Anda di halaman 1dari 10

TUGAS AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK REGULASI TENTANG YAYASAN

Anggota Kelompok : Eltanin Rahayu Putri Gavrilo Sinaga Sri Hanna Raisa B.S Klemen Bayu Pratama 1106060955 1106075300 1106075401 1106075641

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA

REGULASI TENTANG YAYASAN


1. PENGERTIAN YAYASAN Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan yayasan sebagai badan hukum yang tidak mempunyai anggota, dikelola oleh sebuah pengurus, dan didirikan untuk tujuan sosial (mengusahakan layanan dan bantuan seperti sekolah;rumah sakit). Selain pengertian diatas masih terdapat definisi kata yayasan lainnya oleh para ahli, antara lain : 1) Menurut Poerwadarminta dalam kamus umumnya memberikan pengertian yayasan sebagai berikut : a. Badan yang didirikan dengan maksud mengusahakan sesuatu seperti sekolah dan sebagainya (sebagai badan hukum bermodal, tetapi tidak mempunyai anggota). b. Gedung-gedung yang teristimewa untuk sesuatu maksud yang tertentu (seperti : rumah sakit dsb). 2) Menurut Achmad Ichsan, yayasan tidaklah mempunyai anggota, karena yayasan terjadi dengan memisahkan suatu harta kekayaan berupa uang atau benda lainnya untuk maksud-maksud idiil yaitu (sosial, keagamaan dan kemanusiaan) itu, sedangkan pendirinya dapat berupa Pemerintah atau orang sipil sebagai penghibah, dibentuk suatu pengurus untuk mengatur pelaksanaan tujuan itu. 3) Menurut Zainul Bahri dalam kamus umumnya memberikan suatu definisi yayasan sebagai suatu badan hukum yang didirikan untuk memberikan bantuan untuk tujuan sosial. Dalam undang undang no 28 tahun 2004 pasal 1, yayasan merupakan badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota. 2. DASAR HUKUM YAYASAN yayasan merupakan salah satu bentuk badan hokum yang keberadaannya telah lama berkembang di Indonesia. Sebelum dikeluarkannya undang undang yang mengatur yayasan oleh pemerintah, keberadaan yayasan didasarkan pada hukum kebiasaan yang timbul dan berkembang di masyarakat. Seiring berjalannya waktu dan dirasakan perlunya peraturan resmi dari pemerintah untuk mengatur keberadaan yayasan maka dikeluarkanlah : 1. Undang Undang RI Nomor 16 Tahun 2001 tentang yayasan. Undang Undang ini dimaksudkan untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum agar yayasan dapat berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya, tidak menyimpang berdasarkan prinsip keterbukaan dan akuntabilitas kepada masyarakat. 2. Undang Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang yayasan. Dalam Undang Undang ini terdapat beberapa aspek yang mengalami perubahan dari UU 16/2004. Rapat paripurna DPR pada tanggal 7 September 2004 menyetujui undang undang ini, dan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mengesahkan pada tanggal 6 Oktober 2004.

