Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Persilangan pada Drosophila melanogaster antara individu betina bermata putih dan jantan bermrna merah menghasilkan turunan jantan bermrna putih dan betina bermata merah sebagaimana yang pertama kali dilaporkan T.H. Morgan dan Bridges, dilaporkan pula bahmsalah satu di antara 2000 turunan F tersebut mempunyai mrna mata menyimpang, entah betina bermata putih atau jantan bermata merah. Bridges menduga bahmpenyimpangan itu terjadi karena gagal berpisah pada kromosom kelamin !. "alam hal ini kedua kromosom kelamin ! gagal memisah selama meiosis sehingga keduanya menuju ke kutub yang sama, dan terbentuklah telur yang memiliki dua kromosom kelamin ! maupun yang tidak memiliki kromosom kelamin ! #$orebima, 200%&. Peristimgagal berpisah pada makhluk hidup dapat menyebabkan perubahan'perubahan jumlah kromosom yang merupakan salah satu bentuk mutasi kromosom. Peristimgagal berpisah dipengaruhi oleh dua (aktor, yaitu (aktor luar dan (aktor dalam. Faktor luar meliputi energi radiasi yang tinggi, karbondioksida, )at kimia tertentu, dan suhu. *edangkan (aktor dalam meliputi umur, gen mutan, dan (aktor yang berkaitan dengan kelainan'kelainan tingkah laku genetik yang disebabkan oleh adanya unsur mobile dalam genom #Bal+is, ,,-&. Pemrna sintetik merupakan (aktor luar yang dapat mempengaruhi peristimgagal berpisah, karena pemrna sintetik tergolong ke dalam )at kimia. *alah satunya adalah dengan merk Dylon. *e.ara umum kandungan kimia pada Dylon se.ara umum sama dengan komposisi pemrna sintetik yang lain. Penggunaan Pemrna *intetik memberikan dampak negative bagi makhluk hidup. Pada beberapa individu tertentu hal ini menimbulkan dampak alergi dan hiperakti(, tergantung pada dosis pemakaiannya. Pada beberapa penelitian, menunjukkan terjadinya penyimpangan kromosom dalam (ibroblast. Pada tikus betina per.obaan menunjukkan adanya indikasi tumor dan ginjal #*umarlin, tanpa tahun&. Mengenai ma.am strain, *ved # ,/,& dalam Bal+is # ,,-& menyatakan bahm bahmgen' gen pada strain juga berperan dalam menyebabkan (enomena gagal berpisah. *elain itu, *ved menyatakan gagal berpisah juga disebabkan oleh adanya (enomena hybrid dysgenesis yaitu suatu

sindrom yang berkaitan dengan penyimpangan genetik yang terjadi se.ara spontan pada hybrid #hasil persilangan antara dua individu yang se.ara genetik berbeda& hasil persilangan dua strain yang berlainan. 0ebih lanjut sved menyatakan bahmmekanisme interaksi antara strain yang disilangkan tersebut belum jelas. "alam penelitian ini, penulis ingin mengkaji lebih lanjut tentang pengaruh berbagai ma.am konsentrasi pemrna sintetik #"ylon& dan ma.am strain terhadap (rekuensi gagal berpisah kromosom kelamin ! D. melanogaster. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, oleh karena itu kami melakukan penelitian lebih lanjut mengenai 1Pengaruh Pemberian Berbagai Ma.am 2onsentrasi Pemrna *intetik #"ylon& dan Ma.am *train Terhadap Frekuensi 3agal Berpisah #Nondisjunction& Pada Persilangan D. Melanogaster 45><we dan 45><m Beserta 6esiproknya7. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang mun.ul adalah sebagai berikut. . Bagaimanakah (enomena 4on'"isjun.tion yang terjadi pada persilangan N5 89 m: dan N5 89 we: beserta resiproknya; 2. Bagaimanakah pengaruh berbagai ma.am konsentrasi pemrna sintetik #"ylon& dan ma.am strain terhadap (rekuensi gagal berpisah #Nondisjunction& pada persilangan 45 89 m: dan 45 89 we: beserta resiproknya;

C. Tu uan Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan maka tujuan dari penelitian ini adalah. . <ntuk mengetahui (enomena 4on'"isjun.tion yang terjadi pada persilangan N5 89 m: dan N5 89 we: beserta resiproknya. 2. <ntuk mengetahui pengaruh berbagai ma.am konsentrasi pemrna sintetik #"ylon& dan ma.am strain terhadap (rekuensi gagal berpisah #Nondisjunction& pada persilangan 45 89 m: dan 45 89 we: beserta resiproknya.

D. !egunaan Penel"t"an Penelitian yang telah dilakukan ini diharapkan memiliki kegunaan atau man(aat sebagai berikut. . Bagi Peneliti a. Memberikan in(ormasi, bukti dan pemahaman konsep tentang pengaruh berbagai konsentrasi pemrna sintetik #"ylon& dan ma.am strain terhadap (rekuensi gagal berpisah #Nondisjunction& pada persilangan 45 89 m: dan 45 89 we: beserta resiproknya. b. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis dan ilmiah untuk dapat menganalisis (enomena'(enomena pemrisan si(at terutama pada penelitian yang dilakukan. .. Melatih kemampuan menulis ilmiah dalam melakukan suatu penelitian sehingga dapat menjadi bekal sebagai ilmuan. 2. Bagi Pemba.a a. Memberikan in(ormasi dan meningkatkan pemahaman kepada pemba.a tentang pengaruh berbagai konsentrasi pemrna sintetik #"ylon& dan ma.am strain terhadap (rekuensi gagal berpisah #Nondisjunction& pada persilangan 45 89 m: dan 45 89 we: beserta resiproknya. b. .. Menambah re(erensi bagi pemba.a yang akan melakukan penelitian lebih lanjut. Memberikan motivasi bagi pemba.a untul melakukan penelitian lebih lanjut.

E. Ruang L"ngku# $an Batasan Masalah Penelitian yang dilakukan memiliki ruang lingkup dan batasan masalah, antara lain. . *train D. melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini adalah strain 4, strain m, dan we, yang diperoleh dari 0aboratorium 3enetika =urusan Biologi FM>P? <M. 2. Pengamatan (enotip yang dilakukan meliputi mrna mata, (aset mata, mrna tubuh, dan bentuk sayap. %. Pengambilan data diperoleh dari pengamatan pada hasil (enotip persilangan F dan F2 D. melanogaster pada strain 4589m:, dan 45 89 we: beserta masing'masing resiproknya.

@. 2onsentrasi "ylon yang digunakan dalam penelitian adalah 0A, 0,0 A, 0,0%A, 0,0-A, 0,0/A, 0,0,A. -. Penelitian dilakukan hingga generasi kedua #F2&. B. "ata yang diperoleh berupa data hasil pengamatan (enotip serta jumlah F dan F2. %. Asums" Penel"t"an a. 2ondisi lingkungan seperti suhu, intensitas .ahaya, kelembaban udara, pemrna sintetik #"ylon& dan tempat pembiakan dianggap sama. b. *eluruh aspek biologis D. melanogaster yang disilangkan termasuk umur dan kemampuan untuk kaCin, selain gen'gen mutan dan jenis kelamin dianggap sama. .. *emua perlakuan yang dilakukan pada setiap ulangan persilangan selama proses penelitian dianggap tidak sama, hal ini disebabkan karena ada perbedaan konsentrasi adalah 0A, 0,0 A, 0,0%A, 0,0-A, 0,0/A, 0,0,A. &. De'"n"s" (#eras")nal >stilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. . Strain merupakan suatu kelompok'kelompok intraspesi(ik yang memiliki hanya satu atau sejumlah ke.il .iri yang berbeda, biasanya se.ara genetik homo)igot untuk .iri'.iri tersebut atau galur murni #2lug dan $ummings, 2000&. *train yang digunakan dalam penelitian strain m, we dan 4. 2. FenotipD menurut ?yala dalam $orebima # ,,/& adalah karakter'kerakter yang dapat diamati pada suatu individu #yang merupakan hasil interaksi antara genotip dan lingkungan tempat hidup dan berkembang&. %. 3enotipD menurut ?yala dalam $orebima # ,,/& adalah keseluruhan jumlah in(ormasi genetik dari suatu makhluk hidup dalam hubungannya dengan satu atau beberapa lokus gen yang sedang menjadi perhatian. @. 3agal berpisah #nondisju.tion& adalah suatu peristimdimana bagian'bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada meiosis >, atau dimana kromatid saudara gagal berpisah selama meosis >>. Pada kasus ini, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat

salinan sama sekali #$ampbell dkk. 2002&. Pada praktikum ini mengamti pengaruh rodamin pada nondisju.ntion. -. "ylon merupakan )at pemrna sintetis berjenis dyes yang larut dalam air, berbentuk serbuk bermrna ma.am'ma.am #*eran, 20 &.

BAB II !A*IAN PU+TA!A A. +"stemat"ka Drosophila melanogaster Menurut *trorer dan <singer # ,-/&, sistematika dari D. melanogaster adalah sebagai berikutD Filum 2elas ?nak kelas Bangsa ?nak bangsa *uku Marga =enis D ?rthropoda D >nse.ta D Pterygota D "iptera D $ly.oriapa D "rosophilidae D "rosophila D D. melanogaster

"alam penelitian dibidang genetika, organisme uniselluler yang sering digunakan salah satunya adalah D. melanogaster. Menurut T.H Morgan, D. melanogaster sering digunakan sebagai hemn per.obaan dalam mempelajari ilmu'ilmu biologi, khususnya genetika. 2arena hemn ini mudah didapat dan mudah dikembangkan, ukuran tubuhnya ke.il, mempunyai siklus yang pendek, hanya mempunyai @ pasang kromosom, dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam siklus hidupnya yang pendek tersebut. #2imball, ,E%D2%%&. D. melanogaster betina mempunyai @ pasang kromosom homolog, tetapi lalat jantan hanya mempunyai % pasang kromosom homolog. "ua kromosom lainnya tidak homolog, satu anggota dari pasangan kromosom keempat ini Cujudnya identik dengan pasangan kromosom keempat pada betina #2imbal, ,E%&. Berdasarkan pada peta kromosom yang telah dipublikasikan, Drosophila melanogaster strain mdan strain we (white eosin) merupakan strain dengan gen mutan yang mempengaruhi karakter mrna tubuh. 3en ini terletak pada kromosom > #3ardner, ,, &. B. !r)m)s)m !elam"n $an Pautann,a Pada tahun E, ahli Biologi =erman H. Henking menemukan bahmsuatu struktur inti tertentu dapat ditemukan #dila.ak& selama spermatogenesis serangga tertentu. *eparuhnya sperma menerima struktur tersebut, sedangkan separuhnya yang lain tidak menerimanya. Henking tidak menyebut'nyebut man(aat struktur tersebut, tetapi mengidenti(ikasinya sebagai

