangat berbahaya terutama terhadap kesehatan, karena sifatnya yang sangat tidak stabil. Ketidakstabilan disebabkan oleh karena adanya atom yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Elektron tunggal ini selalu berusaha untuk mencari pasangan elektron dari molekul lain sehingga sifatnya reaktif. Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara produk radikal bebas dengan netralisasi oleh suatu sistem anti oksidan tubuh. Jika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan tubuh menetralisasinya maka dapat menyebabkan stress oksidatif yang dapat memicu pengrusakan molekul makro pembentuk sel seperti, karbohidrat, lemak dan deoksiribose nucleic acid (DNA), akibatnya sel menjadi rusak dan menyebabkan penyakit degeneratif seperti katarak dan kanker (Anonim, 2008). Untuk mencegah timbulnya penyakit ini asupan antioksidan dari luar sangat dibutuhkan. Antioksidan adalah zat yang dapat menetralisir radikal bebas sehingga elektron yang tidak berpasangan mendapat pasangan elektron dari antioksidan sehingga radikal menjadi stabil. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat oksidasi dari molekul lain. Tubuh kita tidak

mempunyai sistem pertahanan antioksidatif yang berlebihan, sehingga jika terjadi paparan radikal yang berlebih maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen. Namun dengan adanya kekhawatiran terhadap efek samping dari antioksidan sintetik sehingga antioksidan alami menjadi alternatif yang terpilih (Sunarni et al., 2007). Antioksidan alami mampu melindungi tubuh terhadap kerusakan yang disebabkan species oksigen reaktif, mampu menghambat penyakit degeneratif, serta mampu menghambat peroksidasi lipid pada makanan. Beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan minat untuk mendapatkan antioksidan alami. Studi menunjukkan senyawa fenolik seperti flavonoid mempunyai aktivitas antioksidan penangkap radikal superoksida (Cos et al., 2001; Gulcin et al., 2004). Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa fenol alam dan telah diketahui memiliki aktifitas sebagai antioksidan, sehingga flavonoid termasuk salah satu antioksidan alami. Antioksidan berpotensi dalam mencegah pembentukan radikal bebas dengan cara menangkap dan mengikat radikal bebas tersebut (Okawa et al; 2001). Salah satu kelompok tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai makanan adalah genus Garcinia atau manggis-manggisan. Banyak species dari genus Garcinia ini mengandung senyawa dengan aktivitas biologis yang sangat menarik, diantaranya sebagai anti asma, diare, disentri, penurun panas, obat batuk dan obat setelah melahirkan, amandel, penyakit kulit (Tjahjaningtyas, 2011). Diantara species dari genus Garcinia yang memiliki aktivitas antioksidan adalah Garcinia mangostana Linn yang dikenal dengan nama manggis yang

dijumpai tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia dan Malaysia. Berdasarkan hasil penelitian, tumbuhan ini mengandung senyawa golongan xanthon yang memiliki banyak aktivitas seperti antimikroba, antioksidan, anti tumor dan sitotoksik serta anti malaria. Setidaknya ada 40 jenis xanthon yang tedapat pada kulit buah manggis, diantaranya adalah mangostin, mangostenol, mangostinon A, mangostenon B, trafezifolixanthone, tovophylin B, alpha mangostin, beta mangostin, garcinon B, mangostanol, Flavonoid, epikatekin, garciniafuran, mangoxanthone dan gartanin. Sebuah riset membuktikan, xanthone dikulit manggis terbentuk sejak buah berumur satu bulan setelah bunga mekar. Pada umur satu bulan, kadar xanthone dikulit manggis sebesar 14,67 mg/g, kadar xanthone pada buah umur dua bulan sebesar 16,21 mg/g, umur tiga bulan 15,74 mg/g, dan umur empat bulan 15,68 mg/g. Kadar xanthone justru lebih meningkat jika buah disimpan hingga empat minggu setelah dipetik mencapai 34,36 mg/g (Mardiana, 2011). Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti ingin melakukan penetapan kadar flavonoid total dan uji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol kulit buah muda dan matang Garcinia mangostana Linn dengan menggunakan metoda Spektrofotometri UV-Vis.

2.2.

Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah : Apakah pengaruh perbedaan asam dalam proses ekstraksi terhadap kadar alkaloid total dari daun bandotan.

2.3.

Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh perbedaan asam dalam proses ekstraksi

terhadap alkaloid total daun bandotan.

2.4.

Hipotesa Penelitian H0 : Ekstrak kulit manggis yang diuji tidak mempunyai aktivitas antioksidan dan tidak memiliki perbedaan kandungan flavonoid total. H1 : Ekstrak kulit manggis yang diuji mempunyai aktivitas antioksidan dan memiliki perbedaan kandungan flavonoid total.

2.5.

Manfaat Penelitian Manfaat penelitian adalah apabila tujuan penelitian tercapai, maka hasil

penelitian akan bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menyusun standarisasi mutu obat bahan alam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. 2.1.1.

Tinjauan Biologi Bandotan ( Ageratum conyzoides, L. ) Klasifikasi Klasifikasi dari tanaman manggis adalah sebagai berikut (Rukmana,

2003): Kingdom Divisi Subdivisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermathophyta : Angiospermae : Dicotyledone : Guttifernales : Guttiferae : Garcinia : Garcinia mangostana Linn

2.1.2.