Beberapa hal yang diubah pada Undang Undang Nomor 28 Tahun 2004: 1. Memperjelas larangan pengalihan atau pembagian kekayaan yayasan. UU 16/2001 hanya menyebutkan bahwa kekayaan yayasan dilarang diahlikan atau dibagikan secara langsung ataupun tidak langsung kepada pimbina, pengurus, pengawas, karyawan, atau pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap yayasan. UU 28/2004 menambahkan bahwa dilarang dialihkan atau dibagikan baik dalam bentuk gaji, upah, maupun honorium, atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang dengan beberapa pengecualian yang diatur lebih detail. 2. Perubahan proses perolehan status badan hukum. UU 24/2004 menyatakan bahwa permohonan kepada menteri untuk memberikan pengesahan akta pendirian yayasan sebagai badan hukum diajukan melalui notaris yang membuat akta pendirian yayasan, yang sebelumnya diajukan kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan HAM. 3. Ketentuan baru mengenai tanggung jawab secara tanggung renteng oleh pengurus yayasan untuk perbuatan hukum yang dilakukan oleh pengurus atas nama yayasan sebelum yayasan memperoleh status badan hukum. 4. Jangka waktu pengumuman pendirian yayasan yang telah disetujui diperpendek dari jangka waktu 30 hari (UU 16/2001) menjadi 14 hari (UU 28/2004) terhitung sejak tanggal akta pendirian yayasan disahkan. 5. Pembagian kekayaan sisa hasil likuidasi yayasan sebelumnya diatur hanya diberikan pada yayasan lain yang memiliki kesamaan kegiatan atau diserahkan pada negara. UU 28/2004 mengatur tambahan bahwa jika tidak diberikan pada yayasan lain yang memiliki kesamaan kegiatan, sisa hasil likuidasi yayasan dapat diberikan pada badan hukum lain yang memiliki kesamaan kegiatan sebelum opsi diserahkan kepada negara. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Undang Undang tentang Yayasan. Peraturan Pemerintah ini memberikan penjelasan yang lebih detai dan aplikastif dari ketentuan yang telah diatur dalam undang undang tentang yayasan mencakup pemakaian nama yayasan, kekayaan awal yayasan, tata cara pendirian yayasan oleh orang asing, tata cara perubahan anggaran dasar, syarat dan tata cara pemberian bantuan negara kepada yayasan, syarat dan tata cara yayasan asing yang melakukan kegiatan di Indonesia, dan syarat dan tata cara penggabungan yayasan. 3. ORGAN YAYASAN Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2004 pasal 2 yayasan mempunyai organ yang terdiri dari Pembina, Pengurus, dan Pengawas. 1. Pembina Pembina adalah organ Yayasan yang mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada Pengurus atau Pengawas oleh Undang-undang ini atau Anggaran Dasar. Kewenangan tersebut adalah : a. keputusan mengenai perubahan Anggaran Dasar; b. pengangkatan dan pemberhentian anggota Pengurus dan anggota Pengawas; c. penetapan kebijakan umum Yayasan berdasarkan Anggaran Dasar Yayasan; d. pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan Yayasan; dan e. penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran Yayasan. Pasal 28 UU 24/2004 menyatakan bahwa yang dapat diangkat menjadi

anggota Pembina adalah orang perseorangan sebagai pendiri Yayasan dan/atau mereka yang berdasarkan keputusan rapat anggota Pembina dinilai mempunyai dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan. 2. Pengurus Pengurus adalah organ Yayasan yang melaksanakan kepengurusan Yayasan dan yang dapat diangkat menjadi Pengurus adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum. Pengurus Yayasan diangkat oleh Pembina berdasarkan keputusan rapat Pembina untuk jangka waktu selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali. Susunan Pengurus sekurang-kurangnya terdiri atas : 1. seorang ketua; 2. seorang sekretaris; dan 3. seorang bendahara. 3. Pengawas Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas melakukan pengawasan serta memberi nasihat kepada Pengurus dalam menjalankan kegiatan Yayasan. Orang yang dapat diangkat menjadi Pengawas adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum. Yayasan memiliki Pengawas sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Pengawas yang wewenang, tugas, dan tanggung jawabnya diatur dalam Anggaran Dasar. Pengawas Yayasan diangkat oleh Pembina berdasarkan keputusan rapat Pembina untuk jangka waktu selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali. 4. KEKAYAAN YAYASAN Kekayaan Yayasan berasal dari sejumlah kekayaan yang dipisahkan dalam bentuk uang atau barang. Selain kekayaan tersebut, kekayaan Yayasan dapat pula diperoleh dari : a. Sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat; b. Wakaf; c. Hibah; d. Hibah wasiat; e. Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar Yayasan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kekayaan Yayasan baik berupa uang, barang, maupun kekayaan lain yang diperoleh Yayasan berdasarkan UU 24/2004, dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak langsung, baik dalam bentuk gaji, upah, maupun honorarium, atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang kepada Pembina, Pengurus dan Pengawas. Pengecualian atas ketentuan tersebut dapat ditentukan dalam Anggaran Dasar Yayasan bahwa Pengurus menerima gaji, upah, atau honorarium, dalam hal Pengurus Yayasan : a.bukan pendiri Yayasan dan tidak terafiliasi dengan Pendiri, Pembina, dan Pengawas; dan b.melaksanakan kepengurusan Yayasan secara langsung dan penuh. Penentuan mengenai gaji, upah, atau honorarium sebagaimana dimaksud ditetapkan oleh Pembina sesuai dengan kemampuan kekayaan Yayasan. Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk menunjang pencapaian maksud dan tujuannya dengan cara mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha.

