Anda di halaman 1dari 22

dr.

Gathot Adi Yanuar Puskesmas Ngemplak 1 2013

LATAR BELAKANG Herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama dengan varisela, yaitu virus varisela zoster. Herpes zoster ditandai dengan adanya nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensorik dan nervus kranialis. Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui.

Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus, komplikasi

yang terbanyak adalah neuralgia paska herpetik . Komplikasi jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun, tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu: mengatasi inveksi virus akut, mengatasi nyeri akut ynag ditimbulkan oleh virus herpes zoster dan mencegah timbulnya neuralgia paska herpetik.

PERNYATAAN MASALAH Bagaimanakah penegakan diagnosis Herpes Zoster disesuaikan dengan ketersediaan pemeriksaan penunjang di Puskesmas Bagaimanakah penatalaksanaan kasus Herpes Zoster disesuaikan dengan sediaan obat yang terdapat di Puskesmas TUJUAN Mengetahui cara penegakan diagnosis Herpes Zoster di Puskesmas Mengetahui penatalaksanaan kasus Herpes Zoster di Puskesmas

Definisi Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti gerombolan vesikel unilateral, sesuai dengan dermatomanya (persyarafannya) Epidemiologi Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun tidak dipengaruhi oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan, angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia.

Etiologi Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA, virus ini berukuran 140-200 nm, yang termasuk subfamili alfa herpes viridae. VVZ dalam subfamili alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi vaskuler. -> menetap dalam bentuk laten didalam neuron dari ganglion -> menimbulkan kekambuhan secara periodik.

Patogenesis Infeksi primer dari VVZ ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring -> virus replikasi dan dilepas ke darah -> viremia permulaan (terbatas dan asimptomatik) -> virus masuk ke dalam Reticulo Endothelial System (RES) -> replikasi kedua -> viremia (lebih luas dan simptomatik penyebaran ke kulit dan mukosa). Sebagian virus menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau lebih ganglion sensoris dan berdiam diri (laten) didalam neuron. Antibodi dalam darah tinggi, reaktivasi dari virus laten dinetralisir, saat antibodi turun dibawah titik kritis terjadi reaktivasi dari virus sehingga terjadi herpes zoster.

Gambaran Klinis Gejala prodromal rasa sakit dan parestesi pada dermatom yang terkena (beberapa hari menjelang timbulnya erupsi). Gejala konstitusi (sakit kepala, malaise, dan demam) terjadi pada 5% penderita (terutama anak-anak) dan timbul 1-2 hari sebelum terjadi erupsi. Gambaran yang paling khas erupsi yang lokalisata dan unilateral. Jarang melewati garis tengah tubuh, lesi terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh salah satu ganglion saraf sensorik. Erupsi mulai dengan eritema makulopapular -> 12-24 jam terbentuk vesikel -> pustul pada hari 3-5 -> 7-10 hari kemudian, lesi mengering menjadi krusta, dapat menetap 2-3 minggu. Keluhan berat biasa pada penderita usia tua (rasa sakit segmental dapat menetap walaupun krustanya sudah menghilang). Pada anakanak hanya timbul keluhan ringan dan erupsi cepat menyembuh. Frekuensi herpes zoster menurut dermatom yang terbanyak pada dermatom torakal (55%), kranial (20%), lumbal (15%), dan sakral (5%).

Diagnosis Anamnesis keluhan neuralgia beberapa hari sebelum/bersama-sama dengan timbulnya kelainan kulit. Adakalanya didahului gejala prodromal (demam, pusing dan malaise). Kelainan kulit berupa eritema -> papula dan vesikula /bula -> krusta. Karakteristik dari erupsi kulit terdiri atas vesikel-vesikel berkelompok, dengan dasar eritematosa, unilateral, dan mengenai satu dermatom. Laboratorium, tes Tzanck membantu -> sel datia berinti banyak. pada keadaan yang meragukan diperlukan pemeriksaan penunjang : Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi dengan mikroskop elektron. Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen Test serologi dengan mengukur imunoglobulin spesifik.

