Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Absorpsi sistemik suatu obat dari tempat ekstravaskuler dipengaruhi oleh sifat-sifat anatomik dan fisiologik tempat absorpsi serta sifat-sifat fisikokimia atau produk obat. Biofarmasetika berusaha mengendalikan variable-variabel tersebut melalui rancangan suatu produk obat dengan tujuan terapetik tertentu. Dengan memilih secara teliti rute pemberian obat dan rancangan secara tepat produk obat, maka bioavailabilitas obat aktif dapat diubah dari absorpsi yang sangat cepat dan lengkap menjadi lambat, kecepatan absorpsi yang diperlambat atau bahkan sampai tidak terjadi absorpsi sama sekali (Shargel, !""#. $ada umumnya produk obat mengalami proses absorpsi sistemik melalui suatu rangkaian prosesabsorpsi sistemik melalui suatu rangkaian proses. $roses tersebut meliputi % ( # desintegrasi produk obat yang didkuti pelepasan obat& ('#pelarutan obat dalam media a(ueous& ()# absorpsi mele*ati membrane sel menuju sirkulasi sistemik. Di dalam proses desintegrasi obat, pelarutan dan absorpsi, kecepatan obatt mencapai system sirkulasi sistemik ditentukan oleh tahapan yang paling lambat dalam rangkaian di atas. +ahap-tahap yang paling lambat di dalam suatu rangkaian proses kinetik disebut tahap penentu kecepatan (rate limiting step). ,ecuali untuk produkproduk -sustained release. atau -prolonged-action. disintegrasi obat yang berbentuk padat pada umumnya lebih cepat daripada pelarutan dan absorpsi obat. /ntuk obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air, laju pelarutan seringkali merupakan tahap yang paling lambat, oleh karena itu mengakibatkan terjadinya efek penentu kecepatan terhadap bioavailabilitas obat. +etapi sebaliknya,untuk obat yang mempunyai kelarutan besar dalam air, laju pelarutannya cepat sedangkan laju lintas atau tembus obat le*at membran merupakan tahap paling lambat atau merupakan tahap penentu kecepatan (Shargel, !""#.

1.2 Tujuan Percobaan /ntuk mengetahui jumlah absorpsi furosemida pada berbagai p0 /ntuk mengetahui pengaruh perbedaan p0 terhadap absorpsi furosemida pada duodenum terbalik (everted sac# kelinci 1.3 Manfaat Percobaan 1elalui percobaan ini, diharapkan praktikan dapat mengetahui pengaruh p0 terhadap absorpsi furosemida pada duodenum terbalik kelinci.

'

BAB II TIN AUAN PU!TA"A 2.1#uro$e%&'

2ambar '. Struktur bangun 3urosemida 4ama kimia 4ama la7im 9umus kimia B1 ,hasiat dan penggunaan % asam 5-kloro-4-furfuril-6-sulfamoilantranilat % 3urosemidum8 furosemida % : '0 :l4';6S % ))<,=5 % Diuretikum 3urosemida mengandung tidak kurang dari !",6> : '0 :l4';6S dihitung terhadap 7at yang telah dikeringkan (Ditjen $;1, !=!#. $emerian. Serbuk hablur& putih atau hampir kuning& tidak berbau& tidak berasa (Ditjen $;1, !=!#. ,elarutan. $raktis tidak larut dalam air dan dalam kloroform P, larut dalam =6 bagian etanol (95%)P dan dalam larutan alkali hidroksida (Ditjen $;1, !=!#. 3urosemida% frusemide,Lasix,Impugan. +urunan sulfonamide ini ( !?5# berdaya diuretic kuat dan bertitik kerja di lengkungan 0enle bagian menaik.Sangat efektif pada keadaan udema di otak dan paru-paru yang akut.1ulai kerjanya pesat, oral dalam <,6jam dan bertahan 5-? jam, intravena dalam beberapa menit dan ',6 jam lamanya (+an, '<<"#. Resorpsinya dari usus hanya lebih kurang 6<>, $$-nyak .l. !=>, plasmat 8'-nya )<-?< menit& ekskresinya melalui kemih secara utuh, pada dosis tinggi juga le*at empedu (+an,'<<"#.

