Anda di halaman 1dari 12

BAB III TINJUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Hipospadia dapat didefinisikan sebagai virilisasi inkomplit dari tuberkel genitalia yang menyebabkan insufisiensi perkembangan jaringanjaringan yang membentuk aspek ventral penis. Tiga tipe anomali yang terkait dengan hipospadia yaitu : (1) Pembukaan ektopik meatus urethra yang letaknya diantara glans dan pangkal penis. (2) Curvatura ventral (chordee) (3) Preputium yang menutup glans dan kelebihan kulit pada bagian dorsal dan kekurangan kulit pada bagian ventral penis. Meatus hipospadik juga bisa ditemukan di daerah preputium dan Chordee sering dikaitkan dengan hipoplasia korpus spongiosum. (1,2,3) B. ANATOMI(4,5) Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin ke luar dari buli-buli melalui proses miksi. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, dan sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Secara anatomis uretra dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Uretra pars anterior, yaitu uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis, terdiri dari: pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikulare, dan meatus uretra eksterna. 2. Uretra pars posterior, terdiri dari uretra pars prostatika, yaitu bagian uretra yang dilengkapi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea. Penis manusia tersusun dari dua bagian utama, yaitu pangkal/akar (radix) dan tubuh (corpus). Pangkal penis terletak di dalam badan, terdiri dari gelembung penis (bulbus penis) dan sepasang crus penis di kedua sisinya.

Tubuh penis memiliki dua sisi permukaan: dorsal (bagian yang tampak dari depan jika penis "istirahat") dan ventral atau uretral (mengarah ke dalam/testis). Anatomi normal penis terdiri dari sepasang korpora

kavernosa yang dibungkus oleh tunika albugenia yang tebal dan fibrous dengan septum di bagian tengahnya. Uretra melintasi penis di dalam

korpus spongiosum yang terletak dalam posisi ventral pada alur diantara kedua korpora kavernosa. Uretra muncul pada ujung distal dari glans penis yang berbentuk konus. Fascia spermatika atau tunika dartos, adalah suatu lapisan longgar penis yang terletak pada fascia tersebut. Di bawah tunika dartos

terdapat facia Bucks yang mengelilingi korpora kavernosa dan kemudian memisah untuk menutupi korpus spongiosum secara terpisah. Berkas neurovaskuler dorsal terletak dalam fascia Bucks pada diantara kedua korpora kavernosa.

C. ETIOLOGI(4,6,7,8,9) Penyebab pasti hipospadia tidak diketahui secara pasti. Beberapa etiologi dari hipospadia telah dikemukakan, termasuk faktor genetik,

endokrin, dan faktor lingkungan. Sekitar 28% penderita ditemukan adanya hubungan familial. Pembesaran tuberkel genitalia dan

perkembangan lanjut dari phallus dan uretra tergantung dari kadar testosteron selama proses embriogenesis. Faktor lain yang mempengaruhi adalah produksi hormone dari maternal selama kehamilan terutama pada trimester pertama. jika testis gagal memproduksi sejumlah testosteron atau jika sel-sel struktur genital kekurangan reseptor androgen atau tidak terbentuknya androgen converting enzyme (5 alpha-reductase) maka hal-hal inilah yang diduga menyebabkan terjadinya hipospadia. Faktor genetik..

12 % berpengaruh terhadap kejadian hipospadia bila punya riwayat keluarga yang menderita hipospadia. 50 % berpengaruh terhadap kejadian hipospadia bila bapaknya menderita hipospadia. Faktor etnik dan geografis..

Di Amerika Serikat angka kejadian hipospadia pada kaukasoid lebih tinggi dari pada orang Afrika, Amerika yaitu 1: 3. Faktor Faktor hormonal hormon androgen / estrogen sangat berpengaruh terhadap

kejadian hipospadia karena berpengaruh terhadap proses maskulinisasi masa embrional. Sharpe dan Kebaek (1993) mengemukakan hipotesis tentang pengaruh estrogen terhadap kejadian hipospadia bahwa estrogen sangat berperan dalam pembentukan genital eksterna dari laki-laki saat embrional. Faktor pencemaran limbah industri. Limbah industri berperan sebagai Endocrin discrupting chemicals baik bersifat eksogenik maupun anti androgenik seperti polychlorobiphenyls, dioxin, furan, peptisida organochlorin, alkilphenol polyethoxsylates dan phtalites. 3