Neuralgia pasca herpetic nyeri pada daerah bekas penyembuhan (bulan-tahun), umur > 40 tahun, 10 - 15 %, gradasi nyeri yang bervariasi. Infeksi Sekunder defisiensi imunitas (infeksi H.I.V., keganasan, usia lanjut) dapat disertai komplikasi. Vesikel -> ulkus dan jaringan nekrotik. Kelainan pada mata Pada herpes zoster oftatmikus : ptosis paralitik, keratitis, skleritis, uveitis, korioratinitis dan neuritis optik.

Sindrom Ramsay Hunt gangguan pada nervus fasialis dan otikus -> paralisis otot muka (paralisis Bell), kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus, nausea, dan gangguan pengecapan Paralisis Motorik terjadi pada 1-5% kasus (perjalanan virus secara kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan). Muncul dalam 2 minggu sejak munculnya lesi. Paralisis dapat terjadi seperti: di wajah, diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan anus. Umumnya akan sembuh spontan.

Farmakologi Antivirus antivirus terbukti menurunkan durasi herpes zosterdan keparahan nyeri akut, terlebih bila diberikan sebelum 72 jam awitan lesi. Dari 3 antiviral oral yg disetujui Food and Drug Administration (FDA), famsiklovir dan valasiklovir hidroklorida lebih efektif daripada asiklovir. Antivirus famsiklovir 3x500mg atau valasiklovir 3x1000mg atau asiklovir 5x800mg diberikan 72 jam awitan lesi selama 7 hari. Analgetik Pasien dengan nyeri herpes akut ringan menunjukkan respon yang baik dg AINS asetosal, piroksikam, ibuprofen, diklofenak) atau analgetik non opiod (asetaminofen, tramadol, asam mefenamik).

Non farmakologi Penjelasan atas jalannya penyakit, rencana pengobatan, dan perlu memperhatikan aturan dosis antivirus. Penjelasan tentang resiko menular terhadap orang yang belum pernah cacar air. Menginstruksikan pasien agar tetap menjaga ruam dalam keadaan bersih dan kering untuk meminimalkan resiko infeksi bakteri. Melaporkan setiap perubahan suhu badan dan menggunakan pembalut steril basah untuk mengurangi ketidaknyamanan. Topikal antibiotik dan pembalut adesif dapat menunda penyembuhan ruam dan harus dihindari.

IDENTITAS PASIEN Nama : Bp. AA Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 36 tahun Pekerjaan : Swasta Status pernikahan : Menikah Agama : Islam Alamat : Karanglo, Sukoharjo ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 27 februari 2013 Keluhan utama : Plenting-plenting yang telah pecah terasa nyeri di punggung sampai sampai dada satu sisi sebelah kanan.

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke BPU dengan keluhan plenting-plenting yang terasa nyeri di punggung belakang sampai dada satu sisi sebelah kanan sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku awalnya hanya timbul merah gatal kemudian menjadi plenting yang berisi cairan, tetapi semakin lama semakin meluas serta terasa nyeri hingga pasien tidak bisa tidur. Pasien menyangkal mengalami demam, nyeri kepala maupun malaise. Pasien belum berobat sebelumnya. Riwayat penyakit dahulu : Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat sakit cacar tidak diketahui dengan pasti. riwayat alergi disangkal. Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami sakit yang sama.

