Anda di halaman 1dari 18

Bells palsy adalah suatu kelumpuhan facialis perifer akibat proses non supuratif, non neoplasmatik, non degeneratif

primer tetapi sangat dimungkinkan akibat dari adanya oedema jinak pada bagian nervus facialis di foramen stilomastoideus atau sedikit proksimal dari foramenstilomastoideus, yang mulainya akut dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan (Sidharta, 1999). Bells Palsy adalah suatu kelumpuhan akut nervus facialis perifer yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Penyakit ini biasanya hanya mengenai satu sisi wajah (unilateral), tetapi dapat pula mengenai kedua sisi wajah yang sehat dengan bilateral Bells Palsy( Jimmi Sabirin, 1996). Gambar 1.1 belpalsi

Istilah Bells Palsy (kelumpuhan bell) biasanya digunakan untuk kelumpuhan nervus facialis jenis perifer yang timbul secara akut, yang penyebabnya belum diketahui, tanpa adanya kelainan neurologik lain. Pada sebagian besar penderita Bells Palsy kelumpuhannya akan sembuh, namun pada beberapa diantara mereka kelumpuhannya sembuh dengan meninggalkan gejala sisa (Lumbantobing, 2006).

2.2

Anatomi Fungsional

a) Nervus Facialis Nervus Facialisterdiri dari dua nucleus motoris di batang otak, yang terdiri dari: (1) Nucleus Motorik Superior yang bertugas menerima impuls dari gyrus presentralis kortek serebri kedua belah sisi kanan-kiri dan mengirim serabut-serabut saraf ke otot-otot mimik di dahi dan orbikularis occuli.

(2) Nucleus Motoris Inferior yang bertugas menerima impuls hanya dari gyrus presentralis dari sisi yang berlawanan dan mengirim serabut-serabut saraf ke otot-otot mimik bagian bawah dan platisma (Chusid, 1983). (3) Serabut-serabut nervus facialis didalam batang otak berjalan melingkari nucleus nervus abducens sehingga lesi di daerah ini juga diikuti dengan kelumpuhan nervus abducens. Setelah keluar dari batang otak, nervus facialisberjalan bersama nervus intermedius yang bersifat sensoris dan sekretorik. Selanjutnya berjalan berdekatan dengan nervus oktavus bersama-sama masuk ke dalam canalis austikus internus dan berjalan ke arah lateral, masuk ke canalis falopii (pars petrosa). Kemudian nervus facialismasuk ke dalam cavum timpani setelah membentuk ganglion genikulatum. Di dalam cavum timpani nervusfacialis membelok tajam ke arah posterior dan horizontal (pars timpani). Saraf ini berjalan tepat di atas foramen ovale, kemudian membelok tegak lurus ke bawah (genu eksternum) di dalam canalis falopii pars mastoidea. Bagian saraf yang berada didalam canalis falopii pars timpani disebut nervus facialispars horizontalis, sedang yang berjalan didalam pars mastoidea disebut nervus facialis pars vertikalis atau desenden. Saraf ini keluar dari tulang tengkorak melalui foramen stylomastoideus. Setelah keluar dari foramen stylomastoideus, syaraf ini bercabang-cabang dan berjalan di antara lobus superfisialis dan profundus glandula parotis dan berakhir pada otot-otot mimik di wajah.

Dalam perjalanan nervus facialis memberikan cabang : (1) Dari ganglion genikulatum mengirimkan serabut saraf melalui ganglion sfenopalatinum sebagai saraf petrosus superfisialis mayor yang akan menuju glandula lakrimalis. (2) Cabang lain dari ganglion genikulatum adalah saraf petrosus superficialis minor yang melalui ganglion otikum membawa serabut sekreto-motorik ke kelenjar parotis. (3) Dari nervus facialis pars vertikalis, memberikan cabang-cabang :

(a) Saraf stapedius yang mensarafi m.stapedius. Kelumpuhan saraf ini menyebabkan hiperakusis. (b) Saraf korda timpani yang menuju lidah bagian depan dan berfungsi sensorik untuk perasaan lidah (rasa asam, asin dan manis). Selain itu saraf korda timpani juga mempunyai serabut yang bersifat sekreto-motorik yang menuju ke kelenjar liur submaksilaris dan sublingualis (Chusid, 1983)

b) Otot-otot wajah Otot-otot pada wajah berserta fungsinya masing-masing dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.1 Otot-Otot Wajah Beserta Fungsinya No Nama Otot 1 M.Frontalis 2 M.Corrugator supercili 3 M.Procerus Fungsi Mengangkat alis Mendekatkan kedua pangkal alis Persarafan N. Temporalis N. Zigomatikum dan

N.Temporalis Mengerutkan kulit antara N. Zigomatikum, kedua alis N.Temporalis, N. Buccal N.Fasialis, N.Temporalis, N. Zigomatikus N. Fasialis

