Anda di halaman 1dari 83

Mencari Titik Temu RUUKeperawatan:

Pandangan PPNI tentang Urgensi, Harapan dan Kesiapan

HARIF FADHILLAH

Pengurus Pusat PPNI Website: www.inna-ppni.or.id Email: dppppni@yahoo.co.id


1

VISI PPNI

PPNI menjadi suara yang kuat bagi komunitas keperawatan dan komit terhadap pemberian asuhan keperawatan professional yang berkualitas bagi kepentingan masyarakat Indonesian National Nurses Association (INNA) is a strong voice for nursing society and committed to the provision of quality professional nursing care in the public interest

Misi PPNI

Memantapkan manajemen dan kepemimpinan Pengurus PPNI untuk mencapai suatu kepengurusan yang kokoh dan jejaring kerja yang kuat pada semua tingkat (Pusat, Provinsi, Kab/Kota, dan Komisariat) Mendukung perawat/ners Indonesia dalam melakukan praktik keperawatan yang aman, kompeten dan professional kepada masyarakat Indonesia Membuka pintu gerbang dunia bagi perawat Indonesia melalui kompetensi global yang dimiliki

HAKEKAT UNDANG UNDANG KEPERAWATAN


MEMBANGUN SISTEM KEPERAWATAN SECARA UTUH, SEHINGGA: Pelayanan berkualitas pada Masyarakat

Perawat kompeten untuk pelayanan yang aman


Bertanggunggugat dan bertanggungjawab Kejelasan perlindungan, hak dan kewajiban

ALASAN DASAR/LANDASAN
1. FILOSOFIS
2. YURIDIS

3. SOSIOLOGIS
4. TEKNIS KEPERAWATAN

ALASAN FILOSOFIS

Kesehatan adalah hak asasi manusia dan negara berkewajiban mengupayakannya Penyelenggaraan pelayanan/asuhan keperawatan sebagai bagian integral dari penyelenggaraan upaya kesehatan Keperawatan sebagai profesi bertanggung jawab moral untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Praktik profesi berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan dengan rasa kemanusiaan sesuai standar dan kode etik profesi

ALASAN FILOSOFIS..
Pelayanan/asuhan

keperawatan bersifat unik: konstan, kontinyu, koordinatif dan advokatif Penyelenggaraan pelayanan/asuhan keperawatan yang unik didasarkan pada kewenangan yang diberikan karena keahlian yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat, perkembangan IPTEK serta tuntutan globalisasi 7

ALASAN YURIDIS
Amanat

UUD 1945 pasal 28 H ayat (1): setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 Pasal 32 ayat (4), Pasal 53 (1), Pasal 53 (2) .> UU No.36/2009 ttg Kesehatan dan UU No. 44/2009 ttg Rumah Sakit

ALASAN YURIDIS.
UU No.36/2009 tentang Kesehatan dan UU No.44/2009 tentang Rumah Sakit .perijinan sesuai profesi .bekerja sesuai standar profesi., etika profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien Perjanjian internasional : GATS (WTO), AFTA, MRA, AFAS MRA sudah ditandatani 8 Desember 2006 oleh Pemerintah diberlakukan 1 Januari 2010
9

ALASAN SOSIOLOGIS

Menyediakan pelayanan/asuhan keperawatan yang bermutu bagi masyarakat Mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan yang bermutu terutama di tempat terpencil dan pulau terjauh Memberikan kepastian hukum pada pemberi, penerima dan penyelenggara pelayanan/ asuhan keperawatan Mengangkat dan menjaga harkat dan martabat bangsa di tingkat Internasional, diawali dengan implementasi MRA. Mengalihkan dari tenaga non professional ke tenaga professional

ALASAN TEKNIS KEPERAWATAN


Kejelasan

Kewenangan dalam Praktik Kejelasan Peran dan Fungsi dalam Praktik Sistem Ketenagaan Perawat Sistem Pelayanan Keperawatan. Citra Perawat di Masyarakat.

UU Tenaga Kesehatan silahkan, tapi Sistem Keperawatan perlu diatur tersendiri secara utuh dlm bentuk UU Keperawatan

MRA untuk Kedokteran dan Kedokteran Gigi telah ada UU No. 29/2004 tentang Kedokteran, tapi belum untuk keperawatan Konsekuensi keperawatan sbg profesi perlu credentialing system yang diatur dalam UU UU Nakes sangat umum tidak akan dapat menampung seluruh substansi keperawatan yang diinginkan RUU Keperawatan mengatur 60% tenaga kesehatan yaitu perawat 12

..dalam bentuk UU Keperawatan..

