Anda di halaman 1dari 11

PENATALAKSANAAN ANASTESI BEDAH DARURAT ABSTRAK Anastesi untuk prosedur bedah membawa beberapa resiko.

Resiko ini muncul ketika operasi bedah dilakukan sebagai prosedur darurat. Penilaian darurat dalam resiko stratifikasi menegaskan hubungannya dengan anastesi klinik. Batas waktu untuk evaluasi pasien., potensi ketidakseimbangan cairan atau elektrolit, keadaan lambung penuh dan kemungkinan nyeri yang tidak terkontrol lebih besar dipertimbangkan dalam pemberian anastesi untuk bedah darurat. Penemuan yang dikemukakan untuk mendiskusikan beberapa riwayat klinik yang dilakukan anastesi darurat dan utamanya berhubungan dengan dilemma klinis yang umum. PENDAHULUAN Perawatan pada pasien bedah kadang kadang terjadi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Catatan ini meliputi semua subspesial bedah. Hal darurat yang terjadi pada bedah memberikan beberapa resiko tertentu. Pemberian anastesi pada beberapa pasien dengan sedikit atau tidak ada pengetahuan sebelumnya tentang patologi atau prosedur yang dapat digunakan. Sementara prosedur bedah dapat sama untuk dua pasien yang berbeda, perawatan anastesi dapat dimodifikasi dengan perluasan dari patologi dan/atau masalah medis yang bersamaan. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus dengan anastesi selama pembedahan darurat.

JANGKAUAN MASALAH Keamanan prosedur bedah elektif telah ditingkatkan selama beberapa tahun. Tidak dapat dikatakan sama pada bedah darurat. Telah banyak bukti dalam literatur yang berkaitan dengan bedah darurat atau penatalaksanaan anastesi dengan hasil yang buruk. Selain itu, klasifikasi dalam perawatan anastesi mengenalkan tempat pada perawatan darurat dalam resiko stratifikasi. Prosedur yang dilakukan dalam keadaan darurat mempunyai 4 dari 25 poin dalam Goldman Risk Index untuk prosedur non-kardiak pada pasien kardiak. Dengan cara yang sama, secara luas digunakan oleh American Society of Anaesthesiologists mengklasifikasi status fisik untuk mengenali keganjilan prosedur darurat. Ini merupakan pengetahuan umum bahwa semua pemberian anastesi membawa beberapa resiko. Terlihat bahwa prosedur-prosedur darurat harus menekan resiko-resiko ini dan oleh karena itu, respon mendalam oleh ahli anastesi terhadap penatalaksanaan anastesi pada bedah darurat. Sebuah studi di Kanada mengevaluasi kematian 7 hari setelah pemberian anastesi. Studi menunjukkan 71 kasus dari 10.000 kematian dan keadaan mendesak pada bedah adalah faktor dalam kematian anastesi. Hal yang sama, Keenan dan Boyan melaporkan bahwa pemberhentian kerja jantung terjadi 6 kali lebih selama anastesi darurat dibandingkan dengan prosedur elektif. Penelitian kami di Benin City sama. Dalam tinjauan anastesi yang buruk selama 10 tahun periode mengungkap prosedur darurat mempunyai 8 berkas resiko anastesi berkaitan dengan komplikasi. 30 pasien mempunyai komplikasi yang berkaitan dengan anastesi, 29 adalah anastesi darurat dan 1 adalah bagian Caesar elektif

(tabel I). Mengurangi tekanan pada resiko-resiko yang berkaitan dengan anastesi selama pembedahan darurat adalah objek yang diungkap. Tabel I : Anastesi berhubungan dengan komplikasi setelah seksio sesaria Tipe seksio sesaria Darurat Elektif 29 1 2102 584 Tidak ada komplikasi Tidak ada anastesi

Tabel II : Placenta praevia dan resiko placenta akreta Penyakit Placenta praevia + an unscared uterus Placenta praevia + one previous C/S Placenta praevia + two previous C/S Placenta praevia + four previous C/S Resiko P. accrete 5% 24% 47% 67%

PERTIMBANGAN KHUSUS Ada masalah khusus dan umum yang berkaitan pemberian anastesi untuk prosedur darurat. Resiko operasi besar yang berkaitan dengan prosedur darurat dapat dikurangi dengan pertimbangan perhatian pada masalah-masalah dalam memberikan perawatan operasi dalam kebutuhan pengobatan bedah yang cepat. Masalah-masalah yang ganjil termasuk, tetapi tidak semata-mata sendiri,

lambung penuh, hypovolemia, nyeri, penyakit-penyakit medis yang muncul bersamaan dan batas waktu untuk persiapan pasien. 1. Lambung penuh : Sisa volume lambung bergantung pada pengosongan lambung.

