Anda di halaman 1dari 123

LAPORAN KEGIATAN ON THE JOB LEARNING CALON KEPALA SEKOLAH

Disusun oleh : Nama NIP NUPTK Pangkat/Gol. Unit Kerja : : : : : Drs. H. DEDI JUBAEDI 19641204 199403 1 003 553674364520043 Pembina, IV/a SMK Negeri 1 Karawang

PROGRAM PENYIAPAN CALON KEPALA SEKOLAH KABUPATEN KARAWANG PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2013

Kata Pengantar
Alhamdulillahirobbil Alamin penulis panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Shalawat dan salam senantiasa kami sampaikan kepada Nabiyuna Muhammad SAW. Berkat curahan rahmat dan karunia Allah SWT jualah, sehingga laporan akhir kegiatan On The Job Learning (OJL) pada Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah yang berjudul Meningkatkan Kompetensi Manajerial Melalui Penyusunan Rencana Pengelolaan Sarana Prasarana Sesuai Dengan SPM/SNP ini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam proses penyusunan hingga penyelesaian laporan ini, merupakan suatu pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga bagi penulis. Walau diakui terasa sangat melelahkan, namun berkat bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak, khususnya Bapak dan Ibu pendamping Diklat, Alhamdulillah akhirnya laporan kegiatan OJL ini selesai juga. Oleh karena itu, penulis merasa berkewajiban untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada ibu Dr. Dida Hamidah, M.Si. Atas bimbingan dan arahannya. Demikian pula ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis haturkan kepada yang terhormat : 1. Bapak Drs. H. Totoh Santosa, MM. Kepala LPMP Jawa Barat selaku Penanggungjawab Program Diklat Calon Kepala Sekolah. 2. Bapak Dr. Frans Masse Pakpahan, M.Sc. Kepala Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan selaku penanggungjawab Program Diklat Calon Kepala Sekolah. 3. Bapak Drs. Syamsudin, M.Si. Selaku Koordinator Diklat Calon Kepala Sekolah. 4. Bapak Drs. H. Agus Supriatman, M.Pd. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karawang selaku penyelenggara kebijakan rekrutmen Calon Kepala Sekolah.

khusus

penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak Drs. H.

Shihabudin, Sp.1 sebagai kepala SMK Negeri 1 dan ibu Sri Gendari, SPd. Sebagai kepala SMK Negeri 2 Karawang yang telah banyak membantu, memberikan masukan dan bimbingan selama pelaksanaan magang pada kegiatan OJL.
ii

Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Ibu Dedeh, S. Pd. sebagai guru yunior SMKN 1 Karawang yang bersedia diobservasi pada kegiatan

supervisi akademik peserta diklat calon kepala sekolah. Tak terlupakan, ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada guru-guru dan pegawai SMKN 1 dan SMKN 2 Karawang yang telah banyak membantu memberikan data dan informasi kepada penulis dalam melakukan kajian-kajian dan pelaksanaan rencana tindak kepemimpinan calon kepala sekolah. Begitu juga ucapan terima kasih kepada teman-teman peserta Diklat Calon Kepala Sekolah terutama yang tergabung dalam kelompok 2 yang telah banyak bekerja sama dan sharing pemikiran selama melaksanakan OJL. Terakhir, ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada Isteri dan anak-anak tercinta yang selalu mensupport dan memotivasi serta dorongan moral dari mulai seleksi calon kepala sekolah sampai kegiatan OJL ini berakhir. Semoga laporan kegiatan OJL ini dapat bermanfaat, dan semoga segala bantuan, pengorbanan dan dorongan yang diberikan oleh berbagai pihak, mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, Amin.

Penulis,

iii

Daftar Isi Halaman Halaman Judul ....................................................................................................... Kata Pengantar ...................................................................................................... Daftar Lampiran ..................................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................... A. Latar Belakang ......................................................................................... B. Tujuan ..................................................................................................... C. Kompetensi Sasaran ................................................................................ BAB II. KONDISI NYATA SEKOLAH MAGANG ........................................... A. B. C. A. Profil SMKN 1 Karawang....................................................................... Profil SMKN 2 Karawang....................................................................... Permasalahan yang di Temukan di Lapangan ......................................... i ii v 1 1 3 3 4 4 11 16 17

BAB III. HASIL .................................................................................................... Rencana Tindak Kepemimpinan............................................. Meningkatkan Kompetensi Manajerial Melalui Penyusunan Rencana Pengelolaan Sarana Prasarana Sesuai Dengan SPM/SNP........................................................................ ....................... B. C. D. E. Supervisi Pembelajaran .......................................................................... Perangkat Pembelajaran (Pribadi Calon) ................................................ Kajian Hasil On The Job Learning (OJL)............................................. Peningkatan Kompetensi Berdasarkan AKPK (di sekolah magang) ................................................................................................. BAB IV. PENUTUP ............................................................................................. A. Kesimpulan .............................................................................................. B. Saran - Saran ............................................................................................ DOKUMEN PENDUKUNG Foto-foto KEGIATAN

17 21 25 27

27 30 30 30

iv

Daftar Lampiran Nomor Halaman

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekolah sebagai tempat pelaksanaan proses belajar mengajar perlu dikelola secara baik dan benar. Keberhasilan suatu sekolah mencapai tujuan yang diharapkan sangat tergantung kepada bagaimana model pengelolaan terhadap sarana prasarana yang dimiliki sekolah tersebut. Sarana prasarana sekolah yang memadai bukan jaminan akan mewujudkan harapan-harapan warga sekolah yang telah dirumuskan menjadi tujuan sekolah tersebut jika kepala sekolah sebagai pimpinan tidak mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik. Kepala sekolah adalah guru yang diserahi tugas tambahan untuk memimpin dan mengelola sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Sebagai seorang guru, kepala sekolah sejatinya adalah juga pendidik yang harus mampu membina guru-guru disekolahnya menjadi guru kreatif dan selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran. Dengan adanya tugas tambahan tersebut, kepala sekolah tidak hanya dituntut untuk membina guru saja, tetapi lebih dari itu, juga dituntut untuk membina dan mengelola seluruh komponen sekolah lainnya seperti tenaga adminstrasi sekolah, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium dan lain sebagainya. Tuntutan-tuntutan ini adalah merupakan tugas-tugas yang baru bagi seorang guru yang diserahi tugas tambahan kepala sekolah. Disisi lain, tujuan utama sekolah berupa peningkatan mutu pendidikan hanya dapat diraih jika seluruh komponen sekolah dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing melalui pengelolaan kepala sekolah yang profesional. Karena begitu banyaknya tugas-tugas baru seorang kepala sekolah maka untuk menjadi seorang kepala sekolah yang profesional tentu tidaklah mudah. Diperlukan waktu yang cukup untuk belajar bagaimana melaksanakan tugas-tugas yang baru tersebut. Pelatihan, pembimbingan dan pembinaan bagi calon kepala sekolah merupakan upaya-upaya yang mesti dilakukan oleh pihak terkait dalam rangka melahirkan pemimpin sekolah yang berkualitas yang diharapkan mampu untuk memimpin dan mengelola sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Peraturan menteri pendidikan nasional (permendikas) Republik Indonesia nomor 28 tahun 2010 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah memberikan angin segar bagi peningkatan profesionalisme seorang kepala sekolah ataupun calon kepala sekolah. Dalam permendiknas tersebut dijelaskan bahwa seorang guru yang telah dinyatakan lulus seleksi calon kepala sekolah diharuskan mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai kegiatan pemberian pengalaman pembelajaran teoretik maupun praktik yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan pada dimensi-dimensi kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Berdasarkan permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi kepala sekolah menetapkan dimensi kompetensi manajerial kepala sekolah merupakan dimensi kompetensi yang menuntut 16 kompetensi. Jumlah kompetensi ini merupakan jumlah terbanyak dibandingkan dengan kompetensi pada dimensi kompetensi kepribadian, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Tingkat kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi, menggerakkan,

memberdayakan dan mengembangakan sumber daya sekolah dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah sangat bergantung kepada kompetensi manajerial seorang kepala sekolah. SMKN 1 Karawang sebagai sekolah tempat penulis mengajar dan

melaksanakan OJL misalnya, memiliki sarana prasarana yang cukup lengkap baik dari segi ruang teori maupun ruang praktek kejuruan sesuai dengan program keahlian masing-masing, sebagai sekolah besar tentunya membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan manajerial yang profesional untuk mengelola sarana prasarana dalam meningkatkan layanan dan mutu pendidikan. Pendidikan dan pelatihan yang dijalani calon kepala sekolah dalam kegiatan tatap muka (in servis-1) dalam kurun waktu 70 jam merupakan modal awal untuk menjalani praktek lapangan on the job learning (OJL) selama kurang lebih 2 bulan setara dengan 200 jam. Kegiatan OJL penting bagi peserta diklat untuk mempraktekkan kompetensi yang telah dipelajari selama kegiatan tatap muka. Dalam OJL dipraktekkan bagaimana mengkaji RKS, pengelolaan kurikulum, pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, pengelolaan sarana
2

prasarana, pengelolaan peserta didik, pengelolaan keuangan, pengelolaan tenaga administrasi, pemanfaatan TIK, sistem monitoring dan evaluasi serta program supervisi akademik. Sehubungan dengan hasil penilaian analisis kebutuhan pengembangan keprofesian (AKPK) penulis sebagai peserta diklat calon kepala sekolah yang menemukan kelemahan pada dimensi manajerial, maka penulis akan mengangkat tema tulisan yang terkait dengan dimensi manajerial kepala sekolah. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis mengangkat tema tulisan dengan judul Meningkatkan Kompetensi Manajerial Melalui Penyusunan Rencana Pengelolaan Sarana Prasarana Sesuai Dengan SPM/SNP B. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan tema yang diangkat dalam tulisan ini adalah: 1. Untuk meningkatkan kompetensi manajerial melalui penyusunan rencana pengelolaan sarana prasarana sesuai SPM/SNP. 2. Untuk meningkatkan mutu sekolah melalui pengelolaan sarana prasarana sesuai SPM/SNP. C. Kompetensi Sasaran Berdasarkan hasil analisis AKPK penulis yang menyimpulkan kelemahan terbesar pada dimensi kompetensi manajerial, maka kompetensi sasaran yang ingin dicapai dalam on the job learning ini adalah: 1. Meningkatnya kompetensi yang dirasakan kurang sesuai dengan AKPK, yang dituangkan dalam RTK 2. Meningkatnya kompetensi supervisi akademis 3. Meningkatnya kompetensi penyusunan perangkat pembelajaran 4. Meningkatnya kompetensi dalam melakukan kajian terhadap 9 aspek manajerial 5. Meningkatnya kompetensi yang dirasakan kurang sesuai dengan AKPK yang dituangkan dalam RTK di sekolah magang

BAB II KONDISI NYATA SEKOLAH MAGANG

A. Profil SMKN 1 KARAWANG Identitas Sekolah a. Nama Sekolah b. NPSN c. NSS d. Alamat : SMKN 1 Karawang : 20217802 : 311022105084 : Jl. Pangkal Perjuangan Karawang
Ds. Tanjungpura, Kec. Karawang Barat, Kab. Karawang, Kode Pos 41316

e. Telp/Fax. f. Email/Web g. Akreditasi h. SK Penegrian i. Kepala Sekolah j. Jenis Sekolah k. Jumlah Siswa l. Jumlah Rombel m. Jumlah Guru n. Jumlah TAS o. Visi

: ( 0267 ) 401651 /417258 : smkn1karawang@gmail.com : A (Sangat baik) : 92/DIR PT/DI/65 Tanggal, 08 Maret 1965 : Drs. H. Shihabudin, Sp.1. : Reguler : Tahun Ajaran 2012-2013 : 2480 orang : Tahun Ajaran 2012-2013 : 78 rombel : 130 orang : 32 orang : Menjadi lembaga pendidikan dan pelatihan

bertarap internasional yang mampu menghasilkan lulusan profesional, mandiri dan berdaya saing tinggi p. Misi: 1. 2. Menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001-2008 dan iso 14000

Menerapkan proses pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi berwawasan lingkungan dan berkeunggulan lokal

3.

Menerapkan pembelajaran bilingual

4.

Bekerjasama dengan dunia usaha/dunia indsutri, asosiasi propesi dan intansi terkait

5. 6.

Menerapkan pendidikan dan latihan berwawasan kewirausahaan Menerapkan pendidikan dan pelatihan dengan sistem production base traingning ( PBT )

q. Kepala Sekolah r. Jenis Sekolah

: Drs. H. Shihabudin, Sp.1. : Reguler

SMKN 1 Karawang berlokasi di jalan Pangkal Perjuangan ByPass kelurahan Tanjung Pura kecamatan Karawang Barat. Sekolah ini berdiri pada tahun 1965 asalnya berlokasi di Jalan Jendral Ahmad Yani yang sekarang di tempati oleh SMPN 6 Karawang. Kemudian pada tahun 1990 pindah ke lokasi yang baru di atas lahan seluas 35000 m2. Sekolah ini merupakan sekolah tertua di kabupaten Karawang untuk sekolah tingkat menengah kejuruan dan sudah banyak mencetak alumni-alumni yang menduduki jabatan-jabatan penting, baik di instansi pemerintahan, TNI, POLRI maupun diperusahaan-perusahaan swasta. Tahun pelajaran 2012/2013 ini SMKN 1 Karawang membina sebanyak 2406 siswa yang terbagi ke dalam 78 rombongan belajar dan setiap rombel terdiri dari 32 siswa. SMKN 1 Karawang memiliki 9 program keahlian yaitu program keahlian Teknik Gambar Bangunan, Teknik Elektronika Industri, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Pemesinan, Teknik Pengelasan, Teknik Kendaraaan Ringan, Teknik Sepeda Motor, Teknik Komputer Jaringan dan Teknik Rekayasa Perangkat Lunak. SMKN 1 Karawang kini memiliki guru sebagai tenaga pendidik dan tenaga administrasi sekolah yang cukup memadai. Jumlah guru sebanyak 131 orang dengan rincian 64 guru PNS dan 67 orang non PNS sedang jumlah tenaga asministrasi sebanyak 38 orang yang terdiri dari 3 orang PNS dan 35 orang non PNS, tenaga kebersihan 10 orang, satpam 5 orang. Sekolah ini memiliki sarana dan prasana yang cukup memadai baik ruang belajar teori maupun ruang belajar praktek termasuk sarana laboratorium Fisika, Kimia, Bahasa dan Komputer. Sekolah juga memiliki 62 ruang belajar teori, 9 ruang belajar praktek, 1 ruang kepala sekolah, 5 ruang wakil kepala sekolah, 9
5

ruang ketua kompetensi keahlian, 1 ruang guru, 1 ruang BK, 1 ruang tenaga administrasi sekolah, 1 gedung perpustakaan, 1 ruang ICT, 1 gedung Masjid, 1 ruang OSIS,1 ruang pertemuan, 28 kamar WC guru, 52 kamar WC siswa, 1 pos keamanan, 1 koprasi siswa, 10 kantin. Prestasi guru yang diraih SMKN 1 Karawang diantaranya juara 3 guru berprestasi tingkat kabupaten Karawang pada tahun 2004 dan Juara 1 pada tahun 2013. Sedangkan prestasi siswa, di tingkat kabupaten menjuarai lomba kompetensi siswa juara umum pada tahun 2013, sedangkan tingkat Provinsi yaitu juara I lomba Kompetensi Keahlian di bidang TKR tahun 2012, juara 1 di bidang TEI, Juara 2 di bidang CEC Tahun 2013, juara PASKIBRA sejawa tahun2010. SMKN 1 Karawang dilihat dari pencapaian delapan standar pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Standar Isi SMKN 1 Karawang telah memiliki kurikulum sendiri yang dikembangkan dengan menggunakan panduan yang disusun BSNP dengan mempertimbangkan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat, kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran. Mata pelajaran bahasa sunda adalah mata pelajaran muatan lokal sekolah yang merupakan kebutuhan sosial masyarakat Karawang yang ingin melestrasikan bahasa daerah Jawa Barat. Kurikulum sekolah memuat 16 mata pelajaran muatan nasional dan 1 mata pelajaran muatan lokal. Alokasi waktu mata pelajaran terdiri dari normatif yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, PJOK, Seni Budaya, adapun mata pelajaran adaptif terdiri dari Bahasa Inggris, Matematika, IPA, KKPI, Fisika, Kimia, dan IPS, dan mata pelajaran produktif sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing. Mata pelajaran yang diujinasionalkan yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan teori Produktif.

Pengembangan diri memperoleh alokasi waktu ekuivalen dengan 1 jam pelajaran. Satu jam pelajaran setara 45 menit. Jumlah jam pelajaran perminggu 40 jam pelajaran per kelas, sehingga total jumlah jam pelajaran tatap muka sebanyak 45 jam pelajaran per rombel 78 rombel = 3510 jam pelajaran perminggu. Program pembelajaran remedial dan pengayaan bagi siswa belum berjalan secara sistematis sebagaimana mestinya. Bagi siswa yang dinyatakan belum
6

mencapai nilai ketuntasan minimal dalam pencapaian kompetensi hanya diberikan kesempatan belajar sendiri indikator-indikator kompetensi yang belum dikuasai untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti ulangan perbaikan. Pembelajaran remedial dan pengayaan mestinya dilaksanakan diluar jam pelajaran terjadual disore hari. Hal ini dilakukan untuk memastikan tercapainya pelayanan kepada siswa yang memerlukan penjelasan ulang tentang kompetensi yang belum dikuasai ataupun yang ingin dikembangkan. Kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan mengacu kepada kebutuhan pengembangan pribadi siswa. Program kegiatan ektra kurikuler yang disediakan diantaranya pembinaan PASKIBRA, Pramuka, PMR, OSIS, LDK, Basket, Sepak bola, Futsal, PADI, Rohis, Pencinta Alam (BURIAL), BKC, Tapak Suci, dan Seni Teater (TETUKA), Pemenuhan akan kebutuhan pengembangan pribadi siswa dilakukan dengan menyediakan layanan Bimbingan dan Penyuluhan dan Bimbingan konseling (BP/BK). Jumlah tenaga konseling yang dimiliki berjumlah 11 yang masing-masing memiliki program rencana dan pelaksanaan layanan BP/BK. 11

guru BP/BK sudah cukup sebanding dengan siswa yang berjumlah 2406 orang. Artinya setiap guru BP/BK memberikan layanan rata-rata kepada 219 orang siswa. 2. Standar Proses Silabus yang dikembangkan oleh guru-guru berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan penyusunan KTSP. Kegiatan penyusunan dan pengembangkan silabus dilakukan secara mandiri ataupun berkelompok dalam pertemuan MGMP sekolah ataupun MGMP mata pelajaran. Diakui bahwa silabus yang dikembangkan oleh guru-guru belum sepenuhnya berasal dari hasil pemikiran sendiri namun sebahagian masih mencontoh silabus dari sekolah-sekolah lain dengan beberapa perbaikan-perbaikan. Kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam silabus belum membagi ke dalam bentuk tatap muka (TM), penugasan terstruktur (PT) dan kegiatan mandiri tidak terstruktur (KMTT), dan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN). Guru-guru memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran baik mata
7

pelajaran muatan nasional ataupun mata pelajaran muatan lokal. Seperti halnya dengan silabus, kegiatan penyusunan RPP juga dilakukan oleh guru-guru secara mandiri ataupun berkelompok dalam pertemuan MGMP sekolah ataupun MGMP mata pelajaran. RPP yang disusun guru sebahagian masih meng-copy paste RPP sekolah lain dengan beberapa perubahan-perubahan. Namun tentu ada juga beberapa guru yang telah menyusun RPP berdasarkan hasil pemikiran sendiri ataupun kelompok dengan memperhatikan lingkungan sekolah atau siswa, nilainilai, dan norma-norma yang ada dalam masyarakat Jawa Barat. Metode pembelajaran yang dirancang guru-guru dalam silabus dan RPP sebagian sudah menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi siswa. Sebagian guru masih ada yang menggunakan pembelajaran konvensional dengan model pembelajaran langsung. Keterbatasan jumlah buku referensi yang dimiliki sekolah mengakibat-kan terbatasnya sumber belajar dari buku. Kebijakan pelarangan penjualan buku paket di sekolah dan terbatasnya anggaran pengadaan buku paket sangat merugikan siswa sendiri. Buku-buku yang disediakan sekolah paling lama bertahan satu atau dua tahun dimanfaatkan oleh siswa. Umur penggunaan buku-buku paket yang singkat sangat terkait dengan kepribadian siswa yang senang merusak atau menghilangkan buku-buku yang dipinjamkan. Untuk meningkatkan mutu pelaksanaan proses pembelajaran di kelas, pengawas, kepala SMKN 1 Karawang, wakil kepala sekolah dan guru senior yang berkompeten, melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran. Hanya saja kegiatan supervisi belum dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. 3. Standar Kompetensi Lulusan Perolehan rata-rata nilai ujian nasional tahun pelajaran 2011/2012 dan tahun 2012/2013 untuk masing-masing mata pelajaran berturut-turut Bahasa Indonesia 6,92 dan 8,15, Bahasa Inggris 6,31dan 8.16 , Matematika 4,53 dan 9.12 serta Teori Produktif 8,57 dan 8.41, dapat dikatakan bahwa hasil ini menggambarkan adanya peningkatan pencapaian kompetensi siswa artinya siswa sudah memperlihatkan kemajuan yang lebih baik dalam mencapai target yang ditetapkan SKL.

Untuk mengembangkan nilai-nilai agama khusunya Islam dan budaya masyarakat Karawang, SMKN 1 Karawang melaksanakan kegiatan pembiasaan membaca Al Quran setiap hari dan dibimbing oleh seorang guru disetiap kelas begitu juga pesantren kilat setiap bulan ramadhan di sekolah yang di bimbing oleh guru-guru. Selain itu, sekolah membudayakan saling memberi salam setiap bertemu, baik guru ataupun siswa. 4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Jumlah guru SMKN 1 mencapai 130 orang dan tenaga administrasi sekolah sebanyak 18 orang sudah memenuhi standar jumlah pendidik dan tenaga kependidikan . Guru yang berkualifikasi S1 sebanyak 100 orang, S2 26 orang dan D3 4 Orang, sedangkan pegawai administrasi berkualifikasi S1 sebanyak 1 orang, D3 2 orang SLTA sebanyak 15 orang. Standar kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan SMKN 1 Karawang belum terukur karena belum ada hasil penilaian yang mengukur berapa tingkat pencapaian kompetensi masing-masing. 5. Standar Sarana dan Prasarana SMKN 1 Karawang memiliki luas lahan 35.000 m2 dengan jumlah gedung ruang teori sebanyak 6 unit yang terdiri dari 1 unit gedung berlantai 3, 2 unit gedung berlantai 2 dan 3 unit berlantai 1. Sedangkan jumlah gedung ruang praktek sebanyak 9 gedung. Ruang kelas yang digunakan sebagai tempat proses belajar mengajar sebanyak 62 ruang belajar teori dengan luas masing-masing 63 m2 per ruang kelas, sedangkan untuk belajar praktek menggunakan ruang bengkel sesuai dengan program keahlian masing-masing, Setiap ruang kelas masing-masing memiliki satu white board dan black board, satu meja dan kursi guru, masingmasing satu meja dan kursi untuk setiap siswa. Ruang guru berukuran (20 10) m2 memuat 60 pasang meja dan kursi guru, 1 papan white board, 1 set kursi dan meja tamu, 1 set sound system dan 1 buah jam dinding. Ruang perpustakaan terdiri dari 1 unit dengan luas masing-masing (1010) m2. Jumlah buku teks pelajaran masih kurang dari jumlah siswa.

