Anda di halaman 1dari 183

PENGEMBANGAN SISTEM EVALUASI BUAH MANGGIS

SECARA NON DESTRUKTIF


DENGAN GELOMBANG ULTRASONIK











DEDY ALHARIS NASUTION






















SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
SURAT PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengembangan Sistem
Evaluasi Buah Manggis Secara Non Destruktif Dengan Gelombang Ultrasonik
adalah karya saya sendiri dengan arahan Komisi Pembimbing dan belum diajukan
dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka
di bagian akhir disertasi ini.




Bogor, September 2006

Dedy Alharis Nasution
NIM F.126010021

ABSTRAK


DEDY ALHARIS NASUTION. Pengembangan Sistem Evaluasi Buah Manggis
Secara Non Destruktif Dengan Gelombang Ultrasonik . Dibimbing oleh HADI K.
PURWADARIA, I. WAYAN BUDIASTRA, AMORANTO TRISNOBUDI, dan
SUROSO.
Manggis merupakan komoditas unggulan Indonesia dengan nilai ekspor
yang tertinggi yaitu $US 9.31 juta pada tahun 2003. Namun manggis asal
Indonesia sering memperoleh claim akibat mutu daging buah yang tidak dapat
dijamin. Untuk memenuhi tuntutan dari negara pengimpor bahwa bukan hanya
mutu luarnya saja yang harus berkondisi baik namun juga mutu dalamnya (tidak
bergetah kuning dan busuk atau tidak keras, berwarna putih segar, dan memiliki
rasa manis yang cukup) maka diperlukan penanganan sortasi yang baik.
Kemampuan penanganan sortasi masih terbatas pada kondisi fisik luar sedangkan
kondisi dalam manggis secara visual tidak dapat diketahui. Tujuan penelitian ini
adalah mengkaji karakteristik gelombang ultrasonik untuk pengembangan teknik
sortasi mutu dalam manggis secara non destruktif. Sistem pengukuran
karakteristik gelombang ultrasonik pada manggis telah dirakit untuk menentukan
tingkat ketuaan dan total gula pada frekuensi 50 kHz, sedangkan time base yang
sesuai untuk berbagai tingkat ketuaan dan kematangan buah manggis adalah
400s/div.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan rambat gelombang
ultrasonik berkorelasi cukup baik dengan tingkat ketuaan maupun total gula
manggis, dimana kecepatan menurun dengan bertambahnya tingkat ketuaan
maupun total gula. Kecepatan rambat gelombang ultrasonik manggis rusak
berbeda nyata dengan manggis tidak rusak. Kecepatan rambat gelombang
ultrasonik pada manggis tidak rusak 0.1339 mm/s, sedangkan pada.manggis
rusak > 0.1339 mm/s. Ketepatan validasi jaringan saraf tiruan yang
dikembangkan untuk pendugaan tingkat ketuaan, tingkat kemanisan, dan manggis
rusak masing-masing sebesar 86.67 %, 80.95 %, dan 90.00%.
Prediksi masa simpan menggunakan peubah kecepatan rambat gelombang
ultrasonik. Berdasarkan hasil uji organoleptik masa simpan untuk buah manggis
pada suhu ruang adalah 9 hari. Pada masa simpan tersebut kecepatan rambat
gelombang ultrasonik (c) adalah 0.1339 mm/s. Dengan demikian laju perubahan
per hari dari kecepatan rambat gelombang ultrasonik (k) selama masa simpan
adalah 0.0011 mm/s. Jika kecepatan rambat gelombang ultrasonik (c) diketahui
maka persamaan perkiraan umur simpan (t) buah manggis adalah : t = {(c-
0.1240)/0.0011} hari, dan persamaan perkiraan sisa umur simpan yang dapat
dipertahankan bagi buah manggis (t) adalah : {(0.1339-c)/0.0011} hari.




ABSTRACT


Mangosteen remains at the highest value among the exported Indonesian
fruits amounting to 9.31 million USD in 2003. However, claim for inner quality
is often imposed to Indonesian mangosteen. Sortation is critically required to
remove fruits with low inner quality such as gamboges, transluscent or defect.
The objective of this study was to assess the ultrasonic characteristics related to
physico-chemical properties of mangosteen for non-destructive evaluation of the
fruit. Experiment set up to determine the ultrasonic characteristic of mangosteen
was assembled in relation of its maturity and total sugar at frequency of 50 kHz.
The results showed that the velocity of ultrasonic wave correlated positively with
the maturity and total sugar. The velocity of the ultrasonic wave penetrating the
defect fruit was significantly different from the wholesome fruits, with the range
of ultrasonic wave velocity for the defect mangosteen > 0.1339 mm/s while for
the wholesome mangosteen 0.1339 mm/s. The validation for neural network
application to predict the maturity level, total sugar, and the wholesomeness of
mangosteen was proved to be 86.67%, 80.95%, and 90.00%, respectively. In
predicting the shelf life of mangosteen, the velocity of ultrasonic wave was
transformed into a quality index. Based on the result of organoleptic test, the
storage life for mangosteen of room temperature was 9 days with the velocity of
ultrasonic wave (c) was 0.1339 mm/s. If the velocity of ultrasonic wave (c) was
given, the formula to predict the storage life (t) of mangosteen was : t = {(c-
0.1240)/0.0011} days, and the remaining time to keep mangosteen in reasonable
quality in the storage (t) was : {(0.1339-c)/0.0011}days.

PENGEMBANGAN SISTEM EVALUASI BUAH MANGGIS
SECARA NON DESTRUKTIF
DENGAN GELOMBANG ULTRASONIK













DEDY ALHARIS NASUTION







Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Departemen Ilmu Keteknikan Pertanian (TEP)














SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
Judul Disertasi : Pengembangan Sistem Evaluasi Buah Manggis Secara Non
Destruktif dengan Gelombang Ultrasonik
Nama : Dedy Alharis Nasution
NIM : F.126010021




Disetujui

Komisi Pembimbing







Prof. Dr. Ir. Hadi Karya Purwadaria, M.Sc.
Ketua
Dr. Ir. I. Wayan Budiastra, M.Agr.
Anggota







Dr. Ir. Suroso, M.Agr.
Anggota
Dr. Ir. Amoranto Trisnobudi
Anggota



Diketahui

Ketua Program Studi
Ilmu Keteknikan Pertanian (TEP)
Dekan Sekolah Pascasarjana







Prof. Dr. Ir. Budi Indra Setiawan, M.Agr. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.




Tanggal Ujian : 04 Agustus 2006 Tanggal Lulus : 07 September 2006
PRAKATA


Puji syukur penulis panjatkan pada Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayahNya sehingga penyusunan karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Selama
dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunannya banyak pihak yang turut
membantu, menunjang, dan mendukung. Oleh karenanya dalam kesempatan ini
dengan rasa hormat penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada :
1 Bpk. Dr. Ir. Trip Alihamsyah, M.Sc. selaku Kepala Balai Besar Pengembangan
Mekanisasi Pertanian yang telah memberi dukungan kepada penulis selama
melaksanakan tugas belajar.
2 Rektor IPB dan Dekan Sekolah Pascasarjana IPB yang telah berkenan
menerima penulis sebagai peserta program S-3.
3 Bpk. Prof. Dr. Ir. Hadi Karya Purwadaria, M.Sc. selaku Ketua Komisi
Pembimbing yang telah memberikan saran dan petunjuk berkenaan dengan
studi, penelitian, dan penulisan disertasi ini.
4 Bpk. Dr. Ir. I. Wayan Budiastra, M.Agr., Bpk. Dr. Amoranto Trisnobudi , Bpk.
Dr. Ir. Suroso, M.Agr. selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak
memberikan masukan, petunjuk, saran, dan koreksi terkait selama penelitian
dan penulisan disertasi ini.
5 Proyek PAATP Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian RI yang telah
memberi beasiswa pendidikan dan biaya penelitian kepada penulis di dalam
menyelesaikan pendidikan program S-3.
6 Bapak Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto, M.Sc. selaku pimpinan Pusat Kajian
Buah Tropis (PKBT) Rusnas Buah yang membantu sebagian dana penelitian.
7 Semua pihak yang tidak mungkin disebut satu persatu namanya yang telah
banyak membantu dalam pelaksanaan penelitian.
8 Ayahanda (almarhum) dan ibunda tercinta yang telah memberi kasih
sayangnya dan doa serta dorongan dalam menggapai cita-cita.
9 Secara khusus kepada istriku Amri Yanti Lubis dan anakku Dylan Algifari
Nasution tersayang yang selalu mau mengerti akan minimnya waktu dalam
memberi perhatian yang dikarenakan kesibukan selama melaksanakan tugas
belajar.
Selain ucapan rasa terima kasih penulis juga mohon maaf sebesar-besarnya
yang mungkin selama dalam pelaksanaan penelitian telah banyak melakukan
kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja.
Penulis sangat menyadari bahwa disertasi ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karenanya baik kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan
demi kesempurnaan disertasi ini. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini
dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi yang
membutuhkan informasi terkait.



Bogor, September 2006

Dedy Alharis Nasution
RIWAYAT HIDUP


Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 28 Pebruari 1961 sebagai anak
kedua dari dua bersaudara dari pasangan Said Ali Nasution dan Poniyem.
Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Mekanisasi Pertanian, Fakultas
Teknologi Pertanian, lulus pada tahun 1985. Pada tahun 1997, penulis diterima di
Program Studi Teknologi Pascapanen (TPP) pada Program Pascasarjana IPB dan
lulus pada tahun 2000. Kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor pada
program studi dan pada perguruan tinggi yang sama diperoleh pada tahun 2001.
Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari proyek PAATP Badan Litbang
Pertanian, Departemen Pertanian Republik Indonesia.
Penulis bekerja sebagai Perekayasa di Balai Besar Pengembangan
Mekanisasi Pertanian Serpong sejak 1990. Bidang penelitian yang menjadi
tanggung jawab penulis sebagai perekayasa adalah bidang pascapanen.
Karya ilmiah berjudul Sortasi Buah Manggis dengan Karakteristik
Gelombang Ultrasonik telah disajikan pada Seminar Nasional Teknologi Inovatif
Pascapanen untuk Pengembangan Industri Berbasis Pertanian pada bulan
September 2005.
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL .. xii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN .xvii

DAFTAR SIMBOL PERSAMAAN . xix

PENDAHULUAN
Latar Belakang ...... 1
Masalah Dan Penyelesaian Masalah .... 4
Tujuan Penelitian .. 6
Manfaat Yang Diperoleh ........ 7

TINJAUAN PUSTAKA
Identifikasi Buah Manggis ... 8
Anatomi, Morfologi, dan Sifat Fisik Buah Manggis ......11
Tingkat Ketuaan dan Kematangan Buah Manggis .13
Perubahan Sifat Fisik Buah Manggis ...... 13
Perubahan Sifat Kimia Buah Manggis .... 16
Fisiologi Pasca Panen Buah Manggis 17
Kerusakan Bagian Dalam Buah Manggis ..... 20
Evaluasi Mutu Buah Secara Non Destruktif .. 21
Image Processing (Citra Digital) ...... 22
Gelombang Infra Merah Dekat (NIR, atau near infra red) .. 22
Gelombang Sinar X dan Sinar Gamma ..23
Gelombang Ultrasonik ...... 23
Aplikasi Gelombang Ultrasonik Untuk Penentuan Mutu Buah .. 24
Perbedaan Kecepatan Rambat Gelombang Ultrasonik ..24
Perbedaan Koefisien Atenuasi Gelombang Ultrasonik ..25
Perbedaan Power Spectral Density Gelombang Ultrasonik .. 26



ix
Halaman

PENDEKATAN TEORITIK
Elastisitas Medium ... 27
Identifikasi Gelombang Ultrasonik dan Karakteristik Gelombang
Ultrasonik ...... 31
Identifikasi Gelombang Ultrasonik .. 31
Kecepatan Rambat ..... 32
Koefisien Atenuasi ... 35
Power Spectral Density ......39
Prediksi Masa Simpan Buah Manggis .....40

BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu .... 42
Bahan dan Peralatan .. 42
Bahan ....... 42
Peralatan .. 45
Metode Penelitian .. 47
Pelaksanaan Penelitian ... 47
Penelitian Pendahuluan 48
Pengkajian Sifat Fisiko Kimia dan Karakteristik
Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis .... 49
Pengkajian Hubungan Korelasi Sifat Fisiko Kimia dengan
Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis 49
Pengkajian Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah
Manggis Rusak ......50
Pengkajian Prediksi Tingkat Ketuaan (Umur Petik), Tingkat
Kemanisan, dan Buah Manggis Rusak dengan Karakteristik
Gelombang Ultrasonik 50
Pengkajian Model Prediksi Masa Simpan Buah Manggis
dengan Karakteristik Gelombang Ultrasonik ... 51
Pengukuran dan Pengolahan Karakteristik Gelombang
Ultrasonik .... 56
Analisis Sifat Fisiko Kimia Buah Manggis ....60
Penentuan Sifat Fisik Buah Manggis ... 60



x
Halaman

Penentuan Sifat Kimia Buah Manggis .... 60
Uji Organoleptik (Subyektif) .... 62
Aplikasi Metode Jaringan Syaraf Tiruan untuk Pengembangan
Sortasi Buah Manggis ...... 63
Validasi Model ...66

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sifat Fisik Buah Manggis ...... 68
Sifat Fisik Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan (Umur
Petik) ... 68
Sifat Fisik Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Kematangan
(Masa Pematangan) ....... 69
Sifat Kimia Buah Manggis ..... 71
Sifat Kimia Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan (Umur
Petik) ...... 71
Total Gula Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan
(Umur Petik) ......71
Total Asam Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan
(Umur Petik) ........ 72
Total Padatan Terlarut Buah Manggis Berdasarkan Tingkat
Ketuaan (Umur Petik) . 72
Sifat Kimia Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Kematangan
(Masa Pematangan) .... 73
Total Gula Buah Manggis Berdasarkan Tingkat
Kematangan (Masa Pematangan) .... 73
Total Asam Buah Manggis Berdasarkan Tingkat
Kematangan (Masa Pematangan) .. 74
Total Padatan Terlarut Buah Manggis Berdasarkan
Tingkat Kematangan (Masa Pematangan) .
75
Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis . 75
Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis
Berdasarkan Tingkat Ketuaan (Umur Petik) ..... 75
Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis
Berdasarkan Tingkat Kematangan (Masa Pematangan) .. 77
Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis Rusak 78


xi
Halaman

Hubungan Sifat Fisiko Kimia Buah Manggis dengan Karakteristik
Gelombang Ultrasonik ...... 80
Hubungan Sifat Fisik dengan Sifat Kimia Buah Manggis .......... 80
Hubungan Sifat Fisik dengan Karakteristik Gelombang
Ultrasonik pada Buah Manggis ... 82
Hubungan Sifat Kimia dengan Karakteristik Gelombang
Ultrasonik pada Buah Manggis ... 83
Pengembangan Model Sortasi dengan Metode Jaringan Syaraf Tiruan 85
Prediksi Tingkat Ketuaan (Umur Petik) Buah Manggis .... 85
Prediksi Tingkat Kemanisan Buah Manggis 87
Prediksi Buah Manggis Rusak........90
Prediksi Masa Simpan Buah Manggis ... 92

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan ..... 95
Saran ........96

DAFTAR PUSTAKA ..... 98

LAMPIRAN ......102

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Perkembangan ekspor buah manggis Indonesia pada tahun 1996 2003
(Ditjen Hortikultura, 2004) ........ 2
2 Perkembangan luas panen (ha) dan produksi (ton) buah manggis
Indonesia pada tahun 2000 2003 (Ditjen Hortikultura, 2004) . 2
3 Beberapa metode uji mutu bagian dalam secara non destruktif (NDT)
untuk buah 6
4 Tiga klon tanaman manggis ............ 9
5 Komposisi kandungan nilai gizi buah manggis (per 100 g) ...... 12
6 Persyaratan minimum SNI tentang pengkelasan mutu buah manggis .. 13
7 Indeks kematangan buah manggis berdasarkan indeks warna kulit buah . 15
8 Warna, kekerasan kulit buah, dan total padatan terlarut buah manggis
pada berbagai indeks panen ....... 17
9 Tiga kelompok buah manggis sebagai sampel penelitian ......... 42
10 Lima kelompok sampel buah manggis penelitian berdasarkan tingkat
ketuaan ... 43
11 Istilah buah manggis tidak rusak dan buah manggis rusak ..44
12 Format uji organoleptik (subyektif) dalam menentukan masa simpan
dan sifat fisiko kimia kritis buah manggis .. 63
13 Nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang ultrasonik selama 12 hari
masa pematangan ..... 78
14 Pengelompokan buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan (umur petik)
dan deskripsi bilangan binernya .......85
15 Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan dalam memprediksi buah
manggis berdasarkan tingkat ketuaan (umur petik) ...
86
16 Pengkelasan buah manggis berdasarkan tingkat kemanisan .. 88
17 Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan dalam memprediksi tingkat
kemanisan buah manggis berdasarkan nilai total gula ..
89
18 Pengelompokan buah manggis rusak dan tidak rusak berdasarkan
kondisi bagian dalam buah ........ 90
19 Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan dalam memprediksi buah
manggis rusak .... 92



xiii
Halaman

20 Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada kelompok buah manggis
dengan tingkat ketuaan 1 dan tingkat ketuaan 3 selama 12 hari masa
pematangan (mm/s) . 93

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Pohon manggis yang tumbuh di sekitar pemukiman penduduk ..... 8
2 Buah manggis timbul pada ujung atau bagian dalam ranting pohon . 11
3 Bentuk bunga, buah muda di pohon, buah siap dipanen, dan buah
manggis siap dikonsumsi ....... 12
4 Bentuk fisik buah manggis menurut indeks kematangan berdasarkan
indeks warna kulit buah ...16
5 Perkembangan pertumbuhan dan pola laju respirasi buah (Kays, 1991) 19
6 Kerusakan yang terjadi pada buah manggis 21
7 Komponen-komponen tegangan pada bidang elemen kubus .. 27
8 Komponen-komponen regangan pada bidang elemen kubus .. 28
9 Perambatan gelombang di dalam suatu medium .. 32
10 Elemen volume dalam padatan pada keadaan setimbang (atas) dan pada
saat dilalui gelombang akustik (bawah) .. 34
11 Atenuasi gelombang akustik pada medium rambat .36
12 Diagram alir program pengolahan power spectral density gelombang
ultrasonik .... 40
13 Lima kelompok sampel buah manggis penelitian berdasarkan tingkat
ketuaan (umur petik) .. 43
14 Skema rangkaian dan komponen alat pengukuran karakteristik
gelombang ultrasonik .. 45
15 Skema rangkaian komponen Ultrasonic Tester .... 46
16 Tahap pelaksanaan penelitian . 48
17 Tahap pengkajian sifat fisiko-kimia dan karakteristik gelombang
ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan (umur petik) 52
18 Tahap pengkajian sifat fisiko-kimia dan karakteristik gelombang
ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat kematangan (masa
pematangan) .52
19 Tahap pengkajian hubungan sifat fisiko-kimia dengan karakteristik
gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan
(umur petik) .. 53




xv
Halaman

20 Tahap pengkajian hubungan sifat fisiko-kimia dengan karakteristik
gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat
kematangan (masa pematangan) .... 53
21 Tahap pengkajian karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis rusak. ....... 54
22 Tahap pengkajian prediksi tingkat ketuaan (umur petik) buah manggis
dengan karakteristik gelombang ultrasonik ... 54
23 Tahap pengkajian prediksi tingkat kemanisan buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik .. 55
24 Tahap pengkajian prediksi buah manggis rusak dengan karakteristik
gelombang ultrasonik ............. 55
25 Tahap pengkajian model prediksi masa simpan buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik ..... 56
26 Posisi sampel dan transducer saat pengukuran .. 57
27 Bentuk sinyal gelombang ultrasonik mula-mula (kiri) dan ketika
dilakukan pengukuran buah manggis (kanan) .... 57
28 Menentukan variabel t dari persamaan kecepatan rambat dan variabel
Am dari persamaan koefisien atenuasi . 58
29 Range data menentukan nilai power spectral density ..59
30 Salah satu contoh bentuk dan nilai power spectral density .... 60
31 Struktur jaringan syaraf tiruan yang digunakan .... 64
32 Nilai rata-rata kekerasan kulit buah manggis berdasarkan tingkat
ketuaan (umur petik) . 69
33 Perbedaan nilai rata-rata kekerasan kulit buah selama 12 hari masa
pematangan pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 (kiri) dan
tingkat ketuaan 3 (kanan) .70
34 Nilai rata-rata sifat kimia buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan
(umur petik) ....... 71
35 Nilai rata-rata sifat kimia pada kelompok buah manggis dengan tingkat
ketuaan 1 (sisi kiri) dan tingkat ketuaan 3 (sisi kanan) selama 12 hari
masa pematangan (suhu ruang) .. 74
36 Nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah
manggis berdasarkan tingkat ketuaan (umur petik) .76
37 Nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah
manggis dengan tingkat ketuaan 1 (kiri) dan tingkat ketuaan 3 (kanan)
selama 12 hari masa pematangan ... 77


xvi
Halaman

38 Batas dan daerah nilai kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada
buah manggis tidak rusak dan rusak ... 79
39 Hubungan sifat fisik dengan sifat kimia buah manggis ..81
40 Hubungan karakteristik gelombang ultrasonik dengan sifat fisik buah
manggis ....... 82
41 Hubungan sifat kimia dan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis ....84
42 Struktur dari model jaringan syaraf tiruan yang digunakan dalam
memprediksi buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan (umur petik) 86
43 Model struktur jaringan syaraf tiruan memprediksi tingkat kemanisan
buah manggis berdasarkan total gula ..... 89
44 Struktur model jaringan syaraf tiruan dalam memprediksi kondisi buah
manggis (rusak dan tidak rusak) ........ 91
45 Kecepatan rambat gelombang ultrasonik kritis pada buah manggis
selama masa simpan ..... 93

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Program menentukan nilai besaran power spectral density dengan
contoh data sinyal gelombang ultrasonik hasil pengukuran dari salah
satu sampel buah manggis ..... 103
2 Kekerasan kulit buah manggis sampel berdasarkan tingkat ketuaan atau
umur petik (N) ........ 105
3 Kekerasan kulit buah manggis sampel berdasarkan tingkat kematangan
atau masa pematangan (N) ..... 106
4a Total gula buah manggis sampel berdasarkan tingkat ketuaan atau umur
petik (g/100g) 107
4b Total asam buah manggis sampel berdasarkan tingkat ketuaan atau umur
petik (ml/100g) ....108
4c Total padatan terlarut buah manggis sampel berdasarkan tingkat ketuaan
atau umur petik (
O
brix) .........109
5a Total gula buah manggis sampel berdasarkan tingkat kematangan atau
masa pematangan (g/100g) .......110
5b Total asam buah manggis sampel berdasarkan tingkat kematangan atau
masa pematangan (ml/100g) .....111
5c Total padatan terlarut buah manggis sampel berdasarkan tingkat
kematangan atau masa pematangan (
O
brix) ....112
6a Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis sampel
berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik (mm/s) .. 113
6b Koefisien atenuasi gelombang ultrasonik pada buah manggis sampel
berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik (Np/mm) ..114
6c Power spectral density gelombang ultrasonik pada buah manggis sampel
berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik (W/Hz) .... 115
7a Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis sampel
berdasarkan tingkat kematangan atau masa pematangan (mm/s) ..116
7b Koefisien atenuasi gelombang ultrasonik pada buah manggis sampel
berdasarkan tingkat kematangan atau masa pematangan (Np/mm) 117
7c Power spectral density gelombang ultrasonik pada buah manggis sampel
berdasarkan tingkat kematangan atau masa pematangan (W/Hz) .. 118
8 Karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis rusak ...119
9 Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada sampel buah manggis
tidak rusak dan rusak (mm/s) ............120


xviii
Halaman

10 Data sifat fisik dan sifat kimia buah manggis sampel dalam menentukan
hubungan korelasi .......121
11 Data sifat fisik dan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis sampel dalam menentukan hubungan korelasi ..122
12 Data sifat kimia dan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis sampel dalam menentukan hubungan korelasi ..123
13 Data input dan target proses dan output pembelajaran jaringan syaraf
tiruan pada prediksi tingkat ketuaan atau umur petik buah manggis
dengan karakteristik gelombang ultrasonik ... 124
14 Data input dan target proses dan output validasi jaringan syaraf tiruan
pada prediksi tingkat ketuaan atau umur petik buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik .129
15 Tahapan proses pembentukan dan running jaringan syaraf tiruan pada
prediksi tingkat ketuaan atau umur petik buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik ...130
16 Data input dan target proses dan output pembelajaran jaringan syaraf
tiruan pada prediksi tingkat kemanisan buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik .......... 135
17 Data input dan target proses dan output validasi jaringan syaraf tiruan
pada pendugaan tingkat kemanisan buah manggis dengan karakteristik
gelombang ultrasonik ........ 144
18 Tahapan proses pembentukan dan running jaringan syaraf tiruan pada
prediksi tingkat kemanisan buah manggis dengan karakteristik
gelombang ultrasonik ....146
19 Data input dan target proses dan output pembelajaran jaringan syaraf
tiruan pada prediksi buah manggis rusak dengan karakteristik
gelombang ultrasonik ............ 152
20 Data input dan target proses dan output validasi jaringan syaraf tiruan
pada prediksi buah manggis rusak dengan karakteristik gelombang
ultrasonik ........... 156
21 Tahapan proses pembentukan dan running jaringan syaraf tiruan pada
prediksi buah manggis rusak dengan karakteristik gelombang ultrasonik 157



DAFTAR SIMBOL PERSAMAAN


C
6
H
12
O
6
: glukosa (mol)
O
2
: udara (mol)
CO
2
: karbon dioksida (mol)
H
2
O : air (mol)
d : bias
a
Y : nilai aktual rata-rata
: frekuensi sudut (rad/s)
: gangguan yang melewati suatu medium (besaran sembarang)
: konduktivitas panas (W/m.K)
: modulus (N/m
2
)
: perbandingan panas jenis
: regangan
: tegangan
: viskositas (Pa.s)
, : konstanta Lame

0
: rapat masa medium (kg/m
3
)
A : luas penampang bahan (m
2
)
a, b : konstanta
a
j,k
: nilai output hidden layer neuron ke-j untuk output layer pada neuron
ke-k
Am : amplitudo (mV)
Am
0
: amplitudo awal (mV)
Am
1
: amplitudo akhir (mV)
b
1,j
: bias pertama ada neuron ke-j hidden layer
BM : berat molekul asam malat
c : kecepatan rambat gelombang (m/s)
c
0
: kecepatan rambat gelombang pada frekuensi 0 (m/s)
c
ij
: konstanta elastik (i, j = 1, 2, 3,., 6)


xx
C
p
: panas jenis pada tekanan konstan (J/kg.
0
C)
CV : coeffisien of variation (%)
D : perubahan mutu (satuan indeks mutu)
D
0
: nilai mutu awal (satuan indeks mutu)
D
1
: nilai mutu akhir (satuan indeks mutu)
F : gaya tekan (N)
G : shear modulus (N/m
2
)
H
j
: nilai output hidden layer pada neuron ke-j
I : intensitas akhir (mV)
I
0
: intensitas awal (mV)
I
i
: nilai input input layer pada neuron ke-i
K : bulk modulus (N/m
2
)
k : laju penurunan mutu (satuan indeks mutu/satuan waktu)
L : panjang bahan (m)
N : normalitas NaOH (N)
O
k
: nilai pada output layer neuron ke-k
P : tekanan (N/m
2
)
P
0
: tekanan awal (N/m
2
)
P
E
: faktor pengenceran
SEP : standard error prediction
t
S
: masa simpan (satuan waktu)
V : volume bahan (m
3
)
V : volume NaOH (ml)
W : bobot sampel (g)
W
1,j
: pembobot pertama pada neuron ke-j hidden layer
x : tebal bahan (m) atau diameter bahan (mm)
X
I
: nilai input pada suatu layer
y : ouput akhir
Y : Young modulus (N/m
2
)
Y
a
: nilai aktual (sesungguhnya)
Y
M
: perubahan mutu produk (satuan indeks mutu)
Y
O
: nilai output pada suatu layer


xxi
Y
p
: nilai prediksi (keluaran model)
: koefisien atenuasi (Np/m)

th
: koefisien atenuasi akibat konduktivitas panas (Np/m)

vis
: koefisien atenuasi akibat viskositas (Np/m)
L : pertambahan panjang bahan (m)
t : waktu rambat gelombang ultrasonik (s)
V : pertambahan volume bahan (m
3
)
: rapat massa (kg/m
3
)

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Manggis merupakan salah satu buah tropis yang sangat disukai baik oleh
masyarakat dalam negeri maupun masyarakat luar negeri. Buah manggis
memiliki beberapa kekhasan sehingga sangat disukai, seperti: rasanya yang
eksotik (rasa manis berpadu dengan rasa asam dan sedikit sepat), aromanya yang
segar, dan bentuknya yang bagai bermahkota. Karena kekhasan yang dimiliki
tersebut sehingga buah manggis memiliki beberapa julukan, diantaranya: sebagai
Queen of Fruit yang diberikan oleh masyarakat dunia, sebagai Sweet Black
from Tropic oleh masyarakat eropa, dan sebagai Mutiara Hutan Belantara,
oleh masyarakat Indonesia.
Sejak tahun 1995 manggis merupakan komoditas buah ekspor Indonesia
unggulan nomor dua setelah pisang (Poerwanto, 2002). Buah manggis memiliki
pasar dan nilai ekonomi yang sangat baik di luar negeri maupun di dalam negeri,
tercermin dari harganya yang jauh lebih tinggi dibanding harga buah lainnya.
Harga buah manggis di pasar dunia berkisar antara Rp. 10 000,-hingga Rp. 25
000,-/kg bahkan di negara Saudi Arabia harganya dapat mencapai Rp. 100 000,-
hingga Rp. 150 000,-/kg, sementara di pasar lokal antara Rp. 5 000,-hingga Rp. 8
000,-/kg,
Ekspor buah manggis Indonesia terus mengalami peningkatan yang tajam
dari tahun 1996 hingga 2003 (Tabel 1), dimana pada tahun 1996 hanya sebesar 1
981 ton dengan nilai $US 1.52 juta dan pada tahun 2003 sebesar 9 310 ton dengan
nilai $US 9.31 juta (BPS, 2005). Beberapa negara tujuan ekspor buah manggis
Indonesia sementara ini adalah : Jepang, Cina, Hongkong, Taiwan, Belanda,
Perancis, Saudi Arabia, dan beberapa negara timur tengah lainnya. Sentra
produksi buah manggis Indonesia adalah Jawa Barat (Jasinga, Ciamis, Wanayasa,
Tasikmalaya), Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Bali, NTT, NTB, Maluku, dan
Papua. Perkembangan luas panen dan produksi buah manggis Indonesia


2
mengalami peningkatan dari tahun 2000 hingga 2003, dimana pada tahun 2000
hanya seluas 5 192 ha dengan produksi sebesar 26 400 ton sedangkan pada tahun
2004 seluas 9 354 ha dengan produksi sebesar 79 073 ton (Tabel 2).

Tabel 1 Perkembangan ekspor buah manggis Indonesia pada
tahun 1996 2003 (Ditjen Hortikultura, 2004)

Tahun Volume (10
3
Ton) Nilai (US$ 10
6
)
1996 1.98 1.52
1997 1.81 2.29
1998 0.15 0.15
1999 4.74 3.89
2000 7.18 5.89
2001 4.87 3.95
2002 6.51 6.96
2003 9.30 9.31

Tabel 2 Perkembangan luas panen (ha) dan produksi (ton) buah
manggis Indonesia pada tahun 2000 2003 (Ditjen
Hortikultura, 2004)

2000 2001 2002 2003
Sentra
produksi
Luas
panen
Prod
Luas
panen
Prod
Luas
panen
Prod
Luas
panen
Prod
Sumatera 1 498 7 267 1 967 12 162 2 353 22 168 3 715 30 574
Jawa 3 200 16 707 1 655 9 872 4 708 34 036 4 710 42 471
Bali + NTT/B 130 680 149 545 240 1 193 383 2 080
Kalimantan 284 1 401 418 1 927 346 2 421 288 1 949
Sulawesi 58 287 181 945 363 2 020 200 1 438
Maluku+Papua 22 58 237 361 41 217 58 561
INDONESIA 5 192 26 400 4 607 25 812 8 051 62 055 9.354 79 073

Ekspor buah manggis Indonesia walaupun terus mengalami peningkatan
yang tajam, namun dilihat dari nilai volumenya masih relatif kecil dibanding nilai
volume ekspor negara Thailand, Malaysia, dan Singapura yang rata-rata dapat
mencapai 30.000 ton per tahunnya (BPEN, 1999). Jumlah nilai volume ekspor
yang kecil tesebut bukan dikarenakan rendahnya permintaan akan buah manggis
Indonesia namun salah satu faktor penyebabnya adalah akibat sering terjadinya
penolakan buah manggis Indonesia setiba di negara tujuan ekspor setelah
diperiksa mutu bagian dalamnya walau dilihat dari mutu bagian luarnya telah
memenuhi persyaratan ekspor. Keadaan ini menggambarkan bahwa penanganan
terutama terhadap mutu bagian dalam buah manggis kurang baik. Sortasi di


3
Indonesia yang sementara ini hanya didasarkan pada evaluasi mutu bagian luarnya
saja tidak dapat memberi jaminan. Kejadian ini sangat merugikan para eksportir
buah manggis Indonesia dan juga akan menurunkan kepercayaan dunia terhadap
komoditas buah ekspor Indonesia. Tidak jarang keadaan demikian dimanfaatkan
oleh beberapa negara tetangga Indonesia, seperti Singapura. Mereka mengimpor
buah manggis dari Indonesia dan setelah dilakukan sortasi dengan kemampuan
teknologinya dalam uji mutu, kemudian diekspor kembali dengan memberi
jaminan mutu 100% baik ke berbagai negara seperti Jepang dengan harga yang
berlipat ganda
Berdasarkan kriteria SNI 01-3211-1992, buah manggis dikelaskan menjadi
tiga kelas mutu, yaitu Mutu Super, Mutu I, dan Mutu II. Persyaratan minimum
pengkelasan mutu tersebut didasarkan pada : keseragaman ukuran diameter buah,
tingkat kesegaran, warna kulit, kecacatan atau kebusukan buah, kelengkapan
tangkai atau kelopak buah, keberadaan serangga dan kadar kotorannya, dan warna
daging buah. Baik petani, pedagang pengumpul, maupun eksportir telah
melakukan sortasi pengkelasan mutu buah manggis dengan mengacu pada
persyaratan minimum SNI, namun kegiatan ini masih dilakukan secara manual
dan visual yang mempunyai tingkat kesalahan yang relatip masih tinggi (20 %).
Terlihat bahwa sistem sortasi yang ada lebih ditujukan pada mutu bagian luarnya
saja dan hingga kini di Indonesia belum ada sistem sortasi yang mempunyai
kemampuan untuk mendeteksi mutu bagian dalam buah, padahal masalah yang
masih sering dialami oleh eksportir buah Indonesia adalah tidak dapat memberi
jaminan mutu dalam buah sehingga tidak jarang mengalami kerugian biaya
transportasi yang sia-sia. Kerusakan mutu dalam yang sering dijumpai pada buah
manggis dapat berupa getah kuning (gummosis), daging buah berwarna bening
dan mengeras (transluscent), dan kebusukan (decay).
Lama perjalanan pengiriman buah ke konsumen akhir dan keseragaman
tingkat kematangan serta masa simpan buah merupakan hal yang perlu diketahui
dalam mempersiapkan buah sebelum dilakukan pengiriman ke negara tujuan
ekspor. Bila hal ini tidak diperhatikan dengan baik maka komoditas buah yang
dikirim kemungkinan akan menjadi busuk sesampai di tempat tujuan ekspor
sehingga berdampak hilangnya kepercayaan mitra ekportir di luar negeri.


4
Akibat dari beberapa hal yang kurang diketahui dan penanganan yang
kurang baik, tidaklah mengherankan bila masih terjadi penolakan terhadap buah
manggis asal Indonesia sebesar 15% oleh beberapa negara tujuan ekspor seperti
Singapura, Hongkong, dan Taiwan (BPEN, 1999).
Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu sistem sortasi buah manggis
segar yang mampu melakukan pemeriksaan mutu bagian dalam. Untuk mencapai
sasaran tersebut diperlukan suatu penelitian dan pengembangan teknik
pemeriksaan mutu bagian dalam dan prediksi masa simpan secara non destruktif.


Masalah dan Penyelesaian Masalah

Memberi jaminan mutu luar buah terhadap tuntutan negara pengimpor masih
dapat dilakukan walau dengan cara manual atau visual yang hasil evaluasinyapun
sering tidak seragam karena faktor kelelahan dan keragaman visual manusia serta
perbedaan persepsi tentang mutu buah itu sendiri. Sedangkan memberi jaminan
mutu dalam buah masih belum dapat dilakukan karena keterbatasan kemampuan
yang kita miliki dalam mengaplikasikan kemajuan teknologi dalam uji secara non
destruktif. Ketidak mampuan memberi jaminan mutu dalam ini menjadi faktor
utama menurunnya volume ekspor buah manggis Indonesia akibat penolakan oleh
negara tujuan ekspor setelah dilakukan pemeriksaan mutu dalam buah. Dampak
buruk dari kondisi tersebut dapat menurunkan kepercayaan mitra eksportir
Indonesia terhadap komoditas buah ekspor Indonesia sehingga dapat menurunkan
harga penawaran oleh negara importir. Disamping itu jika sejak awal dapat
dilakukan pemeriksaan mutu dalam buah mungkin kerugian akibat penolakan
yang akan ditanggung oleh para eksportir kita tidak akan terjadi.
Metode untuk mengetahui mutu dalam buah (tingkat kematangan atau
kerusakan) yang tepat adalah dengan metode ekstraksi (HPLC) atau visual dengan
cara pembelahan buah. Namun kedua metode ini bersifat merusak (destruktif)
dan bukanlah suatu cara penanganan yang tepat terhadap buah segar.




5
Pengaplikasian berbagai kemajuan teknologi untuk uji mutu secara non-
destruktif telah berhasil dilakukan namun baru terbatas di bidang industri dan
konstruksi. Pengaplikasian kemajuan teknologi di bidang pertanian khususnya uji
mutu dalam buah sedang giat dikaji. Dari beberapa literatur yang diperoleh ada
beberapa teknik uji mutu secara non destruktif yang dapat dan telah diaplikasikan
untuk pemeriksaan mutu dalam buah.
Sornsrivichai et al. (1999) mencoba dengan cara yang sederhana
menggunakan metode pengukuran masa jenis untuk menggolongkan buah
manggis bergetah kuning pada permukaan daging buahnya atau daging buah
berwarna bening (transluscent) dan buah manggis kondisi normal (mulus).
Namun hasil yang diperoleh menunjukkan keragaman yang tinggi antara buah
manggis getah kuning atau daging buah berwarna bening tersebut dengan buah
mulus. Pada tahun sebelumnya Thomson (1996) melaporkan bahwa pemeriksaan
secara non destruktif (Non Destructive Testing, NDT) terhadap mutu dalam buah
dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti perbedaan warna kulit secara
optik, dengan sinar x, dengan gelombang elektromagnetik, dan menggunakan
gelombang ultrasonik.
Metode menggunakan gelombang ultrasonik menjadi alternatif pilihan untuk
menentukan mutu dalam buah, karena mempunyai daya tembus yang melebihi
gelombang NIR (Near Infra Red), dan biaya investasi lebih murah dan buah yang
telah diperiksa tidak berefek bagi kesehatan jika dikonsumsi dibanding teknik
gelombang NMR (Nuclear Magnetis Resonance) atau sinar X (Tabel 3). Teknik
menggunakan gelombang ultrasonik ini telah berhasil diuji coba untuk
menentukan kematangan buah alpukat (Galili et al., 1993), beberapa sayuran dan
buah sub tropika (Mizrach et al., 1989), dan kematangan mangga (Mizrach et al.,
1997). Haryanto (2002) melaporkan bahwa sifat akustik dapat membedakan
tingkat ketuaan dari buah durian.