Pengosongan lambung bergantung pada beberapa faktor seperti volume dan kandungan dari makanan yang terakhir ditelan. Ini telah disetujui bahwa lambung dipertimbangkan kosong 6 jam setelah makanan masuk.

Bagaimanapun, motilitas lambung dapat diperlambat oleh trauma, nyeri, rasa takut, pemberian opioid. Waktu pencernaan makanan terhadap waktu trauma adalah merupakan suatu faktor yang lebih realistis dalam penilaian sisa volume lambung setelah trauma. Maksudnya ketika lambung penuh pada anastesi umum sebaiknya dijelaskan. Lambung yang penuh berpengaruh terhadap terjadinya regurgitasi dan kemungkinan aspirasi isi lambung. Resiko ini sangat besar dan hasilnya sungguh buruk khususnya pada negara berkembang. Ini adalah contoh klasik dari klise; pencegahan lebih baik daripada mengobati. 2. Batas waktu untuk menyiapkan pasien Hal ini sangat penting pada anastesi untuk prosedur darurat. Ada sedikit atau tidaknya ruangan penangguhan bedah. Oleh karena itu prosedur bedah

menjadi penting sekali. Waktu untuk pasien penilaian terbatas sama seperti waktu untuk mengevaluasi beberapa penemuan pengujian fisik. Pada prosedur elektif, beberapa observasi biasanya dievaluasi seluruhnya dan penangguhan bedah dapat dibutuhkan untuk memperbaiki hasilnya. Ini bukan

kasus dalam anastesi darurat. Oleh karena itu,resiko yang berkaitan dengan anastesi untuk prosedur darurat lebih besar dibandingkan prosedur elektif. 3. Hipovolemia Hal ini tidak sering terjadi dalam pengobatan bedah darurat. Hipovolemia mungkin hasil dari pendarahan atau kehilangan cairan karena diare atau muntah. Juga sering, kehilangan cairan yang berhubungan dengan gangguan elektrolit tertentu tetapi kosekuensi meninggal pada hasil anastesi dan bedah jika tidak diperbaiki. 4. Penyakit-penyakit medis yang timbul Beberapa penyakit-penyakit medis seperti hipertensi yang tidak terkontrol, diabetes mellitus, asma, gagal jantung kongestif atau masalah-masalah jantung lainnya dapat menyulitkan pembedahan dan anastesi. Standar perawatan dibutuhkan bahwa penyakit-penyakit medis yang akan dioptimasi sebelum menginduksi anastesi. Ini mungkin tidak sering dalam situasi darurat. Harus membutuhkan usaha yang harus dilakukan optimasi kondisi medis tepat seperti waktu yang diberikan. 5. Nyeri Beberapa kondisi yang membutuhkan pembedahan sangat menyakitkan. Nyeri akan dirasakan dan pemberian analgesik yang digunakan untuk

pengobatan harus dicatat.

PENATALAKSANAAN ANASTESI Penilaian sebelum operasi : Hal ini sangat penting bahwa semua pasien pembedahan dan anastesi dinilai oleh ahli anastesi. Waktunya mungkin dibatasi. Bagaimanapun, riwayat makanan, alergi obat, kesulitan dengan anastesi sebelumnya dan penyakit yang diderita atau obat-obat yang sedang digunakan harus diketahui. Pemeriksaan fisik akan menentukan resiko dari regurgitasi /aspirasi agar memudahkan intubasi trakea. Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan sehingga akan membantu penatalaksanaan pasien. Hasilnya harus dicatat dan membutuhkan langkah yang akan diambil. Resusitasi pada pasien sebelum diinduksi anastesi juga penting. Pemeriksaan cairan dan ketidakseimbangan elektrolit harus dilakukan. Ini membutuhkan pemberian beberapa obat-obat untuk pengobatan hipertensi, diabetes, atau kelebihan tekanan intraokular sebelum dianastesi. Terapi profilaksis anatasida untuk mengurangi resiko regurgitasi/aspirasi harus dipertimbangkan. Ranitidin intravena, metoklopramid harus tersedia untuk penggunaan dalam subbagian ini. Natrium sitrat 0,3 M mempunyai keuntungan khusus yaitu kelebihan magnesium trisilikat khususnya bedah kandungan. Pemilihan tekhnik anastesi : Pemilihan anastesi untuk prosedur darurat mengikuti tekhnik dasar bedah dan bergantung pada ahli anastesi. Anastesi umum sama seperti dengan anastesi lokal dapat digunakan untuk bedah darurat. Meskipun demikian, karena keadaan mendesak prosedur darurat, anastesi umum lebih sering digunakan