5. PROSEDUR PENDIRIAN YAYASAN Prosedur pendirian yayasan diatur dalam UU no 16 tahun 2001 di pasal 9 sampai 16. Prosedur : Pendiri harus memisahkan harta yayasan dan harta pribadinya. (Pasal 9 ayat 1) Dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia (Pasal 9 ayat 2) dan dapat diwakilkan berdasarkan surat kuasa (pasal 10 ayat 1) Bisa dibuat berdasarkan surat wasiat (Pasal 9 ayat 3) dan harus dilaksanakan oleh ahli warisnya (pasal 10 ayat 2 dan 3) Lalu berkaitan dengan prosedur, pasal 11 mengalami perubahan dari tadinya UU no 16 tahun 2001 yang berisi: Pasal 11 (1) Yayasan memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian Yayasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) memperoleh pengesahan dari Menteri. (2) Kewenangan Menteri dalam memberikan pengesahan akta pendirian Yayasan sebagai badan hukum dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia atas nama Menteri, yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Yayasan. (3) Dalam memberikan pengesahan, Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat meminta pertimbangan dari instansi terkait. Diubah di UU No 28 tahun 2004 menjadi: Pasal 11 (1) Yayasan memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian Yayasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2), memperoleh pengesahan dari Menteri. (2) Untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pendiri atau kuasanya mengajukan permohonan kepada Menteri melalui Notaris yang membuat akta pendirian Yayasan tersebut. (3) Notaris sebagaimana dimaksud pada ayat (2), wajib menyampaikan permohonan pengesahan kepada Menteri dalam jangka waktu paling lambat 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal akta pendirian Yayasan ditandatangani. (4) Dalam memberikan pengesahan akta pendirian Yayasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat meminta pertimbangan dari instansi terkait dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. (5) Instansi terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menyampaikan jawaban dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal permintaan pertimbangan diterima. (6) Permohonan pengesahan akta pendirian Yayasan dikenakan biaya yang besarnya ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Penjelasan: Tadinya jika ingin mendirikan Yayasan kita harus mempunyai akta pendirian Yayasan yang disahkan oleh Menteri.

Kalau dulu Menteri menyerahkan urusan pengesahan ke Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Lalu Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia meminta pertimbangan ke instansi terkait. Sebelum UU direvisi juga tidak jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengurus segala surat dan tidak dengan Notaris sehingga legalitasnya kurang kuat. Sekarang untuk memperoleh akta pendirian yayasan kita cukup mengajukan permohonan kepada Menteri melalui Notaris. Notaris paling lambat mengajukan permohonan pengesahan kepada menteri paling lama 10 hari terhitung sejak akta pendirian yayasan ditandatangani. Lalu menteri meminta pertimbangan dengan instansi terkait paling lama 7 hari. Instansi terkait tersebut wajib memberi jawaban paling lambat 14 hari. Dari jawaban pertimbangan tadi Yayasan disetujui. Pasal 12 mengatur mengenai penimbangan pendirian Yayasan oleh instansi terkait. Pengesahan akta pendirian Yayasan paling lambat diterima atau ditolak selama 30 hari. Dan jawaban penimbangan harus ada paling lama 14 hari. Setelah lewat 30 hari maka permohonan tidak diterima. Pasal 12 ayat 3 juga mengalami perubahan. Dalam UU No 16 tahun 2001 berisi: Dalam hal diperlukan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) pengesahan diberikan atau tidak diberikan dalam jangka waktu : a. paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal jawaban permintaan pertimbangan diterima dari instansi terkait; atau b. setelah lewat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal jawaban permintaan pertimbangan kepada instansi terkait tidak diterima. Diubah di UU no 28 tahun 2004 menjadi pasal 3 dan 4: (3) Dalam hal diperlukan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4), pengesahan diberikan atau ditolak dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal jawaban atas permintaan pertimbangan dari instansi terkait diterima. (4) Dalam hal jawaban atas permintaan pertimbangan tidak diterima, pengesahan diberikan atau ditolak dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal permintaan pertimbangan disampaikan kepada instansi terkait.