Morfologi Merupakan pohon besar, bergetah, memiliki daun ellip yang mengkilap,

bunga tunggal berwarna merah muda dan bulat dengan kelopak yang tebal dan kuat pada dasar (Rukmana,2003). Manggis merupakan salah satu tanaman buah tropika yang pertumbuhannya paling lambat, tetapi umurnya juga paling panjang. Tanaman yang berasal dari biji umumnya membutuhkan 10 15 tahun untuk mulai berbuah. Tingginya mencapai 10 25 meter dengan ukuran sedang serta

tajuk yang rindang berbentuk piramida. Diameter batang 25 35 cm dan kulit batang kayu biasanya berwarna cokelat gelap atau hampir hitam, kasar dan cenderung mengkelupas. Letak daun berhadapan, merupakan daun sederhana dengan tangkai daun pendek yang berhubungan dengan tunas, panjang tangkai daun 1,5 2 cm dengan helaian daun berbentuk bulat telur, bulat panjang atau elip dengan panjang 15 25 cm x lebar 7 13 cm mengkilap, tebal dan kaku, ujung daun meruncing (acuminate) dan licin (glabrous). Bunganya bersifat uniseksual dioecious (berumah dua), Bunga memiliki empat sepal dan empat petal dengan tangkai bunga pendek dan tebal berwarna merah kekuning-kuningan, Buah berbentuk bulat atau agak pipih dan relatif kecil dengan diameter 3,5-8 cm (Qosim, 2009). 2.1.3. Sejarah dan Penyebaran Manggis berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia Tenggara, yaitu hutan belantara Indonesia atau Malaysia. Dari Asia Tenggara, tanaman ini menyebar ke daerah Amerika Tengah dan daerah tropis lainnya seperti Srilanka, Malagasi, Karibia, Hawaii dan Australia Utara. Tanaman manggis merupakan tanaman asli asia tenggara khususnya Indonesia (Akao et al., 2008). 2.1.4. Penggunaan Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak kulit manggis mempunyai aktivitas melawan sel kanker meliputi breast, liver, dan leukemia. Selain itu, juga digunakan untuk antihistamin, antiinflamasi, menekan sistem saraf pusat, dan tekanan darah (Heyne,1987).

2.1.5.

Kandungan Kimia Daging buah mengandung Karbohidrat (14%) terutama gula invert dan

sukrosa, asam sitrat (0,5%), pectin dan tannin (7-14%). Kulit kayu, kulit buah dan lateks kering menghasilkan xanton (gambar 1), mangostin, -mangostin, dan mangostin, garsinon, flavonoid dan tanin (Pradipta, et al; 2006).

Gambar 1. Struktur Kimia Xanton

2.2. Tinjauan Kimia 2.2.1. Alkaloid Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenol alam yang merupakan golongan metabolit sekunder yang merata pada tumbuhan. Flavonoid

mengandung atom karbon dalam cincin dasarnya yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6 yaitu dua cincin fenil yang terikat pada rantai karbon propana yang dapat atau tidak dapat membentuk cincin ketiga (Markham, 1998). Struktur umum dari flavonoid adalah sebagai berikut:
2 3 4 A 5 6 C 2 C C 3 4 B 5 6

Gambar 2 : Struktur umum flavonoid

Modifikasi lain dari struktur menghasilkan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil, metilasi gugus OH atau inti flavonoid, iso prenasi gugus OH atau inti flavonoid, dimerisasi (pembentukan biflavonoid). Glikosilasi gugus OH (pembentukan flavonoid-O-glikosida) atau inti flavonoid (pembentukan

flavonoid-C-glikosida). Berdasarkan tingkat oksidasi rantai propan flavonoid dapat dibedakan atas beberapa golongan antara lain yaitu flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, kalkon, dihidroksi kalkon, auron, antosianidin, katekin, flavan 3,4-ddiol (leukuantosianidin). 2.2.1.1. Monografi Flavonoid Flavonoid merupakan suatu senyawa polar karena adanya sejumlah gugus hidroksil bebas sehingga dapat larut dalam pelarut polar seperti metanol, etanol, butanol, aseton, dimetil sulfoksida, dimetil formamida dan air. Adanya gula yang terikat pada flavonoid menyebabkan flavonoid ini lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut polar diatas dengan air merupakan pelarut yang baik untuk glikosida. Sebaliknya aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavonon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform. Aglikon ini adalah suatu polifenol, karena itu mempunyai sifat seperti senyawa fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa (Harborne J B, 1987). 2.2.2. Identifikasi Flavonoid Sebanyak 4 gram sampel dipotong halus dan didihkan dalam 25 mL etanol, saring selagi panas. Filtrat yang didapat di uapkan sampai setengahnya, kemudian tambahkan asam klorida pekat 1 mL dan serbuk logam Mg. Adanya

flavonoid ditandai dengan timbulnya warna orange sampai merah (Simes et al., 1959). 2.2.3. Penetapan Kadar Flavonoid Sebanyak 0,5 mL ekstrak ditambahkan 1,5 mL metanol, 0,1 mL aluminium klorida 10 %, 0,1 mL natrium asetat 1M, dan 2,8 mL air suling, selanjutnya larutan dihomogenkan. Biarkan selama 30 menit diukur serapan pada panjang gelombang maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis. 2.2.4. Isolasi Flavonoid Isolasi dilakukan terlebih dahulu dengan mencuci dan merajang kulit manggis, ditimbang lalu diekstraksi. Ekstraksi dapat dilakukan dengan maserasi, perkolasi dan sokletasi. Menggunakan pelarut yang sesuai dengan kepolaran flavonoid yang akan dianalisis. Selanjutnya ekstrak dipekatkan sampai volume sepertiganya. Ekstraksi ini dibebaskan dari senyawa-senyawa non polar dengan memakai n-heksan dan etanol untuk menarik senyawa-senyawa polar. Ekstrak yang mengandung flavonoid difraksinasi dengan pelarut yang cocok kemudian dipekatkan dengan dengan menggunakan Rotary evaporator. Pemisahan flavonoid dengan jumlah besar dipisahkan dengan menggunakan kromatografi kolom (Harborne J B, 1987). 2.2.5. Bioaktifitas Flavonoid Flavonoid merupakan komponen umum yang terdapat dalam makanan manusia. Pemasukan flavonoid melalui makanan berasal dari sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan sumber makanan lain. Konsumsi flavonoid ini pasti memberikan bioaktifitas didalam tubuh manusia.

