Anda di halaman 1dari 20

PEMERIKSAAN URIN Urin adalah bahan buangan tubuh yang berupa cairan yang dikeluarkan melalui sistem urogenital.

Pemeriksaan urin tidak hanya dapat memberikan fakta-fakta tentang ginjal dan saluran urin tetapi juga mengenai fungsi berbagai organ dalam tubuh seperti hati, saluran empedu, kelenjar ludah perut (pankreas) dan lain-lain. Banyaknya urin yang dikeluarkan pada orang dewasa yang bertubuh sehat selama 24 jam kira-kira 800 1500 ml. Banyaknya urin yang dikeluarkan ginjal dalam 24 jam tergantung beberapa faktor misalnya: Banyaknya air yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman. Banyaknya air yang keluar dari butuh melalui keringat, udara pernafasan dan buang air besar. Poliuria adalah keadaan dimana volume urin lebih banyak dari normal. Ini terjadi karena banyak makanan mengandung protein, minum kopi, teh, coklat karena zat-zat ini bersifat diuretikum. Dapat juga poliuria merupakan gejala diabetes. Oliguria keadaan dimana urin kurang dari normal. Milsanya pada keadaan kekurangan cairan/dehidrasi (diare) dan muntah-muntah. Anuria adalah keadaan dimana tidak terdapat produksi urin karena kegagalan fungsi ginjal, keracunan Hg, keracunan asam jengkol dan penyakit gagal ginjal akut. Dalam keadaan normal urin berwarna karena adanya pigmen urobilin. Dalam keadaan tertentu warna urin dapat merupakan petunjuk adanya kelainan organ tubuh misalnya: Urin berwarna merah (hematuri) karena adanya proses perdarahan di saluran kemih. Urin berwarna kuning kecoklatan (ikterik) karena peradangan hati. Urin berwarna putih susu (piurin) karena peradangan pada saluran kemih. Urin yang normal jernih tidak mengandung endapan, lendir, pus, darah, garam dari asam fosfat, asam urat, asam oksalat dan zat lemak.

Berat jenis urin san gat erat hubungannya dengan jumlah urin yang dikeluarkan. Makna banyak urin yang dikeluarkan makin kecil berat jenisnya dan sebaliknya makin sedikit urin yang dikeluarkan makin tinggi berat jenisnya. Jenis spesimen urin : Urin 24 jam yaitu urin yang ditampung dan dikumpulkan selama 24 jam antara jam 7 pagi sampai jam 7 pagi keesokan harinya. Urin segar yaitu urin yang pengambilan sampai dilakukan pemeriksaan kurang dari 2 jam Urin pagi yaitu urin yang pertama-tama dikeluarkan pada pagi hari habis bangun tidur. Urin sewaktu yaitu urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan (sewaktu-waktu) Urin harus diperiksa selagi masih segar. Jika urin disimpan mungkin terjadi perubahan susunan oleh karena kuman-kuman. Oleh karena itu kalau urin terpaksa harus disimpan beberapa lama sebelum diperiksa pakailah sesuatu bahan pengawet untuk menghambat perubahan susunan. Macam-macam bahan pengawet antara lain : 1. Toluen Pakailah sebanyak 2 5 ml untuk pengawet urin 24 jam, setiap kali penambahan urin dikocok. 2. Thymol Sebutir thymol sebagai pengawet mempunyai daya seperti toluen. 3. Formaldehyde Formalin khusus untuk dipakai pada pengawet sediment. Pakailah sebanyak 1 2 ml formalin 40% untuk pengawet urin 24 jam. Kelemahannya, jika jumlahnya terlalu besar mungkin dapat mengadakan reduksi pada tes Benedict.

PEMERIKSAAN URIN Jenis pemeriksaan yang termasuk rutin :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1.