Pasal 13 berisi bagaimana bila pengajuan pembuatan Yayasan ditolak. Menteri wajib memberitahukan secara tertulis disertai dengan alasannya, kepada pemohon mengenai penolakan pengesahan tersebut. Dan alas an penolakan harus sesuai Undang-Undang yang berlaku. Pasal 15 mengatur penamaan Yayasan. Berikut peraturan penamaan yayasan. 1. Yayasan tidak boleh memakai nama yang : a. Telah dipakai secara sah oleh Yayasan lain b. Bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan. 2. Nama Yayasan harus didahului dengan kata "Yayasan". 3. Bila kekayaan Yayasan berasal dari wakaf, kata "wakaf" dapat ditambahkan setelah kata "Yayasan".

Pasal 16 mengatur jangka waktu pendirian yayasan. Yayasan menurut jangka waktunya dibagi 2 yaitu untuk jangka waktu tertentu dan tidak tertentu (ayat 1). Khusus Yayasan yang didirikan dalam jangka waktu tertentu bila ingin memperpanjang waktu berdiri paling lambat 1 tahun sebelum berakhirnya jangka waktu pendirian. (ayat 2) Setelah disetujui maka Yayasan yang telah disahkan sebagai badan hukum atau misal yayasan melakukan perubahan Anggaran Dasar wajib diumumkan dalam Tambahan Berita negara Republik Indonesia (pasal 24 ayat 1). Pengumuman ini harus diajukan lagi ke pengurus ke Kantor Percetakan Negara Republik Indonesia paling lambat 30 hari sejak tanggal akta pendirian disahkan (ayat 2). 6. ANGGARAN DASAR YAYASAN DAN PERUBAHANNYA Pasal 14 ayat 2 berisi hal-hal yang harus tercantum dalam anggaran dasar suatu yayasan. Diantaranya: 1. Nama dan tempat kedudukan 2. Maksud dan tujuan serta kegiatan untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut 3. Jangka waktu pendirian 4. Jumlah kekayaan awal yang dipisahkan dari kekayaan pribadi pendiri dalam bentuk uang atau benda 5. Cara memperoleh dan penggunaan kekayaan 6. Tata cara pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian anggota Pembina, Pengurus, dan Pengawas 7. Hak dan kewajiban anggota Pembina, Pengurus, dan Pengawas 8. Tata cara penyelenggaraan rapat organ Yayasan 9. Ketentuan mengenai perubahan Anggaran Dasar 10. Penggabungan dan pembubaran Yayasan 11. Penggunaan kekayaan sisa likuidasi atau penyaluran kekayaan Yayasan setelah pembubaran. Pasal 17 sampai 23 mengatur mengenai perubahan anggaran dasar. Anggaran Dasar dapat diubah, kecuali mengenai maksud dan tujuan Yayasan. Perubahan hanya bisa dilakukan melalui rapat Pembina dengan syarat kuorum minimum 2/3 kehadiran. Bila tidak kuorum rapat Pembina baru bisa dilakukan kembali paling cepat 3 hari. Perubahan anggaran dasar bila mnyangkut nama dan kegiatan harus mendapat persetujuan menteri, sisanya cukup diberitahukan. Anggaran dasar tidak boleh dilakukan kalau yayasan dalam keadaan pailit (pasal 23) kecuali atas persetujuan curator. 7. LAPORAN TAHUNAN YAYASAN Pengurus wajib membuat dan menyimpan catatan atau tulisan yang berisi keterangan mengenai hak dan kewajiban serta hal lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha Yayasan. Pengurus juga wajib membuat dan menyimpan dokumen keuangan Yayasan berupa bukti pembukuan dan data pendukung administrasi keuangan. Dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) bulan terhitung sejak tanggal tahun buku Yayasan ditutup, pengurus wajib menyusun laporan tahunan, ditandatangani oleh pengurus dan pengawas sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, secara tertulis memuat sekurang-kurangnya :