Telah diketahui bermacam-macam bioaktifitas flavonoid antara lain sebagai anti hipertensi, anti tumor, hepatoprotektor dan anti diabetes (Arkara, 2007). Kuersetin sebagai salah satu flavonoid akan banyak dijumpai, dapat mencegah kanker dengan manghambat sintesa DNA dan RNA sel, sistim transpor laktat, pertumbuhan dan proliferasi sel tumor secara in-vitro terutama terhadap kanker. Disamping itu kuersetin juga dapat digunakan sebagai alternatif pencegahan diabetes melitus dengan menghambat kerja enzim aldosa reduktase dalam pembentukan sorbitol (Karimah, 1991 ; Sajuthi) Flavonoid lain yang dilaporkan yang mempunyai aktifitas anti kanker di antaranya katekin, rutin, hesperedin dan kaemferol. Flavonoid sebagai anti kanker diduga ia dapat bersifat sebagai antioksidan. Mekanisme flavonoid sebagai antioksidan diduga karena ia dapat mengikat radikal bebas yang dapat merangsang sel normal menjadi ganas. Flavonoid dapat menghambat sintesis RNA dan DNA pada sel kanker sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan poliferasi sel kanker. 2.2.6. Sifat Fisika dan Kimia Flavonoid Flavonoid merupakan amorf yang berwarna kuning atau kekuningan. Umumnya flavonoid larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida, air dan lain-lain. Adanya gula yang terikat pada gugus aglikon menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air, sebaliknya aglikon bersifat kurang polar seperti isoflafon, flavanan dan flavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam eter dan klorofom (Markham, 1988). Flavonoid jika berkontak dengan oksigen maka akan terurai.

10

Golongan flavonoid akan menunjukkan warna kuning, sedangkan khalkon dan auron menunjukkan perubahan warna dari kuning menjadi merah. Reaksi flavonoid dengan FeCl3 memberikan warna hijau sampai kehitaman, tetapi reaksi ini tidak dapat menunjukkan golongan flavonoid.

2.2.7. Biosintesa Flavonoid Kerangka dasar flavonoid yang terdiri dari 15 atom karbon berasal dari dua jalur sikimat dan jalur asetat malonat (jalur poliketida) biosintesa dimulai dengan kondensasi asam 4-hidroksisinamat dan triketida membentuk khalkon. Reaksi ini dikatalis oleh enzim khalkon isomerase, khalkon mengalami siklisasi membentuk dasar flavanon. Pola oksigenasi yang berbeda pada cincin aromatis diperoleh dari jalur poliketida dan jalur sikimat. 2.2.8. Penggolongan Flavonoid 1. Aglikon flavonoid Ada beberapa jenis aglikon flavonoid seperti kalkon, flavonon, dihidrokalkon, flavon, flavonol, auron, isoflavon, dihidroflavonol, retenoid dan antisianidin. Kalkon dan auron mempunyai struktur dengan cincin yang terbuka dan diberi penomoran yang berbeda dengan flavonoid lainnya. Kalkon dan auron sedikit ditemui dialam seperti halnya flavonon, leuko antosianin. Sedangkan flavonoid yang banyak ditemui di alam adalah flavonol, flavon dan antosianidin. Flavonon diperoleh dari reduksi flavon dan dihidroksiflavonol dari reduksi flavonol (Markham, 1988).

11

2. Flavonoid O-glikosida Flavonoid biasanya terdapat dalam bentuk O-glikosida, dimana satu gugus hidroksil flavonoid atau lebih berikatan dengan gugus hidroksil dari gula dengan ikatan hemiasetal yang tidak tahan asam. Gugus hidroksil pada setiap inti flavonoid dapat diglikosilasi, tapi pada kenyataannya gugus hidroksil pada tempat tertentu lebih mudah terglikolisasi dibandingkan dengan tempat lain, seperti pada posisi 7-OH pada flavon, isoflavon dan dihidroflavon. Pengaruh glikolisasi tersebut menyebabkan flavonoid menjadi kurang reaktif dan lebih mudah larut dalam air (Markham, 1988). Gula yang paling umum pada flavonoid O-glikosida adalah glukosa, galaktosa, ramnosa, xilosa dan arabinosa. Disakarida juga sering didapatkan pada flavonoid seperti gentibiosa, soforosa, rutinosa, neohesperisida, (Markham, 1988). 3. Flavonoid C-glikosida Flavonoid C-glikosida merupakan flavonoid dengan struktur yang khas, dimana ikatan antara gula dengan aglikon adalah ikatan karbon-karbon. Jenis aglikon flavonoid yang dijumpai sangat terbatas. Yang umum dijumpai adalah flavon C-glikosida. Jenis gula yang terikat adalah glukosa, galaktosa, ramnosa, xilosa dan arabinosa. Ikatan C-glikosida lebih tahan asam dibandingkan ikatan flavonoid O-glikosida (Harborne, 1976; Markham, 1988). kadang-kadang trisakarida bahkan tetrasakarida

12

4.

Flavonoid sulfat Flavonoid sulfat termasuk flavonoid yang mudah larut dalam air,

senyawa ini mengandung satu atau lebih ion sulfat yang terikat pada hidroksi fenol atau gula. Senyawa ini sebenarnya bisulfat karena terdapat sebagai garam kalium yaitu O-SO3KS. Banyak yang berupa glikosida bisulfat pada bagian hidroksi fenol mana saja yang masih bebas atau pada gula (Markham, 1988).

