Anda di halaman 1dari 38

TUGAS MK. REKAYASA SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DOSEN: PROF. DR.

ERIYATNO

Model Kebijakan Pengelolaan Ekowisata Secara Bersama dan Kolaboratif Menghadapi Dinamika Lingkungan
Studi Kasus: Kabupaten Lombok Utara
PIPIN NOVIATI SADIKIN
P062110171

PS. Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan Institut Pertanian Bogor

Kata pengantar Daftar isi I. Pendahuluan ................................................................................................ 2 1.1 Latar belakang......................................................................................... 2 1.2 Tujuan...................................................................................................... 5 1.3 Kerangka pemikiran................................................................................. 6 1.4 Perumusan masalah................................................................................ 7 1.5 Manfaat penelitian................................................................................. 11 1.6 Novelty ................................................................................................... 12 II. Tinjauan pustaka...........................................................................................13 2.1 Ekowisata ...............................................................................................13 2.2 Pariwisata Keberlanjutan ......................................................................14 2.3 Kerentanan dan Indikator Parameter Kerentanan Biofisik dan Sosial Ekonomi.............................................................................................15 2.4 Adaptasi ................................................................................................16 2.5 Pengelolaan Bersama dan Adaptif (ACM) .............................................17 2.6 Valuasi Ekonomi, Analisis Permintaan dan Multiplier Effect..................19 2.7 Pendekatan Sistem ................................................................................19 2.8 Modelling...............................................................................................20 2.9 Validitas dan sensitivitas model.............................................................21 III. Metodologi Penelitian................................................................................. 24 3.1 Lokasi dan waktu penelitian...................................................................24 3.2 Bahan dan alat....................................................................................... 24 3.3 Jenis dan sumber data........................................................................... 24 3.4 Pelaksanaan penelitian.......................................................................... 24 3.4.1 Metode Pengumpulan Data ...............................................................24 3.4.1.1 Studi Pustaka ...................................................................................24 3.4.1.2 Participation Action Research..........................................................25 3.4.1.3 Focus Group Discussion....................................................................25 3.4.2 Analisis data....................................................................................25 3.4.2.1 Pengembangan Model Kebijakan Pengelolaan Ekowisata Bersama dan Adaptif..............................................................25 3.4.2.2 Survey KAB dan Persepsi.......................................................25 3.5 Analisis Kerentanan dengan IKL atau ESI ..............................................25 3.6 Valuasi ekonomi, analisis permintaan dan multiplier effect ................. 27 3.7 Validitas model.......................................................................................29 3.8 Pendekatan sistem dalam pengelolaan ekowisata ...............................29 2.8.1 Analisis kebutuhan ..............................................................................30 2.8.2 Formulasi masalah ..............................................................................31 3.8.3 Identifikasi sistem ................................................................................31 3.9 Model Pengelolaan Ekowisata Bersama dan Adaptif..............................34 3.10 Analisis Pengembangan skenario...........................................................34 Daftar Pustaka

pg. 1

Bab I Pendahuluan
1.1. Latar belakang

Sektor pariwisata sangat sensitif terhadap dinamika lingkungan, terutama bagi sektor pariwisata di Indonesia yang sangat mengandalkan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati, baik yang berada di perairan atau laut, maupun di daratan atau pegunungan. Dinamika lingkungan yang mengakibatkan perubahan pada lingkungan terjadi akibat aktivitas manusia dan perubahan alam. Perubahan akibat kegiatan manusia misalnya pembangunan. Sementara perubahan akibat fenomena alam, misalnya perubahan geologis dan iklim. Dinamika lingkungan mempengaruhi system alam dan aktivitas manusia: gaya hidup, ekonomi, kesehatan, pertanian, perikanan dan kesejahteraan sosial, termasuk pariwisata. Pengaruh dinamika lingkungan terhadap sector pariwisata dapat langsung terlihat misalnya meningkatnya pencemaran akan ketersediaan air bersih bagi wisatawan, meningkatnya kerusakan terumbu karang yang menjadi objek wisata, meningkatnya banjir, meningkatnya erosi yang merusak fasilitas pariwisata, atau meningkatnya curah hujan yang mengubah musim atau cuaca ekstrim yang menghalangi penyelaman atau pendakian gunung. Sementara permintaan wisatawan terhadap sebuah proses pariwisata adalah adanya kenyamanan, keamanan, dan kepuasan karena mendapatkan interpretasi atau sesuatu dari daerah tujuan wisata yang diinginkannya. Ketika diprediksi bahwa suatu perjalanan wisata akan tidak nyaman, tidak aman, dan sulit mencapai daerah tujuan wisata harapannya, maka ia akan segera mengambil keputusan untuk berganti daerah tujuan wisata ketempat atau negara lain yang diperkirakan bisa memenuhi harapannya. Indonesia memang merupakan Negara kepulauan di Asia Tenggara yang berdasarkan toponomi terdiri dari 13.000 pulau besar dan kecil, yang menyebar di sekitar khatulistiwa. Terkait dengan letak geografis ini, Indonesia merupakan salah satu Negara dengan megabiodiversity selain Brazil. Karena itulah, Indonesia memiliki daya tarik besar sebagai tujuan wisata yang berbasiskan sumberdaya alam dan lingkungan. Diantara begitu banyaknya tujuan wisata di Indonesia, Kabupaten Lombok Utara di pulau Lombok propinsi NTB menjadi salah satu tujuan wisata. Pariwisata merupakan salah satu sector ekonomi yang penting bagi Indonesia. Pada tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga, setelah komoditi minyak dan gas bumi,

pg. 2

serta minyak kelapa sawit. Pada tahun 2010, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sebesar 7 juta lebih, atau mengalami pertumbuhan sebesar 10,74% dibandingkan tahun sebelumnya. Pariwisata menyumbangkan devisa bagi Negara Indonesia sebesar 7.603,45 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar 10% dari GNP. Pemerintah mencanangkan pariwisata menjadi salah satu andalan pembangunan Indonesia.Keppres No. 38 tahun 2005 mengamanatkan bahwa seluruh sector dalam negeri perlu mendukung pembangunan pariwisata. Berdasarkan data tahun 2008, tren pariwisata tahun 2020 perjalanan wisata dunia akan mencapai 1,6 milyar orang. Diantaranya 438 juta orang akan berkunjung ke kawasan Asia Pasifik, termasuk Cina dan Indonesia. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I) menetapkan menetapkan target bahwa pada tahun 2011-2025, wisatawan mancanegara mencapai jumlah 20 juta wisman per tahun, dengan pintu gerbang pariwisata melalui Bali dan Nusa Tenggara. Komposisi penerimaan PDB mencapai 21% di Bali dan Nusa Tenggara. Sementara itu, sebesar 40% kedatangan pesawat asing masuk melalui Bali. Dengan demikian, Nusa Tenggara Barat yang lokasinya bertetangga dengan Bali dan memiliki karakteristik alam dan budaya unik seperti Bali pun, mendapat perhatian sebagai salah satu tujuan pariwisata internasional dan nasional. Selain wisatawan mancanegara, wisatawan domestic juga akan mengalami pertumbuhan sejalan dengan peningkatan rata-rata pendapatan masyarakat yang diharapkan akan menembus angka lebih dari 300 juta orang dengan lebih dari 300 juta perjalanan (trips). Dengan demikian harapannya akan terjadi peningkatan di bidang investasi, penyerapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan dan peningkatan kontribusi kegiatan pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dan masyarakat. Indonesia memang merupakan Negara kepulauan di Asia Tenggara yang terdiri dari 13.000 pulau besar dan kecil, yang menyebar di sekitar khatulistiwa yang memberikan cuaca tropis. Terkait dengan letak geografis ini, Indonesia merupakan salah satu Negara dengan mega-biodiversity selain Brazil.Karena itulah, Indonesia memiliki daya tarik besar sebagai tujuan wisata yang berbasiskan sumberdaya alam dan lingkungan.Diantara begitu banyaknya tujuan wisata di Indonesia, pulau Lombok menjadi salah satu tujuan wisata.Berdasarkan data BPS, pada tahun 2010, banyaknya wisatawan yang datang ke Nusa Tenggara Barat mencapai 2.095 per hari. Banyaknya wisatawan local yang datang ke Lombok adalah 782 orang per hari dan wisatawan asing 1.313 orang per hari. Jumlah kunjungan wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara ke daerah itu mencapai 300 ribu orang di 2011, atau hampir setengah dari jumlah kunjungan wisatawan ke wilayah NTB (Pulau Lombok dan Sumbawa

pg. 3

serta sejumlah gili) yang menurut versi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB mencapai 886.880 orang. Perolehan pendapatan asli daerah dari wisata bahari di kabupaten ini mencapai Rp 183,33 juta atau 75 persen dari keseluruhan pendapatan sektor pariwisata. Sebanyak 70 persen atau sebagian besar PAD Kabupaten Lombok Utara itu bersumber dari sektor pariwisata. Pendapatan Asli Daerah (PAD) daerah otonom yang baru berusia tiga tahun itu telah mencapai Rp25 miliar, yang terus meningkat dari tahun pertama sebesar Rp6,7 miliar. No Tahun PAD (Rp) Wisatawan lokal 2011 2010 25 miliar 364.196 285.430 Wisatawan mancanegara 522.684 479.245 Wisatawan /tahun 886.880 764.675