X body, dan menyatakan bahmsperma dipilah atas dasar ada atau tidak adanya struktur itu. Pada tahun ,02 $. F. M.$lung membenarkan observasi Henking atas dasar observasi sitologis terhadap berbagai spesies belalangG ditemukan pula bahmsel'sel soma individu betina belalang memiliki jumlah kromosom yang berbeda dibanding sel'sel soma individu jantan. M.$lung mengaitkan X body dengan determinasi kelamin, tetapi se.ara salah menyatakan spesi(ik untuk individu jantan. Pada aml abad ke 20 F. B. Hilson dkk menyatakan bahm X body yang dilaporkan Henking adalah suatu kromosom yang menentukan kelamin. *ejak itu X body dikenal sebagai romosom elamin atau romosom X. #$orebima, 200@D%E&. F. B. Hilson menemukan susunan kromosom yang lain pada !ygaeus turcicus (mil weed bug). Pada serangga ini jumlah kromosom yang sama ditemukan pada sel'sel dari kedua ma.am kelamin. ?kan tetapi, kromosom 1homolog7 dari kromosom ! ternyata lebih ke.il ukurannya, dan disebut kromosom I. 0ebih lanjut dinyatakan bahm)igot !! akan menjadi individu betina, sedangkan )igot !I akan menjadi individu jantan. 2emudian (enomena inilah dinyatakan dalam hubungannya dengan mekanisme determinasi kelamin tipe !!'!I #$orebima, 200@D%E&. ?tas dasar temuan pada berbagai hemn, tampaknya mekanisme !I lebih umum dikenal dibanding mekanisme !J. "emsa ini tipe !!'!I ini diduga menjadi .iri pada kebanyakan hemn tinggi #termasuk manusia&, dan ditemukan juga pada beberapa tumbuhan #misalnya Melandrium album&. Tipe ini ditemukan juga pada D. melanogaster #$orebima, 200@D%E&. Pada D. melanogaster jantan dan betina dapat dengan mudah dibedakan dengan melihat bentuk segmen'segmen abdomen bagian posteriornya. ?bdomen betina memiliki ujung merun.ing dan pola garis yang berbeda dari abdomen jantan. 2elamin lalat sebagian ditentukan oleh jumlah kromosom ! yang dimiliki individu. 4ormalnya lalat betina memiliki dua kromosom ! #homogamet&, sedangkan lalat jantan hanya memiliki satu kromosom ! ditambah satu salinan kromosom I #heterogamet&. C. Ma-am +tra"n Drosophila melanogaster Drosophila melanogaster memiliki empat ma.am kromosom didalam tubuhnya. Tiga diantaranya merupakan kromosom tubuh dan satu kromosom merupakan kromosom ! atau kromosom kelamin. Ma.am strain Drosophila melanogaster berkaitan erat dengan gen'gen yang mempengaruhinya. "ikalangan Drosophila melanogaster" gen'gen yang terpaut kromosom

kelamin ! antara lain #ditunjukkan dalam bentuk mutan& yellow" white" #ermilion" miniature" rudimentary #?yala dalam $orebima, ,,/&. Menurut $orebima #200%D@B& dari dua kromosom ! pada individu betina itu, satu kromosom dimriskan kepada keturunan betina, dan yang lainnya dimriskan kepada keturunan jantan, sedangkan dari kromosom !I padaindividu jantan, kromosom ! dimriskan kepada turunan betina, dan kromosom I dimriskan pada turunan jantan. "engan demikian terlihat jelasbahmsuatu si(at yang dikendalikan oleh (aktor yang terletak pada kromosom ! akan mengalami suatu pemrisan menyilang #crisscross inheritance&, dalam hal ini individu jantan akan memriskan si(at sema.am itu kepada .u.u turunan jantan melalui .u.u turunan jantan melalui betinanya #anaknya&, dan tidak pernah melalui turunan jantan #anak&. ?tas dasar kenyataan bahmindividu jantan hanya memiliki sebuah kromosom ! dan sebuah kromosom I yang tidak memiliki sebagian besar gen pada kromosom !, dinyatakan bahmalela mata putih tersebut pada individu jantan tergolong hemi$igot" oleh karena itu, alela diekspresikan. 0ebih lanjut dikemukakan bahmalela mutan mata putih yang ada pada kromosom ! dari individu jantan induk bermata putih, mula'mula dimriskan kepada turunan betina #kromosom I dimriskan kepada turunan jantan&. *emua turunan betina merupakan carrier alela mutan tersebut. "emikian pula turunan jantan F2 bersi(at hemi)igot, dan -0A sari seluruh turunan jantan F2 itu memperoleh kromosom ! yang membamhi alela mutan mata putih dari induk betina yang hetero)igot #$orebima, 200@D@%&. D. Per"st"m&agal Ber#"sah .Nondisjunction/ 3agal berpisah adalah suatu peristimdimana bagian'bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada meiosis >, atau dimana kromatid saudara gagal berpisah selama meosis >>. Pada kasus ini, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat salinan sama sekali #$ampbell dkk. 2002&. "alam hal ini kedua kromosom kelamin ! gagal memisah selama meiosis sehingga keduanya menuju ke kutub yang sama dan terbentuklah telur yang memiliki dua kromosom kelamin ! maupun yang tidak memiliki kromosom kelamin ! #$orebima, 200@&. Berkenaan dengan kejadian gagal berpisah #nondisjunction& pada Drosophila melanogaster seperti yang dikemukakan pertama kali oleh Bridges tahun , B, dalam 4ovitasari # ,,2& menjelaskan bahmkejadian nondisjunction tersebut dijelaskan melalui kejadian nondisjunction

pada betina bermata putih dalam hal ini betina bermata putih yang mengalami nondisjunction saat meiosis akan menghasilkan telur !C !C dan 0 #tanpa kromosom seK&. =ika telur !C !C dibuahi oleh I yang dibamsperma akan dihasilkan keturunan betina bermata putiih #! C !CI&. =ika telur tanpa kromosom seK dibuahi oleh ! yang dibamsperma, akan menghasilkan keturunan jantan normal #!L0&. Tipe lain dari kejadian nondisjunction adalah telur !! yang akan dibuahi oleh ! yang dibamsperma dan telur 0 yang akan dibuahi oleh I yang akan dibamsperma. Migot !!! yang bergenotip !C !C!L #betina& biasanya mati dan lalat IJ selalu mati. $ontoh persilangan antara D. melanogaster strain 4 : 89 C 5 yang menghasilkan keturunan nondisjunction dapat dilihat pada gambar 2.

Peristimnondisjunction

dibedakan

menjadi

nondisjun.tion

primer

dan

sekunder.

Nondisjunction primer dapat terjadi pada induk lalat yang belum mengalami nondisjunction atau lalat normal, sedangkan nondisjunction sekunder terjadi pada keturunan yang merupakan hasil nonodisjun.tion primer. Peristimitu disebut sebagai gagal berpisah sekunder karena kejadiannya

berlangsung pada turunan dari individu betina, yang keberadaannya merupakan produk gagal berpisah primer. "alam hal ini individu betina yang dimaksud memiliki dua kromosom kelamin ! dan satu kromosom I #$orebima,200@&. E. %akt)r0%akt)r ,ang mem#engaruh" %en)mena Nondisjunction Faktor yang mempengaruhi terjadinya gagal berpisah #nondisjun.tion& terdiri dari (aktor luar dan (aktor dalam. Menurut HerkoCith # ,B-& dalam Fllinda # ,,,& menyatakan bahmperistimgagal berpisah kromosom ! pada D.melanogaster dipengaruhi oleh (aktor luar meliputi suhu, energi matahari, dan )at kimia. *edangkan (aktor luar yang mempengaruhi yaitu umur dan gen mutan. Peristimnondisjun.tion pada D. melanogaster dapat ditingkatkan dengan adanya energy tinggi, dan )at kimia lain. 3en mutan menyebabkan sentromer tidak berada dalam keadaan normal dimana sentromer sesaudara terletak saling menutup pada saat metaphase. "ua sentromer sesaudara terletak berdekatan pada metaphase dalam keadaan normal, sampai ketika satu sentromer menuju kutub dan sentromer lain menuju kutub yang berlamnan. ?danya gen mutan #gen mei's%22& yang merupakan gen semi dominan pada kromosom >> D. melanogaster, maka pada metaphase >> sentromer sesaudara terletak menjauh, dan masing'masing akan berorientasi bebas, konsekuensinya kedua sentromer kadang'kadang menuju kutub yang sama sehingga pada anaphase >> terjadi peristimnondisjunction #gagal berpisah&. Pai # ,E-& dalam Bal+is # ,,-&, menyatakan bahmperistimgagal berpisah .enderung meningkat dengan semakin bertambahnya umur khususnya pada bentuk kehidupan yang rendah. %. Pemrna +"ntet"k .D,l)n/ Mrna merupakan .iri penting dan pemilihan kriteria untuk pilihan makanan. *e.ara umum, pemrna sintetik yang digunakan dalam industry tekstil, .at dan kertas memiliki rumus molekul $2EH% 42J%$l. Pemrna sintetik #"ylon& juga larut dalam asam klorida, natrium hidroksida dan al.ohol #Mhyu, 20 0&. "ylon merupakan salah satu )at mrna sintetik yang digunakan untuk industri tekstil, .at, dan kertas. Pemrna jenis ini berupa serbuk dengan berbagai ma.am mrna, sangat mudah larut dalam air yang akan menghasilkan larutan yang homogen. Pemrna ini juga larut dalam asam klorida, natrium hidroksida dan al.ohol #Mhyu, 20 0&. Pemrna tekstil ini sering

disalahgunakan untuk pemrna makanan dan pemrna kosmetik, "ylon ini terbuat dari dietillamniphenol dan phatali. an.hidria dimana kedua bahan baku ini sangat toksik bagi manusia #*oneta, 200/&. $ahyadi, 200B menyebutkan baham)at mrna ini dapat menyebabkan iritasi dan merupakan )at karsinogenik #dapat menyebabkan kanker&. F(ek kronis pemrna sintetik dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati. "jarismamti, 200@ #dalam soneta, 200/& menyebutkan bahmdalam uji toksisitas pemrna sintetik terhadap hemn, menunjukkan terjadinya perubahan bentuk dan organisasi sel dalam jaringan hati dari normal ke patologis, yaitu perubahan sel hati menjadi nekrosis dan jaringan disekitarnya mengalami desintegrasi atau disorganisasi. 2erusakan pada jaringan hati ditandai dengan terjadinya piknotik dan hiperkromatik dari nu.leus, degenerasi lemak dan sitolisi dari sitoplasma. "egenerasi lemak ini disebabkan karena terhambatnya pasokan energi yang digunakan untuk memelihara (ungsi dan struktur reti.ulum endoplasmi. sehingga proses sintesa protein menjadi menurun dan sel kehilangan daya untuk mengeluarkan trigliserida, akibatnya menyebabkan ne.rosis hati. "alam analisis penelitian menggunakan metode destruksi dan spektro(otometri telah diketahui bahmsi(at ra.un pemrna sintetik tidak hanya disebabkan senyamorganik, tetapi oleh karena kontaminasi senyamanorganik terutama timbal dan arsen #*ubandi, ,,,&. "engan terkontaminasinya pemrna sintetik dengan kedua unsur tersebut, menyebabkan pemrna sintetik ini berbahaya jika digunakan sebagai pemrna pada makanan, obat maupun kosmetik. Hal ini didukung oleh Hinarno #200@& yang menyatakan bahmtimbal memang banyak digunakan sebagai pigmen atau )at pemrna dalam industri kosmetik dan kontaminasi dalam makanan dapat terjadi akibat penggunaan )at pemrna tekstil tersebut. "i dalam strukturnya terdapat ikatan dengan senyamklorin #$l& dimana atom klorin tergolong sebagai senyamhalogen dan si(at halogen yang berada di dalam senyamorganik sangat berbahaya dan memiliki reaktivitas yang tinggi untuk men.apai kestabilan dalam tubuh dengan .ara berikatan terhadap senyam'senyamdi dalam tubuh yang menimbulkan e(ek toksik dan memi.u kanker pada manusia #2usmayadi dan *ukandar 200,&. =uga senyam?lkilating #$H%'$H% & dan bentuk struktur kimia yang poli aromatik hidrokarbon #P?H& dimana bentuk senyamtersebut bersi(at sangat radikal, menjadi bentuk metabolit yang reakti( setelah mengalami aktivasi dengan en)im sitokrom P'@-0. Bentuk radikal ini akan berikatan dengan protein, lemak dan "4? #0evi, ,E/ G Makaria et al." ,,B&. 6espon bervariasi tidak hanya sesuai dengan dosis, usia, jenis kelamin, status gi)i dan genetik (aktor, tetapi juga sesuai dengan jangka panjang paparan dosis

rendah #*asaki et al."dalam Hassan 200,&. Beberapa metabolit dari )at ini, seperti senyamnitrat, juga telah ditemukan menjadi karsinogen #Hassan,200,&. Beberapa aditi( makanan sebenarnya, telah dilarang dari penggunaan karena toksisitas bahan aditi( makanan tersebut. ?diti( ini terbukti menyebabkan kerusakan "4? pada bakteri, jamur, serangga dan mamalia sel in #i#o dan in #itro. Mereka juga menyebabkan penyimpangan kromosom dalam sel mamalia, termasuk sel manusia #>?6$, ,E%&. "engan mengguanakan teknik alat tes komet menunjukkan adanya kerusakan "4?. Pengujian dengan in #i#o komet adalah .ara yang .epat, sederhana dan sensiti( genotoKi.ologi.al teknik untuk mengukur kerusakan "4? dalam tipe sel individu hemn atau tanaman asal. Pengujian dengan teknik komet akan menjadi alat yang lebih e(ekti( untuk mendeteksi genotoKisitas dari aditi( makanan. Pengujian tersebut didirikan sebagai tes genotoksititas dengan banyak lipat aplikasi in #itro dan in #i#o #*peit et al." ,,,&.

