Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen adalah sebuah penyakit

infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae. Mycobacterium leprae yang secara primer menyerang saraf tepi dan secara sekunder menyerang kulit serta organ-organ lain (WHO, 2003). Kusta memiliki dua macam tipe gejala klinis yaitu pausibasilar (PB) dan multibasilar (MB) (WHO, 1998). Kusta tipe PB adalah tipe kusta yang tidak menular dan disebut juga sebagai kusta kering. Sedangkan kusta tipe MB atau kusta basah adalah kusta yang sangat mudah menular (1). Penyakit kusta masih menjadi permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat dunia terutama di Negara berkembang, dan Indonesia merupakan penyumbang penyakit kusta setelah India dan Brazil . Penyakit kusta merupakan

penyakit menular yang dapat menimbulkan berbagai masalah yang sangat kompleks dan luas, dimana masalah yang ditimbulkan bukan hanya dilihat dari segi medis saja, tetapi bisa meluas sampai kepada masalah ekonomi, sosial budaya, keamanan, dan ketahanan sosial serta masalah psikologis. Penyakit kusta juga menimbulkan dampak atau masalah baik pada penderita sendiri, keluarga, dan masyarakat serta pada negara (1,7). Pada tahun 2006, The International Federations of Anti Leprosy Associations (ILEP) dan WHO mengeluarkan strategi global untuk menurunkan beban penyakit dan kesinambungan program pemberantasan penyakit kusta (tahun 2006 2010). Sejak pertengahan tahun 2006 strategi tersebut dipakai dalam kebijakan pemberantasan penyakit kusta di Indonesia (2).

Menurut WHO diperkirakan jumlah penderita kusta baru di dunia pada tahun 2005 (di luar regional Eropa) adalah sekitar 296.499 orang. Dari jumlah tersebut terbanyak terdapat di regional Asia Tenggara : 201.635 kasus, CDR : 12,17 / 10.000), diikuti regional Afrika : 42.814 kasus (CDR 5,92 / 10.000), regional Amerika : 47.780 kasus (CDR 4,98 / 10.000) dan sisanya berada pada regional lain di dunia. Pada awal tahun 2006, di dunia terdapat 219.826 kasus dengan perincian regional Asia Tenggara 133.422 kasus (PR 0,81 / 10.000 ), regional Afrika : 40.830 kasus (PR 0,56 / 10.000) dan regional Amerika 32.904 kasus (PR 0,39 / 10.000), sedangkan sisanya berada di regional lainnya (2).

B.

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk : a. Menggambarkan prevalensi kusta pada poli kulit kelamin RSUD Ulin Banjarmasin berdasarkan usia dan jenis kelamin. b. Menggambarkan insidensi penyakit kusta di poli kulit kelamin RSUD Ulin Banjarmasin berdasarkan usia dan jenis kelamin. c. Membandingkan angka kejadian penyakit kusta di poli kulit kelamin RSUD Ulin Banjarmasin dengan RS lain berdasarkan usia dan jenis kelamin.

C.

Manfaat Penulisan Makalah ini diharapkan berguna untuk memberikan sumbangan bagi ilmu

pengetahuan terutama yang berkaitan dengan kejadian penyakit kusta di Indonesia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

SINONIM Kusta dikenal dengan nama lepra, leprosy, Morbus Hansens, hanseniasis

dan elephantiasis grecorum (3).

B.

DEFINISI Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti

kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen. Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata (3) . Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa knak-kanak. Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta

antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi (3).

C.