5.

Biflavonoid Biflavonoid merupakan flavonoid dimer. Flavonoid yang biasanya

terikat adalah flavon dan flavonon yang secara biosintesis mempunyai pola oksigenasi yang sederhana pada 5,7,4 atau kadang-kadang 5,7,3,4 dan ikatan antar flavonoid berupa ikatan karbon-karbon atau ikatan eter. Monomer flavonoid yang tergabung menjadi flavonoid dapat berjenis sama atau berbeda dan letak ikatannya berbeda. Sifat fisika dan kimianya menyerupai sifat monoflavonoid pembentuknya. Senyawa ini jarang ditemukan dalam bentuk glikosida dan penyebarannya terbatas terutama pada Gymnospermae (Harborne, 1987). 6. Aglikon Flavonoid Yang Optik Aktif Flavonoid ini mempunyai atom karbon asimetrik sehingga

menunjukkan keaktifan optik. Yang termasuk golongan flavonoid ini adalah flavonon, dihidroflavonol, katekin, pterokarpan, dan beberapa biflavonoid (Markham, 1988).

13

2.3. Antioksidan (Fessenden, 1997) Senyawa antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas. Senyawa ini dapat menyumbangkan elektronnya pada radikal bebas sehingga radikal bebas akan menjadi senyawa yang stabil. Tubuh manusia juga memproduksi senyawa antioksidan yang disebut anti oksidan enzimatis, seperti : a. Superoksida dismutase (SOD), enzim ini mengkatalis dismutasi O2menjadi H2O2. b. Katalase mendegradasi H2O2 menjadi H2O + 1/2 O2. c. Glutation peroksidase mengkatalis reduksi H2O2 dengan menggunakan glutation tereduksi. 2.3.1. Pembagian antioksidan Anti oksidan dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan

mekanisme kerjanya yakni (Winarsi, H., 2007 ; Harliansyah) : 1. Antioksidan primer Anti oksidan primer ini bekerja untuk mencegah pembentukan senyawa radikal bebas baru. Ia mengubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum radikal bebas ini sempat bereaksi. Contoh antioksidan ini adalah enzim peroksida dismutase (SOD), glutation peroksidase, peroksidase/katalase dan glutation.

14

2. Antioksidan sekunder Antioksidan ini berfungsi menangkap senyawa radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder yaitu vitamin E, vitamin C, beta karoten asam urat, bilirubin dan albumin. 3. Antioksidan tersier Antioksidan jenis ini memperbaiki kerusakan sel-sel dan jaringan yang disebabkan radikal bebas. Contohnya adalah enzim metionin sulfoksidan reduktase yang memperbaiki DNA pada inti sel.

2.3.2.

Metoda pengujian Aktivitas Antioksidan (Arjuna, 2004) Metode uji aktivitas antioksidan secara in vitro dilakukan dengan cara: 1. Metode yang menggunakan reaksi kimia Metode yang digunakan sangat bervariasi, tetapi berdasarkan prinsip yang sama. Radikal bebas secara in vitro, misalnya dengan mengoksidasi dopamin, sisten xantin / xantin oksidase, atau dengan menggunakan sinar ultraviolet. Sistem-sistem ini dapat membentuk anion superoksida atau hidrogen peroksida yang dapat mengalami reaksi rantai dengan adanya ion metal. Senyawa-senyawa seperti ABTS (2,2-azinobis (3-

etilbenzothiazolin-6-sulfonat)). Feri thiosianat, DPPH (1,1-difenil-2pikrilhidrazil) dapat menghasilkan radikal secara terkontrol. Reaksi antara radikal bebas dengan antioksidan kemudian diukur dengan berbagai cara berdasarkan teknik spektrofotometri. 2. Metode yang menggunakan material biologis

15

Teknik berdasarkan kultur seluler dari berbagai sel ini telah banyak digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan. Keuntungan teknik ini adalah karena lebih mendekati proses yang terjadi secara in-vivo. Pada dasarnya sel merupakan media biologis yang bersifat komplek dan dapat memetabolisme komponen yang diuji. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan hewan percobaan dan dapat dilakukan dengan cara: Mengukur viabilitas seluler dengan cara menghitung dengan mikroskop. Senyawa-senyawa oksigen reaktif umumnya

menurunkan viabilitas seluler, sebaliknya senyawa antioksidan mengembalikan viabilitas normal. Analisa laktodehidrogenase (LDH) intraseluler, LDH merupakan ciri viabilitas seluler.

2.4. Radikal bebas DPPH (Molyneux, 2004) Radikal bebas DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazl) merupakan radikal yang stabil pada suhu kamar karena adanya delokalisasi elektron pada molekul sehingga elektron pada molekul ini tidak terdimerasi seperti kebanyakan radikal bebas lain. Jika larutan DPPH dicampur dengan sampel yang bisa mendonorkan elektron, maka DPPH akan tereduksi sehingga warnanya berubah menjadi violet menjadi kuning sampai bening. Ini disebabkan karena terjadi pengurapan serapan DPPH secara stoikiometri sesuai dengan jumlah elektron yang ditangkap. Pengamatan reduksi DPPH dapat diamati pada panjang gelombang 517 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum DPPH.

