Anda di halaman 1dari 23

REFERAT POLIP NASI

Disusun oleh Nikita Rizky A. 030.08.180

PEMBIMBING dr. Budhy Parmono Sp.THT-KL, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILEGON PERIODE 3 SEPTEMBER 6 OKTOBER 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2012
0

LEMBAR PENGESAHAN

Referat denga judul : POLIP NASI

Telah diterima dan disetujui oleh Pembimbing sebagai salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok RSUD Cilegon

Cilegon, September 2012

dr. Budhy Parmono Sp.THT-KL, M.Kes

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Polip Nasal. Referat ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dalam menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok di RSUD Cilegon periode 3 September 6 Oktober 2012. Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada dr. Budhy Parmono Sp.THTKL, M.Kes sebagai pembimbing dalam penulisan referat ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan teman teman yang selalu memberikan dukungannya. Akhir kata penulis menyadari bahwa referat yang disusun ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima segala saran dan masukan yang membangun demi penyempurnaan referat ini. Semoga referat yang telah penulis susun ini dapat berguna bagi semua pihak yang membacanya.

Cilegon, September 2012

Nikita Rizky A. Penyusun

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................. BAB I BAB II PENDAHULUAN ........................................................................ ANATOMI DAN FISIOLOGI Anatomi Hidung Luar ............................................................ Fisiologi ................................................................................. BAB III POLIP NASI Definisi .................................................................................. Etiologi ................................................................................... Patofisiologi............................................................................ Gambaran Mikroskopik ......................................................... Histopatologis ........................................................................ Gejala Klinik .......................................................................... Diagnosis Banding ................................................................. Penegakan Diagnosis ............................................................. Penatalaksanaan ..................................................................... Prognosis ................................................................................ BAB IV KESIMPULAN ..........................................................................

1 2 3 4

5 10

12 12 13 14 15 15 16 17 19 20 21 22

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Polip nasi sudah dikenal sejak 4000 tahun yang lalu. Polip nasi digambarkan sebagai buah anggur yang turun melalui hidung. Istilah polip nasi berasal dari kata Yunani poly-pous yang berarti berkaki banyak. Polip nasi adalah kelainan mukosa hidung dan sinus paranasal terutama kompleks osteomeatal di meatus nasi medius berupa massa lunak yang mengandung banyak cairan, bertangkai, bentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan. Permukaannya licin dan agak bening karena banyak mengandung cairan. Sering bilateral dan multiple. Polip nasi juga merupakan kantung dari edema mukosa dan kebanyakan berasal dari mukosa sinus ethmoid. Polip nasi merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemukan di bagian THT
1

. Prevalensi yang pasti dari polip nasi belum ada datanya, oleh karena studi

epidemiologi yang dilakukan dan hasilnya bergantung pada populasi studi serta metodenya.2,3 Etiologi dan patogenesis dari polip nasi belum diketahui secara pasti. Sampai saat ini, polip nasi masih banyak menimbulkan perbedaan pendapat. Dengan patogenesis dan etiologi yang masih belum ada kesesuaian, maka sangatlah penting untuk dapat mengenali gejala dan tanda polip nasi untukmendapatkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat. Keluhan pasien yang datang dapat berupa sumbatan pada hidung yang makin lama semakin berat. Kemudian pasien juga mengeluhkan adanya gangguan penciuman dan sakit kepala. Untuk mengetahui massa di rongga hidung merupakan polip atau bukan selain perlu dikuasai anatomi hidung juga perlu dikuasai cara pemeriksaan yang dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosa lain. Di dalam referat ini akan dijelaskan mengenai anatomi, fisiologi hidung serta patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan dan penatalaksanaan pada polip nasi.

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI

ANATOMI
Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah : 1. Pangkal hidung (bridge) 2. Dorsum nasi 3. Puncak hidung 4. Ala nasi 5. Kolumela 6. Lubang hidung (nares anterior)

Gambar1. Anatomi Hidung Luar

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar),

antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh : 1. Superior : os frontal, os nasal, os maksila 2. Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel.