ETIOLOGI Mycobacterium leprae diklasifikasikan secara terpisah dari kuman

mycobacterium yang lain karena kegagalan untuk melakukan biakan pada media kultur artifisial. Bakteri ini ditemukan oleh G.A Hansen1 pada tahun 1874 di Norwegia. Mycobacterium leprae berbentuk basil dengan ukuran 3-8 um x 0,5 um, tahan asam dan alkohol, serta positif-gram. Pertumbuhan yang terbatas pada biakan telapak kaki tikus dan pertumbuhan yang lebih tersebar pada tikus yang imunosupresif dan sembilan jenis armadillo yang turut membantu dalam analisis biokimia dan genetika bakteri yang adekuat serta percobaan produksi vaksinvaksin. Mycobacterium leprae hidup pada suhu 30-33 0C dan membelah setiap 12-13 hari. Mycobacterium leprae terdiri dari 4 antigen sebanding dengan BCG, tetapi phenolic glycolipid yang terdapat di dalam kapsul secara biologis bersifat unik dan menjadi antigen yang spesifik terhadap Mycobacterium leprae (3,4). Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk ini disebabkan karena perang, penjajahan, perdagangan antar benua dan pulau-pulau. Berdasarkan pemeriksaan kerangka-kerangka manusia di Skandinavia diketahui bahwa penderita kusta ini dirawat di Leprosaria secara isolasi ketat. Penyakit ini masuk

ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orangorang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang.Pada pertengahan tahun 2000 jumlah penderita kusta terdaftar di Indonesia sebanyak 20.742 orang. Jumlah penderita kusta terdaftar ini membuat Indonesia menjadi salah satu Negara di dunia yang dapat mencapai eliminasi kusta sesuai target yang ditetapkan oleh WHO yaitu tahun 2000 (5).

D.

EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi penyakit kusta digambarkan menurut waktu, umur dan jenis kelamin sebagai berikut: a. Distribusi menurut waktu

pada tahun 2006, penderita kusta di dunia diperkirakan sejumlah 259.017. penderita kusta tersebar di seluruh dunia, terbanyak di daerah tropic dan subtropik terutam di benua afrika, Asia, dan Amerika Latin Pada tahun 2008, secara global terdapat 248.983 kasus kusta di seluruh dunia dengan India dan Brazil sebagai penyumbang tertinggi dengan jumlah penderita masing-masing 134.184 dan 38.914 kasus. Indonesia merupakan Negara ketiga di dunia sebagai Negara dengan kasus baru kusta paling banyak. Pada tahun 2009,tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia dan jumlah kasus terdaftar sebanyak 21.026 orang dengan angka prevalensi 0,91 per 10.000 penduduk. b. Distribusi menurut umur

Kusta dapat terjadi pada hampir semua kelompok umur terutama pada usia muda dan produktif. Angka kejadian kusta meningkat sesuai umur dengan puncak pada

umur 20-30 tahun kemudian menurun pada umur di atasnya. Di Indonesia, penderita kusta anak-anak di bawah 14 tahun sebesar 10% tetapi anak di bawah 1 tahun jarang ditemukan. c. Distribusi menurut jenis kelamin

Penyakit kusta dapat mengenai laki-laki maupun perempuan. Insiden maupun prevalensi pada laki-laki lebih banyak daripada wanita. Menurut laporan WHO, insiden pada wanita lebih banyak pada wanita yang bekerja di luar rumah. Di Indonesia insiden pada laki-laki lebih tinggi pada usia 15-19 tahun.

E.

CARA PENULARAN Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas

penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan. Berjuta-juta basil dikeluarkan melalui lendir hidung pada penderita kusta tipe lepromatosa yang tidak diobati, dan basil terbukti dapat hidup selama 7 hari pada lendir hidung yang kering. Ulkus kulit pada penderita kusta lepromatusa dapat menjadi sumber penyebar basil. Organisme kemungkinann masuk melalui saluran pernafasan atas dan juga melalui kulit yang terluka. Pada kasus anak-anak dibawah umur satu tahun, penularannya diduga melalui plasenta. Masa tunas sangat bervariasi aara 40 hari hingga 40 tahun, umumnya antara 3-5 tahun (3,4). Dua pintu keluar dari M. leprae dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit. Bagaimanapun masih

