Anda di halaman 1dari 3

Saya Adalah Orang Muda Katolik Nama saya Maria. Mungkin banyak yang memakai nama ini.

Tapi detik ini biarlah saya menggunakan nama ini supaya saya terlihat sama seperti orang lain tanpa harus orang lain melihat orang tua saya siapa, berasal dari suku dan ras apa saya ini. Tapi ya, saya adalah seorang Katolik jika kamu mau tahu. Usia saya 22 tahun. Dan baru tahu apa itu OMK sewaktu saya diajak oleh temanteman saya dekat rumah mencari dana untuk mengadakan acara di sebuah Panti Asuhan sekitar 5 tahun yang lalu. Teman-teman saya ada yang sedang kerja, kuliah, sekolah. Saya sendiri waktu itu masih sekolah. Aktivitas sekolah yang cukup padat dan beratnya hidup di ibukota Jakarta ini membuat saya tidak cukup percaya diri mengikuti kegiatan-kegiatan berbau rohani sebenarnya. Tapi saya beruntung karena saya masih bisa menyumbangkan apa yang saya punya walaupun cukup terlambat untuk memulai. Kegiatan saya di OMK lingkungan saya tinggal meliputi doa Rosario, Misa Natal dan Paskah bersama, ataupun ikut aktif dalam kegiatan bakti sosial dan kegiatan-kegiatan gereja lain seperti menjadi petugas misa, tablo Paskah, camping omk, live in, retret alam (proyek terakhir saya 2 tahun lalu). Saya bisa melukiskan, kalau pada waktu itu antara OMK satu dan yang lain hampir memiliki latar belakang yang sama dalam segi suku dan ras. Dan saat itu saya merasa nyaman, karena minimnya perbedaan dan tidak terlalu sulitnya beradaptasi. Masing-masing pihak orang tua mendukung anak-anaknya untuk aktif di lingkungan atau gereja. Lulus SMA, saya harus pindah sementara di sekitar Bintaro dan hanya pulang ke rumah (Jakarta Barat) di hari Sabtu. Otomatis, kegiatan gerejawi saya agak terganggu. Saya jadi melewatkan moment-moment yang biasanya memerlukan diri saya untuk hadir disana. Saya yang adalah salah satu anggota di Seksi Kepemudaan gereja merasa sungkan pada teman saya jika pada suatu event saya sama sekali tidak bisa ambil bagian di dalamnya. Saya memilih mundur dan ragu tapi teman saya meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Selama 3 tahun dan saya mendapat kesempatan untuk liburan semester. Waktu yang sangat singkat (hanya 1 bulan setengah) itu saya manfaatkan untuk memantau kegiatan-kegiatan di lingkungan saya. Puji Tuhan, pada akhir 2010 kami atas nama Sie Kep yang menaungi OMK di bawah bimbingan romo moderator berhasil mengadakan Retret Alam untuk menarik minat anak muda dan mendata anak-anak muda ini dan memfokuskan mereka untuk aktif atau bahkan mengaktifkan kegiatan di lingkungannya. Regenerasi omk di wilayah tidak dapat berjalan dengan baik karena pada dasarnya mungkin pada jenuh karena tidak adanya regenerasi kepengurusan. Dalam kondisi tersebut, saya berseru pada Tuhan untuk membantu saya. Dan ada tanda yang Ia selipkan diantara tumpukan masalah dan dilema yang saya alami. Saya pikir saya benar-benar tidak akan bisa untuk menyatakan diri bahwa saya adalah OMK dari suatu Paroki. Tapi ternyata inilah yang dikatakan Pengkotbah 3:1-15 jika sesuatu memang ada waktunya. Hanya saja saya ataupun kita sebagai manusia terkadang tidak sanggup untuk menyadari betapa Ia memberikan yang terbaik bagi umat kesayangannya. Flash Back September pada tahun 2008. Saya ingat waktu itu umat Muslim di seluruh dunia sedang berpuasa. Sebenarnya saya takjub, bagaimana mungkin saya yang tinggal di Jakarta Barat bisa tersingkir sampai ke Bintaro. Hari pertama masuk kampus, saya dihadapkan dengan keasingan. Pasalnya mereka terlihat asing dan mereka tampaknya