Di sisi lain, dampak perubahan iklim, khususnya terhadap sektor pariwisata masih berupa wacana. Dampak perubahan iklim ini memang sering dikatakan masih diperkirakan, tetapi perubahan pola cuaca, intensitas hujan dan musim kering, serta peningkatan bencana dan cuaca ekstrim sudah mulai dirasakan sekarang, tidak perlu menunggu 2030 atau 2050. Sri Woro mengatakan bahwa perubahan iklim juga bisa berpengaruh terhadap sektor pariwisata Indonesia, yang terwujud dalam bentuk alam dan lingkungan akan kehilangan daya tarik, hilangnya daya tarik wisata alam dan kerusakan infrastruktur pariwisata. Kenaikan muka laut dan kecepatan angin yang meningkat akan menimbulkan ancaman dan paling rawan terjadi pada jalur pantai, menyebabkan erosi pantai dan hilangnya daerah pantai berharga. Suhu permukaan laut meningkat akan mempengaruhi pemutihan karang di perairan dangkal, sementara sumber daya laut juga akan hilang rusaknya keindahan lingkungan bawah laut. Gelombang laut tinggi yang merupakan ancaman bagi transportasi laut serta curah hujan yang berlebihan dapat menyebabkan banjir yang sering menghambat transportasi darat. Perubahan lingkungan di Kabupaten Lombok Utara adalah perubahan penggunaan lahan dan pemanfaatan hutan, abrasi pantai, banjir, longsor pencemaran air, pendangkalan sungai, rusaknya fasilitas. Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, yang meliputi 5 kecamatan, 33 desa, 322 dusun memiliki risiko ancaman bencana alam. Bentang kenampakan alam lima kecamatan di KLU di belakang daratannya yang relatif sedikit ada lereng perbukitan dan hutan, dan di depannya ada laut. Akibatnya, daerah dari barat ke timur, mulai pesisir Desa Malaka di Kecamatan Pamenang, tetangga obyek wisata Senggigi di Lombok Barat, Desa Medana di Kecamatan Tanjung, Desa Gondang di Kecamatan Gangga,

pg. 4

Desa Selengen di Kecamatan Kayangan, dan Desa Mumbul Sari di Kecamatan Bayan, rawan longsor, banjir, serta air pasang. Karena berada di kawasan Gunung Baru Jari (2.376 meter) yang masih aktif, penduduk desa itu paling awal akan terkena awan panas, lava pijar, dan hujan abu yang disemburkan anak Gunung Rinjani (3.725 meter). Lingkungan dalam hal ini dikatakan Mitchell (2009) selalu mengandungperubahan, kompleksitas, ketidakpastian, dan konflik.Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian mengenai pengelolaan ekowisata yang adaptif dan kolaboratif terhadap perubahan lingkungan.Salah satu cara mengahadapi kompleksitas dan ketidakpastian adalah melalui pengelolaan lingkungan adaptif. Lee (1993) dalam Mitchell (2010) melihat pengelolaan lingkungan adaptif dikaitkan dengan upaya untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berdasarkan pelestarian lingkungan. Pengelola adaptif secara jelas memperhatikan ketidakpastian dan kekurangpahaman, dengan menggunakan intervensi manusia dalam system alam sebagai proses eksperiment.Yang dimaksud adaptif disini adalah berbasis kepada adaptasi. Ada beberapa pengertian tentang adaptasi atau mekanisme penyesuaian diri, yaitu: W.A. Gerungan (1996) dalam Wikipedia menyebutkan bahwa Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri). Menurut UNDP (2004) Adaptasi adalah suatu proses dimana strategi ini bertujuan untuk moderat, mengatasi danmengambil keuntungan atas konsekuensi dari kejadian iklim yang meningkat, dikembangkandan diimplementasikan. (Simpson, Gossling, Scott, Hall, & Gladin, 2008). Menurut Sutamihardja (2009a), adaptasi khususnya terhadap perubahan iklim, berarti meminimalkan kerusakan-kerusakan yang memproyeksikan dapat terjadi pada aspek sosio-ekonomi yang disebabkan oleh perubahanperubahan fisik pada iklim.Adaptasi secara sederhana adalah berbagai tindakan penyesuaian diri terhadap kejadian yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan iklim/pemanasan global. Oleh karena itu, untuk melakukan upaya guna meminimalkan risiko yang berdampak lebih jauh kepada industri pariwisata itu dengan keterkaitan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, maka perlu penelitian mengenai pengelolaan ekowisata secara bersama yang adaptasi yang memadai untuk meminimalkan dampak perubahan iklim terhadap sektor pariwisata di pulau Lombok. Untuk itu, diperlukan suatu keterpaduan dan komprehensif, karena faktor-faktor yang ada tersebut saling berkaitan.

pg. 5

1.2.

Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah:

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model kebijakan pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif di Kabupaten Lombok Utara. Sub tujuan Penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi kesenjangan antara kesadaran dan perilaku adaptasi para mitra (stakeholder ekowisata) di Kabupaten Lombok Utara 2. Mengetahui kerentanan sektor pariwisata yang termasuk ke dalam sektor sosial ekonomi, ketika berhadapan dengan dinamika lingkungan Kabupaten Lombok Utara 3. Mengidentifikasi indicator strategi adaptasi yang cocok bagi pariwisata di Kabupaten Lombok Utara. 4. Mengembangkan metode pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif. 5. Melakukan valuasi ekonomi, analisis permintaan terhadap paket-paket ekowisata yang menerapkan ACM dan multiplier effect bagi masyarakat.

6. Melakukan analisis keberlanjutan ekowisata berdasarkan hasil-hasil


pengkajian sebelumnya.

1.3. Kerangka pemikiran Perubahan lingkungan di kawasan yang rentan telah menyebabkan penurunan kualitas lahan, pencemaran lingkungan serta mengakibatkan sumberdaya alam yang berpotensi untuk ekowisata menjadi rusak. Permasalahan sumberdaya alam dan lingkungan selalu terkait dengan perubahan, ketidakpastian, penuh kompleksitas dan rentan konflik. Oleh karena itu, ekowisata perlu diarahkan ke ekowisata dengan pengelolaan secara bersama dan adaptif. Meskipun konsekuensi dari perubahan lingkungan akan bervariasi di berbagai daerah, semua negara dan sektor ekonomi harus bersaing dengan tantangan perubahan lingkungan tersebut melalui adaptasi dan kolaborasi. Pariwisata tidak terkecuali dan dalam dekade ke depan, perubahan lingkungan akan menjadi isu penting bagi pengembangan pariwisata dan manajemen. Daerah yang terkena dampak perubahan lingkungan yang relevan untuk tujuan pariwisata dan turis, membutuhkan adaptasi dari semua pemangku kepentingan pariwisata utama. Memang, perubahan lingkungan bukan pengendali peristiwa di masa depan untuk

pg. 6

pariwisata. Akan tetapi, berbagai macam dampak dari perubahan lingkungan teridentifikasi dengan jelas pada tujuan wisata di seluruh dunia dan mempengaruhi pengambilan keputusan di sektor pariwisata. Analisis kebijakan dilakukan untuk menganalisi elemen utama analisis kebijakan yang terdiri dari (1) tujuan (goals), termasuk constraint normatif dan bobot relatif dari tujuan (2) Kebijakan, program, proyek, keputusan (decisions), opsi, means dan alternatif lainnya yang tersedia atau digunakan untuk pencapaian goal. (3) Hubungan antara kebijakan-kebijakan dan tujuan-tujuan, termasuk hubungan yang terjadi (established by) intuisi, kewenangan, statistik, observasi, deduksi, perkiraan dan sebagainya. (4) Penarikan konklusi tentatif mana kebijakan atau kombinasi kebijakan yang terbaik yang diadopsi untuk tujuan, kebijakan dan hubunganhubungan. Dalam hal ini analisis kebijakan dibutuhkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi penyelenggaraan ekowisata adaptif dan kolaboratif yang berkelanjutan., Konsep kerentanan telah menjadi alat analisis yang kuat untuk menggambarkan keadaan kerentanan terhadap bahaya, ketidakberdayaan, dan marjinalitas sistem baik fisik maupun sosial, dan untuk mengarahkan analisis kepada tindakan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui adaptasi dan pengurangan risiko serta peningkatan kapasitas adaptasi. Kerentanan sosial-ekologi sistem melengkapi dan secara signifikan dapat menambah pengembangan penelitian pada tantangan yang dihadapi oleh interaksi lingkungan manusia di bawah tekanan akibat perubahan lingkungan dan sosial global. Sementara Adaptasi perlu dilakukan, selain tindakan mitigasi, sebagai upaya menghadapi perubahan lingkungan. Adaptive management (PM), juga dikenal sebagai manajemen sumber daya adaptif (ARM), adalah terstruktur, iteratif proses pengambilan kuat keputusan dalam menghadapi ketidakpastian, dengan tujuan untuk mengurangi ketidakpastian dari waktu ke waktu melalui sistem pemantauan. Dengan cara ini, pengambilan keputusan secara bersamaan memenuhi tujuan satu atau lebih sumber daya manajemen dan, baik pasif atau aktif, mencatat informasi yang diperlukan untuk meningkatkan manajemen masa depan. Pengelolaan adaptif adalah alat yang harus digunakan tidak hanya untuk mengubah suatu sistem, tetapi juga untuk belajar tentang sistem (Holling 1978). Karena pengelolaan adaptif didasarkan pada proses pembelajaran, meningkatkan kapasitas dan lama memperoleh hasil pengelolaan, maka tantangan dalam menggunakan pendekatan manajemen adaptif terletak dalam menemukan keseimbangan yang benar antara memperoleh pengetahuan untuk meningkatkan manajemen di masa depan dan mencapai yang terbaik pendek - hasil jangka berdasarkan kondisi saat ini (Stankey & Allan 2009)*.

pg. 7

Valuasi ekonomi lingkungan juga merupakan suatu alat untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan pengelolaan sumber daya alam. Dengan valuasi ini akan diketahui berapa kontribusi ekowisata terhadap kesejahteraan masyarakat, sehingga menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan untuk menentukan perencanaan dan pengelolaan lebih lanjut. Dari valuasi ekonomi ini juga akan dilakukan analisis permintaan kunjungan wisatawan terhadap ekowisata, sebagai konsekuensi dari pengelolaan adaptif dan kolaboratif yang dilakukan di kawasan. Salah satu cara menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian adalah melalui pengelolaan lingkungan adaptif. Lee (1993) dalam Mitchell (2010) melihat pengelolaan lingkungan adaptif dikaitkan dengan upaya untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berdasarkan pelestarian lingkungan. Pengelola adaptif secara jelas memperhatikan ketidakpastian dan kekurangpahaman, dengan menggunakan intervensi manusia dalam system alam sebagai proses eksperiment.