16

O2N N N O2N NO 2

Gambar 3 : Rumus struktur DPPH BM Pemerian Kelarutan : 394,3 gram/mol : serbuk, warna violet : mudah larut dalam metanol

Penyimpanan : dalam freezer, suhu dibawah 0C 2.5. Spektrofotometer UV-Visible (Dachriyanus,2004; Fessenden,1999) Spektrofotometer UV-Visibel adalah pengukuran panjang gelombang dan intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk mempromosikan elektron pada kulit terluar ketingkat energi yang lebih tinggi. Spektroskopi UVVisibel biasanya digunakan untuk menentukan jenis kromofor, Ikatan rangkap terkonjugasi dan ausokrom dari suatu senyawa organik, menjelaskan informasi dari struktur berdasarkan panjang gelombang maksimum dari suatu senyawa serta mampu menganalisa senyawa organik secara kuantitatif dengan menggunakan hukum Lambert-Beer. Sinar ultraviolet berada pada panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan sinar tampak berada pada panjang gelombang 400-800 nm. Hukum Lambert-beer adalah hubungan linearitas antara absorben dengan konsentrasi larutan analit.

17

Bagan bagian Spektrofotometer UV-Visibel :


1 2 3 4 5

Keterangan: 1. Sumber cahaya Untuk mendapatkan pengukuran absorban yang cocok, sumber cahaya hendaknya menghasilkan sinar dengan kekuatan yang cukup kontinu dan merata pada panjang gelombang yang dikehendaki dan stabil selama waktu yang diperlukan. 2. Monokromator Digunakan untuk menghamburkan cahaya ke dalam panjang gelombang unsurunsurnya, yang diseleksi lebih lanjut dengan celah. Monokromator berotasi sehingga rentang panjang gelombang dilewatkan melalui sampel.

3. Kuvet Kuvet atau bejana tempat larutan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat meneruskan sinar yang digunakan dan dinding sel yang akan ditentukan harus tegak lurus terhadap cahaya yang masuk, kuvet digunakan untuk sinar tampak yang biasanya terbuat dari kaca atau plastik, sedangkan ultraviolet digunakan kuarsa. 4. Detektor Detektor yaitu suatu alat yang dapat merubah energi sinar menjadi listrik dengan menyerap energi foton sinar yang jatuh dirubah menjadi besaran yang dapat diukur.

18

5. Alat Baca (Rekorder) Rekorder adalah suatu alat untuk membaca isyarat dari detektor. Untuk menganalisa kimia secara spektrofotometri pengaruh berkurangnya intensitas sinar yang disebabkan oleh pemantulan pada dinding kuvet dapat dihilangkan dengan pemakaian sel pembanding yang disebut blanko. 2.5.1 Cara kerja spektrofotometer UV-Visibel (Clifford, et al 1982) 1. Sinar dari sumber radiasi diteruskan menuju monokromator. 2. Cahaya dari monokromator diarahkan terpisah melalui blanko dan sampel dengan sebuah cermin berotasi. 3. Kedua cahaya lalu bergantian merubah arah karena pemantulan dari cermin yang berotasi secara kontinu 4. Detektor menerima cahaya dari blanko dan sampel secara bergantian secara berulang-ulang. 5. Sinyal listrik dari detektor diproses, diubah ke digital dan dibandingkan antara sampel dan blanko, perhitungan dilakukan dengan komputer yang sudah terprogram.

19

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan selama 4 bulan di Laboratorium Kopertis Wilayah X.

3.2. Alat dan Bahan 3.2.1. Alat Alat-alat yang digunakan pada penelsitian ini adalah rotary evaporator, spektrofotometer UV-Vis, timbangan analitik, botol maserasi, labu ukur dengan berbagai ukuran, gelas ukur dengan berbagai ukuran, beker glass, erlenmeyer, cawan penguap, kaca arloji, pipet mikro, pipet gondok, batang pengaduk, tabung reaksi, corong, plat tetes, spatel, gegep, kertas saring Whatman No. 41 dan pipet tetes. 3.2.2. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit buah muda dan matang dari Garcinia mangostana Linn, etenol 70%, metanol, kuersetin, klorofom, kloroform amoniak, asam sulfat, serbuk logam, norit, aluminium klorida, natrium asetat, AICI3 10% dan DPPH dan aquadest.

20

3.3. Prosedur Penelitian 3.3.1. Pengambilan Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit dari buah muda dan buah matang Garcinia Mangostana Linn Alung Pariaman, Sumatera Barat. 3.3.2. Pembuatan reagen 1. Larutan Aluminium Klorida 10% Sebanyak 1g aluminium klorida dilarutkan didalam labu ukur 10 mL sampai tanda batas. 2. Larutan Natrium Asetat 1M Sebanyak 0,91 g Natrium asetat dilarutkan di dalam labu ukur 10 mL ditambahkan aquadest sampai tanda batas dan aduk. 3. Larutan Kuersetin Sebanyak 0,125 g kuersetin dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas. 4. Larutan DPPH 35 g/mL (Markham, 1988) Sebanyak 10 mg DPPH dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 100 mL sampai tanda batas. Pipet sebanyak 17,5 mL dan masukkan ke dalam labu ukur 50 mL dan tambahkan metanol hingga tanda batas. 3.3.3. Pembuatan Ekstrak Sampel Sampel terlebih dahulu dipisahkan dari daging buah dan dikupas kulit bagian luar nya lalu dicuci dengan air bersih dan diiris tipis-tipis, kemudian sampel dikering anginkan selama empat hari dan dihaluskan dengan mesin penghalus, sampel yang sudah kering dan dihaluskan ditimbang sebanyak 50 yang diambil didaerah Lubuk