6
Tabel 3 Beberapa metode uji mutu bagian dalam secara non destruktif
(NDT) untuk buah

NDT Kemampuan Kelemahan

Image
Processing

dapat menentukan sifat
fisik buah (warna, bentuk,
ukuran, dan kecacatan)


hanya mampu menguji mutu
luar buah
Gelombang
NIR

dapat mendeteksi kadar
gula dan kadar asam buah
hanya mampu menguji pada
kedalaman 5 mm atau pada
buah berkulit tipis

Gelombang
Sinar X
dapat mendeteksi
kerusakan dalam buah
investasi mahal dan
kekawatiran efek samping
dari buah yang dideteksi

Gelombang
NMR

dapat mendeteksi
kerusakan dalam buah
investasi mahal dan
kekawatiran efek samping
dari buah yang dideteksi

Gelombang
Ultrasonik

dapat mendeteksi mutu
dalam dan kerusakan
dalam buah
belum banyak dilakukan,
tidak ada efek samping dari
buah yang dideteksi



Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan sistem sortasi dalam
mengevaluasi buah manggis secara non destruktif dengan gelombang ultrasonik,
baik evaluasi terhadap sifat fisiko kimia maupun buah manggis rusak (terdapat
getah kuning pada permukaan daging buah, atau daging buah berwarna bening
dan mengeras, atau daging buah busuk). Dalam rangka mencapai tujuan tersebut
dilakukan beberapa tahap penelitian yang mempunyai tujuan spesifik, yaitu :
1 Mengkaji karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan
tingkat ketuaan (maturity), tingkat kematangan (ripeness), dan pada buah
manggis rusak,
2 Mengkaji hubungan antara karakteristik gelombang ultrasonik dengan sifat
fisiko-kimia buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan dan tingkat
kematangan,


7
3 Mengkaji aplikasi gelombang ultrasonik dalam memprediksi tingkat ketuaan,
tingkat kemanisan, dan buah manggis rusak,
4 Mengkaji aplikasi gelombang ultrasonik dalam memprediksi masa simpan.


Manfaat yang Diperoleh

Sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penelitian ini diharapkan
diperoleh manfaat sebagai berikut :
1 Mengetahui tingkat ketuaan dan tingkat kematangan buah manggis serta buah
manggis rusak berdasarkan karakteristik gelombang ultrasonik,
2 Memberi data dasar perubahan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis berdasarkan tingkat ketuaan dan tingkat kematangan serta pada buah
manggis tidak rusak dan rusak,
3 Model hubungan antara karakteristik gelombang ultrasonik dengan sifat fisiko-
kimia buah manggis,
4 Mengetahui masa simpan buah manggis berdasarkan karakteristik gelombang
ultrasonik,
5 Membantu asfek sortasi mutu dalam buah manggis secara non destruktif (tak
merusak).
TINJAUAN PUSTAKA


Identifikasi Buah Manggis

Manggis merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari hutan
tropis teduh di kawasan Asia Tenggara, yaitu hutan belantara Malaysia atau
Indonesia. Dari Asia Tenggara, tanaman ini menyebar ke daerah tropis lainnya
seperti Srilanka, Malagasi, Karibia, Hawaii, dan Australia Utara dan ke daerah
Amerika Tengah. Di Indonesia manggis disebut dengan berbagai nama lokal
seperti manggu (Jawa Barat), manggus (Lampung), manggusto (Sulawesi Utara),
manggista (Sumatera Barat). Di Indonesia, umumnya pohon manggis belum
dibudidayakan secara perkebunan tetapi tumbuh di sekitar pemukiman penduduk
atau tumbuh di hutan secara liar (Gambar 1).






Gambar 1 Pohon manggis yang tumbuh di sekitar pemukiman
penduduk.



9
Berdasarkan ilmu taksonomi, tanaman atau pohon manggis diklasifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Guttiferanales
Keluarga : Guttifernae
Genus : Garcinia
Spesies : Garcinia mangostana L.

balai penelitian pohon buah-buahan solok sumatera barat
merekomendasikan tanaman manggis dibagi dalam 3 (tiga) klon, yaitu kelompok
kecil, sedang, dan besar (tabel 4). di dunia publikasi, klon tanaman manggis tidak
ada yang dikenal secara pasti karena biji dari buah tanaman manggis termasuk
dalam golongan jenis biji apomiksis, dimana golongan tanaman jenis ini
pembiakannya hanya dengan biji buah sehingga generasi tanaman berikutnya
tetap tidak berubah seperti tanaman asalnya.

Tabel 4 Tiga klon tanaman manggis

Kelompok
Kriteria
Kecil Sedang Besar
panjang daun < 17 cm 17 20 cm > 20 cm
lebar daun < 8.5 cm 8.5 10 cm > 10 cm
ketebalan kulit buah < 6.0 mm 6.0 9.0 mm > 9.0 mm
diameter buah < 5.5 cm 5.5 6.5 cm > 6.5 cm
berat buah < 70 g 70 140 g > 140 g
jumlah buah per tandan < 2 butir 1 2 butir > 2 butir

Pertumbuhan tanaman manggis mempunyai masa muda yang panjang.
Tanaman manggis mulai berproduksi buah dengan baik apabila telah berusia lebih
dari 8 tahun. Masa muda tanaman manggis yang panjang ini membuat para
investor kurang berminat menanamkan investasi modalnya membuka perkebunan
manggis. Untuk pertama kalinya, jumlah hasil panen buah tanaman manggis


10
adalah rendah tetapi pada panen berikut dan seterusnya akan meningkat mengikuti
bertambahnya umur tanaman. Tanaman manggis biasanya berbuah setahun
sekali, namun dapat berbuah di luar musim dengan jumlah produksi buah yang
jauh lebih rendah dari ketika musim biasanya.
Di Indonesia, musim buah manggis dimulai pada bulan November sampai
pada bulan April tahun berikutnya. Produksi rata-rata pada panen pertama hanya
sejumlah 5 - 10 buah/pohon, pada panen kedua rata-rata sejumlah 30 buah/pohon,
dan selanjutnya rata-rata dapat mencapai sejumlah 600 1 000 buah/pohon sesuai
dengan bertambahnya umur pohon. Puncak produksi pohon manggis yang
dipelihara secara intensif dapat menghasilkan hingga sejumlah 3 000 buah/pohon
dengan rata-rata sejumlah 2 000 buah/pohon. Produksi per ha (100 pohon) dapat
mencapai sekitar 200 000 buah atau 20 ton buah. Panen raya terjadi seiring
dengan datangnya musim kemarau panjang.
Buah manggis terletak pada ranting pohon dan dapat berkembang sekalipun
tersembunyi dari cahaya matahari (Gambar 2). Buah yang besar dan berkulit
mulus sering didapat pada ranting-ranting bagian dalam tajuk pohon, sebaliknya
buah cenderung lebih kecil dan kulit berwarna kusam yang berada pada ujung
ranting-ranting yang terbuka karena tidak terlindung dari gangguan alam dan
hama penyakit. Secara normal, satu ranting hanya mengeluarkan 1 buah manggis
namun pada secara berkala dapat ditemukan ranting yang mengeluarkan 3 hingga
7 buah manggis sekaligus.
Sentra produksi buah manggis di Indonesia adalah Kalimantan Timur,
Kalimantan Tengah, Jawa Barat (Jasinga, Ciamis, Wanayasa, Tasikmalaya),
Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Bali, NTB,
NTT, Maluku, dan Papua.









11



Gambar 2 Buah manggis timbul pada ujung atau bagian
dalam ranting pohon.


Anatomi, Morfologi, dan Sifat Fisik Buah Manggis

Buah manggis berbentuk bulat, berdiameter lebih kurang 8 cm, dan memilik
berat rata-rata antara 80 - 130 g per buah (Gambar 3). Tebal kulit buahnya antara
6 - 10 mm dan jika matang penuh berwarna merah ungu. Setiap buah manggis
memiliki rata-rata 4 helai daun kelopak buah yang melekat diantara kulit buah dan
tangkai buah. Karena bentuk daun kelopak buah yang menyerupai mahkota inilah
sehingga buah manggis dijuluki Queen of Fruit dan keutuhannya dijadikan
salah satu standar mutu luar buah oleh masyarakat eropa. Baik serangga maupun
kotorannya sering bermukim di bawah daun kelopak buah ini sehingga menjadi
persoalan yang agak sulit untuk dibersihkan, yang juga dijadikan salah satu syarat
standar mutu luar yang harus dipenuhi. Daging buah yang telah masak memiliki
tekstur yang lembut, berwarna putih bersih, dan rasa manis berpadu asam sedikit
sepat jika dimakan dalam keadaan segar. Setiap buah manggis memiliki daging
buah antara 4 hingga 7 pasi dan jumlahnya dapat diduga dari bagian dasar buah
yang berbentuk menyerupai daun kipas angin. Ukuran setiap pasi dalam buah
yang sama tidak sama besar, dimana satu atau dua pasi lebih besar dari pasi


12
lainnya. Setiap pasi mengandung biji berbentuk pipih berwarna coklat kehitaman,
sementara pasi yang berukuran kecil biasanya tidak mengandung biji.
Rasa daging buah manggis yang manis berpadu asam dan sedikit sepat dan
memilik aroma yang khas, menurut Nagy, S. and P.E. Shaw (1980) memiliki nilai
gizi seperti diuraikan pada Tabel 5.






Gambar 3 Bentuk bunga, buah muda di pohon, buah
siap dipanen, dan buah manggis siap
dikonsumsi.

Tabel 5 Komposisi kandungan nilai gizi buah manggis (per 100 g)

Jenis Gizi Nilai Gizi Jenis Gizi Nilai Gizi
Air 79.7 g fosfor 11.0 mg
kalori 76.0 kal Zat besi 0.3 mg
karbohidrat 18.6 g
serat kasar 1.3 g vitamin A 0.0 IU
lemak 0.8 g thiamine 0.06 mg
protein 0.7 g riboflamin 0.01 mg
Abu 0.2 g
vitamin B
niacin 0.04 mg
kalsium 18.0 mg vitamin C 2.0 mg

Persyaratan minimum mutu buah manggis berdasarkan SNI (01-3211-1992),
buah manggis digolongkan menjadi 3 (tiga) kelas, yaitu Mutu Super, Mutu I, dan
Mutu II (Tabel 6).


13
Tabel 6 Persyaratan minimum SNI tentang pengkelasan mutu buah manggis

Persyaratan
Jenis Uji
Mutu Super Mutu I Mutu II
1 Keseragaman seragam seragam seragam
2 Diameter buah > 65 mm 55 65 mm < 55 mm
3 Tingkat kesegaran segar segar segar
4 Warna kulit hijau kemerahan
merah muda
mengkilap
hijau kemerahan
merah muda
mengkilap
hijau kemerahan
5 Buah cacat / busuk 0 % 0 % 0 %
6 Tangkai / kelopak utuh utuh Utuh
7 Kadar kotoran 0 % 0 % 0 %
8 Serangga hidup/mati tidak ada tidak ada tidak ada
9 Warna daging buah putih bersih khas
manggis
putih bersih khas
manggis
putih bersih
khas manggis


Tingkat Ketuaan dan Kematangan Buah Manggis

Di dalam perkembangannya, buah mengalami tiga fase perubahan, yaitu
pertumbuhan, penuaan, dan pematangan. Oleh karenanya di dalam buah dikenal
istilah tua (mature) dan matang (ripe). Istilah tua pada buah didefinisikan sebagai
fase pertumbuhan yang secara alami telah sempurna perkembangannya dan segera
akan memasuki fase pematangan (Kader, 1992).
Pada proses kematangannya, buah mengalami beberapa perubahan keadaan,
diantaranya adalah perubahan sifat fisik (struktur, warna, tekstur) dan perubahan
sifat kimia (rasa dan aroma). Adanya perubahan keadaan buah ini dapat dijadikan
suatu petunjuk terjadinya kematangan.

Perubahan Sifat Fisik Buah Manggis

Perubahan struktur dengan kisaran yang luas seperti perubahan dalam tebal
dinding sel, permeabilitas plasma, dan banyaknya ruang antar sel akan
menyebabkan menjadi lunaknya jaringan daging buah. Menjadi lunaknya
jaringan daging buah dianggap sebagai petunjuk utama terjadinya pemasakan
buah (Pantastico et al., 1986).


14
Hurng (2000) mengatakan bahwa perubahan indeks tekstur buah dan sayuran
berhubungan dengan perubahan nilai Young modulusnya. Selanjutnya Hurng
menginformasikan hasil penelitiannya bahwa semakin tua buah mangga memiliki
nilai Young modulus yang semakin rendah dan mempunyai hubungan korelasi
yang nyata (R
2
= 0.8668). Dengan demikian, kematangan buah dapat ditunjukkan
dengan adanya perubahan struktur jaringan buah yang dicerminkan oleh
kekerasan (firmness) atau nilai Young modulus buah yang semakin rendah.
Perubahan warna, tekstur, aroma, dan rasa menunjukkan terjadinya
perubahan-perubahan buah dalam susunannya. Perubahan buah secara maksimal
baru akan terjadi setelah terselesaikannya perubahan kimia. Umumnya perubahan
warna kulit buah terjadi dari warna hijau ke arah warna kuning meski tidak semua
buah mengalami demikian. Perubahan aroma setiap buah mempunyai intensitas
yang berbeda, ada yang menyengat namun ada pula yang tidak mengeluarkan
aroma. Sehingga secara umum tingkat kematangan buah biasanya ditandai
dengan perubahan warna kulit buah dan keluarnya aroma buah.
Dalam proses kematangannya, buah manggis memerlukan waktu lebih
kurang 13 - 14 minggu. Tanda kematangannya adalah apabila terjadi perubahan
pada warna kulit buah. Kulit buah yang belum matang berwarna hijau
kekuningan dan akan berubah menjadi hijau dengan bintik-bintik ungu atau
kemerahan ketika memasuki masa matang penuh. Keseluruhan kulit buah akan
berubah warna dari coklat kemerahan dan seterusnya kehitaman jika buah cukup
matang. Terdapat berbagai tingkat kematangan dalam satu pohon pada masa yang
sama dan untuk memudahkan waktu panen maka digunakan indeks warna sebagai
petunjuk. Perubahan warna dari satu indeks warna ke satu indeks warna
seterusnya setelah buah manggis dipanen memerlukan waktu satu hari pada suhu
25 30
O
C. Pemilihan buah manggis untuk dipanen tergantung dengan tujuan
pemasarannya. Untuk tujuan ekspor buah manggis dipanen ketika berumur
104~108 hari sejak bunga mekar, sedangkan untuk pasaran lokal buah manggis
dipetik ketika berumur 114 sejak bunga mekar. Adapun kriterianya adalah
sebagai berikut :
1. Kulit buah berwarna ungu kemerah-merahan atau merah muda,


15
2. Kulit buah masih hijau dengan ungu merah mencapai 10~25 %, warna ungu
merahnya mencapai 50 % masih bias ditolerir.

Tingkat kematangan buah manggia sangat berpengaruh terhadap mutu dan
daya simpannya. Suprapta (1999) merinci Indeks kematangan buah manggis
berdasarkan indeks warna (Tabel 7).

Tabel 7 Indeks kematangan buah manggis berdasarkan indeks warna
kulit buah

Indeks
Warna
Deskripsi
0
warna kulit buah kehijauan dengan sedikit kesan merah,
kulit buah masih bergetah jika dipotong
1
warna kulit buah merah kekuningan dengan bercak merah,
getah pada kulit buah agak kurang,
daging buah masih sulit dipisahkan dari kulit buah
2
keselurahan permukaan kulit buah berwarna kemerahan
dan bercak merah masih jelas,
kulit buah sedikit bergetah,
daging buah sudah dapat dipisahkan dari kulit buah
(pemetikan untuk ekspor)
3
keseluruhan permukaan kulit buah berwarna coklat
kemerahan,
kulit buah masih bergetah jika dikonsumsi
(untuk ekspor masih diizinkan hingga indeks ini)
4
keseluruhan permukaan kulit buah berwarna ungu
kemerahan,
getah pada kulit buah sudah tidak ada,
daging buah mudah dilepas dari kulit buah,
5 keseluruhan permukaan kulit buah berwarna ungu gelap
atau kehitaman

Dengan melihat deskripsi uraian Tabel 7 di atas maka bentuk fisik buah
manggis yang dimaksud seperti digambarkan pada Gambar 4.







16


indeks 0


indeks 1


indeks 2

indeks 3

indeks 4


indeks 5

Gambar 4 bentuk fisik buah manggis menurut indeks kematangan
berdasarkan indeks warna kulit buah.


Perubahan Sifat Kimia Buah Manggis

Pada proses pematangannya buah juga mengalami perubahan kandungan
kimia dan aktivitas enzimatik berupa ester, alkohol, dan asam lemak rantai
pendek. Perubahan ini terbentuk akibat terjadinya proses fermentasi pada buah.
Sehingga adanya kandungan ester dan alkohol yang tercermin pada aroma yang
ditimbulkan oleh buah masak dapat dijadikan suatu petunjuk kematangan buah.
Zat-zat pektin dan selulosa merupakan karbohidrat cadangan yang labil,
yang juga berfungsi sebagai sumber potensial bagi asam, gula, dan zat-zat
respiratorik lainnya selama pematangan (Pantastico et al., 1986). Pada tahap awal
pertumbuhan buah, kadar gula total termasuk gula pereduksi dan non-pereduksi
sangat rendah. Ketika tingkat kematangan buah meningkat, kandungan gula total
buah akan meningkat secara cepat dengan terbentuknya glukosa dan fruktosa.
Kenaikan gula yang dapat dicerminkan dengan terjadinya peningkatan rasa manis


17
buah secara mendadak ini dapat digunakan sebagai petunjuk kimia telah
terjadinya kematangan buah.
Sedangkan Mahendra (2002) menyatakan untuk buah manggis terdapat 6
tingkat indeks panen seperti disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Warna, kekerasan kulit buah, dan total padatan terlarut buah
manggis pada berbagai indeks panen

Indeks
Panen
Warna Kulit Buah
Kekerasan
Kulit Buah
(kg)
Total
Padatan
Terlarut
(
O
Brix)
Kondisi Daging
Buah pada Kulit
atau Cangkangnya
0 kuning hijau
keputih-putihan
7.0 13.5 tidak terpisah
1 hijau kekuningan 3.5 14.0 tidak terpisah
2 hijau tua kemerahan 2.5 16.2 sulit dipisahkan
3 merah kehijauan 2.0 18.8 dapat dipisahkan
4 merah keunguan 2.0 18.7 mudah dipisahkan
5 ungu kehitaman 1.8 19.0 mudah dipisahkan


Fisiologi Pasca Panen Buah Manggis

Buah manggis seperti buah dan bahan pertanian lain masih melangsungkan
aktivitas hidup setelah dipanen. Aktivitas hidup ini berlangsung menggunakan
persediaan bahan bakar yang ada, yaitu substrat yang terakumulasi selama
pertumbuhan dan pemasakan buah. Proses metabolisme ini terus berlangsung dan
selalu mengakibatkan perubahan-perubahan yang pada akhirnya menyebabkan
kerusakan.
Wills et al. (1991) menyatakan bahwa semua bahan hidup terus menerus
memerlukan energi yang digunakan untuk mempertahankan organisasi seluler,
transportasi metabolit ke seluruh jaringan, dan mempertahankan permeabilitas
membran. Sebagian besar energi yang diperlukan buah segar disuplai dari hasil
respirasi aerob. Substrat yang digunakan pada respirasi ini adalah glukosa
(heksosa) dengan reaksi kimia sebagai berikut :



18
C
6
H
12
O
6
+ 6O
2
6CO
2
+ 6H
2
O + energi ( 1 )

Apandi (1984) dan Syarif dan Irawati (1989) menyatakan bahwa respirasi
adalah suatu proses metabolisme dengan cara menggunakan oksigen dalam
pembakaran senyawa yang lebih komplek, seperti pati, gula, protein, lemak, dan
asam organik sehingga menghasilkan molekul yang lebih sederhana seperti
karbon dioksida dan air serta energi dan molekul lain yang dapat digunakan oleh
sel untuk reaksi sintesa. Hal yang serupa dinyatakan oleh Muchtadi (1992) bahwa
terdapat 3 fase dalam proses respirasi, yaitu : 1). perombakan polisakarida
menjadi gula-gula sederhana, 2). oksidasi gula-gula sederhana tersebut menjadi
asam piruvat, dan 3). transformasi aerobik asam piruvat dan asam-asam organik
lainnya menjadi karbondioksida, air, dan energi.
Kecepatan respirasi dapat dijadikan sebagai suatu indikasi yang baik untuk
menentukan masa simpan buah. Proses respirasi dengan kecepatan tinggi
biasanya dihubungkan dengan masa simpan yang pendek sehingga dapat
menunjukkan kecepatan penurunan mutu buah dan nilai jual buah.
Berdasarkan pola respirasinya, secara umum buah dikelompokkan menjadi
dua golongan, yaitu buah golongan klimakterik dan non klimakterik (Rhodes,
1970). Buah golongan klimakterik adalah buah yang memiliki pola laju respirasi
yang diawali dengan peningkatan secara lambat, kemudian meningkat hingga
mencapai puncak dan menurun lagi, sedangkan buah golongan non klimakterik
adalah buah yang memiliki pola laju respirasi yang hampir mendatar (Sjaifullah,
1996). Beberapa peneliti melaporkan bahwa klimakterik adalah suatu fase kritis
dalam kehidupan buah dan selama terjadinya proses ini banyak sekali perubahan
yang berlangsung (Winarno dan Wirakartakusumah, 1979). Pendapat lain
menyatakan bahwa klimakterik adalah suatu keadaan auto stimulation dari dalam
buah tersebut sehingga buah menjadi matang yang disertai dengan adanya
peningkatan respirasi. Bentuk pertumbuhan dan pola laju respirasi buah
klimakterik dan non klimakterik digambarkan pada Gambar 5.




19

Gambar 5 Perkembangan pertumbuhan dan pola laju respirasi buah
(Kays,1991).

Buah manggis termasuk dalam golongan buah klimakterik seperti juga
alpukat, apel, durian, mangga, melon, pisang, semangka, dan sirsak, sedangkan
buah yang termasuk dalam golongan buah non klimakterik antara lain adalah
anggur, belimbing, duku, jambu air, jeruk, kelengkeng, nenas, rambutan, dan
salak.
Sjaifullah (1996) menyatakan bahwa buah golongan klimakterik dipanen
pada saat mencapai pertumbuhan maksimum (mature) tetapi belum matang
(unripe) sehingga proses pematangannya akan tetap berlanjut setelah dipetik dari
pohon. Buah golongan klimakterik dapat dipercepat pematangannya melalui
pemeraman. Apabila pemeraman dilakukan pada buah yang dipetik telah tua
(mature) maka akan menghasilkan buah matang yang baik, sebaliknya pada buah
yang dipetik belum cukup tua (immature) maka akan menghasilkan buah matang
yang kurang baik, sedangkan apabila pemeraman dilakukan pada buah yang
dipetik sebelum memasuki masa penuaan maka buah yang akan dihasilkan tidak
akan mengalami kematangan yang sesungguhnya.







20
Kerusakan Bagian Dalam Buah Manggis

Getah kuning (gamboges) merupakan penyakit utama buah manggis. Buah
yang terkena penyakit ini arilnya mengandung getah berwarna kuning sehingga
rasa daging buahnya menjadi pahit. Serangan penyakit ini kadang tidak diketahui
sebelum buah manggis dibuka sehingga sulit untuk dibedakan antara buah
manggis yang terkena getah kuning dengan buah manggis yang sehat.
Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti. Sebagian pakar
menduga bahwa getah kuning merupakan suatu penyakit fisiologis yang terjadi
akibat pecahnya sel-sel kulit buah bagian dalam akibat terjadinya perubahan
potensial air. Getah berwarna kuning akan keluar dan melekat pada permukaan
daging buah. Sebagian pakar lain berpendapat bahwa getah kuning timbul akibat
terjadinya luka pada kulit bagian dalam yang disebabkan oleh benturan pada buah
manggis ketika berada di pohon atau dipanen.
Seorang pakar Thailand berpendapat bahwa keluarnya getah kuning
disebabkan oleh memarnya buah dan serangan tungau dan bakteri pada tangkai
buah. Namun Hadisutrisno (1996) menduga bahwa penyakit getah kuning
disebabkan oleh serangan cendawan Fusarium sp. yang masuk melalui luka pada
jaringan buah manggis. Memarnya buah dan serangan tungau hanyalah
merupakan jalan masuk penyebab penyakit dan predesposisi, sedangkan bakteri
berwarna kuning di sekitar daging buah manggis merupakan bakteri sekunder
yang umum dijumpai pada buah manggis yang mendapat serangan lanjut.
Selanjutnya Hadisutrisno menyatakan bahwa cendawan Fusarium sp akan
menginfeksi buah manggis muda dengan bantuan kutu buah dan setelah masuk ke
dalam buah cendawan ini mengalami masa inkubasi yang cukup lama, dan baru
menunjukkan gejala setelah buah manggis matang.
Selain penyakit getah kuning, kerusakan buah manggis lainnya adalah
membusuknya daging buah. Kadang-kadang buah manggis diserang oleh sejenis
kumbang Curculio sp., famili Curculionidae. Kumbang dewasa bertelur pada
kulit buah ketika buah manggis mengalami pembesaran dan kemudian larva
membesar di dalam buah manggis hingga dapat mencapai 8 ekor menempati pasi
daging buah. Larva akan serentak menjadi dewasa ketika buah manggis masak


21
dan memakan daging buah hingga biji buah. Sebelum menjadi kepompong, larva
akan membuat lubang pada bagian yang berhubungan dengan tangkai atau tampuk
buah manggis.
Kerusakan lain pada bagian dalam buah manggis adalah mengerasnya
daging buah sehingga warnanya tidak putih bersih namun berwarna bening
(tranluscent). Kerusakan ini adalah juga diakibatkan oleh getah kuning.
Ketiga bentuk kerusakan bagian dalam buah manggis yang telah diuraikan di
atas dapat dilihat pada Gambar 6.



getah kuning (gamboges) pada
permukaan kulit bagian luar
buah


getah kuning (gamboges)
pada permukaan daging
buah atau permukaan
kulit buah bagian dalam


daging buah berwarna bening
dan mengkeras (transluscent)



kebusukan pada daging
buah (decay)


Gambar 6 Kerusakan yang terjadi pada buah manggis.


Evaluasi Mutu Buah Secara Non Destruktif

NDT (non-destructive testing) atau NDE (non-destructive evaluation) atau
juga NDI (non-destructive inspection) merupakan suatu metode pemeriksaan
bersifat teknik yang secara khusus dapat memberikan informasi mengenai kondisi


22
bahan dan komponen yang diperiksa tanpa melakukan pengrusakan terhadap
bahan dan komponen tersebut. NDT memeriksa suatu produk secara aktual dan
langsung dan dapat mengungkap keberadaan kerusakan sebagai informasi hasil
evaluasi untuk menuju kriteria penerimaan atau penolakan. NDT merupakan satu
bagian alat utama sebagai pengontrol mutu dan dimasukkan dalam program mutu
pada berbagai industri, seperti, industri pesawat, mobil, konstruksi, dan lain
sebagainya.
Di bidang pertanian, pengaplikasian NDT untuk menguji mutu buah secara
cepat, tepat dan handal juga telah mulai giat dikaji dan menunjukkan hasil yang
memberi harapan sehingga penanganan buah segar khususnya dalam pemeriksaan
mutu bagian dalam dapat diatasi dengan tanpa merusak buah tersebut. Berikut
adalah beberapa teknik NDT yang telah diaplikasikan untuk maksud tersebut :

Image Processing (Citra Digital)

Teknik image processing (citra digital) adalah suatu teknologi yang
dikembangkan untuk mendapatkan informasi dengan cara memodifikasi bagian
dari image yang diperlukan sehingga menghasilkan image dalam bentuk lain yang
lebih informatif (Jain et al., 1995).
NDT dengan citra digital telah berhasil digunakan untuk menentukan
beragam sifat fisik seperti warna, bentuk, ukuran, dan cacat pada berbagai buah
sub tropika (Chen, 1993) dan tropika (Budiastra et al., 1995). Namun sayangnya
teknik ini hanya mampu menguji mutu luar buah saja, sedangkan sifat atau mutu
bagian dalam buah tidak dapat dideteksi.

Gelombang Infra Merah Dekat (NIR, atau near infra red)

Gelombang NIR (near infra red) merupakan spektrum gelombang
elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang pada daerah 7x10
2
- 3x10
3

nm (1 nm = 10
-9
m), sedangkan panjang gelombang infra merah pada daerah
3x10
3
nm - 3x10
5
nm. Teknik ini memanfaatkan sifat refleksi dan absorpsi dari
bahan yang diperiksa. Di bidang pertanian biasanya teknologi ini dimanfaatkan


23
untuk pemeriksaan mutu hasil proses pemanasan dan pengeringan produk
makanan dan produk pertanian.
Dalam pemeriksaan mutu teknik NDT dengan gelombang NIR terbukti
mampu menentukan sifat atau mutu bagian dalam buah seperti kandungan gula
buah peach (Kawano et al., 1989), apel (Ikeda et al., 1992) dan gula dan asam
buah mangga gedong (Purwadaria et al., 1997). Daya tembus gelombang NIR
sayangnya hanya memiliki kemampuan yang terbatas pada kedalaman 5 mm di
bawah permukaan kulit buah.

Gelombang Sinar X dan Sinar Gamma

Seperti gelombang NIR, gelombang sinar X dan gamma juga merupakan
spektrum gelombang elektromagnetik namun mempunyai panjang gelombang
masing-masing pada daerah 10
-2
- 10 nm dan 10
-3
- 5x10
-1
nm. Teknik NDT
dengan sinar X atau gamma ini menganalisa image hasil proses film berupa
keadaan bagian dalam bahan yang ditangkap ketika gelombang sinar X atau
gamma dilewatkan ke dalam bahan. Image tersebut berupa suatu susunan warna
abu-abu yang merupakan warna antara hitam dan putih.
Teknik NDT dengan gelombang sinar X atau gamma telah teruji dapat
diterapkan untuk memeriksa komponen dalam buah semangka (Kawano, 1993).
Tetapi karena investasi alat yang mahal dan kekawatiran adanya efek samping
terhadap buah yang diperiksa, penerapan di masyarakat secara luas belum
dilakukan. Hal yang sama juga pada penerapan spektrum gelombang
elektromagnetik NMR (Nuclear Magnetic Resonance) untuk mengevaluasi bagian
dalam buah (Chen, 1993). Panjang gelombang NMR adalah pada daerah 9x10
9
-
2x10
11
nm.

Gelombang Ultrasonik

Gelombang ultrasonik bukan merupakan spektrum gelombang
elektromagnetik tetapi merupakan gelombang akustik (suara) yang mempunyai
frekuensi sangat tinggi untuk dideteksi oleh telinga manusia rata-rata. Teknologi


24
gelombang ultrasonik menjadi alternatif pilihan untuk menentukan mutu bagian
dalam buah karena daya tembusnya yang melebihi NIR, dan biaya investasinya
yang lebih murah dibanding teknik dengan gelombang sinar X, sinar gamma,
ataupun NMR, serta tanpa adanya efek yang berbahaya dari buah yang dievaluasi
jika dikonsumsi.


Aplikasi Gelombang Ultrasonik untuk Penentuan Mutu Buah

Pengamatan terhadap karakteristik gelombang ultrasonik yang dirambatkan
melalui medium merupakan dasar dari pengaplikasian gelombang ultrasonik.
Penentuan parameter gelombang ultrasonik seperti kecepatan rambat, koefisien
atenuasi, dan power spectral density dalam material enjiniring dan banyak
jaringan biologi telah didokumentasikan dengan baik dalam literatur (Well, 1969;
Krautkramer dan Krautkramer, 1990).
Besarnya ketiga parameter gelombang ultrasonik tersebut dipengaruhi oleh
bentuk geometri dan sifat fisik bahan medium yang dirambatkan. Karena
pengaplikasian gelombang ultrasonik untuk pemeriksaan yang bersifat non
destruktif atau tidak mengganggu sifat bahan medium, biasanya gelombang
ultrasonik yang digunakan memiliki intensitas yang rendah (Cheng et al., 1994
dan Trisnobudi, 1998).
Berikut akan diuraikan kesimpulan dari beberapa hasil penelitian dalam
memeriksa mutu buah dengan menganalisis ketiga parameter karakteristik
gelombang ultrasonik tersebut ketika dirambatkan.

Perbedaan Kecepatan Rambat Gelombang Ultrasonik

Ada perbedaan kecepatan rambat gelombang suara pada tingkat kematangan
buah alpukat, apel, dan melon (Mizrach et al., 1989). Kecepatan gelombang
ultrasonik pada buah dipengaruhi oleh susunan sel internal serta modulus elastik
jaringannya. Dan kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah akan
menurun dengan semakin matangnya buah (Self et al., 1994). Kecepatan


25
gelombang ultrasonik menunjukkan fluktuasi yang datar selama waktu
penyimpanan (proses pelunakan buah), namun dengan menggunakan suatu
persamaan pangkat tiga terdapat hubungan yang berkorelasi cukup baik (r =
0.8204) antara kecepatan rambat gelombang ultrasonik dengan masa simpan
(Mizrach et al., 1998b). Prediksi tingkat kematangan buah tomat jenis cherry
dapat dilakukan menggunakan kecepatan rambat gelombang ultrasonik
(Trisnobudi, 1998). Kecepatan rambat gelombang ultrasonik juga telah
dimanfaatkan pada produk pertanian olahan dan produk pertanian selain buah,
yaitu dalam mengukur : kadar padatan lemak dalam daging, kadar ampas buah
atau gula dalam jus, kadar bubuk dalam kopi, kadar alkohol dan padatan dalam
minuman anggur, kadar lemak dan padatan dalam susu, kadar minyak dalam
emulsi, kadar padatan dalam yeast slurry, dan kadar air dan struktur es cream,
kematangan dan umur buah dan telur, ketebalan kulit telur, mendeteksi keretakan
keju, dan kerenyahan biskuit (Bamberger et al., 1999).

Perbedaan Koefisien Atenuasi Gelombang Ultrasonik

Perubahan warna kulit buah merupakan suatu indikasi tingkat kematangan
buah melon utuh. Koefisien atenuasi gelombang ultrasonik pada buah melon
utuh berkorelasi baik (r = 0.8440) dengan perubahan warna kulit buah atau tingkat
kematangannya. Namun karena kulit buah melon terlalu tebal, keluaran signal
output gelombang ultrasonik berkorelasi kurang baik dengan keadaan daging
buahnya. Oleh karenanya diperlukan suatu sistem pemancar gelombang
ultrasonik dengan frekuensi diatas 50 khz (galili et al., 1993).
Nilai atenuasi buah alpokat mentah (pemetikan : 13 agustus) sebesar 4.54
db/mm dan pada buah alpokat matang (pemetikan : 19 nopember) sebesar 2.611
db/mm. Disimpulkan bahwa terjadi penurunan koefisien atenuasi gelombang
ultrasonik dengan semakin tingginya tingkat kematangan buah alpukat (mizrach et
al., 1998a). Hasil analisis terhadap buah alpukat yang sama terdapat hubungan
korelasi yang tinggi, yaitu antara kekerasan daging buah dengan masa proses
pelunakan (r = 0.9946) dan antara kekerasan daging buah dengan koefisien
atenuasi gelombang ultrasonik (r = 0.9919). Mizrach et al. (1998b) selanjutnya


26
melaporkan bahwa ada hubungan korelasi yang cukup baik antara bobot kering
buah alpukat tua (maturity) sebagai indikator dalam mengevaluasi kandungan
minyaknya dengan koefisien atenuasi gelombang ultrasonik (r = 0.8127).
Indeks penyakit fisiologi buah mangga dapat diindikasikan dengan koefisien
atenuasi gelombang ultrasonik (berfrekuensi 500 khz) yaitu dengan nilai di atas
dan di bawah 14 neper/m (hurng et al., 2000)).
Atenuasi gelombang ultrasonik juga telah diaplikasikan pada produk
pertanian olahan dan produk pertanian selain buah, seperti untuk mengukur
kestabilan orange juice dan umur telur (bamberger et al., 1999).

Perbedaan Power Spectral Density Gelombang Ultrasonik

Perbedaan power spectral density dapat digunakan untuk menentukan
tingkat kematangan dan kerusakan buah durian dengan ketepatan yang tinggi
masing-masing sebesar 97% dan 73% (Budiastra et al., 2000). Nilai power
spectral density buah durian muda lebih besar dibanding nilai pada durian tua
(Haryanto, 2002). Pada buah manggis bagus dan buah manggis rusak dapat
dibedakan berdasarkan nilai power spectral density dimana nilai pada buah
manggis bagus adalah 0.365 0.200 sedangkan pada buah manggis rusak sebesar
0.050 0.040 (Budiastra et al., 2002).

PENDEKATAN TEORITIK


Elastisitas Medium

Untuk mengetahui secara sempurna kelakuan atau sifat dari suatu medium
adalah dengan mengetahui hubungan antara tegangan yang bekerja () dan
regangan yang diakibatkan (). Jika suatu bentuk kubus kecil dipandang sebagai
bagian pembentuk suatu medium maka akan ada enam tegangan (Gambar 7) dan
enam regangan (Gambar 8) pada bidang elemen kubus tersebut. Setiap tegangan
dinyatakan dengan
ij
dan setiap regangan dinyatakan dengan
ij
, dimana indeks
kedua (j) menyatakan arah bidang dimana tegangan itu bekerja, yaitu arah normal
bidang tersebut. Jika indeks i = j maka tegangannya merupakan tegangan
longitudinal dan regangannya merupakan regangan longitudinal. Jika indeks i j
maka tegangannya disebut tegangan geser dan regangannya disebut regangan
geser.


Gambar 7 Komponen-komponen tegangan
pada bidang elemen kubus.





28

Gambar 8 Komponen-komponen regangan pada
bidang elemen kubus.

