Anda di halaman 1dari 3

Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai ciri yang khas yaitu benang tunggal atau bercabang-cabang

yang disebut hifa. Kumpulan dari hifa-hifa akan membentuk misselium. Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat saprofit. Fungi dapat mensintesis protein dan vitamin (Gunawan S,2009). Fungi dibedakan menjadi dua golongan yakni Kapang Fungi multiseluler atau kapang mempunyai miselia atau fillamen dan pertumbuhannya dalam bahan makanan mudah sekali dilihat, yakni seperti kapas (Waluyo, 2007). Kapang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan struktur hifa, yaitu hifa tidak bersekat atau nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam manganmangan, dimana setiap mangan mempunyai inti satu atau lebih (Waluyo, 2007). Secara lamiah kapang berkembang biak dengan berbagai cara, baik aseksual dengan pembelahan, penguncupan atau pembentukkan spora dapat pula secara seksual dengan pembelahan nukleus dari kedua induknya (Waluyo, 2007). Khamir Khamir termasuk cendawan, tetapi berbeda dengan kapang karena bentuknya yang terutama uniseluler. Reproduksi vegetativ terjadi dengan cara pertunasan. Sebagian sel tunggal khamir tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibanding kapang yang tubuh dengan pembentukkan filamen (Waluyo, 2007). Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi yaitu dengan panjang 1-5 mm sampai 2050 mm, dan lebar 1-10 mm. bentuk khamir bermacam-macam, yaitu bulat, oval, silinder, ogival yaitu bulat panjang dengan salah satu ujung runcing, segitiga melengkung, berbentuk batat, bentuk apikal atau lemon, membentuk psedomiselium dan sebagianya (waluyo, 2007).

Kapang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan struktur hifa, yaitu hifa tidak bersekat atau nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam manganmangan, dimana setiap mangan mempunyai inti satu atau lebih. Dinding penyekat pada kapang disebut dengan septum yang tidak tertutup rapat sehingga sitoplasma masih dapat bebas bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya. Kapang bersepta yaitu terutama kelas Ascomycetes. Sedangkan kapang tak bersepta yakni kelas Phycomycetes. Kapang yang tak bersepta intinya tersebar disepanjang septa (Waluyo, 2007).

Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula bersifat saprofit. Parasit apabila dalam memenuhi kebutuhan makanannya dengan mengambil dari benda hidup yang ditumpanginya. Sedangkan bersifat saprofit apabila memperoleh makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda itu sendiri. Fungi mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon dan karbohodrat (misalnya glukosa, sukrosa atau maltosa)., sumber nitrogen dari bahan organik atau anorganik, dan mineral dari substratnya . ada juga beberapa fungi yang dapat mensintesis vitamin-vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan sendiri. Tetapi ada juga yang tidak dapat mensintesis sendiri, sehingga harus mendapatkan dari substrat, misalkan thaimin dan biotin (Gunawan S,2009).

Peran fungi dalam kehidupan kita sehari-hari antara lain dapat disebutkan dibidang pertanian dan perkebunan menyebabkan penyakit pada tanaman ekonomi seperti padi, jagung, kentang, kopi, the, coklat, kelapa dan karet; di bidang kehutanan merusak kayu dan hasil olahannya, akan tetapi fungi justru diperlukan dalam penguburan lahan, di bidang farmasi fungi dimanfaatkan untuk menghasilkan aneka enzim dan senyawa asam organik tertentu, di bidang kedokteran sejumlah fungi memang phatogen bagi mannusia antara lain menyebabkan alergi dan dermatomikosis, di bidang kesehatan masyarakat spora fungi dii udara menyebabkan pengotoran udara yang bila dihirup menyebabkan batuk-batuk dan alergi disamping itu diketahui pula bahwa fungi dapat merusak lingkungan, cat minyak bumi, kertas, dan tekstil (Gandjar,1999). Beberapa fungi, meskipun sapiofitik dapat juga menyerbu inang yang hidup lalu tumbuh dengan subur disitu sebagai parasit. Sebagai parasit mereka menimbulkan penyakit pada tumbuhan dan hewan, termasuk manusia. Akan tetapi diantara sekitar 500.000 spesies cendawan, hanya kurang lebih 100 yang patogenik terhadap manusia. kematian infeksi oleh cendawan selain penyakit kulit sangat tinggi. Hal ini boleh jadi disebabkan oleh diagnosis yang terlambat atau yang salah selama penyakit itu menjalar atau karena tidak tersediannya antibiotik. Antibiotik non toksik yang secara medis tepat guna. Banayak cendawan patogenik, misalnya Histoplasma Capsulatum, yang menyebabkan histoplasmosis (nfeksi mikosis pada sistem retikolendotelium yang meliputi banyak organ). Dapat juga hidup sebagai saprofit, fungsi deperti itu menunjukan dimorfisme : artinya mereka dapat ada dalam bentuk uniseluler seperti halnya khamir ataupun dalam bentuk bening (filamen) seperti halnya kapang. Fase khamir timbul bilamana organisme itu hidup sebagai parasit atau patogen dalam jaringan, sedangkan bentuk kapang bila organisme itu merupakan saprofit dalam tanah atau dalam medium laboratorium. Identifikasi laboratorium untuk cendawan cendawan patogenik acapkali tergantung kepada dapat tidaknya dimorfisme ini dipertunjukan (Pelczar. 2008). Identifikasi jamur merupakan suatu kegiatan yang sangat penting mengingat banyak jenis jamur belum diketahui jumlah dan jenisnya. Jumlah spesies jamur yang sudah diketahui hingga kini hanya kurang lebih 69.000 dari per kiraan 1.500.000 spesies yang ada didunia. Dapat dipastikan bahwa indonesia yang sangat kaya akan diservitas tumbuhan dan hewannya juga memiliki diservitas jamur yang sangat tinggi mengingat lingkungannya yang lembab dan suhu tropik yang mendukung pertumbuhan jamur (handajani, 2006).

(A.S.,Sucker & Richard, A.M.2000) BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari praktikum kali ini dapat ditari kesimpulan bahwa: Cara mengidentifikasi dasar jamur adalah dengan mengamati bentuk koloni, diameter,

tepi koloni, permukaannya, konsistensinya, warna, pembentukkan pigmen dalam media dan apakah koloni tumbuh pada permukaan atau dalam media o o o Jenis-jenis fungi yaitu: Yeast / ragi / khamir Fillamentus fungi Cendawan (mushroom)

A.S.,Sucker & Richard, A.M.2000.Clinical Interpretation of Laboratory Test.F.A. Davis Company: Philadelphia Dwidjoseputro, 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan:Jakarta Gandjar, Indrawati.1999. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Jakarta : UI Press Gunawan, S.2009. Biolodi SMA Kelas X.Jakarta:Grasindo Handajani, Noorsoesanti dan Ratna setyaningsih.2006. identifikasi jamur dan Deteksatif Latoksin terhadap petis udang komersial. Biodiversitas. Vol.7.no.3. hal.212-215 Pelczar, et.al.2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi.UI Press:Jakarta Waluyo, 2004. Mikrobiologi Umum.UMM Press:Jakarta