21

gram. Kemudian serbuk sampel tersebut diekstrak dengan menggunakan etanol 70% secukupnya selama 2 x 24 jam sebanyak tiga kali pengulangan lalu maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan Rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental total. Masing-masing ekstrak kental tersebut dilarutkan dalam labu ukur 25 ml dengan campuran metanol air (1:1) kemudian dipipet beberapa ml lalu ditentukan kandungan flavonoid total dan aktivitas antioksidannya. 3.3.4. Karakterisasi Simplisia Sampel Kulit Buah Garcinia mangostana Linn Sampel yang diperoleh dikarakterisasi dengan beberapa parameter yang meliputi pemeriksaan organoleptis, penetapan susut pengeringan dan kadar abu. 1. Pemeriksaan Organoleptis Dengan menggunakan panca indera untuk uji bentuk, warna, bau dan rasa dari sampel kulit muda dan matang Garcinia mangostana Linn. 2. Penetapan Susut Pengeringan Ekstrak kental ditimbang 1 g dimasukan kedalam kurs porselen yang sebelumnya telah dipanaskan suhu 105Cselama 30 menit dan telah ditara. Kemudian dimasukan dalam oven pada suhu 105C selama 2 jam, lalu didinginkan dalam desikator, kemudian ditimbang hingga bobot tetap. Dihitung susut pengeringan dengan rumus : ( ( Keterangan : A B C = Berat kurs kosong = berat krus + ekstrak sebelum pengeringan = berat kurs + ekstrak setelah pengeringan ) ( ) )

22

3.3.5.

Uji Kandungan Kimia Ekstrak Etanol Buah Garcinia mangostana Linn Pemerisaan kandungan kimia metabolit sekunder dilakukan terhadap

ekstrak kental etanol kulit buah Garcinia mangostana Linn, dimana terhadap 50 mg ekstrak sampel ditambahkan 10 mL air suling dan kloroform (1:1) kemudian dikocok kuat dan dibiarkan beberapa saat sampai terbentuk dua lapisan. Lapisan air digunakan untuk pengujian kandungan senyawa flavonoid, fenolik dan saponin. Sedangkan lapisan kloroform digunakan untuk pemeriksaan kandungan senyawa alkaloid terpenoid dan steroid. 1. Pemeriksaan alkaloid Sebanyak 1 mL lapisan kloroform ditambahkan 1 mL kloroform amoniak 0,05 N dan 1 mL asam sulfat 2N, selanjutnya dikocok perlahan dan dibiarkan memisah. Lapisan asam dipipet dan dipindahkan kedalam tabung reaksi lain, kemudian ditambahkan beberapa tetes pereaksi mayer. Reaksi positif ditandai dengan adanya kabut putih hingga gumpalan putih (Culvenor et al, 1963). 2. Pemeriksaan Fenolik Sebanyak 1-2 tetes lapisan air diteteskan pada plat tetes, kemudian ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Terbentuknya warna biru menandakan adanya kandungan senyawa fenol (Simes et al, 1959). 3. Pemeriksaan Flavonoid Sebanyak 1-2 tetes lapisan air diteteskan pada plat tetes, kemudian ditambahkan beberapa tetes asam klorida pekat dan sedikit serbuk logam

23

Mg. Timbulnya warna orange sampai merah menandakan adanya flavonoid (Simes et al., 1959). 4. Pemeriksaan steroid dan terpenoid Sebagian lapisan kloroform disaring dengan menggunakan pipet yang berisi norit (arang aktif), tampung dalam plat tetes sebanyak 2-3 tetes dan biarkan mengering. Setelah kering tambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Liebermen-Bouchard). Terpenoid akan memberikan warna merah, sedangkan steroid akan memberikan warna hijau atau biru (Simes et al., 1959). 5. Pemeriksaan Saponin Sebagian lapisan air dimasukkan kedalam tabung reaksi, selanjutnya dikocok kuat. Terbentuknya busa yang permanen (15 menit), ini menunjukkan adanya saponin (Simes et al., 1958). 3.3.6. Penentuan Kadar Flavonoid Total 1. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Kuersetin Dibuat larutan standar kuersetin dengan konsentrasi 100 g/mL dengan cara memipet 2 mL larutan kuersetin (5mg/mL) lalu diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) dalam labu ukur 100 mL sampai tanda batas. Larutan standar 100 g/mL dipipet 0,5 masukkan kedalam vial lalu dicampur dengan 1,5 mL metanol, selanjutnya tambahkan 0,1 mL larutan aluminium klorida 10%, 0,1 mL larutan natrium asetat 1M dan 2,8 mL aquadest, lalu dihomogenkan. Diamkan selama 30 menit, kemudian ukur

24

serapannya pada panjang gelombang 400-800 nm dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. 2. Penentuan Kurva Kalibrasi Kuersetin Dari larutan induk kuersetin (5mg/mL) dipipet sebanyak 0,1 ; 0,2 ; 0,3 ; 0,4 ; 0,5 dan 0,6 mL kemudian diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan seri konsentrasi kuersetin 20, 40, 60, 80 dan 120 g/mL. Masing-masing konsentrasi larutan dipipet 0,5 mL masukkan kedalam vial lalu tambahkan 1,5 mL metanol, selanjutnya tambahkan 0,1 mL aluminium klorida 10%, 0,1 mL natrium asetat 1M dan 2,8 mL aquadest. Larutan ini dihomogenkan dan didiamkan selama 30 menit, kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang serapan maksimum dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Visible. Lalu buat kurva kalibrasi sehingga persamaan regresi liniernya dapat dihitung. 3. Penentuan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol Kulit Buah Garcinia mangostana Linn (Poumorad et al., 2006) Dibuat larutan ekstrak sampel dengan konsentrasi 5mg/ml dengan cara melarutkan 0,125g ekstrak kental sampel dalam campuran metanol dan air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas. Dipipet 0,5 mL ekstrak sampel dan masukkan kedalam vial lalu dicampur dengan 1,5 mL metanol, selanjutnya ditambahkan 0,1 mL larutan aluminium klorida 10% dan 0,1 mL natrium asetat 1M dan 2,8 mL aquadest. Larutan dihomogenkan dan didiamkan selama 30 menit, kemudian diukur