mengetahui jika saya dan mereka secara aspek-aspek tertentu (suku, agama, dan ras ) berbeda. Namun tiba-tiba, kakak ospek saya memanggil nama saya dan beberapa nama orang lainnya untuk berkumpul di suatu grup. Dan di suatu ruangan sederhana di kampus saya, saya dipertemukan dengan teman-teman baru yang seiman dengan saya. Kakak kelas saya lalu memperkenalkan diri sebagai RohKat yang merupakan kepanjangan dari Rohani Katolik yang adalah bagian dari Keluarga Mahasiswi Katolik, yakni wadah rohani mahasiswa/I di seluruh Indonesia yang masih berada di naungan PMKAJ. Ini kejutan yang sangat luar biasa. Saya menemukan keadaan seperti tanda bahwa Tuhan selalu memberikan jalan. Kegiatan yang kami lakukan selama berada di RohKat adalah Misa Jumat Pertama, doa Rosario bersama, misa Natal ataupun Paskah. Walaupun sekarang saya tidak bisa 100 % hadir di kegiatan OMK saya baik wilayah atau kategorial, tapi saya masih bisa berkarya sebagai seorang Katolik. Saya masih bisa mengirimkan tulisan-tulisan rohani saya ke media rohani selama 5 tahun ini, masih bisa berkumpul dengan KMK Moestopo, masih bisa membantu sesama saya! Dan yang lebih dahsyatnya lagi, selama beberapa bulan ini, saya baru akan bergabung dalam komunitas OMK Gereja Katolik dekat tempat saya untuk merayakan Paskah dan melaksanakannya dalam bentuk Tablo! Sungguh luar biasa Tuhan Kita Yesus Kristus! Beberapa teman-teman sekolah atau keluarga saya khawatir tentang keadaan saya selama menetap di Bintaro karena saya harus berhadapan dengan orang yang sama sekali berbeda dari saya dalam segi kebiasaan dan hal lainnya. Tapi rencana Tuhan dalam hidup saya jika begitu indah dalam keberagaman tersebut. Saya akan berbagi beberapa cerita tentang pengalaman saya. Pernah sekali waktu salah satu adik kelas saya drop keadaannya karena ayahnya masuk unit gawat darurat. Adik kelas saya tadi depresi dan muntah-muntah bahkan keadaannya hampir tidak sadarkan diri. Di tengah keadaannya yang kritis, saya meminta temannya untuk membacakan beberapa ayat dalam kepercayaannya supaya dia tetap dalam kondisi stabil. Saya bantu adik kelas saya dengan berdoa pada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Dan Puji Tuhan, memang doa itu adalah obat yang mujarab. Adik kelas saya yang mulai tidak sadar akhirnya sedikit sadar dan bersedia untuk pergi ke rumah sakit. Padahal tadinya dia menolak. Cerita lainnya mengenai teman saya. Sungguhpun saya tidak pernah mengatakan pada teman saya perihal agama yang saya anut, namun karena ia sering melihat saya berkeliling di kampus untuk menempelkan brosur di setiap lantai atau aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani yang mengharuskan saya mondar mandir ia dengan antusias bertanya mengenai agama yang saya anut dan akhirnya kami sharing mengenai agama kami masing-masing. Bisakah kalian lihat dari contoh yang saya berikan barusan? Segalanya SUNGGUH di luar dugaan dan indah. Keterbatasan saya dalam berkarya di paroki saya malah adalah menjadi TANDA bahwa saya akan memulai sesuatu yang baru dan Ia menyediakan ladang tempat saya untuk berkarya. Dari perbedaan-perbedaan itu saya dan teman saya saling mengisi dan saling mengingatkan masing-masing dari kami untuk beribadah. Bersama kami pun sering melakukan kegiatan bakti sosial dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat menyumbangkan apa yang kami bisa dan memberikannya pada mereka kaum marginal. Persepsi perbedaan di dalam benak saya sudah berubah. Awalnya saya takut jika orang lain tidak akan pernah menerima saya. Namun, perbedaan ini menjadi puncak perayaan keragaman dari suku, agama, dan ras yang ada di Indonesia. Saya akan bertemu dengan orang dari berbagai macam latar belakang dan saya sebagai orang muda katolik yang sungguh mencintai Kristus akan mengajak mereka untuk bekerjasama membentuk suatu komunitas yang memungkinkan kami membantu mereka tanpa menjadikan perbedaan itu suatu masalah. Saya pikir menjadi seseorang yang ada di jalan lurus itu memang tidak

gampang. Kita harus punya prinsip. Dan memang sebagai orang muda mempunyai prinsip itu pasti ada tantangannya. Dan inilah salib saya. Saya menerima Salib saya sebagai omk yang universal dalam iman; Katolik yang satu, kudus, suci, apostolic(Kredo Nicea tahun 381). Beberapa orang mencibir saya. Tapi saya hanya bisa bertindak sesuai dan hati nurani. Dan ini bagi saya adalah kepuasan tak terhingga yang tidak dapat dibeli dengan uang. Tiap detiknya sekarang adalah moment dimana saya benar-benar bisa merasa intim dengan Tuhan saya. Saya sungguh mencintaiNya, dan ingin mempersembahkan yang terbaik dari apa yang saya punya untuk Tuhan Yesus. Mungkin tidak akan ada kegiatan rutin yang setiap minggunya di gelar, tapi saya selalu berusaha dan akan tetap berjuang untuk melayani-Nya melalui persembahan saya pada mereka yang sungguh membutuhkan bantuan dan pelayanan. Perbedaan yang ada akan menjadi jarak jika kita terpaku dan menyatakan kita itu berbeda. Tidak peduli apa yang akan mereka katakan, jika kita memiliki prinsip sebagai omk yang berusaha sebaik mungkin menjalankan apa yang kita punya, maka kita akan menjadi salah satu kepanjangan tangan Tuhan. Ini adalah bentuk dari rasa cinta saya pada Tuhan. Saya berusaha mendengar-Nya ketika saya merasa jatuh dan bahkan tidak sanggup berdiri. Dari OMK saya belajar apa itu kebersamaan dengan sesama kami di lingkungan sepantaran (belum menikah) dan hal ini tidak memberi batas apakah kami hitam atau putih. Kami ini sekelompok orang muda yang sedang mencari jati diri kami. Jati diri kami akan kami refleksikan dalam praktik cinta kasih bagi sesama. Kami melayani dengan sepenuh hati berdasarkan hukum yang Tuhan ajarkan kepada kami, Kasihilah Sesamamu. Kami adalah Katolik tanpa kami mengatakan kami adalah Katolik. Kami adalah bagian dari Gereja. Dan ajaran Kristus mengenai kasih itu sempurna. Menghargai perbedaan adalah kuncinya. Melalui perbedaan, KITA merayakan keberagaman dalam Kristus. Itulah Orang Muda Katolik.