dibandingkan anastesi lokal. Terlihat sederhana untuk induksi anastesi umum karena dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk anastesi lokal dapat menjadi faktor dalam kebanyakkan anastesi umum untuk prosedur darurat. Persiapan untuk pemilihan tekhnik anastesi meliputi penjelasan tentang obat-obatan. Disamping itu obat yang dibutuhkan seperti, vasopressor, atropin, adrenalin, dan obat-obat darurat lainnya harus disiapkan terdahulu pada pemilihan tekhnik anastesi. Jalur intravena harus menggunakan lubang kanula besar. Tentu saja, masalah makanan sudah mempunyai jalur lain untuk kecepatan infus dari cairan atau darah. Kecepatan urutan induksi anastesi umum harus diperintahkan. Tekanan cricoid harus digunakan sebelum onset dari hilangnya kesadaran. Bahan-bahan penginduksi yang sedikit mempengaruhi status hemodinamik pada pasien lebih sesuai untuk induksi anastesi. Keamanan dari ketamin dapat hilang pada pasien dengan resusitasi yang tidak cukup. Suxametonium lebih efektif sebagai bahan memblok neuromuscular untuk

mengontrol kecepatan dari aliran udara pada situasi darurat. Ini berkaitan untuk mencegah regurgitasi/aspirasi pada induksi anastesi. Pengukuran untuk memperbaiki resiko aspirasi harus dimulai pada ekstubasi. Tidak ada arahan khusus pada saat perbaikan setelah anastesi untuk prosedur darurat. Sebaiknya keadaan pasien harus ditentukan jika selanjutnya pengobatan akan

membutuhkan ruangan umum, HDU atau ICU.

BEBERAPA DILEMA PADA ANASTESI DARURAT Bagian ini akan membahas 3 dilema umum ahli anastesi pada anastesi darurat. Hal ini tidak ada arti mendalam karena tidak ada mode tunggal dari presentasi yang diketahui untuk pasien ini. Anastesi untuk obstruksi intestinal : Ini salah satu dari bedah darurat yang mana ahli anastesi harus memberikan perawatan. Sering terjadi konflik antara ahli bedah yang menginginkan operasi dan perhatian ahli anastesi terhadap cairan dan keseimbangan elektrolit. Masalah yang terjadi dapat memicu keterlambatan perbaikan elektrolit. Perbaikan cairan dan elektrolit adalah hal yang penting. Terapi cairan yang baik berkaitan dengan keseimbangan larutan garam seperti Ringer laktat, 0,9% saline diantara yang lain. Hemodinamik harus dalam batas normal sebelum diinduksi anastesi umum. Tidak ada pilihan yang banyak pada tehnik anastesi yang ada. Ini membuat anastesi umum hanya pilihan untuk tatalaksana anastesi pada pasien dengan masalah yang ada. Penetrasi cedera mata dan anastesi : Penetrasi cedera mata seringkali membuat traumatik. Dan tidak umum untuk pasien untuk hanya menelan makanan. Perawatan anastesi pada pasien dengan penetrasi cedera mata dan akan tetapi lambung masih dalam keadaan penuh dapat membutuhkan ahli anastesi di malam hari. Suxametonium adalah pemblok neuromuskular utama untuk mengontrol kecepatan aliran udara dalam urutan kecepatan induksi anastesi umum. Ini berkaitan dengan peningakatan tekanan

intraokular,

yang

mana

dapat Ini

memicu

kehilangan terhadap

penglihatan objektifitas

dan dari

mengakibatkan

pengaburan.