Sudah diketahui bahwa setelah tingkat indiferen maka perkembangan genital eksterna laki-laki selanjutnya dipengaruhi oleh estrogen yang dihasilkan testis primitif. Suatu hipotesis mengemukakan bahwa kekurangan estrogen atau terdapatnya anti androgen akan mempengaruhi pembentukan genitalia ekterna laki-laki. Beberapa kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan hipospadia, yaitu : Kegagalan tunas sel-sel ektoderm yang berasal dari ujung glans untuk tumbuh kedalam massa glans bergabung dengan sel-sel entoderm sepanjang uretra penis. Hal ini mengakibatkan terjadinya osteum uretra eksternum terletak di glans atau korona glandis di permukaan ventral. Kegagalan bersatunya lipatan genital untuk menutupi alur uretra uretral groove kedalam uretra penis yang mengakibatkan osteum uretra eksternum terletak di batang penis. Begitu pula kegagalan

bumbung genital bersatu dengan sempurna mengakibatkan osteum uretra ekternum bermuara di penoskrotal atau perineal. Dari kegagalan perkembangan penis tersebut akan terjadi 5 macam letak osteum uretra eksternum yaitu di : 1. Glans, 2. Koronal glandis, 3. Korpus penis, 4. Penos skrotal, 5. Perineal. D. KLASIFIKASI (3,9,10,11,12) Terdapat beberapa klasifikasi hipospadia telah diperkenalkan, namun yang sering digunakan saat ini adalah berdasarkan letak dari meatus uretra : 1. Glandular, muara penis terletak pada daerah proksimal glands penis 2. Coronal, muara penis terletak pada daerah sulkus coronalia 3. Penile shaft 4. Penoscrotal 5. Perineal

Namun, klasifikasi berdasarkan letak dari meatus uretra tidak cukup menggambarkan tingkat keparahan dari malformasi. Klasifikasi lain yang praktis untuk menentukan prosedur operasi adalah berdasarkan tingkat divisi dari korpus spongiosum : 1. Glandular Hypospadias. Meatus terletak pada glans dibelakang tempat meatus normal. Meatus tampak ketat namun jarang sekali menyebabkan obstruksi aliran urin. 2. Hypospadias dengan divisi pada distal corpus spongiosum, bisa disertai sedikit atau tanpa chordae. 3. Hypospadias dengan divisi pada proksimal corpus spongiosum. Tipe ini lebih mudah ditangani karena teknik operasi untuk merekonstruksi uretra telah lama

mengoreksi diperkenalkan.

chordeedan

4. Hypospadias cripples. Tipe ini terjadi pada pasien yang telah menjalani beberapa prosedur operasi namun gagal, dan meninggalkan jaringan parut, meatus abnormal, striktur, fistula dan gangguan kosmetik dan psikologis. E. DIAGNOSIS Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan

inspeksi. Kadang-kadang hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound prenatal. Jika tidak teridentifikasi sebelum kelahiran, maka

biasanya dapat teridentifikasi pada pemeriksaan setelah bayi lahir. Pada orang dewasa yang menderita hipospadia dapat mengeluhkan kesulitan untuk mengarahkan pancaran urin. Chordee dapat menyebabkan batang penis melengkung ke ventral yang dapat mengganggu hubungan seksual.

Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat menyebabkan infertilitas. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu uretroskopi dan sistoskopi untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter Diagnosis hipospadia telah dibuat dengan menggunakan

ultrasonografi janin pralahir, diagnosis biasanya dibuat atas pemeriksaan bayi baru lahir. Hipospadia juga dapat didiagnosis dengan melihat tanda atau gejala yang khas, yaitu : Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian ventral menyerupai meatus uretra ekternus. Preputium tidak ada di bagian ventral, menumpuk di bagian dorsal. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yasng mengelilingi meatus dan membentang ke distal sampai basis glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar. Kulit penis di bagian ventral, distal dari meatus sangat tipis. Tunika dartos, fasia buch dan korpus spongiosum tidak ada. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada basis dan glans penis. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok. Sering disertai undescended testis. Kadang disertai kelainan konginetal pada ginjal.(3,6,13)

