Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

PARKINSON

DI SUSUN OLEH :
RESTI ANGGUN PERTIWI
(1102001227)
PEMBIMBING

Dr.Sunjoto, S.sp.RM

SMF NEUROLOGI
RSUD Dr. ABDOEL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2005

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT karena RahmatNya penyusun diberikan jalan dalam menyelesaikan referat ini.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penyusun ucapkan terima
kasih kepada dr.Roeswir.sp.S, dr. Suryakanto, sp.S, dr.Sanjoto, sp.S.RM yang
telah banyak membantu dalam penyusunan referat ini sekaligus memberikan
saran-saran yang tak ternilai harganya. Tak lupa saya ucapkan terima kasih
kepada rekan-rekan koass neurologi khususnya dan rekan-rekan koass
Universitas YARSI yang sedang menjalani kepanitraan di RSUD Abdul Moeloek
Bandar Lampung pada Umumnya.
Referat ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan kepanitraan Ilmu
rehabilitasi medik di SMF Neurologi RSUD dr. Abdul Moeloek, Bandar Lampung.
Penyusun berharap sekali referat ini dapat memberi masukan khususnya kepada
penyusun sendiri dan juga rekan-rekan yang lain.
Adapun pasti tak dapat disangkal bahwa referat ini terdapat kekurangan
disana sini untuk itu penyusun berharap masukan dan kritik-kritik yang
membangun guna kesempurnaan referat ini.
Bandar Lampung, Oktober 2005
Penyusun
Resti Anggun Pertiwi

PARKINSON

Penyakit Parkinson adalah suatu penyakit yang bersifat kronis pada susunan saraf
pusat. Parkinson mungkin terjadi sesudah terjadi radang pada otak atau sejenis
keracunan. Penyakit ini muncul karena ketidakseimbangan neurotransmiter di otak, yaitu
dopamin dan asetil kolin pada sistem ekstra piramidal. Komponen ekstra piramidal
adalah : korpos striatum, globus palidus, inti talamik, nukleus subtalamicus, substansia
nigra, formasioreticularis, serebelum, kortek motorik tambahan area 4,6 dan 8.lintasannya
merupakan lintasan melingkar, yang dikenal sebagai sirkuit.
Pada tahun1960 Ehringer dan Hornykiewicz mengungkapkan bahwa kemusnahan
neuron di pars kompakta substansia nigra yang dopaminergik itu merupakan lesi utama
yang mendasari penyakit parkinson.
Pada penyakit parkinson baik idiopatik maupun simtomatik, konsentrasi dopamin
di dalam korpus striatum lebih kolinergik daripada dopaminergik. Menurunnya jumlah
dopamin dan zat metabolismenya berkolaborasi relevan dengan derajat kemusnahan
neuron di substansia nigra.
Penderita ini ditandai dengan hilangnya kemampuan penderita untuk melakukan
gerakan cepat dan tangkas. Terjadi pula kekakuan otot di seluruh tubuh yang makin lama
makin berat.Ditandai dengan tremor, rigiditas dan hiperkinesia.Wajah penderita tanpa
ekspresi, tampak merenung, dan mata tidak berkedip- kedip. Mulut terbuka sedikit. Kalau
berjalan langkahnya pendek- pendek dan terseret- seret. Kepala tertunduk ke muka dan
tangan tidak ditahan dengan bahu di samping. Tangan , kepala dan bagian tubuh lainnya
gemetar. Otot- otot keras dan kaku. Kendati demikian pikiran penderita tetap tenang dan
perasaan normal. Pada beberapa kasus di dapatka gangguan di sistem otonom, berupa
sialorea, seborea, dan hiperhidrosis.
Pada kasus berat penderita tidak mampu bergerak lagi. Kematian penderita
biasanya disebabkan oleh komplikasi penyakit, misalnya radang paru- paru atau infeksi
lainnya karena penurunan ketahanan tubuh dan berkurangnya fungsi fisiologis.

Upaya pencegahannya lebih ditunjukan untuk menghindari timbulnya komplikasi


dan mempertahankan sedapat mungkin fungsi fisiologis.cara yang dilakukan antara lain
dengan latihan fisioterapi.

