Anda di halaman 1dari 6

STRES, STRESOR, DAN GANGGUAN PSIKOSOMATIK Pengertian Stres

Secara umum stres sebenarnya memberikan pengertian gangguan psikosomatik, sehingga tidak jarang dalam praktek kedokteran istilah stres cenderung digunakan sebagai suatu diagnosis. Oleh karna itu perlu dipahami betul pengertian tentang stres dalam kaitannya dengan gangguan psikosomatik. Sebenarnya istilah stres bisa diartikan sebagai stres fisis maupun stres psikis. Tetapi secara umum dan populer yang dimaksud stres diartikan sebagai stres psikis. Selanjutnya yang dimaksud dengan stres ialah stres psikis. Dari sudut pandang ilmu kedokteran, menurut Hans Selye seorang ahli fisiologi dan pakar stres yang dimaksud dengan stres ialah suatu respon tubuh yang tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya. Jadi merupakan respon automatik tubuh yang bersifat adaptif pada setiap perlakuan yang menimbulkan perubahan fisis atau emosi yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi fisis yang optimal suatu organisme. Reaksi fisiologis ini disebut sebagai general adaptation syndrome. Respons tubuh terhadap perubahan-perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu: 1. alarm reaction (reaksi peringatan). Pada fase ini tubuh dapat mengatasi stresor (perubahan) dengan baik. 2. the stage of resistance(reaksi pertahanan). Reaksi terhadap stresor sudah mencapai/melampaui tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini sudah dapat timbul gejala-gejala psikis dan somatik. 3. stage of exhaustion (reaksi kelelahan). Pada fase ini gejala-gejala psikosomatik tampak dengan jelas menurut perngertian tersebut di atas tampak bahwa reaksi psikis dan somatik akan muncul pada tahap di mana respons terhadap situasi stres sudah mencapai/malampaui titik pertahanan tubuh. Dari sudut pandang psikologis stres didefinisikan sebagai suatu keadaan internal yang disebabkan oleh situasi lingkungan atau sosial yang potensial berbahaya, memberikan tantangan, menimbulkan perubahan-perubahan atau memerlukan mekanisme pertahanan seseorang.

Baik dari sudut pandang kedokteran maupun psikologis, dalam keadaan stres terjadi perubahan-perubahan psikis, fisiologis, biokemis dan lain-lain reaksi tubuh di samping adanya proses adaptasi. Pada saat perubahan itu sudah mengganggu fungsi psikis dan somatik, timbul keadaan yang disebut distres, yang secara klinis merupakan gangguan psikosomatik. Untuk istilah stres yang digunakan kalangan medis untuk diagnosis akan lebih tepat bila dipakai istilah distres atau dengan menyebutkan gangguan psikosomatik tertentu. Dalam keadaan demikian seseorang akan dibawa atau datang ke dokter dengan manifestasi gangguan fisis seperti sakit dada, berdebar-debar, sakit kepala, sakit ulu hati, dan lain-lain. Setelah melakukan pemeriksaan yang terkadang berlebihan, baik atas inisiatif dokter maupun pasien sendiri baru kemudian diketahui bahwa pasien tersebut sebenarnya mengalami stres (baca distres).

Pengertian Stresor
Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang. Karena adanya stresor terpaksa seseorang harus menyesuaikan diri untuk menanggulangi stresor yang timbul. Dengan perkataan lain jelaslah bahwa stresor ialah suatu keadaan yang dapat menimbulkan stres. Jenis-jenis stresor dapat dikelompokkan sebagai berikut: masalah perkawinan, masalah keluarga, masalah hubungan interpersonal, masalah pekerjaan, lingkungan hidup, masalah hukum, keuangan, perkembangan, penyakit fisis, dan lain-lain. Adapula yang membagi stresor menjadi: 1. stresor fisis seperti panas, dingin, suara bisisng dan sebagainya. 2. stresor sosial seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, pekerjaan, karir, masalah keluarga, hubungan interpersonal, dan lain-lain. 3. stresor psikis misalnya frustrasi, rendah diri, perasaan berdosa, masa depan yang tidak jelas dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari stresor ini umumnya mudah dikenali karena merupakan kejadian yang luar biasa. Kadang-kadang bisa juga tidak jelas oleh karna merupakan peristiwa yang rutin sehari-hari dihadapi. Namun peran stresor sebagai faktor yang menimbulkan gangguan psikosomatik biasanya dapat diperkirakan.