Pengalaman UU No.23/92 diamanatkan 16 PP, tapi setelah 17 tahun hanya 4 PP yang ada, lalu keperawatan kapan? Kesiapan tenaga kesehatan yang lain tentunya tidak sama UU kesehatan memungkinkan keperawatan dgn UU tersendiri (psl 21 ayat 3) Bagaimana dg dokter yang juga sbg nakes, UUPK 29/2004 apakah akan diamandemen? RUU Kep sudah masuk Prolegnas DPR RI untuk diselesaikan 2010 13

Kesiapan Membangun Sistem Keperawatan

RUU Keperawatan masuk dlm Agenda Prioritas Prolegnas DPR RI untuk disahkan 2010 No Urut 15 dari 55 RUU dan ke 1 dari 2 RUU yang terkait dengan kesehatan Menetapkan standar kompetensi dan kode etik perawat sesuai UU No.36/2009 tentang Kesehatan Mensosialisasikan standar kompetensi, kode etik perawat, RUU Keperawatan, dan sistem uji kompetendsi Menyiapkan Standar Continuing Professional Development in Nursing (CPDN)/PBP
14

Kesiapan Membangun Sistem Keperawatan

Bersama Dityanwat menetapkan sistem jenjang karir professional perawat Sudah dibentuk 14 Ikatan dan Himpunan berdasarkan bidang keilmuan dan peminatan Membentuk Kolegium Profesi (Ners) dan Kolegium Ners Spesialis (90%) akan dideklarasikan saat MUNAS PPNI, Mei 2010 Menyelesaikan buku putih profesi keperawatan
15

Kesiapan Membangun Sistem Keperawatan..

Membentuk Komite Uji Kompetensi Konsil Keperawatan dan Sertifikasi (KNUKP) sebagai embrio Komite Konsil Kep Indonesia, sudah: 1. membentuk KNUKP Pusat dan Perwakilan daerah. 2. menyiapkan mekanisme uji kompetensi 3. menyiapkan panduan & materi uji kompetensi 4. melakukan uji kompetensi di beberapa propinsi (Sulsel, Jateng) bekerjasama dgn Dinkes dan PPNI Provinsi
16

Persiapan Pengaturan Sistem Uji


Kompetensi Masa Transisi

Amandemen Permenkes 1239/2001: Prinsip dasar self-governance by profession: KNUKP (Komite Nasional Uji Kompetensi Perawat): 1. Melaksanakan uji kompetensi
2. Menetapkan kelulusan uji kompetensi 3. Memberikan sertifikasi Pemerintah: 1. Melakukan registrasi 2.Memberikan lisensi

Undang Undang Keperawatan:


Komite Uji Kompetensi dan Registrasi Komite Standar Pendidikan Profesi Komite Praktik Keperawatan Komite Disiplin Keperawatan

17

Sistem Uji Kompetensi Masa Transisi: Amandemen Permenkes 1239/2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat
OP PPNI

DEPKES

KNUKP

DINKES
Perwakilan KNUKP Di Daerah

Uji Kompetentsi Nasional implementasi di daerah

Registrasi

Lisensi
Sertifikasi oleh KNUKP Nasional

18

UJI KOMPETENSI MENURUT RANCANGAN PERMENKES REGISTRASI & SERTIFIKASI NAKES

MTKI

PUSAT : Menentukan Kebijakan. Model & Mekanisme Uji Kompetensi Menerbitkan STR

MTKP

PROPINSI Pelaksanaan Uji Kompetensi Sertifikasi oleh Dinkes Propinsi

UJI KOMPETENSI

19

Sistem uji kompetensi bersifat sementara dan secara utuh akan otomatis dialihkan dari PPNI dan KNUKP ke Konsil apabila UU Keperawatan sudah disahkan. PPNI mengamanatkan kepada KNUKP untuk melaksanakan uji kompetensi dan sertifikasi Sertifikasi yang dikeluarkan oleh PPNI/KNUKP menjadi dasar bagi Pemerintah untuk meregistrasi dan memberi lisensi Peluang ini didasarkan pada