belum dapat dibuktikan bahwa organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit. Walaupun terdapat laporan bahwa ditemukanya bakteri tahan asam di epitel deskuamosa di kulit, Weddel et al melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. Dalam penelitian terbaru, Job et al menemukan adanya sejumlah M. leprae yang besar di lapisan keratin superfisial kulit di penderita kusta lepromatosa. Hal ini membentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat. Pentingnya mukosa hidung telah dikemukakan oleh Schffer pada 1898. Jumlah dari bakteri dari lesi mukosa hidung di kusta lepromatosa, menurut Shepard, antara 10.000 hingga 10.000.000 bakteri. Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien lepromatosa memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka. Davey dan Rees mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi 10.000.000 organisme per hari. Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah (3): a. Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 27 x 24 jam. b. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.

Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe multi basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Penularan yang pasti belum diketahui, tapi sebagian besar para ahli berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernapasan dan kulit. Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain : a. Faktor sumber penularan Adalah penderita kusta tipe MB. Penderita Multi Basiler ini pun tidak akan menularkan kusta apabila berobat teratur. b. Faktor kuman kusta Kuman kusta dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1-9 hari tergantung pada suhu dan cuaca dan diketahui kuman kusta yang utuh yang dapat menimbulkan penularan. c. Faktor daya tahan tubuh Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta. Dari hasil penelitian menunjukkan gambar sebagai berikut dari 100 orang yang terpapar, 95 orang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat, 2 orang menjadi sakit, hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman M. leprae menderita kusta, dan diduga faktor genetika juga ikut berperan, setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda pada setiap individu. Faktor ketidakcukupan gizi juga diduga merupakan faktor penyebab.

F.

PATOGENESIS Meskipun cara masuk M.leprae ke dalam tubuh masih belum diketahui

dengan pasti, beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa tersering ialah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. Pengaruh M. leprae terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang, kemampuan hidup M.leprae pada suhu tubuh yang rendah, waktu regenerasi yang lama, serta sifat kuman yang avirulen dan nontoksis (4). M.leprae merupakan parasit obligat intraseluler yang terutama terdapat pada sel makrofag di sekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel Schwan di jaringan saraf. Bila kuman M.leprae masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah, sel mononuklear, histiosit) untuk memfagositnya (5). Pada kusta tipe LL terjadi kelumpuhan sistem imunitas selular, dengan demikian makrofag tidak mampu menghancurkan kuman sehingga kuman dapat bermultiplikasi dengan bebas, yang kemudian dapat merusak jaringan.Pada kusta tipe TT kemampuan fungsi sistem imunitas selular tinggi, sehingga makrofag sanggup menghancurkan kuman. Sayangnya setelah semua kuman di fagositosis, makrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak bergerak aktif dan kadang-kadang bersatu membentuk sel datia langhans. Bila infeksi ini tidak segera di atasi akan terjadi reaksi berlebihan dan masa epiteloid akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan disekitarnya (5).

Sel Schwan merupakan sel target untuk pertumbuhan M.lepare, disamping itu sel Schwan berfungsi sebagai demielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Jadi, bila terjadi gangguan imunitas tubuh dalm sel Schwan, kuman dapat bermigrasi dan beraktivasi. Akibatnya aktivitas regenerasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif (5). Kelangsungan dan tipe penyakit kusta sangat tergantung pada kemampuan tubuh untuk membentuk cell mediated kekebalan secara efektif. Tes lepromin adalah prosedur penyuntikan M. Leprae yang telah mati kedalam kulit; ada tidaknya indurasi dalam 28 hari setelah penyuntikan disebut dengan reaksi Mitsuda. Reaksi Mitsuda negatif pada kusta jenis lepromatosa dan positif pada kusta tipe tuberkuloid, pada orang dewasa normal. Karena tes ini hanya mempunyai nilai diagnosis yang terbatas dan sebagai pertanda adanya imunitas. Komite Ahli Kusta di WHO menganjurkan agar penggunaan tes lepromin terbatas hanya untuk tujuan penelitian. Angka hasil tes yang positif akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Sebagai tambahan tingginya prevalensi transformasi limfosit yang spesifik terhadap M. leprae dan terbentuknya antibodi spesifik terhadap M. leprae diantara orang yang kontak dengan penderita kusta menandakan bahwa penularan sudah sering terjadi walaupun hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menunjukan gejala klinis penyakit kusta. Pola klinis penyakit ini ditentukan oleh respons imunitas yang diperantarai sel (cell-mediated imunity) host terhadap organisme. Bila respons imunitasnya baik, maka timbul lepra tuberkuloid, dimana kulit dan saraf-saraf perifer terkena. Lesi kulit berbentuk tunggal. Atau hanya beberapa, dan berbatas tegas. Bentuknya berupa