F. Penanganan Tujuan repair hipospadia yaitu untuk memperbaiki kelainan anatomi baik bentuk penis yang bengkok karena pengaruh adanya chordae maupun letak osteum uretra eksterna sehingga ada 2 hal pokok dalam repair hipospadia yaitu: Chordectomi , merelease chordae sehingga penis bisa lurus kedepan saat ereksi. Chordectomi komplit dilakukan untuk

mengerahkan korpora kavernosum dan memperpanjang uretra serta membawa lubang uretra ke ujung glans. Urethroplasty , membuat osteum urethra externa diujung gland penis sehingga pancaran urin dan semen bisa lurus ke depan. Apabila chordectomi dan urethroplasty dilakukan dalam satu waktu operasi yang sama disebut satu tahap, bila dilakukan dalam waktu berbeda disebut dua tahap. Ada 4 hal yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan repair hipospadia agar tujuan operasi bisa tercapai yaitu usia, tipe hipospadia dan besarnya penis dan ada tidaknya chorde. Usia ideal untuk repair hipospadia yaitu usia 6 bulan sampai usia belum sekolah karena mempertimbangkan faktor psikologis anak terhadap tindakan operasi dan kelainannya itu sendiri, sehingga tahapan repair hipospadia sudah tercapai sebelum anak sekolah. Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling sidiqchaula, Trierssch- Duplay, Dennis Brown, Cecil culp. Methode Duplay untuk repair hipospadia tipe penil. Kulit penil digunakan untuk membuat urethroplastinya atau bisa juga digunakan kulit scrotum. Thiersche dan Duplay melakukan suatu perbaikan dua tahap chordee dimana tahap pertama dan meluruskan dengan penis.

memotong lapisan yang menyebabkan Beberapa bulan selanjutnya uretra

dibentuk

melakukan

pemotongan memanjang ke bawah pada permukaan ventral dari penis untuk membentuk sebuah uretra. Kelemahan operasi ini bahwa tekhnik tersebut tidak memperluas uretra menuju ujung glans. Cecil

memperkenalkan tekhnik perbaikan hipospadia tiga tahap dimana pada

tahap ke 2 penis dilekatkan pada skrotum. Baru pada tahap ke 3 dilakukan pemisahan penis dan skrotum. Tekhnik reparasi yang paling populer

dilakukan oleh dokter bedah plastik adalah tekhnik modifikasi operasi Thiersch Duplay. Kelebihan jaringan preputium ditransfer dari dorsum penis ke permukaan ventral. (14,15,16,17,18,19,20,21) G. Komplikasi Komplikasi yang timbul paska repair hipospadia sangat

dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain faktor usia pasien, tipe hipospadia, tahapan operasi, ketelitian teknik operasi, serta perawatan paska repair hipospadia. Macam komplikasi yang terjadi yaitu : Perdarahan Infeksi Fistel urethrokutan Striktur urethra, stenosis urethra Divertikel urethra. Komplikasi paling sering dari reparasi hipospodia adalah fistula,

divertikulum, penyempitan uretral dan stenosis meatus (Ombresanne, 1913 ). Penyebab paling sering dari fistula adalah nekrosis dari flap yang disebabkan oleh terkumpulnya darah dibawah flap. Fistula itu dapat dibiarkan sembuh spontan dengan reparasi sekunder 6 bulan sesudahnya. Untuk itu keteter harus dipakai selama 2 minggu setelah fistulanya sembuh, dengan harapan tepi-tepinya terus akan menyatu lebih lama kembali, dari dua sedangkan minggu.

kegunaannya

untuk

diversi

Penyempitan uretra adalah suatu masalah. Bila penyempitan ini padat, maka dilatasi dari uretra akan efektif. Pada penyempitan yang hebat, operasi sekunder diperlukan. Urethrotomy internal akan memadai untuk penyempitan yang pendek. Sedang untuk penyempitan yang panjang uretra itu harus dibuka disepanjang daerah penyempitan dan ketebalan penuh dari graft kulit yang dipakai untuk menyusun kembali ukuran uretra.(22,23,24,25)

H. PROGNOSIS Secara umum hasil fungsional dari one-stage procedure lebih baik dibandingkan dengan multi-stage procedures karena insidens

terjadinya fistula atau stenosis lebih sedikit, dan lamanya perawatan di rumah sakit lebih singkat, dan prognosisnya baik.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Pierre D.E. Mouriquand, Delphine Demde, Daniela Gorduza, Pierre-Yves. Saunders Pediatric Urology 2nd ed. Hypospadias. Philadelphia : Elsevier Inc; 2010. p. 526-543.

2.