UU NO. 18 TAHUN 2002 PP 19 TAHUN 2005 KEPMENKES 1239 TAHUN 2001

20

Definisi Keperawatan (ICN, 2007)

Keperawatan merupakan asuhan terhadap individu pada semua usia, keluarga, kelompok dan komunitas yang sakit maupun sehat pada semua tatanan pelayanan secara otonomi atau mandiri dan berkolaborasi

Keperawatan meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan asuhan keperawatan kepada yang sakit, tidak memiliki kemampuan, dan menghadapi kematian.
Peran kunci keperawatan lainnya: memberikan advokasi, promosi lingkungan yang aman, riset, partisipasi dalam penetapah kebijakan kesehatan dan manajemen sistem kesehatan, pendidikan.

Keilmuan sebagai dasar Praktik Disiplin


Fungsi independen keperawatan

Keperawatan

Kedokteran

Gray area Fungsi kolaborasi dan kerjasama

Apoteker
Shared/Skill mix competences

Multi disiplin
Keluarga

Kedokteran Keperawatan Kedokteran gigi Kefarmasian etc

Pasien/ Klien

Pasien/Klien sebagai Fokus Intervensi

Kedokteran Anamnesa Diagnostik Medik Perencanaan & Tritmen Medik


Ilmu Kedokteran

Keperawatan

Pengkajian Diagnosis keperawatan Perencanaan & Tritmen Keperawatan


Ilmu Keperawatan

ANATOMI RUU PRAKTIK KEPERAWATAN


BAB BAB BAB BAB BAB BAB BAB BAB BAB BAB BAB

I : Ketentuan Umum II : Azas dan Tujuan III : Lingkup Praktik Keperawatan IV : Konsil Keperawatan Indonesia V : Standard Pendidikan Profesi Kep. VI : Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan VII : Registrasi Praktik Keperawatan VIII : Penyelenggaraan Praktik Kep. IX : Pembinaan, Pengembangan dan Pengawasan X : Ketentuan Peralihan XI : Ketentuan Penutup

LINGKUP KEPERAWATAN

PERAN PERAWAT Pelaksana Pengelola Pendidik Advokat Peneliti Fungsi Perawat Independen Dependen Kolaborasi

PRAKTIK KEPERAWATAN

Praktik keperawatan diberikan melalui Asuhan keperawatan untuk klien individu, keluarga, masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks. Asuhan keperawatan dapat dilakukan melalui tindakan keperawatan mandiri dan atau kolaborasi dengan tim kesehatan dan atau dengan sektor terkait lain

Tindakan mandiri keperawatan :

Tindakan terapi keperawatan, observasi keperawatan, terapi komplementer, penyuluhan kesehatan, nasehat, konseling, advokasi, dan edukasi dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan klien. Tindakan Keperawatan Komplementer Pengobatan dan Tindakan Medis terbatas (Pada Kondisi Tertentuoleh perawat Kompeten... ? Memerlukan pengaturan lebih lanjut Pelaksanaan Program Pemerintah dalam bidang kesehatan

Tindakan ketergantungan dengan tenaga kesehatan lain adalah ; Pelaksanaan program pengobatan dan atau tindakan medik secara tertulis dari dokter

Tindakan kolaborasi keperawatan dengan tim kesehatan lainnya atau dengan sektor terkait lain antara lain adalah:
Pembuatan dan pelaksanaan program kesehatan lintas sektoral untuk peningkatan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat Perencanaan dan Pelaksanaan terhadap upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan klien bersama dengan tenaga profesi kesehatan lain

Melakukan asuhan keperawatan mandiri dan kolaborasi Dalam keadaan darurat yang mengancam kehidupan atau nyawa klien dan atau pasien, perawat dapat melakukan tindakan di luar kewenangan. Dalam keadaan luar biasa/bencana, perawat dapat melakukan tindakan di luar kewenangan untuk membantu mengatasi keadaan luar biasa atau bencana tersebut.