Jumlah urin Warna dan kejernihan urin Berat jenis Derajat keasaman Protein Reduksi Sediment JUMLAH URIN Alat : Gelas ukur Pelaksanaan : Ukurlah volume urin 24 jam atau urin sewaktu (tidak perlu diukur dengan teliti, tetapi yang perlu diperhatikan ialah jumlah yang dikeluarkan). Jumlah urin ditulis dalam cc/ml.

2.

WARNA DAN KEJERNIHAN Alat : Tabung Reaksi Pelaksanaan :

a.

Warna Masukkan urin ke dalam tabung reaksi yang bersih sebanyak tabung. Lihatlah dalam posisi miring di depan cahaya terang (matahari). Warna urin dinyatakan dengan: tidak berwarna kuning muda kuning kuning tua merah putih seperti susu dan lain-lain Biasanya warna nomal berkisar antara kuning muda dan kuning tua. Harus dipertimbangkan juga warna abnormal yang disebabkan oleh obat-obatan seperti vitamin B complex, obat pencahar dan lain-lain.

b.

Kejernihan Isi tabung reaksi dengan urin sebanyak tabung. Lihatlah dengan latar belakang hitam dengan cahaya terang (matahari). Hasil dinyatakan dengan kata:

3. 1. 2. 3.

jernih agak keruh keruh sangat keruh / keruh sekali BERAT JENIS Alat : Urinometer Gelas ukur Termometer

4.

Tabung reaksi Pelaksanaan:

1. 2. 3. 4.

Baca dan catatlah suhu tera urinometer. Baca dan catat suhu kamar urin. Tuanglah urin dengan suhu kamar ke dalam gelas ukur sebanyak 50 ml. Masukkan urinometer ke dalam gelas ukur berisi urin tersebut. Usahakan urinometer bebas terapung. Putarlah tangkai urinometer dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk dan dijaga agar tidak menempel pada gelas ukur. Bacalah berat jenis setinggi miniskus bawah sampai 3 angka di belakang koma. Perhitungan : Jika suhu tera pada urinometer berbeda dengan suhu kamar (suhu urin) harus dilakukan koreksi pembacaan urinometer. Untuk setiap perbedaan suhu 30C (suhu kamar) di atas suhu tera, maka berat jenis ditambah 1 (maksudnya 0,001) dan dikurangi 1 setiap perbedaan di bawah suhu tera. Urinometer yang dipakai hendaknya yang ditera pada suhu antara 270C dan 320C. Berat jenis orang normal berkisar antara 1,005 1,028 biasa ditulis 1005 1028 tanpa koma. Jika jumlah urin terlalu sedikit sedangkan penetapan berat jenis harus dilaksanakan maka encerkanlah urin sama banyak dengan aquades dan untuk mendapatkan hasil berat jenis yang sebenarnya kedua angka terakhir dari pembacaan harus dikalikan dua pula.

4. 1. 2. 3.

DERAJAT KEASAMAN Alat : Pinset Kertas lakmus merah Kertas lakmus biru

Pelaksanaan: Celupkan kertas lakmus merah dan biru dengan memakai pinset ke dalam urin. Lihat hasilnya. Reaksi urin dinyatakan : Reaksi urin asam jika lakmus biru jadi merah Reaksi urin basa jika lakmus merah jadi biru Reaksi urin netral jika lakmus biru tetap biru dan lakmus merah tetap merah. 5. PROTEIN

Cara untuk menyatakan adanya protein dalam urin berdasarkan pada timbulnya kekeruhan. Tebal tipisnya kekeruhan menjadi satu ukuran untuk jumlah protein yang ada dalam urin, maka penggunaan urin yang jernih merupakan syarat penting pada tes-tes terhadap protein. a. Dengan asam sulfosalisilat Alat : 1. Tabung Reaksi 2. 3. 4. 5. Pipet Pasteur Rak tabung Lampu spiritus Tube holder Reagen : Asam sulfosalisiliat 20% Pelaksanaan : 1. 2. Siapkan 2 tabung reaksi dan masing-masing diisi dengan urin jernih sebanyak 2 ml. Pada tabung yang satu tambahkan 8 tetes larutan asam sulfosalisilat 20%, kocok.