Tegangan-tegangan yang bekerja pada elemen kubus dapat dinyatakan
secara utuh oleh enam komponen tegangan yang bebas, yaitu tiga tegangan
longitudinal:
xx
,

yy
,

dan

zz
, ditambah tiga tegangan geser:
xy
,
yz
, dan
zx
.
Sedangkan regangan-regangan (fraksi perubahan panjang) yang diakibatkan, yaitu
tiga regangan longitudinal:
xx
,
yy
, dan
zz
ditambah tiga regangan geser:
xy
,
yz
,
dan
zx
.
Menurut hokum Hooke, jika tegangan yang bekerja berada di bawah batas
elastisitas medium maka akan sebanding dengan regangan yang terjadi. Secara
umum setiap tegangan dapat dinyatakan sebagai fungsi linier dari keenam
komponen regangan.

xy zx yz zz yy xx xy
xy zx yz zz yy xx zx
xy zx yz zz yy xx yz
xy zx yz zz yy xx xx
xy zx yz zz yy xx yy
xy zx yz zz yy xx xx
c c c c c c
c c c c c c
c c c c c c
c c c c c c
c c c c c c
c c c c c c






66 65 64 63 62 61
56 55 54 53 52 51
46 45 44 43 42 41
36 35 34 33 32 31
26 25 24 23 22 21
16 15 14 13 12 11
+ + + + + =
+ + + + + =
+ + + + + =
+ + + + + =
+ + + + + =
+ + + + + =
(2)


29
Konstanta-konstanta berbentuk c
rs
(indeks r dan s bernilai 1 hingga 6)
persamaan 2 adalah konstanta-konstanta elastik medium. Terlihat bahwa untuk
dapat mengetahui secara sempurna kelakuan atau sifat dari suatu medium
diperlukan 36 koefisien, namun karena adanya konstanta simetri pada konstanta
elastik (c
rs
= c
sr
) maka jumlah konstanta elastik yang diperlukan hanya menjadi 21
konstanta. Bahan yang mempunyai 21 konstanta elastik ini adalah bahan
anisotropik sedangkan bahan isotropik hanya mempunyai 2 konstanta elastik yang
bebas. Kedua konstanta ini disebut konstanta Lame yang diberi notasi dan .
Untuk bahan isotropik berlaku hubungan-hubungan sebagi berikut:

0
2
lain yang rs
33 22 11
66 55 44
32 23 31 13 21 12
=
+ = = =
= = =
= = = = = =
c
c c c
c c c
c c c c c c

(3)

Dengan demikian hubungan tegangan dan regangan untuk medium isotropik dapat
dinyatakan dengan persamaan-persamaan :

xy xy
zx zx
yz yz
zz yy xx zz
zz yy xx yy
zz yy xx xx



2 +
2 +
2 +
=
=
=
+ + =
+ + =
+ + =
) (
) (
) (
(4)

Di dalam menentukan keelastisan bahan, dalam prakteknya kedua konstanta
Lame ( dan ) jarang digunakan. Ada empat istilah konstanta elastik yang lebih
sering digunakan dalam menentukan keelastisan bahan, yaitu : Young modulus,
bulk modulus, shear modulus, dan Poisson ratio. Young modulus berkenaan
dengan terjadinya deformasi satuan panjang bahan, bulk modulus berkenaan
dengan deformasi satuan volume bahan, dan shear modulus berkenaan dengan


30
adanya pergeseran bentuk bahan. Poisson ratio didefinisikan sebagai
perbandingan antara konstraksi lateral (pengurangan diameter) dan ekspansi aksial
(pertambahan panjang). Keempat istilah konstanta elastik dalam menentukan
keelastisan bahan tersebut masing-masing dituliskan dengan persamaan :

L A
FL
L
L
A
F
regangan
tegangan
) (
Modulus) Young ( Y
xx
xx

= = =
+
2 + 3
= =
(5)

=

= =
3
2
+ =
+ +

=
V
V
P
dilatasi
tekanan
Modulus) Bulk ( B
zz yy xx
ii



(6)

V A
FV
V
V
A
F
dilatasi
tegangan
Modulus) Shear ( G
ij
ij

= = =
= =
(7)

) (
) atio r poisson ( v
xx
yy

+ 2
= = (8)

Jenis modulus elastis yang relevan akan bergantung pada sistem gelombang
yang dirambatkan (arah getar dan arah perambatannya), berupa gelombang
longitudinal atau gelombang transversal. Gelombang transversal adalah
gelombang yang arah getarnya tegak lurus dengan arah perambatannya,
sedangkan gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarnya
berhimpit atau sejajar dengan arah perambatannya. Gelombang akustik termasuk
kedalam gelombang longitudinal.


31
Identifikasi Gelombang Ultrasonik dan Karakteristik
Gelombang Ultrasonik

Identifikasi Gelombang Ultrasonik

Gelombang adalah suatu gejala terjadinya suatu gangguan melalui suatu
medium, dimana setelah gangguan tersebut lewat medium akan kembali seperti
keadaan semula. Gelombang dapat disebut pula sebagai getaran yang merambat
yaitu gerakan bolak balik secara berulang akibat suatu simpangan (simpangan
terbesar disebut amplitudo). Bila besaran gangguan tadi berupa perpindahan
partikel dari suatu medium dan berada pada titik keseimbangannya yang
disebabkan oleh adanya gaya-gaya mekanik, maka gelombang ini disebut
gelombang mekanik Sifat-sifat gelombang mekanik tergantung pada sifat-sifat
elastik dari medium yang dilaluinya sehingga gelombangnya disebut juga sebagai
gelombang elastik (Goberman, 1968). Akibat perpindahan partikel-partikel tadi
maka rapat masanya akan berubah karena massanya tetap dan selanjutnya akan
menyebabkan tekanannya berubah. Jika melihat terjadinya perubahan tekanan
maka gelombang tersebut disebut gelombang akustik.
Gelombang akustik yang paling umum adalah gelombang suara yang biasa kita
dengar. Ada tiga jenis gelombang akustik jika didasarkan pada banyaknya
pengulangan bergetarnya partikel-partikel di dalam medium elastis dalam satu
detiknya atau yang disebut frekuensi (Cracknel, 1980). Ketiga jenis gelombang
akustik tersebut adalah :
1 Gelombang infrasonik, yaitu gelombang akustik yang memiliki frekuensi
sangat rendah sehingga tidak dapat didengar oleh manusia. Batas tertinggi
frekuensinya adalah sekitar 20 Hz.
2 Gelombang sonik atau suara, yaitu gelombang akustik yang memiliki frekuensi
di antara batas pendengaran telinga manusia sehingga dapat didengar atau
sering disebut bunyi. Batas bawah dan atas frekuensi gelombang akustik ini
masing-masing adalah sekitar 20 Hz dan 20 kHz.
3 Gelombang ultrasonik adalah gelombang akustik yang memiliki frekuensi lebih
tinggi dari gelombang sonik dengan batas bawah lebih besar dari 20 kHz,


32
sedangkan batas atasnya belum ditentukan secara jelas. Yang diketahui adalah
daerah-daerah frekuensi yang biasa dipakai dalam berbagai macam aplikasi.
Jenis gelombang elastis ini tidak dapat didengar oleh telinga manusia karena
frekuensinya yang tinggi.

Kecepatan Rambat

Seperti telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa gelombang
didefinisikan sebagai suatu gejala terjadinya penjalaran suatu gangguan melalui
suatu medium dimana setelah gangguan ini lewat, medium akan kembali ke
keadaan semula seperti sebelum gangguan itu datang. Diumpamakan gangguan
tersebut merupakan suatu besaran sembarang dengan kecepatan c yang
menjalar sepanjang sumbu x dari suatu koordinat kertesian, seperti digambarkan
pada Gambar 9.



Gambar 9 Perambatan gelombang di dalam
suatu medium.

Selama menjalar, besar dan bentuk besaran dianggap tidak berubah. Pada saat t
= 0 maka besaran akan merupakan suatu fungsi dari x :

) x ( f = (9)


33
Setelah selang waktu t, akan menjalar sejauh ct. Oleh karena besar dan bentuk
dianggap tidak berubah, maka besaran akan tetap dinyatakan oleh persamaan 9
asalkan pusat sumbu dari sistem koordinat semula dipindahkan ke posisi x = ct.
Jadi jika dinyatakan dalam sistem koordinat semula akan didapat :

) ct x ( f = (10)

Jila besaran yang dinyatakan oleh persamaan 10 diturunkan dua kali terhadap x
dan t maka berturut-turut akan diperoleh :

(12) ) ct x ( ' ' f c
t
(11) ) ct x ( ' ' f
x
2
2
2
2
2
=



Hubungan antara turunan kedua terhadap x dan turunan kedua terhadap t
diperoleh dari persamaan 11 dan 12 :

2
2
2
2
2
x
c
t


(13)

Persamaan diferensial yang ditunjukkan pada persamaan 13 di atas adalah
persamaan dasar dari suatu gelombang.
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa gelombang akustik (ultrasonik)
merupakan gelombang mekanik. Sifat-sifat dari perambatan gelombang mekanik
ini dipengaruhi oleh sifat-sifat elastis dari medium yang dilaluinya. Sedangkan
keelastisan bahan dapat ditentukan dari besaran Young modulus bahan tersebut.
Bila besaran gangguan berupa perpindahan partikel-partikel di dalam medium
maka akan terjadi perubahan rapat massa karena massa dari medium yang dilalui
tersebut adalah tetap.


34
Diumpamakan suatu gelombang menjalar ke satu arah pada suatu medium
padatan berbentuk batang yang mempunyai luas penampang A dengan Young
modulus Y dan rapat massa (Gambar 10).


Gambar 10 Elemen volume dalam padatan pada
keadaan setimbang (atas) dan pada saat
dilalui gelombang akustik (bawah).

Dengan memandang sebuah elemen volume setebal x yang terletak sejauh
x dari salah satu ujung batang. Pada saat terjadi gelombang maka elemen volume
ini akan mengalami deformasi sehingga kedua permukaannya berpindah tempat
dengan jarak yang berbeda. Deformasi ini terjadi karena adanya tegangan
(stress) yang mengakibatkan adanya regangan (strain). Dengan menggunakan
deret Taylor pada perpindahan dan gaya akan diperoleh :

(15) x
x
F
) x ( f ) x x ( f F x
x
F
) x ( F ) x x ( F
(14) x
x
) x ( ) x x ( x
x
) x ( ) x x (

= + =

+ = +

= + =

+ +







35
Dari hukum Hooke akan diperoleh :

(16)
x
x AY x
x
F
F
x
AY F
x
Y
x
x
x
Y
A
F
Y
2
2

= =




Dari persamaan gerak Newton akan diperoleh :

(17)
x

Y
t

t
) x A (
x
x AY ma F
2
2
2
2
2
2
2
2



Sehingga kecepatan rambat gelombang akustik di dalam padatan adalah :


Y
c
Y
c
2
= = (18)

Koefisien Atenuasi

Pada kenyataannya, besaran amplitudo atau intensitas atau energi suatu
gelombang ketika dirambatkan pada suatu medium akan mengalami penurunan
secara eksponensial terhadap jarak rambat. Penurunan total intensitas atau energi
gelombang setelah melewati medium diistilahkan dengan atenuasi. Misalkan
suatu berkas gelombang akustik menjalar dalam suatu medium (Gambar 11).
Karena terjadi atenuasi maka jika intensitasnya diukur sebagai fungsi x pada
bidang 2 akan lebih rendah dibanding intensitas pada bidang 1 (intensitas semula).



36

Gambar 11 Atenuasi gelombang akustik pada medium
rambat.

Cracknel (1980) mendefinisikan pengertian atenuasi secara umum bahwa
intensitas akhir dari perambatan gelombang ultrasonik melalui suatu medium
dengan jarak tertentu adalah sebanding dengan intensitas asal dan jarak
rambatnya.

( ) x I I = exp
0
(19)

Dari rumus persamaan 19, koefisien atenuasi tersebut dapat diturunkan menjadi :

( )
x
I I / ln
0
= (20)

Satuan unit koefisien atenuasi yang digunakan pada persamaan 20 adalah
Neper/m (Np/m). Selain unit satuan Np/m dapat juga dan lebih sering digunakan
unit satuan desibel/m (dB/m). Dengan menggunakan satuan dB/m, persamaan 20
berubah menjadi :

x
/I) (I

0
log 10
= (21)



37
Bila yang diukur berupa tekanan akustiknya, maka persamaan untuk menentukan
koefisien atenuasi adalah :

x
P P

) / ( log 20
0
= (22)

Persamaan 22 didasarkan bahwa berkurangnya tekanan akustik akibat dari
peristiwa absorbsi. Persamaan untuk menyatakan berkurangnya tekanan akustik
akibat peristiwa defleksi dan absorsi adalah :

x
P
P
x

=
log 20
(23)

Dalam penelitiannya, Mizrach et al. (1991) menggunakan amplitudo
(tegangan dalam mV) sebagai intensitas gelombang ultrasonik dan Np sebagai
satuan koefisien atenuasinya. Dengan demikian persamaan untuk menentukan
koefisien atenuasi adalah :

x
) /Am (Am

1 0
ln
= (24)

Atenuasi gelombang akustik dapat diakibatkan oleh sifat-sifat sumber
gelombang, dimana pada dasarnya radiasi gelombang dari sumber gelombang
akan menyebar (luas berkas gelombang bertambah) sehingga intensitasnya
berkurang. Atenuasi gelombang akustik juga dapat diakibatkan oleh peristiwa-
peristiwa gelombang, sebagai misal adalah terjadinya pemantulan dan pembiasan
yang terjadi pada bidang batas antara dua medium yang mempunyai impendansi
akustik yang berbeda. Peristiwa gelombang ini (pemantulan dan pembiasan) akan
menyebabkan berubahnya arah penjalaran gelombang sehingga intensitas
gelombang yang menjalar pada arah tertentu menjadi lebih rendah dari gelombang
semula. Namun jika gelombang akustik merupakan gelombang bidang datar yang


38
menjalar dalam suatu medium maka gelombang akustik tersebut tidak akan
mengalami atenuasi. Hal ini dikarenakan bahwa jenis gelombang datar ini arah
penjalaran berkas gelombangnya tidak menyebar dan juga tidak mengalami
peristiwa-peristiwa gelombang (perubahan arah gelombang). Namun atenuasi
pada gelombang akustik jenis ini akan tetap terjadi karena akan mengalami
absorbsi oleh medium yang dilewatinya.
Atenuasi oleh absorbsi medium ini tergantung pada jenis mediumnya.
Atenuasi akan semakin besar dengan urutan medium padatan, cairan, dan gas.
Jadi besarnya atenuasi merupakan kebalikan dari besarnya kecepatan rambat
gelombang akustik. Absorbsi oleh medium biasanya dinyatakan dengan koefisien
atenuasi. Berbeda dengan atenuasi yang diakibatkan oleh sifat-sifat sumber
gelombang (terjadinya penyebaran berkas gelombang) dan yang diakibatkan
peristiwa-peristiwa gelombang (terjadinya perubahan arah gelombang berupa
refleksi dan refraksi), atenuasi yang diakibatkan peristiwa absorbsi oleh medium
adalah karena terjadinya peristiwa konversi energi dari energi akustik menjadi
energi dalam bentuk-bentuk lain.
Secara umum disipasi energi pada gelombang akustik dapat dibagi menjadi
dua kategori, yaitu disipasi yang terjadi di dalam medium dan disipasi yang terjadi
pada bidang-bidang medium. Disipasi yang terjadi di dalam medium akan
penting terutama jika volume mediumnya jauh lebih besar disbandingkan dengan
luas bidang-bidang batasnya, sedangkan disipasi yang terjadi pada bidang-bidang
medium akan penting jika volume medium jauh lebih kecil dibandingkan dengan
bidang-bidang batasnya.
Tiga penyebab utama (masing-masing berbeda mekanismenya) hilangnya
energi di dalam medium adalah :
1 Viskositas
2 Konduktivitas panas
3 Pertukaran energi molekuler
Phenomena absorbsi oleh medium yang sedang dilewati oleh gelombang
akustik dapat ditinjau secara umum dengan menggunakan pengertian waktu
relaksasi yang merupakan ukuran dari keterlambatan medium melakukan respon
terhadap perubahan yang dialaminya. Di dalam fluida, kondensasi akan tertinggal


39
oleh perubahan tekanan akustik sedangkan di dalam padatan regangan selalu
tertinggal oleh tegangan.
Absorbsi yang dialami oleh gelombang ultrasonik yang sedang merambat di
dalam suatu medium, menurut teori klasik disebabkan oleh dua sifat makroskopik
fluida, yaitu : viskositas () dan konduktivitas panas () yang masing-masing
menyebabkan terjadinya gradien kecepatan dan gradien tempertur (Gooberman,
1968). Medium yang dilalui gelombang ultrasonik akan memberi reaksi berupa
proses penyamaan kecepatan dan penyamaan temperatur yang akan
mengembalikan ke keadaan semula. Kedua proses ini akan memerlukan energi
dan ini diambil dari gelombang yang melewatinya. Besarnya koefisien atenuasi
akibat viskositas dan konduktivitas panas ini dapat ditentukan dari persamaan-
persamaan (Gooberman, 1968) sebagai berikut :

3
2
VIS
3
2
0 0
c
= (25)

p 0 0
C c
1
3
2
TH
) (
2
1
= (26)

Jika kedua persaman di atas (persamaan 25 dan 26) digabungkan maka akan
diperoleh koefisien atenuasi klasik :


+ =

p
0 0
C
1
c
) (
3
4
2
1
3
2
KLASIK
(27)

Power Spectral Density

Power spectral density merupakan suatu karakteristik sinyal dari suatu
gelombang yang merambat pada suatu medium tertentu, dan sering dilambangkan
sebagai Mo. Setiap karakteristik sinyal berbeda tergantung dari bentuk dan
struktur bahan yang dirambatkan gelombang. Dengan mengetahui besarnya nilai


40
Mo kita dapat mengetahui besarnya jumlah energi yang dapat ditransmisikan ke
bahan medium yang dirambatkan gelombang. Nilai Mo ditentukan dari jumlah
luasan di bawah kurva dari power spectral density yang dapat dihitung
menggunakan integrasi numerik (Cheng dan Haugh, 1994). Power spectrum
density adalah hasil transformasi hubungan antara amplitudo (tegangan) dengan
waktu perambatan gelombang ultrasonik.
Ketika gelombang ultrasonik dirambatkan ke dalam medium, data sinyal
gelombang (tegangan vs waktu rambat) direkam, lalu dianalisis menggunakan
Fast Fourier Transform (FFT) dengan bantuan program yang dibuat dalam bahasa
program MatLab. Kemudian Mo dikuantitatifkan menggunakan integrasi
numerik. Bagan alir program komputer untuk pengolahan dan analisa sinyal
tersebut disajikan pada Gambar 12.


Gambar 12 Diagram alir program pengolahan power
spectral density gelombang ultrasonik.


Prediksi Masa Simpan Buah Manggis

Menurut Kwolek dan Bookwalter (1971), hubungan mutu suatu produk
dengan masa simpan dapat dijelaskan dengan persamaan regresi, baik dalam
bentuk regresi sederhana, logaritma, maupun bentuk transformasi lainnya. Secara
sederhana persamaan regresi tersebut dapat ditulis :


41
S M
bt a Y = (28)

Selanjutnya Labuza (1983) menyatakan bahwa apabila perubahan mutu (D)
dipandang sebagai reaksi kimia dalam sistem makanan, maka perubahan mutu
tersebut umumnya mengikuti persamaan diferensial orde pertama (pseudo first-
order). Apabila perubahan zat A menjadi zat B maka persamaan diferensial ordo
pertama dapat ditulis

kD
dt
dD
= (29)

Dengan mengintegrasikan persamaan 29 dan dengan memasukkan kondisi batas t
= 0 dan D = D
0
maka didapat

kt
D
D
-kt D D
0
1
0 1
=

= ln ) exp( (30)

Besarnya konstanta laju penurunan indeks mutu (k) merupakan slope dari grafik
antara indeks mutu tersebut dan lama penyimpanan, namun secara matematik
besarnya konstanta laju penurunan indeks mutu tersebut merupakan koefisien dari
suatu persamaan regresi.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN


Tempat dan Waktu

Penelitian dillakukan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil
Pertanian (TPPHP) Fakultas Teknologi Pertanian IPB dan Laboratorium
Ultrasonik Departemen Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri ITB.
Penelitian berlangsung selama 2 musim buah manggis yang dimulai pada
bulan Mei 2003 dan berakhir pada bulan Mei 2005.


Bahan dan Peralatan

Bahan

Buah manggis sebagai sampel penelitian diambil dari perkebunan buah
manggis kelompok tani Wargi Mukti, blok Pasir Astana Kampung Gandasoli
Desa Babakan Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta Propinsi Jawa Barat.
Ukuran setiap sampel buah manggis yang dipilih adalah bergaris tengah 55 65
mm dengan berat 80 130 g (kategori kelas Mutu I). Sesuai dengan kajian yang
dilakukan dalam penelitian maka digunakan 3 kelompok buah manggis (Tabel 9).

Tabel 9 Tiga kelompok buah manggis sebagai sampel penelitian

Kelompok Buah Manggis Keterangan
1 Berdasarkan tingkat ketuaan
(umur petik)
diperoleh dengan petik langsung
(tidak termasuk buah manggis yang
mengalami kerusakan bagian dalam)
2 Berdasarkan tingkat
kematangan (masa pematangan)
diperoleh dengan perlakuan
penyimpanan pada suhu ruang
(tidak termasuk buah manggis yang
mengalami kerusakan bagian dalam)
3 Buah manggis rusak diperoleh dari kelompok buah
manggis pada butir 1 dan butir 2
sepanjang dilakukan kajian dalam
penelitian..


43
Tingkat ketuaan sampel buah manggis disusun sesuai dengan
pengelompokan buah manggis berdasarkan indeks panen (Mahendra, 2002),
seperti yang telah diuraikan pada Tabel 7, yaitu indeks panen 0 hingga indeks
panen 5 yang dicirikan oleh warna kulit buah manggis. Namun untuk sampel
penelitian antara indeks panen 3 dan indeks panen 4 dimasukkan dalam satu
kelompok. Hal ini dilakukan karena kriteria antara kedua indeks panen tersebut
tidak berbeda nyata. Untuk selanjutnya istilah indeks panen disebut sebagai
tingkat ketuaan (Tabel 10). Contoh fisik kelima kelompok sampel buah manggis
tersebut dapat dilihat pada Gambar 13.

Tabel 10 Lima kelompok sampel buah manggis penelitian berdasarkan
tingkat ketuaan

Tingkat
Ketuaan
Ciri Buah
(warna kulit buah)
Umur Petik
0 kuning hijau keputih-putihan 90 ~ 96 hari sbm
1 hijau kekuningan 97 ~ 103 hari sbm
2 hijau tua kemerahan 104 ~ 110 hari sbm
3 merah kehijauan hingga merah keunguan 111 ~ 117 hari sbm
4 ungu kehitaman 118 ~ 124 hari sbm
sbm : sejak bunga mekar


















Gambar 13 Lima kelompok sampel buah manggis penelitian berdasarkan
tingkat ketuaan (umur petik).



44
Sedangkan sampel buah manggis berdasarkan tingkat kematangan (masa
pematangan) diperoleh dengan melakukan pematangan atau penyimpanan (suhu
ruang) dari 2 kelompok sampel buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan, yaitu
buah manggis yang termasuk dalam kelompok tingkat ketuaan 1 dan tingkat
ketuaan 3 (lihat Tabel 10). Alasan hanya menggunakan 2 kelompok tingkat
ketuaan tersebut adalah karena kedua kelompok buah manggis ini masing-masing
merupakan batas awal dan batas akhir pemilihan buah manggis sebagai kualitas
ekspor yang biasa dipanen petani. Pengamatan dan pengukuran perubahan
karakteristik gelombang ultrasonik dan sifat fisiko kimia pada kedua kelompok
sampel buah manggis tersebut dilakukan per 3 hari selama 12 hari masa
pematangan atau penyimpanan pada suhu ruang.
Istilah buah manggis rusak yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah
manggis yang pada bagian dalamnya (daging buah) mengalami salah satu atau
lebih dari kondisi berikut: ada getah kuning pada permukaan daging buah, daging
buah berwarna bening dan mengeras, dan ada kebusukan pada salah satu pasi
daging buah (Tabel 11).

Tabel 11 Istilah buah manggis tidak rusak dan buah manggis rusak

Jenis Buah Manggis Kriteria
Buah manggis
tidak rusak
~ tidak ada getah kuning pada permukaan
daging buah
~ daging buah berwarna putih bersih dan
lunak
~ tidak ada kebusukan pada salah satu pasi
daging buah
Buah manggis
rusak
~ ada getah kuning pada permukaan daging
buah (gamboges)
~ daging buah berwarna bening dan
mengeras (translucent)
~ ada kebusukan pada salah satu pasi
daging buah (decay)

Dalam analisis mutu dimana dilakukan analisis kimia digunakan beberapa
jenis bahan kimia sesuai dengan prosedur analisis kimia yang bersangkutan.




45
Peralatan

Peralatan dan metode pengukuran mutu dalam buah dengan gelombang
ultrasonik yang digunakan adalah peralatan dan metode yang telah dikembangkan
oleh Budiastra et al. (2000). Komponen-komponen peralatan yang digunakan
terdiri dari : 1). Ultrasonic Tester, yang terdiri dari komponen Timing Circuit,
Pulse Generator, Pulse Amplifier, dan Voltage Amplifier; 2).Transducer
Pemancar Gelombang Ultrasonik ; 3). Transducer Penerima Gelombang
Ultrasonik ; 4). Digital Oscilloscope; 5). Personal Computer; 6). Dudukan
transducer dan sampel buah manggis. Skema rangkaian komponen alat
pengukuran karakteristik gelombang ultrasonik seperti disajikan pada Gambar 14.



skema rangkaian komponen


bentuk fisik peralatan


ultrasonic tester


transducer


oscilloscope


dudukan transducer dan
sampel

Gambar 14 Skema rangkaian dan komponen alat pengukuran
karakteristik gelombang ultrasonik.


46
Ultrasonic Tester. Sistem kerja instrumen pembangkit sinyal adalah
mengeluarkan pulsa pemicu pada saat mulai melakukan pengukuran. Pulsa
pemicu ini juga digunakan sebagai pemicu digital oscilloscope. Pulsa pemicu
pembangkit sinyal tersebut berfrekuensi 50 kHz. Penguatan dilakukan 1000 kali
untuk memperbesar sinyal yang dihasilkan. Sinyal listrik yang dihasilkan oleh
transducer pemancar diubah menjadi gelombang ultrasonik untuk kemudian
merambat pada buah manggis. Gelombang ultrasonik yang merambat kemudian
diterima oleh transducer penerima dan diubah kembali menjadi sinyal listrik.
Skema rangkaian komponen ultrasonic tester disajikan pada Gambar 15.


Gambar 15 Skema rangkaian komponen Ultrasonic
Tester.

Transducer Pemancar dan Penerima Gelombang Ultrasonik.
Transducer Pemancar dan Penerima Gelombang Ultrasonik yang digunakan
adalah tipe B50S-N dengan frekuensi 50 kHz. Dimensi kedua transducer tersebut
sama berdiameter 2 mm pada ujungnya dan berdiameter 29 mm pada bagian
pangkalnya. Penggunaan tipe transducer ini cocok untuk bahan yang mempunyai
permukaan bundar dimana baik sinyal yang dipancarkan maupun yang diterima
akan kontak langsung dengan permukaan bahan dan frekuensi 50 kHz cukup
untuk memenuhi frekuensi dari beberapa bentuk dan tingkat ketuaan dan
kematangan buah manggis.





47
Digital Oscilloscope. Fungsi Digital Oscilloscope adalah untuk
menampilkan sinyal yang dibangkitkan oleh generator sinyal secara digital. Tipe
Digital Oscilloscope yang digunakan adalah ETC M621, dimana dapat mengukur
gelombang menggunakan dua kanal independen dengan resolusi 8 bit dengan
sensitivitas 5 Volt per divisi (V/div) hingga 10 mV/div.

Personal Computer. Personal Computer yang digunakan adalah
berkemampuan Intel Pentium III dan dilengkapi program Window 98. Program
OD ETC M621 dibutuhkan untuk memfungsikan Digital Oscilloscope ETC M621
sedangkan program Matlab dibutuhkan untuk menghitung power spectral density
(Mo) hasil pengukuran sampel.

Dudukan Transducer dan Buah Manggis. Dudukan kedua transducer
dapat digerakkan maju dan mundur untuk dapat menyesuaikan ukuran sampel
buah manggis. Sedangkan dudukan sampel dapat dinaik turunkan agar saat
pengukuran ujung kedua transducer tepat berada pada garis tengah buah manggis.


Metode Penelitian

Metode penelitian meliputi persiapan peralatan, pengukuran, pengamatan,
dan penganalisaan data. Ruang lingkup penelitian mencakup beberapa aspek buah
manggis, meliputi tingkat ketuaan (umur petik) dan tingkat kematangan (masa
pematangan) serta kerusakan dalam buah (getah kuning, berdaging buah bening
dan mengeras, dan busuk), morfologi, dan karakteristik gelombang ultrasonik.

Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian diawali dengan melaksanaan penelitian pendahuluan.
Gambar 16 menggambarkan keseluruhan kegiatan



48


Gambar 16 Tahap pelaksanaan penelitian

Penelitian Pendahuluan. Penelitian pendahuluan lebih ditujukan dalam
mempersiapkan alat ukur karakteristik gelombang ultrasonik yang khusus
digunakan untuk buah manggis. Penelitian pendahuluan meliputi 1) perancangan
sistem peralatan yang sesuai untuk uji mutu bagian dalam buah manggis, 2)
menetapkan besarnya parameter terkait dari sistem alat dan bentuk atau sifat fisik
buah manggis, 3) mempelajari cara pengukuran yang sesuai dengan bentuk atau
sifat fisik buah manggis, 4) melakukan uji fungsional sistem alat. Maksud
dilakukan penelitian pendahuluan ini adalah agar tidak terjadi kendala dan sistem
peralatan dapat memberi informasi karakteristik gelombang ultrasonik yang lebih
informatif.saat dilakukan penelitian yang sebenarnya,
Setelah penelitian pendahuluan selesai, kemudian dilakukan 5 kajian
penelitian, yaitu :
1 Menentukan sifat fisiko kimia dan karakteristik gelombang ultrasonik pada
buah manggis dengan berbagai tingkat ketuaan (umur petik) dan tingkat
kematangan (masa pematangan),
2 Mengkaji hubungan sifat fisiko-kimia dengan karakteristik gelombang
ultrasonik pada buah manggis dengan berbagai tingkat ketuaan (umur petik)
dan tingkat kematangan (masa pematangan),


49
3 Mengkaji karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis rusak,
4 Mengembangkan metode sortasi, yaitu memprediksi tingkat ketuaan (umur
petik), tingkat kemanisan buah manggis, dan membedakan antara buah
manggis rusak dengan buah manggis tidak rusak berdasarkan gelombang
ultrasonik dengan metode jaringan syaraf tiruan, dan
5 Mengembangkan model prediksi masa simpan buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik.

Sifat fisik buah manggis yang diukur adalah kekerasan kulit buah. Sifat
kimia buah manggis yang diukur adalah total gula, total asam, dan total padatan
terlarut. Karakteristik gelombang ultrasonik yang diukur adalah kecepatan
rambat, koefisien atenuasi, dan power spectral density.

Pengkajian Sifat Fisiko Kimia dan Karakteristik Gelombang Ultrasonik
pada Buah Manggis. Tujuan dari tahap penelitian ini adalah menentukan sifat
fisik (kekerasan kulit buah), sifat kimia (total gula, total asam, dan total padatan
terlarut), dan karakteristik gelombang ultrasonik (kecepatan rambat, koefisien
atenuasi, dan power spectral density) pada buah manggis dengan berbagai tingkat
ketuaan (umur petik) dan tingkat kematangan (masa pematangan). Setelah setiap
sampel buah manggis siap, mula-mula dilakukan pengukuran karakteristik
gelombang ultrasonik yang kemudian dilanjutkan dengan pengukuran sifat fisik
dan terakhir dilakukan analisis sifat kimia. Tahapan pelaksanaan penelitian ini
secara rinci digambarkan pada Gambar 17 (kajian sifat fisiko kimia dan
karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat
ketuaan atau umur petik) dan Gambar 18 (kajian sifat fisiko kimia dan
karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat
kematangan atau masa pematangan).

Pengkajian Hubungan Korelasi Sifat Fisiko Kimia dengan
Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis. Tujuan tahap
penelitian ini adalah menentukan hubungan korelasi antara sifat fisiko kimia
dengan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan


50
tingkat ketuaan (umur petik) dan tingkat kematangan. Sama seperti pada tahapan
penelitian sebelumnya, setelah setiap sampel buah manggis siap, mula-mula
dilakukan pengukuran karakteristik gelombang ultrasonik yang dilanjutkan
dengan pengukuran sifat fisik, dan kemudian terakhir dilakukan analisis sifat
kimia. Hubungan korelasi antar sifat fisiko kimia dengan karakteristik gelombang
ultrasonik dianalisis menggunakan regresi sederhana. Tahapan pelaksanaan
kajian ini secara rinci digambarkan pada Gambar 19 (kajian hubungan korelasi
sifat fisiko kimia dengan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis
berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik) dan Gambar 20 (kajian hubungan
korelasi sifat fisiko kimia dengan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis berdasarkan tingkat kematangan atau masa pematangan).

Pengkajian Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis
Rusak. Pengkajian tahap penelitian ini dilakukan dengan metode evaluasi, yaitu
membandingkan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis tidak
rusak dengan buah manggis rusak. Kedua kelompok buah manggis yang telah
diketahui karakteristik gelombang ultrasoniknya (kecepatan rambat, koefisien
atenuasi, power spectral density) lalu dilakukan pengamatan dan evaluasi
terhadap kondisi sifat fisik dari kedua sampel buah manggis tersebut. Tahapan
pelaksanaan kajian ini secara rinci digambarkan pada Gambar 21.

Pengkajian Prediksi Tingkat Ketuaan (Umur Petik), Tingkat
Kemanisan, dan Buah Manggis Rusak dengan Karakteristik Gelombang
Ultrasonik. Karena sifatnya yang sulit dalam melakukan sortasi terhadap mutu
bagian dalam buah maka langkah yang diambil adalah dengan melakukan
prediksi. Prediksi terhadap beberapa indikasi mutu dalam buah manggis
dilakukan menggunakan metode jaringan syaraf tiruan. Karena prediksi bersifat
non-destruktif maka digunakan ketiga parameter karakteristik gelombang
ultrasonik (kecepatan rambat, koefisien atenuasi, dan power spectral density)
sebagai input, sedangkan sebagai target tergantung pada indikasi mutu buah
manggis yang akan diprediksi. Dalam penelitian ini ada tiga indikasi mutu yang
diprediksi, yaitu :


51
1 Tingkat ketuaan,
2 Tingkat kemanisan, dan
3 Buah manggis rusak.

Tahapan pelaksanaan kajian ini secara rinci masing-masing digambarkan pada
Gambar 22, 23, dan 24.

Pengkajian Model Prediksi Masa Simpan Buah Manggis dengan
Karakteristik Gelombang Ultrasonik. Pada kajian tahap penelitian ini,
pertama-tama dilakukan pengamatan pada laju perubahan indeks mutu (sifat fisik
dan kimia) yang terjadi selama dilakukan penyimpanan buah manggis. Indikator
mutu kritis maupun masa simpan yang digunakan sebagai dasar perlakuan tahap
penelitian ini diperoleh dari hasil penelitian kajian pertama setelah tahap
penelitian pendahuluan.
Selanjutnya laju perubahan indeks mutu dan karakteristik gelombang
ultrasonik yang terjadi dikaji hubungan korelasinya. Dengan diketahuinya
hubungan korelasi tersebut maka dapat diprediksi masa simpan dari buah manggis
hanya melalui pengukuran karakteristik gelombang ultrasoniknya tanpa merusak
buah manggis tersebut. Tahapan pelaksanaan kajian ini secara rinci digambarkan
pada Gambar 25.




52

Gambar 17 Tahap pengkajian sifat fisiko-kimia dan karakteristik gelombang
ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan (umur
petik).


Gambar 18 Tahap pengkajian sifat fisiko-kimia dan karakteristik gelombang
ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat kematangan (masa
pematangan).



53

Gambar 19 Tahap pengkajian hubungan sifat fisiko-kimia dengan karakteristik
gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat
ketuaan (umur petik).



Gambar 20 Tahap pengkajian hubungan sifat fisiko-kimia dengan karakteristik
gelombang ultrasonik pada buah manggis berdasarkan tingkat
kematangan (masa pematangan).



54

Gambar 21 Tahap pengkajian karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis rusak.


Gambar 22 Tahap pengkajian prediksi tingkat ketuaan (umur petik) buah manggis
dengan karakteristik gelombang ultrasonik.



55

Gambar 23 Tahap pengkajian prediksi tingkat kemanisan buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik.


Gambar 24 Tahap pengkajian prediksi buah manggis rusak dengan karakteristik
gelombang ultrasonik.




56


Gambar 25 Tahap pengkajian model prediksi masa simpan buah manggis dengan
karakteristik gelombang ultrasonik.

Pengukuran dan Pengolahan Karakteristik Gelombang Ultrasonik

Pengukuran karakteristik gelombang ultrasonik dilakukan dengan 4 kali
ulangan dimana kedua transducer terletak pada posisi garis tengah buah manggis
(Gambar 26). Nilai karakteristik gelombang ultrasonik pada sampel buah
manggis tersebut merupakan nilai rata-rata dari 4 kali ulangan yang dilakukan.
Contoh perubahan bentuk sinyal gelombang ultrasonik mula-mula sebelum
dilakukan pengukuran (tanpa buah manggis) dan ketika dilakukan pengukuran
buah manggis seperti digambarkan pada Gambar 27, dimana jarak antara kedua
ujung transducer adalah sama baik sebelum dan ketika dilakukan pengukuran.
Penyusutan bentuk sinyal gelombang ultrasonik ini menandakan bahwa terjadi
suatu atenuasi gelombang yang dipengaruhi oleh kondisi (tekstur dan atau
struktur) dari buah manggis yang diukur.



57








Gambar 26 Posisi sampel dan transducer saat pengukuran.



tanpa bahan (buah manggis)



pada buah manggis


Gambar 27 Bentuk sinyal gelombang ultrasonik mula-mula (kiri) dan
ketika dilakukan pengukuran buah manggis (kanan).

Kurva pada Gambar 28 memperlihatkan bentuk gelombang ultrasonik yang
merambat pada salah satu sampel buah manggis, yaitu gambaran fluktuasi
perubahan tegangan selama perambatan. Besarnya t dan Am
0
/Am
1
yang masing-
masing merupakan variabel untuk menentukan besarnya kecepatan rambat (c) dan


58
koefisien atenuasi () gelombang ultrasonik ditentukan melalui kurva tersebut
Kurva tersebut dibentuk dari data yang direkam dan ditransfer ke dalam softwear
exel.
Asumsi yang diambil dalam menentukan nilai variabel t persamaan
kecepatan rambat gelombang ultrasonik adalah besarnya waktu sejak terbentuk
hingga terjadinya perubahan nyata dari bentuk sinyal seperti terlihat pada kurva
Gambar 28. Bentuk persamaan kecepatan rambat gelombang ultrasonik adalah :

( ) t
x
t t
x
c
0 1

=

= (31)


Gambar 28 Menentukan variabel t dari persamaan kecepatan rambat
dan variabel Am dari persamaan koefisien atenuasi.

Dalam menentukan besarnya koefisien atenuasi digunakan persamaan 11.
Nilai variabel Am
0
(tegangan sebelum dilakukan pengukuran atau tanpa buah
manggis) dan variabel Am
1
(tegangan ketika pengukuran buah manggis) diukur
dari sinyal yang terbentuk. Besarnya nilai variabel Am ditentukan dari perbedaan
terbesar nilai tegangan yang dimulai dari besaran waktu yang dipilih dalam
menentukan kecepatan rambat gelombang. Menentukan besarnya nilai variabel
Am
0
(sebagai referensi) serupa dengan menentukan nilai variabel Am
1
. Setiap
sampel buah manggis mempunyai referensi sendiri.


t
t
1
t
0
Am


59
Nilai besaran power spectral density ditentukan dengan mentransformasikan
rekaman data sinyal gelombang yang terbentuk (Gambar 29), yaitu berupa
perubahan besaran tegangan (mV) setiap waktu (s), yang diolah menggunakan
Fast Fourier Transform (FFT) dengan bantuan program yang dibuat dalam bahasa
program MatLab (Lampiran 1).


Gambar 29 Range data menentukan nilai power spectral
density.

Gambar 30 berikut adalah contoh bentuk sinyal gelombang ultrasonik salah
satu sampel buah manggis dan nilai power spectral density yang diolah dengan
program bahasa Matlab. Kurva pada Gambar 30 (kiri-atas) merupakan bentuk
sinyal gelombang awal dari hasil pengukuran gelombang ultrasonik sedangkan
kurva pada Gambar 30 (kanan-bawah) merupakan nilai power spectral density
hasil perhitungan.
range data


60

Gambar 30 Salah satu contoh bentuk dan nilai power spectral
density.

Analisis Sifat Fisiko Kimia Buah Manggis

Penentuan Sifat Fisik Buah Manggis. Dalam analisis sifat fisik buah
manggis dilakukan pengukuran kekerasan kulit buah. Sifat fisik ini diukur
menggunakan alat rheometer dengan tangkai penusuk ( 3 mm) berujung
runcing.