Gambar 2: Batas-batas hidung

Perdarahan : 1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna). 2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna, cabang dari A. Karotis interna) 3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)

Persarafan : 1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis) 2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)
6

Gambar 3. Vaskularisasi dan Persarafan Hidung

Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas batas kavum nasi : Posterior Atap : berhubungan dengan nasofaring : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan sebagian os vomer Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum. Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.
7

Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.

Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama sama arteri.

Gambar 4. Vaskularisasi hidung

Persarafan : 1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N. Etmoidalis anterior 2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.

Mukosa Hidung

Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.

Gambar 5. Anatomi Hidung Sagital

Gambar 6. Anatomi Hidung Dalam

FISIOLOGI

1. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.

2. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas,

10

sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C. 3. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh : a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi b. Silia c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime.

4. Indra penghidu Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat. 5. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau. 6. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk aliran udara. 7. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

11

BAB III POLI NASI

Definisi

Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung. Kebanyakan polip berwarna putih bening atau keabu abuan, mengkilat, lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa). Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi kekuning kuningan atau kemerah merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa).
1,4,5

Polip kebanyakan berasal dari mukosa sinus etmoid, biasanya multipel dan dapat bilateral. Polip yang berasal dari sinus maksila sering tunggal dan tumbuh ke arah belakang, muncul di nasofaring dan disebut polip koanal.1,2,5

Etiologi

Etiologi polip nasi belum diketahui secara pasti. Penyakit ini masih banyak menimbulkan perbedaan pendapat, terutama mengenai etiologi dan patogenesisnya. Terjadinya polip nasi dapat dipengaruhi oleh beberapa hal :umur, alergi, infeksi dan inflamasi dominasi eosinofil. Deviasi septum juga dicurigai sebagai salah satu faktor yang mempermudah terjadinya polip nasi4. Penyebab lainnya diduga karena adanya intoleransi aspirin, perubahan polisakarida dan ketidakseimbangan vasomotor 6. Menurut beberapa peneliti, polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis.
12

Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain : 1. Alergi terutama rinitis alergi. 2. Sinusitis kronik. 3. Iritasi. 4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka.

Patofisiologi
Etiologi polip nasi belum diketahui secara pasti. Namun ada tiga factor yang berperan dalam terjadinya polip yaitu : 1. Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik dan berulang 2. Gangguan keseimbangan vasomotor 3. Edema, dimana terjadi peningkatan tekanan interstitial sehingga timbul edema mukosa hidung. Terjadinya edema ini dapat dijelaskan oleh fenomena Bernoulli. Fenomena Bernoulli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui tenpat yang sempit akan menimbulkan tekanan negative pada daerah sekitarnya. Jaringan yang lemah ikatannya akan terisap oleh tekanan negative ini sehingga mengakibatkan edema mukosa dan pembentukan polip. Fenomena ini menjelaskan mengapa polip kebanyakan berasal dari area yang sempit di kompleks osteomeatal di meatus medius. Mula mula ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler, sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses ini terus berlanjut, mukosa yang sembab ini akan semakin besar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip. Pembentukan polip sering juga dihubungkan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetic. Menurut teori Bernsteis, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang bertubulensi, terutama di daerah sempit di kompleks osteomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permuksaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip.

13

Teori lain mengatakan ketidakseimbangan saraf vasomotor menyebabkan terjadinya peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vaskuler yang mengakibatkan dilepaskan sitokin dari sel mast yang akan menyebabkan edema dan lama kelamaan menjadi polip. Gambaran Mikroskopik Secara mikroskopik, tampak epitel dari polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan submukosa yang sembab. Sel selnya terdiri limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil dan makrofag. Mukosa mengandung sedikit sel sel goblet. Pembuluh darah sangat sedikit dan tidak mempunyai serabut saraf. Polip yang sudah dapat mengalami metaplasi epitel karena sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional, kubik, gepeng berlapis tanpa keratinisasi 7.

