Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Transfusi darah telah menjadi tugas penting, namun sulit, bagi personil anastesi. Transfusi darah berfungsi dalam memperbaiki dan mempertahankan kualitas hidup bagi pasienpasien penderita, gangguan hematologi, trauma, pasien yang menjalani prosedur bedah mayor, sampai pasien keganasan. Transfusi darah mencakup pemberian infus seluruh atau suatu komponen darah dari satu individu (donor) ke individu lain (resipien) meskipun transfusi darah begitu penting untuk mengembalikan homeostasis, namun transfusi darah dapat membahayakan resipien. Banyak komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh terapi seluruh atau komponen darah, contohnya reaksi hemolitik akut dan reaksi anafilaktik yang mematikan, penularan penyakit infeksi (hepatitis, A !") dan reaksi demam akibat penyaringan unit darah yang kurang teliti. #ebanyakan reaksi transfusi yang mengancam hidup diakibatkan oleh identifikasi pasien yang tidak benar atau tidak sesuai, atau pembuatan label sampel darah atau label komponen darah yang tidak akurat, sehingga menyebabkan pemberian darah yang inkompatibel terhadap pasien. $emantauan pasien yang menerima darah dan komponen darah dan pemberian produkproduk ini adalah tanggung ja%ab personil kesehatan yang melayani bagian pengambilan, penyimpanan, dan pemberian produk. #omponen darah harus diberikan oleh personel yang kompeten, berpengalaman, dan dilatih dengan baik dan mengikuti pedoman organisasi dan badan-badan yang telah diakreditasi dalam memberikan terapi komponen darah, sehingga tidak membuat pasien lebih menderita.

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA TRANSFUSI DARAH

1.

DEFINISI Transfusi darah adalah proses mentransfer produk darah dari satu orang (pendonor) ke dalam sistem peredaran darah orang lain (resipien) secara intravena. Transfusi digunakan pada berbagai kondisi medis untuk mengganti komponen darah yang hilang. Transfusi darah homolog adalah infus darah intravena yang telah di donasikan oleh orang lain. Transfusi darah autologus adalah transfusi dimana pasien menerima transfusi darahnya sendiri yang sudah di donasikan sebelumnya. !onor unit darah harus disimpan dalam lemari es untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan memperlambat metabolisme sel darah. Transfusi harus dimulai dalam &' menit setelah unit diambil keluar dari tempat penyimpanan. !arah hanya dapat diberikan secara intravena. #arena itu diperlukan insersi kanul atau intravenous line.

2.

KELOMPOK DARAH (embran sel darah manusia diperkirakan memiliki setidaknya &'' antigen penentu yang khas, dan setidaknya )' sistem antigen golongan darah yang terpisah. *ntungnya, hanya sistem AB+ dan ,h yang penting diketahui dalam tindakan transfusi atau donor darah. Biasanya manusia memproduksi antibodi (alloantibodi) bila ada kekurangan alel pada setiap sistem. Antibodi itulah yang bertanggung ja%ab atas reaksi transfusi yang berbahaya. Antibodi-antibodi dapat muncul secara alami atau muncul akibat respon sensitisasi dari transfusi atau ri%ayat kehamilan sebelumnya.
2

Sistem ABO $engelompokkan grup darah AB+ ditentukan oleh ada tidaknya antigen permukaan sel darah merah A atau B- darah tipe A memiliki antigen sel darah merah A, darah tipe B memiliki antigen sel darah merah B, darah tipe AB memiliki antigen sel darah merah baik A dan B, dan darah tipe + tidak memiliki antigen sel darah merah A maupun B. $lasma tubuh manusia juga memiliki antibodi-antibodi untuk antigen sel darah merah yang sudah terbentuk sebelumnya. antibodi-antibodi ini sering disebut agglutinin. +rang dengan golongan darah A memiliki antibodi B, antibodi A ada pada orang dengan golongan darah B, dan orang dengan golongan darah + memiliki antibodi untuk antigen A dan B. /olongan darah AB tidak memiliki antibodi terhadap antigen A ataupun B. Bila orang dengan golongan darah + ditransfusi dengan darah dari golongan A atau B, akan terjadi kehancuran sel-sel darah merah pasien karena anti-A atau anti-B yang dimiliki dalam tubuh pasien bereaksi terhadap antigen A atau B yang terdapat pada permukaan sel darah merah donor. (aka dari itulah mengapa golongan darah AB yang tidak memiliki antibodi-antibodi terhadap antigen A atau B disebut 0resipien universal1 sedangkan golongan darah + disebut 0donor universal1 karena tidak mempunyai antigen A atau B.