Laboratorium yang dimiliki terdiri dari laboratorium fisika, kimia, bahasa dan komputer. Laboratorium komputer memiliki jaringan LAN yang terkoneksi dengan jaringan internet speedy schoolnet dari jardiknas dan dilengkapi dengan 2 buah pendingin udara. Ruang kepala sekolah berukuran (84)m2 terdapat 2 lemari buku, 1 pasang meja dan kursi kepala sekolah, 1 set kursi tamu, 1 lemari piala, 1 set komputer PC, 1 pendingin udara, dan cctv. Ruang wakil kepala sekolah masing-masing berukuran (53)m2 terdapat 4 pasang meja dan kursi, 1 set komputer PC, 2 buah lemari buku, 1 set meja dan kursi tamu, 1 pendingin udara dan dilengkapi dengan jaringan internet speedy schoolnet. Sarana dan prasana sekolah lainnya adalah ruang tata usaha, ruang guru BP/BK, ruang UKS, koperasi siswa, kantin, masjid, gudang, WC siswa. 6. Standar Pengelolaan Visi dan misi serta tujuan pendidikan SMKN 1 Karawang sudah disosialisasikan kepada warga sekolah, masyarakat ataupun pemangku

kepentingan melalui beberapa cara diantaranya menuliskannya ditembok dinding sekolah, dipasang di blog guru, dan melalui persuratan. Rencana kerja sekolah (RKS), rencana kerja tahunan (RKT) ataupun rencana kerja jangka menengah (RKJM) belum disosialisasikan kepada warga sekolah. Demikian pula dengan rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS) belum disosialisasikan kepada warga sekolah. Sekolah sudah melakukan pengisian EDS sehingga RKAS yang disusun sudah mengacu pada delapan Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan supervisi belum dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan sehingga masih sulit untuk mengukur dan menilai kinerja untuk melakukan perbaikan-perbaikan terutama dalam peningkatan hasil belajar siswa. Pengumpulan dan penggunaan data sudah menggunakan sistem informasi berbasis ICT program office. Sebagian data dan informasi sekolah dapat diakses website sekolah. 7. Standar Pembiayaan

10

SMKN 1 Karawang mempunyai RKAS namun hanya disusun oleh kepala sekolah, beberapa guru, bendahara sekolah dan pihak komite sekolah, namun belum melibatkan secara langsung pihak pemangku kepentingan yang relevan, namun demikian tetap mempertimbangkan usulan-usulannya. Sumber keuangan sekolah masih tergantung pada bantuan pemerintah berupa dana BOS APBN, BOS Provinsi, dan BOPF Kabupaten Karawang. Sekolah belum mampu untuk mencari sumber keuangan lain misalnya dengan membangun kerja sama yang saling menguntungkan dengan dunia usaha dan industri. Penyusunan rencana keuangan sekolah sudah dilakukan secara transparan, efisien dan akuntabel. Laporan keuangan sekolah ditujukan kepada pemerintah sebagai pemberi dana. 8. Standar Penilaian Pendidikan Sebagian guru mata pelajaran sudah menyusun perencanaan penilaian berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. KKM yang telah ditetapkan oleh masing-masing guru mata pelajaran diinformasikan oleh sebagian guru kepada siswa diawal pertemuan tatap muka dan sebagiannya

menginformasikan KKM sebelum pelaksanaan setiap ulangan harian. Guru melaksanakan penilaian melalui pelaksanaan ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, kenaikan kelas, ujian sekolah dan ujian nasional. Penilaian melalui ulangan harian kadang tidak dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah dibuat oleh sebagian guru. Hasil penilaian sebahagian guru pada pelaksanaan ulangan harian ataupun tugas-tugas pekerjaan rumah ditambahkan informasi berupa komentar dan masukan untuk perbaikan. Setiap guru menyampaikan hasil penilaian sikap dan akademik siswa kepada kepala sekolah melalui wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Hasil penilaian dijadikan dasar bagi sebagian guru sebagai koreksi untuk melakukan perbaikan pembelajaran berikutnya.

B. Profil SMK Negeri 2 Karawang


1. Nama Sekolah : SMK Negeri 2 Karawang 11

2. Alamat Karawang

Jl. Banten Kel. Karangpawitan, Kec.

Barat Kab. Karawang No.5 Tlp. (0267) 402572 Karawang 41315 3. NPSN 4. NSS : : 20217801 311022105085

5. SK. Pendirian Sekolah :


Nomor Tanggal 6. Program keahlian yang ada : : : 114/UKK.3/1969 17 Juni 1969 1. Akuntatansi 2. Administarasi Perkantoran 3. Pemasaran

7. Akreditasi :
A. Program Keahlian Akuntansi B. Program Keahlian Adm. Perkantoran C. Program Keahlian Pemasaran 8. Jumlah Rombel : Akuntansi Adm. Perkantoran Pemasaran Jumlah : A : A : A : 14 Rombel : 12 Rombel : 14 Rombel : 40 Rombel

9. Nama Kepala Sekolah Tempat Tanggal Lahir NIP Pangkat/Gol. Ruang

: : : :

Sri Gendari, S.Pd. Jakarta, 24 September 1955 19550924.198211.2.002 Pembina, IV/a

SK Pengangkatan : Dari Nomor Tanggal Terhitung Mulai Tanggal Alamat : : : : : Bupati Karawang 230/Kep.89/BKD/2010 12 Januari 2010 12 Januari 2010 Jl. MalabarNo. 71 C Perum Karang Indah Karawang Telephon/ Hp. : (0267) 408688 / 081386333340 12

10. Visi, Misi, VISI : SMK Negeri 2 Karawang menjadi Lemdiklat bertarap Internasional yang akuntabel, sehingga tamatannya mandiri, profesional dan berdaya saing tinggi di era global sebagai wujud kontribusi sekolah didalam membangun sumber daya manusia yang handal dan menerapkan prinsip dasar kehidupan. MISI : Menyiapkan tenaga kerja menengah yang beriman, bertaqwa, cerdas, trampil, mandiri dan berkepribadian unggul melalui proses pendidikan dan latihan yang dinamis dan singkron dengan kebutuhan pasar kerja. SMKN 2 Karawang berlokasi di jalan Banten Karangpawitan kecamatan Karawang Barat. Sekolah ini berdiri pada tahun 1967 berdiri di atas lahan seluas 20.000 m2 .Sekolah ini dulu bernama SMEA Negari yang merupakan sekolah tertua di kabupaten Karawang untuk sekolah tingkat menengah kejuruan bidang manajemen bisnis dan sudah banyak mencetak alumni-alumni yang bekerja baik di pemerintahan, maupun diperusahaan-perusahaan swasta. Tahun pelajaran 2012/2013 ini SMKN 2 Karawang membina sebanyak 1.703 siswa yang terbagi ke dalam 40 rombongan belajar setiap rombel terdiri dari 40 siswa. SMKN 2 Karawang memiliki 3 program keahlian yaitu program keahlian akuntansi, administrasi perkantoran dan manajemen pemasaran. SMKN 2 Karawang kini memiliki guru sebagai tenaga pendidik dan tenaga administrasi sekolah yang cukup memadai. Jumlah guru sebanyak 63 orang dengan rincian 48 guru PNS dan 15 orang non PNS sedang jumlah tenaga asministrasi sebanyak 11 orang yang terdiri dari 8 orang PNS dan 5 orang non PNS, tenaga kebersihan 4 orang, satpam 4 orang. Sekolah ini memiliki sarana dan prasana yang cukup memadai yaitu ruang praktek sesuai program keahlian laboratorium Bahasa dan Komputer. Sekolah juga memiliki 40 ruang belajar teori, 1 ruang kepala sekolah, 4 ruang wakil kepala sekolah, 3 ruang ketua kompetensi keahlian, 1 ruang guru, 1 ruang BK,1 ruang tenaga administrasi sekolah, 1 gedung perpustakaan, 1 gedung Masjid, 1 ruang
13

OSIS,1 ruang pertemuan, 4 kamar WC guru, 20 kamar WC siswa, 1 pos keamanan, 1 koperasi siswa, 7 kantin. Prestasi guru yang diraih SMKN 2 Karawang diantaranya juara 3 guru berprestasi tingkat kabupaten Karawang pada tahun 2013. Sedangkan prestasi siswa, di tingkat kabupaten menjuarai lomba kompetensi siswa juara 1 pada tahun 2013 untuk program keahlian akuntansi, sedangkan tingkat Provinsi yaitu juara 3 untuk Kompetensi Keahlian sekretaris tahun 2012. SMKN 2 Karawang dilihat dari pencapaian delapan standar pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Standar Isi SMKN 2 Karawang telah memiliki kurikulum sendiri yang dikembangkan dengan menggunakan panduan yang disusun BSNP dengan mempertimbangkan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat, kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran. Mata pelajaran bahasa sunda adalah mata pelajaran muatan lokal sekolah yang merupakan kebutuhan sosial masyarakat Karawang yang ingin melestrasikan bahasa daerah Jawa Barat. Kurikulum sekolah memuat 16 mata pelajaran muatan nasional dan 1 mata pelajaran muatan lokal. Alokasi waktu mata pelajaran terdiri dari normatif yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, PJOK, Seni Budaya, adapun mata pelajaran adaptif terdiri dari Bahasa Inggris, Matematika, IPA, KKPI, kewirausahaan dan IPS, dan mata pelajaran produktif sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing. Mata pelajaran yang diujinasionalkan yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan teori Produktif.

Pengembangan diri memperoleh alokasi waktu ekuivalen dengan 1 jam pelajaran. Satu jam pelajaran setara 45 menit. Jumlah jam pelajaran perminggu 40 jam pelajaran per kelas, sehingga total jumlah jam pelajaran tatap muka sebanyak 45 jam pelajaran per rombel 40 rombel = 1800 jam pelajaran perminggu. Program pembelajaran remedial dan pengayaan bagi siswa belum berjalan secara sistematis sebagaimana mestinya. Bagi siswa yang dinyatakan belum mencapai nilai ketuntasan minimal dalam pencapaian kompetensi hanya diberikan kesempatan belajar sendiri indikator-indikator kompetensi yang belum dikuasai untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti ulangan perbaikan. Pembelajaran
14

remedial dan pengayaan mestinya dilaksanakan diluar jam pelajaran terjadual disore hari. Hal ini dilakukan untuk memastikan tercapainya pelayanan kepada siswa yang memerlukan penjelasan ulang tentang kompetensi yang belum dikuasai ataupun yang ingin dikembangkan. Kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan mengacu kepada kebutuhan pengembangan pribadi siswa. Program kegiatan ektra kurikuler yang disediakan diantaranya pembinaan PASKIBRA, Pramuka, PMR, OSIS, Basket, Rohis, Seni musik. Pemenuhan akan kebutuhan pengembangan pribadi siswa dilakukan dengan menyediakan layanan Bimbingan dan Penyuluhan dan Bimbingan konseling (BP/BK). Jumlah tenaga konseling yang dimiliki berjumlah 3 orang yang masing-masing memiliki program rencana dan pelaksanaan layanan BP/BK. 3 guru BP/BK belum cukup sebanding dengan siswa yang berjumlah 1703 orang. Artinya setiap guru BP/BK memberikan layanan rata-rata kepada 567 orang siswa. 2. Standar Proses Silabus yang dikembangkan oleh guru-guru berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan penyusunan KTSP. Kegiatan penyusunan dan pengembangkan silabus dilakukan secara mandiri ataupun berkelompok dalam pertemuan MGMP sekolah ataupun MGMP mata pelajaran. Diakui bahwa silabus yang dikembangkan oleh guru-guru belum sepenuhnya berasal dari hasil pemikiran sendiri namun sebahagian masih mencontoh silabus dari sekolah-sekolah lain dengan beberapa perbaikan-perbaikan. Kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam silabus belum membagi ke dalam bentuk tatap muka (TM), penugasan terstruktur (PT) dan kegiatan mandiri tidak terstruktur (KMTT), dan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN). Guru-guru memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran baik mata pelajaran muatan nasional ataupun mata pelajaran muatan lokal. Seperti halnya dengan silabus, kegiatan penyusunan RPP juga dilakukan oleh guru-guru secara mandiri ataupun berkelompok dalam pertemuan MGMP sekolah ataupun MGMP mata pelajaran. RPP yang disusun guru sebahagian masih meng-copy paste RPP
15

sekolah lain dengan beberapa perubahan-perubahan. Namun tentu ada juga beberapa guru yang telah menyusun RPP berdasarkan hasil pemikiran sendiri ataupun kelompok dengan memperhatikan lingkungan sekolah atau siswa, nilainilai, dan norma-norma yang ada dalam masyarakat Jawa Barat. Metode pembelajaran yang dirancang guru-guru dalam silabus dan RPP sebagian sudah menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi siswa. Sebagian guru masih ada yang menggunakan pembelajaran konvensional dengan model pembelajaran langsung. Keterbatasan jumlah buku referensi yang dimiliki sekolah mengakibat-kan terbatasnya sumber belajar dari buku. Kebijakan pelarangan penjualan buku paket di sekolah dan terbatasnya anggaran pengadaan buku paket sangat merugikan siswa sendiri. Buku-buku yang disediakan sekolah paling lama bertahan satu atau dua tahun dimanfaatkan oleh siswa. Umur penggunaan buku-buku paket yang singkat sangat terkait dengan kepribadian siswa yang senang merusak atau menghilangkan buku-buku yang dipinjamkan. Untuk meningkatkan mutu pelaksanaan proses pembelajaran di kelas, pengawas, kepala SMKN 2 Karawang, wakil kepala sekolah dan guru senior yang berkompeten, melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran. Hanya saja kegiatan supervisi belum dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. 3. Standar Kompetensi Lulusan Perolehan rata-rata nilai ujian nasional tahun pelajaran 2011/2012 dan tahun 2012/2013 untuk masing-masing mata pelajaran berturut-turut Bahasa Indonesia - dan 6,92, Bahasa Inggris - dan 6,31, Matematika - dan 4,53 serta Produktif - dan 8,57. Kecuali untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, dapat dikatakan bahwa hasil ini menggambarkan adanya peningkatan pencapaian kompetensi siswa artinya siswa sudah memperlihatkan kemajuan yang lebih baik dalam mencapai target yang ditetapkan SKL. Untuk mengembangkan nilai-nilai agama khusunya Islam dan budaya masyarakat Karawang, SMKN 2 Karawang melaksanakan kegiatan pesantren kilat setiap bulan ramadhan di sekolah yang di bimbing oleh guru-guru. Selain itu, sekolah membudayakan saling memberi salam setiap bertemu, baik guru ataupun siswa.
16

4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Jumlah guru SMKN 2 mencapai 63 orang dan tenaga administrasi sekolah sebanyak 15 orang sudah memenuhi standar jumlah pendidik dan tenaga kependidikan . Guru yang berkualifikasi S1 sebanyak 59 orang, S2 2 orang dan D3 2 Orang, sedangkan pegawai administrasi berkualifikasi S1 sebanyak 1 orang, SLTA sebanyak 14 orang. Standar kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan SMKN 2 Karawang belum terukur karena belum ada hasil penilaian yang mengukur berapa tingkat pencapaian kompetensi masing-masing. 5. Standar Sarana dan Prasarana SMKN 2 Karawang memiliki luas lahan 20.000 m2 dengan jumlah gedung ruang teori sebanyak 6 unit yang terdiri dari 1 unit gedung berlantai 2, dan 5 unit berlantai 1. Sedangkan jumlah gedung ruang praktek sebanyak 3 gedung. Ruang kelas yang digunakan sebagai tempat proses belajar mengajar sebanyak 40 ruang kelas dengan luas masing-masing 63 m2 per ruang kelas. Setiap ruang kelas masing-masing memiliki satu white board dan black board, satu meja dan kursi guru, masing-masing satu meja dan kursi untuk setiap siswa. Ruang guru berukuran (20 10) m2 memuat 60 pasang meja dan kursi guru, 1 papan white board, 1 set kursi dan meja tamu, 1 set sound system dan 1 buah jam dinding. Ruang perpustakaan terdiri dari 1 unit dengan luas masing-masing (1010) m . Jumlah buku teks pelajaran masih kurang dari jumlah siswa. Laboratorium yang dimiliki terdiri dari laboratorium bahasa dan komputer. Laboratorium bahasa dan komputer dilengkapi dengan 2 buah pendingin udara. Ruang kepala sekolah berukuran (73)m2 terdapat 2 lemari buku, 1 pasang meja dan kursi kepala sekolah, 1 set kursi tamu, 1 lemari piala, dan 1 pendingin udara. Ruang wakil kepala sekolah masing-masing berukuran (43)m2 terdapat 4 pasang meja dan kursi, 1 set komputer PC, 2 buah lemari buku, 1 set meja dan kursi tamu, 1 pendingin udara. Sarana dan prasana sekolah lainnya adalah ruang tata usaha, ruang guru BP/BK, ruang UKS, koperasi siswa, kantin, masjid, gudang, WC siswa.
17
2

6. Standar Pengelolaan Visi dan misi serta tujuan pendidikan SMKN 2 Karawang sudah disosialisasikan kepada warga sekolah, masyarakat ataupun pemangku

kepentingan melalui beberapa cara diantaranya menuliskannya ditembok dinding sekolah, dan dipasang di blog sekolah. Rencana kerja sekolah (RKS), rencana kerja tahunan (RKT) ataupun rencana kerja jangka menengah (RKJM) belum disosialisasikan kepada warga sekolah. Demikian pula dengan rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS) belum disosialisasikan kepada warga sekolah. Sekolah sudah melakukan pengisian EDS sehingga RKAS yang disusun sudah mengacu pada delapan Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan supervisi belum dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan sehingga masih sulit untuk mengukur dan menilai kinerja untuk melakukan perbaikan-perbaikan terutama dalam peningkatan hasil belajar siswa. 7. Standar Pembiayaan SMKN 2 Karawang mempunyai RKAS namun hanya disusun oleh kepala sekolah, beberapa guru, bendahara sekolah dan pihak komite sekolah, namun belum melibatkan secara langsung pihak pemangku kepentingan yang relevan, namun demikian tetap mempertimbangkan usulan-usulannya. Sumber keuangan sekolah masih tergantung pada bantuan pemerintah berupa dana BOS APBN, BOS Provinsi, dan BOPF Kabupaten Karawang. Sekolah belum mampu untuk mencari sumber keuangan lain misalnya dengan membangun kerja sama yang saling menguntungkan dengan dunia usaha dan industri. Penyusunan rencana keuangan sekolah sudah dilakukan secara transparan, efisien dan akuntabel. Laporan keuangan sekolah ditujukan kepada pemerintah sebagai pemberi dana. 8. Standar Penilaian Pendidikan Sebagian guru mata pelajaran sudah menyusun perencanaan penilaian berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. KKM yang telah ditetapkan oleh masing-masing guru mata pelajaran diinformasikan oleh sebagian

18

guru

kepada

siswa

diawal

pertemuan

tatap

muka

dan

sebagiannya

menginformasikan KKM sebelum pelaksanaan setiap ulangan harian. Guru melaksanakan penilaian melalui pelaksanaan ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, kenaikan kelas, ujian sekolah dan ujian nasional. Penilaian melalui ulangan harian kadang tidak dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah dibuat oleh sebagian guru. Hasil penilaian sebahagian guru pada pelaksanaan ulangan harian ataupun tugas-tugas pekerjaan rumah ditambahkan informasi berupa komentar dan masukan untuk perbaikan. Setiap guru menyampaikan hasil penilaian sikap dan akademik siswa kepada kepala sekolah melalui wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Hasil penilaian dijadikan dasar bagi sebagian guru sebagai koreksi untuk melakukan perbaikan pembelajaran berikutnya.

C. Permasalahan yang Ditemukan di Lapangan 1. Permasalahan di sekolah sendiri Pelaksanaan kegiatan on the job learning bagi peserta diklat calon kepala sekolah di sekolah-sekolah magang merupakan pembelajaran dan arena latihan dalam melakukan sebagian peran dan fungsi seorang kepala sekolah. Setelah penulis mengkaji dan melakukan tindakan kepemimpinan banyak permasalahanpermasalahan yang ditemui di SMK Negeri 1 Karawang, diantaranya : a. Permasalahan terkait dengan mutu pendidikan yang tertuang dalam 8 standar nasional pendidikan. b. Berdasarkan hasil analisis Evaluasi Diri Sekolah, tercatat dari 8 standar, yang memperoleh nilai rata-rata terendah adalah standar proses dan standar pembiayaan, c. Permasalahan yang terkait dengan rendahnya nilai standar proses adalah pada aspek kualitas RPP, kualitas pengelolaan kelas, dan pelaksanaan pembelajaran. d. Permasalahan yang terkait dengan rendahnya standar pembiayaan adalah pada aspek besaran standar biaya operasional nonpersonalia dan realisasi besaran pembiayaan selain operasional nonpersonalia.

19

e. Permasalahan pada standar kompetensi lulusan terdapat pada aspek belajar iptek secara efektif yang belum mencapai standar. f. Permasalahan pada standar PTK terdapat pada aspek kompetensi guru yang belum mencapai nilai 2,00. g. Permasalahan pada standar sarpras, standar pengelolaan dan standar penilaian masing-masing terdapat pada aspek ruang UKS, sekolah menjalin kemitraan dengan lembaga, dan penilaian oleh satuan pendidikan yang belum mencapai standar. Selain itu terdapat permasalahan sarana prasarana ruang praktek kompetensi keahlian Teknik Pengelasan tidak memenuhi standar, berbeda dengan kompetensi keahlian TPL untuk kompetensi keahlian Teknik komputer jaringan dan rekayasa perangkat lunak sarana prakteknya belum memenuhi standar nasional.

2. Permasalahan di sekolah magang Tidak jauh berbeda dengan SMKN 1 Karawang, Di SMKN 2 Karawang pun penulis menemukan beberapa permasalahan. Berdasarkan hasil Evaluasi Diri Sekolah, ada beberapa permasalahan di antaranya: a. Permasalahan terkait dengan mutu pendidikan yaitu perlunya guru Bimbingan dan Konseling karena belum ada satupun guru BK yang berlatar pendidikan BK. b. Permasalahan pada standar proses terdapat pada aspek perlunya pengembangan silabus, pelatihan penyusunan RPP, perlunya penambahan buku perpustakaan, perlunya tindak lanjut supervisi akademik, dan perlu dikembangkan pembelajaran berbasis TIK. c. Permasalahan pada standar kelulusan terdapat pada aspek program pengayaan dan perlunya pemberian reward dan punishment. d. Permasalahan pada standar PTK terdapat pada aspek masih ada guru yang berlatar pendidikan yang belum sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. e. Permasalahan pada standar sarana dan prasarana terdapat pada aspek perlunya penambahan sarpras seperti ruang praktik, ruang multimedia, gudang, dan WC guru dan siswa.

20

f. Permasalahan pada standar pengelolaan terdapat pada aspek perlunya penajaman visi dan misi, sosialisasi RKS, menetapkan skala prioritas. g. Permasalahan pada standar pembiayaan terdapat pada aspek penyusunan RKAS belum melibatkan DUDI, belum terlaksananya subsidi silang. h. Permasalahan pada standar penilaian terdapat pada aspek perlunya workshop tentang jenis dan metode penilaian serta menganalisis hasil penilaian.