Efek sampingnya berupa umum, pada injeksi i.v terlalu cepat, adakalanya tetatpi jarang terjadi ketulian (reversible# dan hipotensi. 0ipokalieia reversible dapat terjadi pula (+an, '<<"#. Dosis% pada udema oral 5<-"< mg pagi p.c., jadi perlu atau pada insufisiensi ginjal sampai '6<-'<<<mg sehari dalam '-) dosis. @njeksi i.v. (perlahan# '<-5< mg, pada keadaan kemelut hipertensi sampai 6<<mg. $enggunaan ini tidak dianjurkan (+an,'<<"#. ,ebanyakan efek yang merugikan furosemid terjadi pada pemakaian dosis tinggi dan efek berat yang tidak biasa. Afek buruk yang umumnya sering terjadi yaitu cairan dan elektrolit yang tidak seimbang termasuk hiponatraemia, hipokalaemia, dan hipokloraemik alkalosis, sebagian setelah pemberian dosis besar ataupun dalam penggunaan jangka panjang. +andatanda ketidakseimbangan elektrolit adalah sakit kepala, hipotensi, kram otot, mulut kering, haus, lemah, lesu, oliguria, aritmia cardiac, gangguan saluran pencernaan, hipovolaemia, dan dehidrasi. ,arena aksinya berdurasi pendek, risiko terhadap hipokalaemia mungkin berkurang karena adanya diuretik loop seperti furosemid dibandingkan dengan pemakaina diuretik thia7ida. +idak seperti thia7ida, furosemid menaikkan eksresi urin (S*eetman, '<<!#. 2.2 Ab$or($& Absorpsi obat adalah suatu proses pergerakan obat yang tidak berubah dari sisi pengambilan kesirkulasi sistemik. ;bat mungkin diambil dengan melalui berbagai jenis rute seperti rute enteral, rute oral, sublingual, buccal dan rektal, parenteral intravena, subkutan, intramuskular, dan lain- lain dan topical seperti kulit,opthalmic, dan lain- lain ($aradkar, '<<"#. Absorpsi adalah pergerakan partikel-partikel obat dari saluran gastrointestinal kedalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif, absorpsi aktif, atau pinositosis. ,ebanyakan obat oral diabsorpsi di usus halus melalui kerja permukaan vili mukosa yang luas. Bika sebagian dari vili ini berkurang, karena pengangkatan dari sebahagian usus halus, maka absorpsi juga berkurang. ;batobat yang mempunyai dasar-dasar protein seperti insulin dan hormone pertumbuhan dirusak di dalam usus halus oleh en7im-en7im pencernaan. Absorpsi

pasif umumnya terjadi melalui difusi (pergerakan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah#. Dengan proses difusi, obat tidak memerlukan energy untuk menembus membrane. Absorpsi aktif membutuhkan karier (pemba*a# untuk bergerak mela*an perbedaan konsentrasi. Sebuah en7im atau protein dapat memba*a obat-obat menembus membrane. $inositosis berarti memba*a obat menembus membrane dengan proses menelan (,ee, !!?#. Sebagai patokan, dapat dikatakan bah*a sekitar =6> dari suatu obat peroral akan diabsorpsi dalam ( # 1otilitas 2astrointestinal 2erakan lambung dan usus mempunyai pengaruh yang besar dalam absorpsi obat. ;bat-obat yang mengurangi motilitas usus dan lambung (misalnya obat anti muskarinik# atau yang meningkatkan motilitas lambung dan usus (misalnya metoklopramid# akan memperngaruhi absorpsi obat-obat lainnya. 2erakan usus yang cepat (misalnya diare# juga bias menggangu absorpsi obat. ;bat yang diminum sesudah makan biasanya absorpsinya juga lambat sebab jalannya menuju usus halus juga diperlambat. ('# Aliran Darah Splanknikus Aliran darah splanknikus menjadi sangat berkurang pada keadaan hipovolemia dan ini menyebabkan perlambatan absorpsi obat. ()# 3ormulasi Dan /kuran $artikel ;bat /kuran partikel obat dan formulasi obat juga mempunyai efek yang sangat berarti terhadap absorpsi. Banyak juga obat yang diformulasikan sesuai dengan sifat absorpsi yang dikehendaki. Berbagai jenis formulasi lepas terkontrol sekarang makin banyak digunakan melalui teknologi farmasi yang canggih (misalnya formulasi lepas tertunda dan lepas lambat#.Sebagai contoh, formulasi aspirin lapisCenteric dibuat dengan tujuan pelepasan aspirin diperlambat sampai tablet mencapai usus halus sehingga mengurangi resiko erosi lambung. Demikian juga dengan tablet lepas lambat teofilin dan nifedipin, sebab lama kerja obat Cobat tersebut yang relative singkat. (5# 3aktor ,imia*i -) jam, tetapi banyak faktor yang dapat mengubahnya. 3akor-faktor tersebut antara lain%