Penentuan Sifat Kimia Buah Manggis. Dalam analisis kimia buah
manggis dilakukan pengukuran terhadap total padatan terlarut, total gula, dan
asam daging buah.
1 Total padatan terlarut diukur menggunakan refraktometer. Cara
pengukurannya adalah dengan memeras cairan daging buah manggis kemudian
disaring dan diteteskan pada bagian sensor alat. Hasil pengukuran dalam
satuan % brix atau
O
brix.
2 Jumlah Total Gula (AOAC, 1984) ditentukan dengan metode Anthrone.
Urutan proses analisanya adalah penyiapan sampel, pembuatan kurva standard,
dan penetapan kandungan gula sampel.
Penyiapan sampel


61
a. Sebanyak 20 g sampel setelah ditambahkan alkohol 80 % (perbandingan
1:2), dihancurkan menggunakan waring blender,
b. Hancuran sampel disaring dengan kapas ke dalam gelas piala,
c. Ampas padatan yang berada pada kapas dicuci dengan alkohol 80 %
hingga seluruh gula terlarut dalam filtrat,
d. Mengukur pH filtrat. Jika tergolong asam maka ditambahkan CaCO
3

hingga tergolong basa,
e. Memanaskannya dengan penganas bersuhu 100
O
C selama 30 menit yang
kemudian disaring kembali menggunakan kertas saring Whatman No.2,
f. Menghilangkan kandungan alkohol pada filtrat dengan cara memanaskan
pada penganas bersuhu 85
O
C. Jika akan mengering ditambahkan air
secukupnya,
g. Menambahkan filtrat dengan Pb-asetat jenuh hingga filtrat jernih,
h. Mengendapkan Pb dengan menambahkan secukupnya Na-oksalat kering,
i. Fitrat dipindahkan ke labu takar 250 ml dan ditepatkan dengan air hingga
tanda tera, lalu dikocok hingga merata. Bahan ini siap digunakan untuk
penetapan jumlah kandungan gula.
Pembuatan kurva standard.
a. Menyiapkan larutan gula standard (0.2 mg/ml) dalam 6 tabung reaksi,
yaitu 0.0 (blanko), 0.2, 0.4, 0.6, 0.8, dan 1.0 ml.
b. Menambah air ke semua tabung berisi larutan gula standard hingga
bervolume 1.0 ml.
c. Mencampurkan 5 ml pereaksi Anthrone ke setiap tabung hingga merata
dan ditutup rapat,
d. Semua tabung reaksi ditempatkan dalam water bath selama 12 menit dan
didinginkan secara cepat dengan air yang mengalir,
e. Mengukur absorbannya dengan 630 nm untuk dibuat kurva hubungan
antara absorban dan mg glukosa.
Penetapan kandungan gula sampel
a Sampel sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
dicampurkan 5 ml pereaksi Anthrone hingga merata,


62
b Menempatkannya ke dalam water bath dengan suhu 100
O
C selama 12
menit,
c Mengukur absorbannya setelah didinginkan dengan cepat,
d Kandungan gula dalam sampel ditentukan menggunakan kurva standard
yang telah dibuat.
3 Jumlah Total Asam (AOAC, 1984) dianalisa dengan cara tetrimetri, yang
urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
a Sampel sejumlah 10 g dihancurkan menggunakan mortar,
b Hancuran sampel dipindahkan secara kuantitatif ke dalam gelas piala, lalu
dipanaskan selama 60 menit,
c. Setelah dingin dipindahkan ke dalam labu takar 250 ml dan ditepatkan
hingga tanda tera dengan air destilata,
d. Setelah dihomogenkan, larutan disaring dengan kertas saring,
e Untuk penetapan sampel diambil 25 ml larutan dan dititrasi dengan NaOH
0.1 N dengan indikator fenolftalein.
f. Hasil yang diperoleh dihitung sebagai persentase asam malat dengan
persamaan :

( )
% 100
10
2 /
(%)
3
=
W
BM P N
Asam Total
E
V
(32)

Uji Organoleptik (Subyektif)

Uji subyektif dilakukan dalam rangka menentukan batas maksimum masa
simpan buah manggis atau sebagai batas kesukaan konsumen. Metode pengujian
yang digunakan adalah uji kesukaan berdasarkan penilaian tingkat kesukaan
terhadap warna, tekstur (kekerasan), rasa manis dan asam daging buah manggis,
dan kesukaan secara keseluruhan.
Uji subyektif ini dilakukan oleh para panelis yang dianggap mewakili
konsumen dalam memberi skor penilaian kesukaan terhadap produk. Skor
penilaian terdiri dari 5 tingkat kesukaan, yaitu 5 = sangat suka, 4 = suka, 3 =
netral, 2 = tidak suka, 1 = sangat tidak suka. Batas penolakan penilaian kesukaan


63
terhadap sampel didasarkan pada skor standar yaitu 3.5. Format uji subyektif
yang digunakan seperti pada Tabel 12.

Tabel 12 Format uji organoleptik (subyektif) dalam menentukan masa
simpan dan sifat fisiko kimia kritis buah manggis

Format Uji Organoleptik
Uji ke - :
Nama Panelis :
Tanggal Uji :
Petunjuk Pengisian
Setelah mencicipi sampel, beri penilaian angka 1 s/d 5 pada kolom yang
tersedia di bawah sesuai dengan pilihan Anda
Sensorik Yang Dinilai Kode
Gol.
Sampel
warna
(putih)
rasa
manis
tekstur
(kekerasan)
rasa
asam
secara
keseluruhan
. . . . . .
Keterangan
5 : sangat suka 3 : netral 1 : sangat tidak suka
4 : suka 2 : tidak suka

Setiap panelis yang dipilih disyaratkan berminat dan mempunyai perhatian
terhadap pekerjaan uji subyektif dan mempunyai kepekaan yang baik dalam
menilai warna, tekstur (kekerasan), dan rasa. Jumlah panelis terlatih dalam uji
subyektif ini terdiri dari 12 orang.
Penentuan tingkat kematangan (masa simpan) bukan ditentukan pada nilai
indikator mutu kritis namun ditentukan oleh penerimaan produk secara
keseluruhan oleh panelis (konsumen).

Aplikasi Metode Jaringan Syaraf Tiruan untuk Pengembangan Sortasi Buah
Manggis

Model Jaringan syaraf tiruan disusun dengan bantuan perangkat lunak NN-
tool box dari program MatLab 6.1.0.450 Release 2.1. Metode jaringan syaraf
tiruan dipilih jenis back propagation dengan 1 input layer, 1 hidden layer, dan 1
output layer.


64
Data input pada proses training (pembelajaran) maupun validasi terhadap
model jaringan syaraf tiruan yang dirancang adalah kecepatan rambat, koefisien
atenuasi, dan power spectral density gelombang ultrasonik. Bentuk struktur
jaringan syaraf tiruan yang digunakan tersebut seperti disajikan pada Gambar 31.


Gambar 31 Struktur jaringan syaraf tiruan yang digunakan.

Output dari input layer merupakan input untuk hidden layer, yang didapat
secara mengalikan I
i
dengan pembobot W
1,j
dan menambahkan b
1,j
.

) (
j 1, j 1, i j
b W I H + = (33)

Output dari hidden layer merupakan input untuk output layer, yang
diperoleh dengan melakukan perkalian y dengan pembobot W
2,j
dan
menambahkan b
2, k
.

) (
k 2, j 2, j
k j, k
b W H
a O
+ =
=
(34)

Output dari hidden layer (a
j,k
) dan dari output layer (y) dapat dinyatakan
dengan persamaan,


65
( ) [ ]
k , j , j
j k j,
b W H f
H f a
2 2
) (
+ =
=
(35)

( ) [ ]
( ) [ ] { }
k 2, j 2, j 1, j 1, i
k 2, j 2, j
k
b W b W I f
b W H f
O f y
+ + =
+ =
= ) (
(36)

Pada proses pembelajaran digunakan fungsi aktivasi (transfer). Fungsi
transfer adalah untuk menentukan suatu output dari suatu layer dari input suatu
layer di depannya. Ada beberapa fungsi transfer yang dapat digunakan,
diantaranya yaitu: log-sigmoid, pure linear, dan tan-sigmoid. Ketiga bentuk
persamaan tersebut berturut-turut seperti berikut :

I
X
O
e
Y

+
=
1
1
(37)

I O
X Y = (38)

1 ) (1
2
I
2
+
=
X
O
e
Y (39)

Proses pembelajaran dilakukan untuk mencari nilai pembobot, dengan cara
memberi masukan nilai I dan y yang cukup banyak. Nilai pembobot terbaik
adalah yang mampu meminimalkan galat secara global. Proses pembelajaran
berlangsung secara iterasi untuk perbaikan nilai pembobot dengan teknik
cumulative delta rule yang melibatkan laju pembelajaran (learning rate). Selama
proses pembelajaran berlangsung, kinerja jaringan syaraf tiruan dievaluasi dengan
pengukuran nilai MSE (Mean Square Error) atau RSME (Root Mean Square
Error). Kinerja jaringan syaraf tiruan makin baik jika MSE atau RMSE makin
rendah.


66
Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, nilai-nilai input dan output
terlebih dahulu dapat dinormalisasikan agar sesuai untuk fungsi aktivasi log-
sigmoid, yaitu berada pada selang 0-1. Normalisasi menggunakan rumus sebagai
berikut :

minimum maksimum
minimum lama
i normalisas hasil
X X
X X
X

= (40)

Jaringan syaraf tiruan hasil pembelajaran menghasilkan nilai pembobot dan
bias, yang selanjutnya digunakan untuk uji validasi pendugaan terhadap sampel di
luar dari sampel yang digunakan pada proses pembelajaran. Persentase ketepatan
hasil pendugaan adalah jumlah sampel yang tepat diprediksi dibagi jumlah sampel
yang diprediksi dikali 100%.

% 100
) (
) (
%

=
diuji yang sampel
diduga tepat yang uji sampel
Ketepatan (41)

Validasi Model

Untuk mengetahui apakah suatu model yang dirancang dapat
menggambarkan keadaan yang sesungguhnya, maka dilakukan suatu pemeriksaan
terhadap model yang dirancang tersebut, yaitu dengan cara membandingkan
antara keluaran (keadaan) berdasarkan model yang dirancang tersebut dengan
keadaan yang sesungguhnya (secara destruktif atau merusak). Mula-mula
dilakukan pengkajian karakteristik gelombang ultrasonik terhadap buah utuh
(secara non destruktif), kemudian terhadap buah yang sama dilakukan analisis
kondisi buah (secara destruktif). Setelah dilakukan kedua analisis tersebut
akhirnya dilakukan evaluasi perbandingan.
Ada beberapa parameter statistik yang dapat digunakan untuk mengukur
sejauh mana ketelitian model yang dibuat, antara lain : standard error prediction
(SEP), bias ) (d , dan coeffisien of variation (CV) dari keluaran model terhadap


67
keadaan yang sesungguhnya. Bentuk persamaan dari parameter statistik tersebut
dituliskan sebagai berikut :

( )
1
1
2

=

=
n
Y Y
SEP
n
i
p a
(42)

( )
n
Y Y
d
n
i
p a
=

=
1
(43)

% 100 =
a
Y
SEP
CV (44)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sifat Fisik Buah Manggis

Sifat Fisik Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan (Umur Petik)

Kelima kelompok sampel buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan yang
digunakan dalam penelitian ditandai dengan perbedaan warna kulit buah yaitu dari
hijau hingga unggu kehitaman (Gambar 13). Perubahan warna kulit buah mulai
dari kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 hingga tingkat ketuaan 3
sangat cepat dimana dalam 1 hari masa pematangan pada suhu ruang telah
menjadi ungu kehitaman. Terjadinya perubahan warna menjadi ungu kehitaman
dari ketiga kelompok buah manggis tersebut secara visual sulit dibedakan asal
masing-masing kelompok tingkat ketuaannya. Sementara kelompok buah
manggis dengan tingkat ketuaan 0 dan tingkat ketuaan 4 secara visual tidak
mengalami perubahan warna, dimana masing-masing warnanya tetap hijau dan
tetap ungu kehitaman.
Untuk tujuan ekspor, umumnya petani memanen buah manggis yang
termasuk dalam kelompok dengan tingkat ketuaan dari 1 hingga tingkat ketuaan 3,
sedangkan buah manggis dengan tingkat ketuaan di bawahnya (tingkat ketuaan 0)
belum layak dikonsumsi dan di atasnya (tingkat ketuaan 4) dianggap bebas sortir
yang dipasarkan untuk pasar lokal dengan harga yang relatif jauh lebih murah.
Plot data hasil pengukuran sifat fisik (kekerasan kulit buah) dari setiap
kelompok sampel buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik
(Lampiran 2) perbedaan kekerasan kulit buahnya dapat dilihat seperti pada kurva
Gambar 32. Dari kurva tersebut tampak bahwa semakin tinggi tingkat ketuaan
atau semakin tua umur petik buah manggis hingga pada batas tertentu tingkat
kekerasan kulit buahnya semakin rendah (lunak). Namun pada kelompok buah
manggis dengan tingkat ketuaan 4 kekerasan kulit buahnya sedikit meningkat
kembali. Dari hasil pengamatan, kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan
4 cenderung mangalami kebusukan yang ditandai dengan semakin keras kulit


69
buahnya. Kecenderungan perubahan kekerasan kulit buah manggis berdasarkan
tingkat ketuaannya dapat digambarkan dengan persamaan y = 6.70x
2
39.22x +
62.05 (R
2
= 0.9414). Berturut-turut nilai rata-rata kekerasan kulit buah manggis
pada tingkat ketuaan 0 hingga tingkat ketuaan 4 adalah 65.98 N, 20.43 N, 13.85
N, 9.14 N, dan 9.64 N.


Gambar 32 Nilai rata-rata kekerasan kulit buah manggis
berdasarkan tingkat ketuaan (umur petik).

Sifat Fisik Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Kematangan (Masa
Pematangan)

Dari pengamatan selama 12 hari masa pematangan pada suhu ruang dari
kedua kelompok sampel buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 (97~103 hari
sbm) dan tingkat ketuaan 3 (111~117 hari sbm) diketahui bahwa rata-rata dalam 1
hari masa pematangan saja telah mengalami perubahan warna menjadi ungu
kehitaman. Setelah melewati masa tersebut, secara visual perubahan warna kulit
buah dari kedua kelompok buah manggis tersebut tidak berbeda nyata, namun
dilihat dari kondisi kesegarannya tampak jelas semakin berkurang.
Plot data dari nilai rata-rata kekerasan kulit buah dari kelompok buah
manggis dengan tingkat ketuaan 1 dan tingkat ketuaan 3 selama 12 hari masa
pematangan (Lampiran 3) digambarkan pada kurva Gambar 33. Dari kurva
tersebut terlihat bahwa selama beberapa hari masa pematangan terjadi perbedaan
nilai rata-rata kekerasan kulit buah manggis yang cenderung semakin lunak.
Namun di hari ke 9 kondisi kekerasan kulit buah dari kebanyakan buah manggis


70
cenderung mengeras kembali dan bahkan dapat melebihi kekerasan awalnya. Dari
hasil pengamatan, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa buah manggis
cenderung mulai mengalami kebusukan.


Gambar 33 Perbedaan nilai rata-rata kekerasan kulit buah selama 12 hari
masa pematangan pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 1
(kiri) dan tingkat ketuaan 3 (kanan).

Antara kekerasan kulit buah manggis dengan tingkat kematangan atau masa
pematangan mempunyai hubungan korelasi, dimana kecenderungan melunaknya
kekerasan kulit buah selama masa pematangan pada batas waktu tertentu dapat
digambarkan dengan persamaan y = 0.22x
2
- 3.55x + 19.38 (R
2
= 0.9149) dan y =
0.04x
2
- 0.59x + 9.17 (R
2
= 0.9455), berturut-turut untuk kelompok sampel buah
manggis dengan tingkat ketuaan 1 dan tingkat ketuaan 3.
Dari pengamatan, kekerasan daging buah manggis semakin lunak dengan
semakin lamanya masa pematangan. Berbeda dengan kekerasan kulit buah
dimana kekerasan daging buah tidak mengalami peningkatan kembali nilai
kekerasan kulit buahnya.


71
Sifat Kimia Buah Manggis

Sifat Kimia Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan (Umur Petik)

Kurva-kurva pada Gambar 34 adalah plot data nilai rata-rata sifat kimia
(total gula, total asam, dan total padatan terlarut) dari kelompok sampel buah
manggis berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik (Lampiran 4a, 4b, dan 4c).


Gambar 34 Nilai rata-rata sifat kimia buah manggis berdasarkan tingkat
ketuaan (umur petik)

Total Gula Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan (Umur Petik).
Dari kurva pada Gambar 34 (kiri atas) tampak bahwa antara tingkat ketuaan
(umur petik) dan total gula sampel buah manggis memiliki hubungan korelasi
dimana semakin tinggi tingkat ketuaan atau semakin tua umur petik buah manggis
semakin tinggi total gulanya. Kecenderungan meningkatnya total gula buah
manggis berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik dapat digambarkan dengan
persamaan y = 4.02x + 1.92 (R
2
= 0.9941).


72
Nilai total gula yang paling tinggi pada buah manggis berdasarkan tingkat
ketuaan dapat mencapai 20.14 g/100g (tingkat ketuaan 4). Sedangkan jika buah
manggis dilakukan proses pematangan, total gulanya dapat melebihi nilai tersebut,
namun dari hasil penilaian organoleptik (penilaian secara keseluruhan) kurang
disukai. Nilai rata-rata total gula pada kelompok buah manggis dari tingkat
ketuaan 0 hingga tingkat ketuaan 4 berturut-turut adalah 2.44 g/100g, 5.28 g/100g,
10.06 g/100g, 13.62 g/100g, dan 18.36 g/100g.

Total Asam Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan (Umur
Petik). Dari kurva pada Gambar 34 (kanan atas) tampak bahwa mula-mula total
asam meningkat hingga pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 3 dan
seterusnya menurun. Kecenderungan perubahan nilai total asam berdasarkan
tingkat ketuaan memiliki hubungan korelasi yang cukup baik dan dapat
digambarkan dengan persamaan y = -7.92x
2
+ 29.66x + 83.25 (R
2
= 0.7064).
Total asam yang paling tinggi pada buah manggis dapat mencapai 124.72
ml/100g (tingkat ketuaan 1). Sedangkan nilai rata-rata total asam pada buah
manggis berdasarkan tingkat ketuaan, dari tingkat ketuaan 0 hingga tingkat
ketuaan 4 berturut-turut adalah 78.55 ml/100g, 118.63 ml/100g, 98.16 ml/100g,
dan 75.66 ml/100g.
Nilai rata-rata total asam terendah terjadi pada buah manggis dengan tingkat
ketuaan 4. Hal ini merupakan kebalikan dari nilai total gula dimana buah manggis
dengan tingkat ketuaan 4 memiliki nilai total gula yang paling tinggi.

Total Padatan Terlarut Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Ketuaan
(Umur Petik). Dari kurva pada Gambar 34 (kiri bawah) tampak bahwa
perbedaan total padatan terlarut antara kelompok sampel buah manggis dengan
tingkat ketuaan 0 dan dengan tingkat ketuaan 1 sangat tinggi namun perbedaan
antara kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 hingga tingkat ketuaan 4
tidak berbeda nyata walau tetap meningkat. Kecenderungan perubahan total
padatan terlarut dari kelompok buah manggi berdasarkan tingkat ketuaan memiliki
hubungan korelasi yang cukup baik dan dapat digambarkan dengan persamaan y =
-1.67x
2
+ 9.45x - 6.15 (R
2
= 0.8521).


73
Nilai rata-rata total padatan terlarut pada kelompok buah manggis
berdasarkan tingkat ketuaan dari tingkat ketuaan 0 hingga tingkat ketuaan 4
berturut-turut adalah 4.6 brix, 17.3 brix, 17.4 brix, 17.4 brix, dan 18.4 brix.

Sifat Kimia Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Kematangan (Masa
Pematangan)

Gambar 35 sisi kiri dan sisi kanan berturut-turut adalah plot data nilai rata-
rata hasil analisis sifat kimia (total gula, total asam, total padatan terlarut)
kelompok sampel buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 (97~103 hari sbm) dan
kelompok sampel buah manggis dengan tingkat ketuaan 3 (111~117 hari sbm)
selama 12 hari masa pematangan pada suhu ruang (Lampiran 5a, 5b, dan 5c).

Total Gula Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Kematangan (Masa
Pematangan). Dari kurva pada Gambar 35 (kiri dan kanan atas) tampak bahwa
total gula buah manggis pada kedua kelompok tingkat ketuaan selama masa
pematangan cenderung meningkat. Kecenderungan meningkatnya total gula pada
buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 selama masa pematangan dapat
digambarkan dengan persamaan y = 1.01x + 4.97 (R
2
= 0.9564) sedangkan pada
kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 3 adalah y = 0.71x + 11.04 (R
2
=
0.7093). Nilai rata-rata total gula dari kelompok buah manggis dengan tingkat
ketuaan 3 selama masa pematangan selalu lebih tinggi dibanding pada kelompok
buah manggis dengan tingkat ketuaan 1. Hal ini tidaklah mengherankan karena
nilai awal sebelum dilakukan proses pematangan, buah manggis dengan tingkat
ketuaan 3 memiliki nilai total gula yang besar dibanding nilai total gula pada buah
manggis dengan tingkat ketuaan 1.
Nilai rata-rata total gula pada kelompok buah manggis dengan tingkat
ketuaan 1 selama masa pematangan 0, 3, 6, 9, dan 12 hari berturut-turut adalah
5.28 g/100g, 8.20 g/100g, 9.45 g/100g, 15.27 g/100g, dan 16.86 g/100g.
Sedangkan pada kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 3 berturut-turut
adalah 13.61 g/100g, 11.32 g/100g, 13.10 g/100g, 16.97 g/100g, dan 21.38
g/100g.


74

Gambar 35 Nilai rata-rata sifat kimia pada kelompok buah manggis
dengan tingkat ketuaan 1 (sisi kiri) dan tingkat ketuaan 3
(sisi kanan) selama 12 hari masa pematangan (suhu ruang).

Total Asam Buah Manggis Berdasarkan Tingkat Kematangan (Masa
Pematangan). Dari kurva Gambar 35 (kiri dan kanan tengah) tampak bahwa nilai
rata-rata total asam pada kedua kelompok sampel buah manggis dengan tingkat
ketuaan 1 dan tingkat ketuaan 3 selama masa pematangan cenderung menurun.
Kecenderungan menurunnya nilai total asam selama masa pematangan dapat
digambarkan dengan persamaan y = 3.61x + 121.60 (R
2
= 0.9328) dan y = 3.29x
+ 108.27 (R
2
= 0.9636) berturut-turut pada kelompok buah manggis dengan
tingkat ketuaan 1 dan tingkat ketuaan 3. Nilai rata-rata total asam selama 12 hari


75
masa pematangan pada kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 3 lebih
rendah dibanding pada kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 1.
Nilai rata-rata total asam selama 12 hari masa pematangan dari 0, 3, 6, 9,
dan hingga 12 hari pada kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 1
berturut-turut adalah 118.63 ml/100g, 111.19 ml/100g, 107.43 ml/100g, 84.77
ml/100g, dan 77.71 ml/100g, sedangkan pada kelompok buah manggis dengan
tingkat ketuaan 3 berturut-turut adalah 104.56 ml/100g, 101.27 ml/100g, 91.35
ml/100g, 79.20 ml/100g, dan 66.24 ml/100g.

Total Padatan Terlarut Buah Manggis Berdasarkan Tingkat
Kematangan (Masa Pematangan). Dari kurva Gambar 35 (sisi bawah) tampak
bahwa nilai rata-rata total padatan terlarut pada kelompok sampel buah manggis
dengan tingkat ketuaan 1 (97~103 hari sbm) tidak memiliki hubungan korelasi
namun pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 3 (111~117 hari sbm) masih
memiliki hubungan korelasi (R
2
= 0.7152) dengan persamaan y = 0.09x + 17.12.
Perubahan total padatan terlarut pada kelompok buah manggis dengan
tingkat ketuaan 1 selama masa pematangan 0, 3, 6, 9, dan 12 hari berturut-turut
adalah 16,75
O
Brix, 17.53
O
Brix, 17.18
O
Brix, 17.75
O
Brix, dan 17.57
O
Brix,
sedangkan pada kelompok buah manggis dengan tingkat ketuaan 3 berturut-turut
adalah 17.37
O
Brix 17.05
O
Brix, 17.50
O
Brix, 18.19
O
Brix, dan 18.13
O
Brix.


Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis

Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis Berdasarkan
Tingkat Ketuaan (Umur Petik)

Gambar 36 adalah kurva plot data hasil pengukuran karakteristik gelombang
ultrasonik (kecepatan rambat, koefisien atenuasi, power spectral density) pada
kelompok sampel buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan atau umur petik
(Lampiran 6a, 6b, 6c). Terdapat hubungan korelasi antara tingkat ketuaan (umur
petik) buah manggis terhadap kecepatan rambat gelombang ultrasonik namun


76
terhadap karakteristik gelombang ultrasonik lainnya (koefisien atenuasi maupun
power spectral density) tidak menunjukkan adanya hubungan korelasi yang nyata.
Hubungan korelasi antara tingkat ketuaan buah manggis dengan kecepatan rambat
gelombang ultrasonik dapat digambarkan dengan persamaan y = -0.006x + 0.14
(R
2
= 0.8817).


Gambar 36 Nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang
ultrasonik pada buah manggis berdasarkan
tingkat ketuaan (umur petik).

Nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang pada buah manggis berdasarkan
tingkat ketuaan, dari tingkat ketuaan 0 hingga 4 berturut-turut adalah 0.1327
mm/s, 0.1312 mm/s, 0.1276 mm/s, 0.1132 mm/s, dan 0.1122 mm/s.
Semakin tinggi tingkat ketuaan atau semakin tua umur petik buah manggis
semakin rendah nilai kecepatan rambat gelombang ultrasonik. Secara teori,
kecepatan rambat gelombang ultrasonik dipengaruhi oleh sifat fisik bahan berupa
Young modulus dan kerapatan masa ( Y c = ), namun Young modulus lebih
dominan dibanding kerapatan masa dalam mempengaruhi kecepatan rambat
gelombang uktrasonik . Nilai Young modulus dipengaruhi oleh tingkat kekerasan
bahan dimana semakin lunak bahan semakin kecil nilai Young modulusnya.
Seperti telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya bahwa semakin tinggi tingkat
ketuaan buah manggis semakin rendah tingkat kekerasan kulit buahnya (Gambar
32). Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa semakin tnggi tingkat ketuaan buah
manggis semakin rendah kecepatan rambat gelombang ultrasonik.



77
Karakteristik Gelombang Ultrasonik Buah Manggis Berdasarkan Tingkat
Kematangan (Masa Pematangan)

Gambar 37 adalah kurva plot data hasil pengukuran karakteristik gelombang
ultrasonik (kecepatan rambat, koefisien atenuasi, power spectral density) pada
buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 (97~103 hari sbm) dan tingkat ketuaan 3
(111~1117 hari sbm) selama masa pematangan (Lampiran 7a, 7b, 7c). Terdapat
hubungan korelasi antara tingkat kematangan (masa pematangan) buah manggis
dengan kecepatan rambat gelombang ultrasonik.


Gambar 37 Nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada
buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 (kiri) dan tingkat
ketuaan 3 (kanan) selama 12 hari masa pematangan.

Pada kurva tersebut tampak bahwa ada perbedaan terjadinya perubahan
kecepatan rambat gelombang ultrasonik selama masa pematangan antar kedua
kelompok sampel buah manggis. Pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 1
yang merupakan buah manggis yang telah berada pada fase penuaan, kecepatan
rambat gelombang ultrasoniknya menurun pada awal masa pematangan dan pada
masa selanjutnya meningkat. Sedangkan pada sampel buah manggis dengan
tingkat ketuaan 3 yang merupakan buah yang pada perkembangannya berada pada
fase penuaan dan kematangan, kecepatan rambat gelombang ultrasoniknya
meningkat selama masa pematangan. Jika dikaitkan dengan perubahan kekerasan
kulit buah yang mempengaruhi kecepatan rambat gelombang ultrasonik, dimana
perubahan kekerasan kulit buah pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 pada
awal masa pematangan menurun cukup besar yang selanjutnya perubahan tersebut


78
menurun sangat kecil. Sedangkan pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 3
selama masa pematangan meningkat namun perubahannya sangat kecil.
Kecenderungan peningkatan kecepatan rambat gelombang ultrasonik
berdasarkan masa pematangan dapat digambarkan dengan persamaan y = 0.0001x
2
- 0.001x + 0.13 (tingkat ketuaan 1) dan y = -0.0003x
2
+ 0.005x + 0.11 (tingkat
ketuaan 3). Dan nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada
kedua kelompok buah manggis tersebut selama masa pematangan seperti tampak
pada Tabel 13.

Tabel 13 Nilai rata-rata kecepatan rambat gelombang ultrasonik
selama 12 hari masa pematangan

ecepatan rambat gelombang ultrasonik selama
masa pematangan (mm/s)
Tingkat Ketuaan
(Umur Petik)
Buah Manggis
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 2 hari
97~103 hari sbm) 0.1309 0.1287 0.1294 0.1353 0.1382
111~117 hari sbm) 0.1132 0.1300 0.1318 0.1379 0.1327

Karakteristik gelombang ultrasonik lainnya (koefisien atenuasi dan power
spectral density) tidak menunjukkan adanya hubungan korelasi yang nyata
terhadap tingkat kematangan (masa pematangan). Disamping itu data-data hasil
pengukuran kedua karakteristik gelombang ultrasonik tersebut memiliki coefisien
of variancenya >15%.

Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada Buah Manggis Rusak

Kendala yang dihadapi dalam melakukan sortasi buah manggis rusak dari
buah manggis tidak rusak adalah secara visual sulit dibedakan. Sampel buah
manggis berdasarkan tingkat ketuaan dan tingkat yang diukur karakteristik
gelombang ultrasoniknya seperti yang telah diuraikan sebelumnya merupakan
buah manggis tidak rusak. Dari hasil kajian disimpulkan bahwa hanya kecepatan
rambat gelombang ultrasonik yang mempunyai hubungan korelasi. Sementara
data hasil pengukuran karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis
rusak menunjukkan hanya data nilai kecepatan rambat gelombang ultrasonik yang
memiliki nilai coeffisien of variance (CV) < 15 %. Oleh karenanya peninjauan


79
karakteristik gelombang ultrasonik pada buah manggis rusak lebih ditujukan pada
kecepatan ranbat gelombang ultrasonik.
Plot dari semua data nilai kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah
manggis tidak rusak dan rusak seperti digambarkan pada Gambar 38. Nilai
kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis tidak rusak adalah
0.1258 0.0106 mm/s sedangkan pada buah manggis rusak adalah 0.1414
mm/s 0.0122 mm/s. Jika ditentukan nilai 0.1339 mm/s sebagai batas daerah
nilai kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis tidak rusak dan
pada buah manggis rusak, kemudian dilakukan pemeriksaan ulang terhadap semua
data kecepatan rambat gelombang ultrasonik dari semua sampel maka ketepatan
untuk mengelompokkan buah manggis tidak rusak sebesar 75 % sedangkan buah
manggis rusak sebesar 80.00 %. Namun jika dilihat secara keseluruhan, ketepatan
pengelompokkan sebesar 75 %.


Gambar 38 Batas dan daerah nilai kecepatan rambat
gelombang ultrasonik pada buah manggis
tidak rusak dan rusak.

Secara teori (Gooberman, 1968) bahwa sifat gelombang ultrasonik akan
lebih mudah merambat pada medium padatan dibanding medium dalam bentuk
lain (cairan atau gas). Semakin tua umur petik atau lama masa pematangan sifat
fisik buah cenderung menjadi lunak karena adanya perubahan kekerasan kulit
buah. Karena perubahan sifat medium rambat tersebut maka gelombang


80
ultrasonik semakin sulit menembus bahan yang telah mengalami perubahan
tersebut. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa kecepatan rambat gelombang
ultrasonik pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 0 akan lebih tinggi
dibanding pada buah manggis dengan tingkat ketuaan di atasnya atau umur petik
yang lebih tua.
Dari hasil pengamatan, buah manggis rusak pada umumnya memiliki kulit
buah yang telah mengalami pengerasan baik pada bagian luar maupun bagian
dalamnya. Demikian halnya pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 4 yang
pada umumnya jika dilakukan pematangan (suhu ruang) pada batas waktu tertentu
cenderung mengeras kulit buahnya. Besarnya ukuran keras kulit buah tersebut
lebih keras dibanding buah manggis tidak rusak.
Akibat dari perubahan sifat fisik buah manggis tersebut maka akan
mempengaruhi besarnya kecepatan rambat gelombang ultrasonik. Oleh karenanya
kecepatan rambat gelombang ultrasonik dapat membedakan antara buah manggis
tidak rusak dengan buah manggis rusak walau secara visual dan tanpa merusak tak
dapat dibedakan.


Hubungan Sifat Fisiko Kimia Buah Manggis dengan Karakteristik
Gelombang Ultrasonik

Hubungan Sifat Fisik dengan Sifat Kimia Buah Manggis

Gambar 39 adalah plot data hasil pengukuran sifat fisik (kekerasan kulit
buah) dan sifat kimia (total gula, total asam, total padatan terlarut) buah manggis
(Lampiran 10).




81

Gambar 39 Hubungan sifat fisik dengan sifat kimia buah manggis

Semua kurva pada Gambar 39 menggambarkan ada penyebaran data yang
terpisah untuk kandungan kimia pada kekerasan kulit buah 21 N dan kekerasan
kulit buah 57 N. Data dengan kekerasan 57 N adalah buan manggis pada
tingkat ketuaan 0 yang berada pada fase belum tua. Pada fase tersebut, baik
perubahan sifat fisik maupun sifat kimia buah manggis relatif besar, namun
setelah buah memasuki fase penuaan-pematangan (tingkat ketuaan 1 hingga 4),
perubahan sifat fisik dan sifat kimia tidak nyata.
Hubungan korelasi antara sifat fisik dengan sifat kimia tidak dapat
ditentukan dengan adanya penyebaran data yang terpisah, yaitu dari buah manggis
dengan tingkat ketuaan 0. Namun jika dilihat penyebaran data hanya dari buah
manggis dengan tingkat ketuaan 1 hingga tingkat ketuaan 4, ada hubungan
korelasi antara kekerasan kulit buah dengan total gula, yang digambarkan dengan
persamaan : y = 32.98 exp(-0.08x), R
2
= 0.7397.




82
Hubungan Sifat Fisik dengan Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada
Buah Manggis

Kurva-kurva pada Gambar 40 adalah plot data hasil pengukuran sifat fisik
(kekerasan kulit buah) dan karakteristik gelombang ultrasonik (kecepatan rambat,
koefisien atenuasi, power spectral density) pada buah manggis (Lampiran 11).


Gambar 40 Hubungan karakteristik gelombang ultrasonik dengan sifat
fisik buah manggis.

Seperti pada penjelasan sebelumnya bahwa ada penyebaran data yang
terpisah (Gambar 40). Semua kurva memperlihatkan adanya penyebaran data
yang terpisah dengan nilai kekerasan kulit buah 57 N dan dengan nilai
kekerasan kulit buah 13.86 N. Data dengan nilai kekerasan kulit buah 57 N
adalah buah manggis pada tingkat ketuaan 0 yang berada pada fase belum tua.
Pada fase tersebut, baik perubahan sifat fisik maupun karakteristik gelombang
ultrasonik pada buah manggis relatif besar, namun setelah buah manggis
memasuki fase penuaan-pematangan (tingkat ketuaan 1 hingga tingkat ketuaan 4),
perubahan sifat fisik dan karakteristik gelombang ultrasonik tidak nyata.


83
Hubungan korelasi antara sifat fisik dengan karakteristik gelombang
ultrasonik tidak dapat ditentukan dengan adanya penyebaran data yang terpisah,
yaitu pada buah manggis dengan tingkat ketuaan 0. Namun jika dilihat
penyebaran data hanya dari buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 hingga tingkat
ketuaan 4, ada hubungan korelasi walaupun sangat kecil antara kekerasan kulit
buah dengan kecepatan rambat gelombang ultrasonik, yang digambarkan dengan
persamaan : y = 0.64exp(23.72x), R
2
= 0.4717.

Hubungan Sifat Kimia dengan Karakteristik Gelombang Ultrasonik pada
Buah Manggis

Kurva-kurva pada Gambar 41 adalah plot data hasil pengukuran sifat kimia
(total gula, total asam, total padatan terlarut) dan karakteristik gelombang
ultrasonik pada buah manggis (Lampiran 12).
Seperti pada penjelasan sebelumnya, terdapat penyebaran data yang terpisah
pada hubungan data sifat kimia dengan karakteristik gelombang ultrasonik, yaitu
pada hubungan karakteristik gelombang ultrasonik dengan total gula dan total
padatan terlarut.
Pada hubungan karakteristik gelombang ultrasonik dengan total padatan
terlarut terdapat dua pengelompokan data yang terpisah, yaitu nilai total padatan
terlarut dari buah manggis dengan tingkat ketuaan 0 dan buah manggis dengan
tingkat ketuaan 1 hingga tingkat ketuaan 4. Dan pada hubungan karakteristik
gelombang ultrasonik dengan total gula terjadi tiga pengelompokan data, yaitu
nilai total gula buah manggis dengan tingkat ketuaan 0, dengan tingkat ketuaan 1
dan tingkat ketuaan 2, dan dengan tingkat ketuaan 3 dan tingkat ketuaan 4.
Sedangkan pada hubungan kerakteristik gelombang ultrasonik dengan total asam
tidak terjadi pengelompokan data nilai total asam buah manggis dengan tingkat
ketuaan 0 hingga 4. Oleh karenanya sulit dibedakan asal tingkat ketuaan buah
manggis jika dilihat dari nilai total asamnya.



84


Gambar 41 Hubungan sifat kimia dan karakteristik gelombang ultrasonik pada
buah manggis.

Adanya penyebaran data yang terpisah tersebut, hubungan korelasi dari
setiap parameter sifat kimia dengan setiap parameter karakteristik sulit ditentukan,
kecuali hubungan korelasi antara kecepatan rambat gelombang ultrasonik dengan
total gula, yang dapat digambarkan dengan persamaan: y = -608.07x + 86.24 (R
2
=
0.8759).
Secara teori, total gula merupakan indikator suatu tingkat kemanisan buah
dimana tingkat kemanisan buah semakin tinggi dengan semakin tingginya tingkat
ketuaan (umur petik) buah disamping semakin lunaknya tingkat kekerasan kulit
buah. Dari tiga parameter karakteristik gelombang ultrasonik hanya kecepatan
rambat yang mempunyai hubungan korelasi dengan total gula dan kekerasan kulit
buah. Oleh karenanya kecepatan rambat merupakan parameter karakteristik
gelombang ultrasonik yang dapat digunakan untuk menduga tingkat kemanisan
manggis maupun tingkat kekerasan kulit buah terutama untuk mengevaluasi
manggis rusak yang mana kondisi kulit buah bagian dalamnya lebih keras
dibanding manggis tidak rusak.