3. 4.

Bandingkan isi tabung pertama dan kedua, kalau tetap sama jernih, tes terhadap protein hasilnya negatif. Jika tabung pertama lebih keruh dari pada yang kedua, panaskanlah tabung pertama itu di atas nyala api spiritus sampai mendidih dan kemudian dinginkan lagi dengan air mengalir.

a.

Jika kekeruhan tetap ada pada waktu pemanasan dan tetap ada setelah didinginkan tes terhadap protein positif. Proteinnya mungkin albumin mungkin globulin atau mungkin kedua-duanya.

b.

Jika kekeruhan itu hilang pada waktu pemanasan tetapi muncul lagi setelah didinginkan sebabnya protein Bence Jones dan perlu diselidiki lebih lanjut. Tes ini terlalu peka dan tidak spesifik.

b. 1. 2. 3. 4.

Cara pemanasan menurut Bang Alat : Tabung reaksi Lampu spiritus Pipet Pasteur Tube holder Reagen : Asam acetat 6 % Pelaksanaan :

1. 2. 3.

Masukkan urin jernih dalam 2 tabung reaksi masing-masing 5 ml. Tabung pertama panasi sampai mendidih, bila terjadi kekeruhan mungkin disebabkan oleh protein atau oleh Ca-Fosfat atau Ca-Carbonat. Tetesi 2 3 tetes dengan asam aceta 6%, jika kekeruhan oleh CaFosfat kekeruhan tersebut akan lenyap, kalau kekeruhan oleh Ca-Carbonat

akan lenyap juga tetapi dengan pembentukan gas. Kalau kekeruhan tetap ada atau lebih keruh disebabkan oleh protein. Penilaian : : atau 1+ atau 2+ atau 3+ 0,5%) atau 4+ : urin sangat keruh dan kekeruhan berkeping-keping besar atau bergumpal-gumpal atau memadat (0,5%) Jika terdapatlebih dari 3% protein akan terjadi bekuan. 6. REDUKSI Diantara bermacam-macam reagen yang dapat dipakai untuk menyatakan adanya reduksi, yang banyak dipergunakan yang mengandung garam cupri. Dalam hal ini dianjurkan memakai reagen Benedict. Alat: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Tabung reaksi Lampu spiritus Pipet Pasteur/Pipet tetes Pipet takar/telas takar 5 ml/10 ml Rak tabung Tripod iron Kasa asbes Gelas kimia/penangas air : : : tidak ada kekeruhan sedikitpun. ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir, kadar protein kira-kira kekeruhan mudah dapat dilihat dan nampak butir-butir dalam urin jelas keruh dan kekeruhan itu berkeping-keping (0,2

0,01 0,05% kekeruhan itu (kadar protein 0,05 0,2%)

++

Reagen: Benedict CuSO4 Na-Citrat Na-Carbonat anhydrat Aquades Pelaksanaan: 1. 2. 3. 4. Masukkan 2,5 ml reagen Benedict ke dalam tabung reaksi (atau 5 ml) Tetesi dengan urin 3 4 tetes (kalau memakai 5 ml reagen 5 8 tetes). Masukkan dalam air mendidih 5 menit atau panaskan di atas api spiritus mendidih 2 menit. Angkat tabung, kocok dan baca hasilnya. Penilaian: : atau 1+ atau 2+ atau 3+ atau 4+ : : : : tetap biru jernih atau sedikit kehijauan dan agak keruh hijau kekuning-kuningan dan keruh (0,5 1 % glukosa) kuning keruh (1 1,5 % glukosa) warna lumpur merah keruh ( 2 3,5 % glukosa) merah keruh seperti batu merah (lebih dari 3,5 % glukosa) 17,3 gram 173 gram 100 gram 1000 ml

7.