Konsil Keperawatan Indonesia


Struktur Fungsi Tugas
Kewenangan

KOMITE-KOMITE DALAM KONSIL


Komite uji kompetensi dan registrasi Komite standar pendidikan profesi Komite praktik keperawatan Komite disiplin keperawatan

REGISTRASI PERAWAT

Setiap perawat yang akan melakukan praktik keperawatan di Indonesia harus memiliki STRP Registrasi perawat dilakukan dalam 2 (dua) kategori:

LVN untuk perawat vokasional RN untuk perawat profesional Melalui Uji Kompetensi dan memerlukan Rekomendasi OP Masa berlaku 5 tahun

LISENSI

Diberikan oleh Dinkes Kab/Kota Dalam dua bentuk


SIPV untuk Perawat Vokasional SIPP untuk Perawat Profesional/Spesialis

SIPV di sarana Kesehatan SIPP di Sarana Kesehatan dan Praktik Mandiri Vokasi (LVN) dapat memperoleh SIPP dg Syarat D III min 5 tahun dan lulus uji kompetensi RN Memerlukan Rekomendasi OP

Hal lain yang diatur


STANDAR

PENDIDIKAN PROFESI STANDAR PENDIDIKAN BERKELANJUTAN HAK & KEWAJIBAN PERAWAT PERAWAT ASING PERLINDUNGAN PENGHARGAAN

SECARA UMUM YANG DIPERJUANGKAN DALAM UU KEPERAWATAN


1.

2.
3. 4. 5.

6.
7. 8.

Perlindungan Hukum Perawat dan Masyarakat Kejelasan Kewenangan : Hak & kewajiban Kesempatan Praktik Mandiri Tesedia dan terjaminnya askep Profesional Jasa Profesi Pendidikan berkelanjutan Penghargaan dan fasilitas /jaminan kerja Membendung Banjirnya Perawat asing

Proses RUU Keperawatan di INDONESIA


1983 Kesepakatan Nasional: Keperawatan sebagai Profesi Struktur Pendidikan TInggi Keperawatan

2006: MRA in ASEAN Countries

2009/2010 Target

2004 UU Kedokteran: Pembelajaran untuk PPNI

Continuous Efforts of INNA & DON


INISIATIF DPR RI

1985 Dikti Keperawatan pertama di UI

2003: UU Sisdiknas
2000 Permenkes ttg Registrasi dan Praktik Perawat

1989 Konsep Awal RUU Kep

1999 UU Perlindungan Konsumen

1992 UU Kes: Mengakui Kep sbg Profesi

1996 PP ttg SDM Kesehatan; termasuk Keperawatan

Perkembangan Proses RUU Keperawatan


2005
Inisiatif Pemerintah (Depkes) Rakernas PPNI I di Jkt Dengar Pendapat DPR RI dan Paparan RUU Kep Audiensi ke Menkes ICN dan PPNI kirim surat ke RI 1, Ketua DPR dan Menkes, Lobby Rakernas PPNI II di Smrg Gerakan Aksi Simpatik Nasional I Dengar Pendapat Lobby dan Pembahasan dg Tim Ahli Pendapat Pakar Kep & Hukum Konsultasi ICN & WHO

Prolegnas 160

2007

Kesepakatan Inisiatif DPR RI

2008

Baleg 2009 No. 26 dari 37 RUU

Aksi Simpatik III di DPR RI & Depkes 2009


(Jabodetabek + Banten, Jabar, Jateng ,.. Dengar Pendapat di DPR RI Press Conference & Media Teatrikal Mhs Rencana Mogok Nasional

Srt Komisi IX ke Baleg Lobby Fraksi2 & Baleg Presentasi & diskusi di Baleg (25/6)

BENTUK : TANGGUNG JAWAB PERAWAT


TANGGUNG

JAWAB PROFESSIONAL TANGGUNG JAWAB HUKUM

TANGGUNG JAWAB PROFESSIONAL PERAWAT


Disebut

Responsibility atau verantwoordelijkheid Perawat harus mengamalkan : Sumpah perawat, Kode Etik, melaksanakan standar profesi dalam melaksanakan praktik

KODE ETIK KEPERAWATAN INDONESIA


MUKADDIMAH PERAWAT-KLIEN PERAWAT- PRAKTIK PERAWAT MASYARAKAT PERAWAT TEMAN SEJAWAT PERAWAT - PROFESI

LAFAL SUMPAH PERAWAT


Masih ingatkah anda akan sumpah/janji pada saat

anda menjadi Perawat?