85
Pengembangan Model Sortasi dengan Metode Jaringan Syaraf Tiruan

Prediksi Tingkat Ketuaan (Umur Petik) Buah Manggis

Tingkat ketuaan merupakan salah satu indeks mutu buah yang perlu
diketahui dalam kegiatan panen dan pasca panen untuk mempersiapkan buah
dengan mutu yang baik sebelum dipasarkan ke konsumen lokal atau konsumen
negara tujuan ekspor. Keseragaman tingkat ketuaan buah dijadikan salah satu
persyaratan minimum mutu buah untuk tujuan ekspor sehingga diperlukan suatu
metode sortasi tanpa merusak. Dalam penelitian ini dilakukan pengkajian sortasi
tanpa merusak menggunakan metode jaringan syaraf tiruan untuk memprediksi
sejumlah buah manggis yang akan dikelompokan (lima kelompok tingkat
ketuaan) sesuai dengan tingkat ketuaan masing-masing.
Pertama-tama dilakukan pendeskripsian dengan bilangan biner dari setiap
kelima kelompok tingkat ketuaan buah manggis untuk keperluan jaringan syaraf
tiruan sebagai metode yang digunakan (Tabel 14).

Tabel 14 Pengelompokan buah manggis berdasarkan tingkat
ketuaan (umur petik) dan deskripsi bilangan binernya

Kelompok Buah
Manggis
Umur Petik
Deskripsi
Bilangan Biner
tingkat ketuaan 0 90 ~ 96 hari sbm (1 1 1 )
tingkat ketuaan 1 97 ~ 103 hari sbm (1 1 0 )
tingkat ketuaan 2 104 ~ 110 hari sbm (1 0 1 )
tingkat ketuaan 3 111 ~ 117 hari sbm (0 1 1 )
tingkat ketuaan 4 118 ~ 124 hari sbm (0 0 0 )

Data input dan data target yang digunakan untuk proses training
(pembelajaran) jaringan syaraf tiruan dapat dilihat pada Lampiran 13. Sebagai
input adalah ketiga parameter karakteristik gelombang ultrasonik setiap sampel
dari masing-masing kelima kelompok buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan
sedangkan sebagai targetnya adalah deskripsi dengan bilangan biner dari kelima
kelompok buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan. Jumlah sampel yang
digunakan dari kelima kelompok buah manggis tersebut sebanyak 92.


86
Dari hasil simulasi pada proses pembelajaran, spesifikasi rancangan model
struktur jaringan syaraf tiruan dengan hasil prediksi terbaik dimana memiliki nilai
mean squre error sebesar 0.0800993 adalah menggunakan 1 hidden layer dengan
21 neuron dan log-sigmoid sebagai fungsi transfer (Gambar 42),


Gambar 42 Struktur dari model jaringan syaraf tiruan yang
digunakan dalam memprediksi buah manggis
berdasarkan tingkat ketuaan (umur petik).

Hasil validasi terhadap 12 sampel buah manggis menggunakan model
jaringan syaraf tiruan yang dirancang tersebut memiliki ketepatan prediksi rata-
rata sebesar 86.67 % (Tabel 15). Data input-target dan hasil validasi jaringan
syaraf tiruan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 14 dan tahapan proses jaringan
syaraf tiruan pada Lampiran 15.

Tabel 15 Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan dalam
memprediksi buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan
(umur petik)

Yang Diprediksi Hasil Prediksi
tingkat ketuaan
Jenis buah
manggis
umlah
ampel
0 1 2 3 4
Ketepatan
ediksi (%)
ketuaan 0 3 3 100.00
ketuaan 1 3 3 100.00
ketuaan 2 3 3 100.00
ketuaan 3 3 1 1 1 33.33
ketuaan 4 3 3 100.00
Rata-rata 86.67


87
Dari 15 sampel yang diprediksi, ketiga sampel dari setiap kelompok buah
manggis diprediksi secara tepat hanya pada kelompok buah manggis dengan
tingkat ketuaan 0, tingkat ketuaan 1, tingkat ketuaan 2, dan tingkat ketuaan 4,
sedangkan kelompok buah manggis lainnya yaitu dengan tingkat ketuaan 3 hanya
1 sampel yang diprediksi secara tepat, 2 sampel lainnya masing-masing di bawah
(tingkat ketuaan 2) dan di atas (tingkat ketuaan 4) dari tingkat ketuaan yang
sebenarnya.

Prediksi Tingkat Kemanisan Buah Manggis

Umumnya penilaian kesukaan konsumen terhadap buah adalah dari rasa
manisnya walau ada sebagian konsumen yang suka terhadap rasa asamnya.
Demikian halnya dengan buah manggis dimana pada kebanyakan konsumen
menilai dari rasa manisnya. Sifat kimia yang membuat rasa manis dari suatu buah
adalah total gula yang dikandungnya, maka untuk mengetahui tingkat kemanisan
suatu buah dapat diukur dari besarnya total gula yang dikandung, dimana semakin
tinggi nilai total gula semakin manis rasa buah tersebut. Oleh karenanya nilai
total gula dijadikan dasar dalam melakukan prediksi tingkat kemanisan manggis.
Tahap awal dalam melakukan prediksi, pertama-tama dilakukan
pengkelasan beberapa tingkat kemanisan buah manggis. Untuk memperoleh
batasan besarnya total gula dari setiap kelas tingkat kemanisan buah manggis
dilakukan proses pematangan dengan penyimpanan selama 12 hari pada suhu
ruang, dimana setiap 3 hari dilakukan pengukuran total gula. Dalam melakukan
proses pematangan dipilih buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 (97~103 hari
sbm) dan tingkat ketuaan 3 (111~117 hari sbm), dimana buah manggis dalam
tingkat ketuaan tersebut masuk dalam kategori kualitas ekspor, sedangkan
kelompok di atasnya (tingkat ketuaan 4 atau berumur petik 118~124 hari sbm)
tidak dikategorikan sebagai buah berkualitas ekspor walau dari hasil kajian buah
manggis dengan tingkat ketuaan (umur petik) tersebut mempunyai nilai total gula
yang lebih tinggi. Baik penggunaan sampel maupun cara peyiapannya sama
seperti pada kajian sebelumnya dalam penelitian ini.


88
Dari hasil pengamatan, buah manggis dengan tingkat ketuaan 2 (104~110
hari sbm) merupakan manggis yang sudah layak dimakan sehingga nilai rata-rata
total gulanya dijadikan batas bawah tingkat kemanisan, sedangkan nilai total gula
yang tertinggi dari proses pematangan dijadikan batas atasnya. Nilai total gula
yang dijadikan batas bawah dan atas pengkelasan tingkat kemanisan berturut-turut
adalah 10.06 g/100g (Lampiran 4a), 22.17 g/100g (Lampiran 5a). Karena dibuat
menjadi 4 kelas tingkat kemanisan maka sepertiga dari selisih kedua batas tersebut
diambil sebagai batasan yang dapat membedakan antar tingkat kemanisan. Dan
untuk keperluan jaringan syaraf tiruan, keempat tingkat kemanisan tersebut
dideskripsikan dengan bilangan biner. Keempat tingkat kemanisan buah manggis
yang disusun tersebut seperti dalam Tabel 16.

Tabel 16 Pengkelasan buah manggis berdasarkan tingkat kemanisan

Tingkat Kemanisan
Buah Manggis
Kriteria Total Gula
(g/100g)
Deskripsi
Bilangan Biner
kurang manis TG 10.06 ( 0 0 )
agak manis 10.06 < TG 14.10 ( 0 1 )
manis 14.10 < TG 18.13 ( 1 0 )
sangat manis TG > 18.13 ( 1 1 )

Lampiran 16 menyajikan data input dan target yang diperlukan untuk proses
training (pembelajaran) jaringan syaraf tiruan, dimana karakteristik gelombang
ultrasonik pada setiap sampel buah manggis yang telah diidentifikasi tingkat
kemanisannya sebagai input sedangkan deskripsi kelas dari tingkat kemanisan
dalam bentuk bilangan biner dari setiap sampel buah manggis tersebut sebagai
target. Untuk keperluan pembelajaran jaringan syaraf tiruan tersebut digunakan
170 sampel buah manggis dan untuk validasi digunakan 30 data sampel buah
manggis.
Dari hasil simulasi rancangan struktur model jaringan syaraf tiruan dengan
hasil prediksi terbaik, spesifikasi rancangan model jaringan syaraf tiruan tersebut
adalah menggunakan 1 hidden layer dengan 100 neuron dan log-sigmoid sebagai
fungsi transfer. Rancangan struktur jaringan syaraf tiruan tersebut ditunjukan
pada Gambar 43.


89
Hasil training dari data tersebut (Lampiran 16) memiliki nilai mse
0.0552288. Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan yang dirancang memiliki
ketepatan 80.95 %, seperti disajikan pada Tabel 17.


Gambar 43 Model struktur jaringan syaraf tiruan
memprediksi tingkat kemanisan buah manggis
berdasarkan total gula.

Tabel 17 Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan dalam
memprediksi tingkat kemanisan buah manggis berdasarkan
nilai total gula

Yang Diprediksi Hasil Prediksi
(tingkat kemanisan)
tingkat
kemanisan
Jumlah
sampel
tidak
manis
agak
manis
manis
sangat
manis
Ketepatan
Prediksi
(%)
tidak manis 8 8 - - - 100.00
agak manis 6 2 4 - - 66.67
manis 9 - - 9 - 100.00
sangat manis 7 1 2 4 57.14
Rata-rata 80.95

Jumlah sampel dari masing-masing tingkat kemanisan buah manggis yang
diprediksi secara tepat hanya pada tingkat kemanisan tidak manis (8 sampel) dan
manis (9 sampel). Pada tingkat kemanisan agak manis dari 6 hanya 4 sampel
yang tepat diprediksi, 2 sampel lainnya masuk dalam tingkat kemanisan di bawah
tingkat kemanisan sebenarnya. Pada tingkat kemanisan sangat manis dari 7 hanya


90
4 sampel yang tepat diprediksi, 3 sampel lainnya masing-masing 2 sampel masuk
di bawah dan 1 sampel masuk di atas tingkat kemanisan yang sebenarnya.
Data input-target dan hasil validasi model jaringan syaraf tiruan tersebut
dapat dilihat pada Lampiran 17. Sedangkan tahapan proses jaringan syaraf tiruan
dalam memprediksi tingkat tingkat kemanisan buah manggis berdasarkan total
gula dapat dilihat pada Lampiran 18.

Prediksi Buah Manggis Rusak

Didefinisikan bahwa buah manggis rusak adalah buah manggis dimana
kondisi bagian dalam atau daging buahnya mengandung getah kuning (gamboges)
atau berwarna bening dan keras (transluscent) atau busuk (decay). Sedangkan
buah manggis tidak rusak adalah buah manggis dimana kondisi bagian dalam atau
daging buahnya tidak mengandung getah kuning atau berwarna putih bersih dan
lunak atau tidak ada kebusukan. Prediksi dilakukan terhadap buah manggis rusak
yang berada diantara buah manggis tidak rusak (Tabel 18). Secara visual kedua
golongan kondisi buah manggis tersebut sulit dibedakan.

Tabel 18 Pengelompokan buah manggis rusak dan tidak rusak
berdasarkan kondisi bagian dalam buah

Kelompok
Buah Manggis
Kriteria Kondisi Bagian Dalam Buah
Deskripsi
Bilangan Biner
tidak rusak
~ tidak ada getah kuning
~ berwarna putih bersih dan lunak
~ tidak ada kebusukan
( 0 )
rusak
~ ada getah kuning (gamboges)
~ warna bening dan keras (transluscent)
~ ada kebusukan (decay)
( 1 )

Data input dan data target yang diperlukan untuk proses training
(pembelajaran) jaringan syaraf tiruan dapat dilihat pada Lampiran 19. Sebagai
input adalah parameter karakteristik gelombang ultrasonik setiap sampel dari
kelompok buah manggis rusak dan tidak rusak, sedangkan sebagai target adalah
deskripsi dari kondisi kelompok buah manggis tersebut yang dideskripsikan


91
dengan bilangan biner. Jumlah sampel yang digunakan dalam pembelajaran
jaringan syaraf tiruan dari kedua kelompok buah manggis tersebut sebanyak 70.
Dari hasil simulasi, spesifikasi rancangan struktur model jaringan syaraf
tiruan dengan hasil prediksi terbaik adalah menggunakan 1 hidden layer dengan 9
neuron dan log-sigmoid sebagai fungsi transfer (Gambar 44).



Gambar 44 Struktur model jaringan syaraf tiruan dalam
memprediksi kondisi buah manggis (rusak dan
tidak rusak)

Dari hasil training struktur jaringan syaraf tiruan yang telah dirancang
terhadap data-data yang telah disebutkan di atas (Lampiran 19), nilai mean square
error (mse) yang dicapai sebesar 0.0936.
Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan yang dirancang tersebut terhadap
15 sampel dari kedua kelompok kondisi buah manggis yang telah diketahui
karakteristik gelombang ultrasoniknya (Lampiran 20) memiliki ketepatan prediksi
rata-rata 90 %, seperti dapat dilihat pada Tabel 19.
Kesepuluh sampel buah manggis rusak dapat diprediksi secara tepat
sedangkan dari 5 sampel buah manggis tidak rusak hanya 4 sampel yang dapat
diprediksi secara tepat.
Tahapan proses jaringan syaraf tiruan prediksi kondisi buah manggis
manggis rusak dari tidak rusak dapat dilihat pada Lampiran 21.




92
Tabel 19 Hasil validasi model jaringan syaraf tiruan dalam
memprediksi buah manggis rusak

Yang Diprediksi Hasil Prediksi
kelompok kondisi buah manggis Kelompok
Kondisi Buah
Manggis
Jumlah
Sampel rusak tidak rusak
Ketepatan
Prediksi
(%)
rusak 10 10 - 100
tidak rusak 5 1 4 80
Rata-rata 90


Prediksi Masa Simpan Buah Manggis

Suatu buah jika dilakukan proses pematangan dengan perlakuan
penyimpanan secara terus menerus maka selama masa simpan akan mengalami
perubahan atau penurunan mutu. Oleh karenanya perlu diketahui sampai sebatas
mana masa simpannya dihentikan dimana indeks mutu buah tersebut masih dapat
diterima oleh konsumen.
Seperti telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa dari ketiga parameter
karakteristik gelombang ultrasonik yang mempunyai hubungan korelasi nyata
dengan prose pematangan adalah kecepatan rambat. Oleh karenanya dalam kajian
ini indeks mutu berupa kecepatan rambat gelombang ultrasonik digunakan untuk
memprediksi batas masa simpan yang masih diperkenankan atau diterima
konsumen (masa simpan kritis).
Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis selama 12 hari
masa simpan diasumsikan adalah nilai rata-rata kecepatan rambat dari kedua
kelompok sampel buah manggis (tingkat ketuaan 1 dan 3), seperti dapat dilihat
pada tabel 20. Dan jika nilai rata-rata kecepatan rambat tersebut diplotkan dalam
kurva seperti digambarkan pada gambar 45 maka dapat ditentukan persamaan
regresi dari perubahan kecepatan rambat selama masa simpan,

c = 0.0011t + 0.1240 (45)

Dimana c adalah kecepatan rambat gelombang ultrasonik (mm/s) dan t adalah
masa simpan buah manggis (hari).


93
Tabel 20 kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada kelompok
buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 dan tingkat
ketuaan 3 selama 12 hari masa pematangan (mm/s)

Masa simpan pada suhu ruang Kelompok sampel
buah manggis 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
Tingkat ketuaan 1
(97~103 hari sbm)
0.1309 0.1287 0.1294 0.1353 0.1382
Tingkat ketuaan 3
(111~117 hari sbm)
0.1132 0.1300 0.1318 0.1379 0.1327
Rata-rata 0.1221 0.1294 0.1306 0.1366 0.1355



Gambar 45 Kecepatan rambat gelombang ultrasonik kritis
pada buah manggis selama masa simpan.

Diasumsikan bahwa masa simpan kritis pada suhu ruang untuk buah
manggis adalah 9 hari. Asumsi ini ditentukan dari hasil uji organoleptik yang
dilakukan. Dengan demikian nilai kritis kecepatan rambat gelombang ultrasonik
pada buah manggis untuk dilakukan penyimpanan pada suhu ruang (c
k
) adalah
sebesar 0.1339 mm/s.
Dari persamaan regresi tersebut dapat diketahui bahwa :
1 Llaju perubahan per hari dari kecepatan rambat gelombang ultrasoniknya
selama masa simpan (k) adalah :

hari
s / mm
0.0011 = k (46)



94
2 Persamaan perkiraan waktu masa simpan (t) buah manggis jika diketahui
kecepatan rambat gelombang ultrasoniknya (c) adalah :

( )
hari
0.0011
0.1240

c
t

= (47)

3 Persamaan perkiraan berapa hari lagi masa simpan yang masih diperkenankan
(t) jika telah diketahui kecepatan rambatnya gelombang ultrasoniknya (c)
adalah:
( )
( )
hari
c
hari
k
c c
t'
K


=
0.0011
0.1339
(48)


SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

1 Kecepatan rambat merupakan karakteristik gelombang ultrasonik yang
mempunyai hubungan korelasi dengan tingkat ketuaan dan tingkat
kematangan buah manggis. Hubungan korelasi antara tingkat ketuaan dengan
kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis dapat
digambarkan dengan persamaan y = 0.006x + 0.14 (R
2
= 0.8817). Hubungan
korelasi antara tingkat kematangan dengan kecepatan rambat gelombang
ultrasonik pada buah manggis dapat digambarkan dengan persamaan y =
0.0001x
2
- 0.001x + 0.13 (R
2
= 0.9246) dan y = -0.0003x
2
+ 0.005x + 0.11 (R
2
=
0.9478) berturut-turut untuk buah manggis dengan tingkat ketuaan 1 dan
tingkat ketuaan 3 selama 12 hari masa pematangan..

2 Nilai 0.1339 mm/s merupakan batas nilai kecepatan rambat gelombang
ultrasonik antara daerah kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah
manggis tidak rusak dan buah manggis rusak. Daerah nilai kecepatan rambat
gelombang ultrasonik pada buah manggis tidak rusak adalah 0.1339 mm/s
sementara pada manggis rusak > 0.1339 mm/s. Ketepatan rata-rata dari
penetapan ini adalah sebesar 75 %.

3 Kecepatan rambat juga merupakan karakteristik gelombang ultrasonik yang
mempunyai hubungan korelasi dengan sifat fisik (kekerasan kulit buah) dan
sifat kimia (total gula dan total padatan terlarut, tidak dengan total asam).
Hubungan korelasi antara kecepatan rambat gelombang ultrasonik dengan
kekerasan kulit buah dapat digambarkan dengan persamaan y = 0.004
exp(67.38x), R
2
= 0.7077. Hubungan korelasi antara kecepatan rambat
gelombang ultrasonik dengan total gula dan total padatan terlaut berturut-turut
dapat digambarkan dengan persamaan y = -608.07 + 86.24 (R
2
= 0.8759) dan
y = -2812x
2
+ 6457.5x (R
2
= 0.7736).


96
4 Ketepatan validasi dalam pendugaan tingkat ketuaan, tingkat kemanisan, dan
kerusakan bagian dalam manggis menggunakan metode jaringan syaraf tiruan
masing-masing mencapai 86.67 %, 80.95 %, dan 90.00%.

5 laju perubahan per hari dari kecepatan rambat gelombang ultrasoniknya
selama masa simpan (k) adalah :
hari
s / mm
0.0011 = k . Persamaan perkiraan
waktu masa simpan (t) buah manggis jika diketahui kecepatan rambat
gelombang ultrasoniknya (c) adalah :
( )
hari
0.0011
0.1240

c
t

= . Persamaan
perkiraan berapa hari lagi masa simpan yang masih diperkenankan (t) jika
telah diketahui kecepatan rambatnya gelombang ultrasoniknya (c) adalah :
( )
hari
0.0011
0.1339

c
t'


=


Saran

Perancangan alat sistem sortasi untuk mutu bagian dalam buah manggis
dapat dikembangkan dengan memanfaatkan karakteristik gelombang ultrasonik,
terutama kecepatan rambat. Namun untuk pengembangan lebih lanjut dimana
dituntut sistem sortasi yang memiliki ketepatan tinggi maka perlu dikaji
penggunaan transducer berfrekuensi lebih besar dari 50 kHz, dimana parameter
karakteristik gelombang ultrasonik lainnya (koefisien atenuasi dan power spectral
density) juga dapat memberi konstribusi ketepatan sortasi yang lebih baik.
Hubungan korelasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
hubungan regresi yang sederhana dimana setiap parameter sifat fisiko kimia hanya
dihubungkan dengan setiap parameter karakteristik gelombang ultrasonik. Namun
pada umumnya hubungan korelasi yang sesungguhnya adalah dengan
menghubungkan setiap parameter sifat fisiko kimia dengan dengan gabungan dari
ketiga parameter karakterisitik gelombang ultrasonik. Oleh karenanya perlu
dikembangkan hubungan korelasi seperti yang dimaksud.


97
Dalam penelitian ini, pengukuran parameter untuk menentukan karakteristik
gelombang ultrasonik dilakukan secara manual sehingga efisiensi pengukuran
rendah. Untuk mengembangkan alat sortasi, perlu dibuat sistem pengukuran
dengan komputerisasi langsung dan serentak di berbagai posisi titik pengukuran.
Masa jenis merupakan sifat fisik yang dapat digunakan untuk pengukuran
mutu manggis, namun media air dapat mempengaruhi kekerasan kulit buah
manggis jika masa jenis manggis diukur dalam media air. Dengan demikian perlu
dicari metode pengukuran masa jenis manggis yang lain, apabila masa jenis
dipakai untuk penentuan mutu.

DAFTAR PUSTAKA


[AOAC] Asosiation Organizatiion Analys Chemistry. 1984. Official Methods of
Analysis of The Association of Agricultural Analytical Chemist.
Washington: AOAC.

Apandi. 1984. Teknologi Buah dan Sayur. Bandung: Alumni.

Bamberger JA, LJ Bond, MS Greenwood. 1999. Ultrasonic measurement for on-
line real-time food process monitoring. Di dalam: American Institute of
Chemical Engineers Conference on Food Engineering 99 Sensors and
Controls (T3014-63a); Washington DC, 1999.

[BPS] Biro Pusat Statistik. 2005. Statistik Indonesia. Jakarta: BPS.

[BPEN] Badan Pengembangan Ekspor Nasional. 1999. Ekspor Kmoditas
Hortikultura. Peluang dan Tantangan. Jakarta: BPEN.

Budiastra IW. (2000). Pengembangan Teknologi Gelombang Ultrasonik Untuk
Penentuan Kematangan dan Kerusakan Buah-buahan Tropika Secara Non
Destruktip. Laporan Riset Unggulan Terpadu V, Bidang Teknologi Hasil
Pertanian. Jakarta: DRN.

Budiastra IW, HK Purwadaria, D Saputra. 1995. Pengkajian sifat fisik mangga
gedong dengan teknik image processing. Prosiding Perhimpunan
Keteknikan Pertanian; Bogor, 13-14 Maret 1995. Bogor: Perhimpunan
Keteknikan Pertanian.

Budiastra IW, U Ahmad, DA Nasution, P Widodo. 2002. Pengembangan metode
pengukuran mutu dalam manggis dengan ultrasonik (laporan hasil
penelitian. Bogor: Lembaga Penelitian IPB.

Chen P. 1993. Non destructive quality evaluation of agricultural product. J.
Agric. Eng. 10(5) : 212-216.

Cheng Y, CG Haugh. 1994. Detecting hollow heart in potatoes using ultrasound.
Trans. ASAE 37(1) : 217-222.

Cracknell AP. 1980. Ultrasonic. London: Alden Press.

Galili N, A Mizrach, G Rosenhouse. 1993. Ultrasonic testing of whole fruit for
non destructive quality evaluation. ASAE paper No. 936062.

Gooberman GL. 1968. Ultrasonic Theory and Application. London: The
English Universities Press Ltd, St. Pauls House, Warwice Lane.

Hadisutrisno B. 1996. Strategi Pengendalian Penyakit Utama Pada Manggis :
Penyakit Getah Kuning Selayang Pandang. Makalah pada Seminar
Agribisnis Manggis dalam rangka Peringatan Hari Krida Pertanian Ke-30
Tahun 2002; Bogor, 24 Juni 2002. Bogor: Deptan.



99
Haryanto B, IW Budiastra, HK Purwadaria., A Trisnobudi. 2001. Determination
of acoustic properties of durian fruit. Prosiding 2
nd
IFAC-CIGR Workshop
on Intelligent Control for Agricultural Applications; Bali, 22-24 August
2001. Bali: IFAC-CIGR.

Hurng HY, Cheng A, Fu-Ming L. 2000. Evaluation internal disorder of mango
by underwater ultrasonic. ASAE paper No. 6112.

Ikeda Y, IW Budiastra, T Nishizu. 1992. On predicting concentrations of
individual sugar and malice acid of fruits by near infrared reflectance
spectrometry. Proceeding of Advances on Agricultural Engineering and
Technology; Bogor, 12-15 October 1992. Bogor: Perteta Vol. 2.

Jain R, R Kasturi, BG Schunck. 1995. Machine Vision. New York: McGraw-
Hill Book, Inc.

Kawano S. 1993. Non destructive quality evaluation of food. Food Preservation
and Distribution, 40 (5).

Kawano S, Watanabe H, Iwamoto T. 1989. Determination of sugar
concentrations of intact peach by NIR spectroscopy (in Japanese). J. Japan
Soc. Hort. Sci., (Suple 2) : 604-605.

Kays SJ. 1991. Postharvest Physiology of Perishable Plant Product. New York:
Van Nostrand Reinhold.

Khalid M.Z.M, A Rukayah. 1993. Penanaman Manggis. Kuala Lumpur: Institut
Penyelidikan dan Kemajuan Pertanian Malaysia (MARDI).

Krautkramer I, H Krautkramer. 1990. Ultrasonic Testing of Materials. Berlin:
Springer-Verlag.

Kwolek WF, GN Bookwalter. 1971. Predicting, storage, stability from time
temperature data. Food Technology, vol. 25, 1025 : 51 57.

Labuza TP. 1983. Reaction kinetics and accelerated tests simulation as a
fuctions of temperature. Agric. New York: Research Organization, The
Volcani Center, Marcell Dekker.

Mahendra MS. 2002. Penanganan Pascapanen Manggis untuk Ekspor. Makalah
pada Seminar Agribisnis Manggis dalam rangka Peringatan Hari Krida
Pertanian ke-30 Tahun 2002; Bogor, 24 Juni 2002 Jakarta: Deptan.

Mizrach A, U Flitsanov. 1998b. Non destructive ultrasonic determination of
avocado softening process. J. Food Eng., 40(1999) : 139-144.

Mizrach A, N Galili, G Rosenhouse. 1989. Determination of fruit and vegetables
properties by ultrasonic excitation. Trans. ASAE 32(6) : 2053-2058.

Mizrach A, U Flitsanov, R El-Batsri, C Degani. 1998a. Determination of
avocado maturity by ultrasonic attenuation measurements. Sci. Hort.,
80(1999) : 173-180.

Mizrach A, U Flitsmon, Y Fuchs. 1997. An ultrasonic non destructive method
for measuring maturity of mango fruit. Trans. ASAE 40(4) : 1107-1111.



100
Muchtadi D. 1992. Fisiologi Pasca Panen Sayuran dan Buahan. Di dalam
Petunjuk Laboratorium. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi,
IPB.

Pantastico EB. 1986. Fisiologi Pasca Panen Penanganan dan Pemanfaatan
Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Sub Tropika. Kamaryani,
penerjemah; Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Poerwanto R. 2002. Peningkatan produksi dan mutu untuk mendukung ekspor
manggis. Di dalam Seminar Agribisnis Manggis; Bogor, 24 juni 2002.
Bogor: Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura Departemen
Pertanian.

Purwadaria HK, IW Budiastra. 1997. Computer controlled on line system for
mango grading using image processing and nir measurement. Proceedings
IMACS/IFAC second international symposium on mathematical modelling
and simulation in agricultural and bio-industries; Budapest, May 7-9 1997.
Budapest: IMACS/IFAC.

Reid MS. 1992. Maturation and Maturity Indices. Edited : Kader AA. 1992.
Post Harvest Technology of Horticultural Crops. California: University of
California.

Rejo A, Suroso, IW Budiastra, HK Purwadaria, S Susanto, YY Nazaruddin.
2001. Model for predicting and classifying durian fruit based on maturity
and ripeness using neural network. Proceeding 2
nd
IFAC-CIGR Workshop
on Intelligent Control for Agricultural Applications; Bali, 22-24 August
2001. Bali: IFAC-CIGR.

Rhodes MJC. 1970. The Climacteric and Ripening Of Fruits. Di dalam The
Biochemistry Of Fruits And Their Products, Vol (1). London: Academic
Press.

Self GK, E Ordozgoiti, MJW Powey, H Wainwright. 1994. Ultrasonic evaluation
of ripening avocado flesh. Di dalam: Post Harvest Biology and Technology.
Vol (4). Elsevier.

Sjaifullah. 1996. Petunjuk Memilih Buah Segar. Jakarta: Penebar Semangat.

Soekarto TS. 1985. Penilaian Organoleptik Untuk Industri Pangan dan Hasil
Pertanian. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Sornsrivichai J, R Podee, K Saenguil, T Yantasari. 1999. Non destructive
method for sorting of gamboges and translucent pulp in mangos teen by
specific gravity : Precision and efficiency. Proceedings of Quality
Assurance in Agriculture Produce, ACIAR; Ho Chi Minh, 9-12 November
1999. Ho Chi Minh: ACIAR. No. 100.

[SNI] Standar Nasional Indonesia. 1992. Standar Mutu Buah Manggis SNI 01-
3211-1992, Jakarta: SNI.

Suprapto A. 1999. Pedoman Penerapan Jaminan Mutu Terpadu Manggis.
Jakarta: Badan Agribisnis Deptan.



101
Thomson AK. 1996. Post Harvest Technology of Fruit and Vegetables. London:
Harnolls Ltd, Bodmin, Cornwall.

Trisnobudi A. 1986. Theory Dasar Ultrasonik. Jakarta: Laboratorium Uji
Konstruksi BPPT.

Trisnobudi A. 1998. Metode ultrasonik untuk memperkirakan tingkat
kematangan buah tomat jenis cherry. Seminar Nasional Penerapan
Teknologi Kendali dan Instrumentasi pada Pertanian; Jakarta. Jakarta:
BPPT.
Trisnobudi A, IW Budiastra, L Pujantoro. 1998. Aplikasi gelombang ultrasonik
untuk menentukan kematangan buah durian. Prosiding Pertemuan KIM-
LIPI; Jakarta, 23-25 September 1998. Jakarta: LIPI.

Trubus, 1994. Bisnis Kebun Buah Menjanjikan Peluang. Majalah Trubus, edisi
No. 290. Jakarta: Yayasan Sosial Tani Membangun.

Well PNT. 1969. Physical Principles of Ultrasonic Diagnosis. Academic Press,
New York, USA.

Wiils RBH, WBMc Glasson, D Graham, EG Hall. 1991. Post Harvest, an
Introduction to The Physiology and Handling of Fruit and Vegetables. New
York: Van Nostrand Reinhhold.

Winarno FG, MA Wirakartakusumah. 1979. Fisiologi Lepas Panen. Jakarta:
Sastra Hudaya.


102
























LAMPIRAN


103
Lampiran 1 Program menetukan nilai besaran power spectral density dengan
contoh data sinyal gelombang ultrasonik hasil pengukuran dari
salah satu sampel buah manggis

%Membersihkan Layar dari Variabel dan Grafik
clear all
clf

%Read Data Waktu (milidetik, konversi dari titik gelombang)
for i=1:100
t(i)=((i-1)*4e-6)*1000;
end

%Memasukkan Data Amplitudo atau Tegangan (contoh)
A=[2;164;255;254;173;86;47;52;95;134;143;148;142;120;120;123;119;
135;140;128;134;131;121;132;133;124;140;134;124;135;129;124;140;
134;124;136;128;126;137;129;128;138;128;129;138;111;129;151;144;
133;121;105;116;150;150;154;138;104;103;121;140;163;166;129;111;96;
100;137;171;173;149;113;83;94;132;163;178;155;116;90;83;121;162;
179;163;127;94;79;108;142;173;173;144;106;79;96;125;157;171;146]

%Membuat Grafik Gelombang (berdasarkan titik gelombang)
subplot(2,2,1)
i=(1:100);
plot(i,A,'k')
title('GELOMBANG')
xlabel('Titik Gelombang')
ylabel('Amplitudo (mV)')
axis([0 100 0 300])

%Merubah Grafik Gelombang (berdasarkan waktu)
t=t(1:100);
A1=A/max(A);
subplot(2,2,2)
plot(t,A1,'r')
title('GELOMBANG')
xlabel('Waktu (milidetik)')
ylabel('Amplitudo (relative)')
axis([0 0.4 0 1])

%Read Data Frekuensi (konversi dari data waktu)
for i=1:100;
f(i)=((i-1)/(100*4e-6))/1000;
end

%Transfer Data Amplitudo
P=fft(A);
P1=P.*conj(P)/100;





104
Lanjutan

%Membuat Grafik Spectrum Gelombang
i=1:100;
subplot(2,2,3)
plot(i,P1,'r')
title('SPECTRUM')
xlabel('Titik Gelombang')
ylabel('Power Spectral Density')
axis([0 10
2
0 2*10
6
])

%Merubah Grafik Spectrum Gelombang
f1=f(5:50);
P2=P1(5:50);
P3=P2/max(P2);
subplot(2,2,4)
plot(f1,P3,'b')
title('SPECTRUM')
xlabel('Frekuensi (kilohertz)')
ylabel('Power S. Density (relative)')
axis([0 150 0 1])

%Menentukan Mo
Mo=sum(P3)
Mo=num2str(Mo);
text (50,0.8,['Mo=',Mo])


105
Lampiran 2 Kekerasan kulit buah manggis berdasarkan tingkat ketuaan atau
umur petik (N)

Tingkat Ketuaan / Umur Petik (hari sbm)
No.
0
(90~96)
1
(97~103)
2
(104~110)
3
(111~117)
4
(118~124)
1 67.34 21.93 15.59 6.28 7.32
2 69.04 16.31 13.86 9.55 8.92
3 63.94 17.19 11.31 9.28 8.89
4 63.06 18.01 14.02 9.71 8.79
5 64.53 23.05 14.74 10.36 9.58
6 63.68 21.35 15.40 9.51 8.86
7 65.74 21.67 12.29 10.66 8.43
8 67.70 21.77 14.68 10.56 8.83
9 57.24 21.02 13.37 9.25 9.41
10 60.67 23.24 11.83 7.65 7.09
11 68.19 10.69 8.66 9.15
12 67.67 16.48 8.63 6.77
13 64.89 11.96 8.43 8.63
14 64.63 14.22 8.53 9.84
15 66.82 12.65 10.30 11.15
16 70.38 18.04 8.11 8.47
17 66.79 12.85 8.70 10.23
18 70.87 14.12 10.43 9.12
19 63.06 14.02 8.37 8.27
20 68.06 12.55 8.63 9.12
21 69.04 12.23 8.66 8.73
22 73.94 14.87 8.07 10.07
23 63.65 16.12 10.30 7.62
24 62.86 12.88 8.47 8.63
25 62.05 15.59 9.84 10.85
26 66.13 13.80 7.68 8.47
27 68.58 13.08 9.51 8.14
28 66.79 10.95 10.76 7.26
29 66.72 17.88 9.32 11.60
30 65.22 13.30 10.04 9.64
x 65.98 20.56 13.85 9.14 8.93
Std 3.32 2.46 1.87 1.06 1.15
CV (%)

5.03 11.99 13.47 11.62 12.82





106
Lampiran 3 Kekerasan kulit buah manggis sampel berdasarkan tingkat
kematangan atau masa pematangan (N)

Masa Pematangan
Tingkat Ketuaan 1 (97~103 hari sbm) Tingkat Ketuaan 3 (111~117 hari sbm)
No.
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
1 21.93 8.21 6.70 6.86 8.99 6.28 7.78 6.28 6.77 8.21
2 16.31 8.59 6.51 6.57 7.75 9.51 7.14 6.41 6.51 7.45
3 17.19 7.40 6.31 5.95 6.83 9.32 8.78 6.54 7.06 8.50
4 18.01 8.10 6.60 6.80 8.53 9.71 6.39 6.80 8.76 7.49
5 23.05 9.41 6.44 7.75 6.64 10.40 8.25 6.73 6.18 7.55
6 21.35 8.52 6.60 7.00 6.37 9.51 7.80 6.51 7.52 7.29
7 21.67 6.58 7.03 6.80 7.71 10.69 7.90 6.57 6.28 6.96
8 21.77 7.19 6.41 6.80 10.59 6.64 6.18 6.86 7.09
9 21.02 6.73 7.09 7.29 9.22 9.08 6.51 8.37
10 23.24 8.10 6.90 5.75 7.65 8.05 6.47 7.55
11 8.12 6.64 8.63 7.92 6.93 6.24
12 8.89 7.68 8.63 8.79 6.37 6.77
13 9.46 6.77 8.43 9.35 6.60
14 9.65 7.65 8.53 6.69 7.49
15 7.78 6.77 10.30 9.74 7.65
16 8.38 6.11 8.14 8.37 6.73
17 8.82 7.45 8.73 7.82 6.57
18 6.84 6.44 10.40 7.04 7.32
19 9.10 6.67 8.34 8.22 6.57
20 9.36 6.24 8.63 8.95 6.70
21 7.47 7.16 8.15 6.73
22 8.63 6.86 9.46 6.08
23 8.01 6.83 8.63 6.73
24 6.72 7.58 6.74 7.29
25 8.10 6.77 7.31 6.11
26 8.36 6.86 7.40 7.71
27 5.58 6.64
28 6.34
29 6.86
x 20.56 8.08 6.81 6.76 7.55 9.08 8.01 6.70 7.07 7.57
Std 2.46 1.01 0.42 0.58 0.99 1.11 0.92 0.43 0.83 0.53
CV(%)

11.99 12.47 6.22 8.59 13.07 12.23 11.54 6.36 11.78 7.00



107
Lampiran 4a Total gula buah manggis sampel berdasarkan tingkat ketuaan atau
umur petik (g/100g)

Tingkat Ketuaan / Umur Petik (hari sejak bunga mekar)
No.
0
(90~96)
1
(97~103)
2
(104~110)
3
(111~117)
4
(118~124)
1 1.84 4.31 12.01 15.36 17.79
2 2.19 6.14 9.68 14.21 20.12
3 2.80 5.41 11.93 12.10 18.01
4 2.36 4.82 12.02 11.85 17.99
5 2.10 5.77 8.68 13.91 17.85
6 2.62 6.12 10.74 14.15 20.05
7 1.93 4.13 11.17 12.98 18.76
8 2.45 5.11 9.88 14.22 17.09
9 2.54 4.88 11.28 13.32 17.57
10 2.72 5.32 8.87 14.78 19.17
11 2.89 6.10 9.73 15.12 17.79
12 2.19 5.01 12.08 12.84 19.15
13 2.36 4.88 11.28 12.07 18.85
14 2.19 6.21 11.83 13.22 20.14
15 2.37 5.06 8.64 13.53 17.22
16 2.80 10.17 13.04 18.14
17 2.71 9.61 14.21 18.82
18 2.54 8.33 13.82 19.41
19 2.45 10.83 11.94 17.82
20 2.81 7.98 14.28 16.95
21 2.98 8.69 12.54 16.75
22 2.02 9.34 15.24 18.35
23 2.19 10.78 14.80 19.11
24 2.45 8.38 12.28 16.81
25 8.62 14.17 19.25
26 11.84 13.92 18.83
27 9.73 13.05 17.72
28 8.23 13.54 19.11
29 9.07 14.21 18.17
30 10.43 13.86 17.95
x 2.44 5.28 10.06 13.62 18.36
Std 0.31 0.66 1.34 1.00 0.96
CV (%)