BAB III !ERAN&!A !(N+EPTUAL DAN HIP(TE+I+ A. !erangka !)nse#tual Penelitian ini diran.ang untuk mengetahui (rekuensi nondisjunction pada persilangan Drosophila Melanogaster strain 45Nm: dan 45Nwe: beserta resiproknya. *i(at makhluk hidup dikendalikan oleh gen. "imana gen dapat mengalami mutasi. *alah satu .ontoh mutasi yang terjadi adalah (enomena Nondisjunction yang bisa disebabkan oleh dua (aktor.

Faktor eksternal #radiasi, senyaCa kimia& mempengaruhi (rekuensi Nondisjunction Pemberian senyaCa kimia peCarna sintetik "ylon konsentrasi 0AG 0,0 AG 0,0%AG 0,0-AG 0,0/AG 0,0,A

Faktor internal #ma.am strain 4, wa, dan we) mempengaruhi (rekuensi Nondisjunction *train wa dan we terpaut pada kromosom kelamin. 2romosom kelamin mengalami crisscross inheritance.

?nalisis dan (rekuensi Nondisjunction persilangan Drosophila melanogaster strain %4&'(wa dan %4&'(we beserta resiproknya

Pembahasan dan kesimpulan

B. H"#)tes"s . ?da pengaruh beberapa konsentrasi "ylon #0A, 0,0 A, 0,0%A, 0,0-A, 0,0/A, 0,0,A& terhadap (rekuensi gagal berpisah #Nondisjunction& pada persilangan 45 89 m: dan 45 89 we: beserta resiproknya. 2. ?da pengaruh ma.am strain terhadap (rekuensi Nondisjuncti

BAB I1 MET(DE PENELITIAN A. Ran-angan $an *en"s Penel"t"an Penelitian yang kami lakukan ini merupakan jenis penelitian eksperimental, karena penelitian ini dilakukan dengan pengamatan se.ara langsung pada obyek yaitu pada hasil F dan F2 berdasarkan persilangan D. melanogaster 45 89 we( dan 45 89 m: beserta resiproknya yang dilakukan dua kali ulangan. 2emudian melakukan pengamatan (enotip pada turunannya #F &, selanjutnya menyilangkan F2 dari keturunan F dan mengamati (enotip. Oariabel dalam penelitian ini antara lain variable bebas yakni ma.am *train dan 2onsentrasi "ylon yang diberikan. Oariabel terikat yakni (rekuensi Nondisjunction. B. Mktu $an Tem#at Penel"t"an Penelitian ini dilakukan di 0aboratorium 3enetika gedung J- lantai % ruang % 0 jurusan Biologi FM>P? <niversitas 4egeri Malang pada bulan *eptember'4ovember 20 2 C. P)#ulas" $an +am#el Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh spesies Drosophila melanogaster yang ada di laboratorium 3enetika diruang % 0 jurusan biologi <niversitas 4egeri Malang.*ampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Drosophila melanogaster strain 4" we" dan m. D. Alat $an Bahan ?lat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari mikroskop stereo, pisau 2 botol selai2 kuas, selang, plastik2 spidol transparansi, busa, karet, blender, timbangan, pan.i, kertas pupasi, kompor gas, kain kasa, kardus, pengaduk kayu, dan guntingP.utter. *edangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari, Drosophila melanogaster strain 4, Drosophila melanogaster strain we, Drosophila melanogaster strain m" yeast, air, tissue, kapas, pisang rajamala, tape singkong, gula merah, dan "ylon mrna hijau.

E. Pr)se$ur !er a Pembuatan Medium Menimbang pisang, tape singkong dan gula merah dengan perbandingan /D2D untuk satu resep. Memotong'motong pisang dan tape singkong dan mengiris gula merah menjadi potongan yang ke.il'ke.il. Menambahkan air se.ukupnya pada potongan pisang dan tape singkong, kemudian menghaluskannya dengan .ara memblender. Memasukkan pisang dan tape singkong yang telah di blender ke dalam pan.i kemudian memanaskannya diatas kompor dengan api sedang selama @- menit. Memasukkan gula merah yang telah diiris'iris ke dalam pan.i sebelum medium matang. *etelah @- menit, mengangkat medium dari kompor kemudian mengisi botol selai yang telah di.u.i dan di keringkan dengan medium dan segera menutupnya dengan gabus penutup. 2emudian mendinginkannya dengan .ara memasukkan botol pada bak atau baskom yang berisi air se.ukupnya. Menyiapkan *tok >nduk Medium yang telah didinginkan dalam botol selai ditambahkan Q @ butir yeast dan memasukkan kertas pupasi dalam botol tersebut. Memasukkan beberapa botol pasang D. melanogaster sesuai dengan strain pada setiap botol selai berisi medium yang telah disiapkan. Memberi identitas atau label yaitu dengan memberi tanda berupa tanggal pemasukan D. melanogaster dan nama strain. Menunggu hingga ada pupa yang menghitam, kemudian mengampul pupa tersebut ke dalam selang ampul yang telah diberi sedikit irisan pisang #tiap selang ampul berisi dua pupa&.

Menunggu hingga pupa menetas sehingga siap untuk dikaCinkan atau siap untuk melakukan persilangan. Persilangan F a. Perlakuan 4ormal Memasukkan satu ekor D. melanogaster strain 45 dan we: beserta resiproknya kemudian memberi nama persilangan pada botol. Memasukkan satu ekor D. melanogaster strain 4% dan M( beserta resiproknya kemudian memberi nama persilangan pada botol. Masing'masing persilangan diulang sebanyak % kali. *etelah dua hari D. melanogaster jantan dari persilangan dilepas.

*etelah terdapat larva pada botol persilangan , betina dipindahkan ke botol selanjutnya sampai dengan botol ". *etelah terdapat pupa yang menghitam, pupa tersebut diampul dan menuliskan kode pada selang ampulan *etelah pupa menetas, dilakukan pengamatan (enotipnya dan dihitung selama / hari berturut'turut dan juga dilakukan persilangan dari anakan F yang menetas. *etelah terdapat larva pada botol persilangan F , betina dipindahkan ke botol selanjutnya sampai dengan botol ". *etelah terdapat pupa yang menghitam, pupa tersebut diampul dan menuliskan kode pada selang ampulan. *etelah pupa menetas, dilakukan pengamatan (enotip F2 dan dihitung selama / hari berturut'turut. b. Perlakuan "ylon Menyiapkan medium yang sudah di buat perbandingan /D2D

Membuat perbandingan dan menimbang antara medium dan "ylon #konsentrasi 0A, 0,0 A, 0,0%A, 0,0-A, 0,0/A dan 0,0,A&, misalnya medium dengan perbandingan -0gram maka "ylon yang dibutuhkan 0,00- gram #0,0 A& $ara perhitungan D

Men.ampurkan antara medium dan "ylon yang sudah ditimbang sesuai dengan konsentrasi 0A, 0,0 A, 0,0%A, 0,0-A, 0,0/A dan 0,0,A, kemudian memasukkan ke dalam botol selai. Memasukkan satu ekor D. melanogaster strain 45 dan we: beserta resiproknya kemudian memberi nama persilangan pada botol. Memasukkan satu ekor D. melanogaster strain 4% dan M( beserta resiproknya kemudian memberi nama persilangan pada botol. Masing'masing persilangan diulang sebanyak 2 kali. *etelah dua hari D. melanogaster jantan dari persilangan dilepas.

*etelah terdapat larva pada botol persilangan , betina dipindahkan ke medium baru yang berisi rodamin sesuai dengan konsentrasi masing'masing sampai ke botol ". *etelah terdapat pupa yang menghitam, pupa tersebut diampul dan menuliskan kode pada selang ampulan *etelah pupa menetas, dilakukan pengamatan (enotipnya dan dihitung selama / hari berturut'turut dan juga dilakukan persilangan dari anakan F yang menetas. *etelah terdapat larva pada botol persilangan F , betina dipindahkan ke botol selanjutnya sampai dengan botol ". *etelah terdapat pupa yang menghitam, pupa tersebut diampul dan menuliskan kode pada selang ampulan. *etelah pupa menetas, dilakukan pengamatan (enotip F2 dan dihitung selama / hari berturut'turut. Persilangan F2 Menyilangkan sepasang D. melanogaster hasil persilangan yang diambil dari F ke dalam botol selai yang telah diisi dengan medium dengan konsentasi yang telah ditentukan *etelah dua hari D. melanogaster jantan dilepas dari dalam botol.

*etelah terdapat larva pada botol persilangan, betina dipindahkan ke medium baru sampai dengan botol " dengan konsentrasi yang sama pada botol sebelumnya. Menghitung (enotip yang mun.ul saat pupa sudah menetas dan men.atatnya sebagai perhitungan hari ke' .

Perhitungan (enotip dilakukan selama / hari sejak penetasan hari pertama.

Per.obaan diulang sebanyak dua kali pada masing'masing strain beserta resiproknya.