Iklim
Cuaca ekstri

Banjir kekeringan

Valuasi Ekonomi Permintaan ACM

Kebijakan Ekowisata Tata ruang Bencana

ekowisat a rentan

ekowisata

ekowisata

Ekowisata Berkelanjutan antropogenik


Degrada si lahan erosi

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Model Kebijakan Pengelolaan Ekowisata Secara Bersama dan Adaptif

pg. 8

1.4. Perumusan masalah

Di balik daya tarik dan keindahannya Lombok tersembunyi ancaman dan berakibat kepada perubahan lingkungan. Isu tentang perubahan lingkungan memang sudah memasyarakat luas. Akan tetapi upaya pengelolaan dan pengembangan mitigasi dan adaptasi terhadap isu ini belum optimal. Permasalahan tersebut biasanya terjadi pada saat perencanaan, pengembangan, pengoperasian, pemeliharaan, pengendalian, penggunaan teknologi yang tidak tepat, perencanaan wilayah yang tidak tepat, adanya kesenjangan permintaan dan penawaran, gejolak sosial-budaya di masyarakat, nilai tambah yang tidak dimengerti oleh masyarakat, dan tidak jelasnya kebijakan dan institusi pengelola serta masalah pembiayaan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan, kelestarian dan pemanfaatan pariwisata di pulau Lombok, selain bergantung pada faktor fisik alami seperti curah hujan dan fisik lingkungan objek wisata setempat, juga bergantung dari faktor manusianya. Menurut Didi S Agusta Wijaya1, struktur geologi Kabupaten Lombok Utara (KLU) termasuk Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, merupakan hasil erupsi Gunung Rinjani yang berupa campuran tufa, batu apung, pasir, dan kerikil yang labil, mudah rontok, serta rentan longsor dan erosi. Tanah yang mudah longsor itu digali sembarangan untuk diambil batu apungnya. Dalam pandangan Ir Lolita Endang 2S MP, penambangan batu apung dengan sistem terbuka, terowongan, dan irisan tegak pada lereng bukit itu sangat mengancam keselamatan penambang, mengusik sifat alami tanah, menurunkan produktivitas tanah yang nantinya mengganggu aktivitas usaha tani. Indikasinya terlihat, tiap tahun di Dusun Minder, Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan, hubungan transportasi terputus karena sebuah jembatan ambruk pada 18 Januari 2011. Jembatan yang ada diseret air bah yang membawa material setelah turun hujan selama tiga hari. Hampir saban tahun Dusun Muara Putat, Desa Pamenang Barat, dan Dusun Kandang Kao di Desa Tanjung, selalu tergenang air pasang yang meluber 200-500 meter dari pasang surut air laut ke permukiman warga. Di obyek wisata hutan Pusuk, Kecamatan Pamenang, tempat wisatawan biasa bercengkerama dengan kera, tercatat lebih dari 10 titik rawan longsor. Lumpur yang mengeras pada badan dan aspal jalan yang bergelombang dan berlubang di jalur transportasi Kecamatan Tanjung-Kecamatan Bayan, pendangkalan sungai, rusaknya saranaprasarana irigasi menunjukkan KLU seluas 809,53 kilometer persegi dengan penduduk 207.998 jiwa itu tidak bebas dari bencana alam. Padahal, Gunung Rinjani dan kawasan hutannya (125.000 hektar) adalah sumber air irigasi dan air minum bagi rakyat Pulau
1 2

geolog dan dosen pada Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram), dosen pada Fakultas Pertanian Unram,

pg. 9

Lombok, sekaligus sumber plasma nutfah flora-fauna dan daerah sebaran burung endemik seperti burung pengisap madu lombok, koakiau, dan kecial, yang dua dekade terakhir sangat jarang terlihat di kawasan itu. Pola curah hujan di Pulau Lombok saat ini (1991-2007) relatif sudah berbeda dengan pola sebelumnya (1961-1990), dimana curah hujan pada bulan Desember saat ini lebih rendah daripada masa sebelumnya, namun hal yang sebaliknya terjadi pada bulan MaretApril. Pola temperatur udara juga mengalami perubahan dimana terlihat ada kenaikan sebesar 0,5 oC sd 1 oC pada saat ini (1991-2007) relatif terhadap pola sebelumnya (19611990), khususnya pada bulan November-April, sedangkan pola temperatur udara pada bulan Mei-Oktober relatif tidak berubah. (ICCSR, 2010) Dalam kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim Pulau Lombok Provinsi NTB pada tahun 2009, yang dilakukan atas kerjasama pemerintah Indonesia Jerman, dikatakan bahwa Pulau Lombok sangat mudah terpengaruh oleh kenaikan tinggi muka air laut, terutama terhadap bahaya banjir (ROB), sedimentasi dan erosi. Kondisi ini akan semakin rentan dengan meningginya frekuensi iklim ekstrim seoerti El Nino dan La Nina. Daerah pantai yang rentan terhadap banjir dan genangan air selama musim angina Barat (penghujan, northwest monsoon), menjadi lebih rentan dengan adanya fenomena kenaikan tinggi muka air laut.Pulau Lombok sebelah Barat dengan dataran rendah yang terbentang sepanjang beberapa kilometer dari pantai, merupakan daerah potensi banjir selama musim penghujan dengan puncaknya pada bulan Desember sampai Pebruari. Kajian ini juga menyebutkan bahwa salah satu sektor yang secara langsung terancam terhadap bahaya kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim adalah sektor pesisir dan laut. Manusia dan ekosistem wilayah pesisir dan laut menghadapi bahaya akibat kenaikan muka air laut serta perubahan parameter-parameter laut lainnya yang disebabkan perubahan iklim seperti badai pasut (rob) atau banjir pasang surut, gelombang badai, ENSO terhadap wilayah pesisir, menyebabkan perubahan lingkungan berupa: Penggenangan lahan basah dan dataran rendah, yang beresiko hilangnya pulau-pulau kecil Erosi pantai dan pengurangan lahan pesisir Perubahan kisaran pasang surut (pasut) di teluk dan muara sungai Kerusakan ekosistem pesisir, yang terdiri dari mangrove, terumbu karang, padang lamun dan estuary Instrusi air asin dan penurunan kualitas air

pg. 10

Banjir dan suplai sedimen ke wilayah pesisir akibat perubahan curah hujan dan limpasan permukaan. Meningkatkan frekuensi overtoping pada bangunan pantai Perubahan pola arus, baik secara horizontal maupun vertical (upwelling dan downwelling)

Lemahnya Penerapan Kebijakan Rendahnya kesadaranstakeholder

Kemiskinan dan konflik sosial

Perilaku stakeholder pariwisata dan non-stakeholder yang tidak ramah lingkungan

Perubahan lingkungan

Degradasi Lingkungan

Menurunnya pendapatan dari sector pariwisata

Menurunnya keindahan, daya tarik dan kenyamanan Menurunnya jumlah wisatawan Rendahnya kemampuan adaptasi mitra

Gambar 2. Kerangka Permasalahan ekowisata menghadapi dinamika lingkungan di Pulau Lombok

1.5 Manfaat penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa saran-saran kepada berbagai pihak dan stakeholder, yang terdiri dari: Bagi pemerintah daerah, informasi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memformulasi kebijakan dalam pengelolaan ekowisata secara bersama yang adaptif di Kabupaten Lombok Utara. Bagi masyarakat model pengelolaan ekowisata secara bersama yang adaptif ini bisa menjadi suatu alat untuk sumber mata pencaharian dan pengelolaan sumberdaya alam agar berkelanjutan. Bagi pelaku usaha model pengelolaan ekowisata secara bersama yang adaptif ini bisa menjadi acuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan.

pg. 11

1.6 Novelty (Keterbaruan) 1. Pendekatan pengelolaan ekowisata dengan konsep ACM atau Adaptive Collaborative Management masih jarang dilakukan di Indonesia. 2. Pendekatan yang selama ini dilakukan di sektor pariwisata di Lombok kurang memperhatikan aspek lingkungan dan social, serta cenderung memisahkan antara aspek ekologi, social dan ekonomi. 3. Pendekatan yang selama ini dilakukan tidak menggunakan pendekatan system. Sehingga penelitian ini menggunakan pendekatan system, dengan pendekatan system ekologi, social dan ekonomi.

pg. 12

Bab II Tinjauan pustaka

2.1 Ekowisata Menurut The International Ecotourisme Society atau TIES (1991) ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah-wilayah alami dalam rangka mengkonversasi atau

menyelamatkan lingkungan dan memberi penghidupan penduduk local. Ekowisata adalah bentuk baru dari perjalanan bertanggungjawab ke area alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood, 1999). Menurut World Conservation Union (WCU), ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah-wilayah yang lingkungan alamnya masih asli, dengan menghargai warisan budaya dan alamnya, mendukung upaya-upaya konservasi, tidak menghasilkan dampak negatif, dan memberikan keuntungan social ekonomi serta menghargai partisipasi penduduk local. Australian Department of Tourism (Black, 1999) yang mendefinisikan ekowisata adalah wisata berbasis pada alam dengan mengikutkan aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekologis. Definisi ini memberi penegasan bahwa aspek yang terkait tidak hanya bisnis seperti halnya bentuk pariwisata lainnya, tetapi lebih dekat dengan pariwisata minat khusus, alternative tourism atau special interest tourism dengan obyek dan daya tarik wisata alam. United Nations Comission on Sustainable Development (dalam bidang sesi ke 8 tahun 2000) menyatakan bahwa ekowisata adalah sustainable tourisme yang: 1. 2. Menjamin partisipasi yang setara, efektif dan aktif dari seluruh stakeholders Menjamin partisipasi penduduk local menyatakan YA atau TIDAK dalam

kegiatan pengembangan masyarakat, lahan dan wilayah 3. Mengangkat mekanisme penduduk local dalam hal pengendalian dan

pemeliharaan sumber daya. Menurut WWF dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2009), istilah ekowisata dapat diartikan sebagai perjalanan oleh seorang turis ke daerah terpencil dengan tujuan menikmati dan mempelajari mengenai alam, sejarah dan budaya di suatu daerah, di mana pola wisatanya membantu ekonomi masyarakat local dan mendukung pelestarian alam. Para pelaku dan pakar di bidang ekowisata sepakat untuk menekankan bahwa pola ekowisata sebaiknya meminimalkan dampak yang negatif terhadap lingkungan dan budaya setempat dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat setempat dan nilai konservasi. Beberapa aspek kunci dalam ekowisata adalah:

pg. 13

Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat (vs mass tourism) Pola wisata ramah lingkungan (nilai konservasi) Pola wisata ramah budaya dan adat setempat (nilai edukasi dan wisata) Membantu secara langsung perekonomian masyarakat lokal (nilai ekonomi) Modal awal yang diperlukan untuk infrastruktur tidak besar (nilai partisipasi masyarakat dan ekonomi).