4 M. Orbicularis Oculli Menutup kelopak mata

5 M. Nasalis

Mengembang Kan cuping hidung Menarik ujung mulut ke bawah Tersenyum

6 M. Depresor anguli oris 7 M. Zigomaticum mayor dan M. Zigomatikum minor 8 M. Orbicularis oris

N. Fasialis N. Fasialis

Bersiul

N. Fasialis

9 M. Buccinator

N. Zigomatikum Meniup sambil menutup N. Fasialis, mulut N. Zigomatikum, N. Mandibular, N. Buccal N. Fasialis dan

10 M. Mentalis

Mengangkat dagu

11 M. Platysma

N. Buccal Meregangkan kulit leher N. Fasialis

2.3

Etiologi

Menurut etiologi artinya ilmu tentang penyebab penyakit (Dachlan,2001). Ada beberapa teori yang mengemukakan tentang penyebab Bells Palsy antara lain sebagai berikut: a) Teori Infeksi Virus Herpes Zoster (a) Salah satu penyebab munculnya Bells Palsyadalah karena adanya infeksi virus herpes zoster.Herpes zoster hidup didalam jaringan saraf. Apabila radang herpes zoster ini menyerang ganglion genikulatum, maka dapat melibatkan paralisis pada otot-otot wajah sesuai area persarafannya. Jenis herpes zoster yang menyebabkan kelemahan pada otot-otot wajah ini sering dikenal dengan Sindroma Ramsay-Hunt atau Bells Palsy (Duus Peter, 1996). (b) Teori Iskemia Vaskuler

Menurut teori ini, terjadinya gangguan sirkulasi darah di kanalis falopii, secara tidak langsung menimbulkan paralisis pada nervus facialis.Kerusakan yang ditimbulkan berasal dari tekanan saraf perifer terutama berhubungan dengan oklusi dari pembuluh darah yang mengaliri saraf tersebut, bukan akibat dari tekanan langsung pada sarafnya.Kemungkinan terdapat respon simpatis yang berlebihan sehingga terjadi spasme arterioral atau statis vena pada bagian bawah dari canalis fasialis, sehingga menimbulkan oedema sekunder yang selanjutnya menambah kompresi terhadap suplai darah, menambah iskemia dan menjadikan parese nervus facialis (Esslen, 1970). (c) Teori herediter

Teori herediter mengemukakan bahwa Bells Palsy yang disebabkan karena faktor herediter berhubungan dengan kelainan anatomis pada canalis facialis yang bersifat menurun (Hamid, 1991). (d) Pengaruh udara dingin

Udara dingin menyebabkan lapisan endotelium dari pembuluh darah leher atau telinga rusak, sehingga terjadi proses transdusi (proses mengubah dari suatu bentuk kebentuk lain) dan mengakibatkan foramen stilomastoideus bengkak. Nervus facialis yang melewati daerah tersebut terjepit sehingga rangsangan yang dihantarkan terhambat yang menyebabkan otot-otot wajah mengalami kelemahan atau lumpuh.

2.4

Patofisiologi

patologi berarti ilmu tentang penyakit, menyangkut penyebab dan sifat penyakit tersebut. Patologi yang akan dibicarakan adalah mengenai pengaruh udara dingin yang menyebabkan Bells Palsy (Dachlan, 2001) Udara dingin menyebabkan lapisan endotelium dari pembuluh darah leher atau telinga rusak, sehingga terjadi proses transdusi dan mengakibatkan foramen stilomastoideus bengkak. Nervus facialis yang melewati daerah tersebut terjepit sehingga rangsangan yang dihantarkan terhambat yang menyebabkan oto-otot wajah mengalami kelemahan atau kelumpuhan. PATHWAYS Gambar 1.2 pathways belpalsi Sumber: http://4.bp.blogspot.com Gambar 1.3 facial nerve version Sumber : http://api.ning.com

2.5

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala motorik yang dijumpai pada pasien Bells Palsy adalah: adanya kelemahan otot pada satu sisi wajah yang dapat dilihat saat pasien kesulitan melakukan gerakan-gerakan volunter seperti, (saat gerakan aktif maupun pasif) tidak dapat mengangkat alis dan menutup mata, sudut mulut tertarik ke sisi wajah yang sehat (mulut mencong), sulit mecucu atau bersiul, sulit mengembangkan cuping hidung, dan otot-otot yang terkena yaitu m. frontalis, m. orbicularis oculi, m. orbicularis oris, m. zygomaticus dan m. nasalis. Selain tanda-tanda motorik, terjadi gangguan pengecap rasa manis, asam dan asin pada lidah bagian anterior, sebagian pasien mengalami mati rasa atau merasakan tebal-tebal di wajahnya. Gambar 1.4Tanda dan gejala http://t3.gstatic.com Tanda dan gejala klinis pada Bells Palsy menurut (Chusid ,1983) adalah: a) Lesi diluar foramen stilomastoideus: Muncul tanda dan gejala sebagai berikut : mulut tertarik ke sisi mulut yang sehat, makanan terkumpul di antara gigi dan gusi, sensasi dalam pada wajah menghilang, tidak ada lipatan dahi dan apabila mata pada sisi lesi tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus-menerus. b) Lesi di canalis facialis dan mengenai nervus korda timpani: Tanda dan gejala sama seperti penjelasan pada poin diatas, ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah bagian anterior dan salivasi di sisi lesi berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan

terlibatnnya nervus intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana korda timpani bergabung dengan nervus facialis di canalis facialis. c) Lesi yang tinggi dalam canalis facialis dan mengenai muskulus stapedius: Tanda dan gejala seperti penjelasan pada kedua poin diatas, ditambah dengan adanya hiperakusis (pendengaran yang sangat tajam). d) Lesi yang mengenai ganglion genikuli: Tanda dan gejala seperti penjelasan pada ketiga poin diatas, disertai dengan nyeri dibelakang dan didalam liang telinga dan dibelakang telinga. e) Lesi di meatus akustikus internus: Tanda dan Gejala sama seperti kerusakan pada ganglion genikuli, hanya saja disertai dengan timbulnya tuli sebagai akibat terlibatnya nervus vestibulocochlearis. f) Lesi di tempat keluarnya nervus facialis dari pons: Tanda dan gejala sama seperti di atas disertai tanda dan gejala terlibatnya nervus trigeminus, nervus abducens, nervus vestibulococlearis, nervus accessorius dan nervus hypoglossus.

2.6

Komplikasi

komplikasi atau complication berarti penyakit yang timbul kemudian sebagai tambahan pada penyakit yang sudah ada (Dachlan, 2001). Komplikasi yang muncul pada pasien Bells Palsy merupakan kumpulan gejala sisa paska terjadinya kelemahan otot-otot wajah. Lumbantobing (2006) menjelaskan bahwa beberapa di antara penderita Bells Palsy, kelumpuhannya sembuh dengan meninggalkan gejala sisa yang berupa kontraktur, sinkenesis dan spasme spontan. Kontraktur terlihat jelas saat otot wajah berkontraksi yang ditandai dengan lebih dalamnya lipatan nasolabial dan alis mata lebih rendah dibandingkan sisi yang sehat. Sinkenesis (assosiated movement) dapat terjadi karena kesalahan proses regenerasi sehingga menimbulkan gerakan otot wajah yang berasosiasi dengan gerakan otot lain. Misalnya saat mata ditutup, sudut mulut ikut terangkat. Sedangkan spasme spontan pada otot wajah terjadi bila pasien Bells Palsy mengalami penyembuhan yang inkomplit. Otot-otot wajah bergerak secara spontan, tidak terkendali. Hal ini disebut juga tic fasialis. Gejala sisa yang ditimbulkan paska serangan Bells Palsy yaitu sindroma air mata buaya (crocodile tears syndrome)yang merupakan kesalahan regenerasi saraf salivarius menuju ke glandula lakrimalais. Manifestasinya berupa keluarnya air mata pada sisi lesi saat pasien makan (Djamil, 2003). Clonic facial (hemificial spasm),Clonic facial spasm yaitu terjadinya gerakan secara spontan dari otot-otot wajah, baik pada sisi wajah yang lumpuh maupun pada sisi wajah yang sehat. Namun bila mengenai kedua sisi wajah maka tidak terjadi bersama-sama pada kedua sisi (Sabirin, 1996).

2.7

Diagnosis Banding

Untuk menegakkan diagnosis Bells palsy kita harus mengetahui beberapa kondisi yang dapat menjadi diagnosis banding untuk kasus ini, yaitu: 1. Herpes Zoster Otikus Terjadi infeksi herpes zoster pada ganglion genikuli.Gambaran penyakit ini dikuasai seluruhnya oleh adanya gelembung herpes di daun telinga.Beberapa hari setelah vesikel-vesikel tersebut timbul, tanda-tanda paresis fasialis perifer dan tinitus serta tuli perseptif dapat dijumpai pada sisi ipsilateral juga (Sidharta, 1999). 1. Otitis Media Supurativa dan mastoiditis Ostitis Media bisa menyebabkan paresis fasialis apabila terjadi kerusakan tulang yang mendidingi kanalis fasialis. Dan keadaan ini selalu menimbulkan nyeri di dalam kepala ( Sidharta, 1999).