KLASIFIKASI PARKINSON
Umumnya diagnosis sindrom parkinson lebih mudah di tegakkan , namun
diusahakan menentukan jenisnya agar jelas didapatkan gambaran mengenai etiologi,
prognosis serta penatalaksanaannya.parkinson dapat di bagi :
1. Primer ( idiopatik)
Menurut Calne dkk. 1992
a. clinically possible idiopatic parkinson
terdapat satu gejala utama dari tremor, rigiditas, bradikinesia. Lebih baik bila
tremor dijumpai walaupu merupakan tremor postural atau tremor istirahat
( resting tremor)
b. clinically probable idiopatic parkinson
dijumpai 2 gejala utama, lebih sering dijumpai berupa resting tremor
asimetris, rigiditas asimetris atau bradikinesia asimetris.
c. clinically definite idiopatic parkinson
gabungan 3 gejala utama
2. Sekunder faktor genetik tidak berperanan secara dominan diduga peranan faktor
lingkungan.
a. Infeksi dan pasca infeksi
-

Pasca encefalitis virus

Pasca

infeksi

lain

sifilis

meningovaskuler,

tuberkulosis,

aterosklerosis )
b. Toksin toksin
-

Mangaan, cobalt, cianida

Neurotoksin MPTP ( 1- metil-4-phenyl-1,2,3,6-tetrahidropiridin)


Menyebabkan timbulanya radikal bebas yang mampu menimbulkan
parkinson dalam waktu 14 hari setelah terpapar.

c. Obat- obatan
-

Antipsikotik fenotiazin, butirofenon( merupakan dopamin reseptor


bloker).

Antiemetik metaklopromid

Katekolamin metildopa, reserpin, tetrabenazin

d. Sebab lain
-

Tumor

otak

trauma

kapitis,

perdarahan

serebral,

hipoparatiroidisme.
3. Parkinsonisme plus
a. Supra nuklear palsy progresif
b. Sistem atropi multiple
-

Degenerasi striatonigra

Sindron shy drager

Degenerasi oliva pontocerebral

Sidrom parkinsonisme

c. Degenerasi ganglionik kortikobasalis


d. Sindrom demensia
-

Penyakit alzaimer

e. Gangguan herediter
-

Penyakit wilson

Penyakit Huntington

Dua hipotesis yang disebut sebagai mekanisme gerenerasi pada penyakit


Parkinson adalah :
a. Hipotesis radikal bebas
Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamin dapat merusak neuron
nigrostiatal, karena proses ini menghasilkan hidrogen peroksida dan radikal
bebas.walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari
stes oksidatif , namun pada usia tua mekanisme ini sering gagal.

b. Hipotesis neurotransmitter
Sebagai contoh dikemukakan kemampuan zat MPTP secara selektif toksin
terhadap substansia nigra mencetuskan sindrom yang serupa dengan
parkinson.
INSIDENSI DAN PREVALENSI
Penyakit ini dapat mengenai sekitar 1 % dari sekelompok usia di atas 50 tahun
dan sekitar 2% pada mereka yang berusia lebih dari 70 th. Pada awalnya penyakit ini
sering terjadi antara usia 50- 59 tahun dan juga bermula sebelum usia 30 tahun atau
setelah 80 tahun. Penyakit ini sering di jumpai pada semua bangsa, prevalensi 1-5/1000
penduduk, dimana laki- laki lebih sering terkena dibandingkan wanita.
Pada saat penelitian lebih dari 30 %pasien parkinson menderita demensia setelah
6 tahun pangobatan. Ini penting dalam penilaian pasien secara individu karena adanya
demensia ringan mungkin akibat efek samping obat seperti konfulsi akut. Gangguan
lainnya dalam jangka panjang adalah ketidakstabilan postural yang meningkat, pola
pernafasan yang tidak lazim. Diagnosa biasanya lebih mudah ditegakkan pada pasien
berusia 50- 60 tahun dengan pola klinis yang khas dan timbul perlahan- lahan.
GEJALA KLINIS
1. Gejala umum
Hemiparkinsonisme :
-

Tidak dijumpai gejala patologis lain, gejala timbul dari satu sisi

Tidak dijumpai kelainan laboratorium dan rontgen

Perkembangan lambat

Respon terhadap levodopa cepat dan dramatis

Gangguan reflek postural tidak dijumpai

2. Gejala khusus
Gejala parkinson :
-

Tremor
Mula mula terlihat unilateral dan pada ekstremitas atas , yaitu pada
jari- jari dengan gerakan seperti memutar pill ( pill rolling tremor).

Kemudian tremor meluas melibatkan seluruh ekstremitas yang


terkena. Frekuensi tremor berkisar antara 4- 7 gerakan per detik.
Tremor terutama timbul bila penderita dalam keadaan istirahat, dan
dapat bertambah saat bergerak. Juga bertambah hebat dalam keadaan
emosi dan menghilang bila tertidur ( otot berelaksasi total )
-

Rigiditas
Pada stadium dini, rigiditas otot terbatas pada satu ekstremitas dan
hanya terditeksi pada gerakan pasif. Salah satu gejala dini rigiditas
ialah hilangnya gerakan asosiasi lengan bila berjalan ( lenggang
lengan menghilang atau berkurang ) chogwheel phenomenon atau
Lead pipe. Meningkatnya tonus otot pada sindrom parkinson
disebabkan oleh karena meningkatnya aktifitas motoneuron alfa.
Dominasi pada otot- otot fleksor dari leher ekstremitas.

