Anda di halaman 1dari 1

KASTRAT BEM FEB UGM

BLOK MAHAKAM : MAU DIBAWA KEMANA?


SISA KONTRAK BLOK MAHAKAM MASIH 4 TAHUN. NAMUN, PEREBUTAN KONTRAK LADANG MINYAK TERSEB UT BERGULIR DALAM RANAH POLITIK YANG DINILAI RAWAN PANAS. PEMERINTAH DIHIMBA U UNTUK TIDAK GEGABAH DALAM MEMUTUSKAN.

Kontrak Kerja Sama (KKS) Blok Mahakam antara pemerintah dengan Total E&P Indonesie (Total SA, Prancis 50 persen dan Inpex Corporation Jepang, 50 persen) akan berakhir pada tanggal 31 Maret 2017. Karena potensi kandungan gas yang sangat besar, Total E&P telah mengajukan perpanjangan kontrak kembali kepada pemerintah sebelum tenggat waktu berakhir. Pemerintah dan Total pertama kali melakukan Kontrak Kerja Sama atas eksplorasi Blok Mahakam pada 31 maret 1967, untuk jangka 30 tahun. Dan berakhir tanggal 31 maret 1997. Kemudian KKS diperpanjang lagi dalam jangka waktu 20 tahun hingga berakhir 31 maret 2017. Sesuai dengan ayat 1 pasal 28 PP No.35/2004, kontraktor dapat mengajukan kembali permohonan perpanjangan kontrak untuk jangka waktu 20 tahun berikutnya. Prancis tak ingin blok migas itu jatuh ke pihak lain. Tak heran, awal Juli 2012 lalu Perdana Menteri Prancis Franois Fillon datang ke Jakarta, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Salah satu agendanya adalah membahas kerja sama energi. Ia datang bersama empat menteri dan 20 pengusaha besar Prancis. Kedatangan mereka tentu bukan sekadar basa-basi. Blok Mahakam pasti menjadi satu yang dibicarakan. Di lain sisi, rakyat yang dipelopori oleh Ikatan Alumni Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kaltim (IA-KPMKT) medesak agar Pemerintah mengambil alih kepemilikan Blok Mahakam berharap agar Pemerintah Provinsi Kaltim ikut turut serta sebagai shareholder. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, para legislatif di Senayan pun ikut turut meminta Menteri ESDM, Jero Wacik untuk memprioritaskan perusahaan nasional (National Oil Company/NOC) dalam keputusan kontrak baru Blok Mahakam. Hal senada juga dilontarkan jajaran direksi Pertamina yang menyatakan kesanggupan untuk mengabil alih kontrak Blok Mahakam, apabila pemerintah menyetujui. Bagaikan angsa bertelur emas, seperti itulah kalimat yang mampu menggambarkan kondisi ladang minyak Mahakam. Disaat ladang minyak lain mengalami kekeringan, Blok Mahakam masih begitu subur untuk memenuhi kebutuhan produksi minyak nasional. Tak heran jika banyak pihak yang mulai melirik untuk mengambil alih kontrak kerja Blok ini. Aliran dana yang begitu deras dari hasil pemompaan minyak ditambah banyaknya pihak yang melirik, membuat pemerintah harus cermat dalam mengambil keputusan kontrak baru yang saat ini masih dipegang perusahaan asal Prancis Total E7P. Hanya untuk sekedar memutuskan kontrak dengan Total E&P adalah perkara mudah. Mencari pengganti untuk meneruskan kontrak, baru menjadi perkara yang susah. Ada pertaruhan besar disana. Konsistensi dan kecermatan dalam pengambilan keputusan sangat diperlukan pemerintah, agar nantinya keberlanjutan kontrak berpihak pada kemakmuran rakyat sesuai amanah UUD 1945. Blok Mahakam yang terdiri dari sumur pengeboran di darat dan di laut tentu membutuhkan teknologi yang maju serta pengawasan yang ketat. Tentunya, ini bukan perkara mudah bagi perusahaan minyak di belahan dunia manapun. Mengelolanya, berarti bersiap untuk mengocorkan dana lebih. Dan bersiap untuk menangung segala kemungkinan resiko yang terjadi.

Pengelolaan tersebut mungkin dapat terbilang menjadi mudah, bila kontrak kembali diserahkan kepada Total E&P. Dengan kinerja yang diakui kelas dunia, pengelolaan Blok Mahakam tentunya akan menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan teknologi dan sumberdaya yang dimiliki tak menutup kemungkinan bagi Total E&P untuk melakukan pengeboran dan eksplorasi lebih dibanding apabila dikelola oleh Pertamina. Apabila keputusan kontrak dikembalikan kepada Total E&P, kekhawatiran akan pencaplokan asing dapat diantisipasi dengan tingginya setoran yang dipatok. Dalam pilihan lain, keinginan untuk mencicipi kekayaan alam negeri sendiri pun mulai digalakkan rakyat. Isu pembuatan petisi Blok Mahakam pun riuh rendah mulai menyebar. Blok Mahakam harus dikelola oleh negara sepenuhnya. Memang, jika Pertamina mengambil alih Blok Mahakam, pendapatan pajak negara akan turun dari 75% menjadi 60%. Namun perlu diperhatikan bahwa Pertamina adalah milik pemerintah sepenuhnya. Jadi pada akhirnya keuangan pun akan mengalir kepada pemerintah. Mengelola blok sebesar dan sekompleks Mahakam, tentunya akan membuat Pertamina menengok ke dalam, merogoh kembali kocek permodalan, dan melihat kemampuan sumberdaya dan teknologi yang dimiliki. Mau tak mau, Pertamina harus belajar banyak kepada Total E&P. Tentunya, sulit bagi Pertamina apabila pengelolaan blok hanya diurus sendiri. Perlu dilakukan kerjasama dengan perusahaan lain, yang berarti penguasaan negara tak mutal seratus persen. Pemerintah perlu berfikir matang untuk memutuskan kontrak tersebut. Pengalaman masa lalu, hendaklah dijadikan salah satu faktor pembelajaran penting bagi pengambilan kebijakan yang pro rakyat. Pemerintah tak boleh tertipu atas kepentingan jangka pendek investor, terutama yang berbungkus nasionalisme (kasus Newmont). Perlu dipertimbangkan lebih mendalam mengenai cost dan benetif atas kebijakan yang hendak dimabil. Efisiensi pengelolaan minyak mutlak diperlukan bagi pihak yang berniat membuka kontrak baru, dan sampai saat ini hal itu baru dimiliki oleh Total E&P, perusahaan yang masih memegang kontrak hingga 2017. Di lain sisi, penguasaan negara atas bumi dan sumberdaya yang terkadung di dalamnya untuk kemakmuran rakyat juga perlu dijadikan alasan utama pengambilan kebijakan. Pemerintah juga harus berintrospeksi diri atas kemampuan yang dimiliki yang berarti pengelolaan tidak sepenuhnya dikuasai oleh negara. Kemana kontrak akan berlanjut?? Yang jelas, keputusan pemerintah haruslah membawa amanah UUD 1945 yang tak lain adalah amanah para founding fathers bangsa dan rakyat Indonesia. Biarlah rakyat kembali mengambil haknya, mencicipi manisnya kaya di negeri sendiri. M Ibnu Thorikul Aziz Staff Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM

M IBNU THORIKUL AZIZ