1. Trauma Trauma juga dapat menimbulkan paresis fasialis, hal ini terutama terjadi pada kondisi trauma capitis, yang hampir selamanya mengenai kanalis fasialis, yaitu fraktur os temporal yang tidak selalu dapat diperlihatkan oleh foto rongent. Perdarahan dan likwor mengiringi paresis fasialis perifer traumatik (Sidharta,1999). 1. Facial palsy tipe sentral Pada kelumpuhan wajah tipe ini terliht jelas bahwa otot-otot bagian bawah tampak lebih lumpuh dari pada bagian atasnya. Sudut mulut sisi yang lesi terlihat lebih rendah, lipatan nasolabial sisi yang lumpuh lebih mendatar, otot wajah bagian dahi tidak menunjukkan kelemahan yang berarti selain itu juga tidak dijumpai adanya tanda dari bell (Sidharta,1999). 1. Sindroma Guillain Barre dan Miastenia Gravis Pada kedua penyakit ini, paresis fasialis hampir selamanya bilateral.Perjalanan kedua penyakit ini adalah khas.Lagi pula, pada kedua penyakit itu kelumpuhan otot wajah tidak berdiri sendiri.Otot-otot bulber dan otot-otot okuler sering timbul bersama-sama dengan paresis fasialis. 2.8 Prognosis dan Pengobatan

yang berhubungan dengan penyakit, untuk timbul lagi atau mungkin berakhir sembuh (Dachlan, 2001). Prognosis Bells Palsykesembuhan akan terjadi dalam waktu 2 8 minggu untuk pasien

yang muda dan pasien Prognosis berarti ramalan klinis mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi yang lebih tua sampai 1-2 tahun. Menjaga agar muka tetap hangat dan selanjutnya hindarkan agar tidak terbuka, terutama terhadap angin dan debu. Lindungi mata dengan kasa steril kalau perlu. Muka dapat ditahan dengan mengaitkan pita atau kawat pada sudut mulut dan diikatkan sekitar telinga. Stimulasi listrik sesudah hari keempat belas dapat dikerjakan untuk membantu mencegah atrofi otot. Lakukan massage perlahan-lahan kearah atas pada otot-otot yang terkena selama 5-10 menit, dua-tiga kali sehari, untuk menjaga tonus otot. Pemanasan dengan memakai lampu inframerah dapat mempercepat penyembuhan. Pada sebagian besar kasus, akan terjadi kesembuhan lengkap atau partial. Kalau kesembuhannya partial, dapat timbul kontraktur pada sisi yang lumpuh. Kambuhnya penyakit di sisi yang lain kadang-kadang dilaporkan (Chusid, 1983).

2.9

Fisioterapi

Modalitas yang dipilih untuk mengurangi problematika fisioterapi pada kasus Bells Palsy karena pengaruh udara dingin Electrical Stimulation dan Massage. 1. 1. a) Definisi Electrical Stimulation dengan Arus Faradik

Arus faradik adalah arus listrik bolak-balik yang tidak simetris yang mempunyai durasi 0.01-1 ms dengan frekuensi 50-100 cy/detik (Akademi Fisioterapi Surakarta, 1998). b) Fisika dasar arus faradik Istilah faradik mula-mula digunakan untuk arus yang keluar dari faradik coil, suatu induction coil.Arus ini merupakan bolak-balik yang tidak simetris.Tiap cycle terdiri dari dua fase yang tidak sama. Fase pertama dengan intensitas rendah dan durasi panjang, sedang fase kedua intensitas tinggi dan durasi pendek. Berfrekwensi sekitar 50 cycle/detik. Durasi fase kedua sekitar 1 milisecond (0,001 detik). c) Modifikasi

Arus faradik pada umumnya dimodifikasi dalam bentuk surged atau interupted (terputus-putus). Bentuk surged faradik dapat diperoleh dari mesin-mesin modern. Pengontrol durasi surged sebaiknya terpisah dengan pengontrol interval sehingga diperoleh kontraksi yang efektif dari masing-masing penderita. Bentuk bentuk surged juga bermacam-macam antara lain trapezoid, trianguler, saw tooth dan sebagainya. d) Efek fisiologis