Massimo Catti, Delphine Demde, Anne-Frdrique Valmalle (2008). Management of severe hypospadias. Indian Journal Urology, 24(2): 233240. Jack W.McAninch. Smiths General Urology 17th ed. Disorders of the Penis & Male Urethra. California : The McGraw-Hill Companies; 2008. p. 629631.

3.

4.

Laurence

Baskin

(2000). Hypospadias Anatomy, Embriology,

And

Reconstructive Techniques. Brazilian Journal Of Urology, 26(6): 621-629. 5. Baskin L, Erol A, Li YW, Cunha G (1998). Anatomical Studies of Hypospadias. Journal Of Urology, 160: 1108. 6. Sastrasupena H (1995). Hipospadia, Dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta: 428-435. 7. Nicolas Kalfa, Charles Sultan, Laurence S. Baskin (2011). Hypospadias: Interactions Between Environment And Genetics. Molecular and Cellular Endocrinology, 335 (2): 89 8. Nicolas Kalfa, Charles Sultan, Laurence S. Baskin (2010). Hypospadias: Etiology and Current Research. Urologic Clinics of North America, 37 (2): 159-166 9. N. Djakovic,* J. Nyarangi-Dix,* A. zturk, and M. Hohenfellner (2008). Hypospadia. Advances in Urology, 1 : 1-7 10. Antonella Giannantoni (2011). Hypospadias Classification and repair: The Riddle od The Sphinx. Eurupean Urology, 60 : 1190-1192 11. Baskin LS, Ebbers MB (2006). Hypospadias: anatomy, etiology, and technique. Journal Of Pediatric Urology, 41:46372 12. Eberle, U. Schweikert, H. Marberger, G. Bartsch (1987). Diagnosis And Management Of Patients With Posterior Hypospadias. World Journal of Urology, 5 (3): 194-200. 10

13. Van der Toorn, Tom de Jong, Robert de Gier (2013). Introducing the HOPE (Hypospadias Objective Penile Evaluation)-score: A validation study of an objective scoring system for evaluating cosmetic appearance in hypospadias patients. Journal Of Pediatric Urology, 9: 1006-1017. 14. Laurence Baskin (2000). Hypospadias Anatomy, Embriology, And

Reconstructive Techniques. Brazilian Journal Of Urology, 26(6): 621-629. 15. Warren Snodgrass, Antonio Macedo, Piet Hoebeke, Pierre D.E. Mouriquand (2011). Hypospadias Dilemmas: A Round Table. Journal Of Pediatric Urology, 20: 1-13 16. G.A.Manzoni, L.Reali (2013). Management Of Hypospadias. Journal Of Pediatric Surgical Specialities, 7 (3): 1- 32 17. Luis Henrique P. Braga, Armando J. Lorenzo (2008). Tubularized Incised Plate Urethroplasty For Distal Hypospadias: A Literature Review. Indian Journal Of Urology, 24 (2): 219-225 18. Osama Shahat (2011). Snodgrass Tubularized Incised Plate Urethroplasty in Hypospadias Preliminary Report. Journal Of Plastic Reconstruction Surgery, 35(2): 149-152 19. De Win G, Cuckow P, Hoebeke P, Wood D (2012). Long-Term Outcomes Of Pediatric Hypospadias And Surgical Intervention , Journal Of Pediatrics, 3: 69-77 20. Mouriquand PD, Persad R, Sharma S (1995). Hypospadias Repair: Current Principles And Procedures. British Journal Of Urology,73(3): 9-22. 21. Cook A, Khoury AE, Neville C, Farhat WA, Pippi Salle JL (2005). A Multicenter Evaluation Of Technical Preferences For primary Hypospadias Repair. Journal Of Urology, 174:23547. 22. Springer A, Krois W, Horcher E (2011). Trends In Hypospadias Surgery: Results Of a Worldwide Survey. Jounal Of European Urology, 60:11849 23. Amilal Bhat, Arup Kumar Mandal (2008). Acute Postoperative

Complications Of Hypospadias Repair. Indian Journal Of Urology, 24(2): 1184-9

11

24. Emma Hansson,

Magnus Becker, Magnus berg (2007).

Analysis Of

Complications After Repair Of Hypospadias. Journal Of Plastic Surgery And Hand Surgery, 41(3): 120-124 25. F Rashed, S Javid (2012). Hypospadias Repair In Adults, A Comparison With Children. The Internet Journal of Urology. 9(3): 1-3.

12