SEDIMENT Urin yang dipakai urin segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet sebaiknya formalin. Alat:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Centrifuge Tabung pemusing (tabung centrifuge) Pipet pasteur Kaca sediaan Kaca penutup (cover glass) Mikroskop Hand tally counter Pelaksanaan:

1. 2. 3.

Kocok urin dalam tempat penampungannya agar bila ada sediment tercampur rata. Masukkan urin 5 ml atau 10 ml ke dalam tabung centrifuge, pusingkan selama 5 menit 1500 2000 rpm. Pindahkan cairan bagian atas dari tabung ke tabung reaksi lain dengan jalan dituang atau memakai pipet pasteur, hingga volume cairan dan sediment kira-kira 0,5 ml atau 1 ml. Kocoklah tabung untuk mencampur kembali sediment.

4. 5.

Dengan pipet pasteur taruhlah 1 tetes sediment di atas kaca sediaan yang bersih dan kering. Tutup dengan kaca penutup. Periksa di bawah mikroskop. Mula-mula dengan perbesaran obyektif 10 X (LPK lapangan penglihatan kecil) kemudian dengan perbesaran obyektif 40X (LPB lapangan penglihatan besar). Amatilah beberapa lapangan penglihatan (1 10 lapangan).

Jumlah unsur sediment yang nampak dilaporkan secara semi kuantitatif yaitu jumlah rata-rata per LPB. Jumlah sel epitel dan silinder dilaporkan rata-rata per LPK. Jumlah sel epitel dan silinder dilaporkan rata-rata per LPK. Jumlah rata-rata lekosit dan eritrosit dilaporkan per LPB. Untuk kristal cukup diberikan tanda atau perkataan + (ada), ++ (banyak), +++ (banyak sekali). Dengan LPK ini dapat dilihat : = Epitel saluran kemih : : : bentuk terbesar, berinti satu. Berasal dari saluran kemih yang berasal dari permukaan kandung kemih. berasal dari pelvis ginjal dan tubulus ginjal. Bertambahnya sel epitel paling jauh dari ginjal.

pitel gepeng

itel transisional

itel bulat

Sel epitel selalu ada dalam keadaan normal. saluran kemih / alat kelamin. = Silinder : : ginjal. : tampak transparan, tidak berarti klinis.

mungkin adanya suatu radang pada permukaan selaput lendir sistem

inder hialin

linder epitel

Silinder tampak lebih pendek dari pada silinder hialin, tepinya

dibatasi oleh inti sel epitel. Biasanya akibat pada peradagan akut di dalam Silinder ini merupakan kelanjutan dari silinder epitel yang sel-

linder granular

selnya mengalami degenerasi, kemudian eritrosit dan lekosit menambah isi silinder. Dijumpai pada kasus penyakit ginjal kronis. : Khas karena warnanya mengandung pigmen heme, kadangeritrosit yang utuh. Dijumpai pada kasus kadang mengandung

linder eritrosit

glomerulonefritis akut.

inder lekosit

: : :

Terjadi akibat konglomerasi lekosit dalam ureter atau kandung Silinder ini tidak terbentuk dari zat lilin, berwarna kekuningBentuknya tidak teratur, terdiri dari konglomerasi eritrosit,

kemih akibat peradangan saluran kemih. kuningan, terbentuknya tidak teratur, terdapat pada proses-proses kronis. lekosit, epitel, fibrin atau bakteri yang tersusun seperti silinder. = Kristal Kristal dijumpai dalam berbagai bentuk dan ukuran. Keberadaannya tidak berarti klinis, terbentuk karena pengendapan garam-garam yang diekskresikan bersama urin. Pembentukannya bertambah dengan meningkatnya konsentrasi urin, keasaman dan temperatur. Kristal-kristal yang sering dijumpai: (magnesium ammonium fosfat) : terdapat pada urin yang alkalis, bentuknya seperti prisma dan bentuk bintang. : terutama terdapat pada urin asam tapi dapat juga dijumpai pada urin Bentuk oktahedral dengan garis diagonal dari kedua netral atau alkalis. sisinya. : berbentuk amorf, granular atau kristalin.

linder lilin

linder palsu

alat

at

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook


http://aniamaharani.blogspot.com/2011/12/praktikum-ipupemeriksaan-urin.html Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.