Sistem Rh 2aktor ,h adalah antigen yang diturunkan dalam darah manusia. !arah yang memiliki faktor ,h diketahui sebagai ,h-positif, bila tidak ada maka disebut ,h-negatif. !arah kita tidak dengan sendirinya memiliki antibodi ,h. Bila darah dengan ,h-positif diinjeksikan kedalam sirkulasi orang dengan ,h-negatif, maka tubuh resipien akan membentuk antibodi ,h.

+rang yang memiliki ,hesus ! dianggap sebagai ,h-positif. #ira-kira 345 populasi orang berkulit putih dan 6)5 populasi orang berkulit hitam memiliki antigen !, dan orang-orang yang tidak memiliki antigen ini disebut ,h-negatif. #ontras dengan sistem grup AB+, pasien dengan ,h-negatif biasanya menghasilkan antibodi yang mela%an antigen ! hanya setelah transfusi darah ,h-positif atau pada kehamilan, dimana ibu dengan ,h-negatif melahirkan bayi yang ,h-positif.(7) Tabel 7. $enggolongan darah berdasarkan system AB+ /olongan darah A B AB + Antigen A B A dan B Tidak ada Antibodi Anti-B Anti-A Tidak ada Anti-A, anti-B, anti-A,B

Tabel ). $enggolongan darah berdasarkan system rhesus Anti ,ho (!) $ositif 8egatif $ositif #ontrol ,h 8egatif 8egatif $ositif Tipe ,h !9 !- (d) :arus diulang atau

diperiksa dengan Rho (D) typing (saline tube test)

Sistem Antigen Sel D ! h Me! h L inn" "istem sel darah merah lainnya seperti ;e%is, $, i, (8", #idd, #ell, !uffy, ;utheran, <g, "id, =artright, >#, dan =hido ,odgers. !engan beberapa pengecualian,

alloantibodi yang bertentangan dengan antigen-antigen ini jarang menyebabkan reaksi hemolitik serius.

#. UJI KOMPATIBILITAS Tujuan pemeriksaan kompatibilitas ini adalah untuk memprediksi dan mencegah reaksi antigen-antibody akibat transfusi sel darah merah. U$i ABO%Rh ,eaksi transfusi yang paling berat adalah akibat inkompatibilitas AB+. antibodi alami tubuh dapat bereaksi mela%an antigen asing (yang ditransfusi), mengaktifasi komplemen, dan menyebabkan hemolisis intravaskuler. "el darah merah pasien diuji dengan serum yang diketahui memiliki antibodi berla%anan dengan A dan B untuk mengetahui tipe darah. #onfirmasi dilakukan dengan menguji serum pasien dengan sel darah merah yang tipe antigennya diketahui. "el darah merah pasien juga di uji degan anti-d antibody untuk mengetahui status ,h. Bila subyek adalah ,h-negatif, kehadiran anti-! antibodi diperiksa dengan mencampur serum pasien mela%ang sel darah merah ,h-positif. #emungkinan terbentuknya anti-! antibodi setelah pajanan pertama dengan antigen ,h adalah 4'-?'5.

Anti&'(" S)!een Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi kehadiran antibody yang berhubungan dengan reaksi hemolitik non-AB+ yang paling sering ditemukan di dalam serum. $emeriksaan ini (diketahui juga sebagai *ji =oombs indirek) membutuhkan kurang lebih @4 menit. *!'ssm t)h =rossmatch meniru konsep transfusi, yaitu mencampur sel darah merah donor dengan serum resipien. =rossmatch memiliki tiga fungsi- (7) mengonfirmasi AB+ dan
5

tipe ,h, ()) mendeteksi antibodi dengan sistem grup darah lainnya, dan (&) mendeteksi dalam titer yang rendah atau yang tidak ter-aglutinasi dengan mudah.