3aktor kimia*i juga dapat mempengaruhi absorpsi obat dengan cara memengaruhi status obat dalam usus. 1isalnya, antibiotika tetrasiklin mengikat ion-ion :a dengan kuat (chelation# sehingga makanan yang kaya kalsium (terutama susu# dapat mencegah absorpsi tetrasiklin. Demikian juga dengan pemberian parafinum li(uidum sebagai pencahar akan menghambat absorpsi obat-obat yang bersifat lipofilik seperti vitamin , (Staf $engajar Departemen 3armakologi 3akultas ,edokteran /niversitas Sri*ijaya, '<<5#. 2.3 Anato%& U$u$ Halu$ /sus halus merupakan lanjutan lambung yang terdiri atas ) (tiga# bagian yaitu duodenum yang terfiksasi, e unum dan ileum yang bebas bergerak. Diameter tergantung pada letaknya ('-) cm# dan panjang keseluruhan antara 6-! cm. $anjang tersebut akan berkurang oleh regangan otot, yang melingkari peritoneum (Aiache, !!)#. Duodenum relatif pendek (etimologik ' jari# terdiri atas beberapa simpangan. Bagian pertama adalah uxtapylorus, sangat lebar dan terdiri atas !ul!us duodenalis. ,edua, adalah bagian - mulutDD yang lebih lebar dan disebut papilla "ateri, di sini du#tus pan#reati#us ($irsungi) keluar dari pankreas memba*a getah pankreas dan ketiga adalah du#tus #%oledo#%us yang merupakan penggabungan saluran empedu dari hati (du#tus %epati#us) dan saluran cerna. Sedikit di ba*ah papilla "ateri, terdapat muara saluran kedua getah pankreas yaitu du#tus pan#reati#us a##essorius (santorini)(Aiache, !!)#. $anjang e unum dan ileumsekitar ? meter, terbentuk atas 5- 6 lipatanlipatan seperti telinga. Bila tidak berisi berbentuk pipih dan berbentuk tabung bila dile*ati sebongkah makanan (Aiache, !!)#. 2.3 H&$tolog& U$u$ Halu$ Secara histologik, usus halus terdiri atas 6 lapisan melingkar berupa lapisan otot (mus#ulus) dan lapisan lendir (mukosa#. Eapisan yang paling dalam (lapisan mukosa# sangat berperan pada proses penyerapan obat (Aiache, !!)#. 1ukosa usus halus, kecuali yang terletak pada bagian atas duodenumberbentuk lipatan- lipatan atau disebut juga "al"ula #onni"entes&

Eipatan- lipatan inilah yang berfungsi sebagai permukaan penyerapan dan penuh dengan "illi yang tingginya <,=6mm dan selalu bergerak. Adanya "illiini lebih memperluas permukaan mukosa penyerapan hingga 5<- 6< m' (Aiache, !!)#. 3ungsi utama usus halus adalah fungsi penyerapan dan fungsi pencernaan pengeluaran en7im. Sel- sel yang menyusun mukosa penyerap terdiri dari dua jenis utama yaitu % Sel yang berfungsi sebagai penyerap yaitu entero#yte Sel tersebut berbentuk silinder, ramping, pilar- pilarnya tersusun seperti lempeng (kekakuannya sperti helai bulu sikat# Sel yang berfungsi sebagai penghasil getah% Sel go!let menghasilkan mukus yang melindungi mukosa terhadap getah lambung, terhadap kerja en7im proteolitik. Sel entero#%romaffine menghasilkan serotonin yang berperan pada motilitas usus (Aiache, !!)#. Diantara vili- vili usus terdapat kelenjar tubulus Eieberkuhn, yang terdiri atas ketiga jenis sel penghasil getah atau yang disebut juga sel $aneth yang memenuhi granulasi proen7im. $ada duodenum terdapat kelenjar Brunner yang dikelompokkan sebagai sel mukus (Aiache, !!)#. 2.) #&$&olog& U$u$ Halu$ Duodenum dan bagian pertama jejunum mempunyai fungsi pencernaan yang sangat nyata, sedangkan bagian kedua jejunum dan ileum fungsi penyerapannya lebih berperan (Aiache, !!)#. Duodenum. Saluran umum pankreas memasuki dduodenum. p0 duodenal yaitu sekitar ?- ?,6 karena adanya bikarbonat yang menetralkan pengosongan kimus asam dari perut. p0 ini optimum untuk pencernaan protein dan makanan peptida secara en7imatis. 2etah pankreas mengandung en7im yang disekresikan ke duodenum dari saluran empedu. +ripsin, kimotripsin, dan karboksipeptida dilibatkan dalam hidrolisis protein menjadi asam amino. Amilase dilibatkan dalam mencerna karbohidrat. Sekresi lipase pankreas menghidrolisa lemak menjadi asam lemak. 1edium cairan kompleks pada duodenum membantu menghancurkan obat dengan kelarutan dalam air yang lemah (Shargel, '<<5#.