TANGGUNG JAWAB HUKUM PERAWAT


Sesuai dengan Fungsi Perawat
Independent

/caring role Interdependent /Koordinative/kolaborative role Dependent/Therapeutic role

* Independen

Untuk semua kegiatan yang termasuk Asuhan Keperawatan (Caring Activities) maka Perawat bertanggung jawab/gugat PENUH terhadap kesalahan dari KEPUTUSAN yang dibuat (responsible for the decision to perform) dan terhadap PELAKSANAAN dari keputusan tersebut (responsible for the execution)

* DEPENDENT/Tergantung yakni semua kegiatan yang termasuk dalam kategori tindakan/aktifitas medis (medical activities) yang didelegasikan kepadanya. Pada dasarnya medical activities ini menjadi tanggung jawab Dokter sepenuhnya. Namun untuk penentuan tanggung jawabnya,harus dilihat Proses PENDELEGASIAN nya.

pendelegasian, juga harus dianalisa tentang bagaimana isi Keputusan/Decision yang diambil serta bagaimana Pelaksanaan/Execution-nya.

Selain

SYARAT PENDELEGASIAN

1. Untuk penentuan diagnosa/ terapi tidak boleh didelegasikan. 2. Pemberi pendelegasian harus YAKIN akan kemampuan yang didelegasikan. 3. Pendelegasian harus tertulis secara rinci dan jelas 4. Harus ada bimbingan teknis dari Pemberi Pendelegasian 5. Bila Penerima merasa YAKIN TIDAK MAMPU, maka ia wajib menolak.

Relegated medical activites *)


Tindakan yang menjadi kewenangan medik, tetapi telah didelegasikan kepada perawat. Dalam hal ini dokter tidak bertanggung jawab secara hukum, baik berkait dengan decision maupun execution yang dibuat oleh perawat yang diberi delegasi.
*) Prof. Bambang Purnomo

PERMENKES NO 148/2010
KEWENANGAN PERAWAT

MEMBERI PELAYANAN KEPADA INDIVIDU KELUARGA DAN MASYARAKAT

MELAKSANAKAN ASUHAN KEPERAWTAN

MELAKUKAN UPAYA PROMOTIF DAN PREVENTIVE & pemberdayaan Masyarakat

MELAKUKAN KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

MEMBERIKAN OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS

PERAWAT DAPAT MELAKUKAN DILUAR KEWENANGAN

KONDISI GAWAT DARURAT DIWILAYAH TERSEBUT TIDAK ADA DOKTER DALAM RANGKA MELAKSANAKAN PROGRAM PEMERINTAH

PENYELESAIAN MASALAH HUKUM


TUNTUTAN

PIDANA:

MELALUI PROSES PENYIDIKAN, PENUNTUTAN, PENGADILAN DAN EKSEKUSI

TUNTUTAN

PERDATA:

MELALUI PROSES PENGADILAN DI LUAR PENGADILAN


NEGOSIASI, MEDIASI, ARBITRASI, DLL

ASPEK HUKUM MALAPRAKTEK

ASPEK HUKUM PERDATA > Menyimpang dari Standar Profesi.. ? > Ada kelalaian ringan/culpa levis > Menimbulkan kerugian pd Pasien > Terdapat kausalitas antara kesalahan Nakes dengan Kerugian Pasien ASPEK HUKUM PIDANA > Menyimpang dari Standar Profesi.? > Ada kelalaian berat/culpa lata > Menimbulkan akibat yang Fatal/ Serius

TANGGUNG JAWAB HUKUM

ASPEK HUKUM PERDATA > atas kesalahan sendiri (Pasal 1365) > atas kesalahan orang lain yang di bawah tanggungjawabnya (Psl. 1367 ayat 3 Perdata) ASPEK HUKUM PIDANA > tanggung jawab atas kesalahan pribadi/ sifat subyektifitas Hukum Pidana

KUH

PELIMPAHAN WEWENANG
Hendaknya

jangan hanya diartikan secara administratif, melainkan harus pula diartikan menurut hukum Perdata.
Orang

yang memberikan kuasa tetap bertanggung jawab, yang menerima kuasa bertanggung jawab terhadap orang yang memberi kuasa.
Dasarnya

adalah PERIKATAN

PELIMPAHAN WEWENANG
ATRIBUTIF

WEWENANG
PELIMPAHAN WEWENANG

DELEGASI

MANDAT

STRATEGI PERLINDUNGAN HUKUM DAN ADVOKASI TENAGA PERAWAT (KESEHATAN)

PENGURUS PUSAT PPNI

Perlindungan Hukum

Yang diberikan Perlindungan terhadap kepentingan hukum seseorang. Hukum memberikan jaminan bahwa hak-hak seseorang tidak dilanggar oleh orang lain, hukum mengupayakan agar adanya pemulihan dalam bentuk kompensasi misalnya.