Pemilih n Pen('n'! D ! h $endonor darah harus diseleksi dengan hati-hati. Tidak sekedar tipe darah donor yang harus ditulis secara tepat, tapi harus dipastikan juga bah%a donor bebas dari penyakit. Tes-tes yang utama yang disarankan oleh A:+ adalaha.Antigen permukaan untuk hepatitis B (:bsAg) b. Antibodi hepatitis =

c.Antibodi : B (subtype 7 C )) d. Tes serologi untuk sifilis :arus dipastikan darah donor bebas dari penyakit parasit seperti malaria dan filariasis.

+. KOMPONEN%KOMPONEN DARAH !arah adalah cairan tubuh yang ada pada makhluk hidup yang berfungsi mengirimkan Dat-Dat seperti nutrisi dan oksigen kepada sel-sel dan pada saat dan pada sel yang sama, darah mengirimkan Dat-Dat hasil metabolik yang tidak terpakai oleh tubuh untuk keluar dari tubuh. !arah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk @45 bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara @' sampai @?. Bagian 445 yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah. #orpuskula darah terdiri dari-

"el darah merah atau eritrosit (sekitar 665). Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organel, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. "el darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. +rang yang kekurangan eritrosit akan menderita penyakit anemia.

#eping darah atau trombosit atau platelet (',F - 7,'5) Trombosit bertanggung ja%ab dalam proses pembekuan darah. "eperti menutup luka perdarahan dalam tubuh.

"el darah putih atau leukosit (',)5) ;eukosit bertanggung ja%ab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. ;eukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. +rang yang kelebihan leukosit akan menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit akan menderita penyakit leukopenia.

,. PENERAPAN TRANSFUSI INTRAOPERATIF D ! h Leng- . /0h'le Bl''(1 !arah lengkap ini berisi sel darah merah, leukosit, trombosit dan plasma. "atu unit kantong darah lengkap berisi @4' ml darah dan F& ml antikoagulan. !i ndonesia satu kantong darah lengkap berisi )4' ml darah dengan &? ml antikoagulan. "uhu simpan antara 7-F '=. lama simpan dari darah lengkap ini tergantung dari antikoagulan yang dipakai pada kantong darah, pada pemakaian sitrat fosfat dektrose (=$!) lama simpan adalah )7 hari, sedangkan dengan =$! adenine (=$!A) adalah &4 hari. (enurut masa simpan invitro ada ) macam darah lengkap yaitu darah segar dan darah baru. !arah segar yaitu darah yang disimpan sampai @3 jam, sedang darah baru yaitu darah yang disimpan sampai dengan 4 hari. (7) (&)
7

$ada keadaan tertentu, terapi transfusi komponen darah sudah menggantikan posisi unit darah lengkap. Bagaimanapun juga, terkadang darah lengkap masih dipakai untuk transfusi masif dimana koreksi asidosis segera, hipotermia dan koagulopati dibutuhkan. #ontraindikasi pemberian transfusi ini adalah anemia kronis yang normovolemik tanpa gejala klinis seperti kelelahan, pusing, aktifitas yang berkurang, sesak nafas atau bahkan gagal jantung kongestif. ()) (4)

Sel D ! h Me! h Pe- t /P )-e( Re( Bl''( *ells1 "el darah merah pekat berisi eritrosit, trombosit, leukosit, dan sedikit plasma. "el darah merah ini didapat dengan memisahkan sebagian besar plasma dari darah lengkap, sehingga diperoleh sel darah merah dengan nilai hematokrit F'-?' 5. Bolume diperkirakan 74'-&'' ml tergantung besarnya kantung darah yang dipakai, dengan masa sel darah merah 7''-)'' ml. sel darah merah ini disimpan pada suhu 7-F '=. bila menggunakan antikoagulan =$!A maka masa simpan dari sel darah merah ini &4 hari dengan nilai hematokrit ?'-3' 5. "edangkan bila menggunakan antikoagulan =$! selama )7 hari. #eputusan untuk memberikan transfusi harus berdasarkan kondisi klinis pasien dan temuan laboratorium, bukan hanya berdasarkan hemoglobin saja. Transfusi seringkali tidak diperhitungkan sampai :b G ? gHd; namun pasien dengan angina unstable atau miokard infark mungkin memerlukan tranasfusi pada :b G 7' gHd;. "atu unit sel darah merah pekat dapat meningkatkan :b 7 gHd;. (4) "ebelum ditransfusi, setiap unit harus diperiksa slip dari bank darahnya dan gelang identitas resipien. "istem pipa transfusi harus mengandung filter 7?' Im untuk menyaring bekuan darah atau debris. !arah untuk transfusi intraoperatif harus di hangatkan sampai &?o= selama diinfus, terutama bila lebih dari )-& unit yang akan ditransfusi. kegagalan melakukan penghangatan ini dapat mengakibatkan pasien hipotermia.