DASAR-DASAR PSIKOPATOFISIOLOGI
Walaupun patofisiologi timbulnya kelainan fisis yang berhubungan dengan gangguan psikis/emosi belum seluruhnya dapat diterangkan namun sudah terdapat banyak bukti dari hasil penelitian para ahli yang dapat dijadikan pegangan. Gangguan psikis/konflik emosi yang menimbulkan gangguan psiko-somatik ternyata diikuti oleh perubahan-perubahan fisiologis dan biokemis pada tubuh seseorang. Perubahan fisiologi ini berkaitan erat dengan adanya gangguan pada sistem saraf autonom vegetatif, sistem endokrin dan sistem imun. Oleh karena itu, belakangan ini perubahan-perubahan fisiologi tersebut dapat diterangkan dengan bidang ilmu baru yaitu psiko-neuro-endokrinologi atau

psikoneuroimunologi atau ada yang memakai istilah psiko-neuro-imuno-endokrinologi. Perubahan pada ketiga sistem tersebut terjadi bersamaan dan saling tumpang tindih. Dengan melihat perkembangan ilmu tersebut, patofisiologi gangguan psikosomatik (yang diikuti perubahan-perubahan fisiologi tubuh) dapat diterangkan melalui beberapa teori sebagai berikut. 1. Gangguan keseimbangan saraf autonom vegetatif: Pada keadaan ini konflik emosi yang timbul diteruskan melalui korteks serebri ke sistem limbik kemudian hipotalamus dan akhirnya ke sistem saraf autonom vegetatif. Gejala klinis yang timbul dapat berupa hipertoni simpatik, hipotoni simpatik, hipertoni parasimpatik, ataksi vegetatif yaitu bila koordinasi antara simpatik dan parasimpatik sudah tidak ada lagi dan amfotoni bila gejala hipertoni simpatik dan parasimpatik terjadi silih berganti. 2. Gangguan konduksi impuls melalui neurotransmiter: Gangguan konduksi ini disebabkan adanya kelebihan atau kekurangan neurotranmiter di presinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada reseptor-reseptor postsinaps. Beberapa neurotransmiter yang telah diketahui berupa amin biogenik antara lain noradrenalin, dopamin dan serotonin. 3. Hiperalgesia alat viseral: Meyer dan Gebhart (1994) mengemukakan konsep dasar terjadinya gangguan fungsional pada organ viseral yaitu adanya visceral hyperalgesia. Keadaan ini mengakibatkan respons refleks yang berlebihan pada beberapa bagian alat viseral

tadi. Konsep ini telah dibuktikan pada kasus-kasus non cardiac chest pain, non ulcer dyspepsia dan irritable bowel syndrome. 4. Gangguan sistem endokrin/hormonal: Perubahan-perubahan fisiologi tubuh yang disebabkan adanya stres dapat terjadi akibat gangguan sistem hormonal. Perubahan tersebut terjadi melalui hypothalamicpituitary-adrenal axis (jalur hipotalamus-pituitari-adrenal). Hormon yang berperan pada jalur ini antara lain: hormon pertumbuhan (growth hormone), prolaktin, ACTH, katekolamin. 5. Perubahan pada sistem imun. Perubahan tingkah laku dan stres selain dapat mengaktifkan sistem endokrin melalui hypothalamus-pituitary axis (HPA) juga dapat mempengaruhi imunitas seseorang sehingga mempermudah timbulnya infeksi dan penyakit neoplastik. Fungsi imun menjadi terganggu karena sel-sel imunitas yang merupakan immunotransmitter mengalami berbagai perubahan. Salah satu contoh pada keadaan depresi jumlah neutrofil dalam sikulasi meningkat. Sedangkan jumlah sel NK menurun, limfosit T dan limfosit B menurun; sel T-helper dan T-supresor menurun. Aktivitas sel NK dan proliferasi limfosit juga menurun. Produksi interferon menurun.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi imunitas adalah sebagai berikut. Kualitas dan kuantitas stres yang timbul. Kemampuan individu dalam mangatasi suatu stres secara efektif. Kualitas dan kuantitas rangsang imunitas. Lamanya stres. Latar belakang lingkungan sosio-kultural pasien. Faktor pasien sendiri (umur, jenis kelamin, status gizi).