%. Tekn"k Pengum#ulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan .ara menghitung jumlah anakan F dan F2 dari masing'masing persilangan baik pada persilangan kontrol maupun perlakuan serta mengamati (enotipnya dan kemudian memasukkannya ke dalam data pengamatan. T"#e !)nsentras" #ers"langan UI 34 UII T)tal UI 32354 UII T)tal UI 32364 UII T)tal UI 32374 UII T)tal 32384 UI UII

T)tal UI 32394 UII T)tal

&. Tekn"k Anal"s"s Data =umlah keturunan F yang mengalami nondisjun.tions pada pengamatan yang dilakukan dianalisis menggunakan ?nalisis Oarian Tunggal dengan 6an.angan ?.ak 2elompok karena terdapat satu variabel bebas dan ulangan tidak dilakukan dalam mktu yang homogen. Tetapi, sebelumnya data mentah ditrans(ormasi terlebih dahulu menggunakan trans(ormasi akar kuadrat. Persentase gagal berpisah #non disjunction& dihitung dengan memakai rumus sebagai berikutD A Frekuensi 4"= R Sindividu 4"= K 00A S total

BAB 1 DATA DAN ANALI+I+ DATA A. Data *train pada D. melanogaster memiliki ragam variasi. Penelitian yang dilakukan oleh pengamat yaitu strain 4, we, dan Mdengan .iri' .iri mor(ologi sebagai berikutD & *train 4 #wild) type&

#"okumentasiD Pribadi & Mata bermrna merah Mrna tubuh .oklat *ayap menutupi tubuh dengan sempurna 2& *train we

#"okumentasiD Pribadi& Mata bermrna putih gading Tubuh bermrna kuning ke.oklatan

*ayap menutupi tubuh se.ara sempurna %& *train m

#"okumentasi pribadi& Mata bermrna orange Tubuh bermrna kuning ke.oklatan *ayap menutupi tubuh se.ara sempurna

B. Anal"s"s Data . Persilangan 45 89 we:

6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction #4"=&


D

45 89 D

we:
we we
we , we

3enotip 3amet F

w e+ 89

D we*, T :

5 CeL T

Ce
w e+ #4:& we

Ce
w e+ #4:& we

we # C5&

we # C5&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, 4:, Ce 5, Ce 5. 6ekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction #4"=& P 3enotip 3amet F : 5 HeL Ce
w #4:& we
e+

45 89

Ce:
we we

w e+ 89

we*, T G w e, w ew e, 0

C eC e
we we #: super we+

0
w e+ # 45& 0

letal&

w # C5&

w we #C:&

0 #letal&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, 45, Ce 5, Ce: Frekuensi non disjunction #4"=&
ND+ 00A= total

2. Persilangan 4: 89 Ce5 6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction #4"=& P 3enotip 3amet F : 5 Ce T Ce L
w e+ #4:& we

4: 89
w e+ 89 w e+

Ce5

we
C e, T

CeL, CeL

Ce L
w e+ #4:& we

w e+ # 45&

w e+ # 45&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, 4:, 45, 45

6ekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction #4"=& P 3enotip 3amet 4: 89 Ce5

w e+ 89 w e+

we

CeL, CeLCeL, 0 G C e, T :

F 5 Ce Ce L
w e+ #4:& we

C eLC eL
w e+ w e+ #: super we

0
we # Ce5& 0

letal&

w e+ # 45&

w e+ w e+ #4:&

0 #letal&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, Ce5, 45, 4: Frekuensi nondisjun.tion #4"=&
ND+ 00A= total

%. Persilangan 45 89 m: P 3enotip 3amet F : 5 m


*

6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction #4"=&


D

45 89 D

m:
m m

m+ 89

D mL, T

m), m)

m)
m+ #4:& m

m)
m+ #4:& m

m # m5&

m # m5&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, 4:, m5, m5. 6ekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction #4"=& P 3enotip 3amet F
D

45 89

m:
m m

m+ D 89

D mL, T G C a, C aC a, 0

: 5 mL

Ca

C aC a
wa wa #: wa+

w a+ #4:& wa

super letal&

wa+ # 45& 0

w # C5&

wa wa #C:&

0 #letal&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, 45, m5, m: Frekuensi non disjunction #4"=&
ND+ 00A= total

@. Persilangan 4: 89 m5 6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction #4"=& P 3enotip 3amet 4: 89
w a+ 89 w a+

m5

wa
C a, T

mL, mL

F : 5 m T mL
w a+ #4:& wa

mL
wa+ #4:& w

w a+ # 45&

w a+ # 45&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, 4:, 45, 45

6ekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction #4"=& P 3enotip 3amet 4: 89 m5

w a+ 89 w a+

wa

mL, mLmL, 0 G C a, T :

F 5 m mL
w #4:& wa
a+

C aLC aL
w a+w a+ #: super wa

0
wa # C5& 0

letal&

w # 45&

a+

w w a+ #4:&

a+

0 #letal&

Fenotip yang mun.ul adalah 4:, m5, 45, 4: Frekuensi nondisjun.tion #4"=&
ND+ 00A= total

= F2 R ulangan

total
2

=2 total R .i ,- = =2 perlakuan

. R r

,- =

=2ulanganR

. 2 j ,- = t

=2 galat R =k total U #=2 perlakuan L =2 ulangan & 2T perlakuanR 2T ulangan R 2T galat R


+- perla uan n =

+- ulangan r
+- galat

=
=
perla uan

# n &#r &
-/

F hitung perlakuanR F hitung ulangan R

-/galat -/
ulangan galat

-/

Tabel ?nava *2 <langan Perlakuan 3alat Total F0,0-9Fhit 8F0,0 =ika Fhit 8 Ftabel maka hipotesis alternati( diterima berarti ada pengaruh "ylon pada (enomena gagal berpisah #nondisjunction& pada persilangan Drosophila melanogaster strain 4589m: dan 4589 Ce: berserta resiproknya. =ika Fhit 9 Ftabel maka hipotesis alternati( diterima berarti ada pengaruh "ylon pada (enomena gagal berpisah #nondisjunction& pada persilangan Drosophila melanogaster strain 4589m: dan 4589 Ce: berserta resiproknya. Berdasarkan data pengamatan dan penelitian yang telah dilakukan dari persilangan 45 89 m:, 45 89 we: masing'masing beserta resiproknya jumlah anakan pada F serta F2 yang db =2 2T Fhit -A Ftabel A

mun.ul berbeda'beda, sama halnya dengan perlakuan konsentrasi mulai dari 0A, 0,0 A, 0,0%A, 0,0-A, 0,0/A dan 0,0,A dengan masing'masing persilangan dua kali ulangan. "alam perhitungan tidak dapat di analisis dengan anava tunggal, hal ini yang disebabkan data yang kurang lengkap sehingga hanya dapat disajikan metode perhitungan (rekuensi Nondisjunction. "iketahui berdasarkan data pengamatan perhitungan anakan, pada konsentrasi 0A, 0,0 A, 0,0%A, 0,0-A, 0,0/A dan 0,0,A mengalami penurunan jumlah anakan dibandingkan perlakuan kontrol. Penurunan tersebut disebabkan karena pemberian "ylon. Pada data pengamatan yang telah dihitung (rekuensi nondisjun.tionnya dengan menggunakan rumus, perhitungan dirangkum dalam tabel data yang ketiga. Pada persilangan 45 89 we: konsentrasi 0A, hasil (rekuensi Nondisjunction pada ulangan pertama sampai kedua serta total adalah 0A, yang berarti tidak adanya anakan yang mengalami 4ondisjun.tion. Pada konsentrasi 0,0 A sampai konsentrasi 0,0,A dipersilangan yang sama, data (rekuensi yang ditunjukkan tidak stabil. "itunjukkan dengan data yang nilai (rekuensinya naik'turun. 4amun perhitungan (rekuensi 4"= se.ara total ditiap tingkat konsentrasi menunjukkan peningkatan dan (rekuensi 4"= terbesar ada pada konsentrasi 0,0,A. Pada persilangan 4 >< we5, hasil (rekuensi Nondisjunction pada konsentrasi 0A sampai 0,0,A juga menunjukkan nilai yang naik turun. 4ilai (rekuensi tertinggi ada pada konsentrasi 0,0 A yakni 2E,BA sedangkan pada konsentrasi 0,0,A hanya menunjukkan %,BA. Frekuensi total 4"= pada masing'masing konsentrasi juga menunjukkan nilai (rekuensi 4"= naik'turun. Pada persilangan 45 89 m:, hasil (rekuensi 4ondisjun.tion konsentrasi 0A sampai 0,0,A se.ara umum naik'turun atau tidak stabil. *edangkan nilai total (rekuensi menunjukkan peningkatan (rekuensi 4"= dengan nilai tertinggi pada konsentrasi 0,0,A yakni - ,EA dan nilai terendah pada konsentrasi 0A sebesar ,EA. Pada persilangan 4 >< m5, hasil (rekuensi Nondisjunction pada konsentrasi 0A sampai 0,0,A menunjukkan peningkatan (rekuensi. 2enaikan ini hanya pada konsentrasi 0,0-A. "an pada persilangan 0,0/A dan 0,0,A tidak dapat dilakukan perhitungan (rekuensi 4"= karena data yang diperoleh belum lengkap. *ehingga nilai tertinggi hanya ditunjukkan pada konsentrasi 0,0-A sebesar ,,BA.

BAB 1I PEMBAHA+AN Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, yaitu pada persilangan 4589m:dihasilkan keturunan F m5, m:, N5dan 4:, dan untuk (enotip F2 yang mun.ul dari persilangan sesama F nya didapatkan hasil mun.ulnya m5, 4:, 45 dan m:. *edangkan pada resiproknya didapatkan hasil F m5, N5dan 4: sedangkan untuk (enotip F2 yang mun.ul dari sesama F nya yaitu mun.ulnya m5, 4:, 45 dan m:. "ari hasil ini diketahui bahmterdapat perbedaan hasil keturuan F , sehingga persilangan ini bersi(at resiprokal.

Hasil analisis yang dilakukan, yaitu pada persilangan 4589 C e:dihasilkan keturunan F Ce5, we :, N5dan 4:, dan untuk (enotip F2 yang mun.ul dari persilangan sesama F nya didapatkan hasil mun.ulnya Ce5, 4:, 45 dan Ce :. *edangkan pada resiproknya didapatkan hasil F m5, N5dan 4: sedangkan untuk (enotip F2 yang mun.ul dari sesama F nya yaitu mun.ulnya Ce5, 4:, 45 dan Ce:. 3en mmengalami mutasi pada kromosom > sedangkan gen 4 tidak mengalami mutasi #3ardner, ,, D BE&. Hal inilah yang mengakibatkan bahmsemua hasil F pada persilangan 4589m: dan resiproknya menghasilkan F yang berbeda, karena ada gen yang terpaut oleh kelamin yaitu m. Begitu juga pada persilangan antara 4589 C e: yang menghasilkan perbedaan hasil F dimana kromosom Ce terpaut oleh kromosom kelamin #kromosom &. *train we dan myang digunakan dalam penelitian ini merupakan strain dengan gen'gen yang terpaut pada kromosom kelamin. Pemilihan strain ini dikarenakan gen yang terpaut pada kromosom kelamin memiliki pola persilangan yang khas sehingga dapat diidenti(ikasi dengan mudah adanya peristimNondisjunction. Hal ini sesuai dengan pernyataan $orebima, ,,/ yang menyebutkan bahmpemrisan si(at #(enotip& yang terpaut kromosom kelamin ! mengikuti suatu pola yang khas, yaitu .riss.ross pattern inheritan.e yang berarti pola pemrisan menyilang. *i(at yang terpaut kromosom kelamin ! yang memiliki pola demikian lebih mudah dipahami pada si(at'si(at yang oleh gen'gen resesi(. Pada idealnya, benang'benang meioti. mendistribusikan kromosom pada sel'sel anak tanpa kesalahan. 4amun adakalanya terjadi ke.elakaan yang disebut dengan nondisjunction, di mana bagian'bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada mktu meiosis >, atau di mana kromatid sesaudara gagal berpisah selama meiosis >>. Pada kasus ini, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat salinan sama sekali. 2romosom'kromosom lainnya biasanya terdistribisi se.ara normal #$ampbell, 2002&. "engan adanya perlakuan penambahan konsentrasi "ylon pada medium yaitu sebesar 0.0 A, 0.0%A, 0.0-A, 0,0/A, 0,0,A serta tanpa pemrna sintetik #"ylon& sebagai perlakuan kontrol menghasilkan hasil yang berbeda'beda. Hal ini terlihat dari data pengamatan yang telah diperoleh, pada berbagai tingkat konsentrasi ada variasi jumlah anakan. *e.ara kasar, dapat dilihat bahmada penurunan jumlah anakan pada setiap penambahan konsentrasi "ylon ynag diberikan.

*eperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahmrata'rata data, menunjukkan adanya penurunan jumlah anakan akibat pemberian "ylon. Pengaruh pemberian Pemrna *intetik ini menyerang pada tingkat sel dan juga "4?. "imana pemrna sintetik termasuk sebagai bahan kimia dapat menyebabkan kerusakan sel. Bahan tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada tingkat seluler dengan mengubah permeabilitas membran, homeostasis osmotik, keutuhan en)im atau ko(aktor dan dapat berakhir dengan kematian seluruh organ. Mat kimia menginduksi .edera sel melalui .ara langsung bergabung dengan komponen molekuler atau organel seluler. Pada kondisi ini kerusakan terbesar tertahan oleh sel yang menggunakan, mengabsorpsi, mengekskresi, atau mengonsentrasikan senyam. Banyak )at kimia lain yang tidak akti( se.ara intrinsik biologis, tetapi pertama kali harus dikonversi menjadi metabolit toksik reakti( yang kemudian bekerja pada sel target. Bahan kimia seperti pemrna tekstil menerima atau mendonor elektron bebas selama reaksi intrasel sehingga mengkatalisis pembentukan senyamra.un. Terdapat % reaksi kerusakan sel yang diperantarai radikal bebas yaitu peroksidase membran lipid, (ragmentasi "4? dan ikatan silang protein. >nteraksi radikal lemak menghasilkan peroksida yang tidak stabil dan reakti( dan terjadi reaksi autokatalitik. 6eaksi radikal bebas dengan timin pada "4? mitokondria dan nuklear menimbulkan rusaknya untai tunggal. 2erusakan "4? memberikan implikasi pada pembunuhan sel dan perubahan sel menjadi ganas. 6adikal bebas men.etuskan ikatan silang protein yang diperantarai sul(hidril, menyebabkan peningkatan ke.epatan degradasi atau hilangnya akti(itas en)imatis. *ehingga berdasarkan uraian tersebut proses pembentukan protein dalam tubuh Drosophila melanogaster menjadi terhambat. Penghambatan sintesis protein tersebut dapat pula terjadi pada protein yang berperan dalam proses pembelahan kromosom. *ehingga dapat memungkinkan terjadinya peristim4"=. *ebagai penguatan bahmpemrna sintetik dapat merusak pada tingkat sel, "jarismamti, 200@ #dalam soneta, 200/& juga menyebutkan bahmdalam uji toksisitas pemrna sintetik terhadap hemn, menunjukkan terjadinya perubahan bentuk dan organisasi sel dalam jaringan hati dari normal ke patologis, yaitu perubahan sel hati menjadi nekrosis dan jaringan disekitarnya mengalami desintegrasi atau disorganisasi. 2erusakan pada jaringan hati ditandai dengan terjadinya piknotik dan hiperkromatik dari nu.leus, degenerasi lemak dan sitolisi dari sitoplasma. "egenerasi lemak ini disebabkan karena terhambatnya pasokan energi yang digunakan untuk memelihara (ungsi dan struktur reti.ulum endoplasmi. sehingga proses sintesa protein menjadi

menurun dan sel kehilangan daya untuk mengeluarkan trigliserida, akibatnya menyebabkan ne.rosis hati. ?drian # ,/%& dalam penelitiannya menjelaskan bahmsenyamdalam pemrna sintetik #"ylon& ini bekerja dengan .ara menghambat proses (os(orilasi oksidati( yang berlangsung di mitokondria, pada konsentrasi tinggi, pemrna sintetik ini menyebabkan hilangnya matriK protein . Mat ini dapat berikatan dengan protein'protein yang akan menangkap ion HL, akibatnya proses trans(er ele.tron yang akan menghasilkan ?TP akan terhambat. Bila proses suplay ?TP ini berkurang, maka kerja dari sel akan mengalami gangguan. Pada proses perkembangan embrio ". melanosgater ini, )igot akan melakukan pembelahan untuk berkembang menjadi embrio hingga menjadi larva. "alam proses pembelahan sel dibutuhkan ?TP dalam jumlah yang besar, jika ?TP yang diperlukan tidak ter.ukupi maka pembelahan sel tidak dapat berlangsung sehingga embrio ini dapat mengalami kematian. Hal ini mungkin yang mempengaruhi penuruan jumlah anakan pada F dan F2 akibat pemberian pemrna sintetik tekstil #"ylon& ini. Berkaitan dengan perusakan di tingkat "4? dan kromosom, pemrna sintetik atau )at aditi( ini terbukti menyebabkan kerusakan "4? pada bakteri, jamur, serangga dan mamalia sel in #i#o dan in #itro #*peit et al." ,,, dalam Hassan, 20 0&. Mereka juga menyebabkan penyimpangan kromosom dalam sel mamalia, termasuk sel manusia. "engan mengguanakan teknik alat tes komet menunjukkan adanya kerusakan "4?. Pada pemberian mrna makanan diuji menyebabkan kelainan pembelahan mitosis, tetapi kelainan ujung ke ujung hubungan tidak signi(ikan bila dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan (rekuensi dalam penyimpangan kromosom adalah tergantung dosis pemberian pemrna makanan.Menurut teori yang berlaku, struktural hasil dari "4? langsung mengalami kerusakan, replikasi pada "4? yang rusak template, penghambatan sintesis "4?, dan mekanisme lain seperti topoisomerase >> penghambatan. Meskipun poliploidi tidak sering kelainan, kelainan tersebut menunjukkan bahmbahan kimia ini kemungkinan besar menghambat (ungsi "4? topoisomerase >> pada "4?. 2arena en)im ini terutama memainkan peran penting dalam kromosom mitosis segregasi setelah replikasi "4?, jika seperti kesalahan telah ada dalam a.ara, mitosis menyimpang seperti poliploidi terjadi #$ortes dan Pastor, 200% dalam Hassan, 20 0&. F(ek dari pemrna tekstil #"ylon& terhadap nondisjun.tion adalah memperbanyak (rekuensi kemun.ulannya, hal ini dikarenakan rhodamin ini dapat menyebabkan kerusakan "4?

yang akan mengkode pembentukan en)im'en)im yang berperan dalam pembentukan mikrotubul saat terjadi pembelah, sehingga kromsom'kromosomnya tidak dapat berpindah menuju e+uator. Protein khusus yang berperan dalam proses pembelahan sel ini pada ". melanogaster dikode oleh gen yang terdapat pada lokus nod" dimana gen'gen ini akan mengkode protein yang disebut dengan protein kinesin. "alam hal ini, )at dalam pemrna tekstil ini dapat berikatan dengan protein kinesin, ataupun merusak "4? pada lokus nod tersebut. ?danya ikatan dengan pemrna tekstil #"ylon& yang kami gunakan ini akan menyebabkan protein kinesin ini menjadi tidak ber(ungsi #terjadi perubahan kon(ormasi& sehingga menyebabkan kegagalan meiosis serta gagal berpisah dari kromosom. Pada hasil analisis dengan menghitung jumlah anakan pada tiap persilangan, menunjukkan bahmadanya menurunnya jumlah anakan. 4amun, pada konsentrasi 0,0,A terjadi kenaikan jumlah anakan. Hal ini dimungkinkan karena konsentrasi yang tidak sesuai. ?rtinya bahmpada konsentrasi 0,0,A bukan konsentrasi yang e(ekti( yang memberikan pengaruh pada (enotipe yang mun.ul. Hal ini berdasarkan kajian teori yang menyebutkan bahmrespon bervariasi tidak hanya sesuai dengan dosis, usia, jenis kelamin, status gi)i dan genetik (aktor, tetapi juga sesuai dengan jangka panjang paparan dosis rendah #*asaki et al." 2002 dalam Hassan 20 0&. *edangkan hasil analisis data dengan menghitung jumlah (rekuensi 4"= se.ara umum menunjukkan adanya kenaikan (rekuensi 4"= yang sebanding dengan kenaikan konsentrasi "ylon yang diberikan. Meskipun, data yang diperoleh dari pengujian statisti. namun berdasarkan perhitungan (rekuensi sudah terlihat kenaikannya. Hal ini sudah sesuai dengan teori yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya. BAB 1II PENUTUP A. !es"m#ulan Berdasarkan data pengamatan sementara maka dapat diperoleh kesimpulan sementara, yaituD . ?danya (enomena 4on'"isjun.tion yang terjadi pada persilangan N5 89 m: dan N5 89 we: beserta resiproknya. Hal ini dibuktikan dengan mun.ulnya strain yang tidak sesuai dengan kebakaan pola persilangan kromosom yang terpaut kelamin pada persilangan F .

2. Pemrna sintetik #"ylon& berpengaruh terhadap (rekuensi Nondisjunction pada persilangan N5 89 m: dan N5 89 we: beserta resiproknya. Pengaruh pemrna sintetik terhadap (rekuensi 4"= ditunjukkan dengan adanya peningkatan pada jumlah (rekuensi 4"= yang sebanding dengan peningkatan pemberian konsentrasi pemberian pemrna sintetik #"ylon&.

B. +aran . "alam melakukan penelitian seharusnya diperlukan kesabaran dan ketelitian yang tinggi agar data yang diperoleh merupakan data tepat dan akurat. 2. ?lat dan bahan yang digunakan harus bersih sehingga (a.tor penghambat seperti kutu dan jamur dapat diminalisir. %. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, dikarenakan data yang diperoleh belum memenuhi kelengkapan. @. Hendaknya praktikan lebih teliti dan sabar dalam melakukan penelitian agar data yang diperoleh akurat.

Da'tar Pustaka ?)i)ahmti, 2urniadi, M., Hidayat, H., 200/., ?nalisis Mat Mrna *intetik Terlarang <ntuk Makanan Iang Berada di Pasaran, Majalah 0lmu -e1armasian, >O, # &, /'E, "eparteman Farmasi FM>P?'<niversitas >ndonesia "epok. $orebima, ?.". 200%. 2eneti a Mendel. *urabayaD ?irlangga <niversity Press.

$orebima, ?.". 200@. 2eneti a -elamin. *urabayaD ?irlangga <niversity Press. 3ardner, Fldon, =. "an *nustad, ".P. ,, . 3rinciple 41 2enetics 5dition. 4eC IorkD =ohn Hiley and *ons, >n.. Hassan, 3M. 20 0. 51e dari 6eberapa 7diti1 3emrna Sintetis pada -erusa an DN7 dan -romosom 3enyimpangan dari ti us. ?rab =. Biote.h, % # &. FayoumD "epartemen 3enetika, (akultas Pertanian, <niversitas Fayoum, Mesir. Helal, Fman 3F. 2000. 3engaruh 6eberapa 3emrna Ma anan (Sintetis dan 3rodu 7lami) /i us 7lbino Muda. Mesir =ournal o( Medi.ine Hospital # &, 0%' %. 2airoD Moology "epartemen, Fakultas *ains, ?l'?)har, 4asr $ity, 2airo. 2lug, Hilliam dan $ummings, M. 6. 2000. $on.ept o( 3eneti.s. 4eC =erseyD Prenti.e Hall >n.. Mer.k >ndeK, 200B, 8hemistry 8onstant 8ompanion" Now with a New 7dditon, Fd @Th, @ 0, @ , Mer.k V $o., >n., Hhitehouse *tation, 4=, <*?. 4ovitasari, deCi. ,,/. 3erbedaan ,re uensi dan -ecenderungan M tu Munculnya 2agal 6erpisah Se under -romosom -elamin X antara D. melanogaster strain 9ellow dan :hite 7pricot. *kripsi tidak diterbitkan. Malang D <niversitas 4egeri Malang. Pai, $. ?nna. ,,2. Dasar)dasar 2eneti a. =akartaD Frlangga.