$asien bedah memerlukan volume cairan tubuh intravaskuler yang cukup. Jadi, baik berupa unit sel darah merah pekat, kristaloid atau koloid, dapat diinfus secara bergantian le%at intravenous line untuk penggantian volume darah. . (7) "el darah merah pekat diindikasikan untuk perdarahan akut atau anemia kronik yang sudah menimbulkan gejala klinis dan tidak disarankan pada pasien yang anemia

Pl sm Seg ! Be-2 /F!esh F!'3en Pl sm 4FFP1 $lasma segar beku digunakan untuk mengganti kekurangan faktor koagulasi karena mengandung faktor-faktor pembekuan. $lasma segar beku ini mengandung semua protein plasma. $lasma ini dipisahkan dari darah lengkap yang kemudian dibekukan dalam %aktu 3 jam setelah pengambilan darah dari donor, disimpan pada suhu simpan -73 '= atau lebih rendah dengan masa simpan 7 tahun. Bolume sekitar )''-)4' ml. "etiap unit plasma segar beku secara umum menaikkan tingkatan setiap faktor pembekuan darah sebanyak )-&5 pada orang de%asa. !osis terapi inisial biasanya 7'-74 m;Hkg. Tujuannya adalah untuk mencapai &'5 konsenstrasi normal faktor koagulasi. $emakaian plasma segar beku diindikasikan pada pasien dengan isolated factor deficiencies, reversal of %arfarin therapy, dan koreksi koagulopati akibat penyakit hati. "ediaan ini juga diberikan bagi pasien yang memiliki penyakit hati dan mengalami defisiensi faktor pembekuan. (7)(&)

Pl telet "ediaan unit platelet berisi trombosit, beberapa leukosit, sel darah merah, serta plasma. Trombosit pekat ini dapat diperoleh dengan cara pemutaran (sentrifugasi) darah lengkap segar atau dengan cara tromboforesis. "atu kantong trombosit pekat yang berasal dari @4' ml darah lengkap dari seorang donor berisi kira-kira 4,4K7'7' trombosit dengan volum sekitar 4' ml. "atu kantong trombosit pekat yang diperoleh dengan cara tromboforesis seorang donor darah berisi sekitar &,& K7'77 trombosit, setara dengan F kantong trombosit yang berasal dari donor darah biasa. (7)
9

Transfusi platelet dapat diindikasikan untuk mencegah perdarahan kepada pasien dengan trombositopenia atau disfungsi platelet yang sedang perdarahan. Transfusi profilaktik platelet juga diindikasikan pada pasien trombositopenia dengan trombosit diba%ah 7','''-)',''' K 7'6H; karena kadar trombosit yang rendah meningkatkan kemungkinan perdarahan spontan, jadi diberikan sebagai pencegahan. "edangkan kontraindikasi transfusi platelet adalah purpura thrombosis trombositopenia dan trombositopenia yang diinduksi heparin. Bila diberikan dalam kondisi kontraindikasi, maka dapat menyebabkan thrombosis lebih besar. (4) $latelet diba%ah 4',''' K 7'6H; berkaitan dengan meningkatnya kehilangan darah saat operasi. $asien trombositopenia sering mendapat transfusi profilaktik platelet sebelum operasi atau prosedur invasif. $artus pervaginam dan prosedur operasi minor dapat dilakukan pada pasien dengan fungsi platelet yang normal dan jumlahnya melebihi 4',''' K 7'6H;. $emberian satu unit platelet diharapkan dapat meningkatkan jumlah platelet sebanyak 4,'''-7',''' K 7'6H;. (7) (&) Trombosit ini dapat disimpan pada suhu )'-@' '= dengan kantong darah biasa yang diletakkan pada rotatorHagitator yang selalu berputarHbergoyang, trombosit dapat disimpan selama & hari, sedangkan dengan kantong darah khusus dengan cara penyimpanan yang sama trombosit dapat disimpan selama 4 hari. (7) (&)