25

serapannya pada panjang gelombang maksimum dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. 3.3.7. Penentuan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Muda dan Matang Garcinia Mangostana Linn (Mosquera et al, 2007). 1. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum DPPH Dipipet sebanyak 4 mL larutan DPPH 35g/mL yang baru dibuat, masukkan kedalam vial dan tambahkan dengan 2 mL campuran metanol dan air suling (1:1). Larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit ditempat yang gelap. Serapan larutan diukur dengan

spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 400-800 nm. 2. Penentuan IC50 Larutan Kuersetin Dibuat larutan pembending kuersetin dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5 g/mL dengan cara memipet 1 mL larutan induk kuersetin (5mg/mL) yang kemudian diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) dalam labu ukur 100 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan larutan kuersetin dengan konsentrasi 50g/mL. Dari larutan ini masing-masing dipipet sebanyak 1, 2, 3, 4 dan 5 mL, masukkan kedalam labu ukur 50 mL dan diencerkan lagi dengan campuran metanol dan aquadest (1:1) hingga tanda batas sehingga didapatkan dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4, dan 5g/mL. Dipipet sebanyak 2 mL masing-masingnya lalu dimasukkan kedalam vial, tambahkan 4 mL larutan DPPH 35 g/mL. Campuran

dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit ditempat yang gelap.

26

Kemudian diukur serapan larutan dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Dari nilai absorban sampel dan kontrol, kemudian dihitung % inhibisi dengan menggunakan rumus:

%inhibisi = absorban kontrol absorban sampel x 100% absorban kontrol

Keterangan : Absorban kontrol : serapan larutan radikal DPPH 35g/mL pada panjang gelombang 518 nm. Absorban sampel : serapan larutan ekstrak etanol kulit buah Garcinia Mangostana Linn (sampel) ditambah larutan DPPH 35 g/mL dikurangi dengan serapan sampel tanpa DPPH pada panjang gelombang maksimum. Dari data % inhibisi dengan konsentrasi larutan pembanding kuersetin tersebut dapat dibuat kurva aktivitas antioksidan sehingga dapat diperoleh persamaan regresi linier. IC50 kuersetin adalah konsentrasi larutan pembanding yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang dapat dihitung menggunakan regresi linier yang telah diperoleh. 3. Pemeriksaan IC50 Ekstrak Etanol Buah Muda dan Matang Garcinia Mangostana Linn. Dibuat larutan sampel dengan konsentrasi 10, 20, 30, 40 dan 50 g/mL. Masing-masing seri konsentrasi larutan sampel dipipet sebanyak 2 mL lalu dimasukkan kedalam vial, tambahkan 4 mL larutan DPPH 35

27

g/mL. Campuran dihomogenkan dan didiamkan ditempat yang gelap selama 30 menit. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UVVis pada panjang gelombang maksimum. Kemudian dihitung % inhibisi dengan menggunakan rumus seperti pada larutan pembanding kuersetin diatas. Dari data % inhibisi dengan konsentrasi larutan sampel tersebut dapat dibuat kurva aktivitas antioksidan sehingga dapat diperoleh persamaan regresi liniernya. IC50 larutan sampel adalah konsentrasi larutan sampel yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang dapat dihitung

menggunakan persamaan regresi linier yang telah diperoleh.

28

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Antioksidan dan Radikal Bebas. http:// Pengobatan. Word Press. Com .2007/04/24/ antioksidan-dan-radikal-bebas, diakses 16 April 2008. Arjuna, P., 2004, Antioxidant Activity, Medalion Laboratories Analithycal Progress, Vol. 19, No.2 page 1-4. Arkara, N. 2007. Daya hepatoprotektor ekstrak buah jambu biji, buni dan wortel pada mencit yang diinduksi dengan carbontetrachlorida. Universitas Padjajaran. Bandung. Cos, P., Callome, M., Sindambiwe, J.B., Bruyne, T.D., Cimanga, K., Pieters, L., Vlietinck, A.J., and Berghe, D.V., 2001, Cytotoxicity and Lipid Peroxidation-Inhibiting Activity of Flavonoids, Planta Med, 67. 515-519.
Creswell, Clifford J., Runguist, Olaf A., Campbell, Malcom, M, 1982, Analisis Spektrum Senyawa Organik, Edisi ke-2, Penerbit ITB: Bandung.

Culvenor, C. C. J. And J. S. Fitzgerald, 1963, A Field Methods for Alkaloids Screening of plants, J. Pharm. Sci., 52.
Dachriyanus. 2004, Analisis Struktur Senyawa Organik secara Spektroskopi, cetakan pertama, Andalas University Press, Trianda Anugrah Pratama, Padang. Fessenden, F. 1999, Kimia Organik. Edisi III Jilid 1, Erlangga , Jakarta.

Fessenden, R. J. Dan Fessenden, J. S., 1982, Kimia Organik, alih bahasa oleh Aloysius Hadyana Pudjaatmaka, Penerbit Erlangga, Jakarta. Gulcin, I., Uguz, M.T., Oktay, M., Beydemir, S., and Kufrevioglu, O.I., 2004, Evaluation of the Antioxidant and Antimicrobial Activities of Clary sage (Salvia sclarea L), Turki. Agric. For., 28: 25-33. Harborne, J.B., 1987, Metoda Fitokimia: Penentuan Cara Modern Menganalisis Tumbuhan,terbitan ke-2, alih bahasa oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro, Penerbit ITB, Bandung. Harliansyah, Mengunyah Halia Menya Penyakit:, Paksi Jurnal, Fakultas Perubatan, Universiti Kebangsaan Malaysia, Selanor Darus Ehsan, Malaysia. Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia III, Penerjemah : Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Yayasan Sarana Wahajaya, Jakarta, pp 1385-1386.