21

BAB III HASIL KEGIATAN

A. RENCANA TINDAK KEPEMIMPINAN Meningkatkan Kompetensi Manajerial Melalui Penyusunan Rencana Pengelolaan Sarana Prasarana Sesuai Dengan SPM/SNP 1. Rasional Sarana Prasarana sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran harus di kelola secara baik dan benar. Pengelolaan terhadap sarana dan prasarana diantaranya menyangkut hal-hal sebagai berikut; 1) Ketersediaan sarana dan prasarana, 2) Inventarisasi sarana dan prasarana, 3) jadwal penggunaan sarana dan prasarana, 4 Jadwal pemeliharaan sarana dan prasarana, 5) Penataan sarana dan prasarana, 6) Penyimpanan sarana dan prasarana. Rancangan program pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan standar pelayanan minimal menjadi hal utama yang harus di perhatikan. Pengadaan adalah segala kegiatan untuk menyediakan semua keperluan barang bagi keperluan pelaksanaan tugas untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam pengadaan barang sebenarnya tidak terlepas dari perencanaan pengadaan yang telah dibuat sebelumnya baik mengenai jumlah maupun jenisnya. Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan dengan cara menghadapkan atau dari tidak ada menjadi ada sarana dan prasarana pendidikan berdasarkan hasil perencanaan. Inventarisasi adalah kegiatan melaksanakan pengurusan penyelenggaraan, pengaturan, dan pencatatan barang-barang, menyusun daftar barang yang menjadi milik sekolah yang bersangkutan ke dalam suatu daftar inventaris barang secara teratur dan menurut ketentuan yang berlaku. Kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan dalam pelaksanaan inventarisasi adalah: 1)Mencatat semua barang inventaris di dalam buku induk inventaris dan buku pembantu, buku golongan inventaris. 2)Memberi koding pada barang-barang yang diinventarisasikan.

22

3)Barang-barang inventaris sekolah harus diberi tanda dengan menggunakan kode-kode barang sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam Manual Administrasi barang. Inventarisasi dilakukan untuk penyempurnaan pengurusan dan

pengawasan yang efektif. Pelaksanaan inventarisasi adalah: 1)Pencatatan di dalam buku induk inventaris dan di buku golongan inventaris. 2)Memberikan koding. 3)Membuat laporan triwulan tentang mutasi barang. 4)Membuat daftar isian inventaris. 5)Membuat daftar rekapitulasi tahunan. Pemeliharaan merupakan kegiatan terus menerus untuk mengusahakan agar barang tetap dalam keadaan baik dan siap pakai. Maka barang-barang tersebut perlu dirawat secara baik dan terus menerus untuk menghindarkan adanya unsur-unsur pengganggu/perusakanya. Dengan demikian kegiatan rutin untuk mengusahakan agar barang tetap dalam keadaan baik dan berfungsi baik pula disebut pemeliharaan atau perawatan. Pemeliharaan adalah kegiatan pengurusan dan pengaturan agar semua barang selalu dalam keadaan dan siap untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan. Pemeliharaan mencakup segala daya upaya yang terus menerus untuk mengusahakan agar barang tersebut dalam keadaan baik. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahliaan sesuai dengan jenis barang yang dimaksud. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penempatan diantaranya adalah; 1) Mudah dijangkau, 2) Jauh dari keramaian, 3) Jauh dari tempat berbahaya, 4) Lingkungan yang aman dan kondusif. Penataan sarana dan prasarana pendidikan dapat dibagi menjadi: 1) Penataan barang bergerak Yang dimaksud dengan barang bergerak adalah barang yang dipindahkan dari penempatan sebelumnya, misalnya kursi, meja, dan lain-lain. 2) Penataan barang tidak bergerak

23

Barang tidak bergerak adalah barang yang tidak dapat dipindahkan , seperti tanah, gedung, halaman, lapangan, dan lain-lain. Dalam hal ini sebelum dibangun terlebih dahulu dilakukan perencanaan yang matang agar tidak terjadi perbaikan yang menimbulkan pemborosan. 3) Penataan barang habis pakai Barang habis pakai adalah barang yang tidak tahan lama, cepat susut, dan habis setelah digunakan atau dipakai, contoh kertas, karbon, kapur, spidol, dan lain-lain. 4) Penataan barang barang tidak habis pakai Yaitu dengan cara mengatur barang yang ada dengan memberikan nomor dan kode pada barang tersebut sesuai dengan sandi yang berlaku. Hal ini dilakukan agar petugas dan pemakai lebih mudah memakai dan mengawasi pemakaiannya. Setelah pengadaan barang, kegiatan selanjutnya adalah menampung barang demi keamanan. Kegiatan penyimpanan meliputi: 1) Penerimaan barang 2) Penyimpanan barang 3) Pengeluaran barang Penyimpanan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menampung hasil pengadaan dan umumnya barang tersebut adalah milik negara pada wadah/tempat yang telah disediakan. Penyimpanan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan menyimpan suatu barang baik berupa perabot, alat tulis kantor, surat-surat maupun barang elektronik dalam keadaan baru maupun mudah rusak yang dapat dilakukan oleh seorang beberapa orang yang ditunjuk atau ditugaskan pada lembaga pendidikan.

2. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah Kompetensi adalah kemampuan melaksanakan tugas yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau latihan. Kompetensi dapat pula dimaknai sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Junaidi dalam Herry, 2011). Sedangkan manajerial adalah suatu dimensi kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
24

kepala sekolah didalam mengelola satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah. Sebagai manajer yang memimpin institusi, kepala sekolah memiliki sejumlah tugas yang harus dilakukannya dalam mengelola sekolah. Tugas kepala sekolah dalam mengelola sekolah menurut Departemen Pendidikan (1999: 4) terdiri dari empat tahapan yaitu: 1) perencanaan (planning), 2) mengorganisasikan (organizing), 3) penggerakan (actuating), 4) pengawasan (controlling). Dalam tahap perencanaan kepala sekolah merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam tahap pengorganisasian, kepala sekolah menetapkan dan memfungsikan organisasi yang melaksanakan kegiatan tersebut. Pada tahap penggerakan, kepala sekolah menggerakan seluruh orang yang terkait untuk secara bersama-sama

melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas masing-masing. Pada tahap pengawasan, kepala sekolah mengendalikan dan melakukan supervisi kegiatan tersebut, sehingga dapat mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Memperhatikan ketentuan Departemen pendidikan di atas dan konsep manajerial, dapat dinyatakan bahwa tugas kepala sekolah sebagai pengelola sekolah adalah: Pertama, proses penyusunan rencana mencakup: 1) mengkaji kebijakan yang relevan, 2) menganalisa kondisi sekolah 3) merumuskan tujuan, 4)

mengumpulkan data informasi yang terkait, 5) menganalisis data dan informasi, 6) merumuskan alternatif program, 7) menetapkan langkah-langkah kegiatan pelaksanaan. Kedua, untuk melaksanakan program atau kegiatan sekolah yang telah disusun diperlukan orang atau tenaga. Orang tersebut harus diorganisasikan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. Dengan demikian,

mengorganisasikan berarti melengkapi program yang telah disusun dengan susunan organisasi pelaksanaannya. Dalam organisasi, setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya. Empat kata kunci (apa, oleh, siapa, kapan dan apa targetnya) itu harus tergambar dengan jelas dalam pengorganisasian. Dalam pengorganisasian sekolah, kepala sekolah harus mengetahui kemampuan dan karakteristik guru dan staff lainnya sehingga dapat menempatkan mereka pada posisi atau tugas yang sesuai. Harus diketahui pula tugas apa yang sedang dikerjakan, sehingga tidak terjadi beban tugas yang
25

berlebihan (overloaded). Jika pelaku kegiatan terdiri dari lebih satu orang, harus jelas siapa penanggung jawabnya. Suatu program biasanya terdiri dari beberapa bagian yang mungkin sekali dikerjakan oleh orang yang berbeda, maka dalam pengorganisasian harus jelas bagaimana hubungan antar bagian tersebut dan siapa yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan. Ketiga, setelah organisasi pelaksana tersusun, maka tugas kepala sekolah adalah menggerakan orang-orang dalam organisasi sekolah tersebut untuk bekerja secara optimal. Salah satu cara menggerakan guru dan staf lain adalah dengan menerapkan prinsip motivasi. Artinya, kepala sekolah merangsang agar guru dan staf lain termotivasi untuk mengerjakan tugas. Keempat, agar berhasil baik dalam melaksanakan

pengawasan/ supervisi, kepala sekolah harus melaksanakan prinsip dasar supervisi, yaitu: 1) pengawasan bersifat membimbing dan membantu mengatasi kesulitan dan bukan mencari kesalahan, 2) bantuan dan bimbingan diberikan secara tidak langsung. Artinya, diupayakan agar yang bersangkutan merasa mampu mengatasi sendiri, sedangkan kepala sekolah hanya membantu, 3) balikan atau saran perlu segera diberikan, 4) pengawasan dilakukan secara periodik, 5) pengawasan dilaksanakan dalam suasana kemitraan. Deskripsi tugas kepala sekolah menurut Pidarta (1999:229) sebagai berikut: 1) membantu para guru lebih memahami peranan sekolah dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, 2) mengkreasikan kondisi yang memungkinkan para personalia, para siswa, dan anggota masyarakat berpartisipasi secara maksimum memajukan pendidikan, 3) berinisiatif menyelesaikan masalah yang mengganggu program pendidikan, 4) merekrut dan menyeleksi personalia pendidikan yang dapat memajukan kreativitas, terbuka, mampu memecahkan masalah, dan akuntabel terhadap program pendidikan, 5) mengarahkan personalia untuk menerima dan

menunjukkan performanya secara maksimal dalam pengembangan kebijakan dan implementasi, 6) menciptakan interaksi yang erat antara sekolah, para siswa, dan orang tua siswa, 7) mengusahakan pemakaian personalia, waktu dan ruang secara fleksibel dan beragam, 8) melibatkan semua siswa dalam semua kegiatan sekolah dan, 9) mengadakan relasi dengan semua sekolah dan tokoh masyarakat sekitar sekolah. Agar Kepala Sekolah dapat bertindak sebagai pemimpin yang efektif ia perlu mengidentifikasi kriteria yang menjadi dasar kehidupan yang berbeda-beda
26

di antara siswa, para personalia pendidikan dan masyarakat. Seorang pimpinan selayaknya mempunyai kemampuan manajerial yang mencakup berbagai aktivitas, terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leadership), penilaian (evaluating), pembinaan (supervising). Fungsi perencanaan antara lain penentuan tujuan atau kerangka tindakan yang diperlukan untuk pencapaian tujuan tertentu. Hal ini dilakukan berdasarkan kondisi obyektif kekuatan dan kelemahan organisasi, menentukan kesempatan dan ancaman, menentukan strategi, kebijakan, taktik, kiat dan program. Fungsi pengorganisasian meliputi penentuan fungsi, hubungan dan struktur. Fungsi dalam konteks ini merupakan tugas yang di bagi kedalam fungsi garis, staf dan fungsional. Hubungan terdiri atas tanggung jawab dan wewenang, sedangkan strukturnya dapat horizontal maupun vertikal. Fungsi pemimpin adalah bagaimana kegiatan manajerial dapat mengarahkan dan mempengaruhi semua potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk kepentingan organisasi, sedangkan fungsi pengawasan meliputi penentuan standar, supervisi, dan mengukur kompetensi yang menyakinkan bahwa tujuan organisasi akan tercapai. Melalui sintesis dari berbagai pandangan di atas, dapat dikemukakan bahwa dimaksud dengan kemampuan manajerial adalah kemampuan dalam memimpin dan mengelola sumber daya secara efisien dan efektif. Kemampuan manajerial kepala sekolah mencakup: 1) kemampuan menyusun program sekolah (planning), 2) kemampuan mengorganisir kegiatan sekolah (organizing), 3) kemampuan

mengimplementasikan program sekolah dengan menggerakan staf, guru, dan sumber daya sekolah (actuating), serta 4) kemampuan mengadakan pengawasan (controlling).

3.

Pengelolaan Sarana Prasarana.

3.1. Pengertian Sarana dan Prasarana Prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang proses pendidikan di sekolah. Dalam pendidikan misalnnya lokasi atau tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, ruang dan sebagainya. Sedangkan sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan,

27

bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti: ruang kelas, buku, perpustakaan, labolatorium dan sebagainya. Sedangkan menurut keputusan menteri P dan K No.079/1975, sarana pendidikan terdiri dari 3 kelompok besar yaitu: 1)Bangunan dan perabot sekolah. 2)Alat pelajaran yang terdiri dari pembukuan dan alat-alat peraga dan laboratorium. 3)Media pendidikan yang dapat dikelompokan menjadi audiovisual yang mengunakan alat penampil dan media yang tidak menggunakan alat penampil. Adapun yang bertanggungjawab tentang sarana dan prasarana pendidikan adalah para pengelola administrasi pendidikan. Secara mikro atau sempit maka kepala sekolah bertanggung jawab masalah ini, seperti : 1)Hubungan antara peralatan dan pengajaran dengan program pengajaran. 2)Tanggung jawab kepala sekolah dan kaitannya dengan pengurusan dan prosedur 3)Beberapa pedoman administrasi peralatan 4)Administrasi gedung dan perlengkapan sekolah Dari beberapa uraian diatas, manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efisien (Bafadal,2003). Definisi ini menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang ada di sekolah perlu didayagunakan dan dikelola untuk kepentingan proses pembelajaran di sekolah. Pengelolaan itu dimaksudkan agar dalam menggunakan sarana dan prasarana di sekolah bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Pengelolaan sarana dan prasarana merupakan kegiatan yang amat penting di sekolah, karena keberadaannya akan sangat mendukung terhadap suksesnya proses pembelajaran disekolah. Dalam mengelola sarana dan prasarana di sekolah dibutuhkan suatu proses sebagaimana terdapat dalam manajemen yang ada pada umumnya, yaitu : mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pemeliharaan dan pengawasan. Apa yang dibutuhkan oleh sekolah perlu direncanakan dengan cermat berkaitan dengan sarana dan prasarana yang mendukung semua proses pembelajaran. Sarana pendidikan ini berkaitan erat dengan semua perangkat, peralatan, bahan
28

dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan prasarana pendidikan berkaitan dengan semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah seperti ; ruang teori, ruang praktek perpustakaan, kantor sekolah, UKS, ruang osis, tempat parkir, ruang laboratorium, dll.

3.2 Tujuan pengelolaan Sarana dan Prasarana Secara umum, tujuan pengelolaan sarana prasarana pendidikan adalah memberi layanan secara profesional di bidang sarana prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Secara rinci tujuannya adalah sebagai berikut : 1)Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama. Dengan perkataan ini, melalui manajemen perlengkapan pendidikan di harapkan semua perlengkapan yang di dapatkan oleh sekolah adalah sarana pendidikan yang berkualitas tinggi, sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan dengan dana yang efisien. 2)Untuk mengupayakan pemakaian sarana prasarana sekolah secara tepat dan efisien. 3)Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dan kondisi siap pakai setiap di perlukan oleh semua personel sekolah.

3.3 Prinsip-Prinsip Pengelolaan Sarana dan Prasarana Agar tujuan-tujuan pengelolaan perlengkapan bisa tercapai ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan dalam mengelola perlengkapan di sekolah, prinsip-prinsip yang dimaksud adalah : 1) Prinsip Pencapaian Tujuan Pada dasarnya penelolaan perlengkapan sekolah di lakukan dengan maksud agar semua fasilitas sekolah dalam keadaan kondisi siap pakai. Oleh sebab itu, manajemen perlengkapan sekolah dapat di katakan berhasil bilaman

29

fasilitas sekolah itu selalu siap pakai setiap saat, pada setiap seorang personel sekolah akan menggunakannya. 2)Prinsip Efisiensi Dengan prinsip efisiensi semua kegiatan pengadaan sarana dan prasarana sekolah di lakukan dengan perencanaan yang hati, sehingga bisa memperoleh fasilitas yang berkualitas baik dengan harga yang relatif murah. Dengan prinsip efisiensi berarti bahwa pemakaian semua fasilitas sekolah hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat mengurangi pemborosan. Maka

perlengkapan sekolah hendaknya di lengkapi dengan petunjuk teknis penggunaan dan pemeliharaannya. Petunjuk teknis tersebut di komunikasikan kepada semua personil sekolah yang di perkirakan akan menggunakannya. Selanjutnya, bilamana di pandang perlu, di lakukan pembinaan terhadap semua personel. 3)Prinsip Administratif Di Indonesia terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan sarana dan prarana pendidikan sebagai contoh adalah peraturan tentang inventarisasi dan penghapusan perlengkapan milik negara. Dengan prinsip administratif berarti semua perilaku pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah itu hendaknya selalu memperhatikan undang-undang, peraturan, instruksi, dan pedoman yang telah di berlakukan oleh pemerintah. Sebagai upaya penerapannya, setiap penanggung jawab pengelolaan perlengkapan pendidikan hendaknya memahami semua peraturan perundang-undangan tersebut dan menginformasikan kepada semua personel sekolah yang di perkirakan akan berpartisipasi dalam pengelolaan perlengkapan pendidikan.

3.4 Proses Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sebelumnya telah ditegaskan bahwa pengelolaan sarana dan prasarana sekolah merupakan proses kerjasama pendayagunaan semua perlengkapan sekolah secara efektif dan efisien. Satu hal yang perlu dipertegas dalam definisi tersebut adalah bahwa pengelolaan sarana prasarana sekolah merupakan suatu proses pendayagunaan yang sasarannya adalah perlengkapan pendidikan, seperti perlengkapan sekolah, perlengkapan perpustakaan, media pengajaran, dan perlengkapan lainnya, pengelolaan perlengkapan sekolah itu terwujud sebagai
30

suatu proses yang terdiri atas langkah-langkah tertentu secara sistematis. Secara sederhana pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah mencakup kegiatan-kegiatan pengadaan, pendistribusian, penggunaan dan pemeliharaan, inventarisasi, dan penghapusan sarana dan prasarana pendidika. Dalam makalah ini tentu tidak mungkin membahasnya secara keseluruhan dan rinci. Berikut ini hanya dibahas tiga hal sangat penting, yaitu: (1) pengadaan sarana dan prasarana; (2) pemeliharaan sarana dan prasarana; (3) penghapusan sarana dan prasarana sekolah. langkah-langkah pengelolaan sarana prasarana sekolah sebagaimana di kemukakan oleh para teoritisi penggelolaan perlengkapan pendidikan. Stoops dan Johnson (1967) pernah mengungkapkan bahwa langkah-langkah manajemen sarana prasarana pendidikan itu meliputi analisis kebutuhan, analisis anggaran, seleksi, penetapan kebutuhan, pembelian, penerimaan, penyimpanan,

pendistribusian, pemakaian, inventarisasi dan pemeliharaan. Sementara pakar manajemen pendidikan lainnya menyimpulkan bahwa manajemen sarana prasarana pendidikan disekolah itu meliputi analisis dan penyusunan kebutuhan, pengadaan, penyaluran, pemakaian dan pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan. Kegiatan seperti analisis dan penyusunan kebutuhan, pembelian, penerimaan perlengkapan sekolah yang pada dasarnya dilakukan oleh pengelola perlengkapan pendidikan sebagai perencanaan pengadaan perlengkapan. Oleh karena itu, semua kegiatan tersebut dapat dikategorikan dengan pengadaan perlengkapan pendidikan. Begitu perlengkapan sekolah yang diadakan itu diterima, lalu semuanya disimpan untuk di distribusikan kepada unit-unit yang akan memakainya. Sementara dipakai, semua perlengkapan sekolah hendaknya selalu dipelihara, sehingga secara keseluruhan dalam keadaan siap pakai. Selanjutnya secara periodik semua perlengkapan sekolah tersebut di

inventarisasikan. Apabila dalam inventarisasinya ternyata

ada sejumlah

perlengkapan yang sudah tidak layak pakai maka perlu dilakukan penghapusan. Pada gilirannya nanti, semua hasil inventarisasi dan penghapusan tersebut dijadikan analisis kebutuhan untuk pengadaan perlengkapan sekolah pada masa berikutnya.

31

Wahyudi (2009) memberikan pengertian manajemen sebagai suatu proses merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan, dan mengevaluasi usaha para anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumberdaya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dikatakan proses karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimilikinya mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan.

4. Kerangka Pemikiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 Tahun 2007 tentang Standar Pelayanan Minimal Sarana Prasarana Sekolah/Madrasah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana, serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 40 Tahun 2008 tentang Standar Sarana Prasarana Sekolah Menengah Kejuruan. peraturan tersebut menunjukkan bahwa untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan, sekolah

harus memiliki sarana prasarana yang lengkap paling tidak mencapai standar pelayanan minimal, begitu juga dalam hal pengelolaannya diperlukan manajemen yang profesional baik yang menyangkut pengadaan kebutuhan, pemanfaatan maupun pemeliharaan. Namun pada umumnya pengelolaan sarana prasarana di sekolah-sekolah belum dikelola secara profesional terutama dalam hal

pemanfaatan dan pemeliharaan. Untuk itu agar pengelolaan sarana prasarana berjalan secara maksimal maka dibutuhkan seoarang manajer yang profesional. Pengelolaan sarana prasarana di sekolah harus dilaksanakan secara rutin dan berkala sesuai dengan tingkat kebutuhan dan pemanfaatannya sehingga mencapai pemenuhan Standar Pelayanan Minimal atau Standar Nasional Pendidikan. Kompetensi Manajerial kapala sekolah harus berkembang mengikuti

perubahan dan kemajuan dibidang pendidikan khususnya dan kemajuan dibidang teknologi informasi dan kounikasi umumnya. Tingkat kompetensi yang dimiliki kepala sekolah dalam mengelola sarana prasarana sekolah ikut menentukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya. Ketersediaan sarana prasarana yang lengkap dan memadai di sekolah

sudah merupakan satu modal besar untuk memberikan pelayanan terhadap mutu
32

pendidikan dan hal ini harus diimbangi dengan pengelolaan yang profesional dan optimal. Uraian di atas menggambarkan pentingnya peran kepala sekolah sebagai manajer dalam mengelola sarana prasarana pendidikan untuk pemenuhan Standar Pelayanan Minimal atau Standar Nasional Pendidikan. Bagan 1 : Alur Pelaksanaan OJL berdasarkan AKPK

PERMENDIKNAS NO. 13/2007 TENTANG STANDAR KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH

AKPK

KOMPETENSI KEPRIBADIAN

KOMPETENSI MANAJERIAL

KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN

KOMPETENSI SUPERVISI

KOMPETENSI SOSIAL

PENGELOLA AN SARPRAS

SESUAI DENGAN SPM/SNP

33

5. Implementasi Program a. Rancangan Tindak Kepemimpinan Pada tahap rancangan tindakan kepemimpinan ini penulis meyusun dan membuat instrumen analisis standar sarana prasarana, instrumen analisis pemanfaatan sarana prasarana serta instrumen analisis pemeliharaan yang akan digunakan sebagai pedoman pada tahap pelaksanaan kegiatan tindak kepemimpinan. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap rancangan ini adalah sebagai berikut : 1).Melakukan wawancara dengan kepala sekolah tentang pelaksanaan Rencana Tindak Kepemimpinan 2).Menyusun instrumen analisis satandar sarana prasarana 3).Menyusun instrumen pemanfaatan sarana prasarana 4).Menyusun instrumen pemeliharaan sarana prasarana 5).Menetapkan jadwal wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang sarana, ketua program keahlian dan pelaksana urusan sarana prasarana. 6).Menyusun instrumen monitoring dan evaluasi b. Pelaksanaan Kegiatan Pada tahap pelaksanaan kegiatan tindakan kepemimpinan ini penulis melakukakan observasi dan pendataan sarana prasarana yang ada di SMKN 1 Karawang dengan cara: 1).Melakukan observasi langsung kesasaran yang dituju yaitu sarana prasarana yang ada di SMKN 1 Karawang. 2).Melakukan pendataan administrasi sarana prasarana baik yang ada di buku induk barang inventaris maupun buku catatan non inventaris. 3)Melakukan wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang sarana, ketua program keahlian dan pelaksana urusan sarana prasarana. 4).Untuk melengkapi data yang dibutuhkan penulis mempelajari dokumendokumen sarana parasarana baik yang ada di tenaga administrasi sekolah maupun yang ada di program keahlian masing-masing. 5). Melakukan identifikasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sarana prasarana.