T! ns52si 6! n2l'sit Transfusi granulosit, disiapkan dengan cara leukoforesis, dapat diindikasikan pada pasien neutropeni dengan infeksi bakterial yang tidak merespon antibiotik. /ranulosit yang ditransfusi memiliki masa hidup yang pendek, maka dari itu kira-kira transfusi harian granulosit adalah 7'7' yang dibutuhkan. !engan mengiradiasi unit-unit ini, insiden reaksi graft-versus-host, kerusakan endotel pulmoner, dan masalah lain yang berkaitan dengan transfuse leukosit jadi berkurang, tapi mungkin mempengaruhi fungsi granulosit.
(7) (&)

10

Biasanya transfusi ini diberikan kepada pasien kanker neutropenia yang mengalami sepsis bacterial yang tidak membaik dengan pengobatan antibiotik konvensional, setidaknya dalam )@-@3 jam. (4)

7. INDIKASI TRANSFUSI UMUM United Kingdom Blood Transfusion & Tissue Transplantation Services , menyatakan bah%a a. $asien dengan :b L 7'gHd; normalnya tidak ditransfusi b. :b G ?gHd; adalah indikasi kuat untuk melakukan transfusi c. Transfusi harus dilakukan bila :b pasien G 4 gHd; d. :b 3-7' gHd; adalah konsentrasi hemoglobin yang aman meskipun pada orang dengan penyakit jantung-paru. Bila pasien mengalami gejala anemia simptomatik atau kondisi anemis memperberat penyakit yang diderita pasien, maka pasien harus di transfusi. (enurut merican !amily "hysician, transfusi darah harus berdasarkan kondisi klinis pasien. ndikasi untuk transfusi termasuk a. Anemia simptomatik (menyebabkan sesak nafas, pusing, gagal jantung kongestif, dan kemampuan melakukan aktifitas sehari-hari menurun) b. #risis sel bulan sabit akut c. #ehilangan darah akut lebih dari &'5 volume darah. ,ekomendasi dari the merican Society of nesthesiologists "ractice #uidelines7. Transfusi jarang diindikasikan saat :b L 7'gHd; dan hampir selalu diindikasikan saat :b G F gHd;, khususnya saat anemia akut.
11

). $enentu kapan darah dengan konsentrasi :b F-7' gHd; dibenarkan atau memerlukan transfusi darah adalah dengan berdasarkan resiko pasien akan komplikasi akibat oksigenasi yang tidak adekuat. &. Bila 0trigger1 hemoglobin (atau pendekatan pasien yang lain) dipakai sama rata untuk semua pasien, namun tidak memperhitungkan pentingnya faktor-faktor fisiologis dan operatif yang akan mempengaruhi oksigenasi, maka tindakan itu tidak disarankan @. Bila %aktunya tepat, donor darah autolog preoperative, intraoperatif, dan pemulihan darah postoperative, hemodilusi normovolemik akut, dan perhitungan untuk mengurangi kehilangan darah dapat menguntungkan pasien. 4. ndikasi untuk transfusi sel darah merah pekat autolog lebih bebas daripada yang allogenik karena resiko yang lebih kecil.

A.

KOMPLIKASI TRANSFUSI DARAH 1. KOMPLIKASI IMUNITAS #omplikasi imun yang mengikuti transfusi adalah primer akibat sensitisasi resipien dengan sel darah merah, sel darah putih, platelet, atau protein plasma donor. !alam kasus yang lebih jarang, sel-sel atau serum yang tertransfusi dapat memba%a respon imun yang berla%anan terhadap resipien. (7) (&)

. Re -si Hem'liti,eaksi hemolitik biasanya melibatkan destruksi spesifik dari sel darah merah yang tertransfusi oleh antibodi resipien. ;ebih jarang kalau hemolisis sel darah merah resipien terjadi akibat transfusi antibodi sel darah merah. *nit yang tidak kompatibel baik konsenstrasi platelet, plasma segar beku, konsenstrasi faktor pembekuan, atau
12

kriokresipitat dapat mengandung sedikit plasma dengan anti-A atau anti-B (atau keduanya) alloantibodi. Transfusi unit semacam itu bila diberikan dalam jumlah besar dapat menyebabkan hemolisis intravaskuler. ,eaksi hemolitik secara umum diklasifikasi menjadi akut (intravaskular) atau lambat (ekstravaskuler). (7) ())