Efek fisiologis terhadap sensoris akan menimbulkan rasa tertusuk halus dan efek vasodilatasi dangkal, sedangkan efek terhadap motorik adalah kontraksi tetanik yang akan lebih mudah menimbulkan kontraksi. Arus faradik lebih enak bagi pasien karena durasinya pendek. e) Efek terapeutik (1) Fasilitasi kontraksi otot. Apabila otot mengalami kesulitan untuk mengadakan kontraksi, stimulasi elektris dapat membantunya terutama kontraksi otot yang terhambat oleh nyeri atau injury yang baru, dimana stimulasi dapat memberikan fasilitas lewat mekanisme muscle spindel. (2) Mendidik kembali kerja otot Stimulasi faradik diberikan untuk mendapatkan kontraksi dan membantu memperbaiki perasaan gerak. Otot hanya mengenal gerak, sehingga stimulasi diberikan untuk menimbulkan gerakan yang normal. Stimulasi ini merupakan permulaan latihan-latihan aktif. (3) Melatih otot-otot yang paralysis Pada kasus saraf perifer, impuls dari otak tidak sampai pada otot yang disarafi.Akibatnya kontraksi voluntari hilang. Apabila saraf belum mengalami degenerasi, stimulasi dengan arus faradik disebelah distal kerusakan akan menimbulkan kontraksi. Dengan demikian stimulasi dengan arus faradik dapat digunakan untuk melatih otot-otot yang paralisis. (4) Penguatan dan hypertrofi otot-otot Untuk mendapatkan penguatan dan hypertrofi, otot perlu berkontraksi dalam jumlah yang cukup serta beban (tahanan).Kelenturan-kelenturan tersebut harus dipenuhi bila stimulasi dimaksudkan untuk penguatan.Apabila suatu otot sangat lemah berat dari bagian tubuh yang bergerak memberikan cukup beban.Dalam hal ini stimulasi dapat meningkatkan kekuatan otot. (5) Memperbaiki aliran darah dan lymfe Aliran darah dapat dipelancar oleh adanya pemompaan dari otot yang berkontraksi dan relaksasi. Efek yang ditimbulkan akan diperoleh secara maksimal dengan menggunakan arus faradik. (6) Mencegah dan melepaskan perlengketan jaringan Apabila terjadi offusi kedalam jaringan maka perlengketan jaringan akan mudah terjadi. Perlengketan tersebut dapat dicegah dengan selalu mengerakan struktur-struktur didaerah tersebut. Jika latihan latihan-latihan aktif tidak dimungkinkan, stimulation electrical dapat diberikan. Perlengketan yang telah terjadi dapat dibebankan dan diulur dengan kontraksi otot (Akademi Fisioterapi Surakarta, 1998). f) Metode pelaksanaan arus faradik

(1) Stimulasi secara group Pada metode ini semua otot dari suatu group otot berkontraksi bersama. Satu elektrode dipasang pada nerve trunk atau daerah origo, sedangkan satu lagi dipasang pada daerah motor point atau ujung dari muscle belly. Semua otot dari grup otot berkontraksi bersama sehingga sangat efektif untuk mendidik otot yang bekerja secara group. (2) Stimulasi motor point Keuntungan menggunakan metode motor point adalah masing-masing otot berkontraksi sendirisendiri dan kontraksinya optimal. Sedangkan kerugian metode ini ialah apabila otot yang dirangsang banyak, maka sulit untuk mendapatkan jumlah kontraksi yang cukup untuk masingmasing otot. 2.Massage a) Definisi

Massage adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan suatu manipulasi yang dilakukan dengan tangan yang ditujukan pada jaringan lunak tubuh, untuk tujuan mendapatkan efek baik pada jaringan saraf, otot, maupun sirkulasi(Gertrude, 1952). b) Teknik-teknik massage

Ada beberapa teknik massage, seperti: stroking, effleurage, petrissage, kneading, finger kneading, picking up, tapping, friction dan tapotemen (hacking, claping, beating, pounding). Pada kasus Bells Palsy teknik massage yang diberikan yaitu stroking, effleurage, finger kneading dan tapping. Stroking atau gosokan ringan adalah manipulasi yang ringan dan halus dengan menggunakan seluruh permukaan tangan satu atau permukaan kedua belah tangan dan arah gerakannya tidak tentu. Efek stroking adalah penenangan dan mengurangi rasa nyeri.(Tappan, 1988) Effleurage adalah manipulasi gosokan dengan penekanan yang ringan dan halus dengan menggunakan seluruh permukaan tangan, sebaiknya diberikan dari dagu ke atas ke pelipis dan dari tengah dahi turun ke bawah menuju ke telinga. Ini harus dikerjakan secara gentle dan menimbulkan rangsangan pada otot-otot wajah. Efek dari effleurage adalah membantu pertukaran zat-zat dengan mempercepat peredaran darah dan limfe yang letaknya dangkal, menghambat proses peradangan. Finger kneading adalah pijatan yang dilakukan dengan jari-jari dengan cara memberikan tekanan dan gerakan melingkar, diberikan ke seluruh otot wajah yang terkena lesi dengan arah gerakan menuju ke telinga. Efek dari finger kneading adalah memperbaiki peredaran darah dan memelihara tonus otot.

Tapping adalah manipulasi yang diberikan dengan tepukan yang ritmis dengan kekuatan tertentu, untuk daerah wajah dilakukan dengan ujung-ujung jari. Efek dari tapping adalah merangsang jaringan dan otot untuk berkontraksi. c) Aplikasi massage

Pemberian massage wajah pada kondisi Bells Palsy bertujuan untuk mencegah terjadinya perlengketan jaringan dengan cara memberikan penguluran pada jaringan yang superfisial yakni otot-otot wajah. Dengan pemberian massagewajah ini akan terjadi peningkatan vaskularisasi dengan mekanisme pumping action pada vena sehingga memperlancar sirkulasi darah dan limfe. Efek rileksasi dapat dicapai dan elastisitas otot dapat tetap terpelihara serta mencegah timbulnya perlengketan jaringan dan kontraktur otot dapat dicegah (Douglas, 1902).Massage dilakukan selama 5-10 menit, 2-3 kali sehari. Massage ini membantu mempertahankan tonus otot wajah agar tidak kaku (Chusid 1983). d) Indikasi Massage

Beberapa kondisi yang merupakan indikasi pemberian massage, antara lain: spasme otot, nyeri, oedema, kasus-kasus perlengketan jaringan, kelemahan otot jaringan, dan kasus- kasus kontraktur. e) Kontra Indikasi Massage

Masssage tidak selalu dapat diberikan pada semua kasus, ada beberapa kondisi yang merupakan kontra indikasi pemberian massage, yaitu: darah yang mengalami infeksi, penyakit-penyakit dengan ganguan sirkulasi, seperti: tromboplebitis, arteriosclerosis berat, adanya tumor ganas, daerah peradangan akut, jerawat akut,sakit gigi, dan luka bakar.