SPESIMEN

Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina, perineum dan uretra pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi mutu temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel, dan mikroorganisme masuk ke dalam sistem urine dari uretra dan jaringan sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar membuang beberapa millimeter pertama urine

sebelum mulai menampung urine. Pasien perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen. Kadang-kadang diperlukan kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak tercemar. Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup bagus untuk pemeriksaan, namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsure-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Gunakan wadah yang bersih untuk menampung spesimen urin. Hindari sinar matahari langsung pada waktu menangani spesimen urin. Jangan gunakan urin yang mengandung antiseptik. Lakukan pemeriksaan dalam waktu satu jam setelah buang air kecil. Penundaan pemeriksaan terhadap spesimen urine harus dihindari karena dapat mengurangi validitas hasil. Analisis harus dilakukan selambat-lambatnya 4 jam setelah pengambilan spesimen. Dampak dari penundaan pemeriksan antara lain : unsur-unsur berbentuk dalam sedimen mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam, urat dan fosfat yang semula larut dapat mengendap sehingga mengaburkan pemeriksaan mikroskopik elemen lain, bilirubin dan urobilinogen dapat mengalami oksidasi bila terpajan sinar matahari, bakteri berkembangbiak dan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan mikrobiologik dan pH, glukosa mungkin turun, dan badan keton, jika ada, akan menguap.

PEMERIKSAAN

MAKROSKOPIK

Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak berwarna, urine pekat berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular berlebihan atau protein dalam urin. Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat. Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obatobatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin (proteinuria). Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :

Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin. Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.

Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin. Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin. Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas). Penyebab nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik. Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran. Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa. Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.

ANALISIS

DIPSTICK

Dipstick adalah strip reagen berupa strip plastik tipis yang ditempeli kertas seluloid yang mengandung bahan kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan diperiksa. Urine Dip merupakan analisis kimia cepat untuk mendiagnosa berbagai penyakit. Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya adalah : glukosa, protein, bilirubin, urobilinogen, pH, berat jenis, darah, keton, nitrit, dan leukosit esterase.

Prosedur

Tes

Ambil hanya sebanyak strip yang diperlukan dari wadah dan segera tutup wadah. Celupkan strip reagen sepenuhnya ke dalam urin selama dua detik. Hilangkan kelebihan urine dengan menyentuhkan strip di tepi wadah spesimen atau dengan meletakkan strip di atas secarik kertas tisu. Perubahan warna diinterpretasikan dengan membandingkannya dengan skala warna

rujukan, yang biasanya ditempel pada botol/wadah reagen strip. Perhatikan waktu reaksi untuk setiap item. Hasil pembacaan mungkin tidak akurat jika membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, atau jika pencahayaan kurang. Pembacaan dipstick dengan instrument otomatis lebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual. Pemakaian reagen strip haruslah dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu harus diperhatikan cara kerja dan batas waktu pembacaan seperti yang tertera dalam leaflet. Setiap habis mengambil 1 batang reagen strip, botol/wadah harus segera ditutup kembali dengan rapat, agar terlindung dari kelembaban, sinar, dan uap kimia. Setiap strip harus diamati sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada perubahan warna.

Glukosa Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna.

Protein Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal. Normal ekskresi protein urine biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl dalam setiap satu spesimen. Lebih dari 10 mg/ml didefinisikan sebagai proteinuria. Sejumlah kecil protein dapat dideteksi dari individu sehat karena perubahan fisiologis. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin. Pra-menstruasi dan mandi air panas juga dapat menyebabkan jumlah protein tinggi. Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Dipsticks mendeteksi protein dengan indikator warna Bromphenol biru, yang sensitif terhadap albumin tetapi kurang sensitif terhadap globulin, protein Bence-Jones, dan mukoprotein.