Re -si Hem'liti- A-2t :emolisis intravaskuler akut biasanya terjadi akibat inkompatibilitas darah AB+, frekuensi yang dilaporkan kira-kira 7-&3,''' transfusi. $enyebab yang paling sering adalah salah mengidentifikasi pasien, spesimen darah, atau unit transfusi. ,eaksi ini biasanya parah, dan biasanya muncul setelah masuknya darah AB+ yang inkompatibel sesedikit 7'-74 m; saja melalui infus. ,esiko terjadinya reaksi hemolitik yang parah adalah sekitar 7 dari 7'',''' transfusi. $ada pasien yang sadar, gejala-gejala yang dapat muncul adalah menggigil, demam, nausea, dan nyeri dada dan pinggang. $ada pasien yang teranastesi, gejala reaksi hemolitik akut dapat bermanifestasi seperti naiknya temperatur, takikardi yang tidak jelas, hipotensi dan hemoglobinuria. (7) ())

Re -si Hem'liti- L m& t ,eaksi hemolitik lambat Mjuga disebut hemolisis ekstravaskuler- biasanya tidak parah dan disebabkan oleh antibody kepada anti-! dari sistem ,h atau alel asing pada sistem lain seperti #ell, !uffy, atau antigen #idd. !engan transfusi AB+ atau ,h ! yang kompatibel, pasien memiliki 7-7.F5 kemungkinan untuk terjadinya pembentukan antibodi untuk mela%an antigen asing pada sistem-sistem lainnya. "aat dimana kadar antibodi ini cukup, sel darah merah yang tertransfusi sudah hilang dari sirkulasi tubuh. Titer antibodi ini kemudian menjadi berkurang dan menjadi tidak terdeteksi. $ajanan berulang terhadap antigen asing yang sama pada transfusi sel darah merah yang berikutnya, dapat memicu respon antibodi anamnestik mela%an antigen asing. ,eaksi hemolitik secara khusus terlambat )-)7 hari setelah transfusi, dan gejalanya umumnya ringan, termasuk malaise, jaundice, dan demam. :ematokrit pasien gagal untuk
13

meningkat secara khusus, atau meningkat untuk sementara saja meskipun sedang ditransfusi dan tidak adanya perdarahan. #adar bilirubin yang tidak terkonjugasi meningkat di dalam serum sebagai hasil dari pemecahan hemoglobin. Tatalaksana dari reaksi hemolitik biasanya suportif secara primer. 2rekuensi dari reaksi hemolitik lambat akibat transfusi diperkirakan 7-7),''' transfusi. #ehamilan bisa juga bertanggung ja%ab atas terbentuknya alloantibodi akibat terpajan sel darah merah fetus. (7) ())

&. Re -si Im2n N'n%hem'liti,eaksi imun non-hemolitik adalah akibat sensitisasi sel darah putih, platelet, protein plasma resipien terhadap sel darah putih donor. resiko dari reaksi-reaksi ini dapat diminimalisir dengan penggunaan produk darah yang leu$oreduced. (7) ()) ,eaksi febril, adalah manifestasi yang umum akibat sensitisasi sel darah putih atau platelet. nsiden reaksi sekitar 7-&5 episode dan terdapat peningkatan temperatur tanpa adanya hemolisis. Tangani dengan transfusi leukoreduced. (7) ,eaksi urtikaria, biasanya digambarkan dengan eritema, gatal-gatal, tanpa adanya demam. /ejala ini cukup umum, terjadi sekitar 75 kemungkinan transfusi dan diperkirakan akibat sensitisasi protein plasma. Tangani dengan obat-obat antihistamin dan steroid. (7) ()) ,eaksi anafilaktik, cukup jarang terjadi, yaitu sekitar 7-74',''' transfusi. ,eaksi yang parah ini dapat muncul cukup dengan masuknya beberapa mililiter darah. ,eaksi ini dapat ditangani dengan epinefrin, cairan, kortikosteroid, dan :7 dan :) blocker. /raft-versus-host-disease, adalah tipe reaksi yang dapat terlihat pada pasien dengan defisiensi sistem imun. (7)