2.2 Pariwisata Keberlanjutan Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development adalah proses

pembangunan (lahan, kota, bisnis, desa, masyarakat dll) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987. Pembangunan berkelanjutan harus menghadapi pencapaian pembangunan dengan memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Ekowisata adalah sebagian dari sustainable tourism. Sustainable tourism adalah sector ekonomi yang lebih luas dari Ekowisata yang mencakup sektor-sektor pendukung kegiatan wisata secara umum, meliputi wisata bahari (beach and sun tourism), wisata pedesaan (rural and agro tourism), wisata alam (natural tourism), wisata budaya (cultural tourism) atau perjalanan (business travel). Ekowisata berpijak pada tiga kaki sekaligus, yakni wisata pedesaan, wisata alam dan wisata budaya. (Nugroho, 2011)

Dimensi-dimensi Ekonomi, Ekologi, Sosial dan Budaya dalam Pariwisata Berkelanjutan Tabel 1. Dimensi: Ekonomi, Ekologi, Sosial dan Budaya dalam Pariwisata Berkelanjutan (Damanik & Weber, 2006)
Dimensi Ekonomi Wisatawan Peningkatan kepuasan wisata Peningkatan belanja wisata di daerah destinasi Penggunaan produk dan layanan wisata berbasis lingkungan (green product) Kesediaan membayar lebih mahal untuk produk dan layanan Penyedia Jasa Ekowisata Peningkatan dan pemerataan pendapatan semua pelaku wisata Penciptaan kesempatan kerja terutama bagi masyarakat local Peningkatan kesempatan berusaha/diversifikasi pekerjaan Penentuan dan konsistensi pada daya dukung lingkungan Pengelolaan limbah dan peningkatan penggunaan bahan baku hemat energi Prioritas pengembangan produk dan layanan jasa berbasis lingkungan Peningkatan kesadaran lingkungan dengan

Ekologi

pg. 14

Sosial

wisata ramah lingkungan Kepedulian sosial yang meningkat Peningkatan konsumsi produk local

kebutuhan konservasi. Pelibatan sebanyak mungkin stakeholder dalam perencanaan, implementasi dan monitoring Peningkatan kemampuan masyarakat local dalam pengelolaan jasa-jasa wisata Pemberdayaan lembaga-lembaga local dalam pengambilan keputusan pengembangan wisata Menguatnya posisi masyarakat lokal terhadap masyarakat luar Terjaminnya hak-hak dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya pariwisata Berjalannya aturan main yang adil dalam pengusahaan jasa wisata Intensifikasi komunikasi lintas budaya Penonjolan cirri atau produk budaya lokal dalam penyediaan atraksi, aksesibilitas dan amenitas Perlindungan warisan budaya, kebiasaankebiasaan dan kearifan lokal

Budaya

Penerimaan kontak dan perbedaan budaya Apresiasi budaya masyarakat lokal

2.3 Kerentanan dan Indikator Parameter Kerentanan Biofisik dan Sosial Ekonomi Secara garis besar kerentanan dapat dilihat berdasarkan lima jenis kerentanan, yaitu kerentanan sosial, kelembagaan, sistem, ekonomi, dan lingkungan. Davidson dalam Suganda (2000) menjelaskan bahwa kerentanan terbagi ke dalam tiga subfaktor yaitu: 1. Kerentanan fisik binaan/infrastruktur menggambarkan perkiraan tingkat kerusakan terhadap fisik bangunan bila ada faktor bahaya alam tertentu. Indikator dari kerentanan fisik adalah kepadatan bangunan. 2. Kerentanan sosial dan kependudukan menunjukkan perkiraan tingkat kerentanan terhadap keselamatan jiwa penduduk apabila terjadi bahaya alam. Indikator dari kerentanan sosial dan kependudukan adalah kepadatan penduduk. 3. Kerentanan ekonomi menggambarkan besarnya kerugian atau rusaknya kegiatan ekonomi (proses-proses ekonomi) apabila terjadi bahaya alam. ACCCRN (2011) melakukan pendekatan kajian kerentanan dalam tiga aspek yaitu (1) kerentanan klimatologi (2) kerentanan dan kapasitas adaptasi berbasis komunitas (3) kajian kerentanan dan kapasitas adaptasi pemerintahan dan institusi. Indeks kepekaan lingkungan pada dasarnya adalah mengukur kemudahan/ potensi kehilangan nilai ekonomi, sosial, fisik dan biologi dari lahan yang ada (Peterson, 2002). Indeks kepekaan lingkungan disusun untuk mengetahui tingkat karaktersitik dan features kepekaan/ sensitivitas dan kerentanan/vulnerabilitas sumberdaya yang ada di pesisir.

pg. 15

2.4 Adaptasi Teori cultural ecology Steward (1955) menjadi rujukan dalam menjelaskan respons masyarakat terhadap perubahan perilaku dalam pengelolaan sumberdaya alam sebagai strategi adaptasi masyarakat. Adaptasi cultural ecology secara operasional dijabarkan melalui konsep ekologi yaitu geografi, demografi, ekonomi, dan politik serta upaya masyarakat dalam merespons perubahan dan mencari pola baru (Geertz 1983, Kuntowijoyo, 2002, Fox 1996). Tabel 2. Proposisi Adaptasi Manusia

Manusia adalah bagian yang terpadu atau terintegrasi dari sebuah ekosistem. Manusia bisa berperan sebagai pemelihara atau penyebab kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam. Perubahan pada lingkungan akan menimbulkan berbagai alternatif adaptasi manusia. Bagi sekelompok manusia yang berkemampuan adaptasi rendah memerlukan penguatan kelembagaan, baik secara sosial maupun kelembagaan ekonomi.

pg. 16

Percepatan pemulihan habitat yang rusak dan pengurangan tekanan manusia kepada habitat akan menghasilkan hubungan yang harmonis antara alam dan manusia. (Susilo et al., 2006) Ada beberapa pengertian tentang adaptasi atau mekanisme penyesuaian diri, yaitu: W.A. Gerungan (1996) dalam Wikipedia menyebutkan bahwa Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri). Menurut UNDP (2004) adaptasi adalah suatu proses dimana strategi ini bertujuan untuk moderat, mengatasi dan mengambil keuntungan atas konsekuensi dari kejadian iklim yang meningkat, dikembangkan dan diimplementasikan. (Simpson, Gossling, Scott, Hall, & Gladin, 2008). Menurut Sutamihardja (2009a), adaptasi khususnya terhadap perubahan iklim, berarti meminimalkan kerusakan-kerusakan yang memproyeksikan dapat terjadi pada aspek sosio-ekonomi yang disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik pada iklim. Adaptasi secara sederhana adalah berbagai tindakan penyesuaian diri terhadap kejadian yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan iklim/pemanasan global.

2.5 Pengelolaan Bersama dan Adaptif (ACM) Lingkungan dalam hal ini dikatakan Mitchell (2009) selalu mengandung perubahan, kompleksitas, ketidakpastian, dan konflik. Salah satu cara menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian adalah melalui pengelolaan lingkungan adaptif. Lee (1993) dalam Mitchell (2010) melihat pengelolaan lingkungan adaptif dikaitkan dengan upaya untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berdasarkan pelestarian lingkungan. Pengelola adaptif secara jelas memperhatikan ketidakpastian dan kekurangpahaman, dengan menggunakan intervensi manusia dalam system alam sebagai proses eksperimen.Yang dimaksud adaptif disini adalah berbasis kepada adaptasi. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian mengenai pengelolaan ekowisata secara bersama (kolaboratif) yang adaptif terhadap perubahan lingkungan. Untuk mengelolanya secara adaptif: dalam Mitchell (2010). Penekanan pengelolaan adaptif lebih pada ekosistematik daripada aspek hukum/kebijakan. Dengan kata lain, pendekatan adaptif lebih menggunakan batas-batas ekosistem daripada politik atau administrasi. Akibatnya setiap pendekatan adaptif selalu menghasilkan unit analisis dan kesimpulan yang secara spasial melewati batas-batas pengelolaan wilayah atau lingkungan secara administrative. Penekanan pengelolaan adaptif adalah pada populasi atau ekosistem, bukan organism individu atau proyek. Kegagalan pada tingkat individu harus diterima atau dipahami untuk mendapatkan pemahaman tentang populasi atau ekosistem. Resiko yang diambil oleh individu diterima untuk meningkatkan kapasitas populasi secara keseluruhan.