Bradikinesia
Gerakan volunter menjadi lamban dan memulai suatu gerakan
menjadi sulit didapatkan berkurangnya gerakan asosiasi tidak ada
ayunan lengan bila berjalan. Sulit untuk bangun dari kursi, sulit, sulit
memulai berjalan, lamban mengenakan pakaian, lambat mengambil
suatu objek. Ekspresi muka berkurang ( wajah topeng ) mask like
appearance atau gambaran otot wajah yang tanpa ekspresi ( ekspresi
lose face). Bila berbicara gerak bibir dan lidah menjadi lamban .
mengenai juga otot mengunyah, menelan dan otot ekstremitas
( disartria, disfagia ). Gerak halus sewaktu menulis atau mengerjakan
peerjaan yang halus dan memegang benda benda yang kecil
menjadi menurun atau hilang .

Wajah Parkinson
Muka merah seperti topeng , kedipan mata berkurang , kulit muka
seperti berminyak dan ludah sulit keluar , refleks glabella +

Sikap parkinson
Langkah menjadi lambat dan kecil- kecil, pada stadium lebih lanjut
sikap penderita dalam fleksi, kepala difleksikan ke dada, bahu

membungkuk ke depan dan tangan tidak melenggang bila berjalan.


(keseimbangan postural menurun ).
-

Bicara
Pengucapan kata- kata yang monoton dengan volume yang kecil.

Disfungsi otonom
Inkontinensia urin dengan keringat yang berlebihan.

Untuk menetukan berat ringannya penyakit digunakan skala HOEHN and YAHR
Stadium

Gejala

unilateral

II

bilateral

III

bilateral dan refleks postural

IV

stadium III dan bantuan

stadium III dan ditempat tidur

DIAGNOSIS BANDING
1. Esensial familiar tremor
2. Iatrogenik
3. Intoksikasi
4. Infeksi
5. Tumor serebri
6. Kontusio serebri
7. Penyakit herediter pada sistem saraf

PEMERIKSAAN PENUNJANG

MRI

P.E.T scanning ( position Emission Tomography) scanning

TERAPI
1. Medikamentosa
a. Levodopa
b. Agonis Dopamin
c. Antikolinergik
d. Inhibitor MAO
e. COMT inhibitor
2. Bedah
a. Stereotaksic thalamotomy
Pada pasien termor berat tanpa gangguan berjalan dan bradikinesia
b. ventolateral thalamotomy
pasien termor berat unilateral
c. Bilateral thalamotomy
pasien dengan gangguan bicara
3. Rehabilitasi Medik
Pengobatan saja pada penderita parkinson belum cukup, perlu di tambah
dengan rehabilitasi medik yang sesuai dengan kebutuhan penderita. Tujuan
program rehabilitasi adalah meningkatkan kualitas hidup, mempertahankan
kemampuan yang ada selama mungkin, mencegah komplikasi.
Program rehabilitasi medik meliputi: latihan sikap, cara berjalan,
mempertahankan/meningkatkan keterampilan tangan, latihan berkomunikasi dan
berbicara, dan juga di perlukan konsultasi psikologi sebab penderita parkinson
kemungkinan menderita depresi.
a. bladder training
pada pasien sindrom parkinson yang mengalami inkontinentia
urin, tehnik ini sangat bermanfaat. Di lakukan latihan untuk
memperpanjang jarak berkemih yang terkendali dengan tehnik
relaksasi atau distraksi {mengalihkan pikiran dari keinginan
berkemih} sehingga pasien dapat menghambat keinginan atau
sensasi berkemih.

b. aquatik terapi
sifat air tidak hanya membantu dalam relaksasi dan pengurangan
nyeri tetapi juga memberikan stimulasi yang berlebih untuk
kinestesia dan propioreseptif. Air memberikan suatu medium
yang ideal untuk memperbaiki respon neuromuskuler. Viskositas
air dapat memperbaiki sinkronisasi dari kontraksi motor unit dan
meningkatkan rekrutmen motor unit seluruh serabut otot.
Keadaan ini dapat mempercepat aktifitas fungsional dan
menstimulasi keseimbangan dan koordinasi.
c. terapi bicara
d. terapi okupasi
untuk melatih gerakan gerakan halus dalam aktifitas sehari hari
e. latihan berjalan
f. terapi dingin
dapat digunakan untuk mengurangi tonus otot yang meningkat,
spastisitas, spasme otot.
Tehnik penggunaan terapi dingin:
-

yang biasa di gunakan adalah dengan mencairkan es bersama air.


Bagian yang di obati dicelupkan kedalam air es atau dikompres.

Untuk bagian tubuh yang besar digunakan handuk yang dicelupkan


kedalam es

Ice masage digunakan dengan menggerakan balok es diatas bagian


tubuh yang digerakan.

Untuk mengurang spastisitas otot didinginkan paling sedikit sepuluh


menit.

Anda mungkin juga menyukai