Duodenum merupakan tempat dimana banyak proobat ester dihidrolisa selama absorpsi. Adanya en7im proteolitik juga membuat banyak protein obat menjadi tidak stabil pada duodenum, sehingga mencegah absorpsi yang cukup (Shargel, '<<5#. Bejunum. Bejunum adalah bagian tengah dari usus halus, diantara duodenum dan ileum. $encernaan protein dan karbohidrat berlanjut setelah penambahan getah pankreas dan empedu pada duodenum. Bagan dari usus halus ini umumnya memiliki kontraksi yang lebih sedikit dibandingkan dengan duodenum, namun lebih disukai sebagai penyelidikan absorpsi obat in- vivo (Shargel, '<<5#. @leum. @leum merupakan bagian akhir dari usus halus. Bagian ini memiliki sedikit kontraksi daripada duodenum dan dapat dihambat oleh kateter dengan sebuah balon gelembung saat penelitian absorpsi obat. p0 ileum yaitu =, dengan bagian distal mencapai ". ,arena adanya sekresi bikarbonat, obat asam akan hancur. Sekresi empedu membantu menghancurkan obat lemak dan hidrofobik. ,atup ileosekal membatasi antara usus halus dengan colon (Shargel, '<<5#. 1asuknya substansi yang berasal dari lambung ke dalam duodenum diikuti dengan menutupnya pylorus dan timbulnya gerakan usus serta pengeluaran getah. 2etah empedu merupakan cairan kuning berlendir, kental mempunyai p0 ? dalam kantong empedu dan p0 =- =,6 saat memasuki duodenum. 2etah tersebut dikeluarkan terus menerus, tetapi diantara *aktu makan, getah ditimbun dalam kantung empedu. $engeluaran tersebut terjadi tiap )< menit selama '-) jam setelah makan dan dilanjutkan hingga 6 jam.

"

BAB III MET*D*L*+I PE,-*BAAN 3.1 Alat 'an Ba.an 3.1.1 Alat 4eraca analitik, sumpit besi, p0 meter, benang *ol, statif dan klem, spektrofotometer uv,alat-alat gelas, satu set alat bedah 3.1.2 Ba.an 3urosemida, kloroform, 4a;0, kalium dihidrogen fosfat, 4a:l fisiologis, usus halus kelinci 3.2 He/an Percobaan 0e*an yang digunakan dalam percobaan adalah 3.3 Pro$e'ur 3.3.1 Pe%buatan Pereak$&

ekor kelinci jantan.

Pe%buatan larutan Na-l 0123 f&$&olog&$ Dilarutkan <,! g natrium klorida dalam air suling hingga <<<ml Pe%buatan larutan Na*H 012 N 4atrium hidroksida sebanyak ",<< g dilarutkan dalam air suling bebas :;' hingga <<< ml

Pe%buatan larutan kal&u% '&.&'rogen fo$fat 012 M ,alium dihidrogen fosfat monobase sebanyak '=,'' g dilarutkan dengan air suling dalam labu tentukur <<< ml

Pe%buatan larutan 'a(ar fo$fat (H 415 :ampurkan 6< ml kalium dihidrogen fosfat <,' 1 dengan ),? ml natrium hidroksida <,' 4 dan cukupkan dengan a(uadest bebas :;' hingga '<<ml

Pe%buatan larutan 'a(ar fo$fat (H 61) :ampurkan 6< ml kalium dihidrogen fosfat <,' 1 dengan )!, ml natrium hidroksida <,' 4 dan cukupkan dengan a(uadest bebas :;' hingga '<< l