a. laporan keadaan dan kegiatan Yayasan selama tahun buku yang lalu serta hasil yang telah dicapai; b. laporan keuangan yang terdiri atas laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan laporan keuangan. Ikhtisar laporan tahunan Yayasan diumumkan pada papan pengumuman di kantor Yayasan dan disusun sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Suatu kewajiban bahwa ikhtisar laporan tahunan diumumkan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia bagi Yayasan yang : a. memperoleh bantuan Negara, bantuan luar negeri, dan/atau pihak lain sebesar Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atau lebih, dalam 1(satu) tahun buku; atau b. mempunyai kekayaan di luar harta wakaf sebesar Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) atau lebih. Bagi Yayasan dengan dua kriteria diatas, laporan tahunannya wajib diaudit oleh Akuntan Publik. Hasil audit terhadap laporan tahunan Yayasan tersebut disampaikan kepada Pembina Yayasan yang bersangkutan dan tembusannya kepada Menteri dan instansi terkait. 8. PEMERIKSAAN TERHADAP YAYASAN Pemeriksaan terhadap yayasan diatur dalam pasal 53 sampai pasal 56. Yang membuat yayasan harus diperiksa menurut Pasal 53 ayat 1 : 1. melakukan perbuatan melawan hukum atau bertentangan dengan Anggaran Dasar; 2. lalai dalam melaksanakan tugasnya; 3. melakukan perbuatan yang merugikan Yayasan atau pihak ketiga; 4. atau melakukan perbuatan yang merugikan Negara. Pasal 54 mengatur bahwa pemerintah akan mengutus maksimum 3 orang pemeriksa yang tidak boleh berasal dari pengurus yayasan. Hasil pemeriksaan harus dilaporkan ke Ketua Pengadilan paling lambat 30 hari sejak pemeriksan terakhir selesai (pasal 56 ayat 1) dan Ketua pengadilan memberikan hasil salinannya ke Kejaksaan dan yayasan yang bersangkutan. (Pasal 56 ayat 2) 9. PEMBUBARAN YAYASAN Yayasan bubar karena (Pasal 62): a. jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir; b. tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah tercapai atau tidak tercapai; c. putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berdasarkan alasan : 1)Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan; 2)tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; 3)atau harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah pernyataan pailit dicabut. Ketika membubarkan yayasan, Pembina menunjuk likuidator atau bila tidak memungkinkan pengurus bisa menjadi likuidator. Likuidator tadi harus mengumumkan ke surat kabar harian berbahasa Indonesia tentang berita rencana likuidasi maksimal 5 hari setelah penunjukan dan harus mengumumkan hasil likuidasi paling lambat 30 hari setelah proses likuidasi tadi berakhir ke surat kabar berbahasa

Indonesia. Lalu dalam waktu maksimum 7 hari setelah proses likuidasi berakhir, likuidator atau curator wajib melaporkan pembubaran Yayasan kepada Pembina. (pasal 64 sampai pasal 67) Kekayaan sisa likuidasi bisa diberikan kepada dua pihak(pasal 68) 1)Yayasan lain yang maksud dan tujuannya sama 2)Negara (bila tidak diserahkan ke yayasan lain) 10. YAYASAN ASING Diatur dalam pasal 69 yang memperbolehkan yayasan asing berkegiatan di Indonesia (walaupun yidak berbadan hukum Indonesia) asalkan tidak merugikan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia. 11. KETENTUAN PIDANA Diatur dalam pasal 70, bila melanggar ketentuan di pasal 5 akan dipenjara maksimum 5 tahun dan wajib mengembalikan uang, barang, atau kekayaan yayasan yang dialihkan atau dibagikan. Pasal 5 Kekayaan Yayasan baik berupa uang, barang, maupun kekayaan lain yang diperoleh Yayasan berdasarkan Undang- undang ini, dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak langsung kepada Pembina, Pengurus,Pengawas, karyawan, atau pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap Yayasan. Lalu hal yang perlu diingat, diantara pasal 13 dan 14 disisipkan 1 pasal yaitu Pasal 13A di revisi undang-undang. Pasal 13A Perbuatan hukum yang dilakukan oleh Pengurus atas nama Yayasan sebelum Yayasan memperoleh status badan hukum menjadi tanggung jawab Pengurus secara tanggung renteng. Dan berkaitan dengan pengumuman pendirian maka kita harus mengingat pasal 25. Pasal 25 Selama pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 belum dilakukan, Pengurus Yayasan bertanggung jawab secara tanggung renteng atas seluruh kerugian Yayasan.

Sumber Referensi : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. 2. UndangUndang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. 3. http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/18/jtptiain-gdl-s1-2006muizatulkh-871-BAB2_210-2.pdf 4. http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/131435-T%2027533Analisis%20peranan-Pendahuluan.pdf 5. Buku Akuntansi Sektor Publik Deddy Nordiawan dan Ayuningtyas Hertianti edisi 2.