10

makula atau plak dengan hipopigmentasi pada kulit yang gelap. Terdapat anestesi pada lesi, hilangnya keringat, dan berkurangnya jumlah rambut. Penebalan cabang-cabang saraf kulit dapat diraba pada daerah lesi tersebut, dan saraf perifer yang besar juga dapat diraba. Tes lepromin positif kuat. Gambaran histologis berupa granuloma tuberkoloid yang jelas, dan tidak ditemukan adanya basil pada pewarnaan Ziehl-Nielsen yang dimodifikasi. Bila respons imunitas selulernya rendah, maka multiplikasi kuman menjadi tak terkendali dan timbul bentuk lepralepromatosa. Kuman menyebar tidak hanya pada kulit, tetapi juga mukosa saluran respirasi, mata, testis, dan tulang. Lesi kulit berbentuk multipel dan nodular. Tes lepromin negatif. Pada pemeriksaan histologi berupa granuloma yang difus pada dermis, dan ditemukan basil dalam jumlah yang banyak (3).

G. 1.

KLASIFIKASI DAN GEJALA KLINIS KUSTA Tipe tuberkoloid (TT) Lesi ini mengenai baik kulit maupun saraf. Lesi kulit bisa satu atau

beberapa, dapat berupa makula atau plakat, batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau cemntral healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsnata. Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot, dan sedikit rasa gatal. Adanya infiltrasi tuberkuloid dan tidak adanya kuman merupakan tanda terdapatnya respons imun pejamu yang adekuat terhadap kuman kusta (6). 2. Tipe borderline tubercoloid (BT)

11

Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plak yang sering disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa, tetapi gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas tipe tuberkuloid. Adanya gangguan saraf tidak seberat tipe tuberkuloid, dan biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan terletak dekat saraf perifer yang menebal.

3.

Tipe mid borderline (BB) Tipe ini merupakan tipe yang paling tidak stabil dari semua tipe dalam

spektrum penyakit kusta. Disebut juga sebagai bentuk dimorfik dan bentuk ini jarang dijumpai. Lesi dapat berbentuk makula infiltratif. Permukaan lesi dapat berkilap, batas lesi kurang jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe BT dan cenderung simetris. Leso sangat bervariasi, baik dalam ukuran, bentuk, ataupun distribusinya. Bisa didapatkan lesi punched out yang merupakan ciri khas tipe ini. 4. Tipe borderline lepromatosa Secara klasik lesi dimulai dengan makula. Awalnya hanya dalam jumlah sedikit dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan. Makula lebih jekas dan lebih bervariasi bentuknya. Walaupun masih kecil, papul dan nodus lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan beberapa nodus tampaknya melekuk pada bagian tengah. Lesi bagian tengah tampak normal dengan pinggir dalam infiltrat lebih jelas dibandingkan dengan pinggir luarnya, dan beberapa plak tampak seperti punched-out. Tanda-tanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi, hipipigmentasi, berkurangnya keringat dan hilangnya rambut lebih cepat