Tanda vital Kepala Leher

: tensi 110/70, suhu afebris, nadi 80 x/mnt, rr 20 x/mnt. : anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : simetris, pembesaran kelenjar (-)

Thorax : simetris, terdapat kelainan kulit : Status Dermatologis Ad regio : Punggung sampai dada satu sisi sebelah kanan Efloresensi : vesikel dengan dasar eritematosa disertai sebagian pustul dan krusta Lesi Jumlah lesi : Multipel Penyebaran : unilateral Batas : sirkumskript Bentuk dan susunan: herpetiformis, berkelompok, kering. Ukuran : lentikuler Distribusi : segmental Cor : S12 tunggal, bising (-) Pulmo : SDV (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen Ekstrimitas : BU (+) N, supel : akral hangat

Usulan Pemeriksaan Anjuran ; Pemeriksaan Tzanck Diagnosis Banding : Herpes zoster Impetigo vesikobulosa Resume : Pasien laki-laki berusia 36 tahun datang ke BPU dengan keluhan plenting-plenting yang terasa nyeri di punggang sampai dada satu sisi sebelah kanan sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku awalnya hanya timbul merah gatal kemudian menjadi plenting yang berisi cairan, tetapi semakin lama semakin meluas serta terasa nyeri hingga pasien tidak bisa tidur. Pasien menyangkal mengalami demam, nyeri kepala maupun malaise. Pasien belum berobat sebelumnya Pada pemeriksaaan fisik ditemukan lesi pada daerah punggung sampai dada satu sisi sebelah kanan. Lesi berupa vesikel dengan dasar eritematosa, multiple, herpetiformis, unilateral dan berkelompok, menyebar secara segmental.

Diagnosa Kerja :

Herpes zoster dengan infeksi sekunder

Penatalaksanaan :

Umum : Memberikan penjelasan pada pasien tentang penyakit yang sedang diderita dan pengobatannya. Usahakan supaya vesikel tidak pecah untuk menghindari infeksi sekunder. Banyak istirahat untuk meningkatkan daya tahan tubuh Khusus Sistemik (oral) : Obat anti viral asiklovir 5 x 800 mg selama 7 hari Untuk mengatasi infeksi Sekunder maka diberikan Amoxicilin 500 mg 3 x 1 selama 5 hari Untuk mengurangi neuralgia dapat diberikan analgetik yaitu ibuprofen 3 x 400mg. Untuk mengurangi gatal dapat diberikan CTM 3 x 1. Vitamin C 3 x 1 Prognosis : Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam : Ad bonam : Ad bonam : Ad bonam

Berdasarkan dengan keluhan klinis pasien identik dengan keluhan

Herpes Zoster. Dimana Herpes Zoster keluhan utamanya khas berupa plenting plenting yang berdistribusi sesuai dermatom. Keluhan panas/nyeri lebih dominan daripada gatal. Karena keterbatasan dari kelengkapan penunjang diagnostik di puskesmas maka diagnosis Herpes Zoster didasarkan sesuai dengan gambaran klinis dari pasien. Pilihan antiviral diberikan asiklovir dengan dosis 5 x 800 mg sehari selama 7 hari. Rasa nyeri pada pasien ini dapat diberikan pereda rasa nyeri berupa ibuprofen dengan dosis 3 kali sehari. Rasa gatal diberikan anti histamin Chlorfeniramin Maleat 3 x 1. Pemberian antibiotik pada kasus Herpes Zoster sebaiknya diberikan pada kasus herpes zoster dengan infeksi sekunder. Obat pilihannya diberikan Amoxicilin 500 mg dengan dosis 3 kali sehari. Pemilihan antibiotik itu sendiri didasarkan pada mayoritas kasus infeksi bakteri pada kulit adalah oleh Staphylococcus dan Streptococcus dimana antibiotik Amoxicilin dapat digunakan sebagai obat pilihan.

Diagnosis Herpes Zoster di Puskesmas dapat ditegakkan gambaran

klinis tanpa pemeriksaan penunjang dimana karena keterbatasan fasilitas di Puskesmas Penatalaksanaan Herpes Zoster di Puskesmas sudah sesuai dengan standar penatalaksanaan Herpes Zoster dimana ketersediaan obat untuk penyakit ini sudah lengkap untuk di Puskesmas