PERBEDAAN TIPE PERSILANGAN D. melanogaster STRAIN N >< w e dan N >< m BESERTA RESIPROKNYA TERHADAP GAGAL BERPISAH ( Nondisjunction) LAPORAN PROYEK <ntuk memenuhi tugas mata kuliah 3enetika >

Iang dibimbing oleh Pro(. "r. "uran ?loysius $orebima, M. Pd Jleh HiCin "amayanti #20/%@ @0, E@PBB& *o(ia Putri 6ahayu #20/%@ @0, /%P??& 4uril Hidayati #20/%@ @0,B02 PBB& UNIVERSITAS NEGERI ALANG !AKULTAS ATE ATIKA DAN IL U PENGETAHUAN ALA "URUSAN BIOLOGI Mei 200, B?B > PF4"?H<0<?4 ?. 0atar Belakang Pada tahun ,00 ditemukannya kembali mengenai hukum pemisahan Mendel dan hukum pilihan bebas Mendel dari berbagai kegiatan penelitian.Melalui kegiatan'kegiatan penelitian tersebut terungkap bahmhukum pemisahan Mendel dan hukum pemilihan bebas Mendel berlaku pada lingkup seluruh makhluk hidup diploid yang berbiak se.ara seksual termasuk manusia. #$orebima, 200%D@0&. "ari Hukum 'hukum Mendel yang telah ditemukan tersebut yang dilakukan oleh para peneliti juga diketemukan beberapa penyimpangan dari hukum Mendel tersebut. 2emudian *eorang peneliti yaitu Hugo "e Ories mengetengahkan mengenai teori mutasi yang sebagian besar didasarkan pada pengamatan atas tanaman Oenothera lamarckiana, yang selanjutnya teori ini berkembang menjadi suatu teori evolusi atas dasar mutasi. "ari teori evolusi tersebut juga ditemukan teori pautan kelamin, teori ini dikemukakan oleh Morgan. Morgan adalah yang pertama kali menginterpretasikan hasil persilangannya dengan benar mengenai adanya pautan, dengan melakukan per.obaan persilangan antara strain'strain D. melanogaster. #$orebima,200%D@%&. Morgan memiliki strain D.melanogaster yang bermata putih dan ternyata strain tersebut tergolong galur murni. =ika strain bermata putih disilangkan dengan strain bermata merah ternyata turunannya yang mun.ul tidak sesuai dengan yang seharusnya berdasarkan kebakaan Mendel.Bila mata merah betina disilangkan dengan strain mata putih jantan, maka F yang mun.ul bermata merah seluruhnya, jika (aktornya mata merah dominan terhadap (a.tor mata putih, selanjutnya jika F disilangkan satu sama lain maka . bagian F2 bermata merah dan . bagiannya bermata putih, ini terjadi jika (a.tor mata merah dominan terhadap (aktor mata putih. Tetapi setelah dikaji ulang ternyata seluruh F2 yang betina bermata putih sedangkan separuh jantan bermatabermata merah dan separuhnya lagi bermata putih, hal inilah yang menyimpang dan tidak sesuai terhadap prinsip kebakaan Mendel. Fenomena ini dijelaskan oleh Morgan bahm & Faktor mrna mata terdapat pada kromosom kelamin !. dan 2& 2romosom kelamin jantan tidak mengandung (aktor mrna mata tersebut. #$orebima,200%D @-&.

"ari persilangan tersebut ternyata juga terdapat penyimpangan pada keturunan berikutnya dan pada persilangan resiproknya. Penyimpangan tersebut dijelaskan oleh Morgan sebagai teori gagal berpisah #nondisjunction) 3agal berpisah terjadi pada kromoson !, dalam hal ini krdua kromosom ! gagal memisah selama meiosis sehingga kduanya menuju kutub yang sama dan terbentuklah telur yang memiliki dua kromosom kelamin ! maupun yang tidak memiliki kromosom kelamin !. 3agal berpisah terjadi pada gamet betina. Peristimgagal berpisah dibedakan menjadi gagl berpisah primer dan sekunder. $ontoh gagal berpisah primer seperti penjelasan diatas sedangkan gagal berpisah sekunder karena kejadiannya berlangsung pada turunan dari individu betina yang keberadaannya merupakan produk gagal berpisah primer. "imana individu betinanya memiliki dua kromosom kelamin ! dan satu kromosom kelamin I. #$orebima,200%D BB& B. 6umusan Masalah 6umusan masalah yang dapat kami ambil dari penelitian yang telah kami lakukan adalah sebagai berikutD . Bagaimanakah (enotip F pada persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya; 2. ?dakah (enomena gagal berpisah (nondisjuction) pada persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya; %. ?dakah perbedaan tipe persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya terhadap (enomena gagal berpisah #nondisjuction); $. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan untuk penelitiannya adalah sebagi berikutD . <ntuk mengetahui (enotip F pada persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya. 2. <ntuk mengetahui (enomena gagal berpisah berpisah #nondisjuction) pada persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya. %. <ntuk mengetahui perbedaan tipe persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya terhadap (enomena gagal berpisah #nondisjuction). ". Man(aat penelitian Penelitian ini memeliki beberapa man(aat antara lainD . Mengembangkan ilmu genetika dengan melakukan penerapan teori melalui praktikum proyek D. melanogaster. 2. Membeikan in(ormasi mengenai (enomena gagal berpisah pada persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya. %. "engan adanya kegiatan penelitian ini dapat membekali mahasism agar dapat terampil sehingga nantinya dapat diaplikaskan pada tahap

selanjutnya. F. ?sumsi Penelitian . 2ondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, .ahaya dianggap sama dan tidak berpengaruh terhadap persilangan D. melanogaster selama penelitian. 2. 2ondisi medium sebagai tempat perkembangbiakan D. melanogaster dianggap sama selama penelitian. F. Batasan Masalah Batasan masalah untuk memberikan gambaran terhadap penelitian yaitu sebagai berikutD . Penelitian ini dibatasi pada persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya. 2. D. melanosger yang disilangkan maksimal berusia % hari. %. "ata yang diambil pada jumlah (enotipnya hanya sampai F pada setiap persilangan. @. $iri (enotip yang diamati meliputi mrna mata, mrna badan, dan keadaan sayap. -. Pengambilan data dari hari menetesnya pupa yang dihitung sebagai hari ke 0'B. B. >ndikator terjadinya gagal berpisah dilihat dari mun.ulnya strain yang menyimpang dari yang seharusnya mun.ul. 3. "e(inisi Jperasional . Fenotip adalah kenampakan yang men.akup (ermokologi, (isiologi, dan tingkah laku #?yala, ,E@ dalam .orebima, ,,2& 2. 3enoti( adalah keseluruhan jumlah in(ormasi genetik yang terkandung pada suatu makhluk hidup ataupun konstitusi genetik dari suatu makhluk hidup dalam hubungannya dengan satu atau beberapa lokus gen yang menadi perhatian. #?yala dkk ,E@ dalam $orebima,200@&. %. *train adalah suatu kelompok intraspesi(ik yang memilliki hanya satu atausejumlah ke.il .irri yang berbeda, biasanya se.ara genetik dalam homo)ygote untuk .irri'.iri tersebut atau galur murni. $iri tersebut biasanyadipertahankan se.ara sengaja misalnya untuk kepentingan di bidang pertanian ataupun untuk kepentingan eksperimen, tidak ada beda jelas antara strain dan varietas #2ing 6. $. ,E- dalam 4ovitasari ,,/&. @. 3agal berpisah adalah suatu peristimdimana bagian'bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada meiosis > atau dimana kromatid saudara gagal berpisah selama meiosis >> pada kasus ini, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat salinan sam asekali #$ampbell dkk.2002&. -. Frekuensi gagal berpisah adalah banyaknya individu dari D. melanogaster yang mun.ul pada F yang mengalami penyimpangan dibandingkan dengan jumlah keseluruhan individu yang dihasilkan. BAB II

KA"IAN PUSTAKA A# S$%&ema&$'a D. melanogaster Menurut *torer dan <singer # ,-/& dalam ?bidin # ,,-& sistematika dari "rosophila adalahD Filum D ?rthopoda 2elas D >nse.ta ?nak kelas D Pi.rygota Bangsa D "iptera ?nak bangsaD $ly.oporrapa *uku D "rosophilidae Marga D "rosophila =enis D Drosophila melanogaster B# Penen&(an Ke)am$n *ada D. melanogaster Pada D. melanogaster atau lalat buah, mempunyai suatu mekanisme yang 1seimbang7. *uatu keseimbangan antara jumlah perangkat autosom dan jumlah kromosom !, menentukan (enotipe seksual lalat buah #Pai, ,E-&. Menurut $orebima #200@& pada D. melanogaster terdapat kromosom kelamin ! dan I. "alam kedaan diploid normal ditemukan pasangan kromosom kelamin !! dan !I atau pasangan kromosom se.ara lengkap sebagai ??!! dan ??!I #jumlah autosom sebanyak tiga pasang&. Mekanisme ekspresi kelamin pada D. melanogaster dikenal sebagai suatu mekanisme perimbangan antara K dan ? atau !P?. 0anjut Pai # ,E-& dalam $orebima #200@& menyebutkan mekanisme itu sebagai suatu mekanisme keseimbangan determinasi kelamin. Tabel >ndeks kelamin numerik pada D. melanogaster. 6angkuman dari D ?ndrian dan JCen ,B0, BerskoCita ,/%, ?yala dkk, ,E@, 3ardner dkk ,,
=umlah kromosom ! =umlah ? #autosom& pada tiap pasang ? 6asio !P? Fenotipe 2elamin %@@%2 %22 2%@%2 @%@2% ..%% 0,/0,B/ 0,0,0,%% Betina super #metafemale& Betina super #metafemale& Betina normal tetraploid

Betina normal triploid Betina normal diploid Betina normal haploid >nterseK >nterseK =antan tetraploid =antan normal =antan super #metamale&

+# Pe,$%&$mGa-a) Be,*$%a. *ada D. melanogaster 3agal berpisah merupakan suatu peristimdimana bagian'bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada meiosis >, atau dimana kromatid saudara gagal berpisah selama meiosis >>, sehingga satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat salinan sama sekali #$ampbell dkk, 2002&. "alam hal ini kedua kromosom kelamin ! gagal memisah selama meiosis sehingga keduanya menuju ke kutub yang sama dan terbentuklah telur yang memiliki dua kromosom kelamin ! maupun yang tidak memiliki kromosom kelamin ! #$orebima, 200%&. 2ejadian gagal berpisah #nondisjunction& pada D. melanogaster dikemukakan oleh Bridges tahun , B. Tamarin dkk, # ,, & dalam 4ovitasari # ,,2& menjelaskan bahmkejadian nondisjunction tersebut dijelaskan melalui kejadian nondisjunction pada betina bermata putih dalam hal ini betina bermata putih yang mengalami nondisjunction saat meiosis akan menghasilkan telur !C!C dan 0 telur #tanpa kromosom seK&, jika telur !C!C dibuahi oleh I yang dibamsperma akan dihasilkan keturunan betina bermata putih #!C!CI&. jika telur tanpa kromosom seK dibuahi oleh ! yang dibamsperma, akan menghasilkan keturunan jantan norma #!L0&. Tipe lain dari kejadian nondisjunction adalah telur !! yang akan dibuahi oleh ! yang dibamsperma dan telur 0 yang akan dibuahi oleh I yang akan dibamsperma. Migot !!! yang bergenotip !n!n!L #betina& biasanya mati dan lalat I0 selalu mati. $ontoh persilangan antara D. melanogaster strain 4 :89 C 5 yang menghasilkan keturunan nondisjunction dapat dilihat pada gambar dibamh iniD Peristimnondisjunction dibedakan menjadi nondisjun.tion primer dan sekunder. Nondisjunction primer dapat terjadi pada induk lalat yang belum mengalami nondisjunction atau lalat normal, sedangkan nondisjunction sekunder terjadi pada keturunan yang merupakan hasil nondisjun.tion primer. Peristimitu disebut sebagai gagal berpisah sekunder karena kejadiannya berlangsung pada turunan dari individu betina, yang keberadaannya merupakan produk gagal berpisah primer. "alam hal ini individu betina yang dimaksud memiliki dua kromosom kelamin ! dan satu kromosom I. Frekuensi kejadian gagal berpisah sekunder #sebagaimana yang dilaporkan& adalah sekitar 00 kali lebih tingga # dalam 2- turunan& daripada (rekuensi kejadian gagal berpisah primer # dalam 2000 turunan&. #$orebima, 200%DBB&. !# !a'&/,01a'&/, Pen2e3a3 Ga-a) Be,*$%a.