2.10 Pelaksanaan Fisioterapi Dalam memberikan pelayanan kepada pasien, fisioterapi seharusnya selalu memulai dengan melaksanakan assesment yaitu di mulai dari pengkajian data (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan spesifik, dan lain-lain) kemudian dilanjutkan dengan tujuan terapi, penatalaksanaan fisioterapi serta tindak lanjut dan evaluasi. 1. Pengkajian Data Dalam pengkajian fisioterapi, proses pemeriksaan untuk menentukan problematika pasien dimulai dari anamnesa, pemeriksaan, dan dilanjutkan dengan menentukan diagnose fisioterapi. a) Anamnesis

Anamnesa merupakan suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan mengadakan Tanya jawab kepada pasien secara langsung (auto anamnesis) ataupun dengan mengadakan Tanya

jawab kepada pasien secara langsung (hetero anamnesis) mengenai kondisi/ keadaan penyakit pasien. Dengan melakukan anamnesis ini akan diperoleh informasi-informasi penting untuk membuat diagnosis. Anamnesis dikelompokan menjadi dua yaitu anamnesis umum dan anamnesis khusus. Pada kasus ini berdasarkan autoanamnesis pada tanggal 19 januari 2012 diperoleh informasi sebagai berikut : b) Identitas pasien

Data identitas pasien yang diperoleh berupa nama, jenis kelamin, umur, agama, pekerjaan, serta alamat pasien. c) Keluhan utama

Merupakan satu atau lebih keluhan atau gejala dominan yang mendorong penderita untuk mencari pertolongan. d) Riwayat penyakit sekarang

Merupakan rincian keluhan dan menggambarkan proses terjadinya riwayat penyakit secara kronologis dengan secara jelas dan lengkap. Yang isinya kapan mulai terjadinya, sifatnya seperti apa, manifestasi lain yang menyertai, penyebab sakit, dan lain-lain. e) Riwayat penyakit dahulu / penyerta

Pertanyaan diarahkan pada penyakit-penyakit yang pernah dialami yang tidak berkesinambungan dengan munculnya keluhan sekarang. f) Riwayat pribadi

Riwayat pribadi adalah hal-hal atau kegiatan sehari-hari yang dilakukan pasien menyangkut hobi atau kebiasaan yang berkaitan dengan penyebab bells palsy. g) Riwayat penyakit keluarga

Riwayat keluarga adalah penyakit-penyakit yang bersifat menurun dari orang tua atau keluarga yang lain (Heredo Familial), yang berhubungan dengan bells palsy. h) Anamnesis sistem

Anamnesis system ini dilakukan untuk mengidentifikasi masalah yang belum diungkapkan penderita dan untuk melengkapi anamnesis yang belum tercakup diatas, antara lain: kepala dan leher, Kardiovaskuler, Respirasi, Gastrointestinal,Urogenitalis, Muskuloskeletal, Nervorum. i) Pemeriksaan

Pemeriksaan yang dilakukan dibagi menjadi dua, antara lain:

(1) Pemeriksaan fisik (a) Tanda tanda Vital Pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh data sebagai berikut: (1) tekanan darah, (2) denyut nadi, (3) pernafasan: (4) temperatur, (5) tinggi badan, (6) berat badan. (b) Inspeksi Inspeksi adalah pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati. Ada dua macam yaitu inspeksi statis dan inspeksi dinamis.Inspeksi statis adalah inspeksi dimana pasien dalam keadaan diam, sedangkan inspeksi dinamis adalah inspeksi dimana pasien dalam keadaan bergerak. (c) Palpasi Palpasi adalah pemeriksaan dengan cara meraba, menekan dan memegang bagian tubuh pasien yang akan diperiksa atau yang dikeluhkan pasien. (d) Perkusi dan Auskultasi Perkusi adalah cara pemeriksaan dengan jalan mengetuk/vibrasi, seperti mengetuk untuk mengetahui keadaan suatu rongga pada bagian tubuh tertentu. dan Auskultasi adalah cara pemeriksaan dengan menggunakan indera pendengaran, biasanya menggunakan alat bantu stetoskop untuk mengetahui Ronki,denyut jantung, (e) Pemeriksaan gerak