34

c. Monitoring dan evaluasi Monitoring dan evaluasi dari pelaksanaan kegiatan ini yaitu dengan cara : 1).Mengkaji kelengkapan administrasi sarana prasarana 2).Memberi masukan kepada kepala sekolah, wakasek bidang sarana, ketua program keahlian dan pelaksana urusan sarana prasarana agar pengelolaan sarana prasarana sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal atau mencapai Standar Nasional Pendidikan. 3).Secara umum sarana prasarana yang ada di SMKN 1 Karawang tergolong lengkap sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal bahkan ada yang mencapai Standar Nasional Pendidikan. d. Hasil yang diperoleh Berdasarkan hasil analisis Standar Sarana Prasarana yang ada di SMKN 1 Karawang pada umumnya telah memenuhi Standar Pelayanan Minimal bahkan ada beberapa sarana yang sudah mencapai Standar Nasional Pendidikan, diantaranya sarana ruang kelas, ruang praktek dan bengkel semua program keahlian kecuali untuk program keahlian Teknik Komputer Jaringan dan Rekayasa Perangkat Lunak belum memenuhi SNP karena jumlah sarana komputernya tidak seimbang dengan jumlah siswa per rombelnya. Begitu juga sarana laboratorium baik fisika, kimia, bahasa dan KKPI belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal, sehingga sarana yang belum mencapai SPM tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh peserta didik. Dalam hal pengadaan sarana prasarana SMKN 1 Karawang melalui perencanaan terlebih dahulu dengan mengikuti pedoman jenis, kualitas, dan kuantitas sesuai skala prioritas kemudian prosedur pengadaan dengan cara menganalisis kebutuhan, mengklasifikasi kebutuhan dan membuat proposal pengadaan sarana prasarana. Prosedur tersebut sudah sesuai dengan Standar Pelayanan Pelayanan Minimal. Dalam hal pemeliharaan sarana prasarana dilakukan dengan cara perawatan rutin dan berkala yang melibatkan guru, siswa dan pekerja harian lepas. Untuk tertibnya administrasi maka semua barang inventaris dicatat dibuku induk barang inventaris dan buku non inventaris, membuat klasifikasi barang dan pengkodean barang, kemudian membuat laporan baik per triwulan maupun per tahun.
35

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah menegaskan bahwa seorang kepala sekolah harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Kompetensi supervisi kepala sekolah perlu dikembangkan dalam usaha membantu guru mengembangkan kemampuannya pembelajaran. mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan

B. Supervisi Pembelajaran 1.Menyusun Program Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. Setiap kepala sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi substansi supervisi akademik. Sasaran supervisi akademik adalah guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran. Supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah antara lain adalah: (a) membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/ bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa, (b) membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium, dan/atau di lapangan) untuk mengembangkan potensi siswa, (c) membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran, dan (d) memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran. Sasaran utama supervisi akademik adalah kemampuan guru dalam merencana-kan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan layanan pembela-jaran, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memanfaatkan sumber belajar yang tersedia, dan mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, teknik) yang tepat.
36

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 28 tahun 2010, tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah, menyatakan bahwa pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah adalah suatu tahapan dalam proses penyiapan calon kepala sekolah melalui pemberian pengalaman pembelajaran teoritik maupun praktik tentang kompetensi kepala sekolah yang diakhiri dengan penilaian sesuai standar nasional. Melakukan supervisi akademik pada kegiatan on the job learning terhadap guru yunior merupakan implementasi pemberian pengalaman pembelajaran praktik pengembangan kompetensi supervisi calon kepala sekolah. Oleh karena itu, penulis penulis menyusun program supervisi dalam rangka pelasanaan on thhe job learning ini. Tujuan pelaksanaan supervisi akademik terhadap guru yunior bagi peserta diklat calon kepala sekolah adalah : 1. Mengembangkan kompetensi supervisi akademik, 2. Melatih kemampuan melaksanakan supervisi akademik, 3. Melatih kemampuan mengidentifikasi permasalahan guru yunior dalam mengelola pembelajaran kemudian melakukan tindak lanjut dalam rangka meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajarannya. 2.Pra Supervisi Sebelum melaksanakan supervisi, terlebih dahulu penulis menyiapkan sejumlah instrumen yang akan digunakan pada pelaksanaan observasi

diantaranya : (1) instrumen perencaan kegiatan pembelajaran, (2) instrumen observasi kelas, (3) daftar pertanyaan setelah observasi, dan (4) format tindak lanjut hasil supervisi. Selanjutnya, menghubungi guru yunior dan melakukan pertemuan dengan guru yunior yang akan diobservasi. Pada pertemuan itu penulis meminta kesediaan guru yunior untuk diobservasi proses pembelajarannya. Setelah guru yunior menyatakan bersedia, berikutnya disepakati penentuan waktu pelaksanaan observasi, konsep atau materi yang akan dibahas (mengikuti jadual materi guru yunior) yaitu pada hari rabu tanggal 29 Juni 2013. Guru yunior yang akan disupervisi bernama Dedeh, S.Pd. Mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Kemudian diinformasikan bahan-bahan yang perlu
37

dipersiapkan oleh guru yunior dalam pelaksanaan observasi diantaranya silabus, RPP, bahan ajar, alat peraga atau media dan penilaian yang akan digunakan.

3.Melaksanakan Supervisi Pada tahap ini supervisor melakukan observasi langsung ke kelas X tempat guru yunior melangsungkan proses belajar mengajar sesuai dengan jadual yang telah disepakati. Pelaksanaan observasi dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan (245 menit). Supervisor melakukan pengamatan langsung pelaksanaan pembelajaran mulai dari kegiatan awal sampai pada kegiatan penutup. Obyek pengamatan adalah aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Aktivitas guru dan siswa dicatat pada catatan kejadian dan mengisi instrumen observasi kelas yang telah dipersiapkan. Catatan kejadian dijadikan sebagai bahan diskusi sekaligus bahan evaluasi pada saat kegiatan refleksi pembelajaran. Untuk memperoleh bukti pelaksanaan pembelajaran tersebut supervisor mendokumentasikannya dalam bentuk foto. Pada pertemuan ini, dengan mengacu pada RPP yang telah disusun, guru membahas materi: Menampilkan peran serta dalam sistem politik di Indonesia. Pada kegiatan awal, ketua kelas menyiapkan teman-temannya untuk belajar dan mengucapkan salam yang dibalas oleh guru dengan salam pula. Dengan menggunakan model pembelajaran langsung, guru mengawali

pembelajaran dengan menanyakan kesiapan siswa untuk belajar. Guru kemudian memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih giat belajar agar menjadi siswa yang dapat memahami dan melaksanakan nilai-nilai demokrasi. Berikutnya guru melakukan apersepsi yaitu mengkondisikan siswa untuk memulai pembelajaran dan mengkaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dibahas pada pertemuan hari itu (siswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri masyarakat politik dan peran serta sistem politik di Indonesia). Selanjutnya, pada kegiatan inti guru melakukan studi inquiri mengenai peran serta dalam sistem politik di Indonesia, kemudian siswa diberi tugas untuk menganalisis peran serta dalam sistem politik di Indonesia pada zaman reformasi sekarang ini, setelah itu guru bersama siswa membahas bersama hasil temuan dari seluruh siswa. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa menanyakan hal-hal yang dianggap masih memerlukan penjelasan. Berikutnya,
38

guru membagi siswa dalam kelompok kecil antara 2 3 orang, lalu siswa menyimak penjelasan dari guru mengenai media games Word Square

kemudian siswa diberi kesempatan untuk menemukan kata-kata atau konsep, bagi siswa yang dapat menemukan kata-kata dapat manggaris kata tersebut pada bagan besar yang tersedia di papan tulis, siswa berperan aktif dalam kegiatan tanya jawab serta aktif dalam memberikan tanggapan. Melalui media Games Word Square siswa dapat menunjukkan prilaku politik yang sesuai dengan aturan. kemudian guru menjelaskan dan menambahkan materi yang belum disinggung oleh siswa. Pada bagian akhir, guru meminta siswa membuat kesimpulan dan rangkuman materi tentang peran serta dalam sistem politik di Indonesia, kemudian siswa mencatat tugas-tugas kegiatan yang diberikan guru. Hari ini pelajaran kita cukup sekian.

4.Menindaklanjuti Hasil Supervisi. Sebelum menghitung nilai pelaksanaan kemampuan refleksi guru pembelajaran yunior dimulai, supervisor

melaksanakan

pembelajaran

berdasarkan hasil isian instrumen observasi kelas. Dari perhitungan tersebut diperoleh nilai: (i) 100 % untuk kegiatan awal, (ii) 86,53 % untuk kegiatan inti, dan (iii) 87,50% untuk kegiatan penutup. Nilai akhir kemampuan guru melaksanakan pembelajaran adalah 88,23% (hasil perhitungan pada lampiran). Nilai 88,23% mengindikasikan kemampuan guru melaksanakan pembelajaran termasuk ke dalam kategori kemampuan BAIK SEKALI Tabel interval kategori kemampuan guru (KG) mengelola pembelajaran Interval KG < 55 % 55% KG < 69% 70% KG < 85% 86% KG 100% Kategori Kurang Cukup Baik Baik Sekali

39

Untuk merefleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan, guru yunior dan supervisor sepakat bertemu pada jam istirahat pada hari yang sama. Sebelum membahas hasil pelaksanaan pembelajaran, terlebih dahulu supervisor meminta kesediaan guru yunior untuk menjawab beberapa pertanyaan yang telah dipersiapkan. Agar lebih rileks dalam menjawab, jawaban pertanyaan dipersilahkan untuk langsung menuliskannya pada tempat yang telah disediakan. Pada tahap refleksi, supervisor memuji pembelajaran yang telah dilaksanakan guru yunior. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran masuk kategori tinggi. Melengkapi pujian sambil mengomentari sisi-sisi yang dianggap sudah bagus, misalnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran, tampak semangat membantu kesulitan pemahaman siswa dan ada keceriaan siswa dalam mengikuti pelajaran. Berikutnya, supervisor mulai menyinggung sisi-sisi yang dianggap masih kurang atau lemah dan perlu diperbaiki pada pelaksanaan pembelajaran berikutnya. Misalnya pada saat melakukan apersepsi, guru sebaiknya mengingatkan siswa tentang persamaan kedudukan warga negara dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Sisi lemah lainnya adalah keaktifan siswa yang tidak merata. Hanya siswa tertentu yang selalu aktif sementara lebih banyak siswa yang lainnya kurang aktif. Supervisor mengangkat pada pembahasan (refleksi) semua catatan-catatan kejadian pada pelaksanaan pembelajaran. Berikutnya guru yunior dipersilahkan berkomentar mengenai pelaksanaan pembelajarannya. Apa kesulitan, kesan yang diperoleh serta pesan untuk perbaikan pelaksanaan pembelajaran berikutnya. Pada akhir refleksi disimpulkan bagian-bagian pembelajaran yang perlu dipertahankan dan bagian-bagian yang perlu mendapat perhatian untuk diperbaiki pada pembelajaran berikutnya. Supervisor berpesan agar pelaksanaan pembelajaran berikutnya lebih ditingkatkan lagi walaupun sudah tidak diobservasi oleh supervisor diklat cakep), pengawas atau kepala sekolah. (peserta

40

C.Perangkat Pembelajaran (Pribadi Calon) 1. Silabus Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Silabus berisikan komponen pokok yang dapat menjawab pertanyaan berikut.: 1. Kompetensi yang akan ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu kegiatan pembelajaran 2. Kegiatan yang harus dilakukan untuk menanamkan / membentuk kompetensi tersebut 3. Upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta didik Silabus bermanfaat sebagai pedoman sumber pokok dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, mulai dari pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Berkaitan dengan perangkat pembelajaran yang penulis buat, silabus pembelajaran yang disajikan adalah silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XII dengan standar kompetensi Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat unggul. Kompetensi dasar yang ditetapkan adalah Menulis laporan ilmiah sederhana. Sehubungan dengan materi laporan ilmiah sederhana ini cukup luas, dari SK dan KD yang ditetapkan, maka materi ajar yang diajarkan adalah tentang teknik pengutipan dan teknik penulisan daftar pustaka. Materi ajar ini memuat tentang bagaimana cara melakukan kutipan baik kutipan langsung maupun tidak langsung dan bagaimana cara penulisan daftar pustaka berkaitan dengan penulisan laporan ilmiah sederhana.
41

Dengan materi tersebut, diharapkan siswa mampu menulis laporan ilmiah sederhana dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama dalam hal tata tulisnya (Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD). Silabus yang penulis tetapkan adalah sebagai berikut:

42

SILABUS PEMBELAJARAN
Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/ Program Semester Standar Kompetensi No Kompetensi Dasar : SMKN 1 Karawang : Pendidikan Kewarganegaraan : XI / Semua Program Keahlian : Ganjil : 1. menganalisis budaya politik di Indonesia Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif Percaya diri (keteguhan hati, optimis). Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik). Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin) Orientasi ke Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Mendeskripsik an pengertian budaya politik Mengidentifika si tipe-tipe budaya politik menurut Almond, dkk Materi pokok/ Pembelajaran Kegiatan Pembelajara n Metode Bentuk Alokasi waktu Sumber / Bahan / Alat

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat,

1.1

Mendeskripsikan pengertian budaya politik

1.1.1pengertian Secara individu budaya politik menggali informasi melalui studi pustaka tentang pengertian budaya politik

Ulangan Uraian

1 jam

Buku PKn SMA kls XI,Retno L, Esis Budaya Politik oleh Almond , Bina Aksara 1984 Bahan

1.2

Menganalisis tipe-tipe budaya

Mengidentifika si tipe-tipe budaya politik yang berkembang di

1.2.1tipe-tipe budaya politik menurut

Secara Ulangan klasikal mendiskusik an tipe-tipe

Uraian

3 jam

42

No

Kompetensi Dasar politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab

1.3

Mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik

Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah

Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif masa depan (punya perspektif untuk masa depan) Percaya diri (keteguhan hati, optimis). Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik). Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin) Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Indonesia Menganalisis budaya politik yang berkembang di Indonesia Materi pokok/ Pembelajaran Gabriel A. Almond dan Sidney Verba 1.2.2 tipe-tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia Kegiatan Pembelajara n budaya politik menurut Almond dan tipe-tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia Metode Bentuk Alokasi waktu

Sumber / Bahan / Alat Internet Bahan : petunjuk penugasan kelompok dan Artikel dari koran dan internet serta Foto , CD Alat Presentasi: - laptop - infocus Bahan : petunjuk penugasan individu dan Artikel dari

Mendeskripsik an budaya politik partisipan di Indonesia

1.3.1 Budaya politik yang berkembang di Indonesia

Secara kelompok menggali informasi melalui media massa tentang budaya politik yang

Tugas kelomp ok

Lapora n diskusi Dan Resum e

2 jam

Pengam

2 jam

43

No

Kompetensi Dasar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab

Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif

Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Materi pokok/ Pembelajaran Kegiatan Pembelajara n berkembang di Indonesia Mempresent asikan hasil temuan dan diskusi kelompok (melalui media power point) Metode Bentuk Alokasi waktu Perfor mance

Sumber / Bahan / Alat koran dan internet serta Foto , CD

atan

kliping Tugas individu (PR)

2 jam

44

No

Kompetensi Dasar Menampilkan peran serta budaya politik partisipan

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa

Kewirausahaan / Ekonomi Kreatif

Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Materi pokok/ Pembelajaran 1.4.1 Budaya Politik Partisipan di Indonesia Kegiatan Pembelajara n Secara individu mendeskrips ikan temuannya mengenai budaya politik partispan di Indonesa Karawang, Juli 2013 Metode Bentuk Alokasi waktu

Sumber / Bahan / Alat

1.4

Mengetahui : Kepala SMKN 1 Karawang

Guru Mata Pelajaran

Drs.H.Shihabudin, Sp.1 NIP. 19571112 198403 1 005

Drs. H. Dedi Jubaedi NIP.19641204 199403 1 003

45

2.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang

menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu indicator atau beberapa indicator untuk satu kali pertemuan atau lebih. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum mengajar. Persiapan disini dapat diartikan persiapan tertulis maupun persiapan mental, situasi emosional yang ingin dibangun, lingkungan belajar yang produktif, termasuk meyakinkan pembelajar untuk mau terlibat secara penuh. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan silabus mempunyai perbedaan, meskipun dalam hal tertentu mempunyai persamaan. Silabus memuat hal-hal yang perlu dilakukan siswa untuk menuntaskan suatu kompetensi secara utuh, artinya di dalam suatu silabus adakalanya beberapa kompetensi yang sejalan akan disatukan sehingga perkiraan waktunya belum tahu pasti berapa pertemuan yang akan dilakukan. Sementara itu, rencana pelaksanaan pembelajaran adalah penggalanpenggalan kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru untuk setiap pertemuan. Di dalamnya harus terlihat tindakan apa yang perlu dilakukan oleh guru untuk mencapai ketuntasan kompetensi serta tindakan selanjutnya setelah pertemuan selesai. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang saya buat mengacu kepada silabus dan program semester yang sudah ditetapkan. Adapun struktur RPP yang saya kembangkan adalah sebagai berikut : Bagian 1 terdiri atas nama sekolah, kompetensi keahlian, mata pelajaran, kelas/semester, standar kompetensi,

kompetensi dasar, indikator, dan , alokasi waktu. Bagian 2: tujuan pembelajaran. Bagian 3: materi pelajaran. Bagian 4: metode pembelajaran. Bagian 5: Kegiatan pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajarannya (kegiat awal, inti dan penutup). Bagian 6: sumber belajar. Bagian 7: penilaian atau evaluasi, dan bagaian 8: kunci jawaban. Adapun RPP yang penulis buat adalah sebagai berikut:
46

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMKN 1 Karawang Mata Pelajaran : PKn Materi Pokok : BUDAYA POLITIK o Pengertian Budaya Politik o Ciri-ciri budaya politik o Macam-macam budaya politik o faktor penyebab berkembangnya budaya politik di suatu daerah o Budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Kelas/Program : XI/I Alokasi Waktu : 2 x 45 Menit I. STANDAR KOMPETENSI/KOMPETENSI DASAR 1. Standar Kompetensi 1. Menganalisis budaya politik di Indonesia 2. Kompetensi Dasar 1.1. Mendeskripsikan pengertian budaya politik

II. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI No 1 2 Indikator Pencapaian Kompetensi Mendeskripsikan pengertian budaya politik Menjelaskan orientasi masyarakat terhadap suatu sistem politik. Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab Mandiri

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif : Percaya diri (keteguhan hati, optimis). Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik). Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin) Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

47

III. TUJUAN PEMBELAJARAN : Setelah proses belajar mengajar siswa diharapkan mampu : Mendeskripsikan pengertian budaya politik Mengidentifikasikan ciri-ciri budaya politik Mendeskripsikan macam-macam budaya politik Menjelaskan faktor penyebab berkembangnya budaya politik di daerahnya Mengidentifikasi perkembangan budaya politik Menyimpulkan budaya politik yang berkembang di masyarakat IV. MATERI PEMBELAJARAN a. Pengertian budaya politik Para ahli Pengertian Budaya politik adalah pandangan politik, seperti Mariam norma, pola orientasi terhadap politik, dan Budiardjo pandangan idup pada umumnya Dennis Kavanagh Budaya politik dapat diartikan sebagai pernyataan untuk menyatakan lingkungan perasaan dan sikap dimana system politik itu berlangsung Budaya politik merupakan konsep yang terdiri dari Almond dan sikap, keyakinan, nilai-nilai dan keteram[ilan yang Powell sedang berlaku bagi seluruh anggota masyarakat termasuk pada kecenderungan-kecenderungan khusus serta pola-pola kebasaan yang terdapat pada kelompok kelompok dalam masyarakat Budaya politik adalah nilai-nilai keyakinan dan sikap Samuel Beer sikap emosi tentang bagaimana yang dipegang seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang dilakukan oleh pemerintah Buadaya politik adalah sepaerangkat pandangan bAustin Ranney tentang politik dan pemerintahan yang dipegang berdsama-sama ; sebuah pola orientasi terhadap obyek-obyek politik

b. c. d. e. f.

Ciri-ciri Budaya Politik Macam-macam budaya politik Faktor penyebab berkembangnya budaya politik di daerahnya Perkembangan budaya politik Budaya politik yang berkembang di masyarakat

48

V. STRATEGI PEMBELAJARAN Aspek lifeskill yang dikembangkan Disiplin Kerja sama Keterampilan Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab Mandiri

No.

Kegiatan Belajar

Waktu (Menit)

1.

2.

Pendahuluan - Memberikan salam siswa - Mengabsen dan mengetahui kondisi siswa Kegiatan Inti a. Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi : Menguraikan tujuan dan nilai konstitusi. menjelaskan pengertian dasar negara dan konstitusi negara. b. Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi, Membagi siswa dalam kelompokkelompok kecil @ 4 orang, dinamakan kelompok kooperatif. Guru menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan masing-masing anggota kelompok kooperatif, yang terdiri atas : BUDAYA POLITIK Pengertian Budaya Politik Ciri-ciri budaya politik Macam-macam budaya politik

15

Kerja sama Kesungguhan Disiplin Uji diri

55

49

faktor penyebab berkembangnya budaya politik di suatu daerah Budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Jika jumlah siswa 40 orang, berarti terdapat 10 kelompok. Jadi terdapat kelompok yang membahas materi sama. Setelah selesai melakukan diskusi dalam kelompok kecil, setiap anggota kelompok mengambil undian tugas secara indivual yang telah disediakan oleh guru. Undian berisi materi-materi yang telah didiskusikan. Siswa diminta menemui teman lain yang mempunyai tugas sama untuk membentuk kelompok baru dan mengerjakan tugas yang ia terima. Anggota kelompok baru tersebut kemungkinan besar terdiri atas siswa yang dalam kelompok kecil membahas materi berbeda. Jadi anggota kelompok baru jumlahnya lebih banyak dan berisi siswa dari kelompok yang
50

membahas materi berbeda dan dinamakan kelompok ahli. Setiap anggota kelompok baru bertindak sebagai ahli yang harus mencatat, ikut serta secara aktif memberikan informasi dan berdiskusi. Kelompok ahli kembali berkumpul ke kelompok kooperatif semula, bertugas memberikan informasi dari hasil diskusi kelompok ahli. Meminta perwakilan kelompok kooperatif untuk mempresentasikan hasil diskusi secara menyeluruh dalam diskusi kelas dan mengambil kesimpulan. Guru memfasilitasi jika terdapat siswa atau kelompok yang mengalami kesulitan dan memberikan klarifikasi jika terjadi kesalahan konsep. a. Konfirmasi Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa: Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui Menjelaskan
51

3.

tentang hal-hal yang belum diketahui. Penutup - Evaluasi/Tanya jawab - Penenangan

20

Pengendalian diri

STRATEGI PEMBELAJARAN Tatap Muka Mendeskripsikan pengertian budaya politik Terstruktur pengertian budaya politik Mandiri Siswa dapat Menjelaskan orientasi masyarakat terhadap suatu sistem politik.

VI.