Peristimgagal berpisah #nondisjunction& dapat dipengaruhi oleh (aktor luar dan (aktor dalam. Faktor luar yang dapat menyebabkan adanya peristimgagal berpisah pada D. melogaster menurut HerskoCit) # ,//& dalam ?bidin # ,,/& adalah energi radiasi tinggi, karbon dioksida, dan )at kimia lain dan suhu. *uhu tidak berpengaruh terhadap (rekuensi gagal berpisah primer kromosom kelamin ! D. melanogaster. ?kan tetapi mempunyai pengaruh terhadap (rekuensi gagal berpisah sekunder kromosom kelamin ! D. melanogaster individu betina mata putih hasil dari gagal berpisah primer. *uhu yang berpengaruh disini adalah suhu kamar dan suhu antara 2,0U% 0 #?bidin, ,,/&. Faktor dari dalam yang berpengaruh terhadap (rekuensi gagal berpisah diantaranya adalah umur dan induk. Menurut Pai # ,E- dalam ?pandi, ,E, dalam ?bidin, ,,/&. <mur .enderung meningkatkan kejadian penyimpangan meiosis yang disebut nondisjungsi pada tingkat kehidupan yang rendah. Tidak dijelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan bentuk kehidupan rendah. Faktor dari dalam lainnya yang berpengaruh terhadap gagal berpisah adalah adanya gen mutan yang menyebabkan sentromer tidak berada pada keadaan normal atau abnormal #HerkoCit), ,// dalam ?bidin, ,,/&. "ikatakan HerkoCit) bahmdalam keadaan normal dua sentromer sesaudara saling menutup. *atu sentromer akan berorientasi ke salah satu kutub, sedang sentromer lain berorientasi ke salah satu kutub yang berlamnan. "engan adanya gen mutan, dalam hal ini gen mei's%%2, yaitu gen semi dominan Wpada kromosom >> D. melanogaster, maka meta(ase >> dua sentromer sesaudara akan terletak memisah, sehingga kedua sentromer tersebut akan berorientasi ke kutub yang sama, akibatnya pada ana(ase >> terjadi peristimnondisjunction atau gagal berpisah. B?B >>> 2F6?432? 2J4*FPT<?0 "?4 H>PJTF*>* ?. 2erangka 2onseptual "alam penelitian ini kami menggunakan persilangan strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya yang merupakan strain yang terpaut kromosom kelamin karena berada pada kromosom >. "engan adanya penelitian ini diharapkan F yang mun.ul memiliki (enotip yang mengalami pertautan kelamin tetapi pada kenyataannya ada (enotip yang mengalami peristimgagal berpisah #nondisjunction&. Jleh karena itu perlu dilakukan analisis (rekuensi gagal berpisah pada persilangan strain ini. Pengamatan (enotip dari strain 4, m dan Ce. B. Hipotesis Hipotesis penelitian yang kami gunakan sebagai berikutD Persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya yang merupakan strain yang terpaut kromosom kelamin. Pada F mun.ul (enotip yang merupakan akibat dari peristimgagal berpisah #nondisjunction& pada

kromosom kelamin. ?nalisis dan (rekuensi gagal berpisah #nondisjunction& dengan menggunakan anava tunggal untuk mengetahui perbedaan tipe persilangan terhadap (rekuensi gagal berpisah
Pada persilangan

45 89 Ce: mun.ul F 45, Ce:


Pada persilangan

4: 89 Ce5 mun.ul F Ce5


Pada persilangan

4: 89 m5 mun.ul F m5
Pada persilangan

45 89 m: mun.ul F 45, m: ?da (enomena gagal berpisah #nondisjunction& pada persilangan D. melanogaster strain 45 89 Ce: dan 4: 89 m5 beserta resiproknya. B?B >O MFTJ"F PF4F0>T>?4 ?. 6an.angan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskripti( observati(, karena tidak memberikan perlakuan khusus pada objek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menyilangkan D.melanogaster strain 54 :Ce dan 5489:m beserta resiproknya masing'masing sebanyak / kali ulangan untuk memperoleh data F . Pengambilan data dilakukan se.ara langsung dengan menghitung dan men.atat semua (enotip yang mun.ul pada F . B. Populasi dan *ampel Populasi pada penelitian ini adalah lalat buah D.melanogaster sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah D.melanogaster strain 4, m, Ce $. Tempat dan mktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium genetika jurusan Biologi FM>P? <M ruang % 0 pada bulan Februari'Mei 200, ". ?lat dan Bahan a. ?lat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pani., pengaduk, timbangan, baskom, botol selai, selang, kain kasa, blender, kompor, pisau, gunting, spons busa, kuas, spidol permanent, kertas pupasi, gelas plasti.. b. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel D.melanogaster strain 4, m, Ce, pisang rajamala, tape singkong, gula merah, yeast, air, eter

kloro(orm. F. Prosedur 2erja Pembuatan medium . Menimbang bahan berupa pisang, tape singkong, dan gula merah dengan perbandingan / D 2 D untuk satu resep, yaitu /00 gram pisang rajamala, 200 gram tape singkong, dan 00 gram gula merah 2. Memblender pisang rajamala dan tape singkong dan menambahkan air se.ukupnya %. *etelah halus, memasukkan adonan tersebut kedalam pan.i dan memanaskan diatas kompor dengan api sedang @. Memasukkan gula merah yang sudah dihaluskan sebelumnya kedalam adonan setelah adonan .ukup panas -. Memasak adonan tersebut selama @- menit B. Mematikan kompor dan memasukkan hasil rebusan tersebut ke dalam botol selai dalam keadaan panas dan langsung ditutup dengan penyumbat gabus yang telah dipotong bulat sesuai untuk tutup botol /. *etelah medium dingin, memasukkan XY / butir yeast ke dalam medium dan membersihkannya dari uap air serta member kertas pupasi pada medium tersebut Peremajaan stok . Menyiapkan beberapa botol selai yang berisi medium baru dan telah diberi yeast dan beserta kertas pupasi 2. Memindahkan lalat dari masing'masing strain dari stok ke botol selai yang berbeda pada medium baru %. Mengamati perkembangannya, jika mun.ul pupa mrna hitam maka dilakukan pengampulan untuk melakukan persilangan. Pengampulan stok . Pupa dari masing'masing strain yang sudah menghitam diambil menggunakan kuas 2. Memasukkan pupa tersebut ke dalam selang plasti. ke.il %. Mengisi sebagian tempat dengan irisan ke.il pisang serta menutupnya dengan gabus @. Masing'masing selang diberi label nama strain maupun tanggal mengampul -. Menunggu ampulan sampai menetas dan lalat siap untuk disilangkan. <mur lalat dalam ampulan maksimal % hari untuk persilangan Persilangan P . Menyiapkan medium baru yang telah diberi yeast dan kertas pupasi 2. ?mpulan yang sudah menetas dan siap disilangkan dari masing'masing strain dimasukkan ke dalam botol selai. *train lalat yang disilangkan antara lain 54 :Ce dan 5489:m beserta resiproknya %. Memberi label pada masing'masing persilangan dan member tanggal @. Persilangan P dilakukan sebanyak / kali ulangan -. Melepas induk jantan setelah 2 hari persilangan B. Memindahkan induk betina pada medium 2, % dan seterusnya sampai induk matiapabila mun.ul pupa pada medium yang ditempati induk

betina /. Membiarkan pupa sampai menghitam dan menetas Pengamatan (enotip . Mengambil F dari hasil persilangan masing'masing strain dan dimasukkan ke dalam kantong plasti. 2. Membius F hasil persilangan tersebut menggunkan kloro(orm dengan memasukkan kapas yang sudah diberi kloro(orm %. Mengamati F dan jantan betinanya serta .irri'.iri yang dimilki oleh masing'masing hasil persilangan @. Men.atat hasil pengamatan ke dalam tabel F. Teknik Pengumpulan "ata Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan .ara melakukan pengamatan pada F . 2emudian data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel pengamatan. 3. Teknik ?nalisis "ata Teknik analisis data yang digunakan adalah rekonstruksi kromosom kelamin yang mengalami nondisjun.tion, sedangkan presentase nondisjun.tion dihitung dengan rumus D Frekuensi nondisjun.tion D K 00 A ?. ?nalisis data . Persilangan antara 45 89 Ce: a. 6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjun.tion P D 45 89 Ce : 3enotip D 89 3amet D Ce L, Ce ', Ce ' 5 : Ce ' Ce ' Ce L 4: 4: Ce 5 Ce 5 b. 6ekonstruksi yang mengalami nondisjun.tion P D 45 89 Ce : 3enotip D 89 3amet D Ce L, Ce ', Ce ' Ce ', 0 5 : Ce' Ce'Ce' 0 CeL 4: #: super letal& 45 Ce' 5 Ce : #letal& .. Persilangan 45 89 Ce: <langan R R BBA <langan 2 R K 00A R @,0%A <langan % R K 00A R ,,@EA <langan @ R K 00A R % A

2. Persilangan antara 4 :89 Ce5 a. 6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjun.tion P D 4: K Ce5 3enotip D 89 3amet D Ce L, Ce L Ce ', 5 : CeL CeL Ce' 4: 4: 45 45 b. 6ekonstruksi yang mengalami nondisjun.tion P D 4: 89 Ce 5 3enotip D 89 3amet D Ce L, Ce L Ce L,0 Ce ', 5 : CeL CeL CeL, 0 Ce' 4: #: super letal& Ce 5 4 5 4: #letal& .. Persilangan 4 :89 Ce5 <langan R K 00A R 2,B% A <langan 2 R K 00A R ,,--A <langan % R K 00A R %,/0 A <langan @ R K 00A R @,/B A %. Persilangan antara 45 89 Ce: a. 6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjun.tion P D 45 89 m : 3enotip D 89 3amet D mL, m', m' 5 : m' mmL 4 : 4: m5m5 b. 6ekonstruksi yang mengalami nondisjun.tion P D 45 89 m: 3enotip D 89 3amet D mL, m', m' m', 0 5 : m' m' m' 0 mL 4: #: super letal& 45 m 5 m : #letal&