12.90 12.58 13.35 7.33 5.25



108
Lampiran 4b Total asam buah manggis sampel berdasarkan tingkat ketuaan atau
umur petik (ml/100g)

Tingkat Ketuaan / Umur Petik (hari sejak bunga mekar)
No.
0
(90~96)
1
(97~103)
2
(104~110)
3
(111~117)
4
(118~124)
1 85.37 118.41 88.63 92.97 76.67
2 79.41 124.37 92.22 100.18 74.41
3 69.48 118.91 90.42 109.38 76.77
4 79.38 120.65 88.74 113.29 74.93
5 83.35 115.08 99.96 105.68 77.64
6 73.46 124.35 88.55 105.58 73.61
7 83.39 118.91 90.36 112.02 78.17
8 77.42 118.92 111.34 92.02 73.96
9 75.43 124.72 94.28 93.10 75.05
10 71.47 118.30 105.67 96.27 78.34
11 69.46 108.84 106.30 89.76 81.82
12 79.38 118.77 91.55 114.20 74.60
13 79.43 122.39 90.98 110.03 75.13
14 85.40 118.45 93.32 116.46 70.12
15 79.44 114.38 82.38 109.50 77.07
16 77.45 118.66 106.48 115.84 78.49
17 71.49 112.52 103.84 106.73 73.07
18 71.45 108.80 111.98 70.47
19 75.43 95.19 112.17 78.79
20 75.44 108.31 88.51 81.09
21 69.48 111.55 120.36 82.61
22 67.50 89.93 85.13 70.65
23 87.37 87.34 95.17 66.07
24 89.34 99.87 109.81 79.64
25 87.32 111.41 104.47 73.97
26 83.40 88.65 111.16 77.99
27 89.35 104.96 116.60 73.87
28 83.39 111.82 99.74 72.92
29 81.42 103.65 94.13 72.68
30 75.47 98.40 96.97 79.26
x 78.55 118.63 98.16 104.31 75.66
Std 6.36 4.22 8.97 9.82 3.73
CV (%)

8.10 3.56 9.14 9.42 4.93



109
Lampiran 4c Total padatan terlarut buah manggis sampel berdasarkan tingkat
ketuaan atau umur petik (
O
brix)

Tingkat Ketuaan / Umur Petik (hari sejak bunga mekar)
No.
0
(90~96)
1
(97~103)
2
(104~110)
3
(111~117)
4
(118~124)
1

4.5 17.5 18.0 18.0 16.6
2

5.1 17.8 17.4 17.0 16.8
3

4.2 15.8 18.2 17.0 15.2
4

4.8 17.5 18.0 16.8 18.8
5

4.0 18.5 17.2 17.2 19.1
6

4.5 18.0 18.0 18.1 19.0
7

4.6 17.0 17.0 17.2 19.1
8

4.5 18.0 17.6 18.0 18.6
9

4.3 17.5 17.8 17.2 18.0
10

4.8 15.5 17.4 17.0 19.1
11

4.3 18.0 17.0 16.8 18.8
12

4.6 18.5 18.2 17.4 18.6
13

5.1 18.0 17.2 18.0 19.0
14

5.5 15.5 18.0 17.5 17.9
15

4.2 15.0 17.8 16.8 17.5
16

4.5 17.5 17.0 17.4 19.1
17

4.0 18.0 17.6 18.2 18.6
18

5.2 17.8 16.8 18.8
19

4.7 17.4 17.6 18.2
20

4.2 16.2 17.8 19.0
21

5.1 17.2 17.0 18.2
22

5.0 18.0 16.6 19.0
23

4.8 18.0 16.2 18.6
24

5.2 16.2 17.2 18.4
25

4.9 16.8 18.2 18.0
26

4.7 17.6 18.0 17.8
27

4.5 16.5 17.4 19.2
28

4.3 16.8 17.6 19.0
29

4.8 17.0 17.8 19.1
30

4.4 17.2 18.0 18.8
x

4.6 17.3 17.4 17.4 18.4
Std

0.4 1.1 0.6 0.5 0.9
CV (%)

8.2 6.4 3.2 3.1 4.9




110
Lampiran 5a Total gula buah manggis sampel berdasarkan tingkat kematangan
atau masa pematangan (g/100g)

Masa Pematangan
Tingkat Ketuaan 1 (97~103 hari sbm) Tingkat Ketuaan 3 (111~117 hari sbm)
No.
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
1 4.31 9.23 11.72 14.45 16.12 15.36 11.12 14.17 15.95 21.75
2 6.14 8.88 9.36 16.11 17.11 14.21 11.31 13.07 16.05 21.11
3 5.41 7.12 9.21 15.17 16.63 12.10 9.95 15.11 17.61 20.92
4 4.82 7.52 10.11 16.21 17.32 11.85 10.98 13.23 15.22 22.17
5 5.77 8.01 9.03 14.35 17.28 13.91 11.11 14.23 17.99 21.72
6 6.12 8.98 8.75 15.14 16.53 14.15 9.45 14.45 18.07 20.99
7 4.13 9.11 9.94 16.85 17.02 12.98 10.77 13.17 17.82 21.14
8 5.11 8.74 9.21 13.38 14.22 11.17 14.39 16.92 21.26
9 4.88 8.66 8.91 15.17 13.32 10.12 13.85 16.77
10 5.32 8.56 10.22 15.83 14.78 12.13 12.77 17.04
11 6.10 7.50 9.11 15.12 13.14 14.17 16.35
12 5.01 9.31 11.12 12.84 9.75 11.90 16.75
13 4.88 8.13 8.95 12.07 11.14 12.38 17.35
14 6.21 9.92 10.97 13.22 10.86 13.01 17.72
15 5.06 7.82 9.22 13.53 10.72 11.21
16 7.75 8.37 13.04 12.77 13.03
17 7.04 7.98 14.21 9.77 11.31
18 7.19 9.31 13.82 13.28 14.45
19 7.18 8.38 11.94 12.72 12.81
20 8.62 10.39 14.28 10.92 14.37
21 8.25 8.99 12.54 12.61 14.28
22 8.22 8.72 15.24 10.35 11.95
23 7.83 9.18 14.80 13.14 13.79
24 7.26 8.89 12.28 9.77 10.97
25 7.91 8.35 14.17 13.17 14.11
26 6.88 11.18 13.92 12.33 12.91
27 9.12 13.05 11.55 10.15
28 8.93 13.54 10.97 13.35
29 14.21 11.17
x 5.28 8.20 9.45 15.27 16.86 13.61 11.32 13.10 16.97 21.38
Std 0.66 0.82 0.97 1.03 0.44 1.02 1.18 1.27 0.86 0.44
CV (%)

12.58 9.98 10.32 6.74 2.64 7.46 10.45 9.72 5.04 2.08





111
Lampiran 5b Total asam buah manggis sampel berdasarkan tingkat kematangan
atau masa pematangan (ml/100g)

Masa Pematangan
Tingkat Ketuaan 1 (97~103 hari sbm) Tingkat Ketuaan 3 (111~117 hari sbm)
No.
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
1 118.41 107.00 95.13 84.91 79.42 92.97 102.82 89.18 79.01 67.10
2 124.37 109.00 96.80 82.98 77.43 100.18 107.00 90.87 80.92 67.37
3 118.91 114.59 102.39 81.00 79.38 109.38 106.86 83.15 77.28 65.25
4 120.65 112.13 110.62 82.98 77.42 113.29 98.81 90.90 81.39 63.07
5 115.08 112.62 96.81 87.20 75.46 105.68 106.30 87.18 79.29 67.11
6 124.35 114.46 101.04 83.25 77.42 105.58 110.32 85.32 77.40 67.36
7 118.91 102.74 99.10 80.92 77.42 112.02 98.98 96.73 79.41 65.20
8 118.92 110.52 100.99 88.93 92.02 95.11 90.85 83.40 67.46
9 124.72 114.79 103.08 86.64 93.10 102.72 90.78 81.18
10 118.30 112.57 99.10 88.86 96.27 98.80 98.74 77.05
11 108.84 112.61 110.64 89.76 96.51 87.11 75.44
12 118.77 106.72 106.56 114.20 106.96 88.93 81.05
13 122.39 110.62 118.51 110.03 98.81 98.75 78.92
14 118.45 108.95 100.72 116.46 106.93 97.10 77.11
15 114.38 112.62 102.69 109.50 110.17 88.69
16 118.66 110.18 114.62 115.84 99.07 98.59
17 112.52 114.80 118.84 106.73 104.87 94.82
18 112.16 112.64 111.98 86.98 87.15
19 114.62 116.81 112.17 98.48 96.76
20 106.69 106.67 88.51 102.63 85.17
21 110.96 114.55 120.36 98.36 83.20
22 112.62 116.18 85.13 104.35 95.01
23 114.63 114.60 95.17 98.69 84.91
24 110.60 114.57 109.81 102.60 96.84
25 108.33 112.91 104.47 94.88 87.15
26 114.59 106.72 111.16 98.77 94.61
27 108.64 116.60 98.36 98.52
28 112.45 99.74 100.52 84.93
29 94.13 97.13
x 118.63 111.19 107.43 84.77 77.71 104.56 101.27 91.35 79.20 66.24
Std 4.22 3.06 7.51 3.00 1.36 9.90 5.16 5.29 2.20 1.59
CV (%)

3.56 2.75 6.99 3.54 1.75 9.46 5.09 5.79 2.78 2.40



112
Lampiran 5c Total padatan terlarut buah manggis sampel berdasarkan tingkat
kematangan atau masa pematangan (
O
brix)

Masa Pematangan
Tingkat Ketuaan 1 (97~103 hari sbm) Tingkat Ketuaan 3 (111~117 hari sbm)
No.
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
1 13.8 18.2 19.0 17.5 19.0 18.0 17.5 16.2 18.5 19.0
2 17.5 16.5 17.0 18.0 18.0 17.0 13.8 18.5 18.0 18.0
3 17.8 18.5 17.5 17.5 16.0 17.0 16.8 18.5 17.5 18.0
4 15.8 16.5 17.0 17.5 18.0 16.8 18.0 17.8 18.0 18.0
5 17.5 18.0 14.5 16.8 19.0 17.2 17.8 16.5 17.0 17.0
6 18.5 16.0 16.8 18.0 16.0 18.1 18.5 17.0 19.0 19.0
7 18.0 18.8 18.0 19.0 17.0 17.2 16.5 18.0 19.0 18.0
8 17.0 18.5 18.5 18.2 18.0 17.8 16.5 17.0 18.0
9 13.5 18.0 16.2 17.0 17.2 18.0 17.8 17.0
10 18.0 19.0 17.5 18.0 17.0 17.5 17.5 17.5
11 17.5 16.0 18.5 16.8 18.0 18.0 18.2
12 14.0 16.5 15.8 17.4 15.0 16.8 19.0
13 15.5 18.5 17.2 18.0 17.2 18.5 21.0
14 18.0 18.5 16.8 17.5 18.0 18.0 18.0
15 18.5 18.0 17.5 16.8 16.8 16.8
16 18.0 17.5 18.0 17.4 18.5 17.8
17 15.5 16.8 16.8 18.2 14.5 18.0
18 15.0 18.5 17.5 16.8 19.0 18.5
19 17.5 15.5 18.5 17.6 18.0 17.8
20 18.0 16.0 17.5 17.8 17.5 18.2
21 16.5 16.8 17.0 16.8 16.8
22 18.5 16.0 16.6 17.0 17.5
23 15.5 18.0 16.2 18.0 17.8
24 19.0 17.5 17.2 14.5 16.8
25 18.5 15.0 18.2 17.0 18.5
26 16.0 17.2 18.0 18.5 16.5
27 19.0 17.4 16.8 15.5
28 18.0 17.6 14.0 17.5
29 17.8 18.0
x 16.75 17.53 17.18 17.75 17.57 17.37 17.05 17.50 18.19 18.13
Std 1.64 1.19 1.06 0.63 1.27 0.53 1.43 0.80 1.08 0.64
CV(%)

9.81 6.80 6.16 3.57 7.24 3.06 8.37 4.59 5.96 3.54



113
Lampiran 6a Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis
berdasarkan tingkat ketuaan (mm/s)

Tingkat Ketuaan / Umur Petik (hari sejak bunga mekar)
No.
0
(90~96)
1
(97~103)
2
(104~110)
3
(111~117)
4
(118~124)
1 0.1253 0.1274 0.1299 0.1124 0.1178
2 0.1305 0.1265 0.1339 0.1171 0.1088
3 0.1342 0.1352 0.1319 0.1080 0.1139
4 0.1378 0.1347 0.1293 0.1188 0.1126
5 0.1362 0.1269 0.1291 0.1157 0.1165
6 0.1314 0.1330 0.1288 0.1154 0.1190
7 0.1330 0.1294 0.1300 0.1185 0.1154
8 0.1349 0.1275 0.1292 0.1194 0.1111
9 0.1356 0.1361 0.1218 0.1071 0.1104
10 0.1372 0.1379 0.1250 0.1159 0.1086
11 0.1357 0.1290 0.1235 0.1164 0.1123
12 0.1372 0.1232 0.1085 0.1152
13 0.1318 0.1324 0.1081 0.1089
14 0.1271 0.1229 0.1136 0.1159
15 0.1281 0.1295 0.1155 0.1143
16 0.1293 0.1250 0.1103 0.1176
17 0.1310 0.1352 0.1079 0.1080
18 0.1277 0.1249 0.1086 0.1061
19 0.1255 0.1307 0.1141 0.1117
20 0.1245 0.1242 0.1183 0.1096
21 0.1385 0.1314 0.1088 0.1067
22 0.1339 0.1233 0.1110 0.1085
23 0.1388 0.1250 0.1058
24 0.1393 0.1242 0.1139
25 0.1393 0.1243 0.1165
26 0.1347
27 0.1234
x 0.1327 0.1312 0.1276 0.1132 0.1122
Std 0.0049 0.0042 0.0039 0.0042 0.0040
CV (%) 3.70 3.20 3.04 3.70 3.53





114
Lampiran 6b Koefisien atenuasi gelombang ultrasonik pada buah manggis
berdasarkan tingkat ketuaan (Np/mm)

Tingkat Ketuaan / Umur Petik (hari sejak bunga mekar)
No.
0
(90~96)
1
(97~103)
2
(104~110)
3
(111~117)
4
(118~124)
1 0.0086 0.0202 0.0140 0.0152 0.0138
2 0.0110 0.0247 0.0126 0.0170 0.0152
3 0.0115 0.0241 0.0112 0.0177 0.0134
4 0.0111 0.0171 0.0099 0.0149 0.0115
5 0.0110 0.0203 0.0105 0.0153 0.0100
6 0.0102 0.0232 0.0101 0.0163 0.0101
7 0.0092 0.0220 0.0120 0.0143 0.0124
8 0.0088 0.0216 0.0140 0.0168 0.0135
9 0.0120 0.0203 0.0145 0.0136 0.0129
10 0.0116 0.0202 0.0131 0.0161 0.0110
11 0.0096 0.0234 0.0118 0.0158 0.0132
12 0.0106 0.0125 0.0175 0.0123
13 0.0102 0.0103 0.0164 0.0102
14 0.0094 0.0145 0.0154 0.0126
15 0.0104 0.0114 0.0130 0.0117
16 0.0093 0.0114 0.0137 0.0119
17 0.0097 0.0092 0.0169 0.0131
18 0.0096 0.0121 0.0153 0.0120
19 0.0113 0.0101 0.0180 0.0129
20 0.0105 0.0137 0.0165 0.0130
21 0.0124 0.0089 0.0193 0.0129
22 0.0117 0.0146 0.0165 0.0138
23 0.0112 0.0120 0.0142
24 0.0108 0.0133 0.0131
25 0.0110 0.0131 0.0129
26 0.0096
27 0.0117
x 0.0105 0.0215 0.0120 0.0160 0.0125
Std 0.0010 0.0022 0.0017 0.0015 0.0013
CV (%)

9.74 10.33 14.19 9.59 10.17



115
Lampiran 6c Power spectral density gelombang ultrasonik pada buah manggis
berdasarkan tingkat ketuaan (W/Hz)

Tingkat Ketuaan / Umur Petik (hari sejak bunga mekar)
No.
0
(90~96)
1
(97~103)
2
(104~110)
3
(111~117)
4
(118~124)
1 5.8401 3.4220 3.1690 6.3938 5.7803
2 5.6983 4.2738 3.4749 5.1997 4.1425
3 2.9471 2.5235 4.9296 2.9013 5.6048
4 4.3887 2.2860 6.4138 4.7472 5.1454
5 5.0631 2.7081 6.4609 4.9633 4.6107
6 5.8264 4.5757 5.5024 2.7510 5.6327
7 4.7916 4.6181 6.3626 4.9906 5.6522
8 3.9595 2.6150 3.6937 4.6908 3.9294
9 5.3026 4.6108 3.9844 2.3083 5.8675
10 6.5779 3.4300 2.7334 4.8170 5.0661
11 4.7769 2.4922 3.8573 5.2336 5.7933
12 3.1853 2.8060 2.8460 3.9393
13 5.4121 5.3548 2.5975 5.4262
14 4.2572 3.1003 3.4631 5.6356
15 3.5845 6.5091 3.7304 5.2892
16 3.9714 5.5518 2.7144 6.4030
17 2.7797 4.9536 2.7740 5.2431
18 3.4309 5.5861 2.4916 3.6584
19 3.0589 5.8440 5.1631 4.5122
20 5.8808 3.7819 6.3964 3.4464
21 4.0687 4.4201 2.9921 3.4518
22 4.1025 3.1395 2.9520 3.1723
23 3.5508 3.7139 3.1723
24 3.3020 5.1390 5.2031
25 3.4755 3.9913 4.8334
26 6.0324
27 3.1690
x 4.3864 3.4141 4.5789 3.9599 4.8244
Std 1.1176 0.9499 1.2389 1.3129 0.9550
CV (%) 25.48 27.82 27.06 33.16 19.80



116
Lampiran 7a Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada buah manggis
berdasarkan tingkat kematangan atau masa pematangan (mm/s)

Masa Pematangan
Tingkat Ketuaan 1 (97~103 hari sbm) Tingkat Ketuaan 3 (111~117 hari sbm) No.
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
1 3.4220 2.7528 8.4857 8.1515 6.4357 6.3938 4.9220 8.5335 7.5213 3.9438
2 4.2738 3.3345 8.2295 5.8945 7.7568 5.1997 4.3097 9.5172 3.3367 8.1475
3 5.9855 3.0211 7.8901 6.2745 4.5202 2.9013 5.7564 6.0496 4.4373 8.0273
4 2.6955 4.7110 8.7785 7.7043 4.0328 2.8431 3.0583 7.2448 3.4839 4.9681
5 2.2860 4.6228 9.8267 4.7339 4.3311 4.7472 2.5764 8.6719 7.7043 8.2323
6 2.7081 4.0783 9.0163 8.9148 5.1777 4.9633 2.8314 8.8961 7.7043 4.8807
7 4.0123 5.6747 8.9247 7.4299 2.7510 6.5060 9.0270 6.3480
8 4.5757 5.2591 7.2963 7.4363 4.9906 2.8772 4.6007 4.7339
9 3.0217 5.7816 7.7393 3.9517 4.6908 4.8248 3.4963 7.3340
10 4.6181 5.2341 8.4663 2.3083 3.0794 6.6123 6.0301
11 2.6150 6.7597 7.9911 4.8170 7.0857 6.7223 7.4363
12 4.6108 2.4026 6.2163 5.2336 5.2474 7.5785 3.9517
13 3.4300 2.8374 8.2212 2.8460 4.9123 7.7482
14 2.4922 3.2507 4.5224 2.5975 5.9532 7.7185
15 3.5134 8.3360 3.4631 3.0415 8.0714
16 3.7872 5.6188 3.7304 6.6343 4.5364
17 4.5503 8.5990 2.7144 4.9373 7.8090
18 3.1963 7.2408 2.7740 6.4657 7.9299
19 2.8781 6.9413 2.4916 8.5245 3.5106
20 3.1295 7.8340 5.1631 3.6818 7.0899
21 2.9600 3.5591 6.3964 3.4909 7.6543
22 5.6051 5.2230 2.9921 7.7446 6.0163
23 6.2354 2.9520 6.4156 6.4582
24 6.4058 4.7923 5.7614
25 6.1637 6.6378 6.7860
26 3.4191 6.4222
27 3.4299 7.8440
28 8.4755
x 3.6248 4.0609 7.3505 6.7213 5.3757 3.9113 4.9317 7.0279 5.8352 6.3666
Std 1.0830 1.2315 1.5277 1.6333 1.4463 1.3037 1.6804 1.5778 1.7432 1.9720
CV (%)

29.88 30.33 20.78 24.30 26.90 33.33 34.07 22.45 29.87 30.97



117
Lampiran 7b Koefisien atenuasi gelombang ultrasonik pada buah manggis
berdasarkan tingkat kematangan atau masa pematangan (Np/mm)

Masa Pematangan
Tingkat Ketuaan 1 (97~103 hari sbm) Tingkat Ketuaan 3 (111~117 hari sbm)
No.
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
1 0.1428 0.1311 0.1203 0.1336 0.1352 0.1220 0.1283 0.1428 0.1307 0.1408
2 0.1158 0.1388 0.1352 0.1338 0.1459 0.1124 0.1330 0.1225 0.1398 0.1265
3 0.1175 0.1352 0.1335 0.1346 0.1483 0.1171 0.1411 0.1315 0.1491 0.1390
4 0.1274 0.1257 0.1215 0.1378 0.1292 0.1080 0.1284 0.1429 0.1296 0.1402
5 0.1265 0.1320 0.1349 0.1363 0.1386 0.1047 0.1291 0.1443 0.1482 0.1292
6 0.1352 0.1274 0.1220 0.1403 0.1393 0.1188 0.1294 0.1399 0.1381 0.1253
7 0.1347 0.1234 0.1365 0.1364 0.1312 0.1157 0.1374 0.1220 0.1325 0.1283
8 0.1449 0.1278 0.1210 0.1302 0.1154 0.1317 0.1417 0.1256
9 0.1269 0.1148 0.1418 0.1381 0.1185 0.1206 0.1454 0.1276
10 0.1210 0.1236 0.1322 0.1323 0.1194 0.1291 0.1356 0.1454
11 0.1379 0.1135 0.1389 0.1071 0.1351 0.1451 0.1399
12 0.1330 0.1135 0.1374 0.1159 0.1310 0.1343 0.1460
13 0.1413 0.1399 0.1176 0.1164 0.1297 0.1187 0.1406
14 0.1294 0.1338 0.1195 0.1085 0.1435 0.1178
15 0.1275 0.1392 0.1276 0.1081 0.1330 0.1330
16 0.1361 0.1322 0.1333 0.1136 0.1180 0.1159
17 0.1379 0.1298 0.1354 0.1155 0.1272 0.1147
18 0.1290 0.1286 0.1181 0.1103 0.1291 0.1349
19 0.1221 0.1290 0.1346 0.1079 0.1228 0.1195
20 0.1346 0.1412 0.1086 0.1353 0.1491
21 0.1180 0.1240 0.1141 0.1294 0.1159
22 0.1265 0.1324 0.1183 0.1241 0.1156
23 0.1315 0.1344 0.1088 0.1385 0.1324
24 0.1259 0.1171 0.1110 0.1118 0.1333
25 0.1287 0.1171 0.1339 0.1289
26 0.1382 0.1365 0.1283 0.1346
27 0.1221 0.1298 0.1348
28 0.1386 0.1301 0.1356
29 0.1403
x 0.1309 0.1287 0.1294 0.1353 0.1382 0.1132 0.1300 0.1318 0.1379 0.1327
Std 0.0083 0.0076 0.0083 0.0030 0.0071 0.0047 0.0067 0.0106 0.0080 0.0069
CV(%)

6.38 5.89 6.41 2.23 5.14 4.19 5.12 8.02 5.84 5.20



118
Lampiran 7c Power spectral density gelombang ultrasonik pada buah manggis
berdasarkan tingkat kematangan atau masa pematangan (W/Hz)

Masa Pematangan
Tingkat Ketuaan 1 (97~103 hari sbm) Tingkat Ketuaan 3 (111~117 hari sbm)
No.
0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari
1 3.4220 2.7528 8.4857 8.1515 6.4357 6.3938 4.9220 8.5335 7.5213 3.9438
2 4.2738 3.3345 8.2295 5.8945 7.7568 5.1997 4.3097 9.5172 3.3367 8.1475
3 5.9855 3.0211 7.8901 6.2745 4.5202 2.9013 5.7564 6.0496 4.4373 8.0273
4 2.6955 4.7110 8.7785 7.7043 4.0328 2.8431 3.0583 7.2448 3.4839 4.9681
5 2.2860 4.6228 9.8267 4.7339 4.3311 4.7472 2.5764 8.6719 7.7043 8.2323
6 2.7081 4.0783 9.0163 8.9148 5.1777 4.9633 2.8314 8.8961 7.7043 4.8807
7 4.0123 5.6747 8.9247 7.4299 2.7510 6.5060 9.0270 6.3480
8 4.5757 5.2591 7.2963 7.4363 4.9906 2.8772 4.6007 4.7339
9 3.0217 5.7816 7.7393 3.9517 4.6908 4.8248 3.4963 7.3340
10 4.6181 5.2341 8.4663 2.3083 3.0794 6.6123 6.0301
11 2.6150 6.7597 7.9911 4.8170 7.0857 6.7223 7.4363
12 4.6108 2.4026 6.2163 5.2336 5.2474 7.5785 3.9517
13 3.4300 2.8374 8.2212 2.8460 4.9123 7.7482
14 2.4922 3.2507 4.5224 2.5975 5.9532 7.7185
15 3.5134 8.3360 3.4631 3.0415 8.0714
16 3.7872 5.6188 3.7304 6.6343 4.5364
17 4.5503 8.5990 2.7144 4.9373 7.8090
18 3.1963 7.2408 2.7740 6.4657 7.9299
19 2.8781 6.9413 2.4916 8.5245 3.5106
20 3.1295 7.8340 5.1631 3.6818 7.0899
21 2.9600 3.5591 6.3964 3.4909 7.6543
22 5.6051 5.2230 2.9921 7.7446 6.0163
23 6.2354 2.9520 6.4156 6.4582
24 6.4058 4.7923 5.7614
25 6.1637 6.6378 6.7860
26 3.4191 6.4222
27 3.4299 7.8440
28 8.4755
x 3.6248 4.0609 7.3505 6.7213 5.3757 3.9113 4.9317 7.0279 5.8352 6.3666
Std 1.0830 1.2315 1.5277 1.6333 1.4463 1.3037 1.6804 1.5778 1.7432 1.9720
CV (%)

29.88 30.33 20.78 24.30 26.90 33.33 34.07 22.45 29.87 30.97





119
Lampiran 8 Karakteristik gelombang ultrasonik pada sampel buah manggis
rusak

No.
Kecepatan
Rambat
(mm/us)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power
Spectral
Density
(W/Hz)
No.
Kecepatan
Rambat
(mm/us)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power
Spectral
Density
(W/Hz)
1 0.1359 0.0130 8.5288 26 0.1393 0.0104 4.5426
2 0.1300 0.0172 7.7393 27 0.1418 0.0120 3.3530
3 0.1313 0.0182 4.5888 28 0.1345 0.0107 3.7958
4 0.1374 0.0132 8.1233 29 0.1367 0.0104 4.8438
5 0.1378 0.0173 6.9144 30 0.1423 0.0097 3.3020
6 0.1368 0.0154 7.3340 31 0.1393 0.0108 3.7280
7 0.1340 0.0181 6.3480 32 0.1322 0.0106 3.0533
8 0.1475 0.0188 4.4952 33 0.1420 0.0111 2.9770
9 0.1312 0.0189 7.9570 34 0.1403 0.0111 3.4417
10 0.1537 0.0173 6.5070 35 0.1299 0.0085 3.0430
11 0.1804 0.0207 4.1360 36 0.1406 0.0065 6.3958
12 0.1911 0.0159 4.4591 37 0.1425 0.0109 3.2251
13 0.1307 0.0214 4.3097 38 0.1351 0.0074 5.9124
14 0.1298 0.0201 3.2959 39 0.1344 0.0087 6.5390
15 0.1479 0.0147 8.9148 40 0.1418 0.0119 3.3147
16 0.1452 0.0198 4.0707 41 0.1439 0.0179 5.2181
17 0.1386 0.0181 7.7015 42 0.1424 0.0187 7.6971
18 0.1322 0.0240 5.4976 43 0.1457 0.0127 3.1232
19 0.1454 0.0178 6.6889 44 0.1466 0.0203 5.6587
20 0.1647 0.0236 4.2371 45 0.1364 0.0079 8.3038
21 0.1393 0.0103 4.0782 46 0.1412 0.0154 6.8619
22 0.1342 0.0110 5.7738 47 0.1715 0.0171 3.3513
23 0.1399 0.0113 3.8233 48 0.1393 0.0088 6.6119
24 0.1337 0.0101 6.9269 49 0.1354 0.0100 6.6967
25 0.1301 0.0110 5.5058 50 0.1357 0.0095 5.0228
x 0.1414 0.0141 5.3594
Std 0.0122 0.0046 1.7615
CV (%) 8.64 32.43 32.87



120
Lampiran 9 Kecepatan rambat gelombang ultrasonik pada sampel buah
manggis tidak rusak dan sampel buah manggis rusak (mm/s)

Jenis Sampel Buah Manggis
Tidak Rusak Rusak
No.
Kecepatan
Rambat
No.
Kecepatan
Rambat
No.
Kecepatan
Rambat
No.
Kecepatan
Rambat
No.
Kecepatan
Rambat

No.
Kecepatan
Rambat
1 0.1274 53 0.1079 105 0.1352 157 0.1336 209 0.1228 1 0.1359
2 0.1265 54 0.1086 106 0.1257 158 0.1338 210 0.1353 2 0.1300
3 0.1352 55 0.1141 107 0.1320 159 0.1346 211 0.1294 3 0.1313
4 0.1347 56 0.1183 108 0.1274 160 0.1378 212 0.1241 4 0.1374
5 0.1269 57 0.1088 109 0.1234 161 0.1363 213 0.1385 5 0.1378
6 0.1330 58 0.1110 110 0.1278 162 0.1403 214 0.1118 6 0.1368
7 0.1294 59 0.1178 111 0.1148 163 0.1364 215 0.1339 7 0.1340
8 0.1275 60 0.1088 112 0.1236 164 0.1302 216 0.1283 8 0.1475
9 0.1361 61 0.1139 113 0.1135 165 0.1381 217 0.1298 9 0.1312
10 0.1379 62 0.1126 114 0.1135 166 0.1323 218 0.1301 10 0.1537
11 0.1290 63 0.1165 115 0.1399 167 0.1220 219 0.1428 11 0.1804
12 0.1299 64 0.1190 116 0.1338 168 0.1124 220 0.1225 12 0.1911
13 0.1339 65 0.1154 117 0.1392 169 0.1171 221 0.1315 13 0.1307
14 0.1319 66 0.1111 118 0.1322 170 0.1080 222 0.1429 14 0.1298
15 0.1293 67 0.1104 119 0.1298 171 0.1047 223 0.1443 15 0.1479
16 0.1291 68 0.1086 120 0.1286 172 0.1188 224 0.1399 16 0.1452
17 0.1288 69 0.1123 121 0.1290 173 0.1157 225 0.1220 17 0.1386
18 0.1300 70 0.1152 122 0.1346 174 0.1154 226 0.1417 18 0.1322
19 0.1292 71 0.1089 123 0.1180 175 0.1185 227 0.1454 19 0.1454
20 0.1218 72 0.1159 124 0.1265 176 0.1194 228 0.1356 20 0.1647
21 0.1250 73 0.1143 125 0.1315 177 0.1071 229 0.1451 21 0.1393
22 0.1235 74 0.1176 126 0.1259 178 0.1159 230 0.1343 22 0.1342
23 0.1232 75 0.1080 127 0.1287 179 0.1164 231 0.1187 23 0.1399
24 0.1324 76 0.1061 128 0.1382 180 0.1085 232 0.1178 24 0.1337
25 0.1229 77 0.1117 129 0.1221 181 0.1081 233 0.1330 25 0.1301
26 0.1295 78 0.1096 130 0.1386 182 0.1136 234 0.1159 26 0.1393
27 0.1250 79 0.1067 131 0.1203 183 0.1155 235 0.1147 27 0.1418
28 0.1352 80 0.1085 132 0.1352 184 0.1103 236 0.1349 28 0.1345
29 0.1249 81 0.1058 133 0.1335 185 0.1079 237 0.1195 29 0.1367
30 0.1307 82 0.1139 134 0.1215 186 0.1086 238 0.1491 30 0.1423
31 0.1242 83 0.1165 135 0.1349 187 0.1141 239 0.1159 31 0.1393
32 0.1314 84 0.1428 136 0.1220 188 0.1183 240 0.1156 32 0.1322
33 0.1233 85 0.1158 137 0.1365 189 0.1088 241 0.1324 33 0.1420
34 0.1250 86 0.1175 138 0.1210 190 0.1110 242 0.1333 34 0.1403
35 0.1242 87 0.1274 139 0.1418 191 0.1283 243 0.1289 35 0.1299
36 0.1243 88 0.1265 140 0.1322 192 0.1330 244 0.1346 36 0.1406
37 0.1124 89 0.1352 141 0.1389 193 0.1411 245 0.1348 37 0.1425
38 0.1171 90 0.1347 142 0.1374 194 0.1284 246 0.1356 38 0.1351
39 0.1080 91 0.1449 143 0.1176 195 0.1291 247 0.1403 39 0.1344
40 0.1188 92 0.1269 144 0.1195 196 0.1294 248 0.1307 40 0.1418
41 0.1157 93 0.1210 145 0.1276 197 0.1374 249 0.1398 41 0.1439
42 0.1154 94 0.1379 146 0.1333 198 0.1317 250 0.1491 42 0.1424
43 0.1185 95 0.1330 147 0.1354 199 0.1206 251 0.1296 43 0.1457
44 0.1194 96 0.1413 148 0.1181 200 0.1291 252 0.1482 44 0.1466
45 0.1071 97 0.1294 149 0.1346 201 0.1351 253 0.1381 45 0.1364
46 0.1159 98 0.1275 150 0.1412 202 0.1310 254 0.1325 46 0.1412
47 0.1164 99 0.1361 151 0.1240 203 0.1297 255 0.1256 47 0.1715
48 0.1085 100 0.1379 152 0.1324 204 0.1435 256 0.1276 48 0.1393
49 0.1081 101 0.1290 153 0.1344 205 0.1330 257 0.1454 49 0.1354
50 0.1136 102 0.1221 154 0.1171 206 0.1180 258 0.1399 50 0.1357
51 0.1155 103 0.1311 155 0.1171 207 0.1272 259 0.1460
52 0.1103 104 0.1388 156 0.1365 208 0.1291 260 0.1406
x
0.1258 0.1414
Std 0.0106 0.0122
CV (%) 8.46 8.64


121
Lampiran 10 Data sifat fisik dan sifat kimia buah manggis sampel dalam
menentukan hubungan korelasi

Sifat Fisik Sifat Kimia Sifat Fisik Sifat Kimia
No.
(kekerasan
kulit buah)
(N)

total gula
(g/100g)
total asam
(ml/100g)
total
padatan
terlarut
(brix)
No.
(kekerasan
kulit buah)
(N)
total gula
(g/100g)
total asam
(ml/100g)
total
padatan
terlarut
(brix)
1 69.04 2.19 79.41 5.1 59 14.12 8.33 108.80 17.8
2 63.94 2.80 69.48 4.2 60 14.02 10.83 95.19 17.4
3 63.06 2.36 79.38 4.8 61 12.55 7.98 108.31 16.2
4 64.53 2.10 83.35 4.0 62 14.87 9.34 89.93 18.0
5 63.68 2.62 73.46 4.5 63 16.12 10.78 87.34 18.0
6 65.74 1.93 83.39 4.6 64 12.88 8.38 99.87 16.2
7 67.70 2.45 77.42 4.5 65 15.59 8.62 111.41 16.8
8 57.24 2.54 75.43 4.3 66 13.08 9.73 104.96 16.5
9 60.67 2.72 71.47 4.8 67 10.95 8.23 111.82 16.8
10 67.67 2.19 79.38 4.6 68 17.88 9.07 103.65 17.0
11 64.89 2.36 79.43 5.1 69 13.30 10.43 98.40 17.2
12 64.63 1.75 85.40 5.5 70 6.28 15.36 92.97 18.0
13 66.82 2.19 79.44 4.2 71 9.55 14.21 100.18 17.0
14 70.38 2.37 77.45 4.5 72 9.28 12.10 109.38 17.0
15 66.79 2.80 71.49 4.0 73 9.71 11.85 113.29 16.8
16 70.87 2.71 71.45 5.2 74 10.36 13.91 105.68 17.2
17 63.06 2.54 75.43 4.7 75 9.51 14.15 105.58 18.1
18 68.06 2.45 75.44 4.2 76 10.66 12.98 112.02 17.2
19 62.05 1.75 87.32 4.9 77 10.56 14.22 92.02 18.0
20 66.13 1.93 83.40 4.7 78 9.25 13.32 93.10 17.2
21 66.79 2.02 83.39 4.3 79 7.65 14.78 96.27 17.0
22 66.72 2.19 81.42 4.8 80 8.66 15.12 89.76 16.8
23 65.22 2.45 75.47 4.4 81 8.63 12.84 114.20 17.4
24 21.93 4.31 118.41 17.5 82 8.43 12.07 110.03 18.0
25 18.01 4.82 115.08 18.5 83 8.53 13.22 116.46 17.5
26 21.35 4.11 108.84 18.0 84 10.30 13.53 109.50 16.8
27 21.67 5.32 118.77 18.5 85 8.11 13.04 115.84 17.4
28 21.77 4.88 114.38 15.0 86 8.70 14.21 106.73 18.2
29 21.02 6.21 118.66 17.5 87 10.43 13.82 111.98 16.8
30 23.24 5.06 112.52 18.0 88 8.37 11.94 112.17 17.6
31 15.59 12.01 88.63 18.0 89 8.63 14.28 88.51 17.8
32 13.86 9.68 92.22 17.4 90 8.66 12.54 120.36 17.0
33 11.31 11.93 90.42 18.2 91 8.07 15.24 85.13 16.6
34 14.02 12.02 88.74 18.0 92 10.30 14.80 95.17 16.2
35 14.74 8.68 99.96 17.2 93 8.47 12.28 109.81 17.2
36 15.40 10.74 88.55 18.0 94 9.84 14.17 104.47 18.2
37 12.29 11.17 90.36 17.0 95 7.68 13.92 111.16 18.0
38 14.68 9.88 111.34 17.6 96 9.51 13.05 116.60 17.4
39 13.37 11.28 94.28 17.8 97 10.76 13.54 99.74 17.6
40 11.83 8.87 105.67 17.4 98 9.32 14.21 94.13 17.8
41 16.48 12.08 91.55 18.2 99 10.04 13.86 96.97 18.0
42 11.96 11.28 90.98 17.2 100 7.32 17.79 76.67 16.6
43 14.22 11.83 93.32 18.0 101 8.92 20.12 74.41 16.8
44 12.65 8.64 82.38 17.8 102 8.89 18.01 76.77 15.2
45 12.85 9.61 103.84 17.6 103 8.79 17.99 74.93 18.8
46 9.58 17.85 77.64 19.1 104 9.12 19.41 70.47 18.8
47 8.86 20.05 73.61 19.0 105 8.27 17.82 78.79 18.2
48 8.43 18.76 78.17 19.1 106 9.12 16.95 81.09 19.0
49 8.83 17.09 73.96 18.6 107 8.73 16.75 82.61 18.2
50 9.41 17.57 75.05 18.0 108 10.07 18.35 70.65 19.0
51 7.09 19.17 78.34 19.1 109 7.62 19.11 66.07 18.6
52 9.15 17.79 81.82 18.8 110 8.63 16.81 79.64 18.4
53 6.77 19.15 74.60 18.6 111 10.85 19.25 73.97 18.0
54 8.63 18.85 75.13 19.0 112 8.47 18.83 77.99 17.8
55 9.84 20.14 70.12 17.9 113 8.14 17.72 73.87 19.2
56 11.15 17.22 77.07 17.5 114 7.26 19.11 72.92 19.0
57 8.47 18.14 78.49 19.1 115 11.60 18.17 72.68 19.1
58 10.23 18.82 73.07 18.6 116 9.64 17.95 79.26 18.8