PERANGKAT PEMBELAJARAN 1. Buku Paket PKn Kelas XI 2 Media massa (Koran, Majalah, Internet) 3. Buku-Buku Sumber yang Relevan 4. Lembar Kerja Siswa PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT 1. Penilaian Kognitif 2. Penilaian Afektif Butir soal Budaya politik adalah pandangan politik, seperti norma, pola orientasi terhadap politik, dan pandangan idup pada umumnya . Pengertian budaya politik diungkapkan oleh ...... a. Marbun b. Mariam Budiardjo c. Samule Beer d. Larry Diamond e. Austin Ranney Istilah budaya politik diperkenalkan oleh ..... a. b. c. d. e. Alan R. Ball Mariam Budiardjo Dennis Kavanagh Larry Diamond Austin Ranney
52

VII.

No 1

Kunci Jawab an

Skor 1

Skor maksimal

20

No 1

Uraian Soal*) Tuliskan pengertain budaya politik menurut Dennis kavanagh!

Kunci Jawaban Budaya politik dapat diartikan sebagai pernyataan untuk menyatakan lingkungan perasaan dan sikap dimana system politik itu berlangsung

Bobot 1

Jelaskan bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap partisipasi poltik! Jelaskan oreintasi afektif! Bagaiama seorang pelajar menunnjukkan partisipasi politiknya?

3 4

Skor

100

Karawang, Juli 2013 Mengetahui Kepala SMKN 1 Karawang Guru Mata Pelajaran

Drs. H. Shihabudin, Sp.1 NIP. 19571112 198403 1 005

Drs. H. Dedi Jubaedi NIP. 19641204 199403 1 003

2. Bahan Ajar Pada bagian ini guru harus mencantumkan materi pembelajaran dan melengkapinya dengan uraiannya yang telah dikembangkan dalam silabus.

53

Dalam menetapkan dan mengembangkan materi perlu diperhatikan hasil dari pengembangan silabus, pengalaman belajar yang bagaimana yang ingin diciptakan dalam proses pembelajaran yang didukung oleh uraian materi materi untuk mencapai kompetensi tersebut. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan materi adalah kemanfaatan, alokasi waktu, kesesuaian, ketetapan, situasi dan kondisi lingkungan masyarakat, kemampuan guru, tingkat

perkembangan peserta didik, dan fasilitas. Agar penjabaran dan penyesuaian kemampuan dasar tidak meluas dan melebar, maka perlu diperhatikan kriteria untuk menyeleksi materi yang perlu diajarkan sebagai berikut. a. Sahih ( valid ), artimya materi yang akan dituangkan dalam benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. b. Relevensi, artinya relevan atau sinkron antara materi pembelajaran dengan kemampuan dasar yang ingin dicapai. c. Konsistensi, artinya ada keajegan antara materi pembelajaran dengan kemampuan dasar dan standar kompetensi. d. Adequasi ( kecukupan ), artinya cakupan materi pembelajaran yang diberikan cukup lengkap untuk tercapainya kemampuan yang telah ditentukan. e. Tingkat kepentingan, artinya dalam memilih materi perlu dipertimbangkan pertanyan berikut : sejauh mana materi tersebut penting dipelajari? Penting untuk siapa? Di mana dan mengapa penting ? dengan demikian, materi yang dipilih untuk diajarkan tentunya memang yang benar-benar diperlukan oleh siswa. f. Kebermanfaatan, artinya materi yang diajarkan benar-benar bermanfaat, baik secara akademis, maupun nonakademis. g. Layak dipelajari, artinya materi tersebut memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya ( tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sulit ) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatna bahan ajar dan kondisi setempat. d. Menarik minat, artinya materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajarinya lebih lanjut. pembelajaran

54

Bahan ajar yang saya sajikan adalah berdasarkan indikator yang saya kembangkan pada silabus, program semester, maupun pada RPP. Semua bahan ajar ini mencakup keseluruhan dari materi ajar pada kompetensi dasar mengenai laporan ilmiah sederhana. Materi ajar mencakup teknik pengutipan, terdiri atas kutipan langsung: kutipan langsung pendek & kutipan langsung panjang dan kutipan tidak langsung. Selain itu, materi yang disajikan adalah teknik penulisan daftar pustaka baik yang dipublikasikan seperti buku, Koran, majalah maupun yang belum dipublikasikan seperti paper, skripsi, tesis, dan disertasi. Bahan ajar yang penulis sajikan sebagai bahan pembelajaran adalah sebagai berikut: BAHAN AJAR BUDAYA POLITIK DI INDONESIA

Standar kompetensi : 1. Menganalisis budaya budaya politik di Indonesia Kompetensi Dasar 1.1 Mendeskripsikan pengertian budaya politik 1.2 Menganalisis tipe-tipe budaya politik yang berkembang di masyarakat 1.3 Mendeskripsikan pentingnya sosialisasi pengembangan budaya politik 1.4 Menampilkan peran serta budaya politik patisipan. 1.5 Menerapkan budaya politik partisipatif A. Pengertian Budaya Politik 1. Pengertian Budaya politik Menurut para Ahli No Para ahli 1 Mariam Budiardjo Pengertian Budaya politik adalah pandangan politik, seperti norma, pola orientasi terhadap politik, dan

pandangan hidup pada umumnya 2 Dennis Kavanagh Budaya politik dapat diartikan sebagai pernyataan untuk menyatakan lingkungan perasaan dan sikap dimana sistem politik itu berlangsung 3 Gabriel A. Budaya politik merupakan konsep yang terdiri dari
55

Almond dan G.

sikap, keyakinan, nilai-nilai dan keterampilan yang

Bingham Powell Jr sedang berlaku bagi seluruh anggota masyarakat termasuk pada kecenderungan-kecenderungan

khusus serta pola-pola kebasaan yang terdapat pada kelompok kelompok dalam masyarakat 4 Samuel Beer Budaya politik adalah nilai-nilai keyakinan dan sikap sikap emosi tentang bagaimana yang dipegang seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang dilakukan oleh pemerintah 5 Austin Ranney Budaya politik adalah seperangkat pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang berdsama-sama ; sebuah pola orientasi terhadap obyek-obyek politik 6 Larry Diamond Budaya politik adalah keyakinan , siakp nilai ideide, sentimen, evaluasi suatu masyarakat tentang sistem politik negara mereka dan peran-peran masing individu alam sistem itu 7 Rusdi Sumintapura Budaya politik adalah sikap dan orientasi warga suatu negara terhadap kehidupan pemerintahan negara dan politiknya 2. Komponen-Komponen Budaya Politik a) Menurut Ranney budaya politik memiliki dua komponen utama yaitu orientasi kognitif (cognitive orientations) dan orientasi afektif (afektive orientations) b) Menurut Almond dan Verba lebih mengacu pada rumusan Parsons dan Shils tentang klasifikasi tipe-tipe orientasi yaitu 1) Orientasi Kognitif (pengetahuan tentang kepercayaan pada politik peranan kebijakan pemerintah tokoh pemerintahan simbol-simbol yang dimiliki oleh system politik seperti ibukota Negara, lambang Negara, kepala Negara, batas negara, mata uang dan lain-lain. 2) Orientasi Afektif menunjuk pada aspek perasaan atau ikatan emosiaonal individu pada sistem politik. Seperti perasaan khusus terhadap aspek sistem politik tertentu
56

yang membuatnya menerima dan menolak sistem politik. Orientasi ini dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan. 3) Orientasi Evaluatif berkaitan dengan penialain moral seseorang terhadap system politik kinerja system politik komitmen terhadap nilai dan pertimbangan politik.

B. Macam-macam tipologi budaya politik 1. Karakter budaya politik suatu bangsa a) Tingkat pengetahuan umum masyarakat b) Pemahaman masayarakat mengenal struktur dan peran pemerintah dalam membuat kebijakan c) Pemahaman mengenai pergaulan kebijakan yang mencakup opini dari masyarakat dan media masaa kepada pemerintah d) Seberapa besar tingkat partisipasi politik warga masyarakat serta sejauhmana pemehanan nya tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara. 2. Tipe-tipe Budaya politik (Almond dan Verba) (ciri-ciri) a) Budaya politik Parokial (Paroxial Polical Culture) Menurut mochtar Masoed dan Colin McAndrew (1986 : 42) ciri-cirinya : 1) Lingkup sempit dan kecil 2) Masyarakatnya sederhana dan tradisional bahkan buta huruf, petani dan bukan petani 3) Spesialisaasi kecil dan belum berkembang 4) Pemimpin politik biasanya berperan ganda di bidang ekonomi, agaama dan budaya 5) Masya\rakatnya cenderung tidak mentrauh minat terhadap objek politik yang luas 6) Masyarakatnya tinggal di desa terpencil diamana kontak dengan sistem politik sangat kecil b) Budaya politik Kaula atau Subjek (Subject Political Culture) Menurut Rusadi Kartaprawira 1985 ; 37) , ciri-cirinya : 1) Orang secara pasif patuh pada pejabat pemerintah dan undang-undang 2) Tidak melibatkan diri pada politik atau golput 3) Masyarakat mempunyai minat, perhatian, kesadaran terhadap keputusan politik, output
57

4) Rendah dalam input kesadaran sebagai aktor politik belum tumbuh c) Budaya Politik Partisipan (Participant Political Culture) 1) Membentuk organisasi politik atau menjadi anggota LSM yang dapat mengontrol maupun input terhadap setiap kebijakan 2) Aktif dalam proses pemilu, seperti kampanye, menjadi pemilih aktif, dan menjadi anggota perwakilan rakyat 3) Bergabung daalam kelompok-kelompok kepentingan kontemporer, seperti unjuk rasa secaradamai tidak anarkis atau merusak, petisi, protes, dan demonstarsi Ciri-cirinya ; 1) Kesadaran masyarakat bahwa dirinya dan orang lain aktif dalam kehidupan politik 2) Melibatkan diri dalam sistem politik sangat berarti walaupun hanya sekedar memberikan suara dalam pemilu. 3) Tidak menerima begitu saja terhadap keputusan , kebijakan sistem politik 4) Dapat menilai dengan penuh kesadaran baik input maupun out bahkan pososinya diri sendiri 3. Tipe-tipe Budaya politik (Mochtar Masoed dan Collin McAndrews) a) Masyarakat Demokrasi Industrial; yang terdiri dari aktivis politik, kritikus politik (identik dengan budaya polityik partisipan). Dalam kelompok ini kelompok partisipan mencapai 40-60%. b) Masyarakat Sistem Politik Otoriter Sikap politik yang berbeda-beda , antara lain ; 1) Kelompok organisassi politik dan partisipaan, seperti mahasiswa, kaum intelektual, berusaha menentang dan mengubah sistem melalui tindakan persuasif atau proses yang agresif 2) Kelompok terhormat, seperti pengusaha, agamawan, dan tuan tanah,. 3) Sebgaian besar rakyat hanya sebagai subjek yang pasif, mengakui dan tunduk pada pemerintah 4) Posisi petani dan buruh kecil sekali keterlibatannya alam partai politik c) Masyarakat Sistem Demokrasi Praindustrial Dalam masyarakat demokrasi praindustrial hanya menampilkan sebagai berikut ; 1) Kelompok partisipan dari profesional terpelajar, usahawan, dan tuan tanah sedikit sekali jumlahnya
58

2) Sebagian besar warga negaranya adalah pegawai, buruh dan petani bebas yang secara langsung terkena alam system perpajakan dan kebijakan pemerintahan 3) Kelompok terbesar adalah buruh tani yang buta huruf yang sangat kecil keterlibatannya alam kelompok kehidupan politik

4. Tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia a) Budaya politik Tradisonal ; mengedapankan suatu budaya politik etnis tertent. Misanya era kepemimpinan Soeharto denga paham Jawa yang ditandai dengan hubungan patron klien yang bersifat konservatif berarti hubungan tersebut merupakan hubungan antara majikan dengan pelayan. b) Budaya politik Islam; mengedapankan nilai-nilai kebenaran agama Islam dengan kelopornya kaum santtri yang dibedakan menjadi dua yaitu ; 1) Kelompok santri tradisonal ; seperti santri yang berasal dari NU 2) Kelompok santri modern berasal dari santri yang berasal dari Muhammaddiyah c) Budaya politik modern; pada masa orde baru mulai berkembang budaya politik modern agar tidak mengedapankan agama tau etnis tertentu

5. Tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia a) Herbert Faith, Indonesia memiliki dua budaya politik yang dominan, 1) Aristokrasi Jawa 2) Wiraswasta Islam b) Menurut Cliffoord Gertz a) Budaya Poltik Santri; mengedapankan suatu budaya politik yang menekankan aspek-aspek keagamaan khususnya agama Islam yang mendapat pendidikan di pesantren madrasah dan mesjid. b) Budaya politik Abangan; adalah kelompok budaya politik yang masih menekankan aspek animisme yang terdiri dari petani kecil c) Budaya Politik Priyai; adalah budaya poliytik yang mengenekankan keluruhran tradisi. Kebanyakan dari kaum terpelajar golongan atas pendududk kota terutama atau aristokrat golongan pegwai pemerintah birokrat. 6. Tiga ciri dominan budaya politik di Indonesia menurut Afan Gaffar yaitu
59

a) Hirarki yang ketat; adanya pemilahan tegas antarpenguasa (wong gedhe) dengan rakyat kebanyakan (wong cilik) b) Kecenderungan petronage yaitu hubungan antara orang yang berkuasa dengan rakyat seperti majikan dengan buruh c) Kecenderungan neo patrimonialisme yaitu perilaku negara masih memperlihatkan tardisi dan budaya politik yang berkarakter patrimonal

Menurut Max Weber dalam negara yang patrimonialistik penyelenggaraan berada di bawah kontrol langsung pimpinan negara. Menurutnya karakteristik negara patrimonialistik adalah ; a) Cenderung mempertukarkan sumber daya yang dimiliki seseorang penguasa kepada teman-temannya b) Kebijakan seringkali lebih bersifat partikuristik daripada universalistik c) Rule of Law lebih bersifat sekunder bila dibandingkan dengan kekuasaan penguasa (rule of man) d) Penguasa politik seringkali mengaburkan antara kepentingan umum dan kepentingan publik Pada masa orde baru kekuasaan patrimonialistik telah menyebabkan kekuasaan tak terkontrol sehingga negara menjadi sangat kuat sehingga peluang tumbuhnya civil society terhambat. Contoh budaya politik neo patrimonialistik adalah; proyek dipegang pejabat, promosi jabatan tidak melalui prosedur anak pejabat menjadi pengusaha besar, anak pejabat menguasai posisi pemerintahan.

C. PENTINGNYA SOSIALISASI POLITIK DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK 1. Pengertian Sosialisasi Politik No Para Ahli 1 Gabriel A. Almond Pengertian Sosialisasi politik menunjuk pada proses

dimana sikap-sikap politik dan pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk dan juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan-patokan politik dan
60

keyakinan-keyakinan politik kepada generasi beikutnya. 2 Kenneth P. Langton Sosialisasi politik adalah cara bagaimana masyarakat meneruskan kebudayaan politiknya 3 Hyman Sosialisasi politik merupakan cara-cara belajar seseorang terhadap pola-pola social yang

berkaitan dengan posisi kemasyarakatnnya yang diketengahnkan melalui berbagai macam badan masyarakat 4 Dennis Kavanagh Sosialisasi politik merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu proses dimana seseorang mempelajari dan

menumbuhkan pandangannya tentang politik 5 Ramlan Subakti Sosialisasi pembentukan politik sikap merupakan dan orientasi proses politik

anggota masyarakatnya 6 Fred I Greenstein Sosialisasi politik merupakan penanaman

informasi, nilai-nilai , dan praktik-praktik politik yang sengaja dilakukan oleh badanbadan instruksional secara formal 7 Michael Rush dan Phillip Althop Sosialisasi politik adalah proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan serta reaksinya terhadap gejalagejala politik. Kesimpulan Proses untuk memasyarakatkan nilai-nilai atau budaya politik ke dalam suatu masyarakat.

2. Agen sosialisasi Sosialisasi Politik a) Keluarga b) Sekolah c) Kelompok pergaulan


61

d) Tempat kerja e) Media masa f) Kontak politik langsung 3. Pentingnya sosialisasi budaya politik a) Menanamkan nilai dan norma pada masyarakat b) Mengenakan visi dan misi partai politik pada masyarakat c) Mengenalkan rencana-rencana program pemerintah kepada masyarakat d) Meningkatkan kualitas partisipasi dalam masyarakat e) Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta penghayatan rakyat dalam dunia politik 4. Pentingnya sosialisasi kesadaran politik a) Sosialisasi secara fundamental merupakan proses hasil belajar dari pengalaman pola-pola aksi b) Memberikan indikasi umum hasil belajar tingkah laku individu dan kelompok dalam batas-batas yang luas dan lebih khusus berkenaan pengetahuan atau informasi, motif-motif, dan sikap-sikap c) Sosialisasi itu tidak perlu dibatasi pada usia anak-anak dan remaja saja, tetapi penting sosialisasi sepanjang hidup

D. MENERAPKAN BUDAYA POLITIK PARTISIPAN 1. Mengapa Budaya Politik Budaya politik Indonesia seharusnya dianut adalah politik patisifatif. Budaya semacam itulah yang disebut budaya politik unggul, sebagaimana ditekankan oeleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono Mengapa? Dalam sisem politik demokratis, rakyatlah yang berdaulat. a. Franz Magnis Suseno (1995:39), kedaulatan rakyat berarti rakyat berdaulat atas dirinya sendiri. b. Arief Budiman (1996: 39) sistem politik yang demokratis didasarkan pada kedaulatan rakyat, bukan pada kekuasaan pememrintah. Rakyat diasumsikan paling sedikit sama kuat, atau lebih kuat daripada pemerintah. 2. Konsep partisipasi Politik
62

Kata partisipatif berasal dari kata partisipasi (Inggris ; paticipations, Latin paticipare). Patisipasi berarti ambil bagian atau ikut serta atau berperan serta dalam suatu usaha bersama dengan orang lain untuk kepentingan bersama. a) Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, budaya politik partisisipatif atau disebut budaya politik demokrasi adalah suatu kumpulan sistem keyakinan sikap, norma persepsi dan sejenisnya yang menopang terwujudnya partisipasi. Untuk mewujudkan partisipasi itu warga negara harus yakin akan kompetensinya untuk terlibat dalam proses politik dan pemerintah memperhatikan kepentingan rakyat agar tidak kecewa dan apatis terhadap pemerintah. b) Ramlan Surbakti partisipasi politik adalah keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan segala keputusan yang menyangkut atau memperngaruhi hidupnya. Cirinya adalah ; 1) Perilaku warga negara yang bisa diamati bukan bathiniah (sikap dan orientasi) 2) Perilaku atau kegiatan itu mempengaruhi pemerintah (pemegang kebijakan) 3) Kegiatan atau perilaku yang gagal ataupun berhasil termasuk partisipasi politik 4) Kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat dilakukan secara; a) Langsung yaitu individu tidak menggunakan peranatara dalam mempengaruhi pemerintah b) Tak langsung yaitu menggunakan pihak lain yang dapat meyakinkan pemerintah Kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat dllakukan dengan prosedur yang wajar (konvensional) tidak berupa kekerasan (nonviolence) seperti ikut memilih dalam pemilihan umum, mengajukan petisi, melakukan kontak tatap muka, menulis surat. Ada juga yang dilakukan melalui cara yang tidak konvensional dan kekerasan seperti; demontrasi unjuk rasa pembangkangan secara halus (golput) huru hara, mogok serangan senjata gerakan-gerakan politk revolusi serta makar. c) Prof DR. Miriam Budiardjo, partsispasi politik adalah kegiatan seseorang dalam partai politik yang mencakup semua kegiatan sukarekla dimana seseorang turut dalam proses pemilihan pimpinan politik dan turut langsung atau tidak langsung dalam pembentukan kebijakan umum. 3. Menerapkan Budaya Politik Menurut S Yudohusodo, dalam menerapkan budaya politik partisipatif, ada empat hal harus dilakukan;
63

a) Mengembangkan budaya keterbukaan b) Mengembangkan budaya mengajukan pendapat berargumentasi secara santun dalam semangat egaliter c) Mengembangkan pengambilan keputusan kputusan secara terbuka dan demokratis d) Menembangkan budaya proses rekrutmen kader secara transparan berdasarkan kualifikasi yang tolok ukurnya diketahui secara luas E. PARTAI POLITIK 1. Pengertian Partai Politik No. Nama 1 Miriam Budiardjo Pengertian Partai Politik Partai politik adalah organisasi atau golongan yang berusaha untuk memperoleh dan menggunakan kekuasaan 2 Sigmund Neuman Partai poltik adalah organisasi tempat kegiatan politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintah serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan melawan satu golongan atau golongangolongan lain yang tidak sepaham 3 Carl J. Friedrich Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan pengusaan terhadap pemerintah bagi pimpinan partainya sehingga penguasaan itu memberikan manfaat kepada anggota partainya baik bersifat ideal maupun material

2. a) Sarana

Fungsi Partai Politik Komunikasi Politik, yaitu penyalur aspirasi pendapat rakyat,

menggabubgkan berbagai macam kepetingan dan merumuskan kepentingan yang menjadi dasar kebijakannya, Upaya partai politik adalah mencapat fungsi ini adalah ; 1) Memperjuangkan aspirasi rakyat agar menjadi kebijaksanaan umum oleh pemerintah 2) Menyebar luaskan rencana-rencana dan kebijaksanaan pemerintah
64

3) Perantara (broker) dalam bursa ide-ide 4) Bagi pemerintah bertindak sebagai alat pendengar, sedangkan bagi warga masyarakat sebagai pengeras suara b) Sarana sosialisasi politik, yaitu sarana untuk menanamkan nilai-nilai, norma, dan sikap serta orientasi terhadap fenomena politik tertentu. Upaya yang dilakukan untuk mencapai fungsi ini adalah : 1) Penguasaan pemerintah dengan memenangkan setiap pemilu 2) Menciptakan image bahwa memperjuangkan kepentingan umum 3) Menanamkan solidaritas dan tanggung jawab terhadap para anggotanya maupun anggota lain. c) Sarana Rekruitmen Politik, yaitu mencari dan mengajak orang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik. Dengan demikian memperluas partisipasi politik. Upaya yang dilakukan partai politik adalah : 1) Melalui kontak pribadi maupun persuasi 2) Menarik golongan untuk dididik menjadi kader di masa depan d) Sarana Pengatur Konflik, yaitu mengatasi berbagai macam konflik yang muncul sebagai konsekuensi dari dalam negara demokrasi yang di dalamnya terdapat persaingan dan perbedaan pendapat. Hal ini mungkin saja dimunculkan oleh kelompok tertentu. Biasanya masalah tersebut cukup mengganggu stabilitas nasional. Hal ini mungkin saja untuk kelompok tertentu untuk popularitasnya. Upaya yang dilakukakn partai politik adalah ; 1) Bila anggota politik memberikan informasi justru menimbulkkan kegelisahan dan perpecahan masyarakat, pimpinan partai politik harus klarifikasi dengan segera mengklarifikasi atau diselesaikan dengan baik 2) Adanya kemungkinan anggota partai politik lebih mengejar

kepentingan pribadi atau golongannya, sehingga terjadi pegkotakan politik atau konflik yang harus segera diselesaikan dengan tuntas.

4. Penilaian Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,

menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
65

informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian. a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa. d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan. e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran

menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. Penilaian yang penulis sajikan sudah mencakup isi materi yang diajarkan yang mengacu kepada silabus, RPP. Penilaian yang diberikan berupa tes tertulis dengan bentuk pilihan ganda. Dengan bentuk tes ini, guru dapat mengukur penguasaan materi lebih luas kepada siswa.