Gambar 7. Gambaran endoskopi cavum nasi kiri, menunjukkan polip pada prosesus uncinatus. Tampak jelas polip berada di tengah, berwarna pucat dan putih berkilau.

Tempat asal tumbuhnya polip terutama di kompleks ostio-meatal di meatus medius dan sinus ethmoid. Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop, mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat. Adanya polip tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip koana. Polip koana kebanyakan berasal dari sinus maksila dan juga disebut polip antro-koana.

14

Gambar 8. Polip antrochoanal kiri yang menggantung pada orofaring

Secara mikroskopis, tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal, yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan submukosa yang sembap. Selselnya terdiri dari limfosit, sel plasma, eosinofil, neutrofil dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Pembuluh darah dan kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel karena sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional, kubik atau gepeng berlapis tanpa keratinisasi. Berdasarkan jenis radangnya polip dikelompokkan menjadi 2, yaitu polip tipe eosinofilik dan neutrofilik.

Histopatologis Berdasarkan temuan histologis diklasifikasikan polip menjadi empat jenis: 1) Tipe eosinofilik Edema stroma dengan sejumlah besar eosinofil 2) Inflamasi atau fibrosis jenis kronis Sejumlah besar sel-sel inflamasi terutama limfosit dan neutrofil dengan eosinofil lebih sedikit. Tipe ini ditandai dengan tidak ditemukannya edema stroma dan penurunan jumlah dari sel goblet. Penebalan dari membran basement tidak nyata. Tanda dari respon inflamasi mungkin dapat ditemukan walaupun yang dominan adalah limfosit. Stroma terdiri atas fibroblas. 3) Seromucinous Tipe I + hiperplasia kelenjar seromucous. Tipe ini hanya terdapat kurang dari 5% dari seluruh kasus. Gambaran utama dari tipe ini adalah adanya glandula dan duktus dalam jumlah yang banyak.

4) Jenis atipikal stroma Tipe ini merupakan jenis yang jarang ditemui dan dapat mengalami misdiagnosis dengan neoplasma. Sel stroma abnormal atau menunjukkan gambaran atipikal, tetapi tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai suatu neoplasma Gejala Klinis 4 Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di hidung. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat keluhannya. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia. Bila polip ini

15

menyumbat sinus paranasal, maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore. Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi di hidung. Pada rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaan antara polip dan konka polipoid ialah : Polip : Bertangkai Mudah digerakkan Konsistensi lunak Tidak nyeri bila ditekan Tidak mudah berdarah Pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.

Diagnosis Banding

1. Konka polipoid, yang ciri cirinya sebagai berikut 4 : Tidak bertangkai Sukar digerakkan Nyeri bila ditekan dengan pinset Mudah berdarah Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin). Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.

2. Angiofibroma Nasofaring Juvenil

Etiologi dari tumor ini belum diketahui. Menurut teori, jaringan nasal tumor ini mempunyai tempat perlekatan spesifik di dindingposterolateral atap rongga hidung. Dari anamnesis diperoleh adanyakeluhan sumbatan pada hidung dan
16

epistaksis berulang yang masif.Terjadi obstruksi hidung sehingga timbulrhinor hea kronis yang diikutigangguan penciuman. Oklusi pada tuba Eustachius akan menimbulkanketulian atau otalgia. Jika ada keluhan sefalgia menandakan adanyaperluasan tumor ke intrakranial. Pada pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi posterior terlihat adanyamassa tumor yang konsistensinya kenyal, warna bervariasi dari abu-abusampai merah muda, diliputi oleh selaput lendir keunguan. Mukosamengalami hipervaskularisasi dan tidak jarang ditemukan ulcerasi. Padapemeriksaan penunjang radiologik konvensional akan terlihat gambaranklasik disebut sebagai tanda Holman Miller yaitu pendorongan prosesusPterigoideus ke belakang. Pada pemeriksaan CT scan dengan zat kontras akan tampakperluasan tumor dan destruksi tulang sekitarnya. Pemeriksaanarteriografi arteri karotis interna akan memperlihatkan vaskularisasitumor. Pemeriksaan PA tidak dilakukan karena merupakan kontraindikasi karena bisa terjadi perdarahan.
8

Angiofibroma

NasofaringJuvenil banyak terjadi pada anak atau remaja laki-laki .