pg. 17

Skala waktu pengelolaan adaptif lebih bersifat skala biologis daripada perputaran bisnis, waktu pemilihan pengurus suatu organisasi atau jangka waktu pembiayaan. Definisi pertama yang diformulasikan oleh CIFOR pada (2001) ACM adalah Pengelolaan Bersama secara Adaptif (ACM) merupakan pendekatan nilai tambah yang mengakomodasi masyarakat yang berkepentingan untuk bersama-sama bertindak dalam merencanakan, mengamati, serta belajar dari pelaksanaan rencana mereka, sejalan dengan pemahaman bahwa rencana seringkali gagal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. ACM dicirikan oleh upaya yang sungguh-sungguh di antara kelompok yang ada untuk berkomunikasi, berkolaborasi, bernegosiasi, dan mencari peluang pembelajaran secara kolektif tentang dampak tindakan mereka tersebut. Defini ini kemudian, ditambahkan dengan definisi tambahannya pada tahun 2008, yaitu: Bekerja dengan kelompok masyarakat tertentu menuntut dilibatkannya pihak lain yang bertindak dalam skala yang berbeda biasanya, setidaknya satu tingkat ke bawah dan satu tingkat ke atas (contoh, kelompok pengguna hutan dalam suatu masyarakat dan pejabat pemerintah kabupaten ke atas, seperti halnya di Zimbabwe, Nepal, Indonesia, Filipina). Fasilitasi yang efektif dapat berfungsi sebagai katalis untuk memberdayakan masyarakat dalam memperbaiki kondisi mereka sendiri, kondisi manusia maupun lingkungan. Dari sudut pandang filosofis, ACM dibangun berdasarkan tujuan demokrasi, keadilan dan kesetaraan, mengakui pentingnya kekuasaan dan berjuang untuk menyeimbangkan arena dengan proses pemberdayaan. ACM memiliki tiga tema, yaitu: Tema horisontal; pemangku kepentingan dalam hutan tertentu bekerjasama menuju tujuan bersama, mengatasi isu yang menjadi perhatian hutan tersebut serta masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan tersebut, Tema vertikal; masyarakat setempat dan pelaku pada skala yang lain mengembangkan mekanisme komunikasi dua arah yang efektif, kerjasama, dan penyelesaian sengketa, serta Tema yang bersifat iteratif atau progresif. Dalam tema ini para pemangku kepentingan belajar secara terus menerus tentang pengelolaan sumber daya dan masyarakat, dalam rangkaian kegiatan yang berkembang dari pemahaman yang terus meningkat. Peubah Strategi Pengelolaan Adaptif (Rondinelli, 1993: 5a) dalam Mitchell et al., 2010:

pg. 18

Tabel 3. Peubah Strategi Pengelolaan Adaptif


Karakteristik Lingkungan Tugas: Proses pengelolaan: Perencanaan Pengambilan keputusan Otoritas Kepemimpinan Komunikasi Koordinasi Pemantauan Kontrol Aturan formal dan perundangan Dasar penyusunan staf Stuktur Nilai-nilai staf Strategi Pengelolaan Adaptif Tidak pasti Inovatif Bertahap Terbagi Kolegial Partisipatif Interaktif, formal dan informal Fasilitatif Penyesuaian strategi dan rencana Ex-post Rendah Tujuan Organik Toleransi tinggi terhadap ketidakjelasan

Analisis pengelolaan adaptif dan kolaboratif (ACM) Menggunakan metode AHP. Untuk menentukan strategi ACM yang sesuai diterapkan di kawasan Kabupaten Lombok Utara. 2.6 Valuasi Ekonomi, Analisis Permintaan dan Multiplier Effect Valuasi ekonomi lingkungan juga merupakan suatu alat untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan pengelolaan sumber daya alam. Dengan valuasi ini akan diketahui berapa kontribusi ekowisata terhadap kesejahteraan masyarakat, sehingga menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan untuk menentukan perencanaan dan pengelolaan lebih lanjut. Dari valuasi ekonomi ini juga akan dilakukan analisis permintaan kunjungan wisatawan terhadap ekowisata, sebagai konsekuensi dari pengelolaan adaptif dan kolaboratif yang dilakukan di kawasan. 2.7 Pendekatan sistem Pendekatan sistem merupakan suatu metodologi untuk mencari solusi dan menyelesaikan suatu masalah. Pendekatan sistem merupakan suatu cara penyelesaian masalah yang penuh kompleksitas yang saling terkait dalam suatu lingkungan yang dinamis melalui metodologi yang berorientasi kepada tujuan (Cybernetic), bersifat keseluruhan (Holistic), dan efektif (Effective).

pg. 19

Menurut Marimin (2004) pada dasarnya pendekatan sistem adalah penerapan dari sistem ilmiah dalam manajemen. Dengan demikian, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dan keberhasilan suatu organisasi atau suatu sistem bisa diidentifikasi. Metode ilmiah akan bisa membantu pengambilan keputusan yang sederhana dan searah karena kesalahan identifikasi penyebab permasalahan tunggal. Lebih jauh, menurut Marimin (2004),

pendekatan sistem memberikan landasan untuk memahami lebih luas lagi perilaku suatu sistem dan penyebab ganda dari suatu permasalahan dalam suatu kerangka sistem. Sumberdaya alam dan lingkungan merupakan merupakan suatu kerangka sistem dimana elemen-elemen di dalamnya mengandung kompleksitas, ketidakpastian, perubahan dan konflik. Elemen-elemen tersebut perlu diformulasikan secara ilmiah untuk suatu perbaikan secara terorganisir pada perilaku manusia. Menurut Eriyatno (1998), pemikiran sistem selalu mencari keterpaduan antarbagian atau elemen melalui pemahaman yang utuh. Karena itu, untuk menyelesaikan permasalahan-permasalah sumberdaya alam dan lingkungan perlu menggunakan pendekatan sistem. Eriyatno (2007) menguraikan bahwa pada pendekatan kesisteman dalam penyelesaian suatu permasalahan selalu ditandai dengan (1) pengkajian terhadap semua faktor penting yang berpengaruh dalam rangka mendapatkan solusi untuk pencapaian tujuan dan (2) adanya model-model untuk membantu pengambilan keputusan lintas disiplin, sehingga permasalahan yang kompleks dapat diselesaikan secara komprehensif. System approach atau pendekatan sistem merupakan suatu metodologi penyelesaian suatu masalah yang dimulai dari mengidentifikasikan tujuan dan hasil identifikasi tersebut adalah suatu sistem operasi yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan dengan efektif. Pendekatan sistem selalu mencari keterpaduan antar bagian melalui pemahaman yang utuh. Menurut Eriyatno (2003), pendekatan sistem umumnya ditandai oleh dua hal, yaitu (1) mencari semua faktor yang ada dalam mendapatkan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah, dan (2) dibuat suatu model kuantitatif untuk membantu keputusan secara rasional. Karakteristik dalam penyelesaian masalah dengan pendekatan sistem yaitu (1) cybernetic (berorientasi pada tujuan), artinya pernyelesaian permasalahan selalu berorientasi pada tujuan, yang diperoleh dari analisis kebutuhan (2) holistik, artinya adalah keterpaduan dan cara pandang yang utuh terhadap totalitas sistem, atau menyelesaikan permasalahan secara menyeluruh, utuh dan terpadu (3) efektif, artinya adalah tepat guna dalam menyelesaikan permasalahan, yaitu dengan dengan hasil yang bisa dilaksanakan secara operasional, dan bukan hanya pada tataran teori. Untuk itu, beragam metode pada bidang

pg. 20

disiplin ilmu lain bisa digunakan sebagai alat bantu dalam mengembangkan suatu sistem untuk mencari solusi. Lebih lanjut Eriyatno (2003), menyatakan bahwa untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks dengan pendekatan sistem melalui beberapa tahapan, yaitu (1) analisis kebutuhan, bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan semua pelaku dalam sistem (2) formulasi masalah, yang merupakan kombinasi dari semua permasalahan yang ada dalam sistem (3) identifikasi sistem, bertujuan untuk menentukan variabel-variabel sistem dalam rangka memenuhi kebutuhan semua pelaku dalam sistem (4) pemodelan abstrak, pada tahap ini mencakup suatu proses interaktif antara analisis sistem dengan pembuatan keputusan, yang menggunakan model untuk mengeksplorasi dampak dari berbagai alternatif dan variabel keputusan terhadap berbagai kriteria sistem. (5) implementasi, tujuan utamanya adalah untuk memberikan wujud fisik dari sistem yang diinginkan dan (6) operasi, pada tahap ini akan dilakukan validasi sistem. Pada tahap ini terjadi modifikasi-modifikasi tambahan karena cepatnya perubahan lingkungan dimana sistem tersebut berfungsi. 2.8 Modelling Pramudya (1989) mendefinisikan model adalah suatu abstraksi dari keadaan sesungguhnya atau merupakan pernyataan sistem nyata untuk memudahkan pengkajian suatu sistem. Model adalah tiruan dari keadaan yang nyata. Menurut Hatrisari (2007) model merupakan penyederhanaan sistem. Model disusun dan digunakan untuk memudahkan dalam pengkajian sistem karena sulit dan hampir tidak mungkin untuk bekerja pada keadaan sebenarnya. Karena sistem sangat kompleks, tidak mungkin model dapat menggambarkan seluruh proses yang terjadi dalam sistem. Oleh sebab itu, model hanya memperhitungkan beberapa faktor dalam sistem guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Lebih jauh Hatrisari (2007) menguraikan bahwa tujuan model adalah (1) pemahaman proses yang terjadi dalam sistem, artinya model harus dapat menggambarkan mekanisme proses yang terjadi dalam sistem terkait dengan tujuan yang ingin dicapai, mulai dari proses awal suatu sistem hingga proses akhir. Model yang disusun berdasarkan pemahaman proses dapat menjelaskan mekanisme proses yang terjadi dalam sistem. (2) prediksi, artinya hanya model yang bersifat kuantitatif yang dapat melakukan prediksi. Dalam hubungan ini, ketepatan (accuracy) atau model yang akuran menjadi penting. (3) menunjang pengambilan keputusan, artinya model yang disusun berdasarkan pemahaman proses serta yang mempunyai kemampuan prediksi dapat dijadikan alat untuk perencana guna membantu proses pengambilan keputusan. Simulasi model dapat dilakukan dengan menggunakan