14

2. KOMPLIKASI INFEKSI In5e-si 8i!2s :epatitis nsiden hepatitis viral post-transfusi bermacam frekuensinya, dari

7-)'',''' untuk hepatitis B sampai 7-7,6'',''' untuk hepatitis =. kebanyakan kasus akut tidak menyebabkan ikterik. (7) AcNuired mmunodeficiency "yndrome (A !") - virus yang bertanggung ja%ab untuk A !", : B-7 menular le%at transfusi darah. : B-) juga serupa, tapi lebih tidak virulen. (7) nfeksi Birus lainnya - =ytomegalovirus (=(B) dan virus Epstein-Barr biasanya

menyebabkan penyakit sistemik asimptomatik atau ringan. Beberapa individu yang terinfeksi virus-virus ini menjadi karier infeksius asimptomatik yang nantinya dapat menularkan virus-virus ini ke orang lain. (7)

In5e-si P ! siti$enyakit parasitic yang dapat ditularkan melalui transfusi termasuk malaria, toKoplasmosis dan =hagasO disease. #asus-kasus seperti ini sangat jarang. (7) In5e-si B -te!i l #ontaminasi bakterial terhadap produk darah menjadi penyebab mortalitas akibat transfusi kedua terbanyak. $revalensi dari kultur bakteri positif dalam produk darah bervariasi dari 7-)''' sampai 7-?''', hal ini disebabkan karena donor mengalami bakteremia atau antisepsis saat phlebotomy kurang maksimal. (7)

BAB III
15

KESIMPULAN

Transfusi darah adalah proses pemindahan atau penerimaan darah ke dalam sirkulasi seseorang secara intravena, dari donor kepada resipien. !arah lengkap digunakan pada masa a%al transfusi ditemukan, namun ilmu medis modern hanya menggunakan komponen darah saja seperti sel darah merah, sel darah putih, plasma, faktor pembekuan, dan platelet. !arah memiliki sistem AB+ dan ,h. "istem golongan darah berhubungan dengan antigen donor dan antibodi resipien. Bila terjadi reaksi antigen-antibody yang berat akibat kesalahan pemberian golongan darah, maka akibatnya bisa ringan namun bisa juga kematian. Transfusi darah sangat penting untuk menyelamatkan kehidupan pasien. 8amun, disamping itu, besar juga bahaya dan resikonya. Apabila terjadi kesalahan, maka akibatnya bisa sangat fatal dalam %aktu yang begitu cepat. :al yang terlihat sederhana seperti pemeriksaan identitas dan label unit transfusi bisa menyelamatkan nya%a pasien dan menjaga diri dari kelalaian medis. !alam bidang anastesi, penting bagi para praktisi untuk dapat menga%asi dan mengestimasi jumlah perdarahan sehingga dapat mengetahui tindakan transfusi apa yang tepat untuk pasien. !isamping itu, sebagai praktisi yang akan melaksanakan transfusi kepada pasien, maka %ajib untuk memeriksa kembali validitas identitas label unit darah dan rekam medis pasien untuk menghindari kesalahan pemberian darah.

BAB I8
16

DAFTAR PUSTAKA

7. Butter%orth J 2, (ackey ! =, Aasnick J !. !luid %anagement & Blood &omponent Therapy dalam %organ & %i$hail's &linical nesthesiology , 4th ed. *nited "tates- The (c/ra%-:ill =ompanies nc. )'7&. :al- 77F7-?4. ). "harma ", "harma $, Tyler ;8. Transfusion of Blood and Blood $roducts- ndications and =omplications. 74 (aret )'77. http-HH%%%.aafp.orgHafpH)'77H'&74Hp?76.html (Accessed 73 !esember )'7&).
3. "andler

"/.

Transfusion

,eaction.

77

+ktober

)'7).

http-HHemedicine.medscape.comHarticleH)'F334-overvie% (Accessed 7? !esember )'7&). @. #aplan ;J. Transfusion and Autotransfusion. F Juni )'7).

http-HHemedicine.medscape.comHarticleH@&@7?F-overvie% (Accessed 7? !esember)'7&). 4. #nott ;. Blood $roducts for Transfusion. 76 April )'7). (Accessed

http-HH%%%.patient.co.ukHdoctorHBlood-Transfusion-and-Blood-$roducts.htm 76 !esember)'7&).

17