Meliputi pemeriksaan gerak aktif, pasif, isometrik melawan tahanan. Pada pemeriksaan gerak aktif yang diperiksa adalah sisi yang lemah, meliputi kemampuan mengerutkan dahi, bersiul, tersenyum dan menutup mata.Pada pemeriksaan gerak pasif yang diperiksa adalah sisi wajah yang sakit, yaitu menutup mata, mengerutkan dahi dan tersenyum.Pada pemeriksaan gerak pasif yang dilakukan pada sisi yang lesi atau kanan gerakan mengerutkan dahi, mendekatkan kedua alis, mencucu,bersiul, menutup mata, mengkerutkan hidung ke atas, dan tersenyum. (f) Kemampuan fungsional dan lingkungan Aktivitas

Kemampuan fungsional yaitu kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas seharihari.Sedangkan lingkungan aktivitas adalah keadaan lingkungan sekitar yang berhubungan dengan kondisi pasien.Pemeriksaan kognitif, intrapersonal dan interpersonal. Kognitif merupakan pengetahuan seseorang atau perilaku manusia yang dikaitkan dengan susunan saraf otak.Kognitif meliputi komponen atensi, konsentrasi, memori pemecahan masalah, pengambilan sikap dan perilaku, orientasi ruang dan waktu. Intrapersonal adalah kemampuan pasien dalam memahami keadaan dirinya, motivasi dirinya.

interpersonal adalah kemampuan bagaimana berhubungan dengan orang lain disekitarnya. (2) Pemeriksaan spesifik Selain pemeriksaan gerak diperlukan juga diperlukan pemeriksaan spesifik untuk lebih memperjelas permasalahan yang dihadapi. Untuk kasus ini pemeriksaan spesifik yang dilaksanakan berupa : Tanda bell, skala Ugo Fisch dan penilaian kekuatan otot wajah dengan menggunakan skala Daniels and Worthingham Manual Muscle Testing. (a) Tanda Bells Tanda bell yang terlihat pada pasien yaitu saat mengkerutkan dahi, lipatan kulit dahi hanya terlihat pada sisi lesi, dan saat memejamkan mata, bola mata masih terlihat sedikit pada sisi yang sehat. (b) Ugo Fisch scale Ugo Fisch scale bertujuan untuk pemeriksaan fungsi motorik dan mengevaluasi kemajuan motorik otot wajah pada penderita bells palsy. Penilaian dilakukan pada 5 posisi, yaitu saat istirahat, mengerutkan dahi, menutup mata, tersenyum, dan bersiul. Pada tersebut dinilai simetris atau tidaknya antara sisi sakit dengan sisi yang sehat.(Lumbantobing 2006) Ada 4 penilaian dalam % untuk posisi tersebut antara lain : 1. 2. 3. 4. 0 % (zero): AsimetrisKomplit, tidak ada gerakan volunter sama sekali. 30 % (poor): Simetris ringan, kesembuhan cenderung ke asimetris, ada gerakan volunter. 70 % (fair) : Simetris sedang, kesembuhan cenderung normal. 100 % (normal) : Simetris komplit (normal).

Angka prosentase masing-masing posisi harus dirubah menjadi score dengan kriteria sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Saat istirahat Mengerutkan dahi Menutup mata Tersenyum Bersiul : 20 point : 10 point : 30 point : 30 point : 10 point

Pada keadaan normal untuk jumlah kelima posisi wajah adalah 100 point.Hasil penilaian itu diperoleh dari penilaian angka prosentase dikalikan dengan masing-masing point.Nilai akhirnya adalah jumlah dari 5 aspek penilaian tersebut.

(c)

Manual Muscle Testing (MMT) otot-otot wajah

Untuk menilai kekuatan otot fasialis yang mengalami paralisis digunakan skala Daniel and Worthinghoms Manual Muscle Testing, Yaitu : 1. 2. 3. 4. Nilai 0 (zero) : Tidak ada kontraksi yang tampak Nilai 1 (trace) : Kontraksi minimal Nilai 3 (fair) :Kontraksi sampai dengan simetris sisi normal maksimal Nilai 5 (normal) : Kontraksi penuh, terkontrol dan simetris.

(4) Uji Diagnostik pada Bells Palsy

Setelah 10 hari, elektromiografi (EMG) membantu memprediksi tingkat kesembuhan yang diharapkan dengan membedakan kerusakan konduksi sementara dengan interupsi patologis serabut saraf.

(5) Tindakan Penanganan Bells Palsy 1. Kortikosteroid bisa meringankan edema saraf fatal dan meningkatkan konduksi saraf dan aliran darah. 2. Setelah hari ke 14 terapi kortikosteroid, elektroterapi bisa membantu mencegah atrofi otot fasial.