Penilaian / Evaluasi Berilah Tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang paling benar! 1. Salah satu ciri budaya politik di Indonesia adalah adanya pemilahan secara tegas antara penguasa dan rakyat kebanyakan. Fenomena ini lazim di sebut . a. Patronase b. Patrimonialistrik
66

c. Paternalistik d. Hierarki ketak e. Pragmatis 2. Dalam piramida partisipasi politik, pihak berikut ini termasuk dalam kategori aktivis, yaitu .. a. Juru kampanye b. Fungsionaris partai penuh c. Anggota partai d. Anggota proyek sosial e. Pemilihan dalam pemilu 3. Menurut Almond dan Verba, budaya politik lebih menekankan pada a. Aneka ragam sistem politik b. Peranan partai politik yang ada c. Berorientasi terhadap sistem politik yang ada d. Perananan warga negara di dalam sistem politik e. Sikap warga negara terhadap sistem politik dan peranannya 4. Pada budaya politik parokial tingkat partisipasinya .. a. Sangat tinggi b. Sedang c. Rendah d. Belum begitu mantap e. Masih dipengaruhi oleh kekuatan lain 5. Sikap politik warga negara yang menghendaki adnya perubahan mendasar kalau perlu dengan jalan kekerasan dalam mewujudkan tujuannya disebut . a. Sikap politik radikal b. Sikap politik moderat c. Sikap politik status quo d. Sikap politik reaksioner e. Sikap politik kooperatif 6. Manusia dalam kehidupan bernegara adalah sebagai insan politik. Wujud partisipasi politiknya antara lain . a. Selalau menentang kebijakan pemerintah
67

b. Aktif dalam proses pemilu c. Berjuang untuk kepentingan kelompok d. Berusaha agar pendapatnya diterima oleh orang lain e. Mengabaikan kepentingan umum 7. Bentuk bentuk partisipasi politik dibedakan menjadi partisipasi konvensional dan nonkonversional. Berikut ini merupakan contoh bentuk partisipasi politik nonkonvensional, yaitu .. a. Voting b. Diskusi politik c. Melakukan demontrasi d. Melakukan kampanye e. Pengajuan petisi 8. Suatu tata cara untuk mengatur atau mengelolah bagaimana memperoleh kekuasaan di dalam negara, mempertahankan kedudukan dan kekuasaan didalam negara, mengatur hubungan antara negara dengan negara, negara dengan rakyat adalah pengertian a. Sistem politik b. Budaya politik c. Sosialisasi politik d. Partisipasi politik e. Tradisi politik 9. Tindakan kekerasan politik terhadap manusia, perang gerilya, dan evaluasi termasuk dalam bentuk partisipasi politik .. a. b. c. d. e. Konvensional Nonkonvensional Partisipasi Parokial Radikal

10. Budaya politik di mana masyarakat tidak mengharapkan apapun dari sistem politik merupakan budaya politik . a. Kaula b. Partisipan
68

c. Parokial d. Tradisional e. Klasik 11. Kegiatan kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai wujud partisipasi politik warga negara adalah . a. Aktif dalam kegiatan keagamaan dikampungnya b. Menggunakan hak pilih aktif dalam pemilu c. Aktif sebagai pengurus OSIS di lingkungan sekolah d. Aktif dalam kegiatan karang taruna e. Aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat 12. Di era Reformasi sistem politik Indonesia mengalami perkembangan dengan melibatkan partisipan dengan berbagai macam kegiatan antara lain.. a. Dengan adanya beragai demonstrasi b. Berbagai dialog interaktif c. Keberanian masyarakat untuk memberikan kritik kepada pemerintah d. Banyak demontrasi dengan kebebasan sepenuhnya e. Pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung 13. Masyarakat politik terdiri dari unsur . a. Eksekutif dan legislatif b. Anggota DPR c. Elit politik dan massa politik d. Masyarakat yang mengetahui politik e. Pakar politik 14. Setelah era Reformasi, kedudukan MPR tidak lagi menjalankan kedaulatan rakyat sepenuhnya, tetapi kedaulatan rakyat dilaksanakan sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi . a. Kedaulatan langsung dilaksanakan oleh rakyat. b. Kedaulatan berada di tangan pemerintah c. Kedaulatan ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar d. Kedaulatan berada di tangan presiden e. Kedaulatan berada di tangan rakyat
69

15. Keputusan yang didapatkan dalam musyawarah ataupun hasil kesepakatan dari suara terbanyak harus diterima dengan sungguh sungguh, ikhlas dan .. a. Jujur serta terbuka b. Jujur serta tanggungjawab c. Mengetahui apa yang harus dikerjakan d. Tulus dan terbuka e. Tangungjawab 16. Pengertian sosialisasi politik menurut Alfian adalah .. a. Pola pola mengenai aksi sosial atau aspek aspek tingkah laku yang menanamkan pada individu individu, keterampilan keterampilan, motif-motif, dan sikap yang perlu menampilkan peranan peranan sepanjang hidup manusia normal. b. Pewarisan pengetahuan, nilai nilai, dan pandangan pandangan politik dari orangtua, guru, dan sarana sarana sosialisasi lainnya kepada warga negara. c. Usaha sadar untuk mengubah proses sosialisasi politik masyarakat sehingga mereka mengalami dan menghanyati nilai nilai yang terkandung dalam suatu sistem politik ideal yang dibangun d. Proses seseorang dalam memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik yang berlaku di masyarakat e. Penyampaian atau penyebarluasan politik 17. Sesuatu yang dilarang dalam pelaksanaan kampanye adalah a. Berorasi b. Menggunakan biaya kampanye dari hasil iuran anggota partai c. Memanfaatkan saana ibadah d. Menggunakan pengeras suara e. Menggunakan spanduk 18. Sosialiasi politik di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan cara a. Obrolan politik ringan tanpa disadari menanamkan nilai nilai politik kepada anak didik b. Menanamkan ideologi ideologi resmi c. Mengajak anak didik untuk memilih salah satu partai politik
70

d. Saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas topik topik tertentu mengenai nilai nilai pokok secara tematis dan praktis. e. Mejadikan anak didik sebagai media dalam berkampanye 19. Tujuan diadakan pendidikan politik bagi kader kader suatu partai politik maupun anggota masyarakat adalah a. Memperoleh suara yang signifikan dalam pemilu b. Meningkatkan kualitas diri dalam berpolitik dan berbudaya politik sesuai dengan aturan c. Sesuai wujud sosialisasi politik d. Meningkatkan daya tahan masyarakat dari pengaruh budaya budaya asing e. Meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat 20. Partai politik adalah organisasi tempat kegiatan politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintah serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan melawan suatu golongan atau golongan lain yang tidak sepaham. Pendapat ini dikemukakan oleh . a. Sigmund Neuman b. Miriam Budiardjo c. Freidrich Hagel d. Alfian e. John Hall

71

PENILAIAN Kunci Jawaban dan Penyekoran Tes No. Kunci Jawaban Soal 1 A 2 B 3 C 4 C 5 A 6 B 7 E 8 A 9 E 10 A 11 B 12 E 13 C 14 C 15 B 16 C 17 C 18 B 19 B 20 B Skor Skor 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 100

Karawang, Mengetahui, Kepala Sekolah,

Juli 2013

Guru Mata Pelajaran,

Drs. H. SHIHABUDIN, Sp.1 NIP.19571112.198403.1.005

Drs. H. Dedi Jubaedi NIP. 196412041994031003

72

D.Kajian Hasil On The Job Learning (OJL) Tabel 3.1 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : RKJM dan RKS

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG 1. RKJM dan RKS disusun oleh tim penyusun RKJM/RKS 2. RKJM dan RKS disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah/madrasah dan disahkan berlakunya oleh dinas pendidikan kabupaten/kota . 3. Disosialisasikan kepada warga sekolah, masyarakat dan pemangku kepentingan. 4. Penyusunan RKJM berdasarkan rekomendasi 1. Dibentuk tim yang menyusun RKJM dan RKS. 2. RKJM dan RKS tidak diajukan pada rapat dewan guru untuk mendapatkan persetujuan dewan guru. 3. Tidak diajukan kepada pihak dinas pendidikan kabupaten untuk mendapatkan pengesahan. 4. RKJM dan RKAS belum disosialisasikan kepada warga sekolah, SMKN 2 KARAWANG 1. Dibentuk tim yang 1. RKJM/RKS menyusun RKJM dan belum RKS. disosialisasikan 2. RKJM dan RKS tidak kepada diajukan pada rapat pemangku dewan guru untuk jabatan dan tidak mendapatkan persetujuan mendapat dewan guru. pengesahan dari 3. Tidak diajukan kep ada Dinas pihak dinas pendidikan Pendidikan. kabupaten untuk 2. Belum semua mendapatkan guru mengetahui pengesahan. cara-cara 4. RKJM dan RKAS sudah pengisisan EDS disosialisasikan kepada 3. Program skala warga sekolah, prioritas belum GAP MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI 1. Mengusahakan agar RKJM dan RKS yang sudah disusun oleh tim penyusun untuk diajukan pada rapat dewan guru untuk mendapatkan pengakuan dan persetujuan kemudian diajukan ke pihak dinas pendidikan untuk

73

EDS. 5. RKS memuat kegiatankegiatan: a. kesiswaan, b. kurikulum dan kegiatan pembelajaran, c. PTK serta pengembangannya, d. sarana dan prasarana, e. keuangan dan pembiayaan, f. budaya dan lingkungan sekolah, g. peran serta masyarakat dan kemitraan, h. rencana kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu. 6. Pelaksanaan kegiatan sekolah yang tidak sesuai dengan RKS perlu mendapat persetujuan melalui rapat dewan guru dan komite sekolah.

masyarakat ataupun pemangku kepentingan. 5. Sekolah belum melakukan pengisian instrumen EDS sehingga RKJM yang disusun belum berdasarkan rekomendasi EDS. 6. RKS sudah memuat kegiatan-kegiatan: a. kesiswaan, b. kurikulum dan kegiatan pembelajaran, c. PTK serta pengemb angannya, d. sarana dan prasarana, e. keuangan dan pembiayaan, f. budaya dan lingkungan sekolah, g. peran serta

masyarakat ataupun pemangku kepentingan. 5. Sekolah belum melakukan pengisian instrumen EDS sehingga RKJM yang disusun belum berdasarkan re komendasi EDS. 6. RKS sudah memuat kegiatan- kegiatan : a. kesiswaan, b. kurikulum dan kegiatan pembelajaran, c. PTK serta pengembangannya, d. sarana dan prasarana, e. keuangan dan pembiayaan, f. budaya dan lingkungan sekolah, g. peran serta masyarakat dan

dilakukan

mendapatkan pengesahan. 2. Mengusahakan agar RKJM dan RKS yang sudah disusun dan mendapat persetujuan dari yang berwenang untuk disosialisasikan kepada pihakpihak yang berkepentingan. 3. Memperkenalka n cara -cara pengisian EDS sampai kepada pembuatan rekomendasi untuk dijadikan dasar penyuna n RKS kepada wakil-wakil kepala sekolah 4. Segera melakukan

74

masyarakat dan kemitraan, h. rencana kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu. 7. Pelaksanaan kegiatan sekolah ada yang ti dak sesuai dengan RKS tetapi tidak diajukan pada rapat dewan guru untuk mendapatkan persetujuan.

ke mitraan, h. rencana kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu. 7. Pelaksanaan kegiatan sekolah ada yang tidak sesuai dengan RKS tetapi tidak diajukan pada rapat dewan guru untuk mendapatkan persetujuan.

pengisian EDS yang dilanjutkan dengan penyusunan RKJM empat tahun berikutnya berdasarkan rekomendasi EDS. 5. Agar memilih programprogram kegiatan sekolah berdasarkan skala prioritas.

75

1. Kajian RKS dan RKJM Setelah mempelajari bahan pembelajaran penyusunan rencana kerja sekolah (RKS) kemudian mengkaji RKS dan RKJM SMKN 1 Karawang dan SMKN 2 Karawang penulis mengerti dan memahami beberapa cara penyusunan RKS dan RKJM diantaranya model RKS/RKJM yang dikembangkan oleh DBE dan RKS/RKJM yang disusun berdasarkan hasil rekomendasi EDS. Pemahaman penulis tentang penyusunan RKS belum utuh dan sempurna karena belum pernah menyusun RKS secara lengkap. Untuk memaksimalkan penguasaan kompetensi penulis tentang penyusunan RKS/RKJM, penulis berharap agar dalam penyusunan RKS pada tahun berikutnya dapat dilibatkan secara langsung guna mempraktekkan ilmu yang telah dimiliki. Didalam menyusun RKJM/RKS SMKN 1 Karawang menggunakan Renstra sedangkan SMKN 2 Karawang menggunakan RIPS, permasalahan yang terdapat baik di SMKN 1 Karawang maupun di SMKN 2 Karawang, bahwa RKJM/RKS belum di ssosialisasikan kepada pemangku kepentingan dan belum mendapat pengesahan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan olahraga. Solusinya agar pembuatan RKJM/RKS disusun oleh tim kemudian di ajukan kepada rapat dewan guru untuk mendapatkan pengakuan dan persetujuan kemudian diajukan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan olahraga untuk mendapat pengesahan, begitu juga hasilnya di sosialisasikan kepada pihak pihak yang berkepentingan.

76

Tabel 3.2 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : PENGELOLAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG
A. KEPALA SEKOLAH (Per.13 Th 2007) 1. Memiliki kualifikasi akademik minimum S1 / D IV 2. Kualifikasi pendidikan dari perguruan tinggi terakreditasi 3. Memiliki pangkat serendahrendahnya golongan III/c 4. Memiliki sertifikat calon kepala sekolah/sebagai kepala sekolah dari lembaga yang resmi 5. Memiliki SK sebagai guru SMK 6. Memiliki sertifikat pendidik 7. Memiliki SK sebagai kepala sekolah 8. Memiliki pengalaman mengajar sekurangkurangnya 5 tahun di SMK 9. Memiliki kemampuan manajerial, kewirausahaan, A. KEPALA SEKOLAH 1. Memiliki kualifikasi akademik S2 2. Kualifikasi pendidikan dari perguruan tinggi terakreditasi 3. Memiliki pangkat golongan IV/a 4. Memiliki sertifikat calon kepala sekolah/tapi belum berdasarkan Permendiknas 28 tahun 2010 5. Memiliki SK sebagai guru SMK 6. Memiliki sertifikat pendidik 7. Memiliki SK sebagai kepala sekolah 8. Memiliki pengalaman mengajar 26 tahun 9. Memiliki kemampuan

GAP/MASALAH SMKN 2 KARAWANG


A. KEPALA SEKOLAH 1. Memiliki kualifikasi akademik S1 2. Kualifikasi pendidikan dari perguruan tinggi terakreditasi 3. Memiliki pangkat golongan IV/a 4. Memiliki sertifikat calon kepala sekolah/tapi belum berdasarkan Permendiknas 28 tahun 2010 5. Memiliki SK sebagai guru SMK 6. Memiliki sertifikat pendidik 7. Memiliki SK sebagai kepala sekolah 8. Memiliki pengalaman mengajar 31 tahun 9. Memiliki kemampuan 1. Masih terdapat guru yang mengajar kurang dari 24 jam. 2. Masih terdapat guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. 3. Kepala administrasi masih dijabat oleh guru. 4. Tidak memiliki sertifikat dan \SK pengangkatan kepala administrasi Di SMKN 2 masih terdapat tenaga administrasi yang berijazah SD dan

ALTERNATIF SOLUSI

1. Diusahakan setiap guru mengajar minimal 24 jam sesuai dengan aturan 2. Disarankan guru mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya . 3. Diusahakan kepala administrasi dapat didrop dari Disdik dan bersertifikat. 4. Tendik lainnya

77

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG


supervisi, dan sosial B. GURU ( Permen.16 Th.2007 ) 1. Memiliki kualifikasi akademik minimum S1/ DIV 2. Kualifikasi pendidikan dari perguruan tinggi terakreditasi 3. Mengajar sesuai latar belakang pendidikannya 4. Memiliki kemampuan merencanakan,melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sesuai prinsipprinsip pembelajaran (Kompetensi pedagogik) 5. Memiliki integritas kepribadian 6. Memiliki kompetensi sosial (mampu berkomunikasi secara efektif dan santun sesame guru, tenaga administrasi dan orang tua siswa) 7. Memiliki kompetensi professional (penguasaan materi pelajaran ) 8. Memiliki beban mengajar 24 jam pelajaran perminggu manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial

GAP/MASALAH SMKN 2 KARAWANG


manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial SMP 5. Rata-rata belum memiliki sertifikat kepala lab.

ALTERNATIF SOLUSI
(kepala lab. Tenaga administrasi) diharapkan sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan

B. GURU 1. Memiliki kualifikasi akademik S1 tapi masih ada kualifikasi D II 2. Kualifikasi pendidikan dari perguruan tinggi terakreditasi .Terdapat 130 orang guru PNS dan honorer 3. Masih terdapat guru yang mengajar tidak sesuai latar belakang pendidikannya 4. Memiliki kemampuan merencanakan, melaksanakan,dan mengevaluasi pembelajaran sesuai prinsip-prinsip pembelajaran (Kompetensi pedagogik) 5. Memiliki integritas kepribadian 6. Memiliki kompetensi

B. GURU 1. Memiliki kualifikasi akademik S1 tapi masih ada kualifikasi D II 2. Kualifikasi pendidikan dari perguruan tinggi terakreditasi. . Terdapat orang guru PNS dan honorer 3. Masih terdapat guru yang mengajar tidak sesuai latar belakang pendidikannya 4. Memiliki kemampuan merencanakan, melaksanakan,dan mengevaluasi pembelajaran sesuai prinsip-prinsip pembelajaran (Kompetensi pedagogik) 5. Memiliki integritas kepribadian 6. Memiliki kompetensi

78

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG


sosial (mampu berkomunikasi secara efektif dan santun sesame guru, tenaga administrasi dan orang tua siswa) 7. Memiliki kompetensi professional ( penguasaan materi pelajaran ) 8. Masih terdapat guru mengajar kurang dari 24 jam pelajaran perminggu

GAP/MASALAH SMKN 2 KARAWANG


sosial mampu berkomunikasi secara efektif dan santun sesame guru, tenaga administrasi dan orang tua siswa) 7. Memiliki kompetensi professional ( penguasaan materi pelajaran ) 8. Masih terdapat guru mengajar kurang dari 24 jam pelajaran perminggu

ALTERNATIF SOLUSI

C. TAS (Permen. 24Th 2008) 1. Kepala Administrasi memilki kualifikasi pendidikan minimal D III 2. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga yang ditetapkan pemerintah 3. Memiliki masa kerja minimal 4 tahun 4. Memiliki SK pengangkatan sebagai kepala administrasi 5. Terdapat pelaksana urusan administrasi kepegawaian, keuangan, sarpras,humas, persuratan dan pengarsipan, kesiswaan, kurikulum.

C. TENAGA ADMINISTRASI 1. Kepala Administrasi memilki kualifikasi pendidikan S1 2. Tidak memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga yang ditetapkan pemerintah 3. Memiliki masa kerja 21 tahun 4. Tidak memiliki SK pengangkatan sebagai kepala administrasi 5. Terdapat pelaksana urusan

C. TENAGA ADMINISTRASI 1. Kepala Administrasi memilki kualifikasi pendidikan S1 2. Tidak memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga yang ditetapkan pemerintah 3. Memiliki masa kerja 21 tahun 4. Tidak memiliki SK pengangkatan sebagai kepala administrasi 5. Terdapat pelaksana urusan 79

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG


6. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi akademik minimal SMA 7. Terdapat petugas layanan khusus: penjaga sekolah,tukang kebun,tenaga kebersihan, pengemudi dan pesuruh. administrasi kepegawaian, bendahara, persuratan dan pengarsipan, kesiswaan, meskipun penamaan yang berbeda 6. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi akademik SMA dan 1 orang S 1 7. Terdapat petugas layanan khusus: penjaga sekolah, ,tenaga kebersihan, dan pesuruh, satuan pengamanan D. TENAGA LABORATORIUM 1. Kualifikasi akademik kepala lab. IPA Fisika, Biologi, Bahasa dan Komputer sudah S1 2. Sesuai latar belakang pendidikan masing-masing 3. Memiliki masa kerja minimal 4 tahun jalur guru 4. Tidak memiliki sertifikat kepala lab. dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan

GAP/MASALAH SMKN 2 KARAWANG


administrasi kepegawaian, bendahara, persuratan dan pengarsipan, kesiswaan, meskipun penamaan yang berbeda 6. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi akademik SMA dan 1 orang S 1 7. Terdapat petugas layanan khusus: penjaga sekolah, tenaga kebersihan, dan pesuruh

ALTERNATIF SOLUSI

D. TENAGA LAB. ( Permen. 26 Th 2008) 1. Kualifikasi akademik kepala lab.IPA minimal S 1/D IV jalur pendidik, dan D III jalur teknisi 2. Kualifikasi akademik kepala lab.komputer minimal S 1/D IV jalur pendidik, dan D III jalu teknisi 3. Sesuai latar belakang pendidikan (berijasah/bersertifikat ) 4. Memiliki masa kerja 3 tahun jalur guru dan 5 tahun jalur laboran teknisi 5. Memiliki sertifikat kepala

D. TENAGA LABORATORIUM 1. Kualifikasi akademik kepala lab. IPA Fisika, Biologi, Bahasa dan Komputer sudah S1 2. Sesuai latar belakang pendidikan masing-masing 3. Memiliki masa kerja minimal 4 tahun jalur guru 4. Tidak memiliki sertifikat kepala lab. dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan 80

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG


lab.dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan pemerintah. 6. Kualifikasi teknisi lab.IPA, computer minimal D II 7. Kualifikasi akademik laboran IPA, computer minimal D I 8. Memiliki sertifikat laboran IPA, komputer E. TENAGA PERPUSTAKAAN (P.25 th 2008 ) 1. Kualifikasi akademik kepala perpustakaan minimal S 1/D IV jalur pendidik, dan D II jalur teknisi 2. Memiliki masa kerja 3 tahun jalur guru dan 4 tahun jalur tenaga kependidikan 3. Memiliki sertifikat pengelola perpustakaan.dari lembaga yang ditetapkan pemerintah. 4. Sesuai latar belakang pendidikan (berijasah/bersertifikat ) 5. Memiliki tenaga perpustakaan minimal 1 orang pemerintah. 5. Teknisi komputer merangkap guru TIK 6. Tidak memiliki sertifikat kepala lab.dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan pemerintah. 7. Kualifikasi akademik laboran IPA, SMA 8. Tidak memiliki sertifikat laboran IPA, komputer E. TENAGA PERPUSTAKAAN 1. Kualifikasi akademik kepala perpustakaan S 1 2. Memiliki masa kerja 7 tahun jalur guru 3. Tidak memiliki sertifikat pengelola perpustakaan dari lembaga yang ditetapkan pemerintah. 4. Latar belakang pendidikan (jurusan Bahasa Indonesia ) 5. Memiliki tenaga perpustakaan 3 orang

GAP/MASALAH SMKN 2 KARAWANG


pemerintah. 5. Teknisi komputer merangkap guru TIK 6. Tidak memiliki sertifikat kepala lab.dari perguruan tinggi atau lembaga lain yang ditetapkan pemerintah. 7. Kualifikasi akademik laboran IPA, SMA 8. Tidak memiliki sertifikat laboran IPA, komputer E. TENAGA PERPUSTAKAAN 1. Kualifikasi akademik kepala perpustakaan S 1 2. Memiliki masa kerja 7 tahun jalur guru 3. Tidak memiliki sertifikat pengelola perpustakaan dari lembaga yang ditetapkan pemerintah. 4. Latar belakang pendidikan (jurusan Bahasa Indonesia ) 5. Memiliki tenaga perpustakaan 3 orang

ALTERNATIF SOLUSI

81

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG


6. Kualifikasi akademik SMA/ sertifikat pengelola perpustakaan F. GURU KONSELOR ( P.27 Th 2008) 1. Memiliki kualifikasi akademik S 1 2. Sesuai dengan latar belakang pendidikannya 6. Kualifikasi akademik SMA/ tidak memiliki sertifikat pengelola perpustakaan

GAP/MASALAH SMKN 2 KARAWANG


6. Kualifikasi akademik SMA/ tidak memiliki sertifikat pengelola perpustakaan F. GURU KONSELOR ( P.27 Th 2008) 1. Memiliki kualifikasi akademik S 1 2. Latar belakang pendidikan (Bimbingan Konseling )

ALTERNATIF SOLUSI

F. GURU KONSELOR ( P.27 Th 2008) 1. Memiliki kualifikasi akademik S 1 2. Latar belakang pendidikan (Bimbingan Konseling )

82

2.