pg. 21

berbagai skenario sebagai input. Berdasarkan variasi output yang dihasilkan dapat dipilih alternatif terbaik dari berbagai skenario yang merupakan input model tersebut. Model ini berfungsi sebagai alat bantu dalam menunjang pengambilan keputusan. 2.9 Validitas dan sensitivitas model Menurut Hatrisari (2007), model merupakan penyederhanaan dari sistem. Seorang pengkaji sistem perlu menetapkan tolak ukur model yang baik untuk mengetahui kinerja model. Ia perlu meyakinkan pengguna bahwa model yang dibangun sesuai untuk penyelesaian permasalahan yang dihadapi sehingga hasil eksekusi model dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Seringkali pengujian model hanya difokuskan kepada replikasi dari data historis. Pengujian model seharusnya dilakukan juga untuk mengenali keterbatasan kinerja model sehingga dapat ditentukan kesesuaian penggunaan model dalam rangka penyelesaian masalah yang dihadapi. Dalam uraian Hatrisari (2007) dijelaskan bahwa secara umum, pengujian model terdiri dari tahapan verifikasi dan validasi. Verifikasi adalah untuk menyatakan kebenaran, ketepatan atau kenyataan. Sedangkan validasi adalah untuk mendapatkan hasil kesimpulan yang benar, berdasarkan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan. Validasi harus ditunjang oleh kebenaran yang bersifat objektif. Lebih jauh Hatrisari (2007) mengatakan bahwa seorang pengkaji sistem atau pengembang model perlu mengkaji ulang manfaat penyusunan model. Salah satu tujuan model adalah sebagai dasar untuk pengambilan keputusan dalam penyelesaian permasalahan spesifik yang dihadapi. Pengkaji sistem bertanggung jawab dalam menyusun dan menghasilkan model yang optimal, meskipun memiliki keterbatasan, dalam kerangka untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Model akan membantu penggunaan dalam menyediakan informasi bagi pengambilan keputusan. Pengkaji sistem atau penyusun model yang berpengalaman akan (1) Memfokuskan diri terhadap kesesuaian model dengan keadaan nyata meskipun dengan variabel terbatas, daripada mencoba menyatakan validasi model dengan teknik-teknik kuantitatif yang rumit (2) Menunjukkan hubungan antara teori yang ada dengan mekanisme dalam sistem yang dikaji, daripada memperlihatkan tahapan teoritis dalam pembuktian model yang sering tidak realistis (3) Secara jujur menyatakan keterbatasan model yang disusun daripada menunjukkan bukti bahwa model telah diuji dan memberikan derajat kesalahan yang relatif kecil.

pg. 22

Bab III Metodologi Penelitian

3.1 Lokasi dan waktu penelitian

Waktu Penelitian diselenggarakan pada bulan Juni 2012 di Kabupaten Lombok Utara. Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, yang terdiri dari 5 kecamatan, 33 desa, 322 dusun. Penelitian dilakukan di tiga spot ekowisata. 3.2 Bahan dan alat Alat dan bahan yang digunakan adalah ATK dan media-media diskusi untuk FGD dan wawancara pada proses PAR, kuesioner, program (software) Word, Excell, ArcGis dan Powersim. 3.3 Jenis dan sumber data

Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah data teks. Data teks dapat berupa alfabet atau numerik. Jenis data yang dilihat dari sumber data yang dikumpulkan adalah: 1. Data Primer, yang meliputi : Tingkat pengetahuan, sikap, perilaku dan persepsi para stakeholder. Karakteristik wisatawan, seluruh biaya perjalanan yang dikeluarkan ofeh wisatawan dan penilaian wisatawan terhadap kawasan rekreasi di Kabupaten Lombok Utara. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara, FGD dan observasi di lapangan. 2. Data Sekunder, yang meliputi: Karakterisik obyek wisata, Jumlah pengunjung ke Kabupaten Lombok Utara dan Kependudukan didapatkan dari berbagai data yang disediakan oleh instansi pemerintah dan swasta.
3.4 Pelaksanaan penelitian 3.4.1 Metode Pengumpulan Data 3.4.1.1 Studi Pustaka Salah satu metode adalah dengan melakukan studi pustaka dar beberapa literatur dan junal-jurnal yang relevan dengan objek penelitian.

pg. 23

3.4.1.2 Participatory Action Research (PAR) Participatory Action Research (PAR) atau Kajitindak Partisipatif merupakan perpaduan antara metodologi pengkajian (riset); pendidikan dan penyadaran masyarakat, perencanaan, pelaksanaan kegiatan (aksi); monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan dalam satu kesatuan yang utuh oleh para pemangku kepentingan (stakeholders). 3.4.1.3 Focus Group Discussion Diskusi kelompok yang terfokus mengenai topik-topik yang relevan dengan penelitan yang disusun dalam suatu pertanyaan kunci (semacam kuesioner). Proses ini akan dipandu oleh fasilitator.

3.4.2

Pengembangan Model Kebijakan Pengelolaan Ekowisata Bersama dan Adaptif

3.4.2.1 Survey KAB dan Persepsi Pada tahap ini, dilakukan pengkajian untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku serta persepsi para stakeholder ekowisata dan Kebutuhannya. Sub pokok bahasan: i. Konsep komunitas ii. Analisis Struktur Sosial iii. Analisis Gender iv. Analisis Pemangku Kepenting v. Analisis KAB (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku) dengan survey KAB Dengan menggunakan bahan-bahan diskusi (metode) sebagai berikut: 1. Analisis Piramida Masyarakat 2. Analisis Gender 3. Matriks Analisa Pemangku Kepentingan

3.5 Analisis Kerentanan dengan IKL atau ESI Untuk mengetahui kerentanan sector ekowisata yang termasuk ke dalam sector social ekonomi, ketika dihadapkan kepada perubahan lingkungan dan perubahan iklim, dibuatlah Indeks KL (IKL) atau Environmental Sensitivity Indeks (ESI) yang hasilnya akan dipetakan. Rumus:

pg. 24

IKL = TK x NE x NS

Kriteria yang digunakan <=25 = kurang peka, 26-50 = cukup peka, 51-75 = moderate, 76-100 = peka, >=101 = sangat peka TK NE NS : Tingkat Kerentanan : Nilai Ekologi : Nilai Sosial

Peubah (parameter) Nilai Ekologis, Terumbu Karang sebagai daya tarik wisata: Jenis terumbu karang (Lifeform-bercabang/tidak) Persentase tutupan karang hidup (60 %) luas dan tebal hamparan karang Slope terumbu karang kelimpahan Ikan (melimpah) Spesies Endemik dan dilindungi

Peubah (parameter) pemanfaatan kawasan wisata: Ekonomi Tingkat kunjungan Tingkat Biaya kunjungan Fasilitas yang tersedia Tenaga kerja yang terlibat Aksesibilitas

Sosial

(1) Menghitung Indeks Sosial Ekonomi Membentuk Skor 1. Prinsip skala ordinal 2. Penggunaan Skala Likert (Rensis Likert): Jawaban berjenjang Nilai setiap jawaban dijumlahkan (method of summated ratings) Mudah dan sederhana (Nazir, 1985)

Contoh untuk kelimpahan : sangat banyak=5, banyak=4, cukup=3, sedikit=2, sangat sedikit=1

pg. 25

3. Membagi kelas (kelompok data) sesuai dengan kategori yang diinginkan, contoh: 5 kelas seperti sangat tinggi, tinggi, cukup tinggi, kurang tinggi, sangat pendek 4. Menghitung batas bawah dan batas atas kelas berdasarkan beda nilai max dan min dengan jumlah kelas yang diiinginkan 5. Teknik agregasi dengan rataan geometrik Rumus:

NS (i j ) E1 * E2 * ... * Ei * S1 * S 2 * ... * S j

Dimana: NS=indeks nilai sosial ekonomi E1..Ei =skor dari masing-masing peubah ekonomi S1..Sj =skor dari masing-masing peubah sosial

(2) Pemetaan dengan ArcGIS Setelah diperoleh Indeks Kerentanan Lingkungan, maka akan dipetakan dengan menggunakan soft ware arcGIS. 3.6 Valuasi Ekonomi, Analisis Permintaan dan Multiplier Effect Tujuan dasar dari TCM adalah ingin mengetahui nilai kegunaan dari sumberdaya alam melalui proxy. Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi jasa dari sumberdaya alam digunakan sebagai proxy untuk menentukan harga dari sumberdaya alam tersebut (Fauzi 2004). Dengan demikian biaya perjalanan dari lokasi asal ke lokasi tujuan wisata dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut.

X = f(c, d, I, u,P) ...................................................................(2)

Dimana: X = jumlah kunjungan c = biaya perjalanan d = jarak I = pendapatan u= umur

pg. 26

P = harga barang substitusi. Selanjutnya, fungsi biaya perjalanan dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut.

lnVt = o + 1 ln TCi + 2 ln INCi ....................................(3)

Dimana: Vt = Tingkat kunjungan TCi = Biaya perjalanan INCi = Pendapatan individu.

Untuk menentukan surplus konsumen dapat diestimasi dengan menggunakan persamaan, sebagai berikut, (Christiansson 2000 dalam Adrianto 2006).

TCS = - Vi / 1 .......................................................................(4)

Dimana: Csi = konsumen surplus individu Vi = tingkat kunjungan individu 1 = nilai regresi dari biaya perjalanan/TC.

Nilai ekonomi lokasi rekreasi (total consumers surplus) dapat diestimasi dengan menggandakan nilai surplus konsumen rata-rata individu dengan total kunjungan pada tahun tertentu (Vt), dengan persamaan sebagai berikut.