3.3.2Pe%buatan LIB I furo$e%&'a 'a(ar fo$fat (H 415 'an 61) Ditimbang seksama '6 mg furosemida yang telah dikeringkan pada suhu <6o: selama ) jam. ,emudian masukkan ke dalam labu tentukur 6< ml ditambahkan tetes demi tetes 4a;0 <, 4 sampai serbuk larut lalu dicukupkan dengan dapar fosfat p0 6," sampai garis tanda. Eakukan hal yang sama untuk

dapar fosfat p0 =,5. 3.3.3 Penentuan (anjang gelo%bang %ak$&%u% 'an (e%buatan kur7a kal&bra$& furo$e%&'a 'ala% 'a(ar fo$fat (H 415 'an 61) E@B @ dipipet masing-masing <,'& <,'6& <,)& <,)6& <,66& <,=6& <,!6 ml lalu dimasukkan ke dalam labu tentukur < ml dan dicukupkan dengan dapar fosfat p0 6," sampai garis tanda hingga diperoleh konsentrasi < & ',6 & 6 & =,6 &'=,6 & )=,6 &5=,6 mcg8ml. Eakukan hal yang sama untuk dapar fosfat p0=,5 3.3.) Pe%buatan larutan furo$e%&'a 'engan kon$entra$& 2 %M Ditimbang seksama furosemida, dilarutkan dengan "<< ml dapar fosfat p0 6," hingga diperoleh konsentrasi ' m1. Eakukan hal yang sama untuk dapar fosfat p0 =,5 3.3.4 Penentuan (ene%bu$an %e%bran ole. furo$e%&'a 3.3.4.1 Pe%buatan 'uo'enu% terbal&k 8Everted sac9 kel&nc& 0e*an percobaan berupa kelinci jantan dipuasakan selama '<-'5 jam. ,emudian kelinci tersebut dianastesi, lalu dilakukan pembedahan pada bagian perut tetapi jangan sampai mengenai tulang dada. ,emudian usus diikat pada jarak kurang lebih '6 cm dari pylorus (ujung lambung# dan bagian ini merupakan duodenum. Setelah usus halus dikeluarkan dan dibersihkan bagian dalamnya dari kotoran dan bagian luar dari jaringan yang mengikat pembuluh darah halus dan sebagainya, dengan bantuan pinset dan gunting, dan dicuci dengan larutan natrium klorida fisiologis dingin. ,emudian duodenum dibagi dua dan dibalik menggunakan sumpit besi dimana bagian atas digunakan untuk pemeriksaan laju absorpsi furosemida dalam dapar fosfat p0 6," dan bagian ba*ah untuk p0 =,5. 3.3.4.2 Penentuan (ene%bu$an %e%bran 'uo'enu% terbal&k kel&nc& Duodenum terbalik kelinci ini lalu diikat dengan menggunakan statif dan klem. Bagian atas dimasukkan ke dalam tabung berisi "<<ml larutan dapar fosfat p0 6," yang mengandung bahan obat furosemida ' m1. Dan bagian ba*ah dimasukkan ke dalam tabung berisi "<< ml larutan dapar fosfat p0=,5 yang mengandung bahan obat furosemida ' m1. $ada menit ke 6, <, 6, '<, )<, 56, dan ?< diambul cairan serosa sebanyak 6 ml dan diencerkan hingga < ml dengan mediumnya. /kur absorbansinya dengan spektrofotometer.