12

muncul dibandingkan dengan tipe LL. Penebalan saraf dapat teraba pada tempat predileksi. 5. Tipe lepromatosa (LL) Jumlah lesi sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematosa, berkilap, berbatas tidak tegas dan pada stadium dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis. Distribusi lesi khas, yakni di wajah mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga. Sedang dibadan mengenai bagian badan yang dingin, lengan, punggung tangan, dan permukaan ekstensor tungkai bawah. Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif, cuping telinga menebal, garis muka menjadi kasar dan cekung membentuk fasies leonina yang dapat disertai madarosis, iritis dan keratis. Lebih lanjut lagi dapat terjadi deformitas pada hidung. Dapat dijumpai pembesaran kelenjar limfe, orkitis yang selanjutnya dapat menjadi atrofi testis. Kerusakan saraf yang luas menyebabkan gejala stocking dan glove anaesthesia. Bila penyakit ini menjadi progresif, muncul makula dan papul baru, sedangkan lesi lama menjadi plakat dan nodus. Pada stadium lanjut serabutserabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anestesi dan pengecilan otot tangan dan kaki. Salah satu tipe penyakit kusta yang tidak termasuk dalam klasifikasi Ridley dan jopling, tetapi diterima secara luas oleh para ahli kusta yaitu tipe indeterminate (I). lesi biasanya berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit di sekitarnya normal. Lokasi biasanya di bagian ekstensor ekstremitas, bokong atau muka, kadang-kadang dapat ditemukan makula hipestesi

13

atau sedikit penebalan saraf. Diagnosis tipe ini hanya dapat ditegakkan, bila dengan pemeriksaan histopatologik. Selain klasifikasi lain yaitu menurut WHO, yaitu tipe pausibasiler dan multibasiler. Untuk perbedaan masing-masing tipe dapat dilihat pada tabel berikut (6) :

Tabel 1. perbedaan tipe PB dan MB menurut klasifikasi WHO

PB 1. Lesi kulit (makula yang 1-5 lesi datar, papul yang Hipopigmentasi/eritema meninggi,infiltrat, eritem, nodus) plak Distribusi tidak simetris

MB > 5 lesi

Distribusi lebih simetris

Hilangnya sensasi kurang jelas

Hilangnya sensasi yang jelas

Hanya satu cabang saraf 2. Kerusakan saraf(menyebabkan hilangnya senasasi/kelemahan otot yang dipersarafi oleh

Banyak cabang saraf

saraf yang terkena)

** Semua pasien dengan BTA positif, apapun klasifikasi klinisnya diobati dengan MDT-MB

14

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

No Nama Penderita 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Tn. M Tn. Sy Tn. G An.Azd Tn. Az Ny.M Tn.Y Ny.H Ny.Ns Tn.Af Ny.S Tn.H Ny.Mr Tn.Md Ny.As Ny.Sa Tn.Ma

Usia

Jenis Kasus kelamin Lama L L L L L P L P P L P P P L P P L

Keterangan Baru Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik

28 th 49 th 67 th 11 th 18 th 45 th 30 th 27 th 33 th 60 th 29 th 27 th 56 th 33 th 22 th 46 th 50 th

15

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Tn. Tr Tn. I Ny.Hi Tn.Sh Tn. Ars Tn. Hm Tn. Sb Ny. Mas Tn. Ru Tn. Ar Tn. Ju An. Pu Tn. Aw Ny. F

25 th 19 th 62 th 51 th 44 th 47 th 57 th 47 th 30 th 50 th 32 th 9 th 27 th 43 th

L L P L L L L P L L L P L P

Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik

Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik

Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik Leprosy unspesifik

Dari data yang didapatkan dari poli kulit kelamin RSUD Ulin Banjarmasin pada tahun 2012 diperoleh hasil 31 orang yang menderita kusta dari total 3650 pasien yang berobat ke poli kulit kelamin. Data ini diambil secara retrospekstif yaitu dengan melihat data dari rekam medic di Poli Kulit Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin. Dari data di atas berarti prevalensi kusta pada poli kulit kelamin RSUD Ulin Banjarmasin adalah sekitar 0,84%. Dari 31 orang yang menderita kusta ada 24 orang (0,65%) yang merupakan kasus baru sedangkan kasus lama ada 7 orang.