Bilirubin Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai ikterik.

Urobilinogen Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin terkonjugasi mencapai area duodenum, tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. Sebagian besar urobilinogen berkurang di faeses; sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah, di sini urobilinogen diproses ulang menjadi empedu; dan kira-kira sejumlah 1% diekskresikan ke dalam urine oleh ginjal. Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat. Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat disebabkan oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil urobilinogen.

Keasaman

(pH)

Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status asam-basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 8,0. pH bervariasi sepanjang hari, dipengaruhi oleh konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur) adalah yang lebih asam. Obat-obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan asam-basa jug adapt mempengaruhi pH urine. Urine yang diperiksa haruslah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan berubah menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai terhadap albuminuria dan unsureunsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit, silinder yang akan mengalami lisis. pH urine yang

basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya infeksi. Urine dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat. Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :

pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih (Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi. pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman.

Berat

Jenis

(Specific

Gravity,

SG)

Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin. Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 1,025, sedangkan dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam bisa mencapai 1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine. BJ urine yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus. Nokturia dengan ekskresi urine malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar glukosa sangat tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan tinggi secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul rendah. Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut non-glukosa.

Darah

(Blood)

Pemeriksaan dengan carik celup akan memberi hasil positif baik untuk hematuria, hemoglobinuria, maupun mioglobinuria. Prinsip tes carik celup ialah mendeteksi hemoglobin dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor oksigen. Eritrosit yang utuh dipecah menjadi hemoglobin dengan adanya aktivitas peroksidase. Hal ini memungkinkan hasil tidak sesuai dengan metode mikroskopik sedimen urine. Hemoglobinuria sejati terjadi bila hemoglobin bebas dalam urine yang disebabkan karena danya hemolisis intravaskuler. Hemolisis dalam urine juga dapat terjadi karena urine encer, pH alkalis, urine

didiamkan lama dalam suhu kamar. Mioglobinuria terjadi bila mioglobin dilepaskan ke dalam pembuluh darah akibat kerusakan otot, seperti otot jantung, otot skeletal, juga sebagai akibat dari olah raga berlebihan, konvulsi. Mioglobin memiliki berat molekul kecil sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresi ke dalam urine. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

Hasil positif palsu dapat terjadi bila urine tercemar deterjen yang mengandung hipoklorid atau peroksida, bila terdapat bakteriuria yang mengandung peroksidase. Hasil negatif palsu dapat terjadi bila urine mengandung vitamin C dosis tinggi, pengawet formaldehid, nitrit konsentrasi tinggi, protein konsentrasi tinggi, atau berat jenis sangat tinggi. dari wanita yang sedang menstruasi dapat memberikan hasil positif.

Urine

Keton Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam -hidroksibutirat) diproduksi untuk menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam aseotasetat dan asam -hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan untuk menggunakan keton sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine, dan apabila kemampuan ginjal untuk mengekskresi keton telah melampaui batas, maka terjadi ketonemia. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat. Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes), sehingga tubuh mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein, febris.

Nitrit Di dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolisme protein, yang kemudian jika terdapat bakteri dalam jumlah yang signifikan dalam urin (Escherichia coli, Enterobakter, Citrobacter, Klebsiella, Proteus) yang megandung enzim reduktase, akan mereduksi nitrat menjadi nitrit. Hal ini terjadi bila urine telah berada dalam kandung kemih minimal 4 jam. Hasil negative bukan berarti pasti tidak terdapat bakteriuria sebab tidak semua jenis bakteri dapat membentuk nitrit, atau urine memang tidak mengandung nitrat, atau urine berada dalam kandung kemih kurang dari 4 jam. Disamping itu, pada keadaan tertentu, enzim bakteri telah mereduksi nitrat menjadi nitrit, namun kemudian nitrit berubah menjadi nitrogen.