<

BAB I: HA!IL DAN PEMBAHA!AN ).1 Ha$&l +erlampir ).2 Per.&tungan +erlampir ).3 Pe%ba.a$an Berdasarkan percobaan yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh p0 terhadap absorpsi furosemida pada duodenum kelinci yang terbalik dilakukan perlakuan dengan berbagai p0 yang berbeda yaitu pada p0 6," dan p0 =,5. Dari percobaan diperoleh hasil bah*a furosemida lebih banyak diabsorpsi pada duodenum yang diberikan dapar fosfat p0 6," dibandingkan =,5. 0al ini disebabkan karena furosemida merupakan asam lemah yang karut dalam duodenum yang mempunyai p0 yang berkisar 6-? bukan pada ileum yang berkisar pada entang p0 =-". @leum merupakan usus penyerap, dimana segala makanan pasti diserap. @leum mempunyai rentang p0 =-" , oleh karena itu dipakai dapar fosfat dengan p0 =,5 dan dipakai juga dapar fosfat dengan ph0 6," yang disesuaikan dengan p0 duodenum. Bagian lain dari usus halus juga merupakan tempat terjadinya perlintasan membran dengan intensitas yang besar, dan lebih banyak terjadi difusi pasif. Difusi pasif terutama terjadi pada bagian pertama usus halus, karena konsentrasi obat-obat yang tinggi dalam liang usus sebelah ba*ah dan pada penyerapan sus a#ent (Aiache, !!)#. ,ebanyakan obat oral diabsorpsi di usus halus melalui kerja permukaan vili mukosa yang luas. Bika sebagian dari vili ini berkurang, karena pengangkatan dari sebahagian usus halus, maka absorpsi juga berkurang. Absorpsi pasif umumnya terjadi melalui difusi (pergerakan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah#. Dengan proses difusi, obat tidak memerlukan energy untuk menembus membrane (,ee, !!?#.

BAB : "E!IMPULAN DAN !A,AN 4.1 "e$&%(ulan - $0 sangat mempengaruhi absorpsi furosemida pada usus terbalik (Averted sac# pada kelinci. 3urosemid lebih mudah diabsorpsi dalam dapar fosfat dengan p0 6," dibandingkan dalam dapar fosfat p0=,5. 4.2 !aran - Sebaiknya

dilakukan

pengujian

terhadap

obat-obat

lain

seperti

ibuprofen,aspirin . Sebaiknya dilakukan pengujian dengan menggunakan 0$E:

'

DA#TA, PU!TA"A Aiache, B. 1. ( !!)#. 'armasetika ()*iofarmasi. $enerjemah% Fidji Soeratri. Adisi ,edua. Surabaya% Airlangga /niversity $ress. 0alaman% 5<-5'. ,ee, B.E. ( !!?#. 'armakologi Pendekatan Proses +epera,atan. Bakarta % $enerbit Buku ,edokteran A2:. 0al =. Shargel,E., dan Gu , A.B .('<<6#. *iofarmasetika dan 'armakokinetik -erapan. Adisi kedua. $enerjemah% 3asich dan S. Sjamsiah. Surabaya% Airlangga /niversity $ress. 0alaman "?-"=, )=. Staf $engajar Departemen 3armakologi 3akultas ,edokteran /niversitas Sri*ijaya. ('<<5#. +umpulan +ulia% 'armakologi. Bakarta% $enerbit Buku ,edokteran A2:. 0al ' - ''. S*eetman,S.:. ('<<!#. .artindaleI.)?th edition. Eondon% $harmaceutical $ress. $age '!'. +an, +.0., dan ,irana, 9. ('<<"# . /!at0/!at Penting& Adisi H@.:etakan $ertama. Bakarta% $+. AleI 1edia ,omputindo. 0alaman ))).

LAMPI,AN #lo/$.eet Pe%buatan 'uo'enu% tebal&k 8E7erte' $ac9 kel&nc& ,elinci jantan )

Dipuasakan selama '<-'5 jam Dilakukan pembedahan pada bagian perut tapi tidak mengenai tulang dada Diikat pada jarak lebih kurang '6 cm dari pylorus Dikeluarkan usus halus dan dibersihakan bagian dalam dan bagian luar dengan 4a:l fisiologis dingin Duodenum dibagi dua Dibalikkan menggunakan sumpit besi Bagian atas direndam dengan dapar fosfat p0 6," dan bagian ba*ah direndam dalam dapar fosfat p0 =,5 0asil Penentuan (ene%bu$an %e%bran 'uo'enu% terbal&k kel&nc& Duodenum terbalik Diikat mengunakan statif dan klem Dimasukkan bagian atas ke dalam tabung berisi "<< ml larutan dapar fosfat p0 6," yang mengandung furosemida 'm1 Dimasukkan bagian ba*ah ke dalam tabung berisi "<<ml larutan dapar fosfat p0=,5 yang mengandung furosemida 'm1 Diambil cairan serosa sebanyak 6mE pada menit ke 6, <, 6,'<,)<,56,?< Diencerkan <mE dengan mediumnya Diukur absorbansinya dengan spektrovotomete uv 0asil

La%(&ran +a%bar

Eabu +entukur

beaker glass

E@B

dan E@B @@

Spatula dan batang pengaduk