DIAGNOSIS GANGGUAN PSIKOSOMATIK


Menegakkan diagnosis pasien dengan gangguan psikosomatik tidak berbeda dengan menegakkan diagnosis penyakit lain pada umumnya yaitu dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan. Perhatian lebih ditujukan pada anamnesis yang teliti dan mendalam sementara pemeriksaan laboratorium atau penunjang seyogyanya jangan sampai berlebihan.

Pada umunya pasien dengan gangguan psikosomatik datang ke dokter dengan keluhan-keluhan somatiknya. Jarang sekali keluhan psikis atau konfliknya dikeluhkan secara spontan. Keluhan psikis yang manjadi stresornya baru akan muncul setelah dilakukan anamnesis yang baik dan mendalam. Keluhan somatisnya sangat beraneka ragam, dan sering berpindah-pindah dari satu sistem organ ke organ lain. Untuk mempertajam diagnosis dan untuk membatasi diri dari gangguan psikiatris yang nyata (misalnya psikosis), gangguan psikosomatik memiliki ciri-ciri dan kriteria klinis sebagai berikut. Tidak didapatkan kelainan psikiatris (distorsi realita, waham dan sebagainya). Keluhan yang timbul selalu berhubungan dengan emosi tertentu. Keluhan berganti-ganti dari satu sistem ke sistem lain. Ditemukan adanya ketidakseimbangan vegetatif. Riwayat hidup pasien penuh dengan konflik atau stres. Terdapat perasaan negatif (dongkol, cemas, sedih, cemburu, dan sebagainya). Ada faktor predisposisi (biologis atau perkembangan kejiwaan). Terdapat faktor presipitasi/pencetus (fisis ataupun psikis)

Tidak semua kriteria harus ada, tetapi apabila terdapat beberapa kriteria harus ada, tetapi apabila terdapat beberapa kriteria yang sesuai sudah merupakan indikasi ke arah gangguan psikosomatik.

TERAPI GANGGUAN PSIKOSOMATIK


Sesuai dengan konsep kedokteran psikosomatik, pengobatan yang dilakukan selalu melihat semua aspek yang mempengaruhi timbulnya gangguan ini (aspek bio-psiko-sosiospiritual). Pengobatan sesungguhnya harus sudah dimulai sejak pasien bertemu dengan dokternya yaitu dengan memberikan perhatian atas keluhan-keluhan yang dikemukakan. Pemeriksaan fisis yang lengkap dan teliti harus dilakukan sehingga dapat memberi keyakinan pada pasien tentang penyakit yang sesungguhnya serta meyakinkan bahwa penyakitnya tidak separah yang dibayangkan pasien. Obat-obatan diberikan sesuai dengan kelainan medis yang ditemukan dan simtomatis sesuai dengan gejala yang ada termasuk memberikan obat-obat psikofarmaka. Kemudian menganjurkan kebiasaan hidup sehat seperti makan, tidur, olah-raga, dan menjalankan hobi

secara teratur. Psikoterapi (superfisial) dimulai dengan menciptakan hubungan yang baik antara dokter-pasien, memberi kesempatan mengutarakan konfliknya, mengutarakan isi hatinya (ventilasi). Dengan demikian pasien merasa puas dan lega serta berkurang ketegangannya. Melakukan reedukasi yaitu meluruskan pendapat-pendapat pasien yang salah atau kurang tepat dan memberi keyakinan, pengertian tentang sebab-sebab penyakitnya. Yang tidak kalah pentingnya ialah menekankan kembali komitmen agama dan pengamalannya, karena sudah terbukti bahwa individu yang kehidupan sehari-harinya tidak dilandasi etika dan moral agama ternyata sering mengalami kegagalan dan ketidakbahagiaan. Pengobatan pendukung ialah memperbaiki kondisi sosial-ekonomi, kesulitan rumah tangga dan pekerjaan. Menolong menunjukkan jalan keluar dengan saran dan pandanganpandangan sesuai kemampuan pasien, serta meningkatkan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Terakhir, bila perlu memberikan psikoterapi kepada lingkungan pasien untuk kepentingan pasien sendiri. Tidak jarang yang menjadi sebab terjadinya keluhan adalah orang-orang di sekitarnya.