Spesimen terbaik untuk pemeriksaan nitrit adalah urine pagi dan diperiksa dalam keadaan segar, sebab penundaan pemeriksaan akan mengakibatkan perkembang biakan bakteri di luar saluran kemih, yang juga dapat menghasilkan nitrit. Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

Hasil positif palsu karena metabolisme bakteri in vitro apabila pemeriksaan tertunda, urine merah oleh sebab apapun, pengaruh obat (fenazopiridin). Hasil negatif palsu terjadi karena diet vegetarian menghasilkan nitrat dalam jumlah cukup banyak, terapi antibiotik mengubah metabolisme bakteri, organism penginfeksi mungkin tidak mereduksi nitrat, kadar asam askorbat tinggi, urine tidak dalam kandung kemih selama 4-6 jam, atau berat jenis urine tinggi.

Lekosit

esterase

Lekosit netrofil mensekresi esterase yang dapat dideteksi secara kimiawi. Hasil tes lekosit esterase positif mengindikasikan kehadiran sel-sel lekosit (granulosit), baik secara utuh atau sebagai sel yang lisis. Limfosit tidak memiliki memiliki aktivitas esterase sehingga tidak akan memberikan hasil positif. Hal ini memungkinkan hasil mikroskopik tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan carik celup. Temuan laboratorium negatif palsu dapat terjadi bila kadar glukosa urine tinggi (>500mg/dl), protein urine tinggi (>300mg/dl), berat jenis urine tinggi, kadar asam oksalat tinggi, dan urine mengandung cephaloxin, cephalothin, tetrasiklin. Temuan positif palsu pada penggunaan pengawet formaldehid. Urine basi dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.

Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina, perineum dan uretra pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi mutu temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel, dan mikroorganisme masuk ke dalam sistem urine dari uretra dan jaringan sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar membuang beberapa millimeter pertama urine sebelum mulai menampung urine. Pasien perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen. Kadang-kadang diperlukan kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak tercemar. Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup bagus untuk pemeriksaan, namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsure-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Gunakan wadah yang bersih untuk menampung spesimen urin. Hindari sinar matahari langsung pada waktu menangani spesimen urin. Jangan gunakan urin yang mengandung antiseptik. Lakukan pemeriksaan dalam waktu satu jam setelah buang air kecil. Penundaan pemeriksaan

terhadap spesimen urine harus dihindari karena dapat mengurangi validitas hasil. Analisis harus dilakukan selambat-lambatnya 4 jam setelah pengambilan spesimen. Dampak dari penundaan pemeriksan antara lain : unsur-unsur berbentuk dalam sedimen mulai mengalami kerusakan dalam 2 jam, urat dan fosfat yang semula larut dapat mengendap sehingga mengaburkan pemeriksaan mikroskopik elemen lain, bilirubin dan urobilinogen dapat mengalami oksidasi bila terpajan sinar matahari, bakteri berkembangbiak dan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan mikrobiologik dan pH, glukosa mungkin turun, dan badan keton, jika ada, akan menguap. http://kaahil.wordpress.com/2013/05/11/lengkap-hasil-pemeriksaan-urine-rutin-urinalisismakroskopik-glukosa-protein-bilirubin-urobilinogenkeasamanph-berat-jenisbj-darah-ketonnitrit-lekosit-esterase-mikroskopik-eritro/

Urin atau air seni adalah cairan yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga hemostasis cairan tubuh. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme seperti urea, garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial (Chernecky dan Berger, 2008). Pemeriksaan glukosa urin merupakan tes atau pemeriksaan pada sampel urin untuk mengetahui ada atu tidaknya glukosa yang terkandung di dalamnya, pemeriksaan ini termasuk pemeriksaan penyaring dalam urinalisis.