.. Persilanga 45 89 m: <langan R K 00A R E/,,/A <langan 2 R K 00 A R %@,EBA <langan % R K 00A R 22, -EA <langan @ R K 00A R 0A @. Persilangan antara 4: 89 m5 a. 6ekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjun.tion P D 4: 89 m 5 3enotip D 89 3amet D mL, mL m', 5 : mL mL m' 4: 4: 45 45 b. 6ekonstruksi yang mengalami nondisjun.tion P D 4: 89 m5 3enotip D 89 3amet D mL, mL mL,0 m', 5 : mL mL mL 0 m' 4: #: super letal& m5 45 4: #letal& .. Persilangan 4: 89 m5 <langan R K 00A R B.--A <langan 2 R K 00A R 0,/ A <langan % R K 00A R E,-/A <langan @ R K 00A R , A Tabel prosentase gagal berpisah Persilangan <langan =umlah 2%@ 45 89 Ce: BBA @,0%A ,,@EA % ,%-A 20,EBA 4 :89 Ce5 2,B%A ,.--A %,/0A @,/BA 20,B@A 45 89 m: E/,,/A %@,EBA 22,-EA 0A --,@ A 4: 89 m5 B,--A 0,/ A E,-/A , A %B,,@A =umlah B%, -A B,,/ A @@,-/A -/,22A %%%,E-A "ata Trans(ormasi ?r. sin D 00 Persilangan <langan =umlah 2%@ 45 89 Ce: -@,%% 2 ,,, /,,% %@,0@ 2E,2, 45 89 m: ,,%% E,00 ,0, 2,B0 - ,02 45 89 m: B,,/0 %B, E 2E,%/ E,@% -2,BE 4: 89 m5 @,E2 ,, 0 /,02 ,,@/ /0,@

=umlah @E, E ,-, , /@,@ E@,-@ @02,@ Fk R R 0 20,%B =k <langan R U Fk R 0,2-,-//0-'Fk R E0-,2 /0=k Persilangan R U Fk R E%2,-2E/- U Fk R / 2, BE/=k Total R # LZZ. # ' Fk R @ /%, 20@ U 0 20,%B R @0-2,/B0@ *k db =k 2t F hit F table <langan % E0-,2 /0- 2BE,@0-BE% % ,-/ Persilangan % / 2, BE/- -/0,/22, B / %,%@ %,EB 3alat , -%-,%/@B /0,-,/ // E Total - @0-2,/B0@ F hit #%,%@& 9 F table0,0-#%,EB& maka ho diterima, hit ditolak Tidak ada perbedaan tipe persilangan terhadap (rekuensi gagal berpisah BAB VI PE BAHASAN Berdasarkan data hasil pengamatan pada persilangan D.melanogaster strain 4 5 89 Ce : menghasilkan keturunan F strain 4: dan Ce5 selain itu pada persilangan ini juga menghasilkan keturunan F strain 45 dan Ce:. Berdasarkan data yang diperoleh ini dan berdasarkan hasil rekonstruksi maka dapat diduga adanya peristimgagal berpisah #nondisjunction&. Pada strain 45 memiliki genotip . CeL merupakan kromosom ! hasil dari pembelahan meiosis pada induk 4 jantan, sedangkan 0 mengindikasikan bahmtidak adanya pemrisan kromosom ! oleh induk Ce betina. *ehingga dugaan aml bahmpersilangan ini mengalami peristimgagal berpisah #nondisjunction& dapat dibenarkan. Menurut $orebima ?.". # ,,/& penyimpangan ini terjadi karena pada kromosom ! yaitu selama pada tahap meiosis kromosom menuju ke kutub yang sama sehingga terbentuk telur yang memilki dua kromosom ! maupun yang tidak memiliki kromosom !. Fenotip yang mun.ul adalah jantan. Hal ini berdasarkan .ara penentuan jenis kelamin yang telah dijelaskan dalam kajian pustaka. Menurut .orebima # ,,/& yang menunjukkan bahmekspresi kelamin pada D.melanogaster dikenal sebagai suatu mekanisme perimbangan antara ! dan ? #!P?&. sehingga perbandingan ! dan ? pada genotip pada persilangan 4 5 89 Ce : sebesar .. "idasarkan pada nilai ini dapat dikatakan bahm(enotipnya adalah jantan normal. *elain itu, masih berdasarkan pada hasil pengamatan dan rekonstruksi bahmpada persilangan 4 5 89 Ce : juga menghasilkan keturunan dengan strain Ce :. *train Ce : memiliki genotip . Ce' merupakan

kromosom ! hasil pembelahan meiosis pada induk Ce betina sedangkan mengindikasikan adanya kromosom yang berbeda ukurannya. "ilihat dari keturunan ini dapat dikatakan bahmkromosom ini mengalami peristimgagal berpisah karena jika terjadi gagal berpisah selama oogenese# pembentukan sel telur& akan terbentuk 2 ma.am telur, yaitu sebuah sel telur yang yang membam2 kromosom ! dan sebuah sel telur yang tidak mempunyai kromosom. Pada genotip keturunan ini terlihat memilki 2 kromosom ! yaitu #Ce' Ce'& yang jika dibuahi oleh spermato)oa yang membamkromosom I # & akan menghasilkan lalat betina (ertil #*uryo, ,E@&. Pada persilangan 4: 89Ce5 menghasilkan keturunan F 45, 4: dan Ce5. Berdasarkan hasil rekonstruksi persilangan keturunan F tersebut mengindikasikan adanya peristimgagal berpisah #nondisjunction& pada persilangan ini. 2eturunan F strain 45 dan 4: merupakan individu hasil (ertilisasi antara gamet jantan dan gamet betina yang mengalami pembelahan meiosis se.ara normal. *edangkan keturunan F yang berupa Ce5 merupakan hasil dari peristimgagal berpisah pada peristimoogenesis. *eperti yang dikatakan oleh $orebima ?.".# ,,/& pada pembahasan sebelumnya bahm peristimgagal berpisah pada peristimoogenesis dapat menghasilkan telur yang memilki dua kromosom ! maupun yang tidak memiliki kromosom !. Pada strain Ce5 dengan genotip hanya memilki satu kromosom ! dari induk jantan karena Ce' merupakan kromosom ! hasil dari pembelahan meiosis pada induk Ce jantan, sedangkan 0 mengindikasikan bahmtidak adanya pemrisan kromosom ! oleh induk 4 betina karena adanya peristimgagal berpisah. Pada persilangan 45 89 m: menghasilkan keturunan F dengan strain 45, 4:, m5, m:. berdasarkan hasil rekonstruksi persilangan adanya keturunan strain'strain tersebut menandakan bahmadanya (enomena gagal berpisah #nondisjunction& pada persilangan 45 89 m:. Hasil (erilisasi antara sperma dan ovum yang mengalami pembelahan meiosis se.ara norma adalah 4: dan m5. *edangkan 45 dan m: merupakan hasil keturunan yang mengalami gagal berpisah. Pada strain 45 terlihat pada genotipnya yang menunjukkan bahm mL merupakan kromosom ! hasil dari pembelahan meiosis pada induk 4 jantan, sedangkan 0 mengindikasikan bahmtidak adanya pemrisan kromosom ! oleh induk m betina. "iduga hal ini mengalami peristimgagal berpisah #nondisjunction&. Hal ini didasarkan pada keterangan dari $orebima # ,,/& bahmpada tahap meiosis kromosom menuju ke kutub yang sama sehingga terbentuk telur yang memilki dua kromosom ! maupun yang tidak memilki kromosom !. Pada keturunan dengan strain m: dengan genotip menunjukkan bahmm'm' merupakan kromosom ! hasil pembelahan meiosis pada induk m betina sedangkan menunjukkan adanya pemrisan kromosom oleh induk 4 jantan. "ilihat dari keturunan ini dapat dikatakan bahmkromosom ini mengalami peristimgagal berpisah karena Pada genotip keturunan ini terlihat bahmmemilki 2 kromosom ! #Ce' Ce'& jika dibuahi oleh spermato)oa yang membamkromosom I # & akan menghasilkan lalat betina (ertil #*uryo, ,E@&. Pada persilangan 4: 89 m5 menghasilkan F dengan strain 45, 4:, m5, m:. 2eturunan F strain 45, 4: berdasarkan hasil rekonstruksi persilangan 4: 89 m5 menunjukkan bahmhasil dari (ertilisasi antara gamet jantan dan

gamet betina yang mengalami pembelahan meiosis se.ara normal. *edangkan keturunan F strain m5 merupakan hasil dari peristimgagal berpisah pada peristimoogenesis. Pada genotip dari strain m5 yaitu . m' merupakan kromosom ! hasil dari pembelahan meiosis pada induk m jantan, sedangkan 0 mengindikasikan bahmtidak adanya pemrisan kromosom ! oleh induk 4 betina karena adanya peristimgagal berpisah. *eperti yang dikemukakan oleh $orebima # ,,/& bahmpada tahap meiosis kromosom menuju ke kutub yang sama sehingga terbentuk telur yang memilki dua kromosom ! maupun yang tidak memilki kromosom !. Pada perhitungan analisis data dengan menggunakan anava diketahui bahmnilai Fhitung yang dperoleh dari perhitungan lebih ke.il dari pada nilai Ftabel. "engan demikian dapat ditarik kesimpulan bahmtidak ada pengaruh antara tipe persilangan terhadap adanya (enomena gagal berpisah#nondisjunction&. B?B O>> PF4<T<P ?. 2esimpulan "ari hasil analisi data dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikutD . Fenotip yang mun.ul pada masing'masing persilangan adalah sebagai berikutD a. persilangan 4 5 89 Ce : menghasilkan keturunan F strain 4 5, 4:, Ce5, Ce: b. persilangan 4: 89Ce5 menghasilkan keturunan F 45, 4: dan Ce5. .. persilangan 45 89 m: menghasilkan keturunan F dengan strain 45, 4:, m5, m:. d. persilangan 4: 89 m5 menghasilkan F dengan strain 45, 4:, m5. 2. ?da peristimgagal berpisah pada persilangan antara 4 5 89 Ce : dan 45 89 m: beserta resiproknya. Peristimgagal berpisah dapat dilihat pada D a. 2eturunan dari persilangan 4 5 89 Ce : yang menunjukkan adanya gagal berpisah adalah strain 4 5 dan Ce: b. 2eturunan dari persilangan 4: 89Ce5 yang menunjukkan adanya gagal berpisah adalah strain Ce5 .. 2eturunan dari persilangan 45 89 m: yang menunjukkan adanya gagal berpisah adalah strain 45 dan m:. d. 2eturunan dari persilangan 4: 89 m5 yang menunjukkan adanya gagal berpisah adalah strain m5 %. Tidak ada perbedaan tipe persilangan terhadap (rekuensi gagal berpisah #nondisjunction& "?FT?6 P<*T?2? ?bidin, 2hoirul. ,,/. Pengaruh Sodium Siklamat Terhadap Frekuensi Nondisjunction romosom elamin ! D. melanogaster. *kripsi tidak diterbitkan, MalangD >2>P $ampbell, 4eil ?. 2002. "iologi #disi elima $ilid %. =akartaD Frlangga $orebima, ?.". 200@. &enetika elamin. *urabayaD ?irlangga <niversity Press 3oodenough, <. ,EE. &enetika. =akartaD Frlangga 4ovitasari, "eCi. ,,/. Per'edaan Frekuensi dan ecenderungan (ktu

(unculn)a "erpisah Sekunder romosom elamin ! antara Drosophila melanogaster Strain *ello+ dan ,hite -pricot. *kripsi tidak diterbitkan. MalangD <M Pai, $. ?nna. ,,2. Dasar.dasar &enetika. =akartaD Frlangga *uryo. 200-. &enetika Strata /. =ogjakartaD 3adjah Mada <niversity Press