16

Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak kasus baru penyakit kusta yang terjadi di daerah Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin. Pada tahun 2002, di Indonesia, jumlah penderita kusta yang terdaftar 19.805 orang. Masih terdapat di 10 propinsi memiliki penderita kusta terbanyak diantara propinsi lainnya yaitu Jawa Timur 4.856 orang, Jawa Barat 1.721 orang, Jawa Tengah 2.334 orang, Sulawesi Selatan 1.779 orang, Papua 1.190 orang, Nanggroe Aceh Darusalam 736 orang, Daerah Kota Istimewa Jakarta 1.721 orang, Sulawesi Utara 404 orang, Maluku Utara 550 orang dan Kalimantan Selatan 473 orang, Maluku 522, Sulawesi Utara 404 orang. Sedangkan pada tahun 2007, ditemukan 19.695 kasus baru yang terjadi di Indonesia (1). Berdasarkan usia, penderita kusta yang dating ke poli kulit kelamin RSUD Ulin Banjarmasin terdapat 25 orang (80,65%) yang berusia 50 tahun dan 6 orang (19,35%) yang berusia di atas 50 tahun. Usia 50 tahun merupakan usia yang resiko tinggi untuk menderita kusta sedangkan usia >50 tahun merupakan usia resiko rendah menderita penyakit kusta. Dari data penderita kusta di atas juga dapat dilihat bahwa penderita kusta yang berusia anak-anak lebih sedikit disbanding dewasa, dimana penderita kusta yang berusia 18 tahun hanya sebanyak 3 orang dan yang berusia >18 tahun ada 28 orang. Penyakit kusta memang jarang sekali ditemukan pada bayi. Angka kejadian penyakit kusta meningkat sesuai umur dengan puncak kejadian pada umur 10-20 tahun. Penyakit kusta dapat mengenai semua umur dan terbanyak terjadi pada umur 15-29 tahun. Serangan pertama kali pada usia di atas 70 tahun sangat jarang terjadi. Di Brasilia terdapat peninggian prevalensi pada usia muda,

17

sedangkan pada penduduk imigran prevalensi meningkat di usia lanjut. Menurut Depkes RI (2006) kebanyakan penelitian melaporkan bahwa distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden karena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui (11) . Sedangkan berdasarkan jenis kelamin terdapat 19 orang yang berjenis kelamin laki-laki, dimana pada kasus lama ada 6 orang dan kasus baru 13 orang, sedangkan yang berjenis kelamin perempuan ada 12 orang yaitu kasus lama 1 orang dan kasus baru 11 orang. Hasil ini menunjukkan laki-laki lebih banyak disbanding perempuan dengan perbandingan sekitar 1,5:1. Kejadian penyakit kusta pada laki-laki lebih banyak terjadi dari pada wanita, kecuali di Afrika, wanita lebih banyak terkena penyakit kusta dari pada laki-laki. Menurut Louhennpessy dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2007) bahwa perbandingan penyakit kusta pada penderita laki-laki dan perempuan adalah 2,3 : 1,0, artinya penderita kusta pada laki-laki 2,3 kali lebih banyak dibandingkan penderita kusta pada perempuan. Menurut Noor dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2007) penderita pria lebih tinggi dari wanita dengan perbandingannya sekitar 2 : 1 (10). Jika dibandingkan hasil penderita kusta yang ada di poli kulit kelamin RSUD ulin dengan rumah sakit lain yaitu salah satunya rumah sakit Lauleng Kota Parepare, kejadian kusta di RSUD Ulin masih lebih rendah, dimana pada rumah sakit Lauleng Parepare ada 37 oang penderita kusta. Hasil penelitian di RS Lauleng Parepare menunjukkan bahwa dari 37 penderita, bahwa jumlah penderita yang mengalami penyakit Kusta dengan beresiko tinggi pada umur <50 tahun