2.11

Pencegahan

Seperti disarankan oleh Dokter Syaraf agar Bells Palsy tidak mengenai Anda, cara-cara yang bisa ditempuh adalah: 1. Jika berkendaraan motor, gunakan helm penutup wajah full untuk mencegah angin mengenai wajah. 2. Jika tidur menggunakan kipas angin, jangan biarkan kipas angin menerpa wajah langsung. Arahkan kipas angin itu ke arah lain. Jika kipas angin terpasang di langitlangit, jangan tidur tepat di bawahnya. Dan selalu gunakan kecepatan rendah saat pengoperasian kipas. 3. Kalau sering lembur hingga malam, jangan mandi air dingin di malam hari. Selain tidak bagus untuk jantung, juga tidak baik untuk kulit dan syaraf.

4. Bagi penggemar naik gunung, gunakan penutup wajah/masker dan pelindung mata. Suhu rendah, angin kencang, dan tekanan atmosfir yang rendah berpotensi tinggi menyebabkan Anda menderita Bells Palsy. 5. Setelah berolah raga berat, JANGAN LANGSUNG mandi atau mencuci wajah dengan air dingin. 6. Saat menjalankan pengobatan, jangan membiarkan wajah terkena angin langsung. Tutupi wajah dengan kain atau penutup. Takut dibilang orang aneh? Pertimbangkan dengan biaya yang Anda keluarkan untuk pengobatan. Sebagai catatan: 1. Wanita hamil berpotensi 3X lebih mudah terkena Bells Palsy daripada wanita yang tidak hamil. 2. Penderita diabetes, perokok, dan pengguna obat-obatan sejenis steroid berpotensi 4X lebih mudah terserang Bells Palsy daripada orang lain. 3. Rata-rata 40.000 orang Amerika setiap tahun menderita Bells Palsy.

BAB 3 PENUTUP 3.1. Kesimpulan

Pasien Bells palsy pada awalnya merasakan ada kelainan pada mulut yang tampak mencong ke satu sisi, salah satu kelopak mata tidak dapat dipejamkan, mulut tidak dapat mencucu, apabila berkumur atau minum maka air akan tumpah melalui salah satu sisi mulut yang lesi. Keadaan tersebut disebabkan adanya paralisis otot- otot wajah pada sisi yang sakit. Kondisi ini merupakan permasalahan yang dialami pasien sehingga peran fisioterapis diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan meningkatkan kekuatan dan kemampuan fungsional otot- otot wajah serta mencegah komplikasi lebih lanjut Electrical Stimulation arus Faradik yang diberikan dapat menimbulkan kontraksi otot dan membantu memperbaiki perasaan gerak sehingga diperoleh gerak yang normal serta bertujuan untuk mencegah/ memperlambat terjadinya atrofi otot. Pada kasus Bells Palsy ini rangsangan

gerak dari otak tidak dapat disampaikan kepada otot-otot wajah yang disyarafi. Akibatnya kontraksi otot secara volunter hilang sehingga diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik untuk menimbulkan kontraksi otot.Rangsangan arus faradik yang dilakukan berulang- ulang dapat melatih kembali otot- otot yang lemah untuk melakukan gerakan sehingga dapat meningkatkan kemampuan kontraksi otot sesuai fungsinya. Massage diberikan dengan tujuan memberikan penguluran pada otot-otot wajah yang letaknya superfisial sehingga perlengketan jaringan dapat dicegah, selain itu memberikan efek rileksasi dan mengurangi rasa kaku pada wajah. Stroking memiliki efek penenangan dan dapat mengurangi nyeri, Efflurage dapat membantu pertukaran zat-zat dan melancarkan metabolisme dengan mempercepat peredaran darah, Finger Kneading berfungsi untuk memperbaiki peredaran darah dan memelihara tonus otot. Sedangkan tapping dengan ujung jari dapat merangsang jaringan otot untuk berkontraksi. Dengan massage tersebut maka efek relaksasi dapat dicapai dan elastisitas otot tetap terjaga dan potensial timbulnya perlengketan jaringan pada kondisi Bells Palsy ini dapat dicegah. 3.2 Saran

Suatu keberhasilan terapi juga ditentukan oleh sikap dari pasien itu sendiri, jadi perlu ada kerjasama dengan baik antara terapis, pasien serta keluarga pasien. Untuk mengoptimalkan hasil terapi yang diberikan maka disarankan Fisioterapis hendaknya sebelum melakukan terapi kepada pasien diawali dengan pemeriksaan yang teliti, mencatat permasalahan pasien, menegakkan diagnosis dengan tepat, memilih modalitas yang sesuai dengan permasalahan pasien, melakukan evaluasi dan memberikan edukasi pada pasien sehingga nantinya akan memperoleh hasil yang optimal.

DAFTAR PUSTAKA

http://fisterdiv07ums.blogspot.com/2009/04/bell-pasi.html http;// Id.Wikipedia.org Sumber :http://in-sehat.blogspot.com/2012/07/bells-palsy-belpasi.html http://samuelpenuhperjuanganhidup.blogspot.com/2012/07/penatalaksanaan-bells-palsy-kiridengan.html