Syarat-Syarat untuk Memperoleh Perlindungan Hukum

Agar dapat memperoleh perlindungan hukum, seseorang harus berada pada posisi yang benar menurut kaca mata hukum. Seseorang dikatakan berada dalam posisi yang benar apabila keadaan atau tindakannya sesuai dengan aturan hukum atau dengan perkataan lain tidak melanggar aturan hukum.

Lanjutan

Kadang-kala dua pihak yang bersengketa saling mengklaim berada pada posisi yang benar menurut hukum. Dalam hal semacam ini seorang hakim diperlukan untuk menetapkan siapakah diantara pihak yang bersengketa itu yang benar dan karenanya dimenangkan (dibela haknya) Penatapan tersebut dilakukan melalui mekanisme sidang pengadilan.

Advokasi
Advokasi

adalah upaya untuk membela atau memperjuangkan kepentingan (hakhak) seseorang.

Macam-Macam Advokasi Menurut Pelakunya

Advokasi dapat dilakukan sendiri oleh orang yang bersangkutan (self advocacy). Advokasi juga dapat diberikan oleh orang atau pihak lain. Seseorang yang pekerjaannya membela atau memperjuangkan hak-hak seseorang secara profesional disebut advokat (advocate).

Advokasi Medik
Advokasi

medik (medical advocacy) adalah upaya untuk membela atau memperjuangkan kepentingan tenaga medik.

Mengapa Advokasi Medik diperlukan?


Kadang-kadang

Tenaga Kesehatan dan atau sarana kesehatan menjadi korban ketidakadilan sehingga layak mendapatkan perlindungan dan pembelaan.

Bagaimana Memperoleh Advokasi?

Advokasi medik dapat dilakukan sendiri oleh tenaga kesehatan yang bersangkutan atau oleh pihak lain. Namun sebelum memanggil bantuan pihak luar, akan lebih baik apabila pihak tenaga kesehatan dan rumah sakit mengupayakan self advocacy terlebih dahulu. Sampai batas-batas tertentu tenaga keehatan dapat melakukan self advocacy bila ia memiliki kemampuan bela diri (self defense).

Lanjutan
Kemampuan

membela diri ini dapat diperoleh dengan cara:

Memahami konsep malpraktik medik Memahami cara kerja hukum.

Jurus 1: Memahami Konsep Malpraktik Medik


Malpraktik medik merupakan terjemahan dari medical malpractice. Secara bahasa berarti praktik yang buruk atau praktik yang salah. Di banyak negara istilah yang digunakan adalah medical negligence (kelalaian medik)

Dalam hal apa praktik Tenaga Kesehatan dianggap buruk atau salah?

Praktik Tenaga Kesehatan dianggap buruk apabila: Menyimpang dari standar Melanggar Etika Praktik Tenaga kesehatan dianggap salah apabila Melanggar Hukum (Pidana,Perdata, dan Administrasi)

STANDAR PROFESI
Standar

Kompetensi Standar Praktik Keperawatan Standar Pendidikan? Standar Pelayanan.?

Just a Comparison
Di

negara-negara Common Law sengketa medik dikenal dengan istilah medical negligence cases. Kasus medical negligence murni bersifat perdata sehingga tidak ada kait-mengait dengan polisi.

Jurus 2: Memahami Cara Kerja Hukum

Sebagaimana dimaklumi bahwa hukum adalah benda mati yang tak mungkin bergerak sendiri, ia perlu orang untuk menjalankannya. Pertanggungjawaban hukum tidak terjadi begitu saja melainkan ada prosedur-prosedur tertentu atau ada proses-proses awal yang mendahuluinya.

Mekanisme Pertanggungjawaban Perdata


Proses pertanggungjawaban perdata (civil liability) didahului dengan diajukannya surat gugatan ke Pengadilan Negeri oleh pihak penggugat. Seseorang tidak dapat memperkarakan orang lain ke pengadilan kecuali ia punya alasan untuk itu (cause of action).