TCS = CSi x Vt .................................................................(5)

Dimana: TCS = Total consumers surplus CSi = Konsumen surplus individu Vt = Total kunjungan pada tahun analisis (tahun ke-t).

pg. 27

3.7 Validitas model Berdasarkan Hatrisari (2007) jenis data yang sering digunakan dalam pemodelan adalah numerik, data tertulis dan mental. Data numerik adalah data yang berupa angka, dan biasanya bersifat time series. Data tertulis dapat berupa prosedur operasi, struktur organisasi, serta hal lainnya yang dapat dijadikan arsip. Data mental adalah semua informasi yang dimiliki oleh orang, termasuk hal yang diceritakan dan cara bagaimana seseorang menentukan keputusan. Data mental hanya dapat dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Proses validasi ini bisa menggunakan tabel Sterman (2000) dalam Hatrisari (2007) sebagai arahan bagi pengguna dalam memahami model. Forrester (1961) dalam Hatrisari (2007), menyatakan bahwa model yang baik tidak saja tergantung kepada sifat numerik atau non numerik, melainkan kepada kecermatan penyusun model dalam memilah variabel penting untuk digunakan dalam model. Menurut Hatrisari (2007), pengujian kesesuaian model dimaksudkan untuk (a) melihat apakah persamaan-persamaan yang digunakan sudah benar, (b) melihat kesesuaian prosedur perhitungan dan (c) meyakinkan bahwa model telah bebas dari kesalahan-kesalahan teknis. Evaluasi model ditujukan untuk (a) melihat kesesuaian antara hasil model dengan realitas dan (b) melihat kesesuaian antara hasil model dengan tujuan yang ditentukan pada awalnya. Validasi model ditujukan untuk melihat kesesuaian hasil model dibandingkan dengan realitas bila model dijalankan dengan data yang lain. Sementara analisis sensitivitas dibutuhkan untuk mengetahui sejauh mana model dapat digunakan apabila ada perubahan pada asumsi. Berdasarkan hasil analisis sensitivitas secara umum menyatakan sejauh mana kesimpulan hasil model dapat berubah bila variabel model diubah.

3.8 Pendekatan Sistem dalam Pengelolaan Ekowisata Secara Bersama dan Adaptif Sumberdaya alam dan lingkungan merupakan merupakan suatu kerangka sistem dimana elemen-elemen di dalamnya mengandung kompleksitas, ketidakpastian, perubahan dan konflik. Ekowisata yang memanfaatkan keberadaan sumberdaya alam dan lingkungan sebagai suatu konsep untuk pengelolaan mengandung kompleksitas, ketidakpastian, perubahan dan juga konflik, dan juga terdapat interaksi antara elemen-elemen ekonomi, sosial dan lingkungan. Menurut Nugroho (2011), interaksi yang tinggi dalam wilayah ekowisata perlu diidentifikasi dan diuraikan menjadi faktor-faktor ekowisata, kemudian dioptimalkan berlandaskan kaidah ilmiah, sehingga memungkinkan untuk melakukan perubahan-perubahan yang senantiasa menuju atau mendekati gagasan (full idea) yang lebih baik dan berkelanjutan.

pg. 28

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa relatif sulit untuk mengisolasi daerah tujuan wisata dari interaksi dan pengaruh dari daerah sekitarnya atau dari elemen lainnya dalam sistem ekowisata tersebut. Menurut Nugroho (2011), wilayah ekowisata menjadi sistem atau wilayah terbuka yang dapat menerima aliran-aliran energi, materi dan informasi dari wilayah sekitarnya. Berdasarkan Rambo (1981) dalam Nugroho (2011), yaitu the system model of human ecology, maka dinamika wilayah ekowisata juga dapat digambarkan sebagai proses kontinyu dari interaksi antara subsistem sosial, subsistem ekonomi dan subsistem ekologi. Lebih jauh diuraikan, bahwa sebagai sebuah sistem terbuka, ekowisata dapat

menerima input dan mengeluarkan output nergi, materi dan informasi kepada subsistem sosial, subsistem ekonomi dan subsistem ekologi. Aliran input dan output itu selain mempengaruhi internal dinamic melalui struktur dan fungsi dari setiap komponen juga mencerminkan integritas dan dinamika dari sistem secara keseluruhan. Begitu kompleks interaksi yang terjadi, Rambo dalam Nugroho (2011) mengemukakan bahwa kecermatan dan kehati-hatian sangat penting dalam menelaah sistem ekowisata ini.

3.8.1

Analisis Kebutuhan

Menurut Eriyatno (1998), pendekatan sistem merupakan cara penyelesaian permasalahan yang dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap adanya sejumlah kebutuhan-kebutuhan sehingga dapat menghasilkan suatu operasi dari sistem yang dianggap efektif.

Tabel 4. Analisis Kebutuhan Para Pelaku Ekowisata


Komponen Informasi Jenis kegiatan pariwisata Kondisi lingkungan tujuan wisata Pengelolaan lingkungan Adaptasi yang dimiliki stakeholders/mitra Adaptasi berbasis konstruksi Adaptasi berbasis ekologi Adaptasi berbasis perilaku Jumlah stakeholders yang memiliki perilaku ramah lingkungan Pendidikan/komunikasi mengenai climate change dan adapatasi Partisipasi stakeholder Pelaku Pelaku Usaha (Swasta)

Pemerintah

Masyarakat

LSM

Wisatawan

pg. 29

Peningkatan jumlah kunjungan wisata Peningkatan lamanya wistawan menginap Peningkatan pendapatan Penyerapan tenaga kerja Penerapan kebijakan/regulasi Penegakan hukum

3.8.2

Formulasi Masalah Tabel 5. Formulasi Masalah

3.8.3

Identifikasi Sistem

Menurut Hatrisari (2007), pada tahap ini pengkaji sistem mencoba memahami mekanisme yang terjadi dalam sistem. Hal ini dimaksudkan untuk mengenali hubungan antara pernyataan kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus diselesaikan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah menyusun diagram lingkar sebab-akibat (Causal loop diagram) atau diagram input-output (black box diagram).

pg. 30

Stakeholder ramah lingkungan

partisipasi stakeholder adaptasi basis konstruksi Adaptasi stakeholder adaptasi basis ekologi adaptasi basis perilaku Kondisi lingkungan tujuan wisata

Pendidikan/ komunikasi bagi stakeholder

Kondisi lingkungan

Strategi kegiatan adaptasi

Pengelolaan lingkungan

jumlah kunjungan wisata Pendapatan meningkat

Jenis kegiatan pariwisata

lama wisatawan menginap

Penerapan kebijakan/ regulasi

Penegakan hukum

Gambar 3. Diagram lingkar sebab-akibat (causal-loop diagram) sistem pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif

pg. 31

Pada diagram Input-Output berikut ini, digambarkan variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja sistem pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif.

Input Tidak Terkendali Curah hujan Hari hujan Tinggi gelombang Sikap dan perilaku tentang isu adaptasi dan climate change Premanisme

Input Lingkungan UU No. 27 thn 2007 ttg Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (PWP-3-K) RAN-PI (Rencana Aksi Nasional-Perubahan Iklim) RPJMN (Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional) Roadmap Sektoral

Output yang Diinginkan: Strategi dan kegiatan adaptasi ekowisata yang partisipatif dan berkelanjutan Pendapatan masyarakat dan daerah meningkat Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sesuai dengan kegiatan adaptasi ekowisata yang partisipatif dan

Tujuan Model Pengelolaan Ekowisata Adaptif kolaboratif Terhadap Perubahan Lingkungan di Kab Lombok Utara

Input Terkendali Jumlah kunjungan wisata Jumlah hotel/penginapan Jumlah pelaku usaha Jumlah UKM Jumlah aktivitas komunikasi Penegakan hukum Pengetahuan tentang isu adaptasi dan perubahan lingkungan

Pengelolaan Ekowisata Adaptif kolaboratif Terhadap Perubahan Lingkungan di Kab Lombok Utara

Output yang Tidak Diinginkan Rusaknya ekologi dan lingkungan Rendahnya kesadaran tentang isu ekowisata dan climate change Meningkatnya pengangguran dan premanisme Menurunnya jumlah kunjungan wisatawan

Gambar 4. Diagram masukan keluaran (black box diagram) sistem pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif

pg. 32

3.9

Model Pengelolaan Ekowisata Secara Bersama dan Adaptif Model adalah tiruan dari keadaan yang nyata. Menurut Hatrisari (2007) model

merupakan penyederhanaan sistem. Model disusun dan digunakan untuk memudahkan dalam pengkajian sistem karena sulit dan hampir tidak mungkin untuk bekerja pada keadaan sebenarnya. Karena sistem sangat kompleks, tidak mungkin model dapat menggambarkan seluruh proses yang terjadi dalam sistem. Oleh sebab itu, model hanya memperhitungkan beberapa faktor dalam sistem guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Model pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif dikembangkan pada kondisi yang terjadi di lapangan dikombinasikan dengan studi literatur. Perangkat lunak yang digunakan adalah Powersim. Konsep pengelolaan ekowisata yang akan dituangkan ke dalam model ini adalah terdiri dari pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif dalam kerangka lingkungan, ekonomi dan sosial, serta industri wisata itu sendiri. Karena itu, model ini akan dikembangkan dengan memadukan empat submodel yang terdiri dari (1) submodel sosial (2) submodel lingkungan (3) submodel ekonomi (4) submodel industri ekowisata.