122
Lampiran 11 Data sifat fisik dan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis sampel dalam menentukan hubungan korelasi

Sifat Fisik Karakteristik Gel. Ultrasonik Sifat Fisik Karakteristik Gel. Ultrasonik
No.
(kekerasan
kulit buah)
(N)

kecepatan
rambat
(mm/s)
koefisien
atenuasi
(Np/mm)
power
s. density
(W/Hz)
No.
(kekerasan
kulit buah)
(N)
kecepatan
rambat
(mm/s)
koefisien
atenuasi
(Np/mm)
power
s.density
(W/Hz)
1 63.94 0.1342 0.0110 2.9471 34 17.88 0.1242 0.0133 5.1390
2 63.06 0.1378 0.0115 4.3887 35 13.30 0.1243 0.0131 3.9913
3 64.53 0.1362 0.0111 6.9206 36 7.32 0.1178 0.0138 5.7803
4 63.68 0.1314 0.0110 5.0631 37 8.92 0.1088 0.0152 4.1425
5 65.74 0.1330 0.0102 7.4904 38 8.89 0.1221 0.0118 4.6828
6 67.70 0.1349 0.0092 7.0852 39 8.79 0.1139 0.0134 5.6048
7 57.24 0.1356 0.0088 5.8264 40 9.58 0.1206 0.0115 5.1454
8 60.67 0.1372 0.0120 4.7916 41 8.86 0.1126 0.0100 4.6107
9 67.67 0.1357 0.0096 5.3026 42 8.43 0.1165 0.0101 5.6327
10 64.89 0.1372 0.0106 6.5779 43 8.83 0.1202 0.0124 5.6522
11 64.63 0.1318 0.0102 4.7769 44 9.41 0.1190 0.0135 3.9294
12 62.05 0.1403 0.0117 4.1025 45 7.09 0.1204 0.0129 5.8675
13 66.13 0.1393 0.0112 3.5508 46 9.15 0.1154 0.0076 5.0661
14 66.79 0.1393 0.0110 3.4755 47 6.77 0.1111 0.0110 5.7933
15 66.72 0.1347 0.0096 6.0324 48 8.63 0.1104 0.0132 3.9393
16 13.86 0.1299 0.0126 3.4749 49 9.84 0.1223 0.0141 3.5523
17 14.74 0.1293 0.0112 6.4609 50 11.15 0.1086 0.0123 3.0575
18 15.40 0.1291 0.0099 5.5024 51 8.47 0.1123 0.0102 5.4262
19 12.29 0.1288 0.0105 6.3626 52 10.23 0.1152 0.0126 5.6356
20 14.68 0.1300 0.0101 7.2730 53 9.12 0.1089 0.0117 3.0482
21 11.83 0.1292 0.0140 3.9844 54 8.27 0.1159 0.0086 5.2892
22 16.48 0.1250 0.0131 3.8573 55 9.12 0.1143 0.0119 6.4030
23 11.96 0.1235 0.0118 6.7976 56 8.73 0.1176 0.0131 5.2431
24 14.22 0.1232 0.0125 2.8060 57 10.07 0.1080 0.0120 3.6584
25 12.85 0.1295 0.0114 6.5091 58 7.62 0.1061 0.0129 2.8869
26 14.12 0.1250 0.0114 5.5518 59 8.63 0.1117 0.0130 4.5122
27 12.55 0.1249 0.0121 5.5861 60 10.85 0.1096 0.0129 3.4464
28 14.87 0.1307 0.0101 5.8440 61 8.47 0.1067 0.0138 3.4518
29 16.12 0.1169 0.0144 2.7211 62 8.14 0.1085 0.0142 3.1723
30 12.88 0.1164 0.0129 2.9064 63 7.26 0.1058 0.0131 3.1723
31 15.59 0.1242 0.0137 3.7819 64 11.60 0.1139 0.0096 5.2031
32 13.08 0.1233 0.0146 3.1395 65 9.64 0.1165 0.0129 4.8334
33 10.95 0.1250 0.0120 3.7139



123
Lampiran 12 Data sifat kimia dan karakteristik gelombang ultrasonik pada buah
manggis sampel dalam menentukan hubungan korelasi

Sifat Kimia Karakter Gel. Ultrasonik Sifat Kimia Karakter Gel. Ultrasonik
No
total
gula
(g/
100g)
total
asam
(ml/
100g)
total
padatan
terlarut
(
O
brix)

kcpt
rambat
(mm
/s)
koef
atenuasi
(Np/
mm)
Power
spectral
density
(W/Hz)
No
total
gula
(g/
100g)
total
asam
(ml/
100g)
total
padatan
terlarut
(
O
brix)

kcpt
rambat
(mm/
s)
koef
atenuasi
(Np/
mm)
Power
spectral
density
(W/Hz)
1 2.19 79.41 5.1 0.1305 0.0086 5.6983 33 9.73 104.96 16.5 0.1233 0.0146 3.1395
2 2.80 69.48 4.2 0.1342 0.0110 2.9471 34 8.23 111.82 16.8 0.1250 0.0120 3.7139
3 2.36 79.38 4.8 0.1378 0.0115 4.3887 35 9.07 103.65 17.0 0.1242 0.0133 5.1390
4 2.10 83.35 4.0 0.1362 0.0111 6.9206 36 10.43 98.40 17.2 0.1243 0.0131 3.9913
5 2.62 73.46 4.5 0.1314 0.0110 5.0631 37 17.79 76.67 16.6 0.1178 0.0138 5.7803
6 1.93 83.39 4.6 0.1330 0.0102 7.4904 38 20.12 74.41 16.8 0.1088 0.0152 4.1425
7 2.45 77.42 4.5 0.1349 0.0092 7.0852 39 17.99 74.93 18.8 0.1139 0.0134 5.6048
8 2.54 75.43 4.3 0.1356 0.0088 5.8264 40 17.85 77.64 19.1 0.1206 0.0115 5.1454
9 2.72 71.47 4.8 0.1372 0.0120 4.7916 41 20.05 73.61 19.0 0.1126 0.0100 4.6107
10 2.19 79.38 4.6 0.1357 0.0096 5.3026 42 18.76 78.17 19.1 0.1165 0.0101 5.6327
11 2.36 79.43 5.1 0.1372 0.0106 6.5779 43 17.09 73.96 18.6 0.1202 0.0124 5.6522
12 1.75 85.40 5.5 0.1318 0.0102 4.7769 44 17.57 75.05 18.0 0.1190 0.0135 3.9294
13 1.75 87.32 4.9 0.1403 0.0117 4.1025 45 17.79 81.82 18.8 0.1154 0.0076 5.0661
14 1.93 83.40 4.7 0.1393 0.0112 3.5508 46 19.15 74.60 18.6 0.1111 0.0110 5.7933
15 2.02 83.39 4.3 0.1393 0.0110 3.4755 47 18.85 75.13 19.0 0.1104 0.0132 3.9393
16 2.19 81.42 4.8 0.1347 0.0096 6.0324 48 17.22 77.07 17.5 0.1086 0.0123 3.0575
17 9.68 92.22 17.4 0.1299 0.0126 3.4749 49 18.14 78.49 19.1 0.1123 0.0102 5.4262
18 8.68 99.96 17.2 0.1293 0.0112 6.4609 50 18.82 73.07 18.6 0.1152 0.0126 5.6356
19 10.74 88.55 18.0 0.1291 0.0099 5.5024 51 19.41 70.47 18.8 0.1089 0.0117 3.0482
20 11.17 90.36 17.0 0.1288 0.0105 6.3626 52 17.82 78.79 18.2 0.1159 0.0086 5.2892
21 9.88 111.34 17.6 0.1300 0.0101 7.2730 53 16.95 81.09 19.0 0.1143 0.0119 6.4030
22 8.87 105.67 17.4 0.1292 0.0140 3.9844 54 16.75 82.61 18.2 0.1176 0.0131 5.2431
23 12.08 91.55 18.2 0.1250 0.0131 3.8573 55 18.35 70.65 19.0 0.1080 0.0120 3.6584
24 11.28 90.98 17.2 0.1235 0.0118 6.7976 56 19.11 66.07 18.6 0.1061 0.0129 2.8869
25 11.83 93.32 18.0 0.1232 0.0125 2.8060 57 16.81 79.64 18.4 0.1117 0.0130 4.5122
26 8.64 82.38 17.8 0.1324 0.0103 5.3548 58 19.25 73.97 18.0 0.1096 0.0129 3.4464
27 9.61 103.84 17.6 0.1295 0.0114 6.5091 59 18.83 77.99 17.8 0.1067 0.0138 3.4518
28 8.33 108.80 17.8 0.1250 0.0114 5.5518 60 17.72 73.87 19.2 0.1085 0.0142 3.1723
29 7.98 108.31 16.2 0.1249 0.0121 5.5861 61 19.11 72.92 19.0 0.1058 0.0131 3.1723
30 9.34 89.93 18.0 0.1307 0.0101 5.8440 62 18.17 72.68 19.1 0.1139 0.0096 5.2031
31 10.78 87.34 18.0 0.1169 0.0144 2.7211 63 17.95 79.26 18.8 0.1165 0.0129 4.8334
32 8.62 111.41 16.8 0.1242 0.0137 3.7819





124
Lampiran 13 Data input dan target proses dan output pembelajaran jaringan syaraf tiruan pada prediksi tingkat ketuaan atau umur petik
buah manggis dengan karakteristik gelombang ultrasonik

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkat Ketuaan)
OUTPUT
(Tingkat Ketuaan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power
Spectral
Density
(W/Hz)
Tingkat
Ketuaan
Deskripsi
(bilangan
biner)
NO
Sebelum Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
1 0.1281 0.0104 5.4121 0 1 1 1 1 1.0000 0.4850 0.9332 1 0 1 2 0.0000 0.5150 0.0668 tidak
2 0.1245 0.0065 3.4309 0 1 1 1 2 1.0000 0.8350 0.9318 1 1 1 0 0.0000 0.1650 0.0682 ya
3 0.1305 0.0086 5.6983 0 1 1 1 3 1.0000 0.5698 0.9979 1 1 1 0 0.0000 0.4302 0.0021 ya
4 0.1403 0.0108 3.3020 0 1 1 1 4 1.0000 0.8316 0.9978 1 1 1 0 0.0000 0.1684 0.0022 ya
5 0.1234 0.0117 3.1690 0 1 1 1 5 1.0000 0.8112 0.9989 1 1 1 0 0.0000 0.1888 0.0011 ya
6 0.1255 0.0060 2.7797 0 1 1 1 6 1.0000 0.9665 0.9969 1 1 1 0 0.0000 0.0335 0.0031 ya
7 0.1357 0.0096 5.3026 0 1 1 1 7 1.0000 0.6844 0.9988 1 1 1 0 0.0000 0.3156 0.0012 ya
8 0.1253 0.0052 5.8401 0 1 1 1 8 0.9539 0.9872 0.9980 1 1 1 0 0.0461 0.0128 0.0020 ya
9 0.1293 0.0093 4.2572 0 1 1 1 9 1.0000 0.7131 0.7724 1 1 1 0 0.0000 0.2869 0.2276 ya
10 0.1347 0.0096 6.0324 0 1 1 1 10 1.0000 0.6822 0.9989 1 1 1 0 0.0000 0.3178 0.0011 ya
11 0.1393 0.0112 3.5508 0 1 1 1 11 1.0000 0.7560 0.9943 1 1 1 0 0.0000 0.2440 0.0057 ya
12 0.1330 0.0102 7.4904 0 1 1 1 12 1.0000 0.9137 0.9838 1 1 1 0 0.0000 0.0863 0.0162 ya
13 0.1372 0.0106 6.5779 0 1 1 1 13 1.0000 0.9682 0.9948 1 1 1 0 0.0000 0.0318 0.0052 ya
14 0.1342 0.0110 2.9471 0 1 1 1 14 1.0000 0.7896 0.9996 1 1 1 0 0.0000 0.2104 0.0004 ya
15 0.1314 0.0110 5.0631 0 1 1 1 15 1.0000 0.7131 0.9349 1 1 1 0 0.0000 0.2869 0.0651 ya
16 0.1277 0.0096 3.9714 0 1 1 1 16 1.0000 0.7502 0.9036 1 1 1 0 0.0000 0.2498 0.0964 ya
17 0.1403 0.0117 4.1025 0 1 1 1 17 1.0000 0.7450 0.8992 1 1 1 0 0.0000 0.2550 0.1008 ya
18 0.1372 0.0120 4.7916 0 1 1 1 18 1.0000 0.9497 0.8479 1 1 1 0 0.0000 0.0503 0.1521 ya
19 0.1356 0.0088 5.8264 0 1 1 1 19 1.0000 0.7532 0.9996 1 1 1 0 0.0000 0.2468 0.0004 ya
20 0.1310 0.0097 3.5845 0 1 1 1 20 1.0000 0.9063 0.9938 1 1 1 0 0.0000 0.0937 0.0062 ya


125
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkat Ketuaan)
OUTPUT
(Tingkat Ketuaan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power
Spectral
Density
(W/Hz)
Tingkat
Ketuaan
Deskripsi
(bilangan
biner)
NO
Sebelum Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
21 0.1271 0.0094 3.1853 0 1 1 1 21 1.0000 0.9593 0.9992 1 1 1 0 0.0000 0.0407 0.0008 ya
22 0.1362 0.0111 6.9206 0 1 1 1 22 1.0000 0.9900 0.9838 1 1 1 0 0.0000 0.0100 0.0162 ya
23 0.1385 0.0113 3.0589 0 1 1 1 23 1.0000 0.7513 0.9989 1 1 1 0 0.0000 0.2487 0.0011 ya
24 0.1393 0.0110 3.4755 0 1 1 1 24 1.0000 0.7864 0.9962 1 1 1 0 0.0000 0.2136 0.0038 ya
25 0.1339 0.0105 5.8808 0 1 1 1 25 1.0000 0.6748 0.9974 1 1 1 0 0.0000 0.3252 0.0026 ya
26 0.1378 0.0115 4.3887 0 1 1 1 26 1.0000 0.7440 0.9107 1 1 1 0 0.0000 0.2560 0.0893 ya
27 0.1349 0.0092 7.0852 0 1 1 1 27 1.0000 0.5414 0.9972 1 1 1 0 0.0000 0.4586 0.0028 ya
28 0.1330 0.0138 4.5757 1 1 1 0 28 1.0000 0.9296 0.0876 1 1 0 1 0.0000 0.0704 -0.0876 ya
29 0.1682 0.0117 2.5235 1 1 1 0 29 1.0000 0.9991 0.1556 1 1 0 1 0.0000 0.0009 -0.1556 ya
30 0.1158 0.0202 7.7256 1 1 1 0 30 0.9713 0.8498 0.0001 1 1 0 1 0.0287 0.1502 -0.0001 ya
31 0.1352 0.0171 8.2133 1 1 1 0 31 1.0000 1.0000 0.1108 1 1 0 1 0.0000 0.0000 -0.1108 ya
32 0.1265 0.0074 4.2738 1 1 1 0 32 0.9842 0.7845 0.3643 1 1 0 1 0.0158 0.2155 -0.3643 ya
33 0.1294 0.0166 4.6181 1 1 1 0 33 0.9902 0.8877 0.0000 1 1 0 1 0.0098 0.1123 0.0000 ya
34 0.1379 0.0203 4.6108 1 1 1 0 34 0.9999 0.9783 0.0000 1 1 0 1 0.0001 0.0217 0.0000 ya
35 0.1413 0.0172 3.0217 1 1 1 0 35 1.0000 0.8333 0.0032 1 1 0 1 0.0000 0.1667 -0.0032 ya
36 0.1221 0.0234 2.4922 1 1 1 0 36 0.9999 0.6051 0.4746 1 1 0 1 0.0001 0.3949 -0.4746 ya
37 0.1229 0.0145 3.1003 1 1 1 0 37 0.9978 0.0240 0.8254 1 0 1 2 0.0022 0.9760 -0.8254 tidak
38 0.1290 0.0202 3.4300 1 1 1 0 38 0.9804 0.8537 0.0010 1 1 0 1 0.0196 0.1463 -0.0010 ya
39 0.1314 0.0089 4.4201 2 1 0 1 39 1.0000 0.6915 0.8379 1 1 1 0 0.0000 -0.6915 0.1621 tidak
40 0.1175 0.0247 7.7275 2 1 0 1 40 0.9987 0.0033 0.0000 1 0 0 ? 0.0013 -0.0033 1.0000 tidak



126
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkat Ketuaan)
OUTPUT
(Tingkat Ketuaan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power
Spectral
Density
(W/Hz)
Tingkat
Ketuaan
Deskripsi
(bilangan
biner)
NO
Sebelum Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
1 0.1281 0.0104 5.4121 0 1 1 1 1 1.0000 0.4850 0.9332 1 0 1 2 0.0000 0.5150 0.0668 tidak
41 0.1291 0.0099 5.5024 2 1 0 1 41 1.0000 0.4665 0.9811 1 0 1 2 0.0000 -0.4665 0.0189 ya
42 0.1359 0.0120 3.6937 2 1 0 1 42 1.0000 0.6544 0.9892 1 1 1 0 0.0000 -0.6544 0.0108 tidak
43 0.1269 0.0232 2.2860 2 1 0 1 43 1.0000 0.2772 0.7300 1 0 1 2 0.0000 -0.2772 0.2700 ya
44 0.1243 0.0131 3.9913 2 1 0 1 44 0.8857 0.3586 0.9491 1 0 1 2 0.1143 -0.3586 0.0509 ya
45 0.1293 0.0112 6.4609 2 1 0 1 45 1.0000 0.1559 0.9954 1 0 1 2 0.0000 -0.1559 0.0046 ya
46 0.1275 0.0216 2.6150 2 1 0 1 46 1.0000 0.1983 0.8067 1 0 1 2 0.0000 -0.1983 0.1933 ya
47 0.1232 0.0125 2.8060 2 1 0 1 47 1.0000 0.3121 0.9966 1 0 1 2 0.0000 -0.3121 0.0034 ya
48 0.1307 0.0101 5.8440 2 1 0 1 48 1.0000 0.3922 0.9957 1 0 1 2 0.0000 -0.3922 0.0043 ya
49 0.1352 0.0092 4.9536 2 1 0 1 49 1.0000 0.5571 0.9963 1 1 1 0 0.0000 -0.5571 0.0037 tidak
50 0.1347 0.0203 5.9855 2 1 0 1 50 1.0000 0.1001 0.0000 1 0 0 ? 0.0000 -0.1001 1.0000 tidak
51 0.1604 0.0082 4.4358 2 1 0 1 51 1.0000 0.2210 0.9987 1 0 1 2 0.0000 -0.2210 0.0013 ya
52 0.1233 0.0146 3.1395 2 1 0 1 52 0.9960 0.0196 0.7857 1 0 1 2 0.0040 -0.0196 0.2143 ya
53 0.1164 0.0129 2.9064 2 1 0 1 53 0.9402 0.3219 0.9513 1 0 1 2 0.0598 -0.3219 0.0487 ya
54 0.1295 0.0114 6.5091 2 1 0 1 54 1.0000 0.2136 0.9942 1 0 1 2 0.0000 -0.2136 0.0058 ya
55 0.1169 0.0144 2.7211 2 1 0 1 55 0.9533 0.0095 0.7960 1 0 1 2 0.0467 -0.0095 0.2040 ya
56 0.1365 0.0140 3.1690 2 1 0 1 56 1.0000 0.1816 0.9756 1 0 1 2 0.0000 -0.1816 0.0244 ya
57 0.1292 0.0140 3.9844 2 1 0 1 57 1.0000 0.2677 0.8267 1 0 1 2 0.0000 -0.2677 0.1733 ya
58 0.1139 0.0096 5.2031 2 1 0 1 58 0.0000 0.2277 0.3114 0 0 0 4 1.0000 -0.2277 0.6886 tidak
59 0.1235 0.0118 6.7976 2 1 0 1 59 0.9990 0.0329 0.9929 1 0 1 2 0.0010 -0.0329 0.0071 ya
60 0.1288 0.0105 6.3626 2 1 0 1 60 1.0000 0.1106 0.9967 1 0 1 2 0.0000 -0.1106 0.0033 ya


127
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkat Ketuaan)
OUTPUT
(Tingkat Ketuaan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power
Spectral
Density
(W/Hz)
Tingkat
Ketuaan
Deskripsi
(bilangan
biner)
NO
Sebelum Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
61 0.1319 0.0084 6.4138 2 1 0 1 61 1.0000 0.3354 0.9993 1 0 1 2 0.0000 -0.3354 0.0007 ya
62 0.1210 0.0220 2.7081 2 1 0 1 62 0.9723 0.1740 0.8016 1 0 1 2 0.0277 -0.1740 0.1984 ya
63 0.1249 0.0121 5.5861 2 1 0 1 63 0.9980 0.2546 0.6200 1 0 1 2 0.0020 -0.2546 0.3800 ya
64 0.1300 0.0101 7.2730 2 1 0 1 64 1.0000 0.4134 0.9960 1 0 1 2 0.0000 -0.4134 0.0040 ya
65 0.1324 0.0103 5.3548 2 1 0 1 65 1.0000 0.6443 0.9915 1 1 1 0 0.0000 -0.6443 0.0085 tidak
66 0.1299 0.0126 3.4749 2 1 0 1 66 1.0000 0.4738 0.9975 1 0 1 2 0.0000 -0.4738 0.0025 ya
67 0.1086 0.0123 3.0575 3 0 1 1 67 0.0000 0.6185 0.7308 0 1 1 3 0.0000 0.3815 0.2692 ya
68 0.1152 0.0126 5.6356 3 0 1 1 68 0.0000 0.0387 0.0779 0 0 0 4 0.0000 0.9613 0.9221 tidak
69 0.1223 0.0141 3.5523 3 0 1 1 69 0.1048 0.1961 0.9049 0 0 1 ? -0.1048 0.8039 0.0951 tidak
70 0.1143 0.0119 6.4030 3 0 1 1 70 0.0000 0.0020 0.7738 0 0 1 ? 0.0000 0.9980 0.2262 tidak
71 0.1154 0.0076 5.0661 3 0 1 1 71 0.0001 0.4403 0.4143 0 0 0 4 -0.0001 0.5597 0.5857 tidak
72 0.1165 0.0129 4.8334 3 0 1 1 72 0.0000 0.2846 0.1646 0 0 0 4 0.0000 0.7154 0.8354 tidak
73 0.1080 0.0120 3.6584 3 0 1 1 73 0.0000 0.7757 0.7188 0 1 1 3 0.0000 0.2243 0.2812 ya
74 0.1089 0.0117 3.0482 3 0 1 1 74 0.0000 0.7900 0.9019 0 1 1 3 0.0000 0.2100 0.0981 ya
75 0.1339 0.0088 4.9296 3 0 1 1 75 1.0000 0.5363 0.9924 1 1 1 0 -1.0000 0.4637 0.0076 tidak
76 0.1096 0.0129 3.4464 3 0 1 1 76 0.0000 0.6524 0.6002 0 1 1 3 0.0000 0.3476 0.3998 ya
77 0.1190 0.0135 3.9294 3 0 1 1 77 0.0000 0.4303 0.8478 0 0 1 ? 0.0000 0.5697 0.1522 tidak
78 0.1221 0.0118 4.6828 4 0 0 0 78 0.0808 0.3527 0.5920 0 0 1 ? -0.0808 -0.3527 -0.5920 tidak
79 0.1139 0.0134 5.6048 4 0 0 0 79 0.0000 0.0237 0.0402 0 0 0 4 0.0000 -0.0237 -0.0402 ya
80 0.1104 0.0132 3.9393 4 0 0 0 80 0.0000 0.4656 0.3504 0 0 0 4 0.0000 -0.4656 -0.3504 ya



128
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkat Ketuaan)
OUTPUT
(Tingkat Ketuaan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power
Spectral
Density
(W/Hz)
Tingkat
Ketuaan
Deskripsi
(bilangan
biner)
NO
Sebelum Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
81 0.1159 0.0086 5.2892 4 0 0 0 81 0.0002 0.3790 0.4225 0 0 0 4 -0.0002 -0.3790 -0.4225 ya
82 0.1165 0.0101 5.6327 4 0 0 0 82 0.0001 0.1883 0.3213 0 0 0 4 -0.0001 -0.1883 -0.3213 ya
83 0.1058 0.0131 3.1723 4 0 0 0 83 0.0000 0.3349 0.1937 0 0 0 4 0.0000 -0.3349 -0.1937 ya
84 0.1067 0.0138 3.4518 4 0 0 0 84 0.0000 0.2719 0.1065 0 0 0 4 0.0000 -0.2719 -0.1065 ya
85 0.1204 0.0129 5.8675 4 0 0 0 85 0.0053 0.0176 0.4107 0 0 0 4 -0.0053 -0.0176 -0.4107 ya
86 0.1085 0.0142 3.1723 4 0 0 0 86 0.0000 0.0894 0.0906 0 0 0 4 0.0000 -0.0894 -0.0906 ya
87 0.1126 0.0100 4.6107 4 0 0 0 87 0.0000 0.2059 0.4293 0 0 0 4 0.0000 -0.2059 -0.4293 ya
88 0.1111 0.0110 5.7933 4 0 0 0 88 0.0000 0.0440 0.1149 0 0 0 4 0.0000 -0.0440 -0.1149 ya
89 0.1061 0.0129 2.8869 4 0 0 0 89 0.0000 0.2185 0.2889 0 0 0 4 0.0000 -0.2185 -0.2889 ya
90 0.1123 0.0102 5.4262 4 0 0 0 90 0.0000 0.1644 0.2012 0 0 0 4 0.0000 -0.1644 -0.2012 ya
91 0.1202 0.0124 5.6522 4 0 0 0 91 0.0033 0.0687 0.2620 0 0 0 4 -0.0033 -0.0687 -0.2620 ya
92 0.1117 0.0130 4.5122 4 0 0 0 92 0.0000 0.2455 0.1298 0 0 0 4 0.0000 -0.2455 -0.1298 ya
Keterangan Jumlah Data Tidak Tepat 17
Tingkat Ketuaan 0 : (90~96 hari sbm) : (1 1 1) Ketepatan (%) 81.52
Tingkat Ketuaan 1 : (97~103 hari sbm) : (1 1 0)
Tingkat Ketuaan 2 : (104~110 hari sbm) : (1 0 1)
Tingkat Ketuaan 3 : (111~117 hari sbm) : (0 1 1)
Tingkat Ketuaan 4 : (118~124 hari sbm) : (0 0 0)



129
Lampiran 14 Data input dan target proses dan output validasi jaringan syaraf tiruan pada prediksi tingkat ketuaan atau umur petik buah
manggis dengan karakteristik gelombang ultrasonik

DATA VALIDASI HASIL VALIDASI
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkat Ketuaan)
OUTPUT
(Tingkat Ketuaan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Tingkat
Ketuaan
Deskripsi
(bilangan
biner)
NO
Sebelum Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
1 0.1318 0.0102 4.7769 0 1 1 1 1 1.0000 0.6212 0.9328 1 1 1 0 0.0000 0.3788 0.0672 ya
2 0.1388 0.0124 4.0687 0 1 1 1 2 1.0000 0.7970 0.8025 1 1 1 0 0.0000 0.2030 0.1975 ya
3 0.1413 0.0116 3.9595 0 1 1 1 3 1.0000 0.7266 0.9404 1 1 1 0 0.0000 0.2734 0.0596 ya
4 0.1361 0.0142 7.9507 1 1 1 0 4 1.0000 1.0000 0.4860 1 1 0 1 0.0000 0.0000 -0.4860 ya
5 0.1242 0.0133 5.1390 1 1 1 0 5 0.9248 0.5338 0.2107 1 1 0 1 0.0752 0.4662 -0.2107 ya
6 0.1274 0.0241 3.4220 1 1 1 0 6 0.8594 0.9830 0.0111 1 1 0 1 0.1406 0.0170 -0.0111 ya
7 0.1250 0.0131 3.8573 2 1 0 1 7 0.9866 0.3997 0.9735 1 0 1 2 0.0134 -0.3997 0.0265 ya
8 0.1242 0.0137 3.7819 2 1 0 1 8 0.6875 0.2757 0.9465 1 0 1 2 0.3125 -0.2757 0.0535 ya
9 0.1250 0.0114 5.5518 2 1 0 1 9 0.9980 0.2978 0.7128 1 0 1 2 0.0020 -0.2978 0.2872 ya
10 0.1218 0.0145 2.7334 3 0 1 1 10 1.0000 0.0059 0.8989 1 0 1 2 -1.0000 0.9941 0.1011 tidak
11 0.1206 0.0115 5.1454 3 0 1 1 11 0.0067 0.3423 0.2917 0 0 0 4 -0.0067 0.6577 0.7083 tidak
12 0.1250 0.0120 3.7139 3 0 1 1 12 0.9998 0.6853 0.9928 1 1 1 0 -0.9998 0.3147 0.0072 tidak
13 0.1178 0.0138 5.7803 4 0 0 0 13 0.0000 0.0097 0.1228 0 0 0 4 0.0000 -0.0097 -0.1228 ya
14 0.1088 0.0152 4.1425 4 0 0 0 14 0.0000 0.0895 0.0056 0 0 0 4 0.0000 -0.0895 -0.0056 ya
15 0.1176 0.0131 5.2431 4 0 0 0 15 0.0000 0.1949 0.0860 0 0 0 4 0.0000 -0.1949 -0.0860 ya
Keterangan Jumlah Data Tidak Tepat 3
Tingkat Ketuaan 0 : (90~96 hari sbm) : (1 1 1) Keakurasian (%) 80.00
Tingkat Ketuaan 1 : (97~103 hari sbm) : (1 1 0)
Tingkat Ketuaan 2 : (104~110 hari sbm) : (1 0 1)
Tingkat Ketuaan 3 : (111~117 hari sbm) : (0 1 1)
Tingkat Ketuaan 4 : (118~126 hari sbm) : (0 0 0)


130
Lampiran 15 Tahapan proses pembentukan dan running jaringan syaraf tiruan
pada prediksi tingkat ketuaan atau umur petik buah manggis
dengan karakteristik gelombang ultrasonik





131
Lanjutan






132
Lanjutan












133
Lanjutan


















134
Lanjutan








135
Lampiran 16 Data input dan target proses dan output pembelajaran jaringan syaraf tiruan pada prediksi tingkat kemanisan buah manggis
dengan karakteristik gelombang ultrasonik

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
1 0.1428 0.0194 3.0985 2.56 tidak manis ( 0 0 ) 1 0.0035 0.0004 ( 0 0 ) tidak manis -0.0035 -0.0004 ya
2 0.1344 0.0188 5.2230 9.18 tidak manis ( 0 0 ) 2 0.0807 0.3276 ( 0 0 ) tidak manis -0.0807 -0.3276 ya
3 0.1274 0.0241 3.4220 6.14 tidak manis ( 0 0 ) 3 0.0000 0.0615 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0615 ya
4 0.1265 0.0074 4.2738 5.41 tidak manis ( 0 0 ) 4 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.0000 ya
5 0.1210 0.0220 2.7081 5.11 tidak manis ( 0 0 ) 5 0.0000 0.2295 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.2295 ya
6 0.1286 0.0254 3.7872 7.19 tidak manis ( 0 0 ) 6 0.0000 0.0808 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0808 ya
7 0.1361 0.0142 7.9507 5.01 tidak manis ( 0 0 ) 7 0.6652 0.0697 ( 1 0 ) manis -0.6652 -0.0697 tdk
8 0.1269 0.0232 2.2860 4.13 tidak manis ( 0 0 ) 8 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.0000 ya
9 0.1175 0.0247 7.7275 3.47 tidak manis ( 0 0 ) 9 0.0678 0.0358 ( 0 0 ) tidak manis -0.0678 -0.0358 ya
10 0.1290 0.0202 3.4300 6.21 tidak manis ( 0 0 ) 10 0.0493 0.3871 ( 0 0 ) tidak manis -0.0493 -0.3871 ya
11 0.1294 0.0166 4.6181 5.32 tidak manis ( 0 0 ) 11 0.4967 0.1469 ( 0 0 ) tidak manis -0.4967 -0.1469 ya
12 0.1180 0.0170 6.7075 8.25 tidak manis ( 0 0 ) 12 0.0007 0.2083 ( 0 0 ) tidak manis -0.0007 -0.2083 ya
13 0.1275 0.0216 2.6150 6.10 tidak manis ( 0 0 ) 13 0.0000 0.0005 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0005 ya
14 0.1324 0.0187 3.5591 8.72 tidak manis ( 0 0 ) 14 0.1755 0.0645 ( 0 0 ) tidak manis -0.1755 -0.0645 ya
15 0.1352 0.0171 8.2133 4.82 tidak manis ( 0 0 ) 15 0.0532 0.2800 ( 0 0 ) tidak manis -0.0532 -0.2800 ya
16 0.1311 0.0184 7.2395 9.23 tidak manis ( 0 0 ) 16 0.0015 0.3269 ( 0 0 ) tidak manis -0.0015 -0.3269 ya
17 0.1346 0.0164 7.2408 8.38 tidak manis ( 0 0 ) 17 0.1607 0.2330 ( 0 0 ) tidak manis -0.1607 -0.2330 ya
18 0.1257 0.0172 3.0211 7.52 tidak manis ( 0 0 ) 18 0.0286 0.1757 ( 0 0 ) tidak manis -0.0286 -0.1757 ya
19 0.1379 0.0203 4.6108 4.88 tidak manis ( 0 0 ) 19 0.0664 0.1546 ( 0 0 ) tidak manis -0.0664 -0.1546 ya
20 0.1148 0.0190 5.6747 8.66 tidak manis ( 0 0 ) 20 0.0000 0.0125 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0125 ya



136
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
21 0.1352 0.0138 3.3345 7.12 tidak manis ( 0 0 ) 21 0.0000 0.4213 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.4213 ya
22 0.1135 0.0185 5.7816 7.50 tidak manis ( 0 0 ) 22 0.0000 0.0210 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0210 ya
23 0.1220 0.0162 9.8267 8.75 tidak manis ( 0 0 ) 23 0.0000 0.0013 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0013 ya
24 0.1322 0.0161 3.2507 7.75 tidak manis ( 0 0 ) 24 0.0001 0.3752 ( 0 0 ) tidak manis -0.0001 -0.3752 ya
25 0.1346 0.0188 7.1453 8.62 tidak manis ( 0 0 ) 25 0.0002 0.1425 ( 0 0 ) tidak manis -0.0002 -0.1425 ya
26 0.1290 0.0191 4.5503 7.18 tidak manis ( 0 0 ) 26 0.1094 0.3252 ( 0 0 ) tidak manis -0.1094 -0.3252 ya
27 0.1347 0.0203 5.9855 5.77 tidak manis ( 0 0 ) 27 0.0044 0.4281 ( 0 0 ) tidak manis -0.0044 -0.4281 ya
28 0.1259 0.0215 3.1295 7.26 tidak manis ( 0 0 ) 28 0.0000 0.4051 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.4051 ya
29 0.1379 0.0158 4.0123 2.31 tidak manis ( 0 0 ) 29 0.0004 0.1779 ( 0 0 ) tidak manis -0.0004 -0.1779 ya
30 0.1382 0.0238 6.0842 6.88 tidak manis ( 0 0 ) 30 0.0197 0.2166 ( 0 0 ) tidak manis -0.0197 -0.2166 ya
31 0.1386 0.0186 7.2163 8.93 tidak manis ( 0 0 ) 31 0.0044 0.2008 ( 0 0 ) tidak manis -0.0044 -0.2008 ya
32 0.1338 0.0131 2.4026 9.92 tidak manis ( 0 0 ) 32 0.0000 0.1184 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.1184 ya
33 0.1274 0.0179 4.7110 8.98 tidak manis ( 0 0 ) 33 0.0206 0.2593 ( 0 0 ) tidak manis -0.0206 -0.2593 ya
34 0.1418 0.0145 7.2963 8.91 tidak manis ( 0 0 ) 34 0.5500 0.1264 ( 1 0 ) manis -0.5500 -0.1264 tdk
35 0.1298 0.0104 3.5134 7.04 tidak manis ( 0 0 ) 35 0.0000 0.0685 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0685 ya
36 0.1682 0.0117 2.5235 6.12 tidak manis ( 0 0 ) 36 0.0039 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis -0.0039 0.0000 ya
37 0.1210 0.0181 8.9247 9.21 tidak manis ( 0 0 ) 37 0.0000 0.4018 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.4018 ya
38 0.1389 0.0185 8.4663 9.11 tidak manis ( 0 0 ) 38 0.0794 0.1470 ( 0 0 ) tidak manis -0.0794 -0.1470 ya
39 0.1135 0.0206 5.2341 9.31 tidak manis ( 0 0 ) 39 0.0000 0.1367 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.1367 ya
40 0.1276 0.0176 4.5224 9.22 tidak manis ( 0 0 ) 40 0.0205 0.1191 ( 0 0 ) tidak manis -0.0205 -0.1191 ya





137
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
41 0.1333 0.0120 8.3360 8.37 tidak manis ( 0 0 ) 41 0.1387 0.1025 ( 0 0 ) tidak manis -0.1387 -0.1025 ya
42 0.1354 0.0190 5.6188 7.98 tidak manis ( 0 0 ) 42 0.0903 0.1144 ( 0 0 ) tidak manis -0.0903 -0.1144 ya
43 0.1330 0.0138 4.5757 4.88 tidak manis ( 0 0 ) 43 0.1492 0.0277 ( 0 0 ) tidak manis -0.1492 -0.0277 ya
44 0.1240 0.0150 7.8340 8.99 tidak manis ( 0 0 ) 44 0.1900 0.3657 ( 0 0 ) tidak manis -0.1900 -0.3657 ya
45 0.1176 0.0246 6.2163 8.95 tidak manis ( 0 0 ) 45 0.0497 0.1039 ( 0 0 ) tidak manis -0.0497 -0.1039 ya
46 0.1181 0.0215 8.5990 9.31 tidak manis ( 0 0 ) 46 0.0000 0.0942 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0942 ya
47 0.1352 0.0130 8.4857 9.36 tidak manis ( 0 0 ) 47 0.0436 0.0968 ( 0 0 ) tidak manis -0.0436 -0.0968 ya
48 0.1411 0.0164 4.3097 9.95 tidak manis ( 0 0 ) 48 0.0059 0.0609 ( 0 0 ) tidak manis -0.0059 -0.0609 ya
49 0.1310 0.0182 7.0857 9.75 tidak manis ( 0 0 ) 49 0.0134 0.2444 ( 0 0 ) tidak manis -0.0134 -0.2444 ya
50 0.1272 0.0228 6.6343 9.77 tidak manis ( 0 0 ) 50 0.0000 0.3686 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.3686 ya
51 0.1118 0.0271 6.4156 9.77 tidak manis ( 0 0 ) 51 0.0138 0.0013 ( 0 0 ) tidak manis -0.0138 -0.0013 ya
52 0.1428 0.0134 7.8741 2.56 tidak manis ( 0 0 ) 52 0.2366 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis -0.2366 0.0000 ya
53 0.1388 0.0210 2.7528 8.88 tidak manis ( 0 0 ) 53 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.0000 ya
54 0.1413 0.0172 3.0217 4.11 tidak manis ( 0 0 ) 54 0.0129 0.0930 ( 0 0 ) tidak manis -0.0129 -0.0930 ya
55 0.1392 0.0233 2.8374 7.82 tidak manis ( 0 0 ) 55 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.0000 ya
56 0.1294 0.0170 2.5764 9.45 tidak manis ( 0 0 ) 56 0.0000 0.1573 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.1573 ya
57 0.1158 0.0202 7.7256 4.31 tidak manis ( 0 0 ) 57 0.0000 0.3180 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.3180 ya
58 0.1335 0.0080 8.2295 9.21 tidak manis ( 0 0 ) 58 0.0019 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis -0.0019 0.0000 ya
59 0.1320 0.0211 7.4217 8.01 tidak manis ( 0 0 ) 59 0.0000 0.4324 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.4324 ya
60 0.1399 0.0163 6.7597 8.13 tidak manis ( 0 0 ) 60 0.1054 0.3019 ( 0 0 ) tidak manis -0.1054 -0.3019 ya