bertentangan

pemberian anastesi; untuk memperbaiki penglihatan yang baik dan kesehatan yang baik. Bagaimanapun, keterlambatan waktu bedah dapat memudahkan pengosongan lambung dan mengurangi resiko regurgitasi/aspirasi pada kandungan lambung. Walaupun rocuronium telah disarankan sebagai pengganti untuk suxametonium pada dosis tinggi (ED95), kecepatan perbaikan fungsi neuromuscular setelah suxametonium menjadi suatu keuntungan. Pendarahan antepartum dan anastesi : Hal ini merupakan salah satu dari bedah darurat kandungan yang dilakukan oleh ahli bedah kandungan, ahli anastesi dan kapasitas Rumah sakit untuk layanan darurat. Perhatian anastesi termasuk evaluasi aliran udara dalam kasus anastesi umum dibutuhkan, jalur intravena, memberikan ketersediaan hayati yang cepat dalam darah. Tidak ada pengecualian kehilangan darah yang signifikan dikarenakan oleh plasenta praevia. Ada fakta yang cukup bahwa anastesi lokal untuk bedah Caesar berkaitan dengan penurunan kehilangan darah dan penurunan transfuse darah. Bagaimanapun, penggunaan anastesi lokal pada pasien perdarahan dan resiko pelekatan plasenta yang berkelanjutan. Resiko plasenta akreta berhubungan dengan beberapa cedera pada kandungan sebelumnya dengan adanya plasenta previa. Resiko ini meningkat dengan peningkatan sejumlah cedera kandungan sebelumnya (table II). Adanya plasenta akreta mengindikasikan pelebaran bedah dan peningkatan resiko transfusi darah. Selanjutnya terjadi plasenta praevia dan melahirkan secara sesar

sebelumnya dapat berarti mengindari anastesi lokal. Namun, ini dapat berarti untuk melakukan dua jalur intravena dan donor darah yang ada dalam ruang operasi khususnya ketika persetujuan dengan cedera plasenta praevia atau salah satu dengan cedera kandungan sebelumnya. CARA PENYAMPAIAN Memperbaiki komunikasi/usaha tim. Harus ada kemampuan komunikasi yang baik Antara ahli bedah dan ahli anastesi. Ahli anastesi harus

menginformasikan secara cepat dalam penatalaksanaan pasien ketika ahli bedah memulai operasi. Bantuan yang cepat oleh ahli anastesi akan mencegah keterlambatan memulai pembedahan dan memperbaiki hasilnya. Aturan dasar para ahli akan mencapai hasil yang lebih baik jika pemberian anastesi diberikan selama kondisi pasien yang optimal. Bantuan untuk ahli anastesi: Kebanyakan bedah darurat terjadi pada waktu yang tidak terduga atau malam hari. Ini merupakan saat ketika tenaga manusia yang tersedia sedikit. Sangat penting bahwa ahli anastesi menginformasikan kepada pasien dan bagian klinik. Kecepatan dapat membantu untuk pengerahan bantuan dari senior sejawat. Pekerja terlatih: Tidak ada pengganti untuk pekerja. Workshop pelatihan dan Pelajaran akan selanjutnya dapat memperbaharui pengetahuan dan

kemampuan pekerja. Peralatan: ada kebutuhan untuk peralatan modern dalam tatalaksana anastesi untuk bedah pasien. Peralatan ini tidak murah dan kesehatan anggaran pada subbagian tidak diinginkan. Bagaimanapun, monitoring klinik

harus dilakukan seperti oximetry pembuluh, kapnografi, EKG dan alat lainnya minimal standar Harvard. Penggunaan pengganti pekerja dalam monitoring klinik harus dihindari. Dalam hal ini, suatu intubasi esophageal yang tidak diketahui dapat diindikasi dengan perubahan dalam kapnografi dan oximetry pembuluh. Usaha menggunakan pewarnan darah pada belahan pembedahan sebagai indikator tingkat oksigenasi merupakan keraguan nilai klinis dan penuh dengan resiko. KESIMPULAN Tidak ada peluru perak dalam penatalaksanaan anastesi pasien untuk bedah darurat. Perawatan anastesi kebanyakan pasien harus individual. Ini

memberikan resiko pembedahan sama seperti keanehan anastesi darurat yang diketahui. Resusitasi dan optimasi beberapa masalah medis yang ada harus dilakukan sebelum anastesi dan pembedahan. Rencana anastesi harus dikembangkan untuk mengidentifikasi masalah. Rencana yang baik dan kehatihatian klinik selama operasi mendapatkan hasil yang diinginkan.