Anda di halaman 1dari 3

Kasus Misran & kontroversi praktik kefarmasian Setelah sempat mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak akibat

raibnya 'ayat tembakau', Undang-Undang No. 36 Tahun 2 ! tentang "esehatan kembali mendapat ujian. "ali ini giliran pera#at yang mempersoalkan UU tersebut, khususnya $asal % &. 'dalah (isran, "epala $uskesmas $embantu di pedalaman "uala Samoja, "abupaten "utai "ertanegara, "alimantan Timur, yang pertama kali mempermasalahkan $asal % & tersebut. Tidak tanggung-tanggung, bersama %2 pera#at lainnya, (isran mengajukan permohonan judi)ial re*ie# atau uji materi atas $asal % & UU "esehatan ke (ahkamah "onstitusi +(",. (ereka meminta pasal tersebut dihapus karena tidak sesuai dengan konstitusi karena merasa diperlakukan tidak adil. (isran di*onis hukuman 3 bulan penjara oleh $engadilan Negeri +$N, Tenggarong pada %! No*ember 2 ! karena memberikan obat keras atau obat da-tar . kepada pasiennya. /ni dianggap melanggar $asal % & 'yat +%, yang menyebutkan bah#a praktik ke-armasian hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan ke#enangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (isran berargumentasi bah#a tindakan itu terpaksa dilakukan karena di #ilayah tempat dia praktik tidak ada tenaga ke-armasian0apoteker dan dokter yang bertugas, karena lokasinya terpen)il. 1ika obat tidak diberikan, dikha#atirkan nya#a pasien akan teran)am. "etua Umum /2/ $rio Sidi $ratomo berpendapat ketentuan yang menyebutkan bah#a hanya tenaga ke-armasian yang boleh memberikan obat dapat merugikan masyarakat. 2ia pun meminta pemerintah mere*isi penjelasan UU "esehatan $asal % & 'yat +%, tersebut. (enurut "etua Umum /'/ 2ani $ratomo, $asal % & UU "esehatan sudah benar dan sesuai dengan konstitusi. 2ia malah kha#atir jika $asal % & di)abut akan berakibat sangat luas, yaitu praktik ke-armasian

menjadi tidak terkendali. 31ika $asal % & di)abut, berarti semua orang bisa memberikan obat berbahaya, tidak ada lagi kontrol dan penga#asan. "alau sudah begini, yang dirugikan adalah masyarakat dan pasien,3 tuturnya. 4e#enang apoteker telah diatur dalam $eraturan $emerintah No. 5%02 ! tentang $ekerjaan "e-armasian. $$ ini dengan tegas menyatakan tenaga kesehatan yang ber#enang melakukan pekerjaan ke-armasian adalah apoteker. 2engan demikian, jangankan pera#at atau mantri, dokter sekalipun tidak diperkenankan melakukan praktik ke-armasian. "e#enangan dokter diatur terpisah dalam UU No. 2!02 6. Namun, dokter diperkenankan melakukan praktik ke-armasian se)ara terbatas dalam kondisi tertentu. 'dapun, aturan tentang pera#at juga sudah ada, yakni S" (enteri "esehatan No. %23!02 % tentang 7egistrasi dan $raktik $era#at. 2engan S" tersebut, pera#at memiliki legitimasi dalam menjalankan praktik pro-esinya (enurut anggota 2e#an $enasihat /'/ 'haditomo, perangkat aturan yang ada saat ini, baik UU "esehatan maupun UU $raktik "edokteran dan $$ 5% tentang pekerjaan ke-armasian sudah lengkap dan komprehensi-, termasuk aturan mengenai kondisi darurat antara lain ben)ana dan daerah terisolasi seperti di daerah tempat (isran menjalankan praktiknya. /'/ menengarai ada pihak-pihak yang men)oba meman-aatkan kasus (isran ini untuk tujuan tertentu, yaitu ingin mengobok-obok $$ No. 5%02 !. Sebab, jika (" mengabulkan permohonan (isran dan ka#anka#an, dengan membatalkan $asal % & berikut penjelasannya, keberadaan $$ 5% tentu teran)am di)abut, atau paling tidak harus dire*isi. /'/ tidak keberatan jika ada penyesuaian, sepanjang tidak mengubah substansinya. /'/ berharap penyesuaian hanya pada sistem penomoran

$$, dari 5% menjadi 52 misalnya, dan penyesuaian judul $$ dari 'pekerjaan ke-armasian' menjadi 'praktik ke-armasian'. 'gar kasus (isran tidak terulang, pemerintah perlu melakukan langkah konkret, tanpa harus mere*isi UU "esehatan. 8angkah dimaksud pertama, pembenahan pada implementasi di lapangan. (enteri "esehatan dan jajaran dan melakukan pelayanan ke-armasian kepada pasien berdasarkan tata )ara yang berlangsung selama ini. + Oleh: Afriyanto - a-riyanto9bisnis.)o.id, Review PP no 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia 'poteker sekarang harus ada di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian seperti apotek, instalasi farmasi, puskesmas, klinik, dan praktek bersama: Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi meliputi Industri farmasi obat, industri bahan baku obat, industri obat tradisional dan pabrik kosmetika: serta Fasilitas Distribusi atau penyaluran sediaan farmasi. pasal ini juga merupakan suatu kemajuan yang baik karena memang di tempat-tempat seperti puskesmas, klinik dan praktek bersama saat ini tidak selalu ada apoteker di sana, padahal di tempattempat tersebut terdapat kegiatan pelayanan ke-armasian. 'danya ketentuan bah#a $enyerahan obat dari resep dokter harus dilakukan oleh apoteker memberi konsek#ensi pada apoteker untuk selalu ada ketika suatu apotek dan instalasi -armasi itu buka untuk melakukan pelayanan resep.