138
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
61 0.1449 0.0176 2.6955 2.47 tidak manis ( 0 0 ) 61 0.0851 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis -0.0851 0.0000 ya
62 0.1171 0.0181 6.2354 8.89 tidak manis ( 0 0 ) 62 0.0000 0.0630 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.0630 ya
63 0.1221 0.0234 2.4922 5.06 tidak manis ( 0 0 ) 63 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.0000 ya
64 0.1221 0.0163 5.6051 9.12 tidak manis ( 0 0 ) 64 0.0223 0.0095 ( 0 0 ) tidak manis -0.0223 -0.0095 ya
65 0.1234 0.0214 4.6228 9.11 tidak manis ( 0 0 ) 65 0.0595 0.1503 ( 0 0 ) tidak manis -0.0595 -0.1503 ya
66 0.1187 0.0233 7.5785 12.38 agak manis ( 0 1 ) 66 0.0000 0.8139 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.1861 ya
67 0.1203 0.0183 9.2432 11.72 agak manis ( 0 1 ) 67 0.0000 0.7016 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.2984 ya
68 0.1302 0.0163 7.4299 13.38 agak manis ( 0 1 ) 68 0.1543 0.3765 ( 0 0 ) tidak manis -0.1543 0.6235 tdk
69 0.1374 0.0205 7.9911 11.12 agak manis ( 0 1 ) 69 0.0001 0.7406 ( 0 1 ) agak manis -0.0001 0.2594 ya
70 0.1412 0.0161 6.9413 10.39 agak manis ( 0 1 ) 70 0.1326 0.5728 ( 0 1 ) agak manis -0.1326 0.4272 ya
71 0.1365 0.0185 6.1637 11.18 agak manis ( 0 1 ) 71 0.3400 0.0561 ( 0 0 ) tidak manis -0.3400 0.9439 tdk
72 0.1330 0.0182 4.9220 11.31 agak manis ( 0 1 ) 72 0.3740 0.5604 ( 0 1 ) agak manis -0.3740 0.4396 ya
73 0.1374 0.0162 2.8314 10.77 agak manis ( 0 1 ) 73 0.0003 0.8433 ( 0 1 ) agak manis -0.0003 0.1567 ya
74 0.1297 0.0193 5.2474 11.14 agak manis ( 0 1 ) 74 0.1991 0.7742 ( 0 1 ) agak manis -0.1991 0.2258 ya
75 0.1180 0.0171 3.0415 12.77 agak manis ( 0 1 ) 75 0.0688 0.9472 ( 0 1 ) agak manis -0.0688 0.0528 ya
76 0.1294 0.0237 3.6818 12.61 agak manis ( 0 1 ) 76 0.0089 0.8952 ( 0 1 ) agak manis -0.0089 0.1048 ya
77 0.1333 0.0238 6.4582 10.97 agak manis ( 0 1 ) 77 0.0000 0.7609 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.2391 ya
78 0.1291 0.0191 4.8248 12.13 agak manis ( 0 1 ) 78 0.0745 0.6393 ( 0 1 ) agak manis -0.0745 0.3607 ya
79 0.1298 0.0206 3.4191 11.55 agak manis ( 0 1 ) 79 0.0826 0.5551 ( 0 1 ) agak manis -0.0826 0.4449 ya
80 0.1220 0.0085 8.8961 13.17 agak manis ( 0 1 ) 80 0.0393 0.9791 ( 0 1 ) agak manis -0.0393 0.0209 ya





139
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
81 0.1330 0.0238 5.9532 10.72 agak manis ( 0 1 ) 81 0.0000 0.8579 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.1421 ya
82 0.1291 0.0182 4.9373 13.28 agak manis ( 0 1 ) 82 0.3058 0.6553 ( 0 1 ) agak manis -0.3058 0.3447 ya
83 0.1291 0.0152 3.0583 11.11 agak manis ( 0 1 ) 83 0.0012 0.7300 ( 0 1 ) agak manis -0.0012 0.2700 ya
84 0.1225 0.0170 8.5335 13.07 agak manis ( 0 1 ) 84 0.0003 0.8415 ( 0 1 ) agak manis -0.0003 0.1585 ya
85 0.1330 0.0203 7.7185 11.21 agak manis ( 0 1 ) 85 0.0000 0.8089 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.1911 ya
86 0.1385 0.0161 7.7446 13.14 agak manis ( 0 1 ) 86 0.4624 0.7257 ( 0 1 ) agak manis -0.4624 0.2743 ya
87 0.1339 0.0217 4.7923 13.17 agak manis ( 0 1 ) 87 0.1162 0.6433 ( 0 1 ) agak manis -0.1162 0.3567 ya
88 0.1317 0.0191 6.5060 11.17 agak manis ( 0 1 ) 88 0.1442 0.3319 ( 0 0 ) tidak manis -0.1442 0.6681 tdk
89 0.1403 0.0160 8.4755 11.17 agak manis ( 0 1 ) 89 0.3867 0.7484 ( 0 1 ) agak manis -0.3867 0.2516 ya
90 0.1147 0.0224 4.5364 11.31 agak manis ( 0 1 ) 90 0.0000 0.9980 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.0020 ya
91 0.1429 0.0114 6.0496 13.23 agak manis ( 0 1 ) 91 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 1.0000 tdk
92 0.1351 0.0183 3.0794 13.14 agak manis ( 0 1 ) 92 0.0002 0.7515 ( 0 1 ) agak manis -0.0002 0.2485 ya
93 0.1301 0.0123 3.4299 10.97 agak manis ( 0 1 ) 93 0.0000 0.9380 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.0620 ya
94 0.1356 0.0132 3.4963 12.77 agak manis ( 0 1 ) 94 0.0000 0.2509 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.7491 tdk
95 0.1343 0.0209 6.7223 11.90 agak manis ( 0 1 ) 95 0.0000 0.7472 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.2528 ya
96 0.1195 0.0172 8.2212 10.97 agak manis ( 0 1 ) 96 0.0009 0.8386 ( 0 1 ) agak manis -0.0009 0.1614 ya
97 0.1206 0.0218 2.8772 10.12 agak manis ( 0 1 ) 97 0.0000 0.7199 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.2801 ya
98 0.1283 0.0216 3.2714 11.12 agak manis ( 0 1 ) 98 0.0000 0.6527 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.3473 ya
99 0.1156 0.0190 7.6543 11.95 agak manis ( 0 1 ) 99 0.0000 0.6373 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.3627 ya
100 0.1322 0.0193 7.7393 10.22 agak manis ( 0 1 ) 100 0.0000 0.7844 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.2156 ya





140
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
101 0.1346 0.0141 6.7860 12.91 agak manis ( 0 1 ) 101 0.2629 0.7279 ( 0 1 ) agak manis -0.2629 0.2721 ya
102 0.1435 0.0175 4.9123 10.86 agak manis ( 0 1 ) 102 0.1445 0.0032 ( 0 0 ) tidak manis -0.1445 0.9968 tdk
103 0.1284 0.0250 5.7564 10.98 agak manis ( 0 1 ) 103 0.0161 0.9692 ( 0 1 ) agak manis -0.0161 0.0308 ya
104 0.1228 0.0174 6.4657 12.72 agak manis ( 0 1 ) 104 0.0532 0.5853 ( 0 1 ) agak manis -0.0532 0.4147 ya
105 0.1353 0.0190 8.5245 10.92 agak manis ( 0 1 ) 105 0.0000 0.8591 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.1409 ya
106 0.1324 0.0225 6.0163 13.79 agak manis ( 0 1 ) 106 0.0000 0.9217 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.0783 ya
107 0.1283 0.0217 6.6378 12.33 agak manis ( 0 1 ) 107 0.0000 0.5456 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.4544 ya
108 0.1241 0.0194 3.4909 10.35 agak manis ( 0 1 ) 108 0.0010 0.7117 ( 0 1 ) agak manis -0.0010 0.2883 ya
109 0.1215 0.0105 7.8901 10.11 agak manis ( 0 1 ) 109 0.0000 0.8868 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.1132 ya
110 0.1346 0.0186 5.8945 15.17 manis ( 1 0 ) 110 0.6975 0.1193 ( 1 0 ) manis 0.3025 -0.1193 ya
111 0.1483 0.0163 7.7568 16.63 manis ( 1 0 ) 111 1.0000 0.0672 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.0672 ya
112 0.1417 0.0092 9.0270 14.39 manis ( 1 0 ) 112 0.9967 0.0000 ( 1 0 ) manis 0.0033 0.0000 ya
113 0.1491 0.0174 3.3367 15.22 manis ( 1 0 ) 113 0.9835 0.0000 ( 1 0 ) manis 0.0165 0.0000 ya
114 0.1256 0.0177 6.3480 16.77 manis ( 1 0 ) 114 0.8135 0.5648 ( 1 1 ) sangat manis 0.1865 -0.5648 tdk
115 0.1336 0.0139 6.0135 14.45 manis ( 1 0 ) 115 0.8897 0.0934 ( 1 0 ) manis 0.1103 -0.0934 ya
116 0.1338 0.0155 8.1515 16.11 manis ( 1 0 ) 116 0.6863 0.1421 ( 1 0 ) manis 0.3137 -0.1421 ya
117 0.1378 0.0173 6.2745 16.21 manis ( 1 0 ) 117 0.7208 0.0539 ( 1 0 ) manis 0.2792 -0.0539 ya
118 0.1363 0.0141 7.7043 14.35 manis ( 1 0 ) 118 0.7828 0.0935 ( 1 0 ) manis 0.2172 -0.0935 ya
119 0.1403 0.0160 4.7339 15.14 manis ( 1 0 ) 119 0.9271 0.0053 ( 1 0 ) manis 0.0729 -0.0053 ya
120 0.1482 0.0154 3.4839 18.07 manis ( 1 0 ) 120 0.9398 0.0000 ( 1 0 ) manis 0.0602 0.0000 ya





141
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
121 0.1381 0.0136 7.4363 15.17 manis ( 1 0 ) 121 0.8062 0.0176 ( 1 0 ) manis 0.1938 -0.0176 ya
122 0.1323 0.0187 3.9517 15.83 manis ( 1 0 ) 122 0.7150 0.0346 ( 1 0 ) manis 0.2850 -0.0346 ya
123 0.1191 0.0135 8.2638 16.05 manis ( 1 0 ) 123 0.9168 0.1958 ( 1 0 ) manis 0.0832 -0.1958 ya
124 0.1315 0.0209 9.5172 15.11 manis ( 1 0 ) 124 0.9704 0.0004 ( 1 0 ) manis 0.0296 -0.0004 ya
125 0.1292 0.0221 4.5202 17.32 manis ( 1 0 ) 125 0.9806 0.3977 ( 1 0 ) manis 0.0194 -0.3977 ya
126 0.1386 0.0202 4.0328 17.28 manis ( 1 0 ) 126 0.8942 0.0833 ( 1 0 ) manis 0.1058 -0.0833 ya
127 0.1393 0.0235 4.3311 16.53 manis ( 1 0 ) 127 0.9546 0.0487 ( 1 0 ) manis 0.0454 -0.0487 ya
128 0.1312 0.0189 5.1777 17.02 manis ( 1 0 ) 128 0.4077 0.7095 ( 0 1 ) agak manis 0.5923 -0.7095 tdk
129 0.1398 0.0153 7.5213 17.61 manis ( 1 0 ) 129 0.5376 0.7727 ( 1 1 ) sangat manis 0.4624 -0.7727 tdk
130 0.1443 0.0147 7.2448 14.23 manis ( 1 0 ) 130 0.6606 0.0312 ( 1 0 ) manis 0.3394 -0.0312 ya
131 0.1399 0.0166 8.6719 14.45 manis ( 1 0 ) 131 0.7636 0.1893 ( 1 0 ) manis 0.2364 -0.1893 ya
132 0.1451 0.0185 6.6123 14.17 manis ( 1 0 ) 132 0.9997 0.0132 ( 1 0 ) manis 0.0003 -0.0132 ya
133 0.1491 0.0191 3.5106 14.37 manis ( 1 0 ) 133 0.9518 0.0000 ( 1 0 ) manis 0.0482 0.0000 ya
134 0.1159 0.0257 7.0899 14.28 manis ( 1 0 ) 134 0.9307 0.0049 ( 1 0 ) manis 0.0693 -0.0049 ya
135 0.1289 0.0166 5.7614 14.11 manis ( 1 0 ) 135 0.9955 0.2465 ( 1 0 ) manis 0.0045 -0.2465 ya
136 0.1307 0.0150 4.6934 15.95 manis ( 1 0 ) 136 0.9699 0.0625 ( 1 0 ) manis 0.0301 -0.0625 ya
137 0.1143 0.0119 6.4030 16.95 manis ( 1 0 ) 137 0.9996 0.1204 ( 1 0 ) manis 0.0004 -0.1204 ya
138 0.1085 0.0142 3.1723 17.72 manis ( 1 0 ) 138 0.9905 0.3634 ( 1 0 ) manis 0.0095 -0.3634 ya
139 0.1349 0.0231 7.8090 14.45 manis ( 1 0 ) 139 0.9995 0.1758 ( 1 0 ) manis 0.0005 -0.1758 ya
140 0.1325 0.0150 7.7043 16.92 manis ( 1 0 ) 140 0.6773 0.2226 ( 1 0 ) manis 0.3227 -0.2226 ya





142
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
141 0.1086 0.0123 3.0575 17.22 manis ( 1 0 ) 141 0.9999 0.4643 ( 1 0 ) manis 0.0001 -0.4643 ya
142 0.1399 0.0157 6.0301 16.75 manis ( 1 0 ) 142 0.9850 0.0366 ( 1 0 ) manis 0.0150 -0.0366 ya
143 0.1381 0.0131 7.7043 17.82 manis ( 1 0 ) 143 0.7053 0.0006 ( 1 0 ) manis 0.2947 -0.0006 ya
144 0.1178 0.0138 5.7803 17.79 manis ( 1 0 ) 144 0.9981 0.1005 ( 1 0 ) manis 0.0019 -0.1005 ya
145 0.1139 0.0134 5.6048 17.99 manis ( 1 0 ) 145 1.0000 0.1443 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.1443 ya
146 0.1206 0.0115 5.1454 17.85 manis ( 1 0 ) 146 0.9998 0.1508 ( 1 0 ) manis 0.0002 -0.1508 ya
147 0.1202 0.0124 5.6522 17.09 manis ( 1 0 ) 147 0.9983 0.4976 ( 1 0 ) manis 0.0017 -0.4976 ya
148 0.1190 0.0135 3.9294 17.57 manis ( 1 0 ) 148 1.0000 0.0665 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.0665 ya
149 0.1117 0.0130 4.5122 16.81 manis ( 1 0 ) 149 1.0000 0.2006 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.2006 ya
150 0.1154 0.0076 5.0661 17.79 manis ( 1 0 ) 150 0.9780 0.0009 ( 1 0 ) manis 0.0220 -0.0009 ya
151 0.1159 0.0086 5.2892 17.82 manis ( 1 0 ) 151 0.9753 0.0517 ( 1 0 ) manis 0.0247 -0.0517 ya
152 0.1364 0.0118 8.9148 16.85 manis ( 1 0 ) 152 0.8793 0.0008 ( 1 0 ) manis 0.1207 -0.0008 ya
153 0.1296 0.0159 4.4373 17.99 manis ( 1 0 ) 153 0.6131 0.0518 ( 1 0 ) manis 0.3869 -0.0518 ya
154 0.1152 0.0126 5.6356 18.82 sangat manis ( 1 1 ) 154 1.0000 0.6500 ( 1 1 ) sangat manis 0.0000 0.3500 ya
155 0.1080 0.0120 3.6584 18.35 sangat manis ( 1 1 ) 155 1.0000 0.9216 ( 1 1 ) sangat manis 0.0000 0.0784 ya
156 0.1390 0.0235 8.1475 20.92 sangat manis ( 1 1 ) 156 1.0000 0.9230 ( 1 1 ) sangat manis 0.0000 0.0770 ya
157 0.1408 0.0149 7.8350 21.75 sangat manis ( 1 1 ) 157 0.5910 0.6918 ( 1 1 ) sangat manis 0.4090 0.3082 ya
158 0.1089 0.0117 3.0482 19.41 sangat manis ( 1 1 ) 158 0.9946 0.7735 ( 1 1 ) sangat manis 0.0054 0.2265 ya
159 0.1292 0.0177 4.9681 20.99 sangat manis ( 1 1 ) 159 0.6472 0.5533 ( 1 1 ) sangat manis 0.3528 0.4467 ya
160 0.1126 0.0100 4.6107 20.05 sangat manis ( 1 1 ) 160 0.9992 0.9385 ( 1 1 ) sangat manis 0.0008 0.0615 ya





143
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
161 0.1265 0.0221 3.9438 21.11 sangat manis ( 1 1 ) 161 0.8520 0.8976 ( 1 1 ) sangat manis 0.1480 0.1024 ya
162 0.1058 0.0131 3.1723 19.11 sangat manis ( 1 1 ) 162 0.9683 0.4212 ( 1 0 ) manis 0.0317 0.5788 tdk
163 0.1204 0.0129 5.8675 19.17 sangat manis ( 1 1 ) 163 0.9716 0.5560 ( 1 1 ) sangat manis 0.0284 0.4440 ya
164 0.1223 0.0141 3.5523 20.14 sangat manis ( 1 1 ) 164 0.9878 0.7085 ( 1 1 ) sangat manis 0.0122 0.2915 ya
165 0.1402 0.0167 8.0273 21.72 sangat manis ( 1 1 ) 165 0.7412 0.8578 ( 1 1 ) sangat manis 0.2588 0.1422 ya
166 0.1123 0.0102 5.4262 18.14 sangat manis ( 1 1 ) 166 0.9975 0.9937 ( 1 1 ) sangat manis 0.0025 0.0063 ya
167 0.1145 0.0228 5.0044 22.17 sangat manis ( 1 1 ) 167 0.0000 0.9226 ( 0 1 ) agak manis 1.0000 0.0774 tdk
168 0.1283 0.0242 4.8807 21.26 sangat manis ( 1 1 ) 168 0.9978 0.8546 ( 1 1 ) sangat manis 0.0022 0.1454 ya
169 0.1253 0.0143 8.2323 21.14 sangat manis ( 1 1 ) 169 0.8844 0.6663 ( 1 1 ) sangat manis 0.1156 0.3337 ya
170 0.1088 0.0152 4.1425 20.12 sangat manis ( 1 1 ) 170 1.0000 0.9366 ( 1 1 ) sangat manis 0.0000 0.0634 ya
Keterangan Jumlah Data Tidak Tepat 13
Total Gula 10.06 : tidak manis : ( 0 0 ) Ketepatan (%) 92.35
10.06 < Total Gula 14.10 : agak manis : ( 0 1 )
14.10 < Total Gula 18.13 : manis : ( 1 0 )
Total Gula 18.13 : sangat manis : ( 1 1 )



144
Lampiran 17 Data input dan target proses dan output validasi jaringan syaraf tiruan pada prediksi tingkat kemanisan buah manggis
dengan karakteristik gelombang ultrasonik

DATA VALIDASI HASIL VALIDASI
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
1 0.1315 0.0262 2.8781 7.83 tidak manis ( 0 0 ) 1 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.0000 ya
2 0.1278 0.0180 4.0783 8.74 tidak manis ( 0 0 ) 2 0.0685 0.0177 ( 0 0 ) tidak manis -0.0685 -0.0177 ya
3 0.1365 0.0139 9.0163 9.94 tidak manis ( 0 0 ) 3 0.0128 0.3114 ( 0 0 ) tidak manis -0.0128 -0.3114 ya
4 0.1236 0.0205 5.2591 8.56 tidak manis ( 0 0 ) 4 0.0001 0.1907 ( 0 0 ) tidak manis -0.0001 -0.1907 ya
5 0.1265 0.0195 3.1963 8.22 tidak manis ( 0 0 ) 5 0.0000 0.2866 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.2866 ya
6 0.1171 0.0181 6.4058 8.35 tidak manis ( 0 0 ) 6 0.0000 0.1354 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 -0.1354 ya
7 0.1287 0.0238 2.9600 7.91 tidak manis ( 0 0 ) 7 0.0000 0.0000 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.0000 ya
8 0.1349 0.0164 8.7785 9.03 tidak manis ( 0 0 ) 8 0.0027 0.3275 ( 0 0 ) tidak manis -0.0027 -0.3275 ya
9 0.1356 0.0210 7.8440 13.35 agak manis ( 0 1 ) 9 0.0000 0.8300 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.1700 ya
10 0.1454 0.0179 4.6007 13.85 agak manis ( 0 1 ) 10 0.0289 0.0175 ( 0 0 ) tidak manis -0.0289 0.9825 tdk
11 0.1159 0.0181 8.0714 13.03 agak manis ( 0 1 ) 11 0.0000 0.4068 ( 0 0 ) tidak manis 0.0000 0.5932 tdk
12 0.1195 0.0214 7.9299 12.81 agak manis ( 0 1 ) 12 0.0000 0.8040 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.1960 ya
13 0.1348 0.0204 6.4222 10.15 agak manis ( 0 1 ) 13 0.0009 0.5871 ( 0 1 ) agak manis -0.0009 0.4129 ya
14 0.1178 0.0203 7.7482 13.01 agak manis ( 0 1 ) 14 0.0000 0.6760 ( 0 1 ) agak manis 0.0000 0.3240 ya
15 0.1406 0.0223 3.9517 17.72 manis ( 1 0 ) 15 0.7278 0.0145 ( 1 0 ) manis 0.2722 -0.0145 ya
16 0.1165 0.0129 4.8334 17.95 manis ( 1 0 ) 16 1.0000 0.1216 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.1216 ya
17 0.1176 0.0131 5.2431 16.75 manis ( 1 0 ) 17 1.0000 0.2437 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.2437 ya
18 0.1276 0.0151 4.7339 17.04 manis ( 1 0 ) 18 0.7044 0.0316 ( 1 0 ) manis 0.2956 -0.0316 ya
19 0.1454 0.0195 7.3340 16.35 manis ( 1 0 ) 19 1.0000 0.0040 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.0040 ya
20 0.1352 0.0163 6.5918 16.12 manis ( 1 0 ) 20 0.7629 0.1860 ( 1 0 ) manis 0.2371 -0.1860 ya



145
Lanjutan

DATA VALIDASI HASIL VALIDASI
INPUT
(Karakteristik Gel. Ultrasonik)
TARGET
(Tingkkat Kemanisan)
OUTPUT
(Tingkat Kemanisan)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Total
Gula
(g/100g)
Tingkat
Kemanisan
Deskripsi
(bilangan
biner
NO
Sebelum
Pembulatan
(bilangan biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Tingkat
Ketuaan
ERROR TEPAT
21 0.1459 0.0172 6.4357 17.11 manis ( 1 0 ) 21 0.9404 0.0235 ( 1 0 ) manis 0.0596 -0.0235 ya
22 0.1221 0.0118 4.6828 18.01 manis ( 1 0 ) 22 0.9992 0.0294 ( 1 0 ) manis 0.0008 -0.0294 ya
23 0.1460 0.0197 7.4363 17.35 manis ( 1 0 ) 23 1.0000 0.0027 ( 1 0 ) manis 0.0000 -0.0027 ya
24 0.1165 0.0101 5.6327 18.76 sangat manis ( 1 1 ) 24 0.9314 0.5812 ( 1 1 ) sangat manis 0.0686 0.4188 ya
25 0.1139 0.0096 5.2031 18.17 sangat manis ( 1 1 ) 25 0.9935 0.9013 ( 1 1 ) sangat manis 0.0065 0.0987 ya
26 0.1067 0.0138 3.4518 18.83 sangat manis ( 1 1 ) 26 1.0000 0.6850 ( 1 1 ) sangat manis 0.0000 0.3150 ya
27 0.1104 0.0132 3.9393 18.85 sangat manis ( 1 1 ) 27 1.0000 0.4624 ( 1 0 ) manis 0.0000 0.5376 tdk
28 0.1111 0.0110 5.7933 19.15 sangat manis ( 1 1 ) 28 1.0000 0.9918 ( 1 1 ) sangat manis 0.0000 0.0082 ya
29 0.1061 0.0129 2.8869 19.11 sangat manis ( 1 1 ) 29 0.0010 0.4351 ( 0 0 ) tidak manis 0.9990 0.5649 tdk
30 0.1096 0.0129 3.4464 19.25 sangat manis ( 1 1 ) 30 1.0000 0.3586 ( 1 0 ) manis 0.0000 0.6414 tdk
Keterangan Jumlah Data Tidak Tepat 5
Total Gula 10.06 : tidak manis : ( 0 0 ) Keakurasian (%) 83.33
10.06 < Total Gula 14.10 : agak manis : ( 0 1 )
14.10 < Total Gula 18.13 : manis : ( 1 0 )
Total Gula 18.13 : sangat manis : ( 1 1 )









146
Lampiran 18 Tahapan proses pembentukan dan running jaringan syaraf tiruan
pada prediksi tingkat kemanisan buah manggis dengan karakteristik
gelombang ultrasonik










147
Lanjutan














148
Lanjutan















149
Lanjutan











150
Lanjutan











151
Lanjutan






152
Lampiran 19 Data input dan target proses dan output pembelajaran jaringan syaraf tiruan pada prediksi buah manggis rusak dengan
karakteristik gelombang ultrasonik

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT OUTPUT
Nilai Real Nilai Penormalan
TARGET
(Kondisi Manggis)
NO

Kecepatan
Rambat(m
m/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kondisi
Buah
Manggis
Deskripsi
(bilangan
biner)
Sebelum
Pembulatan
(bilangan
biner)
(bilangan
biner)
Kondisi
Buah
Manggis
ERROR TEPAT
1 0.1281 0.0197 2.7461 0.2678 0.6720 0.0527 rusak ( 1 ) 0.9981 ( 1 ) rusak 0.0019 ya
2 0.1174 0.0196 6.3351 0.1443 0.6635 0.6039 rusak ( 1 ) 0.9460 ( 1 ) rusak 0.0540 ya
3 0.1310 0.0184 7.2395 0.3023 0.6019 0.7427 tdk rusak ( 0 ) 0.0059 ( 0 ) tdk rusak -0.0059 ya
4 0.1359 0.0130 8.5288 0.3594 0.3314 0.9407 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
5 0.1300 0.0172 7.7393 0.2904 0.5431 0.8195 rusak ( 1 ) 0.9808 ( 1 ) rusak 0.0192 ya
6 0.1387 0.0210 2.7528 0.3918 0.7340 0.0538 tdk rusak ( 0 ) 0.0097 ( 0 ) tdk rusak -0.0097 ya
7 0.1351 0.0138 3.3345 0.3500 0.3681 0.1431 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
8 0.1313 0.0182 4.5888 0.3053 0.5913 0.3357 rusak ( 1 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 1.0000 tidak
9 0.1374 0.0132 8.1233 0.3768 0.3399 0.8785 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
10 0.1378 0.0173 6.9144 0.3807 0.5479 0.6928 rusak ( 1 ) 0.4502 ( 0 ) tdk rusak 0.5498 tidak
11 0.1273 0.0179 4.7110 0.2594 0.5791 0.3545 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
12 0.1368 0.0154 7.3340 0.3692 0.4503 0.7573 rusak ( 1 ) 0.9978 ( 1 ) rusak 0.0022 ya
13 0.1277 0.0180 4.0783 0.2640 0.5817 0.2573 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
14 0.1340 0.0181 6.3480 0.3372 0.5904 0.6058 rusak ( 1 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 1.0000 tidak
15 0.1234 0.0214 4.6228 0.2137 0.7564 0.3409 tdk rusak ( 0 ) 0.0003 ( 0 ) tdk rusak -0.0003 ya
16 0.1050 0.0207 4.4728 0.0000 0.7211 0.3179 rusak ( 1 ) 0.9999 ( 1 ) rusak 0.0001 ya
17 0.1475 0.0188 4.4952 0.4935 0.6258 0.3213 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
18 0.1257 0.0172 3.0211 0.2405 0.5413 0.0950 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
19 0.1148 0.0190 5.6747 0.1138 0.6340 0.5025 tdk rusak ( 0 ) 0.0014 ( 0 ) tdk rusak -0.0014 ya
20 0.1312 0.0189 7.9570 0.3040 0.6293 0.8529 rusak ( 1 ) 0.9808 ( 1 ) rusak 0.0192 ya


153
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT OUTPUT
Nilai Real Nilai Penormalan
TARGET
(Kondisi Manggis)
NO

Kecepatan
Rambat(m
m/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kondisi
Buah
Manggis
Deskripsi
(bilangan
biner)
Sebelum
Pembulatan
(bilangan
biner)
(bilangan
biner)
Kondisi
Buah
Manggis
ERROR TEPAT
21 0.1537 0.0173 6.5070 0.5652 0.5460 0.6303 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
22 0.1804 0.0207 4.1360 0.8756 0.7224 0.2662 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
23 0.1135 0.0206 5.2341 0.0988 0.7136 0.4348 tdk rusak ( 0 ) 0.0694 ( 0 ) tdk rusak -0.0694 ya
24 0.1399 0.0163 6.7597 0.4056 0.4990 0.6691 tdk rusak ( 0 ) 0.2703 ( 0 ) tdk rusak -0.2703 ya
25 0.1911 0.0159 4.4591 1.0000 0.4768 0.3158 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
26 0.1338 0.0131 2.4026 0.3340 0.3335 0.0000 tdk rusak ( 0 ) 0.0002 ( 0 ) tdk rusak -0.0002 ya
27 0.1307 0.0214 4.3097 0.2986 0.7567 0.2929 rusak ( 1 ) 0.7762 ( 1 ) rusak 0.2238 ya
28 0.1298 0.0201 3.2959 0.2878 0.6902 0.1372 rusak ( 1 ) 0.9958 ( 1 ) rusak 0.0042 ya
29 0.1479 0.0147 8.9148 0.4980 0.4180 1.0000 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
30 0.1236 0.0205 5.2591 0.2160 0.7100 0.4386 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
31 0.1452 0.0198 4.0707 0.4671 0.6756 0.2561 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
32 0.1386 0.0181 7.7015 0.3907 0.5899 0.8137 rusak ( 1 ) 0.9714 ( 1 ) rusak 0.0286 ya
33 0.1111 0.0216 4.9378 0.0705 0.7644 0.3893 rusak ( 1 ) 0.9719 ( 1 ) rusak 0.0281 ya
34 0.1322 0.0240 5.4976 0.3152 0.8880 0.4753 rusak ( 1 ) 0.8765 ( 1 ) rusak 0.1235 ya
35 0.1391 0.0233 2.8374 0.3966 0.8551 0.0668 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
36 0.1321 0.0161 3.2507 0.3152 0.4883 0.1302 tdk rusak ( 0 ) 0.0504 ( 0 ) tdk rusak -0.0504 ya
37 0.1454 0.0178 6.6889 0.4689 0.5713 0.6582 rusak ( 1 ) 0.9215 ( 1 ) rusak 0.0785 ya
38 0.1647 0.0236 4.2371 0.6938 0.8690 0.2817 rusak ( 1 ) 0.9438 ( 1 ) rusak 0.0562 ya
39 0.1287 0.0238 2.9600 0.2752 0.8804 0.0856 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
40 0.1393 0.0103 4.0782 0.3980 0.1920 0.2573 rusak ( 1 ) 0.9974 ( 1 ) rusak 0.0026 ya



154
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT OUTPUT
Nilai Real Nilai Penormalan
TARGET
(Kondisi Manggis)
NO

Kecepatan
Rambat(m
m/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kondisi
Buah
Manggis
Deskripsi
(bilangan
biner)
Sebelum
Pembulatan
(bilangan
biner)
(bilangan
biner)
Kondisi
Buah
Manggis
ERROR TEPAT
41 0.1276 0.0102 3.5652 0.2629 0.1867 0.1785 rusak ( 1 ) 0.8488 ( 1 ) rusak 0.1512 ya
42 0.1259 0.0215 3.1295 0.2427 0.7627 0.1116 tdk rusak ( 0 ) 0.1901 ( 0 ) tdk rusak -0.1901 ya
43 0.1342 0.0110 5.7738 0.3387 0.2269 0.5177 rusak ( 1 ) 0.9996 ( 1 ) rusak 0.0004 ya
44 0.1399 0.0113 3.8233 0.4052 0.2407 0.2182 rusak ( 1 ) 0.9918 ( 1 ) rusak 0.0082 ya
45 0.1337 0.0101 6.9269 0.3328 0.1833 0.6947 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
46 0.1301 0.0110 5.5058 0.2913 0.2286 0.4765 rusak ( 1 ) 0.9714 ( 1 ) rusak 0.0286 ya
47 0.1381 0.0238 6.0842 0.3849 0.8763 0.5653 tdk rusak ( 0 ) 0.1427 ( 0 ) tdk rusak -0.1427 ya
48 0.1393 0.0104 4.5426 0.3980 0.1963 0.3286 rusak ( 1 ) 0.9970 ( 1 ) rusak 0.0030 ya
49 0.1286 0.0254 3.7872 0.2740 0.9607 0.2126 tdk rusak ( 0 ) 0.0405 ( 0 ) tdk rusak -0.0405 ya
50 0.1418 0.0120 3.3530 0.4275 0.2786 0.1459 rusak ( 1 ) 0.9998 ( 1 ) rusak 0.0002 ya
51 0.1345 0.0107 3.7958 0.3424 0.2135 0.2139 rusak ( 1 ) 0.9117 ( 1 ) rusak 0.0883 ya
52 0.1287 0.0080 3.7112 0.2752 0.0732 0.2009 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
53 0.1367 0.0104 4.8438 0.3683 0.1960 0.3749 rusak ( 1 ) 0.9958 ( 1 ) rusak 0.0042 ya
54 0.1290 0.0191 4.5503 0.2783 0.6392 0.3298 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
55 0.1423 0.0097 3.3020 0.4336 0.1611 0.1381 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
56 0.1393 0.0108 3.7280 0.3980 0.2188 0.2035 rusak ( 1 ) 0.9947 ( 1 ) rusak 0.0053 ya
57 0.1322 0.0106 3.0533 0.3159 0.2080 0.0999 rusak ( 1 ) 0.9293 ( 1 ) rusak 0.0707 ya
58 0.1346 0.0188 7.1453 0.3437 0.6226 0.7283 tdk rusak ( 0 ) 0.0080 ( 0 ) tdk rusak -0.0080 ya
59 0.1420 0.0111 2.9770 0.4295 0.2324 0.0882 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
60 0.1403 0.0111 3.4417 0.4099 0.2310 0.1596 rusak ( 1 ) 0.9964 ( 1 ) rusak 0.0036 ya



155
Lanjutan

DATA PEMBELAJARAN HASIL PEMBELAJARAN
INPUT OUTPUT
Nilai Real Nilai Penormalan
TARGET
(Kondisi Manggis)
NO

Kecepatan
Rambat(m
m/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kondisi
Buah
Manggis
Deskripsi
(bilangan
biner)
Sebelum
Pembulatan
(bilangan
biner)
(bilangan
biner)
Kondisi
Buah
Manggis
ERROR TEPAT
61 0.1298 0.0104 3.5134 0.2878 0.1944 0.1706 tdk rusak ( 0 ) 0.2221 ( 0 ) tdk rusak -0.2221 ya
62 0.1299 0.0085 3.0430 0.2888 0.1020 0.0983 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
63 0.1239 0.0105 2.7219 0.2193 0.2002 0.0490 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
64 0.1406 0.0065 6.3958 0.4136 0.0000 0.6132 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
65 0.1425 0.0109 3.2251 0.4354 0.2245 0.1263 rusak ( 1 ) 0.9998 ( 1 ) rusak 0.0002 ya
66 0.1180 0.0170 6.7075 0.1509 0.5306 0.6611 tdk rusak ( 0 ) 0.0366 ( 0 ) tdk rusak -0.0366 ya
67 0.1351 0.0074 5.9124 0.3494 0.0437 0.5390 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
68 0.1344 0.0087 6.5390 0.3409 0.1107 0.6352 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
69 0.1418 0.0119 3.3147 0.4276 0.2706 0.1401 rusak ( 1 ) 0.9998 ( 1 ) rusak 0.0002 ya
70 0.1386 0.0186 7.2163 0.3906 0.6136 0.7392 tdk rusak ( 0 ) 0.3844 ( 0 ) tdk rusak -0.3844 ya
Keterangan Jumlah Data Tidak Tepat 3
( 0 ) : buah manggis tidak rusak Ketepatan (%) 95.71
( 1 ) : buah manggis rusak


156
Lampiran 20 Data input dan target proses dan output validasi jaringan syaraf tiruan pada prediksi buah manggis rusak dengan
karakteristik gelombang ultrasonik

DATA VALIDASI HASIL VALIDASI
INPUT OUTPUT
Nilai Real Nilai Penormalan
TARGET
(Kondisi Manggis)
NO
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kecepatan
Rambat
(mm/s)
Koefisien
Atenuasi
(Np/mm)
Power S.
Density
(W/Hz)
Kondisi
Buah
Manggis
Deskripsi
(bilangan
biner)
Sebelum
Pembulatan
(bilangan
biner)
Pembulatan
(bilangan
biner)
Kondisi
Buah
Manggis
ERROR TEPAT
1 0.1320 0.0211 7.4217 0.3137 0.7393 0.7707 tdk rusak ( 0 ) 0.0014 ( 0 ) tdk rusak -0.0014 ya
2 0.1439 0.0179 5.2181 0.4517 0.5771 0.4323 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
3 0.1424 0.0187 7.6971 0.4349 0.6202 0.8130 rusak ( 1 ) 0.9846 ( 1 ) rusak 0.0154 ya
4 0.1265 0.0195 3.1963 0.2499 0.6587 0.1219 tdk rusak ( 0 ) 0.9987 ( 1 ) rusak -0.9987 tidak
5 0.1457 0.0127 3.1232 0.4722 0.3116 0.1107 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
6 0.1466 0.0203 5.6587 0.4831 0.7009 0.5000 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
7 0.1364 0.0079 8.3038 0.3651 0.0674 0.9062 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
8 0.1221 0.0163 5.6051 0.1985 0.4956 0.4918 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
9 0.1412 0.0154 6.8619 0.4207 0.4523 0.6848 rusak ( 1 ) 0.9982 ( 1 ) rusak 0.0018 ya
10 0.1715 0.0171 3.3513 0.7729 0.5361 0.1457 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
11 0.1393 0.0088 6.6119 0.3989 0.1172 0.6464 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
12 0.1315 0.0262 2.8781 0.3075 1.0000 0.0730 tdk rusak ( 0 ) 0.0000 ( 0 ) tdk rusak 0.0000 ya
13 0.1354 0.0100 6.6967 0.3530 0.1788 0.6594 rusak ( 1 ) 1.0000 ( 1 ) rusak 0.0000 ya
14 0.1135 0.0185 5.7816 0.0988 0.6112 0.5189 tdk rusak ( 0 ) 0.0250 ( 0 ) tdk rusak -0.0250 ya
15 0.1357 0.0095 5.0228 0.3565 0.1511 0.4024 rusak ( 1 ) 0.9979 ( 1 ) rusak 0.0021 ya
Keterangan Jumlah Data Tidak Tepat 1
( 0 ) : buah manggis tidak rusak Ketepatan (%) 93.33
( 1 ) : buah manggis rusak



157
Lampiran 21 Tahapan proses pembentukan dan running jaringan syaraf tiruan
pada prediksi buah manggis rusak dengan karakteristik gelombang
ultrasonik
















158
Lanjutan














159
Lanjutan














160
Lanjutan














161
Lanjutan