3. Keganasan pada hidung

Etiologi belum diketahui, diduga karena adanya zat-zat kimiaseperti nikel, debu kayu, formaldehid, kromium, dan lain-lain. Palingsering terjadi pada laki-laki. Gejala klinis berupa obstruksi hidung,rhinorhea, epistaksis, diplopia, proptosis, gangguan visus, penonjolanpada palatum, nyeri pada pipi, sakit kepala hebat dan dapat disertailikuorhea. Pemeriksaan CT scan memperlihatkan adanya pendesakandari massa tumor . Pemeriksaan PA didapatkan 85% tumor termasuk selsquamous berkeratin 8.

Penegakkan Diagnosis
Anamnesis Keluhan utama penderita polip nasi adalah obstruksi nasi mulai dari yang ringan sampai berat, rhinore yang jernih sampai purulen, hiposmia dan anosmia. Dapat juga disertai bersin bersin, rasa nyeri pada hidung dan sakit kepala di daerah frontal. Bila disertai dengan infeksi sekunder, didapatkan post nasal drips dan rhinore purulen. Gejala lain yang dapat timbul adalah

17

bernapas melalui mulut, rinolalia, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. Selain itu harus ditanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi aspirin dan alergi obat lainnya. 7 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior, polip nasi terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus nasi medius dan mudah digerakkan.7 Mackay dan Lund (1997) membagi stadium polip nasi menjadi 4 yaitu: - Stadium 0 : Tidak ada polip, atau polip masih berada dalam sinus - Stadium 1 : Polip masih terbatas di meatus medius dan perlu endoskop untuk melihatnya. - Stadium 2 : Polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung, dapat dilihat dengan speculum hidung - Stadium 3 : Polip yang massif yang mengisi hamper seluruh rongga hidung. Pemeriksaan penunjang a. Tes Alergi Melalui tes ini dapat diketahui kemungkinan pasien memiliki riwayat alergi. b. Naso-endoskopi Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi.Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila.7 c. Radiologik

Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermafaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negatif palsu, dan tidak dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan variasi anatomis di daerah kompleks ostio-meatal 7.

18

Pemeriksaan tomografi komputer (TK, CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai potongan koronal, sedangkan pada polip yang rekuren diperlukan juga potongan aksial.7 Penatalaksanaan Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhankeluhan yang dirasakan oleh pasien. Selain itu juga diusahakan agar frekuensi infeksi berkurang, mengurangi/menghilangkan keluhan pernapasan pada pasien yang disertai asma, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip. 7 Prinsip pengelolaan polip adalah dengan operatif dan non operatif. Pengelolaan polip nasi seharusnya berdasarkan faktor penyebabnya, tetapi sayangnya penyebab polip nasi belum diketahui secara pasti. Karena penyebab yang mendasari terjadinya polip nasi adalah reaksi alergi, pengelolaanya adalah mengatasi reaksi alergi yang terjadi. Polip yang masih kecil dapat diobati dengan konservatif.
1. Terapi Konservatif

Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa. Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka diberikan juga kortikosteroid sistemik
a. Kortikosteroid spray Dapat mengecilkan ukuran polip, tetapi relatif tidak efektif unutkpolip yang masif. Kortikosteroid topikal, intranasal spray, mengecilkan ukuran polip dan sangat efektif pada pemberian postoperatif untukmencegah kekambuhan

b. Kortikosteroid sistemik

19

Merupakan terapi efektif sebagai terapi jangkapendek pada polipnasal. Pasien yang responsif terhadap pengobatan kortikosteroidsistemik dapat diberikan secara aman sebanyak 3-4 kali setahun,terutama untuk pasien yang tidak dapat dilakukan operasi.