Continuation
Memperkarakan orang lain ke pengadilan terikat oleh tata cara atau prosedur tertentu yang biasanya tidak dipahami oleh orang awam (pasien). Ketidaktahuan itu mendorong sebagian orang memilih untuk diam, dan sebagian yang lain menyewa jasa pengacara (lawyer) untuk mewakilinya.

Continuation
Hakim dalam peradilan perdata tidak serta merta menyidangkan perkara yang diajukan kepadanya, melainkan menyarankan terlebih dahulu kepada para pihak untuk menempuh penyelesaian sengketa melalui mediasi.

Mekanisme Pertanggungjawaban Pidana


Proses pertanggungjawaban pidana (criminal liability) didahului dengan proses penyidikan oleh aparat yang berwenang. Penyidik dalam kasus yang melibatkan Tenaga Kesehatan biasanya tidak menemukan sendiri kasus tersebut.

Continuation
Penyidik biasanya bergerak apabila ada laporan atau pengaduan, karena tidak akan ada polisi yang berpatroli ke rumah sakit, klinik, atau tempat-tempat praktik dokter, praktik perawat untuk menemukan korban malpraktek, except..?

Continuation
Seseorang tidak dapat membuat laporan atau aduan bahwa seorang Tenaga Kesehatan telah melakukan perbuatan melanggar hukum tanpa disertai bukti yang kuat, sebab menuduh seseorang tanpa bukti merupakan tindak pidana.

Beban Pembuktian

Beban pembuktian ada pada pihak yang menuduh. Dalam perkara perdata, pihak penggugat (pasien) harus membuktikan kesalahan/kelalaian si tergugat (dokter).

Exception Dalam hal kelalaian begitu nyata (mis: gunting tertinggal di perut pasien), berdasarkan asas res ipsa loquitur, pasien tidak perlu membuktikan kesalahan/kelalaian perawat/tenaga Kesehatan.

Problem Pembuktian
Tidak mudah membuktikan kesalahan perawat, karena pekerjaan perawat tidak dapat dinilai oleh pihak lain di luar profesi. Dengan demikian proses penilaian tersebut pada akhirnya dikembalikan kepada teman sejawat, karena hanya perawat yang dapat menilai kualitas pekerjaan perawat, bukan pasien, pengacara, polisi, jaksa maupun hakim.

So What?
Dengan

memahami seluk beluk malpraktek medik dan cara kerja hukum tersebut, Tanaga Kesehatan tidak perlu panik dalam menghadapi gugatan atau tuntutan malpraktek medik.

Manfaat Kemampuan Self Defense

Kemampuan membela diri sangat diperlukan oleh Tenaga Kesehatan agar ia tidak menjadi mangsa orang-orang yang ingin mengail di air keruh. Waspadalah terhadap kemungkinan munculnya somebody di rumah sakit tempat Anda bekerja, tidak untuk berobat atau besuk pasien, tetapi untuk menemukan pasien yang kecewa dan memprofokasinya agar menggugat Anda!!!, termasuk penyamaran.

Berbagai Bentuk Advokasi Medik


Advokasi

terhadap intimidasi pasien dan atau pengacaranya. Advokasi terhadap serangan media massa (trial by press). Advokasi dalam proses peradilan

Continuation
Jika mengalami kesulitan dalam menghadapi pressure yang dilakukan oleh pihak pasien/pengacaranya: Berkonsultasilah dengan seorang yang ahli, Apabila itu tidak cukup gunakan jasa pengacara yang menguasai masalah malpraktek medik.

lanjutan

Sebagai perbandingan, di Inggris ada lembaga yang disebut Medical Defence Union (MDU) yang berfungsi memberikan advokasi kepada anggota yang tersandung masalah hukum. Dengan adanya lembaga tersebut, dokter tidak perlu bersusah payah menghadapi sendiri masalah hukum yang menimpanya. Di Kanada ada Legal Protection Nursing Society bagian dari Organisasi Profesi Perawat CNA

Bantuan Hukum
Memperoleh

bantuan hukum merupakan hak setiap warga negara. Bantuan hukum dapat diperoleh sejak seseorang diperiksa pada tingkat penyidikan.