3.10 Analisis pengembangan skenario pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif Analisis pengembangan skenario kebijakan pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif dilakukan dengan menggunakan analisis prospektif. Analisis prospektif merupakan analisis untuk mengeksplorasi kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dari analisis ini akan didapatkan informasi mengenai faktor kunci, tujuan, serta keterlibatannya sesuai dengan kebutuhannya di dalam sistem pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif. Selanjutnya Simulasi skenario dilakukan sebagai suatu rancangan kebijakan yang memungkinkan dilakukan dalam keadaan nyata didasarkan pada model yang dibuat. Sebagai suatu strategi pengelolaan keberlanjutan, kebijakan dilakukan melalui penyusunan skenario yang telah dibuat. Ada dua skenario yang disimulasikan, yaitu : pertama, model skenario tetap (kondisi eksisting) dengan laju % pertambahan keragaman hayati ekowisata (KHP) dan kealamian pulau (KAP) sebesar % tertentu , dan kedua, model skenario tetap (kondisi eksisting) dengan laju % penyusutan lingkungan (KHP) dan kealamiannya (KAP) sebesar % tertentu. Faktor kunci ini digunakan untuk mendeskripsikan perubahan kemungkinan masa depan pengelolaan ekowisata secara bersama dan adaptif yang berkelanjutan. Penentuan

pg. 33

faktor kunci ini adalah pendapat pakar yang kompeten sebagai pelaku atau aktor di dalam sistem pengelolaan ekowisata, dengan menggunakan kuesioner dan wawancara atau FGD. Pengembangan membantu untuk menegakkan ketertiban dan arah pada kompleksitas hubungan antara elemen-elemen dari sistem. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penggunaan teknik ini adalah sebagai berikut (Eriyatno dan Sofyar 2007; Marimin 2004; Eriyatno 2003) :

1)

Identifikasi elemen: Elemen sistem diidentifikasi dan didaftar. Hal ini dapat

diperoleh melalui penelitian, brainstroming, FGD, PRA dan lain-lain.

2)

Hubungan konstektual: Sebuah hubungan konstektual antar elemen

dibangun, tergantung pada tujuan dari permodelan.

3)

Pembuatan matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction

matrix/SSIM). Matriks ini mewakili elemen persepsi responden (pakar perikanan) terhadap elemen hubungan yang dituju. Empat simbol (VAXO) yang digunakan untuk mewakili tipe hubungan yang ada antara dua elemen dari sistem yang dipertimbangkan adalah : V : hubungan dari elemen Ei terhadap Ej, tidak sebaliknya. A : hubungan dari elemen Ej terhadap Ei, tidak sebaliknya. X : hubungan interrelasi antara Ei dan Ej (dapat sebaliknya). O : menunjukkan bahwa Ei dan Ej tidak berkaitan. 4) Pembuatan matriks reachability (reachability matrix/RM): Sebuah RM yang

dipersiapkan kemudian mengubah simbol-simbol SSIM ke dalam sebuah matriks biner. Aturanaturan konversi berikut menerapkan: Jika hubungan Ei terhadap Ej = V dalam SSIM, maka elemen Eij = 1 dan Eji = 0 dalam RM; Jika hubungan Ei terhadap Ej = A dalam SSIM, maka elemen Eij = 0 dan Eji = 1 dalam RM; Jika hubungan Ei terhadap Ej = O dalam SSIM, maka elemen Eij = 0 dan Eji = 0 dalam RM; RM awal dimodifikasi untuk menunjukkan seluruh direct dan indirect reachability, yaitu jika Eij = 1 dan Ejk = 1, maka Eik = 1.

5)

Tingkat partisipasi dilakukan untuk mengklasifikasi elemen-elemen dalam

level-level yang berbeda dari struktur ini. Untuk tujuan ini, dua perangkat diasosiasikan dengan tiap elemen Ei dari sistem: reachability set (Ri), adalah sebuah set dari seluruh elemen yang dapat dicapai dari elemen Ei, dan antecedent set (Ai), adalah sebuah set dari seluruh elemen dimana elemen Ei dapat dicapai. Pada iterasi pertama seluruh elemen, dimana Ri = Ri Ai, adalah

pg. 34

elemen-elemen level 1. Pada iterasi-iterasi berikutnya elemen-elemen diidentifikasi seperti elemenelemen level dalam iterasi-iterasi sebelumnya dihilangkan, dan elemen-elemen baru diseleksi untuk level-level berikutnya dengan menggunakan aturan yang sama. Selanjutnya, seluruh elemen sistem dikelompokkan ke dalam level-level yang berbeda.

6)

Pembuatan matriks canonical: Pengelompokan elemen-lemen dalam level

yang sama mengembangkan matriks ini. Matriks resultan memiliki sebagian besar dari elemenelemen triangular yang lebih tinggi adalah 0 dan terendah 1. Matriks ini selanjutnya digunakan untuk mempersiapkan digraph.

7)

Pembuatan Digraph: adalah konsep yang berasal dari directional graph

sebuah grafik dari elemen-elemen yang saling berhubungan langsung, dan level hierarki. Digraph awal dipersiapkan dalam basis matriks canonical. digraph awal tersebut selanjutnya dipotong dengan memindahkan semua komponen yang transitif untuk membentuk digraph akhir. 8. Pembangkitan Interpretative structural modelling: dibangkitkan dengan memindahkan seluruh jumlah elemen dengan deskripsi elemen aktual. Oleh sebab itu, ada gambaran yang sangat jelas dari elemen-elemen sistem dan alur hubungannya

pg. 35

Daftar Pustaka

Amir, Sadikin. 2011. Disertasi. Optimasi Pemanfaatan Wisata Bahari Bagi Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Berbasis Mitigasi (Kasus Kawasan Gili Indah Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Anonim. 2009. Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat: Analisis dan Proyeksi Kenaikan Muka Laut dan Iklim Ekstrim. Kerjasama Republik Indonesia-Republik Federal German. GTZ. Kementerian Lingkungan Hidup. WWF. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lombok. Barnett, Jon. 2001. Adapting to Climate Change in Pacific Island Countries: The Problem of Uncertainty. Elsevier Science Ltd. Great Britain. Boer, R., Heriansyah, A., Impron, Dasanto, B. D., Suciantini, Hartati, F., et al. (2009). Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Daerah Rawa yang Sudah Dikembangkan. Bogor: CCROM SEAP - Pusat Kajian Peluang dan Resiko Iklim Kawasan Asia Tenggara. Craig, R. K. (2008). Coral Reefs, Fishing, and Tourism: Tensions in U.S. Ocean Law and Policy Reform. Stanford Environmental Law Journal vol. 27:3. Dirawan, Gurfan Darma. 2006. Ringkasan Disertasi. Strategi Pengembangan Ekowisata: Studi Kasus Suaka Margasatwa Mampie Lampoko. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Eriyatno. 2007. Riset Kebijakan: Metode Penelitian untuk Pascasarjana. IPB Press. Bogor Hanafi, Febryanto Rakhmat. Ciptomulyono, Udisubakti. 2010. Jurnal. Penentuan Prioritas Pembangunan Pariwisata di Pulau Lombok Dengan Menggunakan Metode Location Quotient (LQ) dan Analytical Network Process (ANP). Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Surabaya. Hatrisari. 20017. Sistem Dinamik: Konsep Sistem dan Pemodelan untuk Industri dan Lingkungan. SEAMEO BIOTROP. Bogor. Hilman, M., et al. 2007. Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Jakarta: Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Hindriani, Heny. 2010. Makalah. Model Pengendalian Pencemaran Sungai Ciujung. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Klock, J. (2008). Artikel. Hystoric Hydrologic Landscape Modification and Human Adaptation in Central Lombok, Indonesia from 1894 to the Present.

Lise, W., Tol, R. S. 2002. Impact of Climate on Tourist Demand. Climatic Change 55: 429 449, 2002 - Kluwer Academic Publishers, Netherlands. Mahmud. Skenario Perubahan Variabilitas Iklim Indonesia . Prosiding Seminar Nasional Pemanasan Global dan Perubahan Global: Fakta, Mitigasi, dan Adaptasi. Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Jakarta

pg. 36

Mangunjaya, Fachruddin Majeri. 2012. Ringkasan Disertasi. Desain Ekopesantren Dalam Kerangka Pembangunan Berkelanjutan. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Marimin. 2004. Tehnik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Cetakan kedua. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta Nugroho. 2011. Ekowisata dan Pembangungan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Rani, C. 2007. Perubahan Iklim: Kaitannya dengan Terumbu Karang. Universitas Hasanudin. Makassar. Scott, Daniel. 2007. Climate Change and Tourism: Responding to Global Challenges. UNWTO. UNEP. WMO. Shurland, Deirdre. De Jong, Pieter. 2008. Disaster Risk Management For Coastal Tourism Destinations Responding To Climate Change: A Practical Guide for Decision Makers. UNEP. ISDR. CAST. Paris. Sutamirhardja, RTM. 2009. Perubahan Lingkungan Global: Sebuah Antologi Tentang Bumi Kita. Yayasan Pasir Luhur Bogor. Bogor. Wicaksono, Andhie. Inisiatif Dalam Pengembangan Wisata Budaya : Kasus Desa Miau Baru. Santoso, Heru. Tjiu, Albertus. Muhammad, Ari. 2011. Vulnerability of Ecosystem Dependent Villagers to Climate Variability: A Case Study From Two Villages by The Sentarum Lake-Kalimantan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia & World Wide Fund. Bandung. Sasmoyo, Sasmiyarsi K. 1997. Pengelolaan dan Upaya Pengembangan Wisata Bahari Berwawasan Lingkungan dan Berkesinambungan. Prosiding Pelatihan dan Lokakarya Perencanaan Pariwisata Berkelanjutan ITB. Institut Teknologi Bandung. Bandung Simpson, M., Gossling, S., Scott, D., Hall, C. M., & Gladin, E. (2008). Climate Change Adaptation and Mitigation in the Tourism Sektor: Frameworks, Tools and Practices. UNEP, University of Oxford, UNWTO, WMO. Paris. France. Sutamirhardja, RTM. 2009. Perubahan Lingkungan Global: Sebuah Antologi Tentang Bumi Kita.Yayasan Pasir Luhur Bogor. Bogor. Syarifudin, Ahmad. Sudarsono, Dwi. Hakim, Muhammad Ridha. Moeliono, Ilya M. Sulistyono. Kukuh, T. 2011. Rinjani Terluka: Jejak Pergulatan Mengembalikan Makna. Santiri Foundation. Mataram. UNDP Indonesia. 2007. Sisi Lain Perubahan Iklim: Mengapa Indonesia Harus Beradaptasi untuk Melindungi Rakyat Miskinnya. UNDP Indonesia. Jakarta.

pg. 37