18

sebanyak 24 orang (65%) sementara untuk kelompok beresiko rendah umur kurang >50 tahun sebanyak 13 orang (35%), penderita Penyakit Kusta didapatkan pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 27 orang (73%), sementara untuk jenis kelamin perempuan didapatkan sebanyak 10 orang (27%). Sedangkan pada penelitian Penderita Kusta Anak baru DI DIVISI KUSTA URJ. KESEHATAN KULIT DAN KELAMINRSU. Dr. SOETOMO SURABAYA PERIODE 2009 2011 didapatkan hasil angka kesakitan penderita kusta baru anak tahun 2009-2011 adalah 5,5%, kelompok umur terbanyak adalah usia 10-14 tahun dengan jumlah penderita laki-laki lebih banyak(8,9). Dari hasil penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa insidensi penyakit kusta di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan usia kusta memang jarang terjadi pada bayi, namun tetap bisa terjadi pada semua umur. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih banyak diandingkan perempuan.

19

BAB IV PENUTUP

Simpulan dari makalah ini adalah a. Insidensi kusta di Poli Kulit Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin adalah sekitar 0,65% dari semua orang yang dating berobat ke Poli Kulit Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin. b. Kejadian kusta pada usia 50 tahun lebih banyak dibandingkan usia >50 tahun yaitu sekitar 80,65% untuk usia 50 tahun dan 19,35% pada usia >50 tahun. c. Kejadian kusta di Poli Kulit Kelamin RSUD Ulin Banjarmasin lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. d. Dibandingkan dengan rumah sakit lain yaitu RS Lauleng Parepare dan RS Soetomo kejadian kusta di RSUD Ulin Banjarmasin masih lebih rendah.

20

DAFTAR PUSTAKA

1.Ditjen PPM & PL Dep. Kes. RI, Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta, Cetakan XVIII, Jakarta, 2006 ; 4-138. 2.Beijing 15th International Leprosy Congress, Working Toward a Word Without Leprosy, 1998 ; 1-8. 3.Djuanda, Adhi. KUSTA, Diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta: FKUI,1997. 4. Kosasih A, Made Wisnu I, Emmy S.J, Linuwih S. M, Kusta, dalam : Juanda, Adhi, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi IV, FKUI, Jakarta,2005;73-88. 5. Ditjen PPM & PL Dep.Kes. RI, Modul Epidemiologi Penyakit Kusta dan Program Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta, 2001 ; 1-10. 6.Amirudin M. D, Kusta, dalam : Harahap, M, Ilmu Penyakit Kulit, cetakan I, 2000; 260-4. 7.Bustan M.N, Pengantar Epidemiologi, Rhineka Cipta, Jakarta, 1997; 4-7. 8.Agusni,Indropo. Penderita Kusta Anak baru DI DIVISI KUSTA URJ. KESEHATAN KULIT DAN KELAMINRSU. Dr. SOETOMO SURABAYA PERIODE 2009 2011. Seminar : Penelitian retrospektif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 2012. 9.Syarifudin. Gambaran Kejadian Penderita Penyakit Kusta Di Rumah Sakit Lauleng Parepare. Politeknik Kesehatan Makasar; vol II No.3:2013. 10. Pascale Allotay, Margaret Gyapong, The gender agenda in the control of tropical diseases : A review of current evidence, social, economic and behaviour reseach, special topics no.4, 1997; 17-8. 11. Bakker M.I, Hatta M, Kwenang A, Mosseveld P.V, Risk Factors For Developing Leprosy a populations based cohort study in Indonesia, Leprosy Review (2006) 77; 48 52.

21