Kajian Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan pendidik dan tenaga

kependidikan kemudian mengkaji pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan sekolah tempat magang, penulis mengetahui keadaan guru dan pegawai, kualifikasi pendidikan, serta memahami pengaturan pembagian tugasnya masing-masing. Penulis juga memahami kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan setelah mempelajari permendiknas-permendiknas terkait. Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sekolah magang sebaiknya dapat diidentifikasi dan petakan oleh kepala sekolah untuk menjadi pertimbangan dalam pembagian tugas dan pembinaannya secara berkelanjutan. Untuk itu sebagai calon kepala sekolah, penulis berharap ada penilaian atau uji kompetensi bagi guru-guru untuk mengetahui tingkat kompetensinya. Permasalahan yang ada di SMKN 1 Karawang bahwa Kepala Tenaga Administrasi Sekolah di Jabat oleh seorang guru dan tidak memiliki sertifikat Kepala Administrasi, begitu juga kepala Lab tidak memiliki sertifikat kepala lab, dan Kepala Perpustakaan tidak memiliki sertifikat pengelola perpustakaan dari lembaga yang ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan permasalahan yang ada di SMKN 2 Karawang masih terdapat guru yang mengajar kurang dari 24 jam. Dan masih terdapat guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Sedangkan untuk guru bimbingan konseling bukan latar belakang dari kualifikasi akademik bimbingan konseling, begitu juga masih terdapat tenaga administrasi sekolah yang berijazah SMP dan SD.

83

Tabel 3.3 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : PENGELOLAAN PESERTA DIDIK KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG 1. Terdapat perencanaan penerimaan peserta didik 2. Terdapat proses penerimaan peserta didik yang meliputi: a. Pembentukan panitia PPDB b. Rapat kerja dan pembagian tugas c. Proses pendaftaran d. Proses Seleksi e. Proses penentuan calon terpilih f. Proses daftar ulang 3. Melakukan orientasi peserta didik yang bersifat akademik 4. Mengatur kehadiran dan ketidakhadiran 1. Terdapat perencanaan penerimaan peserta didik 2. Terdapat proses penerimaan peserta didik yang meliputi: a. Pembentukan panitia PPDB b. Rapat kerja dan pembagian tugas c. Proses pendaftaran d. Proses Seleksi e. Proses penentuan calon terpilih f. Proses daftar ulang 3. Melakukan orientasi peserta didik yang bersifat akademik 4. Mengatur kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik SMKN 2 KARAWANG 1. Terdapat perencanaan penerimaan peserta didik 2. Terdapat proses penerimaan peserta didik yang meliputi: a. Pembentukan panitia PPDB b. Rapat kerja dan pembagian tugas c. Proses pendaftaran d. Proses Seleksi e. Proses penentuan calon terpilih f. Proses daftar ulang 3. Melakukan orientasi peserta didik yang bersifat akademik 4. Mengatur kehadiran dan ketidakhadiran 1. Perencanaan jumlah peserta didik belum sesuai dengan SPM, bahkan tahun ini jumlah peserta didik 40 siswa per kelas. 2. Proses seleksi belum dilaksanakan secara terbuka dan transparan. 3. Pelacakan terhadap alumni belum maksimal karena terkendala GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI 1. Hendaknya perencanaan PPDB merujuk pada SPM pendidikan dasar dengan jumlah peserta didik maksimal 36 siswa per kelas 2. Hendaknya proses seleksi dari tahap awal sampai akhir dilaksanakan secara terbuka/transpar an 3. Mulai tahun 2013/2014
84

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG peserta didik 5. Mengatur evaluasi peserta didik 6. Mengatur kenaikan kelas, mutasi dan drop out 7. Mengatur kode etik dan peningkatan disiplin peserta didik 8. Mengatur layanan bimbingan dan konseling peserta didik 9. Mengatur organisasi peserta didik yang meliputi OSIS 10. Melaksanakan kegiatan ekstra dan kokurikuler untuk peserta didik 11. Melakukan pembinaan prestasi unggulan. 12. Melakukan Pembinaan dan 5. Mengatur evaluasi peserta didik 6. Mengatur kenaikan kelas, mutasi dan drop out 7. Mengatur kode etik dan peningkatan disiplin peserta didik 8. Mengatur layanan bimbingan dan konseling peserta didik 9. Mengatur organisasi peserta didik yang meliputi OSIS 10. Melaksanakan kegiatan ekstra dan kokurikuler untuk peserta didik 11. Melakukan pembinaan prestasi unggulan. 12. Melakukan Pembinaan dan pengembangan peserta didik berupa: a. Pengembangan bakat, minat, kreatifitas, dan kemampuan b. Tidak memiliki SMKN 2 KARAWANG peserta didik 5. Mengatur evaluasi peserta didik 6. Mengatur kenaikan kelas, mutasi dan drop out 7. Mengatur kode etik dan peningkatan disiplin peserta didik 8. Mengatur layanan bimbingan dan konseling peserta didik 9. Mengatur organisasi peserta didik yang meliputi OSIS 10. Melaksanakan kegiatan ekstra dan kokurikuler untuk peserta didik 11. Melakukan pembinaan prestasi unggulan. 12. Melakukan Pembinaan dan pengembangan peserta didik berupa: a. Pengembangan GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI PPDB dilaksanakan secara online dan transparan. 4. Hendaknya melakukan pelacakan terhadap alumni secara terprogram baik melalui kesiswaan maupun melalui BKK

85

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG pengembangan perangkat pemantau peserta didik berupa: bakat, minat, kreatifitas, a. Pengembangan dan kemampuan peserta bakat, minat, didik kreatifitas, dan c. Belum ada penuangan kemampuan wahana kreatifitas b. Penyiapan d. Mewadahi/menyalurkan perangkat bakat, minat, dan pemantau bakat, kreatifitas siswa minat, kreatifitas, e. Melaksanakan dan kemampuan pemantauan kemampuan peserta didik siswa c. Menyelenggaraka 13. Melakukan pelacakan n penuangan terhadap alumni wahana kreatifitas d. Mewadahi/menyal urkan bakat, minat, dan kreatifitas siswa e. Melaksanakan pemantauan kemampuan siswa 13. Melakukan pelacakan terhadap alumni SMKN 2 KARAWANG bakat, minat, kreatifitas, dan kemampuan b. Belum memiliki perangkat pemantau bakat, minat, kreatifitas, dan kemampuan peserta didik c. Belum ada penuangan wahana kreatifitas d. Mewadahi/menyalur kan bakat, minat, dan kreatifitas siswa e. Melaksanakan pemantauan kemampuan siswa 13. Melakukan pelacakan terhadap alumni GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

86

3. Kajian Sarana dan Prasarana Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan sarana dan prasarana sekolah kemudian mengkaji pengelolaan sarana dan prasarana sekolah tempat magang, penulis mengetahui sumber daya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah magang. Penulis juga mendapat pemahaman tentang perencanaan pengadaan, pemanfaatan, pemeliharaan,pengadministrasian berupa buku golongan induk barang, buku barang inventaris dan catatan barang noninventaris, begitu juga program penghapusan sarana prasarana. Pada umumnya baik di SMKN 1 Karawang maupun di SMKN 2 Karawang sarana prasaranya sudah cukup lengkap dan memenuhi SPM/SMP sesuai peraturan menteri pendidikan nasional nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana prasarana dan peraturan menteri pendidikan nasional no 40 tahun 2008 tentang standar sarana prasarana SMK. Namun permasalahan yang ada di SMKN 1 Karawang masih ada beberapa sarana ruangan yang belum mencapai SPM namun ada diantaranya sarana ruang Praktek Program TKJ dan sarana ruang praktek Program RPL, begitu juga sarana ruang lab fisika dan lab kimia belum sesuai SPM. Sedangkan permasalahan yang ada di SMKN 2 Karawang yaitu masih kekurang jamban baik untuk guru maupun untuk peserta didik.

87

Tabel 3.4 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : Pengelolaan Peserta Didik KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG 2. Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik SMKN 2 KARAWANG 1. Sekola menyusun program 1. Sekola menyusun program penilaian hasil belajar yang penilaian hasil belajar yang berkeadilan, bertanggung berkeadilan, bertanggung jawab dan berkesinambungan jawab dan berkesinambungan 2. Penyusunan program 2. Penyusunan program penilaian hasil belajar penilaian hasil belajar didasarkan pada Standar didasarkan pada Standar Penilaian Pendidikan Penilaian Pendidikan 3. Sekolah menilai hasil belajar 3. Sekolah menilai hasil belajar untuk seluruh kelompok mata untuk seluruh kelompok mata pelajaran, dan membuat pelajaran, dan membuat catatan keseluruhan, untuk catatan keseluruhan, untuk menjadi bahan program menjadi bahan program remedial, klarifikasi capaian remedial, klarifikasi capaian ketuntasan yang ketuntasan yang direncanakan, laporan kepada direncanakan, laporan kepada pihak yang memerlukan, pihak yang memerlukan, pertimbangan kenaikan kelas pertimbangan kenaikan kelas atau kelulusan, dan atau kelulusan, dan dokumentasi dokumentasi
88

GAP MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

4. Seluruh program penilaian hasil belajar disosialisasikan kepada guru 5. Program penilaian hasil belajar perlu ditinjau secara periodik, berdasarkan data kendala pelaksanaan program termasuk temuan penguji eksternal dalam rangka mendapatkan rencana penilaian yang lebih adil dan bertanggung jawab 6. Sekolah menetapkan prosedur yang mengatur transparansi sistem evaluasi hasil belajar untuk penilaian formal yang berkelanjutan 7. Semua guru mengembalikan hasil kerja siswa yang telah dinilai 8. Sekolah menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional yang mengatur mekanisme penyampaian ketidakpuasan peserta didik dan penyelesaiannya mengenai penilaian hasil belajar 9. Penilaian meliputi semua kompetensi dan materi yang

4. Seluruh program penilaian hasil belajar disosialisasikan kepada guru 5. Program penilaian hasil belajar perlu ditinjau secara periodik, berdasarkan data kendala pelaksanaan program termasuk temuan penguji eksternal dalam rangka mendapatkan rencana penilaian yang lebih adil dan bertanggung jawab 6. Sekolah menetapkan prosedur yang mengatur transparansi sistem evaluasi hasil belajar untuk penilaian formal yang berkelanjutan 7. Semua guru mengembalikan hasil kerja siswa yang telah dinilai 8. Sekolah menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional yang mengatur mekanisme penyampaian ketidakpuasan peserta didik dan penyelesaiannya mengenai penilaian hasil belajar 9. Penilaian meliputi semua kompetensi dan materi yang
89

diajarkan diajarkan 10. Menyiapkan seperangkat 10. Menyiapkan seperangkat metode penilaian dan metode penilaian dan digunakan secara terencana digunakan secara terencana untuk tujuan diagnostik, untuk tujuan diagnostik, formatif dan sumatif, sesuai formatif dan sumatif, sesuai dengan metode/strategi dengan metode/strategi pembelajaran yang digunakan pembelajaran yang digunakan 11. Sekolah menyusun ketentuan 11. Sekolah menyusun ketentuan pelaksanaan penilaian hasil pelaksanaan penilaian hasil belajar sesuai dengan Standar belajar sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan Penilaian Pendidikan 12. Kemajuan yang dicapai oleh 12. Kemajuan yang dicapai oleh peserta didik dipantau, peserta didik dipantau, didokumentasikan secara sistematis, dan digunakan sebagai balikan kepada peserta didik untuk perbaikan secara berkala 13. Penilaian yang didokumentasikan disertai bukti kesahihan, keandalan, dan dievaluasi secara periodik untuk perbaikan metode penilaian 14. Sekolah melaporkan hasil belajar kepada orang tua peserta didik, komite sekolah, dan institusi di atasnya
90

4. Kajian Pengelolaahn Peserta Didik Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan peserta didik kemudian mengkaji pengelolaan peserta didik sekolah tempat magang, penulis memiliki pemahaman tentang perencanaan dan penerimaan peserta didik baru. Penulis juga mendapat informasi dan pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan pengembangan diri siswa yang dikembangkan berdasarkan bakat, minat, kreativitas dan kemampuan siswa. Untuk mengembangkan penguasaan kompetensi dalam pengelolaan peserta didik, penulis akan lebih banyak membaca bahan-bahan pembelajaran terkait pengelolaan peserta didik dari berbagai sumber. Kebijakan pemerintah Kabupaten Karawang untuk tahun pelajaran 2013 / 2014 bahwa jumlah peserta didik perrombel ditetapkan sebanyak 40 siswa per rombel, baik di SMKN 1 Karawag maupun di SMKN 2 Karawang mengikuti kebijakan pemerintah kabupaten tersebut. Hal ini sesuai dengan SPM/SMP karena seharusnya jumlah peserta didik itu 32 per rombel. Pada tahun ini baik SMKN1 Karawang dan SMKN 2 Karawang menyelenggarakan PPDB secara online, selain itu, adanya fakta integritas yang ditandatangani oleh MUSPIDA Karawang, para Kepala Sekolah dan panitia PPDB. Hal ini dilakukan sebagai komitmen agar penyelenggaraan PPDB lebih berkualitas dan menghasilkan bibit bibit unggul. Pelacakan alumni dilakukan melalui seksi kegiatan alumni dan penelusuran melalui BKK tetapi hal ini belum maksimal karena masih terkendala beberapa hal.

91

Tabel 3.5 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : Pengelolaan Kurikulum
KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG GAP MASALAH ALTERNATIF SOLUSI

1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP ) Pembentukan Tim Pengembangan Kurikulum. Penyusunan Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) - Penysunan Dokumen 1 - Penyusunan Draft Dokumen 2 - Revisi Draft Dokumen 1 dan 2 - Revisi dan

1. Sekolah menyusun KTSP 2. Penyusunan KTSP memperhatikan Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya. 3. SP dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah, potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya

1. Sekolah menyusun KTSP 2. Penyusunan KTSP memperhatikan Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya. 3. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah, potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. 4. Kepala Sekolah bertanggungjawab atas tersusunnya KTSP. 5. Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum bertanggungjawab atas pelaksanaan penyusunan KTSP. 6. Setiap guru bertanggungjawab menyusun silabus setiap mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, dan Panduan Penyusunan KTSP. 7. Dalam penyusunan silabus, guru bekerjasama dengan Musyawarah Guru Mata

1. Tim Pengembanga n Kurikulum di sekolah dan di kabupaten belum diberdayakan secara maksimal. 2. Tim pengembang Kurikulum baik di SMKN1 Karawang baik di SMKN 2 Karawang belum

1. Pemberdayaan TPK di sekolah dan kabupaten agar ditingkatkan

92

finalisai Pelaksanaan KTSP

masyarakat setempat, dan peserta didik. 4. kepala Sekolah bertanggungjaw ab atas tersusunnya KTSP. 5. wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum bertanggungjaw ab atas pelaksanaan penyusunan KTSP. 6. setiap guru bertanggungjaw ab menyusun silabus setiap mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, dan Panduan Penyusunan

Pelajaran (MGMP) dan industri 8. Penyusunan KTSP dikoordinasi, disupervisi, dan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi.

bekerja secara maksimal

93

KTSP. 7. Dalam penyusunan silabus, guru bekerjasama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Industri 8. Penyusunan KTSP dikoordinasi, disupervisi, dan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi.

94

5. Kajian Pengelolaan Kurikulum Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan kurikulum kemudian mengkaji pengelolaan kurikulum sekolah tempat magang, penulis lebih mengerti tentang pengelolaan kurikulum sekolah, proses penyusunan kurikulum, bentukbentuk silabus dan RPP. Penulis merasa belum sepenuhnya mampu menyusun silabus dan RPP yang memuat nilai-nilai karakter bangsa sesuai dengan SK dan KD yang dikembangkan. Untuk memaksimalkan kompetensi pengelolaan kurikulum sekolah, termasuk penyusunan silabus dan RPP yang memuat nilai-nilai karakter, penulis akan lebih banyak belajar dan berusaha selalu terlibat secara langsung dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah. Berdasarkan kajian pengelolaan kurikulum, pada umumnya kondisi ideal baik di SMKN 1 Karawang maupun di SMKN 2 Karawang sudah mencapai SPM dan SNP. Artinya sudah sesuai dengan yang dipersyaratkan. Yang menjadi permasalahan adalah tidak berfungsinya Tim Pengembang Kurikulum (TPK) baik yang ada di sekolah maupun TPK kabupaten. Oleh karena itu, perlu pemberdayaan TPK di sekolah maupun di kabupaten secara maksimal.

95

Tabel 3.6 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : PENGELOLAAN KEUANGAN SEKOLAH KONDISI IDEAL A. Dana BOS (Buku Panduan BOS Thn 2010) 1. Dijadikan sebagi sumber utama keuangan sekolah dalam RKAS 2. Dapat digunakan untuk membiayai: a) Seluruh kegiatan dalam rangka PSB. b) Pembelian buku referensi dan pengayaan untuk koleksi perpustakaan. c) Pembelian buku teks lainnya (selain yang wajib untuk koleksi perpustakaan) d) Pembiayaan kegiatan pembelajaran KONDISI NYATA SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG A. Dana BOS A. Dana BOS 1. Dijadikan sebagi 1. Dijadikan sebagi sumber utama sumber utama keuangan sekolah keuangan sekolah dalam RKAS dalam RKAS 2. Pembiayaan: 2. Pembiayaan: a) Seluruh kegiatan a) Seluruh kegiatan dalam rangka PSB dalam rangka PSB b) Pembelian buku b) Pembelian buku referensi dan referensi dan pengayaan untuk pengayaan untuk koleksi koleksi perpustakaan. perpustakaan. c) Pembelian buku teks c) Pembelian buku lainnya (selain yang teks lainnya (selain wajib untuk koleksi yang wajib untuk perpustakaan) koleksi d) Kegiatan perpustakaan) pembelajaran d) Kegiatan remedial, pembelajaran pengayaan, remedial, ALTERNATIF SOLUSI 1. Menyarankan mencari sumber keuangan lain, misalnya: dana donatur dari alumni yang sudah sukses, sumbangan pendidikan dari orang tua yang mampu. Pengelolaan kantin sekolah yang professional Pengelolaan kursus sekolah di sore hari 2. Menyarankan adanya pengadaan 1 set komputer setiap semester

GAP/MASALAH

96

KONDISI IDEAL remedial, pengayaan, persiapan ujian, olahraga, pramuka dll. Pembiayaan UH, ulangan umum, ujian sekolah dan penyusunan LHBS Pembelian bahan habis pakai Pembiayaan langganan daya dan jasa Pembiayaan perawatan sekolah Pembiayaan honorarium bulanan guru dan tenaga kependidikan honorer Pengembangan profesi guru Bantuan transport siswa miskin Pengelolaan BOS Pembelian

e)

f) g)

h) i)

j) k) l) m)

KONDISI NYATA SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG persiapan ujian, pengayaan, olahraga, pramuka persiapan ujian, dll. olahraga, pramuka e) Tidak ada dll. pembiayaan UH e) Tidak ada f) Ulangan umum, pembiayaan UH ujian sekolah dan f) Ulangan umum, LHBS ujian sekolah dan g) Pembelian bahan LHBS habis pakai g) Pembelian bahan h) Langganan daya dan habis pakai jasa h) Langganan daya i) Perawatan ringan dan jasa sekolah i) Perawatan ringan j) Pembayaraa sekolah honorarium bulanan j) Pembayaraa guru dan tenaga honorarium kependidikan bulanan guru dan honorer tenaga k) Pengembangan kependidikan profesi guru honorer l) Bantuan transport k) Pengembangan siswa miskin profesi guru m) Pengelolaan dana l) Bantuan transport BOS siswa miskin n) Tidak membeli m) Pengelolaan dana

GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

97

KONDISI IDEAL maksimum 2 set komputer desktop n) Bila point di atas terpenuhi dan masih terdapat sisa dana dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran, mebeler sekolah dan peralatan UKS 3. Laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah harus memiliki: a) RAPBS b) Bukti fisik pengeluaran c) Buku kas umum dan buku pembantu B. DANA PENDIDIKAN GRATIS (Pergub. Sul-Sel. No.9 thn 2010) 1. Menjadi sumber penerimaan keuangan sekolah

KONDISI NYATA SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG komputer/ desktop BOS o) Tidak terdapat sisa n) Tidak membeli dana yang dapat komputer/ desktop digunakan untuk o) Tidak terdapat sisa membeli alat peraga, dana yang dapat media pembelajaran, digunakan untuk mebeler sekolah dan membeli alat peralatan UKS peraga, media 3. Laporan pembelajaran, pertanggungjawaban mebeler sekolah keuangan sekolah dan peralatan UKS memiliki: 3. Laporan a) RAPBS pertanggungjawaban b) Bukti fisik keuangan sekolah pengeluaran memiliki: c) Buku kas umum a) RAPBS dan buku b) Bukti fisik pembantu pengeluaran c) Buku kas umum B. DANA PENDIDIKAN dan buku GRATIS pembantu 1. Menjadi salah satu sumber penerimaan keuangan sekolah B. DANA 2. Pembiayaaan: PENDIDIKAN a) Sebagian kegiatan PSB GRATIS b) Pembelian buku teks 1. Menjadi salah satu

GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

98

KONDISI IDEAL 2. Dapat digunakan untuk membiayai : a) Seluruh kegiatan dalam rangka PSB b) Pembelian buku teks pelajaran selain yang telah dibeli dari dana BOS dan BOS buku) dan untuk koleksi di perpustakaan. c) Pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, pengayaan, persiapan ujian, olahraga, pramuka dll. d) Pembiayaan UH, ulangan umum, ujian sekolah dan LHBS e) Pembelian bahan habis pakai f) Pembiayaan langganan daya dan jasa g) Pembiayaan perawatan sekolah h) Insentif pendidik dan

KONDISI NYATA SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG pelajaran selain yang sumber penerimaan telah dibeli dari dana keuangan sekolah BOS dan BOS buku) 2. Pembiayaaan: dan untuk koleksi di a) Sebagian kegiatan perpustakaan. PSB c) Tida ada pembiayaan b) Pembelian buku kegiatan pembelajaran teks pelajaran remedial, pengayaan, selain yang telah persiapan ujian, dibeli dari dana olahraga, pramuka, BOS dan BOS yang dipakai adalah buku) dan untuk dana BOS koleksi di d) Tidak ada pembiayaan perpustakaan. UH, ulangan umum, c) Tida ada ujian sekolah dan pembiayaan LHBS kegiatan e) Sebagian pembelian pembelajaran bahan habis pakai remedial, f) Sebagian pembiayaan pengayaan, langganan daya dan persiapan ujian, jasa olahraga, pramuka, g) Sebagian untuk yang dipakai pembiayaan perawatan adalah dana BOS sekolah d) Tidak ada h) Insentif pendidik dan pembiayaan UH, tenaga kependidikan ulangan umum,

GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

99

KONDISI IDEAL tenaga kependidikan lainnya i) Pengembangan profesi guru j) Bantuan transport siswa miskin k) Pembelian buku, pensil, pulpen, baju seragam, baju olahraga dll bagi siswa miskin l) Pembiayaan pengelolaan dana pendidikan gratis C. Membuat laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah

KONDISI NYATA SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG lainnya ujian sekolah dan i) Tidak digunakan untuk LHBS pengembangan profesi e) Sebagian guru pembelian bahan j) Bantuan transport siswa habis pakai miskin f) Sebagian k) Tidak digunanakan pembiayaan untuk pembelian buku, langganan daya dan pensil, pulpen, baju jasa seragam, baju olahraga g) Sebagian untuk dll bagi siswa miskin pembiayaan l) Pembiayaan perawatan sekolah pengelolaan pend. h) Insentif pendidik gratis dan tenaga C. Ada laporan kependidikan pertanggungjawaban lainnya keuangan sekolah. i) Tidak digunakan untuk pengembangan profesi guru j) Bantuan transport siswa miskin k) Tidak digunanakan untuk pembelian buku, pensil, pulpen, baju

GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

100

KONDISI IDEAL

KONDISI NYATA SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG seragam, baju olahraga dll bagi siswa miskin l) Pembiayaan pengelolaan pend. gratis C. Ada laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah.

GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

101

6. Kajian Pengelolaan Keuangan Setelah mempelajari bahan pembelajaran pengelolaan keuangan sekolah kemudian mengkaji pengelolaan keuangan sekolah tempat magang, penulis dapat mengetahui sumber-sumber keuangan sekolah serta dapat memahami penentuan alokasi pembiayaan sekolah. Kompetensi yang belum penulis kuasai adalah pengetahuan tentang bentuk laporan pertanggung-jawaban penggunaan keuangan sekolah. Untuk memaksimalkan penguasaan tentang pengelolaan keuangan sekolah secara keseluruhan, penulis berharap dapat mempelajari contoh laporan pertanggungjawaban keuangan suatu sekolah. Permasalahan yang terjadi baik di SMKN 1 Karawang maupun di SMKN 2 Karawang adalah sering terlambatnya kucuran dana bantuan dari pemerintah Kabupaten Karawang berupa BOPF ( Bantuan Operational Perbaikan Fasilitas) sehingga berpengaruh terhadap lambatnya pembayaran honor guru terutama bagi guru GTT ( Guru Tidak Tetap). Sementara kebijakan pemerintah Kabupaten Karawang bahwa untuk sekolah negeri tidak boleh memungut bayaran dari masyarakat sehingga sekolah merasa kesulitan didalam melakukan pengelolaan keuangan karena terbatasnya anggaran.

102

Tabel 3.7 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : PEMANFAATAN TIK DALAM PEMBELAJARAN KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG A. TELEVISI A. TELEVISI a) Guru dan siswa a) Guru dan siswa menggunakan acara menggunakan acara televisi sebagai salah televisi sebagai salah satu satu sumber atau media sumber atau media pembelajaran, pembelajaran, b) Guru menggunakan b) Guru tidak menggunakan siaran TV Edukasi siaran TV Edukasi dalam dalam pembelajaran pembelajaran c) TV Edukasi dijadikan c) TV Edukasi tidak sebagai salah satu dijadikan sebagai salah sumber belajar di satu sumber belajar di Perpustakaan Perpustakaan B. RADIO B. RADIO a) Guru menjadikan acara a) Guru tidak menjadikan Radio sebagai salah satu acara Radio sebagai salah sumber atau media satu sumber atau media pembelajaran pembelajaran b) Siswa menjadikan acara b) Siswa tidak menjadikan SMKN 2 KARAWANG A. TELEVISI a) Guru dan siswa menggunakan acara televisi sebagai salah satu sumber atau media pembelajaran, b) Guru tidak menggunakan siaran TV Edukasi dalam pembelajaran c) TV Edukasi tidak dijadikan sebagai salah satu sumber belajar di Perpustakaan B. RADIO a) Guru tidak menjadikan acara Radio sebagai salah 1. Pembelajaran melalui internet belum dilakukan secara maksimal karena terkendala fasilitas. 2. Penggunaan TIK dalam pembelajaran secara umum belum dilaksanakan secara maksimal, hanya pada beberapa mata pelajaran tertentu GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI 1. Disarankan setiap sekolah difasilitasi dengan internet/hotspot/wifi. 2. Diharapkan guru dapat memanfaatkan TIK dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

103

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG Radio sebagai salah satu sumber belajar C. TAPE RECORDER a) Guru menggunakan Tape Recorder dalam pembelajaran. D. VCD/DVD PLAYER a) Guru menggunakan VCD/DVD Player dalam pembelajaran di kelas. E. OHP/LCD PROYEKTOR a) Guru menggunakan OHP/LCD Proyektor dalam pembelajaran F. KORAN/MAJALAH a) Guru menggunakan Koran/majalah sebagai sumber atau media pembelajaran G. KOMPUTER/LAPTOP a) Guru menggunakan komputer dalam penyusunan silabus dan RPP acara Radio sebagai salah satu sumber belajar C. TAPE RECORDER a) Guru menggunakan Tape Recorder dalam pembelajaran. D. VCD/DVD PLAYER a) Guru menggunakan VCD/DVD Player dalam pembelajaran di kelas. E. OHP/LCD PROYEKTOR a) Guru menggunakan OHP/LCD Proyektor dalam pembelajaran F. KORAN/MAJALAH a) Guru menggunakan Koran/majalah sebagai sumber atau media pembelajaran G. KOMPUTER/LAPTOP a) Guru menggunakan komputer dalam penyusunan silabus dan RPP b) Guru menggunakan SMKN 2 KARAWANG satu sumber atau media pembelajaran b) Siswa tidak menjadikan acara Radio sebagai salah satu sumber belajar C. TAPE RECORDER a) Guru menggunakan Tape Recorder dalam pembelajaran. D. VCD/DVD PLAYER a) Guru tidak menggunakan VCD/DVD Player dalam pembelajaran di kelas. E. OHP/LCD PROYEKTOR a) Guru menggunakan OHP/LCD Proyektor dalam pembelajaran F. KORAN/MAJALAH a) Guru menggunakan Koran/majalah sebagai sumber atau media GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

104

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG b) Guru menggunakan komputer dalam penyusunan bahan ajar c) Guru menggunakan komputer mengolah hasil belajar siswa d) Guru menggunakan komputer dalam pembelajaran matapelajaran TIK H. INTERNET a) Guru dan siswa menggunakan Internet sebagai salah satu sumber atau media pembelajaran b) Guru menggunakan Internet dalam pembelajaran matapelajaran TIK komputer dalam penyusunan bahan ajar c) Guru menggunakan komputer mengolah hasil belajar siswa d) Guru menggunakan komputer dalam pembelajaran matapelajaran TIK H. INTERNET a) Guru dan siswa menggunakan Internet sebagai salah satu sumber atau media pembelajaran b) Guru menggunakan Internet dalam pembelajaran matapelajaran TIK SMKN 2 KARAWANG pembelajaran G. KOMPUTER/LAPTOP a) Guru menggunakan komputer dalam penyusunan silabus dan RPP b) Guru menggunakan komputer dalam penyusunan bahan ajar c) Guru menggunakan komputer mengolah hasil belajar siswa d) Guru tidak menggunakan komputer dalam pembelajaran matapelajaran TIK H. INTERNET a) Guru dan siswa menggunakan Internet sebagai salah satu sumber atau media pembelajaran b) Guru tidak menggunakan Internet GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

105

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL SMKN 1 KARAWANG SMKN 2 KARAWANG dalam pembelajaran matapelajaran TIK GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

106

7. Kajian Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Setelah mempelajari bahan pembelajaran TIK dalam pembelajaran kemudian mengkaji pemanfaatn TIK dalam pembelajaran sekolah tempat magang, penulis mendapat informasi tentang sumber daya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah yang masuk dalam ketegori TIK serta mendapat gambaran kompetensi pendidik (guru) dalam penguasaan TIK terutama komputer. Permasalahan ada baik di SMKN 1 Karawang maupun di SMKN 2 Karawang penggunaan TIK dalam pembelajaran belum dilaksanakan secara maksimal karena terkendala oleh fasilitas perangkat TIK yang belum dapat memenuhi kebutuhan semua guru. Namun ada beberapa orang guru yang menggunakan TIK dalam proses pembelajaran.

107

Tabel 3.8 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : PEMBINAAN TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH (TAS) KONDISI NYATA KONDISI IDEAL A. Kepala TAS SMK 1. Kualifikasi pendidikan minimal Diploma tiga (D3) 2. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga yang ditetapkan pemerintah 3. Memiliki masa kerja minimal 4 tahun 4. Memiliki SK pengangkatan sebagai kepala administrasi 5. Memiliki kompetensi kepribadian, sosial, teknis dan manajerial. B. Pelaksana urusan 1. Terdapat pelaksana urusan administrasi kepegawaian, keuangan, SMKN 1 KARAWANG A. Kepala TAS
1. Kualifikasi pendidikan S1 2. Tidak memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga yang ditetapkan pemerintah 3. Memiliki masa kerja 25 tahun 4. Tidak memiliki SK pengangkatan sebagai kepala administrasi 5. Memiliki kompetensi

SMKN 2 KARAWANG A. Kepala TAS


1. Kualifikasi pendidikan S1 2. Tidak memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi dari lembaga yang ditetapkan pemerintah 3. Memiliki masa kerja 25 tahun 4. Tidak memiliki SK pengangkatan sebagai kepala administrasi 5. Memiliki kompetensi kepribadian, sosial,

GAP/MASALAH
1. Belum adanya budaya reward and punishment. 2. Peran tenaga kebersihan belum maksimal 3. Kegiatan kebersihan yang dilakukan warga sekolah belum terlaksana. 4. Masih ada TAS yang pendidikannya belum sesuai dengan yang dipersyaratkan

ALTERNATIF SOLUSI
1. Agar dibudayakan pemberian sanksi dan penghargaan berdasarkan kompetensi yang dimiliki. 2. Agar ditingkatkan tenaga kebersihan sekolah. 3. Mengupayakan adanya gerakan JUMSIH atau Jumat Bersih. 4. Mengupayakan TAS yang sesuai dengan persyaratan pendidikannya.

kepribadian, sosial, teknis dan manajerial

teknis dan manajerial

B. Pelaksana urusan 1. Sudah membagi tugas menjadi pelaksana urusan administrasi

B. Pelaksana urusan 1. Sudah membagi tugas menjadi pelaksana urusan administrasi

108

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL sarpras, humas, persuratan dan pengarsipan, kesiswaan, dan kurikulum. 2. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi akademik minimal SMA/MA/SMK 3. Memiliki kompetensi kepribadian, sosial, dan teknis. SMKN 1 KARAWANG kepegawaian, keuangan, sarpras, humas, persuratan dan pengarsipan, kesiswaan, dan kurikulum. 2. Pelaksana urusan
memiliki kualifikasi akademik SMA dan S1 3. Memiliki kompetensi

SMKN 2 KARAWANG kepegawaian, keuangan, sarpras, humas, persuratan dan pengarsipan, kesiswaan, dan kurikulum. 2. Pelaksana urusan memiliki kualifikasi akademik SMA 3. Memiliki kompetensi kepribadian, sosial, dan teknis.

GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

kepribadian, sosial, dan teknis.

C. Petugas layanan khusus C. Petugas layanan khusus C. Petugas layanan khusus 1. Memiliki penjaga 1. Tidak memiliki penjaga 1. Memiliki penjaga sekolah sekolah sekolah 2. Memiliki tukang kebun 2. Tidak memiliki tukang 2. Tidak memiliki tukang 3. Memiliki tenaga kebun kebun kebersihan 3. Memiliki tenaga 3. Memiliki tenaga 4. Memiliki pengemudi kebersihan kebersihan 5. Memiliki pesuruh 4. Tidak memiliki 4. Tidak memiliki 6. Kualifikasi pendidikan pengemudi pengemudi minimal SMK 5. Memiliki pesuruh 5. Memiliki pesuruh 6. Memenuhi kualifikasi pendidikan minimal SMK

109

8. Kajian Pembinaan Tenaga Administrasi Sekolah (TAS) Setelah mempelajari bahan pembelajaran pembinaan tenaga administrasi sekolah, permendiknas nomor 24 tahun 2008 kemudian mengkaji pembinaan TAS tempat magang, penulis mendapat pengetahuan tentang kompetensi TAS yang harus dibina oleh kepala sekolah. Penulis juga memperoleh pengetahuan tentang model-model pembinaan TAS. Baik SMKN 1 Karawang maupun SMKN 2 Karawang belum

memberlakukan budaya reward and punishment padahal ini merupakan budaya yang baik untuk membina SDM dalam meningkatkan kinerjanya dan masih ada tenaga administrasi sekolah yang pendidikannya belum sesuai dengan persyaratkan. Untuk meningkatkan budaya hidup bersih Perlu di budayakan adanya kegiatan budaya JUMSIH di sekolah tetapi be;lum dilakukan secara maksimal dan tidak dilakukan secara rutin.

110

Tabel 3.9 MATRIKS KAJIAN 9 ASPEK MANAJERIAL BAHAN KAJIAN : MONITORING DAN EVALUASI KONDISI NYATA KONDISI IDEAL Kegiatan MonEv dilakukan melalui tahap: A. PERSIAPAN meliputi kegiatan:
1. Menetapkan tujuan MonEv. 2. Membagi tugas dan tanggung jawab tim MonEv, serta sumber daya yang tersedia. 3. Mengidentifikasi dan mengembangkan instrumen/alat MonEv yang dibutuhkan. 4. Berlatih menggunakan instrumen/ alat MonEv. 5. Menyusun rencana kegiatan MonEv

SMKN 1 KARAWANG Persiapan kegiatan MonEv:


1. Menetapkan tujuan MonEv 2. Membagi tugas dan tanggung jawab tim MonEv, serta sumber daya yang tersedia. 3. Mengidentifikasi dan mengembangkan instrumen/alat MonEv yang dibutuhkan. 4. Berlatih menggunakan instrumen/ alat MonEv. 5. Menyusun rencana kegiatan MonEv

SMKN 2 KARAWANG Persiapan MonEv: kegiatan

GAP/MASALAH
1. Kegiatan MonEv belum disosialisasikan kepada semua warga sekolah. 2. Pendokumentasian kegiatan MonEv belum dilakukakan secara maksimal. 3. Pendokumentasian kegiatan MonEv belum terpusat pada satu tempat.

ALTERNATIF SOLUSI
Menyarankan untuk selalu melakukan monitoring dan evaluasi programprogram atau kebijakan sekolah berdasarkan prinsipprinsip monev untuk mengetahui keberhasilan atau efektivitas program.

B. PELAKSANAAN MONEV
meliputi kegiatan: 1. Mengorganisasikan penggunaan intrumen/alat MonEv .

Pelaksanaan MonEv:

Kegiatan

1. Menetapkan tujuan MonEv 2. Membagi tugas dan tanggung jawab tim MonEv, serta sumber daya yang tersedia. 3. Mengidentifikasi dan mengembangkan instrumen/alat MonEv yang dibutuhkan. 4. Berlatih menggunakan instrumen/ alat MonEv. 5. Menyusun rencana kegiatan MonEv.

1. Dilakukan tanpa melalui mekanisme tahapan persiapan, pelaksanaan dan

Pelaksanaan MonEv:

Kegiatan

1. Dilakukan tanpa melalui

111

KONDISI NYATA KONDISI IDEAL


2. Mengumpulkan dan mendapatkan data. 3. Berkoordinasi dan bekerjasama antar tim MonEv. 4. Memonitoring perkembangan kegiatan. 5. Memodifikasi/penyesuaian MonEv jika perlu. 6. Mengidentifikasi masalah masalah yang penting, peluang, dan hasil. 7. Pertemuan tim MonEV untuk monitoring perkembangan kegiatan. C. PELAPORAN meliputi kegiatan: 1. Berbagi hasil MonEv dengan warga sekolah terkait dan mendapatkan masukan/umpan balik lebih lanjut dari mereka. 2. Mendiskusikan bagaimana warga sekolah dapat menerapkan rekomendasi yang relevan.

SMKN 1 KARAWANG
pelaporan. 2. Tidak ada pembagian tugas dan tanggungjawab. 3. Tidak menggunakan instrumen 4. Informasi diperoleh secara lisan atau berdasarkan bukti dan fakta 5. Hasil monev diinformasikan kepada warga sekolah untuk memperoleh umpan balik

SMKN 2 KARAWANG
mekanisme tahapan persiapan, pelaksanaan dan pelaporan. Tidak ada pembagian tugas dan tanggungjawab. Tidak menggunakan instrumen Informasi diperoleh secara lisan atau berdasarkan bukti dan fakta Hasil monev diinformasikan kepada warga sekolah untuk memperoleh umpan balik

GAP/MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

2. 3. 4.

5.

Pelaporan kegiatan MonEv:

1 Pelaporan kegiatan MonEv dilakukan pada akhir tahun 1 pelajaran. 2 Menidiskusikannya dengan 2 warga sekolah untuk dikukan penyempurnaan pada tahun berikutnya.

Pelaporan kegiatan MonEv:


Pelaporan kegiatan MonEv dilakukan pada akhir tahun pelajaran. Menidiskusikannya dengan warga sekolah untuk dikukan penyempurnaan pada tahun berikutnya.

112

9. Kajian Monitoring dan Evaluasi Setelah mempelajari bahan pembelajaran monitoring dan evaluasi program sekolah kemudian mengkaji monitoring dan evaluasi sekolah tempat magang, penulis memahami pengertian, tujuan, prinsip dan proses monitoring dan evaluasi (monev) program. Penulis belum mendapatkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan oleh sekolah magang berdasarkan prinsip-prinsip monitoring dan evaluasi sehingga belum memperoleh pengetahuan yang utuh yaitu paham secara teori dan praktek. Untuk meningkatkan penguasaan kompetensi penulis dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program sekolah, maka penulis berharap agar dapat dilibatkan secara langsung dalam pelaksanaan monev program-program sekolah dimasa yang akan datang. Kegiatan monev belum disosialisasikan kepada semua warga sekolah. Selain itu, kegiatan monev belum dilakukan secara maksimal dan terprogram dan belum terdokumentasikan dengan baik sehingga pada saat data itu dibutuhkan sering mengalami kesulitan dalam mencarinya.

E.Peningkatan Kompetensi Hasil AKPK di SMK Negeri 2 Karawang 1.Pengembangan Alternatif Langkah Kegiatan Tuntutan bagi calon kepala sekolah harus memiliki 5 kompetensi manajerial sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam permendiknas no. 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah. Pada kegiatan OJL ini, peserta diklat atau calon kepala sekolah mempunyai kewajiban untuk melakukan rencana tindak kepemimpinan berdasarkan AKPK yang dimilikinya. Kompetensi penulis yang dirasakan masih lemah adalah berada pada kompetensi manajerial. Oleh karena itu, pada kegiatan OJL ini penulis melakukan kegiatan peningkatan kompetensi manajerial di sekolah magang terkait dengan kompetensi manajerial pengelolaan sarana prasarana yang sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal atau Standar Nasional Pendidikan. Hal ini dilakukan karena penulis menduga masih ada kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh kepala sekolah di dalam mengelola sarana dan prasarana. Pengelolaan sarana prasarana
113

yang sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal atau Standar Nasional Pendidikan bukan hal yang mudah bagi kepala sekolah terutama hal yang menyangkut pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaan. SMKN 2 Karawang adalah sekolah menengah kejuruan kelompok bisnis dan manajemen yang tertua di kabupaten Karawang. Pada umumnya telah memiliki sarana prasarana dengan lengkap dengan kondisi baik dan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal/Standar Nasional Pendidikan. Langkah kegiatan terkait dengan pengelolaan sarana dan prasana ini yang penulis lakukan adalah sebagai berikut : a. Mendatangi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang sarana untuk wawancara awal b. Menghubungi ketua program keahlian dan pelaksana urusan sarana prasarana c. menyusun instrumen analisis standar sarana prasarana, pemanfaatan dan pemeliharaan sarana prasarana.

1. Pelaksanaan Langkah Kegiatan SMKN 2 Karawang memiliki luas areal 20.000 M2 dengan luas bangunan 7.000 M2 yang terdiri dari 40 ruang kelas, 3 ruang praktek, 4 ruang laboratorium KKPI, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang laboratorium bahasa, 1 ruang pimpinan, 1 ruang guru, 1 ruang tata usaha, 1 ruang guru Bimbingan dan Konseling, 1 ruang UKS, 1 ruang OSIS, 1 gudang, 1 lapangan olah raga, 2 jamban guru dan 10 jamban peserta didik. Pada pelaksanaan langkah kegiatan yang penulis lakukan adalah sebagai berikut : a. Melakukan wawancara dengan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang sarana. b. Melakukan wawancara dengan ketua program keahlian dan pelaksana urusan sarana prasarana. c. Melakukan observasi dan mengidentifikasi fasilitas sarana prasarana SMKN 2 Karawang.
114

d. Mempelajari dukumen administrasi sarana prasarana baik buku induk golongan barang, buku barang inventaris maupun catatan barang non inventaris.

2. Evaluasi dan Perbaikan Setelah penulis melakukan tindakan kepemimpinan di SMKN 2 Karawang dalam rangka meningkatkan kompetensi pada dimensi manajerial melalui pengelolaan sarana prasarana maka cara umum telah memenuhi Standar Pelayanan Minimal bahkan ada beberapa sarana prasaran yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan seperti ruang kelas, ruang praktek, ruang laboratorium KKPI, ruang laboratorim bahasa. Namun masih ada sarana prasarana yang tidak memenuhi Standar Pelayanan Minimal yaitu jamban baik untuk guru maupun untuk peserta didik karena jumlah jamban yang ada tidak sesuai dengan jumlah guru dan peserta didik, idealnya setiap 1 jamban untuk 50 peserta didik. Sedangkan di SMKN 2 Karawang hanya memiliki 10 jamban dengan jumlah peserta didik 1.600, seharusnya dengan jumlah peserta didik sebanyak itu SMKN 2 Karawang memiliki jamban 32, jadi kekurangannya sekitar 22 jamban. Dalam pengadaan sarana prasarana sudah sesuai prosedur dan sesuai dengan analisis kebutuhan menggunakan skala prioritas. Kemudian diadministrasikan dengan baik melalui buku induk golongan barang, buku barang inventaris dan catatan barang non inventaris. pemanfaatan sarana prasana sudah maksimal. Dalam pemeliharaan sarana prasarana dilakukan cara perawatan rutin dan berkala sehingga memperpanjang usia pemakaian.

115

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan kerangka pemikiran dan hasil pelaksanaan tindakan

kepemimpinan yang dilaksanakan penulis maka dibuat kesimpulan sebagai berikut: 1. Kompetensi manajerial didalam mengelola sarana prasarana sangat diperlukan di sekolah karena hal itu ikut menentukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2. Pengelolaan sarana prasarana yang baik akan menentukan mutu sekolah, di dalam pengelolaan sarana prasarana suatu sekolah harus sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal bahkan harus mencapai Standar Nasional Pendidikan terutama yang menyangkut pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaan.

B. Saran-saran Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas, maka terdapat saransaran yang perlu disampaikan sebagai berikut: 1. Kepala sekolah sebagai manajer sebaiknya secara berkala melakukan monitoring evaluasi mengenai keberadaan sarana prasarana sehingga tingkat kebutuhan, pemanfaatan, dan pemeliharaannya sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal bahkan harus mencapai Standar Nasional Pendidikan. 2. Dalam usaha meningkatkan mutu sekolah, kepala sekolah sebaiknya mengoptimalkan pemenuhan standar sarana prasarana, pemanfaatan sarana prasarana dan dipelihara secara rutin dan berkala sehingga umur penggunaan sarana prasarana tesebut bisa lebih panjang.

116

117