29

Karimah. 1991, Inhibitor Aldosa Reduktase Trend Baru Pencegahan Komplikasi Diabetes Melitus, Buletin Pharos, 2. Mardiana, L., 2011, Ramuan dan Khasiat Kulit Manggis, Penebar Swadaya, Jakarta. Markham, K.R., 1998, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, alih bahasa oleh Kosasih Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung. Molynneux, K.R., 2004, The use of the stable free radical diphenylpicryl-hidrazyl (DPPH) for estimating antioxidant activity, J. Sci technol., Vol. 26 (2): 211-210. Okawa, M., J. Kinjo, T. Nohara and M. Ono, 2001, Modification Method DPPH (1,1-diphnyl-2-picrylhydrazyl) radical scavenging activity of flavonoids obtained from some medical plants, Biol. Pharm. Bull., Vol. 24 (10), 12021205. Poumorad, F., S. J. Hosseinimehr dan N. Shahabimajd, 2006, antioxidant activity, phenol and flavonoid content of some selecteral Iranian medical plants, African Journal of Biotechnology, Vol. 5(11),pp. 1142-1145. Pradipta, I.S., Nikodemus, T.W., dan Susilawati, Y, 2006, Isolasi dan identifikasi Senyawa Golongan Xanthon dari Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.), Fakultas Farmasi, Universitas Padjajaran, Bandung. Qosim, Ali Warid, 2009, Manggis (Garcinia Mangostana L.), Diakses 29 Agustus 2010. Rukmana, Rahmat, 2003. Bibit Manggis Kanisius, Yogyakarta. Sajuthi, Dondin. Ekstraksi, Fraksinasi, Karakterisasi dan Uji Hayati In-vitri Senyawa Bioaktif Daun Dewa (Gynura pseudochina (Lour)DC)Sebagai Anti Kanker, Tahap II. Buletin Kimia : 75-79. Simes, J. J. H., J. G. Tracy, L. J. Web and W. J. Dunston, 1959, an Australian Phytichem Common Wealth Scientific and Industrial Research Organization, Australia, Melbourne, Bulletin no. 281, 5-9. Sunarni, T., S. Pramono dan R. Asmah, 2007, Flavonoid Antioksidan Penangkap Radikal dari daun Kepel (Stelechocarpus burahol (BL) Hook f. dan Th). Majalah Farmasi Indonesia 18 (3), 111-116, Solo. Tjahjanigtyas, 2011. Manggis Ratu Buah Kaya Mamfaat. surabaya Winarsi, H., 2007, Antioksidan Alami dan Radikal Bebas, Kasinius, Yogyakarta.

30

Yukiro Akao, Yoshito Nakagawa dan Yoshinori Nozawa, 2008, Anti Cancer Effects of Xanthones from Pericarps of Mangosteen, int. J. Mol. Sci 9 : 355-370.

31

Lampiran 1 : Skema Kerja Ekstraksi Sampel 50 gram sampel kering kulit yang telah diserbuk direndam dengan 250 mL etanol 70% selama 2 x 24 jam, sambil sekali-kali diaduk saring dengan kertas saring whatman No.41 ulangi sampai filtrate sampai tidak berwarna

Filtrat -

ketiga filtrat digabungkan

Filtrat diuapkan dengan rotary evaporator suhu 40oC

Ekstrak kental ekstrak kental ditimbang dilarutkan dengan metanol:air (1:1) dalam labu ukur 50 mL Larutan ekstrak

Penentuan kadar flavonoid total

Gambar 4 : Skema Kerja Ekstraksi Sampel

32

Lampiran 2 : Skema kerja Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Kuersetin Dalam Methanol:air

2 ml larutan kuersetin (5mg/mL)

tambahkan metanol:air (1:1) dalam labu ukur 100 mL

Larutan kuersetin konsentrasi 100g/mL

0,5 ml larutan kuersetin (100g/mL)

tambahkan 1,5 mL metanol tambahkan 0,1 mL larutan aluminium klorida 10% tambahkan 0,1 mL natrium asetat 1M diamkan selama 30 menit

Ukur serapan pada panjang gelombang 200-800 nm dengan spektrofotometri UV-Visibel

Gambar 5 : Skema Kerja Penentuan Panjang gelombang Maksimum Kuersetin Dalam Methanol:air
33

Lampiran 3 : Skema Kerja Penentuan Kadar Flavonoid Total

0,5 mL larutan ekstrak

tambahkan 1,5 mL metanol tambahkan 0,1 mL larutan aluminium klorida 10%

tambahkan 0,1 mL natrium asetat 1 M

tambahkan 2,8 mL air suling

diamkan selama 30 menit

Ukur serapan dengan spektrofotometri UV-Visibel pada panjang gelombang maksimum

Gambar 6 : Skema Kerja Penentuan Kadar Flavonoid Total

34

Lampiran 4. Skema Kerja Uji Aktivitas Antioksidan Dengan Metoda DPPH

2 mL larutan ekstrak Sampel

Ditambahkan 4 mL larutan DPPH 35 g/mL

Diamkan selama 30 menit ditempat gelap

Ukur Serapan dengan Spektrofotometri UV-Vis Pada Panjang Gelombang maksimum

Gambar 7: Skema Kerja Uji Aktivitas Antioksidan Dengan Metoda DPPH

35