c.Leukotrin inhibitor. Menghambat pemecahan asam arakidonat oleh enzyme 5 lipoxygenase yang akan menghasilkan leukotrin yang merupakan mediator inflamasi.
2. Terapi operatif

Kriteria polip yang diangkat adalah polip yang sangat besar, berulang,dan jelas terdapat kelainan di kompleks osteomeatal sehingga tidak dapat diobati dengan terpi konservatif. Antibiotik sebagai terapi kombinasi pada polip hidung bisa kita berikan sebelum dan sesudah operasi. Berikan antibiotik bila ada tanda infeksi dan untuk langkah profilaksis pasca operasi. Tindakan operasi yang dapat dilakukan meliputi :

Polipektomi intranasal menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan dengan analgesi lokal
a. Antrostomi intranasal b. Ethmoidektomi intranasal c. Ethmoidektomi ekstranasal d. Caldwell-Luc (CWL) untuk sinus maksila e. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF)

Prognosis Polip hidung sering tumbuh kembali, oleh karena itu pengobatannya juga perlu ditujukan kepada penyebabnya, misalnya alergi. Terapi yang paling ideal pada rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi. Secara medikamentosa, dapat diberikan antihistamin dengan atau tanpa dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung kortikosteroid atau tidak. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitisasi dan hiposensitisasi, yang menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.

20

BAB IV KESIMPULAN

Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan keluhan sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat dirasakan. Etiologi polip di literatur terbanyak merupakan akibat reaksi hipersensitivitas yaitu pada proses alergi, sehingga banyak didapatkan bersamaan dengan adanya rinitis alergi. Pada anamnesis pasien, didapatkan keluhan obstruksi hidung, anosmia, adanya riwayat rinitis alergi, keluhan sakit kepala daerah frontal atau sekitar mata, adanya sekret hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan massa yang lunak, bertangkai, mudah digerakkan, tidak ada nteri tekan dan tidak mengecil pada pemberian vasokonstriktor lokal. Penatalaksanaan untuk polip nasi ini bisa secara konservatif

maupun operatif, yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan keluhan dari pasien sendiri. Pada pasien dengan riwayat rinitis alergi, polip nasi mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk rekuren. Sehingga kemungkinan pasien harus menjalani polipektomi beberapa kali dalam hidupnya. Diagnosis dan penanganan yang tepat sangat diperlukan agar penderita tidak jatuh ke dalam penyulit yang lebih berat

21

DAFTAR PUSTAKA

1.

Soepardi Efiaty, Iskandar Nurbaiti, Bashirudin Jenny, Restuti Ratna Dwi. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok edisi VI cetakan I. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta 2007 Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I hal. 113 114. Penerbit Media Aesculapius FK-UI. 2000.

2.

3.

Van Der Baan. Epidemilogy and natural history dalam Nasal Polyposis. Copenhagen: Munksgaard,1997. 13-15.

4.

Nizar NW, Mangunkusumo E. Polip hidung. Buku ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Edisi 4. Jakarta : Balai penerbit FKUI, 2000: 97- 99.

5.

Soepardi, Efiaty. Hadjat, Fachri. Iskandar, Nurbaiti. Penatalaksanaan dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok edisi II. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta 2000

6.

Mangunkusumo Endang, Retno S. Wardani, Soepardi Efiaty, dkk. Polip Hidung. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga-Hidung-Tenggorok, Kepala Leher. Edisi VI. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008.

7.

Adams GL, Boies LR, Higler PH. Buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta :EGC, 1997: 173-94

8.

Archer. Nasal Polyps, Non surgical Treatment. Available at: http:// emedicine.com. Accesed August, 2012

22